Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN DAHULUAN

POST ORIF FRAKTUR

OLEH :

IMELDA PIRU DEDU

2014610069

PROGRAM STUDI ILMU KKEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI

MALANG

2018

Perawatan Post Op Fraktur Page 1


2.1 Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontiunitas tulang dan ditentukan sesuai dengan
jenisnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat di
absorbsinya (Smeltzer & Bare, 2002 : 2357).
Fraktur femur adalah terputusnya kontiunitas batang femur yang bisa terjadi
akibat truma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian). Patah pada daerah
ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh
dalam syok (FKUI dalam Jitowiyono, 2010 : 15).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan atau tulang rawan yang
disebabkan oleh rudapaksa (trauma atau tenaga fisik). Untuk memperbaiki posisi
fragmen tulang pada fraktur terbuka yang tidak dapat direposisi tapi sulit dipertahankan
dan untuk memberikan hasil yang lebih baik maka perlu dilakukan tindakan operasi
ORIF (Open Rreduktion wityh Internal Fixation).
ORIF (Open Reduksi Internal Fiksasi),open reduksi merupakan suatu tindakan
pembedahan untuk memanipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah / fraktur sedapat
mungkin kembali seperti letak asalnya.Internal fiksasi biasanya melibatkan penggunaan
plat, sekrup, paku maupun suatu intramedulary (IM) untuk mempertahan kan fragmen
tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.
Dari beberapa definisi diatas penulis menyimpulkan bahwa pengertian fraktur
adalah terputusnya kontiunitas tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan
oleh rudapaksa atau kekerasan, bisa dalam keadaan normal atau patologis.

2.2 Etiologi
1) Cedera dan benturan seperti pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter
mendadak, kontraksi otot ekstrim.
2) Letih karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti berjalan kaki terlalu jauh.
3) Kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis pada fraktur patologis.
Fraktur patologik yaitu fraktur yang terjadi pada tulang disebabkan oleh melelehnya
struktur tulang akibat proses patologik. Proses patologik dapat disebabkan oleh
kurangnya zat-zat nutrisi seperti vitamin D, kaslsium, fosfor, ferum. Factor lain
yang menyebabkan proses patologik adalah akibat dari proses penyembuhan yang
lambat pada penyembuhan fraktur atau dapat terjadi akibat keganasan.

Perawatan Post Op Fraktur Page 2


Menurut Oswari E, (1993) ; Penyebab Fraktur adalah :
1) Kekerasan langsung; Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik
terjadinya kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan
garis patah melintang atau miring.
2) Kekerasan tidak langsung: Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang
ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya
adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
3) Kekerasan akibat tarikan otot: Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang
terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan
penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan

2.3 Manifestasi Klinis


1) Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang
dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2) Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada eksremitas. Deformitas
dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas
tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada
integritas tulang tempat melengketnya obat.
3) Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat
fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm
4) Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik
tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
5) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau
beberapa hari setelah cedera.
6) Peningkatan temperatur local
7) Pergerakan abnormal
8) Echymosis (perdarahan subkutan yang lebar-lebar)
9) Kehilangan fungsi

2.4 Klasifikasi

Perawatan Post Op Fraktur Page 3


Penampakan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis, dibagi
menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1) Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).
- Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa
komplikasi.
- Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan
antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
2) Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.
- Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui
kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
- Fraktur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang
seperti:
1. Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
2. Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan
kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
3. Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya
yang terjadi pada tulang panjang.
4. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme
trauma.
- Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
- Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga.
- Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang
disebabkan trauma rotasi.
- Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
- Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau
traksi otot pada insersinya pada tulang.
3) Berdasarkan jumlah garis patah.
- Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.

Perawatan Post Op Fraktur Page 4


- Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
- Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada
tulang yang sama.
4) Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
- Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi kedua fragmen
tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
- Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga
disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
1. Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu
dan overlapping).
2. Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
3. Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
4. Berdasarkan posisi frakur, Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
- 1/3 proksimal
- 1/3 medial
- 1/3 distal
5) Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
6) Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang. Pada
fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak
sekitar trauma, yaitu:
- Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak
sekitarnya.
- Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan.
- Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam
dan pembengkakan.
- Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan
ancaman sindroma kompartement.

2.5 Patofisilogi
Patah tulang biasanya terjadi karena benturan tubuh, jatuh atau trauma (Long,
1996: 356). Baik itu karena trauma langsung misalnya: tulang kaki terbentur bemper
mobil, atau tidak langsung misalnya: seseorang yang jatuh dengan telapak tangan

Perawatan Post Op Fraktur Page 5


menyangga. Juga bisa karena trauma akibat tarikan otot misalnya: patah tulang patela
dan olekranon, karena otot trisep dan bisep mendadak berkontraksi. (Oswari, 2000:
147)
Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Tertutup bila tidak
terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Terbuka bila terdapat
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar oleh karena perlukaan di kulit.
(Mansjoer, 2000: 346).
Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan ke
dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami
kerusakan. Reaksi peradangan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-sel darah putih
dan sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darahketempat tersebut.
Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin
(hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan sel-sel baru.
Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut callus.
Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru mengalami remodeling untuk
membentuk tulang sejati (Corwin, 2000: 299)
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan dengan
pembengkakanyg tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstremitas dan
mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan dapat
mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dapat berakibat anoksia
jaringanyg mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini
dinamakan sindrom kompartemen (Brunner & suddarth, 2002: 2287)
Pengobatan dari fraktur tertutup dapat konservatif maupuan operatif. Terapi konservatif
meliputi proteksi dengan mitela atau bidai. Sedangkan terapi operatif terdiri dari
reposisi terbuka, fiksasi internal, reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti
fiksasi interna (Mansjoer, 2000: 348)
Pada pemasangan bidai, gips atau traksi maka dilakukan imobolisasi pada bagian
yang patah. Imobilisasi dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan otot dan densitas
tulang agak cepat. Pasien yang harus imobilisasi setelah patah tulang akan menderita
komplikasi dari imobilisasi antara lain: adanya rasa tidak enak, iritasi kulit dan luka
akibat penekanan, hilangnya kekuatan otot. Kurang perawatan diri dapat terjadi bila
sebagin tubuh diimobilisasi dan mengakibatkan berkurangnya kemampuan perawatan
diri (Carpenito, 1996: 346).

Perawatan Post Op Fraktur Page 6


Pada reduksi terbuka fiksasi interna (ORIF) fragmen tulang dipertahankan dengan
pin, sekrup, pelat, paku. Namun pembedahan memungkinkan terjadinya infeksi,
pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak dan struktur yang
sebelumnya tidak mengalami cidera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan
selama tindakan operasi. (Price, 1995: 1192)
Pembedahan yang dilakukan pada tulang, otot dan sendi dapat mengakibatkan
nyeri yang hebat. (Brunner & Suddarth, 2002: 2304)
2.6 Pathway

2.7 Pemeriksaan Diagnostik

1) Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan
sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan
kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan

Perawatan Post Op Fraktur Page 7


lateral. X-Ray dapat dilihat gambaran fraktur, deformitas dan metalikment.
Venogram/anterogram menggambarkan arus vascularisasi. CT scan untuk
mendeteksi struktur fraktur yang kompleks.
2) Pemeriksaan Laboratorium
a) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
b) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan
osteoblastik dalam membentuk tulang.
c) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat
Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.
3) Pemeriksaan lain-lain
a) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi.
b) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan
diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
c) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.
d) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma
yang berlebihan.
e) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.
f) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.(Ignatavicius, Donna D,
1995)
2.8 Pentalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan dengan konservatif dan operatif
1. Cara Konservatif
Dilakukan pada anak-anak dan remaja dimana masih memungkinkan terjadinya
pertumbuhan tulang panjang. Selain itu, dilakukan karena adanya infeksi atau
diperkirakan dapat terjadi infeksi. Tindakan yang dilakukan adalah dengan gips dan
traksi.
2. Gips
Gips yang ideal adalah yang membungkus tubuh sesuai dengan bentuk tubuh.
Indikasi dilakukan pemasangan gips adalah :
- Immobilisasi dan penyangga fraktur
- Istirahatkan dan stabilisasi
- Koreksi deformitas

Perawatan Post Op Fraktur Page 8


- Mengurangi aktifitas
- Membuat cetakan tubuh orthotic
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah :
 Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan
 Gips patah tidak bisa digunakan
 Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan
klien
 Jangan merusak / menekan gips
 Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips / menggaruk
 Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama
3. Traksi (mengangkat / menarik)
Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali pada
ekstermitas pasien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah
tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang yang patah.
Metode pemasangan traksi antara lain :
1. Traksi manual
Tujuannya adalah perbaikan dislokasi, mengurangi fraktur, dan pada keadaan
emergency
2. Traksi mekanik, ada 2 macam :
- Traksi kulit (skin traction)
Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk sturktur yang lain misal otot.
Digunakan dalam waktu 4 minggu dan beban < 5 kg.
- Traksi skeletal
Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced
traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal
/ penjepit melalui tulang / jaringan metal.
- Kegunaan pemasangan traksi, antara lain :
 Mengurangi nyeri akibat spasme otot
 Memperbaiki & mencegah deformitas
 Immobilisasi
 Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi)
 Mengencangkan pada perlekatannya
- Prinsip pemasangan traksi :

Perawatan Post Op Fraktur Page 9


 Tali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan gaya tarik
 Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan
pemberat agar reduksi dapat dipertahankan
 Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus
 Traksi dapat bergerak bebas dengan katrol
 Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai
 Traksi yang dipasang harus baik dan terasa nyaman
5. Cara operatif / pembedahan
Pada saat ini metode penatalaksanaan yang paling banyak keunggulannya mungkin
adalah pembedahan. Metode perawatan ini disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka.
Pada umumnya insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan
sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur. Hematoma
fraktur dan fragmen-fragmen tulang yang telah mati diirigasi dari luka. Fraktur
kemudian direposisi dengan tangan agar menghasilkan posisi yang normal kembali.
Sesudah direduksi, fragmen-fragmen tulang ini dipertahankan dengan alat-alat
ortopedik berupa pen, sekrup, pelat, dan paku. Reduksi tertutup dengan fiksasi
eksternal atau fiksasi perkutan dengan K-Wire (kawat kirschner), misalnya pada
fraktur jari.

1. Reduksi terbuka dengan fiksasi internal (ORIF: Open Reduction internal


Fixation). Merupakan tindakan pembedahan dengan melakukan insisi pada derah
fraktur, kemudian melakukan implant pins, screw, wires, rods, plates dan protesa pada
tulang yang patah

- Tujuan:
 Imobilisasi sampai tahap remodeling
 Melihat secara langsung area fraktur
- Jenis Open Reduction Internal Fixation ( ORIF )
Menurut Apley (1995) terdapat 5 metode fiksasi internal yang digunakan,
antara lain:
1) Sekrup kompresi antar fragmen
2) Plat dan sekrup, paling sesuai untuk lengan bawah
3) Paku intermedula, untuk tulang panjang yang lebih besar
4) Paku pengikat sambungan dan sekrup, ideal untuk femur dan tibia

Perawatan Post Op Fraktur Page 10


5) Sekrup kompresi dinamis dan plat, ideal untuk ujung proksimal dan distal
femur
- Indikasi ORIF :
1. Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avasculair nekrosis tinggi,
misalnya fraktur talus dan fraktur collum femur.
2. Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur avulse dan
fraktur dislokasi.
3. Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya fraktur
Monteggia, fraktur Galeazzi, fraktur antebrachii, dan fraktur pergelangan
kaki.
4. Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik
dengan operasi, misalnya : fraktur femur
2. Reduksi terbuka dengan fiksasi eksternal (OREF: Open reduction Eksternal
Fixation). Fiksasi eksternal digunakan untuk mengobati fraktur terbuka dengan
kerusakan jaringan lunak. Alat ini memberikan dukungan yang stabil untuk fraktur
kominutif (hancur atau remuk
- Indikasi OREF : Fraktur terbuka derajatI II, Fraktur dengan kerusakan
jaringan lunak yang luas, Fraktur dengan gangguan neurovaskuler
Fraktur Kominutif dan Fraktur Pelvis.
 Keuntungan perawatan fraktur dengan pembedahan antara lain :
- Ketelitian reposisi fragmen tulang yang patah
- Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf yang berada
didekatnya
- Dapat mencapai stabilitas fiksasi yang cukup memadai
- Tidak perlu memasang gips dan alat-alat stabilisasi yang lain
- Perawatan di RS dapat ditekan seminimal mungkin, terutama pada kasus-
kasus yang tanpa komplikasi dan dengan kemampuan mempertahankan fungsi
sendi dan fungsi otot hampir normal selama penatalaksanaan dijalankan

3 Komplikasi
1) Malunion, adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam
posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut atau miring
2) Delayed union adalah proses penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan
kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.

Perawatan Post Op Fraktur Page 11


3) Nonunion, patah tulang yang tidak menyambung kembali.
4) Compartment syndroma adalah suatu keadaan peningkatan takanan yang berlebihan
di dalam satu ruangan yang disebabkan perdarahan masif pada suatu tempat.
5) Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas
kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada
fraktur.
6) Fat embalism syndroma, tetesan lemak masuk ke dalam pembuluh darah. Faktor
resiko terjadinya emboli lemak ada fraktur meningkat pada laki-laki usia 20-40
tahun, usia 70 sam pai 80 fraktur tahun.
7) Tromboembolic complicastion, trombo vena dalam sering terjadi pada individu
yang imobiil dalam waktu yang lama karena trauma atau ketidak mampuan
lazimnya komplikasi pada perbedaan ekstremitas bawah atau trauma komplikasi
paling fatal bila terjadi pada bedah ortopedil
8) Infeksi, Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya
terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain
dalam pembedahan seperti pin dan plat.
9) Avascular necrosis, pada umumnya berkaitan dengan aseptika atau necrosis
iskemia.
10) Refleks symphathethic dysthropy, hal ini disebabkan oleh hiperaktif sistem saraf
simpatik abnormal syndroma ini belum banyak dimengerti. Mungkin karena nyeri,
perubahan tropik dan vasomotor instability.

4 Pencegahan Pada Fraktur


Pencegahan fraktur dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Pada umumnya fraktur
disebabkan oleh peristiwa trauma benturan atau terjatuh baik ringan maupun berat.
Pada dasarnya upaya pengendalian kecelakaan dan trauma adalah suatu tindakan
pencegahan terhadap peningkatan kasus kecelakaan yang menyebabkan fraktur.
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan upaya menghindari terjadinya trauma
benturan, terjatuh atau kecelakaan lainnya. Dalam melakukan aktifitas yang berat
atau mobilisasi yang cepat dilakukan dengan cara hati – hati, memperhatikan
pedoman keselamatan dengan memakai alat pelindung diri.
2. Pencegahan Sekunder

Perawatan Post Op Fraktur Page 12


Pencegahan sekunder dilakukan untuk mengurangi akibat – akibat yang lebih serius
dari terjadinya fraktur dengan memberikan pertolongan pertama yang tepat dan
terampil pada penderita. Mengangkat penderita dengan posisi yang benar agar tidak
memperparah bagian tubuh yang terkena fraktur untuk selanjutnya dilakukan
pengobatan. Pemeriksaan klinis dilakukan untuk melihat bentuk dan keparahan
tulang yang patah. Pemeriksaan dengan foto radiologis sangat membantu untuk
mengetahui bagian tulang yang patah yang tidak terlihat dari luar. Pengobatan yang
dilakukan dapat berupa traksi, pembidaian dengan gips atau dengan fiksasi internal
maupun eksternal.
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier pada penderita fraktur yang bertujuan untuk mengurangi
terjadinya komplikasi yang lebih berat dan memberikan tindakan pemulihan yang
tepat untuk menghindari atau mengurangi kecacatan. Pengobatan yang dilakukan
disesuaikan dengan jenis dan beratnya fraktur dengan tindakan operatif dan
rehabilitasi. Rehabilitasi medis diupayakan untuk mengembalikan fungsi tubuh
untuk dapat kembali melakukan mobilisasi seperti biasanya. Penderita fraktur yang
telah mendapat pengobatan atau tindakan operatif, memerluka n latihan fungsional
perlahan untuk mengembalikan fungsi gerakan dari tulang yang patah. Upaya
rehabilitasi dengan mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan
mempertahankan reduksi dan imobilisasi antara lain meminimalkan bengkak,
memantau status neurovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri, latihan dan
pengaturan otot, partisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari, dan melakukan
aktivitas ringan secara bertahap

Perawatan Post Op Fraktur Page 13


5 Perawatan Post Op Fraktur
1. Perawatan Dalam mengatasi Nyeri dengan Guided imager(Non Farmakolgi.
 Definisi: Guided imagery menggunakan imajinasi seseorang dalam suatu yang
direncanakan secara khusus untuk mencapai efek positif tertentu.Imajinasi
bersifat individu dimana individu menciptakan gambaran mental dirinya sendiri,
atau bersifat terbimbimng.Banyak teknik imajinasi melibatkan imajinasi visual
tapi tehnik ini juga menggunakan indera pendengaran, pengecapan dan
penciuman (Potter & Perry, 2009 dalam Novaretna, 2013)
 Tujuan: Tujuan dari tehnik guided imagery yaitu menimbulkan respon
psikofisiologis yang kuat seperti perubahan dalam fungsi imun (Potter & Perry,
2009 dalam Novarenta, 2013).
 Manfaat: Manfaat dari tehnik guided imagery yaitu sebagai intervensi perilaku
untuk mengatasi kecemasan, stres dan nyeri (Smeltzer dan Bare, 2002 dalam
Novarenta, 2013).
 Langkah-langkah
Tehnik ini dimulai dengan proses relaksasi pada umumnya yaitu meminta
kepada klien untuk perlahan-lahan menutup matanya dan fokus pada nafas
mereka, klien didorong untuk relaksasi mengosongkan pikiran dan memenuhi
pikiran dengan bayangan untuk membuat damai dan tenang (Rahmayati, 2010
dalam patasik et al, 2013).
1) Untuk persiapan, mencari lingkungan yang nyaman dan tenang, bebas
dari distraksi. Lingkungan yang bebas dari distraksi diperlukan oleh subjek
guna berfokus pada imajinasi yang dipilih. Untuk pelaksanaan, subjek harus
tahu rasional dan keuntungan dari tehnik imajinasi terbimbing. Subjek
merupakan partisipan aktif dalam latihan imajinasi dan harus memahami
secara lengkap tentang apa yang harus dilakukan dan hasil akhir yang
diharapkan. Selanjutnya memberikan kebebasan kepda subjek. Membantu
subjek keposisi yang nyaman dengan cara: membantu subjek untuk
bersandar dan meminta menutup matanya. Posisi nyaman dapat
meningkatkan fokus subjek selama latihan imajinasi. Menggunakan
sentuhan jika hal ini tidak membuat subjek terasa terancam. Bagi beberapa
subjek, senthan fisik mungkin menganggu karena kepercayaan budaya dan
agama mereka

Perawatan Post Op Fraktur Page 14


2) Langkah berikutnya menimbulkan relaksasi. Dengan cara memanggil
nama yang disukai. Berbicara jelas dangan nada yang tenang dan netral.
Meminta subjek menarik nafas dalam dan perlahan untuk merelaksasikan
semua otot. Untuk mengatsi nyeri atau stress, dorong subjek untuk
membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Setelah itu embantu subjek
merinci gambaran dari bayanganya. Mendorong subjek untuk menggunakan
semua inderanya dalam menjelaskna bayangan dan lingkungan bayangan
tersebut
3) Langkah selanjutnya meminta subjek untuk menjelaskan perasaan fisik
dan emosional yang ditimbulkan oleh bayanganya. Dengan mengarahkan
subjek untuk mengeksplorasi respon terhadap bayangan karena ini akan
memungkinkan subjek memodifikasi imajinasinya. Respon negatif dapat
diarahkan kembali untk emberikan hasil akhir yang lebih positif. Selanjutnya
memberikan umpan balik kontinyu kepada subjek. Dengan memberi
komentar pada tanda-tanda relaksasi dan ketentraman. Setelah itu membawa
subjek keluar dari bayangan. Setelah pengalaman imajinasi dan
emndiskusikan perasaan subjek mengenai pengalamnya tersebut. Serta
mengidentifikasi setiap hal yang dapat meningkatkan pengalaman imajinasi.
Selanjutnya motivasi subjek untuk mempraktikan tehnik imajinasi secara
mandiri.
2. Perawatan Luka
Penatalaksanaan atau Perawatan Luka
Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu
evaluasi luka, tindakan antiseptik, pembersihan luka, penjahitan luka, penutupan
luka, pembalutan, pemberian antiboitik dan pengangkatan jahitan.
1) Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan
eksplorasi).
2) Tindakan Antiseptik, prinsipnya untuk mensucihamakan kulit. Untuk
melakukan pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan cairan atau larutan
antiseptik.
3) Pembersihan Luka
Tujuan dilakukannya pembersihan luka adalah meningkatkan, memperbaiki dan
mempercepat proses penyembuhan luka serta menghindari terjadinya infeksi.
Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pembersihan luka yaitu :

Perawatan Post Op Fraktur Page 15


- Irigasi dengan sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk membuang
jaringan mati dan benda asing.
- Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan mati.
- Berikan antiseptik.
- Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan dengan pemberian anastesi
lokal.
- Bila perlu lakukan penutupan luka.
4) Penjahitan luka
Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta berumur kurang dari 8
jam boleh dijahit primer, sedangkan luka yang terkontaminasi berat dan atau
tidak berbatas tegas sebaiknya dibiarkan sembuh.
5) Penutupan Luka
Penutupan luka adalah mengupayakan kondisi lingkungan yang baik pada luka
sehingga proses penyembuhan berlangsung optimal.
6) Pembalutan
Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat tergantung pada
penilaian kondisi luka. Pembalutan berfungsi sebagai pelindung terhadap
penguapan, infeksi, mengupayakan lingkungan yang baik bagi luka dalam
proses penyembuhan, sebagai fiksasi dan efek penekanan yang mencegah
berkumpulnya rembesan darah yang menyebabkan hematom.
7) Pemberian Antibiotik
Prinsipnya pada luka bersih tidak perlu diberikan antibiotik dan pada luka
terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan antibiotik.
8) Pengangkatan Jahitan
Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan lagi. Waktu
pengangkatan jahitan tergantung dari berbagai faktor seperti, lokasi, jenis
pengangkatan luka, usia, kesehatan, sikap penderita dan adanya infeksi.
3. Pencegahan Injury dengan Latihan aktif
a) Definisi : Latihan range of motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk
mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan
menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa
otot dan tonus otot dan sebagai dasar untuk menetapkan adanya kelainan
ataupun untuk menyatakan batas gerakan sendi yang abnormal

Perawatan Post Op Fraktur Page 16


b) Tujuan
1. Mencegah terjadinya kelumpuhan pada otot – otot.
2. Memprlancar predaran darah.
3. Mencegah terjadinya atrofi.
4. Untuk mendorong dan membantu agar pasien dapat menggunakan lagi
anggota gerak yang lumpuh.
c) Macam – macam Pergerakan
1. Latihan aktif dengan bantuan. Seseorang melakukan gerakan secara disadari
/ mengikuti aba – aba dan terapis memberi bantuan.
2. Latihan aktif bebas. Seseorang menggerakan anggota tubuh yang dilatih
dengan kekuatan sendiri tanpa bantuan.
3. Latihan aktif dengan beban / tahanan. Pasien menggerakan anggota tubuh
yang dilatih dngan kekuatan sendiri ditambah melawan beban.
d) Indikasi
1. Pada pasien sehabis operasi.
2. Pada kondisi sehabis fraktur.
3. Pada kondisi kelemahan otot.
4. Pada kondisi stroke.
e) Tekhnik aplikasi
Posisi yang enak, relaks dan stabil dengan ruang gerak yang mencukupi.
Pemberian beban gerakan / bantuan yang optimal.Usahakan pasien bias
mengerjakan sendiri dengan alat.
 ROM aktif post operasi fraktur femur
Pasien yang telah dilakukan operasi fraktur femur seringkali dapat menimbulkan
permasalahan adanya luka operasi pada jaringan lunak dapat menyebabkan proses
radang akut dan adanya oedema dan fibrosis pada otot sekitar sendi yang
mengakibatkan keterbatasan gerak sendi terdekat.
Latihan rentang gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga
setelah operasi fraktur femur, pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan
yang di perlukan untuk pempercepat proses penyembuhan. Keluarga pasien seringkali
mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setelah operasi. Banyak
pasien yang tidak berani mengerakan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau
takut luka operasinya lama sembuh. pandangan yang seperti ini jelas keliru karena
justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat

Perawatan Post Op Fraktur Page 17


merangsang peristaltik usus sehingga pasien cepat platus, menghindarkan
penumpukan lendir pada saluran pernapasan dan terhindar dari kontraktur sendi,
memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan dekubitus. Menurut Garrison,
(2002) Pedoman perawatan pasca bedah fraktur femur Sering kali di perlukan
intervensi bedah ORIF dengan mengunakan sekrup dan plate pada hari ke 2-3 latihan
aktif (ROM) yang di bantu dapat dimulai dari bidang anatomi yang normal, pada hari
ke 4 berjalanlah pada cara berjalan tiga titik dengankruk axilla pembantu berjalan
standar dan kemudian penahan berat badan sesuai toleransi
 Latihan aktif anggota gerak atas dan bawah
- Latihan I
1) Angkat tangan yang kontraktur menggunakan tangan yang sehat ke atas
2) Letakan kedua tangan diatas kepala
3) Kembalikan tangan ke posisi semula
- Latihan II
1) Angkat tangan yang kontraktur melewati dada ke arah tangan yang sehat
2) Kembalikan ke posisi semula
- Latihan III
1) Angkat tangan yang lemah menggunakan tangan yang sehat ke atas
2) Kembalikan ke posisi semula.
- Latihan IV
1) Tekuk siku yang kontraktur mengunakan tangan yang sehat
2) Luruskan siku kemudian angkat ketas
3) Letakan kembali tangan yang kontraktur ditempat tidur.
- Latihan V
1) Pegang pergelangan tangan yang kontraktur mengunakan tangan yang sehat angkat
keatas dada
2) Putar pengelangan tangan ke arah dalam dan ke arah luar.
- Latihan VI
1) Teknik jari-jari yang kontraktur dengan tangan.yang sehat kemdian luruskan
2) Putar ibu jari yang lemah mengunakan tangan yang sehat
- Latihan VII
1) Letakan kaki yang seht dibawah yang kontraktur
2) Turunkan kaki yang sehat sehingga punggung kaki yang sehat dibawah
pergelangan kaki yang kontraktur

Perawatan Post Op Fraktur Page 18


3) Angkat kedua kaki ke atas dengan bantuan kaki yang sehat,kemudian turunkan
pelan-pelan.
- Latihan VIII
1) Angkat kaki yang kontraktur mengunakan kaki yang sehat ke atas sekitar 3 cm
2) Ayunkan kedua kaki sejauh mungkin kearah satu sisi kemudian ke sisi yang
satunya lagi
3) Kembali ke posisi semula dan ulang sekali lagi
- Latihan IX
1) Anjurkan pasien untuk menekuk lututnya, bantu pegang pada lutut yang kontraktur
dengan tangan Satu
2) Dengan tangan lainnya penolong memegang pingang pasien
3) Anjurkan pasien untuk memegang bokongnya
4) Kembali keposisi semula dan ulangi sekali lagi
 Gerak gerakan ROM
1) Leher, spina, serfikal
- Fleksi : Menggerakan dagu menempel ke dada, rentang 45°
- Ekstensi : Mengembalikan kepala ke posisi tegak, rentang 45°
- Hiperektensi : Menekuk kepala ke belakang sejauh mungkin, rentang 40-45°
- Fleksi lateral : Memiringkan kepala sejauh mungkin sejauh mungkin kearah
setiap bahu, rentang 40-45°
- Rotasi : Memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkuler, rentang 180°
Ulangi gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
2) Bahu
- Fleksi : Menaikan lengan dari posisi di samping tubuh ke depan ke posisi di
atas kepala, rentang 180°
- Ekstensi : Mengembalikan lengan ke posisi di samping tubuh, rentang 180°
- Hiperektensi : Mengerkan lengan kebelakang tubuh, siku tetap lurus, rentang
45-60°
- Abduksi : Menaikan lengan ke posisi samping di atas kepala dengan telapak
tangan jauh dari kepala, rentang 180°
- Adduksi : Menurunkan lengan ke samping dan menyilang tubuh sejauh
mungkin, rentang 320°
- Rotasi dalam : Dengan siku pleksi, memutar bahu dengan menggerakan
lengan sampai ibu jari menghadap ke dalam dan ke belakang, rentang 90°

Perawatan Post Op Fraktur Page 19


- Rotasi luar : Dengan siku fleksi, menggerakan lengan sampai ibu jari ke atas
dan samping kepala, rentang 90°
- Sirkumduksi : Menggerakan lengan dengan lingkaran penuh, rentang 360°
Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
3) Siku
- Fleksi : Menggerakkan siku sehingga lengan bahu bergerak ke depan sendi
bahu dan tangan sejajar bahu, rentang 150°
- Ektensi : Meluruskan siku dengan menurunkan tangan, rentang 150°
4) Lengan bawah
- Supinasi : Memutar lengan bawah dan tangan sehingga telapak tangan
menghadap ke atas, rentang 70-90°
- Pronasi : Memutar lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap ke
bawah, rentang 70-90° Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
5) Pergelangan tangan
- Fleksi : Menggerakan telapak tangan ke sisi bagian dalam lengan bawah,
rentang 80-90°
- Ekstensi : Mengerakan jari-jari tangan sehingga jari-jari, tangan, lengan
bawah berada dalam arah yang sama, rentang 80-90°
- Hiperekstensi : Membawa permukaan tangan dorsal ke belakang sejauh
mungkin, rentang 89-90°
- Abduksi : Menekuk pergelangan tangan miring ke ibu jari, rentang 30°
- Adduksi : Menekuk pergelangan tangan miring ke arah lima jari, rentang 30-
50° Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
6) Jari- jari tangan
- Fleksi : Membuat genggaman, rentang 90°
- Ekstensi : Meluruskan jari-jari tangan, rentang 90°
- Hiperekstensi : Menggerakan jari-jari tangan ke belakang sejauh mungkin,
rentang 30-60°
- Abduksi : Mereggangkan jari-jari tangan yang satu dengan yang lain, rentang
30°
- Adduksi : Merapatkan kembali jari-jari tangan, rentang 30° Ulang gerakan
berturut-turut sebanyak 4 kali.
7) Ibu jari

Perawatan Post Op Fraktur Page 20


- Fleksi : Mengerakan ibu jari menyilang permukaan telapak tangan, rentang
90°
- Ekstensi : menggerakan ibu jari lurus menjauh dari tangan, rentang 90°
- Abduksi : Menjauhkan ibu jari ke samping, rentang 30°
- Adduksi : Mengerakan ibu jari ke depan tangan, rentang 30°
- Oposisi : Menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada tangan yang
sama
- Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
8) Pinggul
- Fleksi : Mengerakan tungkai ke depan dan atas, rentang 90-120°
- Ekstensi : Menggerakan kembali ke samping tungkai yang lain, rentang 90-
120°
- Hiperekstensi : Mengerakan tungkai ke belakang tubuh, rentang 30-50°
- Abduksi : Menggerakan tungkai ke samping menjauhi tubuh, rentang 30-50°
- Adduksi : Mengerakan tungkai kembali ke posisi media dan melebihi jika
mungkin, rentang 30-50°
- Rotasi dalam : Memutar kaki dan tungkai ke arah tungkai lain, rentang 90°
- Rotasi luar : Memutar kaki dan tungkai menjauhi tungkai lain, rentang 90°
Sirkumduksi : Menggerakan tungkai melingkar
- Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
9) Lutut
- Fleksi : Mengerakan tumit ke arah belakang paha, rentang 120-130°
- Ekstensi : Mengembalikan tungkai kelantai, rentang 120-130°
- Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.

Perawatan Post Op Fraktur Page 21


DAFTAR PUSTAKA

Eka Ermawan, E., Maliya, A., & Kep, S. (2016). Upaya Peningkatan Mobilitas Fisik Pada
Pasien Post Orif Fraktur Femur di RSOP Dr. Soeharso Surakarta (Doctoral
dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

HUDA, N. (2015). ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.“S “DENGAN GANGGUAN


SISTEM MUSKULOSKELETAL (FRAKTUR FEMUR DAN HUMERUS) DI
PAVILIUN ASOKA RSUD JOMBANG (Doctoral dissertation, Universitas Pesantren
Tinggi Darul Ulum)

Malau, A. P., & NUSWANTORO, F. K. U. D. (2017). EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF


KASUS FRAKTUR DIAKIBATKAN KECELAKAAN LALU LINTAS DI RSUD
TUGUREJO SEMARANG TRIWULAN 4 TAHUN 2016 DAN TRIWULAN 1
TAHUN 2017

SALATIGA, R., EFENDI, R., & HUSADA, S. T. I. K. K. PEMBERIAN TEKNIK


RELAKSASI GUIDED IMAGERY TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA
ASUHAN KEPERAWATAN Ny. S DENGAN POST OPERASI FRAKTUR
RADIUS SINISTRA 1/3 DISTAL DI RUANG FLAMBOYAN I.

Dewi, R., & Putri, M. E. (2017, February). PENGARUH TEKHNIK HIPNOTHERAPI


TERHADAP NYERI KLIEN POST APPENDICTOMY DI RUANG RAWAT INAP
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RADEN MATTAHER PROVINSI JAMBI. In
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL.

Aris Purwanti, N., Suyatno Hadi, S., Kep, S., Festy, P., KM, S., & Kes, M. (2016). ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS POST OP FRAKTUR
FEMUR DENGAN HAMBATAN MOBILITAS FISIK DI RS SITI KHODIJAH
SEPANJANG SIDOARJO (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah
Surabaya).

Perawatan Post Op Fraktur Page 22


Muttakin, Arif. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta : EGC

Perawatan Post Op Fraktur Page 23