Anda di halaman 1dari 2

Penerus Pejuang Pendidikan Nasional

By : Sofi Eka Putri Silalahi

Pasukan berseragam putih merah itu berjalan tenang dan sumringah, diatas pipa
pipa ramping yang menjadi penghubung antara jurang yang akan mereka lewati. Bagaimana
bisa ada pemandangan semiris ini, padahal Indonesia telah merdeka dari tahun 1945,
apakah kemerdekaan itu hanya milik penghuni kota saja? Indonesia memang sudah
merdeka sejak tahun 1945 lalu, namun dampak dari kemerdekaan itu sendiri belum
dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat indonesia. Fasilitas dan sarana prasarana yang
memadai belum dirasakan sepenuhnya oleh anak – anak di daerah terpencil. Terutama di
bidang pendidikan. Padahal investasi terbaik untuk Negara adalah investasi di bidang
pendidikan. Pendidikan yang berkualitas hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas dan
mereka yang berada di kota kota besar. Sedangkan saudara kita yang berada di pelosok
negeri ini yang punya hak sama dengan anak anak di kota besar untuk mendapatkan
pendidikan yang berkualitas harus susah payah untuk bisa bersekolah. Tidak adanya sekolah
dan tenaga pengajar membuat mereka harus bekerja lebih keras bahkan ada yang
mengorbankan nyawanya untuk bisa sekedar bersekolah. Mereka harus jalan kaki sejauh 3-
4 KM, menyebrangi sungai yang deras,dan melewati rintangan yang ekstrem.

Hal ektsrem tersebut kerap kali dilakukan oleh siswa siswi yang hendak bersekolah di dua
desa di Karanganyar dan Boyolali, Jawa Tengah. Para siswa memilih untuk menggunakan
saluran air sebagai jembatan darurat untuk beraktivitas menyeberangi jurang sedalam
sekitar 20 meter. Saluran air peninggalan zaman Belandatersebut dibangun sekitar tahun
1920 dan menjadi sarana utama bagi warga di dua desa tersebut.

Memutar dengan jarak tempuh sejauh tiga kilometer untuk sampai ke sekolah bukan pilihan
bagi Andika salah satu siswa yang juga turut menggunakan pipa tersebut sebagai jembatan
darurat. Memang,kondisi jembatan itu tak layak menjadi jalur penyeberangan, tetapi para
pelajar asal Desa Bolon, Karanganyar, itu tetap diibuntuti risiko saat melintasi saluran air
sepanjang 50 meter, hanya untuk pergi ke sekolah. Berisiko karena saat menyebrang para
pelajar itu sama sekali tidak menggunakan pengaman apapun, selain berpegang pada
jembatan pipa tersebut.

Selain lebih menghemat waktu sampai di sekolahnya di daerah Colomadu, Boyolali,


para siswa justru mengaku sudah terbiasa melihat jurang itu. Menurut penuturan salah satu
bocah itu, awalnya memang menyebrangi jembatan adalah hal menakutkan, tetapi karena
telah sering mereka kini menjadi terbiasa. Jembatan darurat tersebut menghubungkan
Dusun Plempungan, Desa Bolon, di wilayah Karanganyar; dan Dusun Suro, Desa Ngemplak,
Boyolali, Provinsi Jawa Tengah.

Awalnya saluran air yang diperuntukkan sebagai irigasi pada zaman Belanda tersebut
dimodifikasi oleh warga dengan menambahkan papan setebal sekitar tiga sentimeter yang
dipasang berjajar sepanjang jembatan. Di atas papan selebar lebih kurang 60 sentimeter
tersebut, warga bisa melintas dengan sepeda atau bahkan kendaraan bermotor. Warga juga
harus bergantian saat melintas dengan warga yang mengantre di ujung lain jembatan
tersebut. Mungkin perjuangan para pelajar ini bukan lagi mengusir penjajah, tetapi
mengusir keinginan menyerah meski mengecap pendidikan bukanlah hal mudah.

Tanggal 2 Mei merupakan peringatan Hari Pendidikan Nasional bagi bangsa ini,
namun masih layakah Hari tersebut dirayakan, saat tidak semua masyarakat dapat
merasakan kemudahan pendidikan itu sendiri? Perjuangan para pelajar ini harusnya menjadi
kecaman tajam untuk pemerintah dan terkhusus para pelajar dikota- kota besar. Di kota
besar pendidikan adalah hal yang mudah untuk didapatkan, berbeda dengan peduduk di
dua desa di Kranganyer , Boyolali. Setelah melihat kegigihan mereka yang sangat kuat,
apakah kita yang kondisinya yang jauh lebih baik dari mereka masih bisa untuk malas dan
bolos sekolah? Mari kita syukuri nikmat yang telah diberikan kepada kita dengan
memanfaatkannya dengan sebaik baiknya sebelum kenikmatan tersebut hilang.