Anda di halaman 1dari 284

LAPORAN AKHIR

PENYUSUNAN MASTERPLAN TEKNOPOLITAN


KABUPATEN PELALAWAN

Kerjasama Antara:
PEMERINTAH KABUPATEN PELALAWAN
Dengan
BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

Tahun 2012
LAPORAN AKHIR

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat
rahmat dan hidayah-Nya laporan “Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten
Pelalawan” dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Laporan Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan memuat
ide gagasan, hasil survey, analisis dan rencana tindak yang dituangkan dalam 6
(enam) bagian tulisan yaitu : Pendahuluan, Tinjauan Kebijakan, Gambaran Umum
Wilayah Kabupaten Teknopolitan, Analisis Pengembangan, Rencana Pembangunan
Fisik dan Rencana Pengembangan.
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan disusun sebagai
rujukan dan merupakan inisiasi awal persiapan pembangunan kawasan teknopolitan.
Rencana pengembangan ini akan dilakukan secara bertahap mulai tahun 2013 hingga
tahun 2027 yang akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan baik pemerintah,
perguruan tinggi, lembaga litbang dan dunia usaha.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala BPPT,
Bupati Pelalawan dan Deputi Kepala BPPT Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi atas
bimbingan, arahan dan masukannya hinggga laporan ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya. Tak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang telah
membantu kelancaran penyusunan laporan ini.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik serta saran konstruktif masih kami harapkan untuk penyempurnaan
Laporan akhir ini.
Semoga laporan Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan ini
menjadi setitik sumbangan bagi penguatan sistem inovasi di Indonesia.

Jakarta,
Desember 2012

PENYUSUN

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan i


LAPORAN AKHIR

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN 1-1


1.1. Latar Belakang 1-1
1.2. Tujuan dan Sasaran 1-2
1.3. Ruang Lingkup 1-2
1.4. Metodologi 1-3
BAB II TINJAUAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN 2-1
2.1 Kebijakan Nasional Program MP3EI 2-1
2.2 Kebijakan Pembangunan Wilayah Provinsi Riau 2-6
2.3 Kebijakan Pembangunan Wilayah Kabupaten Pelalawan. 2-23
2.4 Kebijakan Dasar Teknopolitan 2-26
2.5 Pengertian Teknopolitan 2-27
2.6 Persyaratan Teknopolitan 2-31
2.7 Dasar Hukum Teknopolitan 2-35
BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH 3-1
3.1. Kondisi Wilayah Kabupaten Pelalawan 3-1
3.2. Profil Potensi Dan Peluang Ekonomi 3-12
3.3. Deliniasi Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan 3-21
3.3.1. Landasan Penentuan Kawasan Teknopolitan 3-21
Kabupaten Pelalawan
3.3.2. Hasil Deliniasi Kawasan Teknopolitan Kabupaten 3-22
Pelalawan
3.4. Kondisi Lahan Peruntukan Kawasan Teknopolitan Di 3-25
Kabupaten Pelalawan.
BAB IV ANALISIS PENGEMBANGAN TEKNOPOLITAN KABUPATEN 4-1
PELALAWAN
4.1. Analisis Spasial Kawasan Teknopolitan Kabupaten 4-1
Pelalawan
4.2. Infrastruktur Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan 4-16

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan ii


LAPORAN AKHIR

4.2.1. Sistem Transportasi Makro Teknopolitan Pelalawan 4-17


4.2.2. Aksesibilitas Kawasan Teknopolitan Pelalawan 4-31
4.2.3. Kebutuhan Pengembangan Jalan Akses Kawasan 4-33
4.2.4. Sistem Jaringan Drainase 4-34
4.2.5. Sistem Jaringan Air Bersih 4-37
4.2.6. Infrastruktur Energi 4-43
4.2.7. Rencana Pengelolaan Sampah 4-46
4.2.8. Rencana Pengembangan Pelabuhan Laut Sokoi 4-58
4.3. Analisis Ekonomi Dan Investasi Kawasan Teknopolitan 4-64
Kabupaten Pelalawan
4.3.1 Analisis Perekonomian Daerah 4-64
4.3.2 Analisis Pohon Industri Rantai Nilai Industri Hilir 4-72
Kelapa Sawit
4.3.3 Analisis Nilai Tambah dan Kemampuan Teknologi 4-75
Industri Hilir Sawit
4.3.4 Analisis Ekonomi dan Peluang Investasi 4-77
4.4. Analisis Kelembagaan Kawasan Teknopolitan 4-87
4.4.1. Pengertian Kawasan Teknopolitan 4-87
4.4.2 Persyaratan Teknopolitan 4-88
4.4.3 Dasar Hukum Kawasan Teknopolitan 4-89
4.4.4 Desain Kelembagaan Kawasan Strategis Teknopolitan 4-92
Pelalawan
4.4.5 Strategi Implementasi Kawasan Teknopolitan 4-105
Pelalawan
4.5. Analisis Sumber Daya Manusia Kawasan Teknopolitan 4-106
Kabupaten Teknopolitan
4.5.1. Pengertian SDM 4-106
4.5.2 Komponen Sumber Daya Manusia 4-106
4.5.3 Definisi SDM 4-107
4.5.4 Jenis dan Klasfikasi SDM 4-107
4.5.5 Peran SDM dalam Teknopolitan 4-108
4.5.6 Profil SDM, Sosial Budaya dan Sapras Pendidikan 4-110
4.6. Analisis SWOT 4-133

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan iii


LAPORAN AKHIR

BAB V RENCANA PEMBANGUNAN FISIK TEKNOPOLITAN 5-1


PELALAWAN
5.1. Visi Dan Misi 5-1
5.1.1. Visi Teknopolitan Pelalawan 5-1
5.1.2. Misi Teknopolitan Pelalawan 5-1
5.1.3. Tujuan Pengembangan Teknopolitan Pelalawan 5-2
5.1.4. Kebijakan Strategis Pengembangan Teknopolitan 5-2
Pelalawan
5.2. Rencana Struktur Ruang Kawasan Teknopolitan 5-3
5.2.1. Konsep Pengembangan Struktur Ruang Kawasan 5-5
Teknopolitan
5.2.2. Rencana Pembagian Ruang Kawasan Teknopolitan 5-8
5.3. Rencana Pola Ruang Kawasan Teknopolitan 5-10
5.3.1. Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung 5-11
5.3.2. Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya 5-19
5.3.2.1. Kegiatan Komersial 5-19
5.3.2.2. Kegiatan Pariwisata dan Rekreasi 5-20
5.4. Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan 5-20
Teknopolitan
BAB VI RENCANA PEMBANGUNAN TEKNOPOLITAN PELALAWAN 6-1
6.1. Indikasi Program dan Kegiatan Pembangunan Kawasan 6-1
Teknopolitan Pelalawan
6.2. Penutup 249

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan iv


LAPORAN AKHIR

DAFTAR GAMBAR

NOMOR NAMA GAMBAR HALAMAN


2.1 Pertumbuhan Produksi Kelapa Sawit di Indonesia 2-2
2.2 Rantai Nilai Kegiatan Ekonomi Utama Kelapa Sawit 2-3
2.3 Produktivitas dari Beberapa Kategori Pemilik Perkebunan 2-3
dan Benchmark Lainnya
4.1 Peta Lokasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan 4-10
4.2 Peta Sistem Lahan Lokasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan 4-11
4.3 Peta Penggunaan lahan di lokasi rencana Pengembangan 4-12
Kawasan Teknopolitan Pelalawan
4.4 Peta Geologi Lokasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan 4-13
4.5 Peta Deliniasi Topografi Kawasan Teknopolitan Pelalawan 4-14
4.6 Potret Situasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan 4-15
4.7 Skema Keterkaitan Sistem Pusat dan Sistem Jaringan Jalan 4-18
4.8 Posisi Strategis Kabupaten Pelalawan 4-32
4.9 Aksesibilitan Kawasan Teknopolitan Pelalawan 4-33
4.10 Orientasi Aliran Saluran Drainase 4-37
4.11 Proses Pengolahan Air Bersih 4-40
4.12 Fasilitas Pengolahan Air Bersih 4-42
4.13 Skema pembagian lapisan cell pada ADCP 4-59
4.14 Sedimen grab (a), alat untuk mengambil sampel sedimen 4-62
dasar; dan botol Nansen (b), alat untuk mengambil sampel
air
4.15 Sebaran Provinsi berdasarkan Tingkat Pertumbuhan 4-65
Ekonominya di IndonesiaTahun 2011
4.16 Perkembangan TFP Growth Provinsi Riau 1984-2008 4-66
4.17 Struktur PDRB Kabupaten Pelalawan Tahun 2007-2010 4-67
dengan Migas dan Tanpa Migas
4.18 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pelalawan Tahun 4-68
2007-2010
4.19 Kontribusi 3 Sektor Utama terhadap PDRB 4-69
Kabupaten Pelalawan Tahun 2007-2010
4.20 Produk Industri Sawit yang belum diproduksi di dalam 4-73
negeri
4.21 Pohon Industri Kelapa Sawit 4-74
4.22 Rantai Nilai Industri Kelapa Sawit 4-75
4.23 Ilustrasi Organisasi Kawasan Strategis Teknopolitan 4-97
Pelalawan
4.24 Sistem Kelembagaan Kawasan Teknopolitan Pelalawan 4-98
4.25 Posisi UPTD dalam Struktur Organisasi Bappeda Kabupaten 4-101
Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan v


LAPORAN AKHIR

4.26 Struktur Organisasi UPTD Kawasan Strategis Teknopolitan 4-101


Pelalawan
4.27 Mekanisme Pengusulan KEK 4-104
4.28 Laju Pertumbuhan Penduduk Kab. Pelalawan Tahun 2000- 4-110
2011
4.29 Distribusi Penduduk di kabupaten Pelalawan Menurut 4-111
Kecamatan Keadaan Pertengahan Tahun 2011
4.30 Distribusi Penduduk Kabupaten Pelalawan Menurut 4-113
Kelompok Umur Produktif Tahun 2010
4.31 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Pelalawan 4-14
(%)
4.32 Posisi SWOT Pembangunan Kawasan Teknopolitan 4-137

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan vi


LAPORAN AKHIR

DAFTAR TABEL

NOMOR NAMA GAMBAR HALAMAN


4.1 Kriteria Pertimbangan Pemilihan Lokasi Kawasan Industri 4-7
4.2 Sistem Jaringan Jalan Dalam Rencana Struktur Ruang 4-25
Wilayah Kabupaten Pelalawan
4.3 Perhitungan Kebutuhan Air Bersih 4-38
4.4 Hasil Pemeriksaan Kualitas Air 4-39
4.5 Perhitungan Kebutuhan Listrik Kawasan 4-44
4.6 Alternatif Perkiraan Biaya Pembangunan 4-45
4.7 Prediksi Volume Sampahh Kawasan Teknopolitan 4-46
Pelalawan
4.8 Komposisi Timbulan Sampah di Permukiman Strata 4-47
Pendapatan Tinggi
4.9 Komposisi Timbulan Sampah Kawasan Jasa dan 4-49
Komersial
4.10 Komposisi Timbulan Sampah Perkantoran 4-49
4.11 Komposisi Timbulan Sampah Sekolah 4-50
4.12 Nilai Kalor dan Kadar Air Sampah dari Berbagai Sumber 4-52
4.13 Perkiraan Karakteristik Rata-Rata Sampah DKI Jakarta 4-52
Sebagai Studi Banding
4.14 Konstanta pasang surut Muara Kampar (Sokoi) 4-58
4.15 Hasil pengukuran arus di muara dengan currentmeter 4-60
saat spring tide
4.16 Hasil pengukuran arus di muara dengan currentmeter 4-60
saat neap tide
4.17 Lokasi pengambilan sample sediment 4-63
4.18 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten 4-70
Pelalawan Tahun 2010
4.19 Perkembangan Penanaman Modal Menurut Bidang Usaha 4-71
di Kabupaten Pelalawan Tahun 2010
4.20 Nilai Tambah dan Kemampuan Teknologi Industri Hilir 4-76
Sawit di Indonesia
4.21 Analisis Nilai Tambah Industri Hilir Sawit 4-83
4.22 Peluang pasar Fatty Acid di Indonesia 4-86
4.23 Peluang pasar Fatty Alkohol di Indonesia 4-86
4.24 Peluang investasi industri Oleokimia di Indonesia 4-87
4.25 Penduduk Kabupaten Pelalawan menurut Jenis Kelamin 4-112
dan Kelompok Umur Produktif Keadaan Pertengahan
Tahun 2011
4.26 Statistik Ketenagakerjaan Kabupaten Pelalawan 2008- 4-114
2010
4.27 Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Usia 4-115
Sekolah di Kabupaten Pelalawan Tahun 2010
4.28 Indeks Pembangunan Manusia Kab. Pelalawan 4-118

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan vii


LAPORAN AKHIR

NOMOR NAMA GAMBAR HALAMAN


4.29 Banyaknya Sekolah menurut Kecamatan dan Tingkat 4-121
Sekolah di Kab. Pelalawan Tahun 2010
4.30 Jumlah Murid Menurut Kecamatan dan Tingkat Sekolah Di 4-122
Kabupaten Pelalawan Tahun 2010
4.31 Perguruan Tinggi Pertanian dan Perkebunan di P. Jawa 4-123
dan Sumatera
4.32 Perkiraan Kebutuhan SDM Teknik di Industri Hilir CPO 4-128
(Orang)
4.33 Matrik IFAS - SWOT 4-135
4.34 Matrik EFAS - SWOT 4-136
4.35 Matrik SWOT 4-138

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan viii


LAPORAN AKHIR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Dalam era otonomi daerah dan globalisasi, setiap daerah berupaya


meningkatkan kapasitas dan produktivitasnya sehingga memiliki daya saing yang
tinggi. Dengan peningkatan daya saing tersebut, akan berdampak pada peningkatkan
kesejahteraan masyarakat.

Setiap daerah mempunyai keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Karena
itu masing-masing daerah memiliki kemampuan menciptakan/mengembangkan dan
menawarkan iklim/lingkungan yang paling produktif bagi bisnis dan inovasi, daya tarik
atau menarik “investasi,” talenta (talented people), dan faktor-faktor mudah bergerak
(mobile factors) lainnya, serta potensi berkinerja unggul yang berkelanjutan.

Selain itu, masing-masing daerah merupakan sumber inovasi dan inspirasi


Indonesia masa depan dan setiap Daerah (masing-masing dan secara bersama)
mengembangkan iklim/lingkungan, sosial, budaya, dan “arena” (kesempatan) yang
baik untuk tumbuh-berkembangnya talenta dan kreativitas-keinovasian.

Kabupaten Pelalawan merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau yang


mempunyai sumberdaya alam yang melimpah, terutama perkebunan khususnya
komoditas andalan kelapa sawit, karet, dan kelapa. Selain sumberdaya alam, di
Kabupaten ini juga terdapat beberapa industri besar dan sumberdaya manusia yang
cukup berkualitas. Hal tersebut merupakan potensi yang dimiliki untuk
mengembangkan Teknopolitan di Kabupaten Pelalawan.

Dilihat dari kebijakan nasional Masterplan Percepatan dan Perluasan


Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, khususnya pengembangan
Koridor Ekonomi Pulau Sumatera, bahwa pengembangan teknopolitan di Kabupaten
Pelalawan yang berbasis pada industri hilir kelapa sawit merupakan salah satu upaya
yang strategis untuk mengembangkan wilayah berbasis potensi sumberdaya alam
dengan mengandalkan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dan kolaborasi yang
terpadu antara pemerintah, lembaga penelitian dan pengembangan, industri, dan
masyarakat.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-1


LAPORAN AKHIR

1.2. TUJUAN DAN SASARAN

1.2.1. Tujuan

Tujuan kegiatan ini adalah menyusun masterplan Kawasan Teknopolitan di


Kabupaten Pelalawan sebagai upaya peningkatan daya saing daerah berbasis inovasi
dan ilmu pengetahuan (konwledge based economy) yang melibatkan peran Pemerintah
Daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri.

1.2.2. Sasaran

Sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan


masterplan kawasan teknopolitan di Kabupaten Pelalawan ini, adalah:

1) Teridentifikasinya sentra-sentra iptek di Kabupaten Pelalawan;

2) Teridentifikasinya “keterkaitan” dan “jaringan” iptek;

3) Teridentifikasinya economic capital, intelectual capital, dan social capital;

4) Teridentifikasinya kebutuhan pengembangan Kawasan Teknopolitan di Kabupaten


Pelalawan;

5) Tersusunnya konsep pengembangan Kawasan Teknopolitan di Kabupaten


Pelalawan; dan

6) Tersusunnya rencana tindak pengembangan Kawasan Teknopolitan di Kabupaten


Pelalawan.

1.3. RUANG LINGKUP

1.3.1. Lingkup Kegiatan.

Lingkup kegiatan penyusunan masterplan kawasan teknopolitan Kabupaten


Pelalawan ini, meliputi:

a. Persiapan;

b. Survey Pengumpulan Data dan Informasi;

c. Focus Group Discussion (FGD);

d. Analisis;

e. Konsultasi Publik;

f. Penyusunan Laporan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-2


LAPORAN AKHIR

1.3.2. Lingkup Substansi.

Lingkup substansi kegiatan penyusunan masterplan kawasan teknopolitan


Kabupaten Pelalawan ini, meliputi:

a. Mengidentifikasi sentra-sentra iptek di Kabupaten Pelalawan;

b. Mengidentifikasi “keterkaitan” dan “jaringan” iptek;

c. Mengidentifikasi economic capital, intelectual capital, dan social capital;

d. Mengidentifikasi kebutuhan pengembangan Teknopolitan di Kabupaten Pelalawan;

e. Menyusun konsep pengembangan Teknopolitan di Kabupaten Pelalawan; dan

f. Menyusun rekomendasi pengembangan Teknopolitan di Kabupaten Pelalawan.

1.3.3. Lingkup Wilayah.

Lokasi kegiatan ini secara makro adalah wilayah administrasi Kabupaten


Pelalawan dan sekitarnya, sedangkan secara mikro adalah kawasan yang akan
ditetapkan sebagai Kawasan Teknopolitan seluas kurang lebih 3.650 (tiga ribu enam
ratus lima puluh) hektar.

1.4. METODOLOGI

1.4.1. Penentuan Batas Wilayah Perencanaan (Delineasi Kawasan)

Penentuan delineasi kawasan perencanaan Kawasan Teknopolitan Pelalawan


belum ada regulasi yang mengaturnya. Karena itu, lokasi yang dapat diusulkan untuk
menjadi Kawasan Teknopolitan harus memenuhi kriteria:

a. sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah, dan tidak berpotensi mengganggu
kawasan lindung; RTRW yang direview meliputi RTRWN, RTR Pulau Sumatera,
RTRW Provinsi Kepulauan Riau, RTRW Kabupaten Pelalawan, dan RDTR
Kecamatan-kecamatan yang tercakup di wilayah rencana. Di dalam RTRW telah
dilakukan berbagai analisis terkait dengan kesesuaian lahan, kemampuan lahan
dan ketersediaan lahan untuk kawasan lindung dan budidaya.

b. pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang bersangkutan mendukung


pengelolaan Kawasan Teknopolitan;

c. terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional atau
berdekatan dengan jalur pelayaran internasional di Indonesia atau pada wilayah

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-3


LAPORAN AKHIR

potensi sumber daya unggulan seperti kelautan dan perikanan, kelapa sawit,
karet, pertambangan, dan pariwisata.

d. tersedia dukungan infrastruktur dan kemungkinan pengembangannya; dan

e. mempunyai batas yang jelas. Batas yang jelas adalah batas alam (sungai atau
laut) maupun buatan (pagar atau tembok).

Hal penting dilakukan adalah mengetahui status kepemilikan lahan yang ada,
pada umumnya data berasal dari BPN.

Analisis yang dilakukan untuk mendukung delineasi KEK meliputi :

 Analisis Makro.

Analisis makro terhadap aspek fisik, ekonomi, sosial budaya, infrastruktur,


dan kelembagaan terhadap wilayah-wilayah yang mempunyai keterkaitan
tinggi terhadap Kawasan Teknopolitan, yaitu seluruh kabupaten dan kota di
Provinsi Kepulauan Riau.

 Analisis Mikro.

Analisis mikro terhadap aspek fisik/lingkungan, ekonomi, sosial budaya,


infrastruktur, dan kelembagaan serta kawasan perikanan yang sudah ada di
wilayah perencanaan yang meliputi Kabupaten Pelalawan. Pengaruh timbal
balik antara Kawasan Teknopolitan dan wilayah sekitar merupakan faktor
penting untuk penentuan delineasi.

1.4.2. Konsep Dasar Dan Alur Pikir

Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan terletak di dalam Kawasan Andalan


Provinsi Kepulauan Riau. Sektor lain yang juga menjadi unggulan kawasan andalan
Provinsi Kepulauan Riau ini adalah pariwisata dan pertambangan. Dalam
merencanakan pengembangan Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan, analisis
akan dilakukan tidak hanya menyangkut potensi pengembangan internal kawasan
tetapi juga pengaruh eksternal juga perlu dianalisis.

Lingkup analisis akan terbagi dalam 2 (dua) kajian utama yakni analisis spasial
(Spatial Analysis) dan analsis sektoral (Sectoral Analysis). Analisis spasial akan menitik
beratkan pada analisis kemampuan sumberdaya kawasan. Untuk memperoleh hasil
analisis berupa kinerja kemampuan sumber daya lahan yang dimiliki kawasan,
beberapa proses analisis perlu dilakukan, antara lain analisis terhadap potensi rawan
bencana, analisis pola pemanfaatan ruang dan analisis kesesuian rencana tata ruang.
Teknik analisis utama yang digunakan adalah analisis spasial (Spatial Analysis).

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-4


LAPORAN AKHIR

Gambar 1.1 Peta Awal Rencana Lokasi Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-5


LAPORAN AKHIR

Analisis kemampuan sektor strategis di Kawasan Teknopolitan Kabupaten


Pelalawan. Untuk mendapatkan hasil kajian berupa kinerja kemampuan sektor
strategis di Kabupaten Pelalawan, maka serangkaain proses analisis perlu dilakukan,
antara lain analisis potensi ekonomi, analisis infrastruktur, analisis kelembagaan dan
regulasi, dan analisis sumber daya manusia. Teknik analisis yang digunakan antara
lain analisis ekonometrik.

Dalam kajian eksternal, penekanan analisis dilakukan pada 3 (tiga) aspek utama
yaitu analisis kebijakan spasial dan sektoral, analisis peran dan kedudukan kawasan
dalam lingkup regional dan nasional, serta peluang dan ancaman yang dimiliki
kawasan dalam konteks regional. Secara garis besar konsep dan alur pendekatan yang
dilakukan untuk menyelasaikan kegiatan ini dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Dari gambar tersebut pendekatan analisis dilakukan untuk analisis internal dan
eksternal. Analisis eksternal difokuskan pada antisipasi kawasan terhadap peluang dan
ancaman eksternal yang mungkin terjadi, sedangkan analisis internal menyangkut
optimalisasi potensi dan sumberdaya yang ada.

1.4.3. Metode Pelaksanaan Survai

Kegiatan survai bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi sebagai


bahan dasar dalam perumusan rencana. Untuk mencapai memperoleh data dan
informasi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan penyusunan rencana maka
rancangan survai yang disusun haruslah sesuai dengan metoda penelitian yang akan
digunakan dalam pekerjaan ini. Kaitan antara rancangan studi dengan rancangan
survai yang menjelaskan hubungan variabel data dengan variabel tujuan studi adalah
sebagaimana yang dapat dilihat pada Gambar 1.2.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-6


LAPORAN AKHIR

Pengembangan Kawasan Teknopolitan


Kabupaten Pelalawan

Potensi besar, lokasi strategis, jalur


transportasi interegional, Lokasi Industri CPO

Pendekatan Analisis
Pengembangan Kawasan

Analisis Internal Analisis


Eksternal

Analisis Spasial Analisis Sekoral

Analisis Neraca Sumber Analisis Pola Pemanfaatan Analisis Analisis Pola Keterkaitan Analisis Sektor
Rencana Pemanfaatan Analisis Kebijakan Spasial
Daya Lahan Kawasan Ruang Kawasan Ekonomi Kawasan Strategis Kawasan
Ruang Kawasan
maupun Sektoral dalam
Analisis Daerah Rawan Analisis Tingkat Ekspoitasi Lingkup Regional-Nasional
Analisis
Bencana Lahan Rencana Pemanfaatan Analisis Keterakaitan Analisis Potensi Sektor
Ruang Secara Vertikal Input-ouput Produksi Ekonomi Analisis Kedudukan
Analisis Hutan Lindung, Analisis Dominasi Kawasan Dalam
Lahan Kritis dan Hutan Pemanfaatan Lahan
Analisis Lingkup Regional-
Produksi Analisis Keterkaitan Analisis Penyerapan
Rencana Pemanfaatan Nasional
Analisis Arah dan Pola Input-ouput Tenaga Kerja Tenaga kerja
Analisis Status Pemilikan Ruang Secara Horisontal
Lahan Perkembangan
Pemanfaatan Lahan Analisis Peluang dan
Analisis Analisis Keunggulan Ancaman Eksternal
Analisis Kesesuaian Analisis Potensi Konflik Rencana Pengembanban Analisis Keterkaitan Komparatif Sektor : Kawasan
Lahan Pemanfaatan Ruang Infrastruktur Distribusi LQ, Shift-Share

Rencana Pengembangan Spatial Rencana Pengembangan Teknopolitan Peluang dan


(Blok Plan) dan Infrastruktur (industri Hilir Sawit) Ancaman

AnalisisInvestasi Analisis Kelembagaan Analisis SDM

Rencana Investasi Rencana Pengembangan Kelembagaan Rencana Pengembangan SDM Rencana Strategik (Skenario Pengembangan)

Masterplan Teknopolitan
Kabupaten Pelalawan

Gambar 1.2. Alur Pikir Pendekatan Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-7


LAPORAN AKHIR

Maksud dan Tujuan Pekerjaan

Lingkup dan Materi Penelitian

Pendekatan Studi

Kebutuhan Informasi Data

Desain Survai

SURVAI SEKUNDER SURVAI PRIMER

DATA SEKUNDER DATA PRIMER LITERATUR

Survai Observasi Focus Group Studi


instansional Lapangan Discussion Kepustakaan

Metoda survai : Metoda survai :  Pemerintah Kajian literatur


 Akademisi terkait
 Sumber instansi  Wilayah pengamatan  Pebisnis
 Jenis/tipe data  Tema/aspek kajian
 Lingkup lokal/regional

Gambar 1.3 Diagram Metode Pelaksanaan Survai

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-8


LAPORAN AKHIR

Adapun metoda pelaksanaan survai yang akan dilakukan sesuai dengan


kebutuhan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan ini dapat dikelompokan
menjadi :

A. Survai Instansional

Survai ini dimaksudkan untuk mendapatkan data dan informasi yang telah
terdokumentasikan dalam buku, laporan dan statistik yang umumnya terdapat di
instansi terkait.Data yang dikumpulkan menyangkut wilayah perencanaan dari berbagai
aspek dalam lingkup internal maupun eksternal. Data dapat berupa peta grafis, data
teks dan numerik, data teknis engineering, kebijaksanaan dan peraturan. Disamping
pengumpulan data, pada kegiatan ini dilakukan pula wawancara atau diskusi dengan
pihak instansi mengenai permasalahan-permasalahan di tiap bidang/aspek yang
menjadi kewenangannya serta menyerap informasi mengenai kebijakan-kebijakan dan
program yang sedang dan akan dilakukan. Sumber data adalah berbagai instansi, baik
departemental maupun pemerintah daerah hingga tingkat kecamatan serta
badan/instansi non pemerintah (LSM, Swasta/ pelaku pasar, Perguruan Tinggi).

B. Survai primer.

Survai ini dilakukan untuk mendapatkan data terbaru/terkini langsung dari


lapangan atau obyek kajian. Terdapat 2 tipe survai yang akan dilakukan dalam
penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan, yaitu:

1. Observasi lapangan, terdiri dari survai urban desain, land-use, transportasi,


infrastruktur, dan utilitas.

Observasi lapangan dilakukan sebagai langkah pengenalan dan pengamatan


kondisi lapangan, baik aspek guna lahan, transportasi, infrastruktur, dan
utilitas. Di samping pengamatan kondisi eksisting melalui observasi ini
diharapkan pula dapat diperoleh informasi perkembangan dan kecenderungan
arah perkembangan pembangunan/ kegiatan.

 Survai land use.

Survai yang dilakukan adalah pengecekan di lapangan mengenai guna


lahan eksisting yang ada di wilayah perencanaan. Data-data yang diperoleh
dari survai ini digunakan untuk menganalisis struktur ruang eksisting dan
kemudian menetapkan struktur ruang dan penggunaan lahan pada tahun
yang direncanakan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-9


LAPORAN AKHIR

 Survai Transportasi.

Survai ini dilakukan untuk memperoleh data dan informasi mengenai sistem
transportasi di wilayah perencanaan dengan bentuk survai yang dilakukan
adalah :

o pengamatan lapangan untuk mengamati kondisi dan permasalahan


jaringan sistem transportasi sehingga dapat menangkap/
menginterpretasikan data-data sekunder lebih baik.

o traffic counting, untuk memperoleh data volume lalu lintas harian


rata-rata (LHR) pada jalan-jalan utama dan persimpangan penting.

 Survai infrastruktur dan utilitas.

Survai ini dilakukan untuk memperoleh data infrastruktur dan utilitas


dengan cara pengamatan lapangan guna menangkap/ meng-
interpretasikan data-data sekunder lebih baik.

Survai infrastruktur ini meliputi:

 Survei infrastruktur di dalam kawasan teknopolitan.


 Survai infrastruktur di luar kawasan teknopolitan khususnya untuk
survai kajian kelayakan lokasi pelabuhan sokoi.

2. Focus Group Discussion (FGD), bertujuan untuk menjaring berbagai


pemikiran dan respon pembangunan teknopolitan Pelalawan dari berbagai
pihak baik pemerintah pusat/provinsi/kabupaten, lembaga riset/perguruan
tinggi, pelaku bisnis, dan stakeholder lainnya.

C. Studi Kepustakaan

Melalui studi kepustakaan ini akan digali teori-teori yang berkembang dan terkait
dengan pekerjaan Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan, hasil
studi yang telah dilakukan yang berkaitan dengan wilayah perencanaan dan materi
pekerjaan, serta metode-metode dan teknik penelitian yang pernah digunakan. Studi
kepustakaan merupakan studi yang dilakukan terhadap data yang telah ada. Melalui
studi kepustakaan ini akan digali teori-teori yang telah berkembang yang berkaitan
dengan pekerjaan penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan, hasil-
hasil studi yang telah dilakukan yang berkaitan dengan wilayah perencanaan dan
materi pekerjaan, serta metode-metode dan teknik penelitian yang pernah digunakan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-10


LAPORAN AKHIR

Data serta informasi yang diperlukan dikumpulkan melalui buku teks, laporan-laporan
studi, makalah, jurnal dan buletin.

Adanya issue dan kecenderungan masalah tersebut diatas maka perlu disusun
Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan. Kawasan sendiri mempunyai
pengertian sebagai suatu bangunan, tempat, atau kawasan dengan batas-batas
tertentu yang di dalamnya dilakukan kegiatan usaha industri pengolahanbarang dan
bahan, kegiatan rancang bangun, perekayasaan, penyortiran, pemeriksaan awal,
pemeriksaan akhir, dan pengepakan atasbarang dan bahan asal impor atau barang
dan bahan dari dalam Daerah Pabean Indonesia Lainnya (DPIL), yang hasilnya
terutama untuk tujuan ekspor. Pada dasarnya, fasilitas yang dimiliki oleh Kawasan
diberikan terhadap :

1. impor barang;

2. pemasukan Barang Kena Pajak (BKP);

3. pengiriman hasil produksi;

4. pengeluaran barang;

5. penyerahan kembali BKP;

6. peminjaman mesin;

7. pemasukan Barang Kena Cukai (BKC) ke dan/atau dari Kawasan.

Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan terjabarkan dalam bentuk arahan


pemanfaatan ruang dan dukungan prasarana dan sarana Kawasan Industri Kelapa
Sawit sekitarnya dalam mengantisipasi adanya pengembangan Pelabuhan dan sebagai
dokumen acuan 20 tahunan khususnya saat ditetapkan sebagai Kawasan Teknopolitan.

1.4.4. Metode Analisis

a. Analisis Spasial.

Dalam penyusunan rencana pengembangan kawasan ini, analisis spasial meliputi


kajian tentang neraca sumber daya lahan, analisis pola pemanfaatan ruang dan
analisis kesesuaian rencana tata ruang kawasan. Teknik analisis yang digunakan
adalah analisis spasial (Spatial analyst).

Analisis Spasial adalah teknik analisis yang menggunakan data spasial sebagai
input utamanya. Analisis spasial akan menghasilkan keluaran berupa informasi spasial
yang umumnya berperan sebagai masukan dalam pengambilan keputusan untuk

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-11


LAPORAN AKHIR

kegiatan perencanaan maupun operasional (tindakan). Data spasial yang digunakan


dapat bersumber dari berbagai media pengumpulan data seperti citra satelit, digitizer,
scanning maupun data lapangan (GPS).

Berdasarkan jenis analisis yang dapat dilakukan, analisis spasial memiliki lingkup
kajian yang sangat luas. Namun bila dilihat dari filosofi analisisnya, maka analisis
spatial pada prinsipnya merupakan suatu model matematik (mathematic modelling)
yang diterapkan dalam suatu media grafis. Dengan demikian maka salah satu teori
yang mendasari analisis spasial analisis adalah teori grafik (Graph Theory). Bila dilihat
berdasrkan jenis data yang digunakan, maka analisis spasial dapat dibedakan dalam
dua tipe yakni analisis statistik (Statistical analysis) dan analisis permukaan (Surface
analyis).

Dalam konteks teknologi, sampai saat ini sudah banyak perangkat lunak yang
dapat digunakan untuk melakukan analisis spasial. Namun teknologi yang erat kaitanya
dengan analisis sapasial dalam proses penataan ruang adalah teknologi Geographical
Information System (GIS). Teknologi ini lebih cocok digunakan untuk kegiatan
penataan ruang karena telah mempertimbangkan unsur teknologi informasi dan sistem
referensi geografis yang sangat menunjang pelaksanaan aktvitas penataan ruang.

Dalam konteks perencanaan wilayah secara umum, kedudukan analisis spasial


dengan menggunakan teknologi GIS dapat dilihat pada gambar 1.4 berikut :

Spatial Query &


Mapping Urban
GIS
Planning
Geo-processing
function
Input c
Scientifi

data

Non GIS Spatial Analysis


Database/data &
Modelling
data

Sumber : A G-O Yeh, 1999.

Gambar 1.4. Struktur Spatial Analysis dan Modelling

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-12


LAPORAN AKHIR

b. Analisis Ekonomi dan Investasi.

Dalam penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan, analisis


diawali dengan kaji ulang (review) dan pendalaman analisis terhadap rencana
pengembangan Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan maupun kajian terhadap
kondisi kawasan sekitarnya saat ini. Setelah itu analisis dilanjutkan kepada beberapa
hal berikut:

1) Analisis Perkiraan Tingkat Pertumbuhan Ekonomi dan Kebutuhan Investasi.

Pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan investasi akan didekati dengan


menggunakan model pertumbuhan Harrod-Domar (Todaro, 1994:65-66), yakni :

g = s/k

dimana :

g = tingkat pertumbuhan ekonomi

s = rasio tabungan sebagai proksi dari besarnya investasi yang


dibutuhkan (S = I)

k = perubahan rasio kapital-output = ICOR (incremental capital-output


ratio)

Tingkat pertumbuhan ekonomi dihitung berdasarkan perkembangan nilai PDRB


dari tahun ke tahun dengan menggunakan formulasi berikut (Widodo,
1990:36):

PDRBt  PDRBt  1
PDRBt = x 100%
PDRBt  1

dimana :

PDRBt = g = tingkat pertumbuhan ekonomi tahun t

PDRBt = produk domestik regional bruto tahun t

PDRBt-1 = produk domestik regional bruto tahun t-1

Apabila tingkat pertumbuhan ekonomi (g) di Teknopolitan Kabupaten Pelalawan


ditargetkan sebesar 7% per tahun, dengan perubahan rasio kapital-output (k)
sebesar 5, maka investasi yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat
pertumbuhan ekonomi tadi adalah 35% dari PDRB. Untuk memenuhi
pembiayaan investasi sebesar 35% dari PDRB tadi, sumberdananya bisa berasal
dari tabungan daerah setempat maupun dari pinjaman ke daerah lain dan
pinjaman luar negeri.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-13


LAPORAN AKHIR

2) Analisis Peluang Investasi

Analisis ini diturunkan dari skenario pengembangan sektor strategis dan komoditas
unggulan industri hilir sawit. Penentuan sektor strategis dan komoditas unggulan
dapat didekati dengan menggunakan beberapa alat analisis berikut :

 Analisis kuantitatif sederhana, seperti pertumbuhan (growth) sektor/komoditas


selama kurun waktu tertentu, kecenderungan (shift-share) perkembangan
sektor/komoditas yang bersangkutan, dan distribusi atau komposisi (ratio)
sektor/komoditas terhadap orientasinya.

 Analisis kuantitatif location quotient (LQ).

 Analisis aliran barang dan pohon industri.

 Analisis peluang pasar.

3) Analisis Pelaku Investasi

Berdasarkan peluang-peluang investasi yang ada, maka perlu pula dianalisis, siapa
atau pihak mana saja yang dapat menjadi pelaku investasi ? Apakah pemerintah
atau swasta atau masyarakat saja? Apakah terdiri dari gabungan pihak
pemerintah, swasta, dan/atau measyarakat? Kemudian, bagaimana skala usahanya
: usaha kecil, menengah, besar, atau koperasi? Untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan ini, pendekatan yang bisa digunakan antara lain berdasarkan
pendekatan ekonomi (seperti besarnya nilai investasi yang dibutuhkan,
pengembangan usaha kecil, menengah, dan koperasi, dan lain-lain), pendekatan
sosial (membuka lapangan kerja, pengembangan sosial budaya, dan lain-lain), dan
pendekatan politis regional (pengembangan usaha strategis bagi daerah, stabilitas
daerah, dan lain-lain).

4) Analisis Iklim Investasi

Analisis iklim investasi ini berkaitan erat dengan kebijaksanaan penciptaan iklim
investasi dan iklim usaha yang kondusif bagi tumbuhnya dunia usaha yang
berdaya saing tinggi. Karena itu, analisis iklim investasi mengarah pada insentif
dan disinsentif yang perlu ditempuh pemerintah dalam rangka pengembangan
Teknopolitan Kabupaten Pelalawan. Bentuk-bentuk insentif dan disinsentif tersebut
dapat berupa:

a) Bidang Finansial :

 Menambah kantor cabang bank maupun lembaga keuangan nonperbankan


milik pemerintah (pusat dan daerah), meningkatkan kerjasama dalam

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-14


LAPORAN AKHIR

pendanaan proyek-proyek investasi, dan jika perlu membentuk lembaga


permodalan khusus untuk membiayai investasi di Kabupaten Pelalawan
(seperti modal ventura).

 Mendorong institusi keuangan perbankan dan nonperbankan swasta


nasional untuk memperlebar usahanya ke Kabupaten Pelalawan dengan
cara memberikan kemudahan-kemudahan tertentu.

 Menyediakan berbagai kemudahan kepada investor untuk memperoleh


modal atau kredit/pinjaman, baik yang berasal dari dalam negeri maupun
luar negeri, dengan cara menawarkan suku bunga lunak, jangka waktu
pengembalian yang lebih panjang, dan masa tenggang bebas pembayaran
cicilan yang lebih lama.

 Memberikan keringanan pajak dan retribusi (seperti pajak penghasilan,


cukai, bea masuk, pajak ekspor, pajak pertambahan nilai, dan berbagai
jenis pajak dan retribusi lainnya) kepada investor yang menanamkan
modalnya di Kabupaten Pelalawan selama jangka waktu tertentu.

 Memberikan berbagai kemudahan kepada investor dalam penyelesaian


administrasi dan pengurusan perizinan investasi melalui sistem satu atap.

b) Bidang Sarana dan Prasarana :

 Membangun jaringan jalan-jalan baru serta memperbaiki kualitas jalan


yang sudah ada untuk memudahkan akses ke dan dari Kabupaten
Pelalawan.

 Mengembangkan jaringan listrik, air bersih, transportasi, dan


telekomunikasi di sekitar Kabupaten Pelalawan.

 Meningkatkan kualitas pelabuhan laut dan udara untuk mempermudah


akses ke dan dari Kabupaten Pelalawan.

 Pengembangan dan penataan kembali sarana fisik penunjang lainnya.

c) Bidang Sumberdaya Manusia (SDM):

 Mendatangkan tenaga kerja trampil dari daerah lain di luar Kabupaten


Pelalawan, misalnya melalui program antarkerja antardaerah (AKAD).

 Mengembangkan program-program khusus (seperti balai latihan kerja,


pelatihan-pelatihan, permagangan) dalam waktu yang relatif singkat
untuk mendidik dan melatih sumberdaya manusia yang potensial di

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-15


LAPORAN AKHIR

sekitar Kabupaten Pelalawan sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja


setempat.

 Mengantisipasi tenaga kerja trampil yang dimiliki daerah setempat untuk


tidak pergi ke daerah lain.

d) Bidang Data dan Informasi

 Menyediakan dan menyebarluaskan data dan informasi yang lengkap


mengenai project profile, company profile, dan peluang-peluang investasi
lainnya yang terdapat di Kabupaten Pelalawan.

 Membangun jaringan Sistem Informasi Manajemen Investasi di Kabupaten


Pelalawan.

e) Bidang Lainnya :

Memelihara pertumbuhan ekonomi yang mantap dan terus mengembangkan


iklim investasi dan iklim usaha yang kondusif.

5) Analisis Kelayakan Investasi.

Pengambilan keputusan berinvestasi oleh pihak swasta (masyarakat) secara garis


besar didasarkan pada dua preferensi berikut. Pertama, preferensi lokasi
(locational preferences), dimana investasi dilakukan di suatu lokasi karena lokasi
tersebut memang memiliki daya tarik yang terbaik di antara berbagai alternatif
lokasi yang ada. Keunggulan lokasi tersebut bisa berbentuk natural factor
endowments (seperti sumberdaya alam yang berlimpah dan sumberdaya manusia
yang andal) dan dapat berupa man-made endowments (seperti berbagai macam
infrastruktur, prosedur perizinan, insentif-disinsentif, dan kelembagaan). Kedua,
preferensi waktu (time preferences) calon investor, dimana calon investor tidak
hanya memperhitungkan tingkat keuntungan yang akan diperoleh dalam jangka
waktu tertentu, tetapi juga akan mempertimbangkan risiko-risiko yang akan
muncul dari kegiatan investasi yang dilakukan. Kedua preferensi ini dapat
dijabarkan menjadi kajian makro mengenai beberapa aspek berikut :

 Aspek ekonomi: kinerja dan prospek sektor/komoditas unggulan, di


antaranya berkaitan dengan penyediaan sumber-sumber (input) dan
pemasaran hasil produksi (output), pertumbuhan dan perubahan struktur
perekonomian, ketersediaan infrastruktur fisik (seperti listrik, air, transportasi,
komunikasi) dan nonfisik (kepastian hukum dan peraturan), penentuan dan
pemeringkatan sektor/komoditas unggulan, pola investasi, serta prospek
(peluang pasar) dan tantangan yang dihadapi sektor/komoditas unggulan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-16


LAPORAN AKHIR

 Aspek spasial : agroklimatologi, geografi, topografi, dan lain-lain.

 Aspek sosial-kultural dan sosio-politik: menyangkut fenomena sistem


sosial budaya masyarakat, khususnya masyarakat setempat, dan stabilitas
politik atau dinamika masyarakat.

 Aspek kualitas dan kesejahteraan: mengenai struktur ketenagakerjaan


dan perubahan kecenderungannya, baik secara demografis (kelompok usia
kerja) maupun mobilisasi spasial (urbanisasi), potensi sumberdaya manusia
yang berkaitan dengan pengembangan investasi, serta pemerataan
pendapatan.

 Aspek kebijakan dan kelembagaan: aspek kebijakan berhubungan


dengan evaluasi kebijakan yang sudah ada (khususnya yang menyangkut
investasi), efektivitas kebijakan, serta inventarisasi kebutuhan insentif dan
disinsentif yang mendukung investasi. Sedangkan dalam aspek kelembagaan
dikaji visi, misi, tujuan, dan strategi pengembangan Teknopolitan Kabupaten
Pelalawan, organisasi pemerintah, institusi pendidikan, lembaga swadaya
masyarakat, koperasi, dan lembaga-lembaga perekonomian masyarakat;
perumusan instrumen dan mekanisme operasional pengembangan investasi;
serta perumusan kerjasama dan koordinasi pengembangan kegiatan investasi
di dalam Teknopolitan Kabupaten Pelalawan sendiri dan dengan institusi di
luar Kabupaten Pelalawan.

 Aspek global : berkaitan dengan daya saing sektor/komoditas unggulan di


tingkat pasar yang lebih luas.

Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari kajian makro di atas, maka
dapat disusun kelayakan investasi untuk setiap project profile. Di samping untuk
menentukan calon-calon proyek investasi yang akan dipertimbangkan untuk
dilaksanakan, penyusunan kelayakan investasi juga ditujukan untuk menentukan
seberapa jauh project profile dapat dilaksanakan dan seberapa besar kendala yang
ada dapat menghambat pelaksanaannya, sehingga dapat disusun
pemeringkatannya.

c. Analisis Sumberdaya Manusia

Analisis pengembangan sumberdaya manusia (SDM) mencakup analisis terhadap


kependudukan dan ketenagakerjaan, serta partisipasi masyarakat, baik dalam skala
lokal maupun skala yang lebih luas. Secara garis besar, analisis pengembangan SDM

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-17


LAPORAN AKHIR

pada dasarnya menyangkut analisis ketersediaan dan kebutuhan SDM, terutama yang
berkaitan dengan rencana pengembangan investasi dan program-program penunjang
lainnya.

1) Analisis ketersediaan dan kebutuhan SDM

Analisis ketersediaan dan kebutuhan SDM sangat erat kaitannya dengan investasi
sumberdaya manusia (human resources investment). Beberapa penelitian di
negara-negara maju, mulai dari zaman Adam Smith hingga tahun 1960an,
menunjukkan bahwa investasi SDM (di bidang pendidikan) memberikan dampak
positif kepada peningkatan pertumbuhan ekonomi (Psacharopoulos dan Woodhall,
1985:3). Keuntungan (rate of return) yang diperoleh dari tingkat pendidikan yang
lebih tinggi tidak hanya dinikmati oleh individu yang bersangkutan, melainkan juga
bisa dipetik oleh masyarakat luas (Simanjuntak, 1985:60). Artinya, pengembangan
SDM melalui jalur pendidikan tidak hanya mengentaskan masyarakat dari
kemiskinan, tetapi juga dapat dijadikan sebuah mekanisme untuk mendistribusikan
pendapatan (mengurangi ketimpangan).

Sehubungan dengan hal di atas, maka dalam menyusun Rencana Pengembangan


Teknopolitan Kabupaten Pelalawan perlu dimasukkan analisis mengenai rencana
pengembangan sumberdaya manusia. Analisis tersebut akan difokuskan kepada :

 Analisis kependudukan, seperti jumlah, pertumbuhan, migrasi.

 Analisis ketenagakerjaan, seperti jumlah, pertumbuhan, pengangguran,


kesempatan kerja.

 Analisis pendidikan, seperti tingkat pendidikan, fasilitas pendidikan.

 Analisis pengembangan sumberdaya manusia lainnya yang relevan.

2) Analisis Peran Serta Masyarakat.

Peran serta masyarakat serta sektor swasta dalam pembangunan perkonomian


serta pengopersian dan perawatan pada kenyataannya sudah berjalan. Selain itu
masyarakat maupun sektor swasta telah banyak berpartisipasi dalam
pembangunan sarana dan prasarana. Persoalannya kini yaitu bagaimana
menempatkan pembangunan oleh masyarakat dan swasta dalam pembangunan
prasarana secara formal masih memerlukan pengkajian.

Bentuk kesepakatan lingkup peran serta masyarakat dalam pembangunan wilayah,


antara lain :

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-18


LAPORAN AKHIR

a) Pengertian partisipasi.

b) Partisipasi dalam tingkat-tingkat pengambilan keputusan dalam metoda


pengelolaan pembangunan.

 Partisipasi dalam Kebijaksanaan Pembangunan;

 Partisipasi dalam Perencanaan;

 Partisipasi dalam Perumusan Program dan Proyek;

 Partisipasi dalam Pelaksanaan Program dan Proyek;

 Partisipasi dalam Pengoperasian dn Pemeliharaan.

Pemerintah Pusat dan Daerah dalam hal ini mempunyai peranan yang penting
untuk merangsang tumbuhnya serta mendukung semua kegiatan-kegiatan
diatas, misalnya dalam :

 penetapan fungsi dan tanggung jawab yang jelas;

 menyediakan fasilitas sumber-sumber pinjaman pembangunan;

 mengadakan kegiatan pendidikan aparat daerah.

d. Analisis Kelembagaan.

Pendekatan mekanisme kelembagaan dalam pengembangan perekonomian


masyarakat memiliki pendekatan-pendekatan sebagai berikut :

1) Perencanaan dan penyusunan program yang lebih terpadu :

 Perencanaan dan penyusunan program antar sektoral seperti sektor


perumahan, ekonomi masyarakat, penyediaan sarana dan prasarana dengan
secara terpadu.

 Mempunyai kaitannya dengan rencana tata ruang/kawasan.

2) Penggalangan sumber pendanaan pembangunan, baik dana sektoral maupun


daerah.

3) Keseimbangan perancanaan dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas


(disesuaikan dengan kebijakan-kebijakan pembangunan yang baru).

4) Penyusunan rencana dan program dilaksanakan dengan memberikan perhatian


pada aspek ekonomi rakyat yang dapat menunjang perkonomian.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-19


LAPORAN AKHIR

e. Analisis Kebijakan dan Regulasi.

Analisis Kebijakan Pembangunan (Policy Analyisis) dimaksudkan untuk


memahami arahan kebijakan pembangunan wilayah perencanaan dan kedudukannya
dalam perspektif kebijakan pembangunan nasional, serta mengantisipasi program-
program pembangunan nasional yang akan dilaksanakan. Kebijakan Pembangunan
Nasional dan Daerah yang diduga berpengaruh pada perkembangan kawasan lintas
propinsi yang direncanakan, antara lain :

 Kebijakan Sektoral;

 RTRW Nasional (RTRWN), RTRW Pulau Sumatera;

 Program Pembangunan Daerah (Propeda) untuk Setiap Propinsi;

 Rencana Pengembangan Pulau Sumatera;

 Pola umum pembangunan daerah jangka panjang;

 Investasi pembangunan baik yang sudah dilaksanakan maupun yang


direncanakan.

Analisis kebijakan dan regulasi untuk pengembangan teknopolitan Kabupaten


Pelalawan dapat digambarkan secara diagram alir sebagai berikut :

Gambar 1.5 Siklus Analisis Kebijakan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-20


LAPORAN AKHIR

1.5. TERMINOLOGI TEKNOPOLITAN

Teknopolitan adalah konsepsi kawasan berdimensi pembangunan ekonomi,


sosial dan budaya, yang memiliki sentra kegiatan iptek, kegiatan produktif dan gerakan
masyarakat, yang mendukung percepatan perkembangan inovasi, difusi dan
pembelajaran. Kawasan teknopolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih
sentra kegiatan iptek, kegiatan produktif dan gerakan masyarakat pada wilayah
tertentu (satu atau lebih daerah otonom) sebagai sistem pembangunan yang
ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan sistem inovasi.

Pengembangan teknopolitan bukan hanya focus pada Economic capital, tetapi


juga Intellectual capital dan Social capital. Pengembangan teknopolitan dilakukan
melalui:

 Pengembangan/penguatan/revitalisasi sentra-sentra iptek;

 Penguatan keterkaitan dan jaringan;

 Gerakan masyarakat, semangat, partisipasi aktif, gerakan bersama;

 Perkembangan inovasi, difusi, dan proses pembelajaran;

 Membangun reputasi global yang dimulai dari tindakan dan kemanfaatan lokal.

Peran strategis Teknopolitan adalah :

a. Sebagai sarana dalam membangun jaringan inovasi.

b. Sebagai sarana pembelajaran dalam pengembangan inovasi.

c. Sebagai sarana untuk:

 Promosi Iptek sebagai proses komunikasi pemasaran iptek yang efektif.

 Pemasaran Iptek merupakan proses sosial melalui kegiatan yang diperlukan


untuk memenuhi kebutuhan iptek masyarakat.

 Pembudayaan Iptek sehingga tertanamnya nilai-nilai, sikap dan perilaku


yang berorientasi kepada sifat kreatif dan inovatif.

Yang perlu ada dalam teknopolitan adalah :

 Kombinasi kemitraan universitas dan pusat riset dengan industri dan


pemerintah.

 Kombinasi usaha kecil, besar, dan entrepreneur.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-21


LAPORAN AKHIR

 Klaster bangunan dalam lingkungan R&D dengan tema multidisiplin


berdasarkan program pelatihan universitas termasuk teknologi komunikasi
maju, biosains dan bioteknologi, material maju, teknologi lingkungan.

 Pembentukan kemitraan yang intensif antara penghuni industri, pemerintah,


dan universitas pada suatu komunitas yang tinggal sangat berdekatan
(pedestrian-scale community).

 Infrastruktur teknologi maju untuk jaringan komunikasi.

 Sistem transportasi yang baik digabungkan dengan jaringan berskala regional.

 Balai pertemuan dan hotel untuk pertemuan, pelatihan, dan hiburan.

 Lingkungan tempat tinggal dekat dengan fasilitas R&D (dapat berjalan kaki).

 Fasiltas olah raga seperti jogging, bersepeda, pusat kebugaran.

Terdapat 12 (duabelas) hal yang penting dalam mengembangkan Teknopolitan, yaitu :

1. Membangun strategi pengembangan teknopolitan yang jelas.

2. Cabang perusahaan/pabrik di kawasan teknopolitan lebih baik dari pada tidak


ada perusahaan/pabrik sama sekali.

3. Sinergi sebagai sumber inovasi sangat penting dalam jangka panjang.

4. Mengembangkan visi jangka panjang.

5. Sumber inovasi harus diidentifikasi.

6. Jaringan (networks) harus dibentuk sejak awal. Harus ada jaringan dan saluran
(channels) agar informasi dapat mengalir.

7. Strategi jangka pendek memang lebih mudah, bahkan tindakan (move) jangka
pendek dapat menjadi negatif jika antar institusi tidak berkomunikasi satu
dengan lainnya. Lab swasta perlu didorong untuk bergerak bersamaan dengan
badan riset pemerintah , atau tidak akan ada spin-off.

8. Strategi jangka panjang memerlukan pilihan-pilihan yang selektif. Membangun


hubungan yang sinergis di wilayah yang jauh dari keramaian memerlukan satu
atau dua target area yang menawarkan prospek terbaik dalam hal fasilitas yang
sudah ada sebelumnya, seperti, universitas, kapasitas wirausaha,
kepemimpinan politik.

9. Daya dorong (Inducement) sentral yang utama. Sebagai contoh, pengeluaran


hankam AS berperan besar di Silicon Valley.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-22


LAPORAN AKHIR

10. Identifikasi wadah/pangsa pasar yang baru. Sebagai contoh, kembangkan


industri high-tech yang khusus untuk memenuhi kebutuhan lokal, kemudian gali
potensi ekspor-nya.

11. Jaga konsistensi. Misalnya, suatu technopark tidak boleh diubah menjadi office
park (perkantoran) murni hanya karena yang terakhir itu lebih menguntungkan.

12. Terbaik mungkin menjadi musuh bagi yang baik. Negara dan daerah sebaiknya
tidak menilai semua usaha mereka hanya dengan kriteria yang paling ketat
dan eksklusif.

Prasarana dan sarana bagi Teknopolitan meliputi :

1. Infrastruktur Sains dan Teknologi : termasuk sumber daya pengetahuan


(knowledge resources) suatu wilayah yang dibentuk oleh universitas,
laboratorium riset pemerintah dan swasta, perpustakaan, inkubator teknologi,
pusat inovasi, taman iptek.

2. Infrastruktur Bisnis: asosiasi industri, kadin, badan pengembangan, peluang


pembiayaan khusus.

3. Infrastruktur Fisik: seperti transportasi yang memadai (jalan raya, kereta api,
bandara), telekomunikasi, air bersih, listrik.

4. SDM: termasuk pasokan yang memadai untuk tenaga kerja yang terlatih,
ilmuwan, insinyur, teknisi, inkubasi teknologi dari universitas dan lembaga riset
pemerintah di kawasan teknopolitan.

5. Kualitas Pelayanan: kawasan tempat tinggal, taman, fasiltas olah raga yang
berkualitas tinggi.

6. Basis Ekonomi yang Beragam: termasuk jaringan penyuplai dan distribusi yang
ekstensif.

7. Daya Tarik: seperti biaya rendah untuk melakukan bisnis (misalnya, mudahnya
perijinan, insentif pajak), biaya untuk makan, transportasi, perumahan.

Menurut Carlos Quandt (1997), “Virtual Technopoles: Exploring the Potential of


Internet and Web Technologies to Create Innovative Environments in Latin America
and the Caribbean”, faktor pendukung lokasi Teknopolitan adalah :

 Ketersedian dukungan dari pimpinan politik dan akademisi;

 Keberadaan budaya kewirausahaan;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-23


LAPORAN AKHIR

 Keberadaan kaitan yang kuat antara komunitas saintifik dan


entrepreneur/teknoprener;

 Jaringan informasi;

 Pencitraan: terdiri dari promosi citra kawasan sebagai teknopolitan;

 Keberadaan Inkubator.

Indikator keberhasilan Teknopolitan menurut Sumber: Omer Kaymakçalan,


“Teknoloji Geliştirme Ve Transfer Aracı Olarak Teknoparklar”, Marmara Araştırma
Merkezi (MAM) adalah :

 Kuantitas inovasi teknologi yang terealisir dengan kerjasama dari univeristas


dan lembaga riset.

 Kegiatan riset bersama antara perusahaan swasta dan universitas/lembaga riset


lainnya di kawasan teknopolitan.

 Pelayanan yang diberikan kepada perusahaan swasta.

 Jumlah peneliti dan perekayasa berasal dari universitas/lembaga riset ke


teknopolitan.

 Invensi dan penjualan produk yang terkait dengan teknopolitan dan inkubator-
inkubator.

 Penciptaan lapangan kerja baik secara kualitas dan kuantitas.

Keberhasilan Sillicon Valley sebagai Kawasan Teknopolitan mempunyai


hubungan yang harmonis antar berbagai pihak untuk menciptakan keuntungan yang
jelas antara lain:

a. Untuk perguruan tinggi: menyediakan kesempatan kerja bagi mahasiswa, daya


tarik untuk mahasiswa dan dosen baru, meningkatkan alih teknologi,
meningkatkan interaksi dengan industri, menghasilkan pemasukan pendapatan,
dan aplikasi teknologi dalam lingkup ekonomi regional.

b. Untuk Perusahaan di Teknopolitan: Akses mudah ke tenaga kerja ahli dan ke


fasilitas dan sumber daya universitas, produk dan pasar baru, meningkatkan
daya saing.

c. Untuk Pemerintah Pusat dan Daerah: Meningkatkan kegiatan bisnis,


meningkatkan pajak individu, perusahaan, dan properti, rekruitmen tenaga
kerja yang sangat terlatih.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-24


LAPORAN AKHIR

Salah satu cikal bakal dalam pengembangan teknopolitan adalah adanya


teknopark. Teknopark (technology park) merupakan sebuah kawasan (daerah) dimana
teknologi ditampilkan (diperagakan), dikembangan, dan dikomersialisasikan.
Teknopark memiliki beberapa fasilitas, antara lain inkubator bisnis, angel capital, seed
capital, venture capital. Stakeholder dari sebuah Teknopark biasanya adalah
pemerintah (biasanya pemerintah daerah), komunitas peneliti (akademis), komunitas
bisnis dan finansial. Mereka bekerjasama untuk mengintegrasikan penggunaan dan
pemanfaatan bangunan komersial, fasilitas riset, conference center, sampai ke hotel.
Bagi pemerintah daerah teknopark menciptakan lapangan pekerjaan dan
meningkatkan pendapatan daerah. Bagi para pekerjaan yang berpendapat cukup
tinggi, teknopark memiliki daya tarik karena situasi, lokasi, dan lifestyle.

Teknopark mulai dikembangan sejak tahun 1954, dimana staf perguruan tinggi
yang memiliki jiwa entrepreneur ingin mengkonversikan pengetahuan dan hasil
penelitian yang dikembangkan menjadi nilai ekonomi. Teknopark pertama dibuat oleh
Stanford University di Amerika Serikat. Teknopark tidak identik dengan inkubator
bisnis. Sebuah teknopark biasanya memiliki sebuah inkubasi bisnis. Sementara itu
bisnis yang diinkubasi tidak harus secara fisik berada di teknopark. Ada irisan antara
teknopark dan inkubasi bisnis.

Beberapa pandangan mengenai teknopark adalah:

 Keberhasilan teknopark sangat ditentukan oleh komitmen institusi yang terlibat


didalamnya, dalam hal ini terutama pemerintah daerah, lembaga riset,
pendidikan dan industri/swasta.

 Meningkatkan daya saing bisnis (terutama yang bermuatan teknologi) dari


institusi lokal dengan menggunakan fasilitas riset pemerintah/PT untuk
melakukan R&D. Banyak institusi lokal yang tidak mampu melakukan R&D
sendiri karena keterbatasan dana, SDM, dan peralatan. Perguruan tinggi
biasanya memiliki SDM dan peralatan. Masalah dana bisa ditanggung bersama-
sama oleh beberapa institusi dan/atau oleh pemerintah.

 Sebagai sarana untuk mengembangkan dan mengkomersialisasikan ide-ide


kreatif atau temuan-temuan yang diperoleh dari penelitian. Lembaga riset/
Perguruan tinggi tertarik untuk mendapatkan keuntungan finansial dari riset
yang telah dikembangkannya.

 Sebagai sarana untuk mengembangkan institusi bermuatan teknologi, atau


dengan kata lain sebagai tempat inkubator bisnis. Lembaga riset/Perguruan
tinggi umumnya memiliki laboratorium untuk mempraktekkan teori yang

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-25


LAPORAN AKHIR

diberikan di kelas. Namun, untuk teori “entrepreneurship” atau bisnis tidak ada
laboratoriumnya. Teknopark (dalam fungsinya sebagai inkubator) dapat
digunakan sebagai laboratorium oleh peneliti/perekaya, mahasiswa dan staf
pengajar/peneliti perguruan tinggi.

Dari uraian di atas, fungsi dari teknopark dapat dibagi dua, yaitu:

a. membawa hasil riset ke luar dengan membuat bisnis dengan pelaku bisnis (atau
venture capital) yang sudah ada (misalnya melalui inkubasi hasil riset);

b. membawa industri masuk ke lembaga riset dan perguruan dengan membawa


masalah yang ada di industri ke dalam Teknopark ini (sehingga industri dapat
mengakses pakar di lembaga riset atau perguruan tinggi).

Dilihat dari tujuannya, teknopark (termasuk inkubator) semestinya memiliki nilai


ekonomi. Namun secara tidak langsung memberikan kontribusi kepada pertumbuhan
ekonomi di daerah yang bersangkutan dengan adanya institusi baru yang menyediakan
lapangan pekerjaan.

Fasilitas yang diberikan oleh teknopark tidak sekedar fasilitas fisik saja, namun
lebih dari itu. Berikut beberapa contoh fasilitas dari teknopark :

 Akses kepada pakar (intellectual) yang ada di lembaga riset atau kampus. Ini
termasuk akses kepada staf pengajar, staf peneliti, dan mahasiswa.

 Akses kepada fasilitas di lembaga riset atau kampus, seperti peralatan di


laboratorium, buku-buku di perpustakaan, jaringan Internet, data center,
business center, dan fasilitas fisik lainnya yang dimiliki oleh lembaga riset dan
perguruan tinggi.

 Akses kepada hasil penelitian.

 Teknopark memiliki sebuah business center yang menyediakan interface dan


showcase dari lembaga riset atau perguruan tinggi. Tempat ini dapat menjadi
one-stop interface antara industri dan perguruan tinggi. Industri dapat
mengetahui kemampuan perguruan tinggi. Jika sebuah institusi yang
membutuhkan kemampuan tertentu untuk memecahkan masalahnya, dapat
datang ke tempat ini untuk mencari tahu apakah ada SDM dan fasilitas
perguruan tinggi yang dapat membantu. Business center ini harus memiliki
fasilitas yang representatif untuk menerima client, rapat, presentasi, dan
demonstrasi produk. Business center harus dikelola secara profesional, yaitu
melibatkan orang di luar perguruan tinggi.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-26


LAPORAN AKHIR

 Teknopark memiliki link dengan venture capital untuk permodalan.

1.6. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan penyusunan Masterplan Teknopolitan Pelalawan meliputi :

BAB I PENDAHULUAN Dalam Bab 1 akan dijelaskan beberaha hal seperti : (1)
Latar Belakang, (2) Tujuan dan Sasaran, (3) Ruang
Lingkup dan (4) Metodologi, (5) Terminologi, dan (6)
Sistematika Penulisan.

BAB 2 TINJAUAN Bab 2 akan menjelaskan mengenai : (1) Kebijakan


KEBIJAKAN Nasional Program MP3EI, (2) Kebijakan Peengembangan
PENGEMBANGAN Wilayah Provinsi Riau, (3) Kebijakan Pembangunan
Wilayah Kabupaten Pelalawan, (4) Kebijakan Dasar
Teknopolitan, (5) Pengertian Teknopolitan, (6)
Persyaratan Teknopolitan, dan (7) Dasar Hukum
Teknopolitan.

BAB 3 GAMBARAN UMUM Dalam Bab ini dipaparkan mengenai (1) Kondisi Wilayah
WILAYAH Kabupaten Pelalawan , (2) Deliniasi Kawasan
Teknopolitan dan (3) Kondisi Lahan Peruntukan
Kawasan Teknopolitan Di Kabupaten Pelalawan.

BAB 4 ANALISIS Pada Bab 4 akan dianalisis berbagai aspek seperti (1)
PENGEMBANGAN Analisis Spasial (2) Analisis Infrastruktur, (3) Analisis
TEKNOPOLITAN Ekonomi dan Investasi¸(4) Analisis Sumber Daya
KABUPATEN PELALAWAN manusia (SDM), (5) Analisis Kelembagaan dan (6)
Analisis SWOT.

BAB 5 RENCANA Rencana Pembangunan Fisik Teknopolitan akan


PEMBANGUNAN FISIK dijelaskan dalam Bab ini seperti : (1) Visi Dan Misi, (2)
TEKNOPOLITAN Rencana Detail Tata Ruang (Rencana Struktur Ruang
PELALAWAN dan Rencana Pola Ruang), (3) Rencana Tapak.

BAB 6 RENCANA Pada Bab 6 akan dijelaskan mengenai indikasi program


PENGEMBANGAN dan kegiatan Kawasan Teknopolitan Pelalawan dan
TEKNOPOLITAN penutup.
PELALAWAN

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan I-27


LAPORAN AKHIR

BAB II
TINJAUAN KEBIJAKAN
PENGEMBANGAN

2.1 KEBIJAKAN NASIONAL PROGRAM MP3EI.

Koridor Ekonomi Sumatera mempunyai tema Sentra Produksi dan


Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional. Secara geostrategis,
Sumatera diharapkan menjadi “Gerbang ekonomi nasional ke Pasar Eropa,
Afrika, Asia Selatan, Asia Timur, serta Australia. Secara umum, Koridor Ekonomi
Sumatera berkembang dengan baik di bidang ekonomi dan sosial dengan kegiatan
ekonomi utama seperti perkebunan kelapa sawit, karet serta batubara. Namun
demikian, Koridor Ekonomi Sumatera juga memiliki beberapa hal yang harus dibenahi,
antara lain :

 Adanya perbedaan pendapatan yang signifikan di dalam koridor, baik antar


perkotaan dan perdesaan ataupun antar provinsi-provinsi yang ada di
dalam koridor;

 Pertumbuhan kegiatan ekonomi utama minyak dan gas bumi (share 20


persen dari PDRB koridor) yang sangat rendah dengan cadangan yang
semakin menipis;

 Investasi yang menurun dalam beberapa tahun terakhir;

 Infrastruktur dasar yang kurang memadai untuk pengembangan industri,


antara lain jalan yang sempit dan rusak, rel kereta api yang sudah rusak
dan tua, pelabuhan laut yang kurang efisien serta kurangnya tenaga listrik
yang dapat mendukung industri.

Di dalam strategi pembangunan ekonomi, Koridor Ekonomi Sumatera berfokus


pada tiga kegiatan ekonomi utama, yaitu kelapa sawit, karet, serta batubara yang
memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi
koridor ini.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-1


LAPORAN AKHIR

Selain itu, kegiatan ekonomi utama pengolahan besi baja yang terkonsentrasi di
Banten juga diharapkan menjadi salah satu lokomotif pertumbuhan koridor ini,
terutama setelah adanya upaya pembangunan Jembatan Selat Sunda.

Kegiatan ekonomi utama kelapa sawit di Sumatera memegang peranan penting


bagi suplai kelapa sawit di Indonesia dan dunia. Indonesia adalah produsen minyak
kelapa sawit terbesar di dunia sejak 2007, menyusul Malaysia yang sebelumnya adalah
produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

Kelapa sawit adalah sumber minyak nabati terbesar yang dibutuhkan oleh
banyak industri di dunia. Di samping itu, permintaan kelapa sawit dunia terus
mengalami pertumbuhan sebesar 5 persen per tahun. Pemenuhan permintaan kelapa
sawit dunia didominasi oleh produksi Indonesia. Indonesia memproduksi sekitar 43
persen dari total produksi minyak mentah sawit (Crude Palm Oil/CPO) di dunia.
Pertumbuhan produksi kelapa sawit di Indonesia yang sebesar 7,8 persen per tahun
juga lebih baik dibanding Malaysia yang sebesar 4,2 persen per tahun. Di Sumatera,
kegiatan ekonomi utama kelapa sawit memberikan kontribusi ekonomi yang besar.
Dimana 70 persen lahan penghasil kelapa sawit di Indonesia berada di Sumatera dan
membuka lapangan pekerjaan yang luas. Sekitar 42 persen lahan kelapa sawit dimiliki
oleh petani kecil

Gambar 2.1 Pertumbuhan Produksi Kelapa Sawit di Indonesia

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-2


LAPORAN AKHIR

Kegiatan ekonomi utama kelapa sawit dapat dilihat melalui rantai nilai yaitu dari
mulai Perkebunan, penggilingan, penyulingan, dan pengolahan kelapa sawit di industri
hilir. Kegiatan tersebut terlihat pada gambar berikut.

Perkebunan: Di tahun 2009, Sumatera memiliki sekitar lima juta hektar


perkebunan kelapa sawit, di mana 75 persen merupakan perkebunan yang sudah
dewasa, sedangkan sisanya merupakan perkebunan yang masih muda. Namun
demikian, di luar pertumbuhan alami dari kelapa sawit ini, peluang peningkatan
produksi sawit melalui peningkatan luas perkebunan kelapa sawit akan sangat terbatas
karena masalah lingkungan. Di samping peningkatan area penanaman, hal lain yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan produksi kelapa sawit adalah
dengan meningkatkan produktivitas CPO dari perkebunan. Indonesia saat ini memiliki
produktivitas 3,8 Ton/Ha, yang masih jauh di bawah produktivitas Malaysia 4,6 Ton/Ha
dan masih sangat jauh dibandingkan dengan potensi produktivitas yang dapat
dihasilkan (7 Ton/Ha).

Gambar 2.2 Rantai Nilai Kegiatan Ekonomi Utama Kelapa Sawit

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-3


LAPORAN AKHIR

Gambar 2.3. Produktivitas dari Beberapa Kategori Pemilik Perkebunan dan Benchmark
Lainnya

Rendahnya produktivitas yang terjadi pada pengusaha kecil kelapa sawit


disebabkan oleh tiga hal:

 Penggunaan bibit berkualitas rendah. Riset menunjukkan bahwa penggunaan bibit


kualitas tinggi dapat meningkatkan hasil sampai 47 persen dari keadaan saat ini;

 Penggunaan pupuk yang sedikit karena mahalnya harga pupuk;

 Waktu antar Tandan Buah Segar (TBS) ke penggilingan yang lama (di atas 48 jam)
membuat menurunnya produktivitas CPO yang dihasilkan.

Penggilingan: Hal yang perlu diperbaiki dari rantai nilai ini adalah akses yang
kurang memadai dari perkebunan kelapa sawit ke tempat penggilingan. Kurang
memadainya akses ini menjadikan biaya transportasi yang tinggi, waktu tempuh yang
lama, dan produktivitas yang rendah. Pembangunan akses ke area penggilingan ini
merupakan salah satu hal utama untuk peningkatan produksi minyak kelapa sawit.
Selain itu, kurangnya kapasitas pelabuhan laut disertai tidak adanya fasilitas tangki
penimbunan mengakibatkan waktu tunggu yang lama dan berakibat pada biaya
transportasi yang tinggi.

Penyulingan: Penyulingan akan mengubah CPO dari penggilingan menjadi


produk akhir. Pada tahun 2008, Indonesia diestimasikan memiliki kapasitas
penyulingan sebesar 18-22 juta ton CPO. Kapasitas ini mencukupi untuk mengolah
seluruh CPO yang diproduksi. Dengan berlebihnya kapasitas yang ada saat ini (50

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-4


LAPORAN AKHIR

persen) utilisasi, rantai nilai penyulingan mempunyai margin yang rendah (USD 10/ton)
jika dibandingkan dengan rantai nilai perkebunan (sekitar USD 350/ton). Hal ini yang
membuat kurang menariknya pembangunan rantai nilai ini bagi investor.

Hilir kelapa sawit: Industri hilir utama dalam mata rantai industri kelapa
sawit antara lain oleo kimia, dan biodiesel. Seperti halnya rantai nilai penyulingan,
bagian hilir kelapa sawit ini juga mempunyai kapasitas yang kurang memadai. Hal ini
membuat rendahnya margin dari rantai nilai tersebut. Namun demikian,
pengembangan industri hilir sangat dibutuhkan untuk mempertahankan posisi strategis
sebagai penghasil hulu sampai hilir, sehingga dapat menjual produk yang bernilai
tambah tinggi dengan harga bersaing.

Meskipun bagian hilir dari rantai nilai kegiatan ekonomi utama ini kurang
menarik karena margin yang rendah, bagian hilir tetap menjadi penting dan perlu
menjadi perhatian karena dapat menyerap banyak produk hulu yang ber-margin tinggi,
seperti misalnya dengan diversifikasi produk hilir kelapa sawit.

Regulasi dan Kebijakan Untuk melaksanakan strategi pengembangan kelapa


sawit tersebut, ada beberapa hal terkait regulasi yang harus dilakukan, antara lain:

 Peningkatan kepastian tata ruang untuk pengembangan kegiatan hulu kelapa sawit
(perkebunan dan penggilingan/pabrik kelapa sawit (PKS);

 Perbaikan regulasi, insentif, serta disinsentif untuk pengembangan pasar hilir


industri kelapa sawit.

Konektivitas (infrastruktur) Pengembangan kegiatan ekonomi utama kelapa


sawit juga memerlukan dukungan infrastruktur yang meliputi:

 Peningkatan kualitas jalan (lebar jalan dan kekuatan tekanan jalan) sepanjang
perkebunan menuju penggilingan kelapa sawit dan kemudian ke kawasan industri
maupun pelabuhan yang perlu disesuaikan dengan beban lalu lintas angkutan
barang. Tingkat produktivitas CPO sangat bergantung pada waktu tempuh dari
perkebunan ke penggilingan, sebab kualitas TBS (Fresh Fruit Brunch-FFB) akan
menurun dalam 48 jam setelah pemetikan;

 Peningkatan kapasitas dan kualitas rel kereta api di beberapa lokasi untuk
mengangkut CPO dari penggilingan sampai ke pelabuhan;

 Peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan pelabuhan untuk mengangkut


produksi CPO. Saat ini terjadi kepadatan di pelabuhan sehingga menyebabkan
waktu tunggu yang lama (3 - 4 hari).

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-5


LAPORAN AKHIR

SDM dan IPTEK Selain kebutuhan perbaikan regulasi dan dukungan


infrastruktur, pengembangan kegiatan ekonomi utama kelapa sawit juga perlu
dukungan terkait pengembangan SDM dan Iptek , yaitu:

 Peningkatan riset untuk memproduksi bibit sawit kualitas unggul dalam rangka
peningkatan produktivitas kelapa sawit;

 Penyediaan bantuan keuangan, pendidikan dan pelatihan, terutama untuk


pengusaha kecil;

 Pembentukan pusat penelitian dan pengendalian sistem pengelolaan sawit


nasional.

2.2 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN WILAYAH PROVINSI RIAU

Pengembangan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan memerlukan dukungan


kebijakan yang sesuai dengan Kebijakan Pembangunan Wilayah Provinsi Riau.
Kebijakan yang harmoni dan selaras antara Provinsi Riau dengan Kabupaten Pelalawan
menjadi salah satu faktor utama bagi keberhasilan pengembangan Teknopolitan di
Kabupaten Pelalawan. Dukungan kebijakan yang kondusif dari Pemerintah Provinsi
Riau akan meningkatkan daya tarik investasi di Kawasan Teknopolitan

Dukungan kebijakan pembangunan Provinsi Riau terhadap pengembangan


Teknopolitan Pelalawan akan tercermin pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang
dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJP/RPJM) Provinsi Riau. Tujuan
Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Riau Tahun 2005 - 2025 pada hakekatnya
adalah untuk mewujudkan Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan
melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis dan sejahtera sebagai landasan
pembangunan daerah menuju masyarakat yang adil dan makmur dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Sebagai ukuran tercapainya tujuan pembangunan jangka panjang Provinsi Riau


dalam 20 tahun mendatang kebijakan prioritas pembangunan diarahkan kepada
pencapaian sasaran -sasaran pokok. Beberapa kebijakan prioritas pembangunan
Provinsi Riau berikut sasaran pokok yang hendak dicapai yang diharapkan dapat
mendukung pengembangan Teknopolitan Pelalawan adalah sebagai berikut :

A. Mewujudkan Provinsi Riau sebagai pusat kegiatan perekonomian,


dengan sasaran pokok sebagai berikut :

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-6


LAPORAN AKHIR

1. Terbangunnya pusat-pusat pertumbuhan utama tempat berlokasinya kegiatan


ekonomi berskala regional yang berfungsi produksi, koleksi, pengolahan, dan
distribusi barang dan jasa bagi Provinsi Riau, Sumatera bagian tengah, Pulau
Sumatera, dan Negara negara di wilayah Asia Tenggara.

2. Terciptanya kualitas pelayanan sarana dan jasa perekonomian yang berskala


nasional dan intemasional.

3. Tersedianya infrastruktur dan pelayanan sarana transportasi darat berfungsi


arteri primer yang menghubungkan pusat - pusat Provinsi, terintegrasinya
jaringan jalan konfigurasi Utara, Tengah, dan Selatan; dan terintegrasinya
jaringan jalan dengan moda transportasi lainnya.

4. Tersedianya infrastruktur dan pelayanan sarana transportasi laut yang


berfungsi sebagai internationalport dan national port di pelabuhan Dumai,
Tanjung Buton, Kuala Enok, danPekanbaru/Tenayan; terbangunnya struktur
kepelabuhan di Provinsi Riau secara hirarkis; dan terintegrasinya transportasi
laut dengan moda transponasi lainnya.

5. Terbangunnya pembangkit energi listrik yang bersifat otonom yang dikelola


daerah untuk pelayanan kebutuhan masyarakat perkotaan dan perdesaan,
sebagai antisipasi krisis energi listrik negara.

6. Tersedianya infrastruktur dan pelayanan sarana transportasi udara yang


menghubungkan Provinsi Riau dengan wilayah Nasional dan antar bagian
wilayah di Provinsi Riau dan terintegrasinya transportasi udara dengan moda
transportasi lainnya.

7. Tersedianya infrastruktur dan pelayanan sarana transportasi sungai dan


penyeberangan yang menghubungkan antar bagian wilayah di Provinsi Riau
dan antara Provinsi Riau dengan negara tetangga serta terintegrasinya
transportasi sungai dan penyeberangan dengan moda transportasi lainnya.

8. Terbangunnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur


wilayah melalui kemitraan Pemerintah dengan swasta.

B. Mewujudkan perekonomian yang berkelanjutan dan bersaing, ditandai


oleh hal-hal berikut:

1. Tercapainya laju pertumbuhan ekonomi daerah secara berkesinambungan


sekitar di atas 7% - 8,5 % per tahun hingga tahun 2025 dengan pendapatan
per kapita sekitar US $ 9.000,00.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-7


LAPORAN AKHIR

2. Terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berdasarkan keunggulan


sektor perekonomian yang dalam jangka panjang tetap mampu mendukung
perekonomian Provinsi Riau, yaitu sektor pertanian, pertambangan, industri
pengolahan, perikanan, peternakan, pariwisata, dan jasa.

3. Penguatan perekonomian yang bertumpu pada sektor pertanian, industri dan


jasa ditujukan untuk antisipasi habisnya migas masa datang.

4. Terbangunnya agroindustri dan agrobisnis sebagai hilir kegiatan pertanian dan


perkebunan yang mampu meningkatkan nilai tambah produksi daerah.

5. Terjaganya tingkat produksi dan kontribusi sektor pertambangan migas yang


mantapterhadap perekonomian Nasional dan Provinsi Riau.

6. Tumbuhnya usaha ekonomi rakyat berskala menengah dan kecil di sektor


primer,sekunder, dan tersier yang saling terkait dalam proses penambahan
nilai, terutama dikawasan perdesaan.

7. Tersedianya infrastruktur ekonomi dengan tingkat pelayanan yang berkualitas


di bidang transportasi, komunikasi, informasi, produksi, dan pemasaran.

C. Mewujudkan masyarakat Riau yang mandiri dan sejahtera, ditandai oleh


hal-hal berikut:

1. Tersedianya prasarana dan peningkatan mutu pelayanan pendidikan dasar,


menengah, kejuruan, dan pendidikan tinggi yang dapat dijangkau oleh seluruh
lapisan masyarakat Riau.

2. Tersedianya prasarana dan pelayanan kesehatan yang memadai yang dapat


dijangkau seluruh lapisan masyarakat yang diindikasikan oleh peningkatan
indeks harapan hidup masyarakat Riau.

3. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia ditunjukkan oleh peningkatan IPM


hingga batas minimal status IPM atas, yaitu sebesar 80 pada tahun 2025.

4. Peningkatan kualitas sosial-ekonomi masyarakat Riau yang ditunjukkan oleh


penurunan bagian masyarakat miskin hingga 5% dan seluruh rumah tangga di
Provinsi Riau; peningkatan TPAK hingga 90%; penurunan tingkat
pengangguran terbuka dansetengah menganggur; dan peningkatan
keterlibatan penduduk usia kerja di sektor ekonomi formal.

5. Terciptanya usaha ekonomi berbasis masyarakat berskala menengah dan kecil


untuk menampung peningkatan jumlah penduduk usia kerja.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-8


LAPORAN AKHIR

6. Terjadinya pergeseran lapangan kerja dari sektor pertanian menuju industri dan
jasa berbasis pertanian dan sumber daya alam lainnya.

7. Peningkatan produktifitas melalui pelatihan, peningkatan ketrampilan, dan mutu


manajemen mutu sesuai dengan standar yang diakui secara internasional
dalam rangka pembukaan peluang lapangan kerja baru terutama ditujukan
untuk memberikan peluang bagi masyarakat tempatan.

8. Tersedianya infrastruktur sosial, politik, dan budaya yang dapat dijangkau oleh
seluruh masyarakat Riau melalui dukungan sarana elektronik dan hasil
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya.

D. Mewujudkan keseimbangan pembangunan antar wilayah, ditandai oleh


hal-hal berikut:

1. Terbangunnya pusat-pusat pertumbuhan dan pusat-pusat kegiatan secara


berhirarkis yang membentuk struktur ruang wilayah yang dituju.

2. Terbangunnya keterpaduan pembangunan wilayah daratan, pesisir, laut, dan


pulau pulau kecil dalam pembentukan struktur dan pemanfaatan ruang wilayah.

3. Tersedianya prasarana dan utilitas perkotaan yang mendukung perkembangan


pusat pertumbuhan dan kegiatan sesuai dengan skala pelayanan pusat yang
bersangkutan.

4. Tersedianya air bersih dan air minum untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup
layak terutama bagi masyarakat di wilayah pesisir.

5. Tersedianya infrastruktur wilayah mencakup jaringan jalan, transportasi laut,


transportasi udara, dan transportasi sungai dan penyeberangan yang
terintegrasi dan berhirarkis yang membentuk struktur ruang wilayah.

6. Terciptanya pusat-pusat pertumbuhan orde kedua dan ketiga di wilayah Riau


bagian Selatan dan Barat untuk menghindarkan peningkatan keterpusatan
(primacy) Kota Pekanbaru dan mengurangi disparitas pertumbuhan antar
wilayah.

7. Terciptanya sentra-sentra dan cluster produksi di setiap bagian wilayah sesuai


dengan komoditi unggulannya.

8. Terciptanya pusat-pusat perdesaan atau agropolitan yang berfungsi mendorong


proses pertambahan nilai produk lokal melalui kegiatan pengolahan dan jasa
perdagangan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-9


LAPORAN AKHIR

9. Terbangunnya prasarana penghubung yang berfungsi sebagai feeder antara


sentra sentra produksi dan pusat-pusat perdesaan dengan jaringan transportasi
utama dan pusatpada orde yang lebih tinggi.

10. Tersedianya sumberdaya manusia yang berkualitas dalam jumlah yang cukup
diwilayah yang menjadi sentra produksi dan pusat-pusat kegiatan.

E. Mewujudkan kerjasama pembangunan antar wilayah, ditandai oleh hal-hal


berikut:

1. Terbangunnya kerjasama antara Kabupaten dan Kota di Provinsi Riau di bidang


ekonomi, kependudukan, sosial, budaya, dan lingkungan.

2. Terbangunnya kerjasama antara Provinsi Riau dengan Kabupaten/Kota di


Provinsi Riau di bidang ekonomi, kependudukan, sosial, budaya, lingkungan,
dan pertahanan keamanan.

3. Terbangunnya kerjasama antara Provinsi Riau dengan provinsi lainnya di Pulau


Sumatera di bidang ekonomi, kependudukan, sosial, budaya, lingkungan, dan
pertahanan-keamanan.

4. Terbangunnya kerjasama antara Provinsi Riau dengan provinsi lainnya di luar


Pulau Sumatera di bidang ekonomi, kependudukan, dan sosial.

5. Terbangunnya kerjasama antara Provinsi Riau dengan Pemerintah Pusat di


bidang ekonomi, sosial, politik, dan pertahanan-keamanan.

6. Terbangunnya kerjasama antara Provinsi Riau dengan negara tetangga di


bidang ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

Sementara itu, Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Riau


Tahun 2005 – 2025 yang akan mendukung pengembangan Teknopolitan Kabupaten
Pelalawan adalah kebijakan Pemerintah Provinsi Riau dalam mewujudkan Provinsi Riau
sebagai Pusat Kegiatan Perekonomian seperti :

1. Mendorong pembangunan sektor ekonomi unggulan seperti pertanian, industri


yang berbasis pertanian, untuk menggantikan kedudukan migas sebagai sektor
utama penghasilan daerah.

2. Mendorong dan memfasilitasi pengembangan kegiatan industri, perdagangan,


dan jasa perbankan berskala internasional dan regional pada pusat-pusat
kegiatan berskala PKN dan PKW sesuai dengan fungsi utama yang ditetapkan
dalam RTRW Provinsi Riau.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-10


LAPORAN AKHIR

3. Membangun pusat-pusat aglomerasi industri dan terminal regional yang


berfungsi distribusi dan koleksi komoditi pada kota-kota pelabuhan utama.

4. Memfungsikan pusat-pusat kegiatan utama sebagai pusat pertemuan, konvensi,


konferensi, dan pameran kegiatan bisnis berskala internasional.

5. Membangun pusat-pusat penelitian dan pengembangan untuk menjawab


tantangan krisis pangan, energi, ICT dan masalah social.

6. Membangun prasarana pelabuhan laut internasional dan nasional di Dumai,


Tanjung Buton, Kuala Enok, dan Pekanbaru.

7. Membangun bandar udara baru berfungsi sebagai Pusat Penyebaran Primer


sebagai pengganti Bandara Sultan Syarif Kasim II.

8. Membangun jaringan jalan arteri primer Lintas Timur yang menghubungkan


Sumatera Utara — Dumai — Pekanbaru — Rengat — Jambi; Lintas Tengah
yang menghubungkan Pekanbaru — perbatasan Sumatera Barat; dan Lintas
Barat yang menghubungkan Sumatera Utara — Pasir Pangaraian —
Bangkinang.

9. Membangun jaringan jalan provinsi dan kabupaten yang kokoh yang dapat
memperlancar lalu lintas produk pertanian dan industri.

10. Membangun jalur kereta api sebagai bagian dari Trans Sumatera Railway
terutama bagi angkutan barang jarak jauh dan massal.

11. Meningkatkan kerjasama dengan pelaku kegiatan ekonomi daerah, regional,


dan internasional, terutama dengan negara-negara di Asia Tenggara.

12. Mengembangkan sistem pelayanan jasa perekonomian berdasarkan


pengalaman positif provinsi lain atau negara tetangga yang lebih maju.

13. Menerapkan standar mutu nasional dan internasional dalam kegiatan


perekonomian.

14. Meningkatkan upaya pengawasan terhadap penerapan standardisasi umum


produk dan pelayanan jasa perekonomian.

15. Membangun struktur prasarana transportasi darat, laut, udara, sungai dan
penyeberangan secara hirarkis dan terintegrasi antar moda melalui pusat-pusat
kegiatan sebagai transhipment point serta meningkatkan pelayanan sarana
transportasi sesuai dengan fungsinya.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-11


LAPORAN AKHIR

Disamping itu untuk mewujudkan perekonomian yang berkelanjutan dan


mampu bersaing, Pemerintah Provinsi Riau terus berupaya untuk :

1. Mendorong pertumbuhan sektor ekonomi unggulan, yakni industri pengolahan,


pertanian, pertambangan, dan jasa untuk meningkatkan laju pertumbuhan
ekonomi dalam jangka panjang dengan dukungan sektor-sektor prospektif yang
secara agregatif akan memberikan kontribusi terhadap laju pertumbuhan
ekonomi, yaitu sektor perikanan, peternakan, dan pariwisata.

2. Meningkatkan upaya eksplorasi dan penerapan teknologi eksploitasi migas


untuk peningkatan produksi; pelibatan pemangku kepentingan di daerah dalam
produksi migas; perkuatan aspek hukum; dan kelembagaan bagi hasil yang
lebih adil.

3. Meningkatkan produksi dan produktifitas pertanian tanaman pangan melalui


penyiapan lahan pertanian, pengembangan riset dan penyuluhan untuk
peningkatan mutu bibit dan produk yang tahan hama dan penyakit, dan
penyediaan sarana produksi pertanian secara kontinyu.

4. Meningkatkan produksi perkebunan melalui pola-pola pengelolaan yang pernah


diterapkan yang menunjukkan kinerja positif sekaligus untuk pemulihan lahan
lahan kritis.

5. Mendorong tumbuhnya industri hilir produk tanaman pangan dan perkebunan


berbasis teknologi maju untuk tujuan konsumsi, industri pangan, dan bahan
energi (biofuel) serta mendorong tumbuhnya agrobisnis dengan memanfaatkan
potensi pasar regional melalui diversifikasi, jumlah, dan mutu produk dalam
rangka pertambahan nilai dan perluasan lapangan kerja.

6. Mendorong tumbuhnya industri hilir bagi produk perkebunan terutama untuk


antisipasi over produksi kelapa sawit, kelapa dan karet.

7. Meningkatkan usaha perikanan dan peternakan rakyat dan usaha skala besar
melalui pemanfaatan bioteknologi dalam penyediaan bibit unggul dan
peningkatan mutu produk serta mengembangkan industri pengolahannya
dengan memanfaatkan teknologi pasca panen untuk menjamin mutu dan
ketersediaan produk dalam jangka panjang.

8. Meningkatkan pengelolaan perkebunan rakyat, pertanian tanaman pangan,


perikanan, dan peternakan yang bersifat subsistem secara lebih profesional dan
terintegrasi dengan kegiatan off-farm serta kegiatan bisnis lainnya.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-12


LAPORAN AKHIR

9. Membangun obyek dan destinasi pariwisata, menyediakan prasarana dan


sarana penunjang, dan meningkatkan pelayanan jasa kepariwisataan, termasuk
pengembangan wisata minat khusus dan agrowisata yang terintegrasi dengan
perlindungan plasma nutfah dan spesies dilindungi.

10. Membina kegiatan usaha berskala kecil dan menengah agar menjangkau
persyaratan dan standar intemasional untuk mutu produk dan jasa pelayanan.

11. Menciptakan iklim investasi melalui pembenahan arah kebijakan, regulasi, dan
perijinan; pemberian insentif bagi sektor unggulan; penyiapan lokasi kegiatan;
promosi potensi daerah; dan menjaga stabilitas politik, sosial, keamanan dan
ketertiban umum, dan kepastian hukum.

12. Meningkatkan peran Pemerintah Daerah sebagai regulator, katalisator, dan


fasilitator pembangunan ekonomi melalui penghapusan ekonomi biaya tinggi;
penciptaan akses terhadap permodalan dan pasar; dan peningkatan kualitas
dan produktifitas sumber daya manusia agar memiliki daya saing yang tinggi.

13. Meningkatkan upaya intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi potensi


sumber keuangan daerah untuk meningkatkan kemampuan pendanaan daerah
dalam pembangunan infrastruktur eksternal penunjang kegiatan ekonomi,
seperti jaringan jalan, sumber air, sumber energi, dan telekomunikasi.

14. Membangun pola kemitraan dalam pembangunan ekonomi antara Pemerintah


Daerah, swasta, UKM, dan koperasi sebagai wadah pengembangan kegiatan
usaha produktif, pemberdayaan masyarakat golongan ekonomi lemah, dan
mengembangkan lembaga keuangan mikro dalam rangka ekonomi kerakyatan.

15. Mengelola dan mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam untuk menjaga,
Mengelola dan mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam untuk menjaga
keberlanjutan perkembangan perekonomian daerah dan perlindungan
lingkungan guna penyelarasan terhadap ently barrier pasar dunia.

Untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan antar wilayah di Provinsi


Riau, peranan pemerintah diharapkan dapat:

1. Mendorong terbentuknya struktur ruang yang Iebih menjamin pengurangan


disparitas perkembangan antar bagian wilayah Provinsi Riau melalui
pengembangan pusat-pusat kegiatan pada koordinasi lebih rendah dari Pekan
baru dan Dumai dan pusat-pusat lokal, termasuk agropolitan yang berfungsi
mengolah komoditi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-13


LAPORAN AKHIR

peternakan melalui kegiatan agroindustri dan agrobisnis serta pusat perikanan


di kawasan pesisir Timur.

2. Meningkatkan aksesibilitas di wilayah provinsi, terutama pusat-pusat kegiatan


ekonomi di Riau bagian Selatan. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui
peningkatan jaringan jalan arteri primer Lintas Timur, Lintas Tengah, jalur
kearah Barat yang menghubungkan Lintas Timur dengan Lintas Tengah
Sumatera, dan jalur pesisir Dumai — Sei Pakning — Simpang Pusako dan
Dumai — Bagan Siapi-api; serta pembangunan feeder road untuk fungsi koleksi
dan distribusi barang dan jasa antara pusat kegiatan sub-wilayah dan pusat
kegiatan lokal dengan pusat utama. Jalur Lintas Timur, Lintas Tengah, dan jalur
ke arah Barat yang menghubungkan Lintas Timur dengan Lintas Tengah
berfungsi sebagai sistem jaringan utama bagi feeder road yang
menghubungkannya dengan pusat pusat produksi. Feeder road selain
diperankan oleh jaringan jalan kolektor dan lokal, juga oleh pelabuhan
pengumpan, jalur sungai, dan bandar udara penyebaran tersier dan perintis.

3. Meningkatkan dan melakukan pemeliharaan prasarana jalan arteri primer dan


peningkatan peran Kota Pekanbaru sebagai pusat utama dengan aksesibilitas
yang tinggi terhadap bagian wilayah Provinsi Riau maupun dengan provinsi
lainnya bagi aktivitas ekonomi berskala besar.

4. Meningkatkan kapasitas Pelabuhan Dumai, Tanjung Buton, Kuala Enok, dan


Pekanbaru/ Tenayan sebagai pelabuhan internasional serta mendorong
pembangunan dan peningkatan kapasitas pelabuhan-pelabuhan pengumpan
regional dan lokal untuk melayani pergerakan barang dan penumpang antar
bagian wilayah provinsi dan produksi perikanan setempat.

5. Membangun bandar udara baru pengganti Bandara Sultan Syarif Kasim II yang
berfungsi sebagai pusat penyebaran primer serta membangun dan
meningkatkan pelayanan bandar udara lainnya yang berfungsi sebagai pusat
penyebaran sekunder, tersier, dan perintis sebagai pengumpan.

6. Meningkatkan kinerja dan membangun sarana transportasi sungai dan


penyeberangan untuk melayani pergerakan barang dan penumpang dan
wilayah bagian Barat menuju pusat-pusat kegiatan ekonomi, sosial, dan
pemerintahan.

7. Mengintegrasikan sistem transportasi antar moda, yakni moda transportasi


darat, laut, udara, sungai, dan penyeberangan melalui pusat-pusat pemadu

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-14


LAPORAN AKHIR

moda (transhipment point) yang dilengkapi sarana transportasi dan tingkat


pelayanan yang memadai.

8. Meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana perkotaan untuk mendukung


perkembangan pusat sub-wilayah, pusat lokal, dan agropolitan di wilayah
perdesaan, pedalaman, dan pesisir sesuai dengan standar penyediaan
prasarana dan sarana perkotaan.

9. Mengalokasikan ruang bagi kegiatan budidaya perkotaan, pertambangan,


pertanian, industri, perikanan, peternakan, dan pariwisata sesuai yang
ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Riau.

10. Mengalokasikan ruang bagi kegiatan pertanian, perkebunan, dan peternakan


berskala kecil dan menengah pada kawasan perdesaan dan relatif tertinggal
yang ditujukan sebagai kegiatan rakyat dan masyarakat tempatan dan
mengalokasikan ruang laut bagi kegiatan masyarakat nelayan yang bermukim
di pantai Timur dan pulau-pulau kecil untuk penangkapan dan budidaya
perikanan.

11. Membangun prasarana kelistrikan, keenergian, telekomunikasi, dan sarana


sosial lainnya di kota-kota yang padat penduduk, ibukota kabupaten baru, dan
pusat pusat kecamatan dan sentra produksi.

12. Memperkuat fungsi RTRW Provinsi Riau dan rencana yang lebih rinci sebagai
acuan pemanfaatan ruang serta membangun sistem pengendalian alih fungsi
lahan sesuai dengan fungsi ruang yang ditetapkan. Implementasi dan
pengendalian pemanfaatan ruang ditujukan untuk meningkatkan produktifitas
kawasan budidaya dan melestarikan kawasan berfungsi lindung di darat,
pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil.

13. Meningkatkan kapasitas kelembagaan penataan ruang dan kualitas aparatur


pelaksananya melalui perkuatan institusi koordinasi penataan ruang daerah;
regulasi perijinan dan penertiban; memperkuat institusi pengawasan; dan
pembinaan aparatur, termasuk PPNS dan pejabat pengawas lingkungan.

14. Menjalin kemitraan dengan pihak swasta untuk membangun prasarana dan
infrastruktur wilayah berskala besar.

Untuk mewujudkan kerjasama pembangunan antar wilayah, Pemerintah


Provinsi Riau bertekad:

1. Membangun forum dan meningkatkan kerjasama pembangunan antar wilayah


Kabupaten/Kota dengan Provinsi Riau untuk melaksanakan kesepakatan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-15


LAPORAN AKHIR

kesepakatan pembangunan lintas wilayah dan lintas sektor di bidang ekonomi,


sosial, budaya, lingkungan, dan pertahanan keamanan.

2. Meningkatkan kerjasama pembangunan dengan provinsi di Pulau Sumatera dan


provinsi lainnya melalui forum, musyawarah, dan kesepakatan dalam
pembangunan infrastruktur, sektor ekonomi, pembangunan sosial, penataan
ruang, dan perlindungan lingkungan.

3. Meningkatkan kerjasama pembangunan antara Provinsi Riau dengan


Pemerintah Pusat, terutama di bidang penataan ruang, pembangunan sektor
ekonomi unggulan nasional, pembangunan infrastruktur berskala nasional dan
internasional, pengendalian kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan
berskala lebih luas dari Provinsi Riau, kemampuan dalam mitigasi bencana, dan
memperkuat ketahanan dan keamanan negara.

4. Meningkatkan peranserta dalam kerjasama internasional melalui kerjasama


ekonomi regional IMTGT dan kerjasama khusus lainnya, seperti sister city,
dengan berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat.

5. Membangun kemitraan antara pemerintah daerah dengan pihak swasta melalui


pola public private partnership (P3), terutama dalam pembangunan
infrastruktur berskala besar.

Dalam jangka panjang, perwilayahan pembangunan Provinsi Riau dilaksanakan


melalui pembentukan sistem pusat-pusat yang menggerakkan pembangunan di
wilayah yang dilayaninya dan didukung oleh sistem prasarana wilayah. Untuk itu,
sistem pusat-pusat Provinsi Riau dibentuk oleh 2 (dua) pusat utama yang berfungsi
sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN), 6 (enam) Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan
13 (tigabelas) Pusat Kegiatan Lokal (PKL), dan Sub-Pusat Kegiatan Lokal. Masing-
masing pusat kegiatan memiliki wilayah pelayanan dengan skala yang bersifat hirarkis
sesuai dengan fungsi pusat masing-masing, sehingga ordinasi pusat-pusat tersebut
secara menyeluruh dapat membentuk struktur ruang wilayah Provinsi Riau.
Perwilayahan pembangunan diwakili oleh Kota Pekanbaru dan Dumai sebagai PKN
ditunjang oleh jaringan jalan arteri primer, pelabuhan nasional dan internasional, dan
bandar udara sebagai pusat penyebaran.

Kota Pekanbaru didukung oleh jaringan jalan tol yang menghubungkannya


dengan Kota Dumai dan berada pada jaringan arteri primer yang menghubungkannya
dengan pusat-pusat Provinsi Sumatera Utara, Jambi, dan Sumatera Barat; didukung
oleh Pelabuhan Mengkapan Buton di pantai Timur Kabupaten Siak yang berfungsi
sebagai pelabuhan internasional; dan didukung oleh Bandara Sultan Syarif Qasim II

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-16


LAPORAN AKHIR

sebagai Pusat Penyebaran Sekunder (PPS) yang melayani penerbangan internasional.


Kota Dumai sebagai PKN didukung oleh posisi geografisnya yang bersifat strategis
untuk menggantikan Kota Batam; terhubungkan oleh jalan tol dengan Kota Pekanbaru
dan jalan arteri primer dengan pusat-pusat Provinsi Sumatera Utara, Jambi, dan
Sumatera Barat; didukung oleh Pelabuhan Dumai dan Lubuk Gaung sebagai pelabuhan
hub internasional; dan didukung oleh Bandara Pinang Kampai sebagai PPS dengan
pe!ayanan penerbangan internasional.

Untuk menuju terbentuknya pembangunan wilayah yang lebih seimbang di


seluruh bagian wilayah Provinsi Riau, maka pusat-pusat lainnya difungsikan sebagai
PKW diwakili oleh Kuala Enok, Pasir Pangaraian, Ujung Tanjung, Siak Sri Indrapura,
Bengkalis — Buruk Bakul, dan Rengat — Pematang Reba; masing-masing dengan
dukungan prasarana wilayah berskala regional dan memiliki jangkauan pelayanan
bagian wilayah Provinsi Riau.

Secara hirarkis fungsi pelayanan pusat-pusat diperankan oleh PKL yang diwakili
oleh Bangkinang, Ujung Batu, Bagan Siapi-api, Bagan Batu, Sei Pakning, Selat Panjang,
Dun,Tanjung Buton, Pangkalan Kerinci, Air Molek, Tembilahan, Sei Guntung, dan Taluk
Kuantan. Dengan dukungan prasarana wilayah dan sub-pusat kegiatan, maka pusat-
pusat sebagai simpul koleksi dan distribusi dan pusat pelayanan terhadap hinterland-
nya berperan mendorong perkembangan di seluruh wilayah Provinsi Riau hingga ke
perdesaan dan pedalaman. Dalam konstelasi tersebut, akses wilayah Riau bagian
Selatan dan Barat terhadap wilayah Riau bagian Utara dan Tengah serta wilayah yang
berbatasan diperkuat melalui ketersediaan jaringan jalan, pelabuhan laut, dan bandar
udara yang terbangun sebagai sistem antarmoda, sehingga mampu mendorong
perkembangan bagian wilayah provinsi sebagai sub-wilayah pembangunan Provinsi
Riau. Perkuatan struktur tersebut diupayakan melalui pengembangan jaringan
transportasi udara, sungai, penyeberangan, jalan raya, dan jalur kereta api. Akses
Barat - Timur mengandalkan jalan tol Pekanbaru - Dumai, didukung oleh peningkatan
kapasitas jalan arteri Lintas Tengah dan Timur Trans Sumatera serta jalur jalan
menyusur pesisir pantai Timur. Pembangunan Pelabuhan Dumai, Kuala Enok,
Mengkapan Buton, dan Pekanbaru dan pelabuhan pengumpan lainnya ditujukan untuk
memperkuat struktur ruang serta menciptakan aksesibilitas antar moda di Provinsi
Riau. Hal tersebut diperkuat melalui pembangunan bandar udara internasional
pengganti Bandara Sultan Syarif Kasim II, Bandara Pinang Kampai di Dumai, Bandara
Japura Rengat, Pasir Pangaraian, Pinang Kampai di Dumai, Sei Pakning, SSH Setia
Negara di Pangkalan Kerinci, dan Tembilahan/Tempuling di Indragiri Hilir.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-17


LAPORAN AKHIR

Perspektif di atas mengindikasikan bahwasanya pusat-pusat kegiatan pada


skala provinsi dan kabupaten akan berperan untuk mendukung pengembangan sektor-
sektor unggulan yang berorientasi keluar provinsi dan pusat-pusat pada ordinasi yang
lebih rendah berperan untuk mendukung kepentingan perkuatan internalisasi
pengembangan wilayah di dalam Provinsi Riau.

Perkuatan pusat-pusat kegiatan di Provinsi Riau menjadi orientasi utama


sejalan dengan kepentingan pertumbuhan penduduk yang dalam jangka panjang
diindikasikan dibentuk oleh tingkat migrasi yang tinggi dengan kualifikasi tenaga kerja
yang lebih baik. Pusat-pusat pertumbuhan dan sentra produksi akan menjadi tujuan
konsentrasi penduduk sesuai dengan pendidikan dan keahliannya yang cenderung
berorientasi produktivitas yang tinggi. Guna mendistribusikan pertumbuhan ekonomi
dan peningkatan kesejahteraan masyarakat hingga kekawasan perdesaan, maka peran
PKL dan sub-pusat kegiatan menjadi penting. Kawasan perdesaan menjadi satuan
ruang pembangunan yang diprioritaskan yang dapat dicapai melalui strategi
pengembangan kegiatan ekonomi rakyat yang memberikan pertambahan nilai pada
skala lokal, antara lain melalui kegiatan agro industri dan agrobisnis; pengembangan
pusat-pusat kegiatan berskala lokal sebagai agropolitan; pembangunan. prasarana
wilayah perdesaan sebagai feeder terhadap sistem prasarana wilayah provinsi dan
kabupaten/kota; penyediaan sarana umumguna meningkatkan kualitas sumberdaya
manusia; perkuatan aparatur penyelenggara pembangunan di kawasan perdesaan
guna meningkatkan pelayanan masyarakat; pembinaan dan pendidikan politik untuk
mewujudkan masyarakat yang lebih demokratis; dan membuka peluang bagi peran
serta masyarakat perdesaan secara aktif dalam pelaksanaan dan pengelolaan
pembangunan.

Kesejahteraan dan tingkat kehidupan masyarakat yang semakin berkualitas


ditunjukkan oleh keberlanjutan penurunan indikator pengangguran terbuka dan
setengah menganggur; penurunan bagian penduduk miskin; peningkatan indeks
pembangunan manusia (IPM); peningkatan tingkat partisipasi aktif angkatan kerja
(TPAK); peningkatan kualitas sumber daya manusia yang didukung oleh
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; berkurangnya kesenjangan antar
bagian wilayah Provinsi Riau; serta peningkatan kualitas lingkungan hidup sejalan
dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau. Kesejahteraan masyarakat yang
meningkat secara lebih mantap ditandai oleh peningkatan IPM hingga mencapai indeks
80 dengan asumsi bahwa IPM kawasan perdesaan telah berhasil meningkat, sehingga
disparitas semakin berkurang; tetap bertahannya TPAK path kondisi sekitar 90%;
penurunan angka pengangguran hingga 8% dan penduduk usia kerjadan penurunan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-18


LAPORAN AKHIR

pengangguran terdidik; dan bagian masyarakat yang tergolong miskin menurun hingga
sekitar 8% dan penduduk Provinsi Riau.

Peningkatan kesejahteraan masyarakat yang lebih mantap dicapai melalui


pertumbuhan ekonomi dengan mempertahankan pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau
tanpa migas pada laju diatas 8% per tahun bertumpu pada pengembangan industri
pengolahan, pertambangan, agroindustri, perdagangan, dan jasa. Pembangunan
industri pengolahan diarahkan pada diversifikasi industri dan pengembangan industri
hilir berbasis sumber daya alam terbarukan; penguatan penambahan nilai melalui
pengolahan hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan; dan eksplorasi
dan penerapan teknologi maju dalam kegiatan eksploitasi migas. Peningkatan
akselerasi pengembangan industri didukung oleh pembangunan kawasan industri di
Kota Dumai dan pusat-pusat kegiatan di wilayah Riau bagian Utara dan Selatan. Proses
perkembangan ini didukung oleh identifikasi sektor sektor unggulan yang secara nyata
berperan dalam perekonomian Provinsi Riau.

Guna mengurangi disparitas pertumbuhan dan perkembangan antara pusat


pusat kegiatan ekonomi dengan kawasan perdesaan dan antara wilayah Riau
bagianTengah dengan bagian Utara dan Selatan, maka prioritas diberikan pada
pengembangan usaha ekonomi rakyat berskala menengah dan kecil di sektor sekunder
dan tersier. Prioritas tersebut perlu didukung oleh berbagai bentuk insentif berupa
dukungan perijinan. permodalan, pembinaan, pemasaran, serta penyediaan
infrastruktur ekonomi. Selain itu, disparitas perkembangan antar bagian wilayah
dikurangi melalui prioritas pembangunan infrastruktur dan fasilitas ekonomi lainnya di
wilayah Riau bagian Utara dan Selatan. Prioritas pembangunan wilayah didorong
melalui penyebaran fungsi distribusi dan koleksi barang dan jasa pada pusat-pusat
pertumbuhan berskala lokal (PKL) di wilayah Riau bagian Selatan dan Utara;
peningkatan aksesibilitas melalui penyediaan infrastruktur transportasi multimoda
berfungsi pengumpan (feeder); penyediaan sumber daya energi primer dan fasilitas
telekomunikasi di wilayah Riau bagian Utara dan Selatan; dan memperkuat
kemampuan dan kapasitas penanganan angkutan barang dan penumpang (handling)
antar moda pada lokasi pergantian antar moda (transhipment point).

Pembangunan ekonomi juga didukung oleh pembangunan sektor-sektor


unggulan yang selama ini telah berkembang, antara lain produk CPO, pulp andpaper,
crumb rubber, dan minyak kelapa. Pertumbuhan sektor unggulan tetapdi pertahankan
untuk memantapkan laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau secara makro.
Pembangunan infrastruktur ekonomi selain dilakukan melalui pembangunan prasarana
jalan dan angkutan sungai di kawasan perdesaan, juga dilengkapi dengan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-19


LAPORAN AKHIR

pembangunan jalan tol Pekanbaru-Dumai dan pembangunan Pelabuhan Dumai,


Buatan, dan Kuala Enok menuju terciptanya 3 (tiga) outlet utama Provinsi Riau.
Pelabuhan laut lainnya dibangun secara bertahap untuk memperkuat struktur
prasarana transportasi laut. Gagasan pembangunan jaringan kereta api regional
sebagai bagian Trans Sumatera Railway dimanifestasikan melalui telaah kelayakan
dan perancangan lebih rinci.

Seiring dengan pembangunan ekonomi yang bertujuan meningkatkan


kesejahteraan masyarakat, dilaksanakan pembangunan sumber daya manusia melalui
perluasan pembangunan prasarana dan peningkatan mutu pelayanan pendidikan
dasar, menengah, kejuruan, dan pendidikan tinggi; perluasan pembangunan prasarana
dan mutu pelayanan kesehatan; pembangunan sistem informasi pembangunan yang
handal; pemantapan akses masyarakat terhadap informasi pembangunan; menjaga
dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kehidupan sosial-politik yang
demokratis; dan lebih memperkuat kelembagaan demokrasi.

Pada sektor publik dilakukan pemantapan iklim pembangunan ekonomi


dibidang investasi melalui kepastian birokrasi, kepastian hukum, dan kepastian usaha;
peningkatan format dan skema kemitraan sektor swasta dan publik dengan
masyarakat dalam usaha ekonomi; pemantapan tata kelola pemerintahan yang baik;
pemantapan kinerja dan profesionalisme aparatur; dan penegakan hukum secara
menyeluruh.

Upaya peningkatan perekonomian dan peningkatan kualitas kelembagaan dan


sumber daya manusia dilaksanakan melalui penyelenggaraan pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang yang berpedoman kepada RTRW Provinsi Riau.
Arahan pembangunan dalam dimensi spasial dilaksanakan dan dikendalikan secara taat
asas terutama dalam tujuan pembentukan struktur ruang dan pola ruang. Dalam
kaitan tersebut dilaksanakan pengelolaan lingkungan padakawasan lindung melalui
program pembangunan dan perijinan. Pelaksanaan pengendalian pencemaran dan
kerusakan lingkungan dilaksanakan bersamaan dengan pemanfaatan sumber energi
terbarukan; pelaksanaan program mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim;
pemantapan pengendalian penurunan kualitas lingkungan. oleh aparatur yang
kompeten; serta pelembagaan peran serta masyarakat dalam pelestarian dan
pengawasan kualitas lingkungan. Pemantapan kemampuan mitigasi bencana alam
dilaksanakan melalui pemanfaatan teknologi; upaya mitigasi secara struktural dan non
struktural; serta pemantapan kelembagaan mitigasi bencana.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-20


LAPORAN AKHIR

Kesejahteraan masyarakat yang meningkat secara lebih mantap ditandai oleh


peningkatan IPM hingga mencapai indeks 85 dengan asumsi bahwa IPM kawasan
perdesaan berhasil meningkat secara nyata, sehingga menurunkan disparitas secara
nyata pula; TPAK tetap bertahan pada kondisi sekitar 90%; penurunan angka
pengangguran secara berlanjut hingga 6% - 7% dan penduduk usia kerja dan
penurunan pengangguran terdidik secara nyata; dan pengurangan bagian masyarakat
yang tergolong miskin hingga sekitar 6% - 7% dan penduduk Provinsi Riau.

Kesejahteraan masyarakat yang meningkat secara lebih mantap diupayakan


melalui peningkatan laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau tanpa migas sekitar 8% -
8,5% per tahun yang bertumpu pada pengembangan industni pengolahan,
pertambangan, agroindustri, perdagangan, dan jasa. Pembangunan industri
pengolahan dilaksanakan melalui diversifikasi industri dan pengembangan industrI hilir
berbasis sumber daya alam terbarukan; penguatan penambahan nilai melalui
pengolahan hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan; perdagangan
produk pengolahan hasil pertanian; dan eksplorasi dan penerapan teknologi maju
dalam kegiatan eksploitasi migas. Peningkatan akselerasi pengembangan industri
didukung oleh pembangunan kawasan industri di pusat-pusat kegiatan di wilayah Riau
bagian Tengah, Utara, Barat, dan Selatan.Upaya pertumbuhan ekonomi juga didukung
oleh pembangunan sektor pariwisata dan jasa lainnya di Provinsi Riau, terutama untuk
memanfaatkan kunjungan wisatawan mancanegara yang masuk melalui gerbang
utama Batam. Dalam kaitan ini Provinsi Riau akan membangun prasarana konvensi
bertaraf intemasional bagi kepentingan pariwisata MICE.

Disparitas pertumbuhan dan perkembangan antara pusat-pusat kegiatan


ekonomi dengan kawasan perdesaan dan antara wilayah Riau bagian Tengah dengan
bagian Utara dan Selatan semakin dikurangi melalui usaha ekonomi rakyat berskala
menengah dan kecil di sektor sekunder dan tersier di wilayah bagian Utara, Selatan,
dan Barat melalui agro industri dan agrobisnis. Pembangunan tersebut didukung oleh
program-program pengentasan kemiskinan, pembangunan prasaranadan pelayanan
pendidikan, serta pembangunan dan pelayanan infrastruktur ekonomi pada skala yang
lebih luas dan skala lokal untuk menjangkau pusat-pusat kegiatan distribusi dan koleksi
barang dan jasa berhirarki Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Pembangunan infrastruktur
transportasi direncanakan dapat menghubungkan prasarana jalan lokal primer dengan
kolektor primer dan arteri primer pada jalur lintas Barat, Tengah, dan Timur Riau.
Keterkaitan transportasi antar moda dikembangkan lebih lanjut melalui peningkatan
kapasitas pelayanan pemadu antar moda (transhipment point). Pengembangan
Pelabuhan Kuala Enok dan Buatan dilanjutkan untuk mendukung terbangunnya 3 (tiga)

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-21


LAPORAN AKHIR

outlet utama Provinsi Riau melalui laut. Pembangunan pelabuhan lainnya tetap
berlangsung sesuai dengan fungsi yang melekat pada masing-masing pelabuhan.
Pembangunan infrastruktur transportasi dilengkapi oleh pembangunan jaringan
angkutan keretaapi Trans Sumatera Railway. Pembangunan pusat-pusat distribusi dan
koleksi barang dan jasa pada pusat-pusat kegiatan berskala lokal (PKL) tetap
dilanjutkan bersamaan dengan pengembangan PKW. Penyediaan sumber daya energi
primerdan fasilitas telekomunikasi di wilayah Riau bagian Utara, Selatan, dan Barat
tetap dilanjutkan seiring dengan perkembangan kegiatan ekonomi di bagian wilayah
tersebut. Upaya peningkatan perekonomian dilaksanakan selaras dengan struktur dan
pola ruang yang ditetapkan RTRW Provinsi Riau dan pengendalian pemanfaatan
ruang yang taat asas.

Pembangunan ekonomi dengan intensitas tinggi didukung sumber daya


manusia melalui perluasan pembangunan prasarana dan peningkatan mutu pelayanan
pendidikan menengah, kejuruan, dan pendidikan tinggi; peningkatan mutu pelayanan
kesehatan; tersedianya sistem informasi pembangunan yang akurat dan handal;
pemantapan akses masyarakat terhadap informasi pembangunan; mempertahankan
partisipasi masyarakat dalam kehidupan sosial-politik yang demokratis; dan
kelembagaan demokrasi yang kuat. Pelayanan publik diselenggarakan sesuai
ketentuan standar pelayanan minimum dan standar mutu lingkungan.

Pembangunan sektor publik juga lebih dimantapkan agar iklim investasi mampu
bersaing dengan negara-negara lain di Asia Tenggara; peningkatan kemitraan usaha
ekonomi antara sektor swasta dan publik. dengan masyarakat; pemantapan tata kelola
pemerintahan yang lebih baik; kinerja dan profesionalisme aparatur yang lebih
mantap; dan penegakan hukum secara menyeluruh. Pembangunan ekonomi diikuti
oleh pelaksanaan pengelolaan lingkungan sesuai standar mutu lingkungan dan
konvensi internasional yang disepakati, yakni melalui pengendalian pencemaran dan
kerusakan lingkungan, pemanfaatan sumber energi terbarukan; penyelenggaraan
mitigasi bencana dengan memanfaatkan teknologi mutakhir; pelaksanaan program
mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim; kompetensi lembaga dan aparatur
bidang lingkungan hidup; dan peran serta masyarakat yang melembaga dalam
pelestarian dan pengawasan kualitas lingkungan.

Berdasarkan penjelasan kebijakan prioritas, arah kebijakan dan sasaran pokok


Rencana Pembangunan Jangka Panjangdan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
(RPJP/RPJM) Provinsi Riau ditarik kesimpulan bahwa Kebijakan Pengembangan
Teknopolitan Pelalawan sesuai dan sinergi dengan Kebijakan Pembangunan Provinsi
Riau.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-22


LAPORAN AKHIR

2.3 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN PELALAWAN.

Prioritas pembangunan dan fokus sasaran unggulan pembangunan memiliki


kendala karena keterbatasan sumberdaya keuangan pembangunan, ditengah-tengah
banyaknya tuntutan pemenuhan kebutuhan akan pembangunan yang harus dicapai
dalam masa lima tahun, seperti yang tergambar dalam visi, misi, tujuan dan sasaran
RPJMD 2011-2016, maka di perlukan pemilihan dan penentuan prioritas pembangunan
dan fokus sasaran unggulan pembangunan yang diperhitungkan mampu di capai pada
tahun akhir masa bakti pimpinan daerah.

Prioritas Pembangunan Kabupaten Pelalawan 2011-2016:

1) Pengembangan Pertanian dan Pangan;

2) Pengembangan Ekowisata Unggulan;

3) Pengembangan Industri Kelapa Sawit dan Karet;

4) Pengembangan Jalan Lintas Timur Alternatif dan Listas Bono;

5) Pembangunan Perguruan Tinggi;

6) Pembangunan dan Pengembangan Sumberdaya Listrik dan Air Bersih.

Fokus sasaran unggulan pembangunan Kabupaten Pelalawan tahun 2011-2016


adalah dalam rangka mempertajam visi dan misi pembangunan 2011-2016, dan
memfokuskan penggunaan seluruh sumberdaya (SDM, anggaran, waktu) yang dapat
menjadi lokomotif pembangunan dalam pencapaian target pembangunan Kabupaten
Pelalawan 2011-2016, maka untuk itu dari beberapa Sasaran tujuan yang telah di
tetapkan dalam visi, misi dan program Bupati terpilih, disepakati untuk ditetapkan satu
sasaran yang menjadi “icon” fokus sasaran unggulan pembangunan Kabupaten
Pelalawan selama lima tahun yaitu:

MEWUJUDKAN EKOWISATA SELANCAR BONO BERBASIS MASYARAKAT SERTA


BERWAWASAN LINGKUNGAN MENJADI TUJUAN WISATA NASIONAL DAN DUNIA.
Dengan target sasaran “EKOWISATA SELANCAR BONO” menjadi tujuan wisata 20
besar nasional dan 200 besar dunia di tahun 2016.

Indikator Pencapaian Fokus Sasaran Unggulan Pembangunan Kabupaten


Pelalawan Tahun 2011 – 2016 adalah Mewujudkan Ekowisata Selancar Bono Berbasis
Masyarakat Serta Berwawasan Lingkungan menjadi tujuan wisata nasional urutan ke
20 dan tujuan wisata dunia urutan ke 200. Pencapaian pembangunan selama lima
tahun yang memfokuskan sasaran unggulan pembangunan pada pewujudan ekowisata
selancar bono berbasis masyarakat serta berwawasan lingkungan manjadi tujuan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-23


LAPORAN AKHIR

wisata nasional dan dunia, bukan berarti menafikan sasaran bidang lain yang tidak
menjadi prioritas unggulan melainkan sebagai pengungkit (leverage) serta perekat
antar sasaran bidang yang ada dalam rangka mencapai tujuan pembangunan daerah
sesuai visi dan misi akhir masa periode pada tahun 2016.

Dalam melaksanakan pembangunan di Kabupaten Pelalawan, terutama dalam


membangun fokus sasaran unggulan pembangunan “Mewujudkan Ekowisata Selancar
Bono Berbasis Masyarakat Serta Berwawasan Lingkungan Menjadi Tujuan Wisata
Nasional Dan Dunia”, pendekatan yang dilakukan adalah dengan Penguatan Sistem
Inovasi Daerah. Penguatan Sistem Inovasi Daerah dilakukan melalui pelaksanaan
enam agenda inovatif. Agenda inovatif yang berkaitan dengan fokus sasaran unggulan
pembangunan adalah sebagai berikut:

Agenda 1 (Mengembangkan kerangka umum yang kondusif bagi inovasi


dan bisnis);

1) Penetapan jasa usaha wisata.

2) Proses pemberian izin usaha pariwisata dan usaha lainnya secara cepat dan
terpadu dengan dukungan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

3) Penyusunan rencana induk pariwisata.

4) Penyediaan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk


penyelenggaraan administrasi serta layanan pariwisata.

5) Penyusunan penguatan Basis Data Pembangunan di seluruh SKPD berbasis TIK.

6) Membangun kerjasama antar daerah sepanjang Daearah Aliran Sungai (DAS)


Kampar.

7) Pemberian tax holiday bagi para investor wisata.

8) Pembangunan Aquarium ikan air tawar Sungai Kampar.

9) Penyelenggaraan even pemerintah di tempat tujuan ekowisata ( Selancar Bono dan


Taman Nasional Tesso Nilo).

10) Membangun pasar wisata berbasis WEB dan berwawasan lingkungan.

Agenda 2 (Memperkuat kelembagaan dan daya dukung iptek serta


mengembangkan kemampuan absorpsi UMKM) ;

1) Pengembangan Kerjasama bidang IPTEK tentang biodiversity, sumber energi


terbaharukan, penguatan pangan utama padi dan Jagu, pendukung ekowisata.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-24


LAPORAN AKHIR

2) Peningkatan kapasitas Usaha Kecil Menengah (UKM) handy craft, makanan


(kuliner) khas bersumber daya lokal.

3) Sistem informasi layanan pendidikan, layanan kesehatan, layanan pariwisata serta


potensi daerah berbasis TIK.

Agenda 3 (Menumbuh-kembangkan kolaborasi bagi inovasi, meningkatkan


difusi inovasi, serta menggunakan praktik baik dan hasil
litbang);

1) Pengembangan dan atau membangun lembaga-lembaga wisata lokal dan


kerjasama lembaga dalam pengembangan ekowisata.

2) Pemanfaatan kepakaran khusus di bidang ekowisata, TIK serta Lingkungan


(nasional/internasional) untuk mengembangkan potensi lokal.

3) Diseminasi praktek baik bagi pelayanan kesehatan, pertanian dan perkebunan


serta industri ramah lingkungan.

Agenda 4 (Membangun budaya inovasi) yang meliputi :

1) Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan tujuan wisata.

2) Kampanye sadar wisata, melek TIK serta berwawasan Lingkungan bagi seluruh
birokrasi dan masyarakat untuk menunjang kemandirian.

3) Insentif pembiayaan dan reward pada usaha pemula wisata berbasis masyarakat
dan berwawasan lingkungan.

4) Bantuan teknis peningkatan kapasitas di bidang hospitality pelaku bisnis pariwisata.

5) Mensponsori pusat kegiatan masyarakat berbasis Teknologi Informasi dan


Komunikasi (telecenter).

6) Fasilitasi penumbuhan kegiatan ekonomi penunjang ekowisata di wilayah tujuan


wisata.

Agenda 5 (Menumbuh kembangkan sistem inovasi dan klaster industri


nasional dan daerah):

1) Pengembangan infrastruktur khusus jalan, jembatan, listrik dan air bersih


pendukung kelancaran ekowisata.

2) Membanguan Kerjasama intens antara Kabupaten Pelalawan dengan BPPT,


kementrian Budaya dan Pariwisata serta Pekerjaan Umum dalam pengembangan
industri pariwisata.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-25


LAPORAN AKHIR

Agenda 6 (Penyelarasan dengan perkembangan global):

1) Menyelenggarakan dan atau Mengikuti event wisata serta forum diskusi TIK pada
tingkat nasional atau internasional.

2) Penerapan Standar teknis bagi pengadaan pemerintah di bidang spesifik.

2.4 KEBIJAKAN DASAR TEKNOPOLITAN.

Menururt Carlos Quandt (1997) dalam tulisannya “Virtual Technopoles:


Exploring the Potential of Internet and Web Technologies to Create Innovative
Environments in Latin America and the Caribbean” Keberlangsungan dan Keberlanjutan
Teknopolitan ditentukan pula oleh berbagai faktor maupun elemen pendukung yakni:

 Ketersedian dukungan dari pimpinan politik dan akademisi;

 Keberadaan budaya kewirausahaan;

 Keberadaan kaitan yang kuat antara komunitas saintifik dan entrepreneur/


teknoprener;

 Jaringan informasi;

 Pencitraan yaitu promosi citra kawasan sebagai teknopolitan; dan

 Keberadaan Inkubator.

Meskipun tidak ada aturan standar, interaksi dan transaksi pengetahuan yang
difasilitasi oleh teknopolitan harus memperoleh nilai ekonomi dan nilai kompetitif baru
dari tiga komponen fungsional utama:

 Penyedia Iptek: Teknopolitan secara langsung atau tidak langsung terkait


dengan sektor pendidikan melalui perguruan tinggi sebagai penghasil sumber
daya manusia dan intelektual terlatih - atau melalui pusat-pusat penelitian
pemerintah atau swasta/laboratorium. Baik perguruan tinggi maupun lembaga
penelitian dan pengembangan berbagi tujuan bersama seperti menyediakan
tempat pelatihan bagi pengusaha dan mendukung teknologi bagi
kewirausahaan sesuai dengan kompetensi masing-masing Bahkan, perguruan
tinggi dan lembaga litbang memainkan peran penting dalam Teknopolitan
sebagai penggerak pendidikan, pengetahuan baru dan tenaga kerja terlatih
secara terus menerus;

 layanan dukungan Industri: layanan Ini termasuk inkubator dan area


pengembangan usaha, yang biasanya dikelola oleh pihak swasta;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-26


LAPORAN AKHIR

 layanan dukungan Keuangan: layanan Ini termasuk modal ventura, lembaga


pembangunan daerah dan bank.

Analisis permintaan internal dan atau eksternal kebutuhan adalah sumber


utama informasi untuk proses positioning Teknopolitan dan juga melakukan
intervensi:

 Prioritas Kebijakan Pemerintah memainkan peran penting dalam menentukan


fokus strategis teknopolitan misalnya pemilihan sektor, teknologi, dan platform
pengembangan mengingat bahwa sektor atau skema keuangan daerah atau
fasilitas insentif sangat mempengaruhi perkembangan Teknopolitan tersebut.

 Keberadaan Teknopolitan kadangkala duplikasi dengan institusi serupa di


wilayah yang sama sehingga dapat mempengaruhi keputusan untuk
menetapkan fokus dan kompetensi atau sektor tertentu, dan menghindari
redudansi.

 Peraturan internasional misalnya aturan perdagangan dalam perjanjian Putaran


Uruguay atau peraturan hak kekayaan intelektual [HAKI] dapat mempengaruhi
arus teknologi, sebagai hasil dari penilaian risiko suatu negara.

2.5 PENGERTIAN TEKNOPOLITAN

Pengertian Teknopolitan yang dikutip dari berbagai sumber memilki perbedaan


redaksional saja. Namun pada hakekatnya masing-masing pengertian tersebut memilki
esensi yang sama yaitu keterkatian antar pelaku/aktor inovasi baik Perguruan Tinggi,
Lembaga Penelitian dan Pengembangan serta Industri yang membentuk suatu jaringan
inovasi. Oleh karena itu pengertian teknopolitan dalam buku panduan merupakan hasil
sintesis dari berbagai sumber bacaan.

Teknopolitan merupakan suatu kawasan khusus yang dibangun berdasarkan


komitmen memiliki satu atau lebih sentra kegiatan iptek yang mampu mewujudkan
keterkaitan antara lembaga pendidikan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan,
dan industri yang merupakan wahana penguatan jaringan inovasi dalam kerangka
sistem inovasi. Atau dalam pengertian yang lebih sederhana Teknopolitan adalah
adalah suatu kawasan khusus yang berfungsi sebagai wahana jaringan antara sentra-
sentra kegiatan iptek, lembaga pendidikan tinggi, lembaga litbang, dan industri, dalam
melakukan aktivitas-aktivitas penguatan sistem inovasi.

Teknopolitan adalah suatu komunitas terstruktur yang ditujukan untuk


pengembangan inovasi. Teknopolitan biasanya membawa bersama-sama ke satu lokasi

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-27


LAPORAN AKHIR

komponen-komponen yang diperlukan untuk membangun inovasi yaitu akademisi,


lembaga riset dan perusahaan-perusahaan. Semuanya itu diwujudkan dalam suatu
momentum dan visi jangka panjang yang dielaborasikan oleh setiap pimpinan ketiga
kelompok tadi. Dari sisi manfaat tidak terukur seperti energi, pengetahuan ilmiah,
konsensus sosial dan kewirausahaan sama pentingnya dengan manfaat terukur seperti
infrastruktur fisik, fasilitas teknologi, investasi litbang. Dikotomi kedua hal tersebut
yang umumnya merupakan tantangan dalam membangun teknopolitan.

Secara operasional Teknopolitan adalah berkelompoknya organisasi riset dan


organisasi bisnis dengan ketertarikan yang sama dalam semua aspek yang berkaitan
dengan pengembangan ilmiah dari laboratorium ke manufaktur dan komersial.
Membangun Zona industri dengan komposisinya didominasi oleh UMKM, kantor,
beberapa laboratorium dan unit produksi diletakkan dengan penataan lansekap yang
menarik. Bangunan-bangunan tersebut seringkali ditempatkan suatu lokasi tertetuyang
terdiri dari perguruan tinggi negeri dan swasta dan lembaga riset yang mapan.
Kawasan tersebut menggambarkan sebagai aktivitas kerjasama teknologi ekonomi
tinggi menuju inovasi masa depan. Landasan alamiah proses Teknopolisasi dapat
dirangkum sebagai berikut:

 Teknopolitan esensialnya adalah gambaran untuk kekuatan ekonomi yang


mendefinisikan lahan produktif dari abad ke 21.

 Teknopolitan menyediakan tempat untuk organisasi ekonomi baru. Ia


memenuhi kebutuhan untuk menginstalasi cara produksi baru dengan
menemukan hubungan antara industri inovatif, private/pribadi, research publik,
dan pendidikan yang lebih tinggi. Salah satu fungsi essensialnya adalah transfer
teknologi.

 Teknopolitan menawarkan suatu jenis lokasi yang perencanaan, arsitektur, dan


kepemimpinannya berkaitan untuk mempromosikan socio-productive order
yang baru.

 Teknopolotan menciptakan polarisasi teritorial dengan lokasi geografis yang


lebih besar. Hal tersebut menyebabkan tersedianya interface antara hubungan
produktif yang berdasarkan kedekatan, perspektif global yang lebih luas, dan
stimulus/dorongan untuk pekembangan dinamis.

Teknopolitan dapat juga didefinisikan sebagai komunitas terstruktur atau pusat


sumber daya yang diarahkan untuk pengembangan inovasi. Teknopolitan dapat
dijadikan sebagai wahana yang sangat berguna untuk pembangunan daerah dan
transformasi ekonomi, teknopolitan biasanya terkonsentrasi di satu lokasi atau wilayah

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-28


LAPORAN AKHIR

(jaringan Teknopolitan) dimana komponen yang dibutuhkan untuk berinovasi adalah


universitas, lembaga penelitian, dan perusahaan. Yang terpenting adalah semua
pemangku kepentingan berorientasi pada visi jangka panjang. Aspek perangkat lunak
(software) seperti pengetahuan ilmiah, konsensus sosial, kewirausahaan bernilai sama
pentingnya dengan perangkat keras (hardware) seperti infrastruktur, fasilitas
teknologi, investasi penelitian dan pengembangan. Mengintegrasikan kedua hal
tersebut merupakan bagian dari tantangan untuk mendirikan sebuah Teknopolitan.
Setiap inisiatif untuk pengembangan potensi ekonomi yang baru dalam menghadapi
persaingan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan target pasar yang spesifik.
Oleh karena itu, mengidentifikasi kebutuhan para pengguna potensial dari semua mitra
Teknopolitan adalah tugas utama yang harus dilakukan sebelum mendirikan suatu
organisasi teknopolitan.

Organisasi Teknopolitan dapat dijelaskan secara singkat sebagai


merencanakan peningkatan inovasi dengan meminimalkan biaya transaksi yang
disebabkan oleh kendala kelembagaan yang seringkali dialami dalam kolaborasi
dengan lembaga ekonomi. Teknopolitan selanjutnya memainkan aturan baru yang
dinamis dalam pendistribusian tenaga kerja yang berkarakterisasikan organisasi
industri kontemporer (lama).

Tiga prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembangunan Teknopolitan, adalah :

 Konten paling penting. Posisi Teknopolitan seharusnya bergantung kepada


strategi kawasan industri lokal dan nasional, dan infrastruktur seharusnya
dibangun untuk memfasilitasi teknopolitan.

 Pengelompokan sangat krusial. Pengelolaan teknopolitan tidak dapat


menyelesaikan semua keinginan dan layanan yang diperlukan oleh pengguna
dan para pemangku kepentingan. Masalah yang dihadapi adalah kelangkaan
pembiayaan, kompetensi internal atau kritikal massa. Kelompok tersebut
selanjutnya akan menerima manfaat dari koneksi nasional dan internasional
untuk mengembangkan kapasitas layanan, layanan keahlian, pengembangan
teknopolitan dan para pemangku internasional, proyek kolaboratif, dan
pertumbuhan kompetensi yang dikembangkan di dalam teknopolitan serta
diantara teknopolitan.

 Integrasi kawasan merupakan keharusan. Suatu kawasan teknopolitan


seharusnya dipertimbangkan menjadi salah satu pusat kota. Teknopolitan harus
dapat menciptakan pekerjaan, pengetahuan, perubahan sosial dan pada
akhirnya nilai ekonomi kawasan tersebut. Teknopolitan juga sebagai sarana

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-29


LAPORAN AKHIR

promosi masyarakat kota dan pelaku-pelaku ekonomi, meningkatkan


aksesibilitas, terkait dan berhubungan dengan para pelaku inovasi di daerah
tersebut yang perlu diberikan perhatian khusus. Tata kelola Teknopolitan
seharusnya merefleksikan pengintegrasian tersebut.

Teknopolitan sebagai Kota Pengetahuan dalam pengembangan perkotaan juga


memiliki kekhasan seperti :

 Teknopolitan dibangun di areal yang menarik dan dilengkapi dengan bangunan


arsitektur yang indah dan tersebar secara spasial di mana ilmu pengetahuan
dan teknologi diseleksi/dipilih atau fungsi litbang perusahaan, untuk penelitian
baru atau terapan.

 melakukan kerjasama litbang dengan perguruan tinggi untuk mendapatkan


keuntungan dari sumberdaya teknologinya.

 sistematis menarik dukungan dari manajemen Technopark dalam rangka


mengembangkan keterampilan manajemen, menemukan solusi untuk
pembiayaan di semua tingkat proses inovasi, dan membuat lebih ekstensif
penggunaan semua fasilitas kantor dan jasa konsultasi.

 Merealisasikan proses transfer teknologi yang kuat antara universitas,


laboratorium penelitian dan industri.

Teknopolitan sebagai suatu kawasan khusus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Suatu kawasan khusus/spesifik dengan batas kawasan yang jelas.

b. Terdapat keterkaitan antara lembaga pendidikan tinggi dan lembaga penelitian.

c. Sebagian besar kegiatan masyarakat di kawasan tersebut didominasi oleh


kegiatan penelitian dan pengembangan (research and development).

d. Terdapat pengelola kawasan.

e. Berorientasi pada penemuan baru (invention) dan inovasi (innovation) teknologi


tinggi.

f. Terdapat industri-industri yang berbasis teknologi tinggi, baik pemula (start up


firms) maupun yang sudah mapan.

g. Terdapat peraturan atau kerangka hukum.

Sebagai suatu kawasan khusus, Teknopolitan juga mempunyai persyaratan


khusus yang berbeda dengan kawasan-kawasan khusus lainnya seperti :

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-30


LAPORAN AKHIR

a. Memiliki sumberdaya manusia yang handal untuk melakukan kegiatan


penelitian dan pengembangan yang berorientasi pada penemuan baru, inovasi,
dan komersialisasi teknologi.

b. Memiliki sumberdaya lahan yang dapat dikembangkan sebagai Kawasan


Teknopolitan.

c. Memiliki prasarana dan sarana yang mendukung pengembangan teknopolitan


seperti lembaga pendidikan tinggi, lembaga penelitian, sarana produksi,
jaringan jalan, jaringan telekomunikasi, fasilitas umum, dan fasilitas sosial
lainnya.

Teknopolitan memainkan peranan yang strategis dalam peningkatan daya saing


yang berbasiskan inovasi dan teknologi suatu bangsa sehingga hampir semua negara
maju di dunia berlomba-lomba membangun Teknopolitan dengan maksud :

a. Sebagai sarana dalam membangun jaringan inovasi.

b. Sebagai sarana pembelajaran dalam pengembangan inovasi.

c. Sebagai sarana untuk :

 Promosi Iptek demi terwujudnya proses komunikasi pemasaran iptek yang


efektif.

 Pemasaran Iptek agar terselenggaranya proses sosial melalui kegiatan yang


diperlukan untuk memenuhi kebutuhan iptek masyarakat.

 Pembudayaan Iptek sehingga tertanam nilai-nilai, sikap dan perilaku yang


berorientasi kepada sifat kreatif dan inovatif.

2.6 PERSYARATAN TEKNOPOLITAN

Definisi dari Teknopolitan adalah multi faset termasuk di dalamnya orang,


lembaga, dan perusahaan. Mereka berperan sebagai pembeli sekaligus sebagai klien
(berinvestasi, menyewa ruang di inkubator atau kawasan industri), pengguna bebas
(mendapatkan keuntungan dari jaringan sosial lokal dan internasional, membeli jasa
dari perusahaan lokal lain dan dari universitas yang berlokasi di dalam kawasan
teknopolitan), dan mitra (berkolaborasi dengan pembeli lain/klien dan di teknopolitan
untuk mengembangkan proyek kolaborasi).

Teknopolitan bukanlah sebuah tujuan tetapi sebagai wahana untuk memacu


pembangunan. Mengingat karakteristik Teknopolitan yang memerlukan koordinasi

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-31


LAPORAN AKHIR

yang intensif, pengelolaan yang sinergis dan dan fasilitasi pembiayaan terintegrasi
maka pembangunan teknopolitan harus mendapat dukungan semua stakeholder
secara tepat pada tahap awal pembangunannya.

Para stakeholder termasuk pemerintah memiliki tanggung jawab atas


pengembangan lokasi teknopolitan yang yang akan dibangun. Perguruan Tinggi
beserta lembaga Penelitian dan pengembangan didorong untuk menciptakan hasil
temuan yang memiliki nilai “value” bagi pengembangan teknopolitan. Namun demikian
value yang diciptakan tidak perlu berada di dalam Teknopolitan, tetapi harus terkait
dengan fasilitas atau kegiatan yang dikembangkan di dalam Teknopolitannya.
Perusahaan juga memiliki peran sangat penting dalam aktivitas teknopolitan baik
secara langsung maupun hanya menempatkan perwakilannya di Teknopolitan.
Akhirnya, dalam pembangunan Teknopolitan, instansi pemerintah yang memang
memiliki kepentingan secara nasional harus berpartisipasi aktif pada setiap pertemuan
dan diskusi awal pembangunan teknopolitan

Untuk meningkatkan koordinasi dan efektivitas pengelolaan teknopolitan perlu


diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

 Harus diberikan tugas koordinasi yang jelas;

 Kesepakatan harus dibuat antara asosiasi, pengembang, kontraktor


perencanaan, dan para mitra yang bersangkutan, yang menghubungkan
berbagai aspek proyek, seperti calon pelanggan perusahaan, pengembangan
instalasi dan fasilitas, koordinasi, dan promosi;Prosedur

 Konsultasi dan badan koordinasi harus ditetapkan untuk mendorong


pengembangan rasa saling percaya;

 Sebuah badan penyelesaian perselisihan/sengketa (arbitrase politik) sangat


penting untuk menyelesaikan perbedaan pendapat antara mitra;

 Pembuat kebijakan tidak harus diminta untuk menjadi anggota asosiasi: selain
itu dewan direksi harus dibentuk berdasarkanmasukan dari para perintis awal
Teknopolitan, termasuk wakil yang mereka pilih, ke dalam lembaga-lembaga
yang berbeda. Pelaku ekonomi dan keuangan, serta peneliti dan akademisi juga
harus dikelompokkan ke dalam lembaga-lembaga yang relevan di dalam
organisasi Teknopolitan.

Peletakan dasar-dasar sebuah Teknopolitan yang mandiri dan berkelanjutan


adalah tugas yang sulit tetapi tidak mustahil. Investor swasta jangan hanya

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-32


LAPORAN AKHIR

berorientasi pada keuntungan jangka pendek tetapi di masa depan nilai saham di
teknopolitan akan meningkatkan value perusahaannya.

Konsep pengembangan kawasan Teknopolitan bukan hanya focus pada


Economic capital, tetapi juga Intellectual capital dan Social capital. Pengembangan
Kawasan Teknopolitan dilakukan melalui:

1. Pengembangan/penguatan/revitalisasi “sentra-sentra iptek”;

2. Penguatan “keterkaitan” dan “jaringan”;

3. Gerakan masyarakat ~ semangat, partisipasi aktif, gerakan bersama;

4. Perkembangan inovasi, difusi, dan proses pembelajaran;

5. Membangun reputasi global yang dimulai dari tindakan dan kemanfaatan lokal.

Esensi yang perlu ada dalam konsep Teknopolitan adalah :

 Kombinasi kemitraan universitas dan pusat riset dengan industri dan


pemerintah.

 Kombinasi usaha kecil, besar, dan entrepreneur.

 Klaster bangunan dalam lingkungan R&D dengan tema multi disiplin


berdasarkan program pelatihan universitas termasuk teknologi komunikasi
maju, biosains dan bioteknologi, material maju, teknologi lingkungan.

 Pembentukan kemitraan yang intensif antara penghuni industri, pemerintah,


dan universitas pada suatu komunitas yang tinggal sangat berdekatan
(pedestrian-scale community).

 Infrastruktur teknologi maju untuk jaringan komunikasi.

 Sistem transportasi yang baik digabungkan dengan jaringan berskala regional.

 Balai pertemuan dan hotel untuk pertemuan, pelatihan, dan hiburan.

 Lingkungan tempat tinggal sangat dekat sekali dengan fasilitas R&D (dapat
ditempuh dengan berjalan kaki).

 Fasilitas olah raga seperti jogging, bersepeda, pusat kebugaran.

Seperti yang diutarakan oleh Castells and Hall, 1994, pembangunan


Teknopolitan perlu memperhatikan sedikitnya 12 (dua belas) hal penting yang
meliputi :

1. Strategi pengembangan teknopolitan perlu disusun secara jelas.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-33


LAPORAN AKHIR

2. Cabang perusahaan/pabrik di kawasan teknopolitan lebih baik dari pada tidak


ada perusahaan/pabrik sama sekali.

3. Sinergi sebagai sumber inovasi sangat penting dalam jangka panjang.

4. Perlu dikembangkan visi jangka panjang.

5. Sumber inovasi harus diidentifikasi.

6. Jaringan (networks) harus dibentuk sejak awal. Harus ada jaringan dan saluran
(channels) agar informasi dapat mengalir.

7. Strategi jangka pendek memang lebih mudah, bahkan tindakan (move) jangka
pendek dapat menjadi negatif jika antar institusi tidak berkomunikasi satu
dengan lainnya. Lab swasta perlu didorong untuk bergerak bersamaan dengan
badan riset pemerintah, atau tidak akan ada spin-off.

8. Strategi jangka panjang memerlukan pilihan-pilihan yang selektif. Membangun


hubungan yang sinergis di wilayah yang jauh dari keramaian memerlukan satu
atau dua target area yang menawarkan prospek terbaik dalam hal fasilitas yang
sudah ada sebelumnya, seperti, universitas, kapasitas wirausaha,
kepemimpinan politik.

9. Daya dorong (Inducement) sentral yang utama. Sebagai contoh, pengeluaran


hankam AS berperan besar di Silicon Valley.

10. Identifikasi ceruk yang baru. Sebagai contoh, kembangkan industri high-tech
yang khusus untuk memenuhi kebutuhan lokal, kemudian gali potensi ekspor-
nya.

11. Jaga konsistensi. Misalnya, suatu technopark tidak boleh diubah menjadi office
park (perkantoran) murni hanya karena yang terakhir itu lebih menguntungkan.

12. Terbaik mungkin menjadi musuh bagi yang baik. Negara dan daerah sebaiknya
tidak menilai semua usaha mereka hanya dengan kriteria yang paling ketatdan
eksklusif.

Dalam menentukan lokasi Kawasan Teknopolitan perlu diidentifikasi berbagai


kebutuhan Kawasan Teknopolitan dengan mempertimbangkan :

a. Potensi Sumberdaya Lahan.

b. Potensi Sumberdaya Manusia.

c. Potensi Sumberdaya Buatan (Infrastruktur).

d. Rencana Pembangunan (RPJPD dan RPJMD).


Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-34
LAPORAN AKHIR

e. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

f. Pasar Nasional dan Pasar Global.

Pada tahapan perencanaan pembangunan Teknopolitan perlu dilakukan


beberapa hal seperti:

a. Menetapkan Kawasan Teknopolitan di suatu wilayah kabupaten/kota di suatu


provinsi berdasarkan suatu studi kelayakan yang seksama yang
mempertimbangkan kelayakan teknis, ekonomis, sosial budaya, dan lingkungan
hidup, serta ditetapkan dalam bentuk Peraturan Daerah.

b. Menyusun Masterplan dan Detail Engineering Detail (DED) Kawasan


Teknopolitan.

Strategi pengembangan teknopolitan untuk meningkatkan pengembangan


inovasi dan daya saing wilayah perlu didukung oleh berbagai aktivitas yang dapat
memberikan kontribusi positif seperti :

a. Pemberdayaan masyarakat sehingga terdapat angkatan kerja yang mempunyai


tingkat pendidikan/keahlian yang tinggi dan fleksibel.

b. Pembangunan dan pengembangan beberapa science/teknopark sebagai


dukungan infrastruktur pengembangan Kawasan Teknopolitan.

c. Meningkatkan peran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam


memberikan lingkungan yang produktif untuk bisnis.

d. Pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan di Kawasan


Teknopolitan.

e. Keterpaduan rencana pengembangan Kawasan Teknopolitan dengan Rencana


Tata Ruang Wilayah (RTRW).

2.7 DASAR HUKUM TEKNOPOLITAN

Secara spesifik peraturan yang mengatur kawasan teknopolitan belum ada,


namun mengacu pada konsep teknopolitan terdapat beberapa peraturan yang dapat
dijadikan dasar pembentukan Kawasan Teknopolitan Pelalawan, yang dikelompokkan
menjadi 3 bagian, yaitu:

1. Peraturan terkait Dengan Kebijakan Kawasan Berbasis Iptek.

a. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian,


Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-35
LAPORAN AKHIR

 Pemerintah, Pemerintah daerah, dan/atau badan usaha dapat membangun


kawasan, pusat peragaan, serta sarana dan prasarana Iptek lain untuk
memfasilitasi sinergi dan pertumbuhan unsur-unsur kelembagaan dan
menumbuhkan budaya Iptek di kalangan masyarakat (Pasal 14 UU
18/2002).

 Untuk mengembangkan jaringan, perguruan tinggi, lembaga penelitian dan


pengembangan (litbang), badan usaha, dan lembaga penunjang, wajib
mengusahakan kemitraan. (Psl 15 (2) UU 18/2002).

2. Peraturan Terkait Dengan Kebijakan Kawasan Berbasis Ekonomi.

a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan


Nasional Jangka Panjang 2005-2025.

 Telah ditegaskan bahwa pembangunan ekonomi di arahkan kepada


peningkatan daya saing dan ekonomi berbasis pengetahuan.

b. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus.

Fungsi kawasan ekonomi khusus (KEK) dikembangkan melalui penyiapan


kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi
untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain
yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional.

KEK terdiri atas satu atau beberapa Zona: pengolahan ekspor; logistik; industri;
pengembangan teknologi; pariwisata; energi; dan/atau ekonomi lain.

Di dalam KEK dapat dibangun fasilitas pendukung dan perumahan bagi pekerja.

Di dalam setiap KEK disediakan lokasi untuk usaha mikro, kecil, menengah
(UMKM), dan koperasi, baik sebagai Pelaku Usaha maupun sebagai pendukung
kegiatan perusahaan yang berada di dalam KEK.

Lokasi yang dapat diusulkan menjadi KEK, harus memenuhi kriteria adalah:

 Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan tidak berpotensi


mengganggu kawasan lindung;

 Pemerintah provinsi/ kabupaten/ kota yang bersangkutan mendukung


KEK;

 Terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional


atau dekat dengan jalur pelayaran internasional di Indonesia atau
terletak pada wilayah potensi sumber daya unggulan; dan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-36


LAPORAN AKHIR

 Mempunyai batas yang jelas.

c. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan


Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.

 Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan


mengembangkan klaster industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

 Fokus dari pengembangan MP3EI ini diletakkan pada 8 program utama,


yaitu pertanian, pertambangan, energi, industri, kelautan, pariwisata, dan
telematika, serta pengembangan kawasan strategis.

d. Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Pelalawan Nomor 1 Tahun 2012 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten
Pelalawan Tahun 2011-2016.

 Misi ke 5 diformulasikan salah satu tujuan pembangunan di Kabupaten


Pelalawan adalah memantapkan kemandirian pembangunan ekonomi,
dengan salah satu sasarannya berkembangnya industri dan terwujudnya
pusat-pusat ekonomi unggulan daerah, dengan indikator bertambahnya
jumlah klaster ekonomi di Kabupaten Pelalawan. Sedangkan dalam Misi I
salah satu sasaran pembangunan bidang sumberdaya manusia adalah
pembangunan perguruan tinggi di Kabupaten Pelalawan.

 Berkaitan dengan hal tersebut, pembangunan teknopolitan Pelalawan


merupakan salah satu upaya dalam pencapaian tujuan dan sasaran
pembangunan yang ditetapkan di dalam RPJMD 2011 – 2016.

3. Peraturan Terkait Dengan Kebijakan Kawasan Strategis.

a. Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Pasal 8 ayat (3).

Menetapkan kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pertumbuhan


ekonomi. Pasal 77 Bab V Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) menyebutkan bahwa
kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi,
adalah:

 Kawasan yang memiliki potensi ekonomi cepat tumbuh;

 Memiliki sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi


nasional;

 Memiliki potensi ekspor;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-37


LAPORAN AKHIR

 Didukung jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi;

 Memiliki kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi;

 Berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan nasional dalam


rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional;

 Berfungsi untuk mempertahanan tingkat produksi sumber energi dalam


rangka mewujudkan pertahanan energi nasional; atau

 Ditetapkan untuk mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal.

Amanat peraturan perundang-undangan sebagaimana diuraikan di atas, secara


spesifik tidak menyebutkan tentang kawasan teknopolitan, namun sesuai kriteria, maka
pengembangan kawasan teknopolitan dapat dikategorikan sebagai kawasan khusus
dan kawasan berbasis teknologi yang memiliki dimensi pembangunan ekonomi.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan II-38


LAPORAN AKHIR

BAB III
GAMBARAN UMUM WILAYAH

3.1. KONDISI WILAYAH KABUPATEN PELALAWAN.


Kabupaten Pelalawan dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 53 Tahun
1999 dengan Ibukota Pangkalan Kerinci dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri
pada Tanggal 12 Oktober 1999, sekaligus diperingati sebagai hari jadi Kabupaten
Pelalawan. Nama Kabupaten Pelalawan diambil dari nama sebuah kerajaan yang
pernah tumbuh dan berkembang di daerah ini yang berdiri pada sekitar Tahun 1830 M.

Secara geografis Kabupaten Pelalawan terletak pada 0°48’32” LU - 0°24’14” LS


dan 101°30’40” - 103°23’22” BT. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Siak
dan Perairan Kepulauan Meranti, sebelah selatan berbatasan Kabupaten Indragiri Hilir,
Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi. Sebelah barat berbatasan Kabupaten Kampar dan
Kota Pekanbaru, sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Karimun
Provinsi Kepulauan Riau. Kabupaten Pelalawan mempunyai luas lebih kurang
1.382.210,08 Ha yang terdiri dari luas daratan 1.315.579,43 Ha dan luas laut
66.630,64 Ha, atau 14,73 % dari luas Provinsi Riau (11 Kabupaten/Kota). Rincian luas
wilayah Kabupaten Pelalawan tertera pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Luas Wilayah Kabupaten Pelalawan menurut Kecamatan

Luas (Ha)
%
No. Kecamatan Daratan Sungai/ Jumlah
Wilayah
Danau
1 Langgam 144.269,47 1.037,03 145.306,50 11,05
2. Pangkalan Kerinci 18.991,81 540,01 19.531,82 1,48
3. Bandar Seikijang 30.686,95 - 30.686,95 2,33
4. Pangkalan Kuras 119.955,36 53,01 120.008,37 9,12
5. Ukui 134.519,09 - 134.519,09 10,23
6. Pangkalan Lesung 50.928,95 - 50.928,95 3,87
7. Bunut 42.300,11 42.300,11 3,22
8. Pelalawan 146.069,13 2.199,14 148.265,27 11,27
9. Bandar 37.230,54 - 37.230,54 2,83
Petalangan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-1


LAPORAN AKHIR

Luas (Ha)
%
No. Kecamatan Daratan Sungai/ Jumlah
Wilayah
Danau
10. Kuala Kampar 67.564,87 2.271,30 69.836,17 5,31
11. Kerumutan 95.481,54 202,59 95.684,13 7,27
12. Teluk Meranti 388.438,61 32.842,92 421.281,53 32,02
Jumlah 1.276.433,44 39.146,00 1.315.579,44 100,00
Luas Wilayah Laut 66.630,64
Total Luas Wilayah 1.382.210,08
Sumber : RTRW Kabupaten Pelalawan

Kabupaten Pelalawan berada pada posisi yang cukup strategis, sebab


dipandang dari sisi transportasi darat berada pada arus lintas timur sumatera yang
padat, dan dari sisi transportasi laut Kabupaten Pelalawan terhubung ke arus
perlintasan dagang Selat Malaka.

PEKANBAR
U, DUMAI, JALUR LAUT : TJ.
BALAI KARIMUN,
SUMATERA
BATAM DAN SELAT
UTARA MALAKA

JAMBI,
SUMATERA
SELATAN

Gambar 3.1. Posisi Kabupaten Pelalawan pada Lintas Timur Sumatera dan Selat Malaka

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-2


LAPORAN AKHIR

Topografi wilayah Kabupaten Pelalawan sebahagian besar merupakan dataran


rendah, dan sebahagian lainnya merupakan daerah perbukitan yang bergelombang.
Secara umum ketinggian daerah/kota berkisar antara 3 – 6 meter dengan kemiringan
lahan lebih kurang 0 – 15 % dan 15 – 40 %. Di wilayah Kabupaten Pelalawan mengalir
sebuah sungai yakni Sungai Kampar dengan ratusan anak sungai. Panjang sungai
Kampar di wilayah ini 413,5 Km, dengan kedalaman rata-rata 7,7 meter, lebar rata-
rata 143 meter. Sungai Kampar dan anak-anak sungainya berfungsi sebagai prasarana
perhubungan, sumber air baku, dan budidaya perikanan serta irigasi.

Kabupaten Pelalawan terdiri atas 12 wilayah Kecamatan, dengan 106 Desa dan
12 Kelurahan. Karakteristik ke 118 Desa/Kelurahan di Kabupaten Pelalawan terdiri dari:

- 35 Desa berada di pinggiran sungai.

- 8 Desa berbatasan dengan laut.

- 50 Desa berada di kawasan perkebunan, PIR Trans dan pedalaman.

- 12 desa di kawasan kota sedang kecil.

Untuk menjalankan roda pemerintahan, dibentuk 34 Satuan Kerja Perangkat


Daerah yang terdiri dari 3 Sekretariat, 9 Badan dan 1 Inspektorat, 18 Dinas dan 3
Kantor.

Tabel 3.2. Kecamatan, Kelurahan dan Desa di Kabupaten Pelalawan

No. Kecamatan Kelurahan Desa


1. Langgam 1 7
2. Pangkalan Kerinci 3 4
3. Bandar Sei Kijang 0 5
4. Pangkalan Kuras 1 16
5. Ukui 1 11
6. Pangkalan Lesung 1 9
7. Bunut 1 9
8. Pelalawan 1 8
9. Bandar Petalangan 0 11
10. Kuala Kampar 1 9
11. Kerumutan 1 9
12. Teluk Meranti 1 8
Jumlah 12 106
Sumber : Pelalawan Dalam Angka 2010

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-3


LAPORAN AKHIR

Perkembangan penduduk di Kabupaten Pelalawan terhitung sangat tinggi yaitu


rata-rata selama 10 tahun terkahir mencapai 6,73 % terutama dari pertumbuhan
pendatang, hanya sekitar 2 % berasal dari kelahiran. Jumlah penduduk Kabupaten
Pelalawan meningkatkan hampir dua kali lipat selma periode sepuluh tahun. Sebaran
penduduknya juga tidak merata. Jumlah penduduk Kabupaten Pelalawan berdasarkan
data pada Pertengahan Tahun 2011 tercatat sebesar 321.947 orang, yang terdiri dari
169.282 orang laki-laki (52,58%) dan 152.665 orang perempuan (47,42 %).
Kepadatan penduduk Kabupaten Pelalawan rata-rata 24 jiwa per km per segi.
Kecamatan yang terpadat penduduknya adalah Kecamatan Pangkalan Kerinci yakni
394 orang per Km2, dan kecamatan yang paling rendah kepadatan penduduknya
adalah Kecamatan Teluk Meranti sejumlah 3 orang per Km2. Kabupaten Pelalawan
memiliki jumlah penduduk terbesar pada kelompok usia produktif (15 – 64 Tahun),
yakni sebanyak 206.696 jiwa (64,20 %).

Perkembangan penduduk Kabupaten Pelalawan dalam 10 tahun terakhir,


jumlah penduduk per kecamatan dan jumlah penduduk menurut kelompok umum,
kepadatan penduduk per Km2 dirinci pada Tabel 3, Tabel 4, Tabel 5 dan Tabel 6 di
bawah ini.

Tabel 3.3. Perkembangan Penduduk Kabupaten Pelalawan Keadaan Pertengahan


Tahun 2002-2011

Tahun Jenis Kelamin Jumlah


Laki-laki Perempuan
2002 94.265 84.934 179.199
2003 109.550 98.823 208.373
2004 121.219 102.037 223.256
2005 124.931 105.734 230.665
2006 137.891 118.753 256.644
2007 140.027 131.635 271.662
2008 145.422 134.775 280.197
2009 148.570 137.243 285.813
2010 159.247 143.774 303.021
2011 169.282 152.665 321.947
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-4


LAPORAN AKHIR

Tabel 3.4. Jumlah Penduduk Kabupaten Pelalawan Tahun 2011 Dirinci Menurut
Kecamatan

No. Kecamatan Rumah Laki-laki Perempuan Jumlah


Tangga (Jiwa) (Jiwa) (Jiwa)
1. Langgam 5.852 12.475 11.131 23.606
2. Pangkalan Kerinci 20.682 40.229 36.655 76.884
3. Bandar Sei Kijang 4.979 10.197 9.047 19.244
4. Pangkalan Kuras 12.427 25.179 22.770 47.949
5. Ukui 8.797 18.215 15.741 33.956
6. Pangkalan Lesung 6.950 14.135 12.546 26.681
7. Bunut 3.311 6.468 6.037 12.505
8. Pelalawan 4.274 8.717 7.577 16.294
9. Bandar Petalangan 3.401 6.747 6.368 13.115
10. Kuala Kampar 4.227 9.219 8.473 17.692
11. Kerumutan 5.094 10.229 9.378 19.607
12. Teluk Meranti 3.654 7.472 6.942 14.414
Kab. Pelalawan 83.648 169.282 152.665 321.947
Sumber : BPS Kabupaten Pelalawan

Tabel 3.5. Jumlah Penduduk Kabupaten Pelalawan Menurut Kelompok Umur Keadaan
Pertengahan Tahun 2011

Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah


0–4 21.635 20.466 42.101
5–9 19.561 18.241 37.802
10 – 14 15.639 14.718 30.357
15 – 19 13.566 12.392 25.958
20 – 24 15.430 15.607 31.037
25 – 29 19.489 18.371 37.860
30 – 34 17.613 15.091 32.704
35 – 39 14.409 11.923 26.332
40 – 44 10.966 8.902 19.868
45 – 49 7.740 6.141 13.881
50 – 54 5.453 4.263 9.716
55 – 59 3.439 2.468 5.907
60 – 64 1.797 1.636 3.433
65 – 69 1.215 1.024 2.239
70 – 74 708 660 1.368
75 + 622 782 1.384
Jumlah 169.282 152.665 321.947
Sumber : BPS Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-5


LAPORAN AKHIR

Tabel 3.6. Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan per Km2 menurut
Kecamatan

No. Kecamatan Jumlah Luas Wilayah Kepadatan


Penduduk (Km2) Penduduk
1. Langgam 23.606 1.453,06 16
2. Pangkalan Kerinci 76.884 195,32 394
3. Bandar Sei Kijang 19.244 306,87 63
4. Pangkalan Kuras 47.949 1.200,08 40
5. Ukui 33.956 1.345,19 25
6. Pangkalan Lesung 26.681 509,29 52
7. Bunut 12.505 423,00 30
8. Pelalawan 16.294 1.482,65 11
9. Bandar Petalangan 13.115 372,30 35
10. Kuala kampar 17.692 698,36 25
11. Kerumutan 19.607 956,84 20
12. Teluk Meranti 14.414 421,28 3
Jumlah Total 321.947 13.155,79 24
Sumber BPS Pelalawan 2011

Infrastruktur perhubungan (jalan, jembatan, dan dermaga) merupakan faktor


penting dalam pengembangan sumberdaya ekonomi di Kabupaten Pelalawan yang
sampai saat ini masih belum memadai. Pembangunan infrastruktur jalan, jembatan
dan dermaga ini akan dapat memicu dan memacu pertumbuhan ekonomi di daerah ini.
Data panjang jalan dan kondisinya, serta jumlah dermaga di Kabupaten Pelalawan
dirinci pada Tabel 7 dan Tabel 8 di bawah ini.

Tabel 3.7. Panjang dan Kondisi Jalan di Kabupaten Pelalawan

No. Kategori Negara Provinsi Kabupaten Non Jumlah


Jalan (Km) (Km) (Km) Status (Km)
(Km)
1. Jalan Aspal 157,28 11,00 262,40 - 430,68
2. Jalan - - 510,70 35,05 545,75
Diperkeras
3. Jalan Tanah - - 552,60 50,98 603,58
Jumlah 157,28 11,00 1.325,70 86,03 1.580,01
Sumber : Dinas Bina Marga dan Sumberdaya Air Kabupaten Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-6


LAPORAN AKHIR

Tabel 3.8. Jumlah Dermaga dan Tambatan Perahu di Kabupaten Pelalawan

Kecamatan Yang
Dermaga Dermaga
No. Ditopang Angkutan Keterangan
Permanen Kayu
Air
1. Kuala Kampar 2 8

2. Teluk Meranti 3 6

3. Pelalawan - 5

4. Pangkalan Kerinci - 1

Sumber : Dinas Perhubungan

Transportasi laut di wilayah Kabupaten Pelalawan terdapat dominan di


Kecamatan Kuala Kampar yang merupakan bagian dari perairan Laut China Selatan
yang berbatasan dengan Selat Sunda. Daerah di Kecamatan Kuala Kampar ini terutama
pelabuhan Sokoi berpotensi dikembangkan menjadi pelabuhan khusus menjadi entri
point bagi keluar masuknya arus barang dan orang yang menjadi daya dukung
pengembangan industri dan pariwisata di Kabupaten Pelalawan, menjadi pendukung
Pelabuhan Samudera Kuala Enok, dan penyangga kepadatan industri perkapalan/
pelabuhan di Tanjung Balai Karimun dan Pulau Kundur.

Di Kabupaten Pelalawan juga terdapat Bandar Udara khusus yang diberi nama
Bandar Udara Sultan Syarif Haroen Setia Negara di Kecamatan Pelalawan, dikelola
untuk kepentingan PT Riau Andalan Pulp and Paper. Namun demikian bandara ini juga
dipergunakan sebagai bandara pemberangkatan jamaah haji Kabupaten Pelalawan
menuju bandara embarkasi batam.

Selain itu berdasarkan kajian yang dilakukan Pemerintah Provinsi Riau,


Kabupaten Pelalawan tepatnya daerah perbatasan dengan Kota Pekanbaru merupakan
satu dari dua lokasi yang tepat dan dicadangkan untuk pengganti Bandara
Internasional Sultan Syarif Qasim II Pekanbaru.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-7


LAPORAN AKHIR

Kawasan Pelabuhan/
Industri T. Balai Karimun

Pelabuhan Sokoi

Pelabuhan Samudera
Kuala Enok

Gambar 3. 2. Kedudukan Pelabuhan Sokoi Terhadap Kawasan Pelabuhan dan Industri


Tanjung Balai Karimun dan Pelabuhan Samudera Kuala Enok

Gambar 3.3 Rencana Jaringan Transportasi termasuk jalur kereta api dalam RTRWN
yang melintasi wilayah Kabupaten Pelalawan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-8


LAPORAN AKHIR

Selanjutnya berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan


Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau serta dokumen MP3EI, terdapat rencana
pengembangan jaringan jalur kereta api di pesisir timur sumatera dengan arah relatif
utara – selatan, yang menghubungkan Pekanbaru ke Jambi dan melintasi wilayah
Kabupaten Pelalawan.

Potensi dan perkembangan ekonomi di Kabupaten Pelalawan telah memberikan


kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Laju pertumbuhan ekonomi
Kabupaten Pelalawan selama empat tahun terakhir bergerak rata-rata 7 persen.
Meskipun dari tahun 2007 ke 2009 sedikit mengalami perlambatan. Dari data pada
Tahun 2010 pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Pelalawan mencapai angka 7,17 %,
dan hal ini lebih besar dari tingkat pertumbuhan ekonomi secara nasional.

7,19 7,15 7,17

7,07 7,02
6,88
dengan migas
6,69 tanpa migas

6,61

2007 2008 2009 2010

Gambar3.4 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pelalawan, 2007-2010

Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pelalawan Tahun 2010


mencapai Rp. 16.795.126.340.000,- yang disumbangkan dari sektor pertanian
khususnya perkebunan dan kehutanan mencapai 32,90 % dan sektor industri
pengolahan sebesar 54,90 %. Kinerja ekonomi Kabupaten Pelalawan dapat dilihat dari
perkembangan PDRB yang dipaparkan pada Tabel 3.9 dan Tabel 3.10 di bawah ini.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-9


LAPORAN AKHIR

Tabel 3.9. Perkembangan PDRB Kabupaten Pelalawan menurut harga berlaku (Rp.Juta)

LAPANGAN USAHA 2007 2008 2009 2010


(1) (2) (3) (4) (5)
1. PERTANIAN 3.907.277,95 4,619,605.73 5,220,699.00 5.972.068,94
a. Tanaman Bahan Makanan 166.584,69 181,456.74 195,339.15 209.953,06
b. Tanaman Perkebunan 2.024.486,62 2,398,159.61 2,597,209.00 2.986.088,14
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 54.648,11 62,643.60 69,822.85 77.683,56
d. Kehutanan 1.553.555,28 1,852,062.00 2,217,881.00 2.538.893,31
e. Perikanan 108.003,26 125,283.79 140,447.00 159.450,87
2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 296.431,05 396,087.17 488.101,52 460.974,22
a. Minyak dan Gas Bumi 290.020,91 388,689.90 479.577,15 451.197,07
b. Penggalian 6.410,15 7,397.27 8.524,38 9.777,15
3. INDUSTRI PENGOLAHAN 5.350.410,87 6,807,822.76 8.137.445,41 9.222.501,90
a. Industri Migas 0,00 0.00 0.00 0,00
b. Industri Tanpa Migas 5.350.410,87 6,807,822.76 8.137.445,41 9.222.501,90
4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 8.385,45 9,773.96 11,326.97 12.817,07
a. Listrik 6.267,65 7,304.86 8,375.07 9.399,27
b. Air Bersih 2.117,80 2,469.10 2,951.91 3.417,80
5. BANGUNAN 148.465,74 178,158.89 210,195.00 243.033,54
6. PERDAGANGAN, HOTEL & 138.705,76 174,023.55 220,008.54 262.230,57
a. Perdagangan Besar & Eceran
RESTORAN 128.442,74 161,187.79 204,509.00 243.113,99
b. Hotel 4.448,26 6,079.09 7,527.99 9.634,60
c. Restoran 5.814,76 6,756.66 7,971.55 9.481,98
7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 89.235,31 100,983.39 114,558.26 129.509,98
a. Pengangkutan 87.513,17 98,993.14 112,195.63 126.664,51
1. Angkutan Jalan Raya 68.235,11 76,928.30 86,744.26 97.088,05
2. Angkutan Laut 1.017,19 1,155.99 1,304.47 1.462,51
3. Angkutan Sungai, Danau & 6.850,52 7,687.64 8,524.24 9.460,01
4. Jasa Penunjang Angkutan
Penyeberangan 11.410,35 13,221.21 15,622.67 18.653,95
b. Komunikasi 1.722,13 1,990.25 2,362.63 2.845,47
1. Pos dan Telekomunikasi 1.722,13 1,990.25 2,362.63 2.845,47
8. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JASA 95.759,67 116,463.11 140,345.77 165.202,92
a. Bank
PERUSAHAAN 11.117,73 19,834.37 32,582.30 41.317,39
b. Lembaga Keuangan tanpa 2.636,16 3,044.99 3,468.40 4.018,71
c. Sewa Bangunan
Bank 80.712,05 92,129.20 102,671.11 118.052,22
d. Jasa Perusahaan 1.293,73 1,454.55 1,623.96 1.814,60
9. JASA-JASA 184.010,54 223,458.82 276,715.68 326.787,21
a. Pemerintahan Umum 135.763,19 163,566.50 208,287.54 248.681,72
1. Administrasi Pemerintah & 135.763,19 163,566.50 208,287.54 248.681,72
b. Swasta
Pertahanan 48.247,35 59,892.32 68,428.14 78.105,49
1. Sosial Kemasyarakatan 5.179,44 6,536.66 7,515.69 8.691,81
2. Hiburan & Rekreasi 10.782,42 13,117.64 14,855.07 16.935,88
3. Perorangan & Rumahtangga 32.285,48 40,238.02 46,057.38 52.477,80
PDRB DENGAN MIGAS 10.218.682,35 12,626,377.39 14.819.396,15 16.795.126,34
PDRB TANPA MIGAS 9.928.661,44 12,237,687.49 14.339.819,01 16.343.929,27
Sumber : BPS Kabupaten Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-10


LAPORAN AKHIR

Tabel3.10 Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Pelalawan Atas Dasar Harga Berlaku
Menurut Sektor 2007 - 2010 (Dengan Migas)

LAPANGAN USAHA 2007 2008 2009* 2010**

(1) (2) (3) (4) (5)


1. PERTANIAN 38,24 36,59 35,23 35,56
a. Tanaman Bahan Makanan 1,63 1,44 1,32 1,25
b. Tanaman Perkebunan 19,81 18,99 17,53 17,78
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 0,53 0,50 0,47 0,46
d. Kehutanan 15,20 14,67 14,97 15,12
e. Perikanan 1,06 0,99 0,95 0,95
2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 2,90 3,14 3,29 2,74
a. Minyak dan Gas Bumi 2,84 3,08 3,24 2,69
b. Penggalian 0,06 0,06 0,06 0,06
3. INDUSTRI PENGOLAHAN 52,36 53,92 54,91 54,91
a. Industri Migas 0,00 0,00 0,00 0,00
b. Industri Tanpa Migas 52,36 53,92 54,91 54,91
4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 0,08 0,08 0,08 0,08
a. Listrik 0,06 0,06 0,06 0,06
b. Air Bersih 0,02 0,02 0,02 0,02
5. BANGUNAN 1,45 1,41 1,42 1,45
6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 1,36 1,38 1,48 1,56
a. Perdagangan Besar & Eceran 1,26 1,28 1,38 1,45
b. Hotel 0,04 0,05 0,05 0,06
c. Restoran 0,06 0,05 0,05 0,06
7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 0,87 0,80 0,77 0,77
a. Pengangkutan 0,86 0,78 0,76 0,75
1. Angkutan Jalan Raya 0,67 0,61 0,59 0,58
2. Angkutan Laut 0,01 0,01 0,01 0,01
3. Angkutan Sungai, Danau & 0,07 0,06 0,06 0,06
4. Jasa Penunjang Angkutan
Penyeberangan 0,11 0,10 0,11 0,11
b. Komunikasi 0,02 0,02 0,02 0,02
1. Pos dan Telekomunikasi 0,02 0,02 0,02 0,02
8. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JASA PERUSAHAAN 0,97 0,92 0,95 0,98
a. Bank 0,09 0,16 0,22 0,25
b. Lembaga Keuangan tanpa Bank 0,03 0,02 0,02 0,02
c. Sewa Bangunan 0,84 0,73 0,69 0,70
d. Jasa Perusahaan 0,01 0,01 0,01 0,01
9. JASA-JASA 1,80 1,77 1,87 1,95
a. Pemerintahan Umum 1,33 1,30 1,41 1,48
1. Administrasi Pemerintah & Pertahanan 1,33 1,30 1,41 1,48
b. Swasta 0,47 0,47 0,46 0,47
1. Sosial Kemasyarakatan 0,05 0,05 0,05 0,05
2. Hiburan & Rekreasi 0,11 0,10 0,10 0,10
3. Perorangan & Rumahtangga 0,32 0,32 0,31 0,31
PDRB DENGAN MIGAS 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber : BPS Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-11


LAPORAN AKHIR

3.2. PROFIL POTENSI DAN PELUANG EKONOMI

Kabupaten Pelalawan memiliki banyak potensi ekonomi, baik sektor pertanian,


kehutanan, perikanan, sumberdaya pertambangan dan pariwisata. Beberapa potensi
ekonomi yang menonjol dan menjadi andalan daerah ini adalah sebagai berikut :

a) Sektor Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Lebih dari separuh bagian Kabupaten Pelalawan terdiri dari kawasan hutan,
baik dalam kategori kawasan lindung maupun kawasan budidaya. Luas hutan di
Kabupaten Pelalawan sebesar 779.122,31 Ha (59,22 %), sebahagian besarnya berupa
hutan produksi (466.701,92 Ha). Pemanfaatan potensi sumberdaya hutan ini berupa
pemanfaatan kayu untuk industri dan bangunan, pengolahan menjadi pulp (bubur
kertas) dan kertas, serta pemanfaatan hasil hutan lainnya berupa madu lebah, dan
lain-lain. Di Kabupaten Pelalawan terdapat perusahaan pulp dan kertas yang terbesar
di dunia, yang bahan bakunya tidak hanya berasal dari wilayah Kabupaten Pelalawan,
tapi juga dari berasal dari kabupaten yang ada di Riau, bahkan juga dari provinsi lain.
Jumlah HTI di bawah penguasaan perusahaan dimaksud (PT. Riau Andalan Pulp and
Paper) seluas 151.254 Ha. Produksi Tahun 2011 terdiri dari ; 2.448.898 Ton Pulp dan
813.020 Ton Kertas.

Tabel 3.11. Luas Kawasan Hutan di Kabupaten Pelalawan

Jenis Luas (Ha) Keterangan


Hutan Produksi Tetap 466.701,92
Hutan Produksi Tetap Penyangga 6.274,41
Hutan Rakyat 5.130,76
Hutan Lindung 5.644.71
Kawasan Bergambut 155.349,89
Taman Nasional 101.493,19
Suaka Margasatwa 37.128,30
Kawasan pantai Berhutan Bakau 1.399,14
Sempadan Sungai 5.516,60
Sempadan Pantai 989,90
Jumlah 779.122,31
Sumber : RTRW Kabupaten Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-12


LAPORAN AKHIR

Dengan kapasitas pabrik mencapai 3 Juta Ton per tahun dan Hutan Tanaman
Industri pemasok bahan baku yang cukup luas di wilayah Kabupaten Pelalawan,
keberadaan pabrik kertas ini menjadi penopang perekonomian yang cukup penting di
Kabupaten Pelalawan.

b)Sektor Perkebunan

Peruntukan lahan perkebunan di Kabupaten Pelalawan mencapai 419.101,62


Ha, dan yang telah dikelola seluas 377.486 Ha yang terdiri dari perkebunan kelapa
sawit, karet, kelapa dan aneka tanaman. Namun demikian komoditi yang paling
dominan adalah kelapa sawit yang menjadi sumber ekonomi 30.662 Kepala Keluarga
dan menjadi bisnis inti tidak kurang dari 34 perusahaan besar baik PMDN maupun PMA
di Kabupaten Pelalawan. Luas perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan
merupakan 15,24 % dari luas perkebunan pawit di Provinsi Riau dan 4,09 % dari luas
perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Tabel 3.12. Luas Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Pelalawan

Kategori Luas
Pengelola Produksi
Perkebunan (Ha)
Perkebunan Besar 218.538 34 Perusahaan 1.093.403 Ton CPO
per Tahun
Perkebunan Inti 36.740 18.370 Petani
Rakyat
Perkebunan Rakyat 158.948 17.725 Petani 489.978 Ton CPO
per Tahun
Jumlah 320.000 1.583.381 Ton
CPO per Tahun
Sumber : Data Olahan

Perkebunan kelapa sawit yang luas ini ditopang pula oleh keberadaan Pabrik
Kelapa Sawit (PKS) yang berjumlah tidak kurang dari 18 Unit dengan total kapasitas
produksi tidak kurang 1.045 Ton/Jam. Namun demikian sampai saat ini PKS yang ada
baru mengolah kelapa sawit menjadi Crude Palm Oil (CPO) untuk kemudian diekspor.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-13


LAPORAN AKHIR

Tabel 3.13. Jumlah dan Sebaran Pabrik Kelapa Sawit di Kabupaten Pelalawan

Alamat Kapasitas
No. Nama Perusahaan Produksi
Desa Kecamatan (Ton/Jam)
1. PT. Serikat Putra Sialang Godang Bandar Petalangan 75
2. PT. Sari Lembah Subur 1 Kerumutan Kerumutan 60
3. PT. Sari Lembah Subur 2 Genduang Pangkalan Lesung 30
4. PT. Sinar Siak Dian Permai Muda Setia Bandar Sei Kijang 60
5. PT. Musim Mas 1 Batang Kulim Pangkalan Kuras 90
6. PT. Musim Mas 2 Pangkalan Lesung Pangkalan Lesung 90
7. PT. Mitra Unggul Pusaka Segati Langgam 60
8. Inti Indo Sawit Silikuan Hulu Ukui 60
9. PT. Surya Bratasena Surya Indah Pangkalan Kuras 60
10. PT. Gandaerah Hendana Ukui II Ukui 60
11. PT. Adei Plantation Kemang Pangkalan Kuras 120
12. PT. Multi Palma Sejahtera Lubuk Ogung Bandar Sei Kijang 45
13. PT. Jalur Pusaka Kiyap Jaya Bandar Sei Kijang 10
14. PT. Sinar Agro Raya Kiyap Jaya Bandar Sei Kijang 45
15. PT. Sumber Sawit Terantang manuk Pangkalan Kuras 45
Sejahtera
16. PT.. Langgam Inti Kemang Pangkalan Kuras 30
Hibrindo
17. Peputra Supra Jaya Segati Langgam 45
18. PT. Inti Indo Sawit Bukit Agung Pangkalan Kerinci 60
Bratasena
19. PT. Adei Plantation Sei Buluh Bunut 70
Sumber : Dinas Perkebunan Kabupaten Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-14


LAPORAN AKHIR

Gambar 3.5. Peta Sebaran Kelapa Sawit dan PKS di Kabupaten Pelalawan

c) Sektor Pertanian, Perikanan dan Peternakan

Sub sektor pertanian memiliki potensi yang cukup besar terutama komoditas
padi dan berpeluang memberikan konstribusi bagi peningkatan ketahanan pangan di
Indonesia. Wilayah andalan sawah di Kabupaten Pelalawan ialah Kecamatan Kuala
Kampar, tepatnya Pulau Mendol yang merupakan pulau delta yang berada di muara
Sungai Kampar. Pulau dengan luas 31.250 Ha, ini memiliki potensi 9.970 Ha lahan
sawah pasang surut, dan baru dikelola seluas 8.670 Ha. Sawah seluas 8.670 Ha
tersebut dikelola secara konvensional dengan pola tanam sekali setahun tersebut telah
menghasilkan produksi padi sebanyak 33.800 Ton Gabah Kering Giling, dan merupakan
86 % dari produksi padi di Kabupaten Pelalawan. Produktivitas sawah pasang surut di
daerah ini 3,85 Ton/Ha masih sangat jauh di bawah standar nasional. Dengan pola
intensifikasi, potensi padi di Kuala Kampar ini sangat berpeluang menjadi kawasan
andalan untuk menopang kebutuhan pangan di Indonesia. Upaya intensifikasi memang
harus didukung dengan infrastruktur yang memadai, yang saat ini masih sangat minim.

Sub sektor perikanan juga memainkan peran yang harus diperhitungkan,


karena potensi sumberdaya yang cukup besar yakni keberdaan Sungai Kampar dan
anak sungai yang ada serta adanya wilayah laut di bagian timur daerah ini. Usaha
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-15
LAPORAN AKHIR

perikanan yang dilakukan oleh petani/nelayan selama ini berupa budidaya keramba
dan penangkapan ikan di perair umum dan laut. Namun demikian usaha yang
dilakukan masih sangat tradisional dan bersifat subsisten, dan belum dapat
mengangkat perekonomian pelaku usahanya. Intensifikasi usaha terutama budidaya
akan dapat menjadi sub sektor ini sebagai andalan ekonomi yang menjanjikan.

Tabel 3.14. Luas Perairan Umum dan Laut Sebagai Potensi Pengembangan Usaha
Perikanan di Kabupaten Pelalawan

Jenis Perairan Luas (Ha)

Perairan Umum (Sungai dan Danau) 39.146,00

Perairan Laut 66.630,64

Jumlah 105.776,64

Sumberdaya lahan yang sangat luas di Kabupaten Pelalawan merupakan


potensi yang cukup besar dalam pengembangan usaha peternakan di daerah ini.
Usaha yang mulai berkembang di Kabupaten Pelalawan adalah pola peternakan di
lahan perkebunan sawit. Program bantuan pemerintah ke masyarakat di bidang
peternakan diarahkan pada pengembangan peternakan besar yang terpadu dengan
usaha perkebunan. Saat ini dari 5.000 populasi ternak sapi yang ada di Kabupaten
Pelalawan, 80 % nya berada di lahan perkebunan kelapa sawit.

Selain komoditas ternak besar, di Kabupaten Pelalawan juga banyak dilakukan


usaha peternakan unggas yakni peternakan ayam petelur dan pedaging, yang
memasok baik kebutuhan di Kabupaten Pelalawan sendiri, juga dikirim ke wilayah
kabupaten lain di Provinsi Riau. Saat ini bahkan sudah terdapat investasi di bidang
peternakan ini, yaitu usaha pembibitan ayam yang berada di Desa Simpang Beringin
Kecamatan Bandar Seikijang, dengan kapasitas produksi 1 (satu) juta bibit per hari.

d) Sektor Pertambangan

Kabupaten Pelalawan sejak dahulu menjadi sumber penghasil keuangan


negara, yakni dengan keberadaan sumur minyak yang terdapat di Kecamatan
Kerumutan, Kecamatan Pangkalan Lesung dan Kecamatan Ukui. Sumber minyak di

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-16


LAPORAN AKHIR

Kabupaten Pelalawan dieksplorasi oleh PT. Medco dan PT. Pertamina, dan
menghasilkan tidak kurang dari 556.620 barel per tahun.

Selain minyak bumi di Kabupaten Pelalawan juga terdapat sumberdaya gas


dengan nilai kandungan sebesar 300 BCF, dan telah mulai dieksplorasi sejak Tahun
2008 yang lalu. Terdapat 6 sumur gas yang dikelola oleh PT. Kalila dan telah
menghasilkan gas sejumlah 427.720 MMBTU per tahun, yang disalurkan untuk
kebutuhan bahan bakar di PT. RAPP (pabrik pulf dan kertas), sebahagian lainnya
disalurkan ke PT. PLN di Pekanbaru. Saat ini Pemerintah Kabupaten Pelalawan telah
melakukan kontrak kerjasama dengan PT. Navigate Energy dan telah memulai
membangun Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) di mulut tambang yang memanfaatkan
sebahagian gas yang dihasilkan PT. Kalila dimaksud.

Di Kabupaten Pelalawan juga terdapat deposit batubara namun belum


dieksploitasiyang tersebar di Kecamatan Langgam dan Kecamatan Ukui, dengan total
cadangan sebesar 83.880.440 ton dengan nilai kalori antara 4.000 – 6.565 cal/gram.
Saat ini terus dilakukan upaya mendatang investor untuk mengelola batubara tersebut.

Tabel 3.15. Potensi dan Produksi Minyak dan Gas di Kabupaten Pelalawan

Produksi
Jenis Tambang Cadangan
2008 2009 2010

Minyak Bumi 557,700 Barel 583.150 Barel 556.620 Barel

Gas 300 BCF 1.848.800 1.128.960 427.720


MMBTU MMBTU MMBTU

Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Pelalawan

Tabel 3.16. Potensi Batubara

Lokasi Cadangan (Ton) Jenis Batubara Nilai Kalori

Kecamatan 51.026.110 High Voletile 5.200 – 6.565


Langgam Bituminous Cal/Gr

Kecamatan Ukui 32.854.330 High Voletile 4.000 – 5.500


Bituminous Cal/Gr

Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-17


LAPORAN AKHIR

e) Sektor Pariwisata

Sektor pariwisata di Kabupaten Pelalawan akhir-akhir ini mulai mendapat


perhatian dunia, dengan adanya pemafaatan gelombang bono oleh peselancar manca
negara. Bono merupakan gelombang besar/ombak yang terbentuk oleh adanya
pertemuan arus sungai dengan arus pasang dari laut. Hal ini terjadi karena arus
pasang yang menguat akibat melewati alur menyempit (pulau di tengah muara) dan
dangkal sehingga menjadi gelombang besar. Gelombang bono ini terjadi pada periode
pasang air laut, dan menjadi wilayah potensial untuk berselancar. Berselancar di
sungai merupakan sesuatu keunikan dan tantangan bagi para peselancar, sehingga
menjadikan daerah di Kecamatan teluk Meranti ini sebagai destinasi baru di wilayah
Indonesia. Saat ini sedang dilakukan upaya-upaya pengembangan dan pengelolaan
objek wisata bono ini, mulai dari penyusunan masterplan sampai dengan
pembangunan infrastruktur secara bertahap, dan yang lebih penting adalah promosi
yang intensif baik di dalam maupun di luar negeri. Upaya-upaya tersebut dilakukan
secara sinergis antara Pemerintah Kabupaten Pelalawan, Pemerintah Provinsi Riau,
Pemerintah Pusat dan bahkan dunis usaha juga dirangkul.

Jumlah rombongan peselancar yang datang ke Teluk Meranti mulai September


2010 mencapai 30 rombongan. Sementara wisatawan domestik melihat keunikan dan
menyaksikan aktivitas surfing sampai Maret 2012 mencapai 25.000 orang.

Keberadaan objek wisata bono ini juga ditopang oleh beberapa objek lainnya
serta adat budaya baik di Kabupaten Pelalawan sendiri maupun di Kabupaten/Kota
yang ada di Provinsi Riau. Di Kabupaten Pelalawan terdapat suaka marga satwa dan
hutan lindung yakni Taman Nasional Tesso Nilo dengan luas 83.068 Ha. Di dalamnya
terdapat beragam flora dan fauna asli kawasan ini, dan tentu menjadi daya tarik untuk
dikunjungi. Selain itu Kabupaten Pelalawan merupakan daerah yang berada pada garis
khatulistiwa. Saat ini sudah terdapat tugu equator yang berada pada jalan lintas timur
sumatera ke arah selatan menuju Jambi dan Sumatera Selatan. Keberadaan tugu
equator juga menjadi andalan dan daya tarik pendukung kawasan bono. Terdapat
pula replika Istana Raja Pelalawan di Kelurahan Pelalawan yang disebut Istana Sayap
yang memiliki beragam peninggalan sejarah kerajaan dan masih dipelihara prosesi
adat dan budaya yang kesemuanya tentu menarik untuk dikunjungi.

Selain Kerajaan Pelalawan sebagai salah satu pusat budaya yang menjaga
tradisi adat dan kebudayaan di daerah ini, yang tidak kalah pentingnya adalah
keberadaan Pusat Budaya Petalangan di Desa Betung Kecamatan Pangkalan Kuras

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-18


LAPORAN AKHIR

yang dibangun khusus untuk mempertahankan peninggalan sejarah budaya, pusat


konservasi tradisi adat, dan pusat acara budaya dan pertemuan adat utamanya
masyarakat pedalaman pada masa yang lalu yang disebut sebagai masyarakat
petalangan. Keberadaan pusat budaya petalangan yang dibangun kawasan danau dan
ditengah-tengah perkampungan masyarakat yang masih teguh menjaga adat
istiadatnya juga menjadi andalan daya tarik wisata di Kabupaten Pelalawan.

f) Proyek-Proyek Sektor Riil Dan Infrastruktur

Perkembangan investasi di Kabupaten Pelalawan cukup menggembirakan dan


telah memacu pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan di daerah ini. Selain
investasi di bidang industri kehutanan dan pengolahan hasil kehutanan, investasi di
sektor perkebunan dan industri pendukungnya, juga mulai tumbuh investasi sektor
perhotelan, perdagangan dan jasa lainnya. Disamping itu investasi di bidang
infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, air bersih dan listrik yang dilakukan
pemerintah daerah dan pemerintah pusat juga selalu meningkat dari tahun ke tahun,
dan telah berhasil meningkatkan perekonomian daerah. Selain yang sudah ada,
investasi terus masuk ke daerah ini, baik yang baru dalam bentuk komitmen maupun
yang sudah memulai pekerjaan. Daftar investasi atau proyek sektor riil dan
infrastruktur baik yang sudah berjalan maupun yang akan groundbreaking di tampilkan
pada Tabel 3.16 dan Tabel 3.17 di bawah ini.

Tabel 3.16. Data Investasi/Proyek Sektor Riil yang Sudah Berjalan di Kabupaten
Pelalawan

Nilai Investasi
No. Proyek/Jenis Investasi Perusahaan/Investor
(Rp)
1. Industri Bubur Kertas, PT. Riau Andalan Pulp and 44.182.814.365.864,-
Kertas dan HTI Pendukung Paper
2. Penyediaan Energi Listrik PT. Riau Prima Energi 6.805.021.575.538,-
3. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Sari Lembah Subur 332.757.000.000,-
dan 2 PKS
4. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Serikat Putra 117.239.000.000,-
dan PKS
5. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Surya Bratasena 110.831.200.000,-
dan PKS
6. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Musim Mas 998.624.300.000,-
dan PKS
7. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Indosawit Subur 229.488.611.158,-
dan PKS

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-19


LAPORAN AKHIR

Nilai Investasi
No. Proyek/Jenis Investasi Perusahaan/Investor
(Rp)
8. Industri Pengolahan CPO / PT. Multi Palma Sejahtera 128.720.000.000,-
PKS
9. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Raja Garuda Mas 31.348.920.000,-
dan PKS Sejati
10. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Cipta Daya Lestari 11.000.000.000,-
11. Pabrik Kelapa Sawit PT. Sinar Agro Raya 49.797.500.000,-
12. Pabrik Kelapa Sawit dan PT. Mitra Unggul Pusaka 286.240.425.914,-
Pabrik Karet
13. Pabrik Kelapa Sawit PT. Jalur Pusaka Sakti 12.200.000.000,-
Kumala
14. Pabrik Kelapa Sawit PT. Pusaka Megah Bumi 109.892.260.000,-
Nusantara
15. Industri Minyak Kasar, PT. Mitra Supra 35.000.000.000,-
Minyak Makan dari Nabati
(PKS)
16. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Langgam Inti Hibrindo 285.504.746.388,-
dan PKS
17. Pabrik Kelapa Sawit PT. Sumber Sawit 157.334.250.000,-
Sejahtera
18. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Adei Plantation 1.265.290.327.518,-
dan PKS
19. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Sinar Siak Dian Permai 40.331.112.070,-
20. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Agrita Sari Prima 25.000.000.000,-
21. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Peputra Supra Jaya 13.302.533.652,-
22. Perkebunan Kelapa Sawit PT. TH. Indo Plantations 2.629.268.312.576,-
dan PKS
23. Perkebunan Kelapa Sawit PT. Gandahera Hendana 200.292.000.000,-
dan PKS
24. Industri Minyak Makan PT. Sawit Rajaveni Lestari 100.000.000.000,-
25. Kebun Kelapa Sawit PT. Safari Riau 207.915.096.144,-
26. Kebun Kelapa Sawit PT. Steelindo Wahana 39.090.000.000,-
Perkasa
27. Hutan Tanaman Industri PT. Arara Abadi 429.644.198.022,-
28. Peternakan Ayam PT. Charoen Pokphan Jaya 20.150.000.000,-
farm
29. Retail dan Pertokoan PT. Kerinci Bisnis Centre
30. Perhotelan PT. Unimegah Utama Raya 11.551.000.000,-
31. Jasa Konstruksi PT. Pec-Tech Service 93.100.000.000,-
Indonesia
32. Jasa Penyewaan Peralatan PT. Pech-Tech Limited 111.885.149.000,-
Konstruksi dan Plant Hire
Service
33. Industri Calcium Carbonat PT. Esesindo Cipta 207.128.007.796,-
(Industri Kimia Dasar) Cemerlang
34. Industri Kimia Anorganik PT. Asia Prima Kimia Raya 2.996.199.094,-
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-20
LAPORAN AKHIR

Nilai Investasi
No. Proyek/Jenis Investasi Perusahaan/Investor
(Rp)
35. Jasa Konstruksi PT. Indo Karya Bangun 3.672.495.000,-
Bersama
36. Eksplorasi Gas PT. Kalila
37. Eksplorasi Minyak Bumi PT. Medco
PT. Pertamina

Tabel 3.17. Data Investasi/Proyek Sektor Riil yang Akan Groundbreaking 2012-2014

Proyek/Jenis
No. Perusahaan/Investor Nilai Investasi Keterangan
Investasi
1. Pembangkit PT. Navigate Energy 280.000.000.000,- Sudah Mulai
Listrik Tenaga Dikerjakan
Gas
2. Pembangunan APBN 420.016.430.209,- DED sudah
Jalan Alternatif tersedia
Lintas Timur

G) Regulasi Investasi

Semenjak dibentuknya Kabupaten Pelalawan sampai saat ini telah dikeluarkan


sebanyak 170 Peraturan Daerah yang terdiri dari 40 Perda tentang Keuangan Daerah,
52 Perda tentang Pajak dan Retribusi Daerah, 25 Perda tentang Administrasi
Pemerintahan Desa/Kelurahan, 26 Perda tentang Administrasi Daerah, 5 Perda tentang
Perencanaan Daerah, 14 Perda tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik dan
Perizinan, 8 Perda tentang Ketertiban dan Keamanan. Dari kesemuanya terutama
menyangkut perizinan, serta retribusi dan pajak daerah telah diverifikasi dan dievaluasi
oleh Kementerian Dalam Negeri. Bagi Peraturan Daerah yang tidak bersesuaian
dengan Kebijakan Pemerintah Pusat telah dicabut. Demikian juga peraturan daerah
yang menyangkut investasi disesuaikan dengan peraturan yang lebih tinggi dan selama
ini tidak ada hal yang menghambat investor menanamkan modalnya di daerah ini.

3.3. DELINIASI KAWASAN TEKNOPOLITAN KABUPATEN PELALAWAN

3.3.1. Landasan Penentuan Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan

Penentuan delineasi KawasanTeknopolitan Kabupaten Pelalawan merujuk pada


kriteria yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-21


LAPORAN AKHIR

20/PRT/M/2011 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota, yakni :

a. Kawasan yang dijadikan KawasanTeknopolitan Kabupaten Pelalawan telah


sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pelalawan,
maupun RDTR Sub Wilayah Kecamatan-Kecamatan yang tercakup ke dalam
wilayah KawasanTeknopolitan Kabupaten Pelalawan, khususnya Kecamatan
Langgam. Kawasan budidaya yang dijadikan KawasanTeknopolitan
Kabupaten Pelalawan juga tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung.

b. KawasanTeknopolitan Kabupaten Pelalawan telah mendapat dukungan dari


Pemerintah Provinsi Riau maupun Pemerintah Kabupaten Pelalawan (Perda
Kabupaten).

c. KawasanTeknopolitan Kabupaten Pelalawan terletak pada posisi yang dekat


dengan jalur perdagangan dan jasa atau berdekatan dengan jalur jalan
nasional yang kaya akan potensi sumberdaya unggulan.

d. KawasanTeknopolitan Kabupaten Pelalawan mempunyai batas yang jelas,


baik dalam bentuk batas alam (sungai, kali, dan jalan) maupun buatan
(pagar atau tembok).

Di samping berlandaskan pada kriteria-kriteria di atas, penentuan delineasi


Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan juga ditunjang oleh analisis makro dan
mikro berikut :

 Analisis Makro

Analisis makro terdiri dari analisis kondisi fisik, ekonomi, sosial budaya,
infrastruktur, dan kelembagaan pada level wilayah-wilayah yang mempunyai
keterkaitan tinggi terhadap KawasanTeknopolitan Kabupaten Pelalawan, yaitu
kabupaten dan kota di Provinsi Riau. Keterkaitan Kawasan Teknopolitan
Kabupaten Pelalawan dengan wilayah Provinsi Riau juga dianalisis.

 Analisis Mikro

Analisis mikro terdiri dari analisis kondisi fisik/lingkungan, ekonomi, sosial


budaya, infrastruktur, dan kelembagaan serta industri yang sudah ada di
wilayah perencanaan di Kecamatan Langgam. Pengaruh timbal balik antara
Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan dan wilayah sekitarnya juga
merupakan faktor penting untuk penentuan delineasi.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-22


LAPORAN AKHIR

3.3.2. Hasil Deliniasi Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan

Kawasan Teknopolitan berada di Kabupaten Pelalawan tepatnya di Kecamatan


Langgam yang terletak di bagian barat Kabupaten Pelalawan dan berbatasan langsung
dengan Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kuantan Singingi. Kecamatan Langgam
memiliki luas 1.442 km2 atau sekitar 10,36% dari total wilayah Kabupaten Pelalawan.
Sebagian wilayah adalah daratan (98,72%) banyak digunakan untuk perkebunan sawit
(38,27%) dan hutan lebat (39,05%).

Kecamatan Langgam berada di ketinggian 30 m dari permukaan laut dan


berjarak ke ibukota kabupaten sejauh 20,1 km. Kecamatan tersebut juga memilik
sungai sebanyak 39 buah dengan panjang 348 km dan danau sebanyak 21 buah
dengan luas mecapai 66,5 ha.

Kec. Langgam terdiri dari 1 kelurahan yaitu keluraham Langgam dan tujuh desa
yaitu Desa Segati, Desa Sotol, Desa Tambak, Desa Langkan, Desa Pangkalan Gondai,
Desa Penarikan dan Desa Padang Luas. (lihat Tabel 3.3 dan Gambar 3.3).

Tabel 3.3. Deliniasi Rencana Lokasi Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan

Kecamatan Kelurahan Desa Luas (ha) Keterangan

Langgam Langgam Penarikan 1.485 Lahan Basah

Padang Luas 2.165 Lahan Industri

Total 3.650

Sumber : RTRW Kab. Pelalawan, RDTR sub wilayah kecamatan-kecamatan


KabupatenPelalawan, diolah

Kecamatan langgam tidak seluruh luas arealnya masuk menjadi wilayah


fungsional Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan. Dari total luas tujuh desa
yang ada di Kecamatan Langgam, areal yang masuk Kawasan Teknopolitan
Kabupaten Pelalawan adalah sekitar 3.650 hektar. Untuk memudahkan pembahasan
dalam kajian-kajian berikutnya maka Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan
dimaksudkan lebih baik dinamakan sebagai ”Kawasan Teknopolitan”.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-23


LAPORAN AKHIR

Gambar 3.3. Peta Hasil Delineasi Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-24


LAPORAN AKHIR

Berdasarkan kondisi morfologinya, Kawasan Teknopolitan berada pada kondisi


kawasan yang datar dengan tingkat kemiringan yang lebih kurang 0 – 15 % dan 15 –
40 %. Kondisi morfologi lahannya merupakan daerah perbukitan yang bergelombang
sehingga dapat dijadikan sebagai batas Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Sedangkan kondisi penggunaan lahan, Kawasan Teknopolitan ditempatkan


pada lahan yang sebelumnya sudah merupakan lahan perkebunan rakyat, bukan
lahan pertanian/sawah maupun lahan-lahan yang jika secara agronomi merupakan
tanah yang tidak produktif.

Berdasarkan status lahan dan ketersediaan lahan, Kawasan Teknopolitan


maka diprioritaskan dialokasikan pada lahan yang berstatus tanah milik negara, dan
lahan. Status lahan yang kepemilikan di luar itu, seperti lahan milik masyarakat,
diupayakan tidak digunakan, ataupun jika terpaksa digunakan seminimal mungkin.

3.4. KONDISI LAHAN PERUNTUKAN KAWASAN TEKNOPOLITAN DI


KABUPATEN PELALAWAN.
Pencapaian pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan
sebagaimana yang digaris di dalam MP3EI dilakukan melalui upaya-upaya peningkatan
nilai tambah produk nasional, mendorong inovasi, mengintegrasikan pendekatan
sektoral dengan regional dan memfasilitasi percepatan investasi sesuai dengan
dukungan yang dibutuhkan. Berdasarkan kebijakan tersebut dan sesuai dengan
potensi yang dimiliki serta didukung oleh lokasi wilayah yang strategis di jalur
konektivitas Koridor Ekonomi Sumatera, maka pembangunan pusat pertumbuhan
ekonomi baru yang menjadi kawasan ekonomi khusus di wilayah Kabupaten Pelalawan
merupakan suatu keniscayaan, dan patut didukung oleh semua pihak. Di dalam
kawasan tersebut sekurang-kurangnya terdapat 3 pilar utama dalam pencapaian
pertumbuhan ekonomi daerah, regional dan nasional, yakni adanya industri industri
hilir yang akan memberikan nilai tambah produk daerah, terdapatnya lembaga
pendidikan berupa Sekolah Menengah Kejuruan dan Community College setara D1 dan
D2 yang akan mempersiapkan tenaga kerja terampil, dan adanya lembaga riset yang
akan mendorong inovasi dan penemuan-penemuan teknologi baru guna menunjang
industri yang efisien dan berdaya saing tinggi.

Selain 3 pilar utama tersebut tentu dibutuhkan perumahan bagi karyawan,


perkantoran, fasilitas sosial dan lain sebagainya sehingga kawasan yang akan
dibangun harus berada pada satu hamparan yang luas.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-25


LAPORAN AKHIR

Kawasan yang kemudian disebut sebagai Teknopolitan Pelalawan bergerak


pada industri inti berupa pengolahan kelapa sawit sampai pada produk turunan paling
hilir, pengolahan limbah pabrik yang banyak terdapat di Pelalawan menjadi produk
ekonomis, dan industri pendukung lainnya.

Apabila terbangun sesuai harapan, maka bagi masyarakat Kabupaten Pelalawan


setidak-tidak akan diperoleh manfaat sebagai berikut :

1. Tersedianya lapangan kerja.

2. Masyarakat setempat tidak perlu jauh melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan


keterampilan dan siap terjun ke dunia usaha dan dunia kerja. Pembangunan
lembaga pendidikan menengah dan tinggi yang menghasilkan tenaga kerja
terampil sudah menjadi cita-cita dan masuk dalam target capaian RPJMD Tahun
2011 – 2016.

3. Harga panen perkebunan masyarakat akan stabil bahkan cenderung meningkat.

4. Perekonomian wilayah sekitar akan berkembang, karena aktivitas industri dan


pekerja yang semakin banyak.

Secara regional pembangunan Teknopolitan Pelalawan akan mendorong peran


komoditas kelapa sawit sebagai komoditas andalan Koridor Ekonomi Sumatera dalam
menambah devisa negara dan semakin menyatunya konektivitas ekonomi antar
wilayah.

Secara nasional Teknopolitan Pelalawan akan berdampak pada pengurangan


pengangguran, peningkatan pertumbuhan ekonomi, penyediaan tenaga kerja terampil,
berkembangnya inovasi dalam menunjang peningkatan nilai tambah, optimalisasi
pemanfaatan sumberdaya alam dan pemanfaatan limbah bagi keuntungan ekonomis.

Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pengembangan Teknopolitan oleh


Pemerintah Kabupaten Pelalawan, antara lain :

1) Telah dipersiapkan lahan seluas sekitar 3.900 hektar di wilayah Kecamatan


Langgam sebagai calon lokasi Teknopolitan Pelalawan.

2) Telah dilakukan pencanangan Teknopolitan Pelalawan oleh Menteri Koordinator


Bidang Perekonomian dan Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Tanggal 10
April 2012.

3) Pada Tanggal yang sama (10 April 2012) telah pula dicanangkan Pusat Inovasi
di Kabupaten Pelalawan oleh Menteri Koodinator Bidang Perekonomian dan
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-26


LAPORAN AKHIR

4) Telah dilakukan persiapan pendirian Perguruan Tinggi Pelalawan (Community


College setara D1 dan D2) dengan langkah-langkah ; menyediakan dana hibah
untuk opersional Perguruan Tinggi di dalam APBD Kabupaten Pelalawan Tahun
2012 sebesar Rp. 4,3 Miliyar, mempersiapkan kantor administrasi dan kantor
yayasan serta ruang belajar sementara, telah dilakukan rekrutmen tenaga
dosen, telah disusun proposal sesuai ketentuan berlaku dan telah diajukan ke
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk proses perizinan.

5) Telah dilakukan promosi dan pengenalan terutama bagi calon investor baik
dalam maupun luar negeri.

Gambar 3. 6 Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Menteri Negara Riset dan
Teknologi RI dan Kepala BPPT menandatangani Prasasti Pencanagan Teknopolitan
Pelalawan 10 April 2012

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-27


LAPORAN AKHIR

Gambar 3.7. Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan RI Menerima Penyerahan Proposal Pendirian Perguruan Tinggi
Kabupaten Pelalawan dari Bupati Pelalawan, Di Pangkalan Kerinci 12 April 2012

KPI

PRIORITAS
SUMATER
A 3 1
4
6 1
2 9

Usulan
KPI
Potens
1
ial 1 8
4
1 1
3 5

2 2
0 1 2
2

Gambar 3.8. Koridor Ekonomi Sumatera dan Peta Lokasi Usulan KPI Potensial
(Kabupaten Pelalawan)

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-28


LAPORAN AKHIR

Lokasi Teknopolitan berada di Kecamatan Langgam lebih kurang 30 Km dari


ibukota kabupaten (Pangkalan Kerinci), dengan keunggulan komparatif ;

1. Berada dekat dengan ibukota Propinsi Riau (Pekanbaru) dengan jarak tempuh
darat lebih kurang 60 Km.

2. Dekat dengan sumber energi, yakni terdapat sumur gas di sekitar lokasi, dan
sedang dibangun Pusat Listrik Tenaga Gas di mulut tambang tersebut.

3. Berada pada jalur alternatif lintas timur sumatera.

4. Akses bahan baku industri pada empat arah, dari utara berasal dari Kecamatan
Bandar Seikijang, dari timur berasal dari kecamatan Pangkalan Kerinci, Kecamatan
Pelalawan, dari selatan berasal dari Kecamatan Pangkalan Kuras, Pangkalan
Lesung, dan Ukui, dan dari arah barat berasal dari Kabupaten Kampar dan
Kabupaten Kuantan Singingi.

5. Akses ke pelabuhan laut relatif mudah.

6. Lahan dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan


Teknopolitan

Gambar 3.9. Lokasi yang dicadangkan sebagai Kawasan Teknopolitan Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-29


LAPORAN AKHIR

Posisi Teknopolitan Pelalawan di dalam RTWRK dan RTRWP

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pelalawan saat ini masih dalam proses
revisi. Persetujuan substansi telah dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum. Saat
ini sedang dalam tahapan pengajuan ke DPRD untuk ditetapkan ke dalam Peraturan
Daerah. Di dalam persetujuan substansi yang dikeluarkan Kementerian Pekerjaan
Umum, disebutkan bahwa secara umum apa yang dirumuskan di dalam Rancangan
RTRW tersebut dapat disetujui kecuali status kawasan hutan yang harus mengacu
pada apa yang ditetapkan di dalam RTRW Provinsi Riau. Saat ini juga sedang dalam
tahap revisi. Di dalam Naskah RTRWP tersebut telah dicantumkan bahwa status lahan
yang dicadangkan untuk Teknopolitan tersebut masuk kawasan hutan dalam kategori
Areal Penggunaan Lain (APL). Namun demikian hal tersebut masih harus mendapat
persetujuan Kementerian Kehutanan RI.

Sebagai ringkasan dari gambaran umum Kabupaten Pelalawan dan


Teknopolitan dapat digaris bawahi beberapa catatan sebagai berikut :

1. Pelalawan memiliki komoditi potensial yakni kelapa sawit yang cukup besar
sebagaimana menjadi andalan Koridor Ekonomi Sumatera, adanya industri kertas
kelas dunia, dan terdapat sumber energi berupa minyak bumi, gas dan batubara,
dan berada pada titik konektivitas yang strategis.

2. Pelalawan dihuni oleh penduduk yang sangat beragam (heterogen) yang hidup
secara harmonis, dan diperkirakan menjadi daya dukung semakin meningkatnya
investasi di daerah ini.

3. Untuk lebih berkembangnya investasi di Kabupaten Pelalawan dalam upaya


mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam dan meningkatkan nilai tambah
produk daerah, maka perlu penetapan Kabupaten Pelalawan sebagai Kawasan
Perhatian Investasi Potensial.

4. Pembangunan Teknopolitan Pelalawan merupakan salah satu upaya dalam


pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan yang ditetapkan di dalam RPJMD
2011 – 2016.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan III-30


LAPORAN AKHIR

BAB IV
ANALISIS PENGEMBANGAN
TEKNOPOLITAN KABUPATEN
PELALAWAN

4.1. ANALISIS SPASIAL TEKNOPOLITAN KABUPATEN PELALAWAN

Salah satu komponen penting pengembangan Teknopolitan adalah


pembangunan sarana dan prasarana yang dapat mendukung fungsi kawasan di
wilayah tersebut. Beberapa fungsi kawasan yang akan dikembangkan terutama
kegiatan industri, research and development, Pendidikan dan perguruan tinggi,
permukiman, fasilitas sosial dan umum, kegiatan perkantoran jasa dan komersial,
kegiatan mixed use, kegiatan rekreasi golf dan sport club, manajemen kawasan, ruang
terbuka hijau (RTH) dan infrastruktur kawasan.

4.1.1. Analisis Penentuan Lokasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

A. Kriteria Umum.

Untuk mengakomodir kebutuhan kawasan teknopolitan Pelalawan yang


terpadu dibutuhkan kriteria khusus seperti mudah terjangkau (aksesibel) bagi
masyarakat sekitar dan mobilitas kegiatan industri, serta ketersediaan sarana dan
prasarana perkawasanan yang memadai.

Sistem pelayanan kegiatan kawasan diatur berdasarkan tata jenjang


pelayanannya yang berisi arahan mengenai kapasitas kegiatan, intensitas kegiatan dan
terstruktur menurut lokasi serta jenis dari kegiatan pelayanan dalam kawasan.
Pertimbangan utama dalam pendistribusian pelayanan kawasan teknopolitan
Pelalawan, adalah:

a. Kebutuhan Penduduk.

Pelayanan kegiatan kawasan sangat tergantung pada jumlah dan distribusi


penduduk yang akan dilayani. Semakin besar jumlah penduduk yang harus

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-1


LAPORAN AKHIR

dilayani, maka semakin besar pula kapasitas dan intensitas serta ragam bentuk
pelayanannya.

b. Jangkauan Pelayanan.

Besar kecilnya pelayanan kegiatan kawasan juga ditentukan oleh luas wilayah
pelayanan yang harus dijangkau. Penentuan lokasi pelayanan diintegrasikan dalam
struktur tata ruang kawasan, sehingga pelayanannya dapat menjangkau seluruh
penduduk secara merata dan dilaksanakan secara efisien.

c. Tingkat Pencapaian.

Lokasi jenis pelayanan kegiatan kawasan juga ditentukan oleh tingkat kemudahan
pencapaian (aksesibilitas) ke lokasi pelayanan tersebut. Semakin tinggi tingkat
pencapaian, semakin besar pula potensi untuk menjadi pusat pelayanan
kebutuhan penduduk.

Beberapa prinsip dalam penyusunan kebijakan dasar pengembangan struktur


pelayanan kegiatan kawasan teknopolitan Pelalawan, adalah:

 Menyebarkan sarana pelayanan secara merata sesuai dengan hirarki dan


sebaran penduduk dan kegiatan, serta kebutuhannya.

 Menyediakan sarana secara lengkap dan memadai sesuai dengan hirarki


pelayanannya.

 Memusatkan sarana yang setingkat di satu lokasi atau yang berdekatan untuk
mengefisiensikan dan mengefektifkan pelayanannya.

 Mengelompokkan kegiatan-kegiatan dengan pusat-pusat pada wilayah


pengembangan agar dapat berperan sebagai pemacu perkembangan dan daya
tarik untuk wilayah kawasan tersebut.

 Mengefisienkan sistem pelayanan aktivitas kawasan.

Strategi pembangunan Kawasan Teknopolitan Pelalawan merupakan salah satu


instrumen yang dapat digunakan untuk mempercepat akselerasi pertumbuhan dan
perkembangan Kawasan Teknopolitan Pelalawan yang mengalami kendala didalam
pengembangannya. Strategi Kawasan Teknopolitan Pelalawan adalah upaya yang
dilakukan dalam upaya menginisiasi dan mengalirkan pengetahuan dan teknologi
diantara Lembaga Riset, Perguruan Tinggi, dan Industri. Kebijakan dasar yang harus
dilakukan adalah dengan mengintegrasikan terutama fungsi kegiatan industri, research
and development, pendidikan dan perguruan tinggi, permukiman, serta kegiatan
pendukung kawasan Teknopolitan seperti fasilitas sosial dan umum, kegiatan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-2


LAPORAN AKHIR

perkantoran jasa dan komersial, kegiatan mixed use, kegiatan rekreasi golf dan sport
club, manajemen kawasan, ruang terbuka hijau (RTH) dan infrastruktur kawasan.

Konsep atau strategi mengarahkan pengembangan Kawasan Teknopolitan


Pelalawan adalah sebuah langkah yang aplikatif dan progresif. Untuk itu, sebuah
perencanaan yang dimulai dari penyusunan masterplan Kawasan Teknopolitan
Pelalawan perlu dilakukan. Rencana pengembangan tersebut tentunya juga harus
bersifat saling mendukung dan integratif dengan perencanaan pemerintah daerah
setempat. Pengembangan Kawasan Teknopolitan Pelalawan harus berbasis pada
potensi dan karakteristik daerah, serta memperhatikan berlakunya kebijakan otonomi
daerah.

Rencana pengembangan Kawasan Teknopolitan Pelalawan merupakan bagian


dari pengembangan Wilayah Kabupaten Pelalawan secara keseluruhan. Teknopolitan
didefinisikan sebagai bangunan “fisik” sekaligus bangunan sosial (physical structure
and social structure). Dengan demikian, faktor yang berperan dalam perkembanganya
bukan hanya faktor fisik saja namun juga faktor-faktor lain seperti ekonomi, budaya,
dan politik.

Beberapa kriteria dalam menetapkan Kawasan Teknopolitan Pelalawan, adalah:

1. Kriteria Teknis.

a. Dapat mengakomodir lahan seluas 3.650 hektar.

b. Lahan berlereng antara 0 % – 15 %.

c. Bebas genangan air dan banjir.

d. Kondisi air tanah, struktur geologi tata lingkungan dan daya dukung tanah
cukup memungkinkan untuk dibangun kegiatan perkawasanan.

e. Tidak berada pada kawasan khusus seperti daerah tsunami.

2. Kriteria Spasial / Keruangan.

a. Alokasi pemanfaatan lahan sesuai dengan rencana tata ruang kawasan yang
berlaku.

b. Tidak memanfaatkan kawasan lindung.

c. Kepadatan bangunan dan penduduk rendah.

d. Tidak terdapat kegiatan yang dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan.

e. Memiliki jalur penghubung yang baik untuk mengakomodasi kegiatan di


dalam kawasan dan di luar kawasan Teknopolitan .
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-3
LAPORAN AKHIR

3. Kriteria Ekonomi Sosial dan Budaya.

a. Aksesibilitas baik dengan jaringan infstruktur, transportasi umum dan


tempat bekerja.

b. Ketersediaan sarana dan prasarana (pasar, toko, sekolah, fasilitas keshatan,


fasilitas ibadah, jaringan infrastruktur).

c. Status kepemilikan lahan.

d. Memiliki komunitas masyarakat tertentu yang akan berfungsi sebagai pusat


lingkungan yang memberikan jasa pelayanan, sarana, utilitas kepada
masyarakat sekitarnya.

B. Kriteria Lokasi Kawasan Industri.

Berkembangnya suatu Kawasan Industri tidak terlepas dari pemilihan lokasi


kawasan industri yang akan dikembangkan mengacu pada Peraturan Pemerintah
Nomor 24 tahun 2009 tentang Kawasan Industri, karena sangat dipengaruhi oleh
beberapa faktor/variabel di wilayah lokasi kawasan. Selain itu dengan
dikembangkannya suatu Kawasan Industri juga akan memberikan dampak terhadap
beberapa fungsi di sekitar lokasi kawasan. Oleh sebab itu, beberapa kriteria menjadi
pertimbangan di dalam pemilihan lokasi Kawasan Industri, antara lain:

a. Jarak ke Pusat Kota. Pertimbangan jarak ke pusat kota bagi lokasi Kawasan
Industri adalah dalam rangka kernudahan memperoleh fasilitas pelayanan baik
prasarana dan prasarana maupun segi-segi pemasaran.

b. Jarak Terhadap Permukiman. Pertimbangan jarak terhadap permukiman bagi


pemilihan lokasi kegiatan Industri, pada prinsipnya memiliki dua tujuan pokok,
yaitu:

1) Berdampak positif dalam rangka pernenuhan kebutuhan tenaga kerja dan


aspek pemasaran produk.

2) Berdampak industri karena kegiatan Industri menghasilkan polutan dan


limbah yang dapat membahayakan bagi kesehatan masyarakat.

3) Jarak terhadap permukiman yang ideal minimal 2 (dua) Km dari lokasi


kegiatan industri.

c. Jaringan Jalan Yang Melayani. Jaringan bagi kegiatan industri memiliki fungsi
yang sangat penting terutama dalam rangka kemudahan mobilitas pergerakan dan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-4


LAPORAN AKHIR

tingkat pencapaian (aksesibilitas) baik dalam penyediaan bahan baku, pergerakan


manusia dan pemasaran hasil-hasil produksi.

d. Jaringan Fasilitas dan Prasarana.


1) Jaringan Listrik. Ketersediaan jaringan listrik menjadi syarat yang penting untuk
kegiatan industri. Karena bisa dipastikan proses produksi kegiatan industri
sangat membutuhkan energi yang bersumber dari listrik,untuk keperluan
mengoperasikan alat-alat produksi. Dalam hal ini standar pelayanan listrik
untuk kegiatan industri tidak sama dengankegiatan dornestik dimana ada
prasyarat mutlak untuk kestabilan pasokan daya maupun tegangan.

2) Jaringan Telekomunikasi. Kegiatan industri tidak akan lepas dari aspek bisnis,
dalam rangka pemasaran maupun pengembangan usaha. Untuk itulah jaringan
telekomunikasi seperti telepon dan internet menjadi kebutuhan dasar bagi
pelaku kegiatan industri untuk menjalankan kegiatannya. Sehingga
ketersediaan jaringan telekomunikasi tersebut menjadi syarat dalam penentuan
lokasi industri.

3) Pelabuhan Laut. Kebutuhan prasarana pelabuhan menjadi kebutuhan yang


mutlak,terutama bagi kegiatan pengiriman bahan baku/bahan penolong dan
pemasaran produksi, yang berorientasi ke luar daerah dan keluar negeri
(ekspor/impor). Kegiatan industri sangat membutuhkan.

e. Topografi. Pemilihan lokasi peruntukan kegiatan industri hendaknya.


Pada areal lahan yang memiliki topografi yang relatif datar. Kondisi topografiyang
relatif datar akan mengurangi pekerjaan pematangan lahan (cut and fill) sehingga
dapat mengefisienkan pemanfaatan lahan secaramaksimal, memudahkan
pekerjaan konstruksi dan Menghemat biaya pembangunan. Topografi/kemiringan
tanah maksimal 15 %.

f. Jarak Terhadap Sungai Atau Sumber Air Bersih. Pengembangan Kawasan


Industri sebaiknya mempertimbangkan jarak terhadap sungai. Karena sungai
memiliki peranan. Penting untukkegiatan industri yaitu sebagai sumber air baku
dan tempatpembuangan akhir limbah industri. Sehingga jarak terhadap
sungaiharus mempertimbangkan biaya konstruksi dan pembangunan saluran
saluran air

g. Kondisi Lahan Peruntukan lahan industri perlu mempertimbangkan daya dukung


lahan dan kesuburan lahan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-5


LAPORAN AKHIR

1) Daya Dukung Lahan. Daya dukung lahan erat kaitannya dengan jenis
konstruksi pabrikdan jenis produksi yang dihasilkan. Jenis konstruksi pabrik
sangatdipengaruhi oleh daya dukung jenis dan komposisi tanah,
sertatingkat kelabilan tanah, yang sangat mempengaruhi biaya
danteknologi konstruksi yang digunakan.

2) Kesuburan Lahan. Tingkat kesuburan lahan merupakan faktor penting


dalam menentukan lokasi peruntukan kawasan industri. Apabila
tingkatkesuburan lahan tinggi dan baik bagi kegiatan pertanian,
makakondisi lahan seperti ini harus tetap dipertahankan untuk
kegiatanpertanian dan tidak dicalonkan dalam pernilihan lokasi
kawasanindustri. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya konversi
lahan yang dapat mengakibatkan menurunnya tingkat
produktivitaspertanian, sebagaipenyedia kebutuhan pangan bagi
masyarakat. Dan dalam jangka panjang sangat dibutuhkan untuk
menjaga.ketahanan pangan (food security) di daerah-daerah.
Pengembangan industri, pemerintah daerah harus bersikap tegasuntuk
tidak memberikan ijin lokasi industri pada lahan pertanian,terutama areal
pertanian lahan basah (irigasi teknis).

h. Ketersediaan Lahan. Kegiatan industri umumnya membutuhkan lahan yang


luas,terutama industri-industri berskala sedang dan besar. Untuk itu skala industri
yang akan dikembangkan harus pula memperhitungkan luaslahan yang tersedia,
sehingga tidak terjadi upaya memaksakan diri untuk konversi lahan secara besar-
besaran, guna pembangunan kawasan industri. Sesuai Peraturan Pemerintah
Nomor 24 tahun 2009 luas lahan kawasan industri minimal 50 hektar. Ketersediaan
lahan harus memasukan pertimbangan kebutuhanlahan di luar kegiatan sektor
industri sebagai multiplier effectsnya, seperti kebutuhan lahan perumahan dan
kegiatan permukiman dan perkotaan lainnya. Sebagai ilustrasi bila per hektar
kebutuhan lahan kawasan industri menyerap 100 tenaga kerja, berarti dibutuhkan
lahan perumahan dan kegiatan pendukungnya seluas 1 -1,5 Ha untuktempat
tinggal para pekerja dan berbagai fasilitas penunjang. Artinya bila dikembangkan
100 Ha Kawasan Industri di suatu daerah, maka di sekitar lokasi harus tersedia
lahan fasilitas seluas 100 – 150 Ha, sehingga total area dibutuhkan 200 -250 Ha.

i. Harga Lahan. Salah satu faktor utama yang menentukan pilihan investor dalam
memilih lokasi peruntukan industri adalah harga beli/sewa lahan yang kompetitif,
artinya bila lahan tersebut dimatangkan dalam arti kapling siap bangun yang telah
dilengkapi prasarana penunjang dapat dijangkau oleh para pengguna (user).

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-6


LAPORAN AKHIR

j. Orientasi Lokasi. Mengingat Kawasan Industri sebagai tempat industri


manufaktur (pengolahan) yang biasanya merupakan 7ndustry yang bersifat
footloose maka orientasi lokasi sangat dipengaruhi oleh aksesibilitas dan potensi
tenaga kerja.

k. Pola Tata Guna Lahan. Mengingat kegiatan industri disamping menghasilkan


produksi juga menghasilkan hasil sampingan berupa limbah padat, cair dan gas,
maka untuk mencegah timbulnya dampak negatif sebaiknya dilokasikan pada lokasi
yang non pertanian dan non permukiman, terutama bagi industri skala menengah
dan besar.

l. Mulitiplier Effects. Pembangunan Kawasan Industri jelas akan memberikan


pengaruh eksternal yang besar bagi lingkungan sekitarnya. Dengan istilah lain
dapat disebut sebagai multiplier effec.

Untuk mengetahui kriteria dan pertimbangan pemilihan lokasi dapat dilihat pada
Tabel 4.1, berikut ini.

Tabel 4.1. Kriteria Pertimbangan Pemilihan Lokasi Kawasan Industri

No Kriteria Pemilihan Lokasi Faktor Pertimbangan

1. Jarak ke Pusat Kota  minimal 10 Km


2. Jarak terhadap permukiman  Minimal 2 (dua) km
3. Jaringan jalan yang melayani  Arteri primer
4. Sistem Jaringan yang melayani  Jaringan listrik dan jaringan
telekomunikasi.
5. Prasarana angkutan  Tersedia pelabuhan laut sebagai outlet export
limport
6. Topografi/kemiringan tanah  Maksimal 15 %
7. Jarak terhadap sungai  Maks 5 (lima) km dan terlayani sungai
tipe C dan D atau kelas III dan IV
8. Daya dukung lahan  Sigma tanah a : 0,7 -1,0 kg/cm
9. Kesuburan lahan  Relatif tidak subur (non irigasi teknis)
10. Peruntukan lahan  Non Pertanian
 Non Permukiman
 Non Konservasi
11. Ketersediaan lahan  Minimal 50 Ha
12. Harga lahan  Relatif (bukan merupakan lahan dengan
harga yang tinggi di daerah tersebut)
13. Orientasi lokasi  Aksessibilitas tinggi
 Dekat dengan potensi Tenaga kerja
14. Multiplier efek  Bangkitan lalu lintas= 5,5 smp/ha/hari.
 Kebutuhan lahan industri dan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-7


LAPORAN AKHIR

No Kriteria Pemilihan Lokasi Faktor Pertimbangan

multipliernya = 2 x luas perencanaan KI.


• Kebutuhan rumah (1,5 TK N 1 KK)
 Kebutuhan Fasum -Fasos
Sumber: hasil analisis, 2012.

C. Proses Analisis.

Konsep dasar yang digunakan dalam analisis penentuan lokasi adalah tanah
sebagai ruang. Tanah sebagai ruang dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu tanah
sebagai ruang yang available dan not available. Atau dengan kata lain tanah sebagai
ruang yang tersedia/ bisa dimanfaatkan dan yang tidak tersedia/ tidak bisa
dimanfaatkan. Tanah sebagai ruang yang not available dapat disebabkan oleh 2 faktor,
yaitu karena faktor alami dan karena faktor peraturan. Pada analisis fisik ini, yang
menjadi fokus adalah tanah sebagai ruang yang tidak tersedia/ tidak bisa
dimanfaatkan karena faktor alami, tepatnya karena constrain fisik. Kendala fisik ini di
ukur dari variabel topografi dan kemiringan, hidrologi, jenis tanah, klimatologi,
bencana alam, dan penggunaan tanah. Tahapan analisis fisik tersebut adalah sebagai
berikut:

1) Peta Topografi di overlay kan dengan peta kemiringan. Kondisi topografi kawasan
Teknopolitan Pelalawan berada pada ketinggian 0– 80 m dpl dan kemiringannya
berada antara 0 – 10 %. Dengan tingkat topografi yang demikian sangat mudah
dalam pengaturan tata letak bangunan seperti pengaturan kegiatan industri,
perumahan maupun kegiatan lainnya, Selain itu kondisi ini akan mempengaruhi
terhadap siluet bangunan di kawasan tersebut serta akan memudahkan
pengaturan system drainase. (disebut peta overlay1 ), (lihat Gambar 4.1)

2) Peta overlay 1 dioverlaykan dengan peta jenis tanah. Jenis tanah di Kawasan
Teknopolitan Pelalawan. Secara umum, fisiografi di wilayah Kabupaten Pelalawan
dikelompokkan dalam 4 (empat) jenis endapan batuan, yaitu: endapan Aluvial
Tua, Aluvial Muda, Formasi Minas dan Formasi Petani. Endapan Aluvial Tua dan
Aluvial Muda menempati wilayah yang terluas sampai berbatasan dengan
endapan nitrogen (Formasi Minas dan Formasi Petani). Endapan aluvial ini
tersebar di bantaran sungai-sungai dan sekitamya, terutama di Sungai Kampar
(Kecamatan Kuala Kampar, Teluk Meranti, Pelalawan, Kerumutan, Pangkalan
Kuras, Pangkalan Lesung dan Ukui). (lihat Gambar 4.2)

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-8


LAPORAN AKHIR

Batuan sedimen ini berumur Pleistosen Atas dan Kuarter Holosen yang terjadi
secara terus menerus sampai sekarang. Secara litologi endapan Aluvial Tua ini
terdiri atas; lempung, kerikil, sisa-sisa tumbuhan dan rawa gambut yang
ketebalannya dapat mencapai lebih dari 8 meter, sedangkan endapan Aluvial
Muda terdiri atas kerikil, pasir dan lempung. Stratigrafi daerah Pelalawan
berdasarkan crossection, yang menunjukkan umur batuan dari tua ke muda
adalah batu pasir konglomeratan, batu lanau, batu lumpur, batu lumpur yang
mengandung karbonan dan sebagai penutup atas berupa aluvial kerikil pasir
lempungan. (Lihat Gambar 4.3)

Di wilayah Kabupaten Pelalawan terdapat 3 (tiga) jenis tanah, yaitu jenis tanah
organosol dan gley humus bahan induk aluvial, podsolik merah kuning dengan
bahan induk batuan endapan dan batuan beku serta jenis tanah podsolik merah
kuning kompleks dengan bahan induk bahan batuan endapan.

3) Dari peta 2 di overlaykan dengan peta hidrologi. Kondisi hidrologi di kawasan


perencanaan menyebutkan bahwa semua anak sungai dan rawanya akan
bermuara ke Sungai Kampar (arah utara Kawasan Perencanaan). Namun dari
segi kualitas air tanah di kawasan perencanaan tidak layak dikonsumsi. Hal ini
dipengaruhi oleh struktur geologi dan jenis tanah daerah perencanaan yang
merupakan lahan rawa basah. Keberadaan saluran-saluran drainase untuk
mengatasi air lahan rawa basah di kawasan perencanaan perlu dipertimbangkan
dalam rencana pengembangan kawasan Teknopolitan. (Lihat Gambar 4.4)

4) Dari peta 3 di overlaykan petakan dengan peta rawan bencana, kawasan


perencanaan merupakan dataran rendah berupa lahan rawa basah maka
bencana alam yang harus diantisipasi adalah genangan air. Oleh karena itu perlu
penanganan berupa regulasi (pengaturan perbaikan sistem drainase berupa
pengerukan dan sempadan drainase) dan pembangunan jaringan drainase.

Secara administratif lokasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan terletak di wilayah


Kecamatan Langgam meliputi 1 (satu) kelurahan Langgam dan 2 (dua) desa yaitu
Desa Penarikan, dan Desa Padang Luas. Kawasan perencanaan ini terletak di dekat
Koridor Jalan strategis Nasional Lintas Timur Sumatera, lokasinya sangat strategis.

Gambar 4.6. Potret Situasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan:

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-9


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.1. Peta Topografi Lokasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-10


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.2. Peta Sistem Lahan Lokasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-11


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.3. Peta Penggunaan Lahan Lokasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-12


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.4. Peta Geologi Lokasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-13


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.5. Peta Deliniasi Topografi Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-14


LAPORAN AKHIR

Sumber : Googgle Earth dan Survey Lapangan, 2011-2012.

Gambar 4.6 Potret Situasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

E. Analisis Tingkat Pemanfaatan Lahan

Analisis tingkat pemanfaatan lahan dimaksudkan untuk mendapatkan


gambaran sejauah mana tingkat eksploitasi sumber daya lahan yang telah dilakukan
saat ini. Hasil analisis diharapkan ini dapat menjadi masukan dalam mengukur neraca
sumber daya lahan di wilayah perencanaan Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Berdasarkan data citra satelit serta hasil survey lapangan, dapat


diidentifikasikan tingkat penggunaan lahan di lokasi rencana Pengembangan Kawasan
Teknopolitan Pelalawan dapat dilihat pada Gambar 4.3 mengenai peta penggunaan
lahan.

Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-15


LAPORAN AKHIR

 Dari hasil deliniasi Luas total kawasan perencanaan Kawasan Teknopolitan


Pelalawan adalah sekitar 3.650 Hektar.

 Secara administratif kawasan perencanaan Kawasan Teknopolitan Pelalawan


terletak di kelurahan Langgam, Desa Penarikan, dan Desa Padang Luas.

 Tingkat penggunaan lahan di sekitar kawasan perencanaan Teknopolitan


Pelalawan sebagian besar masih didominasi oleh semak/alang/rumput,
perkebunan sawit dan hutan akasia. dan sebagian lagi merupakan hutan, belukar,
hutan rawa dan lahan kosong/terbuka.

 Tingkat pemanfaatan lahan di dalam kawasan perencanaan teknopolitan sebagian


besar adalah hutan akasia kemudian sisanya berupa hutan lahan kosong dan
semak.

 Tingkat pemanfaatan lahan permukiman, terdapat disisi barat dan utara berjarak
sekitar 15 Km dari batas sisi barat dan utara kawasan teknopolitan dan
membentang di sepanjang Sungai Kampar.

4.2. INFRASTRUKTUR KAWASAN TEKNOPOLITAN KABUPATEN


PELALAWAN

Kawasan Teknopolitan Pelalawan atau Kota Teknologi Pelalawan merupakan


kawasan pengembangan baru yang nantinya direncanakan menjadi pusat
pertumbuhan ekonomi yang mengandalkan pada proses penciptaan nilai tambah dari
sumberdaya alam yang ada di Kabupaten Pelalawan dan sekitarnya. Kota yang
tercipta merupakan sinergi antara industri, pemerintahan, riset dan pendidikan
sebagai fungis utama kota yang didukung oleh berbagai fungsi lainnya seperti
pemukiman, komersial (perdagangan dan jasa), fasilitas sosial, dan fasilitas umum
lainnya.

Sebagaimana pengembangan kawasan pemukiman baru, maka pengembangan


infrastruktur merupakan hal penting untuk membentuk struktur kota agar kota dapat
tumbuh sebagaimana yang direncanakan, teratur, bersih rapi dan efisien dalam
mengatur pola pergerakan masyarakatnya maupun pola pergerakan barang (logistik).

Infrastruktur yang dibutuhkan untuk pengembangan Kawasan Teknopolitan


Pelalawan meliputi:

a. Akses dari dan ke kawasan Teknopolitan yang terintegrasi dengan Sistem


Transportasi Makro Kabupaten, Provinsi dan Nasional.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-16


LAPORAN AKHIR

b. Jaringan Transportasi dan logistik di dalam Kawasan Teknopolitan (jaringan


jalan, terminal penumpang, terminal barang/Dry Port, layanan CIQS satu
atap).

c. Jaringan Drainase.

d. Suplai air bersih.

e. Suplai energi (listrik).

f. Jaringan Telekomunikasi dan Informasi.

g. Pengolah Limbah.

h. Sistem Persampahan.

i. Pengembangan Pelabuhan Sokoi.

Pada bab-bab selanjutnya akan diuraikan kebutuhan untuk masing-masing


infrastruktur secara rinci.

4.2.1. Sistem Transportasi Makro Teknopolitan Pelalawan

A. Sistem Jaringan Prasarana Transportasi Darat.

1) Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Pengembangan jaringan lalu lintas dan angkutan jalan akan meliputi jaringan
jalan, jaringan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, dan jaringan pelayanan lalu-
lintas dan angkutan jalan.

Jaringan jalan (dan jembatan) merupakan jaringan prasarana yang paling


penting dan sangat terkait dengan penetapan pusat kegiatan sistem perkotaan dan
sistem perdesaan: PKN, PKW, PKL/PKLp, PPK, dan PPL. Rencana sistem jaringan jalan
dalam struktur ruang wilayah Kabupaten Pelalawan adalah sistem primer
(wilayah/antar-wilayah) dan sistem sekunder (dalam kawasan perkotaan). Sistem
primer terdiri atas Jalan Bebas Hambatan (Highway), Jalan Arteri Primer (JAP), Jalan
Kolektor Primer (JKP), dan Jalan Lokal Primer (JLP). Sementara sistem sekunder adalah
Jalan Arteri Sekunder dalam kawasan perkotaan Pangkalan Kerinci.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-17


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.7. Skema Keterkaitan Sistem Pusat dan Sistem Jaringan Jalan

Selanjutnya penjelasan atau uraian terhadap sistem jaringan jalan yang


ditetapkan di depan dapat dikemukakan sebagai berikut ini.

a. Jalan Bebas Hambatan (Highway)

Jalan bebas hambatan (highway) adalah rencana pengembangan jalan yang


ditetapkan pada Rencana Struktur Ruang Wilayah Nasional dalam RTRWN.
Jalan bebas hambatan dimaksud adalah Jalan Bebas Hambatan Antar Kota
yang dalam Lampiran III PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRWN
diidentifikasikan sebagai ruas:

- Jambi – Rengat; dan

- Rengat – Pekanbaru.

Ruas Rengat – Pekanbaru melintasi wilayah Kabupaten Pelalawan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-18


LAPORAN AKHIR

b. Jalan Arteri Primer (JAP)

Jalan Arteri Primer ditetapkan dalam RTRW Nasional dan ditetapkan lanjut
dalam RTRW Provinsi Riau. Sesuai dengan Keputusan Menteri PU Nomor
630/KPTS/M/2009, ruas-ruas Jalan Nasional dengan fungsi sebagai Jalan Arteri
Primer yang terletak dalam wilayah Kabupaten Pelalawan meliputi:

1) Nomor ruas 010: Batas Kabupaten Kampar – Sikijang Mati (12,970 km);

2) Nomor ruas 011: Sikijang Mati – Simpang Lago (30,350 km);

3) Nomor ruas 012: Simpang Lago – Sorek 1 (50,530 km);

4) Nomor ruas 013: Sorek 1 – Batas Kabupaten Indragiri Hulu (37,740 km).

Bila dihubungkan dengan identifikasi batas wilayah dan penetapan pusat


kegiatan (yaitu PKW Pangkalan Kerinci) yang terkena dengan ruas-ruas Jalan
Arteri Primer tersebut, maka secara teknis ruas-ruas tersebut diperinci sebagai
berikut:

a) Batas Kota Pekanbaru/Simpang Beringin – Sikijang Mati;

b) Sikijang Mati – Simpang Lago;

c) Simpang Lago – Pangkalan Kerinci;

d) Pangkalan Kerinci – Sorek 1;

e) Sorek 1 - Batas Kabupaten Indragiri Hulu.

Dalam RTRW Provinsi Riau, ruas-ruas Jalan Arteri Primer yang dimaksudkan di
atas merupakan bagian dari jalur utama Pekanbaru – Pangkalan Kerinci –
Rengat – Batas Jambi.

c. Jalan Kolektor Primer (JKP)

Jalan Kolektor Primer ditetapkan dalam RTRW Provinsi Riau. Jalan Kolektor
Primer yang ditetapkan di Kabupaten Pelalawan adalah Jalan Provinsi yang
dalam RTRW Provinsi Riau ditetapkan sebagai Jalan Kolektor Primer 2, yaitu
ruas jalan:

1) Simpang Lago – Simpang Buatan;

2) Simpang Beringin – Meredan – Simpang Buatan;

3) Simpang Langgam – Langgam – Simpang Koran;

4) Sorek – Teluk Meranti;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-19


LAPORAN AKHIR

5) Teluk Meranti – Guntung; dan

6) Langgam – Sorek.

Selanjutnya untuk masing-masing ruas tersebut dapat diberikan penjelasan


lanjut sebagai berikut ini.

a) Simpang Lago – Simpang Buatan.

Ruas jalan Simpang Lago – Simpang Buatan terletak di wilayah Kecamatan


Pelalawan, yaitu dari Simpang Lago – Batas Kabupaten Siak dan
selanjutnya ke Simpang Buatan di Kabupaten Siak.

b) Simpang Beringin – Meredan – Simpang Buatan.

Ruas jalan Simpang Beringin – Meredan – Simpang Buatan terletak di


wilayah Kecamatan Bandar Seikijang, yaitu dari Simpang Beringin – Batas
Kabupaten Siak dan selanjutnya ke Simpang Buatan di Kabupaten Siak.

c) Simpang Langgam – Langgam – Simpang Koran.

Ruas Simpang Langgam – Langgam – Simpang Koran melintasi wilayah


Kecamatan Bandar Seikijang dan Kecamatan Langgam, dan dapat dirinci
lebih lanjut atas bagian-bagian ruas:

- Simpang Langgam – Langgam, dalam identifikasi Jalan Kabupaten


diidentifikasikan sebagai Jalan Kabupaten dengan nomor ruas 001 dan
panjang 23,843 km;

- Langgam – Jalan RAPP, diidentifikasi sebagai Jalan Kabupaten dengan


nomor ruas 031 dan panjang 1,562 km;

- Jalan Logging PT. RAPP, yaitu ruas 039 (Ponton RAPP – Simpang
Tengkorak, panjang 7,360 km), ruas 040 (Simpang Tengkorak –
Simpang Empat Segati, panjang 11,567 km), dan ruas 041 (Simpang
Empat Segati – Batas Kampar, panjang 20,213 km). Dari batas Kampar
selanjutnya ke Simpang Koran.

d) Sorek – Teluk Meranti.

Ruas Sorek – Teluk Meranti melintasi wilayah Kecamatan Pangkalan Kuras,


Kecamatan Bunut, dan Kecamatan Teluk Meranti, dan dapat dirinci lebih
lanjut atas bagian-bagian ruas:

- Simpang Bunut – Bunut, yang diidentifikasikan sebagai Jalan Kabupaten


dengan nomor ruas 011 dan panjang 20,016 km;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-20


LAPORAN AKHIR

- Bunut – Merbau, yang diidentifikasikan dengan nomor ruas 012 dan


panjang 10,136 km;

- Merbau – Pangkalan Panduk/Tampui, yang diidentifikasi dengan nomor


ruas 013 dan panjang 8,988 km;

- Pangkalan Panduk/Tampui – Kuala Panduk/Petodaan, yang diidentifikasi


dengan nomor ruas 014 dan panjang 12,656 km;

- Kuala Panduk/Petodaan – Teluk Binjai, yang diidentifikasi dengan nomor


ruas 015 dan panjang 15,885 km;

- Teluk Binjai – Teluk Meranti, yang diidentifikasi dengan nomor ruas 016
dan panjang 6,021 km.

Ruas Sorek – Teluk Meranti ini mempunyai arti strategis sebagai akses ke
bagian timur wilayah Kabupaten Pelalawan, yang sekaligus menjadi akses
ke perairan Sungai Kampar dengan fenomena gelombang Bono. Oleh
karena itu ruas jalan ini merupakan akses dan sebagian di antaranya
merupakan jalan strategis yang dikenal dengan Jalan Lintas Bono.

e) Teluk Meranti – Guntung.

Ruas Teluk Meranti – Guntung melintasi wilayah Kecamatan Teluk Meranti


sampai ke perbatasan dengan Kabupaten Indragiri Hilir dan selanjutnya ke
Guntung, dan dapat dirinci lebih lanjut atas bagian-bagian ruas:

- Teluk Meranti – Pulau Muda, yang diidentifikasi sebagai Jalan Kabupaten


dengan nomor ruas 017 dan panjang 30,000 km;

- Pulau Muda – Gambut Mutiara, yang diidentifikasi dengan nomor ruas


018 dan panjang 15.904 km;

- Gambut Mutiara – Labuhan Bilik, yang diidententifikasi dengan nomor


ruas 019 dan panjang 24,366 km;

- Labuhan Bilik – Sokoi, yang diidentifikasi dengan nomor ruas 021 dan
panjang 15,350 km;

- Sokoi – Tenaga, yang diidentifikasi dengan nomor ruas 022 dan panjang
3,315 km;

- Tenaga – Batas Indragiri Hilir, dan seterusnya ke Guntung di Kabupaten


Indragiri Hilir.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-21


LAPORAN AKHIR

Ruas Teluk Meranti – Guntung ini merupakan sambungan atau lanjutan dari
ruas Sorek – Teluk Meranti di atas. Oleh karena itu sebagian dari ruas ini
merupakan bagian dari Jalan Lintas Bono.

f) Langgam – Sorek.

Ruas Langgam – Sorek melintasi wilayah Kecamatan Langgam dan


Kecamatan Pangkalan Kuras, dan dapat dirinci lebih lanjut atas bagian-
bagian ruas:

- Langgam – Simpang Gondai, yang diidentifikasi sebagai Jalan


Kabupaten dengan nomor ruas 002 dan panjang 17,344 km; yang
melalui Simpang Tengkorak, Tambak II, Penarikan Luar, dan Padang
Luas di Kecamatan Langgam;

- Simpang Gondai – Pangkalan Gondai, yang diidentifikasi dengan nomor


ruas 003 dan panjang 10,848 km;

- Pangkalan Gondai – Pangkalan Papan, yang diidentifikasi dengan nomor


ruas 004 dan panjang 8,595 km;

- Betung – Pangkalan Papan, yang diidentifikasi dengan nomor ruas 008


dan panjang 13,295 km;

- Sorek – Betung, yang diidentifikasi dengan nomor ruas 006 dan panjang
9,733 km.

Ruas Langgam – Sorek bersambung dengan bagian dari ruas Simpang


Langgam – Langgam – Simpang Koran (khususnya Simpang Langgam –
Langgam) akan menjadi jalan alternatif terhadap Jalan Lintas Timur
(Jalintim) Sumatera yang melintasi wilayah Kabupaten Pelalawan. Selan itu,
ruas Langgam – Sorek ini dapat juga menjadi akses ke kawasan Taman
Nasional Tesso Nilo, yang merupakan salah satu objek tujuan wisata di
Kabupaten Pelalawan.

d. Jalan Lokal Primer (JLP)

Jalan Lokal Primer (JLP) adalah jalan dengan status Jalan Kabupaten, yang
menghubungkan antara PKW/PKLp dan PPK, dan yang menghubungkan antara
PPK dan PPL, serta jalan strategis kabupaten lainnya. Jalan Lokal Primer (JLP)
di dalam wilayah Kabupaten Pelalawan dimaksud meliputi ruas-ruas jalan
sebagai contoh berikut:

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-22


LAPORAN AKHIR

1) Simpang Lago – Lalang Kabung, yang diidentifikasikan dengan nomor


ruas 128 dengan panjang 6,725 km;

2) Pangkalan Kerinci – Intake RAPP – Lalang Kabung, yang diidentifikasikan


dengan nomor ruas 124 yaitu Jalan Lingkar Kota Kerinci – Lalang Kabung
dengan panjang 9,320 km;

3) Lalang Kabung – Pelalawan, yang diidentifikasikan dengan nomor ruas


129 dengan panjang 19,200 km;

(Ketiga ruas tersebut di atas merupakan jaringan jalan yang


menghubungkan antara PKW Pangkalan Kerinci dan PPK Pelalawan).

e. Jalan Arteri Sekunder (JAS)

Jalan Arteri Sekunder (JAS) adalah jalan dalam kawasan perkotaan Pangkalan
Kerinci, yang dikenal dengan Jalan Lingkar Perkotaan Pangkalan Kerinci.
Jalan ini dapat diidentifikasikan merupakan Jalan Kabupaten dengan nomor
ruas 125: Jalan KM 55 (Lintas Timur) – Simpang Kualo dengan panjang 8,305
km. Jalan ini mempunyai arti sangat penting bagi pengembangan Kawasan
Perkotaan Pangkalan Kerinci, sehubungan dengan peran pentingnya untuk:

- mengarahkan bentuk (form) dan besaran/ukuran (size) kawasan perkotaan


Pangkalan Kerinci sehingga tidak hanya berbentuk linear atau memanjang
mengikuti Jalan Nasional/Jalan Arteri Primer;

- sebagai akses ke pengembangan baru kawasan perkotaan Pangkalan


Kerinci terutama berupa komplek perkantoran Pemerintah Kabupaten
Pelalawan;

- sebagai jalan alternatif terhadap Jalan Arteri Primer yang melintasi kawasan
perkotaan Pangkalan Kerinci.

f. Jalan Khusus.

Jalan khusus yang penting diidentifikasikan adalah jalan yang dipakai oleh
perusahaan pengolahan pulp untuk pengangkutan bahan baku berupa kayu
log. Oleh karena itu, jalan khusus ini dikenal juga dengan istilah setempat
sebagai Jalan Logging. Ada 2 ruas jalan khusus yang penting dalam
mendukung struktur ruang wilayah Kabupaten Pelalawan, yaitu:

1) Pangkalan Kerinci – Langgam – Batas Kampar (menuju Simpang Koran);

2) Pangkalan Kerinci – ke Kecamatan Pelalawan (Bandara Khusus SSHSN).

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-23


LAPORAN AKHIR

Kedua ruas jalan ini menghubungkan industri atau pabrik pengolahan pulp di
Pangkalan Kerinci dengan kawasan HTI sebagai sumber bahan baku berupa
kayu log. Jalan khusus tersebut juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
pergerakan ke Kecamatan Langgam dan ke Kecamatan Pelalawan.

Penetapan sistem jaringan jalan menurut 6 kelompok tersebut diringkaskan


dalam Tabel 4.2. Selanjutnya khusus untuk sistem jalan primer (arteri, kolektor,
dan lokal) digambarkan secara skematis keterkaitan antara sistem jaringan
jalan tersebut dengan penetapan sistem perkotaan/pusat pelayanan, seperti
pada Gambar 4.2.

Jalan Kabupaten lainnya yang tidak termasuk penetapan di atas, jalan


desa/lokal, jalan khusus lainnya, dikategorikan sebagai jalan lokal lainnya dan
tidak ditetapkan dalam RTRW Kabupaten.

B. Jaringan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Jaringan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan terdiri atas: terminal
penumpang, terminal barang, jembatan timbang, dan unit pengujian kendaraan
bermotor.

a. Terminal Penumpang.

Selaras dengan penetapan pusat kegiatan sistem perkotaan dan sistem


perdesaan, pengembangan terminal penumpang meliputi:

1) Terminal Penumpang Tipe B di PKW, yaitu di PKW Pangkalan Kerinci.

2) Terminal Penumpang Tipe C di PKLp, yaitu:

a) PKLp Sorek; dan

b) PKLp Ukui.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-24


LAPORAN AKHIR

Tabel 4.2. Sistem Jaringan Jalan Dalam Rencana Struktur Ruang Wilayah
Kabupaten Pelalawan
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN PELALAWAN
No. Fungsi Jalan Ruas Jalan Keterangan
I. Jalan Bebas Hambatan Pekanbaru - Rengat - Jambi Ditetapkan dalam RTRWN
(Highway) (melintasi/terletak di wilayah Kabupaten Pelalawan)
II. Jalan Arteri Primer (JAP)
(Status: Jalan Nasional, dikenal 1. Batas Kabupaten Kampar - Sikijang Mati Sesuai dengan penetapan dalam
juga sebagai: Jalan Lintas Timur 2. Sikijang Mati - Simpang Lago Kep.Men.PU No.630/KPTS/M/2009
Sumatera - Jalintim) 3. Simpang Lago - Sorek 1 dan ditetapkan dalam RTRWN dan
4. Sorek 1 - Batas Kabupaten Indragiri Hulu RTRW Provinsi Riau
III. Jalan Kolektor Primer (JKP)
Jalan Kolektor Primer 2(JKP2)
(Status: Jalan Provinsi, dan pening- 1. Simpang Lago - Batas Kabupatan Siak (ke Simpang Ditetapkan dalam RTRW Provinsi
katan Jalan Kabupaten menjadi Buatan) Riau
Jalan Provinsi) 2. Simpang Beringin - Batas Kabupaten Siak (ke Simpang
Buatan)
3. Simpang Langgam - Langgam - Batas Kab. Kampar
(ke Simpang Koran), dengan rincian:
- Simpang Langgam - Langgam
- Langgam - Jalan RAPP
- Jalan Logging RAPP:
- Ponton RAPP - Simpang Tengkorak
- Simpang Tengkorak - Simp. Empat Segati
- Simp. Empat Segati - Batas Kampar
(dari Batas Kampar ke Simpang Koran)
4. Sorek - Teluk Meranti, dengan rincian:
- Simpang Bunut - Bunut
- Bunut - Merbau
- Merbau - Pangkalan Panduk/Tampui
- Pangkalan Panduk/Tampui - Kuala Panduk/Petodaan
- Kuala Panduk/Petodaan - Teluk Binjai
- Teluk Binjai - Teluk Meranti
5. Teluk Meranti - Guntung, dengan rincian:
- Teluk Meranti - Pulau Muda
- Pulau Muda - Gambut Mutiara
- Gambut Mutiara - Labuhan Bilik
- Labuhan Bilik - Sokoi
- Sokoi - Tenaga - Batas Indragiri Hilir (ke Guntung)
6. Langgam - Sorek, dengan rincian:
- Langgam - Simpang Gondai
- Simpang Gondai - Pangkalan Gondai
- Pangkalan Gondai - Pangkalan Papan
- Betung - Pangkalan Papan
- Sorek - Betung

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-25


LAPORAN AKHIR

Lanjutan Tabel III.2.1 SISTEM JARINGAN JALAN


No. Fungsi Jalan Ruas Jalan Keterangan
IV. Jalan Lokal Primer (JLP)
(Status: Jalan Kabupaten) 1. Simpang Lago - Lalang Kabung Ditetapkan dalam RTRW Kabupa-
2. Pangkalan Kerinci - Intake RAPP - Lalang Kabung ten Pelalawan
3. Lalang Kabung - Pelalawan
4. Simp. Pompa Air - Rawang IV (Kel. Lubuk Keranji)
5. Ukui - Kapou (Kerumutan)
6. Pelalawan - Bakal Paebou
7. Bakal Paebou - Sei Buluh
8. Sei Buluh - Pangkalan Bunut
9. Kemang - Nilo Kecil
10. Nilo Kecil - Telayap
11. Telayap - Bakal Paebou
12. Rawang IV (Kel. Lubuk Keranji) - Lubuk Keranji Timur
13. Simp. Beringin - Simp. Tahu
14. Lubuk Keranji Timur - Logas
15. Ujung Banjar - Logas
16. Lubuk Keranji Timur - Simpang Kokat - Kokat
17. Balam Merah - Kokat - Lubuk Mandian Gajah
18. Lubuk Mandian Gajah - Merbau (Kec.Bdr. Petalangan)
19. Kapou - Merbau (Kec. Kerumutan)
20. Simpang Merbau - Merbau
21. Merbau - Pangkalan Panduk
22. Kapou - Batas Inhu (ke Pekan Heran/Pematang Reba)
23. Merbau - Mak Teduh/Lb. Salak - Pangkalan Panduk
24. Ukui - Simp. SP 2
25. Simp. SP 2 - Lubuk Kembang Bunga
26. Lubuk Kembang Bunga - Meranti Gombak
27. Meranti Gombak - Desa Medang
28. Pangkalan Gondai - Desa Medang
29. Betung - Desa Kesuma
30. Desa Kesuma - Meranti Gombak
31. Simpang Gondai - Penarikan Dalam
32. Simpang Palas - Trans Sialang/Sialang Indah
33. Trans Sialang/Sialang Indah - Penarikan Dalam
V. Jalan Arteri Sekunder (JAS)
(Status: Jalan Kabupaten) 1. Jalan Lingkar Perkotaan Pangkalan Kerinci Ditetapkan dalam RTRW Kabupa-
(KM 55 Lintas Timur - Simp. Kualo) ten Pelalawan
VI. Jalan Khusus
(Status: Jalan Khusus, dikelola 1. Jalan khusus: Pangkalan Kerinci - Langgam, yaitu: Jalan yang dikelola oleh perusaha-
perusahaan pengolahan pulp - Jalan Logging RAPP Kerinci - Desa Terusan Baru an pengolahan pulp (PT. RAPP)
untuk angkutan kayu log) - Desa Terusan Baru - Langgam/Ponton RAPP
2. Jalan khusus: Pangkalan Kerinci - Kec. Pelalawan,
yaitu: Pangkalan Kerinci - Bandara Khusus SSHSN
Sumber: Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Pelalawan.

3) Sub Terminal di PPK, yaitu:

a) PPK Sikijang;

b) PPK Pelalawan;

c) PPK Langgam;

d) PPK Pangkalan Bunut;

e) PPK Lubuk Keranji;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-26


LAPORAN AKHIR

f) PPK Pangkalan Lesung;

g) PPK Kerumutan;

h) PPK Teluk Meranti; dan

i) PPK Teluk Dalam.

4) Perhentian angkutan umum di PPL, yaitu:

a) PPL Pangkalan Gondai;

b) PPL Betung;

c) PPL Pulau Muda; dan

d) PPL Sokoi.

b. Terminal Barang.

Terminal angkutan barang merupakan prasarana pendukung bagi pergerakan


barang dengan jangkauan regional atau pengangkutan barang dari dan ke luar
Kabupaten Pelalawan. Untuk itu pengembangan terminal barang direncanakan
terletak di pusat utama wilayah yaitu di PKW Pangkalan Kerinci.

c. Jembatan Timbang.

Jembatan timbang merupakan prasarana untuk mengawasi dan mengendalikan


berat atau beban kendaraan dan muatannya agar tidak melampaui kapasitas
jalan. Jembatan timbang ini diletakkan pada jaringan jalan utama yang memiliki
volume lalu lintas relatif tinggi. Untuk itu pengembangan jembatan timbang
direkomendasikan di PKW Pangkalan Kerinci atau yang berdekatan, dan berada
di tepi Jalan Arteri Primer/Jalan Lintas Timur Sumatera.

d. Unit Pengujian Kendaraan Bermotor.

Unit Pengujian Kendaraan Bermotor (UPKB) sebagai unit pelaksana dari


Pemerintah Kabupaten Pelalawan selayaknya berada di ibukota kabupaten.
Dengan demikian maka pengembangan Unit Pengujian Kendaraan Bermotor
(UPKB) terletak di PKW Pangkalan Kerinci.

C. Jaringan Pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Jaringan pelayanan lalu lintas dan angkutan jalan mencakup jaringan trayek
perkotaan dan jaringan trayek perdesaan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-27


LAPORAN AKHIR

a) Jaringan Trayek Perkotaan.

Jaringan trayek perkotaan merupakan jaringan trayek angkutan penumpang


umum yang menghubungkan antar perkotaan di dalam dan ke luar wilayah
Kabupaten Pelalawan. Dengan demikian, maka jaringan trayek perkotaan akan
mencakup 2 kelompok, yaitu:

1) Jaringan trayek yang menghubungkan PKW Pangkalan Kerinci dengan PKN


Pekanbaru;

2) Jaringan trayek yang menghubungkan PKW Pangkalan Kerinci dengan


PKLp.

b) Jaringan Trayek Perdesaan.

Jaringan trayek perdesaan merupakan jaringan trayek angkutan penumpang


umum yang menghubungkan antar pusat kegiatan/pelayanan di dalam wilayah
Kabupaten Pelalawan. Dengan demikian, jaringan trayek perdesaan merupakan
jaringan trayek yang menghubungkan:

1) PKW dan/atau PKLp dengan PPK dan PPL;

2) PPK dengan PPL.

D. Jaringan Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan.

Pengembangan jaringan angkutan sungai, danau, dan penyeberangan di


Kabupaten Pelalawan adalah pengembangan jaringan angkutan sungai.
Pengembangan jaringan angkutan sungai tersebut meliputi: pelabuhan sungai,
pelabuhan sungai khusus, dan alur pelayaran lalu lintas dan angkutan sungai.

1) Pelabuhan Sungai.

Pelabuhan sungai yang akan mendukung struktur ruang wilayah dan sekaligus
mendukung pergerakan orang dan barang melalui angkutan sungai meliputi atau
terletak di:

a. Pelabuhan jembatan Pangkalan Kerinci (yang mendukung PKW Pangkalan


Kerinci) terletak di Desa Sering Kecamatan Pelalawan;

b. Pelalawan (mendukung PPK Pelalawan) di Kecamatan Pelalawan;

c. Kuala Tolam di Kecamatan Pelalawan;

d. Rangsang di Kecamatan Pelalawan;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-28


LAPORAN AKHIR

e. Sungai Ara di Kecamatan Pelalawan;

f. Pangkalan Terap di Kecamatan Teluk Meranti;

g. Kuala Panduk di Kecamatan Teluk Meranti;

h. Petodaan di Kecamatan Teluk Meranti;

i. Teluk Binjai di Kecamatan Teluk Meranti;

j. Teluk Meranti (mendukung PPK Teluk Meranti) di Kecamatan Teluk Meranti;

k. Pulau Muda (mendukung PPL Pulau Muda) di Kecamatan Teluk Meranti;

l. Teluk Sebekik di Kecamatan Teluk Meranti;

m. Segamai di Kecamatan Teluk Meranti;

n. Gambut Mutiara di Kecamatan Teluk Meranti; dan

o. Labuhan Bilik di Kecamatan Teluk Meranti.

2) Pelabuhan Sungai Khusus.

Pelabuhan sungai khusus merupakan pelabuhan yang dikelola perusahaan untuk


keperluan angkutan sendiri, yang terletak di:

a) Sering di Kecamatan Pelalawan; dan

b) Tanjung Pulai (Desa Pulau Muda) di Kecamatan Teluk Meranti.

3) Sistem Jaringan Perkeretaapian.

Rencana pengembangan jaringan jalur kereta api di wilayah Kabupaten Pelalawan


mengacu kepada RTRWN dan RTRW Provinsi Riau, yang menetapkan pada wilayah
Kabupaten Pelalawan ada jaringan jalur kereta api yaitu pengembangan jaringan
jalur kereta api di pesisir timur Sumatera, dengan arah relatif utara - selatan, yang
menghubungkan Pekanbaru ke Jambi dan melintasi wilayah Kabupaten Pelalawan
sebagaimana ditetapkan dalam RTRWN.

4) Sistem Jaringan Prasarana Transportasi Laut.

Transportasi laut di wilayah Kabupaten Pelalawan terdapat dominan di Kecamatan


Kuala Kampar yang merupakan bagian dari perairan Laut Cina Selatan yang
berbatsan dengan perairan Selat Malaka. Sistem jaringan prasarana transportasi
laut mencakup pelabuhan laut, pelabuhan laut khusus, dan alur pelayaran
transportasi laut.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-29


LAPORAN AKHIR

5) Pelabuhan Laut.

Pengembangan pelabuhan laut meliputi pelabuhan laut di:

a. Teluk Dalam di Pulau Mendol Kecamatan Kuala Kampar (mendukung PPK Teluk
Dalam);

b. Teluk di Pulau Mendol Kecamatan Kuala Kampar;

c. Teluk Beringin di Pulau Mendol Kecamatan Kuala Kampar;

d. Sei Upih di Pulau Mendol Kecamatan Kuala Kampar;

e. Sokoi di pesisir Sumatera dalam Kecamatan Kuala Kampar (mendukung PPL


Sokoi); dan

f. Serapung di Pulau Serapung Kecamatan Kuala Kampar.

6) Pelabuhan Laut Khusus.

Pelabuhan laut khusus adalah pelabuhan laut yang dikelola perusahaan untuk
keperluan angkutan sendiri, yang terletak di:

a. Tanjung Pandak di Kecamatan Teluk Meranti;

b. Teluk Bakau di Kecamatan Kuala Kampar; dan

c. Bandung Jaya di Kecamatan Kuala Kampar.

7) Alur Pelayaran Transportasi Laut.

Alur pelayaran untuk angkutan laut tersebut yang berada di Kabupaten Pelalawan
adalah bagian dari perairan Laut Cina Selatan yang berbatasan dengan perairan
Selat Malaka, sejak dari muara Sungai Kampar sampai ke perbatasan dengan
Provinsi Kepulauan Riau khususnya Kabupaten Karimun.

E. Sistem Jaringan Transportasi Udara.

Sistem jaringan transportasi udara ini mencakup: tatanan kebandarudaraan,


dan ruang udara untuk penerbangan.

1) Tatanan Kebandarudaraan.

Bandar Udara (Bandara) yang terdapat di Kabupaten Pelalawan adalah Bandara


Khusus, yaitu Bandar Udara Sultan Syarif Haroen Setia Negara (SSHSN) yang
dioperasikan oleh PT Riau Andalan Pulp & Paper (PT. RAPP).

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-30


LAPORAN AKHIR

Bandar udara Sultan Syarif Haroen Setia Negara dari sudut penggunaannya adalah
sebagai bandar udara domestik, dan dari sudut hierarkinya adalah sebagai bandar
udara pengumpan.

2) Ruang Udara Untuk Penerbangan.

Ruang udara untuk penerbangan yang berkenaan dengan Bandara Khusus SSHSN
berkenaan dengan keselamatan operasional penerbangan terutama untuk
mendarat (landing) dan tinggal landas (take off). Sehubungan dengan karakter
Bandara SSHSN sebagai Bandara Khusus, maka ruang udara untuk penerbangan
tersebut akan mengacu kepada ketentuan Aerodromes for Light Aircraft (ALA).

4.2.2. Aksesibilitas Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Kabupaten Pelalawan memiliki luas 1.382.210,08 ha, dengan luas daratan


1.315.579,44 ha dan luas laut 66.630,64 ha. Posisi Kabupaten Pelalawan sangat
strategis karena berbatasan langsung dengan Selat Malaka.

Kabupaten Pelalawan terdiri dari 12 kecamatan, 106 desa dan 12 kelurahan.


Kabupaten Pelalawan juga memiliki 10 pulau-pulau kecil. Karakteristik desa : 35 desa
tepi sungai, 9 desa di pesisir pantai, 62 desa di kawasan perkebunan PIR Trans dan
pedalaman, dan 12 desa/kelurahan di kawasan perkotaan.

Kawasan Teknopolitan Pelalawan terletak di Kecamatan Langgam (Desa Padang


Luas), dimana dalam RTRW Kabupaten diklasifikasi sebagai PPK (Pusat Kegiatan
Kecamatan) dan merupakan embrio untuk menjadi Kota Kecil. Kondisi geografis relatif
datar dan sebagian terletak di tepi sungai. Kecamatan yang terdiri dari 8 desa ini
berpenduduk sekitar 22.775 jiwa (tahun 2010).

Kecamatan ini relatif dekat dengan ibukota kabupaten Pangkalan Kerinci,


dimana jarak terdekat adalah 25 km (Desa Langgam) dan terjauh 55 km (Desa
Penarikan).

Kabupaten Pelalawan cukup strategis karena dilewati oleh jalan lintas Sumatera
yang menghubungkan Pekanbaru, Jambi, Sumatera Selatan, serta memiliki akses yang
cukup dekat ke Selat Malaka, Tanjung Balai Karimun, Batam, Singapura dan Malaysia.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-31


LAPORAN AKHIR

JALUR LAUT : TJ. BALAI


PEKANBARU, KARIMUN, BATAM DAN
SELAT MALAKA
DUMAI,

JAMBI,
SUMATERA SELATAN

Gambar 4.8. Posisi Strategis Kabupaten Pelalawan

Pelabuhan yang terdekat dengan Kabupaten Pelalawan adalah :

1. Pelabuhan Futong milik RAPP (Pelabuhan Khusus), berjarak 120 km

2. Pelabuhan Buatan, berjarak 60 km

3. Pelabuhan Pekanbaru (sungai), berjarak sekitar 70 km

4. Pelabuhan Dumai, berjarak sekitar 270 km

5. Pelabuhan Kuala Enok, berjarak 330 km

6. Rencana Pelabuhan Sokoi, berjarak sekitar 190 km

Akses jalan menuju Pelabuhan Kuala Enok hingga saat ini belum ada, sehingga
untuk membuka akses ke Selat Malaka direncanakan membuka Pelabuhan Sokoi,
bekas pelabuhan industri perkayuan yang sudah tidak digunakan. Badan jalan ke
Sokoi sudah ada, hanya perkerasannya belum baik, sehingga perlu ditingkatkan
supaya dapat dilalui oleh angkutan berat.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-32


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.9. Aksesibilitan Kawasan Teknopolitan Pelalawan

Selain jalan Lintas Sumatera dan jalan akses pelabuhan, untuk angkutan darat
juga direncanakan pembangunan jalan tol dan jalan kereta api.

Untuk angkutan udara, bandara terdekat terletak di Pangkalan Kerinci (milik RAPP)
dan Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.

4.2.3. Kebutuhan Pengembangan Jalan Akses Kawasan.

Sebagai Kawasan Teknopolitan Pelalawan yang memadukan fungsi industri,


pendidikan, riset, pemukiman dan jasa perdagangan serta sosial kemasyarakatan,
maka kawasan ini memang direncanakan menjadi pusat pertumbuhan baru (kota
baru) dengan skala layanan yang cukup besar.

Dengan rencana pengembangan kawasan yang memiliki aktivitas ekonomi yang


cukup besar, maka jalan akses kawasan menjadi sangat penting. Jalan akses kawasan
yang perlu dibangun atau ditingkatkan adalah:

1) Jalan akses ke Ibukota Kabupaten : Pangkalan Kerinci (Termasuk ke Bandara


RAPP);

2) Jalan akses ke Ibukota Provinsi : Pekanbaru (Termasuk ke Bandara SSK II);

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-33


LAPORAN AKHIR

3) Jalan akses ke Jalan Lintas Sumatera;

4) Jalan akses ke rencana Jalan Tol;

5) Jalan akses ke rencana REL KA Lintas Sumatera;

6) Jalan akses ke Rencana Bandara Baru;

7) Jalan akses ke Pelabuhan Futong;

8) Jalan akses ke Pelabuhan Buatan;

9) Jalan akses ke Teluk Meranti hingga Rencana Pelabuhan Sokoi; dan

10) Jalur akses KA ke Jalur KA Lintas Sumatera.

Pengembangan jalan dilaksanakan menggunakan trase jalan yang ada,


ditingkatkan kapasitasnya hingga dapat dilalui oleh angkutan berat.

4.2.4. Sistem Jaringan Drainase.

Fungsi drainase :

 Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan sehinggatidak menimbulkan


dampak negatif.

 Mengalirkan air permukaan kebadan air penerima terdekatsecepatnya.

 Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapatdimanfaatkan untuk


persediaan air dan kehidupan akuatik.

 Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian airtanah (konservasi air).

A. Daerah Tangkapan (Catchment Area).

Kawasan yang diperuntukkan sebagai Teknopolitan merupakan daerah rendah


dekat sungai, sehingga untuk menjaga supaya tetap kering pada musim hujan,
diperlukan sistem jaringan drainase yang cukup baik. Luas daerah tangkapan hujan
dihitung seluas 2.000 ha dimana akan dibangun saluran/tanggul keliling untuk
mengurangi beban saluran drainase didalam kawasan terhadap run off dari luar
kawasan.

B. Curah Hujan.

Curah hujan di kawasan ini rata-rata adalah sebesar 2.000 mm per tahun.
Curah hujan yang dipakai untuk menghitung saluran drainase adalah curah hujan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-34


LAPORAN AKHIR

dengan durasi jam-jaman, untuk dapat menyusun Curva Intensitas – Durasi yang
digunakan sebagai dasar perencanaan drainase.

C. Jaringan Drainase.

Jaringan drainase mengikuti pola jaringan jalan, dengan outletnya adalah


waduk tunggu. Jaringan drainase terdiri dari jaringan drainase utama dengan lebar
sekitar 5 – 10 meter, jaringan drainase sekunder antara 2 – 5 meter dan jaringan
drainase tersier dengan lebar antara 0,5 – 2 meter.

Kemiringan saluran mengikuti medan, dimana pada kondisi tertentu diwaduk


tunggu disediakan pompa untuk mempercepat pengeringan air dari kawasan-kawasan
utama.

Panjang saluran utama diperkirakan sepanjang 20 km, saluran sekunder


sepanjang 40 km dan saluran tersier sepanjang 100 km.

D. Waduk Tunggu.

Waduk tunggu dibutuhkan untuk menampung air dan menambah kemiringan


saluran drainase. Waduk tunggu ini dilengkapi dengan rumah pompa untuk
mempercepat pengeringan kawasan. Luas waduk tunggu ini diperkirakan seluas 10 –
20 ha dan berada disekitar lapangan golf atau taman kota.

E. Kriteria dan Konsep Drainase Kawasan.

Berdasarkan fungsi pelayanan, sistem drainase dibagi menjadi tiga bagian


pokok yaitu:

1) Sistem drainase lokal:

Yang termasuk dalam sitem drainase lokal adalah sistem saluranawal yang
melayani suatu kawasan kota tertentu sepertikompleks permukiman, areal pasar,
perkantoran, areal industridan komersial. Sistim ini melayani area kurang dari 10 ha.
Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawabmasyarakat, pengembang
atau instansi lainya.

2) Sistem drainase utama:

Yang termasuk dalam sistem drainase utama adalah salurandrainase primer,


sekunder, tersier beserta bangunankelengkapannya yang melayani kepentingan
sebagian besarwarga masyarakat. Pengelolaan sistem drainase utamamerupakan
tanggung jawab pemerintah kota.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-35


LAPORAN AKHIR

3) Pengendalian banjir (Flood Control):

Adalah sungai yang melintasi wilayah kota yang berfungsimengendalikan air


sungai, sehingga tidak mengganggumasyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi
kegiatankehidupan manusia. Pengelolaan pengendalian banjirmerupakan tanggung
jawab dinas pengairan.(sumber daya air).

Berdasarkan fisiknya, sistim drainase terdiri atas saluran primer, sekunder,


tersier.

1) Sistem saluran primer:

Adalah saluran utama yang menerima masukan aliran darisaluran sekunder.


Dimensi saluran ini relatif besar. Akhir saluranprimer adalah badan pemerima air.

2) Sistem saluran sekunder:

Adalah saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerimaaliran air dari
saluran tersier dan limpasan air dari permukaansekitarnya, dan meneruskan air ke
saluran primer. Dimensisaluran tergantung pada debit yang dialirkan.

3) Sistem saluran tersier:

Adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran drainase local.
Disamping fungsi, bentuk dan jenis material saluran seperti diuraikan diatas, saluran
drainase berhubungan erat dengan bangunan pelengkapnya diantaranya :

a) Gorong-gorong;

b) Bangunan pintu air;

c) Pompa dan rumah pompa;

d) Kolam tandon atau kolam penampungan sementara;

e) Bangunan terjunan;

f) Bangunan penyaringan sampah;

g) Bangunan lubang pemeriksaan atau manhole;

h) Resapan Air.

F. Orientasi Aliran Saluran Drainase.

Buangan dari masing-masing kavling akan disalurkan melalui saluran tersier,


kemudian dikumpulkan di saluran sekunder yang berfungsi sebagai kolektor.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-36


LAPORAN AKHIR

Umumnya saluran kolektor ini mengumpulkan air dari sub kawasan atau kumpulan
beberapa zona kawasan. Dari saluran sekunder (kolektor) ini kemudian dialirkan ke
saluran primer yang lingkup pelayanannya kawasan untuk kemudian disalurkan sistem
jaringan tata air makro (sistem pengendali banjir).

Orientasi pembuangan air dari Kawasan Teknopolitan ini dapat dilihat pada
gambar berikut.

Gambar 4.10. Orientasi Aliran Saluran Drainase.

4.2.5. Sistem Jaringan Air Bersih.

A. Kebutuhan Air Bersih.

Kebutuhan air bersih dihitung berdasarkan pada :

a. Kebutuhan air industri;

b. Kebutuhan air rumah tangga;

c. Kebutuhan air untuk komersial;

d. Kebutuhan untuk fasos dan fasum;

e. Kebutuhan karena loses.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-37


LAPORAN AKHIR

Tabel 4.3. Perhitungan Kebutuhan Air Bersih

No Uraian Kebutuhan Satuan

1. Kebutuhan air industri


Kebutuhan air industri per ha 0,75 l/detik/ha
Luas Kawasan Industri 600 Ha
Total Kebutuhan air industri l/detik 450 l/detik
2. Kebutuhan air rumah tangga
Kebutuhan air per org perhari 200 liter/org/hr
0,00231481 liter/org/detik
Jumlah penduduk kawasan 80.000 Orang
Total Kebutuhan Air rumah tangga 185 liter/detik

3. Kebutuhan air perdagangan jasa 64 liter/detik

4. Kebutuhan air fasos fasum 64 liter/detik

5. Losses 38 liter/detik
Total Kebutuhan Air 800 liter/detik

B. Sumber Air Baku.

Sumber air baku untuk kawasan dapat diambil dari sungai terdekat. Dari hasil
uji laboratorium terhadap kualitas air menunjukkan bahwa ada beberapa unsur yang
melewati batas yang diijinkan untuk air minum yaitu:

a. E.Coli : 93(0);

b. Warna : 129 (0);

c. Fe : 1,66 (0,3);

d. pH : 4,2 (6,5 – 8,5);

e. Zat Organik : 52,3 (10).

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-38


LAPORAN AKHIR

Karena kualitas air bakunya masih melewati ambang batas yang diperbolehkan
untuk air minum, maka perlu dilakukan pengolahan air sebelum didistribusi untuk
industri dan masyarakat.

Tabel 4.4. Hasil Pemeriksaan Kualitas Air

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-39


LAPORAN AKHIR

C. Unit Pengolah Air Bersih.

mengingat kualitas air baku yang kurang memenuhi syarat sebagai air minum,
oleh karena itu diperlukan unit pengolahan air baku dengan kapasitas 800 liter/detik.

D. Jaringan Pipa Penyadap dan Distribusi.

1) Jaringan Pipa Penyadap.

Jaringan pipa penyadap dibutuhkan untuk mengambil air dari sungai terdekat
dengan jarak sekitar 5 km dari unit pengolahan air.
2) Jaringan Pipa Distribusi.

Pipa distribusi dipasang sepanjang jalan kolektor, lokal menuju sub kawasan
sekitar 50 km.

E. Proses Pengolah Air Bersih.

Proses pengolahan air bersih secara umum dapat dilihat pada gambar berikut.
Proses diawali dengan sedimentasi lumpur dari sumber air baku yang ada kemudian
proses koagolasi yaitu penggumpalan beberapa zat terlarut menggunakan koagulan
yang diikuti dengan proses sedimentasi hasil penggumpalan (koagulasi). Setelah itu
dilakukan filtrasi sebelum disimpan pada reservoir dengan elevasi tertentu untuk
distribusinya.

Gambar 4.11. Proses Pengolahan Air Bersih

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-40


LAPORAN AKHIR

Untuk air baku dengan kualitas tertentu (warna tinggi, pH rendah, Fe dan zat
organik tinggi), perlu dilakukan beberapa proses pengolahan tambahan.

Namun demikian, proses pengolahan air bersih secara umum membutuhkan


fasilitas pemroses air bersih: intake, menara air, clarifier, pulsator, filter, dan reservoir.
Semua peralatan – peralatan tadi dapat dioperasikan melalui system computer yang
ada. Selain berbagai macam peralatan, juga diperlukan bahan kimia seperti kaporit dan
tawas dalam proses pengolahan air bersih. Air yang diproduksi dipantau kualitasnya
oleh laboratorium dengan hasil selalu memenuhi standar kesehatan air bersih.

1) Intake.

Intake merupakan bangunan yang berfungsi untuk menangkap air dari badan air
(sungai) sesuai dengan debit yang diperlukan bagi pengolahan air bersih.

2) Menara air baku.

Menara air baku berfungsi mengontrol dan mengatur laju alir dan tinggi permukaan
air baku agar tetap konstan, sehingga proses pengolahan berupa pembubuhan
bahan kimia, koagulasi, pengendapan, dan penyaringan dapat berjalan dengan
baik serta maksimal.

3) Clarifier.

Clarifier sebagai tempat terjadinya koagulasi. Di Clarifier air dibersihkan dari


kotoran-kotoran dengan cara mengendapkan kotoran-kotoran yang terdapat
didalam air tersebut pada lamlar yang berupa jaring-jaring besi pada bagian bawah
Clarifier. Kotoran-kotoran yang mengendap akan dibuang melalui pipa saluran
pembuangan.

4) Rapid mixing (bangunan pengaduk cepat).

Bangunan pengaduk cepat berfungsi sebagai tempat pencampuran koagulan


dengan air baku sehingga terjadi proses koagulasi.

5) Slow mixing (bangunan pengaduk lambat).

Proses pengadukan lambat (slow mixing) terjadi pada pulsator. Di sini flok – flok
yang lebih besar akan terbentuk dan stabil, sehingga akan lebih mudah untuk
diendapkan dan disaring. Cara kerja pulsator yaitu dengan sistem ruang hampa
bekerja dengan menaikkan dan menurunkan air, sehingga flok – flok yang ada
dapat bercampur. Lumpur dari endapan partikel flokulen dibuang setiap 15 (lima
belas) menit sekali. Setelah mengalami proses pada pulsator, diharapkan tingkat
kekeruhan air mencapai 1 FTU yang selanjutnya akan diproses di filter.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-41


LAPORAN AKHIR

6) Bangunan filtrasi.

Bangunan filtrasi yang berfungsi sebagai tempat proses penyaringan butir-butir


yang tidak ikut terendap pada bak sedimentasi dan juga berfungsi sebagai
penyaring mikroorganisme atau bakteri yang ikut larut dalam air. Bangunan filtrasi
biasanya menggunakan pasir silica yang berwarna hitam setebal 80 cm dan juga
kerikil. Pasir ini digunakan karena lebih berat dan lebih menempel flok-floknya.

7) Reservoir.

Bangunan reservoir merupakan bangunan tempat penampungan air bersih yang


telah diolah sebelum didistribusikan.

Gambar 4.12. Fasilitas Pengolahan Air Bersih

Secara umum proses pengolahannya, dibagi menjadi beberapa tahap yaitu:

a) Penyaringan dan Pengendapan.

Penyaringan dan pengendapan bertujuan untuk memisahkan air baku dari zat-zat,
seperti: sampah, daun, rumput, pasir dan lain-lain berdasarkan berat jenis zat.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-42


LAPORAN AKHIR

b) Koagulasi.

Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia Al2 (SO4) 3 (Tawas) kedalam
air agar kotoran dalam air yang berupa padatan resuspensi misalnya zat warna
organik, lumpur halus, bakteri dan lain-lain dapat menggumpal dan cepat
mengendap.

c) Flokulasi.

Flokulasi adalah proses pembentukan flok sebagai akibat gabungan dari koloid-
koloid dalam air baku (air sungai) dengan koagulan. Pembentukan flok akan
terjadi dengan baik jika di tambahkan koagulan kedalam air baku (air sungai)
kemudian dilakukan pengadukan lambat.

d) Sedimentasi.

Setelah proses koagulasi dan flokulasi, air tersebut di diamkan sampai gumpalan
kotoran yang terjadi mengendap semua. Setelah kotoran mengendap air akan
tampak lebih jernih.

e) Filtrasi.

Pada proses pengendapan tidak semua gumpalan kotoran dapat diendapkan


semua. Butiran gumpalan kotoran kotoran dengan ukuran yang besar dan berat
akan mengendap, sedangkan yang berukuran kecil dan ringan masih melayang-
layang dalam air. Untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus dilakukan
proses penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang telah
diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri dari saringan pasir silika.

f) Desinfeksi.

Pemberian desinfektan (gas khlor) pada air hasil penyaringan bertujuan agar
dapat mereduksi konsentrasi bakteri secara umum dan menghilangkan bakteri
pathogen (bakteri penyebeb penyakit).

4.2.6. Infrastruktur Energi.

A. Kebutuhan Listrik.

Kebutuhan listrik dihitung berdasarkan pada pembagian kawasan dan rencana


hunian kawasan dimasa yang akan datang.

Berdasarkan rencana jumlah penduduk kawasan, dapat dihitung 2 alternatif :

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-43


LAPORAN AKHIR

a. Alternatif 1: Berdasarkan kebutuhan tenaga kerja industri.

Dari alternatif ini, dengan luas lahan industri 600 ha, dibutuhkan tenaga kerja
60.000 orang (100 tenaga kerja per ha), sehingga diperkirakan terdapat 240.000
orang.

b. Alternatif 2 : Berdasarkan ketersediaan area pemukiman.

Dari alternatif ini, dengan luas lahan pemukiman 200 ha, maka akan terdapat
20.000 KK (1 kk 100 m2), sehingga jumlah penduduknya 80.000 orang.

Dari kedua alternatif diatas, maka dapat dihitung kebutuhan listrik kawasan
sebagai berikut :

Tabel 4.5. Perhitungan Kebutuhan Listrik Kawasan

No Penggunaan Jumlah Satuan

1. Listrik Industri
Listrik/ha 0,2 MW/ha
Kebutuhan Listrik 120 MW
2. Listrik komersial
Listrik/ha 0,08 MW/ha
Kebutuhan listrik 12 MW
3. Listrik fasos fasum
Listrik/ha 0,08 MW/ha
Kebutuhan listrik 4 MW
4. Listrik rumah tangga
Listrik/RT 900 W/RT
Kebutuhan listrik alt1 54 MW
Kebutuhan listrik alt2 18 MW
5. Lain-lain (10 %)
Alt 1. 19 MW
Alt 2. 15 MW
Total kebutuhan listrik alt 1 209 MW
Total kebutuhan listrik alt 2 169 MW

Dari hasil diatas, terlihat kebutuhan listrik kawasan antara 170 – 210 MW.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-44


LAPORAN AKHIR

B. Energi Primer.

Berdasarkan potensi energi primer di sekitar kawasan rencana, maka gas,


batubara dan biomass serta BBM merupakan sumber energi primer yang tersedia
untuk pembangkit listrik. Walaupun demikian sumber energi primer lain yang tersedia
adalah:

 Hidro.

 Solar/Matahari.

 Angin.

 Hybrid.

Potensi energi ini belum dikaji berapa besar yang layak untuk dikembangkan
menjadi energi listrik.

C. Jenis Pembangkit.

Melihat potensi gas yang cukup berlimpah, serta potensi batubara dan biomass,
maka yang memungkinkan dalam waktu dekat untuk dikembangkan adalah :

- PLTG/U (based).

- PLTU (based).

- PLTD (peaker).

D. Perkiraan Biaya.

Alternatif perkiraan biaya pembangunan pembangkit :

Tabel 4.6. Alternatif Perkiraan Biaya Pembangunan

No Jenis Kebutuhan Harga Sat/MW Kebutuhan Biaya


Pembangkit Daya (MW) (Juta Rp/MW) (Juta Rp.)
1 PLTG/U 100 8.000 (800 U$/kW) 800.000

2 PLTU 50 12.000 (1.200 600.000


U$/kW)

3 PLTD 50 12.000 (1.200 600.000


U$/kW)

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-45


LAPORAN AKHIR

4.2.7. Rencana Pengelolaan Sampah.

Untuk dapat menangani persampahan dengan baik, maka perlu diperoleh


gambaran tentang proyeksi volume sampah di masa mendatang, sehingga dengan
demikian dapat diperkirakan bentuk dan keperluan penanganannya. Tabel 4.7. berikut
di bawah ini memberikan gambaran tentang prediksi volume sampah kawasan
teknopolitan Kabupaten Pelalawan.

Tabel 4.7. Prediksi Volume Sampah Kawasan Teknopolitan Pelalawan

Prediksi
Laju generasi
Persentase Luas volume
Penggunaan Lahan ZONA sampah
luas area (Ha) sampah
(m3/ha/hari)
(m3/ha/hari)
Kawasan Reasearch & Dev 4 80 A 2,320 185,6
Kawasan Perguruan Tinggi 5 100 A 2,320 232,0
Kawasan Industri dan UKM 30 600 B 1,540 924,0
0,02
Kawasan Permukiman 7 140 C
m3/org/hari
Fasilitas Sosial dan Umum 4 80 C 1,540 123,2
Kawasan Perkantoran 2 40 D 0,635 25,4
Kawasan Jasa dan 0,665 26,6
Komersial 2 40 E
Kawasan Mixed Use 2 40 E 0,665 26,6
Kawasan Rekreasi 2 40 F 0,150 6,0
Kawasan RTH 30 600 F 0,042 25,2
Kawasan Golf and Sport 0,042 1,680
Club 2 40 F
Infrastruktur 10 200 G 0,100 20,000
Jumlah 100 2.000

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-46


LAPORAN AKHIR

Selanjutnya, untuk merancang pengelolaan sampah dari berbagai kawasan


tersebut, terlebih dahulu dipertimbangkan komposisi sampah dari berbagai kawasan
tersebut.

A. Komposisi Sampah Permukiman.

Biasanya timbulan sampah dari kawasan permukiman merupakan sampah-


sampah yang berasal dari halaman rumah, dapur dan hasil sampah dari aktifitas rumah
tangga lainnya seperti sisa pengolahan makanan, bekas pembungkus, sampah bekas
alat rumah tangga, sampah daun dan tanaman lainnya, kulit buah, dan kaleng bekas
kemasan bahan makanan.

Sebagai perbandingan, tabel berikut memperlihatkan komposisi sampah dari


kawasan permukiman di DKI Jakarta tahun 2005 yang berbeda-beda berdasarkan
strata ekonominya. Mengingat aktivitas permukiman tidak jauh berbeda antara di DKI
Jakarta dengan yang akan direncanakan di kawasan teknopolitan Kabupaten
Pelalawan, maka komposisi sampah tersebut bisa dijadikan sebagai bahan
pertimbangan.

Sebagian besar sampah permukiman ini berupa sampah organik. Banyaknya


sampah organik tergantung dari tingkat strata pendapatan masyarakat. Makin tinggi
pendapatan, makin besar komposisi sampah organiknya. Untuk kelompok masyarakat
berpendapatan tinggi, komposisi sampah organik tercatat sebesar 65,45 %, sedangkan
untuk kelompok masyarakat berpendapatan menengah dan rendah, masing-masing
sebesar 61,55 % dan 60,70 %. Komponen lain yang prosentasenya cukup besar
adalah kertas (11 - 15 %) dan plastik (12 - 14 %).

Tabel 4.8. Komposisi Timbulan Sampah di Permukiman Strata Pendapatan Tinggi

Strata Strata Strata


pendapatan pendapatan pendapatan
Komponen
tinggi menengah rendah
(%) (%) (%)
Organik (sisa makanan, daun). 65,45 61,55 60,70
Anorganik :
Kertas 13,33 11,04 15,00
Plastik 12,02 13,66 14,00
Kayu 0,02 0,12 0,09
Kain/ tekstil 0,33 0,24 1,56
Karet/ kulit tiruan 0,10 0,33

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-47


LAPORAN AKHIR

Strata Strata Strata


pendapatan pendapatan pendapatan
Komponen
tinggi menengah rendah
(%) (%) (%)
Logam/ metal 1,00 0,90 0,99
Gelas/ kaca 2,10 0,83 1,15
Sampah bongkahan 0,00 3,00 0,60
Sampah B3 1,28 1,14 1,24
Lain-lain (batu, pasir, dll) 4,52 7,41 4,38
Total 100 100 100
Sumber : Hasil Survai WJEMP DKI 3-11, Januari 2005

Untuk sampah dengan komposisi terbesar berupa sampah organik ini dapat
ditangani dengan mengangkatnya dari rumah-rumah penduduk dengan memakai
gerobak sampah biasa dan kemudian mengumpulkannya di beberapa TPS (tempat
penampungan sementara), untuk selanjutnya diolah lebih lanjut atau diangkut dengan
truk pengangkut sampah menuju TPA yang berada di luar area.

B. Komposisi Sampah Kawasan Jasa dan Komersial.

Seperti uraian pada butir di atas, digunakan hasil survey sampah di DKI Jakarta
sebagai perbandingan untuk komposisi sampah kawasan jasa dan komersial, dengan
pertimbangan bahwa aktivitas di kawasan jasa dan komersial tidak jauh berbeda.
Berbeda dengan sampah permukiman, komposisi sampah kawasan jasa dan komersial
mengandung bahan anorganik yang lebih besar (lihat tabel di bawah ini). Dari tabel
tersebut terlihat bahwa komposisi bahan organik hanya 45,48 %, sedangkan bahan
anorganik mencapai nilai 54,52 %. Sebagian bahan anorganik tersebut berupa kertas
(26,06 %) dan plastik (12,10 %).

Dibandingkan kawasan permukiman, sampah organik dari kawasan jasa dan


komersial lebih kecil. Sebaliknya, komposisi sampah kertas dan plastik di kawasan ini
lebih besar. Dengan demikian jumlah truk atau gerobak pengangkut sampah untuk
kawasan ini lebih kecil dibandingkan untuk kawasan permukiman. Adapun peluang
untuk mendaur ulang sampah kertas dan plastik lebih besar.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-48


LAPORAN AKHIR

Tabel 4.9. Komposisi Timbulan Sampah Kawasan Jasa dan Komersial

Komponen % Total

Organik (sisa makanan, daun, dan lain-lain). 45,48


Anorganik :
Kertas 26,06
Plastik 12,10
Kayu 4,03
Kain/ tekstil 1,49
Karet/ kulit tiruan
Logam/ metal 0,82
Gelas/ kaca 7,24
Sampah bongkahan
Sampah B3 0,15
Lain-lain (batu, pasir, dan lain-lain) 2,61
Total 100
Sumber : Hasil Survai WJEMP DKI 3-11, Januari 2005

C. Komposisi Sampah Kawasan Perkantoran

Tabel berikut di bawah ini menyajikan komposisi timbulan sampah perkantoran


berdasarkan hasil survai yang dilaksanakan di DKI Jakarta, yang bisa juga
dipertimbangkan untuk kawasan perkantoran di kawasan teknopolitan Kabupaten
Pelalawan . Dari tabel terlihat bahwa komposisi sampah perkantoran yang terbesar
adalah kertas (58,42 %), disusul dengan plastik (14,69 %). Sampah organik hanya
9,48 %, dan sisanya berupa karet/kulit tiruan, gelas/kaca, logam, sampah bongkahan,
sampah B3, dan lain-lain (batu, pasir, dll). Sampah B3 tercatat sebesar 2,02 %.

Tabel 4.10. Komposisi Timbulan Sampah Perkantoran

Komponen % Total

Organik (sisa makanan, daun, dll). 9,84


Anorganik :
Kertas 58,42
Plastik 14,69

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-49


LAPORAN AKHIR

Komponen % Total

Kayu
Kain/ tekstil
Karet/ kulit tiruan 0,28
Logam/ metal 2,02
Gelas/ kaca 5,68
Sampah bongkahan 0,63
Sampah B3 3,65
Lain-lain (batu, pasir, dll) 4,79
Total 100
Sumber : Hasil Survai WJEMP DKI 3-11, Januari 2005

Dari seluruh jenis penggunaan lahan, kawasan perkantoran adalah kawasan


yang paling banyak menghasilkan sampah kertas. Hal ini sesuai dengan jenis kegiatan
yang berlangsung di kawasan perkantoran. Peluang untuk mendaur ulang sampah
kertas yang paling besar terdapat di kawasan ini.

Hal penting yang perlu mendapat perhatian adalah adanya fakta bahwa
sampah B3 di kawasan perkantoran memiliki porsi yang cukup besar (3,65%).

D. Komposisi Sampah Fasilitas Sosial dan Umum.

Untuk memperkirakan komposisi sampah dari fasilitas sosial dan umum,


digunakan komposisi sampah sekolah di DKI Jakarta sebagai perbandingan, mengingat
sekolah merupakan salah satu fasilitas sosial yang cukup bisa mewakili.

Komposisi sampah dari fasilitas sosial dan umum mirip dengan komposisi
sampah perkantoran. Komponen terbesar terdiri dari kertas (34,93 %) dan plastik
(26,21 %). Bahan organiknya (sisa makanan, daun, dll) hanya (28,17 %) rinciannya
dapat dilihat pada tabel berikut di bawah ini.

Tabel 4.11. Komposisi Timbulan Sampah Sekolah

Komponen % Total

Organik (sisa makanan, daun, dll). 28,17


Anorganik :
Kertas 34,93
Plastik 26,21

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-50


LAPORAN AKHIR

Komponen % Total

Kayu 1,69
Kain/ tekstil
Karet/ kulit tiruan 0,28
Logam/ metal 1,05
Gelas/ kaca 2,82
Sampah bongkahan
Sampah B3 0,90
Lain-lain (batu, pasir, dll) 3,94
Total 100
Sumber : Hasil Survai WJEMP DKI 3-11, Januari 2005

E. Komposisi Sampah Kawasan Industri.

Sampah industri yaitu sampah yang dihasilkan dari kegiatan


industri/manufaktur. Sampah yang dihasilkan sangat tergantung dari banyaknya
pemakaian bahan baku serta jenis proses yang dilaksanakan oleh kegiatan
industri/manufaktur tersebut. Jenis industri yang akan dikembangkan di kawasan
teknopolitan Kabupaten Pelalawan sama sekali berbeda dengan jenis industri yang
berkembang di DKI Jakarta, sehingga untuk ini tidak bisa digunakan komposisi sampah
kawasan industri di DKI Jakarta sebagai perbandingan.

Mengingat komoditi yang cukup unggul di hinterland kawasan ini adalah kelapa
sawit, maka industri yang akan berkembang pesat di kawasan teknopolitan ini akan
didominasi oleh industri pengolahan kelapa sawit dan berbagai industri turunannya.

F. Karakteristik Sampah dan Implikasi Untuk Penanganannya.

Karakteristik sampah terdiri dari :

 Nilai kalor dalam kcal/kg sampah yang merupakan nilai panas dari sampah;

 Kadar air sampah dalam persen berat; dan

 Kadar abu dalam persen berat.

Sebagai perbandingan, hasil analisis laboratorium terhadap besarnya nilai kalor,


kadar air dan kadar abu sampel berbagai jenis sampah DKI Jakarta terisaji pada tabel
berikut ini.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-51


LAPORAN AKHIR

Tabel 4.12. Nilai Kalor dan Kadar Air Sampah dari Berbagai Sumber

Perhitungan Karakteristik
Nilai Kadar Kadar
Sumber Sampah
Kalor Air Abu
(Kkal/Kg) (%) (%)
Industri 3.553 23,73 11,93
Pasar modern (Kawasan Komersil) 2.102 36,59 17,13
Perkantoran 2.434 23,17 17,60
Pasar 1.778 56,58 10,26
Sekolah 3.248 31,31 13,92
Permukiman pendapatan tinggi 2.332 47,40 16,43
Permukiman pendapatan menengah 2.795 44,81 16,03
Permukiman pendapatan rendah 2.149 45,85 16,27
Rata-rata 25.31 36,22 14,51
Sumber : Hasil Analisa Laboratorium Balai Pelatihan Air Bersih dan Penyehatan
Lingkungan Pemukiman,Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia, Mei 2005.

Karakteristik sampah sangat penting artinya dalam penentuan teknologi


pengurangan dan pemusnahan sampah yang harus digunakan seperti misalnya
insinerator maupun proses komposting. Sampah yang terlalu basah dengan nilai kalor
yang rendah sangat mustahil untuk di reduksi melalui sistem pembakaran (insinerator)
sedangkan sampah yang terlalu kering memerlukan perlakuan khusus dalam proses
pengkomposan.

Tabel 4.13. Perkiraan Karakteristik Rata-Rata Sampah DKI Jakarta Sebagai Studi
Banding

Karakteristik Pasar Perkan- Permukiman Rata2


Industri Pasar Sekolah
sampah modern toran Tinggi Sedang Rendah komposisi
Nilai kalor 3.804 1.646 1.786 1.184 2.090 2.795 2.332 2.149 2.146
Kadar air 27,13 39,91 27,85 59,88 39,72 49,55 51,71 48,61 40,69
Kadar abu 5,03% 7,22% 5,53% 9,27% 6,38% 8,55% 8,49% 8,35% 8,44%
Kemungkinan
A B A C A B B B B
insinerasi
Keterangan : A = sangat baik; B = baik; C = kurang baik

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-52


LAPORAN AKHIR

Dari hasil penelitian komposisi sampah dan perkiraan karakteristik sampah


seperti tabel 4.13, nilai kalor sampah tersebut memenuhi persyaratan untuk
pengolahan dengan dibakar pada instalasi pembakaran sampah. Dari tabel tersebut
bahan yang paling baik untuk dibakar adalah sampah yang berasal dari wilayah
komersial seperti perkantoran, sekolah, pasar modern dan lain-lain serta sampah yang
berasal dari industri. Sampah dari pasar merupakan sampah yang kurang baik untuk
direduksi dengan teknologi pembakaran karena kadar air yang tinggi dan nilai kalor
yang relatif rendah dibanding sumber lainnya.

Penerapan instalasi pengolahan sampah dengan sistem pembakaran sampah


skala besar dengan pemanfaatan panas yang dihasilkan untuk pembangkitan energi
(Waste to Energy, WTE) memerlukan pertimbangan lebih lanjut yang lebih teliti dan
hati-hati. Proses pengolahan sampah yang bertujuan untuk reduksi jumlah sampah,
WTE merupakan salah satu sarana optimal yang dapat mereduksi jumlah sampah.
Berdasarkan komposisi dari bahan yang tidak dapat terbakar dalam komposisi timbulan
sampah seperti yang terdapat di Jakarta, maka laju pengurangan sampah dengan
menggunakan sistem ini dapat mencapai 80 % dalam waktu yang relatif singkat.

G. Pertimbangan Tentang Intermediate Treatment Facilities (ITF) Dalam


Penanganan Sampah.

Untuk menjaga kelestarian daya dukung lahan di TPA (yang berada di luar
kawasan teknopolitan), maka salah satu alternatif untuk mereduksi sampah yang
masuk ke TPA adalah dengan menanganinya terlebih dahulu di Intermediate
Treatment Facility (ITF). Intermediate Treatment Facility adalah suatu teknologi yang
merubah bentuk, komposisi dan/atau volume sampah padat dengan tujuan untuk
mereduksi jumlah sampah/residu yang harus dibuang ke TPA. Ada beberapa jenis
proses/teknologi sebagai pilihan yang dapat digunakan di ITF untuk menangani
sampah, yaitu sebagai berikut :

a. Landfill, yaitu penimbunan sampah dengan menimbun sampah di suatu tempat


di atas permukaan tanah, lalu menutupnya dengan tanah dengan ketebalan
tertentu.

b. Komposting, yaitu mengolah sampah (terutama untuk jenis sampah organik)


menjadi kompos, dimana kompos tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan
untuk sektor pertanian (sebagai pupuk).

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-53


LAPORAN AKHIR

Untuk menghasilkan kompos yang berkualitas baik, perlu dipilah antara sampah
organik dan non organik mulai dari sumbernya (rumah-rumah, kawasan
komersial, dst). Proses diseminasi mengenai pemilahan ini diharapkan bisa
diterapkan mengingat kawasan teknopolitan ini masih baru (dalam tahap awal).
Untuk mengurangi volume sampah yang akan dibuang dengan biaya minimum,
maka alternatif composting ini masih dapat diaplikasikan di kawasan
teknopolitan Kabupaten Pelalawan.

Untuk teknologi composting, dana yang dibutuhkan relatif tidak besar, akan
tetapi diperlukan lahan yang cukup luas, dan baru bisa memproses sampah
hingga menjadi kompos dalam kurun waktu sekitar 3 bulan.

c. Methanization.

Komposisi sampah organik yang cukup besar dari total sampah yang ada
(sekitar 50-60%) cukup sesuai untuk mengadopsi teknologi metanisasi
(methanization/ methane fermentation), walaupun sampah organik tersebut
harus dipilah lebih lanjut untuk menghasilkan senyawa organik yang mudah
terurai. Bila sampah organik dapat dipilah mulai dari sumbernya, teknologi ini
akan lebih bisa diaplikasikan. Sebaliknya, jika sampah bercampur, akan sulit
menghasilkan methan secara efisien.

d. Incineration/ insinerasi, yaitu melakukan proses pembakaran terhadap sampah,


sehingga mereduksi volume sampah tersebut.

Secara teknis, fasilitas WTE (waste to energy) dapat diaplikasikan sepanjang


sampah tersebut memiliki nilai panas yang cukup untuk proses pembakaran.
Dalam hal luas lahan yang diperlukan, teknologi insinerasi hanya memerlukan
lahan yang relatif tidak begitu luas (sekitar 3 ha saja) untuk bisa mengolah
sampah sebanyak kira-kira 1000-1500 ton/ hari.
Umumnya akan lebih feasible bila berlokasi di sekitar kawasan industry/
pergudangan, sehingga relatif tidak mendapatkan pertentangan dari penduduk
sekitarnya. Sebaiknya juga lokasi ITF dijauhkan dari kawasan permukiman
karena umumnya warga kawasan permukiman tidak akan berkenan bila ada
lokasi pengolahan sampah di sekitarnya, walau dengan menggunakan teknologi
ramah lingkungan sekalipun. Akan tetapi biaya untuk mesin/ peralatannya yang
cukup tinggi (berkisar antara Rp 600 juta hingga 1,3 milyar/ton sampah).
Sebagai gambaran, investasi untuk satu incinerator dengan kapasitas 1000
ton/hari sebesar Rp 600 milyar hingga Rp 1,3 trilyun. Sedangkan untuk

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-54


LAPORAN AKHIR

incinerator berkapasitas 1500 ton/hari dibutuhkan investasi Rp 900 juta hingga


Rp 1,95 trilyun.

Dari segi kualitasnya, baik teknologi composting, methanisation maupun


insinerasi, semuanya sudah termasuk dalam kategori ‘proven technology’. Dengan
demikian, teknologi mana yang akan digunakan di ITF bisa saja bervariasi, misalnya
untuk ITF dengan lahan yang relatif luas bisa menggunakan teknologi composting atau
methanisation, sedangkan untuk ITF dengan lahan yang terbatas bisa menggunakan
teknologi insinerasi.

H. Saran Pengelolaan Sampah.

Untuk bisa memberikan pelayanan pengelolaan sampah yang cukup memadai


dengan berbagai aktivitas perekonomiannya hingga tahun proyeksi, disarankan untuk
mengaplikasikan konsep pengelolaan sampah yang dirumuskan sebagai berikut :

 Pengelolaan sampah direncanakan untuk berubah dari terpusat menjadi sistem


multi-simpul.

 Setiap daerah pelayanan dilengkapi TPS, SPA, dan ITF.

 Para pengembang property, pusat perkantoran, pusat pertokoan, pusat


perdagangan, pusat perbelanjaan, pusat perindustrian, pusat hiburan, sarana
umum, hotel, rumah sakit, dan sebagainya diwajibkan menyediakan fasilitas
pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

Skenario pengembangan sarana dan prasarana pengelolaan sampah adalah


sebagai berikut:
 Mengupayakan pengurangan produksi sampah di sumbernya.

 Memperluas lingkup pelayanan dan meningkatkan kualitas pengelolaan.

 Menjaga dan mempertahankan standar waktu proses pengelolaan lebih cepat


dari waktu pembusukan sampah.

 Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha, dan memposisikan


pemerintah sebagai operator.

 Membuat regulasi dan perijinan yang memudahkan investor untuk


menanamkan modalnya dalam rangka membangun sarana dan prasarana di
bidang kebersihan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-55


LAPORAN AKHIR

 Setiap badan, instansi, lembaga baik pemerintah maupun swasta yang


menghasilkan sampah wajib membayar pajak/ retribusi kepada pemerintah.

 Setiap badan, instansi, lembaga baik pemerintah maupun swasta yang


mencemari lingkungan karena membuang atau tidak mengelola sampah sesuai
ketentuan yang berlaku dapat dikenakan sanksi.

Di samping perumusan sistem pelayanan di atas, keberhasilan penanganan


sampah juga akan sangat dipengaruhi oleh manajemen yang tepat. Untuk itu rencana
pengembangan dari aspek manajemen/ pengelolaan sampah adalah sebagai berikut :
a. Pengurangan volume sampah dari sumbernya.

Untuk ini, perlu upaya sosialisasi pada seluruh lapisan masyarakat, pelaku aktivitas
industri, perdagangan dan jasa, tentang pentingnya mereduksi sampah serta
berbagai contoh penerapannya sehari-hari, seperti mengurangi kemasan yang tidak
diperlukan, menggunakan bahan-bahan yang mudah diuraikan secara alami, dan
sebagainya
b. Pemilahan sampah dari sumbernya, menjadi 3 kelompok, yaitu sampah organik,
sampah non-organik, dan sampah beracun.

Untuk ini diperlukan sosialisasi mengenai karakteristik ketiga kelompok sampah


serta perlu juga disediakan pewadahan yang terpilah
c. Pewadahan.

Persyaratan tempat sampah yang ramah lingkungan adalah :


 Kuat dan relatif tahan lama;

 Wadah untuk sampah kering dan sampah basah terpisah dan diberi warna yang

berbeda;
 Wadah sampah basah harus kedap air dan tertutup;

 Ringan, mudah dikosongkan sehingga mempercepat proses pengumpulan;

 Higienis untuk penghasil sampah maupun petugas pengumpul;

 Mempertimbangkan dari segi estetika.

d. Untuk menjamin terkontrolnya kebersihan lingkungan, hal-hal yang perlu dilakukan


adalah :

 Masyarakat wajib memperhatikan dan peduli dengan kebersihan lingkungan;

 Lokasi penempatan wadah adalah di halaman muka rumah (tidak diluar pagar);

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-56


LAPORAN AKHIR

 Bila karena alasan tertentu menyebabkan harus diluar pagar, maka


penempatan pewadahan harus disamping gerbang (bukan mendekati batas
pagar dengan tetangga);

 Sampah tidak berserakan diluar tempat sampah;

 Pengambilan sampah oleh petugas pengumpul disesuaikan dengan jadwal


pengangkutan di TPS;

 Periodisasi pengambilan maksimal tiga (3) hari sekali.

e. Pengumpulan sampah dari sumber sampah menuju TPS, disertai proses pemilahan
sampah untuk proses daur ulang, dengan pelibatan para pemulung.

Mengenai TPS, persyaratan TPS yang ramah lingkungan adalah :


 Bentuk fisiknya tertutup dan terawat;

 TPS dapat berupa Pool Gerobak, Pool Kontainer;

 Sampah tidak berserakan dan bertumpuk diluar TPS/kontainer.

Untuk menjamin terkontrolnya kebersihan lingkungan di sekitar TPS, hal-hal yang


perlu dilakukan dan diperhatikan adalah :

 Peran serta masyarakat tinggi;

 TPS ditempatkan pada lokasi yang mudah bagi sarana pengumpul dan
pengangkut untuk masuk dan keluar, tidak mengganggu pemakai jalan atau
sarana umum lainnya;

 Pengangkutan sampah terjadwal, sehingga waktu kedatangan gerobak dengan


waktu kedatangan truk dapat disesuaikan;

 Periodisasi pengangkutan 1 hari, 2 hari atau maksimal 3 hari sekali;

 Semua sampah terangkut pada proses pengangkutan.

f. Selama pengumpulan sampah dari TPS ke SPA dan ITF, dilakukan proses
pengurangan volume sampah dan pengolahan sampah lebih lanjut menjadi/
menghasilkan produk lain, seperti kompos dan energi.

g. Peningkatan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pengelolaan sampah,


seperti gerobak sampah, truk sampah, peralatan pengolah sampah.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-57


LAPORAN AKHIR

4.2.8. Rencana Pengembangan Pelabuhan Laut Sokoi.

Kegiatan Survey hidro-oseanografi yang dilakukan pada bulan Oktober-


Nopember 2012 mencakup pengukuran parameter-parameter berikut ini :

 Pasang surut

 Arus

 Kedalaman perairan (Batimetri)

 Karakteristik sedimen (pengambilan sampel sedimen tersuspensi dan sedimen


dasar)

A. Pasang Surut

Hasil pengukuran manual pasang surut yang telah dilakukan di Dermaga Sokoi,
selama 15 hari disajikan pada Tabel 4.14 dan Gambar 4.9. Dari data tersebut dilakukan
perhitungan dengan Metode Least Sqare (kuadrat terkecil) untuk mendapatkan
Konstanta pasang surut di lokasi kajian.

Tabel 4.14. Konstanta pasang surut Muara Kampar (Sokoi)

Periode Amplitudo
No. Konstanta Phase (o)
(jam) (cm)

1 K1 23.9346 30.827 316.922


2 O1 25.8194 27.545 226.738
3 M2 12.4206 107.952 251.494
4 S2 12 43.693 302.103
5 N2 12.6582 23.394 2.547
6 M4 6.2103 12.311 109.821
7 MS4 6.1033 7.984 160.751
8 K2 11.9673 1.241 294.661
9 P1 24.0658 0.475 122.025

Tipe pasang surut ditentukan oleh frekuensi air pasang dengan air surut setiap
harinya. Hal ini disebabkan karena perbedaan respon setiap lokasi terhadap gaya
pembangkit pasang surut. Jika suatu perairan mengalami satu kali pasang dan satu
kali surut dalam satu hari, maka kawasan tersebut dikatakan bertipe pasang surut

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-58


LAPORAN AKHIR

harian tunggal (diurnal tides), namun jika terjadi dua kali pasang dan dua kali surut
dalam sehari, maka tipe pasang surutnya disebut tipe harian ganda (semidiurnal tides).
Tipe pasang surut lainnya merupakan peralihan antara tipe tunggal dan ganda disebut
dengan tipe campuran (mixed tides) dan tipe pasang surut ini digolongkan menjadi
dua bagian yaitu tipe campuran dominasi ganda dan tipe campuran dominasi tunggal.

B. Arus

Pengukuran arus dilakukan dengan menggunakan current meter tipe propeller


dan Accoustic Doppler Current Profiler (ADCP). Berdasarkan pengukuran arus (arah
dan kecepatan) pada 2 titik yang ditentukan, secara simultan pada saat spring tide dan
neap tide, diperoleh hasil sebagai berikut:

Gambar 4.13. Skema pembagian lapisan cell pada ADCP

Hasil pengukuran arus dengan currentmeter yang dilaksanakan di muara sungai


Kampar, pada tanggal 31 Oktober sampai dengan 01 Nopember 2012, dan pengukuran
ke dua pada tanggal 04 sampai dengan 05 Nopember 2012, yaitu pada saat pasang
purnama (spring tide) dan pasang mati (neap tide) disajikan padan Tabel 4.15 dan
4.16.

Pengukuran dengan ADCP membagi kedalaman menjadi 10 sel di mana pada


masing-masing sel akan didapatkan informasi kecepatan berupa besaran dan arahnya.
Di samping kecepatan per sel, didapatkan pula kecepatan rata-rata kedalaman. Hasil

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-59


LAPORAN AKHIR

pengukuran arus pada tiap kali pengukuran menggunakan ADCP, disajikan dalam
grafik berupa Mawar Arus (Gambar 4 dan 5).

Tabel 4.15. Hasil pengukuran arus di muara dengan currentmeter saat spring tide

Kecepatan Arus pada Kedalaman tertentu


Date Time 3m 9m 12 m
Speed M/Sec Dir deg Speed M/Sec Dir deg Speed M/Sec Dir deg
10/31/2012 13:39:14 0.530 40.7 0.369 79.4 0.476 80.2
10/31/2012 14:33:34 0.994 54.1 0.914 56.3 0.897 57.8
10/31/2012 15:32:50 1,797 58.4 1,743 60.5 1,705 61.0
10/31/2012 16:31:55 1,447 61.2 1,333 63.5 1,324 63.5
10/31/2012 17:31:30 0.747 357.7 0.747 359.5 0.754 1.7
10/31/2012 21:32:58 0.669 207.4 0.806 215.2 0.761 217.0
10/31/2012 22:30:40 0.892 224.8 0.886 220.7 0.858 222.3
10/31/2012 23:30:41 0.823 215.4 0.708 217.7 0.679 216.1
11/1/2012 1:28:41 0.693 82.1 0.374 51.5 0.522 42.6
11/1/2012 2:54:09 1,438 53.5 1,204 48.6 1,441 51.6
11/1/2012 3:57:56 1,528 39.3 1,217 35.3 1,319 35.4
11/1/2012 5:07:08 1,265 31.9 1,310 36.1 1,351 36.1
11/1/2012 6:05:06 0.647 19.9 0.547 21.7 0.536 15.7
11/1/2012 7:02:45 0.065 178.7 0.538 228.7 0.464 215.7
11/1/2012 8:03:04 0.420 219.5 0.773 220.7 0.851 219.5
11/1/2012 9:01:35 1,182 225.5 1,269 223.2 0.876 222.6
11/1/2012 10:02:01 1,132 221.6 0.944 219.1 1,070 217.4
11/1/2012 11:02:00 0.905 218.5 0.791 216.2 0.857 218.2
11/1/2012 12:03:49 0.704 205.3 0.463 222.4 0.387 226.5

Tabel 4.16. Hasil pengukuran arus di muara dengan currentmeter saat neap tide

Kecepatan Arus pada Kedalaman tertentu


Date Time 3m 9m 12 m
Speed M/Sec Dir deg Speed M/Sec Dir deg Speed M/Sec Dir deg
11/4/2012 10:00:27 1,417 212.0 0.857 217.2 0.971 216.7
11/4/2012 11:01:10 1,139 222.2 0.861 218.7 0.556 209.5
11/4/2012 12:33:40 1,099 191.8 1,119 207.8 0.724 207.0
11/4/2012 13:00:30 0.699 198.2 0.673 210.0 0.694 213.9
11/4/2012 13:58:25 0.029 146.2 0.126 55.2 0.195 25.7
11/4/2012 15:03:13 0.700 29.2 1,176 31.2 1,182 37.3
11/4/2012 15:55:01 1,113 37.6 1,124 33.5 1,099 30.4
11/4/2012 17:05:58 1,059 54.1 1,244 53.5 1,037 59.4
11/4/2012 17:59:13 0.200 55.8 0.755 51.0 0.868 38.4
11/4/2012 19:01:03 0.455 54.3 0.184 143.3 0.161 146.7
11/4/2012 19:59:52 0.090 76.6 0.347 190.4 0.203 174.6
11/4/2012 20:58:37 0.122 156.7 0.462 214.5 0.496 200.8
11/4/2012 22:01:35 0.870 175.4 0.660 178.3 0.622 176.4
11/4/2012 23:01:49 0.522 214.1 0.532 197.6 0.626 203.3

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-60


LAPORAN AKHIR

C. Batimetri

Pekerjaan survei batimetri adalah pekerjaan pengukuran kedalaman yang


antara lain bertujuan membuat “hydrographic chart” untuk keperluan pemodelan
matematik, atau dipakai sebagai data kedalaman dalam perhitungan refraksi dan
difraksi, ataupun untuk mengetahui pendangkalan ataupun erosi pada suatu tempat.
Data batimetri juga sangat bermanfaat untuk menentukan lokasi kolam labuh,
dermaga, dan alur pelayaran.

Peralatan survei yang digunakan untuk pengukuran batimetri adalah Ceeducer


tipe Single Beam Echosounder. Alat ini dilengkapi dengan fasilitas GPS (Global
Positioning System) yang memberikan posisi alat pada kerangka horisontal dengan
bantuan satelit.

Hasil pengukuran batimetri di wilayah studi meliputi area di sekitar muara


Sungai Kampar menunjukkan daerah sekitar dermaga Sokoi cukup dalam (-14 meter
LWL) sehingga kapal-kapal cukup besar dengan draft 12 meter dapat masuk dan
bersandar. Kondisi batimetri, yang dibatasi oleh:

 sebelah utara, pantai/tepi sungai Pulau Mendol

 sebelah barat, hulu Sungai Kampar

 sebelah timur, muara Sungi Kampar

 sebelah selatan, desa Sokoi di Pulau Sumatera.

D. Sedimen

Pengambilan sample sedimen dasar (bed load) dan sedimen yang tersuspensi
dengan air (suspended load) bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai laju
distribusi sedimen serta jenis karakteristik sedimen yang mengendap di dasar perairan,
maupun informasi angkutan sedimen melayang.

Sampel sedimen dasar pada perairan yang cukup dalam diambil dengan
menggunakan sediment graber (Gambar 4.14a), sedang pada perairan yang dangkal
dan mudah dijangkau tangan maka sedimen dasar dapat diambil langsung dengan
tangan, maupun dengan alat bantu seperti sekop, dan lainnya. Sedimen melayang
pengambilannya menggunakan botol Nansen (Gambar 4.14b). Pengambilan sedimen
melayang ini memerlukan ketelitian khusus, karena pengambilannya harus dilakukan
pada kedalaman yang tertentu.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-61


LAPORAN AKHIR

(a) (b)

Gambar 4.14. Sedimen grab (a), alat untuk mengambil sampel sedimen dasar; dan
botol Nansen (b), alat untuk mengambil sampel air

Pengambilan sample sedimen dasar dilakukan di 8 titik di sepanjang lokasi studi


muara Sungai Kampar dan 19 titik di sepanjang tepian sungai/garis pantai di sisi
daratan Pulau Sumatra maupun Pulau Mendol, seperti disajikan pada Tabel 4.17.

Pengambilan sampel air (sediment tersuspensi) yang dilakukan dengan Botol


Nansen dilakukan pada lokasi yang sama dengan titik pengukuran arus, yaitu di 2
(dua) lokasi; muara Sungai Kampar dan sebelah hulu dari Kampung Sokoi.

Dari hasil pengambilan sedimen lapangan tersebut selanjutnya pemeriksaan di


laboratonium. Sampel sedimen dasar dianalisa dengan “Grain Size Analysis” dan
sampel air (sedimen suspensi dianalisa “total suspended load” (TSS) untuk sampel air.

Karakteristik sedimen dasar di lokasi studi pada umumnya adalah didominasi


oleh sedimen jenis lanau (silt) dan lempung (clay).

Adapun hasil analisis sedimen layang (suspended load) terhadap sampel air
yang di ambil di lokasi rencana pelabuhan dan sekitarnya, menunjukkan bahwa
konsentrasi sedimen tersuspensi di kawasan ini termasuk kategori rendah hingga
sedang (0,10 - 0.37 mg/L). Tentu saja kandungan sedimen layang ini sangat
dipengaruhi oleh kondisi hinterland dan hulu sungai Kampar (musim,
aktifitas/kepadatan penduduk, dll). Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik,
sebaiknya perlu dilakukan uji sampel air pada musim lainnya.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-62


LAPORAN AKHIR

Tabel 4.17. Lokasi pengambilan sample sediment

No No. Sampel Koordinat Keterangan


1 1 48N 298382 56373 tengah sungai
2 2 48N 318160 57148 tengah sungai
3 3 48N 304144 57454 tengah sungai
4 4 48N 303782 57641 tengah sungai
5 5 48N 307322 57810 tengah sungai
6 6 48N 312043 60929 tengah sungai
7 7 48N 311258 59960 tengah sungai
8 8 48N 310145 58889 tengah sungai
9 43 48N 299002 52276 garis pantai/tepi sungai
10 44 48N 300722 53334 garis pantai/tepi sungai
11 45 48N 302691 54218 garis pantai/tepi sungai
12 46 48N 304266 55223 garis pantai/tepi sungai
13 47 48N 306226 55740 garis pantai/tepi sungai
14 48 48N 308057 55773 garis pantai/tepi sungai
15 49 48N 309853 56258 garis pantai/tepi sungai
16 50 48N 311202 57172 garis pantai/tepi sungai
17 51 48N 311946 57963 garis pantai/tepi sungai
18 52 48N 312874 59074 garis pantai/tepi sungai
19 53 48N 313617 60233 garis pantai/tepi sungai
20 54 48N 310790 61784 garis pantai/tepi sungai
21 55 48N 310641 60647 garis pantai/tepi sungai
22 56 48N 309742 59130 garis pantai/tepi sungai
23 41 48N 307355 58307 garis pantai/tepi sungai
24 58 48N 305410 58155 garis pantai/tepi sungai
25 59 48N 302706 57878 garis pantai/tepi sungai
26 60 48N 299078 57059 garis pantai/tepi sungai
27 61 48N 296626 55190 garis pantai/tepi sungai

Berdasarkan data-data hasil survei dan data sekunder lainnya, lokasi Sokoi
cukup layak untuk dikembangkan sebagai lokasi rencana pelabuhan untuk mendukung
Kawasan Teknopolitan di Kabupaten Pelalawan. Untuk itu perlu didukung oleh
pembangunan infrastruktur pendukung lainnya, seperti jalan akses, sarana air bersih
dan sebagainya.

Peruntukkan pelabuhan nantinya, apakah akan digunakan sebagai terminal peti


kemas, terminal curah cair/padat tentunya akan sangat mempengaruhi lay-out/tata
letak dermaga dan fasilitas pendukungnya. Untuk itu perlu dilakukan studi lebih lanjut
berupa pembuatan Master plan Pelabuhan dan DED Pelabuhan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-63


LAPORAN AKHIR

Mengingat kondisi arus yang cukup kuat di muara Kampar, pemanfaatan arus pasut
sebagai pembangkit energi alternatif dapat dipertimbangkan sebagai sumber energi
listrik bagi pelabuhan maupun penduduk setempat

4.3. ANALISIS EKONOMI DAN INVESTASI KAWASAN TEKNOPOLITAN


KABUPATEN PELALAWAN

4.3.1 Analisis Perekonomian Daerah.

A. Perekonomian Provinsi Riau.

1) Pertumbuhan Ekonomi.

Perekonomian Riau sepanjang tahun 2011 telah mencatat kinerja positif


dengan sumber pertumbuhan yang berimbang, terlebih di tengah meningkatnya risiko
pelemahan ekonomi global. Mengawali tahun 2012, kondisi perekonomian Riau
menunjukkan hal yang menggembirakan dimana tumbuh diatas perkiraan semula serta
mengalami percepatan jika dibandingkan dengan dua triwulan terakhir pada tahun
2011. Membaiknya kinerja sektor migas, terjaganya daya beli konsumen serta
pesatnya pembangunan berbagai infrastruktur diperkirakan menjadi beberapa faktor
penggerak utama perekonomian Riau dalam triwulan I-2012.

Dengan memasukkan unsur migas, secara tahunan (year-on-year/yoy),


pertumbuhan ekonomi Riau tercatat meningkat dari 4,63% (yoy) pada akhir tahun
2011 menjadi 5,02% (yoy) meskipun relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan
pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara, dengan mengeluarkan unsur migas,
pertumbuhan ekonomi Riau tumbuh relatif stabil sebesar 7,36% (yoy) dan berada
diatas pertumbuhan ekonomi non migas nasional yang mencapai sebesar 6,70% (yoy).

Di sisi harga, dinamika perkembangan harga di Provinsi Riau pada triwulan I-


2012 secara umum masih terus menunjukkan trend yang menurun. Kondisi ini tercatat
cukup menggembirakan ditengah-tengah isu rencana kenaikan BBM yang kemudian
tidak terealisir dalam triwulan laporan. Tekanan inflasi Riau pada triwulan I-2012
tercatat sebesar 3,94% (yoy), menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya
yang mencapai 4,72% (yoy), bahkan mengalami penurunan yang berarti dibandingkan
dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 7,90% (yoy). Meskipun
mencatat angka yang rendah, inflasi Riau sedikit lebih tinggi bila dibandingkan dengan
inflasi Sumatera yang tercatat sebesar 3,75% (yoy)

Pada triwulan mendatang, pertumbuhan ekonomi Riau diperkirakan tumbuh


relatif stabil. Secara tahunan, dengan memasukkan unsur migas, pertumbuhan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-64


LAPORAN AKHIR

ekonomi Riau pada triwulan I-2012 diperkirakan tumbuh relatif stabil pada kisaran
5,00%-5,40% (yoy). Beberapa hal yang berpotensi membawa pertumbuhan ekonomi
Riau mencapai batas bawah (downside risks) antara lain diantaranya adalah
meningkatnya bea keluar ekspor CPO dan kemungkinan peningkatan inflasi, tingkat
inflasi pada triwulan mendatang diproyeksikan berada pada kisaran 4,80% - 5,20%
(yoy). Kondisi ini utamanya disebabkan oleh kemungkinan adanya penyesuaian biaya
transportasi di Riau serta meningkatnya ekspektasi inflasi terkait rencana kenaikan
BBM bersubsidi terutama di tingkat pelaku usaha.

Bila dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia, Provinsi Riau termasuk


pada kategori daerah yang memiliki pertumbuhan ekonomi di atas 6% atau lebih tinggi
dibandingkan dengan angka pertumbuhan ekonomi nasional (Gambar 4.15).

Gambar 4.15. Sebaran Provinsi berdasarkan Tingkat Pertumbuhan Ekonominya di


IndonesiaTahun 2011

2) Peranan Teknologi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Total Factor


Productivity) Provinsi Riau.

Kabupaten Pelalawan belum memiliki data serial mengenai kapital dan upah
(tenaga kerja) yang diperlukan untuk perhitungan nilai Total Factor Productivity
Growth (TFPG). Ketidaktersediaan data tersebut menyebabkan Nilai TFPG Kabupaten
Pelalawan tidak bisa dihitung. Untuk itu Nilai TFPG Pelalawan diprediksi dari nilai TFPG

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-65


LAPORAN AKHIR

Provinsi Riau, dengan asumsi bahwa Perkembangan dan Struktur perekonomian


Kabupaten Pelalawan memiliki kemiripan.

Perkembangan Total Factor Productivity Growth (TFPG) Provinsi Riau


selama periode tahun 1984 -2008 menunjukan bahwa peranan teknologi terhadap
pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau masih fluktuatif dan cenderung sangat rendah.
Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau masih didominasi oleh laju pertumbuhan
kapital dan laju pertumbuhan tenaga kerja. Tercatat nilai TFFG selama kurun waktu
1984-2008 mencapai nilai tertinggi pada tahun 1986 sebesar 3,73 dan terendah pada
tahun 1984 sebesar -15,08. Umumnya nilai TFPG Provinsi Riau bernilai negatif
sehingga kondisi seperti ini menggambarkan peranan teknologi yang masih rendah dan
perlu terus dipacu agar di masa mendatang teknologi bisa menjadi backbone (tulang
punggung) perekonomian Provinsi Riau.

Secara ringkas, nilai TFPG yang tinggi menunjukkan besarnya produktivitas


daerah dan secara langsung juga menunjukan besarnya nilai tambah proses
produksi/industri di wilayah tersebut. Perkembangan nilai TFPG Provinsi Riau tahun
1984-2008 secara lengkap dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4.16. Perkembangan TFP Growth Provinsi Riau 1984-2008

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-66


LAPORAN AKHIR

B. Perekonomian Kabupaten Pelalawan.

1) Pertumbuhan Ekonomi.

Seolah tidak ingin tertinggal dari pertumbuhan ekonomi provinsinya, Kabupaten


Pelalawan mampu meraih pertumbuhan yang cukup tinggi pada tahun 2010 sebesar
7,17%. Pertumbuhan sebesar tersebut ditopang oleh 3 (tiga) sektor industri utama
yakni industri pengolahan, industri migas dan penggalian serta industri pertanian.

Kontribusi sektor non migas terhadap PDRB Kabupaten Pelalawan selama tahun
2007 hingga 2010 sangat besar yakni mencapai rata-rata 97,04%, sementara migas
hanya mencapai rata-rata 2,96%. Struktur PDRB Kabupaten Pelalawan tahun 2007-
2010 dengan migas dan tanpa migas dapat dilihat pada Gambar 4.16 dan 4.17, berikut
ini.

PDRB KAB PELALAWAN 2007-2010


DENGAN MIGAS TANPA MIGAS
16.795.126,34
14.819.396,15 16.343.929,27
12.626.377,39
14.339.819,01
12.237.687,49
10.218.682,35
9.928.661,44

2007 2008 2009 2010

Gambar 4.17. Struktur PDRB Kabupaten Pelalawan Tahun 2007-2010 dengan Migas
dan Tanpa Migas

Struktur PDRB Kabupaten Pelalawan yang ditopang oleh sektor non migas ini
dapat dijadikan sebagai faktor kekuatan untuk mengembangkan industri hilir kelapa
sawit. Upaya memperkuat basis industri pengolahan atau manufaktur menjadi lebih
mudah bagi daerah yang pada awalnya telah memang telah memiliki kompetensi di

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-67


LAPORAN AKHIR

bidang industri manufaktur atau pengolahan dibandingkan dengan daerah yang basis
pertumbuhan ekonominya didasarkan pada industri hulu maupun industri jasa.

Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pelalawan selama kurun waktu 4


(empat) tahun mencapai rata-rata 7,13% tanpa migas dan 6,81% dengan migas. Laju
pertumbuhan tertinggi dicapai pada tahun 2009 sebesar 7,19% (tanpa migas) dan
7,07% (dengan migas) pada tahun 2008. Sementara itu laju pertumbuhan terendah
dicapai pada tahun 2009 sebesar 7,02% (tanpa migas) dan 6,61% dengan migas
tahun 2009. Perkembangan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pelalawan tahun
2007-2010 dapat dilihat pada gambar berikut ini.

7,19 7,15 7,17

7,07 7,02 6,88


6,69

6,61

2007 2008 2009 2010

dengan migas tanpa migas

Gambar 4.18. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pelalawan Tahun 2007-2010

Bila dikaji lebih dalam mengenai sektor utama penyumbang terbesar PDRB
Kabupaten Pelalawan maka industri pengolahan, industri pertambangan dan
penggalian serta industri pertanian merupakan kontributor utama terhadap PDRB
Kabupaten Pelalawan selama tahun 2007-2010. Rata-rata kontribusi sektor pertanian
terhadap PDRB Kabupaten Pelalawan pada kurun waktu tersebut mencapai Rp.
4.929.912.910.000,-, dimana kontribusi sektor pertanian tertinggi dicapai pada tahun
2010 sebesar Rp. 5.972.068.940.000,- sementara terendah dicapai pada tahun 2007
yakni mencapai Rp. 3.907.277.950.000,-. Untuk sektor Pertambangan dan Penggalian,
kontribusi rata-rata sektor terhadap PDRB selama kurun waktu tersebut mencapai Rp.
410.398.490.000 dimana kontribusi tertinggi dicapai pada tahun 2009 sebesar Rp.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-68


LAPORAN AKHIR

488.101.520.000,- sedangkan terendah dicapai pada tahun 2007 sebesar Rp.


296.431.050.000,-. Industri Pengolahan sebagai kontributor terbesar terhadap PDRB
Kabupeten Pelalawan mencapai rata-rata Rp. 7.379.545.240.000,- dimana kontribusi
tertinggi dicapai pada tahun 2010 sebesar Rp. 9.222.501.900.000,- dan terendah
mencapai Rp. 5.350.410.870.000,. Kontribusi ketiga sektor utama terhadap PDRB
Kabupaten Pelalawan dapat dilihat pada gambar 4.19 di bawah ini.

18,00
16,00 9,22
14,00
12,00
10,00 5,35
Millions

8,14 5,97
8,00
6,00
0,46
4,00 3,91
0,30
2,00 0,49
0,00 0 0
2007 2008 2009 2010

Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan

Gambar 4.19. Kontribusi 3 Sektor Utama terhadap PDRB Kabupaten Pelalawan Tahun
2007-2010

2) Postur Keuangan Daerah (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah


serta Pendapatan Asli Daerah)

Postur keuangan daerah kabupaten Pelalawan tahun 2010 tercermin dalam


neraca Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang besarnya mencapai Rp.
847.618.876.825,18. Pendapatan daerah tersebut berasal dari Pendapatan Asli Daerah
(PAD) sebesar Rp. 38.382.025.593,18 (4,53%), Dana Perimbangan Rp.
767.766.271.586,00 (90,58) dan Lain-lain pendapatan yang sah Rp. 41.470.579.646,00
(4,89%).

Sementara itu total belanja daerah Kabupaten Pelalawan 2010 mencapai Rp


755.773.476.585,58yang terdiri atas Belanja Langsung Rp 359.747.487.539,25

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-69


LAPORAN AKHIR

(47,60%) dan Belanja Tidak Langsung Rp. 396.025.989.046,33 (42,40%). Selisih


antara pendapatan dengan belanja (saldo) mencapai Rp. 91.845.400.239,60 atau
surplus sebesar 10,83%. Walaupun jumlahnya terbatas, surplus APBD sebesar 10%
dapat dijadikan dana awal bagi pengembangan kawasan Teknopolitan. Besaran APBD
Kabupaten Pelalawan Tahun 2010 secara lengkap dapat dilhat pada tabel 4.18,
berikut ini.

Tabel 4.18. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Pelalawan Tahun
2010

Jenis Penerimaan/ Realisasi/


Kind of Revenue Actual

A. PENDAPATAN DAERAH/
847.618.876.825,18
Regional Government Revenue
01. Pendapatan Asli Daerah/Regional Original
38.382.025.593,18
Income
02. Dana Perimbangan/Balanced Fund 767.766.271.586,00
03. Lain-lain Pendapatan yang Sah/Other Revenue 41.470.579.646,00

B. BELANJA DAERAH/Regional Expendictures 755.773.476.585,58


01. Belanja Langsung/Direct Expendictures 359.747.487.539,25
02. Belanja Tidak Langsung/Undirect Expendictures 396.025.989.046,33

Surplus / (Defisit) 91.845.400.239,60

3) Perkembangan Investasi

Jumlah investasi yang telah ditanamkan oleh para investor di Kabupaten


Pelalawan pada tahun 2010 telah mencapai Rp 26.869.085.504.024 dimana Rp.
12.239.644.071.024 atau 45,55% Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Rp.
14.629.441.433.000 atau 54,45% Penanaman Modal Asing (PMA). Perkembangan
investasi di Kabupaten pelalawan tahun 2010 dari sisi lapangan usaha terlihat bahwa
Industri Pulp dan Paper merupakan industri yang menanamkan investasinya paling
besar yaitu Rp. 7.191.516.219.700 PMDN dan Rp. 7.880.192.435.000 PMA. Berikutnya

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-70


LAPORAN AKHIR

industri penyediaan tenaga listrik senilai Rp. 3.255.000.000.000 PMDN dan Rp.
2.261.000.000.000 PMA serta industri kelapa sawit dan PKS yang berkisar Rp.
1.441.189.601.324 PMDN dan Rp. 1.058.333.107.000 PMA.
Industri kelapa sawit dan PKS yang akan dikembangkan menjadi industri
hilirnya di kawasan Teknopolitan menempati peringkat ketiga dari sisi nilai investasi di
Kabupaten Pelalawan. Kemampuan pasokan bahan baku seperti CPO dan PKO untuk
kebutuhan industri hilir sawit secara faktual dapat dipenuhi bila dilihat dari hasil
identifikasi industri kelapa sawit dan PKS di atas. Perkembangan Penanaman Modal
Menurut Bidang Usaha di Kabupaten Pelalawan Tahun 2010 secara lengkap dapat
dilahat pada tabel 4.19 di bawah ini.

Tabel 4.19. Perkembangan Penanaman Modal Menurut Bidang Usaha di Kabupaten


Pelalawan Tahun 2010

2010 (Rp)
Lapangan Usaha/
Industrial Origin
PMDN PMA

1. Industri Pulp & Paper 7.191.516.219.700 7.880.192.435.000


2. Pengembangan kawasan
147.553.000.000 0
industri
3. Jasa akomodasi 11.551.000.000 0
4. Penyediaan Tenaga Listrik 3.255.000.000.000 2.261.000.000.000
5. Perkebunan Kelapa Sawit
1.441.189.601.324 1.058.333.107.000
dan PKS
6. Industri Minyak Kasar dari
192.834.250.000 100.000.000.000
Nabati
7. Hutan Tanaman Industri 0 0
8. Peternakan 0 6.093.600.000
9. Jasa Konstruksi 0 93.100.000.000
10. Jasa Penyewaan Alat
0 111.885.140.000
Konstruksi
11. Industri Calsium Carbonat 0 122.638.057.000
12. Industri Kimia Anorganik 0 2.996.199.094.000

Jumlah /Total 12.239.644.071.024 14.629.441.433.000

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-71


LAPORAN AKHIR

4.3.2 Analisis Pohon Industri Rantai Nilai Industri Hilir Kelapa Sawit.

A. Pohon Industri Kelapa Sawit.

Kelapa sawit merupakan salah komoditas yang memiliki produk turunan yang
sangat banyak. Dari Crude Palm Oil (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) saja bisa
dihasilkan lebih dari 60 (enam puluh) produk turunan yang banyak dimanfaatkan oleh
masyarakat. Banyaknya produk turunan (derivatif) yang dapat dihasilkan oleh
komoditas kelapa sawit menberikan andil yang sangat besar bagi akselerasi
perkembangan perkelapasawitan dunia.

Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit utama di dunia telah


mengembangkan tanaman tersebut menjadi komoditas ekspor yang penting. Produk-
produk industri hulu kelapa sawit seperti CPO telah memasuki pasaran dunia. Produksi
CPO nasional merupakan akumulasi produksi CPO di tingkat daerah sehingga
keberlanjutan produksi CPO nasional sangat bergantung pada percepatan produksi
CPO di setiap daerah. Dari sisi produksi CPO pertumbuhan produksi nasional maupun
daerah umumnya telah mencapai hasil yang optimal.

Pengembangan industri hulu (CPO) yang telah berjalan dengan baik belum
diimbangi oleh pengembangan industri hilir yang intensif. Tercatat hanya 11 industri
oleo kimia yang beroperasi di Indonesia saat ini. Pengembangan industri hilir sawit
memang tidaklah mudah disamping perlu investasi yang besar, industri ini juga
membutuhkan teknologi impor dan kualitas SDM yang tinggi.

Produk industri kelapa sawit beserta turunannya telah digambarkan dalam


suatu pohon industri yang dapat menjelaskan seberapa banyak produk turunan yang
dihasilkan dari kelapa sawit. Bila diteliti lebih seksama, produk yang dihasilkan dari
minyak sawit mentah dapat dikelompok ke dalam 2 kelompok produk industri sawit
yakni produk industri sawit yang telah diproduksi di dalam negeri dan produk kelapa
sawit yang belum dapat diproduksi di dalam negeri. Produk industri sawit yang telah
dihasilkan di dalam negeri berjumlah sekitar 38 produk sementara produk yang masih
import berjumlah sekitar 28 produk. Produk industri sawit yang masih harus diimpor
adalah sebagai berikut.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-72


LAPORAN AKHIR

1. Oleic acid dimer 15. Asam Amino


2. Ethylene 16. Karoten
3. Propylene oxide 17. Sel Tunggal Protein
4. Oxigenated fatty acid/ester 18. Lipase
5. Epoxy stearic/octanol ester 19. FatPowder
6. Epthio Stearin Mono 20. Vitamin A & E
7. Polyhydric Alcohol Ester 21. Metalic Salt
8. C16 & C18 Alcohol/Sulphated 22. Oleat/Ba
9. C16 & C18 Alcohol Esterifed 23. Palmitat Stearat/Ca Zn
with higher saturated fatty 24. Stearat/Ca Mg
acid 25. Stearat/Al Li
10. Fatty Acid Amides 26. Oleat/Zn, Pb
11. Stearamide 27. Polyethoxilated Derivates
12. Alkanomides 28. Palmitat/ethylene/propylane
13. Sulphated Alcanomide of oxide
Palmitat, Stearic & Oleic Acid
14. Oleamide

Gambar 4.20. Produk Industri Sawit yang belum diproduksi di dalam negeri

Pengembangan kawasan teknopolitan Teknopolitan yang direncanakan berbasis


industri hilir sawit membutuhkan kecermatan dalam memilih produk hilir sawit yang
ingin dikembangkan. Gambaran lengkap mengenai produk industri sawit yang telah
diproduksi di dalam negeri dan masih impor dapat dilihat pada gamber 4.21 berikut ini.

B. Rantai Nilai (Value Chain).

Produk industri sawit memiliki rantai nilai industri yang panjang dan lengkap.
Bila dilihat dari sisi horisontal hulu-hilir, rantai nilai industri sawit meliputi (1) upstream,
(2) midstream, (3) downstream, dan (4) consumer products. Aktivitas dan produk dari
setiap tingkatan memiliki karakteristik yang berbeda. Karakteristik di setiap tingkatan
dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Upstream, pada rantai tingkatan hulu ini beberapa aktivitas yang dilakukan
meliputi produksi benih, pembibitan, penanaman, pemanenan dan penggilingan.
Sementara itu produk yang dihasilkan terdiri atas benih, tandan buah segar, Crude
Palm Oil (CPO), Palm Kernel Oil (PKO), biomasa, dan sisa penggilingan sawit.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-73


LAPORAN AKHIR

2) Midstream, pada rantai ini kegiatan yang berlangsung adalah perdagangan dan
penyimpanan CPO sedangkan produknya meliputi CPO, PKO, Crude PKO dan Palm
Kernel Cake.

3) Downstream Processing, pada rantai ini beberapa aktivitas yang dilakukan


adalah refining, fractionation, oleochemical, esterification, dan refined product
storage. Produk yang dihasilkan pada rantai ini adalah RBD Palm Oil, Palm Patty
Acid Distilatte, RBD Palm Olein, RBD Palm Stearin, RBD PK Olein, RBD PK Stearin,
Cocoa Butter Equivalent, Cocoa Butter substitute, Cocoa Butter Replacers, Fatty
Acid, Alcohols, amines, amides, glycerines, Palm methyl esters, dan Tocotrienol

4) Consumer goods, pada rantai ini kegiatan yang dilakukan meliputi packaging and
branding, produk makanan dan non makanan. Produk yang dihasilkan terdiri atas
cooking oil, frying fats, margarine, shortening, vanaspaty, ice cream, non diary-
creamer, candles, soap, emulsifier, vitamin E supplement, confectionery, bakery
fats, biodiesel, energy generation, animal feed, dan organic fertilizer.

MINYAK SAWIT MENTAH


(MSM)
MINYAK INTI SAWIT
Minyak Sawit Kasar (PKO )
(CPO )

Protein Trogliserida,Digliserida, Es Asam


OLEIN Asam Amino PFAD Vit. A,E Karoten Stearin Lipase Soap Chip
Sel Tunggal Monogliserida Krim Lemak

Margarin

Cocoa Butter
Minyak Minyak Metil Sabun Metil Fat Kosmetika
Shortening Substitute
Goreng Salad Ester Cuci Ester Powder
(CBS )
Shortening
Surfaktan Biodiesel Confectioneries Sabun
Vegetable
Ghee

Vanaspati

Cocoa Butter
Substitute
(CBS )

Ester Asam Lemak : Metalic Salt: Polyethoxylated Oxygenated Fatty Fatty Alkohol Fatty Acids Amides: Gliserol Food
Fatty Amines:
Palmitat/Propand Derivates: Acid/Ester : Emulsifier
Oleat/Ba C 16&C 18 Alcohol/ Stearamide
Stearat Palmitat/Ethylene Secondary C16 & Sulphated
Palmitat Stearat/ Propylene Oxide Epoxy Stearic/
Metil Ester Sulfonat Ca, Zn C18 / Ethoxylated Octanol Ester C 16&C 18 Alcohol/ Alkanolamides
Stearat/Ethylene Betain Epthio Stearin Esterified with
Oleat/Glycol Stearat/Ca , Mg Higher Saturated Sulphated
Propylene Glycol Propylene Oxide Mono&
C 16 & C18 / Fatty Acid Alcanolamide of
Stearat/ Al, Li Oleic Acid Dimer Polyhydric Alcohol
C 16&C 19 Alcohol/ Palmitat, Stearic &
Ethoxylated Ester
Oleat/ Zn, Pb Ethylene Ethoxylation Oleic Acids
Propylene Oxide
Monogliserida Oleamide
Keterangan Warna: Ethoxylation

= sudah diproduksidi Indonesia


= belum diproduksidi Indonesia

Gambar 4.21. Pohon Industri Kelapa Sawit

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-74


LAPORAN AKHIR

Gambaran lengkap rantai nilai industri kelapa sawit dapat dilihat pada gambar 4.22
berikut ini.

Gambar 4.22. Rantai Nilai Industri Kelapa Sawit

4.3.3 Analisis Nilai Tambah dan Kemampuan Teknologi Industri Hilir Sawit.

Pengembangan industri hulu menjadi industri hilir kelapa sawit mampu


menciptakan nilai tambah yang dapat dimanfaatkan oleh industri nasional. Walaupun
proses pengembangan industri hilir tidaklah mudah, strategi pengembangan industri
kelapa sawit nasional harus mengarah kesana. Hingga saat ini teknologi yang
digunakan di industri hilir sawit masih berasal dari teknologi impor seperti fraksinasi,
sulfonasi maupun esterifikasi. Teknologi impor pastilah berbiaya tinggi sehingga
menyebabkan kurang berkembangnya industri hilir sawit di Indonesia.

Apabila dicermati tabel 4.16 mengenai nilai tambah dan kemampuan teknologi
industri hilir di Indonesia terlihat bahwa pengembangan industri hilir sawit baik oleo
pangan, oleokimia dasar maupun oleokimia turunan menciptakan Rasio Output-
Input yang beragam dengan kisaran antara 10% hingga 99%. Kelompok Oleo pangan
seperti minyak goreng dan margarine memiliki rasio output-input 73% dan 21%,
Kelompok Oleokimia Dasar Fatty Acid/Fatty Alcohol 88% dan kelompok Olekimia
Turunan seperti Metil Ester Sulfonate (MES) 230%, Biodiesel 99% dan Glycerine 10%.

Nilai tambah material dibandingkan dengan CPO pada tahun 2008 dari Oleo
pangan mencapai Rp 1.480/kg CPO, Oleokimia Dasar Rp 2.530/kg CPO, dan Oleokimia

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-75


LAPORAN AKHIR

Turunan Rp 1.117/kg CPO. Sementara itu nilai tambah industri tercatat Rp 15.402
milyar/Th 2008 untuk Oleo pangan, Rp 2.151 milyar/Th 2009 untuk Oleokimia Dasar
dan Rp 1.128 milyar/Th 2008 untuk Oleokimia Turunan. Gambaran rinci mengenai
nilai tambah dan kemampuan teknologi industri hilir sawit nasional dapat dilihat pada
tabel 4.20, berikut ini.

Tabel 4.20. Nilai Tambah dan Kemampuan Teknologi Industri Hilir Sawit di Indonesia

Parameter Industri Hilir


No Teknologi & Oleokimia
Industri Oleofood Oleokimia Turunan
Dasar
Minyak Goreng Fatty Acid/F Surfaktan Biodiesel
Alcohol
1 Bentuk Input CPO CPO/PKO FAME & CPO
NaHSO3
2 Bentuk Output Minyak Goreng Fatty Acid (FA) MES Biodiesel
(MGS) (anionik)* (BD)
Margarin (Mg) Fatty Alcohol Glycerin - By
(Falk) Product
Methyl Ester
(ME)
Glycerin (Gly)-
by product
3 Teknologi Kunci Fraksinasi & Splitting Asam Sulfonasi** Esterifikasi
Filtrasi Lemak
Trans- Etoksilasi** Trans-
esterifikasi me esterifikasi
Hidrogenasi FAI
4 Penguasaan Impor Impor Impor Impor
Teknologi
Proses
5 Manufakturing
Alat Pabrik :
Lokal Kecil Kecil Kecil Kecil
Impor Besar Besar Besar Besar
6 Rasio Output - MGS : 73% FA : 88% MES : 230% BD : 99%
Input
Mg : 21% Falk : Gly : 10%
7 Volume 7,596 jt ton 0,75 jt ton / Th MES : 7 juta 1 jt ton BD /
Produksi (Th MGS/Th 2009 kg/th 2010 TH 2008
2008)
0,695 jt ton 0,1 jt ton
Mg/Th Gly/Th 2008

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-76


LAPORAN AKHIR

Parameter Industri Hilir


No Teknologi & Oleokimia
Industri Oleofood Oleokimia Turunan
Dasar
8 Nilai Tambah Rp 1.480/kg Rp 2.530/kg Rp 1.117/kg
Material (th CPO CPO CPO
2008)
9 Nilai Tambah Rp 15.402 Rp 2.151 Rp 1.128
Industri (th milyar/Th 2008 milyar/Th 2009 milyar/Th
2008) 2008
10 Nilai Produk Rp 91.370 Rp 6.844 Rp 140 Rp 8.004
Nasional (th milyar/Th 2008 milyar/Th 2009 milyar/Th milyar/Th
2008) 2010 2008
11 Pangsa Pelaku
Industri :
Industri Kecil 0 0 0 0
(%)
BUMN (%) 0 0 0 0
Perusahaan 100 100 100 (30% 100
Swasta (%) dikuasai
Cogins)

4.3.4 Analisis Ekonomi dan Peluang Investasi.

Pada bagian ini akan dianalisis beberapa faktor yang mendukung pengembangan
industri hilir sawit di kawasan teknopolitan seperti ketersediaan bahan baku, skenario
pembangunan industri, tenaga kerja, tenaga kerja , peluang investasi industri hilir
sawit. Faktor-faktor di atas akan sangat membantu para pelaku industri untuk
menanamkam modalnya di Kawasan Teknopolitan. Pada bagian akhir akan dijelaskan
dampak investasi di industri hilir sawit terhadap perekonomian Kabupaten Pelalawan.

A. Analisis Ketersediaan Bahan Baku.

Pengembangan industri hilir sawit di kawasan teknopolitan Pelalawan


memerlukan suplai bahan baku yang cukup dan kontinyu. Kebutuhan bahan baku
berupa CPO sebaiknya disediakan di sekitar areal kawasan yang berdekatan dengan
kawasan Teknopolitan. Hal ini untuk mengurangi biaya angkut CPO yang sangat
volumized dan memerlukan alat transportasi khusus. Oleh karena itu peluang
berinvestasi di kawasan teknopolitan sebaiknya diprioritaskan kepada para pelaku
bisnis CPO di Kabupaten Pelalawan.

Jumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Kabupaten Pelalawan seluruhnya


berjumlah 19 unit yang tersebar di 9 Kecamatan. Jumlah PKS terbanyak terletak di
Kecamatan Pangkalan Kuras, Bandar Seikijang, Ukui dan Pangkalan Lesung. Kapasitas

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-77


LAPORAN AKHIR

produksi PKS di Kabpaten Pelalawan rata-rata 60 ton/jam dimana PKS dengan


kapasitas produksi tertinggi sebesar 120 ton/jam terletak di Pangkalan Kuras milik PT
Adei Plantation.

B. Analisis Skenario Pembangunan Industri Hilir Sawit.

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian terdahulu mengenai nilai


tambah industri hilir sawit dan kemampuan teknologi industri hilir sawit nasional
dimana semua kelompok produk hilir sawit menciptakan nilai tambah yang cukup
signifikan, maka pengembangan teknopolitan berbasis industri hilir sawit di Kabupaten
Pelalawan sebaiknya diarahkan pada ketiga alternatif kelompok industri hilir sawit
tersebut baik Oleo Pangan, Oleo Kimia Dasar dan Oleo Kimia Turunan. Namun
demikian pemilihan alternatif industri hilir yang akan dikembangkan memerlukan
dukungan analisis secara detail mengenai berbagai faktor seperti ketersediaan bahan
baku, asesibilitas lokasi industri, kebutuhan lahan dan kebutuhan tenaga kerja serta
dampak industri hilir sawit terhadap perekonomian daerah. Untuk itu pada bagian
berikut akan dijelaskan hasil analisis terhadap faktor-faktor di atas sehingga
pengembangan industri hilir sawit di Teknopolitan Pelalawan menciptakan daya tarik
yang tinggi bagi para investor.

Seperti yang terlihat pada Skenario I, produksi CPO dari PKS yang ada di
Kabupaten Pelalawan mencapai 1.575.680 ton. Apabila diasumsikan CPO tersebut
seluruhnya dialokasikan untuk pengembangan industri hilir di kawasan Teknopolitan
Pelalawan maka jumlah pabrik produk hilir sawit seperti Oleo Pangan, Oleo Kimia
Dasar dan Oleo Kimia Turunan yang dapat dibangun diskenariokan sebagai berikut :

Skenario I, dengan jumlah pasokan CPO yang mencapai 1.575.680 ton, maka jumlah
minyak goreng yang dapat diproduksi mencapai 1.150.246,4 ton dan
margarine sebesar 330.892,8 ton. Jumlah pabrik minyak goreng yang
dapat dibangun untuk memproduksi 1.150.246,4 ton seluruhnya
berjumlah 12 unit (100.000 ton/tahun) atau 4 unit (270.000 ton/tahun)
atau 3 unit (340.000 ton/tahun), atau 2 unit (470.000 ton/tahun).
Sementara itu pabrik margaeine yang dapat dibangun sebanyak 1 unit
dengan kapasitas 300.000 ton per tahun

1. SKENARIO I : OLEO PANGAN


Pasokan CPO (ton) 1,575,680
Rasio Output/Input Minyak goreng (%) 73.0
Rasio Output/Input Margarine (%) 21.0

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-78


LAPORAN AKHIR

Minyak Goreng (ton) 1,150,246.4


Margarine (ton) 330,892.8
Kapasitas Pabrik Minyak Goreng (ton/tahun) :
100,000 12 unit
270,000 4 unit
340,000 3 unit
470,000 2 unit
Kapasitas Pabrik Margarine (ton/tahun) :
300,000 1 unit

Skenario II, dengan jumlah pasokan CPO yang sama sebesar 1.575.680 ton, maka
jumlah Oleo Kimia dasar (Fatty Acid atau Metyl Ester) yang dapat
diproduksi mencapai 1,386,598 ton. Jumlah pabrik FAME yang dapat
dibangun mencapai 10 unit dengan kapasitas 140.000 ton/tahun

2. SKENARIO II : OLEO KIMIA


DASAR
Pasokan CPO (ton) 1,575,680
Rasio Output/Input FA/ME (%) 88.0
FA/ME (ton) 1,386,598
Kapasitas Pabrik FAME (ton/tahun)
140,000 10 unit

Skenario III, Produksi Oleo Kimia Turunan yang dapat diproduksi seperti Surfaktan
(MES) seluruhnya berjumlah 3.189.175 ton. Apabila pabrik yang didirikan
berkapasitas 16.000 ton/tahun maka jumlah pabrik Surfaktan yang bisa
dibangun berjumlah 199 unit. Sedangkan bila yang akan dibangun
adalah pabrik Biodiesel maka jumlah pabrik yang dapat dibangun
berturut-turut 31 unit (50.000 ton/tahun), 26 unit (60.000 ton/tahun)
atau 16 unit (100.000 ton/tahun).

3. a) SKENARIO III : OLEO KIMIA TURUNAN


(SURFAKTAN)

Pasokan FAME (ton) 1,386,598

Rasio Output/Input FA/ME (%) 230.0

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-79


LAPORAN AKHIR

METIL ESTER SULFONATE/MES (ton) 189,175

Kapasitas Pabrik SURFAKTAN (ton/tahun)

16,000 199 unit

b) SKENARIO III : OLEO KIMIA TURUNAN


(BIODIESEL)

Pasokan CPO (ton) 1,575,680

Rasio Output/Input BIODIESEL (%) 99.0

BIODIESEL (ton) 1,559,923

Kapasitas Pabrik BIODIESEL (ton/tahun)

50,000 31 unit

60,000 26 unit

100,000 16 unit

C. Analisis Kebutuhan Tenaga Kerja.

Industri hilir kelapa sawit yang potensial untuk dikembangkan di Kawasan


Teknopolitan Pelalawan di antaranya adalah industri minyak goreng, margarin, fatty
acid (FA), methyl ester (ME), surfaktan metil ester sulfonat (MES) dan biodiesel. Untuk
mewujudkan berbagai jenis industri hilir ini, dibutuhkan tenaga kerja dalam jumlah
yang cukup besar. Secara ringkas, dengan menggunakan pendekatan proses produksi,
besarnya kebutuhan kerja untuk setiap jenis industri hilir minyak sawit di atas adalah
sebagai berikut :

a. Kebutuhan tenaga kerja untuk industri minyak goreng kapasitas 1.000 ton
CPO per hari.

Jumlah tenaga kerja yang terlibat langsung dengan proses produksi, atau
disebut dengan tenaga kerja langsung, adalah 134 orang yang terdiri dari 128
orang tenaga operasional dan 6 orang tenaga manajerial. Dari 128 orang
tenaga operasional, 18 orang di antaranya melakukan pekerjaan manajerial
dan 110 orang lainnya bekerja sebagai tenaga operasional. Selain itu, setiap

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-80


LAPORAN AKHIR

tahun diperkirakan perusahaan akan membutuhkan tenaga kerja harian lepas


untuk membantu proses rafinasi dan fraksionasi.

b. Kebutuhan tenaga kerja untuk industri margarin kapasitas 1.000 ton per hari

Kebutuhan tenaga kerja langsung untuk mengoperasikan industri margarin


kapasitas 1.000 ton per hari adalah sekitar 75 orang, baik untuk manajerial
maupun operasional.

c. Kebutuhan tenaga kerja untuk industri fatty acid dan methyl ester

Tenaga kerja di industri fatty acid maupun methyl ester secara garis besar
juga dikelompokkan menjadi tenaga kerja manajerial dan tenaga kerja
operasional. Tenaga kerja manajerial terdiri dari direktur, manajer, asisten
manajer, supervisor dan kepala bagian. Secara keseluruhan, kebutuhan
tenaga kerja untuk industri fatty acid dan methyl ester diperkirakan masing-
masing mencapai sekitar 300 orang.

d. Kebutuhan tenaga kerja untuk industri surfaktan MES.

Kebutuhan akan tenaga kerja langsung, baik manajerial maupun operasional,


untuk industri surfaktan MES diperkirakan sebanyak 100 orang, dimana
semuanya merupakan tenaga ahli terdidik karena industri surfaktan MES ini
termasuk industri berteknologi tinggi.

e. Kebutuhan tenaga kerja untuk industri biodiesel kapasitas 1.000 ton CPO per
hari.

Industri biodiesel merupakan industri yang tingkat penyerapan tenaga


kerjanya relatif setara dengan industri minyak goreng dari minyak sawit.
Karena itu, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan industri biodiesel dengan
kapasitas produksi 1.000 ton CPO per hari adalah 134 orang. Di Indonesia,
jumlah industri biodiesel yang sudah beroperasi hingga saat ini ada sebanyak
11 buah, dengan jumlah tenaga kerja langsung yang terserap diperkirakan
mencapai 1.090 orang.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja siap pakai di berbagai jenis industri
hilir kelapa sawit di atas, hingga kini Kabupaten Pelalawan belum mampu
menyediakannya. Sumber daya manusia profesional dan terdidik yang ada di
kabupaten ini memang masih sangat terbatas. Karena itu, dalam jangka pendek
sumber daya manusia profesional dan terdidik harus didatangkan dari daerah lain di
luar Kabupaten Pelalawan. Namun, dalam jangka menengah dan jangka panjang
Kabupaten Pelalawan diharapkan sudah mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-81


LAPORAN AKHIR

siap pakai di berbagai jenis industri hilir kelapa sawit. Tenaga kerja tersebut berasal
dari Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan (STTP). Institut ini rencananya juga akan
dibangun di dalam Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

D. Analisis Dampak Ekonomi Industri Hilir Sawit.

Melalui analisis nilai tambah dapat diprediksi secara kuantitatif, pertambahan


pendapatan dari industri hilir sawit secara akumulatif akan meningkatkan aktivitas
ekonomi masyarakat dan tentu saja akan meningkatkan pendapatan daerah. Dengan
asumsi produksi CPO Pelalawan sebesar 1.575.680 ton dan harga CPO Rp. 7.000/kg
maka potensi kapitalisasi pasar dari industri CPO di Pelalawan pada saat ini telah
mencapai Rp. 11.029.760.000.000,-. Apabila CPO tersebut diolah lebih lanjut dengan
membangun industri Oleo pangan minyak goreng dan margarine dengan asumsi harga
minyak goreng Rp. 13.000,-/kg dan margarine Rp. 38.697,-/kg maka akan terjadi
tambahan akumulasi kapital sebesar Rp. 16.728.167.328.000 menjadi Rp.
27.757.927.328.000 atau terjadi peningkatan hampir 151,7%.

Dengan asumsi produksi CPO Pelalawan sebesar 1.575.680 ton dan harga Fatty
Acid Rp. 18.050,-/kg dan harga Metyl Ester Rp. 17.575,-/kg maka pembangunan
industri hilir sawit Oleo Kimia Dasar Fatty Acid akan meningkatkan akumulasi kapital
sebesar Rp. 13.998.341.120.000 menjadi Rp. 25.028.101.120.000,- atau meningkat
126,9%. Sedangkan pembangunan industri Metyl Ester akan meningkatkan akumulasi
kapital sebesar Rp. 13.339.706.880.000,- menjadi Rp. 24.369.466.880.000 atau
meningkat 120,9%.

Selanjutnya pembangunan industri Oleo Kimia Turunan seperti Surfaktan akan


meningkatkan akumulasi kapital sebesar Rp. 20.782.273.792.000,- menjadi Rp.
31.812.033.792.000 atau meningkat sebesar 188%. Sementara pembangunan industri
Biodiesel akan meningkatkan akumulasi kapital sebesar Rp 5.271.437.440.000 menjadi
Rp. 16.301.197.440.000,- atau meningkat sebesar 47,8%.

Analisis nilai tambah pembangunan industri hilir sawit baik Oleo Food, Oleo
Kimia Dasar dan Oleo Kimia Turunan secara lengkap dapat dilihat pada tabel 4.21
berikut ini.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-82


LAPORAN AKHIR

Tabel 4.21. Analisis Nilai Tambah Industri Hilir Sawit

OLEOFOOD OLEKIMIA DASAR OLEOKIMIA TURUNAN


PARAMETER TBS CPO
MINYAK GORENG MARGARINE FA ME SURFAKTAN BIODIESEL

Input TBS CPO CPO CPO CPO FAME CPO


Jumlah Input (ton) 6,941,322 1,575,680 1,575,680 1,575,680 1,575,680 693,299 1,575,680
Rasio Output/Input (%) 22.7 73.0 21.0 88.0 88.0 230 99.0
Jumlah Output (ton) 6,941,322 1,575,680 1,150,246 330,893 1,386,598 1,386,598 1,594,588 1,559,923
Harga Jual (Rp./ton) 1,488,160 7,000,000 13,000,000 38,697,500 18,050,000 17,575,000 19,950,000 10,450,000
Total Nilai Jual (Rp.) 10,329,797,747,520 11,029,760,000,000 14,953,203,200,000 12,804,724,128,000 25,028,101,120,000 24,369,466,880,000 31,812,033,792,000 16,301,197,440,000
Nilai Tambah (Rp./ton) 699,962,252,480 16,728,167,328,000 13,998,341,120,000 13,339,706,880,000 20,782,273,792,000 5,271,437,440,000
Persentase Nilai Tambah (%) 6.8 151.7 126.9 120.9 188 47.8

Secara kualitatif pembangunan industri hilir kelapa sawit di Kawasan


Teknopolitan Pelalawan merupakan salah satu langkah percepatan pembangunan
ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Pelalawan. Pilihan terhadap
pembangunan industri hilir kelapa sawit ini didasarkan pada berbagai argumen, di
antaranya :

a. Di Kabupaten Pelalawan, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas


yang penting dan strategis untuk meningkatkan pendapatan keluarga,
karena peranannya yang cukup besar dalam mendorong perekonomian
rakyat, terutama bagi petani perkebunan. Dengan dikembangkannya
industri hilir kelapa sawit, diharapkan semakin mendorong peningkatan
pendapatan masyarakat.

b. Dalam beberapa tahun terakhir, luas areal perkebunan, produksi tandan


buah segar (TBS), pabrik kelapa sawit, maupun produksi crude palm oil
(CPO) dan palm keernel oil (PKO) di Kabupaten Pelalawan meningkat
cukup signifikan. Peningkatan ini memberikan peluang bagi pembangunan
industri hilir CPO dan turunannya.

c. Dari segi fisik dan lingkungan, Kabupaten Pelalawan sangat memungkinkan


bagi pengembangan perkebunan kelapa sawit, industri CPO maupun
industri hilirnya karena kondisi topografinya yang relatif datar, sehingga
memudahkan dalam pengelolaan usaha dan dapat pula menekan biaya
produksi dan distribusi.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-83


LAPORAN AKHIR

d. Dari segi pemasaran hasil produksi, Kabupaten Pelalawan mempunyai


keuntungan strategis dari posisinya yang terletak dekat dengan pasar
internasional, terutama Singapura dan Malaysia.

e. Kabupaten Pelalawan sebagai bagian dari Provinsi Riau otomatis juga


menjadi bagian dari kerja sama Indonesia Malaysia Singapore Growth
Triangle (IMS-GT) dan Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle (IMT-
GT), sehingga keanggotaan ini memberikan peluang pasar yang lebih
menguntungkan.

Dampak positif dari pembangunan industri hilir kelapa sawit di Kawasan


Teknopolitan Pelalawan terhadap perekonomian Kabupaten Pelalawan secara garis
besar adalah dalam bentuk :

1) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pelalawan : pengembangan


industri hilir kelapa sawit akan meningkatkan nilai tambah bruto (PDRB),
terutama pada sektor pertanian dan industri pengolahan nonmigas.

2) Meningkatkan pendapatan masyarakat : tumbuhnya perkebunan, industri hulu


dan industri hilir kelapa sawit menyebabkan munculnya sumber-sumber
pendapatan yang lebih bervariasi bagi masyarakat, tidak hanya dari sektor
sawit itu sendiri melainkan juga dari sektor-sektor lainnya seperti perdagangan,
pengangkutan, transportasi, restoran, keuangan dan jasa-jasa.

3) Menciptakan kesempatan kerja : pengembangan industri hilir kelapa sawit tentu


saja menciptakan lapangan pekerjaan baru yang cukup besar bagi tenaga
kerja, baik tenaga kerja yang berasal dari Kabupaten Pelalawan maupun tenaga
kerja dari luar kabupaten tersebut.

4) Mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi daerah : terutama


bersumber dari peningkatan mobilitas penduduk antarwilayah, pengembangan
infrastruktur wilayah serta perkembangan berbagai jenis aktivitas ekonomi
(baik produk maupun jasa) di wilayah sekitarnya.

Untuk mewujudkan dampak positif dari pengembangan industri hilir kelapa


sawit di atas, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian dan diharapkan dapat
segera direalisasikan, yaitu :

1. Pembangunan institusi dan aktivitas pendukung : di antaranya (a)


pembangunan Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan (STTP), (b) pendirian
pusat pelatihan dan penelitian kelapa sawit, (c) peningkatan kapasitas riset
kelapa sawit di STTP, serta (d) peningkatan kemampuan SDM di bidang

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-84


LAPORAN AKHIR

industri hilir kelapa sawit.

2. Pembangunan infrastruktur wilayah : di antaranya (a) pembangunan dan


peningkatan jaringan jalan dan jembatan, (b) pembangunan dan
peningkatan pelabuhan laut, serta (c) pembangunan jaringan rel kereta
api.

3. Pengembangan regulasi dan insentif : di antaranya berupa (a) konsistensi


penerapan peraturan dan perundangan sebagai jaminan bagi investor, (b)
pemberian insentif untuk pendirian industri hilir kelapa sawit baru, (c)
pemberian kemudahan bagi investor untuk mendapatkan bahan baku
pendukung industri hilir kelapa sawit melalui fleksibilitas tarif dan
kemudahan impor, (d) pemanfaatan penerimaan migas untuk
pembangunan infrastruktur yang terkait dengan pengembangan industri
hilir kelapa sawit, (e) pengembangan lembaga promosi dan tenaga
pemasaran untuk peningkatan pangsa pasar produk industri hilir kelapa
sawit ke pasar internasional, (f) pengaturan kuota penggunaan CPO
sebagai jaminan pasokan CPO bagi industri hilir kelapa sawit.

4. Pengembangan fasilitas umum dan settlement facility : di antaranya berupa


(a) fasilitas pengolahan air bersih, (b) fasilitas penanganan limbah industri,
(c) fasilitas kesehatan (rumah sakit, klinik), (d) fasilitas pendidikan, (e)
fasilitas rumah ibadah, (f) fasilitas olahraga, hiburan dan rekreasi.

5. Dukungan Kebijakan Pemerintah Provinsi Riau.

E. Analisis Peluang Investasi Industri Hilir Sawit.

Hasil kajian peluang investasi pengembangan industri pengolahan produk


turunan CPO menunjukkan terdapat empat jenis industri yang mempunyai peluang
investasi dalam beberapa tahun ke depan. Keempat jenis industri tersebut adalah
minyak goreng, margarin, oleokimia dan biodiesel.

Oleokimia adalah produk-produk hasil reaksi kimiawi yang dibuat dengan


menggunakan bahan baku minyak nabati atau hewani. Dinamakan Olekimia untuk
membedakannya dengan produk-produk hasil reaksi kimiawi yang dibuat dari minyak
mineral (petroleum) yang dinamakan petrokimia.

Lima macam produk oleokimia dasar yang dapat dihasilkan adalah asam lemak,
metil ester asam lemak, fatty alkohol, fatty amina, dan gliserin. Sedangkan produk
oleokimia turunan antara lain adalah fatty amida, asam-asam dimeratautrimer,minyak

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-85


LAPORAN AKHIR

atau ester terepoksidasi, etoksilat, asam lemak sulfat, asam lemak sulfonat, garam
fatty ester.

Unit operasi yang digunakan dalam produksi oleokimia dasar antara lain adalah
splitting (hidrolisis), distilasi, fraksinasi, separasi, hidrogenasi, metilasi, deionisasi.
Sedangkan unit operasi yang digunakan dalam produksi oleokimia turunan antara lain
adalah amidasi, klorinasi, dimerisasi, epoksidasi, etoksilasi, kuaternisasi, sulfasi,
sulfonasi transesterifikasi, esterifikasi,dan saponifikasi.

Peluang pasar produk-produk oleokimia seperti fatty acid, fatty alcohol dan
glycerine selama kurun waktu 2007 hingga 2010 berdasarkan data yang diperoleh dari
Tim Terpadu Pengembangan Industri CPO Kementerian Perindustrian menunjukkan
bahwa pertumbuhan produksi, ekspor dan konsumsi masing-masing fattyacid sebesar
9,17%, 4,74% dan 6,47% per tahun. Peluang pasar industri fatty acid di Indonesia
dapat dilihat pada tabel 4.22, berikut ini.

Tabel 4.22. Peluang Pasar Fatty Acid di Indonesia

Tahun Produksi Ekspor Konsumsi Permintaan Peluang


(ton) (ton) (ton) (ton) Pasar (ton)

2007 626,021 386,714 308,337 695,052 69,0


2008 683,400 405,029 328,279 733,308 49,9
2009 746,038 424,212 349,510 773,722 27,6
2010 814,417 444,303 372,114 816,417 2,0
Pertumbuhan 9.17% 4.74% 6.47%

Untuk fatty alcohol, pertumbuhan produksi, ekspor dan konsumsi masing-masing


fatty alcohol mencapai 23,04%, 23,12% dan 7,24% per tahun. Dengan pendekatan
tersebut, pada periode 2007–2010 diperkirakan masih terdapat peluang pasar fatty
alcohol (Tabel 4.23). Peluang pasar ini sekaligus sebagai indikasi adanya peluang
investasi di industri fatty alcohol.

Tabel 4.23. Peluang pasar Fatty Alkohol di Indonesia

Tahun Produksi Ekspor Konsumsi Permintaan Peluang Pasar


(ton) (ton) (ton) (ton) Market (ton)
2007 171,805 117,877 97,229 215,106 43,302
2008 211,384 145,131 104,265 249,396 38,011

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-86


LAPORAN AKHIR

Tahun Produksi Ekspor Konsumsi Permintaan Peluang Pasar


(ton) (ton) (ton) (ton) Market (ton)
2009 260,083 178,686 111,809 290,496 30,413
2010 320,000 220,000 119,900 339,900 19,900
Pertumbuhan 23.04% 23.12% 7.24%

Pabrik pada industri oleokimia pada umumnya dibangun secara terpadu untuk
menghasilkan beberapa jenis produk. Pabrik untuk industri oleokimia ini pada
umumnya berkapasitas bervariasi antara 5.000 ton per tahun hingga 120.000 ton per
tahun. Dengan asumsi pabrik oleokimia yang dibangun berkapasitas 15.000ton/tahun,
maka peluang investasi industri oleokimia pada tahun 2008–2010 berjumlah 11 buah.

Tabel 4.24. Peluang investasi industri Oleokimia di Indonesia

Peluang Pasar Peluang Jumlah


Tahun Kumulatif Pabrik Total
Fatty Acid Fatty Alcohol Oleokimia(ton)
(ton) (ton)
2007 69,030 43,302 112, -
2008 49,908 38,011 87, 6
2009 27,684 30,413 58, 4
2010 2,000 19,900 21, 1

4.4. ANALISIS KELEMBAGAAN KAWASAN TEKNOPOLITAN

Konsep pengembangan kawasan teknopolitan merupakan salah satu bagian


dari konsep pengembangan Kawasan berbasis teknologi. Yaitu kawasan berdimensi
pembangunan ekonomi dengan sentra ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang
mendukung percepatan perkembangan inovasi. Dewasa ini telah berkembang kawasan
berbasis teknologi sesuai dengan karakteristiknya masing-masing, antara lain
Technopark/Sciencepark, Technopolis atau Teknopolitan dan Innovation Cluster.

4.4.1 Pengertian Kawasan Teknopolitan.

Teknopolitan adalah konsepsi kawasan berdimensi pembangunan ekonomi,


sosial dan budaya, yang memiliki sentra kegiatan iptek, kegiatan produktif dan gerakan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-87


LAPORAN AKHIR

masyarakat yang mendukung percepatan perkembangan inovasi, difusi dan


pembelajaran. Sementara itu, Kawasan teknopolitan adalah kawasan yang terdiri atas
satu atau lebih kegiatan iptek, kegiatan produktif dan gerakan masyarakat pada
wilayah tertentu sebagai sistem pembangunan yang ditunjukkan oleh adanya
keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan sistem inovasi.

Pengertian lain mengenai kawasan teknopolitan adalah suatu kawasan khusus


yang dibangun berdasarkan komitmen memiliki satu atau lebih sentra kegiatan iptek
yang mampu mewujudkan keterkaitan antara lembaga pendidikan tinggi, lembaga
penelitian dan pengembangan, dan industri yang merupakan wahana penguatan
jaringan inovasi dalam kerangka sistem inovasi.

Berdasarkan pengertian tersebut diatas, dapat diuraikan mengenai karakteristik


dari teknopolitan meliputi kegiatan antara lain:

a) Sebagai kawasan khusus yang berdemensi pada pembangunan ekonomi


berbasis teknologi;

b) Kegiatan penelitian dan pengembangan (lembaga riset);

c) Kegiatan pendidikan (universitas /perguruan tinggi);

d) Kegiatan industri (kawasan industri); dan

e) Kegiatan pendukung lainnya (misalnya dukungan infrastruktur, perumahan, dan


dukungan fasilitas lainnya).

4.4.2 Persyaratan Teknopolitan.

Selain pengertian kawasan teknopolitan sebagaimana diuraikan di atas,


terdapat beberapa persyaratan sebuah kawasan teknopolitan, yaitu adanya:

a. Sumber daya (alam) yang unggul (misalnya kelapa sawit).

b. Fasilitas pengolahan sumber daya (alam) yang unggul (perlunya kawasan


industri).

c. Sumber daya manusia yang handal dan bekerja keras (perlu universitas /
training centre).

d. Fasilitas penelitian dan pengembangan (perlunya lembaga litbang/riset).

e. Aksesibilitas yang mudah (transportasi dan telekomunikasi).

f. Fasilitas untuk keperluan sehari-hari (shoping, hiburan).

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-88


LAPORAN AKHIR

g. Fasilitas kesehatan dan pendidikan untuk anak (perlu medical centre dan
education centre).

h. Keamanan dan ketentraman (perlu kantor polisi).

i. Kemudahan birokrasi dan perpajakan (perlu kebijakan dari pemerintah yang


mendukung investasi).

j. Tempat tinggal yang nyaman dan aman (perlu perumahan yang terjaga).

Konsep dasar kawasan teknopolitan merupakan hasil konsensus bersama dan


keharmonian antara berbagai pihak dapat menciptakan keuntungan yang jelas dari
masing-masing pihak, yaitu:

 Untuk pemerintah :

Meningkatkan aktifitas bisnis, meningkatkan kualitas SDM, meningkatkan


pendapatan pajak, meningkatkan jumlah lapangan kerja, meningkatkan ekonomi
berbasis R&D, meningkatkan ekspor dan meningkatkan investasi daerah.

 Untuk universitas/lembaga riset :

Menyediakan lapangan kerja untuk lulusan, meningkatkan kualitas universitas,


meningkatkan transfer teknologi, meningkatkan interaksi dengan industri,
mendapatkan dana, dan aplikasi teknologi untuk ekonomi regional.

 Untuk industri :

Akses yang mudah ke sumber daya manusia berkualitas, akses yang mudah ke
fasilitas dan sumber daya di Universitas, produk-produk baru, pasar baru,
meningkatkan daya saing.

4.4.3. Dasar Hukum Kawasan Teknopolitan.

Secara spesifik peraturan yang mengatur kawasan teknopolitan belum ada,


namun mengacu pada konsep teknopolitan terdapat beberapa peraturan yang dapat
dijadikan dasar pembentukan Kawasan Teknopolitan Pelalawan, yang dikelompokkan
menjadi 2 bagian, yaitu:

1. Peraturan Terkait Dengan Kebijakan Kawasan Berbasis Iptek.

a. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian,


Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-89


LAPORAN AKHIR

 Pemerintah, Pemerintah daerah, dan/atau badan usaha dapat membangun


kawasan, pusat peragaan, serta sarana dan prasarana Iptek lain untuk
memfasilitasi sinergi dan pertumbuhan unsur-unsur kelembagaan dan
menumbuhkan budaya Iptek di kalangan masyarakat (Pasal 14 UU
18/2002).

 Untuk mengembangkan jaringan, perguruan tinggi, lembaga penelitian dan


pengembangan (litbang), badan usaha, dan lembaga penunjang, wajib
mengusahakan kemitraan. (Psl 15 (2) UU 18/2002).

2. Peraturan Terkait Dengan Kebijakan Kawasan Berbasis Ekonomi.

a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan


Nasional Jangka Panjang 2005-2025.

 Telah ditegaskan bahwa pembangunan ekonomi di arahkan kepada


peningkatan daya saing dan ekonomi berbasis pengetahuan.

b. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus.

Fungsi kawasan ekonomi khusus (KEK) dikembangkan melalui penyiapan


kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi
untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain
yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional.

KEK terdiri atas satu atau beberapa Zona: pengolahan ekspor; logistik; industri;
pengembangan teknologi; pariwisata; energi; dan/atau ekonomi lain.

Di dalam KEK dapat dibangun fasilitas pendukung dan perumahan bagi pekerja.

Di dalam setiap KEK disediakan lokasi untuk usaha mikro, kecil, menengah
(UMKM), dan koperasi, baik sebagai Pelaku Usaha maupun sebagai pendukung
kegiatan perusahaan yang berada di dalam KEK.

Lokasi yang dapat diusulkan menjadi KEK, harus memenuhi kriteria adalah:

 Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan tidak berpotensi


mengganggu kawasan lindung;

 Pemerintah provinsi/ kabupaten/ kota yang bersangkutan mendukung


KEK;

 Terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional


atau dekat dengan jalur pelayaran internasional di Indonesia atau
terletak pada wilayah potensi sumber daya unggulan; dan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-90


LAPORAN AKHIR

 Mempunyai batas yang jelas.

c. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan


Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.

 Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan


mengembangkan klaster industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

 Fokus dari pengembangan MP3EI ini diletakkan pada 8 program utama,


yaitu pertanian, pertambangan, energi, industri, kelautan, pariwisata, dan
telematika, serta pengembangan kawasan strategis.

d. Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Pelalawan Nomor 1 Tahun 2012 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten
Pelalawan Tahun 2011-2016.

 Misi ke 5 diformulasikan salah satu tujuan pembangunan di Kabupaten


Pelalawan adalah memantapkan kemandirian pembangunan ekonomi,
dengan salah satu sasarannya berkembangnya industri dan terwujudnya
pusat-pusat ekonomi unggulan daerah, dengan indikator bertambahnya
jumlah klaster ekonomi di Kabupaten Pelalawan. Sedangkan dalam Misi I
salah satu sasaran pembangunan bidang sumberdaya manusia adalah
pembangunan perguruan tinggi di Kabupaten Pelalawan.

 Berkaitan dengan hal tersebut, pembangunan teknopolitan Pelalawan


merupakan salah satu upaya dalam pencapaian tujuan dan sasaran
pembangunan yang ditetapkan di dalam RPJMD 2011 – 2016.

3. Peraturan Terkait Dengan Kebijakan Kawasan Strategis.

a. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Pasal 8 ayat


(3).

Menetapkan kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan pertumbuhan


ekonomi. Pasal 77 Bab V Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) menyebutkan bahwa kawasan
strategis nasional dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi, adalah:

 Kawasan yang memiliki potensi ekonomi cepat tumbuh;

 Memiliki sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi


nasional;

 Memiliki potensi ekspor;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-91


LAPORAN AKHIR

 Didukung jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi;

 Memiliki kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi;

 Berfungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan nasional dalam


rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional;

 Berfungsi untuk mempertahanan tingkat produksi sumber energi dalam


rangka mewujudkan pertahanan energi nasional; atau

 Ditetapkan untuk mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal.

Amanat peraturan perundang-undangan sebagaimana diuraikan di atas, secara


spesifik tidak menyebutkan tentang kawasan teknopolitan, namun sesuai
kriteria teknopolitan sebagai sebuah kawasan, maka pengembangan kawasan
teknopolitan dapat dikategorikan sebagai kawasan khusus dan kawasan
berbasis teknologi yang memiliki deminsi pembangunan ekonomi.

Kriteria yang dimaksud merupakan kawasan teknopolitan Pelalawan yang


memilliki kriteria: (1) memiliki posisi strategis dan potensi unggulan kelapa sawit, (2)
sesuai dengan ketentuan RTRW Kabupaten Pelalawan, (3) adanya komitmen
pemerintah daerah.

4.4.4. Desain Kelembagaan Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan.

Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan melalui perencanaan


wilayah (RTRW Kabupaten Pelalawan) telah merencanakan Kawasan Teknopolitan
sebagai kawasan strategis teknopolitan Pelalawan. Karena itu, desain kelembagaan
Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan diarahkan sebagai suatu kawasan khusus
dalam pengembangannya diberikan beberapa insentif dan fasilitas tertentu. Kawasan
strategis Teknopolitan Pelalawan sebagai kawasan khusus yang bersifat multisektor
dalam penanganannya melibatkan banyak stakeholders yang didukung oleh tiga
komponen utama, yaitu pemerintah, dunia usaha (industri) dan perguruan
tinggi/lembaga riset.

Dengan memperhatikan batasan atau definisi, peran dan konsepsi mengenai


kawasan teknopolitan, kondisi lokasi, serta dukungan peraturan yang terkait
sebagaimana diuraikan di atas, dapat ditarik pemahaman bahwapengelolaan kawasan
strategis teknopolitan Pelalawan akan dirumuskan sebagai berikut:

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-92


LAPORAN AKHIR

1. Bentuk Dan Status Organisasi.

A. Orientasi Pembentukan Kawasan StrategisTeknopolitan Pelalawan.

Bentuk organisasi sangat ditentukan dari tujuan dan orientasi pembentukan


organisasi. Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan dibangun untuk melaksanakan
dan mensinergikan kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Pelalawan. Maksud
pembentukannya adalah sebagai upaya percepatan pembangunan kawasan strategis
berbasis ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat, dengan cara meningkatkan peran
Pemerintah Daerah, lembaga pendidikan/lembaga riset, dan pengusaha industri. Hal-
hal spesifik yang mendasari urgensi pembangunan Kawasan Strategis Teknopolitan
Pelalawan adalah :

 Kawasan strategis ini diharapkan mampu menjadi wahana untuk implementasi


sistem inovasi daerah. Untuk itu organisasi ini perlu diberi akses untuk
membangun koordinasi dan kerjasama dengan lembaga pendidikan/lembaga
litbang pusat dan daerah, dan industri;

 Kawasan strategis ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak bagi


lembaga/organisasi yang terkait dengan kawasan strategis teknopolitan, baik
lembaga/organisasi formal maupun non formal;

 Pada saatnya, lembaga yang baru nanti diharapkan mampu mengelola


bisnisnya secara mandiri, dan tidak hanya menggantungkan sumber
pemasukannya dari APBD.

Berdasarkan urgensi pembentukan tersebut, orientasi organisasi kawasan


strategis teknopolitan Pelalawan sebaiknya diprioritaskan sebagai lembaga pelayanan
pendidikan, riset, dan produksi, tetapi untuk memberikan motivasi berkembang, secara
bertahap sesuai dengan kemampuan dan respon pasar, kawasan strategis teknopolitan
Pelalawan ke depan diharapkan mampu memerankan sebagai unit bisnis yang mandiri.

B. Tahapan Pengembangan Organisasi.

Untuk merealisasikan maksud dan tujuan pembentukan Kawasan strategis


teknopolitan Pelalawan, pembentukan organisasi dan kelembagaan operasional
kawasan strategis teknopolitan pelalawan akan dilakukan secara bertahap, sejalan
dengan peningkatan kompetensi, sinergi antar instansi, dan respon pasar. Tahapan
tersebut dijelaskan sebagai berikut :

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-93


LAPORAN AKHIR

1) Tahap I : Pembentukan Tim Kebijakan (Tahun I-II)

a. Tahap ini merupakan fase persiapan dengan membentuk Tim Kebijakan. Tim
Kebijakan ini akan bekerja untuk mengantarkan kelembagaan operasional
Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan ke dalam bentuk yang lebih
definitive. Karena itu status operasional Tim Kebijakan ini diperkirakan masih
dalam bentuk pelaksanaan kebijakan proyek;

b. Karena Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan ditargetkan mampu


mewujudkan keterkaitan antara lembaga pendidikan tinggi, lembaga penelitian
dan pengembangan, dan industri yang merupakan wahana penguatan jaringan
inovasi dan menjadi agen inovasi daerah, maka sebaiknya operasional Tim
Kebijakan tersebut berada di bawah KetuaSekretaris Daerah Kabupaten
Pelalawan;

c. Pada fase ini, kegiatan utamanya adalah menyiapkan legalisasi pembentukan


kawasan strategis teknopolitan Pelalawan, pemantapan program dan kegiatan,
serta konsolidasi sumberdaya. Karena itu kegiatan utamanya adalah
koordinasi, integrasi, dan sinergi dengan semua pihak yang terkait;

d. Pada fase ini, Tim Kebijakanmerupakan gabungan dari unsur-unsur SKPD dan
instansi teknis terkait dalam rangka pengembangan kawasan strategis
teknopolitan Pelalawan;

e. Tim Kebijakan ini diharapkan ditetapkan melalui Keputusan Bupati Pelalawan


pada awal tahun I;

f. Diharapkan fase ini berlangsung selama 1 – 2 tahun.

2) Tahap II : Pelayanan Terstandar (Tahun II/III Beroperasi)

a. Pada tahap ini, menjalankan hasil Tim Kebijakan yaitu pelaksanaan kebijakan
dan program kegiatan, pengembangan infrastruktur dasar, sosialisasi dan
kerjasama dengan pihak terkait dalam kegiatan pendidikan, riset dan
pengembangan serta produksi sudah mulai berjalan;

b. Fokus kegiatan ini adalah untuk pelayanan, dan karena itu bentuk kelembagaan
operasional Kawasan Teknopolitan Pelalawan ini yang dianggap tepat adalah
Unit Pelaksana Teknis (UPT), dibawah binaan SKPD Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Pelalawan;

c. Diharapkan status UPT ini sudah mulai ditetapkan dan disyahkan oleh Bupati
Pelalawan sebelum masuk tahun ke III operasi;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-94


LAPORAN AKHIR

d. Pada tahun ke tiga sejak berstatus UPT, Kawasan strategis teknopolitan


Pelalawan diharapkan sudah mampu:

 Melakukan pelayanan penyusunan DED, kajian terkait lainnya.

 Melakukan pelayanan pembangunan tahap I kawasan strategis teknopolitan


Pelalawan.

e. Apabila target tersebut dalam perjalanannya dapat direalisasikan, maka status


organisasi mulai perlu ditingkatkan ke arah bentuk unit usaha.

3) Tahap III: Transisi ke Bentuk Unit Usaha (Mulai Tahun IV/V


Beroperasi).

a. Tahap ini merupakan fase uji coba, sekaligus transisi bentuk kelembagaan
operasional Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan, dari UPTD ke bentuk
Unit Usaha;

b. Masa transisi diperkirakan sekitar satu tahun, dimulai sejak tahun ke IV


Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan sudah beroperasi;

c. Pada fase ini, karena organisasi akan dijalankan sebagai unit usaha, pembina
dapat menyusun ulang manajemen lembaga kawasan strategis teknopolitan
Pelalawan, dengan tidak menutup kemungkinan untuk memasukkan orang dari
kalangan profesional non PNS;

d. Hasil evaluasi dari fase uji coba ini akan mengarahkan kepada produk dan /
atau jasa apa yang akan dikomersialkan, dan bentuk unit usaha model apa
yang tepat untuk Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan.

e. Alternatif bentuk unit usaha sesuai ketentuan yang berlaku adalah Perusahaan
Daerah (Perusda/BUMD) atau Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Dasar
pembentukan Perusda adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 Tentang
Perusahaan Daerah. Sementara, dasar pembentukan BLUD adalah Peraturan
PemerintahNomor 23 tahun 2005 yang diperjelas dengan Permendagri Nomor
61 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum Daerah;

f. Keduanya mempunyai legalitas untuk menghimpun pendapatan dan mengelola


pendapatan yang diperoleh untuk pengembangan kegiatan usahanya.
Perbedaannya, kalau BLUD tidak berorientasi profit, sementara Perusda
berorientasi profit;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-95


LAPORAN AKHIR

g. Sebagai Perusda/BUMD, manajemen Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan


harus bekerja secara professional, dan diberi kewenangan sepenuhnya untuk
menjalin mitra usaha dengan pihak lain.

4) Tahap IV : Kawasan Strategis Teknopolitan Sebagai Unit Usaha (Mulai


Tahun V Beroperasi)

a. Pada fase ini, kegiatan organisasi Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan,


yaitu unit usaha yang terkait dengan produk dan jasa pilihan, melakukan spin
offterhadap Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan sebagai Kawasan
Ekonomi Khusus (KEK). Pembentukan KEK dapat diusulkan oleh Unit Usaha
atau Pengelola Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan. Dengan demikian
pembentukan kelembagaannya harus mengacu pada Undang-Undang Nomor
39 tahun 2011 tentang Kawasan Ekonomi Khusus.

b. Perubahan bentuk organisasi dan kelembagaan Kawasan Strategis Teknopolitan


Pelalawan akan menyesuaikan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 39
tahun 2011, yaitu:

 Perusda/BUMD sebagai badan usaha berlaku sebagai pengusul dapat


ditetapkan sebagai badan pengelola KEK;

 Selain badan pengelola KEK, juga dibentuk administrator yang ditetapkan


melalui Keputusan Dewan Kawasan, Dewan Kawasan ditetapkan melalui
Keputusan Presiden, dan Dewan Nasional ditetapkan melalui Keputusan
Presiden.

c. Proses pengusulan Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan sebagai KEK


diharapkan sudah bisa dimulai setelah satu tahun masa transisi, atau tahun ke
V sejak Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan beroperasi.

Perkembangan bentuk organisasi Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan


secara ilustratif disampaikan pada Gambar berikut ini.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-96


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.23 Ilustrasi Organisasi Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan

2. Kedudukan dan Struktur Organisasi.

A. Kedudukan.

Untuk mengelola kawasan strategis teknopolitan pelalawan sebagaimana


diuraikan terdahulu dilakukan secara bertahap bahwa pada tahap persiapan dibentuk
Tim Kebijakan, kemudian lembaga pengelolanya dilakukan oleh sebuah unit
pemerintah daerah sebagai pengelolanya, pada prinsipnya didasarkan pada pemikiran
sebagai berikut:

 Pemerintah Daerah Pelalawan sebagai inisiasi menjadi komponen utama


pelaksanaan pembangunan kawasan teknopolitan.

 Pengembangan teknopolitan bersifat multisektor maka Pemda Pelalawan bertindak


sebagai koordinator terhadap stakeholder terkait.

 Kurun waktu persiapan pengembangan teknopolitan sekitar 5 tahun melalui


tahapan-tahapan sebagaimana diuraikan terdahulu.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-97


LAPORAN AKHIR

Gambar 4.24 : Sistem Kelembagaan Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Sesuai bagan di atas, dapat dijelaskan bahwa:

a. Kawasan Teknopolitan Pelalawan merupakan kawasan khusus yang bersifat


multisektor dalam penanganannya melibatkan banyak stakeholders yang
didukung oleh tiga komponen utama, yaitu pemerintah (kabupaten, provinsi,
pusat), dunia usaha dan perguruan tinggi/lembaga riset.

b. Peranan dari masing-masing komponen utama tersebut, yaitu:

 Pemda Pelalawanmembentuk Tim Kebijakan bertanggungjawab atas


pembuatan grand desain, penyediaan lahan, infrastruktur dasar, dan berbagai
kebijakan dan perijinan, penganggaran (keperluan dasar), dan fasilitas tertentu.
Selain itu juga membentuk UPT dibawah tanggungjawab Bappeda sebagai
operasional kawasan strategis teknopolitan Pelalawan.

 Dunia usaha (industri) bertanggungjawab atas sumber daya pengelolaan


kawasan industri.

 Perguruan Tinggi atau Lembaga Riset bertanggung jawab atas sumber


daya manusia dan kegiatan riset.
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-98
LAPORAN AKHIR

B. Struktur Organisasi.

1) Tim Kebijakan.

Tim Kebijakan merupakan lembaga koordinator di tingkat kabupaten. Kegiatan


utamanya adalah menyiapkan legalisasi pembentukan kawasan strategis teknopolitan
Pelalawan, pemantapan program dan kegiatan, serta konsolidasi sumberdaya. Karena
itu kegiatan utamanya adalah koordinasi, integrasi, dan sinergi dengan semua pihak
yang terkait. Tim Kebijakan ini berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati.
Karena itu dalam susunan organisasinya Tim Kebijakan ini diketuai oleh Sekretaris
Daerah Kabupaten Pelalawan. Sedangkan keanggotaannya terdiri dari unsur SKPD
Kabupaten Pelalawan dan dari unsur perguruan tinggi terkait serta kalangan
profesional.

Pembentukan Tim Kebijakan ditetapkan melalui Keputusan Bupati Pelalawan.


Tim Kebijakan Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan mempunyai tugas, yaitu:

a. Menetapkan kebijakan dan langkah strategi untuk percepatan pembentukan


dan pengembangan kawasan teknopolitan Pelalawan.

b. Melakukan pengarahan, pembinaan, dan pengawasan, penggendalian, serta


mengevaluasi terhadap pelaksanaan pengelolaan Kawasan Teknopolitan
Pelalawan.

c. Menetapkan langkah strategis penyelesaian permasalahan dalam


pengelolaan Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

d. Menyiapkan lembaga pengelola kawasan strategis teknopolitan Pelalawan


secara definitif.

Dalam melaksanakan tugasnya, Tim Kebijakan wajib menerapkan prinsip


koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi.

Susunan keanggotaan Tim Kebijakan Kawasan Strategis Teknopolitan


Pelalawan, meliputi:

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-99


LAPORAN AKHIR

TIM KEBIJAKAN KAWASAN STRATEGIS TEKNOPOLITAN


PELALAWAN

Ketua : Sekretaris Daerah Pelalawan.

Sekretaris : Kepala Bappeda Pelalawan.

Anggota :

1. Dinas Pendidikan;

2. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi;

3. Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang;

4. Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air;

5. Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah;

6. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar;

7. Dinas Pertanian dan Perkebunan;

8. Unsur Perguruan Tinggi Terkait; dan

9. Unsur Pengusaha.

2) Unit Pelayanan (Bappeda Pelalawan – UPTD).

Bappeda Pelalawan sesuai tupoksinya melakukan koordinasi pengelolaan


kawasan teknopolitan dengan penambahan tugas sebagai berikut:

 Melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Tim Kebijakan untuk


mengelola dan mengembangkan teknopolitan Pelalawan.

 Melakukan dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas penyusunan grand


desain, penyediaan lahan, infrastruktur dasar, dan berbagai kebijakan dan
perijinan, penganggaran (keperluan dasar), dan fasilitas tertentu.

 Menyampaikan laporan pengelolaan kawasan teknopolitan kepada Tim


Kebijakan setiap akhir tahun.

Untuk mendukung pelaksanaan tugas tambahan Bappeda dalam pengelolaan


kawasan teknopolitan Pelalawan dapat dibentuk sebuah UPTD yang berada
dibawah tanggungjawab Bappeda Pelalawan. Posisi UPTD sejajar dengan bidang-
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-100
LAPORAN AKHIR

bidang dibawah kepala Bappeda. Artinya eselonisasi UPTD merupakan bagian dari
eselon IIIa.

Gambar 4.25: Posisi UPTD dalam Struktur Organisasi Bappeda Kabupaten Pelalawan.

Tugas dan Tanggung Jawab UPTD adalah menyusun dan melaksanakan program /
kegiatan terkait dengan pengelolaan Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Mekanisme kerja kepala UPTD bertanggungjawab terhadap kepala Bappeda


Pelalawan.

Kualifikasi personil yang dibutuhkan untuk kepala UPTD adalah eselon IIIa. Kepala
UPTD dibantu beberapa orang staf yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan,
dengan kualifikasi memiliki kemampuan dan penguasaan keilmuan dibidang
pengelolaan Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Mengacu pada tugas pokok UPTD Kawasan Teknopolitan Pelalawan sebagaimana


diuraikan di atas, maka wujud dari struktur organisasi UPTD Kawasan Teknopolitan
Pelalawan meliputi:

Gambar 4.26: Struktur Organisasi UPTD Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-101


LAPORAN AKHIR

3) Unit Usaha (Perusda/BUMD).

Sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, pilihan


pengembangan bentuk organisasi Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan sebagai
unit usaha adalah (1) Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), atau (2) Perusahaan
Daerah (Perusda/BUMD). Dasar pembentukan BLUD adalah PP Nomor 23 tahun 2005
yang diperjelas dengan Permendagri Nomor 61 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Sementara dasar pembentukan
Perusda adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 Tentang Perusahaan Daerah;

Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah
atau Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah daerah
yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan
barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan
dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.
Suatu satuan kerja instansi pemerintah dapat diizinkan mengelola keuangan dengan
PPK-BLU apabila memenuhi persyaratan substantif, teknis, dan administratif.

Persyaratan substantif tersebut harus terpenuhi apabila tugas dan fungsi SKPD
atau Unit Kerja bersifat operasional dalam menyelenggarakan pelayanan umum yang
menghasilkan semi barang/jasa publik (quasipublic goods). Sedangkan pelayanan
umum ini berhubungan salah satunya dengan pengelolaan wilayah/kawasan
tertentu untuk tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat atau layanan umum.

Sesuai ketentuan, pejabat pengelola BLUD diangkat dan diberhentikan oleh


kepala daerah, dan terdiri atas:

1. Pemimpin;

2. Pejabat keuangan; dan

3. Pejabat teknis.

Pemimpin BLUD bertanggungjawab kepada kepala daerah melalui sekretaris


daerah, sedangkan Pejabat keuangan dan pejabat teknis BLUD bertanggung jawab
kepada pemimpin BLUD. Pengelompokan Bidang Teknis pada organisasi bentuk BLUD
kurang lebih hampir sama dengan kelompok fungsional pada bentuk UPTD pada
Gambar 4.26.

Sementara itu sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962, Perusahaan


Daerah (Perusda) adalah badan hukum daerah yang kedudukannya sebagai badan
hukum diperoleh dengan berlakunya Peraturan Daerah tersebut. Tujuan Perusahaan
Daerah ialah untuk turut serta melaksanakan pembangunan Daerah khususnya dan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-102


LAPORAN AKHIR

pembangunan ekonomi nasional umumnya dalam rangka ekonomi terpimpin untuk


memenuhi kebutuhan rakyat.

Perusahaan Daerah dipimpin oleh suatu Direksi yang jumlah anggota dan
susunannya ditetapkan dalam peraturan pendiriannya. Anggota Direksi adalah warga
negara Indonesia yang diangkat dan diberhentikan oleh Kepala Daerah setelah
mendengar pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Direksi mengangkat dan
memberhentikan pegawai/pekerja Perusahaan Daerah menurut peraturan
kepegawaian yang disetujui oleh Kepala Daerah/pemegang saham/saham prioritet
berdasarkan peraturan pokok kepegawaian Perusahaan Daerah.

4) Spin Off Unit Usaha ke KEK.

Dalam rangka mengembangkanunit usaha kawasan strategis teknopolitan


Pelalawan yang lebih maju kearah peningkatan perekonomian untuk masyarakat, perlu
dilakukan spin off menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK).

Fungsi kawasan ekonomi khusus (KEK) dikembangkan melalui penyiapan


kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk
menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki
nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional.

Pengusulan Kawasan Strategis Teknopolitan Pelalawan menjadi Kawasan


Ekonomi Khusus harus mengacu pada ketentuan UU Nomor 39 Tahun 2011 tentang
Kawasan Ekonomi Khusus, antara lain:

a. Dasar Pemikiran:

 Konsep teknopolitan sebagai KEK karena mempunyai lingkup yang sama dalam
penyelenggaraan perekonomian berbasis teknologi yang memperoleh fasilitas
tertentu.

 Kawasan teknopolitan terletak pada posisi yang dekat dengan jalur


perdagangan dan pelayaran internasional, dan terletak pada wilayah potensi
sumberdaya unggulan.

 Kawasan teknopolitan sesuai dengan RTRW Pelalawan dan tidak berpotensi


mengganggu kawasan lindung.

 Adanya dukungan dari Pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten.

 Kawasan teknopolitan sudah beroperasi.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-103


LAPORAN AKHIR

b. Bentuk Kelembagaan:

 Bentuk lembaga: Dewan Nasional, Dewan Kawasan, Administrator, Badan


Usaha.

 Penyelenggaraan kegiatan usaha di Teknopolitan sebagai KEK oleh Badan


Usaha sebagai pengelola KEK.

 Badan Usaha tersebut dapat berupa:

– Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah;

– Badan Usaha koperasi;

– Badan Usaha swasta; atau

– Badan Usaha patungan antara swasta dan/atau koperasi dengan


Pemerintah, dan/atau pemerintah provinsi, dan/atau pemerintah
kabupaten/kota.

c. Usulan Pembentukan KEK:

 Pembentukan KEK dapat diusulkan oleh : Badan Usaha, Pemkab, Pemprov.

 Pengusulan dapat dilakukan setelah teknopolitan sudah beroperasional.

d. Proses Pengusulan Kawasan Teknopolitan menjadi KEK:

Gambar 4.27 Mekanisme Pengusulan KEK

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-104


LAPORAN AKHIR

4.4.5. Strategi Implementasi Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Untuk menjalankan maksud dan tujuan pengembangan Kawasan Teknopolitan


Pelalawan, strategi yang akan ditempuh adalah :

Keunggulan :  Kawasan berbasis teknologi berdimensi pembangunan


kawasan ekonomi.
teknopolitan  Memiliki satu atau lebih sentra kegiatan iptek yang mampu
Pelalawan. mewujudkan keterkaitan antara lembaga pendidikan tinggi,
lembaga penelitian dan pengembangan, dan industri yang
merupakan wahana penguatan jaringan inovasi.
 Menerapkan sistem manajemen mutu (fasilitas, tatakerja,
produk).
Fasilitas :  Dilengkapi dengan fasilitas memadai untuk kelancaran fungsi
kegiatan pendidikan dan pelatihan, riset, dan proses industri.
 Fasilitas dan lokasinya menyatu, sehingga memungkinkan
bagi terbentuknya ikon sentra iptek (pendidikan, riset, dan
industri).
 Fasilitasnya ditata dan dikelola dengan menarik, sehingga
mampu menciptakan image positif bagi upaya
pengembangan teknopolitan di Kabupaten Pelalawan,
sekaligus sebagai obyek tujuan wisata teknopolitan berbasis
iptek;
Organisasi dan :  Sebagai instrumen untuk pengembangan sistem inovasi
Tatakerja daerah;
 Beroperasi dalam binaan Bappeda Pelalawan, tetapi
bertanggungjawab langsung kepada Bupati Pelalawan;
 Dalam bekerja senantiasa berkoordinasi dengan Tim
Kebijakan;
 Mensinergikan dan mengoptimalkan fungsi dari lembaga
terkait yang ada (fungsi koordinatif);
 Struktur organisasi dibentuk berorientasi kepada produk dan
pelayanan;
Pengembangan :  Fokus kepada penyediaan pendidikan, riset, dan proses
Bisnis produksi serta pengembangan fasilitas pendukung lainnya
dan mempunyai nilai ekonomi tinggi;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-105


LAPORAN AKHIR

 Berorientasi kepada pelayanan dan pencitraan;


 Membangun kemitraan dalam pengembangan bisnis;
Pendanaan :  Diawali dengan APBD murni Pemerintah
KabupatenPelalawan;
 Secara bertahap mengupayakan Cost Sharing dengan pihak
lain, atau dengan Swasta;
 Berupaya untuk mengarah ke swadana;
Bentuk :  Diawali dalam bentuk Tim Kebijakan (tahun ke 1-2);
Kelembagaan  Berstatus definitif dalam bentuk Unit Pelaksana Teknis
Daerah (UPTD) dibawah Bappeda Pelalawan (tahun ke 2-3);
 Secara selektif, aktivitas kegiatan kawasan teknopolitan
Pelalawan dikemas sebagai usaha komersial, dan
Perusda/BUMD atau BLU melakukan spin off dalam bentuk
KEK (mulai tahun ke 5);

4.5. Analisis Sumber Daya Manusia Kawasan Teknopolitan Kabupaten


Teknopolitan.

4.5.1. Pengertian SDM.

Menurut Sayuti Hasibuan (2000, p3), sumber daya manusia adalah semua
manusia yang terlibat di dalam suatu organisasi dalam mengupayakan terwujudnya
tujuan organisasi tersebut. Nawawi (2003, p37) membagi pengertian SDM menjadi
dua, yaitu pengertian secara makro dan mikro. Pengertian SDM secara makro adalah
semua manusia sebagai penduduk atau warga negara suatu negara atau dalam batas
wilayah tertentu yang sudah memasuki usia angkatan kerja, baik yang sudah maupun
belum memperoleh pekerjaan (lapangan kerja). Pengertian SDM dalam arti mikro
secara sederhana adalah manusia atau orang yang bekerja atau menjadi anggota
suatu organisasi yang disebut personil, pegawai, karyawan, pekerja, tenaga kerja, dll.
Jadi, sumber daya manusia (SDM) adalah semua orang yang terlibat yang bekerja
untuk mencapai tujuan perusahaan.

4.5.2. Komponen Sumber Daya Manusia.

Hasibuan (2002, p12) membagi komponen SDM menjadi:

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-106


LAPORAN AKHIR

1. Pengusaha, ialah setiap orang yang menginvestasikan modalnya untuk


memperoleh pendapatan dan besarnya pendapatan itu tidak menentu
tergantung pada laba yang dicapai perusahaan tersebut.

2. Karyawan, ialah penjual jasa (pikiran dan tenaganya) untuk mengerjakan


pekerjaan yang diberikan dan berhak memperoleh kompensasi yang besarnya
telah ditetapkan terlebih dahulu (sesuai perjanjian). Posisi karyawan dalam
suatu perusahaan dibedakan menjadi :

 Karyawan Operasional, ialah setiap orang yang secara langsung harus

mengerjakan sendiri pekerjaannya sesuai dengan perintah atasan.

 Karyawan Manajerial, ialah setiap orang yang berhak memerintah


bawahannya untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dan dikerjakan
sesuai dengan perintah.

3. Pemimpin, ialah seseorang yang mempergunakan wewenang dan


kepemimpinannya untuk mengarahkan orang lain serta bertanggung jawab
atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai suatu tujuan.

4.5.3. Definisi SDM

Sumber Daya Manusia(SDM) adalah manusia yang bekerja dilingkungan suatu


organisasi(disebut juga personil, tenaga kerja, pekerja atau karyawan).

 Sumber Daya Manusia adalah potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi


dalam mewujudkan eksistensinya.

 Sumber Daya Manusia (SDM) adalah potensi yang merupakan asset dan
berfungsi sebagai modal (non material/non finansial) didalam organisasi bisnis,
yang dapat diwujudkan menjadi potensinyata(real) secara fisik dan non fisik
dalam mewujudkan eksistensi organisasi

4.5.4. Jenis dan Klasfikasi SDM

Sesuai fungsinya, didalam perusahaan ada dua macam tenaga kerja :

 Tenaga eksekutif, mengambil keputusan dan melaksanakan fungsi organik


manajemen.

 Tenaga operatif, tenaga terampil, menguasai pekerjaan, sehingga tugas dapat


dilaksanakan dengan baik. Ada tiga tenaga terampil yaitu :

 Tenaga terampil ( skilled labor );


Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-107
LAPORAN AKHIR

 Tenaga setengah terampil ( semi skilled labor );

 Tenaga tidak terampil ( unskilled labor ).

Tenaga Kerja menurut Jenis Kelamin: Terbagai atas tenaga kerja wanita dan
tenaga kerja pria. Pengelompokan tenaga kerja berdasarkan jenis kelamin ini pada
dasarnya agar kualitas produksi bisa terjamin karena adanya kesesuaian antara tenaga
dengan jenis pekerjaannya.

Berdasarkan kualitasnya tenaga kerja terbagi atas:

a. Tenaga kerja terdidik/ahli yaitu tenaga kerja yang memiliki keahlian yang diperoleh
dari jenjang pendidikan formal seperti dokter, notaris, arsitektur dan sebagainya.

b. Tenaga kerja terampil/terlatih yaitu tenaga kerja yang memiliki keterampilan yang
diperoleh dari pengalaman atau kursus-kursus seperti monitor, tukang las.

c. Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terampil yaitu tenaga kerja yang tidak
memiliki kemampuan tertentu. Tenaga kerja tersebut hanya mengandalkan
kemampuan kekuatan fisik seperti Kuli Panggul, Tukang Gali, Tukang Becak.

Sedangkan berdasarkan lapangan pekerjaannya, tenaga kerja dikelompokkan


menjadi:

a. Tenaga kerja profesional adalah tenaga kerja yang umumnya mempunyai


pendidikan tinggi yang menguasai suatu bidang Ilmu Pengetahuan Khusus, seperti
arsitektur, dokter.

b. Tenaga kerja terampil (terlatih) tenaga yang memiliki keterampilan khusus dalam
bidang tertentu yang diperoleh dari pendidikan seperti pendidikan menengah plus
sampai setara Diploma 3, seperti tenaga pembukuan.

c. Tenaga kerja biasa adalah tenaga kerja yang tidak memerlukan keterampilan
khusus dalam melaksanakan pekerjaannya, seperti tukang gali sumur.

4.5.5. Peran SDM dalam Teknopolitan

Salah satu strategi dalam pelaksanaan MP3EI adalah pengembangan kapasitas


SDM dan Iptek yang sesuai di setiap koridor ekonomi. Inisiatif strategik dalam
pelaksanaan strategi ini diantaranya adalah merevitalisasi Puspiptek menjadi science
and technology park, pengembangan industrial park, pembentukan klaster inovasi
daerah untuk pemerataan pertumbuhan, pengembangan industri strategis pendukung
konektivitas, dan penguatan aktor inovasi (SDM dan inovasi). Diharapkan dengan
adanya program strategik pengembangan kapasitas SDM dan Iptek di setiap koridor

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-108


LAPORAN AKHIR

ekonomi sebagaimana terdapat dalam MP3EI, akan dapat menyelesaikan permasalah-


permasalahan yang berkaitan dengan pembangunan iptek nasional.

Teknopolitan merupakan suatu kawasan khusus yang dibangun berdasarkan


komitmen memiliki satu atau lebih sentra kegiatan iptek yang mampu mewujudkan
keterkaitan antara lembaga pendidikan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan,
dan industri yang merupakan wahana penguatan jaringan inovasi dalam kerangka
sistem inovasi. Atau dalam pengertian yang lebih sederhana Teknopolitan adalah
adalah suatu kawasan khusus yang berfungsi sebagai wahana jaringan antara sentra-
sentra kegiatan iptek, lembaga pendidikan tinggi, lembaga litbang, dan industri, dalam
melakukan aktivitas-aktivitas penguatan sistem inovasi.

Pembangunan wilayah yang mengusung konsep teknopolitan saat ini sedang


berjalan. Konsep teknopolitan menjadi pilihan daerah untuk mempercepat
pertumbuhan ekonomi wilayah. Kabupaten Pelalawan saat ini sedang mengadopsi
konsep teknopolitan untuk membangun wilayahnya. Tetapi pembangunan teknopolitan
ini belum didukung oleh pengembangan SDM, terutama SDM di sekitar pembangunan
kawasan teknopolitan.

Peranan SDM dalam mengembangkan kawasan teknopolitan :

 Linkage Academic-Business (Industry)-Government.

 Melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan yang berorientasi pada


penemuan baru, inovasi dan komersialisasi teknologi.

 SDM mau maju dan bekerja keras untuk membangun teknopolitan.

 Memberdayakan masyarakat melalui pendidikaan, pelatihan dan pelibatan


dalam pemanfaatan dan pengembangan iptek.

 Menjadi pusat transfer teknologi kepada masyarakat.

 Mendorong perkembangan ekonomi dan budaya berbasis pengetahuan dan


teknologi.

Berbagai cara dapat ditempuh untuk meningkatkan kompetensi SDM yaitu


melalui:

 Pendidikan dan Pelatihan. Pelatihan dapat dilakukan secara internal maupun


bekerjasama dengan pihak lain.

 Coaching, Counselling, dan mentoring.

 Benchmarking.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-109


LAPORAN AKHIR

 On the job training.

 Magang.

 Delegasi Tugas.

4.5.6. Profil SDM, Sosial Budaya dan Sapras Pendidikan.

A. Profil SDM Kabupaten Pelalawan.

Salah satu masalah yang perlu diperhatikan dalam proses pembangunan di


kabupaten Pelalawan adalah Sumber Daya Manusia atau kependudukan, yang meliputi
antara lain jumlah, komposisi, dan distribusi penduduk.

a. Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk.

Jumlah penduduk kabupaten Pelalawan pada akhir tahun 2010 sebanyak 303.021
jiwa dimana 159.247 jiwa (52,55%) merupakan laki-laki dan perempuan sebanyak
143.774 jiwa atau 47,45%, sedangkan jumlah penduduk pada pertengahan tahun
2011 berjumlah 321.947 jiwa, terdiri dari 169.282 jiwa laki-laki (52,58%) dan
152.665 jiwa perempuan (47,42%). Pertumbuhan penduduk kabupaten Pelalawan
dari tahun 2000 sampai dengan pertengahan tahun 2011 dapat dilihat pada
gambar berikut ini :

350,000
321,947
300,000 303,021
280,197285,813
271,662
250,000 256,644

223,256230,665
208,373 Laki-laki
200,000
179,199 Perempuan
150,000 Jumlah

100,000

50,000

-
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Gambar 4.28 Laju Pertumbuhan Penduduk Kab. Pelalawan Tahun 2000-2011

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-110


LAPORAN AKHIR

Rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun dalam kurun waktu 2002 –
2011 adalah 6,73 persen. Angka tersebut mencerminkan laju pertumbuhan penduduk
yang sangat tinggi, jumlah penduduk kabupaten Pelalawan meningkat hampir dua kali
lipat selama periode sepuluh tahun. Tingginya laju pertumbuhan penduduk tersebut
dapat dilihat pada gambar 4.24, lonjakan jumlah penduduk mulai terjadi setelah
pemekaran kabupaten Pelalawan yang terpisah dari kabupaten Kampar.

b. Sebaran Penduduk.

Sebagian besar penduduk Pelalawan berdomisili di Ibukota kabupaten yaitu di Kec.


Pangkalan Kerinci sebanyak 23,88%, sisanya menyebar di kecamatan-kecamatan
lainnya. Kecamatan Bunut paling sedikit dihuni dengan jumlah penduduk 12.505
jiwa (3,90%).

Langgam
6,09 4,48 Pangkalan Kerinci
5,5
4,07 7,33
Bandar Sei Kijang
5,06 23,88 Pangkalan Kuras
3,9 Ukui
8,3
Pangkalan Lesung
10,55 14,89
Bunut
5,95
Pelalawan
Bandar Petalangan
Kuala Kampar

Gambar 4.29 Distribusi Penduduk di kabupaten Pelalawan Menurut Kecamatan


Keadaan Pertengahan Tahun 2011

c. Rata-rata Anggota Rumah Tangga.

Jumlah rumah tangga di kabupaten Pelalawan pada pertengahan tahun 2011


sebanyak 83.648 rumah tangga atau rata-rata 4 jiwa per rumah tangga. Seperti
halnya jumlah penduduk jumlah rumah tangga terbanyak terdapat di Kecamatan
Pangkalan Kerinci yaitu sebanyak 20.682 rumah tangga disusul Kec. Pangkalan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-111


LAPORAN AKHIR

Kuras sebanyak 12.427 rumah tangga. Sementara rumah tangga paling sedikit di
kecamatan Bunut yaitu sebanyak 3.311 rumah tangga.

d. Rasio Jenis Kelamin.

Rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Pelalawan pada pertengahan tahun 2011
sebesar 111. Hal ini menunjukkan jumlah penduduk laki-laki lebih besar daripada
perempuan. Berdasarkan kecamatan, Kecamatan Ukui memiliki rasio jenis kelamin
terbesar bila dibandingkan dengan kecamatan lain di kabupaten Pelalawan, yaitu
sebesar 116. Sedangkan kecamatan yang memiliki rasio jenis kelamin terkecil
adalah kecamatan Bandar Petalangan, yaitu sebesar 106 yang mencerminkan
perbandingan penduduk laki-laki dan perempuan yang relatif seimbang di
kecamatan Bandar Petalangan.

e. Kepadatan Penduduk.

Luas wilayah kabupaten Pelalawan 13.924,94 km2 dengan kepadatan penduduk


pertengahan tahun 2002 adalah 14 jiwa per km2 kemudian pada pertengahan
tahun 2011 meningkat hampir dua kali lipat menjadi 23 jiwa per km2. Kecamatan
terpadat adalah Kec. Pangkalan Kerinci sebesar 397 orang per km2 dan yang
terjarang adalah Kec. Teluk Meranti yaitu hanya tiga orang per km2.

f. Komposisi Penduduk.

Kabupaten Pelalawan memiliki jumlah penduduk terbesar pada kelompok usia


produktif. Dari 321.947 penduduk kabupaten Pelalawan pada pertengahan tahun
2011 sebanyak 206.696 jiwa (64,20 persen) yang terdiri dari 109.902 jiwa laki-laki
dan 96.794 jiwa perempuan merupakan penduduk dengan usia produktif (15 -64
tahun).

Tabel 4.25 Penduduk Kabupaten Pelalawan menurut Jenis Kelamin dan Kelompok
Umur Produktif Keadaan Pertengahan Tahun 2011

Kelompok Jenis Kelamin Jumlah


Umur Laki-laki Perempuan
0–4 21.635 20.466 42.101
5 – 14 35.200 32.959 68.159
15 – 44 91.473 82.286 173.759
45 – 64 18.429 14.508 32.937
65+ 2.545 2.446 4.991
Jumlah 169.282 152.665 321.947
Sumber : Proyeksi Penduduk SP 2011

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-112


LAPORAN AKHIR

Penduduk dalam usia sekolah dikelompokkan menjadi 4 kelompok, Sekolah


Dasar/sederajat (7 – 12 tahun), SMP/sedeajat (13 – 15 tahun), SMA/sederajat (16 –
18 tahun) dan Perguruan Tinggi (19 – 24 tahun). Komposisi penduduk usia sekolah di
kabupaten Pelalawan pada tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut :

Dilihat dari kelompok umur penduduk Kab. Pelalawan tengah berada dalam
Bonus Demografi, dimana kelompok usia produktif jauh lebih besar dari kelompok usia
non prduktif, yaitu 64,29%. Pembagian kelompok umur secara rinci dapata dilihat pada
gambar berikut

1,55%

34,25%

0 - 14

64,20% 15 - 64
65+

Sumber: BPS, 2011

Gambar 4.30 Distribusi Penduduk Kabupaten Pelalawan Menurut Kelompok Umur


Produktif Tahun 2010

Sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk di kabupaten Pelalawan, komposisi


penduduk usia kerja, juga akan mengalami peningkatan. Keadaan tersebut jika tidak
diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang memadai akan
mengakibatkan meningkatnya angka pengangguran.

Komposisi tenaga kerja dapat tercerminkan dari besaran TPAK (Tingkat


Partisipasi Angkatan Kerja). Indikator ini menunjukkan besaran relatif dari pasokan
tenaga kerja (labour supply) yang tersedia di pasar. Tahun 2010 TPAK Pelalawan
tercatat 61,36 %, artinya lebih dari pertiga penduduk Pelalawan berada pada pasar

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-113


LAPORAN AKHIR

tenaga kerja. Sedangkan Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) selalu meningkat selama
tiga tahun terakhir. Hal ini menunjukkan peluang di pasar tenaga kerja semakin
terbuka.

Tabel 4.26 Statistik Ketenagakerjaan Kabupaten Pelalawan 2008-2010

Uraian 2008 2009 2010


TPAK (%) 64,41 66,92 61,36
TPT (%) 6,75 6,41 4,69
TKK (%) 93,63 93,85 95,31
Penduduk Usia Produktif (%) 64,6 64,2 63,9
Angka ketergantungan 1,82 1,82 1,77
Sumber : Sakernas, 2010

Angka ketergantungan terus mengalami penurunan sejak tiga tahun terakhir.


Tahun 2010 angka ketergantungan tercatat 1,77 berkurang bila dibandingkan tahun
2008 yang mencapai 1,82. Artinya beban yang ditanggung oleh penduduk pada usia
produktif (15 – 64 tahun) cenderung semakin ringan. Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT) menunjukkan grafik yang menurun sejak tahun 2008.

Sumber : Sakernas (diolah)

Gambar 4.31. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Pelalawan (%)

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-114


LAPORAN AKHIR

Pada tahun 2010 pencari kerja yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten
Pelalawan berjumlah 10.941 jiwa terdiri dari 5.673 laki-laki (51,85%) dan perempuan
5.268 orang (48,15%). Jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar
pencari kerja yang terdaftar adalah tamatan SMU atau juga sederajat sebanyak 1.410
jiwa (12.89%) dan tamatan Sarjana Muda (D1, D2 atau D3) yang mencapai 5.306 jiwa
(48,49%). Besarnya jumlah pencari kerja tamatan SMU dan yang sederajat serta D1-
D3 mengindikasikan bahwa perlu diciptakan lapangan kerja yang mampu menampung
pekerja dengan kualifikasi tamatan SMU hingga D3.

 Tingkat Pendidikan.

Menurut UU nomor 20 tahun 2003 bab 1 ayat 1 dinyatakan bahwa pendidikan


adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri,
kepribadian kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya
dan masyarakat. Pendidikan adalah asas, dasar atau pondasi yang memperkuat
dan memperkokoh dunia pendidikan rangka untuk menciptakan pendidikan yang
berkualitas dan bermutu.
Penddikan menjadi faktor utama/penting dalam mempersiapkan sumber daya
manusia khususnya dalam proses pembangunan suatu daerah> Begitu juga
dengan Kabupaten Pelalawan. Keseriusan pemerintah dalam memajukan
pendidikan tercermin daru usaha untuk menyediakan sarana dan prasana
pendidikan seperti gedung sekolah, kelas, penydiaan buku termasuk peningkatan
kemampuan guru.
Angka rata-rata sekolah di kabupaten Pelalawan pada pertengahan tahun 2011
dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.27 Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Usia Sekolah di Kabupaten
Pelalawan Tahun 2010

Kelompok Jenjang Jenis Kelamin Jumlah


Umur Pendidikan Laki-laki Perempuan
7 – 12 SD/Sederajat 19,005 20,865 39,870
13 – 15 SMP/Sederajat 10,206 8,196 18,402
16 – 18 SMA/Sederajat 6,473 6,573 13,046
19 – 24 Perguruan Tinggi 16,885 16,679 33,564
Jumlah 52,572 52,317 104,887
Sumber : BPS, Data Susenas 2010

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-115


LAPORAN AKHIR

Lama sekolah selama tiga tahun terakhir berada di kisaran 6 – 8 tahun. Ini
menandakan masih membutuhkan usaha keras dari semua pihak untuk mencapai
pendidikan dasar 9 tahun. Sedangkan untuk angka melek huruf tahun 2009 cukup
tinggi. Persentasenya mencapai 98,39% untuk laki-laki dan 96,52 untuk
perempuan.

 Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Dalam konsep pembangunan manusia, pembangunan seharusnya dianalisis serta


dipahami dari sudut manusianya, bukan hanya dari pertumbuhan ekonominya.
Pembangunan pada dasarnya untuk meningkatkan kesejahteran penduduk secara
keseluruhan dan berkesinambungan. Pembangunan harus mengutamakan
penduduk sebagai pusat perhatian. Pembangunan dimaksudkan untuk
memperbesar pilihan-pilihan bagi penduduk, tidak hanya untuk meningkatkan
pendapatan mereka. Oleh karena itu, konsep pembangunan manusia harus
terpusat pada penduduk secara keseluruhan, dan bukan hanya pada aspek
ekonomi saja. Pembangunan manusia bukan hanya memperhatikan pada upaya
meningkatkan kemampuan (kapalitas) manusia tetapi juga pada upaya-upaya
memanfaatkan kemampuan manusia tersebut secara optimal.

Dengan demikian konsep pembangunan manusia harus menjadi semacam model


pembangunan tentang penduduk, untuk penduduk, dan oleh penduduk.

- Tentang penduduk; berupa investasi di bidang pendidikan, kesehatan dan


pelayanan sosial lainnya;

- Untuk penduduk; berupaya penciptaan peluang kerja, melalui perluasan


(pertumbuhan) ekonomi dalam negeri; dan

- Oleh penduduk; berupa untuk memperkuat (empowerment) penduduk


dalam menentukan harkat manusia dengan cara berpartisipasi dalam proses
politik dan pembangunan.

Menurut United Nation Development Program (UNDP), pembangunan manusia


salah satunya berupa suatu proses untuk memperbesar pilihan-pilihan bagi
manusia (“a process of enlarging people’s choices”). Ini berarti fokus
pembangunan adalah penduduk karena penduduk adalah kekayaan nyata suatu
negara Konsep pembangunan tersebut pada dasarnya mencakup dimensi
pembangunan yang sangat luas. Lebih luas dari definisi pembangunan yang hanya
menitik beratkan pada pertumbuhan ekonomi.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-116


LAPORAN AKHIR

Dalam Human Development Report (HDR) tahun 1990 yang mengatakan


pembangunan manusia (productivity), pemerataan (equity), kesinambungan
(sustainability) dan pemberdayaan (empowerment). Dengan peningkatan keempat
komponen tersebut maka manusia akan menjadi agen pertumbuhan yang efektif.

IPM merupakan salah satu indikator yang dapat memberikan gambaran umum dari
pencapaian pembangunan dan penentuan priorotas-prioritasnya yang dicapai oleh
suatu wilayah. Pencapaian pembangunan yang dimaksud adalah pembangunan
yang berwawasan manusia yaitu pembangunan yang bertujuan untuk memperluas
peluang. Hal ini sejalan dengan strategi pembangunan kabupten Pelalawan yaitu
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mutu pendidikan, serta
meningkatkan peran serta masyarakat dalam proses pembangunan sehingga salah
satu misi pembangunan kabupten Pelalawan untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat dapat terwujud dengan meningkatkan kualitas pelayanan dalam bidang
pendidikan dan kesehatan.

Pembangunan pendidikan di kabupaten Pelalawan membutuhkan proses panjang


untuk meningkatkan daya saing masyarakat kabupaten Pelalawan. Berbagai
terobosan program dan kegiatan dilaksanakan sampai dengan tahun 2010 telah
memberikan hasil yang menggembirakan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya
pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kabupaten Pelalawan yang
semakin meningkat setiap tahunnya.

IPM merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan
masyarakat yang dianggap sangat mendasar yaitu bidang kesehatan yang diukur
dengan angka harapan hidup, bidang pendidikan yang diukur dengan angka melek
huruf dan rata-rata lama sekolah serta ekonomi yang diukur dengan paritas daya
beli.

Hasil penghitungan angka harapan hidup kabupaten Pelalawan menghasilkan


kesimpulan bahwa penduduk di kabupaten Pelalawan memiliki peluang hidup pada
tahun 2010 hingga umur 68,82 tahun. Angka harapan hidup ini berlaku pada
manusia yang masih berumur nol tahun atau baru lahir. Dengan kata lain, seorang
bayi yang baru lahir di kabupaten Pelalawan pada tahun 2010 memiliki harapan
untuk hidup hingga 68,82 tahun ke depan.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kabupaten Pelalawan, dapat dilihat pada
tabel berikut ini :

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-117


LAPORAN AKHIR

Tabel 4.28 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Pelalawan

Uraian 2006 2007 2008 2009 2010

Angka Harapan Hidup (AHH), Tahun 68,3 68,7 68,6 68,7 68,82

Angka Melek Huruf (AMH), % 93,6 94,0 97,6 98,4 98,46

Rasio Lama Sekolah (RLS), Tahun 7,3 7,7 7,9 8,0 8,21

Paritas Daya Beli 615,7 618,4 623,7 628,2 631,0

IPM 70,0 70,8 72,1 72,7 73,18

Angka Melek Huruf (Lit) dan Rata-rata Lama Sekolah (MYS) diharapkan dapat
mencerminkan tingkat pengetahuan dan ketrampilan penduduk. Di kabupen
Pelalawan sebesar 98,46% penduduk dapat membaca huruf latin dan/atau huruf
lainnya. Sementara rata-rata lama sekolah penduduk kabupetn Pelalawan adalah
selama 8,21 tahun. Sebagai perbandingan, angka melek huruf dan rata-rata lama
sekolah pada tahun 2009, berturut-turut sebesar 98,44% dan 7,85 tahun.

Kemampuan daya beli masyarakat kabupaten Pelalawan pada tahun 2010


adalah sebesar Rp. 630.990,- per orang setiap bulannya. Angka tersebut lebih
tepat disebut sebagai konsumsi per kapita per bulan yang telah disesuaikan,
artinya daya beli yang dimiliki oleh rata-rata seorang penduduk di kabupaten
Pelalawan pada tahun 2010 adalah sebesar Rp. 630.990,- setiap bulannya, dimana
nilai tersebut masih jauh dibawah pendapatan per kapita yang dihitung dari PDRB
kabupaten Pelalawan yaitu sebesar Rp. 831.682,- per bulan (masih dibawah Upah
Minimum Kabupaten/UMK tahun 2010 sebesar Rp. 1.020.000,- per bulan.

Tingkat pencapaian pembangunan manusia di kabupaten Pelalawan yang


digambarkan oleh indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2010 telah terjadi
peningkatan jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2009. IPM Pelalawan tahun
2010 sebesar 73,18 sementara IPM tahun 2009 sebesar 72,69.

Peningkatan IPM tersebut menandakan arah pembangunan daerah yang mulai


berpihak kepada peningkatan kualitas hidup manusia di kabupaten Pelalawan. Akan
tetapi peningkatan indeks ini masih rendah bila dibandingkan dengan daerah lain di
Indonesia, sehingga tidak sungguh-sungguh mencerminkan suatu peningkatan
prestasi. Sebab otonomi pembangunan daerah pada era globalisasi membutuhkan
peningkatan kualitas sumber daya manusia yang juga sanggup untuk bersaing
dengan daerah lain.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-118


LAPORAN AKHIR

B. Profil Sosial Budaya Kabupaten Pelalawan.

Profil Sosial Budaya Kabupaten Pelalawan mencakup pendidikan, kebudayaan


dan olah raga, kesehatan, keluarga berencana, agama dan sosial lainnya.

a. Pendidikan.

Pendidikan mempunyai peranan penting bagi pembangunan di Kabupaten


Pelalawan dan merupakan suatu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan
ketrampilan sumber daya manusia di Kabupaten Pelalawan. Kualitas sumber daya
manusia sangat tergantung dari kualitas pendidikan, guna meningkatkan kualitas
pendidikan ini dibutuhkan sarana pendidikan dan penyediaan guru yang memadai.

Selain tersedianya sarana pendidikan berupa gedung sekolah, keberhasilan


pembangunan sekolah, keberhasilan pembangunan pendidikan juga ditentukan
dengan ketersediaan tenaga pengajar atau guru. Analisis lebih lanjut tentu tidak
hanya melihat ketersediaan guru tapi juga kualitas dan tingkat kemampuan
mentransfer ilmu ke anak didik. Sampai saat ini sarana pendidikan yang ada
adalah Taman Kanak-Kanak (TK) negeri 120 buah dengan jumlah guru sebanyak
439 0rang dan jumlah murid TK sebanyak 5.385 orang. Sekolah dasar (SD) Negeri
dan Swasta berjumlah 211 unit dengan jumlah guru sebanyak 2.875 orang dan
murid sebanyak 38.532 orang. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri
dan Swasta sebanyak 66 unit dengan jumlah guru sebanyak 1.068 orang dan
murid sebanyak 1.068 orang, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) berjumlah 16
unit dengan jumlah guru sebanyak 441 orang dan murid sebanyak 4.648 orang.
Sementara sekolah menengah Kejuruan (SMK) berjumlah 13 unit dengan jumlah
guru sebanyak 368 orang dan murid sebanyak 3.218 orang.

b. Kesehatan.

Pembangunan di bidang kesehatan bertujuan agar semua lapisan masyarakat


memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata. Dengan
meningkatkan pelayanan ini diharapkan agar dapat meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Upaya yang dilakukan kabupaten Pelalawan untuk dapat
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat antara lain seperti penyediaan
berbagai fasilitas kesehatan (puskesmas, puskesmas pembantu, tenaga media dan
lain-lain). Sara kesehatan yang ada di Kabupaten Pelalawan tercatat sampai
dengan tahun 2010 berupa rumah sakit negeri 1 buah, rumah sakit swasta 3
buah, praktek dokter 52 buah, praktek dokter gigi 15 buah, balai pengobatan 52

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-119


LAPORAN AKHIR

buah, rumah bersalin 10 buah, laboratorium kesehatan 15 buah, Puskesmas


Pembantu 40 buah, Poskesdes dan Polindes 34 buah serta Posyandu 336 buah.

c. Agama.

Sesuai dengan falsafah negara, pelayanan kehidupan beragama dan kepercayaan


terhadap Tihan YME senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan untuk membina
kehidupan masyarakat dan mengatasi berbagai masalah sosial budaya yang
mungkin dapat menghambat kemajuan di Kabupaten Pelalawan. Umtuk
meningkatkan kehidupan beragama dan ke[ercayaan terhadap Tuhan YME
pemerintah Kabupaten Pelalawan telah banyak membangun tempat-tempat ibadah
yang setiap tahunnya cenderung meningkat.

d. Rumah ibadah.

Rumah ibadah yang ada di Kabupaten Pelalawan sampai dengan tahun tahun
2011 :

1. Masjid 378 buah

2. Mushalla 642 buah

3. Gereja 72 buah dan

4. Lainnya 5 buah

Sedangkan jumlah pemeluk agama yang ada di Kabupaten Pelalawan :

1. Islam 286.341 orang

2. Kristen 18.080 orang

3. Katolik 5.351 orang

4. Hindu 294 orang

5. Budha 1.187 orang

6. Lainnya 473 orang

e. Budaya.

Sebagai bekas sebuah kerajaan, Kabupaten Pelalawan kaya akan aktifitas seni dan
budaya masih dipertahankan dan digelar pada kegiatan-kegiatan tertentu baik
pada pemberian gelar pembesar maupun penobatan lainnya sesuai dengan yang
telah diwariskan oleh sultan-sultan terdahulu. Berbagai aktifitas kesenian tumbuh
dan tetap dilestarikan dikalangan masyarakatnya, seperti:

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-120


LAPORAN AKHIR

 Seni Sastra : Nyanyian Panjang, Pantun, Bidal, Menumbi.

 Seni Musik : Calempung, Gambus, Kompang, Gendang, Nafiri, Ketobang,


Gambang.

 Seni Tari : Zapin, Joget, Begondang, Belian, Bedowo, Silat Payung.

C. Sarana dan Prasarana Pendidikan Sampai dengan SLTA.

Sekolah adalah tempat dilahirkannnya SDM berkualitas, oleh karena itu


ketersedia sekolah sudah menjadi kewajiban pemerintah, sebagaimana diamnatkan
dalam UUD’45, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Secara umum prasarana
sekolah di Kabupaten Pelalawan telah tersedia di setiap kecamatan mulai SD sampai
SLTA, namun sampai saat ini untuk tingkat Diploma dan Sarjana belum ada.

Selain tersedianya sarana pendidikan berupa gedung sekolah, keberhasilan


pembangunan sekolah, keberhasilan pembangunan pendidikan juga ditentukan dengan
ketersediaan tenaga pengajar atau guru. Analisis lebih lanjut tentu tidak hanya melihat
ketersediaan guru tapi juga kualitas dan tingkat kemampuan mentransfer ilmu ke anak
didik. Sampai saat ini sarana pendidikan yang ada adalah Taman Kanak-Kanak (TK)
negeri 120 buah dengan jumlah guru sebanyak 439 0rang dan jumlah murid TK
sebanyak 5.385 orang. Sekolah dasar (SD) Negeri dan Swasta berjumlah 211 unit
dengan jumlah guru sebanyak 2.875 orang dan murid sebanyak 43.111 orang. Sekolah
Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri dan Swasta sebanyak 66 unit dengan jumlah
guru sebanyak 1.063 orang dan murid sebanyak 11.674 orang, Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas (SLTA) berjumlah 19 unit dengan jumlah guru sebanyak 511 orang dan
murid sebanyak 4.874 orang. Sementara sekolah menengah Kejuruan (SMK) berjumlah
13 unit dengan jumlah guru sebanyak 368 orang dan murid sebanyak 3.218 orang.

Tabel 4.29 Banyaknya Sekolah menurut Kecamatan dan Tingkat Sekolah di Kab.
Pelalawan Tahun 2010

Kecamatan Sekolah Negeri


SD SMP SMU SMK
Langgam 17 4 2 0
Pangkalan Kerinci 14 3 3 1
Bandar Sei Kijang 8 2 1 1
Pangkalan Kuras 28 7 2 1
Ukui 17 5 1 1
Pangkalan Lesung 14 3 1 1

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-121


LAPORAN AKHIR

Kecamatan Sekolah Negeri


SD SMP SMU SMK
Bunut 14 2 1 1
Pelalawan 14 5 1 0
Bandar Petalangan 11 1 1 0
Kuala Kampar 24 7 1 1
Kerumutan 21 3 1 1
Teluk Meranti 14 4 1 0
Jumlah 196 46 16 8
Sumber : Kecamatan Dalam Angka 2011.

Lulusan sekolah dari SD s/d SLTA yang tidak melanjutkan sekolah akan
memasuki dunia kerja. Akan tetapi sekolah yang lulusannya dipersiapkan untuk masuk
dunia kerja adalah SMK, sehingga jumlah lulusan SMK adalah jumlah angkatan kerja
yang bisa menjadi sumber tenaga kerja dari kawasan teknopolitan. Berikut ini adalah
jumlah murid menurut tingkat sekolah.

Tabel 4.30 Jumlah Murid Menurut Kecamatan dan Tingkat Sekolah Di Kabupaten
Pelalawan Tahun 2010

Kecamatan Sekolah Negeri


SD SMP SMU SMK
Langgam 3.354 701 310 0
Pangkalan Kerinci 7.192 1.802 1.512 1.375
Bandar Sei Kijang 2.185 617 178 232
Pangkalan Kuras 7.042 2.236 960 134
Ukui 4.142 1.052 219 126
Pangkalan Lesung 2.289 545 220 383
Bunut 1.539 350 277 159
Pelalawan 1.683 233 68 0
Bandar Petalangan 1.803 315 242 0
Kuala Kampar 2.613 821 322 103
Kerumutan 2.670 659 183 173
Teluk Meranti 2.020 491 157 0
Jumlah 38.532 9.822 4.648 2.685
Sumber : Kecamatan Dalam Angka 2011

D. Perguruan Tinggi Pertanian dan Perkebunan di Indonesia.

Perkembangan industri CPO di tanah air terus meningkat sejalan dengan


meningkatnya luas areal perkebunan kelapa sawit, sejalan dengan itu perkembangan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-122


LAPORAN AKHIR

lembaga pendidikan baik tingkat menengah maupun tinggi juga terus meningkat, akan
tetapi peningkatan pertumbuhan lembaga pendidikan yang dikhususkan pada industri
kelapa sawit tidak sepesat perkembangan pertumbuhan industri sawit, hal ini ditandai
dengan masih banyaknya rekruitmen tenaga lapangan perkebunan yang berasal dari
perguruan tinggi umum, untuk selanjutnya dilakukan pelatihan khusus perkebunan
kelapa sawit. Demikian juga dengan kebutuhan tenaga kerja di sektor industri
pengolahan kelapa sawit. Beberapa perguruan tinggi yang mengkhususkan melakukan
pendidikan di bidang industri kelapa sawit dan turunannya adalah sebagai berikut:

Tabei 4.31 Perguruan Tinggi Pertanian dan Perkebunan di P. Jawa dan Sumatera

No. Perguruan Tinggi Kota Jurusan


/Status
I. Sekolah Kedinanasan
1. Pendidikan Teknologi Medan,  Kimia Industri
Kimia Industri Medan Sumatera Utara  Mekanik Industri
 Tenaga Penyuluh Lapangan
2. Sekolah Tinggi Medan,
Penyuluhan Pertanian Sumatera Utara
Medan (STPP Medan); D4
II. Swasta
1. Sekolah Tinggi Ilmu Medan  Budidaya Perkebunan
Pertanian Agribisnis  Teknologi Pengolahan Hasil
Perkebunan (STIP-AP) Perkebunan
2. Politeknik LPP Yogyakarta: Yogyakarta  Budidaya Tanaman Perkebunan
D3  Teknik Mesin
 Teknik Kimia
 Akuntansi:
3. Institut Stiper Yogyakarta  Fakultas Pertanian
 Fakultas Teknologi Pertanian

E. Analisis Kebutuhan Sumberdaya Manusia Teknopolitan.

Merujuk pada definisi yang telah dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT), Teknopolitan berfungsi menjadi kawasan untuk
pengelolaan berbagai kegiatan, pelayanan dan fasilitas terkait dengan riset industri,
pengembangan hasil riset/ eksperimen, dan transfer teknologi. Semua ini dilaksanakan
dalam kerangka jaringan inovasi antar aktor akademisi, bisnis, dan pemerintah (ABG)
yang berlokasi di kawasan tertentu dan didukung oleh Pemerintah Daerah bekerjasama
dengan perguruan tinggi, pusat-pusat penelitian atau pusat-pusat unggulan. Oleh
karena itu, semenjak tahap awal kegiatan/perencanaan perlu dilakukan sosialisasi
kepada pihak-pihak terkait tersebut.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-123


LAPORAN AKHIR

Sebagai langkah awal dalam menganalisis kebutuhan SDM kawasan


teknopolitan adalah penentuan batasan lingkup kegiatan yang akan dikembangkan di
teknopolitan tersebut untuk menghasilkan produk utama kawasan yang berupa produk
teknologi tinggi tertentu. Berdasarkan keunggulan daerahnya, maka telah
dicanangkan Industri Hilir Sawit (IHS) sebagai penghasil produk utama yang akan
dikembangkan di kawasan teknopolitan di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang dituangkan dalam Kebijakan
Pembangunan Industri Nasional, Pemerintah telah menetapkan bahwa industri
berbasis CPO (crude palm oil / minyak sawit) sebagai prioritas ”yang
pengembangannya dapat dilakukan dengan pendekatan klaster” (Roadmap Industri
Pengolahan CPO, 2009).

Kementerian Perindustrian mengelompokan industri CPO kedalam tiga


kelompok:

1) Kelompok Industri Hulu, yaitu perkebunan kelapa sawit yang menghasilkan buah
kelapa sawit atau tandan buah segar. Selanjutnya tandan buah segar diproses
menjadi minyak kelapa sawit (CPO) dan minyak inti sawit (palm kernel oil-PKO).
Kedua jenis minyak sawit tersebut merupakan output dari industri hulu dan
menjadi input bagi kelompok industri antara.

2) Kelompok Industri Antara meliputi antara lain industri olein, stearin, oleokimia
dasar (fatty acis, fatty alcohol, fatty amines, methyl esther, glycerol). Produk-
produk dari industri antara menjadi input untuk industri hilirnya.

3) Kelompok Industri Hilir. Dari 100 jenis produk hilir yang telah dapat dihasilkan pada
skala industri, baru 23 jenis yang sudah diproduksi secara komersial di Indonesia
(untuk pangan dan non pangan).

Produk hilir kategori pangan adalah minyak goreng, minyak salad, shortening,
margarine, cocoa butter substitute (CBS), vanaspati, vegetable ghee, food
emulsier, fat powder dan es krim.

Produk hilir kategori non pangan antara lain surfaktan, bio diesel dan oleokimia
turunan lainnya.

Dalam kajian ini pembahasan tentang kelompok industri antara digabungkan


kedalam kelompok industri hilir (industri turunan CPO), sehingga pengelompokan
disederhanakan menjadi menjadi kelompok industri hulu dan industri hilir sawit. Dari
prospek potensi bahan baku, industri oleokimia (oleochemica)l merupakan green
industry dengan bahan baku terbarukan dapat di dorong menjadi industri yang besar.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-124


LAPORAN AKHIR

Produk yang dihasilkan merupakan produk yang ramah lingkungan dan baik untuk
dikonsumsi masyarakat Indonesia.

Walaupun pada saat ini kapasitas terpasang industri oleokimia dasar dunia jauh
lebih besar dari kebutuhan oleokimia dunia, namun permintaan dunia akan produk
oleokimia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kenaikan permintaan oleokimia dunia
dengan laju rata-rata sekitar 5% pertahun. Produsen oleokimia dasar sebagian besar
berada di wilayah Asia, dengan tingkat pertumbuhan produksi sekitar 7,1 % pertahun,
disusul oleh wilayah Amerika 2,4 %, dan Eropa 1,3 %. Secara menyeluruh
pertumbuhan produksi oleokimia dunia hingga tahun 2010 mencapai 3,7 % pertahun
(Departemen Perindustrian, 2009).

Sebagai “payung” regulasi untuk pengembangan industri oleokimia adalah


kerangka pengembangan industri pengolahan CPO yang tercantum dalam salah satu
dokumen kebijakan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia tahun 2009, yaitu
Roadmap Industri Pengolahan CPO . Industri inti yang dikembangkan baik dalam
jangka menengah (2010-2014) maupun jangka panjang (2015-2025) adalah:
oleokimia, biodiesel, minyak goreng, dan margarine. Adapun industri pendukung
meliputi: CPO, PKO, kemasan, bahan kimia, bleaching earth, karbon aktif, mesin dan
peralatan. Sedangkan industri terkait mencakup: pembersih, tinta, pewarna, cat,
surfaktan, varnish, plasticizer, plastic, pelumas, shortening, sabun, farmasi, kosmetik,
produk perawatan tubuh, dan makanan.

Strategi yang dicanangkan untuk sektor industri pengolahan CPO adalah:


diversifikasi produk kearah oleokimia dan turunannya, meningkatkan jaminan pasokan
CPO untuk industri dalam negeri, dan ekspansi ekspor. Adapun strategi bidang
teknologi adalah melakukan adaptasi teknologi dengan lisensi dari sumber perusahaan
multi nasional (MNC) dan mendorong kemampuan pengembangan indigenous R&D
(litbang dalam negeri).

Selanjutnya telah disusun rencana aksi pengembangan industri pengolahan


CPO untuk jangka menengah dan panjang, diantaranya adalah melakukan diversifikasi
produk oleokimia yang bernilai tambah tinggi, melakukan inovasi produk dan teknologi
melalui peningkatan litbang, dan memberikan insentif bagi pelaku litbang produk
turunan kelapa sawit. Untuk mewujudkan rencana tersebut diperlukan beberapa unsur
penunjang yaitu peningkatan teknologi, pasar, sumberdaya manusia (SDM), dan
infrastruktur. Khusus untuk SDM, rencana pengembangannya dalam jangka panjang
adalah untuk 1) meningkatkan kemampuan SDM di bidang oleokimia, bioteknologi, dan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-125


LAPORAN AKHIR

biomassa; 2) meningkatkan peran lembaga litbang dan perguruan tinggi untuk


meningkatkan mutu produk.

F. Kebutuhan SDM Industri Hilir Sawit.

Diasumsikan bahwa industri yang akan dikembangkan di Kawasan Teknopolitan


Pelalawan adalah industri turunan CPO – oleokimia, dimana bahan baku CPO sudah
diproduksi di luar kawasan teknopolitan Pelalawan. Proses yang ada pada industri
oleokimia meliputi: rafinasida, fraksionasi, spliting, destilasi, hidrogasi, pemekatan dan
pemurnian. Produk yang dihasilkan oleh industri oleokimia adalah: 1) produk hulu:
glycerin dan asam lemak (fatty acid), 2) produk hilir: glycerin, asam stearat, asam
laurat, asam palmitat, sabun, methyl esther, dan amine.

Mengingat industri oleokimia yang akan dikembangkan di kawasan TP adalah


industri baru, maka untuk mengetahui kebutuhan SDM/tenaga kerja dilakukan melalui
studi banding dengan industri sejenis. Mengacu pada suatu studi kelayakan yang
pernah dilakukan di Kabupaten Serdang Bedagai - Provinsi Sumatera Utara, untuk
industri oleokimia dengan kapasitas bahan baku 180.000 ton CPO per tahun, maka dari
90 % bahan baku CPO dihasilkan sekitar 90 % asam lemak, sabun, methyl esther,
amine, serta glycerin. Untuk mengelola 180.000 ton CPO/tahun diperlukan kawasan
industri/lahan seluas dua hektar dan tenaga kerja sekitar 858 orang, yang terdiri dari
69 staf dan 789 orang karyawan pelaksana/buruh. Konfigurasi tersebut dapat
diterapkan untuk mengetahui kebutuhan SDM secara umum/garis besar dalam
pengembangan industri pengolahan CPO dan turunannya di Teknopolitan Pelalawan.
Namun untuk mengetahui kebutuhan SDM yang lebih rinci perlu dilakukan kajian
khusus, bahkan sampai ke tahap studi kelayakan investasi.

Perhitungan lain yang dapat menjadi rujukan dalam menganalisis kebutuhan


SDM adalah dari PT, Flora Sawita Chemindo – Medan, produsen glycerin. Pada tahun
2005 memproduksi 18.509,48 ton glycerin menggunakan 3.643,57 jam kerja (Efi
Herawati, 2008). Jika seorang pekerja bekerja selama delapan jam per hari, maka
diperlukan sekitar 455 orang tenaga kerja/tahun.

Tenaga kerja di pabrik atau industri pengolahan CPO dan turunannya (termasuk
pabrik oleokimia) dikelompokan sebagai Staf dan Non Staf. Kelompok staf terdiri dari:
general manager, manager (pabrik), dan asisten manager (pabrik) dengan pendidikan
terendah Sarjana Strata Satu (S1). Kelompok non staf terdiri dari supervisor, team
leader/foreman, operator dan technician. Supervisor dan team leader minimum
berpendidikan setingkat Diploma 3 (D3), sedangkan untuk tenaga operator

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-126


LAPORAN AKHIR

berpendidikan Sekolah Menengah Atas Kejuruan (SMK atau STM). Disamping itu
adapula SDM laboratorium setingkat operator, terdiri dari analis (level lebih tinggi) dan
inspektor; serta SDM bidang administrasi dan keuangan.

Analisis kebutuhan SDM untuk kawasan industri secara umum, apapun jenis
industri /manufakturnya dapat merujuk pada Peraturan Menteri Perindustrian R.I. No:
35/M-IND/ PER/3/2010 tahun 2010 tentang Pedoman Teknis Kawasan Industri.
Diasumsikan kawasan industri dapat menyerap 100 tenaga kerja per hektar, maka
dalam jangka panjang kawasan Teknopolitan Pelalawan dengan zona industri seluas
600 hektar diperkirakan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 60.000 orang. Jika
diasumsikan komposisi manager : staf : buruh adalah 3% : 21% : 77%, maka dalam
jangka panjang dibutuhkan 1.800 manager, 12.600 staf, dan 45.600 karyawan
pelaksana/buruh.

Berdasarkan peramalan tenaga kerja (manpower forecasting) yang dilakukan


oleh Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) pada tahun 2011 akan kebutuhan SDM di
industri hilir CPO di Indonesia, maka pada tahun 2015 diperlukan 326.630 orang SDM
teknik (diluar direksi, bidang keuangan dan administrasi), 583.240 orang pada tahun
2030 dan 1.548.336 orang pada tahun 2050. Peramalan SDM tersebut didasarkan pada
komposisi jabatan tenaga kerja teknik (lihat Tabel 4.29).

Sebagai catatan, peramalan SDM tersebut didasarkan pada tambahan luas


perkebunan kelapa sawit, bukan pada jumlah input CPO yang diproses atau jumlah
output industri hilir CPO yang dihasilkan. Selain itu, peramalan berlaku secara nasional
(aggregat) mencakup beberapa provinsi, sehingga perlu diturunkan lebih lanjut
(dirinci) untuk tingkat provinsi, bahkan sampai kabupaten.

Walaupun demikian, peramalan SDM ini masih dapat memberikan indikasi


kepada Kabupaten Pelalawan akan adanya persaingan dalam pengadaan SDM teknik
untuk pengembangan Teknopolitan Pelalawan yang berbasis industri pengolahan CPO
di masa depan. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan perlu
menyusun perencanaan SDM yang diperlukan, bekerjasama dengan pihak-pihak terkait
sehingga terjalin kolaborasi antara Pemerintah – Akademisi/Dunia Pendidikan – Dunia
Usaha.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-127


LAPORAN AKHIR

Tabel 4.32 Perkiraan Kebutuhan SDM Teknik di Industri Hilir CPO (Orang)

Distribusi Jumlah Kebutuhan SDM (Orang)


No Jabatan (%) Tahun Tahun Tahun
2015 2030 2050
1. Operator + Technician (shift) 98,00 320.125 571.625 1.517.500
2. Foreman (shift) + Lab 1,18 3.842 6.860 18.210
3. Supervisor (shift) 0,55 1.793 3.201 8.498
4. Assistant Manager 0,20 640 1.143 3.035
5. Factory Manager 0,07 230 412 1.093
Jumlah Kebutuhan SDM 100 326.630 583.240 1.548.336
Sumber: DMSI, 2011 (dalam Purwadi, Dr. Ir. MS, 2012)

Perkiraan kebutuhan akan SDM di Teknopolitan Pelalawan secara kuantitatif


masih memerlukan kajian yang lebih mendalam terkait dengan rencana produksi, jenis
teknologi dan konfigurasi permesinan terpasang. Namun secara kualitatif SDM
Industrial dapat dibedakan sebagai berikut:

a) SDM bidang produksi, teknis administrasi, yang dapat dipenuhi oleh SDM lulusan
SLTA, lulusan program-program Diploma I, II, maupun D III. Dapat juga oleh
lulusan lembaga-lembaga pendidikan non formal, yaitu: kursus-kursus, balai latihan
kerja. Mereka merupakan SDM siap pakai untuk mengisi kebutuhan SDM jenjang
menengah di perusahaan/industri.

b) SDM yang bekerja pada kegiatan khusus yang berkaitan dengan perkembangan
produk, perencanaan strategis, pemasaran, pengawasan mutu/kualitas, dan
sebagainya. Mereka adalah tenaga ahli yang harus mempunyai keahlian khusus,
termasuk pula tenaga kerja di litbang industri. Pengadaan SDM tersebut berasal
dari lulusan perguruan tinggi.

c) Idealnya dapat dihasilkan sarjana-sarjana industri hilir kelapa sawit yang


mempunyai kompetensi berbasis pekerjaan (job compentence based) sebagaimana
proses/pekerjaan yang dilakukan di industri terkait, yang meliputi: 1) Refinery
Plant, 2) Fractionation Plant, 3) Hidrogenation Plant, 4) Inter-esterification Plant,
5) Margarine Plant, 6) Esterification Plant (Purwadi, 2012).

d) Lulusan perguruan tinggi yang banyak diperlukan oleh industri hilir sawit/ industri
pengolahan CPO adalah yang berlatar belakang pendidikan teknik, yaitu: teknik
kimia, teknik mesin, teknik elektro, dan teknik industri.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-128


LAPORAN AKHIR

G. Rancangan Pengembangan SDM Teknolopolitan.

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa perencanan SDM sebagai proses


yang secara sistematis mengkaji keadaan sumberdaya manusia untuk memastikan
bahwa jumlah dan kualitas dengan ketrampilan yang tepat, akan tersedia pada saat
mereka dibutuhkan (Mondy & Noe, 1995)”. Atau perencanaan sumber daya manusia
(HR Planning) merupakan proses manajemen dalam menentukan pergerakan sumber
daya manusia organisasi dari posisinya saat ini menuju posisi yang diinginkan di masa
depan (Eric Vetter dalam Jackson & Schuler (1990) dan Schuler & Walker (1990)).

Definisi-definisi tersebut merupakan definisi perencanaan SDM untuk lingkup


mikro atau lingkup perusahaan. Sedangkan perencanaan SDM kawasan tergolong
perencanaan SDM dalam lingkup makro. Kedua lingkup tersebut mempunyai kesamaan
yaitu perencanaan SDM harus didasarkan pada perencanaan yang diinginkan dimasa
mendatang. Perencanaan dimaksud adalah tahapan-tahapan pengembangan
teknolpolitan yang tercantum dalan dokumen roadmap pengembangan teknopolitan
Kab. Pelalawan.

a) Penyediaan SDM Teknolopolitan.

Penyediaan SDM teknopolitan dilakukan dilakukan secara bertahap sesuai


kebutuhan berdasarkan pengembangan teknopolitan. Penyediaan SDM teknopolitan
pada tahap awal pengembangan dilakukan dengan rekruitment dari lulusan perguruan
tinggi yang ada sekarang, baik yang ada di P. Sumatera, maupun yang ada di P. Jawa.

b) Pengembangan Institusi Pengembangan SDM Teknolopolitan.

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian awal laporan ini bahwa konsep
pengembangan Teknopolitan adalah terintegrasinya dunia industri, lembaga riset dan
perguruan tinggi dalam suatu kawasan. Oleh karena itu perguruan tinggi dalam suatu
kawasan Teknopolitan tidak hanya sebagai penyedia SDM dalam hal riset bersama
lembaga riset dan industri tetapi juga sebagai penyedia SDM untuk sektor industri
dalam kawasan teknopolitan khususnya dan di luar kawasan pada umumnya. Terkait
dengan tujuan dan waktu perencanaan pengembangan teknopolitan, maka pemilihan
jenis perguruan tinggi menjadi penting.

Berikut ini adalah pembagian pendidikan tinggi sebagaimana tercantum dalam


RUU Final tentang pendidikan tinggi yang telah disahkan pada bulan Juli 2012 pasal
15, 16 dan 17:

(1) Pendidikan Akademik.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-129


LAPORAN AKHIR

 Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan/atau


program pascasarjana yang diarahkan pada penguasaan dan pengembangan
cabang ilmu pengetahuan dan teknologi.

 Pembinaan, koordinasi, dan pengawasan pendidikan akademik berada dalam


tanggung jawab Kementerian.

(2) Pendidikan Vokasi.

 Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi program diploma yang


menyiapkan Mahasiswa untuk pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu
sampai program sarjana terapan.

 Pendidikan vokasi dapat dikembangkan oleh Pemerintah sampai program


magister terapan atau program doktor terapan.

 Pembinaan, koordinasi, dan pengawasan pendidikan vokasi berada dalam


tanggung jawab Kementerian.

(3) Pendidikan Profesi.

 Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang


menyiapkan Mahasiswa dalam pekerjaan yang memerlukan persyaratan
keahlian khusus.

 Pendidikan profesi dapat diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi dan bekerja


sama dengan Kementerian, Kementerian lain, LPNK, dan/atau organisasi profesi
yang bertanggung jawab atas mutu layanan profesi.

Pada tahap awal institusi pendidikan diharapkan dapat menghasilkan lulusan-


lulusan yang mempunyai keterampilan yang dibutuhkan dunia industri di lingkungan
kawasan teknopolitan, oleh karena itu pendidikan tinggi yang sesuai adalah pendidikan
vokasi. Dalam paragraf 2 tentang Program Diploma, Magister Terapan, dan Doktor
Terapan Program Diploma, Magister Terapan, dan Doktor Terapan pasal 21,
dinyatakan:

(1) Program diploma merupakan pendidikan vokasi yang diperuntukkan bagi


lulusan pendidikan menengah atau sederajat untuk mengembangkan
keterampilan dan penalaran dalam penerapan ilmu pengetahuan dan/atau
teknologi.

(2) Program diploma sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyiapkan Mahasiswa
menjadi praktisi yang terampil untuk memasuki dunia kerja sesuai dengan
bidang keahliannya.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-130


LAPORAN AKHIR

(3) Program diploma sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas program:

a. diploma satu;

b. diploma dua;

c. diploma tiga; dan

d. diploma empat atau sarjana terapan.

Kabupaten Pelalawan sebagaimana digambarkan pada bagian profil SDM


terlihat bahwa tingkat rata-rata usia sekolah baru 8,2 tahun yang berarti belum tamat
SMP, dan hanya 2,37% penduduk yang berijasah minimal D4 dari total penduduk
sebanyak 234.359 jiwa, serta berdasarkan hasil penjaringan calon dosen yang akan
disekolahkan S3, (yang nantinya akan menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi
yang akan didirikan di Pelalawan), tidak ada yang putra daerah, hal ini
mengindikasikan bahwa Kab. Pelalawan masih sangat kekurangan SDM berpendidikan
tinggi yang berkualitas, khususnya yang pendidikan minimal S2.

Dalam RUU Pendidikan tinggi salah satu syarat tenaga pengajar (Dosen) baik
pendidikan akademik maupun vokasi untuk program diploma, minimal berpendidikan
magister. Akan tetapi khusus pendidikan vokasi dengan program diploma 1 (satu) dan
diploma 2 (dua) dapat menggunakan instruktur yang berkualifikasi akademik minimum
lulusan diploma tiga atau sederajat yang memiliki pengalaman (pasal 21 ayat 5).

Dengan demikian jika tenaga pengajar setingkat master masih sangat terbatas,
maka program pendidikan vokasi yang memungkinkan adalah program diploma baik
tingkat 1 maupun 2. Instruktur praktisi bisa diperoleh dari industri kelapa sawit yang
ada.

Bentuk perguruan tinggi dapat dipilih diantara bentuk-bentuk perguruan tinggi


sebagaimana tercantum dalam UU Pendidikan Tinggi Pasal 59 terdiri dari:

a. Universitas;

b. Institut;

c. Sekolah tinggi;

d. Politeknik;

e. Akademi; dan

f. Akademi Komunitas.

Penjelasan masing-masing bentuk perguruan tinggi adalah sebagai berikut:

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-131


LAPORAN AKHIR

a) Universitas merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan


akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam berbagai
rumpun ilmu pengetahuan dan/atau teknologi dan jika memenuhi syarat,
universitas dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

b) Institut merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan


akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah
rumpun ilmu pengetahuan dan/atau teknologi tertentu dan jika memenuhi
syarat, institut dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

c) Sekolah Tinggi merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan


pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam
satu rumpun ilmu pengetahuan dan/atau teknologi tertentu dan jika memenuhi
syarat, sekolah tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

d) Politeknik merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan


vokasi dalam berbagai rumpun ilmu pengetahuan dan/atau teknologi dan jika
memenuhi syarat, politeknik dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

e) Akademi merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan


vokasi dalam satu atau beberapa cabang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi
tertentu.

f) Akademi Komunitas merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan


pendidikan vokasi setingkat diploma satu dan/atau diploma dua dalam satu
atau beberapa cabang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi tertentu yang
berbasis keunggulan lokal atau untuk memenuhi kebutuhan khusus.

Dengan memperhatikan kondisi SDM Kab. Pelalawan sebagaimana disebutkan


di atas, maka pemilihan bentuk perguruan tinggi yang paling memungkinkan adalah
Akademi Komunitas, karena hanya menyelenggarakan program diploma satu dan atau
dua. Program ini tidak membutuhkan tenaga pengajar dengan tingkat pendidikan S2
akan tetapi cukup tenaga profesional di bidangnya. Bidang ilmu pengetahuan dan atau
teknologi tertentu yang berbasiskan keunggulan lokal sudah barang tentu iptek bidang
perkelapasawitan. Tenaga pengajar bisa diperoleh dari industri kelapa sawit yang ada
di Kab. Pelalawan.

Sedangkan dalam jangka panjang dimana tujuan pendirian perguruan tinggi di


kawasan teknopolitan adalah sebagai berikut:

a) Menghasilkan tenaga terampil dalam bidang industri kelapa sawit tetapi juga
mampu menghasilkan tenaga profesional (hasil pendidikan profesi).

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-132


LAPORAN AKHIR

b) Melakukan riset dan pengembangan bersama-sama dengan industri dan


pemerintah dalam pengembangan industri hilir kelapa sawit.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, maka perlu terdapat perguruan tinggi yang


menghasilkan minimal tingkatt sarjana (S1), pilihannya bisa berupa Universitas,
sekolah tinggi atau institut.

Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah jurusan dalam lembaga


pendidikan tersebut harus mampu menjwab kebutuhan SDM dalam jangka menengah
dan panjang. Sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja dalam industri hlir kelapa sawit
khususnya industri oleo chemical adalah:

 Jurusan Teknik Industri.

 Jurusan Teknik Mesin.

 Jurusan Teknik Kimia.

 Jurusan Akutansi.

4.6 Analisis SWOT

Analisis SWOT digunakan untuk mengetahui gambaran kekuatan, kelemahan,


peluang dan ancaman dalam pengembangan Kawasan Teknopolitan Pelalawan.
Analisis SWOT, dilakukan dengan menggambarkan kekuatan dan kelemahan dari sisi
internal, serta peluang dan ancaman yang akan dihadapi dari sisi eksterna. Dengan
matrik SWOT diharapkan dapat merumuskan strategi berdasarkan kondisi internal dan
eksternal yang dihadapi.

Berikut merupakan gambaran kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman


yang dihadapi dalam mengembangkan Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

a. Kekuatan.

 Dukungan serta komitmen Pemerintah Kabupaten Pelalawan yang


sangat besar, didukung penanggaran daerah sebagai modal dasar
pembangunan Kawasan Teknopolitan, serta surplus PAD yang
merupakan potensi sebagai tambahan modal pembangunan kawasan
teknopolitan.

 Kawasan Teknopolitan relative dekat dengan sumber bahan baku


industri kelapa sawit yang melimpah. Luas kebun kelapa sawit Riau
sekitar 320.000 Ha, dengan produksi CPO (2010) 1,5 juta Ton

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-133


LAPORAN AKHIR

 Kawasan teknopolitan relatif dekat dengan titik strategis baik untuk


akses transportasi darat, laut dan udara, maupun pusat kota.

b. Kelemahan.

 Rata-rata masa sekolah 8,21 (2010). 41 % Anak usia 16 - 18 th


(setingkat SMU) dan 92 % , Anak usia 19 - 21 th (setingkat Perguruan
Tinggi ) sudah tidak sekolah lagi

 Tingkat budaya wirausaha masyarkat, dan penguasaan teknologi serta


teknologi transfer yang yang relative masih rendah

 Terdapat beberapa area gambut di kawasan yang ditentukan untuk


pembangunan Kawasan Teknopolitan

 Infrastruktur khusus, seperti pemodalam ventura serta inkubator


teknologi belum tersedia.

 Regulasi serta bentuk kelembagaan yang spesifik mengenai Kawasan


Teknopolitan belum ada.

c. Peluang.

 Industri kelapa sawit berpotensi memiliki berbagai jenis industri


turunan. Pasar industri turunan kelapa sawit (khususnya oleochemical
dan oleofood) sangat menjanjikan dan bernilai ekonomi tinggi.

 Sudah terdapat industri besar yang terkait dengan teknopolitan


(RAPP). Beberapa perguruan tinggi bisa berpartisipasi dalam
pembangunan teknopolitan (Universitas Riau, UTM Malaysia, Instiper
Jogja).

 Sistem transportasi di Sumatera merencanakan membangun


infrastruktur yang mendukung aksesibilitas kawasan teknopolitan.

 Sudah ada dukungan stakeholder swasta dari Pelalawan Pabrik Kelapa


Sawit (PT. Langgam Inti Hibrindo dan PT. Sinar Agro Raya).

 Secara umum iklim bisnis di Provinsi Riau relatif baik, khususnya ikllim
industri kelapa sawit, dan didukung pula dengan banyaknya pemain-
pemain kuat dalam dunia industri kelapa sawit dengan kapasitas besar.

d. Hambatan.

 Sering terjadi isu lingkungan, sosial dan HAM yang sering terjadi di
Industri Kelapa Sawit.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-134


LAPORAN AKHIR

 Pembiayaan untuk perusahaan baru berbasis teknologi, yang


diharapkan dapat menumbuhkan inovasi, belum berkembang di
Indonesia

 Adanya hambatan dalam koherensi kebijakan antara pusat dan daerah.

Berikut merupakan matrik bobot IFAS/IFES serta posisi SWOT Kawasan


Teknopolitan Pelalwan.

Tabel. 4.33. Matrik IFAS - SWOT

No Deskripsi RATING BOBOT BxR

KEKUATAN
Dukungan Pemeritah Kabupaten Pelalawan yang
sangat bersar, serta dana pemerintah sebagai modal
1 dasar pembangunan Kawasan Teknopolitan 4 0.15 0.58
Kawasan Teknopolitan dekat dengan sumber bahan
2 baku 4 0.11 0.42
3 Kawasan Teknopolitan lokasinya sangat strategis 3 0.09 0.28
Sudah terdapat beberapa jalan penghubung ke
Kawasan, meskipun kondisinya masih perlu
4 peningkatan 3 0.10 0.29
KELEMAHAN
Tingkat pendidikan masih dibawah standar
1 masyarakat industri 1 0.09 0.09
Transfer teknologi relative rendah dengan tingkat
2 penguasaan teknologi masyarakat. 1 0.07 0.07
3 Jiwa wirausaha yang relatif rendah 2 0.07 0.15
4 Terdapat area gambut di kawasan teknopolitan 2 0.09 0.19
Belum terdapat infrastruktur khusus pembangunan
5 teknopolitan di Kabupaten Pelalawan 2 0.10 0.21
Belum terdapat regulasi spesifik terhadap kawasan
6 teknopolitan 2 0.13 0.26
Total BAIK-RENDAH 2.54
Sumber : Hasil Analisis, 2012

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-135


LAPORAN AKHIR

Tabel. 4.34. Matrik EFAS - SWOT

No DESKRIPSI RATING BOBOT BxR

PELUANG
Sudah terdapat pemain kuat industri kelapa sawit di
1 Provinsi Riau dan sekitarnya. 3 0.07 0.21
Iklim bisnis khususnya untuk industri kelapa sawit relatif
2 baik di Provinsi Riau dan Sekitarnya 3 0.11 0.34
Sudah terdapat dukungan stakholder terkait terhadap
3 pembangunan Kawasan Teknopolitan 3 0.12 0.37
Rencana Sistem Transportasi Sumatera akan
mendukung aksesibilitas pembangunan Kawasan
4 Teknopolitan 3 0.09 0.28
Terdapat beberapa perguruan tinggi di sekitarnya yang
5 mendukung pembangunan Kawasan Teknopolitan 3 0.11 0.33
6 Banyak bentuk industri turunan kelapa sawit 4 0.10 0.39
Pasar industri hilir kelapa sawit, khususnya oleofood dan
7 oleochemical yang cukup menjanjikan. 4 0.11 0.45
HAMBATAN
Industri kelapa sawit rawan terdapap isu lingkungan,
1 sosial dan HAM 1 0.05 0.05
Belum terdapat pemodalan untuk industri baru berbasis
2 teknologi di Indonesia 2 0.10 0.19
3 Koherensi kebijakan Pusat-Daerah 2 0.13 0.26
Total BAIK 2.88
Sumber : Hasil Analisis, 2012

Berdasarkan matriks tersebut, diperoleh posisi SWOT pembangunan Kawasan


Teknopolitan Pelalawan di kwadran I yang artinya secara eksternal posisinya baik,
sementara dari internal baik-rendah. Berikut ilustrasi SWOT dalam diagram kartesian.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-136


LAPORAN AKHIR

3.5

3
(2.54,2.88)
2.5

1.5

1
1 1.5 2 2.5 3 3.5 4

Gambar 4.32 Posisi SWOT Pembangunan Kawasan Teknopolitan

Sumber : Hasil Analisis, 2012

Berdasarkan analisis kuantitiatif tersebut, secara umum kondisi kekuatan,


kelemahan, peluang serta hambatan dan strateginya digambarkan dalam matrik SWOT
dibawah ini.

Dari hasil matrik SWOT, startegi utama pembangunan Kawasan Teknopolitan


Pelalawan, adalah:

1) Mendorong pertumbuhan bisnis industri kelapa sawit, khususnya dalam


penciptaan nilai tambah produk turunannya, serta penguasaan pasar.

2) Peningkatan tingkat pendidikan masyarakat, khususnya dalam menciptakan


SDM Ahli dan Terampil untuk medukung industri kelapa sawit.

3) Intensifkan peran pemerintah untuk menciptakan suasana yang kondusif untuk


meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.

4).. Peningkatan kualitas sumber daya masyarakat baik untuk meminimalisir


kemungkinan terjadinya isu negatif.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-137


LAPORAN AKHIR

Tabel 4.35. Matrik SWOT

KEKUATAN (Strength) KELEMAHAN (Weakness)


FAKTOR Teknopolitan terletak - Tingkat pendidikan
INTERNAL dikawasan yang strategis, masyarakat setempat
relatif rendah untuk
dekat dengan bahan baku, kategori masyarakat
dan mendapat dukungan industri
penuh dari pemerintah
daerah

FAKTOR EKSTERNAL

PELUANG (Opportunity) STRATEGI S-O STRATEGI W-O


- Produk kelapa sawit Mendorong pertumbuhan Peningkatan tingkat
dan turunannya bisnis industri kelapa sawit, pendidikan masyarakat,
memiliki potensi market
yang besar, didukung
khususnya dalam penciptaan khususnya dalam
pula dengan iklim nilai tambah produk menciptakan SDM Ahli dan
bisnis kelapa sawit turunannya, serta Terampil untuk medukung
yang baik penguasaan pasar. industri kelapa sawit

ANCAMAN (Threat) STRATEGI S-T. STRATEGI T-O


- Adanya isu lingkungan, Intensifkan peran Peningkatan kualitas sumber
sosial, dan HAM pemerintah untuk daya masyarakat baik untuk
terhadap industri sawit
menciptakan suasana yang meminimalisir kemungkinan
kondusif untuk meminimalisir terjadinya isu negative yang
hal-hal yang tidak diinginkan mungkin terjadi

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan IV-138


LAPORAN AKHIR

BAB V
RENCANA PEMBANGUNAN FISIK
TEKNOPOLITAN PELALAWAN

Langkah awal sebelum merencanakan pembangunan fisik maka perlu


melakukan pengembangan kawasan Teknopolitan melalui perumusan kerangka berfikir
yang lebih jelas biasanya dalam bentuk visi, misi dan tujuan serta kebijakan strategis
pengembangan Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Sedangkan cita-cita pembentukan kawasan teknopolitan Pelalawan secara


spesifik dirumuskan dalam visi dan misi pembangunan kawasan. Secara rinci rumusan
visi, misi, dan tujuan serta kebijakan strategis pengembangan kawasan teknopolitan
Pelalawan sebagai berikut:

5.1. VISI DAN MISI.

5.1.1. Visi Teknopolitan Pelalawan.

Dengan mendasarkan kepada urgensi pembentukan Kawasan Teknopolitan


Pelalawan, maka rencana pembangunan Kawasan Teknopolitan Pelalawan ditetapkan
dengan visi sebagai berikut:

“Menjadi kawasan utama Pelalawan bagi pemajuan dan pemanfaatan


iptek dan inovasi berkelas dunia yang ramah lingkungan”

5.1.2. Misi Teknopolitan Pelalawan.

Berdasarkan kepada visi Kawasan Teknopolitan Pelalawan tersebut serta


berlandaskan kepada misi pembangunan Pemerintah Kabupaten Pelalawan,
selanjutnya misi pembangunan Kawasan Teknopolitan Pelalawan dirumuskan sebagai
berikut :

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-1


LAPORAN AKHIR

1. Mengembangkan SDM berkualitas;

2. Mendorong pengembangan budaya kreatif inovatif masyarakat daerah;

3. Mengembangkan pusat-pusat keunggulan untuk mendorong pemajuan dan


pemanfaatan iptek dan inovasi;

4. Menumbuhkembangkan bisnis-bisnis inovatif;

5. Mendukung pengembangan keunggulan (daya saing) khas daerah;

6. Memberikan pelayanan berbasis iptek; dan

7. Mengelola pembangunan hijau (green development) di kawasan.

5.1.3. Tujuan Pengembangan Teknopolitan Pelalawan.

Pengembangan Kawasan Teknopolitan Pelalawan mempunyai tujuan


mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi kolaborasi antar komunitas akademia,
bisnis, pemerintah (ABG) dalam rangka meningkatkan daya saing daerah berbasis
inovasi dan ilmu pengetahuan (konwledge based economy).

5.1.4. Kebijakan Strategis Pengembangan Teknopolitan Pelalawan

Untuk mendukung pencapaian visi dan misi pengembangan Kawasan


Teknopolitan Pelalawan, Pemerintah Kabupaten Pelalawan menetapkan kebijakan
strategis sebagai berikut:

1. Pemerintah daerah Kabupaten Pelalawan berkomitmen untuk mewujudkan visi


pengembanganTeknopolitan Pelalawan bedasarkan prinsip-prinsip: Transparansi,
akuntabilitas, dengan mendahulukan tanggung jawab sosial dan pembangunan
berkelanjutan.

2. Membuka peluang bagi masyarakat dan dunia usaha secara luas untuk turut serta
berpartisipasi dalam pengembanganTeknopolitan Pelalawan.

3. Mentaati peraturan perundang undangan yang berlaku yang terkait dengan


pengembanganTeknopolitan Pelalawan.

4. Memelihara budaya melayu pelalawan dengan mewujudkan kekayaan budaya


tersebut dalam program pengembanganTeknopolitan Pelalawan.

5. Menggunakan Inisiatif stratejik penguatan sistem inovasi sebagai kerangka


kebijakan pengembangan Teknopolitan Pelalawan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-2


LAPORAN AKHIR

5.2. RENCANA STRUKTUR RUANG KAWASAN TEKNOPOLITAN PELALAWAN.

Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat kegiatan, sistem jaringan serta


sistem prasarana maupun sarana. Semua hal itu berfungsi sebagai pendukung
kegiatan sosial-ekonomi yang secara hirarki berhubungan fungsional. Tata ruang
merupakan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang baik yang direncanakan
ataupun tidak. Wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur
pembentuk rona lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan yang
secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk tata
ruang.

Kawasan Teknopolitan Pelalawan ini akan melayani kegiatan dengan skala lokal,
nasional hingga internasional. Adapun lokasi dari Kawasan Teknopolitan Pelalawan ini
adalah di Desa langgam Kabupaten Pelalawan. Dipilihnya lokasi ini sebagai Kawasan
Teknopolitan Pelalawan dengan pertimbangan sebagai berikut (lihat Gambar 5.1) :

 Lokasi strategis dan dilalui oleh jaringan jalan utama regional antara Provinsi
Riau dengan Kabupaten Pelalawan.

 Berlokasi di tengah kawasan perkebunan dengan pemanfaatan intensif.

 Berlokasi di areal untuk kegiatan komersial dan jasa.

5.2.1. Konsep Pengembangan Struktur Ruang Kawasan Teknopolitan

Berdasarkan hasil analisis, fungsi dan peran Kawasan Teknopolitan Pelalawan


serta strategi pengembangan wilayah, konsep struktur ruang yang sesuai untuk
Kawasan Teknopolitan Pelalawan adalah Pusat Tunggal.

Beberapa aspek yang harus dipertimbangkan untuk menetapkan konsep struktur


ruang di Kawasan Teknopolitan Pelalawan, adalah

1. Struktur jaringan jalan eksisting.

2. Kondisi topografi dan hidrologi kawasan.

3. Bentuk lahan ekisting.

4. Pemanfaatan lahan eksisting.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-3


LAPORAN AKHIR

Gambar 5.1. Peta Rencana Jaringan Jalan Teknopolitan Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-4


LAPORAN AKHIR

Sebagai bahan pertimbangan untuk menyusun rancangan konsep


pengembangan struktur ruang kawasan perencanaan di Kawasan Teknopolitan
Pelalawan dilakukan sebagai berikut:

a. Konsep Pengembangan struktur Ruang kawasan perencanaan adalah konsep


pengembangan keterkaitan antar sektor dan bidang yang dapat terkait.

b. Penentuan peran dan fungsi setiap bidang kegiatan dilakukan berdasarkan


beberapa kriteria, meliputi:

 Posisi sentral relatif pengelola kawasan dengan kegiatan bidang lain yang
terdapat di kawasan;

 Aksesibilitas bagi semua sektor dan bidang kegiatan;

 Pendekatan keterkaitan antar bidang;

 Pendekatan daya dukung lahan dan lingkungan;

 Pendekatan kapasitas ekonomi;

 Pendekatan daya dukung sumberdaya alam;

 Pendekatan kapasitas prasarana dan sarana.

Selain mengacu pada pertimbangan di atas, penyusunan konsep struktur ruang


Kawasan Teknopolitan Pelalawan, juga dilakukan berdasarkan arahan sebagai berikut:

 Sesuai dengan bentuk kawasan perencanaan dan kebutuhan bidang yang ada
maka konsep yang diterapkan adalah Radial.

 Centre point Kawasan Teknopolitan yang direncanakan adalah kegiatan


perkantoran manajemen pengelola kawasan yang lokasinya relatif di bagian
tengah kawasan (Blok D), sehingga mempunyai akses yang rata bagi semua
bidang kegiatan.

 Penetapan klaster kegiatan (Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan,


Perkantoran, Perdagangan dan jasa komersial, permukiman, industri dan UKM)
yang direncanakan berada dipinggir kawasan dan melingkar dengan keterkaitan
yang erat.

 Sistem Jaringan jalan diarahkan untuk membentuk pola jaringan melingkar yang
menghubungkan antar sektor kegiatan.

Gambar 5.2 memperlihatkan peta tentang rencana konsep struktur ruang


kawasan Teknopolitan dengan memperhatikan kepada seluruh penjelasan di atas.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-5


LAPORAN AKHIR

Gambar 5.2. Peta Rencana Konsep Struktur Ruang Kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-6


LAPORAN AKHIR

5.2.2. Rencana Pembagian Ruang Kawasan Teknopolitan

Berdasarkan konsep pengembangan di atas, untuk menjelaskan lingkup


pelayanan dan memudahkan dalam menyusun rencana kedepan serta memudahkan
dalam proses implementasi, maka pembagian ruang Kawasan Teknopolitan dibagi
atas delapan Blok. Adapun dasar pertimbangan pembagian blok tersebut terdiri atas:

 Hasil analisis pengembangan kegiatan;

 Hasil analisis hubungan fungsional antar kegiatan;

 Hasil analisis tapak;

 Fungsi dari masing-masing blok;

 Strategi pengembangan; dan

 Aksessibilitas (jarak tempuh atau waktu pencapaian).

Untuk mewujudkan pembangunan Kawasan Teknopolitan Pelalawan yang tepat


sasaran, tepat manfaat dan berkelanjutan, secara umum kawasan perencanaan akan
dibagi menjadi tujuh Blok, yaitu:

1. Blok A : Blok Kegiatan Pendidikan dan R&D Center meliputi Institut Teknologi
Pelalawan, Akademi Komunitas/Politeknik dan Pusat Penelitian dan
Pengembangan (R&D Center).

2. Blok B : Blok Kegiatan Industri dan UKM; beberapa bangunan fasilitas utama
yang ada di areal ini adalah bangunan pabrik oleo kimia, oleo pangan, dan
limbah sawit.

3. Blok C: Blok Kegiatan permukiman yang berwawasan lingkungan, seperti


kawasan hunian, rumah ibadah, rekreasi, dan rumah sakit.

4. Blok D: Blok Kegiatan perkantoran; beberapa bangunan fasilitas utama yang


ada di areal ini adalah kantor pengelola kawasan, kantor pelayanan
pengurusan perijinan, kantor pengelola keamanan kawasan.

5. Blok E: Blok Kegiatan perdagangan dan jasa beberapa fasilitas utama yang ada
di areal ini adalah kawasan perdagangan dan layanan jasa.

6. Blok F : Blok Kegiatan Rekreasi, Olah Raga, Rumah Ibadah, Ruang Terbuka
Hijau dan Buffer.

7. Area Fasilitas prasarana dan sarana penunjang kawasan meliputi Badan jalan,
drainase dan sanitasi lingkungan, jaringan TIK, pengolahan air bersih,
pengolahan air limbah, jaringan listrik, pengolahan sampah.
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-7
LAPORAN AKHIR

Kawasan Teknopolitan Pelalawan dalam pengembangannya ini akan dilayani oleh


blok-blok yang tersebar dan merata. Blok A, B, C, D, E, dan F merupakan area
kegiatan mulai dari Blok Pendidikan sampai dengan area kegiatan rekreasi seperti
tampak dalam Tabel 5.1. Blok-blok ini dianggap satu kesatuan karena lokasinya yang
berdekatan dan mempunyai hubungan yang berkaitan erat serta dilengkapi dengan
fasiltas prasarana dan sarana penunjang kawasan.

Tabel 5.1. Rencana Pembagian Blok Kawasan Teknopolitan

NO. PENGGUNAAN LAHAN LUAS (HA) ZONA

1. Kawasan Research dan Development 80,00 A

2. Kawasan Perguruan Tinggi 100,00 A

3. Kawasan Industri dan UKMN 600,00 B

4. Kawasan Permukiman 140,00 C

5. Fasilitas Sosial dan Umum 80,00 C

6. Kawasan Perkantoran 40,00 D

7. Kawasan Jasa dan Komersial 40,00 E

8. Kawasan Mixed Use 40,00 E

9. Kawasan Rekreasi 40,00 F

10. Kawasan RTH 600,00 F

11. Kawasan Golf dan Sport Club 40,00 F

12. Kawasan Lahan Basah 1.485,00 F

13. Infrastruktur 175,00 G

JUMLAH 3.650,00

Catatan : * = sudah masuk dalam 30% dari masing-masing area kegiatan Sumber :
Hasil Perhitungan Tim secara GIS.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-8


LAPORAN AKHIR

Secara rinci Gambar 5.3 menampakkan rencana sistem pembagian ruang


Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Lahan Basah

Gambar 5.3. Peta Pembagian Blok Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

5.3. RENCANA POLA RUANG KAWASAN TEKNOPOLITAN PELALAWAN.

Rencana pola ruang yang dikembangkan adalah sesuai dengan konsep struktur
ruang diatas. Oleh karena itu, penekanan utama dari konsep pola ruang kawasan
Teknopolitan adalah penyediaan atau alokasi ruang yang optimal bagi kegiatan-
kegiatan pendidikan, penelitian dan pengembangan, industri dan UKM, perdagangan
dan jasa, permukiman, perkantoran, dll. Pola ruang di Kawasan Teknopolitan secara
garis besar diwujudkan dalam arahan pemanfaatan kawasan lindung dan kawasan
budidaya dengan tetap mengedepankan kelestarian lingkungan hidup mengingat
besarnya kecenderungan pergeseran pemanfaatan kawasan lindung dan RTH untuk
kawasan budidaya. Sehingga komponen yang harus dikembangkan dalam pola ruang
kawasan Teknopolitan antara lain meliputi:

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-9


LAPORAN AKHIR

5.3.1. Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung.

Jenis Kawasan Lindung yang terdapat di Kawasan teknopolitan terdiri dari


kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya, kawasan
perlindungan setempat dan Ruang Terbuka Hijau. Untuk itu, terdapat beberapa
kebijakan pola pemanfaatan ruang kawasan lindung di Kawasan teknopolitan, yaitu:

 Membatasi perkembangan kawasan terbangun di kawasan lindung.

 Menetapkan aturan dan pengendalian yang ketat bagi pengembangan kawasan


di daerah kawasan lindung.

Sedangkan acuan yang digunakan dalam penyusunan rencana pengembangan


kawasan lindung di Kawasan Teknopolitan Pelalawan, meliputi:

 Hasil analisis pengembangan Kawasan teknopolitan;

 Strategi Pengembangan Kawasan teknopolitan;

 Rencana Pola Ruang Kawasan teknopolitan;

 Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan;

 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 tahun 2004 tentang


Perlindungan hutan; dan

 Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 32 tahun 1990 tentang pengelolaan


Kawasan lindung.

Berdasarkan acuan tersebut, maka secara normatif Kawasan Lindung di Kawasan


teknopolitan yang direncanakan terdiri atas:

A. Kolam/Situ, Mata Air dan Sempadannya.

1. Kawasan sekitar kolam/situ dan mata air yaitu kawasan untuk melindungi
kolam dan mata air dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu
kelestarian fungsi kolam/situ dan mata air.

2. Kolam/Situ adalah suatu wadah air di atas permukaan tanah yang terbentuk
secara alami maupun buatan, yang airnya berasal dari air tanah, mata air
dan air permukaan sebagai bahan dari siklus hidrologis yang potensial dan
merupakan salah satu bentuk kawasan lindung.

3. Mata air adalah sumber air yang mengalir dari dalam tanah atau batuan ke
permukaan tanah secara alamiah.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-10


LAPORAN AKHIR

4. Daerah Sempadan Sumber Air adalah daerah sempadan kawasan tertentu di


sekeliling, di sepanjang.

5. Bila berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, kawasan


sekitar kolam/situ Garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya dengan
radius 200 meter dari batas badan air.

6. Idealnya kawasan setebal 200 meter di sekeliling mata air dan kolam/situ
seluruhnya ditanami vegetasi secara rapat. Namun, pada kenyataannya,
kawasan di sekitar situ dan mata air telah banyak berubah menjadi area
terbangun. Bila upaya pengosongan area tidak dapat lagi dilakukan, maka
perlu dilakukan beberapa cara untuk menjaga kelestarian sumber air dan
mata air.

7. Menyelamatkan dahulu lahan-lahan yang masih belum terbangun untuk


menjadi area sempadan situ atau mata air yang ditanami vegetasi secara
rapat, minimal 400 pohon/ha.

8. Mengarahkan potensi aliran air limpasan ke bagian area sempadan yang


rimbun, padat pohon, sehingga selain dapat ‘menyimpan’ limpasan tersebut,
juga dapat mengurangi kecepatan dan volume limpasan sebelum memasuki
sungai atau mata air.

9. Area sempadan mata air dan kolam/situ dapat juga dimanfaatkan untuk
beragam aktifitas selama prinsip-prinsip jenis vegetasi yang
direkomendasikan untuk ditanam di area ini adalah jenis-jenis vegetasi yang
memiliki karakteristik minimal sebagai berikut :

 Berasal dari habitat alami ketinggian 0 – 400 meter.

 Habitat alaminya cenderung lembab dan hutan tropis.

 Cocok untuk jenis tanah yang menyerap/menyimpan air.

 Memiliki kualitas estetika dan manfaat yang cukup baik, artinya selain
indah secara visual memiliki fungsi tambahan, misalnya, dapat
mendatangkan burung, atau menghasilkan buah yang dapat dimakan
oleh manusia, dan seterusnya.

Dengan demikian potensi lokasi kolam/situ, mata air, dan sempadan yang ada di
Kawasan Kawasan teknopolitan berada di Blok C.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-11


LAPORAN AKHIR

B. Ruang Terbuka Hijau.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang berbentuk kawasan tutupan hijau hutan yang
dikembangkan terutama untuk tujuan pengaturan iklim mikro dan resapan air.

Ruang terbuka yang akan diatur adalah ruang terbuka yang bersifat publik
dan semi publik. Ruang publik adalah ruang yang digunakan bersama dimana
warga komunitas bertemu dan menggunakan ruang pada teritorial tertentu dalam
suasana yang bebas dengan kesamaan derajatnya. Ruang publik pada dasarnya
adalah ruang bagi representasi kepentingan masyarakat. Sedangkan ruang semi
publik adalah ruang terbuka yang tercipta karena adanya korelasi publik dan privat
di dalam suatu ruang. Kepemilikan ruang tersebut merupakan bagian dari pelataran
atau halaman dari suatu bangunan.

RTH di kawasan Kawasan teknopolitan akan


berlokasi pada Blok-blok area kegiatan dan
sebagian kecil berada dalam kawasan-
kawasan budidaya lainnya seperti jalan,
taman, dan kawasan hijau lainnya yang
memiliki luas minimum 30% dari total area
pemanfaatan ruang pada masing-masing blok
tersebut.

Ruang terbuka pada kelompok kegiatan teknopolitan berfungsi sebagai


unsur pengikat dari kawasan tersebut. Berdasarkan hirarkinya ruang terbuka ini
terbagi menjadi ruang terbuka dengan skala pelayanan blok kawasan. Ruang
terbuka untuk skala pelayanan blok kawasan umumnya merupakan ruang terbuka
pasif berupa taman yang sengaja direncanakan secara khusus atau pemanfaatan
sisa lahan seperti dalam bentuk pulau-pulau jalan.

Ruang terbuka pada sisi jaringan jalan berupa jalur hijau. Fungsi utama dari
ruang terbuka ini mencakup fungsi estetika, perlindungan (dari faktor iklim khususnya
sinar matahari serta pemisah jalur kendaraan dan jalur pedestrian) dan mengurangi
pencemaran. Tercapainya fungsi-fungsi tersebut akan tergantung dari pemilihan jenis
pepohonan yang ditanam di sepanjang jalur hijau.

Secara umum kriteria jenis pepohonan yang akan ditanam pada rencana jalur
hijau jaringan jalan adalah sbb:

 Ditanam secara berbaris dengan jarak tanam 8 – 10 meter;

 Perakaran kuat (tidak mudah tumbang) dan tidak merusak jalan atau trotoir;

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-12


LAPORAN AKHIR

 Struktur batang lurus;

 Titik percabangan sekitar 2 meter di atas permukaan tanah;

 Bermassa daun padat;

 Tajuk membentuk kanopi sehingga memberikan keteduhan pada daerah


sekitarnya;

 Bunga/buah tidak mudah rontok; dan

 Mudah dalam perawatan.

C. Kawasan Penyangga (Buffer Zone).

Kawasan Penyangga (Buffer Zone) di Kawasan teknopolitan memiliki fungsi


spesifik yakni melindungi lingkungan sekitar blok-blok area kegiatan. Kawasan
Penyangga dibutuhkan untuk memenuhi fungsi ekologis, yaitu :

 Melindungi sisten-sistem yang ada agar tidak tercemar oleh limbah, terutama
sistem tata air.

 Menciptakan suatu kawasan yang memiliki potensi keanekaragaman hayati


tinggi.

 Karena fungsi lindung yang diembannya, kawasan penyangga ini diarahkan


untuk memiliki jenis-jenis vegetasi yang mewakili semua strata, sehingga
terdiri dari kombinasi antara pohon, perdu/semak, penutup tanah, rumput, dan
tanaman rambat. Untuk itu akan menjadi sarana pembatas antar blok maupun
area lainnya.

D. Taman Lingkungan.

Taman lingkungan merupakan taman dengan klasifikasi yang lebih kecil dan
diperuntukkan untuk kebutuhan rekreasi terbatas, yang meliputi populasi yang
terbatas pula. Berbeda dengan taman kota yang diperuntukkan untuk kebutuhan
interaksi mayarakat kota, taman lingkungan diperuntukkan untuk interaksi
masyarakat setempat.

Pengadaan taman lingkungan memiliki tujuan utama sebagai wadah interaksi


warga (fungsi sosial), meningkatkan kualitas lingkungan mikro (fungsi ekologis) dengan
meningkatkan kesejukan dan kenyamanan lingkungan, menyerap air, meningkatkan
kesehatan individu, dan menyerap partikel beracun.

Untuk itu, maka vegetasi di taman lingkungan diatur sebagai bagian dari
kombinasi lapangan terbuka tanpa perkerasan (rumput), pohon-pohon keras

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-13


LAPORAN AKHIR

pelindung/peneduh, pohon buah, dan perkerasan.

Jarak antar tanaman agak jarang, karena 70% dari area taman lingkungan lebih
ditujukan untuk kegiatan-kegiatan lingkungan.

Vegetasi yang ada di taman lingkungan harus memiliki karaktersitik tanaman:


tidak bergetah/beracun, dahan tidak mudah patah, perakaran tidak mengganggu
pondasi, struktur daun setengah rapat sampai rapat sebagai berikut:

 Tumbuhan ornamental berbunga; dan

 Tumbuhan penghasil buah.

E. Taman Rekreasi

Taman rekreasi merupakan ruang terbuka yang digunakan sebagai tempat


rekreasi yaitu tempat penduduk melaksanakan kegiatan-kegiatan rekreasi (suka) aktif.
Sesuai dengan
fungsinya,
penyediaan
fasilitas untuk
menunjang
kegiatan di RTH
jenis ini sangat
penting, taman
rekreasi biasanya dibangun secara unik dan dipakai untuk kegiatan yang cukup aktif
seperti piknik, permainan (simulasi), dan lain sebagainya melalui penyediaan sarana-
sarana permainan juga sarana-sarana pendukung lainnya.

Secara teknis taman rekreasi ini mempunyai syarat, yaitu:

a) Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau ekosistem gejala alam
serta formasi geologi yang menarik;

b) Mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya tarik
untuk dimanfaatkan bagi rekreasi alam;

c) Jenis-jenis vegetasi yang dikembangkan merupakan kombinasi dari kebutuhan-


kebutuhan sosial dan ekologis. Karena peran sosialnya maka vegetasi yang dipilih
harus yang mudah dirawat, tidak berbahaya (bagian-bagiannya tidak beracun,
tidak berduri, tidak mudah regas/patah), dengan rekomendasi (namun tidak
terbatas) sebagai berikut:

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-14


LAPORAN AKHIR

 Tumbuhan ornamental berbunga.

 Tumbuhan penghasil buah.

Adapun potensi lokasi di Kawasan teknopolitan berada dalam area untuk fasiltas
prasarana dan sarana penunjang lainnya.

F. Sempadan Jalan

Jalur hijau sempadan jalan adalah ruang terbuka yang terletak di daerah milik
jalan (damija) maupun di dalam daerah pengawasan jalan (dawasda) memiliki peranan
dalam menurunkan kadar pencemar udara dengan menyerap sisa pembakaran, debu,
memberikan perlindungan dari teriknya matahari, dan juga berfungsi sebagai tempat
berteduh, penyerap air hujan dan pengarah jalur lalu lintas (pengaturan lalu lintas).
Jalur hijau ini dapat berada di sepanjang kiri-kanan jalan ataupun pada bagian tengah
jalan (median jalan).

Arahan jenis tanaman pada sempadan jalan adalah sebagai berikut :

Tabel 5.2. Arahan Jenis Tanaman pada Sempadan Jalan

FUNGSI
NO. KRITERIA JENIS TANAMAN
TANAMAN
Tanaman pada Sempadan Jalan
1 . Tanaman - Ditempatkan pada jalur - Kiara payung (Filicium decipiens)
Peneduh tanaman (minimal 1,5 m dari - Tanjung (Mimusops elengi)
tepi median) - Angsana (Ptherocarphus indicus)
- Percabangan 2 m di atas tanah
- Bentuk percabangan batang
tidak merunduk
- Bermassa daun padat
2 . Penyerap polusi -- Ditanam secara
Terdiri dari berbaris
pohon, perdu/semak - Angsana (Ptherocarphus indicus)
udara - Memiliki ketahanan tinggi - Akasia daun besar (Accasia
terhadap pengaruh udara mangium)
- Jarak tanam rapat - Oleander (Nerium oleander)
3 . Penyerap Bermassa
- Terdiri dar daun padat
pohon, perdu/semak - Bogenvil (Mimusops
Tanjung (Bougenvillea Sp)
elengi)
Kebisingan - Membentuk massa - Kiara payung (Filicium decipiens)
- Bermassa daun rapat - Teh-tehan pangkas (Acalypha
- Berbagai bentuk tajuk sp)
- Kembang sepatu (Hibiscus rosa
sinensis)

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-15


LAPORAN AKHIR

FUNGSI
NO. KRITERIA JENIS TANAMAN
TANAMAN
4 . Pemecah angin - Tanaman tinggi, perdu/semak - Cemara (Cassuarina
- Bermassa daun padat equisetifolia)
- Ditanam berbaris atau - Angsana (Ptherocarphus indicus)
membentuk massa - Tanjung (Mimusops elengi)
- Jarak tanam rapat < 3 m - Kiara payung (Filicium decipiens)
5 . Pembatas - Tanaman tinggi, perdu/semak - Bambu (bambusa sp)
Pandang - Bermassa daun padat - Cemara (Cassuarina
- Ditanam berbaris atau equisetifolia)
membentuk massa - Oleander (Nerium oleander)
Tanaman Median Jalan- Jarak tanam rapat - Kembang sepatu (Hibiscus rosa
6 . Penahan silau - Tanaman perdu/semak - Oleander (Nerium oleander)
lampu kendaraan - Ditanam rapat - Kembang sepatu (Hibiscus rosa
- Ketinggian 1,5 m sinensis)
- Bermassa daun padat - Bogenvil (Bougenvillea Sp)
Tanaman pada Persimpangan Jalan/Pulau Jalan - Nusa Indah (Mussaenda sp)
7 . Daerah bebas - Tanaman rendah berbentuk - Soka berwarna-warni (Ixora
pandang tanaman perdu dengan stricata)
ketinggian < 0,80 m - Lantana (Lantana camara)
8 . Persimpangan -- Tanaman
Tanamanberbunga atau
perdu rendah - Duranta
Tanaman sp (Pangkas
berbatang kuning)
tunggal
yang mungkin - Palem raja (Oreodoxa regia)
ditanami - Pinang jambe (Areca catechu)
- Lontar/siwalan (Borassus
9. Tanaman
Flabellife)
pengarah
Tanaman pohon bercabang
> 2 meter
- Khaya (Khaya Sinegalensis)
Sumber: Disarikan dari Berbagai Sumber, 2011 - Bungur (Lagerstromea loudonii)

G. Fasilitas Area Parkir

Fasilitas parkir adalah suatu area terbuka atau tertutup yang memiliki fungsi
utama sebagai tempat memberhentikan dan menyimpan kendaraan, baik bermotor
maupun tidak bermotor, dalam waktu tertentu dan rutin.

Secara umum penataan fasilitas parkir kurang diperhatikan karena fungsinya yang
cenderung dinilai tidak penting. Padahal, baik secara luas lahan, fungsi, maupun
estetika fasilitas parkir memiliki potensi untuk ruang terbuka hijau, dengan persyaratan
teknis, meliputi:
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-16
LAPORAN AKHIR

 Fasilitas parkir terbuka karena luasnya dan permukaannya yang keras kerap
menjadi area yang memancarkan panas (hot spot). Oleh karenanya, sebaiknya
memanfaatkan material penutup lantai yang dapat menyerap air limpasan
seperti grass block. Cara lain adalah dengan menyisakan area yang tidak
memerlukan perkerasan tetap tanah atau diberi rumput atau batu. Misalnya
area antara dua sisi roda mobil dapat tetap rumput, tanah, atau batu.

 Karena luas permukaan terbukanya, fasilitas parkir ruang terbuka harus


memperhatikan aliran limpasan air hujan agar tidak mengalami genangan air
yang besar, atau bahkan berkontribusi pada banjir di lingkungannya karena
mengalirkan air ke luar area parkir. Saluran drainase area parkir harus
diperhatikan kemiringan permukaan area parkir minimal 1%.

 Kolam penampungan air limpasan (retention/detention pond) harus disediakan


untuk fasilitas parkir dengan luas di atas 5000 m2.

 Area parkir harus memiliki proporsi antara kendaraan parkir dan vegetasi yang
seimbang. Sebuah area parkir sebaiknya menanam satu buah pohon untuk
setiap ruang untuk lima buah mobil.

 Karena secara estetika fasilitas parkir tidak menarik, maka fasilitas parkir
sebaiknya dilengkapi dengan pagar pembatas setinggi paling tidak 1,2 meter,
baik berupa pagar tanaman, atau pagar buatan dengan kombinasi tanaman
rambat. Penggunaan berem dengan ketinggian di atas 50 cm juga dapat
mengurangi pemandangan tidak menarik fasilitas parkir.

 Tampak bangunan yang khusus dibuat untuk fasilitas parkir harus dibuat
menarik. Karena umumnya bangunan sejenis ini dibuat fungsional, maka
tampak akan sederhana. Penanaman tanaman rambat menjadi alternatif,
selama dapat menutupi 80% dari tampak bangunan.

 Persyaratan untuk tanaman pada lahan parkir merupakan jenis tanaman yang
dapat tumbuh baik pada tanah padat :

- Pohon yang cukup tinggi dan rindang, sehingga lingkungan tempat parkir
dapat lebih sejuk dan nyaman.

- Tanaman setelah dewasa tingginya harus lebih dari 10 meter yang


memiliki diameter tajuk lebih dari 3 meter dan memiliki daerah bebas
cabangnya lebih dari 3 meter.

- Struktur perakaran tanaman tidak banyak yang berada di permukaan


tanah.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-17


LAPORAN AKHIR

5.3.2. Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya.

Dalam konteks Kawasan Teknopolitan, rencana pengembangan kawasan


budidaya ini diarahkan kepada upaya untuk mengendalikan alih fungsi guna lahan
yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Selain itu juga untuk mendukung
pencapaian visi dan misi Kawasan teknopolitan sebagai pusat pemajuan iptek dengan
tetap mempertimbangkan aspek hijau kota.

Kawasan budidaya tersebut terdiri dari bangunan-bangunan perkantoran, mesjid,


laboratorium, gudang, gedung sekolah, pusat penelitian dan pengembangan, serta
kawasan peruntukan lainnya. Di mana unsur bangunan tersebut telah dijabarkan
dalam subbab rencana tapak pengembangan bidang-bidang. Selanjutnya kawasan
budidaya berikut ini menjelaskan aspek kegiatan lainnya yang perlu diperhatikan dalam
perencanaan ruang Kawasan teknopolitan.

a) Kegiatan Komersial

Kegiatan komersial ditimbulkan oleh peranannya yang melayani kebutuhan


konsumen, dengan demikian skala pelayanan akan terbentuk sesuai dengan potensi
lokasi dan komoditinya. Hal ini sangat jelas terjadi di Kawasan teknopolitan yang
memiliki kegiatan untuk rekreasi/hiburan. Dari potensi yang ada serta rencana
pengembangan struktur yang dituju diharapkan dapat disusun suatu sistem pelayanan
kegiatan secara optimal dan merata. Berdasarkan skala pelayanannya, kegiatan
komersial ini bersifat pusat pelayanan dengan skala lingkungan.

Kegiatan komersial ini diarahkan sebagai berikut:

1) Kegiatan komersial diarahkan berlokasi dalam satu area khusus dengan konsep
pengembangan blok kawasan terpadu.

2) Komersial skala pusat pelayanan berada di pusat pelayanan dekat dengan pusat
pengelola.

3) Komersial lingkungan diarahkan untuk melayani bidang-bidang teknologi produksi


dalam konsep neighbourhood unit.

4) Menambah akses di sekitar pusat-pusat kegiatan komersial tidak mengganggu


jaringan jalan utama kawasan.

5) Mengarahkan pengelompokan kegiatan komersial pada simpul-simpul potensial


tertentu.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-18


LAPORAN AKHIR

b) Kegiatan Pariwisata dan Rekreasi.

Rencana pengembangan Kawasan peruntukan Rekreasi, meliputi:

1) Pengembangan kegiatan rekreasi yang mencakup obyek wisata berupa kolam


rekreasi air dan outbound activities, serta prasarana dan sarana penunjang.

2) Pengembangan obyek wisata dan rekreasi mencakup wisata kreatif, wisata


pendidikan, wisata budaya, wisata konferensi dan obyek rekreasi.

3) Pengembangan wisata di kawasan lindung dan kawasan budidaya ditata secara


terpadu.

4) Selain itu pengembangan obyek wisata dan rekreasi juga meliputi kegiatan.

5.4. Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Teknopolitan


Pelalawan.

Salah satu hal yang penting yang perlu dituangkan dalam Masterplan Kawasan
teknopolitan Pelalawan adalah rencana pengaturan dan pengendalian bangunan.
Rencana pengaturan dan pengendalian bangunan ini pada dasarnya dimaksudkan
untuk menciptakan estetika kawasan yang mendukung terciptanya pola interaksi antar
kegiatan yang efisien. Titik berat dari rencana penataan dan pengendalian bangunan
adalah pada aspek perancangan kota (urban design). Adapun aspek-aspek yang
termasuk dalam pedoman penataan dan pengendalian bangunan, meliputi:

 Pembentukan dan penataan wajah kawasan dengan penataan ketinggian


bangunan (skyline kota)

 Penataan jalur pergerakan yang efisien melalui penataan jalur pergerakan (jalan,
pedestrian) serta street furniture (jenis, pelatakan dan desain)

 Pembentukan faktor estetika lingkungan dengan penataan kelengkapan jalan dan


lingkungan (street furniture) meliputi desain dan penempatannya. Khusus untuk
kawasan komersial, pembentukan faktor lingkungan ini juga dituangkan dalam
bentuk aturan pemasangan papan reklame, signase/pertandaan mencakup desain,
ukuran dan juga penempatannya.

Tujuan dari arahan pengendalian pemanfaatan ruang di Kawasan Teknopolitan


Pelalawan adalah mengatur batasan penggunaan ruang yang masih diperbolehkan di
kawasan ini agar tercipta ruang yang efektif efisien nyaman dan aman. Secara umum
Kawasan Teknopolitan merupakan kawasan yang memiliki ruang terbuka luas dan
Koefisiensi Dasar Bangunan (KDB) sangat rendah ( dibawah 20 %).
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-19
LAPORAN AKHIR

Namun untuk mengantisipasi perkembangan


kawasan ini harus disusun Arahan Ketentuan
Intensitas Pemanfaatan Ruang, terutama pada
jalur utama Bulevar, jalan lingkungan satu dan
jalan lingkar luar kawasan, serta areal centre point
kawasan.

Intensitas pemanfaatan ruang merupakan


hal yang perlu dilakukan untuk mengatur kepadatan bangunan sebuah kawasan.
Beberapa variabel intensitas bangunan adalah (1) Garis Sempadan Bangunan (GSB),
(2) Koefisien Dasar Bangunan (KDB), (3) Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan
Ketinggian Bangunan.

Penerapan masing-masing istilah tersebut pada kawasan perencanaan adalah:

1) Garis Sempadan Bangunan (GSB) adalah garis batas dalam mendirikan


bangunan dalam suatu persil atau petak yang tidak boleh dilewatinya, garis ini
bisa membatasi fisik bangunan ke arah depan, belakang ataupun samping.

GSB yang ditetapkan untuk jalur utama Bulevar Jalan Lingkungan satu, ring road
dan centre point adalah sebagai berikut.

Tabel 5.3. Rencana Garis Sempadan Bangunan di Kawasan Teknopolitan


Pelalawan.

Garis Garis Garis


Daerah
Klasifikasi Sempadan Sempadan Sempadan
No Milik Jalan
Jalan/Lokasi Bangunan Samping Belakang
(DMJ)
(GSB) (GspS) (GspB)
1 Bulevar 20 m 10 m 4m 4m
2 Jalan Lingkungan 10 m 5m 2 2
satu
3 Ring road 4m 4m 2m 2m
4 Area Centre Point 6m 3m 2m 2m

2) Koefisiensi Dasar Bangunan (KDB) adalah angka prosentase berdasarkan


perbandingan jumlah luas lantai dasar bangunan terhadap luas tanah
perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang kota.
Rencana pengaturan KDB ditujukan untuk mengatur proporsi antara daerah
terbangun dengan tidak terbangun serta untuk mengatur intensitas kepadatan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-20


LAPORAN AKHIR

bangunan. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) atau disebut juga “Building


Coverage Ratio (BCR)”. Secara matematis KDB dapat dinyatakan dalam
persamaan:

KDB = (Luas Lantai Bangunan/Luas Kapling) x 100%

Pada prinsipnya proporsi lahan terbuka di suatu kawasan seharusnya lebih besar
daripada lahan terbangun, agar tercapai sirkulasi udara dan air yang ideal. Semakin
luas lahan terbuka maka akan semakin besar besar bidang peresapan air hujan dan
akan menurunkan debit atau limpasan permukaan yang berarti turut mencegah
banjir, serta menambah cadangan air tanah. Untuk kawasan Kawasan teknopolitan
KDB maksimum yang ditetapkan adala 20 %

3) Koefisiensi Lantai Bangunan (KLB) adalah besaran ruang yang dihitung dari
angka perbandingan jumlah luas seluruh lantai bangunan terhadap luas tanah
perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana teknis ruang kota.
Secara matematis KLB dapat dinyatakan dalam persamaan :

KLB = (Total Luas Lantai Bangunan/Luas Kapling) x 100%.

Ketinggian bangunan yang dimaksud adalah jumlah lantai penuh dalam satu
bangunan dihitung mulai lantai dasar sampai puncak atap suatu bangunan, yang
dinyatakan dalam meter, atau ketinggian bangunan (TB) adalah suatu angka yang
membatasi ketinggian suatu bangunan yang dapat berupa lapis/tingkat bangunan,
atau dalam satuan ketinggian (m).

Ketinggian bangunan dapat membentuk terciptanya kesan klimaks dan anti


klimaks. Pengaturan ketinggian bangunan juga bertujuan untuk menciptakan
skyline kota atau kawasan, sehingga tercipta kesan yang tidak monoton. Atau
bahkan ketinggian bangunan dapat dimanfaatakan untuk membentuk sebuah
landmark kawasan.

Pengaturan ketinggian bangunan di kawasan Kawasan teknopolitan, diharapkan


dapat:

 Dapat menonjolkan Landmark kawasan.

 Sesuai dengan daya dukung kemampuan tanah lahan.

 Menciptakan keserasian bangunan dengan view di sekitarnya.

 Menciptakan skyline kawasan yang serasi dan berkarakter.

Dalam perencanaan kawasan Kawasan teknopolitan ketinggian bangunan


maksimum yang direncanakan adalah 4 lantai, namun tidak menutup kemungkinan
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-21
LAPORAN AKHIR

untuk dibangunnya bangunan 6 lantai, terutama untuk bangunan Kantor Pengelola


Kawasan yang direncanakan menjadi landmark kawasan. Ketentuan tersebut
diberlakukan dengan catatan:

 Tinggi puncak atap bangunan tidak bertingkat maksimum 8 meter dari lantai
dasar.

 Tinggi puncak atap bangunan dua lantai maksimum 12 meter dari lantai dasar.

 Jarak vertikal dari lantai dasar ke lantai di atasnya tidak boleh lebih dari 5
meter.

Gambar 5.4. Irisan Rencana Jalur Utama Kawasan (Bulevar)

Peta Rencana Pola Ruang dan Peta Illustrasi Pengembangan Pola Ruang
Teknopolitan Pelalawan dapat dilihat pada gambar 5.5 dan 5.6 berikut ini.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-22


LAPORAN AKHIR

Gambar 5.5. Peta Rencana Pola Ruang Teknopolitan Pelalawan

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-23


LAPORAN AKHIR

Gambar 5.6. Peta Illustrasi Pengembangan Pola Ruang Teknopolitan Pelalawan.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-24


LAPORAN AKHIR

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan V-25


LAPORAN AKHIR

BAB VI
RENCANA PENGEMBANGAN
TEKNOPOLITAN KABUPATEN
PELALAWAN

6.1. INDIKASI PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN TEKNOPOLITAN


PELALAWAN.

Dengan tersusunnya konsep pengembangan kawasan teknopolitan Pelalawan,


langkah berikutnya adalah menyusun indikasi program dan kegiatan pembangunan
kawasan teknopolitan Pelalawan. Indikasi program dan kegiatan tesebut ditetapkan
untuk mengoptimalkan penyusunan program-program teknis dan upaya untuk
mendorong keikutsertaan semua pihak baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat.

Kemudian dilakukan pula penyusunan keterpaduan antar stakeholder karena


dalam proses pengembangan kawasan tersebut banyak melibatkan instansi/lembaga
terkait.

Indikasi program dan kegiatan ditetapkan dalam waktu 20 (duapuluh) tahun


perencanaan tahun 2013-2027 yang terbagi dalam 2 (dua) tahapan program
pembangunan, yaitu:

a. Tahap I : 2013 – 2017; dan

b. Tahap II : 2018 – 2027;

Indikasi Program Kawasan Teknopolitan Pelalawan dapat dirumuskan dalam


tahapan kegiatan sebagai berikut:

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan VI-1


LAPORAN AKHIR

Tahap I : 2013 – 2017, program dan kegiatan meliputi:

1) Penyiapan kawasan;

2) Penyusunan Detail Enginering Desain;

3) Pembangunan Kawasan Teknopolitan Tahap I;

4) Pembangunan infrastruktur penunjang di dalam kawasan;

5) Pembangunan infrastruktur penunjang di luar kawasan;

6) Pembangunan jalan akses menuju kawasan;

7) Sosialisasi dan promosi; dan

8) Pembentukan kelembagaan.

Tahap II : 2017 – 2027, program dan kegiatan meliputi:

1) Pembangunan kawasan teknopolitan Tahap II;

2) Sosialisasi dan promosi; dan

3) Pengembangan kelembagaan.

Rincian program dan kegiatan dari masing-masing tahapan tersebut dapat


diuraikan sebagaimana tercantum dalam Tabel 6.1 dan Tabel 6.2 berikut ini.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan VI-2


LAPORAN AKHIR

Tabel 6.1. Indikasi Program Pengembangan Kawasan Teknopolitan Tahun 2013-2017

SUMBER PENDANAAN INSTANSI TAHUN PELAKSANAAN


USULAN PROGRAM UTAMA LOKASI APBN APBD SWASTA PELAKSANA 2013 2014 2015 2016 2017
A. PENYIAPAN KAWASAN
Land Acquisition Seluruh Lokasi X Pemkab Pelalawan
Land Clearing Seluruh Lokasi X Pemkab Pelalawan
Revisi RTRW Seluruh Lokasi X Pemkab Pelalawan
Legalisasi Kawasan Seluruh Lokasi X Pemkab Pelalawan
KLHS dan Amdal Seluruh Lokasi X Pemkab Pelalawan
B. DETAIL ENGINEERING DESAIN
DED Infrastruktur (Jalan, Dry-Port, Terminal,
Drainase, Telekomunikasi, Listrik,Pengelolaan
Limbah, Sampah, Air Bersih) G X BPPT
DED Fasos-Fasum (Rumah Ibadah, Olah Raga,
RTH, Hiburan) C X BPPT
DED Rumah Sakit C X BPPT
DED Pusat Keamanan Kawasan/Kepolisian C X BPPT
DED Pusat Pendidikan (Community College &
ITP) A X BPPT
DED Pusat R&D A X BPPT
C. PEMBANGUNAN KAWASAN TAHAP I
Pembangunan Gapura dan Jalan dalam BAPPEDA DAN
Kawasan G X DINAS PU
Pembangunan Community College/Politeknik A X KEMENDIKBUD
Pembangunan Institut Teknologi Pelalawan A X KEMENDIKBUD
Pembangunan Kawasan Pemukiman C X PENGEMBANG
Pembangunan Kawasan Industri dan UKM B X INDUSTRI
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan VI-3
LAPORAN AKHIR

SUMBER PENDANAAN INSTANSI TAHUN PELAKSANAAN


USULAN PROGRAM UTAMA LOKASI APBN APBD SWASTA PELAKSANA 2013 2014 2015 2016 2017
Pembangunan Kawasan Perdagangan dan
Jasa Komersial E X PENGEMBANG
Pembangunan Kawasan Perkantoran D X PENGEMBANG
Pembangunan Kawasan R&D A X KEMENRISTEK
Pembangunan Kawasan Rekreasi, Olah Raga,
dan Rumah Ibadah F X PENGEMBANG
Pembangunan Kawasan RTH & Buffer F X PENGEMBANG
D. PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
PENUNJANG DI DALAM KAWASAN
Pembangunan Drainase G X DINAS PU
Pembangunan Jaringan TIK G X DINAP PU
Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik G X PENGEMBANG
Pembangunan Transmisi Listrik G X PENGEMBANG
Pembangunan Pengolahan Air Bersih G X PDAM DAERAH
Pembangunan Instalasi Pengolahan Limbah
Industri (Industrial Waste Water Treatment) G X PENGEMBANG
Pembangunan Pengolahan Sampah G X DINAP PU
E. PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
PENUNJANG DI LUAR KAWASAN
Pembangunan Pelabuhan Sokoi KEMENHUB,
Sokoi X X DISHUB
Pembangunan Bandara Pelalawan Bandar Sei KEMENHUB,
Kijang X X DISHUB
Pembangunan Jalan Tol Lintas Timur G X KEMENPU
Pembangunan Jalan K.A. Lintas Timur
Sumatera G X KEMENHUB
Pembangunan Jalan Teknopolitan - DINAS PU
Pelabuhan Sokoi G X PROVINSI
Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan VI-4
LAPORAN AKHIR

SUMBER PENDANAAN INSTANSI TAHUN PELAKSANAAN


USULAN PROGRAM UTAMA LOKASI APBN APBD SWASTA PELAKSANA 2013 2014 2015 2016 2017
Pembangunan Jalan Teknopolitan - Bandara DINAS PU
Pelalawan G X PROVINSI
Pembangunan Jalan Teknopolitan - Stasiun DINAS PU
Kereta Api Lintas Timur G X PROVINSI
Pembangunan Jalan Teknopolitan - Jalan Tol DINAS PU
Lintas Timur G X PROVINSI
F. PEMBANGUNAN JALAN AKSES MENUJU
KAWASAN
Peningkatan Jalan RAPP G X RAPP
Peningkatan Jalan Kabupaten G X DISHUB
Pembangunan Jalan Lingkar Luar Pelalawan G X DISHUB
G. SOSIALISASI DAN PROMOSI
Identifikasi Calon Investor X BKPM DAERAH
Pembentukan tim marketing X BAPPEDA
Persiapan Materi Marketing X SETDA
Publikasi, Roadshow dan Sosialisasi X SETDA
Pembentukan Komitmen Investor X SETDA
H.KELEMBAGAAN
Pembentukan dan Operasionalisasi Tim
Kebijakan Kawasan X BUPATI
Penyiapan legalitas pengelola kawasan X BUPATI
Pembentukan dan Operasionalisasi UPTD X BUPATI
Pembentukan dan Operasionalisasi
BUMD/BLUD X BUPATI
Proses spin-off BUMD ke KEK X BUPATI

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan VI-5


LAPORAN AKHIR

Tabel 6.2. Indikasi Program Pengembangan Kawasan Teknopolitan Tahun 2018-2027

SUMBER PENDANAAN TAHUN PELAKSANAAN


USULAN PROGRAM UTAMA INSTANSI 2018- 2020- 2022- 2024- 2026-
LOKASI APBN APBD SWASTA PELAKSANA 2019 2021 2023 2025 2027
A. PEMBANGUNAN KAWASAN TAHAP II
Pembangunan Kawasan Permukiman C X PENGEMBANG
Pembangunan Kawasan Industri B X INDUSTRI
Pembangunan Kawasan Perdagangan dan Jasa E X PENGEMBANG
Pembangunan Kawasan Perkantoran D X PENGEMBANG
Pembangunan Kawasan R&D A X KEMENRISTEK
Pembangunan Kawasan Rekreasi dan Olah
Raga F X PENGEMBANG
KEMENKO
PEREKONOMIAN,
BPPT,
KEMENPERIN,
Pembangunan Inkubator Bisnis B X KUKM,
Pembangunan Infrastruktur (Dry-Port dan
Terminal) G X DISHUB
Pembangunan Rumah Sakit C X DISKES
Pembangunan Pusat Keamanan
Kawasan/Kepolisian C X SETDA
B. SOSIALISASI DAN PROMOSI
Identifikasi Calon Investor X SETDA
Publikasi, Roadshow dan Sosialisasi X SETDA
Pembentukan Komitmen Investor X SETDA
C. KELEMBAGAAN
PENGELOLA
Pembentukan dan Operasionalisasi KEK X KAWASAN

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan VI-6


LAPORAN AKHIR

6.2. PENUTUP.

Dengan tersusunnya masterplan Kawasan Teknopolitan Pelalawan ini akan


menjadi acuan bagi semua pihak terkait yang akan membangun di Kawasan
Teknopolitan Pelalawan. Untuk lebih memperkuat fungsi dimaksud, langkah
selanjutnya adalah legalisasi masterplan ini menjadi sebuah peraturan perundang-
undangan di Kabupaten Pelalawan yang harus ditaati bersama.

Adapun kunci keberhasilan dari terlaksananya pengembangan dan pembangunan


Kawasan Teknopolitan Pelalawan adalah :

1. Kepastian pendanaan modal kerja dari Pemerintah sebelum dapat beroperasi


secara swadana.

2. Pengalihan kelembagaan pengelolaan dari lembaga Badan Milik Pemda ke


Badan Usaha seperti BUMD atau PPP (public private partnership) dan
menjadikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

3. Keselarasan program Kawasan Teknopolitan Pelalawan dengan program


Kabupaten Pelalawan lainnya.

4. Ketersediaan prasarana dan sarana transportasi bahan baku maupun produk


hasil dari dan keluar kawasan teknopolitan Pelalawan.

5. Kesiapan SDM yang menguasai IPTEK dalam pengembangan sektor pertanian


dan perkebunan dalam menghasilkan produk-produk unggulan yang berdaya
saing tinggi.

6. Menjaga kelestarian sumberdaya lokal dengan mengembangkan dan


domestikasi komoditas lokal menjadi komoditas unggulan.

7. Keberlangsungan communite college dan Pendidikan Tinggi yang langgeng


dan harus menjadi faktor unggulan Kabupaten Pelalawan ke depan.

Eksistensi Kawasan Teknopolitan Pelalawan pada akhirnya akan ditentukan oleh


penilaian dari para stakeholder tentang deliverables yang dihasilkan, apakah memang
mampu memberikan nilai tambah lebih dibanding dengan kondisi eksisting. Kondisi ini
hanya akan terjadi apabila manajemen Kawasan Teknopolitan Pelalawan mampu
membangun kerjasama strategis dan sinergis dengan instansi atau organisasi terkait di
pusat maupun daerah, baik di bidang teknologi maupun bisnis. Kerjasama dengan
instansi pusat sebaiknya diarahkan untuk pemanfaatan dan alih teknologi produksi
yang mampu memperkuat sumberdaya lokal dalam memberikan output yang
berkualitas dan standar, serta untuk pencitraan organisasi. Sementara itu koordinasi

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan VI-7


LAPORAN AKHIR

dan kerjasama dengan instansi dan mitra lokal diarahkan kepada kesamaan fokus
dalam pengembangan dan pemasaran produk, perkuatan sumberdaya produksi, dan
penggalangan sikap kerja bersama agar tidak muncul ketersinggungan institusional.

Agar kondisi tersebut dapat direalisasikan, dukungan Pimpinan Daerah menjadi


sangat penting, khususnya dalam :

 Menunjuk manajemen Kawasan Teknopolitan Pelalawan, agar dipilih orang


yang mempunyai kemampuan komunikasi, leadership, dan entepreunership
yang memadai;

 Pemantauan jalannya organisasi, dan aktif memberikan solusi dan penengah,


apabila terjadi kebuntuan koordinasi antar institusi;

 Sosialisasi eksistensi Kawasan Teknopolitan Pelalawan ke luar Kabupaten


Pelalawan, baik di lingkungan institusi pemerintah maupun organisasi bisnis;

Dengan demikian, pembangunan Kawasan Teknopolitan Pelalawan ini harus lebih


diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan
daya saing daerah, dan bukan semata-mata menjadi sebuah lembaga milik perorangan
atau badan usaha swasta yang profit oriented. Orientasi kesejahteraan bersama lebih
diutamakan ketimbang orientasi keuntungan satu atau beberapa pihak tertentu.

Penyusunan Masterplan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan VI-8


101°44' 101°46' 101°48'

PENYUSUNAN MASTER PLAN


KAWASAN TEKNOPOLITAN
KABUPATEN PELALAWAN
PROVINSI RIAU

%
Desa Sekijang Mati %
[ Proyeksi : .............UTM
[ N Sistem grid : .............Geografis
101.807629 Zone UTM : .............48N

101.741297 0.249283 300 0 300 600 Meters

0.249162 1:15000
Desa Kualaterusan
PETA GEOLOGI

Legenda :
Lahan Basah
Batas Desa
0°14' 0°14'
Kanal
Jalan
1.485 Ha
Sungai
PLTG
Deliniasi Kawasan Teknopolitan

GAS Alluvium Sungai Rawa Danau


%
[
Aluvial termasuk Gambut
101.730886 2.165 Ha Batu Apung abu abu Batu Pasir
0.222111 Tufa Bentonit Batubara Muda
Mineral

Desa Rantau Baru PT MITRA UNGGUL PUSAKA

Kecamatan Langgam
PT AGRITA SARI PRIMA

0°12' 0°12'

101.807857 Kawasan Teknopolitan

0.194746 Sumber :
1. Peta Rupa Bumi Indonesia, Bakosurtanal Tahun 2000
2. Peta RTRW Kabupaten Pelalawan, Bappeda Tahun 2011-2020
%
[ 3. Peta RTRW Provinsi Riau, Bappeda Provinsi Tahun 2010-2029

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


KABUPATEN PELALAWAN

101°44' 101°46' 101°48' BADAN PENGKAJIAN PENERAPAN TEKNOLOGI


101°44' 101°46' 101°48'

PENYUSUNAN MASTER PLAN


KAWASAN TEKNOPOLITAN
KABUPATEN PELALAWAN
PROVINSI RIAU

%
Desa Sekijang Mati %
[ Proyeksi : .............UTM
[ N Sistem grid : .............Geografis
101.807629 Zone UTM : .............48N

101.741297 0.249283 300 0 300 600 Meters

0.249162 1:15000
Desa Kualaterusan
PETA KONTUR
15

Legenda :
20 Lahan Basah

30
35 30 Batas Desa
Kanal

30
0°14' 45 35 0°14'
30

15
30
Jalan
45 30
1.485 Ha
40

40
45

35
25
Sungai
PLTG 35
55

15
40

20
Deliniasi Kawasan Teknopolitan
35 35
35
50
40

15

GAS
45

35
10 20 30 40 50

%
[
30
15 25
35 45 55

Kontur
2.165 Ha
45

101.730886
40

25
30

25

15

0.222111 35
30

40
35

Mineral
50

25
30

35
40

35

Desa Rantau Baru 15

PT MITRA UNGGUL PUSAKA


30
30

30

40
35
35 25

40
25
35
30
15
20
45

40

30
30

55
50

Kecamatan Langgam
45

50

PT AGRITA SARI PRIMA 20


45

25

40

30
20
30

20
0°12' 0°12'

30 101.807857

25
Kawasan Teknopolitan

0.194746 Sumber :
35
1. Peta Rupa Bumi Indonesia, Bakosurtanal Tahun 2000
2. Peta RTRW Kabupaten Pelalawan, Bappeda Tahun 2011-2020

35
%
[ 3. Peta RTRW Provinsi Riau, Bappeda Provinsi Tahun 2010-2029

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


KABUPATEN PELALAWAN

101°44' 101°46' 101°48' BADAN PENGKAJIAN PENERAPAN TEKNOLOGI


101°44' 101°46' 101°48'

PENYUSUNAN MASTER PLAN


KAWASAN TEKNOPOLITAN
KABUPATEN PELALAWAN
PROVINSI RIAU

%
Desa Sekijang Mati %
[ Proyeksi : .............UTM
[ N Sistem grid : .............Geografis
101.807629 Zone UTM : .............48N

101.741297 0.249283 300 0 300 600 Meters

0.249162 1:15000
Desa Kualaterusan
PETA SISTEM LAHAN

Legenda :
Lahan Basah
Batas Desa
0°14' 0°14'
Kanal
Jalan
1.485 Ha
Sungai
PLTG
Deliniasi Kawasan Teknopolitan

GAS
Gambut
%
[
101.730886 2.165 Ha Mineral
0.222111
Mineral

Desa Rantau Baru PT MITRA UNGGUL PUSAKA

Kecamatan Langgam
PT AGRITA SARI PRIMA

0°12' 0°12'

101.807857 Kawasan Teknopolitan

0.194746 Sumber :
1. Peta Rupa Bumi Indonesia, Bakosurtanal Tahun 2000
2. Peta RTRW Kabupaten Pelalawan, Bappeda Tahun 2011-2020
%
[ 3. Peta RTRW Provinsi Riau, Bappeda Provinsi Tahun 2010-2029

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


KABUPATEN PELALAWAN

101°44' 101°46' 101°48' BADAN PENGKAJIAN PENERAPAN TEKNOLOGI


101°44' 101°46' 101°48'

PENYUSUNAN MASTER PLAN


KAWASAN TEKNOPOLITAN
KABUPATEN PELALAWAN
PROVINSI RIAU

%
Desa Sekijang Mati %
[ Proyeksi : .............UTM
[ N Sistem grid : .............Geografis
101.807629 Zone UTM : .............48N

101.741297 0.249283 300 0 300 600 Meters

0.249162 1:15000
Desa Kualaterusan
PETA KOORDINAT KAWASAN TEKNOPOLITAN

Legenda :
Lahan Basah
Batas Desa
0°14' 0°14'
Kanal
Jalan
1.485 Ha
Sungai
PLTG
Deliniasi Kawasan Teknopolitan
GAS %
[ Titik Koordinat
%
[
101.730886 2.165 Ha
0.222111
Mineral

Desa Rantau Baru PT MITRA UNGGUL PUSAKA

Kecamatan Langgam
PT AGRITA SARI PRIMA

0°12' 0°12'

101.807857 Kawasan Teknopolitan

0.194746 Sumber :
1. Peta Rupa Bumi Indonesia, Bakosurtanal Tahun 2000
2. Peta RTRW Kabupaten Pelalawan, Bappeda Tahun 2011-2020
%
[ 3. Peta RTRW Provinsi Riau, Bappeda Provinsi Tahun 2010-2029

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


KABUPATEN PELALAWAN

101°44' 101°46' 101°48' BADAN PENGKAJIAN PENERAPAN TEKNOLOGI


101°44' 101°46' 101°48'

PENYUSUNAN MASTER PLAN


KAWASAN TEKNOPOLITAN
KABUPATEN PELALAWAN
PROVINSI RIAU

%
Desa Sekijang Mati %
[ Proyeksi : .............UTM
[ N Sistem grid : .............Geografis
101.807629 Zone UTM : .............48N

101.741297 0.249283 300 0 300 600 Meters

0.249162 1:15000
Desa Kualaterusan
PETA TUTUPAN LAHAN

Legenda :
Lahan Basah
Batas Desa
0°14' 0°14'
Kanal
Jalan
1.485 Ha
Sungai
PLTG
Deliniasi Kawasan Teknopolitan

GAS Belukar
%
[
Hutan
101.730886 2.165 Ha Hutan Akasia
0.222111 Lahan Kosong/Terbuka
Mineral Perkebunan Rakyat
Semak/Alang-alang/Rumput
Desa Rantau Baru PT MITRA UNGGUL PUSAKA

Kecamatan Langgam
PT AGRITA SARI PRIMA

0°12' 0°12'

101.807857 Kawasan Teknopolitan

0.194746 Sumber :
1. Peta Rupa Bumi Indonesia, Bakosurtanal Tahun 2000
2. Peta RTRW Kabupaten Pelalawan, Bappeda Tahun 2011-2020
%
[ 3. Peta RTRW Provinsi Riau, Bappeda Provinsi Tahun 2010-2029

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


KABUPATEN PELALAWAN

101°44' 101°46' 101°48' BADAN PENGKAJIAN PENERAPAN TEKNOLOGI