Anda di halaman 1dari 62

SPEKTROFOTOMETRI UV DAN

VISIBEL
Oleh
Pratiwi Apridamayanti, M.Sc., Apt
KIMIA ANALISIS INSTRUMENTAL
1. UV dan Visibel / Tampak
Spektroskopi :
 Ilmu yang berhubungan dgn absorpsi,
emisi dan penghamburan radiasi
elektron oleh atom / molekul.

Reaksi :
A
M + hν M* M + hν
E

UV / Vis Fluorecensi
 Materi : atom , molekul , ion

 Radiasi elektron :
- Salah satu jenis energi yang ditrans
misikan dalam ruangan dengan kece
patan tinggi

 Hasil interaksi :

Spektrum Absorpsi

Emisi
λ pada UV :  200 – 400 nm
pada Vis :  400 – 800 nm

UV : adanya gugus fungsional yang mengabsorpsi


radiasi UV yg biasanya mempunyai ikatan n dan
π ( gugus kromofor )

Vis : Pembentukan warna yang masuk pada daerah


visibel
Komponen Cahaya Putih
λ ( nm ) warna Komplemen
400 – 450 Violet Hijau kekuningan
450 – 480 Biru Kuning
480 - 490 Biru hijau Jingga
490 - 500 Hijau biru Merah
500 - 560 Hijau Ungu
565 - 575 Hijau kuning Violet
575 - 590 kuning Biru
590 - 625 jingga Biru hijau
625 - 750 Merah Hijau biru
Satuan

1 Å = 1 angstrom = 10-10 m = 10-8 cm


1 µ = 1 mikron = 10-6 m = 10-4 cm = 104 Å
1 mµ = 1 milimikron = 10-9 m = 10-7 cm = 10 Å

1 nm = 1 nanometer = 10-9 m = 10-7 cm = 10 Å = 1 mµ

Panjang gelombang pada daerah UV dan Vis biasanya


dinyatakan dalam satuan “nm”

6
Daerah UV dan Daerah Vis
Daerah UV (ultraviolet)
200 – 400 nm  dapat dideteksi dengan film
(150-72 kcal mol-1) fotografik atau sel fotolistrik
Sumber sinar
 lampu “hydrogen - discharge”  the high-voltage
(180 – 400 nm)
 lampu “deuterium-discharge”
Daerah Vis (visibel)
400 – 800 nm  batas sensitif mata
(72-36 kcal mol-1)

Sumber sinar
 lampu “tungsten- filament”
(400 – 800 nm)
7
Radiasi elektromagnetik (1)
• Radiasi elektromagnetik, atau sinar

 suatu bentuk energi radiasi,


memperlihatkan sifat partikel dan gelombang

• Sifat gelombang, tergambar pada sifat optik radiasi


elektromagnetik, yaitu difraksi

Sifat partikel, atau foton, tergambar pada proses interaksi radiasi


elektromagnetik dengan zat, yaitu pada proses penyerapan dan
emisi

8
Interaksi antara sinar dan zat (1)
dipantulkan
(reflection) sampel
dihamburkan
(Scattering)

sinar dari menuju detektor


sumber I
Io
diserap
(absorption)

Io = intensitas sinar sebelum mengenai sampel


I = intensitas sinar yang diteruskan

Perhitungan intensitas pita serapan


 menggunakan hukum Lambert dan Beer
9
Interaksi antara sinar dan zat (2)

Radiasi adalah suatu bentuk energi. Interaksi antara suatu


molekul dengan radiasi menyebabkan molekul bergerak dari
tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi yaitu ke
tingkat energi eksitasi
Radiasi pada daerah UV dan Vis mempengaruhi transisi elektronik.
Energi yang serap pada transisi elektronik menyebabkan terjadinya
eksitasi elektron yang terdapat pada orbital molekul ke orbital
berikutnya yang mempunyai tingkat energi yang lebih tinggi; jadi
elektron mengalami eksitasi dari tingkat dasar ke tingkat tereksitasi
Keadaan tereksitasi berlangsung sangat singkat (10-9 - 10-7 detik)

10
Interaksi antara sinar dan zat (3)

Dalam teori : transisi elektronik tunggal memberikan garis


tunggal yang tajam pada spektra serapan. Ini hanya berlaku
untuk molekul dalam bentuk gas atau untuk atom dimana
transisi selain elektronik ditekan.
Untuk molekul dalam larutan, terlihat adanya pita serapan
yang lebar pada spektra UV yang disebabkan oleh
berbagai jenis transisi (elektronik, vibrasi, dan rotasi) yang
saling berhubungan, dan karena interaksi solut-pelarut

11
ANALISIS

1. Kualitatif 2. Kuantitatif

Gugus fungsional Radiasi yg diserap


sebanding dgn jml
molekul
Kromofor

Hukum Lambert Beer

Dp = k x P x C x db
Analisis Kualitatif (1)
Serapan sinar UV/Vis ditentukan oleh
- Kromofor : gugus fungsional yang menyerap sinar
a.l : >C=C<, >C=O, -N=N-, -N=O,  mempunyai multiplet
bonding (Shimadzu,4.4.1)
-NO2, -C=C-
Kromofor biasanya mengandung “ bond”
- Ausokrom : gugus fungsional yang tidak mempunyai serapan
a.l : -OH, -NH2, -SH (dan  punya pasangan elektron yang tidak
derivatnya), dan terikat (Shimadzu,4.4.1)
beberapa halogen
Jika terikat dengan kromofor, gugus ini biasanya menyebabkan
pergeseran serapan ke arah  yang lebih besar dan
meningkatkan intensitas puncak serapan

13
Analisis Kualitatif (2)
Applikasi spektrofotometri UV-Vis untuk keperluan
analisis kualitatifa dalah sangat terbatas karena pita
serapan cenderung lebar dan karenanya informasi
yang diberikan kurang detail. Walaupun demikian,
investigasi terhadap spektra pada daerah ini
seringkali memberikan informasi yang berguna
mengenai ada tidaknya gugus fungsional (misalnya
karbonil, aromatis, nitro, atau diena terkonyugasi)
pada suatu senyawa organik

Spektra serapan UV/Vis sering digunakan pada saat


mengidentifikasi spesies molekuler. Ini sering
dilakukan dengan cara membandingkan spektrum
spesies zat sampel dengan spektrum zat yang telah
diketahui (berasal dari spektra literatur
14
Informasi Analisis pada range UV-Vis (a)

In the UV-Vis range from 200-700 nm typical (khas)


cromophores (light absorbing groups) can be observed;
groups with n  *,   * transitions in molecular
orbitals, d-d transitions in ligand fields of metal chelates
and charge-transfer bonds.

The omnipresent (keberadaan) σ-bonds in organic


compounds and also the non conjugated (isolated)
double bonds and n  δ* transitions are not excited in
the normal UV-Vis renge and thus do not interfere

15
Informasi Analisis pada range UV-Vis (b)
Absorption maxima of some Absorption maxima of nonconjugated
conjugated chromophores chromophores
max max
Substances Chromophore Transition
(nm) (nm)
CH3-CO-CH=CH2 225 -C-C- σ  σ* 150
CH2=CH-CH=CH2 217 -O- n  σ* 185
CH3(CH=CH)3CH3 274 -N< n  σ* 195
CH3(CH=CH)5CH3 342 -S- n  σ* 195
CH3(CH=CH)7CH3 401
>C=O   * 190
C6H6 203
n  * 300
C6H5-CH=CH2 248 (weak)
>C=C<
16   * 190
Analisis Kualitatif (4)
Pergeseran serapan maksimum ke arah  yang
lebih panjang  pergeseran batokromik
(=pergeseran merah)
Pergeseran ini dapat disebabkan oleh terikatnya ausokrom pada
kromofor atau perubahan pelarut
Pergeseran serapan maksimum ke arah  yang
lebih pendek  pergeseran hipsokromik
(=pergeseran biru)
Pergeseran ini dapat disebabkan oleh perubahan pelarut (makin polar)
atau substituen pada molekul, atau fenomena seperti hilangnya
konyugasi
Kenaikan instensitas serapan, misalnya karena terikatnya ausokrom pada
kromofor atau efek pelarut (makin polar)  efek hiperkromik

Penurunan instensitas serapan  efek hipokromik

17
Analisis Kuantitatif (1)
Untuk keperluan kuantitatif :
• diperlukan ε maks besar

agar konsentrasi larutan uji encer/kecil
• larutan uji biasanya sangat encer (c ≤ 0,1 mol/L)
 1 mg (jika BM 100-200) dilarutkan hingga 100 ml
Jika pekat  yang dipantulkan
yang dihamburkan  besar, sedangkan
yang diserap yang diteruskan : kecil
Yang dibutuhkan,
yang diteruskan : besar
• nilai maksimal serapan (A) adalah 1,0
 A yang digunakan : 0,2 – 0,8 [0,2 - 0,650]
atau T : 15 – 75%
Angka ini dipilih untuk meminimalkan
18 “errorr” dari alat
Analisis Kuantitatif (2)

Untuk mengetahui apakah “daerah kerja” memenuhi


hukum Lambert-Beer,

 dibuat kurva baku


Kurva baku digunakan jika “r hitung > r tabel”

kurva baku  jaminan kita bekerja dengan larutan encer


yang memenuhi hukum Lamber-Beer

19
Analisis Kuantitatif (3)
Ada beberapa tehnik analisis yang dikembangkan untuk jenis
sampel berlainan. Penentuan secara langsung dilakukan jika
molekul analit memiliki suatu kromofor. Standar harus
digunakan untuk menentukan absorbsivitas sehingga
konsentrasi dapat dihitung dengan persamaan berikut
A = a.b.c
or by establishing acalibration plot from which the
concentration can be determined by graphic interpretation or
by regretion analysis.
Penentuan secara tidak langsung umumnya dilakukan jika
molekul analit tidak memiliki “a suitable chromophore”.
Dalam hal ini, analit direaksikansecara kuantitatif dengan
molekul yang memilikisuatu kromofor and correlating the
diminution of absorbancewith the contentration of the
analyte, atau dengan mereaksikannya dengan suatu reagen
yang dapat membentuk suatu gugus kromofor.
20
Hukum Lambert-Beer (1)
Cara dalam menyatakan hukum Lambert-Beer :

T = I / Io = transmitan A = log (Io/I) = absorbansi


(serapan)
- log (I/ Io) = a.b.c log (Io /I) = a.b.c
- log T = a.b.c A = a.b.c

Seringkali a dinyatakan dalam ppm (mg zat/1 L larutan).


Jika c dinyatakan dalam mol per liter, dan b dalam cm,
 a diganti dengan ε (koefisien ekstingsi molar, =
molar absorptivitas = absortivitas molar)

dan selanjutnya persamaan Lambert-Beers menjadi


- log T = ε.b.c atau A = ε.b.c
21
Interaksi antara sinar dan zat (1)
dipantulkan
(reflection) sampel
dihamburkan
(Scattering)

sinar dari menuju detektor


sumber I
Io
diserap
(absorption)

Io = intensitas sinar sebelum mengenai sampel


I = intensitas sinar yang diteruskan

Perhitungan intensitas pita serapan


 menggunakan hukum Lambert dan Beer
22
Hukum Lambert-Beer (2)
A=ε.b.c
dimana
A : Absorbansi (= serapan)
ε : molar absorptivitas (L mol-1 cm-1)
c : kosentrasi larutan (mol/L)
b : tebal sel ≈ tebal kuvet ≈ tebal larutan (cm)
nilai c biasanya hanya untuk larutan encer (c ≤ 0,1 mol/L)
Jadi, Serapan (A) proporsional dengan konsentrasi larutan
zat (c) dan ketebalan sel (b)

23
Hukum Lambert-Beer (3)
Jika BM suatu zat tidak diketahui, atau jika yang
ditetapkan berupa campuran, intensitas serapan
dinyatakan sebagai E 1%
1 cm atau A 1 cm , serapan larutan zat
1%

1% dalam kuvet 1,0 cm. Hubungannya dengan ε :

10 ε = 1%
E 1 cm X mol. Berat

Contoh perhitungan serapan :


1%
E 1 cm 325 nm = 30
Berdasarkan persamaan diatas :
nilai serapan atau log (Io/I) larutan adalah 30;
diukur terhadap larutan dengan kadar 1% dan
ketebalan larutan 1 cm, pada  325 nm
24
A=axbxc

Jumlah cahaya yg diabsorpsi oleh materi

a = absorpsivitas , satuan mengikuti b dan c


b = tebal larutan ( cm )
c = konsentrasi

Harga a dipengaruhi : suhu, pelarut, λ, dan struktur model

Bisa dinyatakan dalam A atau T

log ( 1/T ) P / Po
• Hk. Lambert Beer dipengaruhi oleh :
1. Sifat zat kimia pengabsorpsi
2. Pelarut
3. Instrumen

• Keuntungan K. A. Instrumen :
1. ada referensi
2. Kepekaan
3. Ketepatan
4. Bisa otomatis
5. selektif ( ttt )

• Kelemahan :
1. Lebih mahal
2. Personal ttt
3. Kondisi ruangan
Spektrum absorpsi pada UV / Vis melebar :
- Transisi elektronik
- Vibrasional
- Rotasional
Hukum Lambert-Beer (4)

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap spektrum


serapan suatu zat :
- pelarut
- pH larutan
- suhu
- konsentrasi elektrolit yang tinggi
- zat asing yang mengganggu

27
Penggunaan HK. Lamber Bert

1. Dibuat satu seri larutan dalam pelarut sama

A ~ C garis lurus

Sampel ( kadar ) sekitar garis lurus


2. Membaca langsung plot Beer’s

Harus tidak ada zat lain


3. Membandingkan lar. Sampel Vs lar. Baku

r
A s = a x b x cs As x C
s
C = -----------
Ar = a x b x cr Ar
Faktor yang mempengaruhi pita absorpsi :

A a

λ ( nm )
c b
blue red

a = hiperkromik
b = batokromik red shift ik. Konjugasi
c = hipsokromik blue shift
d = hipokromik
Tahapan kerja Spektros. UV / Vis
1. Mencari operating time Visibel
 Memperoleh daerah stabil
 Reaksi dianggap sempurna

A
A

t t

Pengukuran sampel
2. Menentukan λ serapan maksimum :
 Sensitivitas maks pita maks.
 perubahan λ yang kecil A kecil

λ
λ maks

3. Buat satu seri larutan


 Garis lurus antara C dan A

Y=A
Pada λ maks , OT

x=C
4. Hitung r ( koef. Korelasi )
 Bandingkan rt Vs rk

Apakah rt > rk atau


rt < rk

Catatan :
• Pereaksi p.a
• Struktur hampir sama sulit
• Pereaksi murni
Instrumentasi :

S F Sp D

S : Sinar / radiasi
Filter : pemilihan λ R
Sp : Sampel
D : Detektor
R : Rekorder
Tahapan Kerja Analisis
4. Mencari kadar zat dalam larutan uji
a. Larutan uji dalam kuvet yang telah dipersiapkan
diukur serapannya pada OT dan  maks yang
telah diketahui.
Dilakukan beberapa kali pengulangan pengujian
(4 replikasi).
b). Dengan bantuan kurva standar atau persamaan
garis linier yang diperoleh dapat diketahui kadar
zat dalam sampel.

34
I. Instrumen (1)
Spektrofotometer
provide a plot of the intensity of transmitted or absorbed
light versus wavelength
Penggolongan berdasarkan sistem optik
-- single beam
Sistem optik -- -- single detector
-- double beam --
-- double detector
Pada double beam,
sumber cahaya utama terbagi menuju 2 beam :
satu menuju kuvet (mengandung larutan sampel) dan satu
menuju kuvet (mengandung pelarut referensi)
Yang dimiliki Farmasi UAD ?
 double beam – double detector
35
(UV-1700)
I. Instrumen (2)

36
I. Instrumen (3)

37
I. Instrumen (4)

38
Sumber sinar

39
40
• Filter atau monokromator
Ada beberapa cara untuk mengisolasi/mendapatkan
sinar monokromatik yang diinginkan. Salah satunya
adalah dengan menempatkan suatu filter di depan wadah
sampel
 filter dapat berupa glass filter atau gelatin filter (Wratten),
yang mempunyai bandwidths yang luas dan puncak emisi
yang rendah
[Bandwidth (nm) glass filter : 150+, gelatin filter : 25-50;
Transmisi (%) glass filter : 25-90%, gelatin filter : 5-30]
Beberapa instrumen menggunakan prisma atau diffraction
gratings sebagai monokromator

41
Skema monokromator
prisma (Pecsok,150)

42
Sampel

Sampel (molekul, ion) yang diuji pada daerah UV


atau Visbiasanya berupa gas atau larutan dan
ditempatkan dalam sel atau kuvet

43
Kuvet
Untuk Vis  dari gelas atau kuarsa (quartz)
Untuk UV  harus dari kuarsa
Gelas menyerap sinar UV dengan kuat
Kuvet biasanya mempunyai panjang celah 1,0 cm
Kuvet dari kuarsa atau gelas dapat dibersihkan dengan dibilas
dengan air; jika perlu, dengan larutan deterjen atau
asam nitrat panas
Dibilas dengan etanol agar cepat kering
Dibilas untuk mencegah terjadinya penumpukan zat yang
mengabsorbsi pada permukaan kuvet

44
45
K. Blangko
• Serapan yang terukur oleh spektrofotometer tidak
hanya serapan solut dalam larutan uji melainkan juga
semua molekul yang dilewati sinar. Karenanya dibuat
blangko, untuk mengkoreksi pantulan, hamburan dan
penyerapan oleh kuvet dan konstituen pada larutan uji.
Blangko dibuat dengan menempatkan konstituen
(pelarut, reagen, dll) pada larutan uji ke dalam kuvet.
Dengan larutan blangko selanjutnya rekorder diatur
pada posisi T = 100% atau A = 0, pada  pengujian
serapan solut. Setelah itu baru dilakukan pembacaan
serapan solut dalam larutan uji.
Dengan demikian, serapan konstituen dalam larutan uji
yang diukur dapat diabaikan.

46
Detektor

47
48
Latihan Soal
• Suatu Larutan Obat dengan konsentrasi 6,4x10^-
5 M yang diukur dengan menggunakan kuvet
setebal 1cm pada panjang gelombang 255 nm
memiliki nilai absorbansi sebesar 0,847.
Hitunglah absorbtivitas molar senyawa tersebut?
• Jika sebanyak 10 mg senyawa diatas (BM=200)
dilarutkan dalam air sampai 1L dan diukur
absorbansinya pada panjang gelombang 255 nm,
dengan ketebalan kuvet 1cm memiliki absorbansi
0,556. Hitunglah kemurnian dari senyawa
tersebut
• Rubahlah nilai transmitan menjadi nilai
absornbansi atau sebaliknya
a. T = 0,000
b. T= 0,75
c. A = 0,500
d. A = 3,500
• Polidin metil sulfat menunjukkan absorbansi maksimal pada
panjang gelombang 257nm. Disiapkan sebanyak 5 jenis
konsentrasi larutan baku dan diukur pada kuvet setebal
1cm pada panjang gelombang 257nm memberikan hasil
sesuai tabel dibawah ini
Konsentrasi (mg/L) A257
0,2 0,207
0,3 0,318
0,4 0,420
0,5 0,529

• Sampel polidin metil sulfat ditimbang seberat 500mg,


dilarutkan dalam metanol sebanyak 1L. Absorbansi larutan
diukur dengan kuvet setebal 1cm pada panjang gelombang
257 nm adalah 10 maka dilakukan pengenceran dengan
mengambil 10 ml larutan diencerkan hingga 250
memberikan absorbansi 0,450. Hitunglah berapa berat
polidin metil sulfat didalam sampel
SPEKTROFLUOROMETRI

PRINSIP ANALISIS FLUOROMETRI


- Seperti pada spektrofotometri uv-visible
- Menentukan  eksitasi maksimal
- Menentukan  fluorosensi maksimal
- Buat kurva baku hubungan C Vs F/IE
- Tentukan persamaan regresi linier
- Uji kolerasi/r
- Pengujiaan sampel
Faktor-faktor yang mempengaruhi fluorosensi
1. Efesiensi Kuantum
Kuat → Ф = mendekati 1
Lemah → Ф = mendekati 0

2. Jenis Transisi → jarang pada  < 250 nm

3. Struktur Kimia → aromatis


H2 H2
4. Efek Kekakuan Struktur C C

5. Efek Suhu & Pelarut << >>


Suhu ↑ → tumbukan mol ↑ → Ф ↓

6. Efek pH

7. Efek O2 Terlarut 8. Efek Konsentrasi F = K’ . C


fotooksidasi → Ф ↓
9. Self Absorbtion & Self Quenching
↓ ↓
Ф Ф
Faktor-faktor yang mempengaruhi Fluorosensi
1. Efisiensi Kuantum ( Φ )
→ Rasio ∑ molekul berfluorosensi dibanding molekul
tereksitasi
Kf
Φ =-----------------------
Kf + Ki + Kcc + Kic + Kpd + Kd

Ki = K Intersystenm Crosing
Kec = K External Conversion
Kic = K Internal Conversion
Kpd = K Pre Dissociation
Kd = K Dissociation
Φ = mendekati 1 → kuat
mendekati 0 → lemah
2. Pengaruh Struktur Kimia
- Senyawa dengan ikatan π (inti benzen) berfluorosensi
- Semakin banyak terkonyugas → makin intens (PAH
lebih intens)
- Struktur yang rigid (kaku) lebih intens

Bifenil : Kf = 0,2 C
H2
Flouren : Kf = 1,0

- Fluorosensi diperkuat oleh : NH2, OH, F, OCH3, NHCH3,


& -N(CH3)2
diperlemah oleh : Cl, Br, NH-COCH3, -NO2 &
COOH

NH2 NO2

Berfluoresen tak berfluoresen


3. Pengaruh suhu dan pelarut
- Kuantum efisiensi berkurang bila suhu naik
(tabrakan antar molekul meningkat)
- Pengaruh Pelarut :
Pelarut polar ↑ energi eksitasi n → π*
↓ energi eksitasi π → π*
 Eksitasi indol 285 nm
 Fluorosensi 297 nm sikloheksana
305 nm benzena
310 nm 1,4-dioksana
330 nm etanol
350 nm air
Adanya berat atom → ↓ intensitas Br-, I-, juga
–NO2 & -N=N-
TIPE EKSITASI DALAM FLUOROSENSI
E
σ* σ → σ*
π* π → π* : 10-7-10-9 detik
η η → π* : 10-5-10-7 detik
π η → π*
σ
Yang paling lazim π* π
π* η } FLUOROSENSI
Ki π, π*< K1 η, π* Kf π, π* > Kf η, π*
SPEKTRA FLUOROSENSI & FOSFORESENSI
FOSFORESENS >  FLUOROSENS >  EKSITASI
T1 → S0 S1→S0 S0→S1
S3
RELAKSASI VIBRASIONAL
S2 10-7-10-9 detik
S1

T2 10-5-10-7 detik
INTERNAL
CONVERSION T1

INTERS YSTEM
CROSSING

INTERNAL/EKSTERNAL
CONVERSION
(REAKSI KIMIA)
E F P
S0
4. Pengaruh pH
Anisol : berfluorosensi pada pH 7 & 12
Fenol : hanya pada pH 7
Pada pH 12 : fenol → fenolat
Anilin : berfluorosensi pada pH 7 & 12
Tidak pada pH 2 → WHY???

5. Pengaruh O2 terlarut → ↓intensitas


- Oksidasi spesies fluoresen
- Peredaman : mempercepat I.C → triplet
Pembentukan Khelat → ↓intensitas

Rigid

6. Pengaruh Konsentrasi
- Konsentrasi sangat berpengaruh pada fluoren
- Hubungan linear antara C Vs F hanya dicapai bila < 0,05 (Ingat spek. UV)
- Bila konsentrasi ↑ : 1. terjadi auto-rendaman
2. terjadi serapan/abs
Bila spekra emisi
Over lap emisi absorpsi
Penggunaan :
- sangat peka → metabolit, toksin, dll
→ 2-3 kali lebih peka dibanding abs (dapat ditingkatkan)
→ impuritis sangat mengganggu
- P.K. Kation (anorganik)
perlu direaksikan dahulu dengan agen khelat
PEREAKSI ABS FL KEPEKAAN
µg/ml
Al3+ Alizarin 470 500 0,007

F- Al-Alizarin 470 500 0,001

B4O72 Benzoin 370 450 0,040


-

Li+ Hidroksi- 370 580 0,200


kinolin
Zn2+ Benzoin - Hijau 10

Sn2+ Flavanol 400 470 0,100


OH HO
O OH

HO HN NH C C
H

NaO3S
MANOKROMATOR
EKSITASI SAMPEL
250-600 nm
Maks. 470 nm

BEAM MONOKROMATOR
ATENVATOR EMISI

Ref. photo Photo


multiplier
multiplier

Read Out