Anda di halaman 1dari 18

PELAYANAN INFORMASI OBAT

“DIABETES MELITUS TIPE 2”

Disusun Oleh:
Kelompok 2
Arum Dwi Nur Fadzilah 1720343728
Astrid Scendhia Raka 1720343729
Atmita Dwi Wahyuni 1720343730
Ayu Subhaga Usha Caruta 1720343731
Ayu Yusniah 1720343732
Catur Teguh Irawan 1720343733
Chanary Tri Winarsih 1720343734
Devi Dwi Pratiwi 1720343735
Dewi Mulyani 1720343736
Diah Puspita 1720343737

PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA
2017/2018
DIABETES MELITUS TIPE 2
I. DEFINISI
Pada penderita DM tipe 2 terjadi hiperinsulinemia tetapi insulin tidak bisa
membawa glukosa masuk ke dalam jaringan karena terjadi resistensi insulin
yang merupakan turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan
glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh
hati. Oleh karena terjadinya resistensi insulin (reseptor insulin sudah tidak aktif
karena dianggap kadarnya masih tinggi dalam darah) akan mengakibatkan
defisiensi relatif insulin. Hal tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya
sekresi insulin pada adanya glukosa bersama bahan sekresi insulin lain
sehingga sel beta pankreas akan mengalami desensitisasi terhadap adanya
glukosa. Onset DM tipe ini terjadi perlahan-lahan karena itu gejalanya
asimtomatik. Adanya resistensi yang terjadi perlahan-lahan akan
mengakibatkan sensitivitas reseptor akan glukosa berkurang.

II. MANIFESTASI KLINIS DIABETES MELITUS TIPE 2


1. Kerusakan saraf (Neuropati)
Sistem saraf tubuh kita terdiri dari susunan saraf pusat, yaitu otak dan
sumsum tulang belakang, susunan saraf perifer di otot, kulit, dan organ lain,
serta susunan saraf otonom yang mengatur otot polos di jantung dan saluran
cerna. Hal ini biasanya terjadi setelah glukosa darah terus tinggi, tidak
terkontrol dengan baik, dan berlangsung sampai 10 tahun atau lebih. Apabila
glukosa darah berhasil diturunkan menjadi normal, terkadang perbaikan saraf
bisa terjadi. Namun bila dalam jangka yang lama glukosa darah tidak berhasil
diturunkan menjadi normal maka akan melemahkan dan merusak dinding
pembuluh darah kapiler yang memberi makan ke saraf sehingga terjadi
kerusakan saraf yang disebut neuropati diabetik (diabetic neuropathy).
Neuropati diabetik dapat mengakibatkan saraf tidak bisa mengirim atau
menghantar pesan-pesan rangsangan impuls saraf, salah kirim atau terlambat
kirim. Tergantung dari berat ringannya kerusakan saraf dan saraf mana yang
terkena.
2. Kerusakan ginjal (Nefropati)
Ginjal bekerja selama 24 jam sehari untuk membersihkan darah dari racun
yang masuk ke dan yang dibentuk oleh tubuh. Bila ada nefropati atau
kerusakan ginjal, racun tidak dapat dikeluarkan, sedangkan protein yang
seharusnya dipertahankan ginjal bocor ke luar. Semakin lama seseorang
terkena diabetes dan makin lama terkena tekanan darah tinggi, maka penderita
makin mudah mengalami kerusakan ginjal. Gangguan ginjal pada penderita
diabetes juga terkait dengan neuropathy atau kerusakan saraf.
3. Kerusakan mata (Retinopati)
Penyakit diabetes bisa merusak mata penderitanya dan menjadi penyebab
utama kebutaan. Ada tiga penyakit utama pada mata yang disebabkan oleh
diabetes, yaitu: 1) retinopati, retina mendapatkan makanan dari banyak
pembuluh darah kapiler yang sangat kecil. Glukosa darah yang tinggi bisa
merusak pembuluh darah retina; 2) katarak, lensa yang biasanya jernih bening
dan transparan menjadi keruh sehingga menghambat masuknya sinar dan
makin diperparah dengan adanya glukosa darah yang tinggi; dan 3) glaukoma,
terjadi peningkatan tekanan dalam bola mata sehingga merusak saraf mata.
4. Penyakit jantung koroner (PJK)
Diabetes merusak dinding pembuluh darah yang menyebabkan penumpukan
lemak di dinding yang rusak dan menyempitkan pembuluh darah. Akibatnya
suplai darah ke otot jantung berkurang dan tekanan darah meningkat, sehingga
kematian mendadak bisa terjadi.
5. Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi jarang menimbulkan keluhanyang
dramatis seperti kerusakan mata atau kerusakan ginjal. Namun, harus diingat
hipertensi dapat memicu terjadinya serangan jantung, retinopati, kerusakan
ginjal, atau stroke. Risiko serangan jantung dan stroke menjadi dua kali lipat
apabila penderita diabetes juga terkena hipertensi.
III. FAKTOR RESIKO

1. Retinopati
Kadar gula darah yang tinggi bisa menyebabkan pembuluh darah
pada retina tersumbat, bocor atau tumbuh acak sehingga menghalangi
cahaya sampai ke retina. Jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan
kebutaan. Oleh karena itu, bagi orang-orang yang memiliki faktor resiko
tinggi menderita penyakit ini disarankan untuk memeriksakan mata secara
rutin. Hal ini dilakukan agar resiko terkena retinopati diabetik dapat
terdeteksi secara dini, sehingga penanganan dapat segera dilakukan.
2. Kerusakan Saraf (Neuropati)
Selain menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, bisa juga terjadi
kerusakan sel-sel saraf. Gejalanya bisa berupa kesemutan atau terasa seperti
terbakar ada ujung jari-jari tangan atau kaki. Jika dibiarkan akan menyebar
ke bagian tubuh yang lain.
Kerusakan pembuluh darah menyebabkan aliran darah ke bagian
tubuh terganggu, salah satunya ke bagian kaki. Hal ini menyebabkan kaki
lebih retan terkena infeksi, bahkan luka goresan kecil sekalipun akan sulit
sembuh. Kulit kaki juga akan terasa panas jika disentuh.
3. Penyakit Jantung Dan Stroke
Penderita penyakit ini memiliki resiko tinggi mengalami gangguan
pada organ jantung dan otak. Resiko yang mungkin terjadi pada kesehatan
jantung misalnya angina, yang terjadi karena aliran darah ke jantung
terhambat. stroke juga bisa terjadi, karena aliran darah ke otak juga
terganggu akibat penyumbatan pembuluh darah ke otak.
4. Penyakit Ginjal
Sama seperti organ lainnya, penyumbatan aliran darah ke ginjal akan
menyebabkan kinerja organ ini terganggu. Jika tidak diwaspadai dan
ditangani secara serius bisa menyebabkan gagal ginjal.
5. Disfungsi Seksual
Kerusakan pembuluh darah dan saraf akibat penyakit ini beresiko
menyebabkan difungsi seksual, misalnya impotensi. Pada wanita, kerusakan
saraf akan menurunkan tingkat kepuasan hubungan intim.

IV. KASUS
Wanita usia 50 tahun ke apotek sendiri membawa resep , status gizi obese.
Resep obat yang akan diambil berisi:
R/ Tab. Glucovence 2,5 / 500 no. XXX
S. 2. dd. 1
R/ Tab. Neurobion 5000 no. XV
S. 1. dd. 1
Pro: Ny. A 52 th

A. GLUCOVANCE 500mg/ 2.5 mg

1. Nama Obat : Glucovance 500mg/ 2.5 mg


2. Kandungan : Glibenclamide 2.5 mg
Metformin 500 mg

3. Dosis obat : Dosis obat ini ditentukan secara individual untuk


setiap pasien berdasarkan manfaat dan tolerabilitas masing-masing
pasien. glucovance umumnya diberikan dengan dosis sebagai berikut :
 Dosis awal : (1.25 mg glibenclamide + 250 mg metformin) diberikan
1-2 x sehari. Dosis dapat ditingkatkan secara perlahan sampai
didapatkan kontrol glikemik yang diinginkan. Untuk resep tersebut
diberikan dosis sesuai yang tertulis yaitu 2x sehari 1 tablet.
 Obat diberikan saat makan atau sesudah makan.
 Dosis maksimal dalam sehari : 20 mg glibenclamide dan 2 gram
metformin.
4. Kontra indikasi
 Jangan diberikan pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitif
pada metformin atau obat golongan biguanid lainnya dan
glibenclamide atau obat golongan sulfonilurea lainnya.
 glucovance dikontraindikasikan untuk penderita gangguan ginjal,
penyakit paru-paru, penyakit hati, penderita gagal jantung misalnya
angina tidak stabil atau gagal jantung kongestif, dan kondisi-kondisi
lain yang bisa menyebabkan peningkatan resiko asidosis laktat.
 Jangan diberikan jika terjadi hipoksia jaringan misalnya kegagalan
pernafasan, menderita infark miokardial, sepsis atau gangguan hati.
 Jangan memberikan glucovance untuk wanita hamil atau ibu
menyusui.
 Saat menjalani pemeriksaan radiologi yang menggunakan media
iodin, pemakaian harus dihentikan. Bisa dilanjutkan setelah fungsi
ginjal normal.
 Jika anda harus menggunakan obat anestesi umum misalnya
pembedahan, pemakaian harus dihentikan. Bisa dilanjutkan bila
kondisi ginjal telah normal kembali.

5. Efek Samping glucovance


 Efek samping glucovance yang paling umum adalah iritasi pada
saluran pencernaan misalnya diare, kram perut, mual, muntah, perut
kembung dan lebih sering kentut. Efek samping obat yang
mengandung metformin pada saluran pencernaan lebih tinggi
dibandingkan obat anti diabetes lainnya.
 Efek samping yang lebih serius namun jarang terjadi adalah asidosis
laktat. Kejadian lebih sering bila pasien juga menderita gangguan
hati, ginjal paru, gangguan jantung kongestif atau mengkonsumsi
alkohol secara berlebihan. Jika efek samping ini terjadi segera
hentikan pemakaian obat dan hubungi pihak medis. Tanda-tanda
asidosis laktat adalah : merasa sangat lemah, lelah, atau tidak
nyaman, nyeri otot, kesulitan bernapas, gangguan perut, merasa
kedinginan, pusing, detak jantung lambat atau tidak teratur, kadar
laktat dalam darah > 5 mmol/L, penurunan pH, dan gangguan
elektrolit.
 Peda penggunaan jangka panjang, waspadai terjadinya malabsorpsi
vitamin B12.
 Efek samping lain eritema, pruritus, urtikaria dan bisa menyebabkan
hepatitis jika diberikan pada dosis tinggi dan jangka waktu lama.
 Glucovance juga membuat penderita rentan terkena infeksi saluran
pernafasan bagian atas.
6. Perhatian
 Obat ini digunakan setelah makan atau dengan makanan. Obat harus
ditelan utuh, tidak dihancurkan, tidak dilarutkan dalam air, atau tidak
dikunyah.
 Tidak boleh digunakan sebagai obat anti diabetes tipe 1 atau
ketoasidosis diabetik, prekoma dan koma diabetes atau pasien yang
dalam urinenya terdapat senyawa keton (ketoasidosis) dilarang
menggunakan obat ini.
 Orang-orang yang memiliki gangguan pada ginjal, hati, kelenjar
adrenal atau kelenjar pituitari sebaiknya tidak menggunakan obat
yang mengandung glibenclamide seperti glucovance.
 Jika digunakan untuk terapi jangka panjang, fungsi ginjal dan hati
sebaiknya diperiksa setidaknya setahun sekali.
 Obat yang mengandung glibenclamide juga dikontraindikasikan
untuk orang-orang dengan defisiensi G6PD (enzim yang melindungi
sel darah merah), karena obat ini bisa menyebabkan hemolisis akut.
 Jika anda ibu menyusui, sebaiknya tidak menggunakan obat ini
mengingat efek hipoglikemik yang mungkin terjadi pada bayi.
Sebaiknya anda menggunakan insulin untuk mengontrol gula darah
anda.
 Obat ini juga tidak disarankan jika anda akan menjalani operasi,
memiliki infeksi berat, atau usia di atas 70 tahun.
 kurangi atau hentikan konsumsi alkohol.
 Karena resiko terjadinya hipoglikemia yang ditandai dengan tubuh
yang lemah dan pusing, sebaiknya anda tidak menyalakan mesin
atau mengemudi selama menggunakan glucovance.
 Keamanan dan efektivitas pada anak usia di bawah 18 tahun belum
bisa dipastikan.

7. Interaksi obat
Obat dengan kandungan zat aktif metformin berinteraksi dengan obat-
obat berikut:
 Cimetidine, antibiotik cefalexin mengurangi clearance metformin oleh
ginjal sehingga menyebabkan peningkatan konsentrasinya dalam
plasma.
 Obat kationik misalnya amilorid, digoxin, morfin, procainamide,
quinidine, kina, ranitidine, triamterene, trimetoprim, atau vankomisin,
secara teoritik juga bisa menyebabkan peningkatan konsentrasi plasma
metformin dengan mekanisme yang sama.
Obat dengan kandungan zat aktif glibenclamide berinteraksi dengan
obat-obat berikut:
 Alkohol, siklofosfamid, antikoagulan kumarin, inhibitor MAO,
fenilbutazon, penghambat beta adrenergik, sulfonamid dapat
meningkatkan efek hipoglikemia glibenclamide.
 Obat-obat kortikosteroid, diuretik tiazid, dan adreanalin dapat
menurunkan efek hipoglikemia glibenclamide.
8. Mekanisme Farmakologi Obat
Mekanisme Aksi/ Aksi Farmakologi/ Cara Kerja Glibenclamide
(Glibenklamid)
1. Merangsang sekresi insulin dari sel-sel β-Langerhans; menurunkan
keluaran glukosa dari hati; meningkatkan sensitivitas sel-sel
sasaran perifer terhadap insulin
2. Sulfonilurea seperti Glibenklamid mengikat kanal kalium ATP-
sensitif pada permukaan sel pankreas, mengurangi konduktansi
kalium dan menyebabkan depolarisasi membran. Depolarisasi
merangsang masuknya ion kalsium melalui tegangan saluran
kalsium -sensitif, meningkatkan konsentrasi intraseluler ion
kalsium, yang menginduksi sekresi, atau eksositosis, insulin.
3. Menstimulasi pelepasan insulin dan sel beta (β) Pankreas,
mengurangi output glukosa dari hati, sensitivitas insulin meningkat
di lokasi sasaran perifer.
Mekanisme Metformin
Metformin adalah zat antihiperglikemik oral golongan biguanid untuk
penderita diabetes militus tanpa ketergantungan terhadap insulin.
Mekanisme kerja metformin dapat memperbaiki sensitivitas hepatik
dan periferal terhadap insulin tanpa menstimulasi sekresi insulin serta
menurunkan absorpsi glukosa dari saluran lambung-usus. Metformin
hanya mengurangi kadar glukosa darah dalam keadaan hiperglikemia
serta tidak menyebabkan hipoglikemia bila diberikan sebagai obat
tunggal. Metformin tidak menyebabkan pertambahan berat badan
bahkan cendrung dapat menyebabkan kehilangan berat badan.
B. NEUROBION 5000

1. Indikasi : membantu mengatasi neuropati atau kerusakan saraf


akibat komplikasi diabetes kronis.
2. Menyusun Komposisi : vitamin B1 100 mg, vitamin B6 100 mg,
vitamin B12 5000 mcg.
3. Mekanisme kerja :
 Vitamin B1 berperan sebagai koenzim pada dekarboksilasi asam
keto dan berperan dalam metabolisme karbohidrat.
 Vitamin B6 didalam tubuh berubah menjadi piridoksal fosfat dan
piridoksamin fosfat yang dapat membantu dalam metabolisme
protein dan asam amino.
 Vitamin B12 berperan dalam sintesa asam nukeat dan berpengaruh
pada pematangan sel dan memelihara integritas jaringan saraf.
4. Dosis : 1 tablet sehari sesudah makan.
5. Interaksi oabt : mengurangi efek levodopa.

V. KONSELING
Tahapan konseling
1. Diskusi pembuka
Pembukaan konseling yang baik antara apoteker dan pasien dapat
menciptakan hubungan yang baik, sehingga pasien akan merasa
percaya untuk memberikan informasi kepada Apoteker. Apoteker
harus memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum memulai sesi
konseling. Selain itu apoteker harus mengetahui identitas pasien
(terutama nama) sehingga pasien merasa lebih dihargai. Hubungan
yang baik antara apoteker dan pasien dapat menghasilkan
pembicaraan yang menyenangkan dan tidak kaku. Apoteker harus
menjelaskan kepada pasien tentang tujuan konseling serta
memberitahukan pasien berapa lama sesi konseling itu akan
berlangsung. Jika pasien terlihat keberatan dengan lamanya waktu
pembicaraan, maka apoteker dapat bertanya apakah konseling
boleh dilakukan melalui telepon atau dapat bertanya alternatif
waktu/hari lain untuk melakukan konseling yang efektif.
Apoteker: “Assalamualaikum (bagi islam) Ibu, saya Ayu, saya
apoteker di apotek Sehat Selalu ada yang bisa saya bantu”
Pasien: “Waalaikumsalam, saya ingin menebus obat”
(menyerahkan resep)
Apoteker: “Apakah obat yang ingin di tebus adalah untuk ibu A
sendiri?”
Pasien: “iya, obat itu untuk saya”
Apoteker: “Tunggu sebentar ibu nanti saya panggil kembali”
Pasien: “iya”
Apoteker: “Ibu A”
Pasien: “iya”
Apoteker: “obat yang tertera didalam resep ada, totalnya xx rupiah
apakah ibu ingin menebus obatnya semua?”
Pasien: “iya”
Apoteker: “Tunggu sebentar biar saya siapkan obatnya terlebih
dahulu, nanti akan dipanggil kembali”
Pasien: “iya”
Apoteker: “Ibu A”
Pasien: “iya”
Apoteker: “apakah ibu ada diabetes?”
Pasien: “Iya, saya terkena diabetes”
Apoteker: “apakah ibu mau konseling dengan saya di ruangan
konseling mengenai obat-obatan yang diberikan kepada ibu”
Pasien: “berapa lama konselingnya”
Apoteker: “paling lama 10 menit jika ibu ada pertanyaan seputar
obat yang diberikan”
Pasien: “apakah konselingnya bayar?”
Apoteker: “tidak ibu, ini gratis sebagai bentuk layananan di apotek”
Pasien: “saya mau”
Apoteker: “silahkan ibu masuk di ruang konseling”
Catatan: jika pasien tidak ingin melakukan konseling jelaskan cara
penggunaan obat dan perhatian khusus pada saat penggunaan obat,
seperti mual
2. Mengumpulkan informasi dan mengidentifikasi kebutuhan
Pada sesi ini Apoteker dapat mengetahui berbagai informasi dari
pasien tentang masalah potensial yang mungkin terjadi selama
pengobatan. Pasien bisa merupakan pasien baru ataupun pasien
yang meneruskan pengobatan.
a. Diskusi dengan pasien baru
Jika pasien masih baru maka Apoteker harus mengumpulkan
informasi dasar tentang pasien dan tentang sejarah pengobatan
yang pernah diterima oleh pasien tersebut.
b. Diskusi dengan pasien yang meneruskan pengobatan
Pasien yang sudah pernah mendapatkan konseling sebelumnya,
sehingga Apoteker hanya bertugas untuk memastikan bahwa
tidak ada perubahan kondisi maupun pengobatan baru yang
diterima oleh pasien baik yang diresepkan maupun yang tidak
diresepkan.
c. Mendiskusikan Resep yang baru diterima
1) Apoteker harus bertanya apakah pasien pernah menerima
pengobatan sebelumnya. Apoteker harus bertanya
pengobatan tersebut diterima pasien dari mana, apakah
dari Apoteker juga, atau dari psikiater dan lain sebagainya.
Jika pasien pernah menerima pengobatan sebelumnya
maka dapat di tanyakan tentang isi topik konseling yang
pernah diterima oleh pasien tersebut.
Apoteker: “apakah ibu pernah mendapatkan obat
glucovence dan neurobion 5000 sebelumnya” (sambil
menunjukkan obat)
Pasien: “saya belum pernah mendapatkan obat-obatan
tersebut”
Apoteker: “ini saya jelaskan terlebih dahulu tentang
diabetes. Jadi ibu ini kelebihan gula dalam darah, sehingga
diperlukan obat untuk mengontrol gula dalam darah ibu,
yaitu obat glucovens ini. Sehingga penggunaan harus
teratur. Untuk vitamin ini digunakan untuk mencegah
kesemutan yang muncul karena penyakit diabetes yang ibu
derita. Dan memenuhi kebutuhan vitamin dalam tubuh
ibu.”
2) Apoteker sebaiknya bertanya terlebih dahulu tentang
penjelasan apa yang telah diterima oleh pasien. Ini penting
untuk mempersingkat waktu konseling dan untuk
menghindari pasien mendapatkan informasi yang sama
yang bisa membuatnya merasa bosan atau bahkan
informasi yang berlawanan yang membuat pasien
bingung. Diskusi ini juga harus dilakukan dengan kata-
kata yang mudah diterima oleh pasien sesuai dengan
tingkat sosial - ekonomi pasien.
Apoteker: “obat glucoven ini (menunjukkan obat) untuk
diabetesnya diminum sehari 2x, jadi misalnya ibu minum
jam 8 pagi 1 tablet lalu minum lagi jam 8 malam 1 tablet
obat ini bisa ibu minum saat makan atau sesudah makan,
untuk obat neurobion 5000 (tunjukkan obat) ini diminum 1
tablet dalam sehari saja ibu mau minum pagi sebelum
beraktivitas atau malam sebelum tidur juga bisa, obat ini
gunannya untuk vitamin. Akan tetapi, yang lebih kami
rekomendasikan adalah sesaat setelah makan, dimana
kondisi asam lambung masih tinggi, sehingga vitamin
dapat diserap secara lebih maksimal. Apakah untuk
penggunaan obat ini ada yang ingin ibu tanyakan?”
Pasien: “berapa lama selang dari saya makan hingga
minum obat?”
Apoteker: “untuk selangnya ibu boleh meminum obat
setelah makan ataupun saat makan”
3) Regimen pengobatan, pasien harus diberitahu tentang
guna obat dan berapa lama pengobatan ini akan
diterimanya. Pada tahap ini Apoteker juga harus melihat
kecocokan dosis yang diterima oleh pasien sehingga
Apoteker: “untuk pengobatan ini dilakukan selama 15
hari, setelah penggunaan obat habis ibu dapat
memeriksakan kembali keadaan ibu kepada dokter”
Pasien: “bolehkah saya tidak mengunjungi dokter, soalnya
rumah saya jauh dari tempat dokter peraktek?”
Apoteker: “untuk itu ibu harus mengunjungi dokter untuk
melihat apakah penyakit ibu dengan menggunakan obat
yang diberikan sudah baik dalam menurunkan kadar gula
ibu, dan untuk menentukan terapi kelanjutannya seperti
apa. Kalau memang rumah ibu jauh dari dokter praktek
yang kemaren, ibu bisa mencari dokter umum didekat
rumah ibu dengan memberitahukan keluhan ibu dan juga
obat yang diberikan”
Pasien: “begitu ya mba, kalau misalnya saya lupa minum
obatnya bagaimana?”
Apoteker: “jika lupa meminum obat diabetes masih jauh
jaraknya dari peminuman obat kedua dalam satu hari,
maka segera langsung diminum. Tetapi jika sudah dekat
dengan waktu minum obat kedua, maka obat tidak perlu
diminum, dan dilanjutkan pemakaian obat kedua pada
waktunya. Bagaimana bu apakah sudah paham dengan
penjelasan saya?”
Pasien: “o iya mba. Saya paham”
4) Kesuksesan pengobatan, pasien sebaiknya diberitahukan
tentang keadaan yang akan diterimanya jika pengobatan
ini berhasil dilalui dengan baik.
d. Mendiskusikan pengulangan resep dan pengobatan Kegunaan
pengobatan, Apoteker diharapkan memberikan penjelasan
tentang guna pengobatan yang diterima oleh pasien serta
bertanya tentang kesulitan-kesulitan apa yang dihadapi oleh
pasien selama menerima pengobatan. Efektifitas pengobatan,
Apoteker harus mengetahui efektifitas dari pengobatan yang
diterima oleh pasien. Apoteker harus bertanya pada pasien
apakah pengobatan yang diterima telah membantu keadaan
pasien menjadi lebih baik. Efek samping pengobatan, Apoteker
harus mengetahui dengan pasti efek samping pengobatan dan
kemungkinan terjadinya efek samping kepada pasien tersebut.
Pasien sebaiknya diberitahukan kemungkinan tanda-tanda efek
samping sehingga pasien dapat melakukan tindakan preventif
terhadap keadaan tersebut.
Pasien: “Apakah ada efek samping dari penggunaan obat ini
mbak?”
Apoteker: “ada bu, efek samping yang paling umum adalah
iritasi pada saluran pencernaan misalnya diare, kram perut,
mual, muntah, perut kembung dan lebih sering kentut. Dan jika
ibu setelah minum obat kemudian merasakan seperti yang saya
sebutkan, mohon untuk menghubungi dokter.”
3. Diskusi untuk mencegah atau memecahkan masalah dan
mempelajarinya. Setiap alternatif cara pemecahan masalah harus
didiskusikan dengan pasien. Apoteker juga harus mencatat terapi
dan rencana untuk monitoring terapi yang diterima oleh pasien.
Baik pasien yang menerima resep yang sama maupun pasien yang
menerima resep baru, keduanya harus diajak terlibat untuk
mempelajari keadaan yang memungkinkan tercipta masalah.
Sehingga masalah terhadap pengobatan dapat diminimalisasi.
4. Memastikan pasien telah memahami informasi yang diperoleh.
Apoteker harus memastikan apakah informasi yang diberikan
selama konseling dapat dipahami dengan baik oleh pasien dengan
cara meminta kembali pasien untuk mengulang informasi yang
sudah diterima. Dengan cara ini pula dapat diidentifikasi adanya
penerimaan informasi yang salah sehingga dapat dilakukan
tindakan pembetulan.
Apoteker: “Bagaimana bu? Apakah sudah jelas yang saya
informasi yang saya berikan?”
Pasien: “sudah mba.”
Apoteker: “mohon ibu jelaskan kembali informasi yang saya
berikan tadi.”
Pasien: “saya mendapatkan obat 2 macam, yang satu untuk diabetes
saya, yang satu untuk vitamin. Obat ini (menunjukkan glucovens)
diminum 2x sehari, kalau bisa selang waktu yang sama, misalnya
jam 8 pagi dan sore terus setiap hari secara teratur. Untuk obat ini
(menunjukkan vitamin) bisa diminum setelah makan bisa pagi atau
malam.”
Apoteker:”iya, betul sekali ibu. Dan jangan lupa untuk selalu
teratur meminum obat diabetes juga vitaminnya, untuk mengontrol
gula darah ibu. Karena jika tidak dikontrol, maka akan sangat
berbahaya untuk ke depannya, bisa terjadi komplikasi penyakit
yang bisa menyebabkan bertambah parah. Untuk vitamin juga
jangan lupa untuk selalu diminum rutin setiap hari, agar tubuh ibu
tidak kekurangan vitamin.”
5. Menutup diskusi. Sebelum menutup diskusi sangat penting untuk
Apoteker bertanya kepada pasien apakah ada hal-hal yang masih
ingin ditanyakan maupun yang tidak dimengerti oleh pasien.
Mengulang pernyataan dan mempertegasnya merupakan hal yang
sangat penting sebelum penutupkan sesi diskusi, pesan yang
diterima lebih dari satu kali dan diberi penekanan biasanya akan
diingat oleh pasien.
Apoteker: “baik bu, informasi yang diterima ibu sepertinya sudah
jelas. Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?”
Pasien: “tidak mba. Saya sudah paham. Terimakasih atas
informasinya.”
Apoteker: “iya bu, sama-sama. Terimakasih atas ketersediaan
waktunya untuk konseling. Mohon maaf apabila dalam saya
memberikan konseling masih banyak kekurangan. Mohon diingat
untuk selalu patuh meminum obat, dan semoga cepat sembuh, bu.”
6. Follow-up diskusi Fase ini agak sulit dilakukan sebab terkadang
pasien mendapatkan Apoteker yang berbeda pada sesi konseling
selanjutnya. Oleh sebab itu dokumentasi kegiatan konseling perlu
dilakukan agar perkembangan pasien dapat terus dipantau.

VI. DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2000. Informasi Obat Nasional Indonesia 2000. 263-269.
Departemen Kesehatan RI: Jakarta.
Anonim. 2005. AHFS Drug Information. 3065-3068. American Society
of Health System Pharmacist Inc., USA.

Anonim. 2006. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultas. 255. Penerbit PT


Infomaster: Jakarta.

Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi 8, buku 2.


693-705. Penerbit Salemba Medika : Jakarta.
Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L. 2006. Drug
Information Handbook, 14th Edition, 742-743, AphA, Lexi-Comp
Inc, Hudson, Ohio.

Neal, M.J. 2006. At Glance Farmakologi Medis, ed.5. 78-79. Penerbit


Erlangga: Jakarta.

Tapp R, Shaw J, Zimmet P. Complications of Diabetes. Dalam: Gan


D,Allgot B, King H, Lefebvre P, Mbanya JC, Silink M,
penyunting. Diabetes Atlas. Edisi ke-2. Belgium: International
Diabetes Federation; 2003:h.72-112)

Tjay, T.H, Rahardja, K. 2002. Obat-obat Penting, ed. 5. 693-712.


Penerbit PT Elex Media Komputindo: Jakarta.