Anda di halaman 1dari 4

Mulut, Lidah, dan Gigi

Bibir sapi agak kurang pergerakannya dan kurang berfungsi dalam proses pengambilan dan
pemasukan pakan kedalam mulut (prehension). Organ yang sangat berperan dalam proses
prehension adalah lidah. Lidah sapi sangat panjang, kuat, mudah digerakkan, permukaannya kasar
dan mudah dilingkarkan pada rumput / hijauan dan pakan lain, yang kemudian dimasukkan diantara
gigi seri dan bantalan gigi pada bagian atas dan dipotong.
Sapi dewasa mempunyai 8 gigi seri pada rahang bawah dan tidak ada satupun pada rahang
atas. Pada rahang atas yang berhadapan dengan gigi seri terdapat bantalan gigi, terdiri dari jaringan
ikat yang tebal dibungkus lapisan epithel yang tebal dan mengalami cornifikasi, sehingga sangat
keras. Sapi tidak mempunyai gigi taring di rahang atas maupun bawah, tetapi mempunyai 6 pasang
gigi pada masing-masing rahang atas dan bawah yang berupa 3 pasang premolar dan 3 pasang
molar, yang keduanya disebut gigi samping (cheek teeth).
Rumus gigi permanen sapi adalah 2 X {I 0/4; C0/0; P 3/3; M 3/3 } = 32, dimana I = insisivi (gigi
seri), C = caninus (gigi taring), P = premolare dan M = molar (gigi geraham). Untuk rumus gigi susu
formulanya adalah 2 X { Di 0/4 ; Dc 0/0 ; Dp 3/3 } = 20, dimana Di = Insisivus decidui, Dc = Caninus
decidui, dan Dp = Premolar decidui. Rata-rata pergantian gigi seri dapat digunakan untuk
memperkirakan umur sapi, seperti pada tabel di atas.

Kelenjar Ludah dan Oesophagus


Kelenjar ludah yang terdapat dalam rongga mulut mengeluarkan cairan yang dikenal dengan
nama ludah (saliva). Pada sapi kelenjar ludah yang dikenal adalah kelenjar parotid, submaxilaris,
inferior molar, ventral sublingual, buccal, palatine, pharyngeal, dan labial.
Oesophagus merupakan saluran yang berasal dari mulut menuju ke rumen, panjangnya
sekitar 3,5 ft ( 105 cm ) pada sapi dewasa. Pakan dan saliva dicampur dalam mulut ditekan dan
tertelan melalui oesophagus menuju kedalam rumen, dan secara periodik isi rumen bergerak balik ke
mulut melalui oesophagus (regurgitasi).
Rumen
Rumen yang disebut juga paunch dibagi menjadi 4 area oleh lembaran otot-otot yang
disebut sebagai pilar. Ada satu kantung dorsal, satu kantung ventral, dan dua kantung posterior.
Gerakan dari otot-otot pilar memaksa pakan dalam rumen bergerak dalam putaran sehingga isi
rumen tercampur merata dengan cairan rumen. pada permukaan dalam rumen terdapat banyak
papila, yang menyebabkan permukaan dinding rumen menjadi sangat luas dan sangat membantu
dalam proses absorbsi nutrien dari rumen.
Hanya sebagian kecil dari reticulum yang jelas terpisah dengan rumen. Antara isi rumen dan
reticulum tercampur secara bebas, dan kedua bagian lambung sapi ini sering dikenal sebagai retikulo-
rumen. Dinding reticulum yang tebal bagian dalam vili-vilinya membentuk bangunan seperti rumah
tawon / seperti jala sehingga bagian ini sering juga disebut sebagai perut jala. Pada bagian kanan
yang terbuka berhubungan langsung dengan omasum, dimana pakan yang telah mengalami
pencernaan di rumen dan reticulum mengalir masuk. Sebuah lekukan dalam reticulum membentang
antara oesophagus dan omasum disebut oesophageal groove. Pada anak sapi (pedet) yang masih
menyusu, bagian samping lekukan tersebut akan melengkung / menutup keatas sehingga terbentuk
tabung dengan suatu gerakan refleks yang disebabkan adanya aliran benda cair, sehingga susu yang
diminum langsung menuju kedalam omasum, sebelum rumen dan reticulum berkembang. Walaupun
terjadi dalam proses ruminasi normal, susu akan lebih efisien apabila langsung menuju kedalam
abomasum dan dicerna disitu dan di intestinum. Fermentasi oleh mikrobia rumen akan membuang-
buang energi dan menurunkan kualitas protein dari pakan yang berupa susu yang mudah dicerna dan
mempunyai nilai gizi tinggi.
Omasum
Setelah terjadi fermentasi dalam rumen dan reticulum, pakan mengalir melalui orificium
reticulo-omasal masuk kedalam omasum. Omasum terdiri dari banyak jaringan otot yang berbentuk
lembaran-lembaran seperti dalam buku, sehingga bagian ini disebut juga perut buku.
Abomasum
Abomasum adalah perut sejati pada sapi. Hanya disini bagian lambung sapi yang
mengandung jaringan / kelenjar yang mensekresikan getah lambung. Dinding abomasum dilapisi
banyak lipatan sehingga memperluas areal sekresi dari kelenjar. Abomasum merupakan 80 % atau
lebih bagian dari lambung pedet yang baru lahir. Kompartemen lain berkembang jauh lebih cepat
sejak pedet makan pakan padat, dan pada sapi dewasa kapasitas abomasum kurang dari 10 % total
kapasitas lambung sapi.
Intestinum Tenue (Usus Halus)
Setelah terjadi pencernaan dalam abomasum, hasil yang telah tercerna mengalir lewat
pylorus menuju ke duodenum, yang merupakan bagian dari intestinum tenue. Disebut intestinum
tenue atau usus kecil karena diameternya yang tidak seimbang dengan panjangnya yaitu panjangnya
140 feet ( + 42 m) dan diameternya hanya 2 inchi ( + 5 cm) pada sapi dewasa. Vili yang merupakan
bangunan seperti jari-jari tumbuh memenuhi permukaan dinding dalam usus halus. Fungsi vili ini
untuk membantu mencampur isi usus dengan enzim pencernaan dan memperluas area absorbsi
dalam intestinum. Isi usus digerakkan dengan gerak peristaltik, yang merupakan gelombang gerakan
akibat adanya kontraksi dan relaksasi dari otot-otot dinding usus.
Walaupun lambung pedet yang baru lahir mempunyai empat kompartemen seperti pada sapi
dewasa, rumen dan reticulum pada pedet dan sapi dewasa berbeda terutama pada tingkat
perkembangannya. Berat jaringan atau ukuran besar relative kompartemen lambung pedet pada
berbagai umur sampai umur 9 bulan ditunjukkan dalam Tabel 8 diatas. Pada pedet yang baru lahir
abomasum merupakan sekitar 50 % dari total lambung, sedangkan pada pedet yang lebih tua ( 9
bulan) rumen dan reticulum menempati persentase yang paling besar sampai 64 %. Perbandingan
relative ini sama hasilnya apabila yang diperbandingkan berat jaringan, ataupun volume masing-
masing kompartemen.
Lambung pedet yang baru lahir sama atau mirip dengan lambung ternak non ruminansia. Susu
masuk kedalam lambung (omasum) melewati oesophageal groove (reticular groove) menuju ke
lubang reticulo-omasal. Pada pedet muda oesophageal groove menutup oleh gerak refleks dan
berfungsi sebagai pipa yang mengalirkan pakan cair atau agak cair langsung ke omasum. Gerak
refleks tersebut akan menghilang sesaat pedet mencapai dewasa, sehingga pakan baik yang padat
maupun cair tetap masuk kedalam rumen dan reticulum.
Pada pedet muda rumino-reticulum belum cukup berkembang, sehingga belum mampu
untuk mencerna hijauan. Demikian juga mikro-oganisme rumen belum berkembang, karena itu
pakan untuk pedet harus berbeda dengan pakan sapi dewasa. Pakan pedet harus mengandung
vitamin B kompleks dan protein yang cukup dengan imbangan asam amino yang baik, karena nutrien
tersebut belum dapat disintesis oleh mikrobia rumen. Dengan demikian ransum pedet harus terdiri
dari konsentrat susu, sedangkan hijauan hanya dapat diberikan sedikit sebagai latihan sedikit demi
sedikit dan semakin bertambah sejalan dengan perkembangan rumen dan reticulum.
Ternyata dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa hasil akhir fermentasi rumen merupakan
stimulan yang penting untuk perkembangan rumen-reticulum (khususnya papila rumen). Asam-asam
lemak yang efektif pada proses perkembangan papilla rumen adalah asam butirat, propionat dan
asetat. Larutan glukosa dan garam tidak efektif. Perkembangan jaringan otot rumen tergantung pada
adanya bahan kering (pakan kasar) dalam rumen.
Coecum
Coecum walaupun besar dan penting sebagai tempat untuk pencernaan oleh mikrobia pada
beberapa ternak termasuk kelinci dan kuda, coecum sapi hanya kecil dan tidak mempunyai peranan
yang penting. Namun demikian juga terjadi digesti mikrobial dan sintesis beberapa komponen tetapi
tidak seberapa dibandingkan dengan kegiatan mikrobia dalam rumen dan reticulum.
Usus besar
Isi dari usus kecil mengalir menuju coecum dan usus besar yang panjangnya sekitar 35 ft dan
diameternya bervariasi antara 2 – 5 inchi dan berakhir pada anus.
Mastikasi adalah fenomena yang melibatkan otot-otot rahang. Makanan diteruskan
ke rongga mulut setelah dikunyah oleh gigi. Gigi tersebut mengubah makanan yang
(mungkin) tadinya keras menjadi agak lembut dan lunak.
Safrozoik = Saprozoik yaitu mengambil sisa hewan yang sudah mati
Safrofitik = Saprofitik yaitu mengambil makanan dari substansi cair disekitarnya.
Simbiosis = Simbiosis adalah hubungan timbal balik antara dua makhluk hidup yang saling
berdampingan.
Parasit = Parasit adalah hewan renik yang dapat menurunkan produktivitas hewan yang
ditumpanginya.
Polifagous = polyphagous yaitu hama yang dapat memakan banyak jenis tanaman dan juga gulma
yang tumbuh disekitar tanaman budidaya.
Mikrofagous = microphages yaitu (sel pemulung) sistem kekebalan tubuh kita dan dipecah dalam sel-
sel yang perjalanan seluruh tubuh.
Remastikasi = pengunyahan kembali
Regurgitasi = dari lumen kembali ke mulut
Vomitus = Vomitus atau muntah merupakan proses yang alamiah, untuk mengeluarkan sesuatu yang
dianggap kurang baik bagi tubuh.
Kanibalisme = Kanibalisme merupakan sebuah fenomena di mana satu makhluk hidup makan
makhluk sejenis lainnya.
Difusi = Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut DR dari bagian
berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah.
Osmosis = Osmosis adalah perpindahan molekut pelarut (air) melewati membran semipermeabel
dari konsentrasi larutan yang tinggi ke konsentrasi larutan yang rendah, hal ini menyebabkan
penciutan, pengembangan/pembengkakan bahkan pecah/lisis.
Transport aktif = Transport aktif adalah perpindahan partikel melewati membran, proses ini
membutuhkan DR energi tambahan ATP (adenosin trifosfat), tanpa energi, pergerakan ini tidak akan
terjadi.
Transpot pasif = Partikel berpindah karena mempunyai energi kinetik, hal ini penting untuk
memungkinkan partikel melewati membran sel, tidak diperlukan energi tambahan untuk proses ini,
jadi transport pasif adalah perpindahan partikel melewati membran, perpindahan ini dikarenakan
energi kinetik yang dimiliki partikel. tidak dibutuhkan energi dalam proses ini.
Endositosis = Endositosis adalah transpor makromolekul dan materi yang sangat kecil ke dalam sel
dengan cara membentuk vesikula baru dari membran plasma.
Pinositosis = Pinositosis (“peminuman seluler”) merupakan salah satu jenis endositosis di mana sel
“meneguk” tetesan fluida ekstraseluler dalam vesikula kecil.
Eksositosis = eksositosis adalah proses mengeluarkan benda dari dalam sel ke luar sel.
Fagositosis = Fagositosis adalah proses seluler dari fagosit dan protista yang menggulung partikel
padat dengan membran sel dan membentuk fagosom internal.
Hipotonis = Larutan Hipotonis adalah larutan yang selulernya mempunyai tekanan lebih kecil
terhadap sel.
Krenasi= Krenasi adalah proses pengkerutan sel darah merah apabila benda dalam larutan
hipertonik.
Hemolisis= Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam
medium sekelilingnya (plasma).
Membran Semipermeabel= Semipermeabel artinya mudah dilewati oleh molekul air