Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Etika keperawatan merupakan kesadaran dan pedoman yang


mengatur prinsip-prinsip moral dan etika dalam melaksanakan kegiatan
profesi keperawatan, sehingga mutu dan kualitas profesi keperawatan tetap
terajaga dengan cara yang terhomat. Sebagai perawat/ners selalu
dihadapkan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan etik. Oleh
karena itu etik menjadi sangat penting untuk dipahami oleh individu
perawat sendiri. Etik merupakan perilaku dan dalam skala yang lebih luas,
etik merupakan sikap yang menuntun perawat dalam bertindak sebagai
anggota profesi.

Sebagai seorang profesional, perawat menerima tanggung jawab


dan mengemban tanggung jawab untuk membuat keputusan dan
mengambil langkah-langkah tentang asuhan keperawatan yang diberikan.
Perawat juga bekerja di berbagai tatanan dan mengemban berbagai peran
yang membutuhkan interaksi bukan saja dengan klien/pasien, keluarga dan
masyarakat tetapi juga dengan tim kesehatan lain.

Oleh karena itu untuk mendukung keprofesionalisme perawat,


seorang perawat harus mempelajari dan memahami etika keperawatan,
agar tidak menyimpang dari tugas-tugas yang seharusnya dilakukan oleh
perawat. Etika keperawatan sendiri mempunyai komponen-komponen di
dalamnya. Jadi secara tidak langsung ketika mempelajari etika
keperawatan, maka seorang perawat juga akan mempelajari komponen-
komponennya.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan etika dan komponen keperawatan?
2. Apa saja komponen-komponen keperawatan?

C. Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui definisi tentang etika dan komponen
keperawatan.
2. Mahasiswa mengetahui tentang komponen-komponen keperawatan.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika

Etika berasal dari bahasa Yunani kuno “ethos” (jamak: ta etha),


yang berarti adat kebiasaan, cara berkipikir, akhlak, sikap, watak, cara
bertindak. Kemudian diturunkan kata ethics (Inggris), etika (indonesia).
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988, menjelaskan pengertian etika
dengan membedakan tiga arti, yakni: Ilmu tentang apa yang baik dan
buruk, kumpulan azas atau nilai, dan nilai mengenai benar dan salah.

Definisi Etika Menurut Para Ahli


 Pengertian Etika Menurut K. Bertens: Etika adalah nilai-nila dan
norma-norma moral, yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu
kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
 Pengertian Etika Menurut W. J. S. Poerwadarminto: Etika adalah ilmu
pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral).
 Pengertian Etika Menurut Prof. DR. Franz Magnis Suseno: Etika adalah
ilmu yang mencari orientasi atau ilmu yang memberikan arah dan
pijakan pada tindakan manusia.
 Pengertian Etika Menurut Ramali dan Pamuncak: Etika adalah
pengetahuan tentang prilaku yang benar dalam satu profesi.
 Pengertian Etika Menurut H. A. Mustafa: Etika adalah ilmu yang
menyelidiki, mana yang baik dan mana yang buruk dengan
memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui
oleh akal pikiran.

3
B. Prinsip-Prinsip Etika

Prinsip-prinsip etika keperawatan terdiri dari:

 Autonomy (Otonomi )
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu
mampu berpikir logis dan memutuskan. Orang dewasa dianggap
kompeten dan memiliki kekuatan membuat keputusan sendiri, memilih
dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang dihargai. Prinsip
otonomi ini adalah bentuk respek terhadap seseorang, juga dipandang
sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara
rasional.Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu
yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesioanal merefleksikan
otonomi saat perawat menghargai hak hak pasien dalam membuat
keputusan tentang perawatan dirinya.

 Beneficience (Berbuat Baik)


Beneficience berarti hanya mengerjakan sesuatu yang baik.
Kebaikan juga memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan,
penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh
diri dan orang lain. Kadang-kadang dalam situasi pelayanan kesehatan
kebaikan menjadi konflik dengan otonomi.

 Justice (Keadilan)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terapi yang sama dan adil
terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan
kemanusiaan . Nilai ini direfleksikan dalam praktek profesional ketika
perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar
praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas
pelayanan kesehatan .

4
 Non Maleficience (tidak merugiakan)
Prinsip ini berarti segala tindakan yang dilakukan pada klien
tidak menimbulkan bahaya atau cedera secara fisik dan psikologik.

 Veracity (kejujuran)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini
diperlukan oleh pemberi layanan kesehatan untuk menyampaikan
kebenaran pada setiap pasien dan untuk meyakinkan bahwa pasien
sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan
seseorang untuk mengatakan kebenaran.

 Fidelity (loyalty/ketaatan)
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji
dan komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada
komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia pasien.
Ketaatan, kesetiaan adalah kewajiban seseorang untuk
mempertahankan komitmen yang dibuatnya.
Kesetiaan itu menggambarkan kepatuhan perawat terhadap
kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat
adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit,
memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.

 Confidentiality (kerahasiaan)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan ini adalah bahwa informasi
tentang klien harus dijaga privasi-nya. Apa yang terdapat dalam
dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka
pengobatan klien. Tak ada satu orangpun dapat memperoleh informasi
tersebut kecuali jika diijin kan oleh klien dengan bukti persetujuannya.
Diskusi tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikannya pada
teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus
dicegah.

5
 Akuntabilitas (accountability)
Prinsip ini berhubungan erat dengan fidelity yang berarti
bahwa tanggung jawab pasti pada setiap tindakan dan dapat digunakan
untuk menilai orang lain. Akuntabilitas merupakan standar pasti yang
mana tindakan seorang professional dapat dinilai dalam situasi yang
tidak jelas atau tanpa terkecuali.

C. Teori Etika
1. Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan
dengan egoisme, yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Egoisme
psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan
manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri. Egoisme etis
adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri. Yang
membedakan tindakan berkutat diri (egoisme psikologis) dengan
tindakan untuk kepentingan diri (egoisme etis) adalah pada akibatnya
terhadap orang lain. Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri
mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain, sedangkan
tindakan mementingkan diri tidak selalu merugikan kepentingan orang
lain.
2. Utilitarianisme
Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, kemudian menjadi
kata Inggris utility yang berarti bermanfaat (Bertens, 2000). Menurut
teori ini, suatu tindakan dapat dikatan baik jika membawa manfaat
bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat, atau dengan istilah yang
sangat terkenal “the greatest happiness of the greatest
numbers”. Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme
etis terletak pada siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis
melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham
utilitarianisme melihat dari sudut kepentingan orang banyak
(kepentingan bersama, kepentingan masyarakat).

6
Paham utilitarianisme dapat diringkas sebagai berikut :
1) Tindakan harus dinilai benar atau salah hanya dari konsekuensinya
(akibat, tujuan atau hasilnya).
2) Dalam mengukur akibat dari suatu tindakan, satu-satunya
parameter yang penting adalah jumlah kebahagiaan atau jumlah
ketidakbahagiaan.
3) Kesejahteraan setiap orang sama pentingnya.

3. Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti
kewajiban. Paham deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu
tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi
atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak
boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu
tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya
baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk membenarkan
suatu tindakan, melainkan hanya kisah terkenal Robinhood yang
merampok kekayaan orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada
rakyat miskin.

4. Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini
adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi
baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Sebetulnya teori hak
merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena hak berkaitan
dengan kewajiban. Malah bisa dikatakan, hak dan kewajiban bagaikan
dua sisi dari uang logam yang sama. Dalam teori etika dulu diberi
tekanan terbesar pada kewajiban, tapi sekarang kita mengalami
keadaan sebaliknya, karena sekarang segi hak paling banyak
ditonjolkan. Biarpun teori hak ini sebetulnya berakar dalam
deontologi, namun sekarang ia mendapat suatu identitas tersendiri dan

7
karena itu pantas dibahas tersendiri pula. Hak didasarkan atas
martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu
teori hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis. Teori
hak sekarang begitu populer, karena dinilai cocok dengan
penghargaan terhadap individu yang memiliki harkat tersendiri.
Karena itu manusia individual siapapun tidak pernah boleh
dikorbankan demi tercapainya suatu tujuan yang lain.
Menurut perumusan termasyur dari Immanuel Kant, yang sudah
kita kenal sebagai orang yang meletakkan dasar filosofis untuk
deontologi, manusia merupakan suatu tujuan pada dirinya (an end in
itself). Karena itu manusia selalu harus dihormati sebagai suatu tujuan
sendiri dan tidak pernah boleh diperlakukan semata-mata sebagai
sarana demi tercapainya suatu tujuan lain.

5. Teori Keutamaan (Virtue Theory)


Dalam teori-teori yang dibahas sebelumnya, baik buruknya
perilaku manusia dipastikan berdasarkan suatu prinsip atau norma.
Dalam konteks utilitarisme, suatu perbuatan adalah baik, jika
membawa kesenangan sebesar-besarnya bagi jumlah orang terbanyak.
Dalam rangka deontologi, suatu perbuatan adalah baik, jika sesuai
dengan prinsip “jangan mencuri”, misalnya. Menurut teori hak,
perbuatan adalah baik, jika sesuai dengan hak manusia. Teori-teori ini
semua didasarkan atas prinsip (rule-based).
Disamping teori-teori ini, mungkin lagi suatu pendekatan lain
yang tidak menyoroti perbuatan, tetapi memfokuskan pada seluruh
manusia sebagai pelaku moral. Teori tipe terakhir ini adalah teori
keutamaan (virtue) yang memandang sikap atau akhlak seseorang.
Dalam etika dewasa ini terdapat minat khusus untuk teori keutamaan
sebagai reaksi atas teori-teori etika sebelumnya yang terlalu berat
sebelah dalam mengukur perbuatan dengan prinsip atau norma.
Namun demikian, dalam sejarah etika teori keutamaan tidak

8
merupakan sesuatu yang baru. Sebaliknya, teori ini mempunyai suatu
tradisi lama yang sudah dimulai pada waktu filsafat Yunani kuno.
Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak
yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk
bertingkah laku baik secara moral. Kebijaksanaan, misalnya,
merupakan suatu keutamaan yang membuat seseorang mengambil
keputusan tepat dalam setiap situasi. Keadilan adalah keutamaan lain
yang membuat seseorang selalu memberikan kepada sesama apa yang
menjadi haknya. Kerendahan hati adalah keutamaan yang membuat
seseorang tidak menonjolkan diri, sekalipun situasi mengizinkan.
Suka bekerja keras adalah keutamaan yang membuat seseorang
mengatasi kecenderungan spontan untuk bermalas-malasan. Ada
banyak keutamaan semacam ini. Seseorang adalah orang yang baik
jika memiliki keutamaan. Hidup yang baik adalah hidup menurut
keutamaan (virtuous life).
Menurut pemikir Yunani (Aristoteles), hidup etis hanya
mungkin dalam polis. Manusia adalah “makhluk politik”, dalam arti
tidak bisa dilepaskan dari polis atau komunitasnya. Dalam etika
bisnis, teori keutamaan belum banyak dimanfaatkan. Solomon
membedakan keutamaan untuk pelaku bisnis individual dan
keutamaan pada taraf perusahaan. Di samping itu ia berbicara lagi
tentang keadilan sebagai keutamaan paling mendasar di bidang bisnis.
Diantara keutamaan yang harus menandai pebisnis perorangan bisa
disebut : kejujuran, fairness, kepercayaan dan keuletan. Keempat
keutamaan ini berkaitan erat satu sama lain dan kadang-kadang malah
ada tumpang tindih di antaranya. Kejujuran secara umum diakui
sebagai keutamaan pertama dan paling penting yang harus dimiliki
pelaku bisnis. Kejujuran menuntut adanya keterbukaan dan kebenaran.
Jika mitra bisnis ingin bertanya, pebisnis yang jujur selalu bersedia
memberi keterangan. Tetapi suasana keterbukaan itu tidak berarti si
pebisnis harus membuka segala kartunya. Sambil berbisnis, sering kita

9
terlibat dalam negosiasi kadang-kadang malah negosiasi yang cukup
keras dan posisi sesungguhnya atau titik tolak kita tidak perlu
ditelanjangi bagi mitra bisnis. Garis perbatasan antara kejujuran dan
ketidakjujuran tidak selalu bisa ditarik dengan tajam.
Ketiga keutamaan lain bisa dibicarakan dengan lebih singkat.
Keutamaan kedua adalah fairness. Fairness adalah kesediaan untuk
memberikan apa yang wajar kepada semua orang dan dengan “wajar”
dimaksudkan apa yang bisa disetujui oleh semua pihak yang terlibat
dalam suatu transaksi. Insider trading adalah contoh mengenai cara
berbisnis yang tidak fair. Dengan insider trading dimaksudkan
menjual atau membeli saham berdasarkan informasi “dari dalam”
yang tidak tersedia bagi umum. Bursa efek sebagai institusi justru
mengandaikan semua orang yang bergiat disini mempunyai
pengetahuan yang sama tentang keadaan perusahaan yang mereka
jualbelikan sahamnya. Orang yang bergerak atas dasar informasi dari
sumber tidak umum (jadi rahasia) tidak berlaku fair.
Kepercayaan (trust) juga merupakan keutamaan yang penting
dalan konteks bisnis. Kepercayaan harus ditempatkan dalam relasi
timbal balik. Ada beberapa cara untuk mengamankan kepercayaan.
Salah satu cara adalah memberi garansi atau jaminan. Cara-cara itu
bisa menunjang kepercayaan antara pebisnis, tetapi hal itu hanya ada
gunanya bila akhirnya kepercayaan melekat pada si pebisnis itu
sendiri.

6. Teori Etika Teonom


Sebagaimana dianut oleh semua penganut agama di dunia
bahwa ada tujuan akhir yang ingin dicapai umat manusia selain tujuan
yang bersifat duniawi, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan surgawi.
Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat risten, yang mengatakan
bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian
hubungannya dengan kehendak Allah. Perilaku manusia secara moral

10
dianggap baik jika sepadan dengan kehendak Allah, dan perilaku
manusia dianggap tidak baik bila tidak mengikuti aturan/perintah Allah
sebagaimana dituangkan dalam kitab suci.
Sebagaimana teori etika yang memperkenalkan konsep
kewajiban tak bersyarat diperlukan untuk mencapai tujuan tertinggi
yang bersifat mutlak. Kelemahan teori etika Kant teletak pada
pengabaian adanya tujuan mutlak, tujuan tertinggi yang harus dicapai
umat manusia, walaupun ia memperkenalkan etika kewajiban mutlak.
Moralitas dikatakan bersifat mutlak hanya bila moralitas itu dikatakan
dengan tujuan tertinggi umat manusia. Segala sesuatu yang bersifat
mutlak tidak dapat diperdebatkan dengan pendekatan rasional karena
semua yang bersifat mutlak melampaui tingkat kecerdasan rasional
yang dimiliki manusia.

D. Isu Etik Dalam Praktik Keperawatan


Dalam etika keperawatan ada 4 masalah dalam bidang kesehatan
yang berkaitan dengan aspek hukum yang selalu aktual dibicarakan dari
waktu ke waktu, sehingga dapat digolongkan ke dalam masalah klasik
dalam bidang kedokteran yaitu tentang euthanasia, abortus, transplantasi
organ, supproting devices.
1. Euthanasia
a. Pengertian
Istilah euthanasia berasal dari bahasa yunani “euthanathos”. Eu
-artinya baik, tanpa penderitaan ; sedangkan thanathos -artinya mati
atau kematian. Dengan demikian, secara etimologis, euthanasia
dapat diartikan kematian yang baik atau mati dengan baik tanpa
penderitaan.Ada pula yang menerjemahkan bahwa euthanasia secara
etimologis adalah mati cepat tanpa penderitaan.

11
b. Jenis-jenis Euthnasia

Euthanasia dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, sesuai


dengan dari mana sudut pandangnya atau cara melihatnya.

 Dilihat dari cara pelaksanaannya, euthanasia dapat dibedakan


atas :
1) Euthanasia pasif
Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau
mencabut segala tindakan atau pengobatan yang sedang
berlangsung untuk mempertahankan hidup pasin. Dengan kata lain,
euthanasia pasif merupakan tindakan tidak memberikan
pengobatan lagi kepada pasien terminal untuk mengakhiri
hidupnya. Tindakan pada euthanasia pasif ini dilakukan secara
sengaja dengan tidak lagi memberikan bantuan medis yang dapat
memperpanjang hidup pasien, seperti tidak memberikan alat-alat
bantu hidup atau obat-obat penahan rasa sakit, dan sebagainya.
2) Euthanasia aktif atau euthanasia agresif
Euthanasia aktif atau euthanasia agresif adalah perbuatan
yang dilakukan secara medik melalui intervensi aktif oleh seorang
dokter dengan tujuan untuk mengakhiri hidup manusia. Dengan
kata lain, Euthanasia agresif atau euthanasia aktif adalah suatu
tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga
kesehatan lain untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup si
pasien. Euthanasia aktif menjabarkan kasus ketika suatu tindakan
dilakukan dengan tujuan untuk mnimbulkan kematian dengan
secara sengaja melalui obat-obatan atau dengan cara lain sehingga
pasien tersebut meninggal. Euthanasia aktif ini dapat pula
dibedakan atas :

12
a) Euthanasia aktif langsung (direct)

Euthanasia aktif langsung adalah dilakukannnya


tindakan medis secara terarah yang diperhitungkan akan
mengakhiri hidup pasien, atau memperpendek hidup pasien.
Jenis euthanasia ini juga dikenal sebagai mercy killing.

b) Euthanasia aktif tidak langsung (indirect)

Euthanasia aktif tidak langsung adalah saat dokter atau


tenaga kesehatan melakukan tindakan medis untuk
meringankan penderitaan pasien, namun mengetahui adanya
risiko tersebut dapat memperpendek atau mengakhiri hidup
pasien.

 Ditinjau dari permintaan atau pemberian izin, euthanasia


dibedakan atas :
1) Euthanasia Sukarela (Voluntir)
Euthanasia yang dilakukan oleh tenaga medis atas
permintaan pasien itu sendiri. Permintaan pasien ini dilakukan
dengan sadar atau dengan kata lain permintaa pasien secara sadar
dn berulang-ulang, tanpa tekanan dari siapapun juga.
2) Euthanasia Tidak Sukarela (Involuntir)
Euthanasia yang dilakukan pada pasien yang sudah tidak
sadar. Permintaan biasanya dilakukan oleh keluarga pasien.Ini
terjadi ketika individu tidak mampu untuk menyetujui karena
faktor umur, ketidak mampuan fisik dan mental, kekurangan
biaya, kasihan kepada penderitaan pasien, dan lain sebagainya.

2. Aborsi
a. Pengertian
Aborsi adalah Berakhirnya suatu kehamilan ( oleh akibat –
akibat tertentu ) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk

13
hidup di luar kandungan / kehamilan yang tidak dikehendaki atau
diinginkan. Aborsi itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu aborsi
spontan dan aborsi buatan. Aborsi spontan adalah aborsi yang terjadi
secara alami tanpa adanya upaya - upaya dari luar ( buatan ) untuk
mengakhiri kehamilan tersebut. Sedangkan aborsi buatan adalah
aborsi yang terjadi akibat adanya upaya - upaya tertentu untuk
mengakhiri proses kehamilan.
Ada dua macam aborsi, yaitu aborsi spontan dimana aborsi
terjadi secara alami, tanpa intervensi tindakan medis (aborsi
spontanea), dan aborsi yang direncanakan melalui tindakan medis
dengan obat-obatan, tindakan bedah, atau tindakan lain yang
menyebabkan pendarahan lewat vagina (aborsi provokatus). (Fauzi,
et.al., 2002)

Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi, yaitu:

1) Aborsi Spontan / Alamiah, Aborsi spontan / alamiah berlangsung


tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kurang
baiknya kualitas sel telur dan sel sperma
2) Aborsi Buatan / Sengaja , Aborsi buatan / sengaja adalah
pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu
sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh
calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan
atau dukun beranak).
3) Aborsi Terapeutik / Medis, sedangkan, Aborsi terapeutik / medis
adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas
indikasi medik.Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil
tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit
jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu
maupun janin yang dikandungnya.Tetapi ini semua atas
pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.

14
b. Resiko aborsi
Aborsi memiliki risiko penderitaan yang berkepanjangan
terhadap kesehatan maupun keselamatan hidup seorang wanita.
Resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi berisiko
kesehatan dan keselamatan secara fisik dan gangguan psikologis.
Risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang
wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi
adalah ;
1) Kematian mendadak karena pendarahan hebat.
2) Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.
3) Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar
kandungan.
4) Rahim yang sobek (Uterine Perforation).
5) Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan
menyebabkan cacat pada anak berikutnya.
6) Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen
pada wanita).
7) Kanker indung telur (Ovarian Cancer).
8) Kanker leher rahim (Cervical Cancer).
9) Kelainan pada ari-ari (Placenta Previa) yang akan
menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan
hebat pada kehamilan berikutnya.
10) Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (
Ectopic Pregnancy).
11) Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).
12) Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)

c. Dampak Aborsi
1) Timbul luka-luka dan infeksi-infeksi pada dinding alat kelamin
dan merusak organ-organ di dekatnya seperti kandung kencing
atau usus.

15
2) Robek mulut rahim sebelah dalam (satu otot lingkar). Hal ini
dapat terjadi karena mulut rahim sebelah dalam bukan saja sempit
dan perasa sifatnya, tetapi juga kalau tersentuh, maka ia
menguncup kuat-kuat. Kalau dicoba untuk memasukinya dengan
kekerasan maka otot tersebut akan menjadi robek.
3) Dinding rahim bisa tembus, karena alat-alat yang dimasukkan ke
dalam rahim.
4) Terjadi pendarahan. Biasanya pendarahan itu berhenti sebentar,
tetapi beberapa hari kemudian/ beberapa minggu timbul kembali.
Menstruasi tidak normal lagi selama sisa produk kehamilan belum
dikeluarkan dan bahkan sisa itu dapat berubah menjadi kanker.

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Etika keperawatan merupakan kesadaran dan pedoman yang


mengatur nilai-nilai moral didalam melaksanakan kegiatan profesi
keperawatan,sehingga mutu dan kualitas profesi keperawatan tetap terjaga
dengan cara terhormat. Pemahaman tentang etika keperawatan sangat
penting dihayati oleh perawat,oleh karena itu kemampuan akademi dan
professional akan lebih baik bilamana didukung oleh pelaksanaan etika
keperawatan. Didalam etika keperawatan terdapat beberapa unsur yang
terkandung didalamnya diantaranya : pengorbanan,dedikasi,pengabdian
dan hubungan antara perawat dengan pasien,dokter,sejawat maupun untuk
diri sendiri,oleh karena itu dalam prakteknya etika keperawatan dapat
berorientasi pada kewajiban dan larangan,selanjutnya dapat diatur dalam
kode etik keperawatan.

B. Saran
Sebagai seorang perawat sebaiknya kita harus memahami dan
menerapkan etika keperawatan ketika kita melakukan praktik keperawatan
agar tidak menyimpang dari tugas kita sebagai seorang perawat, agar
terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan.

17
DAFTAR PUSTAKA

Ismani, Nila. 2001. Etika Keperawatan. Jakarta : Widya Medika

Kozier. (2000). Fundamentals of Nursing : concept theory and practices.


Philadelphia. Addison Wesley.

18