Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit pada sistem pernafasan merupakan masalah yang sudah umum


terjadi di masyarakat. Dan TB paru merupakan penyakit infeksi yang
menyebabkan kematian dengan urutan atas atau angka kematian (mortalitas)
tinggi, angka kejadian penyakit (morbiditas), diagnosis dan terapi yang cukup
lama. Penyakit ini biasanya banyak terjadi pada negara berkembang atau yang
mempunyai tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah.

Di Indonesia TB paru merupakan penyebab kematian utama dan angka


kesakitan dengan urutan teratas setelah ISPA. Indonesia menduduki urutan ketiga
setelah India dan China dalam jumlah penderita TB paru di dunia.

Diperkirakan setiap tahun 450.000 kasus baru TB dimana sekitar 1/3


penderita terdapat disekitar puskesmas, 1/3 ditemukan di pelayanan rumah
sakit/klinik pemerintah dan swasta, praktek swasta dan sisanya belum terjangku
unit pelayanan kesehatan. Sedangkan kematian karena TB diperkirakan 175.000
per tahun.

Penyakit tuberkulosis (TB Paru) sampai saat ini masih masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat, dimana hasil Survai Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) tahun 1995 menunjukan bahwa tuberculosis merupakan penyebab
kematian ketiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan.
TB Paru juga menempati nomor satu dari golongan penyakit infeksi. Pemutusan
rantai penularan dilakukan dengan cara penemuan dini diikuti dengan pengobatan
tepat dan cukup masa pengobatan dalam rangka mengurangi bahkan kalau dapat
menghilangkan sumber penularan secepatnya.

1
Berdasarkan hal ini maka perlu ditingkatkan pengetahuan masyarakat mengenai
tuberculosis itu sendiri. Makalah ini dibuat agar masyarakat umum terutama para
petugas kesehatan dapat memahami lebih mendalam mengenai tuberculosis yang
dapat menyerang siapa saja.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana definisi dari TB Paru?
2. Bagaimana etiologi dari TB paru?
3. Bagaimana patofisiologi dari TB paru?
4. Bagaimana manifestasi dari TB paru?
5. Bagaimana komplikasi dari TB paru?
6. Bagaiana pemeriksaan penunjang dari TB paru?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari TB paru?
8. Bagaimana pencegahan dari TB paru?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari TB paru
2. Untuk mengetahui etiologi dari TB paru
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari TB paru
4. Untuk mengetahui apa saja manifestasi dari TB paru
5. Untuk mengetahui kompilkasi dari TB paru
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari TB Paru
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari TB paru
8. Untuk mengetahui apa saja pencegahan dari TB paru

2
BAB II
KONSEP MEDIK

2.1. Pengertian TBC

Menurut (Kemenkes RI, 2012) tuberculosis adalah penyakit menular yang


langsung disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Kuman TB
berbentuk batang berukuran 0,3 x 2 sampai 4 µm, ukuran ini lebih kecil dari satu
sel eritrosit.

Tuberculosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan


Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru dan hampir seluruh organ
tubuh lainnya.

Kuman ini mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada
pewarnaan Ziehl neelsen, oleh karena itu disebut pula sebagai basil tahan asam
(BTA). Kuman dapat bertahan hidup dalam suhu yang sangat rendah yaitu antara
2°C sampai -70°C, namun sangat peka terhadap panas sinar matahari dan
ultraviolet. Didalam dahak pada suhu 30°-37°C kuman cepat mati dalam waktu
seminggu, sedangkan apabila terpapar sinar ultraviolet secara langsung sebagian
besar kuman akan mati dalam waktu beberapa menit (Tuberculosis, From Basic
Science to Patient Care, 2007).

2.2. Etiologi

Penyebab tuberculosis adalah mycobacterium tuberculosis dengan ukuran


panjang 1-4 µm dan tebal 0,3-0,6 µm, termasuk golongan bakteri aerob gram
positif serta tahan asam atau basil tahan asam. Pada waktu batuk atau bersin,
pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak).
Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar
selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke
dalam saluran pernafasan. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia, ia
dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui system peredaran

3
darah, system saluran getah bening atau menyebar langsung ke bagian-bbagian
tubuh lainnya.

Daya penularan dari sesorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan parunya serta system kekebalan dari orang yang akan ditularkannya.
Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien
tersebut. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi
droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

2.3. Patofisiologi

Infeksi Primer

Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman
TB. Droplet yang terhirup ukurannya sangat kecil (1-5 mikron), sehingga
dapat melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus dan terus berjalan
sehingga sampai dialveoulus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman
TB berhasil berkembangbiak dengan cara pembelahan diri di paru yang
mengakibatkan radang didalam paru. Aliran getah bening akan membawa
kuman TB ke kelanjar getah bening disekitar hilus paru, ini disebut sebagai
kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan
kompleks primer adalah sekitar 4-6 minggu. Infeksi dapat dibuktikan dengan
terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.

Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang


masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada
umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan
perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, beberapa kuman akan
menetap sebagai kuman persister atau dormant. Apabila daya tahan tubuh
tidak mampu menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa
bulan bersangkutan akan menjadi sakit TB. Masa inkubasi yaitu waktu sejak
terinfeksi sampai menjadi sakit diperkirakan sekitar 6 bulan.

4
Tuberkulosis pasca primer (post primary TB)

Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau


tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh
menurunakibat status gizi yang buruk atau terinfeksi HIV. Ciri khas
tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya
cavitas atau efusi pleura.

2.4. Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala pada pasien secara objektif:

1. keadaan postur tubuh klien yang tampak terangkat kedua bahunya


2. BB klien biasanya menurun : agak kurus
3. BB tidak meningkat dalam 1 bulan setelah diberikan perbaikan gizi yang
adekuat (gagal tumbuh)
4. Demam, dengan suhu tubuh bisa mencapai 40-41°C
5. Batuk lama > 1 bulan, atau adanya batuk kronis.
6. Batuk yang kadang disertai hemaptoe
7. Sesak nafas
8. Nyeri dada
9. Malaise (anorexia, nafsu makan menurun, sakit kepala, nyeri otot,
berkeringat pada malam hari)
10. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis

2.5. Komplikasi

Komplikasi berikut sering terjadi pada pasien lanjut:

a. Hemoptisis massif (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat


mengakibatkan kematian karena sumbatan jalan nafas, atau syok
hipovolemik
b. Kolaps lobus akibat sumbatan bronkus

5
c. Bronkietasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
d. Pneumotoraks (udara di dalam rongga pleura) spontan: kolaps spontan
karena bullae yang pecah.
e. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, sendi, ginjal, dan
sebagainya.
f. Insufisiensi kardio pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency)
g. TB yang resisten terhadap obat dapat terjadi. Kemungkinan galur lain yang
resisten obat dapat terjadi.

2.6. Pemeriksaan Penunjang


1. kultur sputum: positif untuk mycobacterium pada tahap akhir penyakit.
2. Ziehl Neelsen: (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan
cairan darah) positif untuk basil asam cepat.
3. Tes kulit: (PPD, mantoux, potongan vollmer); reaksi positif (area durasi 10
mm) terjadi 48-72 jam setelah injeksi intra dermal. Antigen menunjukkan
infeksi masa lalu dan adanya antibody tetapi tidak secara berarti
menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara
klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi
disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda
4. Elisa/Western Blot: dapat menyatakan adanya HIV.
5. Foto toraks: dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas,
simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan, perubahan
menunjukkan lebih luas TB dapat masuk rongga area fibrosa. Foto toraks
hanya digunakan sebagai sarana penunjang diagnosis sepanjang sesuai
dengan indikasinya.
6. Histology atau kultur jaringan (termasuk pembersihan gaster: urine dan
cairan serebrospinal, biopsy kulit) positif untuk mycobacterium
tuberculosis
7. Biopsy jarum pada jaringan paru; positif untuk granula TB; adanya sel
raksasa menunjukkan nekrosis.

6
8. Elektrosit; misalnya: hiponatremia karena retensi air tidak normal didapat
pada TB paru luas. GDA dapat tidak normal tergantung lokasi, berat dan
kerusakan sisa pada paru.
9. Pemeriksaan fungsi pada paru

2.7. Penatalaksanaan
A. Farmakologi
Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian:
1. Jangka pendek
Dengan tata cara pengobatan: setiap hari dengan jangka waktu 1-3 bulan.
a. Streptomycin inj 750 mg
b. Pas 10 mg
c. Ethambutol 1000 mg
d. Isoniazid 400 mg

Kemudian dilanjutkan dengan jangka panjang, tata cara pengobatannya adalah


setiap 2x seminggu, selama 13-18 bulan, tetapi setelah perkembangan
pengobatan ditemukan terapi. Terapi TB paru dapat dilakukan dengan minum
obat saja, obat yang diberikan dengan jenis:

a. INH
b. Rifampicin
c. Ethambutol

Dengan fase selama 2x seminggu dengan lama pengobatan kesembuhan


menjadi 6-9 bulan

2. Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan


dalam pemeriksaan sputum BTA (+) dengan kombinasi obat:
a. Rifampicin
b. Isoniazid (INH)
c. Ethambutol
d. Pirodoksin (B6)

7
B. Non Farmakologi
1. Mengkonsumsi makanan bergizi
Salah satu penyebab munculnya TBC adalah kekurangan gizi
seperti mineral dan vitamin. Maka dari itu akan sangat pentng
bilamana penderita secara rutin mengkonsumsi makanan bergizi,
makanan gizi tersebut seperti buah, sayur, dan ikan laut.
2. Menempati tempat tinggal yang sehat
Lingkungan yang sehat akan membantu penderita penyakit TBC
untuk segera sembuh, karena penyakit ini disebabkan oleh bakteri
sehingga jika penderita berada dilingkungan yang kotor maka akan
menyebabkan bakteri tersebut semakin berkembang sehingga akan
memperburuk keadaan
3. Olahraga secara rutin
Dengan melakukan olahraga secara rutin maka akan membantu
peredaran darah dan metabolism dalam tubuh menjadi lancer sehingga
bakteri penyebab TBC tidak akan mampu berkembang atau duplikasi
diri menjadi banyak.
4. Mengurangi makanan bernatrium dan kafein
Penyakit TBC akan semakin parah apabila penderita masih secara
rutin mengonsumsi makanan yang banya mengandung natrium dan
kafein. Dengan menghindari makanan yang bernatrium atau berafein
tinggi maka penyembuhan penyakit TBC akan berjalan dengan baik.

4.1. Pencegahan
1. Upaya pencegahan penularan penyakit TB:
a. Mengobati pasien TB paru BTA positif sampai sembuh ( merupakan
upaya terpenting)
b. Menganjurkan kepada pasien agar menutup mulut dengan sapu tangan
bila batuk atau bersin dan tidak membuang dahak di lantai atau di
sembarang tempat.

8
c. Perbaikan perumahan dan lingkungan, peningkatan status gizi dan
peningkatan pelayanan kesehatan.
2. Upaya untuk mencegah terjadinya TB:
a. Meningkatkan gizi
b. Memberikan pengobatan pencegahan pada anak balita tanpa gejala TB
tapi mempunyai kontak atau serumah dengan pasien TB paru BTA
positif.
c. Imunisasi BCG

9
BAB III

KONSEP KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat

Gejala : kelemahan, insomnia

Tanda :

b. Sirkulasi

Gejala : konjungtiva anemis

Tanda : pucat

c. Eliminasi
Gejala : urine berwarna jingga, pekat dan berbau
Tanda :
d. Makanan/cairan
Gejala : anoreksia, mual
Tanda : -
e. Neurosensory
Gejala : -
Tanda : -
f. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri dada
Tanda :
g. Pernafasan
Gejala : dispnea
Tanda :
h. Keamanan
Gejala :
Tanda :

10
i. Seksualitas
Gejala : -
Tanda : -
j. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala :
Tanda : -

Pemeriksaan Fisik

a. Inspeksi
1. Ketidaksimetrisan rongga dada
2. Pelebaran interkostal space ( ICS )
3. Sesak napas
4. Peningkatan frekuensi napas
5. Retraksi otot pernapasan
b. Palpasi
1. Gerakan dinding thoraks anterior/ekskrusi pernapasan
c. Perkusi
1. Resonan atau sonor pada seluruh paru
2. Bunyi redup sampai pekak pada sisi yang sesuai banyaknya akumulasi
cairan di rongga pleura
3. Bunyi hiper resonan jika ada pneumothoraks
d. Auskultasi
1. Bunyi napas tambahan (ronkhi)

11
3.2 Rencana Keperawatan

NO DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL


1 Ketidakefektifan NOC : Observasi : Observasi :
pembersihan jalan napas - Pencegahan aspirasi 1. Kaji dan dokumentasikan 1. Untuk mengetahui efektif
( 00031 ) - Status prnapasan: keefektifan pemberian tidaknya pemberian oksigen
Domain 11 kepatenan jalan napas oksigen dan terapi lain 2. Untuk mengetahui efektif
Keamanan/perlindungan - Status pernapasan : 2. Kaji dan dokumentasikan tidaknya obat resep
Kelas 2 Cedera fisik ventilasi keefektifan obat resep 3. Untuk mengetahui
Definisi : 3. Kaji dan dokumentasikan frekuensi,kedalaman dan
Ketidamampuan untuk Krtiteria hasil: frekuensi, kedalaman, dan upaya pernafasan
membersihkan secret atau Setelah dilakukan tindakan upaya pernapasan 4. Untuk mengetahui faktor
obstruksi saluran napas keperawatan selama …x24 4. Kaji dan dokumentasikan yang berhubungan dengan
guna mempertahankan jam diharapakan klien dapat : faktor yang berhubungan, tidak efektif bersihan jalan
jalan napas yang bersih - Menunjukan pembersiha seperti nyeri, batuk tidak nafas
Batasan karakteristik : jalan napas yang efektif, efektif, mucus kental, dan
1. Dispnea yang dibuktikan oleh keletihan Mandiri :
2. Suara napas tambahan pencegahan aspirasi 5. Memfasilitasi kepatenan

12
3. Perubahan pada irama - Menunjukan status Mandiri : jalan udaraaaa
dan frekuensi pernapasan : kepatenan 5. Manajemen jalan napas 6. Mengeluarkan secret dari
pernafasan jalan napas, yang 6. Pengisapan jalan napas jalan napas dengan
4. Batuk tidak ada atau dibuktikan oleh 7. Kewaspadaan aspirasi memasukan keteter
tidak efektif indicator gangguan 8. Manajemen asma penghisap kedalam jalan
5. Sianosis sebagai berikut : 9. Peningkatan batuk napas oral dan atau trakea.
6. Kesulitan untuk kemudahan bernapas, 10. Pengaturan posisi 7. Mencegah dan
berbicara frekuensi dan irama 11. Pemantauan pernapasan meminimalkan faktor resiko
7. Penurunan suara nafas pernapasan, pergerakan 12. Bantuan ventilasi pada pasien yang beresiko
8. Ortophnea sputum keluar dari jalan aspirasi.
9. Gelisah napas, pergerakan HE :. 8. Mengidentifikasi, menangani
10. Sputum berlebihan sumbatan keluar dari 13. Informasikan kepada dan mencegah inflamasi atau
11. Mata terbelalak jalan napas pasien dan keluarga tentang kontriksi didalam jalan
larangan merokok di dalam napas.
Faktor yang ruang perawatan, beri 9. Meningkatkan inhalasi dalam
berhubungan : penyuluhan tentang pada paien yang memiliki
1. Lingkungan pentingnya berhenti riwayat keturunan
2. Obstruksi jalan napas merokok mengalami tekanan
3. Fisiologis 14. Instruksikan kepada pasien intratoraksik dan kompresi

13
tentang batuk dan teknik parenkim paru yang
napas dalam untuk mendasari untuk pengerahan
memudahkan pengeluaran tenaga dalam
secret. mengehembuskan udara
15. Ajarkan pasien untuk 10. Mengubah posisi pasien atau
mengganjal luka insisi pada bagian tubuh pasien secara
saat batuk sengaja untu memfasilitasi
16. Ajarkan pasien dan kesejahteraan fisiologis dan
keluarga tentang makna psikologis
perubahan pada sputum, 11. Mengumpulkan dan
seperti warna, karakter, menganalisis data pasien
jumlah, dan bau. untuk memastikan kepatenan
jalan napas dan pertukaran
Kolaborasi : gas yang adekuat
17. Rundingkan dengan ahli 12. Meningkatkan pola napas
terapi pernapasan, jika spontan yang optimal, yang
perlu. memaksimalkan pertukaran
Berikan udara atau oksigen oksigen dan karbondioksida
tang telah dihumidifikasi dalam paru

14
(dilembabkan) sesuai HE :
dengan kebijaksanaan 13. Agar keluarga tahu efek
institusi. dari merokok
18. Beritahu dokter tentang 14. Untuk memudahkan
hasil tes darah yang pengeluaran secret
abnormal 15. Agar tidak aan terjadi luka
pada saluran pernapasan
16. Agar dapat mengetahui
perubahan pada sputum
dan apa dampaknya

Kolaboratif :
17. Untuk memperbaiki proses
bernapas
18. Agar dapat mengetahui hasil
pemeriksaan

15
2 Gangguan pertukaran NOC NIC Observasi :
gas ( 00030 ) - Respon alergi : sistemik Observasi : 1. Untuk mengetahui
Domain 3 Eliminasi dan - Keseimbangan elektrolit 1. Kaji suara paru, frekuensi keefektifan penggunaan alat
pertukaran dan asam basa napas, kedalaman, dan penunjang.
Kelas 4 Fungsi pernafasan - Respon ventilasimekanis usaha napas, dan produksi 2. Untuk mengetahui hasil gas
Definisi : Kelebihan atau : orang dewasa sputum sebagai indicator darah
deficit oksigenasi dan atau - Status pernapasan : keefektifan pengguanaan 3. Untuk mengetahui kadar
eliminasi karbondioksida pertukaran gas alat penunjang elektrolit.
pada membrane alveolar - Status pernapasan : 2. Pantau hasil gas darah 4. Untuk mengathui status
kapiler ventilasi 3. Pantau kadar elektrolit mental pasien.
Batasan karakteristik : - Perfusi jaringan : paru 4. Pantau status mental 5. Untuk mengatahui apakah
1. Diaphoresis - Tanda-tanda vital 5. Observasi terhadap pasien terjadi sianosis atau
2. Dipsnea sianosis, terutama tidak.
3. Gangguan penglihatan membrane mukosa mulut 6. Untuk mengetahui kebutuhan
4. Gas darah arteri Krtiteria hasil: 6. Manajemen jalan napas : pasien terhadap pemasangan
abnormal Setelah dilakukan tindakan identifikasi kebutuhan jalan napas actual.
5. Gelisah keperawatan selama …x24 pasien terhadap
6. Hiperkapnea jam diharapakan klien dapat : pemasangan jalan napas
7. Hipoksemia - Gangguan pertukaran gas actual atau potensial, Mandiri :

16
8. Hipoksia akan berkurang, yang auskultasi suara napas, 7. Memfasilitasi kepatenan
9. Iritailitas dibuktikan oleh tidak tandai area penurunan atau jalan napas.
10. Konfusi terganggunya respon hilangnya ventilasi dan 8. Meningkatkan keadekuatan
11. Napas cuping hidung alergi : sistemik, adanya bunyi tambahan, ventilasi dan perfusi
12. Penurunan karbon keseimbangan elektrolit pantau status pernapasan jaringan untuk individu
dioksida dan asam basa, respon dan oksigenasi, sesuai yang mengalami reaksi
13. pH darah arteri ventilasi mekanis : orang dengan kebutuhan alergi .
abnormal dewasa, status 9. Mengidentifikasi,
14. Pola pernapasan pernapasan : pertukaran Mandiri : mengatasi, dan mencegah
abnormal (mis, gas, status pernapasan : 7. Manajemen jalan napas reaksi terhadap inflamasi.
kecepatan, irama, ventilasi, perfusi jaringan 8. Manajemen anafilaksis 10. Meningkatkan
kedalaman) paru, dan tanda-tanda 9. Manajemen asma keseimbanganelektrolit dan
15. Sakit kepala saat vital 10. Manajemen elektrolit mencegah komplikasi
bangun - Status pernapasan : 11. Perawata emboli : paru akibat kadar elektrolit
16. Sianosis pertukaran gas tidak akan 12. Pengaturan hemodinamik serum yang tidak normal.
17. Somnolen terganggu yang 13. Ventilasi mekanis 11. Membatasi komplikasi
18. Takikardia dibuktikan oleh indicator 14. Terapi oksigen pada pasien yang
19. Warna kulit abnormal gangguan sebagai berikut mengalami atau beresiko
(mis, pucat, : Status kognitif HE : terhadap oklusi sirkulasi

17
kehitaman) - Status pernapasan : 15. Menjelaskan pengguanaan paru.
pertukaran gas tidak akan alat bantu yang diperluan 12. Mengoptimalkan frekuensi
Faktor yang terganggu yang (oksigen, pengisap, jantung, preload, afterload,
berhubungan : dibuktikan oleh indicator spirometer, dan IPPB) dan kontraktilitas jantung.
1. Ketidakseimbangan gangguan sebagai berikut 16. Ajarkan kepada pasien 13. Untuk penggunaan alat
ventilasi perfusi : dipsnea saat istrahat, teknik bernapas dan buatan untuk membantu
2. Perubahan membrane dipsnea saat aktivitas relaksasi pasien bernapas.
alveolar-kapiler berat, gelisah, sianosis, 17. Menjelaskan kepada 14. Memberikan oksigen dan
dan somnolen pasien dan keluarga alasan memantau efektivitasnya.
- Status penpasan : pemberian oksigen dan
ventilasi tidak akan tindakan lainnya HE :
terganggu yang 18. Informasikan kepada 15. Agar pasien tahu cara
dibuktikan oleh indiktaor pasien dan keluarga menggunakan alat bantu
gangguan sebagai berikut bahwa merokok itu di yang diperlukan.
: frekuensi pernapsan, larang 16. Agar pasien dan keluarga
irama pernapasan, 19. Manajemen jalan napas : tahu tekni bernapas dan
kedalaman inspirasi, ajarkan tentang batuk relaksasi yang baik.
ekspulsi udara, dipsnea efektif, ajarkan kepada 17. Agar pasien dan keluarga
saat istrahat, bunyi napas pasien bagaimana bisa tahu tentang

18
auskultasi mengguanakan inhaler penanganan pemberian
yang di anjurkan, sesuai oksigen
dengan kebutuhan 18. Agar pasien dan keluarga
tahu tentang bahaya
Kolaborasi : merokok
20. Konsultasikan dengan 19. Agar pasien tahu tentang
dokter tentang pentingnya batuk yang efektif
pemeriksaan gas darah
arteri (GDA) dan Kolaboratif :
pengguanaan alat bantu 20. Agar dapat mengetahui
yang di anjurkan sesuai tentang hasil dari
dengan adanya perubahan pemeriksaan
kondisi pasien 21. Agar dapat mengetahui
21. Laporkan perubahan pada perubahan yang akan terjadi
data pengkajian terkait 22. Agar dapat
22. Berikan obat yang mempertahankan asam basa
diresepkan (Natrium 23. Agar dapat memperbaiki
Bikarbonat) untuk proses pernapasan menjadi
mempertahankan lebih baik

19
keseimbangan asam basa 24. Agar tidak terjadi
23. Manajemen jalan napas : peningkatan denyut jantung
berikan udara yang
dilembabkan atau oksigen
jika perlu, berikan obat
bronchodilator jika perlu,
berikan terapi aerosol jika
perlu, berikan terapi
nebulasi ultrasonic jika
perlu
24. Pengaturan hemodinamik :
berikan obat antiaritmia
jika perlu
3 Nyeri Akut (00132) NOC Observasi : Observasi :
Domain 12 - Tingkat kenyamana 1. Pantau TTV 1. untuk mengetahui tanda-tanda
Kelas 1 Kenyamanan Fisik - Pengendalian nyeri 2. Manajemen nyeri : vital
- Tingkat nyeri a. Kaji penyebab nyeri 2. Manajemen nyeri :
Definisi : Pengalaman b. Kaji gambaran nyeri a. untuk mengetahui penyebab
sensori dan emosional yang Krtiteria hasil: c. Kaji dimana tempat nyeri nyeri

20
tidak menyenangkan yang Setelah dilakukan tindakan d. Kaji skala nyeri b. untuk mengetahui proses
muncul akibat kerusakan keperawatan selama …x24 e. Kaji kapan terjadinya nyeri yang dirasakan pasien
jaringan yang actual atau jam diharapakan klien dapat : nyeri c. untuk mengetahui letak
potensial, atau - Memperlihatkan tingkat nyeri
digambarkan dengan istilah kenyamanan Mandiri : d. untuk mengetahui tingkat
seperti awitan yang tiba- - Mengontrol nyeri 3. Manajemen medikasi nyeri
tiba atau perlahan dengan - Nyeri berkurang 4. Manajemen nyeri : e. untuk mengatasi nyeri yang
intensitas ringan sampai a. Dengan melakukan timbul pada saat yang
berat dengan akhir yang teknik relaksasi berbeda
dapat diantisipasi atau b. Dengan melakukan
dapat diramlkan dan teknik distraksi Mandiri :
durasinya kurang dari 6 c. Dengan melakukan 3. untuk memfasilitasi
bulan teknik imajinasi penggunaan obat resep atau
terbimbing obat bebas secara aman dan
efektif
Batasan karakteristik : HE : 4. Manajemen nyeri :
1. Mengungkapkan secara 5. Informasikan kepada pasien a. Untu dapat melauan tekni
verbal atau melaporkan tentang prosedur yang dapat relaksasi
nyeri dengan isyarat meningkatkan nyeri. b. Untuk mengetahui tenik

21
2. Posisis untuk 6. Instruksikan kepada pasien distraksi
menghindari nyeri untuk menginformasikan c. Untu mengetahui teknik
3. Perubahan tonus otot kepada perawat jika peredaan imajinasi terbimbing
4. Respon autonomic nyeri tidak dapat dicapai.
5. Perubahan selera 7. Manajemen nyeri : HE :
makan a. Berikan informasi tentang 5. Untuk menghindari rasa nyeri
6. Perilaku distraksi nyeri, seperti penyebab yang berlebihan
7. Perilaku eksperesif nyeri, berapa lama akan 6. Untuk segera menggantikan
8. Bukti nyeri yang dapat berlangsung, dan tindakan yang cepat untuk
diamati antisipasi ketidaknymanan dapat mengatasi nyeri
akibat prosedurz 7. Untuk mengetahui jenis nyeri
Faktor yang 8. Manajemen nyeri : dan berapa lama nyeri akan
berhubungan : a. Ajarkan penggunaan berkurang
1. Agen-agen penyebab tekhnik non farmakologi 8. Untuk mengetahui cara
cedera b.Distraksi peredaan nyeri tanpa
c. Imajinasi terbimbing penggunaan obat

Kolaboratif : Kolaboratif :
9. Kolaborasi dengan tim medis 9. Untuk mengatasi rasa nyeri

22
dan paramedis untuk
pemberian analgesic

4 Hipertermia (00007) NOC Observasi : Observasi :


Domain 11 - Termoregulasi 1. Untuk mengetahui tanda- 1. Untuk mengetahui tanda-
keamanan/Perlindungan - Tanda-tanda vital tanda vital tanda vital
Kelas 5 Proses Defensive 2. Untuk mengetahui tingkat 2. Untuk mengetahui tingkat
Definisi : Peningkatan Krtiteria hasil: demam demam
suhu tubuh diatas rentang Setelah dilakukan tindakan 3. Untuk mengetahui tanda 3. Untuk mengetahui tanda
normal keperawatan selama …x24 demam demam
jam diharapakan klien dapat : 4. Regulasi suhu : 4. Regulasi suhu :
Batasan karakteristik : - Pasien akan a. Untuk mengetahui ada atau c. Untuk mengetahui ada atau
1. kulit merah menunjukkan tidaknya perubahan suhu tidaknya perubahan suhu
2. suhu tubuh meningkat termoregulasi yang badan pasien badan pasien
diats rentang normal dibuktikan oleh b. Untuk mengetahui ada atau d. Untuk mengetahui ada atau
3. frekuensi nafas indicator ganggaun tidaknya perubahan warna tidaknya perubahan warna
meningkat sebagai berikut : kulit dan suhu kulit dan suhu

23
4. kejang atau konfulsi peningkatan suhu kulit, Mandiri : Mandiri :
5. kulit teraba hangat hipertermi, dehidrasi, 5. Untuk penatalaksanaan 5. Untuk penatalaksanaan
6. takipnea berkeringat sangat pasien yang mengalami pasien yang mengalami
7. takikardia panas hiperpireksia akibat faktor hiperpireksia akibat faktor
- Pasien akan selain lingkungan selain lingkungan
Faktor yang menunjukan 6. Untuk mencapai atau 6. Untuk mencapai atau
berhubungan : termoregulasi yang mempertahankan suhu mempertahankan suhu
1. Dehidrasi dibuktikan oleh tubuh dalam rentang tubuh dalam rentang
2. Penyakit atau trauma indicator berikut : normal normal
3. Peningkatan laju berkeringat saat panas, 7. Untuk mengumpulkan dan 7. Untuk mengumpulkan dan
metabolisme denyut nadi radialis, mengnalisis data mengnalisis data
4. Terpajan pada frekuensi pernapasan cardiovaskuler, cardiovaskuler, pernapasan,
lingkungan yang panas pernapasan, dan suhu dan suhu tubuh untuk
5. Obat atau anastesia tubuh untuk menentukan menentukan serta
6. Aktifitas yang serta mencegah mencegah komplikasi
berlebihan komplikasi
7. Ketidakmampuan atau HE :
penurunan kemampuan Health education (HE) : 8. Agar pasien atau keluarga
untuk berkeringat 8. Agar pasien atau bisa mengetahui cara

24
keluarga bisa mengukur suhu untuk
mengetahui cara mengenal secara dini atau
mengukur suhu untuk mencegah hipertermia
mengenal secara dini
atau mencegah Kolaboratif :
hipertermia 9. Untuk menurunkan suhu
tubuh pasien
Kolaboratif :
9. Untuk menurunkan suhu
tubuh pasien

25
5. Ketidakseimbangan NOC Observasi : Observasi :
nutrisi kurang dari - status gizi 1. Untuk mengatur pola makan 1. Untuk mengatur pola
kebutuhan tubuh (00002) - selera makan pasien makan pasien
Domain 2 nutrisi - berat badan : massa tubuh 2. Untuk menyeimbangkan 2. Menyeimbangkan
Kelas 1 ingesti kebutuhan nutrisi pasien kebutuhan nutrisi pasien
Definisi : Asupan nutrisi Krtiteria hasil: 3. Untuk mengatur kebutuhan 3. Untuk mengatur
tidak mencukupi untuk Setelah dilakukan tindakan unutrisi pasien kebutuhan unutrisi pasien
memenuhi kebutuhan keperawatan selama …x24 4. Untuk mengetahui nilai dari 4. Untuk mengetahui nilai
metabolic jam diharapakan klien dapat : transferin, albumin, dan dari transferin, albumin,
Batasan karakteristik : - Memperlihatkan status elektrolit dan elektrolit
1. Kram abdomen gizi : asupan makanan
2. Nyeri abdomen dan cairan Mandiri : Mandiri :
3. Menolak makan 5. Untuk mencegah dan 5. Untuk mencegah dan
4. Persepsi menangani pembatasan diet menangani pembatasan diet
ketidakmampuan yang sangat ketat dan yang sangat ketat dan
untuk mencerna aktivitas berlebihan aktivitas berlebihan
makanan 6. Untuk mengumpulkan dan 6. Untuk mengumpulkan dan
5. Merasa cepat menganalisis data pasien menganalisis data pasien
kenyang setelah untuk mengatur untuk mengatur

26
mengonsumsi keseimbangan cairan keseimbangan cairan
makanan 7. Untuk membantu atau 7. Untuk membantu atau
6. Bising usus hiperaktif menyediakan asupan menyediakan asupan
7. Membran mukosa makanan dan cairan diet makanan dan cairan diet
pucat seimbang pada klien seimbang pada klien
8. Rongga mulut terluka 8. Untuk mengumpulkan dan 8. Untuk mengumpulkan dan
(inflamasi) menganalisis data pasien menganalisis data pasien
9. Kelemahan otot yang untuk mencegah dan untuk mencegah dan
berfungsi untuk meminimalkan kurang gizi meminimalkan kurang gizi
menelan atau
mengunyah HE : HE :
9. Agar keluarga dapat 9. Agar keluarga dapat
Faktor yang mengatur kadar nutrisi dari mengatur kadar nutrisi dari
berhubungan : pada pasien pada pasien
1. Kesulitan mengunyah 10. Untuk mengatur 10. Untuk mengatur
atau menelan keseimbangan nutrisi pasien keseimbangan nutrisi
2. mual dan muntah agar pasien tidak malnutrisi pasien agar pasien tidak
3. hilang nafsu makan 11. Untuk pemenuhan nutrisi malnutrisi
4. akses terhadap dan bagaimana 11. Untuk pemenuhan nutrisi

27
makanan terbatas meningkatkan dan bagaimana
5. kebutuhan metabolic keseimbangan nutrisi meningkatkan
tinggi keseimbangan nutrisi
Kolaboratif :
12. Untuk mengetahui asupan Kolaboratif :
nutrisi yang baik pada 12. Untuk mengetahui asupan
pasien nutrisi yang baik pada
13. Untuk mencegah cara diet pasien
yang tidak baik pada pasien 13. Untuk mencegah cara diet
14. Untuk mengetahui yang tidak baik pada pasien
penyebab gangguan nutrisi 14. Untuk mengetahui
penyebab gangguan nutrisi

28
6. Resiko Infeksi ( 00004 ) NOC Observasi Observasi
Domain 11 - pengendalian resiko 1. Pantau tanda dan gejala 1. Untuk mengetahui tanda
Keamanan/perlindungan komunitas : penyakit infeksi(misalnya suhu dan gejala infeksi
Kelas 1 Infeksi menular tubuh, denyut jantung, 2. Untuk mengetahui faktor
Definisi : - status imun drainase, penampilan luka, yang dapat meningkatkan
Beresiko terhadap infasi - keperahan infeksi sekresi, penampilan urin, resiko infeksi
organism pathogen. - keparahan infeksi : suhu kulit, lesi 3. Untuk pertahanan dan
bayi baru lahir kulit,keletihan, dan malaise) perlindungan terhadap
Faktor resiko : - pengendalian resiko : 2. Kaji faktor yang dapat infeksi
1. Penyakit kronis penyakit menular meningkatkan kerentanan
2. Penekanan sistem seksual (pms) terhadap infeksi (misalnya Mandiri
imun - penyembuhan luka : usia lanjut, usia kurang dari 4. Untuk menghindari
3. Ketidakadekuatan primer 1 tahun, luluh imun, dan mal penyakit menular
imunitas dapatan - penyembuhan luka : nutris) 5. Untuk deteksi dini penyakit
4. Pertahanan primer sekunder 3. Amati penampilan praktik 6. Untuk pengemdalian
tidak adekuat hygiene personal untuk infeksi
5. Pertahanan lapis Krtiteria hasil: perlindungan terhadap 7. Untuk perlindungan
kedua yang tidak Setelah dilakukan tindakan infeksi terhadap infeksi
memadai keperawatan selama …x24 8. Mengetahui perawatan luka

29
6. Peningkatan jam diharapakan klien dapat : Mandiri secara mandiri efek dari
pemajanan - faktor resiko infesi 4. Manajemen penyakit infeksi ini
lingkungan akan hilang, menular
terhadap pathogen dibuktikan oleh 5. Skrining kesehatan HE
9. Supaya pasien dan keluarga
7. Pengetahuan yang pengendalian resiko 6. Pengendalian infeksi
mengetahui mengapa sakit
kurang untuk komunitas : penyakit 7. Perlindungan infeksi
atau terapi meningkatkan
menghindari menular, status imun, 8. Perawatan luka
resiko terhadap infeksi
pajanan pathogen keparahan infeksi,
10. Untuk deteksi dini terhadap
8. Prosedur infasi keparahan infesi : HE
infeksi
9. Mal nutrisi bayi baru lahir, 9. Jelaskan kepada pasien
11. Untuk mengendalikan
10. Agensi farmasi pengendalian resiko : dan keluarga mengapa
infeksi yang dialami pasien
11. Kerusakan jaringan penyakit menular sakit atau terapi
12. Truma seksual, dan meningkatkan
Kolaborasi
penyembuhan luka : resikoterhadap infeksi 12. Untuk pengendalian
luka primer dan 10. Instruksikan untuk infeksi,dan mengurangi
sekunder. menjaga hygiene personal infeksi dengan pemberian
- Pasien akan untuk melindungi tubuh antibiotic
memperlihatkan terhadap infeksi ( mencuci
pengendalian resiko : tangan )

30
penyakit menular 11. Pengendalian infeksi :
seksual (pms), yang ajaran pasien tenik
dibuktikan oleh mencuci tangan yang
indicator sebagai benar, ajarkan kepada
berikut : memantau pengunjung untuk
perilaku seksual mencuci tangan sewaktu
terhadap resiko masuk dan meninggalkan
pajanan pms, ruang pasien
mengikuti
strategipengendalian Kolaborasi
pemajanan, 12. Pengendalian infeksi :
menggunakan metode berikan terapi antibiotic
pengendalian jika diperlukan
penularan pms.

31
BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Penyakit tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular langsung yang


disebabkan oleh kuman TB ( M. Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Dengan gejala
kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul,
penurunan nafsu makan dan berat badan, batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu
atau lebih (dapat disertai dengan darah) sesak napas, nyeri dada, dan malaise.

Penyakit tuberkulosis semakin meningkat pertahunnya. Ada beberapa


sebab yang berhubungan dengan peningkatan penderita tuberkulosis paru antara
lain minimnya kesadaran masyarakat dalam melakukan suspek sputum.
Kurangnya pengetahuan/informasi pada masyarakat tentang penularan
tuberkulosis paru, kelalaian dalam berobat, sehingga sebagai tenaga kesehatan
harus memberikan perhatian khusus pada masyarakat yang tepapar dengan
microbakterium tuberkulosis sehingga penderita YB dapat diminimalis jumlah
penderitnya.

4.2 SARAN

Pendidikan/penyuluhan kesehatan perlu ditingkatkan dan dilaksanakan


secara intensif kepada individu, keluarga, kelompok masyarakat, tentang cara
penularan dan cara pencegahan, pemberatasan, penanggulangan, pengobatan
penyakit tuberkulosis paru, agar masyarakat dapat berperan secara aktif untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya serta dapat segera
memeriksakan kesehatannya.

32
DAFTAR PUSTAKA

Bararah, T. M. (2013). Asuhan Keperawatan Panduan Lengkap Menjadi Perawat


Professional Jilid I. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Corwin, E. J. (2009). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan Nanda Nic-Noc Jilid 3. Yogyakarta: Mediaction.

RI, K. K. (2012). Penemuan dan Pengobatan Pasien TB. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

RI, K. K. (2012). Program Pengendalian Tuberculosis. Jakarta: Direktorat Jenderal


Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

Tirtana, B. T. (2011). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pengobatan Pada


Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Resistensi Obat Tuberkulosis Di Wilayah Jawa Tengah.

Wilkinson, J. M., & Ahern, N. R. (2011). Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta: EGC.

33