Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum Pengukuran Parameter Fisika dan Kimia Air

PRAKTIKUM I
A. Judul : Pengukuran Parameter Fisika dan Kimia Air
B. Tujuan : Menentukan status ekologis dari suatu habitat perairan dengan
menggunakan pendekatan fisika kimia perairan dan biologis.
C. Dasar Teori
Sifat-sifat fisika dan kimia air sangat penting dalam ekologi. Panas jenis, panas peleburan laten,
serta panas penguapan air latennya yang cukup tinggi berperan dalam pengaturan suhu
organisme. Air merupakan media pengangkutan yang ideal bagi molekul-molekul melalui tubuh
organisme, karena air adalah pelarut yang kuat tanpa menjadi sangat aktif secara kimia.
Tegangan permukaan air yang tinggi menyebabkan pergerakan air melewati organisme, dan juga
bertanggung jawab bagi kenaikan tinggi air tanah. Rapatan air yang nisbi tinggi tidak hanya
mendukung bobot tubuh secara sebagian maupun seutuhnya, namun juga memungkinkan
hadirnya plankton.
Habitat, yaitu tempat dimana suatu makhluk hidup biasa ditemukan. Semua makhluk hidup
mempunyai tempat hidup yang biasa disebut habitat. Untuk menemukan suatu organisme
tertentu, perlu diketahui dulu tempat hidupnya (habitat), sehingga ke habitat itulah mereka dapat
dijumpai (Anonim, 2012).
Habitat-habitat perairan dibagi dalam tiga kategori utama :
1. Habitat Air Tawar
Habitat air tawar menempati bagian nisbi paling kecil dari permukaan bumi, walaupun habitat air
tawar menempati bagian yang nisbi kecil bila dibandingkan dengan habitat lainnya, mereka
sangat penting bagi manusia sebagai sistem pembuangan.
Habitat perairan tawar dibagi dalam 2 kelompok besar berdasarkan aliran airnya, yaitu lentik dan
lotik. Perairan lentik merupakan perairan dalam seperti danau, kolam, sumur dan lain-lain,
sedangkan perairan lotik merupakan perairan dalam seperti sungai, selokan dan lain-lain (Team
Teaching, 2012).
Dalam air tawar dibagi menjadi dua kategori umum, yaitu air diam seperti kolam dan danau serta
air mengalir seperti aliran dan sungai. Air diam digolongkan sebagai sistem lentik sedangkan air
mengalir disebut sistem lotik. Studi mengenai air tawar dikenal sebagai limnologi. Penelitian-
penelitian badan air tawar mencakup kajian sifat-sifat kimia dan fisika, tumbuhan serta hewan
yang hidup didalamnya, serta tata cara mereka berinteraksi.
Danau memiliki tiga zona yang berbeda:
a. Zona litoral, dekat pantai dimana tumbuhan berakar dapat dijumpai,
b. Zona limnetik (lapisan permukaan perairan terbuka), sinar matahari mampu menembus zona
ini, dan didominasi oleh fitoplankton dan ikan yang berenang bebas,
c. Zona profundal, zona perairan dalam yang tidak dapat ditembus sinar matahari dan dihuni oleh
organisme yang membuat liang didasar perairan (Anonim, 2012).
Bagi ahli limnologi kolam adalah sebuah perairan yang cukup dangkal sehingga cahaya dapat
menembus sampai ke dasarnya. Sebaliknya, danau dalamnya sedemikian sehingga dasarnya
selalu gelap, tidak tercapai oleh cahaya (Anonim, 2012).
2. Habitat Estuaria
Estuaria adalah zona peralihan antara air tawar dan laut, serta memiliki sifat yang unik (Anonim,
2012).
3. Habitat Kelautan
Lautan atau samudera yang menutupi sebagian besar permukaan bumi tidak hanya mengatur
iklim bumi, atmosfer dan berfungsinya siklus mineral yang utama, namun juga sebagai sumber
utama makanan dan mineral.
Habitat suatu organisme itu pada umumnya mengandung faktor ekologi yang sesuai dengan
persyaratan hidup organisme yang menghuninya. Persyaratan hidup setiap organisme merupakan
kisaran faktor-faktor ekologi yang ada dalam habitat dan diperlukan oleh setiap organisme untuk
mempertahankan hidupnya. Kisaran faktor-faktor ekologi bagi setiap organisme memiliki lebar
berbeda yang pada batas bawah disebut titik minimum, batas atas disebut titik maksimum, di
antara titik minimum dan titik maksimum disebut titik optimum. Ketiga titik tersebut dinamakan
titik kardinal.
D. Alat dan Bahan
1. Alat : Thermometer raksa, keping secchi, DO Meter, pipet tetes, sampel dan
erlenmeyer.
2. Bahan : Larutan NaOH 1/44 n, aquades, indicator pehenolftalein 0,5 %, dan
alkohol.
E. Prosedur Kerja
1. Pengukuran Suhu
Mengukur suhu dengan termometer biasa (alkohol, air raksa) secara langsung pada bagian
permukaan perairan, atau secara tidak langsung (dari kedalaman tertentu).
2. Pengukuran Derajat Keasaman (pH) Air.
Menggunakan kertas indikator universal dengan loncatan skala kecil (0,2 atau 0,5) secara
langsung dari permukaan perairan atau dari air cuplikan (untuk kedalaman tertentu). Mengukur
pH secara lebih akurat dengan menggunakan alat pH-meter.
3. Pengukuran Derajat Kecerahan Air.
Menentukan derajat kecerahan air dari suatu perairan, umum dilakukan dengan menggunakan
keeping secchi. Menurunkan keeping secci dengan memegang ujung talinya kedalam air secara
perlahan-lahan sambil terus memperhatikannya tepat pada saat warna putih tidak dapat
dibedakan lagi dari warna hitam, dan membaca ukuran kedalaman panjang tali yang masuk
kedalam air. Keeping secchi lagi lebih dalam sedikit lalu secara perlahan-lahan ditarik naik tepat
pada saat warna putih timbul, kedalamannya dibaca lagi angka rata-rata kedalaman tersebut
menunjukkan derajat kecerahan, dan dinyatakan dalam cm atau m.
4. Penentuan Kadar O2 Terlarut.
Mengukur kadar atau kandungan oksigen terlarut secara langsung dengan relatif cepat dengan
alat khususnya yaitu DO-meter.

5. Penentuan Kadar CO2 Bebas Terlarut.


Melakukan penentuan kandungan CO2 bebas terlarut dilakukan pada air cuplikan dengan
menggunakan metoda titrasi juga.
Reagen-reagen yang diperlukan :
Larutan NaOH 1/44 N
Melarutkan sebanyak 0,909 g NaOH kedalam akuades hingga mencapai 1 L
Indikator Fenoftalien 0,5 %
Melarutkan sebanyak 0,5 g fenoftalein dalam 100 cc alkohol 95 %.
Air cuplikan sebanyak 100 cc didalam labu erlenmeyer berukuran 250 cc diberi 10 tetes
indikator fenoftalein.
a. Mentitrasi larutan dengan larutan NaOH 1/44 N hingga menjadi warna merah jambu-muda.
b. Mencatat banyaknya larutan NaOH yang dipakai. Melakukan titrasi secara duplo dan
meratakan hasilnya.
c. Jumlah cc larutan NaOH yang terpakai x 10 menunjukkan kandungan CO2 bebas terlarut
dalam satuan mg/L.
6. Pengukuran Salinitas Air
Melakukan pengukuran salinitas air menggunakan alat hand refrakto meter.
F. Hasil Pengamatan
1. Suhu 310C

Gambar 1. Termometer

2. pH air 7,4

Gambar 2. pH meter
3. Pengukuran derajat kecerahan air. Gelap 13 cm, terang 6,5 cm

Gambar 3. Gelap Gambar 4. Terang


4. Kadar O2 terlarut 1,1 mg/l

Gambar 5. DO meter
5. Penentuan kadar CO2 bebas terlarut 10 mg/l
a. Mengambil 10 ml sampel air kolam ditambahkan 5 ml indikator fhenolptalein.

Gambar 6. Sebelum dicampur Gambar 7. Setelah dicampur


b. Melakukan titrasi larutan di atas dengan larutan NaOH 1/44 N
Gambar 8. Proses pentitrasian
Larutan NaOH sebelum titrasi atau yang tersedia 17,5 ml dan setelah digunakan berkurang
menjadi 14,2 ml. Sehingga 17,5 ml–14,2 ml = 3,3 ml larutan NaOH. Jadi dari perhitungan di atas
larutan NaOH yang digunakan pada saat titrasi adalah 3,3ml dan dikalikan 10 menjadi :
3,3 ml x 10 = 33 mg/L
Jadi kandungan CO2 yang bebas terlarut dalam sampel air kolam adalah 3,3 mg/L.

6. Salinitas air 0,2 ppt

Gambar 9. Hand refrakto meter


G. Pembahasan
1. Pengukuran Suhu
Pada pengamatan yang dilakukan di selokan yang terletak di depan SMP Negeri 1 Gorontalo,
suhunya masih cukup baik untuk kehidupan organisme yang ada di sekitarnya (terutama
organisme aquatik). Hal ini sesuai dengan kondisi tempat tersebut, yang mana di sepanjang
jalannya banyak tumbuh tumbuhan tahunan yang dapat mempengaruhi besarnya kisaran suhu
pada tempat tesebut. Hal ini juga dibuktikan dengan dilakukannya pengukuran suhu secara
langsung pada air yang ada di selokan tersebut. Dari pengukurannya, didapati bahwa suhu air
selokan adalah 31oC. Ini menandakan bahwa suhu air di selokan tersebut masih memenuhi batas
kisaran optimal suhu, karena batas kisaran optimal untuk suhu umum, yaitu 28-34oC dan
konsumsi oksigen mencapai 2,2 mg/g/jam. Pada suhu rendah (<25oc 3="" aktivitas="" dan=""
dapat="" efek="" g="" ikan.="" ikan="" jam.="" konsumsi="" makan="" mempengaruhi=""
meningkat="" meningkatkan="" metabolisme="" mg="" nbsp="" oksigen="" p="" pada=""
peningkatan="" pertumbuhan="" proses="" reproduksi="" suhu="">2. Pengukuran Derajat
Keasaman (pH) Air
Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu parameter yang dapat menentukan produktivitas
suatu perairan. Setiap organisme membutuhkan derajat keasaman (pH) yang optimum bagi
kehidupannya. Batas toleransi organisme terhadap pH bervariasi bergantung pada faktor fisika,
kimia dan biologi. pH yang ideal untuk kehidupan fitoplankton berkisar antara 6,5 – 8,0.
Biasanya angka pH dalam suatu perairan dapat dijadikan indikator dari adanya keseimbangan
unsur-unsur kimia dan dapat mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur kimia dan unsur-unsur
hara yang sangat bermanfaat bagi kehidupan vegetasi akuatik. Tinggi rendahnya pH dipengaruhi
oleh fluktuasi kandungan O2 maupun CO2. Tidak semua mahluk bisa bertahan terhadap
perubahan nilai pH, untuk itu alam telah menyediakan mekanisme yang unik agar perubahan
tidak terjadi atau terjadi tetapi dengan cara perlahan (Anonim, 2012).
Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman atau kebasaan suatu
perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral, pH < 7 dikatakan kondisi perairan bersifat
asam, sedangkan pH > 7 dikatakan kondisi perairan bersifat basa.
Pada pengamatan yang dilakukan, diperoleh bahwa pH air selokan adalah 7,4. Kondisi ini
membuktikan bahwa air selokan tersebut bersifat basa dan masih baik untuk habitat dan
pertumbuhan biota akuatik, seperti ikan karena ikan sensitif terhadap perubahan pH dan
menyukai nilai pH sekitar 5-9. Tingkat kebasaan air pada selokan ini dipengaruhi oleh keadaan
atau kondisi dari kandungan partikel tanah, yaitu lumpur berpasir.
3. Pengukuran Derajat Kecerahan Air
Kejernihan dapat diukur dengan alat yang sangat sederhana yang disebut dengan keeping sechii.
Prinsip penentuan kecerahan air dengan keping sechii adalah berdasarkan batas pandangan
kedalam air untuk melihat warna putih yang berada dalam air. Semakin keruh suatu badan air
akan semakin dekat dengan batas pandangan, sebaliknya kalau air jernih akan jauh batas
pandangan tersebut. Keping sechii berupa suatu kepingan yang berwarna hitam putih yang
dibenamkan ke dalam air.
Kekeruhan merupakan intensitas kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang
melayang. Kekeruhan perairan umumnya disebabkan oleh adanya partikel-partikel suspensi
seperti tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik terlarut, bakteri, plankton dan organisme lainnya.
Kekeruhan perairan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya
cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air.
Jika diamati, pada selokan tempat dilakukannya pengamatan, batas kecerahan airnya, yaitu
sekitar kedalaman 6,5 cm, sedangkan batas kekeruhannya, yaitu 13 cm, sehingga dapat
disimpulkan bahwa selokan tersebut bersifat dangkal.
4. Penentuan Kadar O2 Terlarut
Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut
berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Sumber utama oksigen
dalam suatu perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis
organisme yang hidup dalam perairan tersebut.
Oksigen diperlukan oleh organisme air untuk menghasilkan energi yang sangat penting bagi
pencernaan dan asimilasi makanan pemeliharaan keseimbangan osmotik, dan aktivitas lainnya.
Jika persediaan oksigen terlarut di perairan sangat sedikit maka perairan tersebut tidak baik bagi
ikan dan makhluk hidup lainnya yang hidup di perairan, karena akan mempengaruhi kecepatan
pertumbuhan organisme air tersebut. Kandungan oksigen terlarut minimum 2 mg/l sudah cukup
mendukung kehidupan organisme perairan secara normal (Salmin, 2005).
Pada pengukuran kadar O2 yang dilakukan diperoleh hasil 1,1 mg/l dimana faktor yang
mempengaruhinya, yaitu derajat keasaman (pH), oksigen terlarut, karbondioksida bebas, daya
menggabung asam (DMA), salinitas air, dan Chemical Oxigen Demand (COD).
5. Penentuan Kadar CO2 Babas Terlarut
Karbondioksida bebas dalam perairan berasal dari hasil penguraian bahan-bahan organik oleh
bakteri dekomposer atau mikroorganisme, naiknya CO2 selalu diiringi oleh turunya kadar O2
terlarut yang diperlukan bagi pernafasan hewan-hewan air. Dengan demikian walaupun CO2
belum mencapai kadar tinggi yang mematikan, hewan-hewan air sudah mati karena kekurangan
O2. Untuk mendapatkan kadar CO2 bebas terlarut, yaitu menggunakan air cuplikan dengan
menggunakan metode titrasi. Hasil yang diperoleh adalah 33 mg/l.
6. Pengukuran Salinitas Air
Salinitas adalah kadar garam atau tingkat keasinan yang terkandung pada air, salinitas juga
terdapat pada tanah. Salinitas yang terkandung pada air danau dan sungai terhitung rendah maka
air pada danau dan sungai dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam pada air sungai
dan danau kurang dari 0,05%. Jika melebihi itu atau sekitar 0,05 % sampai 3% maka air tersebut
dikategorikan sebagai air payau. Jika tingkat salinitasnya diantara 3% sampai 5% air tersebut
dikategorikan sebagai air saline dan jika melebihi 5% maka dikategorikan sebagai brine.
Hasil pengukuran salinitas air dengan menggunakan alat hand refrakto meter adalah 0,2 ppt.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa air pada lokasi atau selokan mengandung garam. Hal ini
disebabkan karena selokan tersebut banyak digunakan warga sekitar sebagai tempat pembuangan
sampah, baik sampah organik maupun anorganik.
H. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa, tingkat kehidupan atau habitat suatu
organisme tertuama organisme akuatik sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi habitatnya
tersebut. Kondisi-kondisi ini dapat berupa:
1. Suhu
2. pH
3. Salinitas
4. Tingkat kecerahan air
5. Kandungan oksigen
6. Kandungan karbondioksida

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Kelembaban. (Online). Tersedia http://id.wikipedia.org/wiki/ kelembaban.
Diakses tanggal 19 Maret 2012.
Salmin. 2005. Oksigen Terlarut dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah Satu
Indikator Kualitas Perairan Pesisir. Jurnal Oseana. LIPI. Jakarta.
Team Teaching. 2012. Penuntun Praktikum Ekologi. Gorontalo: Laboratorium Biologi FMIPA
Universitas Negeri Gorontalo