Anda di halaman 1dari 3

REFERAT

SUPLEMEN KALSIUM DALAM PENCEGAHAN FRAKTUR


PADA OSTEOPOROSIS

Disusun oleh:
Pitri Erlina Lay
406148138

Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara


Kepaniteraan Ilmu Penyakit Dalam
RSPI Prof Dr Sulianti Saroso
Periode 21 Desember 2015 – 20 Februari 2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan
kuasa-Nya yang dilimpahkan kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas
referat “jurnal reading”, yang berjudul “Suplemen Kalsium Dalam Pencegahan
Fraktur Pada Osteoporosis“. Tugas laporan kasus ini disusun dalam rangka
memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Tarumanagara periode 21 Desember 2015 – 20 Februari 2016 di RSPI
Prof. Dr. Sulianti Saroso serta agar dapat menambah kemampuan dan ilmu
pengetahuan bagi para pembacanya.
Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada: dr. H. Irman Firmansyah
Sp.PD FINASIM, selaku pembimbing dalam penulisan referat ini dan saya menyadari
penuh bahwa tugas penulisan referat “jurnal reading” ini jauh masih dari sempurna
dan untuk itu saya mengharapkan saran dan kritik yang membangun sehingga tugas
referat “jurnal reading” ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Akhir kata, atas segala perhatian dan dukungannya, saya ucapkan terima kasih.

Jakarta, Januari 2016

Penulis

ii
LATAR BELAKANG

Di banyak negara berkembang, termasuk di Indonesia, demam tifoid


masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat, berbagai upaya yang
dilakukan untuk memberantas penyakit ini tampaknya belum memuaskan.
Sebaliknya di negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang misalnya,
seiring dengan perbaikan lingkungan, pengelolaan sampah dan limbah yang
memadai dan penyediaan air bersih yang cukup, mampu menurunkan insidensi
penyakit ini secara dramatis. Di abad ke 19 demam tifoid masih merupakan
penyebab kesakitan dan kematian utama di Amerika, namun sekarang kasusnya
sudah sangat berkurang.
Tingginya jumlah penderita demam tifoid tentu menjadi beban ekonomi
bagi keluraga dan masyarakat. Besarnya beban ekonomi tersebut sulit dihitung
dengan pasti mengingat angka kejadian demam tifoid secara tepat tak dapat
diperoleh. Insidensi demam tifoid secara tepat tidaklah diketahui mengingat
tampilan kliniknya yang bervariasi sehingga bila tanpa konfirmasi laboratorium,
terbaurkan dengan penyakit infeksi lainnya. Kultur darah sebagai pemeriksaan
untuk mencari kuman penyebab tidak selalu tersedia di setiap daerah dan setiap
fasilitas kesehatan. Di negara maju kasus demam tifoid terjadi secara sporadik
dan sering juga berupa kasus impor atau bila ditelusuri ternyata ada riwayat
kontak dengan karier kronik. Di negara berkembang kasus ini menjadi endemik.
Diperkirakan sampai dengan 90 - 95 % penderita dikelola sebagai
penderita rawat jalan. Jadi data penderita yang dirawat di Rumah Sakit dapat
lebih rendah 15 – 25 kali dari keadaan yang sebenarnya. Di seluruh dunia
diperkirakan antara 16 – 16, 6 juta kasus baru demam tifoid ditemukan dan
600.000 diantaranya meninggal dunia. Di Asia diperkirakan sebanyak 13 juta
kasus setiap tahunnya.

iii