Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

CANCER LARING

1. Judul
Laporan pendahuluan pada pasien dengan cancer laring di ruang IGD RSUD
Ulin Banjarmasin.
2. Konsep Dasar
a. Anatomi dan Fisiologi
1) Anatomi

Gambar1 : Anatomi Laring


Gambar 2. Anatomi Glottis

Gambar 3. Anatomi Tulang rawan laring

2) Fisiologi

Laring dibentuk oleh sebuah tulang di bagian atas dan beberapa tulang
rawan yang saling berhubungan satu sama lain dan diikat oleh otot
intrinsik dan ekstrinsik serta dilapisi oleh mukosa. Tulang dan tulang
rawan laring yaitu :
1. Os Hioid: terletak paling atas, berbentuk huruf “U”, mudah diraba
pada leher bagian depan. Pada kedua sisi tulang ini terdapat prosesus
longus dibagian belakang dan prosesus brevis bagian depan.
Permukaan bagian atas tulang ini melekat pada otot-otot lidah,
mandibula dan tengkorak.
2. Kartilago tiroid : merupakan tulang rawan laring yang terbesar, terdiri
dari dua lamina yang bersatu di bagian depan dan mengembang ke
arah belakang.
3. Kartilago Krikoid : terletak di belakang kartilago tiroid dan merupakan
tulang rawan paling bawah dari laring. Di setiap sisi tulang rawan
krikoid melekat ligamentum krikoaritenoid, otot krikoaritenoid lateral
dan di bagian belakang melekat otot krikoaritenoid posterior.
Otot-otot laring terdiri dari 2 golongan besar, yaitu :
1. Otot-otot ekstrinsik :
Otot elevator :
- M. Milohioid, M. Geniohioid, M. Digrastikus dan M. Stilohioid
Otot depressor :
- M. Omohioid, M. Sternohioid dan M. Tirohioid
2. Otot-otot Intrinsik : Otot Adduktor dan Abduktor :
- M. Krikoaritenoid, M. Aritenoid oblique dan transversum
Otot yang mengatur tegangan ligamentum vokalis :
- M. Tiroaritenoid, M. Vokalis, M. Krikotiroid
Otot yang mengatur pintu masuk laring :
- M. Ariepiglotik, M. Tiroepiglotik.

b. Pengertian
Kanker merupakan massa jaringan abnormal yang tumbuh terus-
menerus, tidak pernah mati, tumbuh dan tidak terkoordinasi dengan jaringan
lain, akibatnya merugikan tubuh dimana ia tumbuh, (Brunner and Suddarth,
2001).
Carsinoma laring adalah pertumbuhan dan pembelahan sel khususnya
sel skuamosa laring yang tidak normal yang terbatas pada pita suara yang
bertumbuh perlahan karena suplai limpatik yang jarang ketempat sekitar
jaringan seperti epiglitis, pita suara palsu dan sinus-sinus pirirformis yang
banyak mengandung pembuluh darah limfe dan meluas dengan cepat dan
segera bermetastse ke kelenjar limfe leher bagian dalam, ,(Brunner and
Suddarth, 2001).
Klasifikasi kanker laring:

Berdasarkan Union International Centre le Cancer (UICC) 1982, klasifikasi


dan stadium tumor ganas laring terbagi atas :
1. Supraglotis
2. Glotis
3. Subglotis
Yang termasuk supraglotis adalah : permukaan posterior epiglotis yang
terletak di sekitar os hioid, lipatan ariepiglotik, aritenoid, epiglotis yang
terletak di bawah os hioid, pita suara palsu, ventrikel.

Yang termasuk glottis adalah : pita suara asli, komisura anterior dan
komisura posterior.

Yang termasuk subglotis adalah : dinding subglotis.

Klasifikasi dan stadium tumor berdasarkan UICC :

1. Tumor primer (T)

Supra glottis :

T is: tumor insitu

T 0 : tidak jelas adanya tumor primer l

T 1 : tumor terbatas di supra glotis dengan pergerakan normal

T 1a : tumor terbatas pada permukaan laring epiglotis, plika ariepiglotika,


ventrikel atau pita suara palsu satu sisi.
T 1b : tumor telah mengenai epiglotis dan meluas ke rongga ventrikel
atau pita suara palsu
T 2 : tumor telah meluas ke glotis tanpa fiksasi
T 3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dan / atau adanya infiltrasi ke
dalam.
T 4 : tumor dengan penyebaran langsung sampai ke luar laring.

Glotis :
T is : tumor insitu
T 0 : tak jelas adanya tumor primer
T 1 : tumor terbatas pada pita suara (termasuk komisura anterior dan posterior)
dengan pergerakan normal
T 1a : tumor terbatas pada satu pita suara asli
T 1b : tumor mengenai kedua pita suara
T 2 : tumor terbatas di laring dengan perluasan daerah supra glotis maupun
subglotis dengan pergerakan pita suara normal atau terganggu.
T 3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dari satu atau ke dua pita suara
T 4 : tumor dengan perluasan ke luar laring

Sub glotis :
T is : tumor insitu
T 0 : tak jelas adanya tumor primer
T 1 : tumor terbatas pada subglotis
T 1a : tumor terbatas pada satu sisi
T 1b : tumor telah mengenai kedua sisi
T 2 : tumor terbatas di laring dengan perluasan pada satu atau kedua pita suara
asli dengan pergerakan normal atau terganggu
T 3 : tumor terbatas pada laring dengan fiksasi satu atau kedua pita suara
T 4 : tumor dengan kerusakan tulang rawan dan/atau meluas keluar laring.

2. Pembesaran kelenjar getah bening leher (N)

N x : kelenjar tidak dapat dinilai

N 0 : secara klinis tidak ada kelenjar.

N 1 :klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter ≤ 3 cm


N 2 :klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter >3 – <6 cm atau
klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter ≤ 6 cm

N 2a :klinis terdapat satu kelenjar homolateral dengan diameter > 3 cm - ≤ 6


cm.
N 2b :klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter ≤ 6 cm
N 3 :kelenjar homolateral yang masif, kelenjar bilateral atau kontra lateral
N 3 a :klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter > 6 cm

N 3 b :klinis terdapat kelenjar bilateral

N 3 c : klinis hanya terdapat kelenjar kontra lateral

3. Metastase jauh (M)

M 0 : tidak ada metastase jauh

M 1 : terdapat metastase jauh

4. Stadium :

Stadium I : T1 N0 M0

Stadium II : T2 N0 M0

Stadium III : T3 N0 M0

T1, T2, T3, N1, M0

Stadium IV : T4, N0, M0

Setiap T, N2, M0, setiap T, setiap N , M1

c. Etiologi
Penyebab kanker laring belum diketahui dengan pasti. Dikatakan oleh
para ahli bahwa perokok dan peminum alkohol merupakan kelompok orang-
orang dengan resiko tinggi terhadap terjadinya kanker laring. Penelitian
epidemiologic menggambarkan beberapa hal yang diduga menyebabkan
kanker laring yang kuat ialah roko, alkohol, dan sinar radioaktif. Namun ada
beberapa faktor yang diduga meningkatkan resiko terjadinya kanker,
sebagai berikut:
1). Faktor Lingkungan
Merokok sigaret meningkatkan resiko terjadinya kanker paru,
mulut, laring (pita suara), dan kanker darah seperti leukemia.
2). Faktor makanan yang mengandung bahan kimia
Makanan juga bisa menjadi faktor resiko penting lain penyebab
kanker pada saluran cerna.contoh jenis makanan yang dapat
menyebabkan kanker adalah makanan yang diasapdan
diasamkan(dalam bentuk acar) meningkatkan resiko kanker lambung.
Minuman yang mengandung lakohol menyebabkan resiko lebih
tinggiterhadap kanker kerongkongan. Zat pewarna makanan, logam
berat seperti merkuri yang sering terdapat pada makanan laut yang
tercemar seperti kerang dan ikan. Berbagai makanan manis dan tepung
yang di proses secara berlebihan.
3). Virus
Virus yang dapat dicurigai dapat menyebabkan kanker laring antara
lain virus Epstein-Bar (di Afrika) menyebabkan Limfoma Burkitt,
sedangkan di China virus ini menyebabkan kanker hidung dan
tenggorokan. Ini terjadi karena faktor lingkungan dan genetik. Menurut
Bunner dan Suddarth, babara C. Long, robbin dan Kumar serta D.
Thone R. Cody. Faktor-faktor predisposisi yang memicu munculnya
kanker laring meliputi:
 Tembakau (berasap/tidak)
 Alkohol serta efek kombinasinya
 Penajaman terhadap obseton
 Gas Mustard
 Kayu kulit dan logam
 Pekerjaan yang menggunakan suara berlebihan
 Laringitis kronis
 Defisiensi nutrisi (Riboflavin)
 Hemophilus Influenza
d. Manifestasi Klinis
Gejala dan tanda yang sering dijumpai adalah :
1). Suara serak.
2). Sesak nafas dan stridor.
3).Rasa nyeri di tenggorok.
4). Disfagia.
5).Batuk dan haemoptosis.
6).Pembengkakan pada leher
e. Patofisiologi
Kanker laring yang terbatas pada pita suara tumbuh perlahan karena suplai
limfatik yang jarang. Ditempat manapun yang kering (epiglotis, pita suara
suara, dan sinus-sinus piriformis). Pada bagian ini banyak mengandung
pembuluh limfe, oleh karena itu kanker pada jaringan ini biasanya meluas
dengan cepat dan segera bermetastase ke kelenjar limfe leher bagian dalam.
Orang-orang yang mengalami serak lebih dari dua mingguharus segera
memeriksakan dirinya. Suara serak merupakan tanda awal kanker pita suara,
jika pengobatan dilakukan pada saat serak timbul (yang disebabkan tumor
sebelum mengenai seluruh pita suara) pengobatan biasanya masi
memungkinkan. Tanda-tanda metastase pada bagian laring biasanya berupa
pembengkakan pada leher, nyeri pada jakun yang menyebar ke telinga,
dispread, disfagia, pembesaran kelenjar limfe dan batuk. Diagnosa kanker
laring dibuat berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik terhadap laring
dengan laringoskopi langsung langsung dan dari pemeriksaan mikroskopi
terhadap laring, (C. Long barbara, 2009).
Patway
f. Komplikasi
Berdasarkan pada data pengkajian potensial komplikasi yang mungkin
terjadi antara lain:
 Distres pernapasan (hipoksia, obstruksi jalan nafas, dan edema trakea).
 Hemoragi
 Infeksi
g. Pemeriksaan penunjang:
 Laringoskop
 Foto thoraks
 CT-Scan
 Biopsi Laring
h. Penatalaksanaan
Secara umum ada 3 jenis penanggulangan karsinoma laring yaitu
pembedahan, radiasi dan sitostatika, ataupun kombinasi daripadanya

I. PEMBEDAHAN
8,9,15,16
Tindakan operasi untuk keganasan laring terdiri dari :
A. LARINGEKTOMI
1. Laringektomi parsial
Laringektomi parsial diindikasikan untuk karsinoma laring stadium
I yang tidak memungkinkan dilakukan radiasi, dan tumor stadium
II.
2. Laringektomi total
Adalah tindakan pengangkatan seluruh struktur laring mulai dari
batas atas (epiglotis dan os hioid) sampai batas bawah cincin
trakea.
B. DISEKSI LEHER RADIKAL
Tidak dilakukan pada tumor glotis stadium dini (T1 – T2) karena
kemungkinan metastase ke kelenjar limfe leher sangat rendah. Sedangkan
tumor supraglotis, subglotis dan tumor glotis stadium lanjut sering kali
mengadakan metastase ke kelenjar limfe leher sehingga perlu dilakukan
tindakan diseksi leher. Pembedahan ini tidak disarankan bila telah
terdapat metastase jauh.
II. RADIOTERAPI
Radioterapi digunakan untuk mengobati tumor glotis dan
supraglotis T1 dan T2 dengan hasil yang baik (angka kesembuhannya
90%). Keuntungan dengan cara ini adalah laring tidak cedera sehingga
suara masih dapat dipertahankan. Dosis yang dianjurkan adalah 200 rad
perhari sampai dosis total 6000 – 7000 rad.
Radioterapi dengan dosis menengah telah pula dilakukan oleh Ogura,
Som, Wang, dkk, untuk tumor-tumor tertentu. Konsepnya adalah untuk
memperoleh kerusakan maksimal dari tumor tanpa kerusakan yang tidak
dapat disembuhkan pada jaringan yang melapisinya. Wang dan Schulz
memberikan 4500–5000 rad selama 4–6 minggu diikuti dengan
laringektomi total.
III. KEMOTERAPI
Diberikan pada tumor stadium lanjut, sebagai terapi adjuvant ataupun
2
paliativ. Obat yang diberikan adalah cisplatinum 80–120 mg/m dan 5 FU
2
800–1000 mg/m .
IV.REHABILITASI
Rehabilitasi setelah operasi sangat penting karena telah diketahui bahwa
tumor ganas laring yang diterapi dengan seksama memiliki prognosis
yang baik. rehabilitasi mencakup : “Vocal Rehabilitation, Vocational
Rehabilitation dan Social Rehabilitation”.
3. Konsep Keperawatan
a. Pengkajian

PENGKAJIAN PRIMER
1. Airway
a. Apakah pasien berbicara dan bernafas secara bebas
b. Terjadi penurunan kesadaran
c. Suara nafas abnormal : stridor, wheezing, mengi dll
d. Penggunaan otot-otot bantu pernafasan
e. Gelisah
f. Sianosis
g. Kejang
h. Retensi lendir / sputum di tenggorokan
i. Suara serak
j. Batuk
2. Breathing
a. Adakah suara nafas abnormal : stridor, wheezing, mengi dll
b. Sianosis
c. Takipnu
d. Dispnea
e. Hipoksia
f. Panjang pendeknya inspirasi ekspirasi
3. Circulation
a. Hipotensi / hipertensi
b. Takipnu
c. Hipotermi
d. Pucat
e. Ekstremitas dingin
f. Penurunan capillary refill
g. Produksi urin menurun
h. Nyeri
i. Pembesaran kelenjar getah bening

PENGKAJIAN SEKUNDER
1. Riwayat penyakit sebelumnya
Apakah klien pernah menderita :
a. Penyakit stroke
b. Infeksi otak
c. DM
d. Diare dan muntah yang berlebihan
e. Tumor otak
f. Intoksiaksi insektisida
g. Trauma kepala
h. Epilepsi dll.
2. Pemeriksaan fisik
a. Aktivitas dan istirahat
 Data Subyektif:
 kesulitan dalam beraktivitas
 kelemahan
 kehilangan sensasi atau paralysis.
 mudah lelah
 kesulitan istirahat
 nyeri atau kejang otot
 Data obyektif:
 Perubahan tingkat kesadaran
 Perubahan tonus otot ( flasid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia
) , kelemahan umum.
 gangguan penglihatan
b. Sirkulasi
 Data Subyektif:
 Riwayat penyakit stroke
 Riwayat penyakit jantung
Penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis
bacterial.
 Polisitemia.
 Data obyektif:
 Hipertensi arterial
 Disritmia
 Perubahan EKG
 Pulsasi : kemungkinan bervariasi
 Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal
c. Eliminasi
 Data Subyektif:
 Inkontinensia urin / alvi
 Anuria
 Data obyektif
 Distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh )
 Tidak adanya suara usus( ileus paralitik )
d. Makan/ minum
 Data Subyektif:
 Nafsu makan hilang
 Nausea
 Vomitus menandakan adanya PTIK
 Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan
 Disfagia
 Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah
 Data obyektif:
Obesitas ( faktor resiko )
e. Sensori neural
 Data Subyektif:
 Syncope
 Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub
arachnoid.
 Kelemahan
 Kesemutan/kebas
 Penglihatan berkurang
 Sentuhan : kehilangan sensor pada ekstremitas dan pada muka
 Gangguan rasa pengecapan
 Gangguan penciuman
 Data obyektif:
 Status mental
 Penurunan kesadaran
 Gangguan tingkah laku (seperti: letargi, apatis, menyerang)
 Gangguan fungsi kognitif
 Ekstremitas : kelemahan / paraliysis genggaman tangan tidak
imbang, berkurangnya reflek tendon dalam
 Wajah: paralisis / parese
 Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan
ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata
komprehensif, global / kombinasi dari keduanya. )
 Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, stimuli taktil
 Kehilangan kemampuan mendengar
 Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
 Reaksi dan ukuran pupil : reaksi pupil terhadap cahaya positif /
negatif, ukuran pupil isokor / anisokor, diameter pupil
f. Nyeri / kenyamanan
 Data Subyektif:
Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya
 Data obyektif:
 Tingkah laku yang tidak stabil
 Gelisah
 Ketegangan otot
g. Respirasi
Data Subyektif : perokok ( faktor resiko )
h. Keamanan
Data obyektif:
 Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan
 Perubahan persepsi terhadap tubuh
 Kesulitan untuk melihat objek
 Hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit
 Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah
dikenali
 Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi
suhu tubuh
 Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan
 Berkurang kesadaran diri
i. Interaksi sosial
Data obyektif:
 Problem berbicara
 Ketidakmampuan berkomunikasi
3. Menilai GCS
Ada 3 hal yang dinilai dalam penilaian kuantitatif kesadaran yang
menggunakan Skala Coma Glasgow :
 Respon motorik
 Respon bicara
 Pembukaan mata
Ketiga hal di atas masing-masing diberi angka dan dijumlahkan.
Penilaian pada Glasgow Coma Scale
Respon motorik
Nillai 6 : Mampu mengikuti perintah sederhana seperti : mengangkat
tangan, menunjukkan jumlah jari-jari dari angka-angka yang
disebutkan oleh pemeriksa, melepaskan gangguan.
Nilai 5: Mampu menunjuk tepat, tempat rangsang nyeri yang diberikan
seperti tekanan pada sternum, cubitan pada M. Trapezius
Nilai 4 : Fleksi menghindar dari rangsang nyeri yang diberikan , tapi
tidak mampu menunjuk lokasi atau tempat rangsang dengan
tangannya.
Nilai 3 : fleksi abnormal .
Bahu aduksi fleksi dan pronasi lengan bawah , fleksi
pergelangan tangan dan tinju mengepal, bila diberi rangsang
nyeri ( decorticate rigidity )
Nilai 2 : ekstensi abnormal.
Bahu aduksi dan rotasi interna, ekstensi lengan bawah, fleksi
pergelangan tangan dan tinju mengepal, bila diberi rangsang
nyeri ( decerebrate rigidity )
Nilai 1 : Sama sekali tidak ada respon
Catatan :
- Rangsang nyeri yang diberikan harus kuat
- Tidak ada trauma spinal, bila hal ini ada hasilnya akan selalu negatif
Respon verbal atau bicara
Respon verbal diperiksa pada saat pasien terjaga (bangun). Pemeriksaan
ini tidak berlaku bila pasien :
- Dispasia atau apasia
- Mengalami trauma mulut
- Dipasang intubasi trakhea (ETT)
Nilai 5 : pasien orientasi penuh atau baik dan mampu berbicara .
orientasi waktu, tempat , orang, siapa dirinya , berada dimana,
tanggal hari.
Nilai 4 : pasien “confuse” atau tidak orientasi penuh
Nilai 3 : bisa bicara , kata-kata yang diucapkan jelas dan baik tapi
tidak menyambung dengan apa yang sedang dibicarakan
Nilai 2 : bisa berbicara tapi tidak dapat ditangkap jelas apa artinya
(“ngrenyem”), suara-suara tidak dapat dikenali makna katanya
Nilai 1 : tidak bersuara apapun walau diberikan rangsangan nyeri
Respon membukanya mata :
Perikasalah rangsang minimum apa yang bisa membuka satu atau kedua
matanya
Catatan:
Mata tidak dalam keadaan terbalut atau edema kelopak mata.
Nilai 4 : Mata membuka spontan misalnya sesudah disentuh
Nilai 3 : Mata baru membuka bila diajak bicara atau dipanggil nama atau
diperintahkan membuka mata
Nilai 2 : Mata membuka bila dirangsang kuat atau nyeri
Nilai 1 : Tidak membuka mata walaupaun dirangsang nyeri
4. Menilai reflek-reflek patologis :
a. Reflek Babinsky
Apabila kita menggores bagian lateral telapak kaki dengan suatu
benda yang runcing maka timbullah pergerakan reflektoris yang
terdiri atas fleksi kaki dan jari-jarinya ke daerah plantar
b. Reflek Kremaster :
Dilakukan dengan cara menggoreskan kulit dengan benda halus pada
bagian dalam (medial) paha. Reaksi positif normal adalah terjadinya
kontrkasi M.kremaster homolateral yang berakibat tertariknya atau
mengerutnya testis. Menurunnya atau menghilangnya reflek tersebut
berarti adanya ganguan traktus corticulspinal
5. Uji syaraf kranial :
NI.N. Olfaktorius – penghiduan diperiksa dengan bau bauhan seperti
tembakau, wangi-wangian, yang diminta agar pasien
menyebutkannya dengan mata tertutup
N.II. N. Opticus
Diperiksa dengan pemerikasaan fisus pada setiap mata .
digunakan optotipe snalen yang dipasang pada jarak 6 meter
dari pasien . fisus ditentukan dengan kemampuan membaca
jelas deretan huruf-huruf yang ada
N.III/ Okulomotoris.
N.IV/TROKLERIS , N.VI/ABDUSEN
Diperiksa bersama dengan menilai kemampuan pergerakan bola
mata kesegala arah , diameter pupil , reflek cahaya dan reflek
akomodasi
N.V. Trigeminus berfungsi sensorik dan motorik,
Sensorik diperiksa pada permukaan kulit wajah bagian dahi ,
pipi, dan rahang bawah serta goresan kapas dan mata tertutup
Motorik diperiksa kemampuan menggigitnya, rabalah kedua
tonus muskulusmasketer saat diperintahkan untuk gerak
menggigit
N.VII/ Fasialis fungsi motorik N.VII diperiksa kemampuan
mengangkat alis, mengerutkan dahi, mencucurkan bibir ,
tersentum , meringis (memperlihatkan gigi depan )bersiul ,
menggembungkan pipi.fungsi sensorik diperiksa rasa
pengecapan pada permukaan lidah yang dijulurkan (gula ,
garam , asam)
N.VIII/ Vestibulo - acusticus
Fungsi pendengaran diperiksa dengan tes Rinne , Weber ,
Schwabach dengan garpu tala.
N.IX/ Glosofaringeus,
N.X/vagus : diperiksa letak ovula di tengah atau deviasi dan kemampuan
menelan pasien
N.XI / Assesorius diperiksa dengan kemampuan mengangkat bahu kiri
dan kanan ( kontraksi M.trapezius) dan gerakan kepala
N.XII/ Hipoglosus diperiksa dengan kemampuan menjulurkan lidah
pada posisi lurus , gerakan lidah mendorong pipi kiri dan
kanan dari arah dalam

b. Diagnosa keperawatan
 Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan
sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk berbafas,
batuk dan menelan, serta sekresi banyak dan kental.
 Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit
anatomi(pengangkatan pita suara).
 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penekanan serabut
syaraf oleh sel-sel tumor.
 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan saluran cerna
c. Intervensi Keperawatan
1. diagnosa pertama
Tujuan: pasien akan mempertahankan jalan napas gtetap terbuka
Kriteria hasil: Bunyi nafas bersih, tidak sesak, frekuensi napas normal
Intervensi:
 Awasi frekuensi atau kedalaman pernapasan, auskultasi bunyi
napas
 Tinggikan kepala 30-45 derajat
 Dorong menelan bila pasien mampu
 Awasi seri GDA atau nadi, oksimetri, foto dada.
2. diagnosa kedua
Tujuan: komunikasi pasien akan efektif
Kriteria hasil: mengidentifikasi atau merencanakan pilihan metode
berbicara yang tepat setelah sembuh
Intervensi:
 Kaji atau diskusikan praoperasi mengapa bicara dan bernafas
terganggu
 Tentukan apakah pasien mempunyai gangguan komunikasi
 Berikan pilihan komunikasi yang tepat bagi kebutuhan pasien.
 Konsul dengan anggota tim kesehatan yang tepat
3. diagnosa ketiga
Tujuan: nyeri pasien akan berkurang
Kriteria hasil: pasien mengatakan nyeri hilang, tidak gelisah, rileks dan
ekspresi wajah tenang
Untervensi:
 Sokong kepala dan leher dengan batang
 Dorong pasien untuk mengeluarkan saliva dengan hati-hati
 Catat respon non verbal pasien dan respon automatik pasien
terhadap nyeri
 Kolaborasi dengan pemberian analgesik
4. diagnosa keempat
Tujuan: pasien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat
Kriteria hasil: membuat pilihan diit untuk memenuhi klebutuhan nutrisi
dalam situasi individu, menunjukkan peningkatan BB dan penyembuhan
jaringan insisi sesuai waktunya.
Intervensi:
 Auskultasi bunyi usus
 Pertahankan selang makan
 Ajarkan pasien atau keluarga teknik makan sendiri
 Berikan diet nutrisi seimbang.
d. Evaluasi

1. Pola nafas efektif

2. Komunikasi pasien efektif

3. Nyeri teratasi / hilang

4. Kebutuhan Nutrisi terpenuhi


4. Daftar Pustaka
Brunner & Suddart. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8.
Jakarta: EGC
Efransah.(2010). Askep Keperawatan Kanker Laring. Jakarta: EGC.
Nanda NIC NOC, (2015).