Anda di halaman 1dari 44

Library Manager

Date Signature
BAGIAN ILMU FORENSIK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
REFERAT
FEBRUARI 2018

CHEST INJURY

DISUSUN OLEH :

Ika Fitri C11113061


A. Tenri Luwu C11113062
Mutmainnah C11113063

PEMBIMBING
dr. Geebert J.M.T Dundu

SUPERVISOR
Dr. Cahyono Kaelan, Sp.PA(K), Sp.S, DFM

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

i
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa nama yang tersebut:

1. Ika Fitri C11113061


2. A. Tenri Luwu C11113062
3. Mutmainnah C11113063

Dengan judul referat Chest Injury, telah menyelesaikan tugas dalam rangka
kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal,
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, 12 Febriari 2018

Mengetahui,

Supervisor Pembimbing Residen Pembimbing

Dr. Cahyono Kaelan, Sp.PA(K), Sp.S, DFM dr. Geebert JMT Dundu

ii
KOMPETENSI DALAM SKDI

iii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul ................................................................................................................ i

Halaman Pengesahan.......................................................................................................... ii

Standar Kompetensi Dokter Indonesia ............................................................................. iii

Daftar Isi............................................................................................................................ iv

Kerangka Konsep .............................................................................................................. 1

Isi ..................................................................................................................................... 2

Daftar Pustaka .................................................................................................................. 40

iv
KERANGKA TEORI

CHEST INJURY

1
CHEST INJURY

2.1 Anatomi
Struktur Dinding Thorax
Dinding thorax disebelah luar dilapisi oleh kulit dan otot – otot. Dinding
thoraks dilapisi oleh pleura parietalis.
Dinding thoraks di posterior dibentuk oleh pars thoracica columna
vertebralis, dianterior oleh sternum dan cartilago costa, lateral oleh costa dan
spatium intercosta, superior oleh membrane suprapleuralis; dan inferior oleh
diafragma, yang memisahkan cavitas thoracis dan cavitas abdominis.1

2
Gambar 2. Thorax dilihat dari ateral , menunjukan menghubungkan antara jejas
permukaan dengan tinggi vertebra

3
Mempelajari anatomi dinding dada dengan cara mengidentifikasi struktur pada
tiap bagiannya. Gambar dibawah ini menunjukan sela antara dua tulang rusuk dan
diberi nomor oleh tulang rusuk di atasnya.1

Sternum
Sternum terletak digaris tengah dinding anterior thorax. Sternum merupakan
tulang pipih yang dapat dibagi menjadi 3 bagian: (a) manubrium sterni.
Manubrium sterni merupakan bagian atas sternum yang masing-masing sisinya
bersendi dengan clavicula, kartilago costa 1 dan bagian atas kartilago kosta II.
Manubrum sterni terletak berhadapan dengan vertebrata thoracica III dan IV. (b)
corpus sterni. Bagian atas corpus sterni bersendi dengan, manubrium sterni
melalui symphysis manubrium sternalis, bagian bawah corpus sterni bersendi
dengan processus xyphoideus pada symphisis xiphosternalis. Pada setiap sisi
terdapat lekukan lekukan untuk bersendi dengan bagian bawah cartilago costa II
dan kartilago kosta III sampai VII. Kartilago costae II-VII bersendi dengan
sternum melalui juctura syonovialis. (c) Processus xiphoideus merupakan bagian
sternum yang paling bawah dan paling kecil. Sternum merupakan kartilago
hyaline pipih yang pada orang dewasa mengalami ossifikasi pada ujung

4
proksimalya, tidak ada costa ataupun cartilage costalis yang melekat pada bagian
ini. 1

Angulus Sterni
Angulus sterni yang dibentuk oleh persendian manubrium sterni dengan corpus
sterni dapat dikenali dengan adannya peninggian transversal pada permukaan
anaterior sternum. Peninggian transversal terletak setinggi cartilage costalis II, dan
merupakan titik mula perhitungan kartilago kosa dan kosta. Angulus sterni
terletak berhadapan dengan discus intervertrebralis diantara vertebrata thoracica
IV dan V. 1

Kartilago Kosta
Kartilago kosta merupakan batang kartilago hyaline yang menghubungkan 7 kosta
bagian atas dengan pinggir lateral sternum, dan kosta VIII,IX,X dengan kartilago
tepat diatasnya. Kartilago kosta XI dan XII berakhir pada otot – otot abdomen.
Kartilago kosta berpera penting dalam elastisitas dan mobilitas dinding thoraks.
Pada manula, kartiago kosta cenderung kehilangan sebagian fleksibilitasnya.1

Kosta
Terdapat 12 pasang kosta yang semuanya melekat pada columna vertebrata
thoracica. 7 pasang costa yang teraatas melekat di anterior pada sternum melalui

5
kartilago kostalis. Pasangan kota VIII, IX dan X dianterior melekat satu dengan
lainnya dan ke costa VIII melalui kartilago kostalis dan junctura synovialis yang
kecil. Pasangan costa XI dan XII tidak mempuyai perlekatan didepan dan
dinamakan costa fluctuantes.

Persendian pada costa


Dari costa II sampai IX, caput cost bersendi dengan corpus vertebrae yang sama
nomornya melali sendi synovial dan pada corpus vertebra yang ada tepat
diatasnya. Terdapat ligament, intra-articulare kuat yang menghubungkan caput
costa dengan discus intervertebralis. Caput costa I dan tiga costa yang terbawah

6
mempunyai sebuah sendi synovial pada corpus vertebra yang sesuai. Persendian
antara costa dengan kartilago costa merupakan sendi cartilaginosa, dan tidak ada
gerakan yang mungkin dilakukan. Kartilago costa I bersendi dengan manubrium
sterni melalui sendi cartilaginosa dan tidak ada gerakan yang mungkin bias
dilakukan. Kartilago II-VII bersendi dengan pinggir lateral sternum melalui sendi
synovial. Selain itu kartilago costa VI,VII,VIII,IX,dan X besendi satu dengan
yang lain melalui sendi synovial yang kecil pada pinggirnya masing-masing.
Kartilago costa XI dan XII terbenam didalam otot-otot abdomen. Gerakan kosta
dan kartilago kosta costa I bersma dengan kartilago kosta difiksasi pada
manubrium sterni, sehingga tidak dapat digerakan. Pengangkatan dan penurunan
kosta selama respirasi diikuti oleh gerakan pada sendi sendi di kaput dan
tuberkulum, sehinga memungkinkan kolum kosta berputar disekeliling sumbnya. 1

Musculus Intercostalis
Otot intrinsic terdiri dari 3 lapisan , yaitu lapisan tengah, luar, dan dalam.
Lapisan terluar tersususn atas M. intrcostalis eksternus dan M levatores kostarum,
lapisan tengah hanya dibetuk oleh M.intercostalis internus, sedangkan lapisan
dalam disusun oleh M.intercostalis intimus, m.subcostalis, dan m,transverses
costalis.1
M intercostalis eksternus membentuk lapisan yang paling luar. Arah
serabut-serabutnya kebawah dan depan, dari pinggr bawah costa di atasnya ke
pinggir atas costa yang adadibawahnya. M. Intercostalis internus membentuk
lapisan tengah. Arah serabut-serabutnya ke bawah dan belakang, dari sulcus
costae diatas, sampai pinggir atas costa yang ada dibawahnya. Otot-otot berjalan
kebelakang dari sternum didepan sampai keangulus kosta dibelakang. M.
intercostalis intimi membetuk lapisan paling dalam dan analog dengan M.
transverses abdominis pada dinding anterior abdomen. Otot ini merupakan lapisan
otot yang tidak lengkap dan menyilang lebih dari satu spatium intercostale yang
terdapat diantara costa. Kedalam, berhbungan dengan fascia endothoraica dan
pleura parietalis dan keluar berhubungan dengan A.V.dan N intercostalis.1

7
Fungsi musculus intercostalis bila berkontraksi cenderung mendekatkan
costa satu dengan yang lainnya, jika costa I difiksasi oleh kontraksi otot – otot
yang terdapat pada pangkal leher , yaitu Mm Scaleni, Mm Intercostalis akan
menangkat costa II sampai XII kearah costa I, seperti pada inspirasi. Sebaliknya
jika costa XII difiksasi oleh M. Quadratus lumborum costa I sampai ke XI akan
tertarik kebawah oleh kontraksi Mm, intercostalis seperti pada ekspirsi. Selain itu
tonus Mm inercostalis selama fase-fase respirasi berperan memperkuat jaringan
yang ada dalam spatium intercosta kedalam atau pendorongan ke luar jaringan,
jadi mencegah pengisapan kedalam atau pendorongan keluar jaringan akibat
perubahan tekanan intra torakal.1

8
Klavikula
Klavikula adalah tulang berbentuk S, agak mudah dilihat dan teraba pada dada
bagian atas. permukaan superior relatif mulus, sedangkan permukaan inferior
ditandai dengan alur dan punggung untuk lampiran otot. Klavikula adalah tulang
yang umumnya pada tubuh karena begitu dekat ke permukaan.2

9
Vaskularisasi thorax
Setiap spatium intercostale mempunyai satu A.Intercostalis posterior yang besar
dan dua A.intercostalis anterior yang kecil. A.intercostalis posterior pada dua
spatium intercosta yang pertama berasal dari A.intercostalis superior, cabang dari
truncus costocervicalis dari A.subclavia Aa intercostalis posterior pada Sembilan
spatium intercostale yang bawah dipercabangkan dari aorta thorachalis.
Aa. Intercostales anterior pada enam spatium intercosta yang pertama
dipercabangkan dari A.thoracica interna yang berasal dari bagian pertama
A.subclavia Aa.intercostalis anterior pada spatium intercostalis yang lebih bawah
dipercabangkan dari A. musculophrenicus (salah satu cabang arteri thoracica
interna).
Masing-masing A.intercostalis memberikan cabang untuk otot-otot kulit dan
pleura parietalis. Pada daerah glandula mamma wanita. Cabang-cabag yang
menuju ke struktur permukaanberukuran besar.2

10
Rongga dada
Rongga dada dibatasi oleh dinding thorax dan di bawah oleh diafragma.rongga ini
meluas keatas kedalam pangkal leher sekitar satu jari diatas clavicula kanan dan
kiri. Diafragma sebuah otot yang sangat tipis , merupakan satu-satunya struktur
(selain dari pleura dan peritoneum) yang memisahkan rongga dada dari viscera
abdomen. Rongga dada dibagi oleh pemisah garis tengah, disebut mediastinum,
atau dua bagian lateral yang ditempati oleh paru dan pleura.2

11
Mediastinum
Mediastinum, walaupun tebal, merupakan pemisah yang mudah bergerak,
yang terletak diantara kedua pleura dan paru. Meluas keatas samapi aperture
thoracis superior dan pangkal leher, dan kebawah sampai diafragma. Kedepan
mediastinum meluas sampai sternum dan ke posterior sampai columna vertebralis.
Mediastinum dibagi dua menjadi mediastinum superius dan mediastinum inferius
oleh bidang imajiner yang berjalan dari angulus sterni (persendian antara
manubrium dan corpus sterni) di anterior kepinggir bawah corpus vertebrata
thoracica IV diposterior, Mediastinum inferius lebih jauh dibagi lagi dalam
mediastinum medium yang berisi pericardium dan jantung, mediastinum anterius
yang merupakan ruang diantara pericardium dan sternum; dan mediastinum
posterius yang terletak diantara pericardium dan columna vertrebralis.1

12
Mediastinum superius
Isi mediastinum superius dari anterior ke posterior adalah: sisa-sisa
thymus, vena brachiocephalica, bagian atas vena cava superior, arteria
brachiocephalica, arteria karotis communis sinistra, arteria subclavia sinistra,
arcus aorta, nervus phrenicus dan nervus vagus dekster dan sinister, nervus
laryngeus reccurrens sinister, dan nervi cardiac, trachea dan nodus lymphaticus,
esophagus, dan ductus thoracicus, serta truncus sympathicus. Mediastinum
anterius, isi mediastinum anterius antara lain ligamentum sternopericardium,
kelenjar limfe, dan sisa thymus. Mediastinum medium, isi mediastinum medium
antara lain pericardium, jantung, dan pangkal pembuluh darah besar, nervus
phrenicus, bifurcartio trachea, dan kelenjar limfa. Mediastinum posterius, isi
mediastium posterius antara lain aorta descendens, esophagus, ductus thoracicus,
vena azygos dan vena hemizygous, nervus vagus, nervi splanchnici, truncus
symphathicus, dan nodus lymphaticus.1

13
Pleura dan paru terletak pada kedua sisi mediastinum didalam rongga
dada. Pleura merupakan dua kantong serosa yang mengelilingi dan melindungi
paru. Setiap pleura terdiri dari dua lapisan. Lapisan parietalis, yang meliputi
dinding thorax, meliputi permukaan thoracal, diaphragm, dan permukaan lateral
mdiastinum dan meluas sampai kepangkal leher; dan lapisan visceralis yang
meliputi seluruh permukaan luar paru dan meluas kedalam fissure interlobaris.
Lapisan parietalis melanjutkan diri menjadi lapisan visceralis pada lipatan pleura
yang mengelilingi alat-alat yang masuk dan keluar dari hilus pulmonalis pada
setiap paru. Untk memungkinkan pergerakan vasa plmonalis dan bronchus besar
selama respirasi, lipatan pleura tergantung sebagai lipatan bebas dan disebut
ligamentum pulmonale.1

14
2.2 Definisi
Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax,
baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. Trauma thoraks adalah trauma
yang terjadi pada toraks yang menimbulkan kelainan pada organ-organ didalam
toraks. Trauma thorax adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang
dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum thorax
yang disebabkan oleh benda tajam atau bennda tumpul dan dapat menyebabkan
keadaan gawat thorax.3

15
2.3 Etiologi
a. Trauma Tajam
 Luka Tembak
 Luka Tikam / tusuk
b. Trauma tumpul
 Kecelakaan kendaraan bermotor
 Jatuh
 Pukulan pada dada

2.4 Klasifikasi4
Trauma toraks dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu trauma
tembus (tajam) atau tumpul:
a. Trauma tembus (tajam)
Biasanya disebabkan oleh tekanan mekanikal secara tiba-tiba pada
suatu area fokal. Berat ringannya cedera internal yang tergantung pada
organ yang terkena dan seberapa vital organ tersebut. Derajat cedera
tergantung pada mekanisme dari penetrasi dan temasuk, diantara faktor
lain (kecepatan, ukuran permukaan impak, densitas jaringan yang
terpenetrasi), adalah efisiensi dari energi yang dipindahkan dari obyek ke
jaringan tubuh yang terpenetrasi. Terutama akibat tusukan benda tajam
(pisau, kaca, dsb) atau peluru. Sekitar 10-30% memerlukan operasi
torakotomi.
b. Trauma tumpul
Trauma tumpul lebih sering didapatkan berbanding trauma tembus,
kira-kira lebih dari 90% trauma thoraks. Dua mekanisme yang terjadi pada
trauma tumpul: (1) transfer energi secara direk pada dinding dada dan
organ toraks dan (2) deselerasi deferensial, yang dialami oleh organ toraks
ketika terjadinya impak. Terutama akibat kecelakaan lalu-lintas, terjatuh,
olahraga, crush atau blast injuries. Kelainan tersering akibat trauma tumpul
toraks adalah kontusio paru. Sekitar <10% yang memerlukan operasi
torakotomi. Trauma tumpul toraks akibat kecelakaan lalu lintas sebagai

16
hasil mendadaknya kontak antara dinding toraks dan batang kemudi mobil,
merupakan trauma deselerasi yang khas, yang bisa menyebabkan kontusio
paru atau miokardium yang bermakna. Mungkin ada sedikit bukti trauma
luar pada pemeriksaan dinding toraks. Harus diinspeksi cermat dinding
toraks dan harus secara khusus awas untuk mendeteksi adanya fraktur iga
atau sternum, pemisahan costochondral serta flail chest. Fraktur iga
pertama atau kedua biasanya menunjukkan bahwa tenaga bermakna telah
diberikan ke dinding toraks dan fraktur demikian disertai dengan 14 persen
insidens cedera vaskular berakna.

2.5 Patofisiologi5
Patofisiologi cedera toraks meliputi:
1. Perdarahan.
2. Kerusakan alveoli/jalan napas/ pleura sehingga udara keluar dari jalan
napas.
3. Patah tulang iga: timbul rasa nyeri sehingga penderita tidak mau
bernapas (terjadi gangguan ventilasi) dan tidak mau batuk (sekret/dahak
terkumpul/ tidak bisa keluar). Selain itu dapat terjadi flail chest bila
patah tulang iga jamak dan segmental (lebih dari 1 tempat).
4. Kompresi pada toraks dapat mengaki-batkan terjadinya asfiksia
traumatika.
5. Luka ”menghisap” pada dinding dada yang menyebabkan paru
mengempis/ kolaps.
Mekanisme trauma toraks meliputi:
a. Akselerasi: Kerusakan yang terjadi merupakan akibat langsung dari
penyebab trauma. Gaya perusak berbanding lurus dengan massa dan
percepatan (akselerasi) sesuai dengan hukum Newton II. Kerusakan
yang terjadi juga bergantung pada luas jaringan tubuh yang menerima
gaya perusak dari trauma tersebut.
b. Deselerasi: Kerusakan terjadi akibat mekanisme deselerasi dari
jaringan. Biasanya terjadi pada tubuh yang bergerak dan tiba-tiba

17
terhenti akibat trauma. Kerusakan terjadi oleh karena pada saat trauma
organ-organ dalam keadaan masih bergerak dan gaya yang merusak
terjadi akibat tumbukan pada dinding toraks/rongga tubuh lain atau oleh
karena tarikan dari jaringan pengikat organ tersebut.
c. Torsio dan rotasi: Gaya torsio dan rotasi yang terjadi umumnya
diakibat-kan oleh adanya deselerasi organ-organ dalam yang sebagian
strukturnya memiliki jaringan pengikat/terfiksasi.
d. Blast injury: Kerusakan jaringan terjadi tanpa adanya kontak langsung
dengan penyebab trauma, sebagai contoh: ledakan kendaraan saat
terjadi kecelakaan lalu lintas (KLL). Gaya merusak di terima oleh tubuh
melalui penghantaran gelombang energi.

2.6 Kelainan Akibat Trauma Thoraks


Trauma Dinding Thorax & Paru
 Fraktur iga; klavikula;sternum;
 Dislokasi sendi sternoklavikular
 Flail chest
 Kontusio paru
 Laserasi paru
 Pneumothorax
 Open pneumothorax
 Tension pneumothorax
 Hemothorax
 Ruptur Diafragma
 Cedera trakhea & bronkus. 12
Trauma Jantung Dan Aorta
 Tamponade jantung
 Kontusio miokard
 Trauma tumpul jantung

18
a. Trauma Dinding Thoraks dan Paru
 Fraktur Iga5
Fraktur pada iga (costae) merupakan kelainan tersering yang
diakibatkan trauma tumpul pada dinding dada. Trauma tajam lebih jarang
mengakibatkan fraktur iga, oleh karena luas permukaan trauma yang sempit,
sehingga gaya trauma dapat melalui sela iga. Fraktur iga terutama pada iga
IV-X (mayoritas terkena) . Perlu diperiksa adanya kerusakan pada organ-
organ intra-toraks dan intra abdomen. Kecurigaan adanya kerusakan organ
intra abdomen (hepar atau spleen) bila terdapat fraktur pada iga VIII-XII .
Kecurigaan adanya trauma traktus neurovaskular utama ekstremitas atas dan
kepala (pleksus brakhialis, a/v subklavia, dsb.), bila terdapat fraktur pada iga
I-III atau fraktur klavikula.
Penatalaksanaan
1. Fraktur 1-2 iga tanpa adanya penyulit/kelainan lain : konservatif
(analgetika)
2. Fraktur >2 iga : waspadai kelainan lain (edema paru, hematotoraks,
pneumotoraks)
3. Penatalaksanaan pada fraktur iga multipel tanpa penyulit pneumotoraks,
hematotoraks, atau kerusakan organ intratoraks lain, adalah:
 Analgetik yang adekuat (oral/ iv / intercostal block)
 Bronchial toilet
 Cek Lab berkala : Hb, Ht, Leko, Tromb, dan analisa gas darah
 Cek Foto Ro berkala

Penatalaksanaan fraktur iga multipel yang disertai penyulit lain


(seperti: pneumotoraks, hematotoraks dsb.), ditujukan untuk mengatasi
kelainan yang mengancam jiwa secara langsung, diikuti oleh penanganan
pasca operasi/tindakan yang adekuat (analgetika, bronchial toilet, cek lab dan
ro berkala), sehingga dapat menghindari morbiditas/komplikasi. Komplikasi
tersering adalah timbulnya atelektasis dan pneumonia, yang umumnya akibat
manajemen analgetik yang tidak adekuat.

19
 Fraktur Sternal6
Insidens fraktur sternum pada trauma toraks cukup jarang, umumnya
terjadi pada pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan. Biasanya
diakibatkan trauma langsung dengan gaya trauma yang cukup besar. Lokasi
fraktur biasanya pada bagian tengah atas sternum. Sering disertai fraktur Iga.
Adanya fraktur sternum dapat disertai beberapa kelainan yang serius, seperti:
kontusio/laserasi jantung, perlukaan bronkhus atau aorta.
Tanda dan gejala: nyeri terutama di area sternum, krepitasi
Pemeriksaan
 Seringkali pada pemeriksaan Ro toraks lateral ditemukan garis fraktur,
atau gambaran sternum yang tumpang tindih.
 Pemeriksaan EKG : 61% kasus memperlihatkan adanya perubahan EKG
(tanda trauma jantung).
Penatalaksanaan
1. Untuk fraktur tanpa dislokasi fragmen fraktur dilakukan pemberian
analgetika dan observasi tanda2 adanya laserasi atau kontusio jantung
2. Untuk fraktur dengan dislokasi atau fraktur fragmented dilakukan tindakan
operatif untuk stabilisasi dengan menggunakan sternal wire, sekaligus
eksplorasi adanya perlukaan pada organ atau struktur di mediastinum.

 Flail Chest6
Adalah area toraks yang "melayang" (flail) oleh sebab adanya fraktur
iga multipel berturutan ≥ 3 iga , dan memiliki garis fraktur ≥ 2 (segmented)
pada tiap iganya. Akibatnya adalah: terbentuk area "flail" yang akan bergerak
paradoksal (kebalikan) dari gerakan mekanik pernapasan dinding dada. Area
tersebut akan bergerak masuk saat inspirasi dan bergerak keluar pada
ekspirasi.
Terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas
dengan keseluruhan dinding dada. Keadaan tersebut terjadi karena fraktur iga
multipel pada dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis fraktur.

20
Adanya semen flail chest (segmen mengambang) menyebabkan gangguan
pada pergerakan dinding dada. Jika kerusakan parenkim paru di bawahnya
terjadi sesuai dengan kerusakan pada tulang maka akan menyebabkan hipoksia
yang serius. Kesulitan utama pada kelainan Flail Chest yaitu trauma pada
parenkim paru yang mungkin terjadi (kontusio paru). Walaupun ketidak-
stabilan dinding dada menimbulkan gerakan paradoksal dari dinding dada
pada inspirasi dan ekspirasi, defek ini sendiri saja tidak akan menyebabkan
hipoksia. Penyebab timbulnya hipoksia pada penderita ini terutama
disebabkan nyeri yang mengakibatkan gerakan dinding dada yang tertahan dan
trauma jaringan parunya.

Gambar 13. Gambaran Flail Chest

Pengobatannya berdasarkan analgesia, kebersihan paru yang agresif


termasuk tracheobronchoscopy yang sering, fisioterapi paru terutama dengan
Hipoksemia dinding dada tidak stabil berarti masalah ventilasi dengan intubasi
trakea atau trakeostomi dini. Fiksasi bedah pada fraktur tulang rusuk costal
terus menjadi kontroversial. Bottlang dkk. digunakan pelat anatomis dan splint
intramedullary pada pasien dengan tingkat kerusakan parah 28 ± 10 dengan
tulang rusuk yang patah 8,5 ± 2,9 dengan hasil yang baik. Penulis ini telah
menyatakan bahwa pasien mencapai kapasitas vital 84% pada tiga bulan dan
50% kembali bekerja pada enam bulan. Dalam keadaan ini, tidak ada
kematian. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang mencakup

21
sembilan studi kecil dengan total 538 pasien membandingkan hasil perawatan
non bedah dan bedah. Perawatan yang terakhir dikaitkan dengan sedikit waktu
untuk mendapatkan dukungan ventilasi mekanik, pneumonia kurang,
trakeostomi, dan tingkat kematian yang lebih rendah. Studi serupa dengan 753
pasien berbagi hasil yang sama, menunjukkan bahwa fiksasi tulang rusuk
bedah memiliki manfaat yang signifikan. Perawatan ini memiliki hasil yang
berarti, menunjukkan bahwa fiksasi bedah rusuk yang retak dapat
menyebabkan manfaat yang signifikan. Di sisi lain, Cataneo dkk. menemukan
bukti dalam tiga studi dengan pasien dada yang terulur bahwa perawatan non-
bedah lebih baik daripada manajemen bedah. Mereka menemukan lebih
sedikit kasus dengan pneumonia, deformitas toraks, kejadian trakeostomi,
ventilasi mekanis dan durasi ICU mereka.

 Kontusio Pulmonal6
Merupakan kelainan yang paling sering ditemukan pada golongan
potentially lethal chest injury. Kegagalan bernafas dapat timbul perlahan dan
berkembang sesuai waktu, tidak langsung terjadi setelah kejadian, sehingga
rencana penanganan definitif dapat berubah berdasarkan perubahan waktu.
Monitoring harus ketat dan berhati-hati, juga diperlukan evaluasi penderita
yang berulang-ulang. Penderita dengan hipoksia bermakna (PaO2 < 65 mmHg
atau 8,6 kPa dalam udara ruangan, SaO2 < 90 %) harus dilakukan intubasi dan
diberikan bantuan ventilasi pada jam-jam pertama setelah trauma.
Penatalaksanaan
Tujuan:
 Mempertahankan oksigenasi
 Mencegah/mengurangi edema

Tindakan : bronchial toilet, batasi pemberian cairan (iso/hipotonik), O2, pain


control, diuretika, bila perlu ventilator dengan tekanan positif (PEEP > 5).

22
 Laserasi Paru-paru6
Laserasi paru-paru merupakan luka yang sangat serius yang
melibatkan gangguan anatomi paru yang juga disertai dengan hematoma
parenkim, dengan atau tanpa hemothorax. Tersangka dalam radiografi dada
dan dikonfirmasi oleh CT. Lesi ini bisa menjadi kista semu yang
dimanifestasikan sebagai hemoptisis karena berkomunikasi dengan bronkus.
Bila pasien ini memerlukan ventilasi mekanis diperlukan untuk menghindari
tekanan saluran udara yang tinggi dan berhati-hati selama manuver perekrutan
alveolar.
Manifestasi klinik umumnya adalah : hemato + pneumotoraks
Penatalaksanaan umum : WSD
Indikasi operasi :
 Hematotoraks masif (lihat hematotoraks)
 Adanya contiuous buble pada WSD yang menunjukkan adanya robekan
paru
 Distress pernapasan berat yang dicurigai karena robekan luas12

 Pneumotoraks
Pneumotoraks adalah terkumpulnya udara dalam rongga pleura.
Pneumotoraks akan meningkatkan tekanan negatif intrapleura sehingga
mengganggu proses pengembangan paru, dapat terjadi karena trauma tumpul
atau tembus toraks.8,9,10
Pneumothorax terbuka (open pneumothorax )
Pneumothorax terbuka adalah gangguan pada dinding dada karena
adanya hubungan langsung antara rongga pleura dan lingkungan. Terjadi
karena luka terbuka yang cukup besar pada dada sehingga udara dapat
keluar dan masuk rongga intra toraks dengan mudah. Tekanan intra toraks
akan sama dengan tekanan udara luar. Defek atau luka yang besar pada
dinding dada yang terbuka menyebabkan pneumotoraks terbuka. Tekanan
di dalam rongga pleura akan segera menjadi sama dengan tekanan
atmosfir. Jika defek pada dinding dada mendekati 2/3 dari diameter trakea

23
maka udara akan cenderung mengalir melalui defek karena mempunyai
tahanan yang kurang atau lebih kecil dibandingkan dengan trakea.
Akibatnya ventilasi terganggu sehingga menyebabkan hipoksia dan
hiperkapnia.9,10
Tanda dan gejala yang timbul berupa gerakan abnormal jaringan
dan organ dalam mediastinum selama gerakan pernapasan. Pneumothorax
dapat dideteksi tanpa melalui pemeriksaan fisis .9,10

Gambaran Open Pneumothorax.𝟗


Langkah awal adalah menutup luka dengan kasa stril yang diplester
hanya pada 3 sisinya saja. Dengan penutupan seperti ini diharapkan akan
terjadi efek flutter Type Valve dimana saat inspirasi kasa penutup akan
menutup luka, mencegah kebocoran udara dari dalam, sedangkan saat
ekspirasi kasa penutup terbuka untuk menyingkirkan udara keluar. Setelah
itu maka sesegera mungkin dipasang selang dada yang harus berjauhan
dari luka primer. Menutup seluruh sisi luka akan menyebabkan
terkumpulnya udara di dalam rongga pleura yang akan menyebabkan
tension pneumothorax kecuali jika selang dada sudah terpasang. Lokasi
ideal pemasangan WSD adalah setingkat puting payudara, yakni sela iga V
sebelah anterior dari linea midaxillaris ipsilateral .8,9

24
Gambaran penatalaksanaan open pneumothorax .𝟗

Pneumotoraks Tension
Tension pneumotoraks adalah suatu pneumothorax yang
membahayakan jiwa dalam waktu singkat yang disertai peningkatan
tekanan intra toraks yang semakin lama semakin bertambah (progresif).
Pada pneumotoraks tension ditemukan mekanisme ventil (udara dapat
masuk dengan mudah, tetapi tidak dapat keluar) .8,10
Terjadinya gangguan pada pada pleura viseral, pleura viseral atau
trakea dan bronkus sehingga terbentuk fistula dengan katup satu arah.
Udara dapat masuk melalui katup ini tetapi tidak dapat keluar
(terperangkap). Volume udara yang terperangkat meningkat setiap kali
inspirasi. Hal tersebut menyebabkan peningkatan tekanan intrapleura yang
proresif. Paru ipsilateral akan kolaps, mediastinum terdorong kearah
kontralateral sampai menekan paru disisi tersebut dan menghambat
pengembalian darah vena ke jantung (venous return), Hipoksia dan dan
gangguan aliran balik darah vena menyebabkan penurunan curah jantung.
Sehingga terjadi hipotensi gangguan pernapasan dan menimbulkan
kematian bila tidak ditangani segera .8

25
Gambaran Tension Pneumothorax .𝟗

Penyebab tersering dari tension pneumothorax adalah komplikasi


penggunaan ventilasi mekanik (ventilator) dengan ventilasi tekanan positif
pada penderita dengan kerusakan pada pleura viseral. Tension
pneumothorax dapat timbul sebagai komplikasi dari penumotoraks
sederhana akibat trauma toraks tembus atau tajam dengan perlukaan
parenkim paru tanpa robekan atau setelah salah arah pada pemasangan
kateter subklavia atau vena jugularis interna .9
Diagnosis tension pneumotorax ditegakkan berdasarkan gejala
klinis, pada pasien sadar dapat ditemukan sesak napas progresif dan berat,
sianosis, nyeri dada, distres pernapasan, takipneu, takikardi, agitasi serta
penurunan kesadaran dengan pulsasi nadi yang lemah yang berujung pada
bradipneu, hipotensi dan penurunan kesadaran. Penanganan tidak boleh
terlambat oleh karena menunggu konfirmasi radiologi. Pada pemeriksaan
fisis tension pneumothorax ditandai dengan pengembangan dada asimetris,
bagian dada yang terkena tertinggal saat ekspirasi, perkusi hipersonor, dan
hilangnya suara nafas pada satu sisi yang terkena dan distensi vena leher.8
Tension pneumothorax membutuhkan tindakan dekompresi harus
segera penanggulangan awal dengan cepat berupa insersi jarum yang
berukuran besar pada sela iga dua garis midclavicular pada hemitoraks
yang mengalami kelainan. Tindakan ini akan mengubah tension

26
pneumothorax menjadi pneumothoraks sederhana Evaluasi ulang selalu
diperlukan. Setelah keadaan tenang dilanjutkan dengan pemasangan Water
seal drainage (WSD). .8,9

Gambaran Needle Dekompresi.𝟗

Pneumotoraks Simpel
Adalah pneumotoraks dengan tekanan udara dirongga pleura yang
sedikit lebih tinggi dibandingkan tekanan pleura pada sisi hemithorax
kontralateral tetapi tekanannya masih lebih rendah dari tekanan atmosfer.
Tidak ada defek pada dinding dada .8,9
Diagnosis simple pneumotorax ditegakkan berdasarkan gejala
klinis, pada pasien sadar dapat ditemukan sesak napas dan nyeri dada.
Pada pemeriksaan fisis tension pneumothorax ditandai dengan
pengembangan dada asimetris, bagian dada yang terkena tertinggal saat
ekspirasi, perkusi hipersonor, dan penurunan suara napas pada sisi yang
terkena. Paru pada sisi yang terkena akan kolaps dan tidak ada pergeseran
mediastinum. Terapi definitif dibutuhkan dengan pemasangan selang dada
(chest tube) pada sela iga ke 5 (garis putting susu) diantara garis anterior
dan midaxilaris .9,10

27
Gambaran Simple Pneumothorax.𝟗

Radiografi dada merupakan metode yang paling dapat dipercaya untuk


menentukan tingkat perluasan pneumothorax dan ada tidaknya pergerseran organ
mediastinum yang disebabkan oleh pneumothorax.

Gambaran Radiologi Pneumothorax.𝟗

 Hemothorax
Hemothorax Terakumulasinya darah pada rongga toraks akibat trauma
tumpul atau tembus pada dada. Sumber perdarahan umumnya berasal dari A.
interkostalis atau A. mamaria interna. Perlu diingat bahwa rongga hemitoraks
dapat menampung 3 liter cairan, sehingga pasien hematotoraks dapat syok
berat (kegagalan sirkulasi) tanpa terlihat adanya perdarahan yang nyata, oleh
karena perdarahan masif yang terjadi terkumpul di dalam rongga toraks.
Penampakan klinis yang ditemukan sesuai dengan besarnya perdarahan atau

28
jumlah darah yang terakumulasi. Perhatikan adanya tanda dan gejala
instabilitas hemodinamik dan depresi pernapasan.9
Penyebab utama dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari
pembuluh darah interkostal atau arteri mamaria internal yang disebabkan oleh
trauma tajam atau trauma tumpul. Dislokasi fraktur dari vertebra torakal juga
dapat menyebabkan terjadinya hemotoraks. Biasanya perdarahan berhenti
spontan dan tidak memerlukan intervensi operasi. Hemotoraks akut yang
cukup banyak sehingga terlihat pada foto toraks, sebaiknya diterapi dengan
selang dada kaliber besar. Selang dada tersebut akan mengeluarkan darah dari
rongga pleura, mengurangi resiko terbentuknya bekuan darah di dalam rongga
pleura, dan dapat dipakai dalam memonitor kehilangan darah selanjutnya.
Evakuasi darah atau cairan juga memungkinkan dilakukannya penilaian
terhadap kemungkinan terjadinya ruptur diafragma traumatik. Walaupun
banyak faktor yang berperan dalam memutuskan perlunya indikasi operasi
pada penderita hemotoraks, status fisiologi dan volume darah yang keluar dari
selang dada merupakan faktor utama. Sebagai patokan bila darah yang
dikeluarkan secara cepat dari selang dada sebanyak 1.500 ml, atau bila darah
yang keluar lebih dari 200 ml tiap jam untuk 2 sampai 4 jam, atau jika
membutuhkan transfusi darah terus menerus, eksplorasi bedah harus
dipertimbangkan.9
Pemeriksaan
 Radiologi toraks (yang boleh dilakukan bila keadaan pasien stabil)
 Terlihat bayangan difus radio-opak pada seluruh lapangan paru
 Bayangan air-fluid level hanya pada hematopneumotoraks
Indikasi Operasi
Adanya perdarahan masif (setelah pemasangan WSD)
 Ditemukan jumlah darah inisial > 750 cc, pada pemasangan WSD < 4 jam
setelah kejadian trauma.
 Perdarahan 3-5 cc/kgBB/jam dalam 3 jam berturut-turut
 Perdarahan 5-8 cc/kgBB/jam dalam 2 jam berturut-turut
 Perdarahan > 8cc/kgBB/jam dalam 1 jam

29
Penatalaksanaan
Tujuan:
 Evakuasi darah dan pengembangan paru secepatnya.
 Penanganan hemodinamik segera untuk menghindari kegagalan sirkulasi.
Tindakan Bedah : WSD (pada 90% kasus) atau operasi torakotomi cito
(eksplorasi) untuk menghentikan perdarahan.8,9

 Hemotoraks masif
Yaitu terkumpulnya darah dengan cepat lebih dari 1.500 cc di dalam
rongga pleura. Hal ini sering disebabkan oleh luka tembus yang merusak
pembuluh darah sistemik atau pembuluh darah pada hilus paru. Hal ini juga
dapat disebabkan trauma tumpul. Kehilangan darah menyebabkan hipoksia.
Vena leher dapat kolaps (flat) akibat adanya hipovolemia berat, tetapi kadang
dapat ditemukan distensi vena leher, jika disertai tension pneumothorax.
Jarang terjadi efek mekanik dari adarah yang terkumpul di intratoraks lalu
mendorong mesdiastinum sehingga menyebabkan distensi dari pembuluh vena
leher.9
Diagnosis hemotoraks ditegakkan dengan adanya syok yang disertai
suara nafas menghilang dan perkusi pekak pada sisi dada yang mengalami
trauma. Terapi awal hemotoraks masif adalah dengan penggantian volume
darah yang dilakukan bersamaan dengan dekompresi rongga pleura. Dimulai
dengan infus cairan kristaloid secara cepat dengan jarum besar dan kemudian
pemberian darah dengan golongan spesifik secepatnya. Darah dari rongga
pleura dapat dikumpulkan dalam penampungan yang cocok untuk
autotransfusi. Bersamaan dengan pemberian infus, sebuah selang dada (chest
tube) no. 38 French dipasang setinggi puting susu, anteriordari garis
midaksilaris lalu dekompresi rongga pleura selengkapnya.9

30
Gambaran Hematothoraks.𝟗
Ketika kita mencurigai hemotoraks masif pertimbangkan untuk
melakukan autotransfusi. Jika pada awalnya sudah keluar 1.500 ml,
kemungkinan besar penderita tersebut membutuhkan torakotomi segera.
Beberapa penderita yang pada awalnya darah yang keluar kurang dari 1.500
ml, tetapi pendarahan tetap berlangsung. Ini juga mamebutuhkan torakotomi.
Keputusan torakotomi diambil bila didapatkan kehilangan darah terus
menerus sebanyak 200 cc/jam dalam waktu 2 sampai 4 jam, tetapi status
fisiologi penderita tetap lebih diutamakan. Transfusi darah diperlukan selama
ada indikasi untuk toraktomi.9
Selama penderita dilakukan resusitasi, volume darah awal yang
dikeluarkan dengan selang dada (chest tube) dan kehilangan darah selanjutnya
harus ditambahkan ke dalam cairan pengganti yang akan diberikan. Warna
darah (arteri atau vena) bukan merupakan indikator yang baik untuk dipakai
sebagai dasar dilakukannya torakotomi.
Luka tembus toraks di daerah anterior medial dari garis puting susu
dan luka di daerah posterior, medial dari skapula harus disadari oleh dokter
bahwa kemungkinan dibutuhkan torakotomi, oleh karena kemungkinan
melukai pembuluh darah besar, struktur hilus dan jantung yang potensial
menjadi tamponade jantung. Torakotomi harus dilakukan oleh ahli bedah,
atau dokter yang sudah berpengalaman dan sudah mendapat latihan.9

31
 Cedera trakea dan Bronkus.
Cedera ini jarang tetapi mungkin disebabkan oleh trauma tumpul atau
trauma tembus, manifestasi klinisnya yaitu yang biasanya timbul dramatis,
dengan hemoptisis bermakna, hemopneumothorax, krepitasi subkutan dan
gawat nafas. Empisema mediastinal dan servical dalam atau pneumothorax
dengan kebocoran udara masif. Penatalaksanaan yaitu dengan pemasangan
pipa endotrakea (melalui kontrol endoskop) di luar cedera untuk kemungkinan
ventilasi dan mencegah aspirasi darah, pada torakostomi diperlukan untuk
hemothorax atau pneumothorax.9
 Cedera esofagus

Walaupun cedera esofagus jarang erjadi, namun kondisinya tak dapat


ditoleransi jika lambat di deteksi dan mengharuskan intevensi operasi.
Penyebab dapat berupa trauma tumpul ataupun trauma penetrasi, serta oleh
karna penyakit lain.11

Pasien dengan cedera esofagus dapat menunjukkan berbagai gejala


seperti abses mediastinal, demam hingga sepsis, dan empyema. Sedangkan
pemeriksaan diagnostic tambahan yang diperlukan berupa Chest x-ray, CT-
scan tanpa atau dengan kontras, endoskopi , serta esofagostomi.11

Tatalaksana paling utama merupakan operasi untuk memperbaiki cedera


esofagus, dan tatalaksana lainnya sebelum atau saat penundaan operasi yaitu
terapi konservatif.11

 Ruptur Diafragma
Ruptur diafragma disebabkan oleh trauma tumpul pada daerah toraks
inferior atau abdomen atas. Trauma tumpul di daerah toraks inferior akan
mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdominal yang diteruskan ke
diafragma. Ruptur terjadi bila diafragma tidak dapat menahan tekanan
tersebut. Dapat pula terjadi ruptur diafragma akibat trauma tembus pada
daerah toraks inferior. Pada keadaan ini trauma tembus juga akan melukai

32
organ-organ intratoraks atau intraabdominal. Ruptur diafragma umumnya
terjadi di puncak atau kubah diafragma. Kejadian ruptur diafragma sebelah
kiri lebih sering daripada diafragma kanan. Pada ruptur diafragma akan terjadi
herniasi organ viseral abdomen ke toraks dan dapat terjadi ruptur ke intra
perikardial. Diagnostik dapat ditegakkan dari anamnesis, gejala klinis dan
pemeriksaan penunjang, yaitu riwayat trauma tumpul toraks inferior atau
abdomen. Tanda dan gejala klinis sesak atau respiratory distress, mual-
muntah, tanda-tanda akut abdomen. Dari pemeriksaan foto toraks dengan
NGT terpasang dijumpai pendorongan mediastinum kontralateral dan terlihat
adanya organ viseral di toraks. Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan
torakotomi eksplorasi emergensi dan dapat diikuti dengan laparotomi apabila
diperlukan.9

b. Trauma Jantung dan Aorta


 Cedera Aorta
Kematian trauma akibat kecelakaan lalu lintas (KLL) diantaranya 15
% disebabkan oleh cedera aorta torakal. Sebagian besar diantara pasien itu
meninggal ditempat karna terjadinya transeksi/ruptur aorta, sedangkan
sisanya bertahan hingga unit gawat darurat (UGD) karna biasanya hanya
memiliki robekan kecil pada aorta atau dengan formasi pseudoaneurysm.3

Diagnosis pada cedera aorta ditentukan dari gejala klinis dan


radiologi. Berdasarkan gejala klinis cedera trauma aorta seperti nyei dada,
nyeri mid-scapular (daerah punggung atas), dan atau diikuti ketidakstailan
hemodinamik jarang muncul, sehingga kecurigaan berdasarkan mekanisme
jatuh pasien saat kecelakaan dengan tanda tanda trauma dada external.3

Berdasarkan radiologi awal maka akan dilakukan chest x-ray AP


sebagai screening. Sedangkan yang bernilai diagnostic adalah CT scan
dengan kontras dan CT Angiografi.3

33
Tatalaksana pada pasien dengan cedera aorta dibagi dalam 3 kelompok
berdasarkan jenis cederanya:

1. Transeksi/ rupture aorta : kematian langsung.


2. Cedera Aorta dengan hemodinamik tak stabil : control perdarahan,
perbaiki hemodinamik, Operasi perbaikan endovaskular segera.
3. Cedera aorta dengan hemodinamik stabil: control tekanan darah.3
 Temponade jantung

Temponade jantung merupakan sinrom klinik yang disebabkan oleh


akumulasi cairan di rongga perikard, menyebabkan penurunan pengisian dari
ventrikel sehingga dapat mengganggu hemodinamik dan dapat berkomplikasi
kepada edema pulmonal, syok dan kematian.12

Gejala disesuaikan dengan penyebab terjadinya temponade. Namun


pada pasien dengan temponade jantung akut memiliki gejala yakni dyspnea,
takikardi dan takipnea, serta pada ujung jari extremitas menjadi dingin oleh
karna erjadinya hipo-perfusi. Gejala dan tanda lainnya berupa:

- Peningkatan JVP
- Pulsus paradoxus
- Dada rasa tertekan
- Urin output menurun
- Kebingungan
- Disforia.12

Diagnosis tepat bertujuan untuk menurunkan angka mortalitas karna


temponade jantung. Pemeriksaan penunjang pada temponade jantung berupa
echocardiografi yang didapatkan kelainan jantung secaa fungsi dan
structural.12

Tatalaksana paling utama yakni mengeluarkan cairan secepatnya


dari rongga perikard, ada 3 metode cara mengeluarkan cairan dari rongga
perikard, yakni:

34
- Drainase subxipoid perkutaneus darurat
- Perikardiosintesis (dengan atau tanpa hasil echo)
- Perikardiotomi perkutanus balon.12

Tatalaksana terapi obat-obatan pada temponade jantung adalah


terbatas/sulit.12

Pemeriksaan Dalam Pada Rongga Thorax

 Pneumothorax dan Hemothorax pada otopsi

Deteksi pneumothorax mudah dilakukan dengan melakukan irisan pada


kulit dan jaringan subkutan dinding dada dan membentuk sebuah saku yang
berdekatan dengan costa. Kemudian bentukan saku tadi diisi air, kemudian
dengan menggunakan scalpel irislah secara perlahan kavitas thorax (dinding
dada). Pada neonates dan infant kecil, thorax nya langsung di rendam ke dalam
baskom berisi air. Kemunculan gelembung udara mengindikasikan pneumothorax.

Hemothorax dan pneumothorax merupakan penemuan tersering ketika


terjadi fraktur pada dinding dada. Risiko komplikasi ini meningkat jika jumlah
fraktur costa semakin banyak. Pneumothorax disebabkan oleh laserasi paru,
sedangkan hemothorax biasanya disebabkan oleh trauma pembuluh darah pada
paru, jantung dan pembuluh darah besar dalam rongga dada.

Robekan oleh fraktur costa dapat menyebabkan robekan pada permukaan


pleura dan laserasi paru, dapat disebabkan oleh mekanisme lainnya, dan dapat
pula muncul di daerah hilum. Sementara itu, perdarahan akibat laserasi paru dapat
berhenti, persisten, atau rekuren.

Jika melakukan observasi hemothorax dengan menyeluruh, maka vena


azygos harus di inspeksi in situ setelah darah di bersihkan dari rongga
pleura.13,14,15

35
Gambaran : Kumpulan cairan non inflamasi dalam rongga pleura dapat berisi
cairan serous, limfe (Cylothorax) atau darah (hemothorax). Hemothorax yang
ditunjukkan disini biasanya komplikasi dari cedera trauma.13,14,15

 Temponade Jantung

Gambaran hemoperikardium sebanyak 200cc

36
Gambaran hemoperikardium

Trauma tumpul pada jantung disebabkan secara langsung oleh


pengaruh precordial, dengan atau tanpa fraktur kosta dan sternal, dan
secara tidak langsung oleh peningkatan tekanan intracardiac dari proses
kompresi dan deselerasi.13,14,15

Laserasi perikard sering dihubungkan dengan penetrasi oleh fraktur


kosta pada dinding dada. Rupture jantung dan trauma pembuluh darah
merupakan hal yang biasa terjadi bersamaan. Laserasi diobservasi pada
diafragma, mediastinum superior, atau aspek lateral dari perikardium
parietal. Sisi kiri adlah yang paling sering. Robekan pleuroperikardial
lateral biasanya vertical, panjangnya bervariasi dan kadang berhubungan
dengan nervus phrenicus.13,14,15

Robekan perikard mencegah temponade jantung, sebaliknya


hemothorax, hemoperitoneum atau perdarahan mediastinal menyebabkan
temponade jantung. Herniasi jantung melalui pleiroperikardial lateral yang
defek, terutama di sisi kiri menyebabkan ketidakstabilan hemodinamik
berat.13,14,15

Perlambatan kematian adalah mungkin. Organ intra-abdomen dapat


herniasi melalui defek pada diafragma, sehingga menekan jantung dan
menyebabkan temponade jantung.13,14,15

37
 Trauma Aorta

Trauma tumpul dapat merobek katup tricuspid dan katup mitral serta corda
tendinae dan muskulus papillary. Robekan katup aortic dapat muncul sehingga
menyebabkan insufisiensi dari robekan intimal aortic yang telah diamati.13,14,15

Robekan multiple traumatic intimal pada aorta desendens torakalis


dibawah robekan isthmus aorta. Robekan superfisial multiple telah dianggap
sevagai tanda peningkatan tekanan aorta saat terjadi benturan.13,14,15

38
Diseksi aorta dan cabang utamanya telah diamati. Diseksi dapat muncul
pada segmen apapun pada aorta. Gangguan intimal oleh plak atherosclerosis dapat
menjadi penyebab kejadian awal. Penentuan apakah robekan aorta terjadi sebelum
atau setelah kejadian traumatik tergantung pada keadaan dan temuan patologis.
Nyeri dada atau nyeri punggung sebelum kejadian dan bukti adanya degenerasi
aorta (cystic medionecrosis) dapat menyebabkan diseksi spontan.13,14,15

 Fraktur Iga/Costa.13,14,15

Gambaran Fraktur pada Costa pada pemeriksaan dalam.

39
DAFTAR PUSTAKA

1. Snell RS.Clinical Anatomy. 7thed. USA: Lippincott Williams &


Wilkins;2009
2. Ellis Harold, Clinical Anatomy applied anatomy for students and junior
doctors 11ed . Blackwell.2008.
3. Sabiston. Buku Ajar bedah Bagian 1. Jakarta. EGC .2011
4. Shahani Rohit,MD. Penetrating Chest Trauma.
http://emedicine.medscape.com/article/425698-overview#showall Updated:
Nov 06, 2015.
5. Prasenohadi, Sunartomo T.2012.Penatalaksanaan Pasien Trauma dengan
Fraktur Iga Multiple. Laporan Kasus: Volume 2 Nomor 3 Juli 2012.
6. Labora J.R, Kristianto E.G. Siwu J.F. 2015. Pola cedera toraks pada
kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kematian di bagian forensik dan
medikolegal rsup prof. Dr. R.d. Kandou periode januari 2013- januari
2014. Manado: Jurnal Biomedik (JBM), Volume 7, Nomor 1, Maret 2015, hlm.
42-47
7. Lugo V.W., 2015. Chest Trauma: An Overview. Journal of Anesthesia &
Critical Care: Open Access; Volume 3 Issue 1 – 2015
8. Tanto, chris. Liwang, Frans. Hanifati, Sonia. Pradipta, Eka P. Kapita Selekta
Kedokteran essentials of medicine. Edisi 4. Jakarta: Media Aesculapius,
2014.
9. American Collage of Surgeons (ACS) committee on Trauma. Advanced
Trauma Life Support (ATLS) Students Caourse Manual. 9ed. . 2013.
10. Wibison, M.J. Winarian. Hariadi, S.Ilmu Penyakit Paru. Departemen Ilmu
Penyakit Paru FK Unair.RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.2010.
11. Mattox, KL. The Injured Esophagus. 2010. The Texas Heart Institute
Houston.
12. Yarlagadda, C. Cardiac Temponade.
http://emedicine.medscape.com/article/152083-overview#a1. Updated: Dec
14, 2017.
13. Shkrum, MJ. Ramsay, DA. Forensic Pathology of Trauma. Humana Press
totowa, New Jersey. 2007.
14. Wagner, SA. Color Atlas of the Autopsy. CRC PRES. 2005.
15. Finkbeiner, WE. Ursell, PC. Davis, RL. Autopsy Pathology a Manual and
Atlas. 2nd Edition. Saunders Elsevier. 2009.

40