Anda di halaman 1dari 20

Dinamika Kepribadian Perempuan Biseksual: Studi Kasus pada Seorang

Perempuan Biseksual yang Mengalami Pelecehan Seksual

Siti Mu’allafah

Psikologi, Universitas Negeri Malang

ABSTRAK: Fenomena biseksualitas merupakan orientasi seksual yang tidak


lazim dan cenderung dikategorikan negatif oleh sebagian orang. Definisi
masyarakat akan apa yang normal, layak, benar dan alami memiliki pengaruh
besar atas bagaimana perasaan orang biseksual tentang orientasi seksual mereka.
Stereotip sosial yang semacam itu tidak sejalan dengan fakta bahwa di sekitar kita
terdapat individu-individu dengan orientasi seks yang berbeda. Orientasi seks
yang berbeda ini seringkali mendapatkan kritik yang negatif dari lingkungan tanpa
memperhitungkan bahwa stigma negatif yang diberikan ini juga melukai mereka.
Biseksual bisa terbentuk karena adanya faktor pendorong dari luar individu yang
sama sekali tidak ada hubungannya dengan keturunan, bisa jadi karena
lingkungan tempat tinggal, pola asuh, pengalaman masa lalu yang dalam hal ini
pelecehan seksual.
Hasil penelitian terhadap dinamika kepribadian perempuan biseksual yang
mengalami pelecehan seksual ini menghubungkan satu kesimpulan yang sama
dengan penelitian terdahulunya, bahwa kasus pelecehan seksual terhadap anak
(dengan dinamika kepribadian yang berbeda-beda) dapat menjadi salah satu faktor
pembentuk perilaku seksual yang abnormal, yang dalam hal ini adalah
biseksualitas.

Kata kunci: dinamika kepribadian, biseksual, pelecehan seksual

Dalam tatanan masyarakat Indonesia, fenomena biseksualitas merupakan


orientasi seksual yang tidak lazim dan cenderung dikategorikan negatif oleh
sebagian besar orang. Vitasandy dan Zulkaida (2010: 189-190) menyatakan
bahwa definisi masyarakat akan apa yang normal, layak, benar dan alami
memiliki pengaruh besar atas bagaimana perasaan orang biseksual tentang
orientasi seksual mereka. Pandangan negatif terhadap biseksualitas tersebut
menyebabkan seseorang dengan kecenderungan biseksual merasa terasing dari
dan ditekan oleh masyarakat.
Stereotip sosial mengenai apa yang normal, layak, benar, dan alami untuk
dilakukan oleh laki-laki dan perempuan itu tidak sejalan dengan fakta bahwa di
sekitar kita terdapat individu-individu dengan orientasi seks yang berbeda.
Orientasi seks yang berbeda ini seringkali mendapatkan kritik yang negatif dari
lingkungan tanpa memperhitungkan bahwa stigma negatif yang diberikan ini juga
melukai mereka (Nugraha, 2007).
Keberadaan kaum biseksual tidak dapat dikenali dengan mudah seperti
halnya homoseksual dan transeksual. Kelompok biseksual memang tidak
menampakkan diri secara fisik, sehingga tidak mudah dikenali. Seseorang yang
tampak sebagai laki-laki tulen, bahagia dan harmonis dengan istri, misalnya
ternyata juga berhubungan dengan laki-laki. Seorang laki-laki yang diketahui
playboy dengan banyak pacar perempuan, juga dapat memiliki kecenderungan
untuk berhubungan seks dengan sesama laki-laki juga (Darmawan, 2008).
Sigmund Freud (dalam Darmawan, 2008) menyatakan bahwa manusia
sebenarnya memiliki sifat biseksual bawaan. Ini berarti setiap orang memiliki
dasar dan peluang menjadi biseks. Merujuk pada teori hormonal bahwa setiap
manusia sebenarnya memiliki unsur hormon laki-laki maupun perempuan, tarik
menarik unsur tersebut sebagai hal yang biasa dan mudah terjadi.
Wiener dan Breslin (1995: 154-155) menyatakan bahwa terbentuknya
orientasi seksual seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain sistem
hormonal, neurofisiologi, sosiokultural (termasuk budaya, keluarga, perbedaan
sosioekonomi, dan pendekatan religiusnya), serta faktor psikologis lainnya
(seperti pengalaman seksual dan juga trauma seksual individu).
Pernyataan Wiener dan Breslin didukung oleh hasil penelitian The Kinsey
Institute for Research in Sex, Gender, and Reproduction (dalam Darmawan, 2008)
yang menunjukkan bahwa proses pembentukan orientasi seksual tidak semata
karena keturunan, tapi bisa juga karena faktor-faktor lain seperti lingkungan,
situasi dan juga psikososial. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan pendapat
Nugraha (2008) yang menyatakan bahwa biseksual bisa terbentuk karena adanya
faktor pendorong dari luar individu yang sama sekali tidak ada hubungannya
dengan keturunan, bisa jadi karena lingkungan tempat tinggal, pola asuh,
pengalaman masa lalu yang dalam hal ini pelecehan seksual.
Sebuah studi di Amerika (dalam RHO, 2011) menunjukkan bahwa
sebagian besar kaum biseksual memiliki pengalaman dilecehkan, diperkosa, dan
menjadi korban kekerasan di masa kanak-kanaknya. Katy (2009) juga
menjabarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh The National Health and Social
Life Survey (NHSLS) yang menunjukkan bahwa 1,51% dari populasi orang
Amerika yang diidentifikasi sebagai gay, lesbi, dan biseksual pernah mengalami
pelecehan seksual pada masa kanak-kanaknya. Nevid, dkk (2005: 227)
menyebutkan bahwa pengaruh dari luar itu berlangsung perlahan dan tidak terasa
namun memiliki dampak yang parah dalam jangka panjang. Konsekuensi
penganiayaan secara seksual terhadap anak dapat berdampak parah dan berjangka
panjang, menyebabkan masalah-masalah emosional dan kesulitan dalam
mengembangkan hubungan intim dalam jangka panjang pada masa depan anak.
Beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas memberikan
pengertian bahwa orientasi seksual seseorang tidak hanya ditentukan oleh faktor
genetik saja, melainkan ada banyak faktor yang juga menentukan misalnya saja
lingkungan, pola asuh, kondisi sosioekonomi, dan juga pendekatan religiusnya.
Begitupula dengan orientasi seksual pada kaum biseksual yang juga ditentukan
oleh beberapa faktor pemicu.

METODE

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan


kualitatif. Menurut Banister, dkk (1994: 2), penelitian kualitatif adalah studi
interpretatif terhadap suatu masalah atau isu khusus dimana peneliti menjadi pusat
dalam konteks tersebut. Sementara itu, Wiseman (dalam Hanurawan, 2001: 11)
mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai penelitian yang memiliki tujuan
dokumentasi, identifikasi dan interpretasi mendalam terhadap pandangan dunia,
nilai, makna, keyakinan, pikiran dan karakteristik umum seseorang atau
sekelompok orang atau sekelompok masyarakat tentang peristiwa-peristiwa
kehidupan, situasi kehidupan, kegiatan-kegiatan ritual dan gejala-gejala khusus
kemanusiaan lainnya.
Model atau rancangan dalam penelitian ini adalah penelitian studi kasus
(case study). Faisal (2008: 22) mendefinisikan studi kasus sebagai pendekatan
dalam penelitian yang penelaahannya kepada satu kasus dilakukan secara intensif,
mendalam, mendetail, dan komprehensif. Pada penelitian model studi kasus,
berbagai variabel ditelaah dan ditelusuri, termasuk juga kemungkinan hubungan
antar variabel yang ada.
Hubungan antara peneliti dan realitas penelitian dalam penelitian studi
kasus bersifat interaktif dan tidak dapat dipisahkan karena ada dalam kondisi
independent a dualism (dalam Hasan, 2002) dimana peneliti bertindak sebagai
observer dan juga interviewer untuk mengungkap tujuan awal penelitian yaitu
mengungkap semua pola yang saling berkaitan dalam menjelaskan dinamika
kepribadian perempuan biseksual yang mengalami pelecehan seksual.
Berdasarkan teknik purposive sampling, dipilih satu orang untuk menjadi
subjek penelitian, dengan kriteria: (1) Perempuan, hal ini terkait dengan fakta
penelitian yang menyebutkan bahwa wanita lebih rentan mengalami kasus
pelecehan seksual. (2) Perempuan biseksual, sesuai dengan konstruk psikologi
yang ingin diungkap dalam penelitian ini. (3) Perempuan biseksual yang
mengalami pelecehan seksual di masa lalunya. (4) Bersedia menjadi partisipan
penelitian.
Penelitian ini dilakukan selama selama kurang lebih 7 bulan, yaitu sejak
awal September 2011 sampai akhir Maret 2012 dalam setting kehidupan sehari-
hari partisipan yang bertempat di desa Kelampok, Kecamatan Klojen, Malang.
Lokasi lain yang mendukung penelitian ini adalah food court Matos, daerah
Kasin-Malang, dan daerah Pulungan, Pandaan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
observasi partisipan pasif dan wawancara mendalam. Observasi merupakan
pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada
objek penelitian (dalam Satori & Komariah, 2009: 105). Sedangkan wawancara
merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya
jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu (dalam
Sugiono, 2010: 72).
Data yang diperoleh dalam penelitian kemudian dianalisis secara constant
comparative method, yaitu dengan reduksi data, kategorisasi, sintesisasi, dan
penyusunan hipotesis kerja (Moleong, 2008: 288) Teknik pengecekan keabsahan
temuan yang digunakan dalam penelitian ini adalahadalah validitas deskriptif,
validitas interpretif, dan validitas teoritis (dalam Hanurawan, 2012: 76-78).
HASIL

Dinamika kepribadian subjek penelitian didominasi oleh id (konsep Freud)


dan tak sadar kolektif (konsep Jung) yang tinggi sehingga ego (kesadaran) dan
superego (nilai-nilai moralnya) lemah. Keinginan untuk selalu memenuhi insting
seksnya membuat Mothy tidak lagi menganggap aktivitas seksualnya sebagai
bentuk pelecehan, tetapi kenikmatan seksuallah yang mengendalikan dirinya
secara tidak disadari untuk terus melakukan pengulangan (disebut Jung sebagai
kompleks).
Perilaku seksual subjek dipelajari dari kasus-kasus pelecehan seksual yang
dialaminya. Kasus-kasus tersebut dipelajari subjek sebagai suatu kondisioning
(konsep behaviorisme). Aktivitas seksual yang diakuisisikan dengan otoritas ayah
akan memunculkan respon kesediaan anak untuk patuh. Sehingga lama-kelamaan
ketika stimulus seksual tidak lagi dihadirkan bersamaan dengan otoritas ayahnya,
Mothy akan tetap melakukannya. Ucapan terima kasih ayahnya menjadi
reinforcement positif bagi Mothy untuk terus mengulangi perilaku seksualnya itu.
Pelecehan seksual yang terjadi berulang-ulang membuat Mothy
melekatkan persepsi subjektif (konsep Adler) sebagai “tumbal seksual” dan
konsep diri ideal (konsep Horney) bahwa aktivitas seksual sebagai sesuatu yang
harus dia lakukan jika dia ingin mendapatkan kasih sayang (id). Persepsi subjektif
dan konsep diri ideal inilah yang menyebabkan Mothy menciptakan tujuan final
fiktif tentang pelecehan seksual sebagai jalan hidupnya dan seperti itulah dia
harus menjalaninya. Secara perlahan tujuan final fiktif ini berkembang menjadi
gaya hidup yang sulit dirubah.
Gaya hidup yang didominasi oleh seksualitas ini membuat Mothy mencari
aktivitas yang paling berpeluang sukses untuk memenuhi kebutuhan instingtifnya,
yaitu dengan menjadi wanita panggilan (baik dengan laki-laki maupun
perempuan). Kepuasan dan uang yang dia peroleh dari ativitas tersebut menjadi
reward yang menyebabkan aktivitas seksual dipandang sebagai sesuatu yang
berharga. Dibalik kepuasan dan uang yang dia peroleh, subjek juga mengalami
kecemasan moral (kemungkinan disalahkan oleh masyarakat) dan kecemasan
neurotik (hukuman dari masyarakat) atas perilaku seksualnya tersebut.
Kecemasan-kecemasan ini membuat Mothy mengembangkan inferiorita kompleks
(konsep Adler) untuk memanipulasi perilaku atau respon orang lain atas perilaku
seksualnya. Mothy berharap orang yang mendengarnya menjadi simpati dan tidak
meyalahkannya tetapi menganggapnya sebagai korban denga menimpakan
kesalahan tersebut pada pelaku (disebut Freud sebagai proyeksi). Kecemasan-
kecemasan ini juga ditutupi dengan sesalan (excuses), pengakuan dosa (undoing),
dan menarik diri (withdrawal). Memilih menarik diri dari lingkungan orang-orang
baru dan tetap tinggal dengan orang-orang lama yang sebagian besar pernah
melecehkannya dianggap sebagai upaya untuk menghindari kasus-kasus
pelecehan lainnya. Padahal para pelaku sebenarnya melakukan pelecehan seksual
pada dirinya karena cue stimulus (konsep Miller dan Dollard) yang ditunjukkan
subjek. Orang lain (pelaku) memiliki keinginan untuk melakukan aktivitas dengan
subjek mungkin karena cue stimulus subjek melalui bahasa tubuhnya dibaca oleh
pelaku sebagai ajakan untuk melakukan hubungan seksual. Sehingga dalam hal ini
subjek dan pelaku saling membaca cue (pertanda) masing-masing yang
menunjukkan keinginan seksual yang sama untuk memenuhi hasrat seksual yang
akan berakhir pada suatu aktivitas seksual.

PEMBAHASAN

1. Dari Perspektif Teori Psikoanalisis Klasik (Sigmund Freud)


Menurut Freud (dalam Alwisol, 2005: 24-25), dinamika kepribadian
ditentukan oleh cara energi psikis didistribusi dan dipakai oleh id-ego-superego.
Jumlah energi psikis yang tersedia jumlahnya terbatas, sementara ketiga unsur
struktur kepribadian itu bersaing untuk mendapatkannya. Kalau salah satu unsur
menjadi lebih kuat, maka dua unsur yang lainnya menjadi lemah.
Struktur kepribadian yang paling menonjol dalam diri Mothy adalah unsur
id-nya. Hal ini ditunjukkan dengan 11 kehamilan yang pernah dia alami, yaitu 2
kehamilan yang dilahirkan dan 9 kehamilan yang digugurkan. Kehamilan yang
terjadi sampai berkali-kali ini menunjukkan bahwa Mothy terlalu menuruti insting
seksualnya tanpa memperhatikan akibat apa yang akan dia terima dari kehidupan
seksualnya yang “liar” tersebut. Kekuatan id yang besar tentu berbanding terbalik
dengan superego Mothy yang sangat lemah. Pembentukan superego seseorang
terkait dengan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan oleh orang tua pada anak.
Kehidupan religius yang hampir sama sekali tidak pernah disinggung subjek
dalam penelitian ini mungkin menjadi satu petunjuk penting bahwa Mothy dan
keluarganya tidak memiliki kehidupan religius yang baik. Penanaman nilai-nilai
moral terkait dengan seksualitas juga tertanam secara tidak benar. Dalam hal ini
ayah Mothy mengajarkan konsep “seksual” sebagai sesuatu yang benar untuk
dilakukan, yang diajarkan melalui kasus pelecehan pertama yang dialami subjek
dengan pelaku ayahnya sendiri.
Menjadi anak ke-enam dari tujuh bersaudara tentu saja membuat Mothy
dan saudara-saudaranya saling berebut kasih sayang dari orang tua mereka.
Mendapatkan kasih sayang dari orang tua merupakan salah satu kebutuhan dasar
yang sudah pasti dimiliki oleh setiap anak. Kalimat “ayah sayang sekali sama
adek, sama kakak-kakak juga. Kakak semuanya juga pernah ayah gituin dek. Sakit
ya? Tapi adek harus mau ya nanti kalo ayah suruh lagi?” yang diungkapkan oleh
ayah Mothy setelah melakukan pelecehan terhadap Mothy diartikan bahwa
“aktivitas seksual” dengan ayah merupakan syarat untuk mendapatkan kasih
sayang dari ayahnya. Sehingga dalam hal ini ego-nya menerima pelecehan seksual
tersebut sebagai upaya untuk memperoleh kasih sayang dari ayah, apalagi
saudara-saudaranya yang menjadi rival dalam perebutan kasih sayang juga
mendapatkan perlakuan “seksual” yang sama. Tentu saja dalam kasus ini Mothy
menerima aktivitas seksual sebagai ego ideal atau sebagai sesuatu yang memang
seharusnya dilakukan, dan pelecehan seksual yang dilakukan ayah
diinterpretasikan sebagai standar sosial yang ditetapkan oleh ayahnya sebagai
bentuk kasih sayang orang tua dan anak.
Pelecehan seksual yang terjadi berkali-kali membentuk pola seksualitas
dalam diri Mothy (dibahas dalam perspektif behaviorisme), sehingga lama-
kelamaan secara tidak sadar Mothy menikmati semua aktivitas seksual tersebut
(dibahas dalam perspektif psikologi analitikal Jung). Alasan-alasan untuk tidak
lagi menghindari pelecehan seksual yang dialaminya (seperti tidak ada gunanya
menghindar karena pelaku akan tetap menyetubuhinya, kekerasan yang akan
dilakukan oleh pelaku jika Mothy menolak, dan anggapan bahwa tubuhnya tidak
lagi berharga) merupakan bentuk representasi dari kecemasan moralnya. Mothy
sebenarnya juga memiliki kecemasan tentang kemungkinan masyarakat akan
menyalahkan perilaku seksualnya yang menyimpang, sehingga dalam hal ini
alasan-alasan tersebut digunakan sebagai bentuk mekanisme pertahanan ego
dalam wujud proyeksi. Alasan-alasan yang dia ungkapkan tersebut adalah upaya
untuk menutupi kenyataan bahwa sebenarnya Mothy mulai menikmati semua
aktivitas seksual tersebut, namun Mothy menyatakan alasan-alasan tersebut untuk
menimbulkan kesan bahwa dia adalah korban. Dengan alasan-alasan tersebut,
Mothy berharap orang yang mendengar alasan tersebut tidak akan menyalahkan
perilaku seksual Mothy yang menyimpang tersebut karena Mothy adalah korban,
dan tentu saja orang-orang akan menyalahkan pelaku yang menjadi tokoh kunci
dalam pelecehan tersebut. Proyeksi yang lainnya ditunjukkan dalam pengalaman
peneliti saat terkunci di kamar mandi dengan Mothy. Pada saat itu Mothy
memeluk peneliti di kamar mandi dengan alasan takut tetapi Mothy tidak
berusaha membuka pintu kamar mandi dan justru menyandarkan dirinya pada
pintu kamar mandi sehingga peneliti tidak bisa keluar dari kamar mandi. Hal ini
menunjukkan adanya keinginan yang sangat kuat untuk melakukan hubungan
seksual dengan peneliti tetapi ada ketakutan dalam dirinya kalau peneliti menolak
dan menyalahkan dia atas perilaku tersebut, sehingga seolah-olah peneliti yang
mendorong dia ke arah pintu kamar mandi.
Pemilihan jalan hidup dengan menjadi wanita panggilan adalah salah satu
bukti bahwa Mothy hanya mementingkan dorongan instingtifnya. Padahal jika
Mothy memiliki ego yang baik tentunya dia bisa menyesuaikan upaya pemenuhan
kebutuhan seksualnya dengan cara-cara yang sesuai dengan realita (misalnya
dengan menikah) sebagai pemecahan masalah yang paling masuk akal dan benar
secara sosial. Superego yang lemah juga tidak bisa mengendalikan dorongan
instingtifnya, Mothy tidak lagi memperdulikan pandangan orang lain tentang
dirinya. Yang terpenting baginya adalah kebutuhan seksualnya dapat terpuaskan.
Mekanisme pertahanan ego lain yang juga digunakan oleh Mothy adalah
intelektualisasi yang diwujudkan dalam bentuk undoing. Mekanisme ini
ditunjukkan Mothy dengan berkali-kali melakukan pengakuan dosa di gereja,
maksudnya adalah untuk menyembunyikan kecemasan moral terhadap ketakutan
akan dosa-dosa yang selama ini dia lakukan. Undoing biasanya berwujud
perbuatan positif dalam bentuk “tingkah laku ritual” yang digunakan untuk
menutupi atau menghilangkan kecemasan dan dosa akibat kegiatan negatif yang
telah dilakukan.

2. Dari Perspektif Teori Psikologi Analitik (Carl Gustav Jung)


Menurut Jung (dalam Alwisol, 2005: 61-62), berfungsinya kepribadian
tergantung pada bagaimana energi dipakai. Jung mengajukan struktur kepribadian
meliputi kesadaran (consciusness) dan ego, taksadar personal (personal
unsconcious) dan kompleks (complexes), serta taksadar kolektif (collective
unconscious) yang berisi arsetip-arsetip. Kesemua struktur pembentuk
kepribadian itu menjadi predisposisi bagaimana orang menerima dan merespon
dunianya (dalam Alwisol, 2005: 47).
Bahasan dinamika kepribadian Mothy dari perspektif Jung hampir sama
dengan yang dijelaskan dalam teori Freud. Berdasarkan sudut pandang Jung,
dinamika kepribadian Mothy didominasi oleh taksadar kolektif (mirip dengan
konsep id dari Freud) yang berisi arsetip-arsetip. Arsetip yang paling menonjol
dalam diri Mothy adalah arsetip shadow yang berwujud dalam insting
kebinatangan yang mendalam dalam kepribadian manusia. Arsetip ini
disembunyikan dibalik persona agar tidak muncul ke kesadaran dan menimbulkan
celaan dari masyarakat. Namun, kelemahan dari ego dalam menahan insting
kebinatangan dalam diri Mothy menyebabkan shadow dalam bentuk perilaku
seksual yang secara terus menerus dilakukan oleh Mothy.
Pada awalnya, aktivitas seksual Mothy memang diperoleh dari kasus
pelecehan seksual yang dialaminya. Secara berkala sakit yang dia peroleh dari
kasus-kasus pelecehan seksual tersebut menumbuhkan kenikmatan yang tidak
disadari oleh Mothy. Kejenuhan terhadap kasus pelecehan seksual yang terjadi
secara berulang-ulang inilah yang akhirnya menimbulkan kompleks seksual, yang
lama kelamaan akan menguasai diri Mothy. Kasus-kasus pelecehan seksual yang
berkali-kali diterimanya ini berusaha ditekan dan dilupakan di daerah taksadar
pribadi sebagai kompleks seksual. Dalam keadaan jenuh, Jung mengatakan bahwa
bukan orang itu yang memiliki kompleks tetapi komplek-lah yang menguasai
orang itu. Implementasinya dalam kasus ini adalah pada akhirnya bukan sekedar
kenikmatan yang dirasakan oleh Mothy, tetapi kenikmatan itulah yang akhirnya
menguasai diri Mothy. Mungkin hal inilah yang menjadi alasan mengapa akhirnya
Mothy bertahan dalam kondisi pelecehan-pelecehan seksual tersebut, bukan lagi
untuk mendapatkan kasih sayang ayah semata tetapi juga peran kompleks seksual
yang mengendalikan dirinya namun tidak pernah ia sadari. Kenikmatan yang
secara tidak sadar ia rasakan inilah yang membuat hampir seluruh perilakunya
diorientasikan dalam hubungan seksual, baik dengan laki-laki maupun
perempuan.

3. Dari Perspektif Teori Psikologi Individual (Alfred Adler)


Menurut Adler (dalam Alwisol, 2005: 77-78), masalah hidup selalu
bersifat sosial. Fungsi hidup sehat bukan hanya mencintai dan berkarya, tetapi
juga merasakan kebersamaan dengan orang lain dan mempedulikan kesejahteraan
mereka. Manusia dimotivasi oleh dorongan sosial, bukan dorongan seksual. Cara
orang memuaskan kebutuhan seksual ditentukan oleh gaya hidupnya, bukan
sebaliknya dorongan seks yang mengatur tingkah laku. Pokok-pokok penting
dalam teori Adler mencakup enam hal, yaitu: (a) bahwa satu-satunya kekuatan
dinamik yang melatarbelakangi aktivitas manusia adalah perjuangan untuk sukses
dan menjadi superior , (b) persepsi subjektif individu membentuk tingkah laku
dan kepribadian, (c) semua fenomena psikologis disatukan di dalam diri individu
dalam bentuk self, (d) manfaat dari aktivitas manusia harus dilihat dari sudut
pandang interes sosial, (e) semua potensi manusia dikembangkan sesuai dengan
gaya hidup dari self, dan (f) gaya hidup dikembangkan melalui kekuatan kreatif
individu.
Perilaku yang menonjol dalam diri Mothy bukanlah bagaimana bangkit
dari keadaan inferiornya untuk menuju superiorita. Sebaliknya yang banyak dia
tampakkan adalah kompleks inferiorita (inferiority komplex). Mothy
menggunakan pengalaman-pengalaman hidupnya yang tragis sebagai upaya untuk
mendapatkan pelayanan khusus dari orang lain, dalam hal ini Mothy memiliki
perasaan superior yang tersembunyi dengan keyakinan bahwa kesulitannya
bukanlah karena kesalahannya dan dengan begitu dia akan mendapatkan
perlakuan istimewah dari orang lain. Seperti dalam 3 kasus aborsi yang membuat
D dan WW menolongnya untuk membantu biaya kuretnya. Mothy menggunakan
pengalaman pelecehan-pelecehan seksual yang dia alami sebagai upaya untuk
menarik simpati dari orang lain. Dia berharap dengan pengalaman-pengalaman
tragis tersebut orang lain tidak akan menyalahkan dirinya tetapi menganggap
bahwa dirinya adalah korban dari “kekejaman hidup” yang mungkin bisa
menimpa siapa saja. Pengalaman-pengalaman tragis yang terus menerus dia
ungkapkan inilah yang akhirnya menyebabkan D dan WW merasa kasihan dan
ingin menolong Mothy keluar dari kehidupannya yang berantakan. Tentu saja
dalam hal ini D dan WW tidak memahami bahwa dalam cerita-cerita tragis itu
Mothy menyelipkan perasaan superiorita untuk memanipulasi perilaku orang lain
agar mau memperlakukannya secara spesial.
Penemuan lainnya yang bisa dijelaskan dengan perspektif Adler adalah
alasan Mothy untuk tetap bertahan dalam kondisi pelecehan seksual yang terus
berulang adalah karena dia memiliki persepsi subjektif dengan melabeli dirinya
sebagai “tumbal seksual” dalam praktik paranormal ayahnya. Persepsi subjektif
ini sedikit banyak memberikan kontribusi terhadap alasan Mothy untuk bertahan
dalam kondisi rumahnya yang “tidak sehat” tersebut. Persepsi subjektif Mothy ini
dikembangkan menjadi tujuan final fiktif yang akan membimbing gaya hidupnya.
Tujuan final fiktif yang ia ciptakan adalah bahwa setiap perilaku seksualnya pada
akhirnya merupakan tujuan yang harus dia lakukan untuk mendapatkan kasih
sayang orang tua (terutama ayah, yang telah dijelaskan dalam teori Freud).
Interpretasi terhadap pengalaman pelecehan seksual selalu disesuaikan dengan
makna yang telah ditetapkan. Makna aktivitas seksual sebagai bentuk kasih
sayang anak terhadap ayah selalu disesuaikan dengan aktivitas seksual yang dia
jalani. Dalam hal ini aktivitas seksual telah menjadi gaya hidup yang tidak mudah
berubah, bahkan ketika diketahui bahwa itu salah.
Anak yang diperlakukan salah dan disiksa mengembangkan minat sosial
yang kecil, mempunyai rasa percaya diri yang rendah dan cenderung membesar-
besarkan kesulitan yang dihadapinya. Perlakuan seksual yang salah dari ayahnya
menyebabkan Mothy memiliki rasa percaya diri yang rendah untuk dapat
menerima kehadiran orang-orang baru dalam hidupnya. Mothy menganggap
orang-orang baru tersebut akan melakukan pelecehan seksual juga terhadap
dirinya. Ketidakpercayaan Mothy terhadap dunia luar membuat Mothy cenderung
melindungi dirinya dengan beberapa cara. Cara pertama disebut sesalan (excuses)
oleh Adler. Sesalan yang paling banyak digunakan oleh Mothy dinyatakan dalam
kalimat “if-only” atau “sesungguhnya kalau”, misalnya saja dengan pernyataan
“sesungguhnya kalau waktu itu ayahku tidak melecehkanku, aku pasti akan lebih
baik dari ini”. Kalimat sesalan ini terus-menerus dia ungkapkan sehingga dia
terpuruk dalam perasaan inferior dan tidak berkembang.
Selain dengan sesalan, bentuk perlindungan diri lain yang juga digunakan
oleh Mothy adalah menarik diri (withdrawal). Bentuk menarik diri yang paling
menonjol dilakukan oleh Mothy adalah diam di tempat (standing still). Dalam
menyikapi pengalaman hidup yang buruk ini, Mothy menarik diri dari segala
ancaman yang bisa berpotensi kegagalan sehingga dia lebih memilih diam di
tempat. Bertemu dengan orang-orang baru mungkin menjadi ancaman tersendiri
bagi Mothy tentang kekhawatiran untuk dilecehkan lagi oleh orang-orang baru
tersebut. Ketakutan gagal dalam membina hubungan dengan orang baru ini
membuat Mothy memilih untuk diam di tempat dan membiarkan dirinya
dikelilingi oleh orang-orang lama yang sebagian besar adalah pelaku pelecehan
seksual yang dialaminya.
Konsep lain dari Adler yang penting dalam menjelaskan perilaku manusia
adalah mengenai fungsi hidup sehat yang bukan hanya meliputi mencintai dan
berkarya, tetapi juga merasakan kebersamaan dengan orang lain dan
mempedulikan kesejahteraan mereka. Melihat ibunya disiksa oleh ayahnya setiap
kali ingin membebaskan anak-anaknya dari perlakuan seksual yang salah dari
ayahnya menimbulkan konflik bathin tersendiri bagi Mothy. Jika dia bisa bertahan
dalam aktivitas seksual untuk mendapatkan “kasih sayang” dari ayahnya, tentu
saja seharusnya dia juga bisa melakukan hal lain yang serupa untuk membuat
ibunya aman dari penyiksaan ayahnya. Menerima pelecehan-pelecehan seksual
tersebut, mungkin juga Mothy artikan sebagai upaya untuk menyelamatkan
ibunya dari kekejaman ayahnya. Artinya adalah Mothy memiliki pertimbangan
bahwa mungkin dengan menerima pelecehan-pelecehan seksual tersebut ayahnya
tidak akan lagi menyiksa ibunya. Dalam hal ini Mothy membiarkan dirinya
dijadikan “tumbal seksual” oleh ayahnya, selain untuk mendapatkan kasih sayang
ayah juga untuk menyelamatkan ibunya dari kekejaman ayahnya tanpa
memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Hal inilah yang disebut oleh Adler
bentuk mensejahterakan masyarakat atau orang lain di sekitarnya tanpa
memikirkan kepentingan peribadinya.

4. Dari Perspektif Teori Psikoanalisis Sosial (Karen Horney)


Menurut Horney (dalam Alwisol, 2005: 165), kecenderungan neurotik
yang timbul dari kecemasan dasar berkembang dari hubungan anak dengan orang
lain. Dinamika kejiwaan yang terjadi menekankan pada konflik budaya dan
hubungan antar pribadi. Proses intrapsikis pada awalnya berasal dari pengalaman
hubungan antar pribadi, yang kemudian setelah menjadi bagian dari sistem
keyakinan mengembangkan eksistensi dirinya terpisah dari konflik interpersonal.
Untuk dapat memahami konflik intrapsikis yang sarat dengan dinamika diri,
Horney mengajukan empat gambaran konsep diri yang meliputi tiga konsep yang
subjektif dan satu konsep yang objektif. Konsep yang subjektif berupa pandangan
diri rendah, pandangan diri yang sebenarnya, dan pandangan diri yang
seharusnya. Sedangkan konsep yang objektif adalah pandangan diri yang apa
adanya.
Kecenderungan neurotik yang tumbuh dalam diri Mothy karena perlakuan
yang salah dari ayahnya menyebabkan adanya konflik intrapsikis dalam diri
Mothy. Konsep intrapsikis ini dipahami Mothy melalui empat konsep dari
Horney. Konsep-konsep subjektifnya meliputi: (a) Konsep diri rendah (Despised
Real Self) yang diwujudkan dalam evaluasi negatif yang dia lekatkan pada dirinya
seperti rasa bersalah yang berlarut karena ketidakmampuan untuk menolak semua
kasus pelecehan seksual yang dialaminya, perasaan bahwa tubuhnya tidak lagi
berharga dengan pelecehan seksual yang selama ini dia terima. Anggapan-
anggapan inilah yang akhirnya menyebabkan dirinya merasa tidak berdaya dan
tenggelam dalam “kehidupan seksual liar” yang sudah terlanjur melekat dalam
dirinya. (b) Konsep diri nyata (Real Self) yang hampir sama sekali tidak
ditunjukkan dalam perilaku Mothy. Hal ini terjadi karena yang paling menonjol
dalam diri Mothy adalah kebutuhan instingtifnya sehingga egonya tidak mampu
menyesuaikan tuntutan id dengan realita yang ada. (c) Konsep diri ideal (Ideal
Self) yang merupakan pandangan diri yang seharusnya. Tingginya konsep diri
rendah pada Mothy menyebabkan Mothy menetapkan ideal bahwa memang
seharusnya seperti inilah dirinya, menyikapi semua pelecehan seksual sebagai
sesuatu yang memang harus dijalaninya. (d) Konsep diri aktual (Actual Self) yang
tidak ditunjukkan oleh Mothy karena tertutupi oleh tingginya konsep diri rendah
dan konsep diri seharusnya. Hal ini menyebabkan Mothy tidak mampu melihat
dirinya sebagai kualitas yang apa adanya dan justru didominasi oleh tentang
bagaimana diri yang seharusnya.
Konsep diri ideal yang tinggi dalam menyikapi pelecehan seksual yang
dialaminya menyebabkan Mothy mencari keagungan neurotik dari perilaku
seksualnya. Konsep diri ideal itu dimasukkan secara komprehensif ke dalam
keseluruhan hidupnya, meliputi tujuan, konsep diri dan hubungannya dengan
orang lain. Orang semacam Mothy ini membutuhkan kesempurnaan (need for
perfection), mempunyai ambisi yang neurotik (neurotic ambition), dan dorongan
untuk menang dalam balas dendam (drive toward a vindivtive triumph).
Kebutuhan kesempurnaan diraih dengan membangun seperangkat
“keharusan” dan “ketidakharusan” yang kompleks. Untuk mencapai
kesempurnaan diri ideal yang khayal ini, Mothy secara tidak sadar mengatakan
pada dirinya sendiri: “Lupakan bahwa kamu itu makhluk yang memalukan karena
sering dilecehkan, inilah bagaimana kamu yang seharusnya”. Ketidaksadaran
inilah yang membuat dia merasa bahwa memang seperti inilah hidupnya dan
dengan cara inilah dia harus menjalaninya (dengan dominasi aktivitas seksual).
Pencarian keagungan diri melalui dorongan menjadi superior yang
kompulsif. Hal ini seperti yang telah dijelaskan dalam konsep inferiorita
kompleks milik Jung, bahwa Mothy menggunakan alasan-alasan yang
menyedihkan untuk menarik simpati orang lain demi memuaskan instingnya yang
kompulsif. Untuk memenuhi ini, Mothy secara teratur menyalurkan energinya ke
aktivitas yang paling berpeluang sukses. Pemilihan wanita sebagai partner seksual
setelah laki-laki mungkin merupakan alternatif pilihan yang paling berpeluang
untuk dapat dipuaskan dengan mudah. Mungkin saja perilaku seksual yang dia
lakukan dengan saudara-saudaranya yang sejenis merupakan akses termudah
untuk mendapatkan kepuasan seksual ketika tidak ada objek laki-laki yang bisa
menjadi pemuasnya.
Cara lain yang digunakan untuk memperoleh keagungan neurotik adalah
dorongan untuk balas dendam. Perasaan kecewa karena dilecehkan oleh ayah
yang seharusnya menjadi pelindungnya mungkin saja menyebabkan Mothy dan
saudara-saudaranya melakukan hal yang sama (pelecehan) dengan saudara-
saudaranya sendiri untuk membalaskan dendam atas kekecewaan terdalam karena
telah disakiti (secara seksual) oleh orang-orang yang disayanginya.

5. Dari Perspektif Teori Behaviorisme (B.F. Skinner)


Pendekatan behaviorisme menekankan bahwa satu-satunya aspek yang
nyata dan relevan dengan psikologi adalah tingkah laku yang teramati, dan satu-
satunya cara mengontrol serta meramalkan tingkah laku adalah mengaitkan
perilaku tersebut dengan kejadian yang mengawalinya (event-antesedent) yang
ada di lingkungan. Pendekatan behaviorisme ini memandang bahwa perbedaan
yang terdapat pada tingkah laku orang, semuanya disebabkan oleh perbedaan
event yang menyebabkannya sehingga setiap perilaku yang ada pada diri
seseorang sangat tergantung pada pengalaman masa lalu yang menyebabkan
perilaku tersebut.
Perilaku seksual Mothy baik dengan laki-laki maupun perempuan
diperoleh melalui proses belajar dari pengalaman yang panjang. Kasus-kasus
pelecehan yang dilakukan oleh ayahnya dan klien-kliennya merupakan bentuk
kondisioning terhadap perilaku seksual Mothy. Pada awalnya, konsep seksual
merupakan sesuatu yang netral bagi seseorang. Sementara otoritas ayah sebagai
unconditioning stimulus yang secara otomatis akan direspon dengan kepatuhan
anak. Lalu ketika otoritas ayah sebagai unconditioning stimulus diakuisisikan
dengan perilaku seksual yang telah disetting sebagai conditioning stimulus
diharapkan akan menimbulkan respon alami yaitu kepatuhan anak. Secara berkala,
kasus pelecehan seksual yang terus-menerus dialami subjek menjadikan “aktivitas
seksual” sebagai sesuatu yang sudah dikondisikan. Sehingga kehadiran “aktivitas
seksual” akan tetap direspon dengan kepatuhan anak (kesediaan untuk melakukan
aktivitas seksual) baik dengan ataupun tanpa otoritas dari ayah. Dari sinilah
perilaku seksual Mothy terbentuk menjadi kebiasaan.
Pengalaman Mothy dijual oleh kakak-kakaknya untuk menemani
perempuan-perempuan lesbi dari luar negeri mungkin pada awalnya dianggap
sebagai suatu pelecehan seksual. Namun ketika Mothy mengetahui bahwa ada
uang yang menjadi hadiah dibalik aktivitas seksualnya bersama orang-orang
tersebut, pada akhirnya Mothy menilai “uang” sebagai penguat bagi perilaku
seksualnya. Apalagi kasus-kasus pelecehan seksual yang secara beruntun terus
dialami subjek menyebabkan dia secara tidak sadar dikendalikan oleh kompleks
seksualnya, sehingga kepuasan juga merupakan penguat utama yang dia cari dari
aktivitas seksual yang dijalaninya ketika sudah menjadi wanita panggilan. Dengan
kebutuhan seks yang luar biasa besar (disebut Mothy dengan istilah hiperseks),
dia bisa memenuhi kebutuhan seksualnya dengan mudah serta dikuatkan pula oleh
kepuasan dan uang yang dia peroleh dari aktivitas seksual tersebut.
Alasan yang paling mendasar lainnya adalah ucapan terima kasih dari sang
ayah setelah memuaskan nafsunya terhadap anak-anaknya diinterpretasikan
sebagai reinforcement positif yang memberikan gambaran bagi Mothy bahwa apa
yang telah dia lakukan untuk ayahnya adalah hal yang benar dan baik untuk
dilakukan. Proses kondisioning, reinforcement positif, dan reward yang dia
peroleh dari aktivitas seksualnya itulah yang menyebabkan Mothy nyaman
menjadi biseksual.

6. Dari Perspektif Teori Stimulus-Respon (Neal E. Miller dan John Dollard)


Menurut Dollard dan Miller (dalam Alwisol, 2005: 401-402), bentuk
sederhana dari teori belajar adalah mempelajari keadaan dimana terjadi hubungan
antara respon dan cue-stimulusnya. Kebiasaan (habit) adalah satu-satunya elemen
dalam teori ini yang memiliki sifat struktural. Habit adalah ikatan atau asosiasi
antara stimulus dengan respon, yang relatif stabil dan bertahan lama dalam
kepribadian. Untuk bisa belajar, orang harus menginginkan sesuatu (want
something), mengenali sesuatu (notice something), mengerjakan sesuatu (do
something), dan mendapat sesuatu (get something). Hal inilah yang kemudian
berkembang menjadi empat komponen utama belajar, salah satunya adalah cue
yang merupakan stimulus yang pemberi petunjuk perlunya dilakukan respon yang
sesungguhnya.
Banyaknya pelaku pelecehan seksual yang dialami Mothy dan melibatkan
pelaku dari orang-orang terdekatnya patut menjadi pertanyaan. Teori Dollard dan
Miller ini menyebutkan bahwa adanya respon perilaku tertentu biasanya
ditentukan oleh cue stimulus yang menjadi ciri khas dari stimulus itu sendiri.
Pelaku mungkin saja melakukan pelecehan seksual terhadap Mothy karena Mothy
sendiri menunjukkan perilaku yang menarik seseorang untuk melakukan
pelecehan terhadap dirinya. Bagi orang dengan kecenderungan seksual serupa,
tentu sudah bisa membaca kekhasan dari seorang biseksual. Kerelaan Mothy
untuk dipegang tangannya misalnya, dapat menjadi cue tersendiri bagi orang lain
untuk menyimpulkan bahwa Mothy mau dipegang-pegang. Cue inilah yang
kemudian dikembangkan menjadi respon yang lebih nyata. Sehingga ketika
Mothy menunjukkan gelagat yang menggoda mungkin, bisa menyebabkan pelaku
memberikan respon yang senada yaitu mau melakukan hubungan seksual dengan
Mothy.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian terdahulu yang
menunjukkan bahwa terbentuknya orientasi seksual Mothy bukanlah karena
keturunan melainkan oleh kecenderungan yang salah dalam menginternalisasi
nilai “pelecehan seksual”. Banyak anak lain yang juga mengalami pelecehan
seksual, namun tidak semua dari mereka menjadi biseksual. Tentunya tingkat
pelecehan yang dialami juga menjadi penentu kecenderungan anak ke arah
abnormalitas.
Terlepas dari perbedaan dinamika kepribadian Mothy sebagai perempuan
biseksual yang mengalami pelecehan seksual dengan anak-anak lain yang juga
mengalami pelecehan seksual, penelitian ini membenarkan bahwa perlakuan yang
salah pada masa anak-anak (pelecehan seksual) menimbulkan banyak dampak
yang merusak jika tidak ditangani dengan benar, termasuk gangguan psikologis
seperti kecemasan, depresi, perilaku agresif, self-esteem yang buruk, perilaku
seksual prematur atau persetubuan dengan siapa saja (promiscuity), pikiran-
pikiran bunuh diri, dan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Masalah-masalah
psikologis ini dapat berlanjut hingga dewasa dalam bentuk PTSD, depresi, dan
masalah-masalah relasional.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap dinamika kepribadian perempuan
biseksual yang mengalami pelecehan seksual pada subjek Mothy ini dapat ditarik
benang merah untuk menghubungkan satu kesimpulan yang sama dengan
penelitian terdahulunya, bahwa kasus pelecehan seksual terhadap anak (dengan
dinamika kepribadian yang berbeda-beda) dapat menjadi salah satu faktor
pembentuk perilaku seksual yang abnormal, yang dalam hal ini adalah
biseksualitas.

Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian tentang dinamika
kepribadian perempuan biseksual yang mengalami pelecehan seksual, peneliti
mengajukan saran sebagai berikut:

Bagi Subjek Penelitian


Subjek penelitian bisa melakukan konsultasi lebih lanjut dengan para ahli
seperti psikiater, psikolog, seksolog, atau LSM pemberdayaan perempuan untuk
mendapatkan pengetahuan baru tentang bagaimana cara melepaskan diri dari
biseksualitasnya. Kemampuan dalam bidang lainnya yang dimiliki subjek
penelitian dapat dikembangkan secara maksimal sebagai langkah pertama yang
bisa dilakukan untuk menyibukkan diri dan menghindari kemungkinan munculnya
perilaku biseksual itu kembali.

Bagi Masyarakat Luas


Masyarakat hendaknya bisa mempelajari atau setidaknya mengetahui apa
yang terjadi dibalik terbentuknya biseksualitas pada diri seseorang. Harapannya
adalah agar masyarakat tidak memberikan penilaian negatif ataupun penolakan
terhadap keberadaan kaum biseksual karena kondisi tersebut sebenarnya juga
tidak diharapkan oleh mereka. Selain itu masyarakat hendaknya bisa mengambil
pelajaran penting dari penelitian ini, yaitu mengenai peran keluarga sebagai
lingkungan terdekat dengan anak yang menjadi potensi terbesar dalam
pembentukan karakter dan kepribadian anak. Oleh karena itu, setiap orang tua
harus benar-benar memantau perkembangan anaknya dengan teliti agar anak tidak
berkembang menjadi pribadi yang menyimpang di masa depannya.

Bagi Peneliti Selanjutnya


Topik dinamika kepribadian perempuan biseksual yang mengalami
pelecehan seksual merupakan bahan sosial dan abnormal yang perlu dikaji lebih
lanjut. Keterbatasan dalam penelitian ini yang hanya menggunakan satu subjek
penelitian mungkin bisa dikembangkan dengan menambahkan beberapa subjek
lagi untuk memperoleh temuan yang beragam mengenai dinamika kepribadian
perempuan-perempuan biseksual yang mengalami pelecehan seksual.

DAFTAR RUJUKAN

Alwisol. 2005. Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Malang: UMM Press.

Banister, P., dkk. 1994. Qualitative Methods In Psychology: A Research Guide.


London: Open University Press.

Darmawan, A. 2008. Jangan Panik Menjadi Biseksual, (Online). (http:


//cyberman.cbn. net. id/detil.asp?kategori=Sex&newsno=216), diakses 26
September 2011.

Faisal, S. 2008. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta: PT. Raja Grafindo


Persada.

Hanurawan, F. 2012. Metode Penelitian Kualitatif dalam Ilmu Psikologi. Malang:


Universitas Negeri Malang.

Hanurawan, F., dkk. 2001. Kontroversi Pendekatan Kuantitatif dan Pendekatan


Kualitatif dalam Penelitian Psikologis. Malang: Univrsitas Negeri Malang.

Hasan, M. T., dkk. 2002. Metode Penelitian Kualitatif Tinjauan Teoritis dan
Praktis. Malang: Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang.

Katy. 2009. The Problem with The Belief that Child Sexual Abuse Causes
Homosexuality/Bisexuality, (Online), (http://www.PandorasProject.org),
diakses 11 Oktober 2011.

Moleong, L. J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:


Remaja Rosdakarya.

Nevid, J.S., dkk. 2005. Psikologi Abnormal. (Penerjemah: Tim Fakultas


Psikologi Universitas Indonesia). Jakarta: Erlangga.
Nugraha, B. D. 16 Desember 2007. Mengenali Biseksualitas. Nurani, hlm. 16.

Nugraha, B. D. 30 Januari 2008. Biseksual Bukan Penyakit Menular. Nurani, hlm.


18.

RHO. 2011. RHO Fact Sheet: Bisexual Health, (Online),


(http://www.RainbowHealthOntario.ca), diakses 27 September 2011.

Satori, D. Dan Komariah, A. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:


Alfabeta.

Sugiono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Vitasandy, T. D. & Zulkaida, A. 2010. Konsep Diri Pria Biseksual. Jurnal


Psikologi, 3 (2): 189-190.

Wiener, J. M. & Breslin, N. A. 1995. The Behavioral Science in Psychiatry. USA:


Library of Congress Cataloging-in-Publication Data.