Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

I.A. LATAR BELAKANG


Dalam industri kimia, operasi transfer massa dari satu fase ke fasa yang lain
digunakan sebagai dasar pemisahan komponen dari campurannya. Sebagai contoh penerapan
proses transfer massa dalam pemurnian belerang dengan menghembuskan udara untuk
menghilangkan kotorannya.
Pada percobaan ini dilakukan dengan menggunakan Naftalen (C10H8) yang
dikontakkan dengan udara. Naftalen merupakan senyawa hidrokarbon aromatik yang memiliki
rumus bangun sebagai berikut:
H H
│ │
C C

H—C C C—H
│ ║ │
H—C C C—H

C C
│ │
H H

Dalam hal ini terjadi transfer massa dari fasa padat (Naftalen) ke fasa gas (udara) yang
dikenal dengan sublimasi.

I.B. TUJUAN PERCOBAAN


Mengukur koefisien transfer massa padat-gas (kapur barus) pada berbagai tinggi
tumpukan padatan (kapur barus).

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Proses perpindahan berdasarkan fasanya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu proses
transfer dan proses transport. Proses transfer adalah perpindahan bahan antar fase atau pada fase
yang berbeda sedangkan proses transport adalah perpindahan bahan pada fase yang sama. Proses
transfer ada tiga yaitu:

1. Transfer massa dengan driving forcenya adalah beda konsentrasi


2. Transfer panas dengan driving forcenya adalah beda temperatur
3. Transfer momentum dengan driving forcenya adalah beda kecepatan
Tranfer massa adalah gerakan dari satu komponen atau lebih dalam satu fasa ke fasa yang
lain. Peristiwa transfer massa diantaranya adalah peristiwa difusi, ekstraksi, destilasi dan lain-
lain.(Mc Cabe,1983)
Adanya gerakan komponen tersebut disebabkan oleh gaya pendorong (driving force) yang
berupa gradient konsentrasi dari komponen dalam suatu fase. Gaya pendorong ini cenderung
merubah kondisi system menuju kesetimbangan, dimana konsentrasi disemua bagian dari inti
sama.
Di laboratorium proses sublimasi dapat dijalankan dengan cara fixed bed dan fluidized
bed. Penyubliman kapur barus pada fixed bed, fasa padat dilalui gas secara kontinyu. Bila
konsentrasi antar muka kedua fasa lebih besar daripada konsentrasi gas yang mengalir maka
terjadi transfer massa langsung dari fasa padat ke fasa gas. (Brown, 1978)
Dengan memperhitungkan waktu yang ditempuh selama transfer massa, sehingga
kecepatan transfer massa karena gaya pendorong dapat didefinisikan sebagai berikut:
Kecepatan = (perubahan tekanan) x (daya hantar)
Daya hantar = (luas) x (koefisien transfer massa)
Disini hanya dibahas transfer massa sistem gas-solid yang dibatasi pada keadaan statis.
Pada keadaan steady state, kecepatan perpindahan massa dari zat padat ke dalam gas
dapat dinyatakan dengan persamaan:
𝑑𝑁
= 𝐾𝐶𝑎 (𝐶𝑒 − 𝐶) … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . (1)
𝑑𝑡

2
dimana:
𝑑𝑁
= kecepatan zat padat yang hilang per satuan waktu (gmol/cm3det)
𝑑𝑡

KCa = koefisien perpindahan massa volumetric (det-1)


Ce = konsentrasi jenuh zat padat pada interface (gmol/cm3)
KCA adalah nilai transfer massa per satuan luas bidang per satuan beda konsentrasi dan
biasanya didasarkan kecepatan molal yang seragam.(Mc Cabe,1983)
Dengan menganggap diameter zat padat tetap pada elemen volume tertentu, maka
persamaan menjadi:
𝐺 𝑠 𝐶
𝐾𝐶𝑎 = ln (𝐶 −𝐶 )
……………………………………………………………………………(2)
𝐿 𝑠 𝑎

Jika kecepatan perpindahan massa zat padat ke fase gas equivalen dengan pergurangan berat zat
padat tiap satuan waktu maka:
∆𝑚
𝐺. 𝐴 (𝐶𝑠 − 𝐶𝑎 ) = ………………………………………………………………………..(3)
𝑡

dimana jika C4 = 0 maka didapat:


∆𝑚
𝐺. 𝐴. 𝐶𝑧 = ………………………………………………………………………………….(4)
𝑡

Persamaan di atas disubstitusikan ke persamaan lain didapat:


𝐺 𝐶𝑠
𝐾𝐶𝑎 = ln ∆𝑚 …………………………………………………………………………….(5)
𝐿 𝐶𝑠
𝐺.𝐴.∆𝑡

Notasi:
A = luas penampang tabung (cm2)
B = konstanta
C = konsentrasi zat padat pada setiap saat (gmol/cm3)
Cs = konsentrasi jenuh zat padat (gmol/cm3)
c = konstanta
Dg = difusivitas (cm2/det)
Dt = diameter tabung gelas (cm)
Ds = diameter zat padat (cm)
G = kecepatan linier gas masuk (cm/det)
KCa = koefisien transfer massa volumetric (det-1)
L = tinggi tumpukan zat padat dalam tabung (cm)
3
m = mol zat padat dalam tabung (gmol)
N = banyaknya zat padat yang terbawa aliran gas (gmol/det)
t = waktu sublimasi (det)
W = massa zat padat (gram)

4
BAB III
PELAKSANAAN PERCOBAAN

III.A. BAHAN YANG DIGUNAKAN


Bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah:
1. Kapur barus (C10H8)
2. Udara

III.B. ALAT YANG DIGUNAKAN


Alat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah:

Gambar 1. Rangkaian alat proses perpindahan massa


Keterangan gambar:
1. Tabung gelas
2. Tumpukan padatan
3. Kompresor
4. Statif

Alat bantu:

5
1. Penggaris
2. Jangka sorong
3. Timbangan
4. Stopwatch

III.C. CARA KERJA


1. Merangkai alat seperti pada gambar.
2. Masukkan kapur barus ke dalam tabung gelas dengan ketinggian 3 cm, timbang kapur
barus (sebagai berat awal).
3. Masukkan lagi kapur barus ke dalam tabung gelas dan hidupkan kompresor sehingga
menjadi aliran udara yang akan menyublimasi kapur barus.
4. Setiap selang waktu tertentu (7 menit) matikan kompresor dan kapur barus ditimbang
sebagai berat akhir. Lakukan percobaan 5 kali untuk selang waktu tertentu.
5. Ulangi langkah nomor 2 sampai dengan 4 untuk tinggi tumpukan kapur barus 5 cm
dan 7 cm.
6. Ukur diameter tabung dan catat perubahan massa kapur barus awal dan akhir.

Merangkai alat proses


perpindahan massa

Masukkan kapur barus ke tabung


gelas dengan ketinggian 3 cm

Timbang kapur barus sebagai


berat awal

6
Masukkan lagi kapur barus ke
gelas tabung, hidupkan kompresor

Setiap selang waktu 7 menit, matikan


kompresor, timbang kapur barus.
Lakukan 5 kali.

Ukur diameter tabung dan catat


perubahan massa kapur barus awal dan
akhir

7
BAB IV

PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

IV.A. HASIL PERCOBAAN

 Percobaan I

L (tinggi tumpukan) = 3 cm

Kecepatan udara masuk = 348,4781 cm/det

Konsentrasi jenuh naftalen = 4,6742 x 10-3 gmol/cm3

BM naftalen = 128 g/gmol

Diameter tabung gelas = 4,67 cm

Diameter pipa = 1,61 cm

Waktu = 7 menit

Tabel 1. Hubungan antara waktu (t) dengan perubahan berat (∆𝑤) dan (∆𝑚) pada L = 3 cm

No Waktu Berat kapur barus (gram) ∆𝑤 ∆𝑚


(menit) Awal Akhir (gram) (gmol)
1 7 30,95 30,86 0,09 7,03.10-4
2 14 30,86 30,7 0,16 1,25.10-3
3 21 30,7 30,61 0,09 7,03.10-4
4 28 30,61 30,51 0,1 7,81.10-4
5 35 30,51 30,41 0,1 7,81.10-4

 Percobaan II

L (tinggi tumpukan) = 5 cm

8
Kecepatan udara masuk = 348,4781 cm/det

Konsentrasi jenuh naftalen = 4,5814 x 10-3 gmol/cm3

BM naftalen = 128 g/gmol

Diameter tabung gelas = 4,67 cm

Diameter pipa = 1,61 cm

Waktu = 7 menit

Tabel 2. Hubungan antara waktu (t) dengan perubahan berat (∆𝑤) dan (∆𝑚) pada L = 5 cm

No Waktu Berat kapur barus (gram) ∆𝑤 ∆𝑚


(menit) Awal Akhir (gram) (gmol)
1 7 50,5 50,37 0,13 1,015.10-3
2 14 50,37 50,23 0,14 1,09.10-3
3 21 50,23 50,11 0,12 9,37.10-4
4 28 50,11 49,91 0,2 1,56.10-3
5 35 49,91 49,88 0,03 2,34.10-4

 Percobaan III

L (tinggi tumpukan) = 7 cm

Kecepatan udara masuk = 348,4781 cm/det

Konsentrasi jenuh naftalen = 4,52504 x 10-3 gmol/cm3

BM naftalen = 128 g/gmol

Diameter tabung gelas = 4,67 cm

Diameter pipa = 1,61 cm

Waktu = 7 menit

9
Tabel 3. Hubungan antara waktu (t) dengan perubahan berat (∆𝑤) dan (∆𝑚) pada L = 7 cm

No Waktu Berat kapur barus (gram) ∆𝑤 ∆𝑚 (gmol)


(menit) Awal Akhir (gram)
1 7 68,88 68,65 0,23 1,7968.10-3
2 14 68,65 68,44 0,21 1,6406.10-3
3 21 68,44 68,35 0,09 7,0313.10-4
4 28 68,35 68,13 0,22 1,7188.10-3
5 35 68,13 68,08 0,05 3,9063.10-4

T = 29oC

ρ Hg29oC = 13,5238 g/mL

∆𝐻 = 1 cm

IV.B. PERHITUNGAN

1. Densitas udara

𝑃 𝑥 𝐵𝑀 𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎
ρ udara = 𝑅𝑇

𝑔
(1 𝑎𝑡𝑚)𝑥 (28,84 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
ρ udara = 𝐿.𝑎𝑡𝑚 = 1,1637 g/L = 1,1637 x 10-3 g/mL
(0,08206 )(302 𝐾)
𝑔𝑚𝑜𝑙.𝐾

2. Kecepatan udara masuk

2 (𝜌𝐻𝑔− 𝜌𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎)𝑔.ℎ
G1 = Co √𝜌𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎 [(𝐷𝑖/𝐷𝑜)4 −1]

𝑔 𝑔 𝑐𝑚
2 (13,5238 – 1,1637.10−3 )(980 2 )(1 𝑐𝑚)
𝑚𝐿 𝑚𝐿 𝑑𝑒𝑡
G1 = Co √ 𝑔 4,67 4
(1,1637.10−3 ) [( 𝑐𝑚) −1]
𝑚𝐿 1,61

10
G1 = 348,4781 cm/det

3. Konsentrasi jenuh naftalen

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙⁄
𝐵𝑀 𝑛𝑎𝑓𝑡𝑎𝑙𝑒𝑛
Cs = 1⁄ .𝜋.𝐷 2 .𝐿
4

a. Pada percobaan I (tabel I)

(30,95 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs1 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(3 𝑐𝑚) = 4,7055 x 10-3 gmol/cm3
4

(30,86 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs2 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(3 𝑐𝑚) = 4,6918 x 10-3 gmol/cm3
4

(30,7 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs3 = 1⁄ 2 = 4,6674 x 10-3 gmol/cm3
4.𝜋.(4,67 𝑐𝑚) .(3 𝑐𝑚)

(30,61 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs4 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(3 𝑐𝑚) = 4,6538 x 10-3 gmol/cm3
4

(30,51 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs5 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(3 𝑐𝑚) = 4,6386 x 10-3 gmol/cm3
4

𝐶𝑠1 + 𝐶𝑠2 + 𝐶𝑠3 + 𝐶𝑠4 + 𝐶𝑠5


Cs = 5

(4,7055.10−3 )+ (4,6918.10−3 )+ (4,6674.10−3 )+ (4,6538.10−3 )+ (4,6386.10−3 )


Cs = 5

11
Cs = 4,6742 x 10-3 gmol/cm3

b. Pada percobaan II (tabel II)

(50,5 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs1 = 1⁄ 2 = 4,6066 x 10-3 gmol/cm3
4.𝜋.(4,67 𝑐𝑚) .(5 𝑐𝑚)

(50,37 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs2 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(5 𝑐𝑚) = 4,5948 x 10-3 gmol/cm3
4

(50,23 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs3 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(5 𝑐𝑚) = 4,5820 x 10-3 gmol/cm3
4

(50,11 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs4 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(5 𝑐𝑚) = 4,5711 x 10-3 gmol/cm3
4

(49,91 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs5 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(5 𝑐𝑚) = 4,5528 x 10-3 gmol/cm3
4

𝐶𝑠1 + 𝐶𝑠2 + 𝐶𝑠3 + 𝐶𝑠4 + 𝐶𝑠5


Cs = 5

(4,6066.10−3 )+ (4,5948.10−3 )+ (4,5820.10−3 )+ (4,5711.10−3 )+ (4,5528.10−3 )


Cs = 5

Cs = 4,5814 x 10-3 gmol/cm3

c. Pada percobaan III (tabel III)

12
(68,88 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs1 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(7 𝑐𝑚) = 4,488 x 10-3 gmol/cm3
4

(68,65 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs2 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(7 𝑐𝑚) = 4,4731 x 10-3 gmol/cm3
4

(68,44 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs3 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(7 𝑐𝑚) = 4,4594 x 10-3 gmol/cm3
4

(68,35 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs4 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(7 𝑐𝑚) = 4,4535 x 10-3 gmol/cm3
4

(68,13 𝑔𝑟𝑎𝑚)
⁄(128 𝑔 )
𝑔𝑚𝑜𝑙
Cs5 = 1⁄ .𝜋.(4,67 𝑐𝑚)2 .(7 𝑐𝑚) = 4,4392 x 10-3 gmol/cm3
4

𝐶𝑠1 + 𝐶𝑠2 + 𝐶𝑠3 + 𝐶𝑠4 + 𝐶𝑠5


Cs = 5

(4,488.10−3 )+ (4,4731.10−3 )+ (4,4594.10−3 )+ (4,4535.10−3 )+ (4,4392.10−3 )


Cs = 5

Cs = 4,52504 x 10-3 gmol/cm3

4. Udara masuk tabung

A1 = ¼.π.D2
A1 = ¼.π.(1,61 cm)2
A1 = 2,0358 cm2

A2 = ¼.π.D2
A2 = ¼.π.(4,67 cm)2

13
A2 = 17,1286 cm2

𝐴1 .𝐺1
G2 = 𝐴2

(2,0358 𝑐𝑚2 )(348,4781 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)


G2 = (17,1286 𝑐𝑚2 )

G2 = 41,4179 cm/det

5. Koefisien transfer massa

∆𝑚
Ca = 𝐺
2 .𝐴2 .∆𝑡

𝐺2 𝐶𝑠
KCa = ln 𝐶𝑠−𝐶𝑎
𝐿

a. Pada percobaan I (tabel I)

(7,03.10−4 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca1 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 2,3593 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,6742.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa1 = (3 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,6742.10−3 ⁄ 3 − 2,3593.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa1 = 6,9685 x 10-6 det-1

(1,25.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca2 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 4,1952 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,6742.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa2 = (3 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,6742.10−3 ⁄ 3 − 4,1952.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa2 = 1,2391 x 10-6 det-1


14
(7,03.10−4 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca3 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 2,3593 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,6742.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa3 = (3 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,6742.10−3 ⁄ 3 − 2,3593.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa3 = 6,9685 x 10-6 det-1

(7,81.10−4 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca4 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 2,6211 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,6742.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa4 = (3 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,6742.10−3 ⁄ 3 − 2,6211.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa4 = 7,7418 x 10-6 det-1

(7,81.10−4 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca5 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 2,6211 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,6742.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa5 = (3 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,6742.10−3 ⁄ − 2,6211.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚3 𝑐𝑚

KCa5 = 7,7418 x 10-6 det-1

𝐾𝐶𝑎1 + 𝐾𝐶𝑎2 + 𝐾𝐶𝑎3 + 𝐾𝐶𝑎4 + 𝐾𝐶𝑎5


KCa = 5

(6,9685.10−6 )+ (1,2391.10−6 )+ (6,9685.10−6 )+ (7,7418.10−6 )+ (7,7418.10−6 )


KCa = 5

KCa = 8,3623 x 10-6 det-1

b. Pada percobaan II (tabel II)

15
(1,015.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca1 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 3,4064 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,5814.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa1 = (5 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,5814.10−3 ⁄ 3 − 3,4064.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa1 = 6,1591 x 10-6 det-1

(1,09.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca2 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 3,6582 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,5814.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa2 = (5 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,5814.10−3 ⁄ 3 − 3,6582.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa2 = 6,6143 x 10-6 det-1

(9,37.10−4 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca3 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 3,1447 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,5814.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa3 = (5 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,5814.10−3 ⁄ − 3,1447.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚3 𝑐𝑚

KCa3 = 5,6859 x 10-6 det-1

(1,56.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca4 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 5,2355 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,5814.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa4 = (5 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,5814.10−3 ⁄ 3 − 5,2355.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa4 = 9,4662 x 10-6 det-1

(2,34.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca5 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 7,8533 x 10-10 gmol/cm3

16
(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,5814.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )
KCa5 = (5 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,5814.10−3 ⁄ 3 − 7,8533.10−10 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa5 = 1,4199 x 10-6 det-1

𝐾𝐶𝑎1 + 𝐾𝐶𝑎2 + 𝐾𝐶𝑎3 + 𝐾𝐶𝑎4 + 𝐾𝐶𝑎5


KCa = 5

(6,1591.10−6 )+ (6,6143.10−6 )+ (5,6859.10−6 )+ (9,4662.10−6 )+ (1,4199.10−6 )


KCa = 5

KCa = 5,8691 x 10-6 det-1

c. Pada percobaan III (tabel III)

(1,7968.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca1 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 6,0303 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,52504.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa1 = (7 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,52504.10−3 ⁄ 3 − 6,0303.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa1 = 7,8851 x 10-6 det-1

(1,6406.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca2 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 5,5061 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,52504.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa2 = (7 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,52504.10−3 ⁄ 3 − 5,5061.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa2 = 7,1996 x 10-6 det-1

17
(7,0313.10−4 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca3 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 2,3598 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,52504.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa3 = (7 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,52504.10−3 ⁄ 3 − 2,3598.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa3 = 3,0856 x 10-6 det-1

(1,7188.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca4 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 5,7685 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,52504.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa4 = (7 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,52504.10−3 ⁄ 3 − 5,7685.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa4 = 7,5427 x 10-6 det-1

(3,9063.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙)
Ca5 = (41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡)(17,1286 𝑐𝑚2 )(420 𝑑𝑒𝑡) = 1,311 x 10-9 gmol/cm3

(41,4179 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡) (4,52504.10−3 𝑔𝑚𝑜𝑙/𝑐𝑚3 )


KCa5 = (7 𝑐𝑚)
ln 𝑔𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑚𝑜𝑙
(4,52504.10−3 ⁄ 3 − 1,311.10−9 ⁄ 3)
𝑐𝑚 𝑐𝑚

KCa5 = 1,7142 x 10-6 det-1

𝐾𝐶𝑎1 + 𝐾𝐶𝑎2 + 𝐾𝐶𝑎3 + 𝐾𝐶𝑎4 + 𝐾𝐶𝑎5


KCa = 5

(67,8851.10−6 )+ (7,1996.10−6 )+ (3,0856.10−6 )+ (7,5427.10−6 )+ (1,7142.10−6 )


KCa = 5

KCa = 5,4854 x 10-6 det-1

Tabel 4. Hubungan antara tinggi tumpukan (L) dengan koefisien transfer massa (KCa)

18
No Tinggi tumpukan (L), cm Koefisien transfer massa (KCa), det-1
1 3 8,3623.10-6
2 5 5,8691.10-6
3 7 5,4854.10-6

Grafik KCa vs L
9.00E-06
8.00E-06
Tinggi tumpukan (L), cm

7.00E-06
6.00E-06
5.00E-06
4.00E-06
3.00E-06
2.00E-06
1.00E-06
0.00E+00
3 5 7
Koefisien transfer massa (KCa), det-1

Gambar 2. Grafik hubungan antara Koefisien Transfer Massa (KCa), det-1 vs


tinggi tumpukan (L), cm

IV.C. PEMBAHASAN

Pada percobaan koefisien transfer massa ini diukur terlebih dahulu tinggi tumpukan
kemudian ditimbang sebagai berat awal. Sebelum dihitung waktu 7 menit selisih ketinggian air
raksa pada orificemeter (∆𝐻) harus dipastikan 1 cm terlebih dahulu. Kurang tepatnya penghitung
waktu, penimbangan dan kurang telitinya alat penimbangan mungkin berpengaruh pada
percobaan ini.

BAB V

KESIMPULAN

19
1. Dari hasil percobaan dan perhitungan diperoleh koefisien transfer massa (KCa) pada
masing-masing tumpukan:
 L = 3 cm; KCa = 8,3623.10-6 det-1
 L = 5 cm; KCa = 5,8691.10-6 det-1
 L = 7 cm; KCa = 5,4854.10-6 det-1
2. Dapat diambil kesimpulan bahwa semakin tinggi tumpukan maka semakin kecil
koefisien transfer massanya.

20