Anda di halaman 1dari 2

Ekstraksi

Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan


pelarut yang sesuai. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara
konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses
ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan.

Hasil dari ekstraksi adalah ekstrak yang merupakan berwujud seperti pasta kental yang
diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani
setelah pelarutnya diuapkan

Beberapa pelarut yang biasa digunakan untuk ekstraksi diantaranya adalah metanol, etanol,
etil asetat, aseton dan asetonitril dengan air dan atau HCl.

Maserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan. Cara ini sesuai,
baik untuk skala kecil maupun skala industri. Metode ini dilakukan dengan memasukkan
serbuk tanaman dan pelarut yang sesuai ke dalam wadah inert yang tertutup rapat pada suhu
kamar. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa
dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut
dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah
memakan banyak waktu dan pelarut yang digunakan cukup banyak. Namun di sisi lain, metode
maserasi dapat menghindari rusaknya senyawa-senyawa yang bersifat termolabil (Mukhriani,
2014).
Sebanyak 300 gram (contoh) serbuk biji ketumbar yang telah dihaluskan dimasukkan
ke dalam Erlenmeyer dan ditambahkan etanol 96% sebanyak 1200 ml (contoh) hingga
simplisia tergenang, kemudian digoyang selama 1 jam untuk mencapai kondisi homogen dalam
shaker waterbath. Selanjutnya larutan dimaserasi selama 24 jam pada suhu kamar. Setelah 24
jam, larutan difiltrasi atau dipisahkan dengan menggunakan penyaring Buchner, dilakukan
remaserasi ulang selama 24 jam, maserasi diulang sampai 3 kali. Hasil saringan 1 sampai 3
dicampur dan dipekatkan dengan rotary vacum evaporator dengan suhu 40 ℃-50 ℃sampai
didapatkan ekstrak pekat. kemudian ekstrak dibuat beberapa konsentrasi yaitu 1%, 2%, 4%,
6%, 8%, 10%
Menggunakan pengencer DMSO (Dimetil sulfoksida) 10% karena hasil ekstraksi biji
ketumbar bersifat non polar dengan menggunakan pelarut etanol 96%, sedangkan DMSO dapat
larut pada pelarut polar dan non polar, yang artinya larutan DMSO dapat digunakan sebagai
pengencer ekstraksi biji ketumbar.
Uji sterilitas sampel ekstrak biji ketumbar dilakukan dengan cara mengkultur ekstrak
biji ketumbar (Coriandrum Sativum L.) pada media Muller Hinton Agar (MHA) dengan
inkubasi pada suhu 37℃ selama 24 jam, apabila tidak terdapat pertumbuhan bakteri maka
sampel ekstrak biji ketumbar (Coriandrum Sativum L.) dinyatakan telah steril, setelah itu
dilakukan pengenceran terhadap ekstrak biji ketumbar (Coriandrum Sativum L.)