Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

“Uji Sensitivitas Antibiotik”

Disusun Oleh : Kelompok 1

Anggun Selvya arsyad (1643057098)


Astarina Pitriani (1643057099)
Joko Afriyanto (1643057101)
Muthia Fauziah (1643057157)

Dosen Pengampuh : Lilih Riniwasih Kadiwijat

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA
2017
1. Judul Praktikum : Uji Sensitivitas Antibiotik

2. Tujuan Praktium

Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu :

 Untuk mengetahui Sensitivitas suatu antibiotic terhadap suatu bakteri

tertentu

3. Dasar Teori

Antibiotik maupun jenis-jenis antimikroba lainnya telah umum dikenal

dikalangan masyarakat kita. Penggunaan dari antibiotik dan antimikroba inipun

telah meningkat, seiring dengan bermunculannya berbagai jenis infeksi yang

kemungkinan ditimbulkan oleh jenis bakteri baru ataupun virus baru.

Kenyataannya adalah bahwa penggunaanya dikalangan awam seringkali disalah

artikan atau disalah gunakan, dalam artian seringkali penatalaksanaan dalam

menangani suatu jenis infeksi yang tidak tepat, yang berupa pemakaian

antibiotik dengan dosis dan lama terapi atau penggunaan yang tidak tepat,

karena kurangnya pemahaman mengenai antibiotik ini sendiri. Hal ini pulalah

yang kemudian hari merupakan penyebab utama dari timbulnya resistensi dari

obat-obat antibiotik maupun antimikroba terhadap jenis bakteri tertentu. Obat-

obat antimikroba efektif dalam pengobatan infeksi karena kemampuan obat

tersebut membunuh mikroorganisme yang menginvasi penjamu tanpa merusak

sel.
Sensitifitas menyatakan bahwa uji sentifitas bakteri merupakan suatu

metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri

dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri.

Metode Uji sensitivitas bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan

mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta

mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan

bakteri pada konsentrasi yang rendah. uji sentivitas bakteri merupakan suatu

metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri

dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri.

Seorang ilmuan dari perancis menyatakan bahwa metode difusi agar dari

prosedur Kirby-Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitivitas bakteri.

Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan

mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di

sekitar cakram kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona

hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat

antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona

hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif (Gaman, dkk. 1992).

Pada umumnya metode yang dipergunakan dalam uji sensitivitas bakteri

adalah metode Difusi Agar yaitu dengan cara mengamati daya hambat

pertumbuhan mikroorganisme oleh ekstrak yang diketahui dari daerah di sekitar

kertas cakram (paper disk) yang tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme. Zona
hambatan pertumbuhan inilah yang menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap

bahan anti bakteri (Jawelz, 1995).

Tujuan dari proses uji sensisitivitas ini adalah untuk mengetahui obat-

obat yang paling cocok (paling poten) untuk kuman penyebab penyakit

terutama pada kasus-kasus penyakit yang kronis dan untuk mengetahui adanya

resistensi terhadap berbagai macam antibiotik. Penyebab kuman resisten

terhadap antibiotik yakni memang kuman tersebut resisten terhadap antibiotik

yang diberikan, akibat pemberian dosis dibawah dosis pengobatan dan akibat

penghentian obat sebelum kuman tersebut betul-betul terbunuh oleh antibiotic

(Dwidjoseputro, 1998).

Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri

yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman-

kuman sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Para peneliti

diseluruh dunia memperoleh banyak zat lain dengan khasiat antibiotik namun

berhubung dengan adanya sifat toksis bagi manusia, hanya sebagian kecil saja

yang dapat digunakan sebagai obat diantaranya adalah streptomycin vial

injeksi, Tetrasiklin kapsul, Kanamicin kapsul, Erytromicin kapsul, Colistin

tablet, Cefadroxil tablet dan Rifampisin kapsul (Djide, 2003).

Kegiatan antibiotika untuk pertama kalinya ditemukan oleh sarjana

Inggris dr. Alexander Flemming pada tahun 1928 (penisilin). Penemuan ini
baru dikembangkan dan dipergunakan dalam terapi di tahun 1941 oleh

dr.Florey (Oxford) yang kemudian banyak zat lain dengan khasiat antibiotik

diisolir oleh penyelidik-penyelidik di seluruh dunia, akan tetapi berhubung

dengan sifat toksisnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat

(Djide, 2003).

Antibiotik digunakan untuk membasmi mikroba penyebab terjadinya

infeksi. Gejala infeksi terjadi akibat gangguan langsung oleh mikroba dan

berbagai zat toksik yang dihasilkan mikroba. Pada dasarnya suatu infeksi dapat

ditangani oleh sistem pertahanan tubuh, namun adakalanya sistem ini perlu

ditunjang oleh penggunaan antibiotik. Antibiotik yang digunakan untuk

membasni mikroba penyebab infeksi pada manusia, harus memiliki sifat

toksisitas selektif. Artinya antibiotik harus bersifat toksik untuk mikroba, tetapi

relatif tidak toksik untuk hospes. Toksisitas selektif tergantung kepada struktur

yang dimiliki sel bakteri dan manusia misalnya dinding sel bakteri yang tidak

dimiliki oleh sel manusia, sehingga antibiotik dengan mekanisme kegiatan pada

dinding sel bakteri mempunyai toksisitas selektif relatif tinggi (Ganiswarna,

1995).

Sensitivitas bakteri terhadap antibiotik tergantung kapada kemampuan

antibiotik tersebut untuk menembus dinding sel bakteri. Antibiotik lebih banyak

yang efektif bekerja terhadap bakteri Gram positif karena permeabilitas dinding

selnya lebih tinggi dibandingkan bakteri Gram negatif. Jadi suatu antibiotik
dikatakan mempunyai spektrum sempit apabila mampu menghambat

pertumbuhan bakteri Gram positif, sedangkan antibiotik berspektrum luas jika

pertumbuhan bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif dapat dihambat

oleh antibiotik tersebut (Sumadio, dkk. 1994).

Berdasarkan sasaran tindakan antibiotik terhadap mikroba maka

antibiotik dapat dikelompokkan menjadi lima golongan yaitu antibiotik

penghambat sintesis dinding sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok

ini ialah penisilin, sefalosporin, basitrasin, dan vankomisin. Yang kedua yaitu

antibiotik penghambat sintesis protein sel mikroba, antibiotik yang termasuk

kelompok ini ialah golongan aminoglikosida, makrolida, kloramfenikol,

linkomisin dan tetrasilin. Yang ketiga yaitu antibiotik penghambat sintesis asam

nukleat sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah rifampisin

dan golongan kuinolon. Keempat yaitu antibiotik pengganggu fungsi membran

sel mikroba, antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah golongan polien. Dan

yang kelima yaitu antibiotik penghambat metabolisme mikroba, antibiotik yang

termasuk kelompok ini ialah sulfonamida, trimetoprin dan asam p-amino

salisilat (Ganiswarna, 1995).

Zona Hambat merupakan tempat dimana bakteri terhamabat

pertumbuhannya akibat antibakteri atau antimikroba. Zona hambat adalah

daerah untuk menghambat pertumbuhan mikroorrganisme pada media agar oleh

antibiotik. Contohnya: tetracycline, erytromycin, dan streptomycin.


Tetracycline merupakan antibiotik yang memiliki spektrum yang luas sehingga

dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara luas (Pelczar, 1986).

4. Alat dan Bahan

a. Alat

Alat- alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :

- Petridisk. - Incubator

- Pinset - Jangka Sorong

- Kertas - Disk yang berisi Antibiotik

- Rak tabung - Batang kaca L

- Lampu spiritus - Ose

- Korek api - Mat pipet 1 ml, 2 ml, 5 ml, dan


10 ml

b. Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu :

- Media MHA ( Muller Hilton Agar) - Bakteri Staphylococcus

aureus

- Larutan NaCl - Bakteri Klebsiella pneumonia


5. Cara Kerja
- Sterlisasi 2 buah petridisk, kemudian dinginkan.

- Tuangkan kedalam masing-masing petridisk media MHA pada saat

suhunya antara rentang 45- 50 0 C. biarkan hingga dingin dan

membeku.

- Pada tabung miring koloni bakteri, tambahkan 4 ml NaCl

kemudian kerok koloni pada bidang miringnya hingga bakterinya

larut.

- Pipet 1 ml masing-masung suspensi bakteri, kemudian masukkan

kedalam petridisk yang berbeda.

- Kemudian ratakan cairan suspensi bakteri pada permukaan agar

pada petridisk dengan menggunakan Batang kaca L hingga merata.

- Letakkan masing-masing disk yang berisi antibiotic sesuai dengan

gram dari bakteri yang diamati.

- Inkubator selama 24 jam pada suhu 37,5 0 C , amati dan ukur

diameter zona hambat yang terbentuk.


6. Hasil Pengamatan
a. Staphylococcus aureus

No Nama Antibiotik Diameter Zona Keterangan

Hambat (mm)

1 Tetracyclin 30 μg 30,50 Sensitif

2 Nystatin 100 Unit 11,40 Resisten

3 Methicillin 5 μg 25,30 Sensitif

4 Cefotaxim 30 μg 23,70 Sensitif

5 Sulfonamid 300 μg - Resisten

b. Klebsiella pneumoniae

No Nama Antibiotik Diameter Zona Keterangan

Hambat (mm)

1 Chloramfenicol 30 μg 30,60 Sensitif

2 Ciprofloxacin 5 μg 22,70 Sensitif

3 Ampicillin 10 μg 11,60 Resisten

4 Trimethoprim 5 μg 6,40 Resisten

5 Erytromycin 15 μg 29,60 Sensitif


7. Pembahasan
Pada praktikum yang dilakukan kali ini dilakukan uji senstifitas suatu

antibiotik terhadap bakteri tertentu. Pada praktikum kali ini digunakan dua

macam bakteri yaitu; bakteri gram positif Staphylococcus aureus dan bakteri

gram negatif Klebsiella pneumonia.

Pada praktikum kali ini uji sensitifitas antibiotic dilakukan dengan

metode Diffusi dengan mengunakan cakram (disk). Untuk bakteri gram

positif disk antibiotik yang digunakan yaitu; Tetracyclin 30 μg, Nystatin 100

Unit, Methicillin 5 μg, Cefotaxim 30 μg danSulfonamid 300 μg. Sedangkan

untuk bakteri gram negatif antibiotik yang digunakan adalah;

Chloramfenicol 30 μg, Ciprofloxacin 5 μg, Ampicillin 10 μg, Trimethoprim

5 μg dan Erytromycin 15 μg.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan setelah dilakukan

inkubasi selama 24 jam terlihat pada masing-masing petridisk ada

menunjukkan zona bening (zona hambat). Pada petridisk yang ditanamin

bakteri Staphylococcus aureus terlihat zona hambatan paling besar yaitu

disk dengan antibiotic tetracycline dengan diameter zona hambat 30,50

mm yang dikategorikan bahwa masih bersifat sensitive terhadap bakteri ini.

Begitu juga disk antibiotic Methicillin dan Cefotaxim juga masih bersifat

sensitive terhadap bakteri ini. Namun untuk Nystatin zona hambat yang
terbentuk yaitu 11,40 mm, yang mana dikategorikan resisten terhadap

bakteri ini. Lain halnya dengan antibiotik sulfonamide tidak terbentuk zona

hambatan sama sekali, hal ini dapat disebabkan banyak hal salah satunya

yaitu disk antibiotik yang digunakan telah rusak sehingga berkurang potensi

antibiotiknya, sehingga menjadi tidak bias menghambat pertumbuhan

bakteri.

Sedangkan untuk pengamatan pada petridisk yang ditanami bakteri

Klebsiella pneumonia daya hambat atau diameter zona hambat terbesar

ditunjukkan oleh disk antibiotik Chloramfenicol sebesar 30,60 mm yang

dikategorikan sesnsitif. Begitu juga dengan disk antibiotic ciprofloxacin dan

Eritromicin juga dikategorikan sensitive terhadap bakteri ini. Namun pada

Trimethoprim dan Ampicillin memiliki zona hambat berturut – turut yaitu

6,40 mm dan 11,60 mm yang dikategorikan resisten terhadap bakteri ini.

Hal ini juga dapat disebabkan oleh disk yang digunakan telah berkurang

potensi antibiotik nya sehingga mempengaruhi kerjanya terhadap bakteri

ini.
8. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum yang telah dilakukan

dapat disimpulakan bahwa :

a. Pada bakteri gram positif (S. aureus), setiap antibiotik memiliki

sensitivitas yang berbeda-beda, zona hambat terbesar ada pada

antibiotic Tetracyclin sebesar 30,50 mm.

b. Pada Pada bakteri gram Negatif (S. aureus), setiap antibiotik memiliki

sensitivitas yang berbeda-beda, zona hambat terbesar ada pada

antibiotic Chloramfenicol sebesar 30,60 mm.

c. Pada beberapa antibiotic ada yang memiliki zona hambat yang kecil

atau bahkan tidak memiliki zona hambat sama sekali seperti

Sulfonamid, Nystatin, Ampicillin dan Trimethoprim. Hal ini dapat

disebabkan karena beberapa hal yaitu karena kemungkinan disk yang

digunakan telah rusak akibat penyimpanan (ED) sehingga potensi

antibiotiknya berkurang atau tidak ada sama sekali.


DAFTAR PUSTAKA

Adams MR, Moss MO. 2008. Food Microbiology 3rd Edition. Cambridge: RSC Pub.

Bhunia A. 2008. Foodborne Microbial Pathogens. New York: Springer.

Carter GR, Wise DJ. 2004. Essential of Veterinary Bacteriology and Mycology. 6 th
Ed. Iowa: Blackwell Publishing.

Dwidjoseputro. 1998. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit Malang:Djambatan.

Djide M, Natsir. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas Hasanuddin.


Makassar.

Fadhlan. 2010. Mikrobiologi Farmasi. Salemba medika. Jakarta.

Manning SD. 2010. Escherichia Coli Infections. New York: Infobase


Publishing.Hlm: 16.

Quinn PJ, Markey BK, Carter ME, Donnelly WJ, Leonard FC. 2002. Veterinary
Microbiology and Microbial Disease. London (GB): Blackwell Science.

Ray B. 2004. Fundamental Food Microbiology, Ed. ke-3. Washington, DC: CRC
PrSonger JG.

Post KW. 2005. Veterinary Microbiology Bacterial and Fungal Agents of Animal
Disease. New York: CRC Pr.

Sumadio, H. 2004. Biokimia dan Farmakologi Antibiotika, USU Press, Medan.

Suwandi, U. 2003. Perkembangan Antibiotik. Cermin Dunia Kedokteran No. 83.


Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma, Jakarta.

Waluyo, Lud. 2008. Teknik dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. Malang. UMM
Press.
LAMPIRAN

a. Staphylococcus aureus

b. Klebsiella pneumoniae