Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Air Susu Ibu (ASI)


ASI adalah suatu larutan lemak dalam emulsi protein, laktosa, dan garam-

garam organik yang disekresi oleh kedua kelenjar payudara.6 Bayi hanya diberi

ASI tanpa minuman lain seperti air putih, susu formula, jeruk, madu,dan

tambahan makan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan

tim. Sebelum mencapai 6 bulan sistem pencernaan bayi belum mampu berfungsi

dengan sempurna, sehingga bayi belum mampu mencerna makanan selain ASI.3,7

ASI eksklusif berarti memberikan hanya ASI saja. Ini berarti bayi tidak diberi air

putih, teh, minuman ramuan, cairan lain, maupun makanan selama 6 bulan

pertama usianya.8 Pada tahun 2001 World Health Organization ( WHO )

menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah

yang terbaik.1,8
ASI merupakan makanan yang paling cocok bagi bayi karena mempunyai

nilai gizi yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang dibuat oleh

manusia ataupun susu yang berasal dari hewan seperti susu sapi, susu kerbau, atau

susu kambing. Pemberian ASI secara penuh sangat dianjurkan oleh ahli gizi

diseluruh dunia. Tidak satupun susu buatan manusia (susu formula) dapat

menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi, seperti yang diperoleh

dari susu kolostrum.9 Di kota besar, kita sering melihat bayi disusui dengan susu

botol daripada disusui oleh ibunya. Sementara di desa, bayi yang berusia satu

bulan sudah diberi pisang atau nasi lembek sebagai tambahan ASI.10
Waktu yang paling baik untuk menyusukan bayi adalah sesegera mungkin

setelah bayi dilahirkan. Setelah plasenta dikeluarkan serta bayi sudah dibersihkan,

4
bayi langsung diletakkan ke puting susu ibunya.11 Dalam dua hari pertama

produksi ASI belum banyak hingga tidak perlu menyusui terlalu lama, cukup

beberapa menit saja untuk merangsang keluarnya ASI.12


Lamanya menyusui berbeda-beda tiap periode menyusui. Rata-rata bayi

menyusu selama 5 – 15 menit, walaupun terkadang lebih. Sebaiknya bayi

menyusu pada satu payudara sampai selesai baru kemudian bila bayi masih

menginginkan dapat diberikan pada payudara yang satu lagi sehingga kedua

payudara mendapat stimulasi yang sama untuk menghasilkan ASI. Susui bayi

sesering mungkin sesuai kebutuhan bayi, sedikitnya lebih dari 8 kali dalam 24

jam. Bayi sebaiknya disusui selama bayi menginginkannya bahkan pada malam

hari. Menyusui pada malam hari membantu mempertahankan suplai ASI karena

hormon prolaktin dikeluarkan terutama pada malam hari.10


Beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai patokan untuk mengetahui

jumlah ASI cukup atau tidak yaitu:

1. Berat badan naik dengan memuaskan sesuai dengan umur


2. Jika ASI cukup, setelah menyusu bayi akan tertidur tenang selama 3-4 jam
3. Bayi kencing lebih sering, sekitar 8 kali sehari.11

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:


Tabel 2.1 Kenaikan berat badan rata-rata menurut umur

Umur Kenaikan Berat Badan Rata-Rata


1-3 bulan 700 gr/ bulan
4-6 bulan 600 gr/ bulan
7-9 bulan 400 gr/ bulan
10-12 bulan 300 gr/ bulan
11
Sumber: Soetjiningsih(1997:20).
2.2 Pembentukan dan Pengeluaran ASI
Secara alamiah, seorang ibu mampu menghasilkan ASI segera setelah

melahirkan. ASI diproduksi oleh alveoli yang merupakan bagian hulu dari

pembuluh kecil air susu.7


Kelenjar susu tersusun atas dua macam jaringan, yaitu jaringan kelenjar

(glandular tissue), dan jaringan adiposa. Jaringan kelenjar berisi banyak kantong
5
alveolus yang dikelilingi oleh jaringan epitel otot yang bersifat kontraktil. Bagian

dalam alveolus dilapisi oleh selapis epitel. Susu dibentuk pada epitel kelenjar ini.7

Gambar 2.1 Anatomi Payudara13

Laktasi diawali oleh dua macam refleks, yaitu the milk production reflex

dan the let down reflex.8

1. Reflek Prolaktin/rooting reflex(the milk production reflex)

Waktu bayi menghisap payudara ibu, terjadi rangsangan neurohormonal

pada puting susu dan aerola ibu. Rangsangan ini diteruskan ke hipofise melalui

nervus vagus, terus ke lobus anterior. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon

prolaktin, masuk ke peredaran darah dan sampai pada kelenjar –kelenjar pembuat

ASI.8

2. Let-down Refleks (Refleks Milk Ejection)

Refleks ini membuat memancarkan ASI keluar. Rooting reflex dapat

merangsang kelenjar pituitari posterior untuk menghasilkan hormon oksitosin,

yang dapat merangsang serabut otot halus di dalam dinding saluran susu agar

membiarkan susu dapat mengalir.8


2.3 Komposisi ASI
Komposisi ASI menurut stadium laktasi terdiri dari tiga tingkatan:1

1. Kolostrum

6
Kolostrum adalah cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mammae,

berlangsung sekitar 3 sampai 4 hari setelah ASI pertama kali keluar. Cairan

berwarna lebih kuning sebab mengandung sel hidup yang menyerupai sel

darah putih yang dapat membunuh kuman penyakit. Kolostrum merupakan

pencahar yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus

bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi

bagi makanan yang akan datang.14 Volume kolostrum antara 150 – 300 ml/24

jam.12 Kolostrum lebih banyak mengandung protein dibandingkan dengan

ASI yang matang, mengandung zat anti infeksi 10 – 17 kali lebih banyak

dibanding ASI yang matang, kadar karbohidrat dan lemak renadah

dibandingkan dengan ASI matang.1,15


2. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum

menjadi ASI yang matang. ASI peralihan berlangsung dari hari keempat

sampai hari kesepuluh dari masa laktasi. Kadar protein makin merendah,

sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin meninggi serta volume akan

makin meningkat.15

3. Air Susu Mature

Merupakan ASI yang disekresi pada hari kesepuluh atau setelah minggu

ketiga sampai minggu keempat, dan seterusnya. ASI matur merupakan nutrisi

bayi yang terus berubah disesuaikan dengan perkembangan bayi sampai

berumur 6 bulan. Setelah 6 bulan, bayi mulai diperkenalkan dengan makanan

lain selain ASI. Dimulai dengan makanan yang lunak, kemudian padat dan

mekanan yang biasa sesuai dengan umur bayi.15


2.4 Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI

7
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ibu memberikan ASI kepada

bayinya antara lain:11

1. Perubahan sosial budaya.


a. Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.
b. Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu

botol.
2. Faktor psikologis
a. Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.
b. Tekanan batin
3. Faktor fisik ibu
Ibu sakit, seperti mastitis biasanya enggan menyusui bayinya karena

payudaranya terasa nyeri bila digunakan untuk menyusui bayinya.


4. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat

penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI.


5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI.
6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang

mengajukan penggantian ASI ke susu kaleng.

2.5 Hubungan Pemberian ASI terhadap Status Gizi pada Bayi

ASI mengandung zat-zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan bayi,

baik zat pembangun, zat pengatur dan zat tenaga dengan komposisi ASI yang

sesuai untuk memelihara pertumbuhan dan perkembangan otak bayi, sistem

kekebalan dan faal tubuh secara optimal, dan faktor yang vital untuk pencegahan

penyakit terutama diare dan infeksi saluran nafas (pneumonia).16


Bayi yang mendapat ASI mempunyai kenaikan berat badan yang baik

setelah lahir, pertumbuhan setelah periode perinatal yang baik, dan mengurangi

kemungkinan obesitas. Sebagian besar kejadian gizi buruk dapat dihindari apabila

ibu mempunyai cukup pengetahuan tentang cara memelihara gizi dan mengatur

makanan anak. Memburuknya gizi anak dapat terjadi akibat ketidaktahuan ibu

mengenai tata cara pemberian ASI kepada anaknya. Keadaan ini akan membawa

8
pengaruh buruk terhadap tingkat gizi bayi.16 Penderita gizi buruk akan mengalami

penurunan produksi antibodi serta terjadinya atropi pada dinding usus yang

menyebabkan berkurangnya sekresi berbagai enzim sehingga memudahkan

masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh terutama penyakit diare.17

2.6. Promosi kesehatan

Promosi kesehatan merupakan pendidikan yang tidak lepas dari proses

belajar. Di dalam belajar tercakup hal : (1) Latihan, yaitu penyempurnaan potensi

tenaga yang ada dengan mengulang-ulang aktivitas tertentu. (2)

Menambah/memperoleh tingkah laku. 18

Promosi kesehatan membutuhkan jadwal promosi. Menurut G.R Terry,

penetapan jadwal merupakan salah satu bagian dari tahap perencanaan dalam

fungsi manajemen. Perencanaan yang baik akan memberikan kejelasan arah bagi

setiap kegiatan, sehingga kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien

dan seefektif mungkin.19

Metode kesehatan terdiri dari: (1) Metode pendidikan individual. Misal

dengan bimbingan dan penyuluhan, serta wawancara. (2) Metode pendidikan

kelompok, misal ceramah, diskusi, curah pendapat dan lain-lain. (3) Metode

pendidikan massa, misal ceramah umum, diskusi melalui media elektronik dan

lain-lain.19

Media informasi/sosialisasi berfungsi untuk (1) Menimbulkan minat

sasaran sosialisasi. (2) Mencapai sasaran yang lebih banyak. (3) Membantu dalam

mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman. (4) Merangsang sasaran

sosialisasi untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang lain. (5)

9
Mempermudah penyampaian bahan/informasi bagi pelaku pendidikan. (6)

Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan.18

Berdasarkan fungsinya sebagai penyalur pesan-pesan kesehatan, media

sosialisasi terbagi menjadi (1) Media cetak, seperti booklet, leaflet, poster dan

lain-lain. (2) Media elektronik, seperti televisi, radio, slide, dan lain-lain.18

Kemitraan adalah suatu kerjasama formal antara individu-individu,

kelompok-kelompok, atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau

tujuan tertentu. Tiga kata kunci dalam kemitraan yaitu (1) Kerjasama antara

kelompok, organisasi, individu.(2) Bersama-sama mencapai tujuan tertentu (yang

disepakati bersama).(3) Saling menanggung risiko dan keuntungan.18

Prinsip-prinsip kemitraan yaitu (1) Persamaan (equity). Azas demokrasi

harus dijunjung tinggi, tidak boleh satu pihak mendominasi. (2) Keterbukaan

(tranparancy). Apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan masing-masing

anggota harus diketahui oleh anggota lain. Hal ini akan menimbulkan rasa saling

melengkapi dan saling membantu di antara anggota (mitra). (3) Saling

menguntungkan (mutual benefit), dimana yang dimaksud adalah keuntungan non

materi, bukan selalu diartikan dengan materi atau uang.18

2.7. Pengetahuan dan praktik

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan

raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.18

10
Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas yang

berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu :18

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan adalah mengingat kembali (recall)

terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan

yang telah diterima. Oleh karena itu, tahu adalah tingkat pengetahuan yang paling

rendah.18

2. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar

tentang objek yang telah diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut

secara benar.18

3. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil. Aplikasi disini dapat diartikan

aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya

dalam konteks atau situasi lainnya.18

4. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur

organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.18

5. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 18

11
6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan

sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-

norma yang berlaku di masyarakat.18

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau

responden. Wawancara dilakukan dengan bercakap-cakap secara langsung

(berhadapan muka) dengan responden atau tidak berhadapan langsung dengan

responden (misalnya melalui telepon). Angket berupa formulir yang berisi

pernyataan dan diajukan secara tertulis pada sekumpulan orang untuk

mendapatkan keterangan.20

Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:20

a. Pendidikan

Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku

seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya

pengajaran dan pelatihan, maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan

yaitu mencerdaskan manusia.20

b. Media

Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang

sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi, radio, koran, dan

majalah.20

c. Keterpaparan informasi

12
Pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary, adalah “that of

which one is apprised or told: intelligence, news”. Kamus lain menyatakan bahwa

informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. Namun ada pula yang menekankan

informasi sebagai transfer pengetahuan. Informasi tersebut dapat diperoleh

melalui media massa seperti majalah, koran, berita televisi dan salah satunya juga

dapat diperoleh melalui penyuluhan atau pendidikan kesehatan.20

d. Budaya

Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. Hal

ini dikarenakan informasi yang baru akan disaring sesuai dengan budaya dan

agama yang dianut.20

e. Pengalaman

Pengalaman merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

pengetahuan yang berkaitan dengan umur dan pendidikan individu. Hal ini

mengandung maksud bahwa semakin bertambahnya umur dan pendidikan yang

tinggi, maka pengalaman seseorang akan lebih jauh lebih luas.20

f. Sosial Ekonomi

Dalam mendapatkan informasi yang memerlukan biaya (misalnya

sekolah), tingkat sosial ekonomi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

tingkat pengetahuan seseorang. Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang,

maka orang tersebut akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi.20

Setelah seseorang mengetahui tentang stimulus atau objek kesehatan

kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui,

proses selanjutnya orang tersebut diharapkan akan melaksanakan atau

13
mempraktikkan apa yang diketahui atau disikapinya. Inilah yang disebut dengan

praktik. Praktik ini mempunyai beberapa tingkatan, yaitu:20

a. Persepsi (percepsion)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan

diambil merupakan praktik tingkat pertama.

b. Respon terpimpin (Guinded Response)

Dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar dan sesuai contoh.

c. Mekanisme (mechanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuai dengan benar secara otomatis

atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. ini merupakan indikator praktik

tingkat dua.

d. Adaptasi

Adaptasi adalah praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik.

Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi dengan sendirinya tanpa mengurangi

kebenaran tindakan itu.

Pengukuran atau cara mengamati praktik dapat dilakukan melalui dua

cara, secara langsung maupun secara tidak langsung. Pengukuran yang baik

adalah secara langsung yakni dengan pengamatan (observasi). Sedangkan secara

tidak langsung menggunakan metode mengingat kembali (recall). Metode ini

dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan terhadap subjek tentang apa yang telah

dilakukan berhubungan dengan objek tertentu. 21

14
BAB III

METODE

3.1 Plan

Kegiatan plan dimulai dengan melakukan wawancara dengan Penanggung

Jawab Program Gizi Masyarakat, Penanggung Jawab Promosi Kesehatan,

Penanggung Jawab Posyandu Sehati, data hasil evaluasi lintas sektor dan data

sekunder. Kendala yang dijumpai dalam pemberian ASI eksklusif di Puskesmas

Tembilahan Kota diantaranya adalah kurangnya pengetahuan ibu-ibu mengenai

ASI eksklusif, rendahnya tingkat pendidikan ibu-ibu, kurang optimalnya promosi

kesehatan para kader posyandu, maupun kurangnya media sosialisasi mengenai

ASI eksklusif di Posyandu wilayah kerja Puskesmas Tembilahan Kota. Hasilnya

didiskusikan dengan dokter pendamping untuk mencari penyelesaian masalah

guna perbaikan ke depannya.

Berikut adalah beberapa masalah yang berhasil diidentifikasi pada

Puskesmas Tembilahan Kota kabupaten Indragiri Hilir:

Tabel 3.1 Identifikasi Masalah pada Puskesmas Tembilahan Kota Kabupaten

Indragiri Hilir :

No Aspek yang Masalah Evidence based

dinilai
1 Kegiatan Kegiatan promosi Wawancara dengan :

promosi pemberian ASI a. Bagian Promosi Kesehatan:

pemberian eksklusif di Kegiatan promosi pemberian ASI

ASI Posyandu eksklusif sudah dilakukan

eksklusif wilayah kerja bersamaan dengan kegiatan


15
Puskesmas posyandu bulanan, tapi hingga saat

Tembilahan Kota angka target pencapaian ASI

kurang optimal eksklusif belum tercapai yakni 80%

b. Bagian gizi: kegiatan promosi ASI

eksklusif diadakan bersamaan

dengan posyandu dalam bentuk

penyuluhan dan konseling, tetapi

angka pencapaian ASI eksklusif

belum optimal karena tingkat

pendidikan masyarakat dan

pengetahuan masyarakat tentang

ASI eksklusif masih kurang, serta

kebiasaan pemberian pola makan

yang salah.

c. Bidan kelurahan Tembilahan Kota:

Kegiatan promosi ASI eksklusif

diadakan bersamaan dengan

posyandu dalam bentuk konseling,

pencapaian ASI belum optimal

mungkin karena pendidikan

masyarakat yang rendah dan

pengetahuan mengenai ASI

eksklusif serta masalah dalam

kebiasaan pemberian pola

16
makanan yang salah.

d. Kuesioner sebelum penyuluhan

ASI eksklusif

Berdasarkan kuesioner yang dibagikan

sebelum penyuluhan, dari 14 ibu yang

memiliki balita, 57,1 %

berpengetahuan baik mengenai ASI

eksklusif, 28,6% berpengetahuan

sedang, 14,3% masih kurang taraf

pengetahuannya.

Observasi : tidak ditemukan media

promosi mengenai pemberian ASI

eksklusif di Posyandu Sehati wilayah

kerja Puskesmas Tembilahan Kota

Data sekunder: sasaran program

pemberian ASI eksklusif di wilayah

kerja puskesmas 80%, tetapi di

Kelurahan Tembilahan Kota target

yang dicapai hanya 63,3%.

3.2. Analisis Penyebab Masalah

17
Masalah utama pada kegiatan ini adalah kurang optimalnya promosi

pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Tembilahan Kota wilayah kerja Puskesmas

Tembilahan Kota Kabupaten Indragiri Hilir

Tabel 3.2 Analisis penyebab masalah

Masalah Penyebab masalah Evidence Based


Kurang optimalnya promosi Material Wawancara dengan

pemberian ASI eksklusif di Kurangnya media bidan/ penanggung jawab

Kelurahan Tembilahan Kota promosi mengenai posyandu Sehati:

wilayah kerja Puskesmas pemberian ASI eksklusif Informasi mengenai ASI

Tembilahan Kota Kabupaten di posyandu wilayah eksklusif belum pernah

Indragiri Hilir kerja Puskesmas dilaksanakan di Posyandu

Tembilahan Kota. Sehati.

Observasi:

Tidak ditemukan media

promosi mengenai

pemberian ASI eksklusif di

Posyandu Sehati
Market Kuesioner sebelum

Pengetahuan mengenai penyuluhan

pemberian ASI eksklusif Dari 14 ibu, 14,3% ibu

pada ibu yang memiliki kurang memahami

bayi < 6 bulan masih mengenai pemberian ASI

kurang eksklusif
Man Wawancara penanggung

Kader Posyandu jawab Posyandu Sehati:

18
Tembilahan Kota kurang Kader Posyandu Sehati

memahami tentang cara kurang memahami

pemberian ASI eksklusif mengenai cara pemberian

serta permasalahan ASI eksklusif, serta

dalam menyusui. permasalahan dalam

menyusui.
Method Wawancara Staf Gizi:

Penyuluhan ASI eksklusif Tidak ada jadwal tetap

tidak terjadwal penyuluhan tentang ASI

eksklusif, penyuluhan

kadang dilaksanakan

berupa konseling pada saat

kegiatan posyandu

diadakan.

3.2.8 Kerangka teori

Metode yang digunakan pada proyek ini melalui metode Plan, Do, Check

and Action (PDCA cycle) yang didasari atas masalah yang dihadapi (problem

faced) ke arah penyelesaian masalah (problem solving). Konsep PDCA ini

dikembangkan oleh Walter Shewhart, seorang pionir statistik yang

mengembangkan control process statistic di Bell Laboratories di USA selama

tahun 1930, yang dikenal dengan “The Shewhart Cycle”. Konsep ini telah

berkembang dan diperkenalkan secara efektif sejak tahun 1950 oleh W. Edward

19
Deming sehingga lebih dikenal dengan “Deming Wheel”. Ada beberapa tahap

yang dilakukan pada PDCA :18

A. Plan

1. Mengidentifikasi output promosi kesehatan, siapa sasarannya dan target

pencapaian melalui analisis suatu proses tertentu.

2. Mendeskripsikan proses yang dianalisis saat ini.

a. Pelajari proses dari awal hingga akhir, identifikasi siapa saja yang terlibat

dalam proses tersebut.

b. Teknik yang digunakan : Brainstorming.

3. Mengukur dan menganalisa situasi tersebut.

a. Menemukan data apa yang dikumpulkan dalam proses tersebut.

b. Bagaimana mengolah data tersebut agar membantu memahami kinerja dan

dinamika proses.

c. Teknik yang digunakan adalah observasi.

4. Fokus pada permasalahan yang diangkat

a. Pilih salah satu permasalahan yang akan diselesaikan

b. Kriteria masalah : adanya gap antara kenyataan dengan yang diinginkan,

spesifik, dapat diukur.

5. Mengidentifikasi akar penyebab masalah

a. Menyimpulkan penyebab

b. Teknik yang dapat digunakan : Brainstorming.

c. Alat yang digunakan : fishbone analysis ishikawa

6. Menemukan dan memilih penyelesaian

a. Mencari berbagai alternatif pemecahan masalah

20
b. Teknik yang dapat digunakan : Brainstorming.

B. Do

1. Merencanakan suatu proyek uji coba

a. Merencanakan sumber dana dan sebagainya.

b. Merencanakan rencana kegiatan (plan of action).

2. Melaksanakan Pilot Project

Pilot Project dilaksanakan dalam skala kecil dengan waktu yang relatif

singkat

C. Check

1. Evaluasi hasil promosi kesehatan

a. Bertujuan untuk efektifitas proyek tersebut

b. Membandingkan target dengan hasil pencapaian proyek (data yang

dikumpulkan dan teknik pengumpulan data harus sama).

c. Teknik yang digunakan : pengambilan data langsung

d. Alat yang digunakan : kuesioner

2. Membuat kesimpulan

a. Hasil menjanjikan namun perlu perubahan.

b. Jika promosi kesehatan gagal, dicari cara penyelesaian lain.

c. Jika promosi kesehatan berhasil, selanjutnya dibuat rutinitas.

D. Action

1. Standarisasi perubahan

a. Pertimbangkan area mana saja yang mungkin diterapkan

b. Revisi proses yang sudah diperbaiki

c. Komunikasikan pada seluruh staf atas perubahan yang dilakukan.

21
d. Mengembangkan rencana yang jelas.

e. Dokumentasikan kegiatan promosi kesehatan

2. Memonitor perubahan

a. Melakukan pengukuran dan pengendalian proses secara teratur

22