Anda di halaman 1dari 15

Label: ASKEP

 
 

ASKEP ABORTUS

 
Label: <a href=ASKEP Asuhan Keperawatan Abortus atau Aborsi NANDA NIC NOC Lengkap ASKEP ABORTUS Definisi Aborsi/Abortus (Keguguran) merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan yang menurut para ahli ada sebelum usia 16 minggu dan 28 minggu dan memiliki BB 400-1000 gram, tetapi jika terdapat fetus hidup dibawah 400 gram itu dianggap keajaiban karena semakin tinggi BB anak waktu lahir makin besar kemungkinan untuk dapat hidup terus (Amru Sofian, 2012). Klasifikasi Adapun aborsi atau abortus diklasifikasikan berdasarkan kejadian dibagi menjadi dua sebagai berikut : " id="pdf-obj-0-16" src="pdf-obj-0-16.jpg">

Definisi

Aborsi/Abortus (Keguguran) merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan yang menurut para ahli ada sebelum usia 16 minggu dan 28 minggu dan memiliki BB 400-1000 gram, tetapi jika terdapat fetus hidup dibawah 400 gram itu dianggap keajaiban karena semakin tinggi BB anak waktu lahir makin besar kemungkinan untuk dapat hidup terus (Amru Sofian, 2012).

Klasifikasi

 

Adapun aborsi atau abortus diklasifikasikan berdasarkan kejadian dibagi menjadi dua sebagai berikut :

1.

Abortus spontan, aborsi yang terjadi semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah dan dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau pun medisinalis.

2. Abortus provakatus (induced abortion), aborsi yang dilakukan dengan sengaja dengan mengomsumsi obat-obatan ataupun dengan menggunakan alat-alat untuk aborsi. Aborsi Provakatus terbagi menjadi dua:

Label: <a href=ASKEP Asuhan Keperawatan Abortus atau Aborsi NANDA NIC NOC Lengkap ASKEP ABORTUS Definisi Aborsi/Abortus (Keguguran) merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan yang menurut para ahli ada sebelum usia 16 minggu dan 28 minggu dan memiliki BB 400-1000 gram, tetapi jika terdapat fetus hidup dibawah 400 gram itu dianggap keajaiban karena semakin tinggi BB anak waktu lahir makin besar kemungkinan untuk dapat hidup terus (Amru Sofian, 2012). Klasifikasi Adapun aborsi atau abortus diklasifikasikan berdasarkan kejadian dibagi menjadi dua sebagai berikut : 1. Abortus spontan, aborsi yang terjadi semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah dan dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau pun medisinalis. 2. Abortus provakatus (induced abortion), aborsi yang dilakukan dengan sengaja dengan mengomsumsi obat-obatan ataupun dengan menggunakan alat-alat untuk aborsi. Aborsi Provakatus terbagi menjadi dua: a. Abortus Medisinalis adalah abortus karena sengaja dilakukan berdasarkan tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli. " id="pdf-obj-0-42" src="pdf-obj-0-42.jpg">
  • a. Abortus Medisinalis adalah abortus karena sengaja dilakukan berdasarkan tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.

  • b. Aborsi Kriminalis adalah aborsi yang dilakukan berdasarkan tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.

Etiologi

Adapun etiologi aborsi disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

Faktor-faktor yang menyebabkan kematian fetus yaitu faktor ovum itu sendiri, faktor ibu, dan faktor bapak (Amru Sofian, 2012).

  • 1. Kelainan Ovum, sebagai berikut : Ovum patologis, Kelainan letak embrio, Plasenta yang abnormal.

  • 2. Kelainan Genitalia Ibu, sebagai berikut: Anomali kongenital (hipoplasia uteri, uterus bikornis, dll). Kelainan letak dari uterus dalam menanti nidas dari ovum yang sudah dibuahi, seperti kurangnya progesteron atau estrogen, endometritis,mioma submukosa. uterus terlalu cepat terengang (kehamilan ganda, mola). Distorsio uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis.

  • 3. Gangguan sirkulasi plasenta.

  • 4. Penyakit-penyakit ibu seperti : Pneumonia, tifoid, pielitis, rubeola, demam malta, dll. dapat juga dari keracunan Pb, nikotin, gas racun, alkohol, dll. Juga terdapat pada ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasi kordis, penyakit paru berat, anemia gravis. serta ibu yang mengalami malnutrisi, avitaminosis, dan gangguan metabolisme, hipotiroid, kekurangan vitamin A, C, atau E, dan diabetes miletus.

  • 5. Antagonis Rhesus yang berasal dari darah ibu yang melalui plasenta, merusak darah fetus, sehingga menjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.

  • 6. Terlalu cepatnya korpus luteum menjadi atrofis.

  • 7. Perangsangan terhadap ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi, seperti sangat terkejut, obat- obatan uterotonika, katakulan laparotomi, dll.

  • 8. Penyakit bapak: Usia lanjut, penyakit kronis.

Manifestasi Klinis

Adapun manifestasi klinis Aborsi/Abortus Spontan dapat dilihat sebagai berikut :

  • 1. Aborsi immines (threatened abortion) merupakan keguguran tingkat permulaan. Keguguran belum terjadi sehingga kehamilan dapat dipertahankan dengan cara: Tirah baring, gunakan preparat progesteron,

tidak

berhubungan

badan,

evaluasi

secara

berkala

dengan

USG

untuk

melihat

perkembangan janin.

  • 2. Abortus insipien Adalah proses keguguran yang sedang berlangsung sebelum kehamilan berusia 20 minggu dan konsepsi masih di dalam uterus. Ditandai dengan adanya rasa sakit karena telah terjadi kontraksi rahim untuk mengeluarkan hasil konsepsi. Ostium bisa ditemukan sudah terbuka dan kehamilan tidak dapat dipertahankan.

  • 3. Abortus inkompletus (keguguran bersisa) adalah abortus yang hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tinggal adalah desidua atau plasenta. Gejala: Amenorea, sakit perut, mulas mulas, perdarahan sedikit/ banyak, dan biasa berupa stolsel (darah beku), sudah ada fetus atau jaringan yang keluar, tetapi jika perdarahan belum berhenti karena konsepsi belum keluar semua akan menyebabkan syok. Ini terjadi sebelum kehamilan berusia 20 Minggu.

  • 4. Abortus komplitus (keguguran lengkap) Artinya seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus), sehingga rahim kosong.

  • 5. Missed abortion adalah keadaan dimana janin yang telah mati masih berada di dalam rahim sebelum berusia 20 minggu tetapi hasil konsepsi masih tertahan dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih. Dapat diketahui dengan USG.

b. Aborsi Kriminalis adalah aborsi yang dilakukan berdasarkan tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi
 

Komplikasi Abortus

 

Adapun komplikasi dari abortus adalah sebagai berikut:

Perdarahan (hemorrhage) Perforasi: Sering terjadi di waktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh tenaga yang tidak ahli seperti bidan dan dukun. Infeksi dan tetanus.

Payah ginjal akut.

 

Syok karena perdarahan banyak dan infeksi berat atau sepsis.

 

Pemeriksaan Penunjang

 

Pemeriksaan penunjangnya sebagai berikut:

1.

Tes kehamilan dengan hasil positif bila janin masih hidup, bahkan 2 sampai 3 minggu setelah

 

abortus.

2.

Pemeriksaan doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.

 

3.

Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.

 
 

Penatalaksanaan

 

Untuk penatalaksanaan aborsi dapat dilihat berikut ini:

Abortus Imminens

 
 
  • 1. Tirah baring total

 
  • 2. Jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan atau hubungan seksual.

 
  • 3. Jika perdarahan berhenti, lakukan asuhan antenatal seperti biasa, lakukan penilaian jika

perdarahan terjadi lagi. Jika perdarahan terus berlangsung, nilai kondisi janin (uji kehamilan atau USG). Jika perdarahan berlanjut, khususnya ditemukan uterus yang lebih besar dari yang diharapkan, mungkin menunjukkan kehamilan ganda atau mola. Abortus insipien

 
  • 1. Jika usia kehamilan kurang 16 Minggu, lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. Jika evaluasi tidak dapat, segera berikan ergometrin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah

 
  • 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu).

Kemudian segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.

 
 
  • 2. Jika usia kehamilan lebih 16 Minggu, tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa sisa hasil konsepsi. Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik, atau larutan ringer laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi.

Abortus inkomplit

 
 
  • 1. Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang 16 Minggu, evaluasi dapat

 

dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler atau Misoprostol 400 mcg per oral

 
  • 2. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang 16 Minggu, evaluasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler (diulang setelah

 
  • 15 menit bila perlu) atau Misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu).

 
Masalah Yang Lazim Muncul Perencanaan yang dapat dilakukan sebagai berikut : dd 1 selama 2 hari.
Masalah Yang Lazim Muncul
Perencanaan yang dapat dilakukan sebagai berikut :
dd 1 selama 2 hari.
2
Menurut Sastrawinata (2005), abortus terapeutik dapat dilakukan dengan cara:
Konstipasi.
ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg). Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam
uterus.
Jika kehamilan lebih 16 Minggu, berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena
(garam fisiologik atau ringer laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit sampai terjadi ekspulsi
hasil konsepsi. Jika perlu berikan misoprosol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi
Tidak perlu evaluasi lagi
Observasi untuk melihat adanya perdarahan.
Apabila terdapat anemia sedang, berikan tablet sulfas ferrosus 600 mg per hari selama 2 minggu.
Jika anemia berat berikan transfusi darah. (Rustam Mochtar)
pemberian secara ekstrauterin atau intrauterin obat abortus, seperti prostaglandin,
antiprogesteron, atau oksitosin.
Pemasangan batang laminaria atau dilapan akan membuka serviks secara perlahan dan tidak
traumatis sebelum kemudian dilakukan evakuasi dengan kuret tajam atau vakum.
Dilatasi serviks dilanjutkan dengan evakuasi, dipakai dilator Hegar dilanjutkan dengan
kuretase.
Histerektomi/ histerektomi.
Discharge Planning
Masalah-masalah keperawatan yang lazim muncul adalah sebagai berikut:
Kekurangan volume cairan hubungan dengan perdarahan.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
Nyeri akut hubungan dengan kerusakan jaringan intra uteri.
Resiko infeksi hubungan dengan kondisi vulva lembab.
Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan.
Resiko syok (hipovolemik) berhubungan dengan perdarahan pervaginam
Dianjurkan memakai kontrasepsi.
Dianjurkan melakukan pemeriksaan TORCH (Cytomegalovirus, Toksoplasma, Rubella dan Herpes
virus.
Banyak istirahat baring.
 Banyak konsumsi makanan yang bergizi dan olahraga secara teratur.
 Sampaikan informasi pada pasangan yang bersangkutan bahwa janin mati tak membahayakan
kehidupan wanita tersebut sampai 3 minggu setelah kematian janin.
Pemilihan cara persalinan apakah akan persalinan sungguh secara spontan atau segera dilahirkan
dengan induksi persalinan harus dibahas dengan baik.
Induksi persalinan dapat dilakukan dengan misoprosol 100 sampai 200 ...
Bila pasien menghendaki agar persalinan berlangsung secara spontan maka harus dilakukan
pemeriksaan faal hemostasis dan kadar fibrinogen.
2.
7.
6.
5.
4.
3.
2.
1.
Kimiawi:
Mekanis
1.
Abortus komplit
3.
1.
2.
3.
Abortus terapeutik

Pathway

Pathway INTERVENSI NIC DAN KRITERIA HASIL NOC

INTERVENSI NIC DAN KRITERIA HASIL NOC

Kekurangan Volume Cairan

NOC

NIC

bang popok/pembalut jika

Definisi : Penurunan cairan intravaskular, interstisial, dan/intraseluler. Ini mengacu

pada dehidrasi, kehilangan tanpa perubahan pada natrium.

id balance dration tritional status : Food and

id Intake

Fluid Management

erlukan rtahankan catatan intake dan

Batasan Karakteristik :

tput yang akurat

rubahan status mental

Kriteria Hasil :

onitor status hidrasi

rubahan tekanan darah nurunan tekanan nadi nurunan turgor kulit nurunan turgor lidah nurunan haluaran urin nurunan pengisian vena

mpertahankan urine tput sesuai dengan usia n BB, BJ urine normal, HT rmal. kanan darah, nadi, suhu buh dalam batas normal.

lembaban membran mukosa, di adekuat, tekanan darah ostatik), jika diperlukan onitor vital sign onitor masukan makanan/cairan n hitung intake kalori harian

mbran mukosa kering lit kering ningkatan hematokrit ningkatan suhu tubuh ningkatan frekuensi nadi ningkatan konsentrasi urin nurunan berat badan a-tiba (kecuali pada ruang ketiga) us lemahan

ak ada tanda-tanda hidrasi, elastisitas turgor it baik, tidak ada rasa haus ng berlebihan.

laborasikan pemberian cairan IV onitor status nutrisi rikan cairan IV pada suhu ngan rong masukan oral rikan penggantian nesogatrik uai output rong keluarga untuk membantu sien makan warkan snack (jus buah, buah

Faktor Yang Berhubungan

gar) laborasi dengan dokter

hilangan cairan aktif gagalan mekanisme regulasi

ur kemungkinan transfusi rsiapan untuk transfusi

Hypovolemia Management

onitor status cairan termasuk ake dan output cairan lihara IV line onitor tingkat Hb dan hematokrit onitor tanda vital onitor respon pasien terhadap nambahan cairan onitor berat badan rong pasien untuk menambah ake oral mberian cairan IV monitor anya tanda dan gejala kelebihan ume cairan onitor adanya tanda gagal ginjal

Intoleransi Aktivitas

NOC

NIC

Definisi :Ketidakcukupan energi

melanjutkan atau menyelesaikan aktifitas

Batasan Karakteristik :

ergy conservation

Kriteria Hasil :

Activity Therapy

psikologis atau fisiologis untuk

kehidupan sehari-hari yang harus atau yang ingin dilakukan.

tivity tolerance f care : ADLs

laborasikan dengan tenaga abilitasi medik dalam rencanakan program terapi

rpartisipasi dalam aktivitas

ng tepat ntu klien untuk mengidentifikasi

spon tekanan darah abnormal terhadap

k tanpa disertai

ivitas yang mampu dilakukan

ivitas spon frekwensi jantung abnormal terhadap ivitas rubahan EKG yang mencerminkan aritmia rubahan EKG yang mencerminkan iskemia tidaknyamanan setelah beraktifitas spnea setelah beraktifitas nyatakan merasa letih nyatakan merasa lemah

ningkatan tekanan darah, di, dan RR mpu melakukan aktifitas ri-hari (ADLs) secara ndiri nda-tanda vital normal ergy psikomotor vel kelemahan mpu berpindah : Dengan u tanpa bantuan alat

ntu untuk memilih aktifitas nsisten yang sesuai dengan mampuan fisik, psikologi, dan cial ntu untuk mengidentifikasi dan ndapatkan sumber yang erlukan untuk aktifitas yang nginkan ntu untuk mendapatkan alat ntu aktifitas seperti kursi roda,

Faktor Yang Berhubungan :

tus kardiopulmunari

k

ah baring atau imobilisasi lemahan umum tidakseimbangan antara suplei dan butuhan oksigen obilitas

ekuat kulasi status baik tus respirasi : Pertukaran s dan ventilasi adekuat

ntu untuk mengidentifikasi ifitas yang disukai ntu klien untuk membuat jadwal ihan diwaktu luang ntu pasien/keluarga untuk

ya hidup monoton

ngidentifikasi kekurangan am beraktivitas diakan penguatan positif bagi ng aktif beraktivitas ntu pasien untuk ngembangkan motivasi diri dan nguatan onitor respon fisik, emosi, social, n spiritual.

Nyeri Akut

NOC

NIC

Definisi : Pengalaman sensori dan

n level

Pain Management

emosional yang tidak menyenangkan

n control

kukan pengkajian nyeri secara

apeutik untuk mengetahui

yang muncul akibat kerusakan jaringan

mfort level

mprehensif termasuk lokasi,

yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan

Kriteria Hasil :

rakteristik, durasi, frekuensi, alitas dan faktor presipitasi

sedemikian rupa (International Association for the study if pain) : awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas

mpu mengontrol nyeri hu penyebab nyeri, mampu nggunakan tehnik nfarmakologi untuk

servasi reaksi nonverbal dari idaknyamanan nakan teknik komunikasi

ringan hingga berat dengan akhir dapat diantisipasi atau diprediksi dan

ngurangi nyeri, mencari

ngalaman nyeri pasien

berlangsung <6 bulan

ntuan)

  • i kultur yang mempengaruhi

Batasan Karakteristik :

laporkan bahwa nyeri

pon nyeri

rubahan selera makan rubahan tekanan darah rubahan frekwensi jantung rubahan frekwensi pernapasan poran isyarat foresis rilaku distraksi misalnya berjalan mondar- ndir mencari orang lain dan aktivitas lain,

rkurang dengan nggunakan manajemen eri mpu mengenali (skala, ensitas, frekuensi dan da nyeri) nyatakan rasa nyaman elah nyeri berkurang

aluasi pengalaman nyeri masa pau aluasi bersama pasien dan tim sehatan lain tentang idakefektifan kontrol nyeri sa lampau ntu pasien dan keluarga untuk ncari dan menemukan

ivitas yang berulang ngekspresikan perilaku (misalnya, gelisah, rengek, menangis) sker wajah (misalnya, mata kurang rcahaya, tampak kacau, gerakan mata rpencar, atau tetap pada satu focus ringis) ap melindungi area nyeri

kungan ntrol lingkungan yang dapat mpengaruhi nyeri seperti suhu ngan, pencahayaan dan bisingan rangi faktor presipitasi nyeri h dan lakukan penanganan eri (fakmakologi, non

cus menyempit (misalnya, gangguan

makologi dan interpersonal)

rsepsi nyeri, hambatan proses berfikir,

  • i tipe dan sumber nyeri untuk

nurunan interaksi dengan orang dan

nentukan intervensi

gkungan) ikasi nyeri yang dapat diamati rubahan posisi untuk menghindari nyeri ap tubuh melindungi atasi pupil laporkan nyeri secara verbal ngguan tidur

 

rkan tentang teknik non makologi rikan analgetik untuk ngurangi nyeri aluasi keefektifan kontrol nyeri gkatkan istirahat laborasikan dengan dokter jika

Faktor Yang Berhubungan :

a keluhan dan tindakan nyeri ak berhasil

en cedera (misalnya, biologis, zat kimia,

onitor penerimaan pasien

k, psikologi)

tang manajemen nyeri

Analgesic Administration

ntukan, lokasi karakteristik, alitas, dan derajat nyeri sebelum mberian obat k instruksi dokter tentang jenis at, dosis, dan frekuensi k riwayat alergi h analgesic yang diperlukan u kombinasi dari analgesic ika pemberian lebih dari Satu ntukan pilihan analgesik gantung tipe dan beratnya nyeri ntukan analgesik pilihan, rute mberian, dan dosis optimal h rute pemberian secara IV, IM tuk pengobatan nyeri secara atur onitor vital sign sebelum dan udah pemberian analgesik rtama kali rikan analgesik tepat waktu utama saat nyeri hebat aluasi efektivitas analgesik,

da dan gejala

Resiko infeksi

NOC

NIC

Definisi : mengalami peningkatan resiko terserang organisme patogenik

mune status owledge : Infection control

Infection Control (kontrol infeksi)

Faktor-Faktor Resiko :

k control

rsihkan lingkungan setelah

Penyakit kronis :

akai pasien lain

betes mellitus

Kriteria Hasil :

rtahankan teknik isolasi

esitas

en bebas dari tanda dan

tasi pengunjung bila perlu

Pengetahuan yang tidak cukup untuk untuk menghindari pemanjanan pathogen. Pertahanan tubuh primer yang tidak

ala infeksi ndeskripsikan proses nularan penyakit, faktor ng mempengaruhi serta

truksikan pada pengunjung tuk mencuci tangan saat rkunjung dan setelah rkunjung meninggalkan pasien

adekuat :

natalaksanaannya

nakan sabun antimikrobia untuk

ngguan peristalsis rusakan integritas kulit (pemasangan eter intravena, prosedur invasif) rubahan sekresi pH nurunan kerja siliaris cah ketuban dini cah ketuban lama rokok tis cairan tubuh

nunjukkan kemampuan tuk mencegah timbulnya eksi mlah leukosit dalam batas rmal nunjukkan perilaku hidup hat

ncuci tangan ci tangan setiap sebelum dan udah tindakan keperawatan nakan baju, sarung tangan bagai alat pelindung rtahankan lingkungan aseptik ama pemasangan alat nti letak IV perifer dan line ntral dan dressing sesuai dengan

uma jaringan (misalnya trauma destruksi ingan)

tunjuk umum nakan kateter intermiten untuk

Ketidakadekuatan pertahanan sekunder :

nurunkan infeksi kandung ncing

nurunan hemoglobin unosupresi (misalnya imunitas didapat ak adekuat, agen farmaseutikal termasuk unosupresan, steroid, antibodi noclonal, imunomudulator) presi respon inflamasi

gkatkan intake nutrisi rikan terapi antibiotic bila perlu ection protection (proteksi hadap infeksi) onitor tanda dan gejala infeksi temik dan lokal

Vaksinasi tidak adekuat Pemajanan terhadap pathogen

onitor hitung granulosit, WBC onitor kerentangan terhadap

lingkungan meningkat :

eksi

Wabah

tasi pengujung

Prosedur invasif

ring pengunjung terhadap

Malnutrisi

nyakit menular rtahankan teknik asepsis pada sien yang beresiko rtahankan teknik isolasi k/p rikan perawatan kulit pada area idema peksi kulit dan membran kosa terhadap kemerahan, nas, drainase peksi kondisi luka/insisi bedah rong masukkan nutrisi yang kup rong masukkan cairan rong istirahat truksikan pasien untuk minum tibiotic sesuai resep rkan pasien dan keluarga tanda n gejala infeksi rkan cara menghindari infeksi porkan kecurigaan infeksi porkan kultur positif

Ansietas

NOC

NIC

Definisi : Perasaan tidak nyaman atau

Batasan Karakteristik :

xiety self-control

Anxiety Reduction

kekawatiran yang samar disertai respon

xiety level

(penurunan kecemasan)

autonom (sumber sering kali tidak

ping

nakan pendekatan yang

diketahui oleh individu); perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap

Kriteria Hasil

nenangkan atakan dengan jelas harapan

bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang memperingatkan individu akan adanya bahaya dan kemampuan individu untuk bertindak menghadapi ancaman.

en mampu ngidentifikasi dan ngungkapkan gejala cemas ngidentifikasi, ngungkapkan dan nunjukkan teknik untuk

hadap pelaku pasien askan semua prosedur dan apa ng dirasakan selama prosedur hami prespektif pasien terhadap uasi stress mani pasien untuk memberikan

Perilaku :

ngontrol cemas

amanan dan mengurangi takut

nurunan produktivitas

al sign dalam batas normal

rong keluarga untuk menemani

rakan yang irelevan lisah lihat sepintas omnia ntak mata yang buruk ngekspresikan kekawatiran karena rubahan dalam peristiwa hidup itasi ngintai mpak waspada

stur tubuh, ekspresi wajah, hasa tubuh dan tingkat ivitas menunjukkan rangnya kecemasan

ak kukan back/neck rub ngarkan dengan penuh rhatian ntifikasi tingkat kecemasan ntu pasien mengenal situasi ng menimbulkan kecemasan rong pasien untuk ngungkapkan perasaan, akutan, persepsi

Affektif :

truksikan pasien mengunakan

lisah, distress sedihan yang mendalam takutan rasaan tidak adekuat rfokus pada diri sendiri ningkatan kewaspadaan abilitas gup senang berlebihan sa nyeri yang meningkatkan idakberdayaan ningkatan rasa ketidakberdayaan yang rsisten gung, menyesal gu/tidak percaya diri

nik relaksasi rikan obat untuk mengurangi cemasan.

awatir

Fisiologis :

jah tegang, tremor tangan ningkatan keringat ningkatan ketegangan metar, tremor ara bergetar

Simpatik :

oreksia sitasi kardiovaskular

re, mulut kering jah merah tung berdebar-debar ningkatan tekanan darah ningkatan denyut nadi ningkatan reflek

   

ningkatan frekwensi pernapasan, pupil lebar sulitan bernapas sokontriksi superfisial mah, kedutan pada otot

Parasimpatik :

eri abdomen

nurunan tekanan darah nurunan denyut nadi re, mual, vertigo ih, gangguan tidur semutan pada ekstremitas ring berkemih yang-anyangan rongan segera berkemih

Kognitif :

nyadari gejala fisiologi king fikiran, konfusi nurunan lapang persepsi sulitan berkonsentrasi nurunan kemampuan belajar nurunan kemampuan untuk memecahkan salah takutan terhadap konsekwensi yang tidak esifik pa, gangguan perhatian awatir, melamun

nderung menyalahkan orang lain

Faktor Yang Berhubungan :

rubahan dalam (status ekonomi, gkungan, status kesehatan, pola interaksi, gsi peran, status peran) majanan toksin rkait keluarga rediter eksi/kontaminan interpersonal nularan penyakit interpersonal sis maturasi, krisis situasional ess, ancaman kematian nyalahgunaan zat caman pada (status ekonomi, lingkungan,

tus kesehatan, pola interaksi, fungsi peran, tus peran, konsep diri) nflik tidak disadari mengenai tujuan nting hidup nflik tidak disadari mengenai nilai yang ensial/penting butuhan yang tidak dipenuhi

   

Resiko syok (hipofolemik)

NIC

NIC

Definisi : beresiko terhadap

Faktor Resiko :

ok prevention

Syok Prevention

ketidakcukupan aliran darah kejaringan

ok management

onitor status sirkulasi BP, warna

piler refill

HB, HT, AGD dan elektrolit

Syok Management

tubuh, yang dapat mengakibatkan disfungsi seluler yang mengancam jiwa

Kriteria Hasil :

it, suhu kulit, denyut jantung, , dan ritme, nadi perifer, dan

di dalam batas yang

rmal

potensi povolemia poksemia poksia eksi psis drom respons inflamasi sistemik

arapkan ma jantung dalam batas ng diharapkan kuensi nafas dalam batas ng diharapkan ma pernapasan dalam tas yang diharapkan trium serum dalam batas rmal ium serum dalam batas rmal rida serum dalam batas rmal sium serum dalam batas rmal gnesium dalam batas rmal darah serum dalam batas

onitor tanda inadekuat sigenasi jaringan onitor suhu dan pernapasan onitor input dan output ntau nilai labor :

onitor hemodinamika invasi ng sesuai onitor tanda dan gejala asites onitor tanda awal syok mpatkan pasien pada posisi pine, kaki elevasi untuk ningkatan preload dengan tepat at dan pelihara kepatenan jalan fas rikan cairan IV atau oral yang at rikan vasodilator yang tepat rkan keluarga dan pasien

tang tanda dan gejala tangnya syok rkan keluarga dan pasien tang langkah untuk mengatasi ala syok

onitor fungsi neurologis onitor fungsi renal (e.g BUN dan Level) onitor tekanan nadi onitor status cairan, input tput tat gas darah arteri dan oksigen ingan

   

onitor, sesuai manfaatkan pemantauan jalur eri untuk meningkatkan akurasi mbacaan tekanan darah, sesuai nggambar gas darah arteri dan monitor jaringan oksigenasi mantau tren dalam parameter modinamik (misalnya CVP, MAP, anan kapiler pulmonal/arteri) ntau faktor penentu pengiriman ingan oksigen (misalnya, PaO2 dar hemoglobin SaO2, CO), jika sedia ntau tingkat karbon dioksida blingual dan tonometry bung, sesuai onitor gejala gagal pernafasan isalnya, rendah PaO2 ningkatan PaCO2 tingkat, elahan otot pernafasan) onitor nilai laboratorium isalnya, CBC dan diferensial) agulasi profil, ABC, tingkat tat, budaya dan profil kimia) sukkan dan memelihara sarnya kobosanan akses IV

Konstipasi

Batasan Karakteristik :

NOC

NIC

Definisi : penurunan pada frekwensi

wel elimination

Constipation/Impaction

normal defekasi yang disertai oleh

dration

Management

kesulitan atau pengeluaran tidak lengkap feses/pengeluaran feses yang kering,

Kriteria Hasil :

onitor tanda dan gejala

keras, dan banyak

mpertahankan bentuk es lunak setiap 1-3 hari

ses lunak dan berbentuk

nstipasi onitor bising usus onitor feses : frekuensi,

eri abdomen eri tekan abdomen dengan teraba istensi otot eri tekan abdomen tanpa teraba resistensi t oraksia nampilan tidak khas pada lansia (misalnya rubahan pada status mental, inkontinensia unarius, jatuh yang tidak penyebabnya, ningkatan suhu tubuh) rbogirimi rah merah pada feses rubahan pada pola defekasi nurunan frekwensi penurunan volume

bas dari ketidaknyamanan n konstipasi ngidentifikasi indikator tuk mencegah konstipasi

nsistensi, dan volume nsultasi dengan dokter tentang nurunan dan peningkatan bising us onitor tanda dan gejala ruptur us/peritonitis askan etiologi dan rasionalisasi dakan terhadap pasien ntifikasi faktor penyebab dan ntribusi konstipasi kung intake cairan laborasikan pemberian laksatif ntau tanda-tanda dan gejala paksi

es tensi abdomen sa rektal penuh sa tekan rektal letihan umum ses keras dan berbentuk kit kepala ing usus hiperaktif ing usus hipoaktif ningkatan tekanan abdomen ak dapat makan, mual mbesan feses cair eri pada saat defekasi ssa abdomen yang dapat diraba anya feses lunak, seperti pasta didalam tum rkusi abdomen pekak ring flatus ngejan pada saat defekasi ak dapat mengeluarkan feses ntah

 

ntau gerakan usus, termasuk nsistensi frekuensi, bentuk, ume dan warna mantau bising usus nsultasikan dengan dokter tang penurunan/kenaikan kuensi bising usus. ntau tanda dan gejala pecahnya us/ adanya peritonitis askan etiologi masalah dan mikiran untuk tindakan untuk sien nyusun jadwal ketoilet rong meningkatkan asupan ran, kecuali dikontraindikasikan aluasi profil obat untuk efek mping gastrointestinal jurkan pasien/keluarga untuk ncatat warna, volume, kuensi, dan konsistensi tinja rkan pasien/keluarga

Faktor Yang Berhubungan :

gaimana untuk menjaga buku rian makanan

Fungsional :

jurkan pasien/keluarga untuk

lemahan otot abdomen

biasaan mengabaikan dorongan defeksi tidakadekuatan toileting (misalnya batasan ktu, posisi untuk defekasi, privasi) rang aktivitas fisik biasaan defekasi tidak teratur rubahan lingkungan saat ini

t tinggi serat jurkan pasien/keluarga pada nggunaan yang tepat dari obat ncahar jurkan pasien/keluarga pada bungan asupan diet, olahraga, n cairan sembelit/impaksi

Psikologis :

nyarankan pasien untuk

presi, stress emosi

rkonsultasi dengan dokter jika

nfusi mental

mbelit atau impaksi terus ada

Farmakologis :

nginformasikan pasien

tasida mengandung aluminium

osedur penghapusan manual

tikolinergik, antikonvulsan tidepresan ens antilipemik ram bismuth sium karbonat nyekat saluran kalsium retic, garam besi

ri tinja, jika perlu paskan impaksi tinja secara nual, jika perlu bang pasien secara teratur rkan pasien atau keluarga tang proses pencernaan yang rmal.

nyalah gunaan laksatif ens anti inflamasi non steroid iate, fenotiazid, sedative patomimemik

Mekanis :

tidakseimbangan elektrolit moroid nyakit hirschsprung ngguan neurologist esitas struksi pasca-bedah hamilan mbesaran prostat ses rektal ura anak rektal iktur anak rektal olaps rektal, ulkus rektal ktokel, tumor

   
 

Fisiologis :

rubahan pola makan rubahan makanan nurunan motilitas traktus gastrointestinal hidrasi tidakadekuatan gigi geligi tidakadekuatan hygiene oral upan serat tidak cukup upan cairan tidak cukup

biasaan makan buruk

   

DAFTAR PUSTAKA

 

Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.

Aborsi/Abortus (Keguguran) merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan yang menurut para ahli ada sebelum usia 16 minggu dan 28 minggu dan memiliki BB 400-1000 gram, tetapi jika terdapat fetus hidup dibawah 400 gram itu dianggap keajaiban karena semakin tinggi BB anak waktu lahir makin besar kemungkinan untuk dapat hidup terus (Amru Sofian, 2012).