Anda di halaman 1dari 2

Arsen adalah senyawa metaloid yang cukup toksik.

Arsen anorganik yang larut dalam air


dapat terabsorbsi, lalu terdistribusi ke dalam hati, ginjal, paru-paru, limpa, aorta, dan kulit,
Toksisitas senyawa arsenik dan sangat bervariasi. Bentuk organik tampaknya memiliki
toksisitas yang lebih rendah daripada bentuk arsenik anorganik.. Penelitian telah menunjukkan
bahwa arsenites (trivalen bentuk) memiliki toksisitas akut yang lebih tinggi daripada arsenates
(pentavalent bentuk). Minimal dosis akut arsenik yang mematikan pada orang dewasa
diperkirakan 70-200 mg atau 1 mg/kg/hari. Sebagian besar melaporkan keracunan arsenik tidak
disebabkan oleh unsur arsenik, tapi oleh salah satu senyawa arsen, terutama arsenik trioksida,
yang sekitar 500 kali lebih beracun daripada arsenikum murni. Dampak yang paling kronis
dalah blackfoot disease, suatu penyakit pembulur perifer yang pernah terjadi di Taiwan.
Sumber cemaran Arsen biasanya berasal dari air yang digunakan selama proses produksi atau
kontaminasi dari peralatan logam yang dipakai.
Mekanisme Masuknya Arsen dalam tubuh manusia umumnya melalui oral, dari
makanan/minuman. Arsen yang tertelan secara cepat akan diserap lambung dan usus halus
kemudian masuk ke peredaran darah (Wijanto, 2005).
Apabila arsen terikat dengan gugus sulfhidril (-SH) di dalam sel, terutama yang berada
dalam enzim, salah satunya kompleks.piruvat dehidrogenase yang berfungsi untuk oksidasi
dekarboksilasi piruvat menjadi Co-A dan CO2 sebelum masuk dalam siklus TOA
(tricarbocyclic acid). Reaksi tersebut melibatkan transasetilasi yang mengikat koenzim
A(CoA-SH) untuk membentuk asetil CoA dan dihidrolipoil-enzim, yang mengandung dua
gugus sulfhidril yang sangat berperan mengikat arsen trivial yang membentuk kelat dari
dihidrofil-arsenat dapat menghambat reoksidasi akibatnya akan terjadi akumulasi asam piruvat
dalam darah. Selama Arsen bergabung dengan gugus –SH, maka akan banyak ikatan As dalam
hati yang terikat sebagai enzim metabolic. Karena adanya protein yang juga mengandung
gugus –SH terikat dengan As, maka hal inilah yang meneyebbkan As juga ditemukan dalam
rambut, kuku dan tulang. Karena eratnya As bergabung dengan gugus –SH, maka arsen masih
dapat terdeteksi dalam rambut dan tulang bebrapa tahun kemudian.
Toksisitas akut arsen biasanya memperlihatkan gejala sakit perut, gejala tersebut disebabkan
oleh adanya vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) yang akan mengakibatkan terbentuknya
vesikel (lepuh) pada lapisan submukose lambung dan usus. Tanda-tanda toksisitas As yang
akut juga terlihat jelas ialah dengan ditemukannya gejala rambut rontok kebotakan (alopesia),
tidak berfungsinya saraf tepi yang ditandai dengan kelumpukan anggota gerak bagian bawah,
kaki lemas,persendian tangan lumpuh, dan daya reflex menurun. Toksisitas As kronik juga
dapat meningkatkan penyebab risiko terjadinya kanker pada kulit, paru-paru, hati (liver-
angiosarkoma), kantung kencing, ginjal, dan kolon. Sekitar 90% arsen yang diabsorbsi dalam
tubuh manusia tersimpan dalam hati,ginjal,dinding saluaran pencernaan,limfa, dan paru.Juga
tersimpan dalam jumlah sedikit dalam rambut dan kuku serta dapat terdeteksi dalam waktu
lama, yaitu beberapa tahun setelah keracunan kronis.Di dalam darah yang normal ditemukan
arsen 0,2µg/100ml. sedangkan pada kondisi keracunan ditemukan 10µg/100ml dan pada
oarng yang mati keracunan arsen ditemukan 60-90µg/100ml.
Pada praktikum ini dilakukan analisis arsen baik secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis
kualitatif arsen menggunakan Metoda Gutzeit, dimana indikator yang digunakan adalah
AgNO3 1 %. Prinsipnya adalah senyawa As direduksi oleh H2 (hasil reaksi Zn dengan
H2SO4 4N) menjadi AsH3 yang berbentuk gas. Kegunaan kertas saring / kapas yang telah
diinfiltrir dengan Pb asetat adalah untuk menangkap H2S yang timbul yang dapat
mengganggu jalannya pemeriksaan Sedangkan AgNO3 berfungsi sebagai indikator, bila ada
As maka akan terjadi senyawa AsH3 yang bila bereaksi dengan AgNO3 akan berwarna
kuning dalam keadaan panas dan berwarna hitam dalam keadaan dingin.
Reaksi:
Zn + H2SO4 ------- ZnSO4 + H2
As + H2 ------- AsH3
AsH3 + 6 AgNO3 ------- AsAg3.3 AgNO3 + 3 HNO3
(berwarna kuning bila panas)
Kertas AgNO3 yang mula-mula putih kekuningan bila terkena gas AsH3 akan berubah
menjadi kuning terlebih dahulu, lalu di bawahnya timbul warna oranye, coklat, dan akhirnya
hitam. Jadi bagian yang paling banyak terkena gas AsH3akan berwarna hitam, yang paling
sedikit akan berwarna kuning.
Dalam keadaan dingin akan berubah menjadi hitam karena dalam udara ada H2O
AsAg3.3 AgNO3 + 3 H2O ------- H3AsO + 6 Ag (hitam) + 3 HNO3
Selanjutnya penetapan kadar arsen dilakukan dengan spektrofotometri. Pada Farmakope
Indonesia Edisi IV halaman 926, terdapat penjelasan metode uji batas arsen. Prosedur ini
dimaksudkan untuk menentukan adanya sesepora arsen, dengan mengubah senyawa aresn
dalam zat uji menjadi arsin, kemudian dilewatkan melalui larutan Perak Dietilkarbamat
membentuk kompleks warna merah. Warna merah yang diperoleh dibandingkan dengan baik
secara visual atau spektrofotometri dengan larutan baku yang setara dengan batas yang tertera
dala masing-masing monografi. Batas tersebut dinyatakan sebagai arsen (As). Kandungan
arsen tidak melebihi batas yang tertera dalam masing-masing monografi.
Pada arsen organik digunakan H2SO4, KI dan SnCl2 untuk mengubah arsen valensi 5
menjadi valensi 3. Karena yang siap diubah menjadi arsin adalah yang valensi 3. Kemudian
ditambah Zn supaya mengubah As valensi 3 menjadi gas h2. Kemudian harus dilewatkan
melalui kapas/kertas penjerap, sehingga pada labu generator arsin sumbat dengan kertas
saring / kapas yang telah diinfiltrir dengan Pb asetat adalah untuk menangkap H2S yang
timbul yang dapat mengganggu jalannya pemeriksaan.. Demikian, yang lewat yang masuk
hanya arsen, Arsen akan bereaksi dengan perak dietilkarbamat membentuk senyawa
berwarna merah. Intensitas warna tergantung, dibandingkan dengan arsen standar yang sudah
jelas kadarnya.
Dalam penetapannya, bsia terdapat zat kimia pengganggu, berupa logam-logam atau garam
dari logam seperti kromium, konbalt, tembaga, raksa, molibden, nikel, paladium dan perak
dapat menganggu pembentukkan arsin. Antimon yang membentuk stibin, menunjukkan
gangguan yang positif dalam pembentukkan warna dengan Perak Dietilditiokarbamat LP. jika
diperkirakan adanya antimon, warna merah yang terjadi dalam dua larutan Perak
Dietilditiokarbamat perlu dibandingkan pada panjang gelombang serapan maksimum antara
535 nm dan 540 nm, pada panjang gelombang ini gangguan stibin dapat diabaikan.