Anda di halaman 1dari 5

Pemeriksaan formalin secara kualitatif dapat dilakukan dengan menambahkan asam

kromatropat dalam asam sulfat pekat dengan pemanasan beberapa menit akan terjadi warna
violet. Penentuan kadar formalin dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain titrasi
volumetri asam-basa (Ditjen POM, 1979) dan spektrofotometri sinar tampak menggunakan
pereaksi Nash (Herlich, 1990).
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa formalin dalam makanan dengan
metode destilasi.
Asam kromatofat digunakan untuk mengikat formalin agar terlepas dari bahan. Formalin juga
bereaksi dengan asam kromatopik menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna merah
keunguan. Reaksinya dapat dipercepat dengan cara menambahkan asam fosfat dan dan
hydrogen peroksida. Caranya bahan yang diduga mengandung formalin ditetesi dengan
campuran antara asam kromatopik, asam fosfat, dan hydrogen peroksida. Jika dihasilkan warna
merah keunguan maka dapat disimpulkan bahwa bahan tersebut mengandung formalin (Reuss
2005).
 Prinsip : Formadehide dapat diketahui dengan penambahan reagen asam kromatropat dalam asam
sulfat pekat disertai pemanasan beberapa menit akan terjadi pewarnaan violet.
 Pereaksi : Pereaksi yang digunakan adalah asam kromatropat dibuat dengan melarutkan asam
1,8-dihidroksinaftalen-3,6-diosulfat dalam H₂SO₄ 72% (kira-kira 500mg/100ml).
 Prosedur : Sebanyak 5 ml pereaksi asam kromatropat dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu
ditambah 1 ml larutan hasil destilasi sambil diaduk. Larutan dimasukkan ke dalam penangas air
mendidih selama 15 menit dan diamati perubahan warna yang terjadi. Adanya formaldehyde
ditunjukkan dengan timbulnya warna ungu terang sampai ungu tua.
(Sumber: Dr. Ir. Wisnu Cahyadi, M.Si, 2009)

Formalin dengan adanya asam kromatropat dalam asam sulfat disertai pemanasan beberapa menit
akan terjadi paewarnaan violet.

Reaksi asam kromatropat mengikuti prinsip kondensasi senyawa fenol dengan formaldehida
membentuk senyawa berwarna (3,4,5,6-dibenzoxanthylium).

Pewarnaan disebabkan terbentuknya ion karbenium-oksonium yang stabil karena mesomeri.

(sumber: http://www.scribd.com/doc/39999429/Chapterll-artikel)

Uji kuantitatif formalin menggunakan spektrofotometer. Prinsipnya adalah penyerapan warna


dengan alat spektrofotometer panjang gelombang 560 nm

http://kevinrudhy.blogspot.co.id/2013/01/formalin.html
Asam Kromatropat dengan rumus kimia C10H6Na2O8S2.2H2O adalah nama
lain dari 1,8-Dihydroxynapthalene-3,6-disulfonic acid disodium salt, memiliki
berat molekul 400,29 gr/mol. Formalin dengan adanya asam kromatropat dalam
asam sulfat disertai pemanasan beberapa menit akan terjadi pewarnaan violet
(Herlich, 1990). Bila senyawa tersebut dipanaskan dengan asam kromatropat
dalam larutan asam sulfat pekat akan membentuk warna violet. Reaksi ini terjadi
berdasarkan kondensasi formaldehida dengan sistem aromatik dari asam
kromatropat, membentuk senyawa berwarna (3,4,5,6-dibenzoxanthylium).
Pewarnaan disebabkan terbentuknya ion karbenium - oksonium yang stabil karena
mesomeri. Warna violet yang terbentuk diukur dengan alat spektrofotometer
cahaya tampak pada panjang gelombang 560-565 nm (MA PPOMN, 2006).
Dari percobaan yang kami lakukan, tentang identifikasi boraks dalam makanan, kami
memperoleh hasil pengamatan pada air rebusan mie pada tabung 2 yang ditambahkan dengan
indikator kurkumin (C21H20O6) 5 tetes terjadi perubahan warna, dari yang awalnya berwarna
kuning keruh menjadi merah kecoklatan. Hal ini dikarenakan dalam air rebusan mie kuning
(mie basah) terdapat kandungan boraks.

Pada air rebusan mie yang ditambahkan dengan indikator kurkumin (C21H20O6) membentuk
reaksi :

Boraks + Kurkumin → Rosocyanine

Na2B4O7 + C21H20O6 → B[C21H19O6] 2Cl

Terbentuk rosocyanine yang larutannya berubah menjadi berwarna merah kecoklatan.

Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa “Boraks bersifat basa, maka
keberadaan boraks dapat dideteksi dengan menggunakan indikator basa (larutan kurkumin
dalam alkohol), yang akan menunjukkan warna merah kecoklatan”.

Fungsi boraks pada makanan diantaranya adalah:

 sebagai komponen pembantu pembuatan gendar (adonan calon kerupuk)


 sebagai pengenyal pada mie basah
 sebagai pengeras pada bakso dan ketupat
 sebagai pengawet pada bakso dan kecap

Dari hasil percobaan yang telah kami lakukan, asam boraks yang terkandung dalam mie
basah setelah direaksikan dengan kurkumin menghasilkan warna merah kecoklatan. Warna
tersebut menunjukkan adanya kandungan senyawa Rosocyanine.

Hal tersebut sesuai dengan teori dan menunjukkan bahwa mie basah mengandung boraks.

Dan bila diberi uap ammonia berubah menjadi hijau-biru yang gelap maka sampel tersebut
positif mengandung boraks (Roth, 1988).

1. Uji Reaksi Pengkompleksan

Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari ion logam dengan

satu atau lebih ligan. Interaksi antara logam dengan ligan - ligan dapat diibaratkan

seperti reaksi asam-basa lewis, di mana basa lewis merupakan zat yang mampu

memberikan satu atau lebih pasangan elektron (ligan). Dalam percobaan ini yang

menjadi ligan adalah aspirin, sedangkan logamnya adalah Fe.


Fenol yang bereaksi dengan FeCl3 akan memberikan warna ungu, karena asam

salisilat adalah senyawa yang mengandung Fenol maka reaksi FeCl3 dengan asam

salisilat juga akan memberikan warna ungu. Hal ini menunjukkan bahwa telah

terbentuk senyawa kompleks dari Fe3+ dengan fenol. Fenol merupakan senyawa yang

mengandung gugus hidroksil yang terikat pada karbon tak jenuh, sehingga dapat

bereaksi dengan besi (III) klorida menghasilkan larutan berwarna.

Dari percobaan diproleh bahwa :

1) Asam salisilat ditambah FeCl3 berwarna ungu tua. Hal ini menunjukan bahwa asam

salisilat mengandung gugus fenol.

2) Aspirin comersial ditambah FeCl3 berwarna kuning kecoklatan. Hal ini

menunjukan aspirin komersial mengandung sedikit asam salisilat.

3) My aspirin ditambah FeCl3 berwarna kuning. Hal ini menunjukan bahwa my

aspirin telah murni tidak mengandung asam salisilat.

Berikut adalah struktur asam salisilat yang mengandung gugus fenol :

Fenol

Setelah kristal terbentuk, kristal dipisahkan dari larutan dengan cara disaring
dengan corong Büchner. Filtrat dari penyaringan ini kemudian dikeringkan dalam oven.
Setelah dikeringkan, produk aspirin ini diuji kemurniannya. Pada percobaan ini
kemurnian aspirin diuji dengan salah satu ujinya yaitu uji besi (III) klorida (FeCl3). Besi
(III) klorida bereaksi dengan gugus fenol membentuk kompleks ungu.
Gambar 8. Reaksi Antara FeCl3 dan Fenol
Jika besi (III) klorida ditambahkan lalu membentuk warna ungu maka terdapat asam
salisilat pada aspirin, karena asam salisilat mempunyai gugus fenol. Pada percobaan
ini, filtrat berwarna ungu setelah di teteskan FeCl3. Ini berarti bahwa ada asam salisilat
pada produk. Selain uji pada filtrat, kristal juga diuji kemurniannya. Kristal dilarutkan
dahulu dengan etanol lalu ditambahkan dengan FeCl3. Dan pada percobaan ini uji FeCl3
juga positif mengandung asam salisilat.