Anda di halaman 1dari 1

Pemeriksaan Sifilis dengan Immunoassay memegang peranan yang penting dalam diagnosis

laboratorium dari penyakit sifilis, sebab perjalanan penyakit lama dan sampai dewasa ini T. pallidum
belum berhasil untuk dibenihkan pada suatu media perbenihan. Sedangkan pemeriksaan secara
langsung (mikroskopis) hanya dapat dikerjakan pada bahan yang diambil dari lesi lues (ulcus durum,
condylomata lata, dan reseola) yang seringkali hanya muncul dalam waktu yang relatif singkat dan
sering memberi hasil yang negatif semu (Ihwan, 2013).

Suatu infeksi dengan suatu kuman, umumnya akan membangkitkan pembentukan antibodi pada
tubuh penderita. Demikian juga halnya pada infeksi dengan T.pallidum. Pembentukan antibodi pada
penderita sifilis baru terjadi setelah agak lama penderita menderita penyakit tersebut, yaitu dimulai
pada akhir stadium pertama atau permulaan stadium kedua. Hal ini terutama disebabkan oleh
karena kuman ini diliputi oleh suatu selaput mucoid yang menyebabkan kuman ini menjadi kebal
terhadap fagositosis (Ihwan, 2013).

Dari segi immunoassay, suatu infeksi dengan T.pallidum yang dikenal sebagai penyebab dari sifilis
akan menimbulkan 2 jenis antibodi sebagai berikut (Ihwan, 2013):

1. Antibodi non-treponema atau reagin


adalah antibodi yang terbentuk akibat reaksi bahan-bahan yang dilepaskan karena kerusakan sel
yang disebabkan oleh penyakit sifilis atau penyakit infeksi yang lain. Antibodi ini baru terbentuk
setelah penyakit menyebar ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan kerusakan jaringan.
2. Antibodi treponema yaitu antibodi yang bereaksi dengan antigen Treponema dan closely related
strains. Uji treponema bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen
treponema dan sebagai konfirmasi dari hasil positif tes skrining nontreponema atau konfirmasi
adanya proses infeksi pada hasil negatif tes nontreponema pada fase laten (laten disease).

Uji non-treponema adalah uji yang mendeteksi antibodi-nontreponema atau antibodi antikardiolipin
(IgG, IgA dan IgM) atau reagin di dalam serum seseorang. Antigen yang digunakan adalah lipoid yang
diekstrak dari jaringan mamalia normal, biasanya menggunakan kardiolipin jantung sapi. Zat ini
memerlukan tambahan lesitin dan kolesterol lainnya untuk bereaksi dengan “reagin” sifilis. Tes ini
didasarkan bahwa lipoid tetap tersebar dalam serum normal tetapi terlihat menggumpal bila
bergabung dengan reagin. Karena uji ini tidak langsung mendeteksi terhadap keberadaan
Treponema pallidum itu sendiri, maka uji ini bersifat non-spesifik. Yang termasuk uji non-treponema
diantaranya adalah RPR (Rapid Plasma Reagin) dan VDRL (Veneral Disease Research Laboratories).

Pada praktikum ini dilakukan tes RPR. Tes RPR memakai antigen kardiolipin yang disertai mikro-
partikel karbon. Pemeriksaan RPR merupakan suatu pemeriksaan skrining cepat terhadap sifilis.
sebagai suatu pemeriksaan antibodi non-treponema serupa dengan VDRL. Pemeriksaan RPR
mendeteksi reagin antibodi dalam serum dan lebih sensitif tetapi kurang spesifik daripada VDRL.
Seringkali digunakan pada darah donor untuk mendeteksi sifilis. Sebaiknya hasil RPR positif
dikonfirmasikan dengan pemeriksaan VDRL dan atau FTAABS.

Dalam tes non-treponema dapat ditemukan hasil tes positif palsu maupun negatif palsu. Hasil positif
palsu yang diakibatkan oleh adanya reagin pada berbagai macam penyakit manusia, diantaranya
malaria, lepra, campak, mononukleosis infeksiosa, penyakit kolagen vaskuler dan keadaan-keadaan
akut seperti hepatitis, infeksi virus, kehamilan atau proses kronik seperti kerusakan pada jaringan
penyambung. Tingginya titer antibodi (prozone phenomenon) yang sering ditemukan pada sifilis
sekunder.