Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PAPER

TUTORIAL AGROFORESTRY

“SURVEY LAPANG DUA LAHAN AGROFORESTRI”


Lokasi: Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Disusun Oleh:

Nama : Nadya Awaliah

NIM : 155040201111216

Kelas :C

Asisten : Keke Amalia dan Firmansyah

JURUSAN TANAH

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Hutan merupakan potensi atau kekayaan alam yang apabila dikelola dengan
baik dan bijak akan memberikan manfaat yang besar bagi hidup dan kehidupan,
tidak saja bagi manusia melainkan juga bagi seluruh kehidupan di alam ini.
Agroforestri adalah salah satu sistem pengelolaan lahan yang dapat ditawarkan
untuk memanfaatkan lahan di bawah tegakan hutan tanaman yang juga dapat
diharapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam definisinya istilah agroforestri banyak dikemukakan oleh para ahli
dengan pengertian yang berbeda-beda menurut sudut pandang masing-masing.
Namun dapat disimpulkan bahwa agroforestri adalah suatu sistem penggunaan
lahan yang bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan hasil total secara
lestari, dengan cara mengkombinasikan tanaman pangan/pakan ternak dengan
tanaman pohon pada sebidang lahan yang sama, baik secara bersamaan atau secara
bergantian, dengan menggunakan praktek-praktek pengolahan yang sesuai dengan
kondisi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya setempat (Hairiah et al., 2003).
Menurut Alviya dan Suryandari (2006), agroforestri mempunyai fungsi
sosial, ekonomi dan ekologi. Dengan pola agroforestri diharapkan tujuan
pemanfaatan hutan rakyat untuk penanaman kayu dapat mengakomodir tujuan
utamanya yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap
mengindahkan prinsip-prinsip kelestarian hutan.
Keberadaan pohon dalam agroforestri mempunyai dua peranan utama
menurut Suharjito (2002), Pertama pohon pada system agroforestri dapat
mempertahankan produksi tanaman pangan dan memberikan pengaruh positif pada
lingkungan fisik, terutama dengan memperlambat kehilangan hara dan energi,
sebagai tempat simapanan karbon dan menahan daya perusak air dan angin. Kedua,
hasil dari pohon berperan penting dalam ekonomi rumah tangga petani. Pohon
dapat menghasilkan 1) produk yang digunakan langsung seperti pangan, bahan
bakar, bahan bangunan; 2) input untuk pertanian seperti pakan ternak, mulsa; serta
3) produk atau kegiatan yang mampu menyediakan lapangan kerja atau penghasilan
kepada anggota rumah tangga.
Dilakukannya survey pada dua lahan agroforestry berbeda yaitu pada Desa
Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur dengan tujuan untuk
mengetahui dan membandingkan perbedaan system pengelolaan dan
pemanfaatnya. Dari sekian manfaat yang diberikan oleh lahan agroforestry tersebut
tidak luput dari permasalahan dalam system pengelolaannya. Dengan demikian,
pada paper ini akan membahas lebih lanjut mengenai permasalahan dan perbedaan
system pengelolaan pada dua lahan agroforestry berbeda tersebut.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari dilakukakannya survey lahan agroforestry dan
penyusunan paper ini adalah untuk:

1. Mengetahui dan membandingkan klasifikasi system agroforestry


2. Mengetahui dan membandingkan system pengelolaan yang dilakukan oleh
kedua lahan agroforestry
3. Mengetahui dan membandingkan permasalahan yang dihadapi pada kedua
lahan agroforestry

1.3 Manfaat
Setelah mengetahui dan memahami mengenai klasifikasi system
agroforestry dan system pengelolaan yang dilakukan serta permasalahan yang
dihadapi pada kedua lahan tersebut maka manfaat yang didapat adalah memberikan
solusi terhadap permasalahan tersebut.
II. PEMBAHASAN

Survey dilakukan pada dua lahan berbeda yang berlokasi sama yaitu di Desa
Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lahan agroforestry
pertama adalah milik Bapak Sujipto dengan luas 1400 m2 sedangkan lahan kedua
adalah milik Bapak Ngantemun dengan luas lahan 800 m2. Kedua lahan tersebut
memiliki perbedaan berupa jenis tanaman yang ditanam dan system pengelolaannya
yang lebih lanjutnya akan dibahas dibawah ini.

2.1 Jenis Tanaman yang Dibudidayakan

Pada lahan yang dimiliki oleh Bapak Sujipto dengan luas sebesar 1400 m2,
tanaman yang terdapat disana adalah sengon (Albizia chinensis), lamtoro (Leucaena
leucocephala) talas (Colocasia esculenta), dan tebu (Saccharum officinarum).
Tanaman yang paling mendominasi adalah sengon dan tebu (gambar 1), karena
berdasarkan hasil wawancara oleh bapak Sujipto beliau mengatakan bahwa
tanaman yang paling dimanfaatkan adalah sengon dan tebu karena memiliki nilai
ekonomi yang tinggi. Selain itu, pada lahan ini juga terdapat ternak ayam milik
bapak Sujipto yang dibiarkan bebas berkeliaran pada lahan.

Gambar 1. Lahan Agroforestri Bapak Sujipto

Lahan agroforestry yang dimiliki oleh Bapak Ngantemun dengan luas 800
m2 walaupun memiliki luasan yang lebih kecil dibandingkan dengan lahan milik
Bapak Sujipto namun jenis komoditas tanaman yang dibudidayakan lebih beragam
(gambar 2), yaitu terdapat kopi (Coffea sp.), cabai (Capsicum annum), jeruk (Citrus
sinensis), pisang (Musa paradisiaca), durian (Durio zibethinus), dan sirsak
(Annona muricata). Tanaman yang paling mendominasi pada lahan adalah kopi,
cabai, dan jeruk karena merupakan komoditas penghasil utama pada lahan tersebut,
sedangkan untuk pisang, durian, dan sirsak hasilnya hanya untuk dikonsumsi
pribadi atau di jual hanya ke tetangga berdasarkan hasil wawancara dengan bapak
Ngantemun.

Gambar 2. Lahan Agroforestri milik Bapak Ngantemun

Lahan agroforestry di klasifikasikan menjadi beberapa kelompok


berdasarkan komponen penyusunnya menurut Hairiah et al., (2003) yang terdiri
dari:
1. Agrisilvikultura yaitu kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan
(pepohonan, perdu, palem, bambu) dengan komponen pertanian.
2. Silvopastura yaitu kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan
dengan peternakan.
3. Agrosilvopastura yaitu kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian
dengan kehutanan dan peternakan/hewan.
4. Silvofishery yaitu kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan
dengan perikanan.
5. Apiculture yaitu budidaya lebah atau serangga yang dilakukan dalam
kegiatan atau komponen kehutanan
Berdasarkan klasifikasi diatas dapat diketahui bahwa lahan milik Bapak
Sujipto termasuk kedalam klasifikasi Agrosilvopastura karena terdapat komponen
perternakan di dalamnya, sedangkan lahan agroforestry milik bapak Ngantemun
termasuk kedalam klasifikasi agrisilvikultura karena di dalamnya hanya terdapat
komoditas kehutanan dengan komponen pertanian tanpa komponen perternakan.
2.2 Sistem Pengelolaan
Sistem pengelolaan pada kedua lahan tidak memiliki perbedaan yang
signifikan, pada lahan milik Bapak Sujipto dan Ngantemun sama-sama tidak
dilakukan pembersihan atau penyiangan lahan. Kedua lahan sama-sama dibiarkan
tumbuh dengan alami begitu juga dengan gulma yang terdapat pada lahan. Namun
pada lahan milik bapak Ngantemun dilakukan pemupukan pada komoditas cabai
yang ditanam. Tidak perlunya dilakukan pengelolaan lahan serta perawatan lahan
yang intensif adalah salah satu keunggulan dari lahan agroforestry.
Menurut Hairiah et al., (2003) Keunggulan agroforestri dibandingkan sistem
penggunaan lahan lainnya, yaitu dalam hal:
1. Produktivitas (Productivity): Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa produk
total sistem campuran dalam agroforestri jauh lebih tinggi dibandingkan pada
monokultur. Hal tersebut disebabkan bukan saja keluaran (output) dari satu bidang
lahan yang beragam, akan tetapi juga dapat merata sepanjang tahun. Adanya
tanaman campuran memberikan keuntungan, karena kegagalan satu
komponen/jenis tanaman akan dapat ditutup oleh keberhasilan komponen/jenis
tanaman lainnya.
2. Diversitas (Diversity): Adanya pengkombinasian dua komponen atau lebih
daripada sistem agroforestri menghasilkan diversitas yang tinggi, baik menyangkut
produk maupun jasa. Dengan demikian dari segi ekonomi dapat mengurangi risiko
kerugian akibat fluktuasi harga pasar. Sedangkan dari segi ekologi dapat
menghindarkan kegagalan fatal pemanen sebagaimana dapat terjadi pada budidaya
tunggal (monokultur).
3. Kemandirian (Self-regulation): Diversifikasi yang tinggi dalam agroforestri
diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, dan petani kecil dan
sekaligus melepaskannya dari ketergantungan terhadap produk-produk luar.
Kemandirian sistem untuk berfungsi akan lebih baik dalam arti tidak memerlukan
banyak input dari luar (pupuk, pestisida), dengan diversitas yang lebih tinggi
daripada sistem monokultur.
4. Stabilitas (Stability): Praktek agroforestri yang memiliki diversitas dan
produktivitas yang optimal mampu memberikan hasil yang seimbang sepanjang
pengusahaan lahan, sehingga dapat menjamin stabilitas (dan kesinambungan)
pendapatan petani.
2.3 Permasalahan pada Lahan
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada kedua lahan tersebut
bahwa kedua petani tidak merasakan adanya permasalahan yang di hadapi pada
lahan budidaya. Pada lahan milik bapak Sujipto mengatakan bahwa hasil dari
komoditas utama yang berupa sengon dan tebu memberikan penghasilan yang
stabil, begitu pula dengan lahan milik bapak Ngantemun tidak ditemukan
permasalhan yang serius hanya saja pada komoditas cabai seringkali terjadi gagal
panen akibat serangan hama, namun hal tersebut tidak memberikan dampak yang
berarti bagi pendapatan beliau karena masih terdapat komoditas yang menghasilkan
lainnya pada lahan milik beliau seperti kopi dan jeruk.
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Lahan yang dimiliki oleh Bapak Sujipto termasuk kedalam klasifikasi


agroforestry agrosilvopastura sedangkan lahan yang dimiliki Bapak Ngantemun
termasuk kedalam agroforestry agrisilvikultura. Pengelolaan kedua lahan sama
yaitu tidak dilakukannya penyiangan serta penyemprotan pestisida, gulma
dibiarkan tumbuh liar, namun pada lahan yang dimiliki bapak Ngantemun masih
dilakukan pemupukan pada komoditas cabai untuk meningkatkan hasil. Tidak
ditemukannya permasalahan pada kedua lahan terutama pada sektor hasil, karena
apabila terdapat penurunan hasil panen pada satu komoditas pada lahan dapat
ditutupi oleh hasil komoditas lain pada lahan agroforestry tersebut.

3.2 Saran

Guna meningkatkan hasil, pada lahan agroforestry yang dimiliki oleh bapak
Sujipto sebaiknya dilakukan perawatan pada komoditas talas yang ada agar
pendapatan yang dihasilkan dapat meningkat. Sedangkan untuk lahan yang dimiliki
oleh Bapak Ngantemun sebaiknya bisa ditambahkan dengan komponen ternak
karena kotoran dari ternak yang dapat berperan sebagai pupuk organik.
DAFTAR PUSTAKA

Alviya, Iis dan E.Y. Suryandari. 2006. Evaluasi Kebijakan Pelaksanaan Sistem
Agroforestri di Indonesia. J. Analisis Kebijakan Kehutanan. Vol. 3(1): 75-92
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta: Departemen
Kehutanan.

Hairiah, K., Mustafa Agung, Sambas Sabarnurdin. 2003. Pengantar Agroforestry.


Bogor: World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia. Bogor.

Suharjito D. 2002. Kebun-Talun: Strategi Adaptasi Sosial Kultural dan Ekologi


Masyarakat Pertanian Lahan Kering di Desa Buniwangi, Sukabumi-Jawa
Barat. Disertasi, Program Studi Antropologi Universitas Indonesia.
LAMPIRAN

Lampiran 1. Dokumentasi Hasil Survey Lahan Agroforestri Milik Bapak Sujipto

Lampiran 2. Dokumentasi Hasil Survey Lahan Agroforestri Milik Bapak


Ngantemun