Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ISOLASI SOSIAL

A. Masalah Utama Klien : Menarik Diri


B. Proses Terjadinya Masalah
1. Pengertian
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang mengalami penurunan,
bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain
disekitarnya. Individu dengan gangguan hubungan sosial mungkin merasa
ditolak, tidak diterima, kesepian dan tidak mampu membina hubungan
yang berarti dengan orang lain.
2. Faktor Predisposisi Terjadinya Isolasi Sosial
a. Faktor Tumbuh Kembang
Pada tiap masa perkembangan, individu mempunyai tugas
perkembangan yang harus terpenuhi. Bila tugas perkembangan tidak
terpenuhi maka akan menghambat tahap perkembangan yang
selanjutnya dapat terjadi gangguan hubungan sosial.
b. Faktor Komunikasi dalam Keluarga
Komunikasi yang tidak efektif, ekspresi emosi yang tinggi dan pola
asuh keluarga yang tidak mendukung untuk berhubungan dengan
orang lain merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan
hubungan sosial.
c. Mengasingkan diri dari lingkungan merupakan faktor pendukung
terjadinya gangguan hubungan sosial.
3. Faktor Presipitasi Isolasi Sosial
a. Struktur Sosial Budaya
Stres yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya antara lain keluarga
yang labil, perceraian dan lain-lain.
b. Faktor Hormonal
Gangguan fungsi kelenjar bawah otak menyebabkan turunnya hormon
F5H dan LH. Kondisi ini terdapat pada pasien skizoprenia.
c. Hipotesa Virus
Virus VIV dapat menyebabkan perilaku psikotik.
d. Model Biologi Lingkungan Sosial
Tubuh akan menggambarkan ambang toleransi seseorang terhadap
stres pada saat terjadinya interaksi sosial.
e. Stressor Psikologik
Adanya kecemasan berat dengan terbatasnya kemampuan
menyelesaikan kecemasan tersebut.

C. Pohon Masalah

Resiko mencederai diri dan


orang lain

Resiko mencederai diri dan


orang lain

Gangguan memenuhi ADL Defisit Perawatan Diri


Menarik Diri

Harga Diri Rendah

D. Masalah Keperawatan dan Data yang perlu dikaji


1. Masalah Keperawatan
a. Isolasi sosial menarik diri
b. Harga diri rendah
c. Perubahan persepsi sensori : halusinasi.
d. Defisit perawatan diri
e. Resiko mencederai diri dan orang lain
f. Gangguan memenuhi ADL
2. Data yang perlu dikaji
a. Identitas
b. Keluhan utama : alasan utama pasien dibawa ke Rumah Sakit biasanya
karena kemunduran kemauan, tidak mau berinteraksi dengan orang
lain.
c. Faktor predisposisi : sangat erat dengan tugas perkembangan,
komunikasi dalam keluarga dan mengasingkan diri.
d. Psikososial
 Genogram
 Konsep diri
 Hubungan sosial
 Perilaku
 Spiritual
e. Status mental
 Penampilan
 Pembicaraan
 Aktivitas motorik
 Emosi
 Persepsi
 Interaksi selama wawancara
 Kesadaran
 Proses pikir
f. Kebutuhan sehari-hari

E. Diagnosa Keperawatan dan Prioritas


Diagnosa keperawatan :
a. Resiko terjadi perubahan persepsi sensori berhubungan dengan menarik
diri.
b. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
c. Resiko mencederai diri dan orang lain berhubungan dengan perubahan
persepsi sensori.
d. Defisit perubahan diri berhubungan dengan penurunan kemauan /
perhatian.
e. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan
berkurangnya perhatian.
Priorotas masalah : resiko perubahan persepsi sensori berhubungan dengan
menarik diri (core problem : menarik diri)

F. Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa : Resiko perubahan persepsi sensori berhubungan dengan menarik
diri.
 TUM : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi
halusinasi.
 TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Kriteria hasil :
a. Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak
mata, mau berjabat tangan, mau duduk berdampingan dengan perawat,
mau mengutarakan masalah yang dihadapi.
Intervensi :
Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi
terapeutik.
Rasional :
Kalien akan lebih kooperatif jika sudah percaya dan merasa aman dengan
perawat.
 TUK 2 : Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri.
Kriteria hasil :
Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yang berasal dari diri
sendiri, orang lain, dan lingkungan.
Intervensi :
a. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-
tandanya.
Rasional : menentukan apakah klien mengenal masalah yang terjadi
pada dirinya.
b. Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan
penyebab menarik diri.
Rasional : dengan mengungkapkan perasaannya klien akan merasa
bebannya berkurang.
c. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaannya.
Rasional : pujian akan meningkatkan harga diri klien dan mendorong
klien mengulangi perilaku tersebut.
 TUK 3 : Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang
lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Kriteria hasil :
Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Intervensi :
a. Kaji pengetahuan klien tentang keuntungan berhubungan dengan orang
lain.
Rasional : memberikan gambaran pada klien tentang dampak dari
perilakunya.
b. Beri kesempatan kepada klien mengungkapkan perasaannya tentang
keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain.
Rasional :dengan mengungkapkan perasaannya klie akan merasa
terdorong untuk berinteraksi dengan orang lain.
c. Diskusikan dengan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang
lain.
Rasional : Membantu klien mengidentifikasi manfaat berhubungan
dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
d. Berikan reinforcement kepada klien terhadap kemampuan klien
mengungkapkan perasaannya.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
 TUK 4 : Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap.
Kriteria hasil :
Klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial antara : K – P, K – P – K,
K – P – Kel, K – P – kelompok.
Intervensi :
a. Kaji kemampuan klein membina hubungan dengan orang lain.
Rasional : membantu klien untuk menentukan cara klien berinteraksi.
b. Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
c. Beri reinforcement terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
Rasional : penghargaan dapat mendorong klin untuk mengulangi
perilakunya.
d. Diskusikan dengan klien jadwal harian yang dapat dilakukan bersama
klien dalam mengisi waktunya.
Rasional : meminimalisir waktu klien untuk sendiri.
e. Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan.
Rasional : membantu klien untuk berinteraksi dengan perawat maupun
klien lainnya.
f. Beri reinforcement atas kegiatan klien.
Rasional : penghargaan dapat meningkatkan harga diri klien.
 TUK 5 : klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan
dengan orang lain.
Kriteria hasil :
Klien dapat mengungkapkan perasaanya setelah berhubungan dengan
orang lain.
Intervensi :
a. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan
dengan orang lain.
b. Berikan reinforcemment pada klien atas kemampuannya
mengungkapkan perasaanya.
 TUK 6 : klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
mampu mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan
orang lain.
Kriteria hasil :
Keluarga dapat menjelaskan perasaannya, menjelaskan cara merawat klien
menarik diri, mendemonstrasikan cara perawatan klien menarik diri,
berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri.
Intervensi :
a. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga.
b. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang apa yang dialami oleh
klien.
c. Dorong anggota keluarga untuk mendukung klien berinteraksi dengan
orang lain.
d. Anjurkan anggota keluarga untuk teratur menjenguk klien.
e. Beri reinforcement atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Bagian Keperawatan Komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas


Indonesia (1999), Kumpulan Proses Keperawatan : Masalah
Keperawatan Jiwa, Jakarta ; tidak dipublikasikan.
Keliat. B. A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : Egc.
Keliat. B. A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Rasmun (2001), Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan
Keluarga, Jakarta : Sagung Seto.
Stuart & Sundeen, (1998), Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC.
Sunaryo, (2002), Psikologi Untuk Keperawatan, Jakarta : EGC.
SP ISOLASI SOSIAL

SP I PASIEN
1. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
2. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
3. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4. Mengajarkan cara berkenalan dengan satu orang
5. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang
dengan orang lain dalam kegiatan harian

SP II PASIEN
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Melatih kemampuan kedua
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

Bina hubungan saling percaya, bantu pasien mengenal penyebab isolasi


sosial, bantu pasien mengenal keuntungan dari berhubungan dan
kerugian dari tidak berhubungan dengan orang lain dan ajarkan pasien
untuk berkenalan dengan orang lain.
Orientasi
”selamat pagi “
“saya D, saya senang dipanggil D, saya perawat diruangan ini, saya yang
akan merawat ibu”
“siapa nama bapak? Bapak senang dipanggil siapa?”
“bagaimana kabar bapak hari ini? Apa bapak ada keluhan?, bagaimana kalau
kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman bapak S?, dimana
bapak S mau bercakap-cakap? Bagaimana kalau disini saja? Mau berapa lama
bapak S bercakap-cakap? Bagaimana kalau 15 menit?”
Kerja
”siapa saja yang tinggal serumah dengan bapak S? siapa yang paling dekat
dengan bapak S? Siapa yang jarang bercakap-cakap dengan bapak S? Apa
yang membuat bapak S jarang bercakap-cakap dengannya?”
“apa saja kegiatan yang biasa bapak S lakukan dengan teman yang bapak S
kenal?”
“apa yang menghambat S dalam berteman atau bercakap-cakap dengan
pasien lain?”
Menurut S apa saja keuntungannya kalau kita mempunyai teman? Wah benar,
ada teman bercakap-cakap. Apa lagi? Nah kalau kerugiannya tidak
mempunyai teman apa ya S? Ya, apa lagi? Jadi banyak juga ruginya kalau
tidak mempunyai teman ya. Kalau begitu inginkah S belajar bergaul dengan
orang lain?”
“bagus. Bagaimana kalau sekarang kita belajar berkenalan dengan orang
lain?”
“begini lho S, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama
kita dan nama panggilan yang kita suka, alamat kita dan hobi. Contoh : nama
saya D, senang dipanggil Di, saya dari gunungsari, hobi saya main bola.”
“ selanjutnya S menanyakan nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya
begini : nama bapak siapa? Bapak senang diapanggil siapa? Asalnya
darimana? Hobinya apa?”
“ ayo S dicoba!! Misal saya belum kenal dengan S. Coba berkenalan dengan
saya!.”
“ ya bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali”
Setelah S berkenalan dengan orang tersebut S dapat melanjutkan percakapan
tentang hal-hal yang menyenangkan untuk S bicarakan. Misalnya tentang
cuaca, tentang hobi, tentang keluarga, pekerjaan dan sebagainya”
Terminasi
” bagaimana perasaan S setelah kita latihan berkenalan?”
“ S tadi sudah mempraktikkan cara berkenalan dengan baik sekali”
“ selanjutnya, S dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya
tidak ada” “ bagaimana kalau cara berkenalan ini kita masukkan dalam
jadwal kegiatan harian S?
“ mau berapa kali S melatihnya? Bagus, 3 kali ya. Kapan saja? Bagus jadi
mulai sekarang S akan berlatih berkenalan 3 kali yaitu pagi jam 7, siang jam
12 dan sore jam 5. Jangan lupa masukkan ke dalam jadwal harian, caranya
tulis M kalau tidak dibantu, B jika diingatkan perawat, T jika S tidak
melakukannya”
Besok pagi jam 10 saya datang lagi untuk mengajak S berkenalan dengan
teman saya, perawat H. Bagaimana, mau kan”
“ baiklah, smapai jumpa”

Latih pasien berinterkasi secara bertahap (berkenalan dengan orang kedua)


Orientasi
“ selamat pagi S! Bagaimana perasaannya hari ini?”
“ apakah S bercakap-cakap
Kerja
Terminasi
SP keluarga isolasi sosial
SP I
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami pasien
beserta proses terjadinya
3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien

SP II
1. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien isolasi
sosial

SP III
1. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat
(discharge planning)
2. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
Berikan penyuluhan kepada keluarga tentang masalah isolasi sosial,
penyebab isolasi sosial, dan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
Orientasi
“ Selamat pagi, pak” perkenalkan saya perawat H dari puskesmas...., saya yang
merawat anak bapak”
“ nama bapak siapa? Senag dipanggil siapa?”
“ bagaimana perasaan bapak hari ini? Bagaimana keadaan anak S sekarang?”
“ bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang masalah anak bapak dan
cara perawatannya?”
“ kita diskusi disini saja ya? Berapa lama bapak punya waktu? Bagaimana
kalau setengah jam?”
Kerja
“ apa masalah yang bapak hadapi dalam merawat S? Apa yang sudah
dilakukan?”
“ masalah yang dihadapi oleh anak s disebut isolasi sosial. Ini adalah salah satu
gejala penyakit yang juga dialami oleh pasien-pasien gangguan jiwa lain”
“ tanda-tandanya antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung
diri, kaaupun berbicara hanya sebentar dengan wajah menunduk”
“ biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman yang
mengecewakan saat berhubungan dengan orang lain, seperti sering ditolak,
tidak dihargai atau berpisah dengan orang-orang terdekat”
“ apabila masalah isolasi sosial ini tidak diatasi maka, sesorang dapat
mengalami halusinasi, yaitu mendengar suara atau melhat bayangan yang
sebetulnya tidak ada”
“ Untuk menghadapi keadaan yang demikian bapak dan anggota keluarga
lainnya harus bersabar menghadapi S. Dan untuk merawat S, keluarga perlu
melakukan beberapa hal. Pertama keluarga harus membina hubungan saling
percaya dengan S yang caranya adalah bersikap peduli dengan S dan jangan
ingkar janji. Kedua, keluarga perlu memberikan semangat dan dorongan
kepada S untuk dapat melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain.
Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela kondisi s”
“ selanjutnya jangan biarkan S sendiri. Buat rencana atau jadwal bercakap-
cakap dengan S. Misal sholat bersama, makan bersma, rekreasi bersama,
melakukan kegiatan rumah tangga bersama”.
“ nah bagaimana kalau sekarang kita latihan untuk melakukan semua cara itu?”
“ begini contoh komunikasinya, pak S, bapak lihat sekarang kamu sudah dapat
bercakap-cakap dengan orang lain. Perbincangannya juga lumayan lama.
Bapak senang sekali melihat perkembangan kamu, nak. Coba kamu bincang-
bincang dengan saudaramu yang lain. Lalu bagaiamana kalau mulai sekarang
kamu sholat berjamaah. Kalau di rumah sakit ini kamu sholat dimana? Kalau
nanti di rumah, kamu sholat bersama-sama keluarga atau di mushola kampung?
Bagaimana S kamu mau coba kan, nak?”
“ nah sekarang coba bapak peragakan cara komunikasi sperti yang saya
contohkan”
“ bagus, pak. Bapak telah memperagakan dengan baik sekali”
“ samapai disisni ada yang ingin ditanyakan pak?”
Terminasi
“ baiklah waktunya sudah habis. Bagaimana perasaan bapak setelah kita latihan
tadi?”
“ coba bapak ulangi lagi apa yang dimaksud dengan isolasi sosial dan tanda-
tanda orang yang mengalami isolasi sosial!”
“Selanjutnya dapat bapak sebutkan kembali cara-cara merawat anak bapak
yang mengalami masalah isolasi sosial?”
“ bagus sekali pak, bapak dapat menyebutkan kembali cara-cara perawatan
tersebut”
“ nanti kalau ketemu S coba bapak lakukan. Dan tolong ceritakan kepada
semua keluarga agar mereka juga melakukan hal yang sama,”
“bagaimana kalau kita bertemu tiga hari lagi untuk latihan langsung kepada
S?”
“ kita ketemu di rumah bapak saja, pada pukul yang sama, selamat pagi”
Latih keluarga mempraktikan cara merawat pasien dengan masalah
isolasi sosial langsung dihadapan pasien
Orientasi
“ selamat pagi pak”
“ bagaimana perasaan bapak hari ini?”
“ bapak masih ingat latihan merawat anak bapak seperti yang telah kita pelajari
beberapa hari yang lalu?”
“ mari kita praktikkan langsung ke S! Berapa lama waktu bapak? Baik kita
akan coba 30 menit”
“ sekarang mari kita temui S”
Kerja
“ selamat pagi S. Bagaimana perasaan S hari ini?”
“ bapak, S ingin bercakap-cakap. Beri salam! Tolong S tunjukkan jadwal
kegiatannya!”
(kemudian berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
“ nah pak, sekarang bapak dapat mempraktikkan apa yang sudah kita latih
beberapa hari yang lalu”
(mengobservasi keluarga mempratikkan cara merawat pasien seperti yang telah
dilatihkan pertenuan sebelumnya)
“ bagaimana perasaan S setelah berbincang-bincang dengan orang tua S?”
“ baiklah sekarang saya dan orang tua s ke ruang perawat dulu”
Terminasi
“ bagaimana perasaan bapak setelah kita latihan tadi? Bapak ibu sudah
melakukannya dengan bagus”
“ mulai sekarang bapak sudah dapat melakukan cara merawat tadi ke S”
“tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman bapak
melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya sama
seperti sekarang pak”.
“ sampai jumpa”

Jelaskan perawatan lanjutan


Orientasi
“ selamat pagi pak”
“ karena kunjungan saya sudah mau berakhir, maka perlu kita bicarakan
perawatan lanjutan dirumah”
“ bagaimana kalau kita membicarakan perawatan lanjutan tersebut disini saja?”
“ Berapa lama kita dapat bicara? Bagaimana kalau 30 menit?”
Kerja
“ bapak, ini jadwal yang sudah dibuat. Coba dilihat, mungkinkah dilanjutkan?
Bapak ibu lanjutkan jadwal ini, baik jadwal kegiatan maupun jadwal minum
obatnya,”
“ hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan
oleh anak bapak. Misal kalau S terus-menerus tidak mau bergaul dengan orang
lain, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang
lain. Jika hal ini terjadi, segera hubungi perawat K di puskesmas indra putri, ini
nomor telpon puskesmasnya xxxxxx.”
Terminasi
“ bagaimana pak? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian S. Jangan
lupa kontrol ke PKM sebelum obat habis atau jika ada gejala yang tampak”

SP keluarga isolasi sosial


SP I
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami pasien
beserta proses terjadinya
3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien

SP II
1. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien isolasi
sosial

SP III
1. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat
(discharge planning)
2. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
Berikan penyuluhan kepada keluarga tentang masalah isolasi sosial,
penyebab isolasi sosial, dan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
Orientasi
“ Selamat pagi, pak” perkenalkan saya perawat H dari puskesmas...., saya yang
merawat anak bapak”
“ nama bapak siapa? Senag dipanggil siapa?”
“ bagaimana perasaan bapak hari ini? Bagaimana keadaan anak S sekarang?”
“ bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang masalah anak bapak dan
cara perawatannya?”
“ kita diskusi disini saja ya? Berapa lama bapak punya waktu? Bagaimana
kalau setengah jam?”
Kerja
“ apa masalah yang bapak hadapi dalam merawat S? Apa yang sudah
dilakukan?”
“ masalah yang dihadapi oleh anak s disebut isolasi sosial. Ini adalah salah satu
gejala penyakit yang juga dialami oleh pasien-pasien gangguan jiwa lain”
“ tanda-tandanya antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung
diri, kaaupun berbicara hanya sebentar dengan wajah menunduk”
“ biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman yang
mengecewakan saat berhubungan dengan orang lain, seperti sering ditolak,
tidak dihargai atau berpisah dengan orang-orang terdekat”
“ apabila masalah isolasi sosial ini tidak diatasi maka, sesorang dapat
mengalami halusinasi, yaitu mendengar suara atau melhat bayangan yang
sebetulnya tidak ada”
“ Untuk menghadapi keadaan yang demikian bapak dan anggota keluarga
lainnya harus bersabar menghadapi S. Dan untuk merawat S, keluarga perlu
melakukan beberapa hal. Pertama keluarga harus membina hubungan saling
percaya dengan S yang caranya adalah bersikap peduli dengan S dan jangan
ingkar janji. Kedua, keluarga perlu memberikan semangat dan dorongan
kepada S untuk dapat melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain.
Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela kondisi s”
“ selanjutnya jangan biarkan S sendiri. Buat rencana atau jadwal bercakap-
cakap dengan S. Misal sholat bersama, makan bersma, rekreasi bersama,
melakukan kegiatan rumah tangga bersama”.
“ nah bagaimana kalau sekarang kita latihan untuk melakukan semua cara itu?”
“ begini contoh komunikasinya, pak S, bapak lihat sekarang kamu sudah dapat
bercakap-cakap dengan orang lain. Perbincangannya juga lumayan lama.
Bapak senang sekali melihat perkembangan kamu, nak. Coba kamu bincang-
bincang dengan saudaramu yang lain. Lalu bagaiamana kalau mulai sekarang
kamu sholat berjamaah. Kalau di rumah sakit ini kamu sholat dimana? Kalau
nanti di rumah, kamu sholat bersama-sama keluarga atau di mushola kampung?
Bagaimana S kamu mau coba kan, nak?”
“ nah sekarang coba bapak peragakan cara komunikasi sperti yang saya
contohkan”
“ bagus, pak. Bapak telah memperagakan dengan baik sekali”
“ samapai disisni ada yang ingin ditanyakan pak?”
Terminasi
“ baiklah waktunya sudah habis. Bagaimana perasaan bapak setelah kita latihan
tadi?”
“ coba bapak ulangi lagi apa yang dimaksud dengan isolasi sosial dan tanda-
tanda orang yang mengalami isolasi sosial!”
“Selanjutnya dapat bapak sebutkan kembali cara-cara merawat anak bapak
yang mengalami masalah isolasi sosial?”
“ bagus sekali pak, bapak dapat menyebutkan kembali cara-cara perawatan
tersebut”
“ nanti kalau ketemu S coba bapak lakukan. Dan tolong ceritakan kepada
semua keluarga agar mereka juga melakukan hal yang sama,”
“bagaimana kalau kita bertemu tiga hari lagi untuk latihan langsung kepada
S?”
“ kita ketemu di rumah bapak saja, pada pukul yang sama, selamat pagi”

Latih keluarga mempraktikan cara merawat pasien dengan masalah


isolasi sosial langsung dihadapan pasien
Orientasi
“ selamat pagi pak”
“ bagaimana perasaan bapak hari ini?”
“ bapak masih ingat latihan merawat anak bapak seperti yang telah kita pelajari
beberapa hari yang lalu?”
“ mari kita praktikkan langsung ke S! Berapa lama waktu bapak? Baik kita
akan coba 30 menit”
“ sekarang mari kita temui S”
Kerja
“ selamat pagi S. Bagaimana perasaan S hari ini?”
“ bapak, S ingin bercakap-cakap. Beri salam! Tolong S tunjukkan jadwal
kegiatannya!”
(kemudian berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
“ nah pak, sekarang bapak dapat mempraktikkan apa yang sudah kita latih
beberapa hari yang lalu”
(mengobservasi keluarga mempratikkan cara merawat pasien seperti yang telah
dilatihkan pertenuan sebelumnya)
“ bagaimana perasaan S setelah berbincang-bincang dengan orang tua S?”
“ baiklah sekarang saya dan orang tua s ke ruang perawat dulu”
Terminasi
“ bagaimana perasaan bapak setelah kita latihan tadi? Bapak ibu sudah
melakukannya dengan bagus”
“ mulai sekarang bapak sudah dapat melakukan cara merawat tadi ke S”
“tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman bapak
melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya sama
seperti sekarang pak”.
“ sampai jumpa”
Jelaskan perawatan lanjutan
Orientasi
“ selamat pagi pak”
“ karena kunjungan saya sudah mau berakhir, maka perlu kita bicarakan
perawatan lanjutan dirumah”
“ bagaimana kalau kita membicarakan perawatan lanjutan tersebut disini saja?”
“ Berapa lama kita dapat bicara? Bagaimana kalau 30 menit?”

Kerja
“ bapak, ini jadwal yang sudah dibuat. Coba dilihat, mungkinkah dilanjutkan?
Bapak ibu lanjutkan jadwal ini, baik jadwal kegiatan maupun jadwal minum
obatnya,”
“ hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan
oleh anak bapak. Misal kalau S terus-menerus tidak mau bergaul dengan orang
lain, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang
lain. Jika hal ini terjadi, segera hubungi perawat K di puskesmas indra putri, ini
nomor telpon puskesmasnya xxxxxx.”
Terminasi
“ bagaimana pak? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian S. Jangan
lupa kontrol ke PKM sebelum obat habis atau jika ada gejala yang tampak”