Anda di halaman 1dari 21

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM SIAGA MEDIKA-BANYUMAS

TENTANG
PENYELENGGARAAN DAN PENERAPAN DOKTER PENANGGUNG JAWAB PELAYANAN
(DPJP) DI RUMAH SAKIT UMUM SIAGA MEDIKA BANYUMAS
NOMOR:515/224/SK-DIR/RSU-SM/BMS/XI/2016

DIREKTUR RSU SIAGA MEDIKA BANYUMAS

Menimbang : 1) Bahwa dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kesehatan


dan meningkatkan pengelolaan rangkaian asuhan medis pasien
di Rumah Sakit Umum Siaga Medika Banyumas.
2) Bahwa kelompok staf medis fungsional memiliki wewenang
menetapkan dokter penanggung jawab pelayanan ( DPJP )
3) Bahwa untuk massud tersebut pada huruf ( a ) dan ( b ), maka
perlu ditetapkan Kebijakan Penetapan DPJP di lingkungan RSU
Siaga Medika Banyumas dengan surat keputusan direktur.

Mengingat : 1. Undang-Undang RI. Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan


(Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2009 Nomor 144.
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063).
2. Undang-Undang RI. Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153.
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072
3. Undang-undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek
Kedokteran.
4. Permenkes RI No. 1419 Tahun 2005 tentang penyelenggaraan
Praktek Dokter dan Dokter Gigi
5. Surat Edaran Direktur Jendral Pelayanan Medik no.
YM.02.04.3.5.2504 th.1992 tentang Pedoman Hak dan Kewajiban
Pasien, Dokter, Rumah Sakit.
6. Permenkes No 1438/Menkes/PER/IX/2010 tentang Standar
Pelayanan Kedokteran di Rumah Sakit
7 Keputusan Kepala Dinkes Kab.Banyumas No.445/64/X/2012
tentang ijin Tetap Pewnyelenggaran Sarana Kesehatan RSU Siaga
Medika Banyumas;
Keputusan Ketua Yayasan Siaga Sejahtera No.

1
8. 0009/SK/YSS/AB/XII/2012 tentang Pengangkatan Direktur
Rumah Sakit Umum Siaga Medika Banyumas

MEMUTUSKAN

PERTAMA : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM SIAGA MEDIKA


BANYUMAS TENTANG PENETAPAN DOKTER PENANGGUNG JAWAB
PELAYANAN.

KEDUA : Memberlakukan Kebijakan Penetapan Dokter Penanggung Jawab


Pelayanan di RSU Siaga Medika Banyumas sebagaimana terlampir dalam
keputusan ini.

KETIGA : Keputusan ini berlaku pada tanggal ditetapkan dan apabila ada
kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinnya.

Ditetapkan di Banyumas
Pada Tanggal 01 NOVEMBER 2016
RSU SIAGA MEDIKA BANYUMAS

dr. Panji Anggara


NIK. 0608.1.0011

Lampiran : Kebijakan Penetapan Dokter Penanggungjawab Pelayanan

2
Nomor : 515/224/SK-DIR/RSU-SM/BMS/XI/2016
Tanggal : 01 November 2016

KEBIJAKAN PENETAPAN DOKTER PENANGGUNG JAWAB PELAYANAN (DPJP)

1. Dokter Penanggungjawab Pelayanan (DPJP) adalah dokter yang bertanggung


jawab atas pelayanan pasien yang dirawatnya.

2. Setiap pasien yang dirawat di RSU Siaga Medika Banyumas harus dirawat oleh
dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP).

3. Pasien dan keluarga mempunyai hak mendapat informasi tantang cara dan hasil
pelayanan termasuk kejadian yang tidak diharapkan (KTD) dari dokter
penangung jawab pelayanan.

4. Jika pasien dirawat oleh dokter maka dokter tersebut otomatis menjadi dokter
penanggung jawab pelayanan atas pasien tersebut.

5. Jika pasien dirawat oleh dua dokter atau lebih maka dokter utama menjadi dokter
penanggung jawab pelayanan dan yang lain sebagai DPJP tambahan.

6. Dokter penanggung jawab pelayanan dapat menyerahkan kepada spesialis lain


yang lebih sesuai dengan bidang spesialisasinya dengan penyakit pasien untuk
menjadi penanggung jawab pelayanan atas pasien tersebut.

7. Jika dokter yang diserahi untuk menjadi dokter penanggung jawab menerima
penyerahan tersebut maka stasus dokter penanggung jawab pelayanan
berpindah kepadanya.

8. Rencana pelayanan diintegrasikan dan dikoordinasikan diantara berbagai unit


kerja dan pelayanan.

9. Pelaksanaan pelayanan terintegrasikan dan terkoordinasikan antara unit kerja,


departemen dan pelayanan.

10. Hasil / kesimpulan rapat dan tim asuhan atau diskusi lain tentang kolaborasi
dicatat dalam rekam medis pasien.

3
11. Asuhan untuk setiap pasien direncanakan oleh dokter penanggung jawab
pelayanan (DPJP), perawat dan pemberi pelayanan kesehatan lain dalam waktu
24 jam sesudah pasien masuk rawat inap.
12. Rencana asuhan pasien harus individual dan berdasarkan data assesmen awal
pasien.
13. Rencana asuhan dicatat dalam rekam medis dalam bentuk kemajuan terukur
pencapaian sasaran
14. Kemajuan yang diantisipasi dicatat atau direvisi sesuai kebutuhan, berdasarkan
hasil asesmen ulang atas pasien oleh praktisi pelayanan kesehatan.
15. Rencana asuhan untuk tiap pasien direview dan diverivikasi oleh DPJP dengan
mencatat kemajuannya
16. Rencana asuhan disediakan
17. Asuhan yang diberikan kepada setiap pasien dicatat dalam rekam medis pasien
oleh pemberi pelayanan.

Ditetapkan di Banyumas
Pada Tanggal 01 NOVEMBER 2016
DIREKTUR RSU SIAGA MEDIKA BANYUMAS

dr. Panji Anggara


NIK. 0608.1.0011

Lampiran : Kebijakan Penetapan Dokter Penanggungjawab Pelayanan

4
Nomor : 515/224/SK-DIR/RSU-SM/BMS/XI/2016
Tanggal : 01 November 2016
DAFTAR NAMA-NAMA DPJP DI RSU SIAGA MEDIKA BANYUMAS

NO SMF NAMA
dr. Edy Purwanto, Sp. PD
1. Penyakit Dalam dr. Joyo Santoso, Sp. PD
dr. Pritasari Dewi D, Sp. OG
2. Obstetri dan Ginekologi dr. Ibnu Azhar, Sp. OG
dr. Agus Fitrianto, Sp. A
3. Anak dr. Sustiyanto, Sp. A
Bedah dr. Bambang Suhartanto, Sp. B
4. dr. Eddy Daryanto, Sp. B
dr. Ginanjar Budhi Pratama, Sp. OT
5. Bedah Ortopedi dr.Abdul Basith Ash Shiddiegy,Sp.OT
DR.dr.Syafiq Basalamah,Sp.OT
6. Bedah Urologi dr. Kartiko Sumartoyo, Sp. U
7. Bedah Mulut dr. Helmi Hirawan, Sp. BM
drFauzi Abdul Rozaq, Sp. An
dr.Winarto, Sp. An
drLaksmi Purwitosari, Sp. S
10. Saraf Dr.Chairil Adam Rosyadi,Sp.S
11. Patologi Klinik Dr. Edward Kurnia,SL,MM, Sp. PK
12. Patologi Anatomi dr. Siti Mardiyah, Sp. PA
dr. Wijaya Hadi Suryanto, Sp. Rad
13. Radiologi Dr.Ignatius Mikael Reza p,Sp.BM
dr. Panji Anggara
dr. Pratomo Andi
dr. Kuntoro
dr. Christanto Setiawan
dr. Tuti Bimasari
dr. Rangga w isnhu
14. Umum
dr. Toni Murdiyat
dr. Nova Agusta Isdarto
dr. Nindra Okprasvianta Nur Setiyo
15. Dokter Spesialis Jantung Dr.H.Abdul Wasid,SpPJ

KEPUTUSAN DIREKTUR RSU SIAGA MEDIKA BANYUMAS

TENTANG
PEMBERLAKUAN PANDUAN PELAKSANAAAN

5
DOKTER PENANGGUNG JAWAB PELAYANAN (DPJP)
NOMOR : 515/224/SK-DIR/RSU-SM/BMS/XI/2016

DIREKTUR RSU SIAGA MEDIKA BANYUMAS

Menimbang : a. Bahwa Pelayanan kepada Pasien di Rumah Sakit seringkali tidak dapat
dilaksanakan hanya dengan satu tenaga medis saja, akan tetapi
seringkali memerlukan kerjasama,koordinasi, komunikasi dan
konsultasi dari tenaga medis yang lain baik dalam Kelompok Staf Medis
yang sejenis maupun yang berbeda;

b. Bahwa agar kerjasama, koordinasi, komunikasi dan konsultasi dapat


berjalan dengan pasti dan terstandar maka diperlukan suatu panduan
bagi para pemberi pelayanan medis untuk melaksanakannya;

c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf


a dan b perlu ditetapkan dengan keputusan Direktur RSU Siaga Medika
Banyumas;

Mengingat : 1. Undang- Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
116,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);

2. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144,Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

3. Undang – Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 2009 Nomor
153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);

4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/MENKES/SK/XII/1999


tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit;

5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1045/MENKES/PER/XI/2006


tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Departemen
Kesehatan;

6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/MENKES/PER/IV/2007


tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran;

6
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/MENKES/SK/II/2008
tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit;

8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 147/MENKES/PER/I/2010


tentang Perizinan Rumah Sakit;

9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 340/MENKES/PER/III/2010


tentang Klasifikasi Rumah Sakit;

10Keputusan Kepala Dinkes Kab.Banyumas No.445/64/X/2012 tentang ijin


Tetap Pewnyelenggaran Sarana Kesehatan RSU Siaga Medika Banyumas;
11.Keputusan Ketua Yayasan Siaga Sejahtera No.
0009/SK/YSS/AB/XII/2012 tentang Pengangkatan Direktur Rumah
Sakit Umum Siaga Medika Banyumas;

MEMUTUSKAN :

PERTAMA : Kebijakan Direktur RSU Siaga Medika Banyumas tentang


PanduanPelaksanaan dokter penanggung jawab pasien (DPJP) RSU Siaga
Medika Banyumas.

KEDUA : Panduan dimaksud sebagaimana tersebut dalam lampiran surat


keputusan ini.

KETIGA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila di kemudian
hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan
perbaikan sebagaimana mestinya.

7
Ditetapkan di Banyumas
Pada Tanggal 01 November 2016
DIREKTUR RSU SIAGA MEDIKA BANYUMAS

dr. Panji Anggara


NIK. 0608.1.0011

Lampiran : Kebijakan Pelaksanaan DPJP RSU Siaga Medika Banyumas


Nomor : 515/224/SK-DIR/RSU-SM/BMS/XI/2016
Tanggal : 01 November 2016

PANDUAN PELAKSANAAN DOKTER PENANGGUNG JAWAB PELAYANAN (DPJP)

BAB I

DEFINISI

1. DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan); adalah sorang dokter, sesuai


dengan kewenangan klinisnya terkait penyakit pasien, memberikan asuhan
medis lengkap (paket) kepada satupasien dengan satu patologi/penyakit,
dari awal sampai dengan akhir perawatan di rumah sakit, bak pelayanan

8
rawat jalan maupun rawat inap. Asuhan medis lengkap artinya melakukan
assesmen medis sampai dengan implementasi rencana serta tindak
lanjutnya sesuai kebutuha pasien.

2. Pasien dengan lebih dari satu penyakit dikelola oleh lebih dari satu DPJP
sesuai kewenangan klinisnya, dalam pola asuhan secara tim atau
terintegrasi, maka harus ada DPJP utama. Contoh : pasien dengan Diabetes
Melitus,Katarak dan stroke, dikelola oleh lebih dari satu DPJP : Dokter
spesialis Penyakit Dalam, Dokter Spesialis Saraf.

3. DPJP Utama : bila pasien dikelola oleh lebih dari satu DPJP, maka asuhan
medis tersebut dilakukan secara terintegrasi dan secara tim diketuai oleh
seorang DPJP Utama. Peran DPJP U tama adalah sebagai koordinator proses
pengelolaan asuhan medis bagi pasien ybs (“Ketua Tim”) dengan tugas
menjaga terlaksananya asuhan medis komprehensif-terpadu-efektif, demi
keselamatan pasien melalui komunikasi efektif dengan membangun
sinergisme dan mencegah duplikasi serta mendorong penyesuaian
pendapat (adjustment) antar anggota / DPJP, mengarahkan agar tindakan
masing-masing DPJP bersifat kontributif (bukan intervensi).

4. Dokter yang memberika pelayanan interpretatif, misalnya memberikan


uraian / data tentang hasil laboratorium atau radiologi, tidak dipakai istilah
DPJP, karena tidak memberikan asuhan medis yang lengkap.

5. DPJP Tambahan adalah dokter konsultan yang ikut merawat pasien pada
kasus perawatan bersama setelah dikonsulkan oleh DPJP Utama. DPJP
tambahan ditulis langsung sesuai bidang yang didalaminya misalnya DPJP
Bedah Umum, DPJP Bedah Urologi, DPJP Dalam, DPJP THT, DPJP Obstetri
Ginekologi, DPJP Kulit dan Kelamin, DPJP Anak, DPJP Mata, DPJP Gigi, DPJP
Saraf, DPJP Anestesi, DPJP Radiologi, dan lain-lain

6. Profesional Pemberi asuhan-PPA adalah Tenaga kesehatan yang secara


lngsung memberikan asuhan kepada pasien antara lain
dokter,perawat,bidan ahli gizi,apoteker, Penata anestesiTerapis fisikdll.
7. Asuhan Pasien Terinteragsi danpelayanan berfokus pada pasien adalah
istilah yang saling terkait,yang mengansdung aspek pasien merupakan
pusat pelayanan,PPA memberikan asuhan adalah timinterdisiplin/klinis
dngan DPJP sebagai ketua tim klinis-Clinical Leader,PPA dengan kompetensi
dan kewenangan yang memadai antara laian dokter,perawat,bidan
,apoteker,penata anestesi terap fisik .

9
BAB II

RUANG LINGKUP

Panduan ini berlaku bagi Dokter dalam semua inti pelayanan rumah sakit yang
meliputi : emergensi, rawat jalan, rawat inap,ruang tindakan, ruang perawatan khusus
(ICU, Hemodialisa, kamar operasi).

10
BAB III

TATA LAKSANA

A. Asuhan Medis

Asuhan pasien dalam konteks Pelayanan Fokus pada Pasien (Patient


Centered Care), dilakukan oleh dokter, perawat, ahli gizi, apoteker dsb,
disebut sebagai Tim interdisipliner.

Asuhan pasien yang dilakukan oleh masing-masing pemberi asuhan, terdiri


dari 2 blok kegiatan : Asesmen pasien dan Imlementasi rencana

1. Asesmen pasien terdiri dari 3 langkah :


a. Pengumpulan informasi, antara lain anamnesa, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang, dan sebagainya.

11
b. Analisis informasi menghasilkan diagnosis, masalah atau kondisi, untuk
mengidentifikasi kebutuhan pelayanan paien.
c. Menyusun rencana (care plan) pelayanan dan pengobatan, untuk
memenuhi kebutuhan pelayanan pasien.
2. Implementasi rencana dan monitor.

Asuhan medis di rumah sakit diberikan oleh dokter spesialis, disebut sebagai
DPJP. Di unit / instalasi gawat darurat dokter jaga yang bersertifikat
kegawatdaruratan antara lain ATLS,ACLS,PPGD,GELS menjadi DPJP pada saat
asuhan awal pasien gawat darurat. Saat pasien dikonsul/rujuk ke dokter
spesialis dan memberikan asuhan medis, maka dokter spesialis tersebut
menjadi DPJP pasien tersebut menggantikan DPJP sebelumnya, yaitu dokter
jaga IGD tersebut diatas.

Pemberian asuhan medis di rumah sakit agar mengacu kepada Buku


penyelengaraan Praktik Kedokteran yang baik di Indonesia (Kep Konsil No
18/KKI/KEP/IX/2006. Penerapan panduan ini selain menjaga mutu asuhan
dan keselamatan pasien, juga dapat menghindari pelanggaran disiplin.

Asas,dasar, kaidah dan tujuan Praktik Kedokteran di Indonesia intinya adalah


sebagai berikut :

 Asas : nilai ilmiah, manfaat, keadilan, kemanusiaan, keseimbangan,


serta perlindungan dan keselamatan pasien.

 Kaidah dasar moral :

- Menghormati martabat manusia (respect for person)


- Berbuat baik ( beneficence)
- Tidak berbuat yang merugikan ( non maleficence )
- Keadilan (justice)
Tumpuan dasar kompetensi dokter mengacu kepada Standar Kompetensi
Dokter Indonesia ( SKDI) (Per konsil No 11 Tahun 2012 tentang Standar
Kompetensi Dokter Indonesia) yang adalah :

1. Profesionalitas yang luhur


2. Mawas Diri dan Pengembangan Diri
3. Komunikasi Efektif
4. Pengelolaan Informasi
5. Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran
6. Ketrampilan Klinis

12
7. Pengelolaan Masalah Kesehatan

B. Asuhan pasien terintegrasi dan patient centered care

Asuhan pasien terintegrasi dan pelayanan / asuhan berfokus pada pasien


( patient centered care ) adalah elemen penting dan sentral dalam asuhan
pasien di rumah sakit.

DPJP sebagai clinical leader :

1. Dalam asuhan / pelayanan berfokus pada pasien ( patient centered


care ) para PPA memberikan asuhan sebagai interdisiplin, masing-
masing PPA melakukan tugas mandiri, tugas delegatif dan tugas
kolaboratif dengan pola IAR.

2. Asuhan pasien terintegrasi dimotori olrh DPJP dalam fungsi sebagai


ketua tim klinis ( clinical leader ) yang melakukan koordinasi
kolaborasi, interpretasi, sintesis. DPJP melakukan review rencana PPA
lainnya dan memverifikasinya )

3. Proses review dilakukan oleh DPJP dengan membaca rencana para PPA
dan memberikan catatan terintegrasi dan tanda tangan di kolom
konfirmasi).

C. Kewenangan klinis dan evaluasi kinerja

1. Setiap dokter yang bekerja di rumah sakit yang melakukan asuhan


medis, termasuk pelayanan interpretative ( antara lain dr.spesialis PK,
dr.spesialis PA, dr.spesialis rad, dsb ) harus memiliki SK dari direktur /
kepala Rumah sakit berupa surat penugasan klinis/ SPK ( clinical
appointment) dengan lampiran rincian kewengan klinis / RKK ( clinical
privilege ). Penerbitan SPK dan RKK tersebut harus melalui proses
kredensial dan rekredensial yang mengacu kepada Permenkes
755/2011 tentang penyelenggaraan komite medic di Rumah Sakit.

2. Regulasi tentang valuasi kinerja DPJP ditetapkan Direktur dengan


mengacu ke permenkes 755/2011 tentang penyelenggaraan komite
medic di Rumah sakit dan Standar Akreditasi Rumah Sakit versi 2012,
khususnya bab KPS ( kualifikasi dan pendidikan Staf ).

3. Penunjukan DPJP dan pengelompokkan staf medis

13
1. Regulasi tentang penunjukkan seorang DPJP untuk mengelola seotrang
pasien, pergantian DPJP, selesainya DPJP karena asuhan medisnya telah
tuntas, ditetapkan Direktur / Kepala Rumah Sakit. Penunjukkan seorang
DPJP dapat antara lain : berdasarkan permintaan pasien, jadwal praktek,
jadwal jaga, konsul / rujukan langsung. Pergantian DPJP perlu
pengaturan rinci tentang alih tanggung jawabnya. Tidak dibenarkan
pergantian DPJP yang rutin, contoh : pasien A ditangani setiap minggu
depan pola hari senin dr.spesial PD X, hari Rabu dr.spesialis PD Y, hari
sabtu dr.spesialis Z.

2. Regulasi tentang pelaksaan asuhan medis oleh lebih dari satu DPJP dan
penunjukkan DPJP utama, tugas dan kewenangannya ditetapkan
Direktur / kepala Rumah Sakit.

3. Kriteria penunjukkan DPJP utama untuk seorang pasien dapat


digunakkan butir-butir sebagai berikut :

a. DPJP utama dapat merupakan DPJP yang pertama kali mengelola


pasien pada awal perawatan.

b. DPJP utama dapat merupakan DPJP yang mengelola pasien dengan


penyakit dalam kondisi ( relative ) menonjol atau terparah.

c. DPJP utama dapat ditentukkan melalui kesepatan antar para DPJP


terkait

d. DPJP utama dapat merupakan pilihan dari pasien.

e. Pada pelayanan ICU maka DPJP utama adalah intensives.

4. Pengaturan tentang pengelompokkan DPJP ditetapkan oleh direktur


sesuai kebuutuhan. Pengelompokkan dapat dilakukan per disiplin
( kelompok staf medis bedah, mata drb ), kategori penyakit ( pokja / tim
kanker payudara, kanker cerviks dsb ), kategori organ ( pokja / Tim
cerebrovaskuler, hati dsb )

4. Penatalaksanaan DPJP

1. Setiap pasien yang mendapat asuhan medis di Rumah sakit baik


rawat jalan maupun rawat inap harus memiliki DPJP.

14
2. Pada unit / instalasi gawat darurat, dokter gawat darurat, dokter jaga
( dengan sertifikat kegawat daruratan, antara lain PPGD, ATLS,ACLS,
GELS )menjadi DPJP pada pemberian asuhan medis awal/
penanganan kegawat daruratan. Kemudian selanjutnya saat
dilakukan konsultasi/ rujuk ditemb

3. Apabila pasien mendapat asuhan medis lebih dari satu DPJP, maka
harus ditunjuk DPJP utama yang berasal dari para DPJP pasien
terkait. KesemuaDPJp tersebut bekerja secara tim dalam tugas
mandiri maupun kolaboratif, berinteraksi dan berkoordinasi
( dibedakan dengan bekerja sendiri-sendiri ).

4. Peran DPJP utama adalah sebagai coordinator proses pengelolaan


asuhan medis bagi pasien ybs ( sebagai “ ketua Tim “ ) dengan tugas
menjaga terlaksananya asuhan mediskomprehesif, terpadu, efektif
demi keselamatan pasien melalui komunikasi yang efektif dan
membangun sinergisme dengan mendorong penyesuaian pendapat
( adjustment) antar anggota / DPJP, mengarahkan agar tindakan
masing-masing DPJP bersifat kontributif ( bukan intervensi ) dan
juga mencegah duplikasi serta interaksi obat.

5. Tim membuat keputusan melalui DPJP utama, termasuk keinginan


DPJP mengkonsultasikan ke dokter spesialis lain agar
dikoordinasikan melalui DPJP utama. Kepatuhan DPJP terhadap
jadwal kegiatan dan ketetapan waktu misalnya antara lain kehadiran
atau menjanjikan waktu kehadiran, adalah sangat penting bagi
pemenuhan kebutuhan pasien serta untuk kepentingan koordinasi
sehari-hari.

6. Dibawah koordinasi DPJP utama sekurang-kurangnya ada rapat tim


yang melibatkan semua DPJP yang bersangkutan beserta profesi
terkait lainnya sesuai kebutuhan pasien, rumah sakit diharapkan
menyediakan ruangan untuk rapat tim di tempat-tempat pelayanan,
misalnya di rawat inap, ICU, IGD dan lain-lain. DPJp utama juga
bertugas untuk menghimpun komunikasi / data tentang pasien.

7. Setiap penujnjukkan DPJP harus diberitahu kepada pasien dan /


keluarga dan pasien dan / keluarga dapat menyetujuinya ataupun
sebaliknya. Rumah sakit berwenang mengubah DPJP bila terjadi
pelanggaran prosedur.

15
8. Koordinasi dan transfer informasi antar DPJP dilakukan secara lisan
dan tertulis sesuai kebutuhan. Bila ada perganrtian DPJP pencatatan
di rekam medis harus jelas tentang alih tanggung jawabnya . harap
digunakan formulir daftar DPJP.

9. Pada unit pelayanan unuit pelayanan intensif DPJP utama adalah


dokter intensif. Koordinasi dan tingkatkan keikutseraan para DPJP
terkait,tergantung kepada system yang ditetapkan dalam kebijakan
rumah sakit misalnya system terbuka/tertutup semi terbuka.

10. Pada kamar operasi DPJP bedah adalah ketua dalam seluruh kegiatan
pada saat dikamar operasi tersebut.

11. Pada keadaan khusus misalnya seperti konsul saat diatas meja
operasi/ sedang operasi, dokter yang dirujuk tersebut melakukan
tindakan / memberikan intruksi, maka otomatis menjadi DPJP juga
bagi pasien tersebut.

12. Dalam pelaksaan pelayanan dan asuhan pasien bila DPJP dibantu
oleh dokter lain ( antara lain dokter ruangan, residen ) dimana yang
bersangkutan harus memberikan supervise, dan melakukan validasi
berupa pemberian paraf/tanda tangan pada setiap kegiatan tersebut
di rekam medis setiap hari.

13. Asuhan pasien dilaksanan oleh para professional pemberi asuhan


yang bekerja secara tim ( Tim Interdisiplin ) sesuai konsep pelayanan
focus pada pasien ( patient centered care ), DPJP sebagai ketua tim
( clinical / team leader ) harus proaktif melakukan koordinasi dan
mengintegrasikan asuhan pasien, serta berkomunikasi intensif dan
efektif dalam tim. Termasuk kegiatan ini adalah perencanaan pulang
( discharge plan ) yang dapat dilakukan pada awal masuk rawat inap
atau pada akhir rawat inap.

14. DPJP harus aktif dan intensif dalam pemberian edukasi/ informasi
kepada pasien dan keluarganya. Gunakan dan kembangkan tehnik
komunikasi yang berempati. Komunikasi merupakan elemen yang
penting dalam konteks pelayanan focus pada pasien (patient centere
care), selain juga merupakan elemen yang penting dalam kompetensi
dokter dalam area kompetensi ke 3 standar kompetensi dokter
Indonesia.

16
15. Pendokumentasian yang dilakukan oleh DPJP di rekam medis harus
mencantumkan nama dan paraf / tanda tangan. Pendokumentasian
tersebut dilakukan antara lain di formulir assesmen awal medis,
catatan perkembangan pasien terintegrasi/CPPT (integrated note)
form asesmen pra anesthesia/sedasi, instruksi pasca bedah, form
edukasi / informasi ke pasien dsb. Termasuk juga pendokumentasian
keputusan hasil pembahasan tim medis, hasil ronde bersama multi
kelompok staf medis/departemen dsb. (contoh catatan
perkembangan pasien terintegrasi/CPPT)

16. Pada kasus tertentu DPJP sebagai ketua tim dari para professional
pemberi asuhan bekerja sama erat dengan Manajer Pelayanan Pasien
(Hospital Case Manager), agar terjaga kontinuitas pelayanan baik
waktu rawat inap, rencana pemulangan, tindak lanjut asuhan mandiri
di rumah, control dsb.

17. Pada setiap rekam medis harus ada pencatatan (komulatif, bila lebih
dari satu ) tentang DPJP, dalam bentuk satu formulir yang diiisi
secara periodik sesuai kebutuhan/ penambahan / pengurangan /
penggantian, yaitu nama gelar setiap DPJP tanggal mulai dan akhir
sebagai DPJP Utama. Daftar ini bukan berfungsi sebagai daftar hadir
(formulir Daftar DPJP).

18. Rumah sakit yang terletak jauh dari kota besar, atau didaerah
terpencil, penetapan kebijakan, penetapan kebijakan tentang asuhan
medis yang sifatnya khusus agar dikonsulkan dengan pemangku
kepentingan antara lain Komite Medis, Fakultas Kedokteran, yang
bersangkutan bagi residen, Organisasi profesi, IDI, Dinas Kesehatan,
Badan Pengawas Rumah Sakit Propinsi, Kolegium dsb.

19. Keterkaitan DPJP dengan Panduan Prektek Klinis / Alur Perjalanan


Klinis setiap DPJP bertanggung jawab mengupayakan proses asuhan
pasien ( baik asuhan medis maupun asuahan keperawatan atau
asuhan lainnya) yang diberikan kepada pasien patuh pada Panduan
Praktek Klinis / Alur perjalanan Klinis yang telah ditetapkan oleh
RS.Tingkat kepatuhan pada panduan praktek klinis/ alur perjalanan
klinis ini akan menjadi audit klinis dan audit medis.

17
20. Apabila dokter tidak mematuhi alur perjalanan klinis/ panduan
praktek klinis maka harus memberi penjelasan tertulis dan dicatat di
rekam medis.

5. SUPERVISI

1. Pada proses asuhan medis dimana dilaksanakan oleh DPJP yang dibantu
oleh staf medis non DPJP, misalnya residen ( PPDS ), dokter ruangan (DR)
dsb, maka diperlukan supervise klinis medis untuk melaksanakan
monitoring dan evaluasi terhadap asuhan pelayanan klinis yang
dilaksanakan. Supervisi sangat diperlukan untuk memastikan bahwa
koordinasi dan kerja sama tim yang baik adalah pengalaman telah diberikan
dengan cara yang efektif dan juga untuk kepastian hokum bagi pemegang
kewenangan klinisnya.

2. Diperlukan tingkat pengawasan yang konsisten dengan tingkat pelatihan


dan tingkat kompetensi staf medis yang membantu asuhan medis.

3. Seluruh staf medis yang terlibat dalam asuhan medis memahami proses
supervise klinis, siapa nsupervisor dan frekuensi supervisinya termasuk
penandatanganan harian dari semua catatan dan perintah,
penandatanganan rencana asuhan dan kemajuan catatan harian atau
membuat entri terpisah dalam catatan pasien. Demikian juga jelas tentang
bagaimana bukti pengawasan yang didokumentasikan, termasuk frekuensi
dan lokasi dokumentasi.

4. Rumah sakit memiliki prosedur mengidentifikasi dan memonitor


keseragaman proses supervise klinis, monitoring dan evaluasi pelayanan
asuhan klinis.

5. Apabila supervise klinis tidak dilaksanakan dengan baik maka akan


menimbulkan potensi untuk terjadinya kejadian yang tidak diharapkan atau
menurunnya mutu asuhan medis.

6. Supervisi dan umpan balik yang dihasilkan penting untuk mengakuisisi dan
mengembangkan ketrampilan klinis dan profesionalisme seluruh staf medis
yang terlibat dalam asuhan medis. Supervisi dilakukan secara bertahap
meningkatkan otoritas dan kemandirian, pengawasan dan umpan balik.

7. Supervise yang berlebihan dapat menghambat perkembangan para staf


untuk menjadi praktisi yang kompeten dalam disiplin mereka.

18
8. RS harus menetapkan kebijakan tentang tingkatan supervise masing-masing
staf medis non DPJp.

9. Tingkatan supervise bagi PPDs dan DR.

Supervise tinggi Supervise Supervise Supervise


moderat tinggi moderat rendah

Untuk PPDS : Untuk PPDS : Untuk PPDS : Untuk PPDS :

 Asesmen dari  Asesmen dari  Asesmen dari  Asesmen dan


PPDS belum PPDs PPDS pertimbangan
dianggap dianggap dianggap dari PPDS
sahih sahih, namun sahih, namun dianggap
pertimbangan pertimbangan sahih namun
 Proses nya nya belum punya
keputusan ( judgment ) ( judgment) legitimasi.
rencana belum sahih. belum sahih
asuhan/  Proses
tindakan oleh  Proses  Proses keputusan
DPJP keputusan keputusan rencana oleh
rencana rencana PPDS
 DPJP tindakan asuhan
melakukan disupervisi dilaporkan  PPDS
sendiri, PPDS oleh DPJP untuk melakukan
memperhatika persetujuan tindakan
n, membantu  PPDS DPJp, sebelum supervise
pelaksaan melakukan tindakan DPJP melalui
tindakan. tindakan DPJP kecuali kasus komunikasi
mensupervisi gawat darurat. per telpon,
 Pencatatannya langsung melalui
di rekam  PPDS laporan per
medis ( onsite )
melakukan telpon,
tertanda DPJP tindakan, laporan
 Pencatatanny
dan PPDS DPJP tertulis
a di rekam
medis mensupervisi direkam
tertanda PPDS tidak medis dengan
dan DPJP langsung tanda tangan
sesudah DPJP
tindakan,
 Pencatatanny

19
evaluasi a di rekam
laporan medis harus
tindakan di validasi

 Pencatatanny  Pada keadaan


a di rekam khusus PPDS
medis berada
tertanda PPDS ditempat
dan DPJP terpenciltanp
a DPJP terkait
tentang
proses
validasi
dibuat
kebijakan
khusus oleh
RS.

Untuk DR : Untuk DR :

 Proses  Proses
asesmen asesmen
pasien ( IAR), pasien ( IAR )
pengumpulan pengumpulan
informasi, informasi,
analisis,infor analisis
masi , informasi
penyusunan penyusunan .
rencana dan Rencana dan
implementasi implementasi
nya dilakukan nya dilakukan
dengan dengan
komunikasi komunikasi
segera dengan dengan DPJP
DPJP
 Pencatatanny
 Pencatatanny a di rekam
a di rekam medis
medis tertanda DR,
tertanda DR, validasi oleh

20
validasi DPJP DPJP

BAB IV

DOKUMENTASI

1. Formulir DPJP

2. Formulir catatan perkembangan pasien terintregasi

3. Formulir rencana pelayanan

4. Formulir asesmen medis

21