Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 1(2), 248-255 Mochammad Maulidie

Alfiannor Saputera

EVALUASI PENGELOLAAN OBAT TAHAP SELEKSI DAN


PERENCANAAN DI ERA JAMINAN KESEHATAN
NASIONAL DI RSUD H. HASAN BASERY KANDANGAN
TAHUN 2014
Mochammad Maulidie Alfiannor Saputera
Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin
Email: mochammadsaputera16@gmail.com

ABSTRAK
Instalasi Farmasi Rumah Sakit melakukan pengelolaan obat diantaranya
tahap seleksi, perencanaan dan pengadaan. Mengingat sistem pengelolaan obat di
Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah (IFRSUD) H. Hasan Basery masih
menuju dalam tahap pencapaian nilai standar indikator, maka peneliti bertujuan
untuk mengevaluasi sejauh mana sistem pengelolaan obat dalam tahap seleksi,
perencanaan dan pengadaan di IFRSUD H. Hasan Basery pada saat era JKN.
Penelitian ini menggunakan rancangan secara deskriptif eksploratif yang
bersifat retrospektif. Pengamatan retrospektif meliputi laporan perencanaan dan
pemakaian obat, laporan keuangan, laporan pengadaan obat, faktur, laporan stock
opname. Hasil penelitian menunjukkan yang belum sesuai standar: persentase
kesesuaian obat dengan ForNas II pada obat pelengkap, generik dan BPJS sebesar
0,12%, 55,22% dan 53,21%, persentase alokasi dana pengadaan obat tahun 2014
sebesar 42,56%, persentase kesesuaian antara pengadaan obat dengan e-kataloge
untuk obat pelengkap, generik dan BPJS sebesar 2,94%, 69,78% dan 72,48%.
Kata kunci : pengelolaan obat, seleksi, perencanaan dan pengadaan.

ABSTRACT
Installation of Hospital Pharmacy perform medication management phase
including the selection, planning and procurement. Given the drug management
system in Pharmacy Installation Regional Public Hospital (IFRSUD) H. Hasan
Basery still heading in the stage of achieving the standard value indicator, the
researchers aimed to evaluate the extent of drug management system in the stage
of the selection and procurement in IFRSUD H. Hasan Basery at the time of
National health insurance era.
This study design was descriptive exploratory retrospective nature.
Observations retrospective report covers the planning and the use of drugs,
financial statements, reports of drug procurement, invoicing, stock taking report.
The results showed that the standard is not appropriate: the percentage of drug
conformance with national formulary II on complementary medicine, generic and
BPJS 0.12%, 55.22% and 53.21%, the percentage of drug procurement budget
allocation in 2014 amounted to 42.56%, the percentage of compatibility between
the procurement of drugs by e-catalog for complementary medicine, generic and
BPJS amounted to 2.94%, 69.78% and 72.48%.
Keywords : drug management, selection, procurement.
Artikel diterima: 30 Agustus 2016 248
Diterima untuk diterbitkan: 26 September 2016
Diterbitkan: 5 Oktober 2016
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 1(2), 248-255 Mochammad Maulidie
Alfiannor Saputera

PENDAHULUAN kesehatan yang beredar dan


Farmasi Rumah Sakit (FRS) digunakan di rumah sakit (Siregar dan
merupakan salah satu unit di rumah Amalia, 2004).
sakit yang menyelenggarakan upaya Quick dkk (2012)
kesehatan dengan memberikan menyebutkan bahwa siklus
pelayanan kesehatan yang bermutu. pengelolaan obat meliputi empat
Hal tersebut diperjelas dalam fungsi dasar, yaitu seleksi (selection),
keputusan Menteri Kesehatan NO. 58 perencanaan dan pengadaan
tahun 2014 yaitu bagian yang tidak (procurement), distribusi
terpisahkan dari sistem pelayanan (distribution), dan penggunaan (use)
kesehatan rumah sakit yang utuh yang memerlukan dukungan dari
berorientasi kepada pelayanan pasien, perencanaan dan administrasi
penyediaan obat yang bermutu, (planning and administration),
termasuk pelayanan farmasi klinik manajemen organisasi
yang terjangkau bagi semua lapisan (organization), pengelolaan
masyarakat (Depkes, 2014). informasi (information management)
Pengelolaan obat merupakan dan pengembangan sumber daya
salah satu segi manajemen rumah manusia (human resources
sakit yang sangat penting dalam management) yang ada di dalamnya.
penyediaan pelayanan kesehatan Mengingat RSUD H. Hasan
secara keseluruhan, karena Basery pada tahun 2013 diduga masih
ketidakefisienan dan ketidaklancaran dalam pembenahan, maka ketentuan-
pengelolaan obat akan memberi ketentuan yang berkaitan dengan
dampak negatif terhadap rumah sakit, mutu pelayanan sebagaimana telah
baik secara medik, sosial maupun diuraikan sebelumnya, diduga belum
secara ekonomi. Instalasi farmasi berjalan secara maksimal. Terkait
rumah sakit adalah satu-satu unit di dengan hal tersebut, secara umum
rumah sakit yang bertugas dan ditemukan ada beberapa masalah
bertanggung jawab sepenuhnya pada yang berkaitan dengan pengelolaan
pengelolaan semua aspek yang obat di RSUD H. Hasan Basery yaitu
berkaitan dengan obat/sediaan pada tahap seleksi, perencanaan dan

249
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 1(2), 248-255 Mochammad Maulidie
Alfiannor Saputera

pengadaan. Berdasarkan uraian di kuantitatif diperoleh dengan melihat,


atas, maka peneliti mengevaluasi menelusuri dokumen dan pengamatan
efisiensi pengelolaan obat di era pada saat penelitian yang dapat
jaminan kesehatan nasional dalam mempertajam evaluasi pengelolaan
tahap siklus pengelolaan obat yaitu obat pada tahun 2014.
selection, and procurement. Bahan penelitian meliputi
data primer dan data sekunder pada
METODOLOGI PENELITIAN tahun 2014. Data primer yang
Penelitian ini merupakan diperoleh dari pengamatan langsung
penelitian dengan rancangan seperti melakukan wawancara dengan
diskriptif eksploratif dengan petugas terkait pengelola obat
menggunakan data retrospektif untuk meliputi: Direktur RSUD, Kepala
menganalisis pengelolaan obat di era IFRS, Bagian Keuangan, Panitia
jaminan kesehatan nasioanl di Pengadaan Barang Rumah Sakit,
Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Petugas Gudang Farmasi, dan
Daerah H. Hasan Basery tahun 2014 Petugas Distribusi Obat.
antara lain laporan perencanaan dan Data sekunder yang diperoleh
pemakaian obat, laporan keuangan, dengan pengamatan dokumen,
laporan pengadaan obat, faktur, meliputi: dokumen berupa laporan
laporan stock opname. Data perencanaan dan pemakaian obat
concurrent yaitu data yang diperoleh tahunan, laporan anggaran bagian
saat penelitian berlangsung antara keuangan, laporan pengadaan obat,
lain waktu tunggu rata-rata resep faktur, buku pembelian, laporan stock
pasien dan persentase resep obat yang opname, daftar rekanan dan laporan
tidak dapat diserahkan oleh depo piutang rumah sakit.
farmasi.
Data yang dikumpulkan HASIL DAN PEMBAHASAN
berupa data kualitatif dan kuantitatif. Tahap Seleksi.
Data kualitatif diperoleh dengan Pengukuran persentase
melakukan wawancara dengan pihak- kesesuaian obat yang tersedia dengan
pihak terkait sedangkan data Formularium Nasional Fasilitas

250
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 1(2), 248-255 Mochammad Maulidie
Alfiannor Saputera

Kesehatan Tingkat II (ForNas II) tersebut menunjukkan di atas nilai


pada obat pelengkap, generik dan standar, dimana anggaran untuk obat
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial berkisar 30-40% (WHO, 1993) dari
(BPJS) sebesar 0,12%; 55,22% dan total anggaran rumah sakit. RSUD H.
53,21%. Jumlah total item obat yang Hasan Basery menggunakan dana
tersedia di IFRS sebanyak 1420 item BLUD untuk pengadaan obat dan
obat dengan persentase obat yang BHP di rumah sakit, sehingga
tersedia dalam ForNas II sebesar menyebabkan nilai persentase di atas
22,04%. Menurut Departemen nilai standar.
Kesehatan bahwa nilai standar untuk Frekuensi Pengadaan Item
indikator kesesuaian obat yang Obat. Pengukuran menunjukkan
tersedia dengan ForNas II adalah bahwa pada tahun 2014 rata-rata
sebesar 100% (Depkes, 2008). frekuensi pengadaan item obat secara
Berdasarkan hasil penelitian kenyataan (FK) pada pengadaan obat
menandakan bahwa persentase pelengkap, generik dan BPJS
kesesuaian obat yang tersedia dengan sebanyak 16,41 kali, 10,23 kali dan
ForNas II pada obat pelengkap, 21,97 kali dalam setahun, sedangkan
generik dan BPJS masih berada di rata-rata frekuensi pengadaan item
bawah nilai standar jadi dapat obat secara (EOQ) Economic Order
dikatakan belum efisien. Quantity (FQ) pada pengadaan obat
Perencanaan dan Pengadaan pelengkap, generik dan BPJS
Persentase Alokasi Dana sebanyak 18,24 kali, 11,37 kali dan
Pengadaan Obat. Pengukuran 24,42 kali dalam setahun. Jumlah
menunjukkan bahwa alokasi dana total item obat di Rumah Sakit untuk
pengadaan obat sebesar 42,56% rata-rata frekuensi pengadaan item
dengan jumlah anggaran yang obat secara kenyataan (FK) pada
disediakan untuk pengadaan obat sebanyak 16,20 kali dalam setahun,
sebesar Rp. 15.114.145.470.00,- bila sedangkan rata-rata frekuensi
dibandingkan dengan anggaran pengadaan item obat secara (EOQ)
Rumah Sakit sebesar Rp. Economic Order Quantity (FQ) pada
35.509.181.800.00,-. Nilai persentase sebanyak 18,01 kali dalam setahun.

251
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 1(2), 248-255 Mochammad Maulidie
Alfiannor Saputera

Rata-rata frekuensi pengadaan item sudah sesuai dengan nilai


obat cukup baik dimana berdasarkan pembanding yaitu 0-25 hari
nilai pembanding (Pudjaningsih, (Pudjaningsih, 1996).
1996) yaitu frekuensi rendah (<12 Persentase kesesuaian
kali/tahun), frekuensi sedang (12-24 antara pengadaan obat dengan e-
kali/tahun) dan frekuensi tinggi (>24 catalog. Pengukuran menunjukan
kali/tahun). Rata-rata frekuensi bahwa persentase kesesuaian
pengadaan item obat secara kenyataan pengadaan obat dengan e-catalog
(FK) sama dengan rata-rata frekuensi untuk obat pelengkap, generik dan
pengadaan item obat secara EOQ BPJS sebesar 2,94%, 69,78% dan
(FQ), hal ini menunjukkan bahwa 72,48%. Jumlah pengadaan obat di
terjadinya keseimbangan antara rumah sakit untuk obat pelengkap,
jumlah pengadaan item obat dengan generik dan BPJS yaitu sebanyak 851,
jumlah pengeluaran obat sehingga 460 dan 109 item. Jumlah obat BPJS
mengakibatkan tidak terjadinya yang masuk dalam e-catalog untuk
penumpukan obat/stock mati dan obat pelengkap, generik dan BPJS
masa kadaluwarsa. yaitu sebanyak 25, 321 dan 79 item.
Frekuensi tertundanya Jumlah total item obat di Rumah Sakit
pembayaran oleh rumah sakit untuk persentase kesesuaian
terhadap waktu yang telah pengadaan obat dengan e-catalog
ditetapkan. Pengukuran sebesar 29,93%. Nilai persentase
menunjukkan bahwa rata-rata menunjukan bahwa kesesuaian
lamanya waktu pembayaran faktur pengadaan obat dengan e-catalog
obat oleh RSUD H. Hasan Basery belum mencapai nilai standar adalah
adalah 24 hari. Hal ini menandakan 100% (Depkes, 2008).
bahwa lamanya waktu pembayaran Keterkaitan Tahapan Indikator
oleh rumah sakit tidak melebihi rata- Pengelolaan Obat Selection dan
rata waktu yang disepakati dengan Procurement RSUD H. Hasan
pihak rekanan yaitu 30 hari. Basery
Frekuensi tertundanya pembayaran Siklus manajemen obat
oleh rumah sakit sebanyak 0% ini mencakup empat tahap, yaitu: 1)

252
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 1(2), 248-255 Mochammad Maulidie
Alfiannor Saputera

selection (seleksi), 2) procurement procurement yang diperoleh pada


(pengadaan), 3) distribution kesesuaian obat pada daftar di e-
(distribusi) dan 4) use (penggunaan) catalog yaitu sebesar 72,18%. Hal ini
(Quick, dkk, 2012). Masing-masing juga didukung hasil wawancara
tahap dalam siklus manajemen obat dengan bagian dari perencaan RS
saling terkait sehingga perlu dikelola bahwa masih kurangnya pengetahuan
dengan baik agar dapat berjalan dalam tahap perencaan obat.
secara optimal. Siklus manajemen Indikator selanjutnya pada
obat disukung oleh faktor-faktor tahap procurement yaitu persentase
pendukung manajemen (management alokasi dana dimana akan
support) yang meliputi organisasi, berpengaruh dalam frekuensi
administrasi, keuangan, Sistem pengadaan tiap item obat pertahun
Informasi Manajemen (SIM) dan dan frekuensi tertundanya
sumber daya manusia (Satibi, 2015). pembayaran oleh rumah sakit
Hasil evaluasi dari indikator terhadap rekanan. Persentase alokasi
pengelolaan obat di IFRSUD H. dana yang besar maka pembayaran
Hasan Basery dapat disimpulkan pada rekanan tidak pernah tertunda
bahwa adanya keterkaitan antara dan frekuensi pengadaan item obat
setiap indikator-indikator pertahun juga baik dan mencapai nilai
pengelelolaan obat tersebut. Tahap standar sedang yaitu berkisar 12-24
seleksi yang menyesuaikan item obat kali pertahun. Hal ini dibuktikan
dengan formularium nasional tingkat dengan hasil wawancara dengan
II dengan hasil yang masih belum pihak RS yaitu pada kepala ruang
mencapai standar yaitu 53,21%, nilai keuangan RS yaitu “…dalam
ini kecil karena berdasarkan hasil pembayaran dengan rekanan kami
wawancara dengan kepala IFRSUD tidak pernah mengalami
H. Hasan Basery bahwa keterlambatan sekalipun semenjak RS
“…pengadaan obat di RS lebih menerapkan dana BLUD…”
banyak mengacu pada daftar e- sehingga berdampak pada baiknya
catalog…” dalam hal ini sejalan frekuensi pengadaan tiap item obat
dengan hasil data pada tahap pertahun.

253
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 1(2), 248-255 Mochammad Maulidie
Alfiannor Saputera

KESIMPULAN [Depkes RI] Departemen Kesehatan


Berdasarkan hasil penelitian RI. 2014. Keputusan Menteri
Kesehatan Republik
dapat diambil kesimpulan adalah nilai
Indonesia nomor 58 tahun
yang tidak masuk dalam standar 2014 Tentang Standar
indikator manajemen pengelolaan Pelayanan Rumah Sakit.
Jakarta. Depkes RI.
obat adalah persentase kesesuaian
obat yang tersedia dengan ForNas II Fitaloka, M. D. S., 2013. Evaluasi
Pengelolaan Obat di Instalasi
pada obat pelengkap, generik dan
Farmasi RSUD
BPJS sebesar 0,12%; 55,22% dan Lamadukkelleng Sengkang
53,21%, persentase alokasi dana Sulawesi Selatan Tahun 2014
pengadaan obat tahun 2014 sebesar [Tesis], Surakarta: Program
Pendidikan Pascasarjana,
42,56%, persentase kesesuaian antara
Magister Manajemen Farmasi
pengadaan obat dengan e-catalog Rumah Sakit, Universitas
untuk obat pelengkap, generik dan Setia Budi.
BPJS sebesar 2,94%, 69,78% dan Pudjaningsih, D., 1996,
72,48%. Pengembangan Indikator
Efisiensi Pengelolaan Obat di
Farmasi Rumah Sakit, [Tesis],
DAFTAR PUSTAKA Yogyakarta: Magister
Andyaningsih. 1996. Financing Manajemen Rumah Sakit
Drugs in South-East Asia. Universitas Gadjah Mada.
World Health Organization.
Geneva. Satibi. 2015. Manajemen Obat di
Rumah Sakit (ed. Pertama).
[Depkes RI] Departemen Kesehatan, Yogyakarta: UGM-Press.
2008, Pedoman Pengelolaan
Perbekalan Farmasi Di Siregar dan Amalia, 2004, Farmasi
Rumah Sakit. Direktorat Rumah Sakit Teori Dan
Jendral Bima Kefarmasian Penerapan, Penerbit Buku
Dan Alat Kesehatan. Kedokteran EGC, Jakarta.
Departemen Kesehatan RI
Bekerjasama Dengan Japan Suciati, S dan Adisamito, B. 2006,
International Coorperation Analisa Perencanaan Obat
Agency, Jakarta. Berdasarkan ABC Indeks
Kritis di Instalasi Rumah
Sakit. Jurnal, Manajemen

254
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 1(2), 248-255 Mochammad Maulidie
Alfiannor Saputera

Kesehatan, Vol 09/No.01, Farmasi Rumah Sakit Umum


(Hal: 19-26). Daerah Karel Sadsuitubun
Kabupaten Maluku Tenggara
Quick, D.J., Hume, M.L, Raukin J.R, Tahun 2012. Prosiding
Laing, RO., O’Connor, R. W., Seminar Nasional
2012, Managing Drug Supply Perkembangan Terkini Sains
(2nd ed), Revised and Farmasi dan Klinik III. ISSN:
Expanded, Kumarin Press, 2339-2592.
West Hartford
[WHO] World Health Organitation,
Wati, R. W., Fudholi, A., & Pamudji, 1993, How to Investigate
W. G., 2013, Evaluasi Drug Use in Health Facilities,
Pengelolaan Obat Dan Selected Drug Use Indicator,
Strategi Perbaikan Dengan Action Program on Essential
Metode Hanlon Di Instalasi Drug, WHO, Geneva.

255