Anda di halaman 1dari 60

Contoh Naskah Psikodrama “MENGATASI KE TIDAK

PERCAYAAN DIRI ATAS KEADAAN FISIKNYA”


Posted on October 26, 2015 by Desy Agustina Leave a comment

NASKAH PSIKODRAMA

“MENGATASI KE TIDAK PERCAYAAN DIRI ATAS KEADAAN FISIKNYA”

Konselor/ Guru BK : Sutradara (fasilitas, prosedur dan pengamat/penganalisis)

Pemain 1 : Tina (siswa) Tidak percaya diri karena keadaan fisiknya yang gendut

Pemain 2 : Tono (siswa) Tidak percaya diri karena muka yang bertompel

Pemain 3 : Dana (siswa) Salah satu siswa yang nakal, tidak mau menghargai
temannya dan suka mengejek

Pemain 4 : Tiara (siswa) Anak yang baik dan selalu perhatian kepada teman-
temanya

Pemain 5 : Guru wali kelas

Teman-teman lainnya sebagai pendukung

Pada suatu hari dijam sekolah, awal masuk kelas 2 SMA wali kelas yang sebelumnya telah
memberika informasi kepada wali kelas 2 yang sekarang, bahwa Tina, Tono, Dana, dan Tiara
memiliki sifat yang jelas terlihat berbeda sekali di bandingkan dengan siswa lainya. Seiring
berjalanya waktu wali kelas tersadar dan melihat keadaan yang benar-benar memilukan terhadap
Tina, Tono, dan Dana terutama keadaan Tina dan Tono. Mereka terlihat sekali tidak bisa
menerima dirinya atau fisiknya yang mereka rasa kurang sempurna, dapat terlihat dari sifatnya
yang pendiam. Namun sebenarnya mereka memiliki potensi yang positif jika mereka bisa
mengatasi keadaan ini. Beda halnya dengan Dana yang selalu nakal di kelas dan tidak bisa
menghargai orang lain. Dia selalu senang mengejek Tina dan Tono yang sangat mempengaruhi
keadaan psikis Tina dan Tono. Namun ada sosok yang benar-benar peduli terhadap Tina dan
Tono yang selalu memberikan semangat dan membangkitkan kepercayaan mereka Yaitu Tiara.

(Bel berbunyi, Guru memasuki kelas pelajaran pun dimulai) tempat duduk berbentuk U

Guru : Assalamu’alaikum

Siswa : Wa’alaikumsalam

Guru : (memeprhatikan dan tersenyum kepada Tina dan Tono). Baiklah anak-anak
marilah pelajaran kita mulai sesuai dengan pelajaran kita hari ini yaitu Bahasa Indonesia, namun
sebelum itu ibu ingin para siswa untuk mengenalkan diri, ada pepatah bahwa tak kenal maka tak
sayang oleh karena itu ibu minta agar para siswa mengenalkan dirinya masing-masing maju di
depan kelas.

Siswa : (Dengan semangatnya). Baik bu…

Guru : (Melihat absensi siswa dan memanggil siswa sesuai urutannya). Dana, silahkan
maju kedepan dan perkenalkan diri kamu.

Dana : (Dengan percaya dirinya).

Guru : Tina, silahkan maju kedepan

Tina : (Dengan rasa gugup dan rasa tidak percaya dirinya). Sa..sayaaa bernama Tina

Dana : Ohhh tak kirain badak. Hahaa (tertawa terbahak-bahak dengan siswa lainnya)

Guru : (menggelangkan kepala). Dana, tolong hargai temanmu yang di depan.

Dana : (terdiam)

Tina : (malu dan menundukkan kepalanya)

Guru : Silahkan Tina, kembali ketempat dudukmu. Untuk Dana ibu minta agar menjaga
sikap dan menghargai temanmu. Selanjutnya ibu panggil untuk Tiara memperkenalkan diri.

Tiara : (percaya diri dan tenang). Nama saya Tiara biasa di panggil Tia, terimakasih.

Guru : Baik Tia, silahkan kembali ke tempat dudukmu. Selanjutnya lagi ibu panggil
untuk Tono maju kedepan.

Tono : (dengan wajah yang malu dan tidak percaya diri). Nama saya ono

Dana : (langsung memotong ucapan Tono). Haha.., ono maksudnya ono tompele gede
gitu ya..?

Siswa : (langsung terbahak-tabahak) haha haha haha haha

Tono : Maksud saya namaku itu Tono kawan-kawan. (malu dan berusaha menahannya)

Guru : Dana.., sudah berapa kali ibu bilang agar kamu menghargai temanmu yang di
depan. (berpikir dan merasa keadaan ini tidak boleh lama-lama berlarut-larut). Baiklah Tono,
terima kasih perkenalannya, silahkan duduk kembali

Setelah guru memanggil semuanya, bebrapa lama kemudian bel istirahat berbunyi. Saat jam
istirahat siswa-siswa pun keluar, tetapi tidak untuk Tina, Tono, dan Dana karena ibu guru
memanggilnya sebentar agar mereka masuk ke ruangan BK. Disana Guru BK pun sudah siap
karena sebelumnya sudah di berikan informasi oleh guru wali kelas untuk mengatasi masalah ini.

(Tina, Tono, dan Dana memasuki ruangan dan mengucapkan salam saat memasuki ruangan,
Assalammualaikum)

Guru BK : Waalaikumsalam

Dana : Ibu, kami kesini datang karena disuruh wali kelas, sebenarnya ada apa yah
bu..??

Tina dan Tono : (hanya terdiam)

Guru BK : Silahkan duduk dulu. Ya, memang sengaja wali kelas memanggil kalian kesini,
sebab sudah lama juga sebenarnya kalian di perhatikaan oleh guru-guru yang membimbing
kalian selama jam pelajaran. Ibu hanya ingin kalian memperbaiki sikap yang masih kurang dan
membuat kepercayaan diri yang kurang menjadi tumbuh berkembang.

Dana : maksudnya ibu ???

Guru BK : Iya Dana maksudnya ibu itu adalah bisa merubah sikapmu yang terlalu nakal,
apalagi kamu seorang wanita, mana mungkin wanita sifat dan sikapnya seperti itu tidak
perhatian, sering mengolok-olok teman, dan lain sebagainya.

Tina : Terus saya dan Tono salah apa bu..? sampai-sampai ibu memanggil saya dan
Tono.

Guru BK : Kamu dan Tono memang tidak salah apa-apa, tapi ibu ingin sikap kalian berdua
yang pendiam dan malu-malu itu bisa dirubah tentunya juga untuk kebaikan kalian berdua,
sekarang ibu ingin tau sebenarnya apa yang membuat kalian sampai seperti ini..??

Tina : Duhhh…(dengan wajah kebingungan) saya bingung bu harus menjelaskan


bagaimana ke ibu, kalau saya boleh jujur bu.., sebenarnya saya tidak percaya diri dengan postur
tubuh saya yang gendut ini saya selalu di ejek oleh teman-teman, saya pun menjadi minder dan
tidak percaya diri.

Tono : Benar bu kata Tina, selama ini saya juga merasakan hal yang sama bahwa saya
sangat kurang percaya diri dan malu terhadap wajah saya ini karena adanya tompel yang
membuat saya selalu diejek teman-teman. Saya terus merasa minder yang semakin hari terus
meningkat dan saya sadar ini mempengaruhi dalam proses belajar saya.

Dana : (tersenyum mendengar keluhan Tina dan Tono)

Guru BK : Emmm.., jadi begitu, sebenarnya hal itu tidak begitu logis menurut ibu.
Seharusnya dengan hal seperti ini jangan dijadikan pukulan di hati kalian sehingga kalian
cenderung menutup diri dan menjadi pendiam. Akan lebih berguna lagi jika ketika kalian di ejek
teman-teman kalian balaslah dengan senyuman dan berpikir bahwa semua makhluk ciptaan
Allah adalah ciptaan yang paling sempurna, dengan kekuranagn dan kelebihan masing-masing di
setiap makhluknya percayalah bahwa Allah meciptakan sedemikian rupa agar kalian bisa
menjadi orang yang lebih mulia dan bisa mendapat teman banyak dengan cara kalian sendiri.
Apalagi, ibu lihat prestasi kalian yang sangat bagus di kelas bisa menjadi acuan kalian untuk
membuktikan diri kepada teman-teman. Jadi dekatilah dan berbaik hatilah kepada teman-
temanmu.

Tina : Tapi bu.., saya takut jika saya mendekati saya mereka justru malah menghindar.

Tono : Iya bu.., benar apa yang di katakana Tina.

Guru BK : Jangan takut Tina..Tono.., kalian harus bisa mencobanya bagaimana kamu akan
tahu bagaimana nantinya jika kamu tidak pernah mencobanya.

Tono : Baik bu saya akan mecobanya

Guru BK : Bagaimana denganmu Tina, apakah kamu juga akan mencobanya..?

Tina : Baik bu.., saya akan mencobanya

Guru BK : Nahhh…(dengan sedikit tersenyum) begitu dong Tina…Tono.., kalian harus bisa
mensupport dirimu sendiri.

Dana : (menundukkan kepala dan merasa sangat bersalah) Maafkan saya Tina..Tono
ternyata apa yang kamu pikul selama ini di hati kalian seperti itu, apa jadinya jika aku yang
merasakan hal ini seperti kalian berdua, tentunya saya akan merasa malu dan tidak percaya diri
tentunya.

Guru BK : (mengangguk) Baguslah Dana.., kamu sudah menyadarinya apa kesalahanmu


tanpa ibu menjelaskannya lebih lanjut ke kamu.

Tina : Iya Dana, tidak apa-apa.

Tono : Tidak apa-apa Dana, memang kenyataannya kita seperti ini. Baiklah bu, kita
akan mencoba saran-saran yang ibu berikan kepada kami dan kami berterima kasih atas saran-
sarannya bu

Dana : (terharu melihat Tina dan Tono sangat ikhlas memaafkan kesalahan dirinya)

Guru BK : Baiklah kalo begitu, bagaimana perasaan Tina sekarang..??

Tina : emmmmm…, Alhamdulillah saya merasa sedikit lega karena bisa menyatakan
rasa yang telah lama saya pendam dan menghantui saya lama ini.

Guru BK : syukurlah, lalu bagaimana yang kamu rasakan sekarang Tono…?


Tono : Yahhh hati saya merasa lebih lega bu, menjadi tumbuh rasa percaya diri dan
memang saya tidak boleh berlarut-larut dalam minder saya selama ini.

Guru BK : Terus bagaimana denganmu Dana…??

Dana : Ya saya akui bu, bahwa saya benar-benar salah selama ini, saya merasa seperti
orang yang tidak punya perasaan, selama ini juga saya tidak bisa menghargai orang lain.., apalagi
dengan Tina dan Tono yang telah memaafkan kesalahanku dengan seikhlas itu.(merasa bersalah)

Guru BK : Alhamdulilah, semoga kalian menjadi teman yang akrab, baik, saling membantu
tentunya saling menghargai orang lain. Tina dan Tono agar tidak minder lagi kepada teman-
teman ya, karena semua tergantung dari apa yang kalian pikirkan dan kalianlah yang bisa
menyelesaikan dan juga kalianlah yang mengerti diri kalian sendiri.

Semoga Bermanfaat

 Beranda

Bimbingan Konseling

Selasa, 22 Mei 2012


Teknik Psikodrama
TEKNIK PSIKODRAMA

A. Pengertian Psikodrama
 Psikodrama merupakan permainan peranan yang dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat
memperoleh pengertian lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep pada dirinya, menyatakan
kebutuhannya-kebutuhannya, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya.(
Gerald Corey)
 Drama dalam bahasa Yunani berarti aksi atau melakukan sesuatu dengan dorongan jiwa. Jadi,
psikodrama adalah ilmu yang mengeksplor suatu masalah dengan metode drama.( Jacob L Moreno)

 Psikodrama adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan
– permasalahan psikologis.Psikodrama bisanya digunakan untuk terapi, yaitu agar siswa memperoleh
pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, menemukan konsep diri, menyatakan reaksi terhadap
tekanan–tekanan yang dialaminya
 Psikodrama adalah upaya pemecahan masalah melalui drama.
Jadi definisi psikodrama adalah tehnik bermain peran guna upaya pemecahan masalah psikis yang
dialami oleh individu dan dituangkan dalam bentuk permainan peran dengan menggunakan metode
drama.

B. Konsep Dasar
Teknik ini dikembangkan oleh JL Moreno pada tahun 1920an s/d 1930an. Moreno
mengungkapkan bahwa permainan drama pada psikodrama ini tanpa naskah dan bagian-bagian yang
tidak diulang adalah suatu katarsis (bentuk mengekspresikan/meluapkan perasaan) ketika ia
melakonkan suatu peran dalam kehidupan sehari-hari.
Psikodrama yaitu suatu cara mengekplorasi jiwa manusia melalui aksi dramatik artinya
memainkan sebuah peran tetapi tidak bersungguh-sungguh.

C. Manfaat
 Manfaat katasis atau melepaskan emosi
 Bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain

D. Tujuan Psikodrama
Untuk memperoleh pengertian yang baik tentang dirinya sehingga dapat menemukan konsep
dirinya, kebutuhan-kebutuhannya dan reaksi-reaksi terhadap tekanan yang dialaminya

E. Teknik – Teknik dalam Psikodrama


 Creative imagery, pembayaran kreatif merupakan teknik pemanasan untuk mengundang peserta
psikodrama membayangkan adegan dan objek yang menyenangkan dan netral.
 The magic shop, ini merupakan teknik pemanasan yang berguna bagi protagonis yang tidak dapat
memutuskan atau ragu tentang nilai dan tujuan mereka.
 Teknik berbicara-sendiri (soliloquy), teknik ini melibatkan protagonis (klien) menyajikan suatu monolog
tentang situasi dirinya.
 Monodrama (autodrama), teknik ini merupakan bentuk inti terapi gestalt. Dalam taknik ini, ptotagonis
memainkan semua bagian peranan atau tidak menggunakan ego pembantu.
 The double and multiple double technique. Teknik double adalah suatu teknik yang sangat penting
dalam psikodrama. Teknik ini terdiri atas pengambilan peran aktor dari ego protagonis dan membantu
protagonis mengekspresikan perasaan terdalam yang sesungguhnya secara lebih jelas. Jika protagonist
memiliki perasaan ragu, maka teknik multiple double dapat digunakan
 Role reverals (pemindahan peran). Dalam teknik ini protagionist memindahkan peran dengan orang lain
di pentas dan memainkan bagian orang itu. Teknik ini mendorong ekspresi konflik-konflik secara
maksimum, dan merupakan teknik inti dari psikodrama.
 Teknik cermin. Dalam aktivitas ini, protagonis memperhatikan dari luar pentas, sementara cermin ego
pembantu memantulkan kata-kata, gerak tubuh, dan postur protagonis. Teknik ini dipakai pada fase
tindakan untuk membantu protagonis melihat dirinya secara lebih akurat.

F. Komponen-komponen Psikodrama
 Panggung permainan (Stage)
a. Tempat untuk beraksi atau tempat sebagai permainan psikodrama berlangsung.
b. Untuk panggung permainan hendaknya cukup luas untuk member ruang gerak bagi pemeran dalam
permainan psikodrama.
c. Tempat tiruan harus merupakan tiruan atau paling tidak secara simbolis mewakili adegan-adegan yang
diuraikan klien.
d. Jika tidak ada panggung untuk permainan psikodrama, dapat juga memanfaatkan sebagian ruang untuk
tempat permainan.
 Pemimpin Psikodrama
a. Dalam psikodrama yang menjadi pemimpin kelompok adalah konselor atau terapis, pemimpin
kelompok bisa dikatakan sebagai sutradara.
b. Peranan pemimpin kelompok ini sebagai fasilitas, procedure dan pengamat/penganalisis.
c. Pemimpin kelompok memiliki sifat kreatif, berani dan memiliki kharisma.
d. Tugas dari pemimpin kelompok ini adalah membantu pemegang peran utama, merencanakan
pelaksanaan, mengamati dengan cermat perilaku pemain utama selama psikodrama berlangsung,
membantu klien mengungkapkan perasaan secara bebas dan membuat interpretasi.
 Pemeran Utama (Protagonist)
a. Peran utama (protagonist) disini sebagai subjek utama dalam pemeran psikodrama.
b. Peran utama ini memiliki sifat yang spontan dalam memainkan dramanya.
c. Tugas dari pemain utama ini adalah memainkan kembali kegiatan penting yang dialami waktu lampau,
sekarang, dan situasi yang diperkirakan akan terjadi, menentukan kejadian atau masalah yang akan
dimainkan, melakukan peran secara spontan, memilih dan mengejar pemain lain yan terpilih terhadap
peran apa yang dimainkan berdasarkan masalah protagonist.
 Pemeran Pembantu (Auxilari egos)
a. Pemeran pembantu sebagai objek lain atau orang lain yang berarti dalam permainan tersebut bisa pula
disebut sebagai actor.
b. Fungsi pemeran pembantu untuk menggambarkan peranan-peranan tertentu yang mempunyai
hubungan dekat dengan protagonist dalam kehidupan sebenarnya.
 Penonton (Audience)
a. Yang menjadi penonton (audience) yaitu anggota-anggota kelompok yang tidak menjadi pemeran
utama atau pemeran pembantu.
b. Memiliki tugas memberikan dukungan/feedback dan memberikan bahkan kepada protagonist.
c. Penonton juga membantu peran utama (protagonist) dalam memahami akibat perilaku protagonist.

 Langkah-langkah Psikodrama
1. Persiapan (warm-up)
a. Pemimpin kelompok memberikan uraian singkat mengenai hakikat dan tujuan psikodrama.
b. Mewawancarai anggota kelompok tentang kejadian-kejadian pada saat ini atau lampau.
c. Meminta anggota kelompok untuk membentuk kelompok-kelompok kecil dan mendiskusikan kelompok-
kelompok yang pernah mereka alami, yang ingin mereka kemukakan dalam psikodrama.
2. Pelaksanaan
a. Protagonist dan peran pembantu memainkan peranannya dalam psikodrama.
b. Lama pelaksanaan tergantung pada penilaian pemimpin kelompok terhadap tingkat keterlibatan
emosional protagonist dan pemain lainnya.
3. Diskusi
a. Pemimpin kelompok meminta para anggota kelompok untuk memberikan tanggapan dan brainstorm
terhadap permainan pemeran protagonis.
b. Pemimpin kelompok memimpin diskusi dan mendorong sebanyak mungkin anggota kelompok
memberikan balikannya.
c. Pemimpin kelompok menetralisir balikan yang bersifat menyerang atau menjatuhkan protagonis.

G. CONTOH SKENARIO PSIKODRAMA


SKENARIO PSIKODRAMA “Orangtuaku sahabatku”
(Ditampilkan pada program unggulan kelompok Karangkates 1 pada talkshow pola asuh orangtua yang
baik bagi perkembangan anak tema “Kenali Dunia Anak Anda!”)

PEMERAN :
 Ibu I (Ibu Khodijah) usia 35th: Ibu yang sangat baik, sangat memahami si anak, ibu yang sikapnya
lembut pada anak, dan sabar, suka memberi nasehat, dan selalu tersenyum, tidak pernah marah, dan
tegas. (AULIA)
 Ibu 2 (Ibu Zulaikha) usia 35th : Ibu yang kejam, suka memukul anak jika anak sedikit membangkang
atau melakukan kesalahan pada orangtua, hubungan tidak rukun dengan suami, suka marah, terlalu
keras pada anak. (LINA)
 Anak I (Sholih) usia 12th: anak dari ibu Khodijah, anaknya baik, penurut, pintar, prestasi di sekolah baik,
tidak pernah bertengkar, selalu ranking satu di sekolah, berani, dan jujur, rajin belajar. (ROFIQ)
 Anak 2 (Sholihah) usia 7 th: anak dari ibu Khodijah, anaknya baik, penurut, pintar, prestasi di sekolah
selalu baik, selalu melerai teman jika bertengkar, berani, jujur, suka menolong, perhatian pada orangtua
dan saudara, serta teman, rajin belajar. (BELLA)
 Anak 3 (Abu) usia 12th: anaknya suka memukul dan berkelahi, omongannya kasar, tidak hormat pada
orangtua, suka membolos, tidak jujur, nilainya selalu jelek. (INDRA)
 Anak 4 (Lai) usia 7th : anaknya genit, suka menggoda pria dewasa, omongannya kasar, suka memukul,
malas belajar, nilainya selalu jelek, suka berbohong, kurang perhatian orangtua. (NIA)
 Ayah I (Muhammad) ayah anak 1 dan 2, suami istri 1, usia 40th: ayah yang baik, perhatian pada
keluarga, tidak pernah marah, tegas, selalu mendampingi anaknya belajar, sabar, suka memberi nasihat.
(BRIAN)
 Ayah 2 (Fir’aun) : sombong, kejam, suka memukul anak, suka membentak istri dan anak, suka mabuk-
mabukan, dan sering merokok, suka berjudi, malas bekerja. (YANUAR)
 Nenek Minah : Nenek yang mau menyeberang jalan (NELI)
 Bu Fatimah : Guru yang baik hati (NELA)
 Sahabat Lai : Ina (LUSI)
 Sahabat Sholih : Aisyah (YOLANDA)
 Sahabat Sholihah : Fai (MEME)

H. PROLOG
Di suatu desa yang sangat indah, penduduknya tergolong ramah dan suka bergotong royong.
Penduduknya sangat rukun dan sangat mengenal satu sama lain walaupun tempat tinggalnya berbeda
RT, RW, bahkan dukuh. Tetapi, desa itu memiliki permasalahan, banyak kasus orangtua yang bercerai
karena keegoisan mereka dengan tidak memperhatikan nasib dan perkembangan anaknya, karena
faktor ekonomi dan negara yang kurang konsisten membimbing untuk mencapai kesejahteraan warga
negaranya sehingga masih banyak yang miskin tapi korupsi para pejabat masih merajalela di instansi
kenegaraan yang menjadi lahan subur, akhirnya nekat untuk bekerja ke luar negeri dan meninggalkan
anak-anak mereka tanpa tahu tumbuh kembang anak selama mereka tidak ada, anak-anak pun
terganggu dalam perkembangannya. Seharusnya, masa anak-anak adalah masa emas karena sebagai
pondasi perkembangan dan pertumbuhan mereka kelak ketika sudah menjadi sosok yang matang
sebagai seseorang yang dewasa.
Dengan sedikit permasalahan itu, banyak juga keluarga yang rukun dan kuat mempertahankan
hubungan rumahtangganya sehingga anak bisa tumbuh dan berkembang dengan semestinya, masih ada
keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah di desa tersebut, Insya Allah.
Di antara sekian banyak kepala keluarga, ada dua keluarga yang sangat bertolak belakang dalam
kehidupan dan cara mendidik si anak. Keluarga pertama adalah keluarga bapak Fir’aun, keluarga ini tidak
rukun, bapak Fir’aun sering bertengkar dengan istrinya, panggil saja ibu Zulaikhah, dan anaknya pun juga
jadi sasaran amarah, anaknya bernama Abu kelas 6 SD dan Lai kelas 2 SD, masih sekolah di SD Ulul Albab
di desa itu, dan menjadi anak yang bermasalah.
Keluarga kedua adalah keluarga bapak Muhammad, istrinya bernama ibu Khodijah. Keluarga tersebut
rukun dan sederhana, banyak tetangga yang iri dan salut pada hubungan mereka, karena ketika ada
masalah dalam keluarga selalu dihadapi dengan kepala dingin dan dengan jalan musyawarah, anak
mereka bernama Sholih dan Sholihah pun menganggap orangtuanya bukan sekedar orangtua, akan
tetapi sebagai sahabat. Sholih dan Sholihah bersekolah di sekolah dan kelas yang sama dengan Abu dan
Lai.

ADEGAN I
Di pagi yang cerah, di rumah Bapak Fir’aun.
Zulaikha : “Abuuu…Laiii…Banguuun…sudah pagi! Cepetan berangkat sekolah!”
(sambil memasak di dapur)
Abu : “Iyoyo,bu. Cerewet banget sih!” (sambil mengucek mata)
Zulaikha : “Kurang ajar kamu, ngatain ibu kurangajar! Cepetan!”
(sambil membawa sutil menuju Abu dan menjulurkan sutil ke tangan Abu)
Abu : “Aduh, sakit,bu!” (sambil mengerang dan meniup lukanya).
Zulaikha : “Mangkane ta, ojok kurangajar karo ibu! Ndang adus kono!”
Abu : (Abu melotot ke ibunya sembari meninggalkan ibunya)
Lai : (Lai melihat ke ibu)
Zulaikha : “Ndang adus kono, iki pisan melok-melok mas’e kono! Bangunin bapakmu dulu tuh!
Tidur terus, emang nggak kerja hari ini?”
(sambil mendorong kepala Lai)
Lai : “Iya” (meninggalkan ibu dan menuju ayah yang masih tidur)
(Pak Fir’aun masih pulas tidurnya)
Lai : “Pak, bangun! Bangun,pak!”
(sambil menggoyang-goyangkan badan ayah)
Fir’aun : “Opo seh?! Bapak masih ngantuk, engkok ae! Sana kamu berangkat sekolah!”
(Fir’aun kembali tidur, dan Lai kembali ke ibunya)
Lai : “Bu, bapak nggak mau bangun lho!”
Zulaikha : “Oh, pancene bapakmu iku. Nggak bener samasekali. Kerjaannya mabuk judi terus!
Merokok yo bablas, susu anak’e nggak dibeliin” (mengomel sambi menuju bapak). “Pak, tangi! Wes isuk
iki! Nggak kerjo a?”
Fir’aun : “Opo seh,bu. Wes talah, masak kono!”
Zulaikha : “Opo-opo, yo tangi! Ndang adus terus budhal kerjo! Mangkane ojok mabuk ae, mulih
bengi, nggak nggowo duwit, malang ngabisin duit. Judine iku pisan terusno ae!”
Fir’aun : “Lambemu iku lho jogoen!” (membentak)
Lai dan Abu : (mengintip dan berangkat sekolah)

ADEGAN 2 :
Di rumah bapak Muhammad.
Ibu : “Sholih, Sholihah sayaaang…sudah bangun? Ayok bangun dulu! Sholat Shubuh, setelah
itu segera mandi dan berangkat sekolah,jangan lupa sarapan dulu ya,sayang.”
(Sholih dan Sholihah mendatangi ibu dan mengucek mata)
(Mereka sekeluarga sholat shubuh berjama’ah, setelah sholat berjama’ah ibu menyuruh Sholih
membantu ayah membersihkan rumah)
Ibu : “Sholih, Sholihah, kamu membantu bapak membersihkan rumah ya!”
Sholihah : “Ibu masak apa? Sholihah bantuin ya! Kak sholih yang membantu bapak aja.”
Sholih : “Iya.”
(Ibu tersenyum dan mengangguk kemudian ibu dan Sholihah menuju dapur. Sholih dan ayah
membersihkan rumah)
(Sholihah dan ibu memasak)
(Ayah yang selesai bersih-bersih rumah menghampiri Ibu, dan Sholih mandi)
Bapak : “Istriku yang sholihah, hari ini masak apa? Hmm…sepertinya enak nih!
Jadi tidak sabar untuk menghabiskan makanan nih! hehe”
Ibu : “Ah,bapak bisa saja! Ibu memasak tumis dan ikan.”
Sholih selesai mandi dan memanggil adiknya
Sholih : “Adiiik… kakak sudah selesai mandi, sekarang giliran kamu.”
Sholihah : “Iya,kak.”

Setelah Sholih dan Sholihah selesai mandi, mereka sarapan bersama ayah dan ibu.
(Setelah sarapan, Sholih dan Sholihah pamit kepada orangtuanya dan bersalaman).
Sholih Sholihah pamit: “Assalaamu’alaikum”
Ayah dan Ibu : “Wa’alaikumsalam”
Ayah : “Hati-hati di jalan. Selamat belajar.”

ADEGAN 3 :
Di sekolah, Abu berdiri di depan sekolah.
Abu : “Ah, males sekolah! Bolos sajalah! Mau main aja! Lai, bolos yuk! Males nih masuk!”
Lai : “Bolos kemana,kak?”
Abu : “Ya, maen, bego! Ayo, tapi jangan bilang bapak sama ibu ya! Kalau ngomong, awas
kamu!”
Lai : “Iya,kak”
Abu : “Yuk!”
Ina pun lewat, dan Lai memanggilnya.
Lai : “Ina, ikut kami yuk!”
Ina : “Kemana?”
Lai : “Bolos.”
Ina : “Ayo, bosen nih! Aku sebel tadi lihat orangtuaku bertengkar lagi membahas cerai.”
Lai : “Sama donk! Ya udah, berangkat yuk!”
(mereka pun meninggalkan sekolah)
Di jalan, mereka berpapasan dengan Sholih dan Sholihah. Dan Sholih menyapa Abu, Ina dan Lai.
Sholih : “Selamat pagi, Abu dan Lai! Kalian mau kemana? Kok balik lagi?”
Abu : “Yok! Mau main. Daripada sekolah, males.”
Sholihah : “Berarti kamu bolos donk?”
Abu : “Emang kenapa?”
Sholih : “Itu’kan perbuatan yang tidak terpuji, apalagi tidak ijin sama bu guru.”
Sholihah : “Kalian sama aja membohongi orangtua kalian.”
Lai : “Kita tidak peduli. Toh, ibu sama bapakku nggak ngurusin. Bapak juga masih tidur jam
segini. Jadi, nggak bakal ketahuan. hahaha” (sambil ketawa)
Sholih : “Masya Allah”
Lai : “Ya udah, kami cabut dulu ya!”
Lai dan Abu meninggalkan Sholih dan Sholihah, dan kedua anak pak Muhammad dan bu Khodijah
melanjutkan perjalanan ke sekolah,
Di dalam kelas
Guru : “Selamat pagi,anak-anak pintar!”
Sholih dan Aisyah : “Selamat pagi,bu.”
Guru : “Ibu absen dulu ya! Aisyah?”
Aisyah : “Hadir,bu!”
Guru : “Sholih?”
Sholih : “Hadir,bu.”
Guru : “Abu?”
Sholih : “Tidak hadir,bu. Tadi saya ketemu Abu di depan sekolah, katanya malas
sekolah.”
Guru : “Kenapa?”
Sholih : “Tidak tahu,bu.”
Guru : “Ya sudah. Yang penting kalian tidak meniru perbuatan itu, karena membolos
adalah perbuatan yang tidak terpuji, dan tidak disukai oleh Tuhan.”
Sholih dan Aisyah : “Iya,bu.”
Guru : ”Baik, sekarang kita membahas PR kemarin ya!”
Di kelas Sholihah,
Guru : “Sholihah, kamu tahu Lai kemana ya?”
Sholihah : “Tadi Lai ikut kakaknya tidak masuk sekolah,bu.”
Guru : “Ya sudah, nanti ibu yang urus.”
Sambil berbisik Fai, sahabat Aisyah, bertanya pada Aisyah
Fai : “Aisyah, memang Lai kemana?”
Sholihah : “Membolos”
Fai pun mengangguk.

ADEGAN 4
Di jalan, Abu, Lai dan Ina duduk di pinggir jalan. Ada cowok yang lewat, dan digoda oleh Lai.
Lai : “Mas…mas…menoleh dulu donk!”
Cowok itu hanya menggeleng kepala. Abu, Lai, dan Ina pun ketawa.
Sepulang sekolah, Sholih, Sholihah, dan Fai bertemu nenek tua yang mau menyeberang. Dan di pinggir
jalan mereka bertemu dengan Abu, Lai, dan Ina yang sedang makan jajan.
Sholihah : “Kakak, Fai, ada nenek tua yang mau menyeberang tuh! Yuk kita bantu!”
Sholih dan Fai : “Ayo…ayo…”
Ketika Sholih, Sholihah, dan Fai hendak membantu nenek menyeberang, Abu yang melihat mereka,
lalu menghampiri mereka.
Abu : “Kalian mau ngapain?”
Fai : “Kita mau membantu nenek itu, Abu. Kasihan nenek itu mau menyeberang.”
Lai : “Nggak usah dibantu, kan nenek itu bisa menyeberang sendiri.”
Sholihah : “Ya tidak boleh seperti itu. Kata bapak sama ibuku, kita harus saling tolong
menolong.”
Ina : “Nggak penting.”
Sholih menggandeng nenek itu
Sholih : “Nenek, mari kami bantu menyeberang.”
Nenek : “Oh iya,nak. Terimakasih ya! Kalian memang anak-anak yang baik.”
Abu menghalangi jalan di depan mereka sambil ketawa
Abu : “Nggak boleh lewat, nggak boleh lewat. Hayooo…hahahaha”
Ada sebuah motor yang melaju dengan sangat kencang dan menyerempet Abu. Abu pun jatuh, dan
mengerang. Semua yang ada di situ membantu Abu.

ADEGAN 5
Di rumah Abu. Abu terbaring di tempat tidurnya, di ruangan itu ada orangtua Sholih dan Sholihah,
orangtua Abu dan Lai, Sholih, Sholihah, Lai, Ina, dan Fai.
Abu memulai pembicaraan
Abu : “Maafin Abu ya, Sholih, Sholihah, dan Fai. Abu pengen punya orangtua kayak
orangtuamu. Kayaknya nggak pernah marah, dan lembut sekali, bisa menjadi sahabat.”
Sholih : “Iya, nggak apa-apa. Maafkan kita juga ya! Walaupun orangtua kamu keras sama kamu,
tapi mereka sayang sama kamu, hanya saja caranya yang keliru.”
Lai : “Iya.”
Muhammad : “Yang jelas menjadi orangtua harus tegas, tapi tidak keras.”
Fir’aun : “Iya,pak. Saya menyesal jika anak-anak saya jika nanti seperti saya.”
Zulaikha : “Saya juga menyesal sering memukul mereka, dan menjadikan mereka takut sama
saya.”
Khodijah : “Yang jelas kita sebagai orangtua bisa menjadi sahabat anak kita.”
Sholihah : “Iya, saya dan kak Sholih juga menganggap orangtua kita sebagai sahabat kita, bukan
sekedar menjadi orangtua semata.”
Semua pun tertawa dan berpelukan…
Itulah akhir dari psikodrama ini, hikamahnya adalah orangtua merupakan pelukis anak, anak
merupakan tabularasa. Anak menjadi bermasalah jika orangtua keliru dalam pola asuhnya. Jadikan
anak sahabat anda!
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook

3 comments:

SR Binti Tazrin mengatakan...

terimakasih, sangat membantu sekali

21 November 2015 18.04

Lutfi Nisa mengatakan...

boleh minta daftar pustakanya.. makasih

14 Desember 2015 06.28

fayzan cendekia mengatakan...

terimaksasih ..izin saya mencopy untuk data pribadi..terimakasih


5 September 2017 20.03

Posting Komentar
Posting Lebih Baru » « Posting Lama Beranda

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Welcome to FitRika Blog...

.
Diberdayakan oleh Blogger.

 Beranda

Blogroll
About
Blogger templates
Blogger news
Blog Archive
 ▼ 2012 (60)
o ▼ Mei (45)
 Alih Tangan Kasus
 Gaya Kepribadian
 Tipe Kepribadian Manusia
 Teknik Sosiodrama
 Teknik Psikodrama
 Teknik Kerja Kelompok
 Teknik Kegiatan Kelompok
 Teknik Karya Wisata
 Teknik Home Room
 Teknik Diskusi Kelompok
 Teknik Bermain
 Remidial Teaching
 Kepustakaan
 Kepribadian Konselor
 Proksemik, kinesik, wajah dan Paralinguistik.
 Self Esteem
 Locus Of control
 Overview Teori Jung Tentang Tipe Kepribadian
 16 Indikator Tipe Kepribadian
 Tes Bakat Skolastik
 Tes IQ
 Teori Belajar Albert Bandura
 Teori belajar Edward Lee Thorndike
 Teori Belajar Edwin Ray Guthrie
 Teori Belajar : PENGUATAN B.F Skinner
 Konseling Lintas Budaya
 Motivasi Berprestasi
 Bimbingan Karir di SLTA
 Bimbingan Karir di Perguruan Tinggi
 UNCERACHIEVER
 Slow Learner
 LEARNING DISABILITIES
 Learning Disorder
 Murid Cepat Belajar
 Learning Disfunction
 Konseling Post Modern
 Konseling Bermain
 Rahasia Para Genius
 Kiat Atasi Frustasi
 Sakit Fisik akibat Jiwa yang Sakit
 Konseling Realita
 Konseling Perilaku
 Konseling Gestalt
 PEMBAHASAN2.1 S...
o ► April (15)

Copyright (c) 2010 Bimbingan Konseling. Design by WPThemes Expert

Blogger Templates for Blogger Themes

Jofipasi's Blog
Just another WordPress.com weblog

« FAMILY THERAPY

LAYANAN BAGI SISWA UNDERACHIEVER: DALAM SEKOLAH DAN KELUARGA »

PSIKODRAMA DALAM KELOMPOK


Jacob Daan Engel
0907612

PSIKODRAMA DALAM KELOMPOK

PENDAHULUAN
 Psikodrama adalah suatu tindakan pendekatan pada suatu kelompok terapi di mana para klien
mengeksplor masalah-masalah mereka melalui:
1. Karakter yang mereka mainkan
2. Situasi di mana mereka berperan menggunakan berbagai sarana dramatis untuk menjiwainya
3. Menemukan kreativitas mereka
4. Pembangunan keterampilan berperilaku.
ASAL PSIKODRAMA
• Pendekatan melalui psikodrama diciptakan leh J. L. Moreno (1889-1974). Dilakukan pertama
kali di Teater Spontanitas di Vienna pada tahun 1921.
• Moreno tidak percaya bahwa metode verbal adalah cara terbaik untuk menjangkau klien-
kliennya. Dia lebih percaya pada aksi, aksi untuk mengekspresikan perasaan mereka dalam
kelompok.
• Psikodrama juga membuat pasien tidak merasa terisolasi dan bisa beradaptasi dengan sesama
pasien.

KONSEP KUNCI DALAM PSIKODRAMA


 Kreatifitas
 Psikodrama membantu untuk memunculkan kreativitas dalam tiap individu dan kelompok
 Spontanitas
 Spontanitas adalah respon memadai terhadap situasi baru atau tanggapan berbeda terhadap
situasi lama. Di dalamnya ada keberanian, rasa bebas, semangat dan keterbukaan.
 Bekerja pada saat sekarang
 Mencoba mereplika kejadian yang menjadi masalah di masa lalu dan menyelesaikannya
sekarang. Membuat klien merasa lega dan mendapat arti baru tentang kejadian itu. Tidak lagi
abstrak yang mereka hadapi.
 Pertemuan
 Klien saling bertemu dan termotivasi untuk juga menyelesaikan masalah. Mereka belajar juga
melihat masalah klien lain dengan dalam.
 Tele
 Aksi dari jauh (Yunani). Moreno menyebutnya sebagai “feel” yang mengalir di antara individu
yang membuat kelompok ini bersatu.
 Realita surplus
 Membawa keinginan terdalam klien ke tingkat kesadarannya. Membuat klien sadar dan tahu
apa harapan dan ketakutannya, bahkan bila itu tidak realistis.
 Keterharuan dan Wawasan
 Perasaan haru adalah bagian alami dari psikodrama, namun itu bukan fokus. Maksud wawasan
adalah adanya perubahan kognitif.
 Realita testing
 Mencoba bertindak terhadap suatu masalah yang belum selesai di masa lalu yang mungkin
tidak sesuai dengan norma pada kehidupan sehari-hari.
 Teori peran
 Moreno mengajarkan bahwa kita semua adalah aktor yang sering berimprovisasi dalam
kehidupan, yang memainkan peranan kita setiap hari tanpa adanya skenario.

PERANAN PEMIMPIN GROUP


 Dalam suatu psikodrama, dibutuhkan seorang sutradara (biasanya terapis grup tersebut).
Sutradara memiliki peran sebagai:
1. Produser
 Menyeleksi siapa yang menjadi peran apa
2. Fasilitator / pemercepat
 Membantu membangun suasana dan memfasilitasi pembebasan ekspresi
3. Pengamat dan penganalisis
 Mengamati dan merespon pada perasaan klien, jika ada yang aneh atau tidak sesuai. Dan
memperbaiki pemeranan para klien.

KOMPONEN DASAR PSIKODRAMA


 Protagonis
 Protagonis adalah orang yang menjadi fokus dalam psikodrama dan masalah orang tsb
dieksplor. Suatu babak bisa bebas dipilih oleh protagonis dari masa lalu, masa sekarang atau
prakiraan masa depannya. Protagonis didampingi oleh sutradara untuk merealisasikan situasi.
 Ego Pelengkap
 Sama dengan pemain pembantu. Pelengkap membantu protagonis untuk mencapai “feel” yang
diinginkan. Pelengkap bisa dipilih oleh protagonis maupun oleh sutradara.
 Penonton
 Penonton adalah orang lain di luar grup yang sedang bermain. Penonton memberikan
dukungan dan timbal balik yang berharga bagi protagonis. Penonton sebenarnya sedang mencari
masalah mereka di dalam masalah protagonis.
 Panggung
 Panggung adalah area di mana psikodrama sedang berlangsung. Panggung harus ditata
sehingga bisa merepresentasikan keadaan yang mendukung protagonis.

TAHAP – TAHAP PSIKODRAMA


 Psikodrama terdiri dari tiga tahap, yaitu:
1. Pemanasan (warm-up)
2. Pentas (action)
3. Sharing dan diskusi
 Tiga tahap ini tidaklah mutlak tapi secara umum membantu dalam merancang spontanitas,
mengaplikasikannya, dan mengintegrasikan proses psikodrama ke dalam kelompok.
PEMANASAN (WARM-UP)
 Warming-up merupakan bagian penting dalam menumbuhkan kepercayaan dan ikatan dalam
grup.
 Pemanasan bisa dilakukan dengan aktivitas fisik, seperti menari, bermain musik, dll
 Sutradara biasa memberikan briefing untuk memperjelas tujuan dan situasi seperti apa yang
ingin dikembangkan
PENTAS (ACTION)
 Kelompok melakukan aksi drama untuk mengeluarkan pikiran, sikap dan perasaan yang
mereka tidak sadari.
 Saat protagonis sudah mendapat “feel” yang diinginkan, maka ego pendukung dapat
membantu protagonis mencapai suatu penutupan atas masalah itu.
 Di sini sutradara biasa memberikan arahan.
 Keterlibatan semua anggota kelompok sangat dibutuhkan.
SHARNG DAN DISKUSI
 Setelah pentas, kelompok tersebut melakukan sharing. Di sini mereka mengeluarkan pendapat
yang tak menghakimi antar sesama.
 Lalu dilanjutkan dengan diskusi tentang bagaimana action tadi mempengaruhi pola pikir dan
perasaan mereka.
 Terapis harus mampu memimpin diskusi dengan baik dan terarah.

APLIKASI: TEKNIK – TEKNIK TERAPI


 Psikodrama menggunakan beberapa teknik yang didesain khusus untuk mengintensifkan
perasaan, menklarifikasi kebingungan, meningkatkan pemahaman diri dan mempraktekkan sikap
atau tingkah laku baru.
 Sebenarnya sutradara atau terapis memiliki kemampuan untuk membangun tekniknya sendiri
atau memodifikasi teknik yang ada.
TEKNIK – TEKNIK TERAPI SBB:
 Presentasi Diri
 Protagonis memberikan gambaran tentang masalahnya dengan berperan sendiri atau dibantu
orang lain.
 Peran balikan
 Protagonis mengambil peran sebagai orang lain yang terlibat dalam masalahnya. Sehingga ia
bisa melihat sudut pandang lain.
 Ganda
 Melibatkan pemain pembantu. Di sini ia menjadi innerself dari protagonis.
 Berbincang Dengan Diri Sendiri
 Protagonis mengutarakans perasaan dan pikirannya seakan-akan ia berada sendiri dalam
sebuah ruangan. Ia juga bisa berbincang dengan dirinya sendiri untuk mendapat jawaban.
mendapat akhir yang ia inginkan atau pikirkan.
 Kursi Kosong
 Digunakan saat psikodrama terlibat dengan orang yang sudah mati. Di sini protagonis bisa
mendapat akhir yang ia inginkan atau pikirkan.
 Memainkan Lagi
 Mengulang lagi aksi yang tidak sesuai harapan sampai protagonis mendapat feelnya.
 Teknik Cermin
 Pemain lain menjadi cermin atas sikap dan tingkah laku protagonis, sehingga ia bisa melihat
dengan lebih jelas apa yang ia lakukan.
 Proyeksi Masa Depan
 Didesain untuk membantu anggota kelompok mengekspresikan dan mengklarifiksi fokus
mereka tentang masa depan.
 Toko ajaib
 Pembantu bermain sebagai penjual yang bisa mewujudkan keinginan protagonis, namun harus
ditukar dengan sesuatu yang dimiliki protagonis. Teknik ini cocok untuk pemanasan.
 Latihan Pemeranan
 Protagonis diberi kesempatan untuk melakukan lagi sebuah adegan dalam hidupnya. Mirip
dengan teknik memainkan lagi, tapi di sini peserta yang lain memberikan masukan dan
tanggapan terhadap keputusan yang dibuat oleh protagonis.

PSIKODRAMA DI SEKOLAH
 Psikodrama bisa juga dilakukan untuk anak-anak. Tujuannya tentu berbeda. Lebih kepada
untuk mengatasi konflik atau masalah yang dihadapi di sekolah.
 Teknik apapun bisa dilakukan, asal berpedoman bahwa itu dilakukan dalam konteks
pendidikan dan sekolah.

PSIKODRAMA DAN MULTICULTURAL


 Psikodrama telah dipraktekkan di berbagai belahan dunia. Banyak orang yang sebelumnya
tertutup menjadi lebih terbuka untuk membicarakan masalahnya
 Masalah: psikodrama mungkin tidak cocok untuk beberapa orang yang berasal dari latar
belakang budaya yang “sopan” alias tabu untuk membicarakan masalah keluarga kepada orang
asing.
 Bagaimana menurut Anda?

EVALUASI
 Psikodrama merupakan action method yang mampu membuat klien merasa puas dan lega.
Beberapa hal harus diingat:
1. Psikodrama memiliki kontribusi dan pendekatan yang kuat terhadap klien
2. Psikodrama berpotensial untuk diintegrasikan dengan jenis pendekatan lainnya, seperti
humanistik, pendekatan kognitif dan psikodinamik.

KOMENTAR
1. Perlu ada Tahapan-Tahapan Dalam Warm-Up dan Pertemuan Klien.

a. Tahapan Tambahan Tersebut Meliputi :


 Mengidentifikasi masalah, dalam kategori pribadi, keluarga, pekerjaan, jabatan atau dan lain-
lain.
 Permasalahannya dikategorikan berupa konflik batin, atau stress, depressi, kecemasan, dan lain
sebagainya.
 Konseling bisa berupa individu atau bersama dalam setting kelompok.

b. Tujuan Tahapan Tersebut:


 Mengumpulkan data/ informasi untuk lebih mengenal permasalahan dan untuk menyelesaikan
permasalahan yang terjadi, karena karakteristik klien sangat beragam. Hal tersebut disebabkan
oleh perbedaan asal usul ras, culture dan etnik, agama kepercayaan, orientasi seksual,
sosioekonomi, status, dan bahasa lokal.
 Lebih efektif dalam menyeleksi siapa yang menjadi peran apa, agar skenario dapat
diorganisasikan dalam urutan yang sistematis dan logis untuk mengubah perilaku salah dan
memperkuat perilaku yang diharapkan (George dan Cristiani, 1990).
 Untuk melihat sensitivitas dan harapan klien sebagai anggota kelompok dan memberikan
penguatan terhadap harapan-harapan yang ingin dicapai (Natawidjaya, 2009; 122).

2. Peran Ganda Protagonis, Benarkah?


 Pada satu sisi, Protagonis dapat berperan mempengaruhi peran pemain pembantu untuk
mengkonsepsikan dan mengendalikan perilaku mereka.
 Di sisi lain, Protagonis sebagai pemeran utama yang menjadi sasaran terapeutik menyisihkan
masalah yang belum tuntas. Ketika protagonis sudah mendapat “feel” yang diinginkan, maka ego
pendukung (pemain pembantu) dapat membantu protagonis mencapai suatu penutupan atas
masalah itu.
 Ada masalah yang belum tuntas dengan pemain pembantu sebagai klien mengeksplor masalah-
masalah mereka melalui perannya masing-masing, sehingga belum tentu mereka mencapai
“feel”- yang diinginkan bersamaan dengan protagonis.
 Idealnya, Pemain pembantu dapat mengkonsepsikan dan mengendalikan perilaku mereka
untuk mendapatkan perilaku baru, yang dapat mempengaruhi perilaku orang lain sebagaimana
perilakunya juga dipengaruhi orang lain (Protagonis) (George dan Cristiani, 1990)..

APLIKASI PSIKODRAMA DALAM BIMBINGAN


DAN KONSELING DI SEKOLAH
Tujuan:
 Mengubah perilaku klien yang salah untuk memahami dirinya dan perilaku-
Perilakunya (Williamson, 1961). Kien adalah siswa yang bermasalah.
 Mengkonsepsikan dan mengendalikan perilaku klien untuk mendapatkan perilaku baru, yang
dapat mempengaruhi perilaku orang lain (George dan Cristiani, 1990).

Peranan Guru BK sebagai Sutradara:


 Membantu klien mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya agar keluar dari kondisi
tersebut.
 Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai masalah klien dan penaksiran objektif
untuk tujuan terapeutik.

Tahapan – Tahapan:
 Identifikasi Masalah: Jenis keluarga (Inti, Batih), Pekerjaan orang tua, Lingkungan
Masyarakat, Jenis Masalahnya.
 Prioritas Masalah: Frekwensi masalah terberat ke yang ringan.
 Tujuan yang ingin dicapai
 Warm – Up
 Action
 Sharing dan Diskusi
 Evaluasi: 2 Minggu – 1 Bulan, apakah ada perubahan tingkah laku setelah melakukan
Psikodrama.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
George, R.L. dan Cristiani, T.S. 1990. Counseling Theory and Practice. 3rd edition.
Boston.:Allyn and Bacon.
Natawidjaya, R. 2009. Konselng Kelompok: Konsep Dasar & Pendekatan. Bandung: Rizqi Press.
Williamson E.G. 1961. A concept of counseling. Dalam Hauntras, P.T. (Ed.). Mental Hygiene: A
Text of Reading. Colombus, Ohio: Charles E. Merril Books, Inc.

Iklan

Report this ad

Report this ad
Terkait

ETHICAL AND PROFESSIONAL ISSUES IN GROUP PRACTICE Etika dan Isu -isu
Profesional dalam Praktek Kelompok

POST MODERN APPROACHES (Pendekatan Post Modern)

TERAPI GESTALT

This entry was posted on Januari 22, 2013 at 2:55 pm and is filed under Uncategorized. You can follow any
responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Tanggapan to “PSIKODRAMA DALAM KELOMPOK”

1. retmono Says:
Desember 1, 2014 pukul 5:44 pm | Balas

Reblogged this on retmono and commented:


mari belajar bersama….

o jofipasi Says:
April 26, 2015 pukul 12:38 pm | Balas

Yaaaa selamat belajar… moga sukses!

Tinggalkan Balasan

Blog di WordPress.com.
Entries (RSS) and Comments (RSS).
My Life is Beautiful

Senin, 15 Oktober 2012


Contoh Naskah Drama

Pagi yang cerah dalam indahnya mentari pagi. Burung-burung mulai beterbangan mencari makanan.
Lalu lalang kendaraan bermotor dan banyak siswa-siswi yang berangkat menuju sekolah.

*Di halaman kelas*

Ria : Selamat pagi, Sofi.

Sofi : Selamat pagi juga, Ria.

Tika : Hai, selamat pagi semua.

Ria : Gimana neh kabarnya?


Sofi : Ehm. . . Alhamdulillah baik-baik aja. Kalo kamu, Tika?

Tika : Kabarku pasti baik-baik aja dong. Kalau Ria..??? Gimana..??

Ria : Pasti baik juga dong!

Sofi : Lama ya nggak ketemu kamu, kira-kira sudah 2 mingguan. Liburan kemana aja neh?

Ria : Ah, aku gag kmana-mana kug. Di rumah aja sudah seneng.

Tika : Kalau aku seh, main ke rumahnya nenek aja. Biasa, ikut main-main di sawah. Hehehehe...

Sofi : Uh begitu... Asyik dunk!!

Tiba – tiba datangah si Laili, dengan gaya penuh dengan percaya diri.

Ria : Eh, Sof. Liat tu, ada si Laili.

Sofi : Eh eh, iya e. . . HemMm... Liat tu gayanya berjalan. Huh, kayak artis aja tu.

Ria : Aku liatnya jagu enek.

Tika : Ah, enggak boleh begitu. Dia kan teman kita juga.

Sofi : Haha, aku juga enek Ria.

Ria : Huh, dia dateng kesini tu.

Laili : Heh, pada ngomogin aku ya..?

Sofi : Ya enggag lah, ngapain ngomongin kamu. Kurang kerjaan aja.

Ria : Hahaha, GR banget!!

Laili : Ya siapa tau ja kamu kurang kerjaan. Terus, ngomongin aku.

Sofi : Huhhh. . . DASAR!

Tika : Laili, ayo masuk ke kelas??

Laili : Iya Tika.


Bel masuk kelas sudah berbunyi dan pelajaran pun siap dimulai.

*Saat pelajaran Pak Wahyu dan Pak Wahyu sudah selesai menjelaskan materi tentang “Peluang”
dalam pelajaran Matematika*

Pak Wahyu : Ria, Sofi! ( sambil kesal ) Kesini..!!

Ria dan Sofi : Iya pak

Pak Wahyu : Tolong dijelaskan lagi tentang yang saja terangkan ini tadi.

Ria : Hehehe, maaf pak. Saya enggak tau.

Sofi : Maaf, pak. Kami berdua enggak tau.

Pak Wahyu : Kalian berdua ini gimana seh..!!! Saya sudah capk-capk jelasin. Eh, kalian berdua malah
asyik ngobrol.

Ria : Maaf, pak. Kami berdua khilaf.

Pak Wahyu : Iya, kali ini saya masih mempunyai rasa sabar. Tapi, untuk lain kali. Saya tidak segan-segan
menghukum untuk kalian yang tidak memperhatikan pelajaran saya. Untuk Laili, pasti kamu sudah bisa
dengan apa yang sudah saya jelaskan. ( dengan nada halus ). Untuk Sofi dan Ria, kalian berdua silahkan
duduk dan jangan mengulangi kejadian ini tadi.

Sofi dan Ria : Terimakasih, Pak.

Bel istirahat sudah berbunyi dan saatnya Pak Wahyu meninggalkan kelas dan tak lupa beliau
memberikan PR untuk muridnya.

Pak Wahyu : Anak-anak, tolong dikerjakan Paket Matematika hal. 43 ya?

Semua murid : Iya, Pak.

*Saat di Kantin Sekolah*


Sofi : Huhh, selalu Laili yang dipuji

Ria : Iya neh, kenapa seh selalu dia ja.

Sofi : Iya neh. Aku gag suka benget!

Ria : Sofi, Sofi. Aku punya ide.

Sofi : Ide apa?

Ria : Gimana kalau kita ngerjain si Laili. Biar gag dipuji lagi sama Pak Wahyu.

Sofi : Wah, ide bagus tu.

Saat di Kantin, Tika mendengar omongannya si Sofi dan si Laili. Dan Tika pun memendam
omongannya Ria dan Sofi. Tika adalah teman dekatnya Laili.

*Keesokan harinya*

Saat pelajaran Pak Wahyu

Pak Wahyu : Selamat pagi, anak-anak.

Semua Murid : Selamat pagi, Pak.

Pak Wahyu : Gimana PR-nya? Sudah dikerjakan?

Semua Murid : Sudah pak. . .

Pak Wahyu : Dikumpulkan ya anak-anak?

Semua Murid : Iya, Pak.

Laili : Lhoo!!! PR-ku mana? Kug gag ada..!!! ( dengan nada keras dan kaget )

Pak Wahyu : Ada apa Laili?

Laili : Ini pak, PR saya enggak ada.

Pak Wahyu : Lho! Ko’ bisa. Jangan bilang kalau kamu enggak ngerjakan PR-nya.
Laili : Enggak pak, saya. . . ( terpotonglah perkataan dari Laili karena dipotong oleh Pak Wahyu )

Pak Wahyu : Tolong dijelaskan di ruang BK saja.

Karena Pak Wahyu adalah Guru yang Tegas. Beliau pun melaporkan kejadian ini ke Bimbingan
Konseling atau yang biasanya disebut dengan BK. Laili dilaporkan karena tidak mengerjakan PR agar
Laili sadar apa yang dilakukannya itu salah.

*Saat di Ruang BK*

Pak Wahyu : Pak Basofi, saya ingin melaporkan bahwa tadi saat pelajaran saya. Laili tidak menegerjakan
Tugasnya untunk mengerjakan PR.

Pak Basofi : Oh, iya Pak saya catat dulu kejadian perkaranya.

Pak Wahyu : Iya Pak Basofi

Pak Basofi : Laili, tolong dijelaskan kenapa kamu tidak mengerjakan Tugas dari Pak Wahyu.

Laili : Bukannya saya tidak mengerjakan, Pak. Saya kemarin itu sudah mengerjakan tugas dari Pak
Wahyu.

Pak Basofi : Enggak bohong...???

Laili : Iya, Pak. Saya enggak bohong.

Dengan kejadian melaporkan perkara Laili dengan Pak Wahyu. Laili menjadi tidak masuk sekolah
selama beberapa hari.

*Saat di kelas*

Tika : Eh, Laili kug masih belum masuk ya.? Kira-kira kenpa ya?

Ria : Wah, aku enggak tau e Tika.


Sofi : Lha kemu, Tika. Kamu kan sahabat’e..??

Tika : Iya seh, tapi lho nomer hapenya enggak aktif.

Ria : Uhw begitu.

Saat mereka bertiga asyik ngobrol tentang Laili. Ternyta ada Pengumuman.

Ria : Eh eh eh, diam! Ada pengumuman tu.

Sofi : Iya e. . .

Pengumumannya adalah bahwa Laili telah meninggalkan dunia.

Tika : Lho, Laili kenapa ko’ bisa meninggalkan dunia. Apa karena kejadian di BK untuk beberapa hari
kemarin.

Sofi : Wah, kalau itu saya enggak tau e Tika.

*Saat Pelajaran dimulai*

Tika menemukan buku Laili yang tertinggal di kelas. Dan ternyata itu adalah buku hariannya
Laili. Tika membaca bagian tentang penyakit yang sudah lama diidap oleh Laili. Setiap Laili
memikirkan sesuatu terlalu membebankan pikiran Laili, penyakit itu menjadi kambuh. Sehingga
kondisi Laili menjadi DROP. Sampai-sampai Laili dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Sampai sekarang Tika tidak ingin ada yang disalahkan oelh kejadian ini. Biar Tuhan yang Tahu
semuanya.

TAMAT
TERDIAM

Pemain :

1. Laili : Siswi yang mempunyai sifat penuh percaya diri dan dia mempunyai penyakit yang belum diketahui oleh
teman-temannya

2. Sofi : Siswi yang benci terhadap Laili

3. Ria : Siswi yang benci terhadap Laili

4. Tika : Teman dari Laili

5. Basofi : Guru BK

6. Wahyu : Guru Matematika

Diposting oleh Kartika Maharani di Senin, Oktober 15, 2012

Label: foto Contoh Naskah Drama

Reaksi:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Hai!!

Kartika Maharani

Indonesia
Ubah hidupmu sekarang,sebelum hidupmu yang mengubahmu. Tak ada yang abadi di dunia ini.
Allah Bless YOU

Lihat profil lengkapku

Pengikut Blog Saya

Payday Advance Loan

Label Masa Depanku


 Anatomi Reproduksi Manusia (2)
 Bahasa Indonesia (3)
 Bahasa Inggris (1)
 BAJU RAJUT (1)
 Biologi (1)
 Contoh Naskah Drama (2)
 Ilmu Kebidanan (1)
 IPA (2)
 Karya Ilmiah (1)
 Kimia (1)
 Kumpulan LP (7)
 Kumpulan Makalah (1)
 Matematika (1)
 Pengetahuan Umum (2)
 Sejarah (1)

Arsip My Blog ^o^


 ► 2014 (3)

 ► 2013 (9)

 ▼ 2012 (15)
o ▼ Oktober (15)
 Contoh Drama tentang Demokrasi PKn
 Contoh Proposal Kegiatan Pentas Seni dan Bazzar
 Contoh Naskah Drama
 Kewajiban Wanita Sholehah
 Contoh Skenario Drama
 Narkoba dan Ganja
 Pertanyaan Sejarah
 Kelainan Dan Penyakit Pada Sistem Gerak
 Bangun Segi Empat
 Mount Merapi
 Daftar Riwayat Hidup
 Hidrokarbon Dalam Kehidupan Sehari – Hari
 Karya Ilmiah Bahasa Indonesia tentang Jagung
 Alat Reproduksi Pria dan Fungsinya
 Alat Reproduksi Wanita dan Fungsinya

Gambar tema oleh Ollustrator. Diberdayakan oleh Blogger.

I am here to share knowledge for everyone, hopefully what I am doing is useful for everyone. as
written in the AL Qur "an" Convey though one verse "I would like to add my reward for
knowledge sharing

Minggu, 13 Maret 2011


Tehnik Sosiodrama dan Psikodrama
SOSIODRAMA

A. Pengertian
1. Sosiodrama merupakan salah satu tehnik dalam bimbingan kelompok yaitu role playing atau tehnik
bermain peran.
2. Sosiodrama dipergunakan sebagai salah satu teknik untuk memecahkan masalah – masalah sosial
dengan melalui kegiatan bermain peran. Di dalam sosiodrama ini sesorang akan memerankan suatu
peran tertentu dari situasi masalah sosial. (Djumhur & Muh Surya,2001 :109)
3. Sosiodrama merupakan dramatisasai dar persoalan – persoalan yang dapat timbul dalam pergaulan
dengan orang lain,tingkat konflik- konflik yang dialami dalam pergaulan sosial. (Wingkel,2004 :470).
4. Sosiodrama adalah permainan peran yang ditujukan untuk memecahkan masalah sosial yang timbul
dalam hubungan anatar manusia. (Romlah,1999:104)
Jadi tehnik sosiodrama adalah tehnik bermaian peran dalam rangka untuk memecahkan masalah
sosial yang timbul dalam hubungan interpersonal (rasa cemburu, dilem,dll) yang dilakukan dalam
kelompok.

B. Konsep Dasar Role Playing


Dicetuskan oleh JL Moreno tahun 1920an s/d 1930an.Teori dasar, role playing (bersifat sandiwara,
sosiologis / sesuai normas, tiruan, imajinatif (pemahaman diri). Individu mempelajari peranan-peranan
berbeda sejak lahir karena orang dilahirkan dengan kemampuan untuk bereaksi terhadap stimulu-
stimulus dari luar dirinya secara spontan dan pada dasarnya menurut terknik role playing ini
mengemukakan bahwa manusia itu spontan dan kreatif.

C. Tujuan Sosiodrama
Sosiodrama ini bertujuan untuk mendidik atau mendidik kembali dari pada penyembuhan.
Kegiatan ini dilaksanakan bila anggota kelompok mempunyai masalah sosial yang hampir sama.

D. Langkah-langkah Sosiaodrama
1. Persiapan, dari mulai mempersiapkan konselor, tokoh-tokoh, topik yang akan di bawakan, tujuan dari
topic yang dibawakan pada sosiodrama itu.
2. Membuat skenario
3. Menentukan kelompok sesuai naskah
4. Menentukan kelompok penonton untuk observasi
5. Pelaksanaan
6. Evaluasi dan diskusi, evaluasi dapat dilakukan dengan refleksi atau dengan cara laiseg (layanan segera),
laijapan (layanan jangka panjang).
7. Ulangan permainan (rehersal), jika masih ada waktu permainan dapat diulang kembali dengan
pertukaran peran pemain.

E. Kelemahan metode sosiodrama dan bermain peranan ini terletak pada :


1. Sosiodrama dan bermain peranan memelrukan waktu yang relatif panjang/banyak
2. Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid. Dan ini tidak semua
guru memilikinya
3. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan suatu adegan
tertentu
4. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami kegagalan, bukan saja dapat
memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pengajaran tidak tercapai
5. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini
6. Pada pelajaran agama masalah keimanan, sulit disajikan melalui metode sosiodrama dan bermain
peranan ini.
PSIKODRAMA

A. Pengertian Psikodrama
1. Psikodrama merupakan permainan peranan yang dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat
memperoleh pengertian lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep pada dirinya, menyatakan
kebutuhannya-kebutuhannya, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya.(
Gerald Corey)
2. Drama dalam bahasa Yunani berarti aksi atau melakukan sesuatu dengan dorongan jiwa. Jadi,
psikodrama adalah ilmu yang mengeksplor suatu masalah dengan metode drama.( Jacob L Moreno)
3. Psikodrama adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan
– permasalahan psikologis.Psikodrama bisanya digunakan untuk terapi, yaitu agar siswa memperoleh
pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, menemukan konsep diri, menyatakan reaksi terhadap
tekanan–tekanan yang dialaminya
(http://dhaoedbolonk.blogspot.com/2009/04/metode-pembelajaran.html)
4. Psikodrama adalah upaya pemecahan masalah melalui drama. (http://belajarpsikologi.com/)
Jadi definisi psikodrama adalah tehnik bermain peran guna upaya pemecahan masalah psikis yang
dialami oleh individu dan dituangkan dalam bentuk permainan peran dengan menggunakan metode
drama.

B. Konsep Dasar
Teknik ini dikembangkan oleh JL Moreno pada tahun 1920an s/d 1930an. Moreno mengungkapkan
bahwa permainan drama pada psikodrama ini tanpa naskah dan bagian-bagian yang tidak diulang
adalah suatu katarsis (bentuk mengekspresikan/meluapkan perasaan) ketika ia melakonkan suatu peran
dalam kehidupan sehari-hari.

Psikodrama yaitu suatu cara mengekplorasi jiwa manusia melalui aksi dramatik artinya memainkan
sebuah peran tetapi tidak bersungguh-sungguh.

C. Manfaat
1. Manfaat katasis atau melepaskan emosi
2. Bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain

D. Tujuan Psikodrama
Untuk memperoleh pengertian yang baik tentang dirinya sehingga dapat menemukan konsep dirinya,
kebutuhan-kebutuhannya dan reaksi-reaksi terhadap tekanan yang dialaminya

E. Teknik – Teknik dalam Psikodrama


1. Creative imagery, pembayaran kreatif merupakan teknik pemanasan untuk mengundang peserta
psikodrama membayangkan adegan dan objek yang menyenangkan dan netral.
2. The magic shop, ini merupakan teknik pemanasan yang berguna bagi
protagonis yang tidak dapat memutuskan atau ragu tentang nilai dan tujuan mereka.
3. Teknik berbicara-sendiri (soliloquy), teknik ini melibatkan protagonis (klien) menyajikan suatu monolog
tentang situasi dirinya.
4. Monodrama (autodrama), teknik ini merupakan bentuk inti terapi gestalt. Dalam taknik ini, ptotagonis
memainkan semua bagian peranan atau tidak menggunakan ego pembantu.
5. The double and multiple double technique. Teknik double adalah suatu teknik yang sangat penting dalam
psikodrama. Teknik ini terdiri atas pengambilan peran aktor dari ego protagonis dan membantu
protagonis mengekspresikan perasaan terdalam yang sesungguhnya secara lebih jelas. Jika protagonist
memiliki perasaan ragu, maka teknik multiple double dapat digunakan
6. Role reverals (pemindahan peran). Dalam teknik ini protagionist memindahkan peran dengan orang lain
di pentas dan memainkan bagian orang itu. Teknik ini mendorong ekspresi konflik-konflik secara
maksimum, dan merupakan teknik inti dari psikodrama.
7. Teknik cermin. Dalam aktivitas ini, protagonis memperhatikan dari luar pentas, sementara cermin ego
pembantu memantulkan kata-kata, gerak tubuh, dan postur protagonis. Teknik ini dipakai pada fase
tindakan untuk membantu protagonis melihat dirinya secara lebih akurat.

F. Komponen-komponen Psikodrama

1. Panggung permainan (Stage)


a. Tempat untuk beraksi atau tempat sebagai permainan psikodrama berlangsung.
b. Untuk panggung permainan hendaknya cukup luas untuk member ruang gerak bagi pemeran dalam
permainan psikodrama.
c. Tempat tiruan harus merupakan tiruan atau paling tidak secara simbolis mewakili adegan-adegan yang
diuraikan klien.
d. Jika tidak ada panggung untuk permainan psikodrama, dapat juga memanfaatkan sebagian ruang untuk
tempat permainan.
2. Pemimpin Psikodrama
a. Dalam psikodrama yang menjadi pemimpin kelompok adalah konselor atau terapis, pemimpin kelompok
bisa dikatakan sebagai sutradara.
b. Peranan pemimpin kelompok ini sebagai fasilitas, procedure dan pengamat/penganalisis.
c. Pemimpin kelompok memiliki sifat kreatif, berani dan memiliki kharisma.
d. Tugas dari pemimpin kelompok ini adalah membantu pemegang peran utama, merencanakan
pelaksanaan, mengamati dengan cermat perilaku pemain utama selama psikodrama berlangsung,
membantu klien mengungkapkan perasaan secara bebas dan membuat interpretasi.
3. Pemeran Utama (Protagonist)
a. Peran utama (protagonist) disini sebagai subjek utama dalam pemeran psikodrama.
b. Peran utama ini memiliki sifat yang spontan dalam memainkan dramanya.
c. Tugas dari pemain utama ini adalah memainkan kembali kegiatan penting yang dialami waktu lampau,
sekarang, dan situasi yang diperkirakan akan terjadi, menentukan kejadian atau masalah yang akan
dimainkan, melakukan peran secara spontan, memilih dan mengejar pemain lain yan terpilih terhadap
peran apa yang dimainkan berdasarkan masalah protagonist.
4. Pemeran Pembantu (Auxilari egos)
d. Pemeran pembantu sebagai objek lain atau orang lain yang berarti dalam permainan tersebut bisa pula
disebut sebagai actor.
e. Fungsi pemeran pembantu untuk menggambarkan peranan-peranan tertentu yang mempunyai
hubungan dekat dengan protagonist dalam kehidupan sebenarnya.
5. Penonton (Audience)
a. Yang menjadi penonton (audience) yaitu anggota-anggota kelompok yang tidak menjadi pemeran
utama atau pemeran pembantu.
b. Memiliki tugas memberikan dukungan/feedback dan memberikan bahkan kepada protagonist.
c. Penonton juga membantu peran utama (protagonist) dalam memahami akibat perilaku protagonist.

G. Langkah-langkah Psikodrama

1. Persiapan (warm-up)
a. Pemimpin kelompok memberikan uraian singkat mengenai hakikat dan tujuan psikodrama.
b. Mewawancarai anggota kelompok tentang kejadian-kejadian pada saat ini atau lampau.
c. Meminta anggota kelompok untuk membentuk kelompok-kelompok kecil dan mendiskusikan kelompok-
kelompok yang pernah mereka alami, yang ingin mereka kemukakan dalam psikodrama.
2. Pelaksanaan
a. Protagonist dan peran pembantu memainkan peranannya dalam psikodrama.
b. Lama pelaksanaan tergantung pada penilaian pemimpin kelompok terhadap tingkat keterlibatan
emosional protagonist dan pemain lainnya.
3. Diskusi
a. Pemimpin kelompok meminta para anggota kelompok untuk memberikan tanggapan dan brainstorm
terhadap permainan pemeran protagonis.
b. Pemimpin kelompok memimpin diskusi dan mendorong sebanyak mungkin anggota kelompok
memberikan balikannya.
c. Pemimpin kelompok menetralisir balikan yang bersifat menyerang atau menjatuhkan protagonis.
DAFTAR PUSTAKA

Djumhur & Moh. Surya.2001. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Bandung : C.V ILMU

Fannie R.1967. Role Playing In The Curriculum. USA : Prentice hall.


http://belajarpsikologi.com/ diunduh pada 20 September 2010

http://dhaoedbolonk.blogspot.com/2009/04/metode-pembelajaran.html diunduh pada 20 September 2010

Wingkel .2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta : PT. Gramedia

Diposting oleh miss.lolie di 13.35

Reaksi:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

2 komentar:

1.

Eka Haqeita1 Mei 2011 15.35

Terima kasih atas maklumatnya... ^,~

Balas

2.

miss.virgin2 Mei 2011 19.50

sama sama eka, semoga memberi manfaat :D

Balas

Muat yang lain...


hopefully benefit

Link ke posting ini

Buat sebuah Link

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Daftar isi Blog


1. Contoh Daftar Riayat Hidup untuk Melamar Jadi Guru
2. Contoh Surat Lamaran Menjadi Guru
3. Tugas Guru dalam Profesi
4. Tata Krama
5. KEGIATAN KELOMPOK BELAJAR
6. KIAT MENGHADAPI KONFLIK DENGAN TEMAN
7. Program Layanan Bimbingan dan Konseling
8. Program Layanan Bimbingan dan Konseling
9. CARA MERAWAT SEPATU
10. Mengenali dan Memahami Karakteristik Diri Sendiri
11. BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH
12. MATERI STRATEGI MENGHADAPI UJIAN
13. MENGENALI BAKAT DAN MINAT
14. Tehnik Relaksasi danDesensitisasi
15. Tehnik Sosiodrama dan Psikodrama
16. WEDDING DRESS MEWAH
17. MODEL SEPATU
18. CONTOH WEDDING DRESS
19. PENDEKATAN REALITA
20. Tehnik Relaksasi danDesensitisasi
21. Pendekatan Behavior
22. PENYAKIT MENULAR SEKSUAL GONORE/ PENYAKIT RAJA SINGA/ KENCING NANAH YANG DI
ALAMI PRIA
23. PMS ( Penyakit Menular Seksual)
24. PERAN GURU DI SEKOLAH DASAR
25. ZINAH KERUGIAN BAGI WANITA
26.
27. Terjadinya Manusia Dalam Kandungan
28. Tehnik Sosiodrama dan Psikodrama
29. Bimbingan Kelompok
30. Manfaat ASI
31. Keajaiban ASI ( Air Susu Ibu )
32. Tehnik Modeling
33. Himpunan Data Dalam BK
34. Tehnik Relaksasi danDesensitisasi
35. Tehnik Konseling Asertif Training
36. pengertian evaluasi program bk
37. kangker mulut rahim
38.

Pengikut
Mengenai Saya

miss.lolie

I'm not the one who, I just wanted to share knowledge. I want my life to be useful to other
people

Lihat profil lengkapku

Cerita Anak
 Beranda

mp3

Create a playlist at MixPod.com

miss.virgin. Tema PT Keren Sekali. Diberdayakan oleh Blogger.

three on a million

Selasa, 01 Mei 2012


Psikodrama

A. Pengertian
Psikodrama merupakan suatu cara untuk mengeksplorasi jiwa manusia melalui aksi dramatik,
yang diciptakan dan dikembangkan oleh J.L Moreno sekitar tahun 1920-an dan 1930-an. Gagasan itu
dikembangkan dari kreatifitas Moreno, setelah banyak bertemu dan membantu anak-anak, serta
cintanya pada spontanitas dan teater. Dia memperkenalkan suatu pendekatan kelompok dalam era yang
menekankan pada pendekatan intrapersonal. Oleh karena itu, berbagai sumbangannya terhadap
lapangan kerja kelompok (seperti penekanan pada tindakan dan fokusnya pada masa kini dan disini tak
pernah dihargai dengan pantas).

Awal psikodrama dirintis Moreno pada tahun 1921 di Vienna dalam bentuk teater spontanitas.
Melalui produksi-produksi dramatik, para partisipan yang terdiri dari artis-artis muda radikal menghibur
orang Vienna dengan cara berimprovisasi di atas pentas. Mereka memainkan lakon yang bersumber dari
kejadian-kejadian lokal dalam berbagai bentuk, layaknya kehidupan surat kabar yang
mendramatisasikan kejadian sehari-hari secara spontan. Moreno menemukan bahwa permainan drama
tanpa naskah dan bagian-bagian adegan tidak diulang, sebaik para anggota dan penonton mengalami
suatu katarsis emosional (peluapan

perasaan-perasaan) sebagai hasil dalam berperan serta pengamatan peran dramatik. Pendek kata,
psikodrama sebagai suatu sistem formal telah dikonseptualisasikan oleh Moreno, yang menekankan
pada kekhasan pendekatannya melalui pengulangan kehidupan klien, pengulangan ucapan atau analisis,
dan konflik-konflik mereka.

1. Praktek Psikodrama dalam Kelompok

Praktek psikodrama berlangsung secara multimedia. Pertama, terdapat faktor-faktor personal dan
fisik yang harus dipertimbangkan, seperti: sebuah ruangan, seorang pelaku utama, aktor, sutradara, dan
hadirin. Kedua, teknik yang harus dikerjakan secara metodologis.

Pentas (the stage) merupakan tempat aksi atau perbuatan berlangsung, yang mungkin berbentuk resmi
atau bagian ruangan yang sederhana.

 Protagonis adalah seorang pelaku (subjek) pemeran psikodrama. Ia dapat memainkan banyak bagian. Di
suatu saat ia memainkan bagian berbeda dari diri sendiri, pada saat lain ia keluar dari babak dan
mengobservasi. Tujuan dari protagonis adalah mengekspresikan secara bebas atas pemikiran-pemikiran,
perasaan-perasaan, kepedulian-kepedulian, dan isu-isu yang relevan dengan peran yang dimainkan
dalam psikodrama. Unsur kunci protagonis adalah spontanitas.

 Aktor merupakan orang yang memainkan bagian objek atau orang lain yang berarti dalam permainan
itu.

 Direktor atau sutradara adalah sseorang yang mengarahkan protagonis dalam menggunakan metode
psikodrama dalam rangka membantu seseoran untuk mengeksplorasi masalanya. Sutradara sama
dengan pimpinan kelompok dalam pendekatan teoritik.

Teknik yang dipakai dalam psikodrama bergantung pada banyak variable. Variable penting yang
mempengaruhi penggunaan teknik adalah situasi protagonis, keterampilan sutradara, kemampuan
aktor, besarnya penonton, tujuan sesi dan fase pelaksanaan psikodrama.

Proses psikodrama pada umumnya berlangsung memalui tiga fase, yaitu

fase pemanasan (warm-up), tindakan (action), dan integrasi (integration).

(1) Fase pemanasan ditandai dengan penentuan sutradara yang siap memimpin kelompok dan anggota
yang siap dipimpin. Proses ini melibatkan aktivitas verbal dan nonverbal yang dirancang untuk
menempatkan setiap orang di dalam kerangka berpikir pedoman psikodrama dan terkadang
membangun kepercayaan serta atmosfir spontanitas. Fase ini harus mempersiapkan segala sesuatu
untuk masuk pada fase tindakan.

(2) Fase tindakan merupakan proses yang melibatkan pemeranan kepedulian-kepedulian

protagonis. Sutradara membantu setiap protagonis yang memilih bekerja “menyiapkan pentas” untuk
adegan khusus di dalam di sini dan kini. Partisipasi kelompok menandai peranan ego yang membantu
dari sesuatu atau orang lain yang berarti di dalam kehidupan protagonis. Selanjutnya adegan
pembukaan yang menggambarkan protagonis memperoleh kesempatan untuk mengulang kembali
peran-peran dan interaksi dari peristiwa-peristiwa yang berarti. Sutradara mendorong protagonis untuk
berperan sesuai dengan perasaan yang lebih empati atau yang memproyeksikan perasaan-perasaannya.
Target dari seluruh kegiatan ini diarahkan untuk membantu protagonis mengelaborasi perasaan-
perasaannya. Hal terpenting dalam fase ini adalah bahwa protagonis mengekspresikan emosi-emosi
tertekan dan menemukan cara baru yang efektif untuk bertindak.
(3 )Fase integrasi melibatkan diskusi dan penutupan (closure). Setelah fase tindakan, protagonis berada
dalam ketidakseimbangan dan membutuhkan dukungan. Sutradara mendorong kelompok untuk
memberikan dukungan dan umpan balik yang konstruktif selama fase ini. Awal fokus umpan balik
terhadap pemeranan bersifat efektif alih-alih intelektual. Aspek-aspek kognitif tentang ekspresi-ekspresi
menonjol yang telah dialami diarahkan terakhir. Umpan balik sangat penting dari setiap anggota dan
protagonis agar tercipta perubahan peranan dan integrasi. Kelengkapan fase ini adalah menegaskan
pada pemahaman dan integrasi, sehingga protagonis dapat bertindak seimbang ketika berhadapan
dengan situasi yang berbeda.

Sebenarnya banyak teknik psikodrama, tetapi berikut ini hanya beberapa teknik utama yang
dikemukakan.

(a) Creative imagery, pembayaran kreatif merupakan teknik pemanasan untuk mengundang peserta
psikodrama membayangkan adegan dan objek yang menyenangkan dan netral. Ide teknik ini membentu
peserta menjadi lebih spontan.

(b) The magic shop, ini merupakan teknik pemanasan yang berguna bagi protagonis yang tidak dapat
memutuskan atau ragu tentang nilai dan tujuan mereka. Teknik ini melibatkan penjaga-toko (sutradara
atau ego yang membantu) yang menyediakan kualitas-kualitas khusus. Kualitas tidak untuk diobral,
tetapi dapat ditukar atau berter. Misalnya: wawan sebagai protagonis menginginkan keterampilan-
keterampilan berhubungan dengan orang lain: dia harus menyerahkan kemarahan yang irasional untuk
ditukar dengan keterampilan berhubungan yang baik.

(c) Teknik berbicara-sendiri (soliloquy), teknik ini melibatkan protagonis (klien) menyajikan suatu
monolog tentang situasi dirinya.

(d) Monodrama (autodrama), teknik ini merupakan bentuk inti terapi gestalt.

Dalam taknik ini, ptotagonis memainkan semua bagian peranan atau tidak menggunakan ego pembantu.

(e) The double and multiple double technique. Teknik double adalah suatu teknik yang sangat penting
dalam psikodrama. Teknik ini terdiri atas pengambilan peran aktor dari ego protagonis dan membantu
protagonis mengekspresikan perasaan terdalam yang sesungguhnya secara lebih jelas. Jika protagonis
memiliki perasaan ragu, maka teknik multiple double dapat digunakan. Dalam situasi ini, dua atau lebih
aktor menyajikan aspek-aspek yang berbeda dari kepribadian protagonis.

(f) Role reverals (pemindahan peran). Dalam teknik ini protagionist memindahkan peran dengan orang
lain di pentas dan memainkan bagian orang itu. Umpamanya, Wawan sekarang menjadi Abdul dan
bertindak layaknya dia. Teknik ini mendorong ekspresi konflik-konflik secara maksimum, dan merupakan
teknik inti dari psikodrama.

(g) Teknik cermin. Dalam aktivitas ini, protagonis memperhatikan dari luar pentas, sementara cermin
ego pembantu memantulkan kata-kata, gerak tubuh, dan postur protagonis. Teknik ini dipakai pada fase
tindakan untuk membantu protagonis melihat dirinya secara lebih akurat. Sebagai contoh Wawan
sekarang mengetahui melalui cermin Abdul, bahwa dirinya tidak berpikir jenih dan ragu-ragu atas
bayangannya diri sendiri.

B. Skenario Psikodrama

Untuk simulasi dibutuhkan skenario dalam psikodrama yang disesuaikan dengan tujuan. Skenario itu
dibuat oleh konselor, maka konselor pun berperan sebagai sutradara dalam psikodrama tersebut.
Berikut ini adalah psikodrama “Berani tampil di depan publik’:
Fase Warm-Up

(Berdasarkan informasi dari wali kelas dan guru mata pelajaran, didapat beberapa siswa yang
mengalami kesulitan/gugup ketika berbicara di depan umum, Wina menunjukan gugup dengan mata
yang berkaca-kaca ketika berbicara di depan orang banyak, Nita menunjukan gugup dengan sering
berkata “Ee”, Nisa menunjukan gugup dengan sering menggelinting-gelinting baju, Erni menunjukan
gugup dengan memutar-mutar pensil, Ufi menunjukan gugup dengan mengulang-ngulang kata).

(Konselor mengumpulkan siswa-siswa yang bersangkutan untuk

diberikan bimbingan kelompok).

Konselor :”Assalamualaikum”

Siswa-siswa : “Waalaikumsalam”

Konselor : “Ibu ucapkan terima kasih atas kehadiran anak-anak, pertemuan kita ini diberi nama
bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok merupakan kegiatan yang diikuti oleh sejumlah siswa untuk
membahas permasalahan tertentu yang berguna bagi siswa-siswa

yang mengikuti kegiatan itu, kegiatan bimbingan kelompok ini dipimpin oleh ibu sendiri selaku guru
pembimbing.

Siswa-siswa : “Oh begitu ya bu, (secara serempak)”

Konselor : ”Berdasarkan informasi dari guru dan wali kelas kalian, bahwa kalian sering mengalami
kegugupan ketika sedang berada di depan orang banyak misalnya ketika kalian berbicara di depan kelas,
ditanya oleh guru di hadapan teman-teman, atau dimintai

pendapat saat diskusi. Bagaimana kalau kita mencoba berlatih untuk mengurangi bahkan kalau bisa
menghilangkan rasa gugup tersebut. Sekarang ibu akan mengajak kalian untuk bermain peran dimana
hal ini dapat bermanfaat untuk mereduksi (mengurangi) kegugupan yang ada pada diri kalian. Tema
yang ibu berikan adalah tentang lingkungan. Coba wina berperan sebagai guru, Nisa sebagai siswa
pertama, Nita sebagai siswa kedua, Erni sebagai siswa ketiga, ufie sebagai siswa ke empat. Tapi ibu juga
ingin kalian semua dapat merasakan peran sebagai seorang guru.Disini ibu hanya mengamati dan
mungkin sedikit
akan memberikan komentar ketika kalian bermain peran”. Ibu berperan sebagai sutradara dan kalian
membikin stage berbentuk U.

Fase Tindakan

Siswa : (siswa mulai berdiskusi dan memulai latihan bermain peran)

Wina : (sebagai guru) “Assalamualaikum”

Siswa-siswa : “waalaikumsalam”

Wina : “Anak-anak kita harus menjaga lingkungan di sekitar kita agar tetap bersih dan terawat, dan kita
juga dilarang membuang sampah sembarangan agar tidak terjadi banjir, apalagi dimusim hujan seperti
sekarang ini. (Wina berbicara sambil gugup)

Siswa-siswa : “Ya ibu......”

Wina : ”Bagaimana tanggapan yang lainnya, coba menurut kamu Nisa?”

Nisa : ”Ya bu, sekarang kita memang harus menjaga lingkungan agar terbebas dari berbagai penyakit”

Wina : ”Ya bagus”.

Konselor : ”Wina sudah cukup bagus, silahkan kamu kembali ke tempat duduk (beri tepuk tangan untuk
kita semua), bagaimana Wina setelah tadi berperan sebagai guru?”

Wina : ”Duh..............deg-degan banget bu”

Konselor : ”Ya kan itu baru belajar, nanti juga sudah terbiasa, tapi tadi Wina sudah cukup bagus”

Konselor : “Baik..., sekarang coba Nita bertukar peran dengan Wina! Wina menjadi siswa, sedangkan
Nita sekarang mencoba berbicara di depan kelas sebagai Guru. Ayo Nita ke depan!

Nita : ”Eee...ssa...ya Bu?”

Konselor : ”Ya, kamu, ayo kamu pasti bisa!”

Nita : (Dengan ragu, mulai beranjak dari kursi dan menuju ke depan kelas, wajahnya terlihat cemas,
tangannya mengepal)

Konselor : ”Ayo mulai!”


Nita : ”Bicara apa ya Bu?”

Konselor : “ Ya temanya sama seperti yang tadi tentang lingkungan hidup,

bagaimana sudah siap Nita?”

Nita : “Ya bu, Assalamualaikum...”

Siswa-siswa : “Waalaikumsalam”

Nita : “Seperti yang kita ketahui Bandung dikenal sebagai kota kembang yang sejuk dan asri, namun
sekarang Bandung sudah menjadi kota yang penuh dengan sampah. Oleh karena itu kita sebagai warga
Bandung harus bisa menjaga lingkungan di sekitar kita”

Konselor :”Sudah cukup, ayo tepuk tangan buat Nita”

(Siswa-siswa bertepuk tangan)

Konselor : “ Setelah tadi bertukar peran dengan Wina, bagaimana

perasaanmu Nita ?”

Nita : “Eee..awalnya saya kaget karena tiba-tiba disuruh ke depan, tapi

setelah itu saya sedikit berani berbicara di depan kelas meskipun

belum lancar”

Konselor : “Ya, tidak apa-apa, penampilan kamu sudah bagus. Memang

perlu waktu dan latihan yang cukup sering untuk bisa berbicara

lancar di hadapan orang banyak. Ibu yakin kamu pasti bisa!”

(Beberapa hari berlalu dan tahap demi tahap telah dilalui dengan proses

bimbingan kelompok dan semua siswa juga telah merasakan peran sebagai guru

dan siswa).
Fase Integrasi

Konselor : ”Dari pertemuan kita beberapa hari lalu, ibu mau bertanya apa yang kalian dapatkan dari
kegiatan bermain peran itu?Coba menurut kamu Erni?

Erni : ”Seteslah saya mengikuti bimbingan kelompok ini, saya menjadi lebih berani ketika berbicara di
depan umum”.

Konselor : ”Bagaimana kalau kamu Nita?”

Nita : ”Kalau saya sedikit ada peningkatan jadi lebih percaya diri kalau berbicara di depan orang banyak”.

Konselor : ”Bagaimana kamu ufie?”

Ufie : ”Sama seperti yang dikatakan teman-teman, saya menjadi lebih percaya diri”.

Konselor : ”Bagaimana kalian berdua?” (sambil menunjuk Nisa dan Wina)

Nisa & Wina : ”Sama bu seperti Nita, Erni dan Ufie”.

Konselor : ”Tampaknya kalian sudah bisa mengurangi sedikit demi sedikit kegugupan ketika berbicara di
depan orang banyak. Mudahmudahan kegiatan kita ini dapat bermanfaat bagi kita semua”.

Siswa-siswa : ”Terima kasih Bu”

Diposting oleh penyongsong masa depan di 06.30

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog
 ▼ 2012 (14)
o ▼ Mei (8)
 PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI INDONESIA SECARA MAKRO ...
 kecemasan
 Dasar-dasar BK " Teori Gestalt "
 Layanan Konsultasi
 Gordon Allport Teori
 Perkembangan Bahasa
 Robert C. Bolles dan Psikologi Evolusioner
 Psikodrama
o ► April (4)
o ► Maret (2)

Mengenai Saya
penyongsong masa depan

Lihat profil lengkapku

Tema Sederhana. Diberdayakan oleh Blogger.

Bimbingan dan Konseling

Minggu, 30 Juni 2013


PSIKODRAMA

A. Pengertian Psikodrama
1. Secara Etimologi
Drama berasal dari bahasa Yunani yang berarti “aksi” atau melakukan sesuatu. Dan psiko berarti
jiwa jadi psikodrama berarti melakukan aksi (pertunjukan drama) dengan dorongan jiwa. Maka bisa
didefinisikan bahwa psikodrama adalah ilmu yang mengeksplor suatu masalah dengan metode drama.
2. Menurut Para Ahli
1) J.L Moreno
Psikodrama adalah sebuah bentuk pengembangan manusia dengan eksplorasi, melalui tindakan
dramatis, masalah, isu, keprihatinan, mimpi dan cita-cita tertinggi orang, kelompok, sistem dan
orgaParkhansi. Hal ini kebanyakan digunakan sebagai metode kerja kelompok, di mana setiap orang
dalam kelompok dapat menjadi agen penyembuhan (terapeutic agent) untuk satu sama lain dalam
kelompok.
2) Gerald Corey
Psikodrama merupakan permainan peranan yang dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat
memperoleh pengertian lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep pada dirinya, menyatakan
kebutuhannya-kebutuhannya, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya.
3) WS. Winkel
Psikodrama merupakan dramatisasi dari persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gangguan serius
dalam kesehatan mental para partisipan, sehingga tujuannya ialah perombakan dalam struktur
kepribadian seseorang. Psikodrama bersifat kegiatan terapi dan ditangani oleh seorang ahli psikoterapi.

3. Definisi Psikodrama
Psikodrama adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari
permasalahan – permasalahan psikologis. Psikodrama bisanya digunakan untuk terapi, yaitu agar siswa
memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, menemukan konsep diri, menyatakan reaksi
terhadap tekanan–tekanan yang dialaminya Psikodrama adalah upaya pemecahan masalah melalui
drama.
Jadi definisi psikodrama adalah tehnik bermain peran guna upaya pemecahan masalah psikis yang
dialami oleh individu dan dituangkan dalam bentuk permainan peran dengan menggunakan metode
drama.
Dengan berakting dalam sebuah drama diharapkan hal ini akan dapat menyadarkan seseorang
(insight) dan juga menggali (to explore) permasalahan yang sedang dihadapinya. Berbagai isu (issue)
atau masalah dan kemungkinan pemecahannya dimainkan terasa lebih baik daripada sekedar berbicara.
Psikodrama menawarkan kesempatan untuk melatih dengan aman peranan baru, melihat diri sendiri
dari sisi luar, menumbuhkan insight dan perubahan. Ada seorang pemimpin (director), sebuah action
area dan para anggota kelompok. Director mendukung kelompok untuk menggali (explore) solusi baru
dari masalah – masalah terdahulu, anggota kelompok berpartisipasi dalam drama sebagai orang lain
yang berarti dan saling berbagi cara mereka bagaimana berhubungan secara pribadi dan bisa belajar
dari masalah yang diajukan pada akhir sesi.

B. Tujuan Psikodrama
Tujuan dari psikodrama ini adalah :
1. Membantu konseli atau sekelompok konseli untuk mengatasi masalah masalah pribadi dengan cara
menggunakan permainan peran, drama, atau terapi tindakan. Lewat cara cara itu konseli di bantu untuk
mengungkapkan perasaan tentang konflik, kemarahan, agresi, perasaan bersalah dan kesedihan.
2. Dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian lebih baik tentang dirinya,
dapat menemukan konsep pada dirinya, menyatakan kebutuhannya-kebutuhannya, dan menyatakan
reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya.
3. Teknik dramatik, manusia dapat berusaha menciptakan atau menciptakan kembali suasana fisik dan
emosional yang dikehendaki dan yang harus dipahami adalah bahwa keaktifan dalam psikodrama tidak
dimonopoli oleh konselor atau terapis tetapi juga anak. Untuk memperoleh pengertian yang baik
tentang dirinya sehingga dapat menemukan konsep dirinya, kebutuhan-kebutuhannya dan reaksi-reaksi
terhadap tekanan yang dialaminya
4. Dengan mendramatisasikan konflik-konflik batinnya, pasien dapat merasa sedikit lega dan dapat
mengembangkan pemahaman (insight) baru yang memberinya kesanggupan untuk mengubah perannya
dalam kehidupan yang nyata.
C. Manfaat Psikodrama
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari teknik psikodrama diantaranya:

1. Manfaat katarsis atau melepaskan emosi.


2. Bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.
3. Dapat mempertinggi perhatian konseli melalui adegan-adegan, hal mana tidak selalu terjadi dalam
metode ceramah atau diskusi.
4. Konseli tidak saja mengerti persoalan sosial psikologis, tetapi mereka juga ikut merasakan perasaan dan
pikiran orang lain bila berhubungan dengan sesama manusia, seperti halnya penonton film atau
sandiwara, yang ikut hanyut dalam suasana film seperti, ikut menangis pada adegan sedih, rasa marah,
emosi, gembira dan lain sebagainya.
5. Konseli dapat menempatkan diri pada tempat orang lain dan memperdalam pengertian mereka tentang
orang lain.
D. Komponen-Komponen Psikodrama
Komponen yang ada dalam teknik psikodrama diantaranya:
1. Panggung permainan (Stage):
a. Tempat untuk beraksi atau tempat sebagai permainan psikodrama berlangsung.
b. Untuk panggung permainan hendaknya cukup luas untuk member ruang gerak bagi pemeran dalam
permainan psikodrama.
c. Tempat tiruan harus merupakan tiruan atau paling tidak secara simbolis mewakili adegan-adegan yang
diuraikan klien. (Jika tidak ada panggung untuk permainan).
2. Pemimpin Psikodrama:
a. Dalam psikodrama yang menjadi pemimpin kelompok adalah konselor atau terapis, pemimpin
kelompok bisa dikatakan sebagai sutradara.
b. Peranan pemimpin kelompok ini sebagai fasilitas, procedure dan pengamat/penganalisis.
c. Pemimpin kelompok memiliki sifat kreatif, berani dan memiliki kharisma.
d. Tugas dari pemimpin kelompok ini adalah membantu pemegang peran utama, merencanakan
pelaksanaan, mengamati dengan cermat perilaku pemain utama selama psikodrama berlangsung,
membantu klien mengungkapkan perasaan secara bebas dan membuat interpretasi.
3. Pemeran Utama (Protagonist):
a. Peran utama (protagonist) disini sebagai subjek utama dalam pemeran psikodrama.
b. Peran utama ini memiliki sifat yang spontan dalam memainkan dramanya.
c. Tugas dari pemain utama ini adalah memainkan kembali kegiatan penting yang dialami waktu lampau,
sekarang, dan situasi yang diperkirakan akan terjadi, menentukan kejadian atau masalah yang akan
dimainkan, melakukan peran secara spontan, memilih dan mengejar pemain lain yan terpilih terhadap
peran apa yang dimainkan berdasarkan masalah protagonist.
4. Pemeran Pembantu (Auxilari egos)
a. Pemeran pembantu sebagai objek lain atau orang lain yang berarti dalam permainan tersebut bisa pula
disebut sebagai actor.
b. Fungsi pemeran pembantu untuk menggambarkan peranan-peranan tertentu yang mempunyai
hubungan dekat dengan protagonist dalam kehidupan sebenarnya.
5. Penonton (Audience):
a. Yang menjadi penonton (audience) yaitu anggota-anggota kelompok yang tidak menjadi pemeran
utama atau pemeran pembantu.
b. Memiliki tugas memberikan dukungan/feedback dan memberikan bahkan kepada protagonist.
c. Penonton juga membantu peran utama (protagonist) dalam memahami akibat perilaku protagonist.
E. Teknik-Teknik Psikodrama
Sebenarnya banyak teknik psikodrama, tetapi berikut ini hanya beberapa teknik utama yang
dikemukakan sebagai berikut:

1. Creative imagery, teknik pemanasan untuk mengundang peserta psikodrama membayangkan babak dan
objek yang menyenangkan dan netral, ide teknik ini membantu peserta menjadi lebih spontan.
2. The magic shop, teknik pemanasan yang berguna bagi protagonist yang ragu tentang nilai mereka dan
tujuan.
3. Sculpting, konseli kelompok menggunakan metode nonverbal untuk menyusun orang lain dalam
kelompok konfigurasi seperti kelompok orang yang signifikan yang sesuai dengan orang-orang dalam
keluarganya dan sebagainya. Penyusunan ini melibatkan postur tubuh dan membantu konseli melihat,
mengetahui persepsi mereka tentang orang lain yang signifikan dengan cara yang lebih dinamis.
4. Teknik berbicara, teknik ini melibatkan protagonist memberi suatu monolog tentang situasinya.
5. Monodrama (autodrama), bentuk inti terapi gestalt. Dalam teknik ini, protagonist memainkan semua
bagian tindakan yang jelas; tidak terdapat ego pembantu yang digunakan.
6. The double and multiple double techniques, suatu teknik yang terdiri atas pengambilan peran aktor dari
ego protagonist dan membantu protagonist mengekspresikan perasaan sesungguhnya secara lebih jelas.
Jika protagonist memiliki perasaan ragu, maka teknik multiple double dapat digunakan.
7. Role reversals, teknik dimana protagonist memindahkan peran dengan orang lain pada tahap dan
memainkan bagian orang itu; konseli kelompok berbuat bertentangan dengan apa yang mereka rasakan.
8. Teknik cermin, protagonist memperhatikan dari luar tahap sementara seorang ego pembantu
mencerminkan kata-kata, mimik, dan postur protagonist. Teknik ini dipakai pada fase tindakan untuk
membantu protagonist melihat dirinya secara lebih akurat.

F. Peran Konselor dalam Psikodrama


Konselor dalam psikodarama berperan sebagai sutradara yang memiliki banyak peran. Sutradara
berperan sebagai produser, fasilitator, pengamat, dan seorang analis. Seorang sutradara seyogianya
membangun keterampilannya dalam tiga bidang yang saling tergantung, yaitu:

1. Pengetahuan tentang metode-metode, prinsip-prinsip, dan teknik-teknik.


2. Pemahaman tentang teori kepribadian dan hubungannya dengan pengembangan pembentukan filosofi
hidup.
3. Pematangan dan perkembangan kepribadiannya sendiri. Ia juga menambahkan bahwa ilmu
pengetahuan yang luas tentang hidup dan hakikat manusia, seorang sutradara diharapkan memiliki kerja
khusus dalam bidang pokok seperti psikologi umum, proses kelompok, psikologi humanistik, teori
komunikasi, dan komunikasi nonverbal.
4. Sutradara berfungsi untuk menyelenggarakan tugas-tugas seperti memimpin pengalaman pemanasan,
mendorong pengembangan kepercayaan dan spontaRudis, menetapkan struktur, agar protagonist dapat
mengidentifikasi dan bekerja berdasarkan pokok-pokok pikiran yang signifikan dalam hidup mereka,
melindungi konseli dari terbius oleh orang lain dan membawakan beberapa bentuk penghentian sesi
kelompok. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut dengan benar, sutradara yang potensial seyogianya
sudah mengalami banyak psikodrama dan mendapatkan supervisi langsung dari sutradara yang lebih
berpengalaman. Secara menyeluruh, sutradara kelompok yang efektif memiliki tiga kualitas, yaitu:
kreativitas, dorongan, dan kharisma. Individu seperti ini akan bekerja keras untuk kebaikan kelompok
dan senantiasa berani mengambil resiko untuk membantu konseli mencapai tujuan.

G. Langkah-Langkah Psikodrama
Langkah-langkah pelaksanaan psikodrama diantaranya:

1. Tahap persiapan (The warm-up).


Tahap persiapan dilakukan untuk memotivasi anggota kelompok agar mereka siap berpartisipasi
secara aktif dalam permainan, menentukan tujuan permainan, menciptakan perasaan aman dan saling
percaya pada kelompok.
a. Pemimpin kelompok memberikan uraian singkat mengenai hakikat dan tujuan psikodrama.
b. Mewawancarai anggota kelompok tentang kejadian-kejadian pada saat ini atau lampau.
c. Meminta anggota kelompok untuk membentuk kelompok-kelompok kecil dan mendiskusikan kelompok-
kelompok yang pernah mereka alami, yang ingin mereka kemukakan dalam psikodrama.

2. Tahap pelaksanaan (The action).


Tahap pelaksanaan tediri dari kegiatan dimana pemain utama dan pemain pembantu
memperagakan permainannya. Dengan bantuan pemimpin kelompok dan anggota kelompok lain
pemeran utama memperagakan masalahnya.
a. Protagonist dan peran pembantu memainkan peranannya dalam psikodrama.
b. Lama pelaksanaan tergantung pada penilaian pemimpin kelompok terhadap tingkat keterlibatan
emosional protagonist dan pemain lainnya.
3. Tahap diskusi atau tahap berbagi pendapat dan perasaan (The sharing).
Dalam tahap diskusi atau tahap bertukar pendapat dan kesan, para anggota kelompok diminta
untuk memberikan tanggpan dan sumbangan pikiran terhadap permainan yang dilakukan oleh pemeran
utama. Tahap diskusi ini penting karena merupakan rangkaian proses perubahan perilaku pemeran
utama kearah keseimbangan pribadi.
a. Pemimpin kelompok meminta para anggota kelompok untuk memberikan tanggapan dan brainstorm
terhadap permainan pemeran protagonis.
b. Pemimpin kelompok memimpin diskusi dan mendorong sebanyak mungkin anggota kelompok
memberikan balikannya.
c. Pemimpin kelompok menetralisir balikan yang bersifat menyerang atau menjatuhkan protagonis.
H. Skenario Psikodrama
Untuk simulasi dibutuhkan skenario dalam psikodrama yang disesuaikan dengan tujuan. Skenario itu
dibuat oleh konselor, maka konselor pun berperan sebagai sutradara dalam psikodrama tersebut.
Berikut ini adalah psikodrama “Berani tampil di depan publik’:

Tahap Warm-Up

(Berdasarkan informasi dari wali kelas dan guru mata pelajaran, didapat beberapa siswa yang
mengalami kesulitan/gugup ketika berbicara di depan umum, Naya menunjukan gugup dengan mata
yang berkaca-kaca ketika berbicara di depan orang banyak, Rudi menunjukan gugup dengan sering
berkata “Ee”, Parkhan menunjukan gugup dengan sering menggelinting-gelinting baju.

(Konselor mengumpulkan siswa-siswa yang bersangkutan untuk

diberikan bimbingan kelompok).

Konselor :”Assalamualaikum”

Siswa-siswa : “Waalaikumsalam”
selor : “Ibu ucapkan terima kasih atas kehadiran anak-anak, pertemuan kita ini diberi nama bimbingan
kelompok. Bimbingan kelompok merupakan kegiatan yang diikuti oleh sejumlah siswa untuk membahas
permasalahan tertentu yang berguna bagi siswa-siswa yang mengikuti kegiatan itu, kegiatan bimbingan
kelompok ini dipimpin oleh ibu sendiri selaku guru pembimbing.

Siswa-siswa : “Oh begitu ya bu, (secara serempak)”

selor : ”Berdasarkan informasi dari guru dan wali kelas kalian, bahwa kalian sering mengalami
kegugupan ketika sedang berada di depan orang banyak misalnya ketika kalian berbicara di depan kelas,
ditanya oleh guru di hadapan teman-teman, atau dimintai pendapat saat diskusi. Bagaimana kalau kita
mencoba berlatih untuk mengurangi bahkan kalau bisa menghilangkan rasa gugup tersebut. Sekarang
ibu akan mengajak kalian untuk bermain peran dimana hal ini dapat bermanfaat untuk mereduksi
(mengurangi) kegugupan yang ada pada diri kalian. Tema yang ibu berikan adalah tentang lingkungan.
Coba Naya berperan sebagai guru, Parkhan sebagai siswa pertama, Rudi sebagai siswa kedua. Tapi ibu
juga ingin kalian semua dapat merasakan peran sebagai seorang guru.Disini ibu hanya mengamati dan
mungkin sedikit akan memberikan komentar ketika kalian bermain peran”. Ibu berperan sebagai
sutradara dan kalian membikin stage berbentuk U.

Tahap Pelaksanaan

Siswa : (siswa mulai berdiskusi dan memulai latihan bermain peran)

Naya : (sebagai guru) “Assalamualaikum”

Siswa-siswa : “waalaikumsalam”

a : “Anak-anak kita harus menjaga lingkungan di sekitar kita agar tetap bersih dan terawat, dan kita juga
dilarang membuang sampah sembarangan agar tidak terjadi banjir, apalagi dimusim hujan seperti
sekarang ini. (Naya berbicara sambil gugup)

Siswa-siswa : “Ya ibu......”

:”Bagaimana tanggapan yang lainnya, coba menurut kamu Parkhan?”

an : ”Ya bu, sekarang kita memang harus menjaga lingkungan agar terbebas dari berbagai penyakit”

Naya : ”Ya bagus”.


selor : ”Naya sudah cukup bagus, silahkan kamu kembali ke tempat duduk (beri tepuk tangan untuk kita
semua), bagaimana Naya setelah tadi berperan sebagai guru?”

Naya : ”Duh..............deg-degan banget bu”

elor : ”Ya kan itu baru belajar, nanti juga sudah terbiasa, tapi tadi Naya sudah cukup bagus”

nselor : “Baik..., sekarang coba Rudi bertukar peran dengan Naya! Naya menjadi siswa, sedangkan Rudi
sekarang mencoba berbicara di depan kelas sebagai Guru. Ayo Rudi ke depan!

Rudi : ”Eee...ssa...ya Bu?”

Konselor : ”Ya, kamu, ayo kamu pasti bisa!”

: (Dengan ragu, mulai beranjak dari kursi dan menuju ke depan kelas, wajahnya terlihat cemas,
tangannya mengepal)

Konselor : ”Ayo mulai!”

Rudi : ”Bicara apa ya Bu?”

elor : “ Ya temanya sama seperti yang tadi tentang lingkungan hidup, bagaimana sudah siap Rudi?”

Rudi : “Ya bu, Assalamualaikum...”

Siswa-siswa : “Waalaikumsalam”

: “Seperti yang kita ketahui Bandung dikenal sebagai kota kembang yang sejuk dan
asri, namun sekarang Bandung sudah menjadi kota yang penuh dengan sampah. Oleh karena itu kita
sebagai warga Bandung harus bisa menjaga lingkungan di sekitar kita”

elor :”Sudah cukup, ayo tepuk tangan buat Rudi”(Siswa-siswa bertepuk tangan)

elor :“ Setelah tadi bertukar peran dengan Naya, bagaimana perasaanmu Rudi ?”

: “Eee..awalnya saya kaget karena tiba-tiba disuruh ke depan, tapi setelah itu saya sedikit berani
berbicara di depan kelas meskipun belum lancar”
elor : “Ya, tidak apa-apa, penampilan kamu sudah bagus. Memang perlu waktu dan latihan yang cukup sering
untuk bisa berbicara lancar di hadapan orang banyak. Ibu yakin kamu pasti bisa!”

(Beberapa hari berlalu dan tahap demi tahap telah dilalui dengan proses bimbingan kelompok dan
semua siswa juga telah merasakan peran sebagai guru

dan siswa).

Tahap Sharing

nselor : ”Dari pertemuan kita beberapa hari lalu, ibu mau bertanya apa yang kalian dapatkan dari
kegiatan bermain peran itu ?Coba menurut kamu Rudi ?”

di : “Saya sedikit ada peningkatan jadi lebih percaya diri kalau berbicara di depan orang banyak”.

selor : ”Bagaimana kalian berdua?” (sambil menunjuk Parkhan dan Naya)

Parkhan & Naya : ”Sama bu seperti Rudi dan Erni.

nselor : ”Tampaknya kalian sudah bisa mengurangi sedikit demi sedikit kegugupan ketika berbicara di
depan orang banyak. Mudahmudahan kegiatan kita ini dapat bermanfaat bagi kita semua”.

Siswa-siswa : ”Terima kasih Bu”

I. Kelebihan dan Kekurangan Psikodrama


1. Kelebihan
a. Mengembangkan kreativitas siswa (dengan peran yang dimainkan siswa dapat berfantasi)
b. Memupuk kerjasama antara siswa.
c. Menumbuhkan bakat siswa dalam seni drama.
d. Siswa lebih memperhatikan pelajaran karena menghayati sendiri.
e. Memupuk keberanian berpendapat di depan kelas.
f. Melatih siswa untuk menganalisa masalah dan mengambil kesimpulan dalarn waktu singkat.
2. Kekurangan
a. Adanya kurang kesungguhan para pemain menyebabkan tujuan tak tercapai.
b. Pendengar (siswa yang tak berperan) sening mentertawakan tingkah laku pemain sehingga merusak
suasana.
Diposting oleh fatimah noor di 18.52

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Label: bimbingan dan konseling, drama, psikodrama

5 komentar:

1.

Meirna Fatkhawati2 Juli 2014 18.06

sumbernya dari mana yaaa???

Balas

2.

Adam Tirtaputra16 November 2014 22.39

dapusnya ada mbak? boleh tau?

Balas

3.

Stephi Nadia24 Februari 2015 19.16

Daftar pustaka nya dong mba

Balas

4.

Lutfi Nisa20 Desember 2015 18.34

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.


Balas

5.

Lutfi Nisa20 Desember 2015 18.41

boleh minta daftar pustakanya dan referensi dapatnya dmn?

Balas

Muat yang lain...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog
 ▼ 2013 (11)
o ▼ Juni (9)
 Beberapa Gagasan Yang Keliru Untuk Mengatasi Tawur...
 Peran Konselor dalam Psikodrama
 Tahap-Tahap Dan Tugas Perkembangan
 Aspek-Aspek Perkembangan
 CARA-CARA PEMBERIAN BIMBINGAN KARIR DI SEKOLAH
 TEKNIK-TEKNIK KONSELING
 Masalah dan Konflik dalam kelompok
 PSIKODRAMA
 TAWURAN
o ► April (1)
o ► Maret (1)

Mengenai Saya

fatimah noor

Lihat profil lengkapku

Tema PT Keren Sekali. Gambar tema oleh suprun. Diberdayakan oleh Blogger.