Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

PREPARAT APUS TIKUS PUTIH (Rattus norvegic)

Disusun Oleh:
Kelompok 2
Samsul Arifin (201010070311061)
Dwi Septi Ningsih (201010070311064)
Neni Lusiana (201010070311065)
Susan Aminah (201010070311066)
Dimas Widya A. (201010070311068)
Tetty Ariyanti (201010070311070)
Prieska Novita D. (201010070311071)
Fitriyah Trisna A. (201010070311073)
Chantika B.P. (201010070311074)
Siti Solekah (201010070311075)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2013
I. JUDUL
Preparat Apus Darah Tikus Putih (Rattus norvegic)

II. TUJUAN
Tujuan dari praktikum preparat apusan darahyaitu untuk mengetahui dan mempelajari bentuk
dan struktur komponen seluler suatu jaringan organ yang komponen nonselulernya berupa cairan
atau dapat dibuat menjadi cairan. Dalam hal ini mengetahui bentuk sel darah tikus puih (Rattus
norvegic).

III. METODE
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
- 1 Set alat seksi
- Kaca benda
- Kaca penutup
- Mikroskop
- Pipet tetes
3.1.2 Bahan
- Alkohol 100%
- Larutan pewarnaan Giemza
- Darah segar tikus putih (Rattus norvegic)
- Xylol
- Entellan
3.2 Cara Kerja
1. Menyembelih tikus putih (Rattus norvegic)yang akan dijadikan percobaan
2. Meneteskan darah pada tepi kaca benda, meletakkan kaca benda yang satunya dengan
posisi miring sehingga membentuk sudut 450 dan geser ke arah berlawanan setipis
mungkin
3. Mengeringkan darah (agar darah menempel pada kaca benda)
4. Menetesi alkohol 100% dan menunggu selama 10 menit
5. Menetesi dengan pewarna giemza dan menunngu selama 30 menit
6. Mengeringkan zat warna yang masih menempel pada kaca benda dengan menggunakan
tissue
7. Meneteskan Xylol I selama 10 menit hingga kering
8. Meneteskan Xylol II selama proses pengamatan di bawah mikroskop.
9. Memberikan Entellan pada akhir pengamatandan tutup dengan kaca penutup
10. Memberi label
3.3 Skema Prosedur Kerja

Menyambelih tikus putih


Menempel kertas label

Teteskan darah segar


Memberikan Entellan
pada tepi kaca benda
pada akhir pengamatan

Letakkan kaca benda


Tetesi Xylol II selama
satunya dengan posisi
proses pengamatan di
miring (450)
mikroskop

Geser ke arah
berlawanan setipis Tetesi Xylol I dan tunggu
mungkin 10 menit

Keringkan darah agar


Keringkan zat warna yang
menempel pada kaca
menempel pada kaca
benda
benda dengan tisu

Tetesi alkohol 100% dan


tunggu 10 menit Tetesi pewarna Giemza
dan tunggu 30 menit
IV. DATA PENGAMATAN
4.1 Foto Pengamatan Preparat Apus Tikus Putih (Rattus norvegic)

Keterangan : A. Stach of Coint, B. Krenasi, C. Limfosit


Gambar 1. Darah Tikus Putih (Rattus norvegic)

Topik : Preparat Apus Tikus Putih (Rattus norvegic)

Sub-Topik : Apus
Potret : Fotostereometri
Perbesaran : 40x10
Tanggal Pengambilan Gambar : 12 April 2013
4.2 Gambar Literatur Tikus Putis (Rattusnorvegic)

Keterangan : A. Limfosit, B. Stach of Coint, C. Eritrosit


Gambar 2. Eritrosit (Sel Darah Merah)
Sumber : http://methonx.wordpress.com/2009/05/07/praktikum-mikroteknik-fabio-
unsoed-2009/
Gambar 3. Leukosit (Sel Darah Putih)
Sumber : http://kartikamedia.blogspot.com/2012/06/darah.html

Gambar 4. Trombosit (Keping Darah)


Sumber : http://kartikamedia.blogspot.com/2012/06/darah.html

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Animalia
Filum :Chordata
Kelas :Mamalia
Ordo : Rodentia
Subordo : Odontoceti
Familia : Muridae
Genus : Rattus
Spesies : Rattus norvegic (Anonymous, 2012)
5.2 Preparat Apus
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi
mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut
bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus
atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau
hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah. Pada hewan lain,
fungsi utama darah ialah mengangkut oksigen dari paru-paru atau insang ke jaringan
tubuh. Dalam darah terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat oksigen.
Pada sebagian hewan tak bertulang belakang atau invertebrata yang berukuran kecil,
oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa oksigennya
terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen paling efektif
dan terdapat pada hewan-hewan bertulang belakang atau vertebrata (Anonymous, 2012)
Sediaan apus darah adalah suatu sarana yang digunakan untuk menilai berbagai
unsur sel darah tepi, seperti eritrosit, leukosit, dan trombosit. Selain itu dapat pula
digunakan untuk mengidentifikasi adanya parasit seperti malaria, mikrofilaria, dan lain-
lain. Sediaan apus yang dibuat dan dipulas dengan baik merupakan syarat mutlak untuk
mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik. Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah
segar yang berasal dari kapiler (Anonymous, 2012).
Pembuatan sediaan apus darah biasanya digunakan dua buah kaca sediaan yang
sangat bersih terutama harus bebas lemak. Satu buah kaca sediaan bertindak sebagai
tempat tetes darah yang hendak diperiksa dan yang lain befungsi sebagai alat untuk
meratakan tetes darah agar didapatkan lapisan tipis darah. Tetesan darah pertama
dibersihkan agar diperoleh hasil yang memuaskan. Tetesan yang kedua diletakan pada
daerah ujung kaca sediaan yang bersih. Salah satu ujung sisi pendek kaca perata diletakan
miring dengan sudut kira- kira 450 tepat didepan tetes darah menyebar sepanjang sisi
pendek kaca perata, maka dengan mempertahankan sudutnya, kaca perata digerakan
secara cepat sehingga terbentuklah selapis tipis darah diatas kaca sediaan. Setelah sediaan
darah dikeringkan pada suhu kamar barulah dilakukan pewarnaan setelah difiksasi
menurut metode yang dipilih, yaitu metode Giemsa dan Wright yang merupakan
modifikasi metode Romanosky (Budiono, 1992).
Fungsi dari larutan-larutan pada pembuatan preparat apus darah ikan dan manusia
adalah pewarna Giemsa 10% sebagai pewarna yang umum digunakan agar sediaan
terlihat lebih jelas. Pewarnaan ini sering disebut juga pewarnaan Romanowski. Metode
pewarnaan ini banyak dipakai untuk mempelajari morfologi darah, sel-sel sumsum dan
juga untuk identifikasi parasit-parasit darah misalnya dari jenis protozoa. Zat ini tersedia
dalam bentuk serbuk atau larutan yang disimpan di dalam botol yang gelap. Di dalam
laboratorium-laboratorium banyak dipakai larutan Giemsa 3% yang dibuat dari larutan
baku Giemsa yang berupa cairan (larutan) (Anonymous, 2012).
Pewarnaan Giemsa disebut juga pewarnaan Romanowski. Metode pewarnaan ini
banyak digunakan untuk mempelajari morfologi sel-sel darah, sel-sel lien, sel-sel
sumsum dan juga untuk mengidentifikasi parasit-parasit darah misal Tripanosoma,
Plasmodia danlain-lain dari golongan protozoa (Rudyatmi,Eli, 2011).
Prinsip dari pewarnaan giemsa adalah presipitasi hitam yang terbentuk dari
penambahan larutan metilen biru dan eosin yang dilarutkan di dalam metanol. Pewarnaan
giemsa digunakan untuk membedakan inti sel dan morfologi sitoplasma dari sel darah
merah, sel darah putih, trombosit dan parasit yang ada di dalam darah. Pewarnaan giemsa
adalah teknik pewarnaan yang paling bagus digunakan untuk identifikasi parasit yang ada
di dalam darah (blood-borne parasite) (Anonymous, 2012).
Xylol adalah untuk menarik alkohol, mempersiapkan bagian organ untuk
pembenaman (memasukkan parafin) karena xylol menyebabkan sitoplasma kosong dan
hanya terdiri bagian padat saja. Yang perlu diperhatikan adalah perendaman tidak boleh
terlalu lama pada xylol karena dapat memberikan warna kehitaman pada bagian organ
(Anonymous, 2012)
Alkohol merupakan larutan dengan daya dehidrasi yang kuat dan menyebabkan
pengerasan dan pengerutan jaringan. Alkohol dapat mengkoagulasi protein dan
presipitasi glukogen dan melarutkan lemak. Fungsi alkohol yang utama adalah sebagai
bahan fiksasi sediaan sitologinamun dalam keadaan terpaksa dapat digunakan sebagai
fiksasi sediaan histopatologi. Hal ini disebabkan daya tembus alkohol yang kurang baik
oleh karena jaringan cepat menjadi keras dan mengkerut sehingga sediaan sukar dipulas.
Dua jenis alkohol paling sederhana adalah methanol dan etanol (Anonymous, 2013)
5.3 Analisis Hasil Pengamatan
Pada praktikum pembuatan preparat apus yang digunakan adalah darah tikus putih.
Dari hasil pengamatan preparat darah tikus baik melalui mikroskop secara langsung
maupun dari hasil pengamatan potret preparat dapat diketahui bentuk sel-sel darahnya.
Pada praktikum ini sampel darah yang digunakan adalah darah tikus putih (Rattus
norvegic). Hasil yang didapatkan setelah dilakukan perlakuan dan pengamatan dibawah
mikroskop adalah terdapat stach of coint yang ditandai dengan adanya penumpukansel
dalam darah yang dimana terdapat inti sel didalamnya. Terdapat sel yang mengkerut yang
biasa disebut dengan krenasi yang terlihat dengan adanya pengkerutan dinding sel, dan
selanjutnya kami juga menemukan adanya limfosit yang berbentuk bulat dan bentuk inti
sel yang menutupi seluruh bagian sel tersebut. Sedangkan pewarnaan yang dilakukan
pada pembuatan apus darah adalah pewarnaan Giemza.
Selain stach of coint, krenasi, dan limfosit darah memiliki komponen lain yaitu
eritrosit, luokosit, granulosit, agranulosit, dan trombosit.
Eritrosit pada mamalia tidak berinti sehingga tidak memiliki DNA, berbentuk
bikonkaf. Warna eritrosit bergantung pada hemoglobin yang mempunyai fungsi
membantu eritrosit mengangkat oksigen. Jika HB mengikat oksigen maka eritrosit
berwarna merah, jika telah di lepaskan akan berwarna merah kebiruan. Jumlah Hb
tergantung pada jenis kelamin dan umur. Jumlah eritrosit dapat berkurang misalnya,
karena luka yang mengeluarkan banyak darah atau anemia.
Oksigen akan diedarkan melalui pengangkutan oleh darah dalam bentuk ikatan yang
mudah lepas berupa oksihemoglobin, dalam waktu 1 menit 5 liter darah yang di pompa
jantung dapat di lepaskan lebih kurang 250ml oksigen yang terikat pada hemoglobin
dalam eritrosit. Dari jaringan tubuh Hb akan mengikat sebagian karbon dioksida dalam
bentuk karbam.
Leukositdibagi 6 yaitu: neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan basofil yang
memiliki granula sehingga disebut granulosit, sedangkan limfosit dan monosit disebut
agranulosit.
Sebagian leukosit dibentuk dalam sumsum tulang (granulosit, monosit, dan
limfosit) dan sebagian lagi dalam jaringan limfa (limfosit dan sel-sel plasma). Bahan-
bahan yang diperlukan untuk membentuk leukosit adalah vitamin dan asam amino seperti
halnya sel-sel lainnya. Sesudah dibentuk,sel-sel tersebut ditransport dalam darah ke
berbagai bagian tubuh. Masa hidup leukosit beda-beda, ada yang sekitar 12 jam dan ada
yang sampai 100-300 hari. Manfaat leukosit adalah untuk membantu pertahanan tubuh
terhadap infeksi yang masuk. Leukosit bergerak ameboid dan bersifat fagositik
(memangsa).
Trombosit disebut juga sel darah pembeku, jumlahnya pada orang dewasa kira-kira
200.000-500.000/cc. Di dalam trombosit terdapat banyak sekali faktor pembekuan
(hemostasis). Penyakit kekurangan trombosit adalah hemofilia (Anonymous, 2012).
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pembuatan preparat apus darah tikus putih
adalah faktor kegagalandan faktor keberhasilan.
Menurut Maskoeri (2008), adapun faktor yang mempengaruhi ketidakberhasilan
dalam pembuatan preparat yaitu:
 Darah yang cepat menggumpal ataupun cepat mengering saat diteteskan ke kaca benda
 Kurangnya pengalaman praktikan dan kurangnya kesabaran praktikan
Faktor Keberhasilan
Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembuatan preparat,
terutama pada pembuatan preparat apus diantaranya :
 Pengambilan sampel
Sampel yang diambil adalah darah yang masih segar, karena darah merupakan
jaringan hidup yang dapat melakukan proses pembekuan saat terjadi luka dan
pendarahan.
 Pemrosesan
Pemrosesan juga sangat mempengaruhi keberhasilan pembuatan preparat terutama
dalam proses perlakuan penggeseran darah pada kaca benda, karena hal ini
berpengaruh terhadap sel-sel darah (Anonymous, 2013).
VI. KESIMPULAN
1. Sediaan apus darah adalah suatu sarana yang digunakan untuk menilai berbagai unsur sel
darah tepi, seperti eritrosit, leukosit, dan trombosit
2. Fungsi dari bahan yang digunakan :
a. Giemsa 10% sebagai pewarna yang umum digunakan agar sediaan terlihat lebih jelas.
Pewarnaan ini sering disebut juga pewarnaan Romanowski. Metode pewarnaan ini
banyak dipakai untuk mempelajari morfologi darah
b. Xylol adalah untuk menarik alkohol, mempersiapkan bagian organ untuk pembenaman
(memasukkan parafin) karena xylol menyebabkan sitoplasma kosong dan hanya terdiri
bagian padat saja
c. Alkohol merupakan larutan dengan daya dehidrasi yang kuat dan menyebabkan
pengerasan dan pengerutan jaringan. Alkohol dapat mengkoagulasi protein dan
presipitasi glukogen dan melarutkan lemak.
3. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pada proses
pembuatan sediaan apus darah tikus putih (Rattus norvegic) dengan menggunakan satu
pewarna khusus darah yaitu Giemsa ditemukan :
 Stach of coint, krenasi dan limsofit.
 Krenasi merrupakan sel yang megalami pengkarutan pada bagian diding selnya.
 Limfosit yang merupakan jenis sel darah putih yang memiliki ciri-ciri yang hampir
menyerupai nukleus yang mana inti selnya hampir menempati atau menutupi bagian
selnya.
VII. DAFTAR PUSTAKA

Budiono, J.D. 1992. Pembuatan Preparat Mikroskopis. University Press. IKIP. Surabaya.
Juwonodr, danAchmad dr. 2000. Biologi Sel. Buku kedokteran GGC. Semarang
Rudyatmi,Eli. 2011. Bahan Ajar Mikroteknik. Semarang: Jurusan Biologi FMIPA UNNES

Sundoro, S.H. 1983. MetodePewarnaan (HistologisdanHistokimia). Penerbit Bhrataro Karya


Aksara. Jakarta

Anonymous. 2012. Komponen Sistem Peredaran Darah. http://sistem-peredaran-


darah.blogspot.com/2012/09/komponen-sistem-peredaran-darah-darah.html. Diakses tanggal
07-05-2013
Anonymous. 2012. Preparat Apusan. http://iva-coelomic.blogspot.com/2012/05/preparat-
apusan.html. Diakses tanggal 26-04-2013

Anonymous. 2012. Teknik Pewarnaan Giemsa. http://cabogun.blogspot.com/2012/08/teknik-


pewarnaan-giemsa.html. Diakses tanggal 26-04-2013

Anonymous. 2012. Siklus Esterus. http://malanotelife.blogspot.com/2012/05/siklus-estrus-part-


1.html. Diakses tanggal 26-04-2013

Anonymous. 2012. Lapotan Apusan Darah.


http://luqmanmaniabgt.blogspot.com/2012/07/laporan-apusan-darah-mikroteknik.html.
Diakses tanggal 28-04-2013

Digilib Unismus. 2012.


http://digilib.unimus.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jtptunimus-gdl-maryovegas-
6908

Anonymous. 2012. Preparat Apus Darah.


http://crocodilusdaratensis.wordpress.com/2012/03/01/422/. Diakses tanggal 07-05-2013

Anonymous. 2013.Tahapan Pembuatan Preparat Histologi.


http://yulirosalia.blogspot.com/2013/01/tahapan-pembuatan-preparat-histologi_9609.html).
Diakses tanggal 07-05-2013
VIII. LAMPIRAN
8.1 Foto Prosedur Kerja

1. Penyembelihan tikus 2. Pengeringan darah


putih yang akan dibuat
preparat

3. Pemberian Alkohol 4. Pemberian Pewarna


100% Giemza

5. Pemberian Pewarna 6. Pemberian Xylol I


Giemza dan menunggu
selama 30 menit
7. Pemotretan preparat 8. Penutupan preparat
sebelum diberi entellen dengan entellen

9. Preparat yang telah


diberi entellen

8.2 Teknik Preparat Apus Sebagai Media Pembelajaran


Tingkat/ Kelas/ Semester SK KD

SMA Memahami struktur Mengidentifikasi


Kelas XI/ I danfungsi sel sebagai organela sel
unit terkecil kehidupan tumbuhan dan hewan

Perguruan Tinggi Mata Kuliah Materi


Semester II Histologi Jaringan Darah
Semester VI Mikroteknik Teknik Apus Darah