Anda di halaman 1dari 49

BAB III

SISTIM KONSTITUSI DAN DINAMIKA UUD 1945

A. PENGERTIAN KONSTITUSI

Istilah konstitusi berasal dari Bahasa Prancis (consituer=membentuk). Yang

dimaksud adalah Pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan

aturan suatu negara. Jika berdasarkan Bahasa Belanda (Growneth) : Wet = UUD

& Ground = tanah air. Dan berdasarkan Bahasa Latin (cume=bersama-sama &

statuere=berdiri). Yang berarti menetapkan sesuatu secara bersama-sama.

a. Konstitusi dalam arti sempit

Konstitusi sebagai Dokumen Hukum (Legal Dokumen) adalah keseluruhan

sistim aturan yang menetapkan dan mengatur prinsip-prinsip pokok kekuasaan

Negara, maksud dan tujuan Negara, organisasi kekuasaan Negara,

fungsi,kewenangan, tanggung jawab serta pembatasan terhadap kekuasaan

Negara, mengatur hubungan antar lembaga tinggi negara, jaminan atas

perlindungan HAM dan hak kebebasan warga negara.

b. Konstitusi dalam arti luas

Konstitusi disamping sebagai dokumen hukum juga memuat aspek non hukum

(non legal) yang dapat berwujud pandangan hidup,cita-cita, moral, keyakinan

filsafat dan religius serta politik suatu bangsa terdiri atas Pembukaan dan pasal-

pasalnya.
Definisi konstitusi (UUD)

Para ahli ada yang menyamakan arti keduanya, dan ada juga yang

membedakan keduanya.

 L.J. Van Apeldoorn

Konstitusi adalah memuat peraturan tertulis dan tidak tertulis. UUD adalah

bagian tertulis dari konstitusi.

 Sri Sumantri

Menyamakan arti keduanya sesuai dengan praktik ketatanegaraan di sebagian

besar negara-negara di dunia.

 E.C.S. Wade

UUD adalah naskah yang memberikan rangka dan tugas pokok dari badang-

badang pemerintahan suatu negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja

badan-badan tersebut.

 Hermen Heller membagi pengertian menjadi 3:

1. Konstitusi adalah mencerminkan kehidupan politik di dalam masyarakan

sebagar suatu kenyataan. (mengandung arti politis dan sosiologis)

2. Konstitusi adalah suatu kesatuan kaidah yang hidup dalam masyarakat

(mengandung arti hukum atau yuridis)

3. Konstitusi adalah yang ditulis dalam suatu naskah sebagai undang-undang

yang tertinggi yang berlaku di suatu negara.

 C.F. Strong

Konstitusi adalah suatu kumpulan asas-asas yang menyelenggarakan

kekuasaan pemerintahan, hak-hak dari pemerintah dan hubungan antara

pemerintah dan yang diperintah.


Berdasarkan pendapat para ahli,dapat disimpulkan bahwa konstitusi meliputi

peraturan tertulis dan tidak tertulis. UUD merupakan konstitusi yang tertulis.

Dengan demikian konstitusi disrtikan sebagai berikut:

a. Suatu kumpulan kaidah yang memberikan pembatasan-pembatasan kekuasaan

kepada para penguasa.

b. Suatu dokumen tentang pembagian tugas dan sekaligus petugasnya dari suatu

sistem politik.

c. Suatu gambaran dari lembaga-lembaga negara.

d. Suatu gambaran yang menyangkut masalah hak-hak asasi manusia.

Konstitusi terbagi menjadi dua, tertulis dan tidak tertulis. Contoh yang tertulis

adalah UUD 1945. Sedangkan contoh konstitusi yang tidak tertulis adalah

Konvensi. Konvensi adalah hukum dasar yang tidak tertulis yang merupakan

aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan

negara. Ciri konvensi:

a. Tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam UUD 1945

b. Sebagai pelengkap atau mengisi kekosongan karena tidak diatur dalam UUD

c. Dilaksanakan berulang-ulang

d. Hanya digunakan dalam praktek ketatanegaraan Kalau dalam bidang

hukum/pengadilan disebut yurisprudensi. Contoh: Pidato kenegaraan di

sidang paripurna.

B. KONSTITUSI SEBAGAI DASAR KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

Eksistensi konstitusi dalam kehidupan ketatanegaraan suatu negara merupakan

sesuatu hal yang sangat krusial,karena tanpa konstitusi bisa jadi tidak akan
terbentuk sebuah negara.Dalam lintasan sejarah hingga awal abad ke-21 ini,

hampir tidak ada negara yang tidak ada negara yang tidak memiliki konstitusi.Hal

ini menunjukkan betapa urgenya konstitusi sebagai suatu perangkat negara.

Konstitusi dan negara ibarat dua sisi mata uang yang satu sama lain tidak

terpisahkan. Konstitusi menjadi sesuatu yang urgen dalam tatanan kehidupan

ketatanegaraan,karena konstitusi merupakan sekumpulan aturan yang mengatur

organisasi negara,serta hubungan antara negara dan warga negara sehingga saling

menyesuaikan diri dan saling bekerjasama. Dr.A.Hamid S.Attamimi menegaskan

seperti yang dikutip Thaib, bahwa konstitusi atau Undang –Undang Dasar

merupakan suatu hal yang sangat penting sebagaipemberi pegangan dan pemberi

batas, sekaligus dipakai sebagai pegangan dalam mengatur bagaimana kekuasaan

negara harus dijalankan.Sejalan dengan perlunya konstitusi sebagai instrumen

untuk membatasi kekuasaan dalam suatu negara, Meriam Budiardjo mengatakan

“Di dalam negara-negara yang mendasarkan dirinya atas demokrasi

konstitusional, Undang – undang dasar mempunyai fungsi yang khas yaitu

membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan

kekuasaan tidak bersifat sewenwng –wenang .Dengan demikian diharapkan hak-

hak warga negara akan lebih terlindungi”.(Budiardjo,1978:96)

Dalam konteks pentingnya konstitusi sebagai pemberi batas kekuasaan tersebut,

Kusnardi menjelaskan bahwa konstitusidilihat dari fungsinya terbagi dalam dua

(2) bagian, yakni membagi kekuasaan dalam negara, dan membatasi kekuasaan

pemerintah atau penguasa dalam negara. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa bagi

mereka yang memandang negara dari sudut kekuasaan dan memnganggap

sebagai organisasi kekuasaan,maka konstitusi dapat dipandang sebagai lembaga


atau kumpulan asas yang mendapatkan bagaimana kekuasaan dibagi diantara

beberapa lembaga kenegaraan,seperti antara lembaga legislatif, eksekutif dan

yudikatif. Selain sebagai pembatas kekuasaan, konstitusi juga dugunakan sebagai

alat untuk menjamin hak–hak warga negara. Hak –hak tersebut mencakup hak-hak

asasi,seperti hak untuk hidup,kesejahteraan hidup hak kebebasan. Dari beberapa

pakar yang menjelaskan mengenai urgensi konstitusi dalam sebuah negara,

maka secara umum dapat dikatakan bahwa eksistensi konstitusi dalam suatu

negara merupakan suatu keniscayaan,karena dengan adanya konstitusi akan

tercipta pembatasan kekuasaan melain pembagian wewenang dan kekuasaan

dalam menjalankan negara. Selain itu, adanya konstitusi juga menjadi suatu hal

sangat penting untuk menjamin hak-hak asasi warga negara, sehingga tidak terjadi

penindasan dan perlakuan sewenang –wenang dari pemerintah.

Konstitusi adalah sarana dasar untuk mengawasi proses kekuasaan. Oleh karena

itu Setiap konstitusi mempunyai beberapa peranan yaitu :

1. untuk memberikan pembatasan dan pengawasan terhadap kekuasaan politik

2. untuk membebaskan kekuasaan dari kontrol mutlak penguasa,dan menetapkan

bagi penguasa tersebut batas-batas kekuasaan mereka, sehingga tidak terdapat

kekuasaan yang semena – mena.

3. untuk membatasi kesewenang-wenangan tindakan pemerintah untuk menjamin

hak-hak yang diperintah dan merumuskan pelaksanaan kekuasaan yang

berdaulat.
4. Konstitusi bertujuan untuk mengatur organisasi negara dan susunan

pemerintahan. Sehingga dimana ada organisasi negara dan kebutuhan

menyusun suatu pemerintahan negara, maka akan diperlukan konstitusi.

5. Konstitusi mempunyai posisi yang sangat penting dalam kehidupan

ketatanegaraan suatu negara karena konstitusi menjadi barometer(ukuran) bagi

kehidupan berbangsa dan bernegara, juga merupakan ide-ide dasar yang

digariskan penguasa negara untuk mengemudikan suatu negara.

6. Konstitusi menggambarkan struktur negara dan sistem kerja yang ada diantara

lembaga-lembaga negara.Konstitusi menjelaskan kekuasaan dan kewajiban

pemerintah sekaligus membatasi kekuasaan pemerintah agar tidak sewenang-

wenang dalam bertindak.

7. Dari berbagai penjelasan tentang tujuan konstitusi diatas, dapat dikatakan

bahwa tujuan dibuatnya konstitusi adalah untuk mengatur jalannya kekuasaan

dengan jalan membatasinya melalui aturan untuk menghindari terjadinya

kesewenangan yang dilakukan penguasa terhadap rakyatnya serta memberikan

arahan kepada penguasa untuk mewujudkan tujuan Negara.Jadi, pada

hakikatnya konstitusi Indonesia bertujuan sebagai alat untuk mencapai tujuan

negara dengan berdasarkan kepada nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara.

C. AWAL KEMERDEKAAN

Upaya Mempersiapkan Kemerdekaan

Kekalahan Jepang terhadap Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya telah

mambuka jalan bagi tercapainya kemerdekaan Indonesia. Pemerintah pendudukan

Jepang akhirnya mengambil keputusan untuk memberikan kemerdekaan bagi


Indonesia dengan jalan membentuk BPUPKI dan PPKI. Keputusan Pemerintah

Jepang ini disambut dengan penuh semangat oleh bangsa Indonesia.

1. Pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan

Indonesia

Pada tanggal 1 Maret 1945, pendudukan Jepang mengumumkan pembentukan

BPUPKI. Tujuannya adalah mempelajari dan menyelidiki hal-hal penting yang

berhubungan dengan pembentukan Negara Indonesia merdeka. BPUPKI

diresmikan pada tanggal 8 Mei 1945 dan mulia bekerja keras mempersiapkan hal-

hal yang berkaitan dengan Indonesia merdeka. Dalam sidangnya, badan ini mulai

merumuskan UUD negara yang dimulai dengan persoalan dasar negara.

Sidang pertama BPUPKI dilaksanakan pada tanggal 29 April 1945. Dalam

sidang ini, terdapat tiga tokoh yang mengemukakan gagasannya tentang dasar

negara yaitu Moh. Yamin, Supomo, dan Soekarno. Sidang pertama tidak

menghasilkan suatu keputusan. Namun sebelum masa reses, BPUPKI membentuk

suatu panitia kecil yang bertugas menampung saran, usul dan konsep-konsep yang

diberikan. Kemudian panitia kecil ini membentuk Panitia Sembilan yang

beranggotakan 9 orang. Panitia Sembilan berhasil merumuskan dasar negara yang

diberi nama Jakarta Charter.

Sidang kedua dimulai tanggal 10 Juni 1945. Sidang ini membahas rancangan

UUD termasuk pembukaannya. Pada sidang kedua ini dibentuk Panitia Perancang

UUD yang dikenal oleh Supomo. Hasil sidang kedua BPUPKI adalah rancangan

UUD.
2. Pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)

Setelah dianggap menyelesaikan tugasnya, BPUPKI dibubarkan. Kemudian

pada tanggal 7 Agustus 1945 dibentuk PPKI untuk melanjutkan tugas BPUPKI.

PPKI dipimpin oleh Soekarno dengan wakilnya Moh. Hatta dan penasihatnya

Ahmad Soebarjo. Badan ini diresmikan pada 9 Agustus di Dalat, oleh Jenderal

Terauchi selaku Panglima Armada Jepang untuk Asia Tenggara.

Dalam rangka pelantikan, Soekarno, Moh. Hatta, dan Radjiman

Widyodiningrat diundang ke Dalat. Disana Jenderal Terauchi kembali

menegaskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Selain itu,

Jenderal Terauchi juga menegaskan bahwa para anggota PPKI diizinkan

melakukan kegiatannya menurut pendapat dan kesanggupan bangsa Indonesia

sendiri. Namun, mereka diwajibkan memperhatikan hal-hal berikut:

a. Syarat Pertama untuk mencapai kemerdekaan Indonesia adalah menyelesaikan

perang yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu, bangsa

Indonesia harus mengerahkan tenaga sebesar-besarnya dan bersama-sama

dengan Pemerintah Jepang meneruskan perjuangan untuk memperoleh

kemenangan dalam Perang Asia Timur Raya.

b. Negara Indonesia merupakan anggota Lingkungan Kemakmuran Bersama di

Asia Timur Raya. Oleh karena itu, cita-cita bangsa Indonesia harus disesuaikan

dengan cita-cita pemerintahan Jepang yang bersemangat Hakko Ichiu.

Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan

Berita kekalahan Jepang di Perang Dunia II mulai tersebar di kalangan pemuda

Indonesia. Mereka menganggap inilah saat yang paling tepat untuk


memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, Soekarno dan Moh. Hatta

tidak setuju dengan rencana para pemuda. Kedua tokoh ini khawatir akan reaksi

Jepang yang dapat menyebabkan pertumpahan darah. Soekarno dan Moh. Hatta

berpendapat bahwa Proklamasi Kemerdekaan harus terlebih dahulu direncanakan

dan diputuskan oleh PPKI. Sementara itu, para pemuda menganggap PPKI

merupakan badan bentukan Jepang. Untuk itu, mereka bertekad agar Proklamasi

Kemerdekaan terlepas dari hal-hal yang berbau Jepang.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, para pemuda mengadakan pertemuan di

Laboratorium Bakteriologi. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Chaerul Saleh.

Mereka sepakat untuk menolak segala bentuk hadiah kemerdekaan dari Jepang.

Mereka juga sepakat bahwa kemerdekaan itu adalah hak dan persoalan rakyat

Indonesia yang tidak tergantung pada bangsa lain. Oleh karena itu, kemerdekaan

harus segera diproklamasikan. Para pemuda juga akan meminta Soekarno dan

Moh. Hatta untuk memutuskan segala hubungannya dengan Jepang. Kemudian

rapat memutuskan untuk mengirim Wikana dan Darwis kepada kedua tokoh

tersebut untuk menyampaikan keputusan rapat para pemuda. Wikana dan Darwis

kemudian mendatangi kediaman Soekarno. Mereka manyampaikan hasil rapat

para pemuda dan mengusulkan agar Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 16

Agustus 1945. Namun, Soekarno menyatakan bahwa pada tanggal 16 Agustus

1945 sudah direncanakan akan diadakan sidang PPKI yang akan membahas

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Para pemuda kemudian kembali

mengadakan pertemuan. Mereka membahas sikap-sikap tokoh poltitik, seperti

Soekarno dan Moh. Hatta. Akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan untuk
bertindak tegas. Salah satunya adalah mengamankan kedua tokoh tersebut dari

pengaruh Jepang.

Pada tanggal 16 Agustus, para pemuda membawa Soekarno dan Moh.

Hatta ke Rengasdengklok dengan alasan mengamankan mereka dari pengaruh

Jepang. Hal ini dilakukan karena Soekarno dan Moh. Hatta semalam sebelumnya

menolak untuk mengumumkan proklamasi. Setelah kembali ke Jakarta, Moh.

Hatta meminta kepada Ahmad Soebardjo menelpon Hotel des Indies untuk

mengadakan rapat PPKI, tetapi karena ada jam malam maka rapat di atas jam

22.00 WIB dilarang. Ahmad Soebardjo akhirnya menelpon seorang perwira

Jepang, Laksamana Maeda untuk meminjam rumahnya guna menyusun teks

proklamasi. Usulan yang muncul pada rapat itu adalah agar proklamasi

ditandatangani oleh seluruh anggota PPKI, tetapi Chaerul Saleh yang merupakan

anggota golongan muda yang hadir pada saat itu menolak usulan tersebut karena

ia berpendapat bahwa PPKI adalah organisasi bentukan Jepang sehingga terkesan

jika kemerdekaan ini adalah hadiah dari Jepang. Maka penandatanganan teks

proklamasi akhirnya ditandatangani oleh Soekarno dan Moh. Hatta sebagai wakil

dari bangsa Indonesia.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Akhirnya pada hari jumat tanggal 17 Agustus 1945 pada pukul 10.00

WIB, dilakukan upacara pembacaan teks proklamasi. Upacara tersebut

dilaksanakan dikediaman Soekarno, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta

Pusat. Pembacaan teks proklamasi tersebut hanya disaksikan oleh beberapa orang.

Hal ini terjadi karena persiapan yang kurang, tetapi berita proklamasi tersebar

melalui radio dan media cetak.


Rakyat Indonesia menyambut berita proklamasi dengan gembira

penyambutan berita proklamasi dilakukan oleh rakyat Indonesia dengan pelucutan

senjata tentara Jepang, pengambilalihan kekuasaan, dan semangat yang membara

untuk terus mempertahankan kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan Indonesia

memiliki beberapa makna, yaitu titik puncak perjuangan bangsa Indonesia dalam

mencapai kemerdekaan, terlepasnya Indonesia dari belenggu penjajahan asing,

dan lahirnya Negara Republik Indonesia.

Kebijakan Ekonomi, Keuangan, dan Politik pada Awal Kemerdekaan

1. Kebijakan Ekonomi

a. Menghadapi blokade Belanda

Pada awal kemerdekaan, kehidupan ekonomi Indonesia masih sangat kacau.

Terjadi inflasi yang parah yang disebabkan oleh beredarnya mata uang Jepang

yang tidak terkendali. Selain itu, adanya blokade dari pihak Belanda semakin

menyulitkan ekonomi Indonesia. Dengan adanya blokade tersebut, barang-barang

dari RI tidak dapat diekspor. Belanda berharap terjadi kegelisahan sosial, inflasi

yang tinggi, dan kelangkaan bahan-bahan kebutuhan rakyat.

Pemerintah RI berusaha untuk menebus blokade Belanda tersebut. Upaya

politis yang dilakukan adalah pemberian bantuan beras kepada India sebanyak

5000 ton karena negara tersebut sedang ditimpa bahaya kelaparan. Sebagai

imbalannya, pemerintah Indonesia akan menerima bahan pakaian yang

dibutuhkan oleh rakyat. Pemberian bantuan beras ini menunjukkan adanya

solidaritas antara sesama bangsa Asia yang pernah dijajah oleh bangsa asing.

Antara Indonesia dan India kemudian tumbuh sikap saling membantu. Negara
India terlibat secara aktif dalam perjuangan diplomasi Indonesia dalam forum

internasional.

b. Penyelenggaraan Konferensi Ekonomi Indonesia

Dalam menanggulangi masalah ekonomi perintah RI juga menempuh

tindakan yang bersifat konseptual. Usaha-usaha tersebut direalisasikan oleh

pemerintah pada bulan Februari 1946 dengan diselenggarakannya Konferensi

Ekonomi Indonesia yang pertama. Adapun tujuan konferensi tersebut adalah

untuk memperoleh kesepakatan dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi

negara yang bersifat yang mendesak yang antara lain masalah produksi dan

distribusi makanan, masalah sandang, serta masalah status dan administrasi

pengelolaan perkebunan-perkebunan. Konferensi Ekonomi ke-2 diselenggarakan

di Kota Solo pada tanggal 6 Mei 1946. Konferensi ini memiliki ruang lingkup

lebih luas. Masalah yang dibahas adalah program ekonomi pemerintah, masalah

keuangan negara, pengendalian harga, distribusi, dan alokasi tenaga kerja.

c. Pembentukan Badan Perancang Ekonomi

Setelah diadakannya konferensi ekonomi ke-2, pemerintah tetap berusaha

memecahkan masalah ekonomi nasional. Atas inisiatif Menteri Kemakmuran,

A.K. Gani maka tanggal 19 Januari 1917 dibentuk Badan Perancang Ekonomi.

Badan ini merupakan badan yang bertugas membuat rencana pembangunan

ekonomi untuk jangka waktu 2 sampai 3 tahun. Selain itu, badan ini juga bertugas

untuk mengkoordinasi dan merestrukturisasi semua cabang produksi dalam

bentuk badan hukum seperti yang dilakukan pada BPPGN dan PPN. Sesudah

Badan Perancang Ekonomi bersidang, Menteri A.K. Gani kemudian


mengumumkan rancangan pemerintahan tentang Rencana Pembangunan Sepuluh

Tahun.

d. Pelaksanaan Rencana Kasimo

Karena perekonomian Indonesia sangat bergantung pada produksi pertanian,

maka bidang ini dijalankan kembali. Oleh Menteri Urusan Bahan Makanan

Kasimo diturunkan Rencana Produksi Tiga Tahun (1948-1950), yang lebih

terkenal dengan nama Kasimo Plan. Kasimo Plan adalah usaha swasembada

pangan dengan petunjuk pelaksanaan yang prkatis. Isi dari Kasimo Plan antara

lain:

1) Menanami tanah kosong (tidak terurus) di Sumatera Timur seluas 287.277

hektare.

2) Melakukan intensifikasi pertanian di Jawa dengan menanam bibit unggul.

3) Pencegahan penyembelihan hewan-hewan yang berperan penting bagi

produksi pangan.

4) Di setiap desa dibentuk kebun-kebun bibit.

5) Pelaksanaan transmigrasi bagi penduduk Jawa.

2. Kebijakan Moneter

a. Oeang Republik Indonesia (ORI)

Sejak akhir pemerintahan pendudukan Jepang sampai awal masa kemerdekaan,

keadaan ekonomi Indonesia mengalami kehancuran. Pada saat itu, inflasi yang

hebat menimpa Negara Republik Indonesia yang baru saja lahir. Sumber inflasi

tersebut adalah beredarnya mata uang Jepang secara tidak terkendali. Jumlah ini

semakin bertambah ketika sekutu berhasil menduduki beberapa kota besar di

Indonesia dan menguasai bank-bank. Dari bank-bank itu diedarkan uang cadangan
berjumlah 2,3 milyar guna membiayai operasi-operasi militer dan menggaji

pegawai dalam rangka mengembalikan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia.

Pada tanggal 6 Maret 1946, panglima sekutu mengumumkan berlakunya uang

NICA sebagai pengganti uang Jepang. Pemerintah Indonesia menolak penggunaan

uang itu dan menyatakan bahwa uang NICA bukan alat pembayaran yang sah di

dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Selanjutnya, pemerintah pada

bulan Oktober 1946 mengeluarkan ORI untuk menggantikan uang kertas Jepang

yang sudah sangat merosot nilainya.

b. Program Pinjaman Nasional

Pemerintah RI berjuang keras untuk mengatasi kesulitan moneter dengan

melakukan pinjaman nasional. Dengan mendapat persetujuan dari Badan Pekerja

Nasional Indonesia, menteri keuangan, Surahman melakukan pinjaman nasional

berdasarkan UU No.4/1946. Besarnya pinjaman ini direncanakan berjumlah 1

milyar yang dibagi atas dua tahap dana akan dibayar kembali selambat-lambatnya

dalam jangka 40 tahun. Guna mengumpulkan dana dari masyarakat, maka pada

bulan Juli 1946 seluruh penduduk di Jawa dan Madura diwajibkan untuk

menyetorkan uangnya ke bank-bank tabungan pos dan rumah pegadaian. Pada

pinjaman tahap pertama berhasil dikumpulkan sejumlah 500 juta. Pelaksanaan

pinjaman ini dinilai sukses dan merupakan salah satu indikator yang menunjukan

usaha pemerintah mendapat dukungan dari rakyat.

c. Pengurangan Defisit Anggaran

Setelah pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949, situasi

perekonomian Indonesia tetap belum pulih karena masih mewarisi keadaan

ekonomi dan keuangan yang mengkhawatirkan. Pada waktu itu bangsa Indonesia
harus menanggung hutang luar negeri Hindia-Belanda sebesar 1500 juta rupiah.

Dan hutang dalam negeri sejumlah 2800 juta rupiah. Beban yang berat ini

merupakan konsekuensi pengakuan kedaulatan. Difisit pemerintah pada waktu itu

5,1 milyar rupiah. Pemerintah mengambil beberapa langkah untuk mengurangi

defisit. Misalnya, dengan mengeluarkan pinjaman pemerintah dengan cara

melakukan tindakan keuangan pada tanggal 20 Maret 1950.

3. Kebijakan Politik

a. Pembentukan KNIP

Dalam perkembangannya, kelompok pemuda yang dipimpin oleh Syahrir merasa

tidak puas dengan sistem kabinet presidensial sehingga berusaha memengaruhi

beberapa anggota KNIP lainnya untuk mengajukan petisi kepada Soekarno-Hatta.

Isi petisi itu berupa tuntutan pemberian status MPR kepada KNIP. Karena petisi

itu, KNIP mengadakan rapat pleno pada tanggal 16 Okterber 1945. Atas desakan

sidang KNIP tersebut, wakil presiden Moh.Hatta mengeluarkan maklumat No.X

tahun 1945 yang menetapkan bahwa KNIP sebelum terbentuk MPR dan DPR

diserahi kekuasaan legislatif, ikut menetapkan GBHN, serta menyetujui bahwa

pekerjaan KNIP sehari-hari sehubungan dengan gentingnya keadaan dijalankan

oleh sebuah badan kerja yang dipilih diantara mereka yang bertanggungjawab

kepada KNIP.

Badan pekerja KNIP akhirnya dibentuk dan diketuai oleh Sutan Syahrir dengan

wakilnya Amir Syarifudin. Selanjutnya, disetiap ibukota provinsi didirikan komite

nasional daerah. Pada awalnya, KND bertugas sebagai pembantu kepala

pemerintahan provinsi, yaitu Gubernur. Namun dengan adanya perubahan fungsi


KNIP menjadi badan legislatif yang dipimpin oleh Kepala Daerah. Badan ini juga

berfungsi sebagai badan eksekutif dengan jumlah anggota 5 orang.

b. Pendirian Partai-partai Politik

Sebagai suatu negara yang baru merdeka, RI dihadapkan oleh masalah bagaimana

cara menampung atau menyalurkan berbagai ideologi yang berkembang dalam

masyarakat ke dalam suatu bentuk partai politik. Pada awalnya pemeritah

berencana mendirikan sebuah partai tunggal yang akan diberi nama partai

nasional Indonesia. Oleh karena itu, dalam rapat tanggal 22 Agustus 1945, PPKI

telah mengambil suatu keputusan untuk mengadakan persiapan guna penyusunan

sebuah partai tunggal tersebut. Namun, rencana untuk mendirikan partai tunggal

ini dibatalkan. Kemudian pada tanggal 3 Nopember 1945, pemerintah

mengeluarkan sebuah maklumat tentang pembentukan partai-partai politik.

Secara lengkap, isi Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 yang

ditandatangani oleh Wakil Presiden Moh.Hatta sebagai berikut.

1) Pemerintah mendorong timbulnya partai-partai politik karena dengan adanya

partai dapat dipimpin ke jalan yang teratur segala aliran paham yang dalam

masyarakat.

2) Pemerintah berharap supaya partai-partai itu telah disusun sebelum pemilihan

anggota badan-badan perwakilan rakyat pada bulan Januari.

Selanjutnya lahirlah partai-partai politik seperti Majelis Syuro Muslimin

Indonesia (Masyumi) yang dipimpin oleh Dr. Soekirman Wiryo Sanjoyo, Partai

Komunis Indonesia yang dipimpin oleh Moh.Yusuf, Partai Buruh Indonesia yang

dipimpin oleh Nyono, Partai Rakyat Jelata yang dipimpin Sutan Dewanis, Partai

Kristen Indonesia yang dipimpin oleh Probo Winoto, Partai Sosialis Indonesia
yang dipimpin oleh Amir Syarisfudin, Partai Rakyat Sosialis yang dipimpin oleh

Sutan Syahrir, Partai Khatolik Republik Indonesia yang dipimpin oleh

I.J.Kasimo,Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia yang dipimpin oleh J.B.Assa,

Partai Nasional Indonesia yang dipimpin oleh Sidik Joyo Sukarto.

c. Maklumat Pemerintah 14 Nopember 1945

BPKNIP mengeluarkan pengumuman No.5 tanggal 11 Nopember 1945

tentang pertanggungjawaban menteri kepada perwakilan rakyat. Dalam pemikiran

saat itu, KNIP diartikan sebagai MPR. Sementara BPKNIP disamakan dengan

DPR. Jika demikian secara tidak langsung BPKNIP dengan mengelurkan

pengumuman tersebut telah meminta peralihan pertanggungjawaban menteri-

menteri dari presiden ke BPKNIP. Namun, presiden Soekarno justru menyetujui

usul tersebut dan mengeluarkan Maklumat Pemerintah tanggal 14 Nopember

1945. Dengan persetujuan tersebut, sistem kabinet presidensial dalam UUD 1945

telah diamandemen begitu saja menjadi sistem kabinet parlementer. Ini terbukti

setelah BP KNIP mencalonkan Sutan Syahrir sebagai perdana menteri akhirnya

kabinet presidensial Soekarno-Hatta jatuh dan digantikan oleh kabinet

parlementer dengan Sutan Syahrir menjadi perdana menteri pertama.

d. Pemindahan Ibukota RI ke Yogjakarta

Menjelang akhir tahun 1945 keamanan kota Jakarta semakin memburuk tentara

Belanda semakin merajalela dan berbagai aksi teror meningkat. Mengingat situasi

yang semakin memburuk, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta pada

tanggal 4 Januari 1946 memutuskan pindah ke Yogyakarta yang kemudian

dijadikan sebagai Ibu Kota Negara RI.

e. Pelaksanaan Konferensi Meja Bundara


Pada tanggal 23 Agustus 1949, KMB dilaksanakan. Delegasi Indonesia diketuai

oleh Moh.Hatta, delegasi BFO dipimpin oleh Sultan Hamid II dan delegasi

Belanda diketuai oleh Mr. Van Maarseveen. Sebagai penengah adalah UNCI

diwakili oleh Chrichley (Australia).

Dalam perundingan tersebut, dicapai kesepakatan antara lain :

1) Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat.

2) Dibentuk Uni Indonesia Belanda.

3) RIS mengembalikan hak milik Belanda memberikan izin baru terhadap

perusahaan Belanda di Indonesia.

4) RIS membayar hutang-hutang pemerintah Hindia-Belanda.

5) Irian Barat ditunda penyelesaiannya dalam jangka waktu 1 tahun kemudia.

Dengan disetujuinya hasil-hasil KMB, maka terbentuklah RIS.

D. ORDE LAMA

Pada era ini, presiden soekarno telah mengikrarkan suatu wilayah dari Sabang

sampai Merauke dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Konstelasi politik dalam negeri yang begitu cepat berubah tidak menggoyahkan

presiden sebagai pemimpin besar Revolusi. Pada percaturan politik luar negeri,

Bung Karno telah berhasil menjadi kampium dunia yang disegani kawan maupun

lawan. Gerakan non Blok dan konfrensi Asia-Afrika adalah salah satu bukti

keperkasaan dalam percaturan politik internasional. Kekuasaan Bung Karno

berakhir pasca diterbitkan Supersemar ( yang penuh dengan kontrofersi), dengan

dilantiknya Jendral Suharto sebagai Presiden RI ke 2 oleh MPRS pada tanggal 27


Maret 1968. Nasinalisme pada era orde lama (Bung Karno) dapat disimpulkan

sebagai berikut:

 Bung Karno menginginkan suatu ’nation character building’ karakter

politik nasionalisme Indonesia adalah anti imperialisme, anti kolonialisme,

sekaligus pro-perdamaian.

 Tujuan nasionalisme ala Bung Karno adalah membangkitkan rasa percaya

diri sebagai bangsa besar, yang sanggup menyelesaikan masalah sendiri.

 Bung Karno menggelorakan sentimen nasionalisme dengan sesuatu yang

”mengangkat” martabat bangsa dan dengan progresif mengisi karakter

nasionalisme Indonesia.

 Bung Karno merumuskan politiknya sebagai ”anti nekolim”, yang

membuatnya dekat dengan blok Timur dan sejalan dengan PKI.

Sebab-sebab runtuhnya masa orde lama dan lahirnya orde baru

1. Terjadinya peristiwa gerakan 30 September 1965

2. Keadaan politik dan keamanan negara menjadi kacau karena peristiwa gerakan

30 september 1965, ditambah adanya konflik di angkatan darat yang sudah

berlangsung lama

3. Keadaan perekonomian semakin memburuk dimana inflasi mencapai 600%

sedangkan ipaya pemerintah melakukan davaluasi rupiah dan kenaikan harga

bahan bakar menyebabkan timbulnya keresahan mastarakat


4.Reaksi keras dan meluas dari masyarakat yang mengutuk peristiwa pembunuhan

besar-besaran yang dilakukan oleh PKI. Rakyat melakukan demostrasi menuntut

agar PKI beserta organisasi masanya dibubarkan serta tokoh-tokohnya diadili.

5. Kesatuan aksi ( KAMI, KAPI, KAPPI, KASI, dsb ) yang ada di masyarakat

bergabung membentuk kesatuan aksi beruoa "Front Pancasila" yang selanjutnya

lebih dikenal dengan "Angkatan 66" untuk menghancurkan tokoh yang terlibat

dalam gerakan 30 September 1965

6. Kesatuan Aksi "Front Pancasila" pada 10 Januaru 1966 didepan gedung DPR-

GR mengajukan tuntunan "TRITURA" (Tri Tuntunan Rakyat) yang berisi :

- Pembubaran PKI beserta Organisasi Massanya

- Pembersihan Kabinet Dwikora

- Penurunan harga-harga barang

7. Upaya reshuffle kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966 dan pembentukan

Kabinet Seratus Menteri tidak juga memuaskan rakyat sebab rakyat menganggap

di kabinet tersebut duduk tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30

September 1965

8.Wibawa dan kekuasaan presiden Soekarno semakin menurun setelah upaya

untuk mengadili tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerekan 30 September

1965 tidak berhasil dilakukan meskipun telah dibentuk Mahkamah Militer Luar

Biasa (Mahmilub)
9. Sidang paripurna kabinet dalam rangka mencari solusi dari masalah yang

sedang bergejolak tak juga berhasil. maka presidan mengeluarkan Surat Perintah

Sebelas Maret 1966 (SUPERSEMAR) yang ditujukan bagi Letjen Soeharto guna

mengambil langkah yang dianggap perlu untuk mengatasi keadaang negara yang

semakin kacau dan sulit dikendalikan.

Kebijakan ekonomi pada masaorde lama, orde baru dan reformasi

Persamaan :

- sama-sama masih terdapat ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan

kedtidakadilan

- adanya KKN ( Korupsi, Kolusi, Nepotisme)

- kebijakan pemerintah. sejak pemerintahan orde lama hingga orde reformasi kini,

kewenangan menjalankan anggaran negara tetap pada prseiden.

Perbedaan :

1. Masa Demokrasi Liberal

Masa Orde Lama : masa ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun

sistem ekonominya menggunakan prinsip-prinsip liberal.

Masa Orde Baru : pada masa krisis ekonomi, ditandai dengan tumabngnya

pemerintahan orde baru kemudian disusul dengan era reformasi yang dimulai oleh

pemerintahan Presiden Habibie. Pada masa ini tidak hanya hal ketatanegaraan

yang mengalami perubahan, namun juga kebijakan ekonomi. sehingga apa yang
telah stabil dijalankan selama 32 tahun, terpaksa mengalami perubahan guna

menyesuaikan dengan keadaan.

2. Masalah Pemanfaatan Kekayaan Alam

Masa Orde Lama : Konsep Bung Karno tentang kekayaan alam sangat jelas.

jika bangsa Indonesia belum mampu atau belum punya iptek untuk

mengembangkan minyak bumi dsb biarlah SDA tetap berada di dalam perut

bumi Indonesia.

Masa Orde Baru : Konsepnya bertolak belakang dengan Orde Lama. sehingga

rakyat pun merasa hidup berkecukupan pada masa orde baru. Beras murah,

padahal sebagian adalah beras import. Beberapa gelintir orang mendapat rente

ekonomi yang luar biasa dari berbagai jenis monopoli import komoditi bahan

pokok, termasuk beras, terigu, kedelai, dsb.

3. Sistem Pemerintah

Orde Lama : kebijakan pada pemerintah, berorientasu pada politik, semua

proyek diserahkan kepada pemerintah, sentralistil, demokrasi terpimpin,

sekularisme.

Orde Baru : Kebijakan masih pada pemerintah, namun sektor ekonomi sudah

diserahlan ke swasta asong, fokus pada pembangunan ekonomi, sentralustik,

demokrai pancasial, kapitalisme .

4. Orde Lama : Diskriminasi etnis Tionghas serta kesenajngan sosial dan KKN

Orde Baru :Diskriminasi Ekonomi dan Diskriminasi Etnis Tionghoa serta

banyaknya KKN ( Kolusi, koruosi, dan nepotisme.

5. Orde Lama : Pelanggaran HAM yaotu Tragedi PKI dan pengahapusan

Presiden seumur hidup


Orde Baru : Larangan kebebasan berpendapat (ditolaknya HAM) pada

Tragedi mei 1998 (Penculikan mahasiswa Trisakti) .

6. Orde Lama : kebijakan pada pemerinatahn, berorientasi pada politik, semua

proyek diserahkan kepada pemerinatah, sentralistik, tidak menenal demokrasi.

Orde Baru : Kebijakan masih pada pemerintah, namun sektor ekonomi sudah

diserah kan ke swasta/asing, fokus pada pembangunan ekonomi, sentralistik,

tidak menganal demokrasi.

Persamaaa ideologi orde baru dan orde lama

Ada persamaan dan perbedaan yang mencolok antara orde baru dibawah Soeharto

dan ORDE LAMA di bawah Soekarno persamaanya, baik Soekarno maupun

Soeharto melakukan POLITICAL AND ROLE SHARING dan PARTNERSHIP

(hubungan kemitraan) antara sipil dan militer Bedanya, jika masa demokrasi

terpimpin (Orde Lama) militer mendjadi Mitra Junior Sipil, sedangkan pada

Demokrasi Pancasila (Orde Baru) militer menjadi Mitra Senior Sipil

Kedua Pemimpin Nasional ini juga pada akhrinya menerapkan sistem

pemerintanan Non-Demokratis yang terpusat pada satu orang (Absolutisme atau

Court Politics), dan Sentralisme kekuasaan pusat daerah ketika Soeharto sudah

tidak lagi menjadi Jendral Aktif, ia juga melakukan Subjective Civilian Control

dan Patronising terhadap Militer. Suatu kebiasaan yang sudah berlaku sejak masa

demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin. Soekarno menyeragamkan

cara berfikir dan bertindak masyarakat melalui Indoktrinasi. Tujuh Bahan Pokok

Indoktrinasi (TUBAPI) dan Manifesto Politik (MANIPOL) tentang UUD 1945,

Sosialisme Terpimpin, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian


Bangsa (USDEK), termasuk dalam hal imi ajaran mengenai Nasionalisme

Agama-Komunisme (NASAKOM) dan Pancasila Soeharto menerapkannya

melalui INDOKTRINASI Pedoman Pengahyatan dan Pengalaman Pancasila ( P4)

Soeharto mewajibkan partai-partai politik untuk meletakkan Pancasila sebagai

ideologi partainya dan menciutkan jumlah partai politik menjadi 10 partai.

Soeharto terlebih lagi mewajibkan asas tunggal PANCASILA sebagai satu-

satunya asas partai-partai politik dan organisasi kemasyarakatan dan mengecilkan

10 partai politik menjadi 3 partai.

E. MASA ORDE BARU

Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di

Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era

pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas

penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno pada masa Orde Lama.

Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu

tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat meskipun hal ini terjadi bersamaan

dengan praktik korupsi yang merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan

antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar.

Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia

menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966

mengumumkan bahwa Indonesia "bermaksud untuk melanjutkan kerjasama

dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB", dan

menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966, tepat 16 tahun

setelah Indonesia diterima pertama kalinya. Pada tahap awal, Soeharto menarik

garis yang sangat tegas. Orde Lama atau Orde Baru. Pengucilan politik - di Eropa
Timur sering disebut lustrasi - dilakukan terhadap orang-orang yang terkait

dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar

Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan

Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang

terlibat "dibuang" ke Pulau Buru. Orde Baru memilih perbaikan dan

perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya

melalui struktur administratif yang didominasi militer. DPR dan MPR tidak

berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan

militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan

aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang

adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada

Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah.

Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II

1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo.

Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwi tujuan, bisa

tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak

lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta

dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik

dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi.

Jenderal Soeharto Penguasa Orde Baru

Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) tahun 1966 merupakan dasar

legalitas dimulainya pemerintahan Orde Baru di Indonesia. Orde Baru merupakan

tatanan seluruh kehidupan rakyat, bangsa, dan negara, yang diletakan pada

kemurnian pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dan juga


dapat dikatakan bahwa Orde Baru merupakan koreksi terhadap penyelewangan

pada masa lampau, dan berusaha untuk menyusun kembali kekuatan bangsa untuk

menumbuhkan stabilitas nasional guna mempercepat proses pembangunan

bangsa. Melalui Ketetapan MPRS No. XIII/MPRS/1966, Letjen Soeharto

ditugaskan oleh MPRS untuk membentuk Kabinet Ampera. Akibatnya muncul

dualisme kepemimpinan nasional. Berdasarkan Keputrusan Presiden No. 163

tanggal 25 Juli 1966 dibentuklah Kabinet Ampera.Dalam kabinet baru tersebut

Soekarno tetap sebagai presiden dan sekaligus menjabat sebagai pimpinan

kabinet. Tetapi ketika kabinet Ampera dirombak pada tanggal 11 Oktober 1966,

jabatan Presiden tetap dipegang Soekarno, dan Letjen Soeharto diangkat sebagai

perdanamenteri yang memiliki kekuasaan eksekutif dalam kabinet Ampera yang

disempurnakan. Sesuai dengan Ketetapan MPRS No. XIII/MPRS/1966,

menyebabkan kekuasaan pemerintahan di tangan Soeharto semakin besar sejak

awal tahun 1967. Pada 10 Januari 1967 Presiden Soekarno menyerahkan

Pelengkap pidato pertanggungjawaban presiden yang disebut PelNawaksara, tidak

diterima oleh MPRS berdasarkan Keputusan Pimpinan MPRS No. 13/B/1967.

Dan pada tanggal 20 Februari diumumkan tentang penyerahan kekuasaan kepada

pengemban Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966. Sebagai tindak lanjut lembaga

tertinggi Negara ini mengeluarkan Ketetapan No. XXXIII/MPRS/1967 tertanggal

12 Maret 1967, yang secara resmi mencabut seluruh kekuasaan pemerintahan

Negara dari Presiden Soekarno, dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat

presiden Republik Indonesia. Dengan dikeluarkannya Ketetapan MPRS itu, situasi

konflik yang telah menyebabkan terjadinya instabilitas politik nasional dapat

teratasi. Dan pada tanggal 27 Maret 1968 Soeharto diangkat sebagai presiden
Republik Indonesia berdasarkan Ketetapan MPRS No. XLIV/MPRS/1968, sampai

presiden baru hasil pemilu ditetapkanLangkah-langkah yang dilakukan adalah

1. Pembentukan Kabinet Pembangunan

Kabinet pertama pada masa peralihan kekuasaan adalah Kabinet Ampera

dengan tugasnya Dwi Darma Kabinat Ampera yaitu menciptakan stabilitas

politik dan stabilitasekonomi sebagai persyaratan untuk melaksanakan

pembangunan nasional. Program Kabinet Ampera terkenal dengan nama Catur

Karya Kabinet Ampera yakni

· Memperbaiki kehidupan rakyat terutama di bidang sandang dan pangan

· Melaksanakan pemilihan umum dalam batas waktu yang ditetapkan, yaitu

tanggal 5 Juli 1968

· Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif untuk kepentingan

nasional

· Melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala

bentuk dan manifestasinya

· Setelah MPRS pada tanggal 27 Maret 1968 menetapkan Soeharto sebagai

presiden RI untuk masa jabatan lima tahun, maka dibentuklah

Kabinet Pembangunan dengan tugasnya yang disebut Panca Krida yang

meliputi:

1. Menciptakan stabilitas politik dan ekonomi

2. Menyusun dan melaksanakan Pemilihan Umum

3. Mengikis habis sisa-sisa Gerakan 30 September

4. Membersihkan aparatur Negara di pusat dan daerah dari pengaruh PKI.


2. Pembubaran PKI dan Organisasi massanya

Dalam rangka menjamin keamanan, ketenangan, serta stabilitas pemerintahan,

Soeharto sebagai pengemban Supersemar telah mengeluarkan kebijakan:

· Membubarkan PKI pada tanggal 12 Maret 1966 yang diperkuat dengan

Ketetapan MPRS No IX/MPRS/1966

· Menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di Indonesia

· Pada tanggal 8 Maret 1966 mengamankan 15 orang menteri yang dianggap

terlibat Gerakan 30 September 1965.

3. Penyederhanaan Partai Politik Pada tahun 1973 setelah dilaksanakan

pemilihan umum yang pertama pada masa Orde Baru pemerintahan pemerintah

melakukan penyederhaan dan penggabungan (fusi) partai- partai politik menjadi

tiga kekuatan social politik. Penggabungan partai-partai politik tersebut tidak

didasarkan pada kesamaan ideology, tetapi lebih atas persamaan program.

Tigakekuatan social politik itu adalah:

· Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan gabungan dari NU,

Parmusi, PSII, dan PERTI

· Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang merupakan gabungan dari PNI,

Partai Katolik, Partai Murba, IPKI, dan Parkindo

· Golongan Karya

4. Pemilihan Umum

Selama masa Orde Baru pemerintah berhasil melaksanakan enam kali

pemilihan umum, yaitu tahun 1971, 1977, 1985, 1987, 1992, dan 1997. Dalam

setiap Pemilu yang diselenggarakan selama masa pemerintahan Orde Baru,


Golkar selalu memperoleh mayoritas suara dan memenangkan Pemilu. Pada

Pemilu 1997 yang merupakan pemilu terakhir masa pemerintahan Orde Baru,

Golkar memperoleh 74,51 % dengan perolehan 325 kursi di DPR, dan PPP

memperoleh 5,43 %dengan peroleh 27 kursi Dan PDI mengalami kemorosotan

perolehan suara hanya mendapat11 kursi. Penyelenggaraan Pemilu yang teratur

selama masa pemerintahan Orde Baru telah menimbulkan kesan bahwa demokrasi

di Indonesia telah berjalan dengan baik.

5. Peran Ganda (Dwi Fungsi) ABRI

Untuk menciptakan stabilitas politik, pemerintah Orde Baru memberikan peran

ganda kepada ABRI, yaitu peran Hankam dan sosial. Peran ganda ABRI ini

kemudian terkenal dengan sebutan Dwi Fungsi ABRI. Timbulnya pemberian

peran ganda pada ABRI karena adanya pemikiran bahwa TNI adalah tentara

pejuang dan pejuang tentara. Kedudukan TNI dan POLRI dalam pemerintahan

adalah sama. di MPR dan DPR mereka mendapat jatah kursi dengan cara

pengangkatan tanpa melalui Pemilu. Pertimbangan pengangkatan anggota

MPR/DPR dari ABRI didasarkan pada fungsinya sebagai stabilitator dan

dinamisator.Peran dinamisator sebanarnya telah diperankan ABRI sejak zaman

Perang Kemerdekaan. Boleh dikatakan peran dinamisator telah menempatkan

ABRI pada posisiyang terhormat dalam percaturan politik bangsa selama ini.

6. Pedomanan Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)

Pada tanggal 12 April 1976 Presiden Soeharto mengemukakan gagasan mengenai

pedoman untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila, yang terkenal dengan

nama Ekaprasatya Pancakarsa atau Pedomanan Pengahayatan dan Pengamalan


Pancasila (P4). Untuk mendukung pelaksanaan Pancasila dan Undang-undang

Dasar 1945 secara murni dan konsekuen, maka sejak tahun 1978 pemerintah

menyelenggarakan penataran P4 secara menyeluruh pada semua lapisan

masyarakat.pemerintah menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal dan kehidupan

berorganisasi. Semua bentuk organisasi tidak boleh menggunakan asasnya selain

Pancasila. P4 merupakan suatu bentuk indoktrinasi ideologi, dan Pancasila

menjadi bagian dari sistem kepribadian, sistem budaya, dan sistem sosial

masyarakat Indonesia. Pancasila merupakan prestasi tertinggi Orde Baru. Mulai

dari sistem ekonomi Pancasila, pers Pancasila, hubungan industri Pancasila,

demokrasi Pancasila, dan sebagainya.

7.Penataan Politik Luar Negeri

*Kembali menjadi anggota PBB

*Normalisasi Hubungan dengan Negara lain

-Pemulihan Hubungan dengan Singapura

-Pemulihan Hubungan dengan Malaysia

-Pembekuan Hubungan dengan RRC

8.Penataan Kehidupan Ekonomi

Stabilisasi dan Rehabilitasi Ekonomi pemerintah Orde Baru melakukan langkah-

langkah:

· Memperbaharui kebijakan ekonomi, keuangan, dan pembangunan.

Kebijakan ini didasari oleh Ketetapan MPRS No. XXIII/MPRS/1966.

· MPRS mengeluarkan garis program pembangunan, yakni program

penyelamatan, program stabilisasi dan rehabilitasi.


Program pemerintah diarahkan pada upaya penyelamatan ekonomi nasional,

terutama stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. Yang dimaksud dengan stabilisasi

ekonomi berarti mengendalikan inflasi agar harga barang-barang tidak melonjak

terus. Dan rehabilitasi ekonomi adalah perbaikan secara fisik sarana dan prasarana

ekonomi. Hakikat dari kebijakan ini adalah pembinaan sistem ekonomi berencana

yang menjamin berlangsungnya demokrasi ekonomi ke arah terwujudnya

masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Langkah-langkah yang

diambil Kabinet Ampera yang mengacu pada Ketetapan MPRS tersebut adalah:

· Mendobrak kemacetan ekonomi dan memperbaiki sektor-sektor yang

menyebabkan kemacetan. Adapun yang menyebabkan terjadinya kemacetan

ekonomi tersebut adalah:

1. Rendahnya penerimaan negara.

2. Tinggi dan tidak efisiennya pengeluaran negara.

3. Terlalu banyak dan tidak efisiennya ekspansi kredit bank.

4. Terlalu banyak tunggakan hutang luar negeri.

5. Penggunaan devisa bagi impor yang sering kurang berorientasi pada

kebutuhan prasarana.

Untuk melaksanakan langkah-langkah penyelamatan tersebut, maka pemerintah

Orde Baru menempuh cara-cara :

· Mengadakan operasi pajak

· Melaksanakan sistem pemungutan pajak baru, baik bagi pendapatan

perorangan maupun kekayaan dengan cara menghitung pajak sendiri dan

menghitung pajak orang.


· Menghemat pengeluaran pemerintah (pengeluaran konsumtif dan rutin),

serta menghapuskan subsidi bagi perusahaan Negara.

· Membatasi kredit bank dan menghapuskan kredit impor.

9.Kerjasama Luar Negeri

· Pertemuan Tokyo

· Pertemuan Amsterdam

10.Pembangunan Nasional

· Trilogi Pembangunan

· Pelaksanaan Pemabngunan Sosial

11.Konflik Perpecahan Pasca Orde Baru

Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa

Indonesia. Setiap hari media massa seperti radio dan televisi mendengungkan

slogan "persatuan dan kesatuan bangsa". Salah satu cara yang dilakukan oleh

pemerintah adalah meningkatkan transmigrasi dari daerah yang padat

penduduknya seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar Jawa, terutama ke

Kalimantan, Sulawesi, Timor Timur, dan Irian Jaya. Namun dampak negatif yang

tidak diperhitungkan dari program ini adalah terjadinya marjinalisasi terhadap

penduduk setempat dan kecemburuan terhadap penduduk pendatang yang banyak

mendapatkan bantuan pemerintah. Muncul tuduhan bahwa program transmigrasi

sama dengan jawanisasi yang sentimen anti-Jawa di berbagai daerah, meskipun

tidak semua transmigran itu orang Jawa.


12. Kelebihan sistem Pemerintahan Orde Baru

· Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya

AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.565

· Sukses transmigrasi

· Sukses KB

· Sukses memerangi buta huruf

· Sukses swasembada pangan

· Pengangguran minimum

· Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)

· Sukses Gerakan Wajib Belajar

· Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh

· Sukses keamanan dalam negeri

· Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia

· Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri

13.Kekurangan Sistem Pemerintahan Orde Baru

1. Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme

2. Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan

pembangunan antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan

daerah sebagian besar disedot ke pusat

3. Munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan

pembangunan, terutama di Aceh dan Papua

4. Kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang

memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun

pertamanya
5. Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata

bagi si kaya dan si miskin)

6. Pelanggaran HAM kepada masyarakat non pribumi (terutama masyarakat

Tionghoa)

7. Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan

8. Kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah

yang dibredel

9. Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan

program "Penembakan Misterius"

10. Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden

selanjutnya)

11. Menurunnya kualitas birokrasi Indonesia yang terjangkit penyakit Asal Bapak

Senang, hal ini kesalahan paling fatal Orde Baru karena tanpa birokrasi yang

efektif negara pasti hancur.

12. Menurunnya kualitas tentara karena level elit terlalu sibuk berpolitik sehingga

kurang memperhatikan kesejahteraan anak buah.

13. Pelaku ekonomi yang dominan adalah lebih dari 70% aset kekayaaan negara

dipegang oleh swasta

F. ORDE REFORMASI/ ORDE GLOBAL

Mundurnya Soeharto dari jabatannya pada tahun 1998 dapat dikatakan sebagai

tanda akhirnya Orde Baru, untuk kemudian digantikan "Era Reformasi".Masih

adanya tokoh-tokoh penting pada masa Orde Baru di jajaran pemerintahan pada

masa Reformasi ini sering membuat beberapa orang mengatakan bahwa Orde
Baru masih belum berakhir. Oleh karena itu Era Reformasi atau Orde Reformasi

sering disebut sebagai "Era Pasca Orde Baru". Meski diliputi oleh kerusuhan etnis

dan lepasnya Timor Timur, transformasi dari Orde Baru ke Era Reformasi

berjalan relatif lancar dibandingkan negara lain seperti Uni Soviet dan

Yugoslavia. Hal ini tSemangat nasionalisme pada era reformasi diartikan sebagai

suasana batin yang melekat dalam diri setiap individu sebagai pribadi maupun

sebagai bagian dari bangsa dan negara yang diimplementasikan dalam bentuk

kesadaran dan perilaku yang cinta Tanah Air, kerja keras untuk membangun,

membina, dan memelihara kehidupan yang harmonis dalam rangka memupuk dan

memelihara persatuan dan kesatuan, serta rela berkorban harta, benda bahkan raga

dan jiwa dalam membela bangsa dan negara. Namun hingga tahun 2013 ini, masih

banyak terjadi berbagai penyimpangan-penyimpangan terhadap pancasila.

Reformasi yang dianggap sebagai suatu kebebasan oleh orang-orang awam telah

berbuah berbagai penyimpangan mulai dari segi sosial, politik, budaya dan lain-

lain. Selain itu, datangnya globalisasi ke indonesia semakin membuat masyarakat

indonesia memberikan kebebasan untuk dirinya secara berlebihan.

Perlunya paham nasionalisme di era reformasi seperti sekarang ini dikarenakan:

 memiliki tugas untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi bangsa

besar

 Kita memiliki kewajiban untuk menjaga status kebangsaan, dan identitas

& kebanggaan nasional

 Banyak tantangan setelah kemerdekaan antara lain Sektor Ekonomi,

Sosial, Politik, Budaya, Pertahanan baik dari dalam dan luar negeri
G. PROBLEMATIK KONSTITUSI INDONESIA SAAT INI

Artikel 1:

“ Masalah Konstitusi Tak Pernah Berakhir ”

Reporter: Muhammad Nurdin

Proses desakralisasi konstitusi sejak reformasi sampai saat ini belum

berjalan. Selain itu, ideologi di Indonesia belum berjalan sebagai mana yang

diharapkan, hal ini dapat dilihat masih banyak aksi tarik-menarik kepentingan di

kalangan elit politik, baik di pusat maupun di daerah. “Konstitusi tidak harus

lengkap akan tetapi harus menyangkut filosofi dan kepentingan orang banyak,“

kata dosen Ilmu Politik sekaligus pengamat politik UIN Jakarta Andi Safrani SH

MCCL pada seminar bertema “Penegakan Konstitusi: Menuju Negara yang

Kokoh dan Berkemajuan” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa

(BEM) FISIP di Aula Madya, Kamis (20/10). Turut hadir para narasumber

Anggota DPR-RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Yahdil Abdi Harahap SH

MH, Direktur Blezs Institute Jen Zuldi SH, dan Ketua Umum Pengurus Besar

Pelajar Islam Indonesia (PB-PII) Muhammad Ridha. Sebagai pengamat politik,

Andi mengungkapkan, bahwa ideologi di Indonesia mengalami stagnanisasi yang

cukup panjang. Sejak pasca-reformasi sampai saat ini banyak kebijakan yang

belum terealisasikan bahkan yang ada hanyalah kompromi politik. Lebih lanjut,

Ia menegaskan, penerapan hukum belum berjalan, penerapan tersebut hanya

simbol belaka. Idealnya, penerapan konstitusi tidak boleh bertentangan dengan

yang undang-undang yang sudah ada, dan harus sejalan dengan kondisi

lingkungan masyarakat. “Kita harus mengakui, konstitusi kita masih sangat


ringkas, artinya masih banyak konstitusi negara yang fundamental yang masih

sangat jauh atau belum sempurna. Misalnya adanya resuffle sejumlah menteriyang

masih menganut paham parlementer,“ katanya.

Anggota DPR-RI Abdi pun ikut berbicara, menurutnya, masalah hukum

merupakan masalah yang sangat sensitif sekali. Masalah ini menyangkut

kepentingan para elit politik dan masih banyaknya multitafsir tentang

amandemen tersebut. Ia melanjutkan, proses pembuatan undang-undang di

Indonesia itu ada dua macam antara lain, atas inisiatif pemerintah dan DPR. Akan

tetapi pembuatan undang-undang lebih didominasi atas inisitif pemerintah.

“Ya, sebut saja, masalah peraturan perdagangan konstitusial otonomi daerah Aceh

yang sampai saat ini belum terleasisakan. Dan belum lagi kebijkan-kebijakan lain

yang masih terambang-ambang,“ ungkapnya. Ia pun menjelaskan, tentang proses

pembuatan undang-undang di Indonesia. Menurutnya, sebelum undang-undang di

sahkan, undang-undang di analisis terlebih dahulu oleh staf ahli agar tidak

bertentang dengan undang-undang yang lain, dan menyangkut kemaslahatan

masyarakat, serta jangan sampai ada multitafsir peraturan.

Artikel 2:

“ Pemilu dan Potensi Krisis Konstitusi di Indonesia”

Oleh: Syafri Hariansah

(Akademisi, Alumni Postgraduated program faculty of law Constitutional

and Comparative of law Universtiy of Indonesia)

Kurang lebih skitar 5 bulan yang lalu ketika saya masih studi di program

pasca sarjana, judul yang hendak saya pilih dalam rencana tesis saya adalah
potensi krisis konstitusi. Ide ini muncul setelah saya membaca tulisan dari Prof.

Yusril Ihza Mahendra yang mengatakan bahwa konstitusi kita saat ini sangat

rentan dan memungkinkan terjadinya krisis konstitusi. Dalam pemahaman negara-

negara eropa, krisis konstitusi (constitutional crisis) didefinisikan sebagai

“asituation that the legal system’s constitution or other basic principles of

operation appear unable to resolve; it often results in a breakdown in the orderly

operation ofgovernment. Often, generally speaking, a constitutional crisis is a

situation in which separate factions within a government disagree about the extent

to which each of these factions holdsovereignty. Most commonly, constitutional

crises involve some degree of conflict between different branches of government.”

Krisis konstitusi dapat terjadi pada hampir seluruh negara di dunia ini. Faktanya

negara besar seperti Australia pada tahun 1975 dan Russia pada tahun 1993

pernah mengalami krisis konstitusi ini. Krisis politik di Australia berimbas pada

kestabilan konstitusinya, atau kasus terbaru yang dialami oleh negara Russia pada

tahun 1993 antara Presiden dan Perdana Menteri yang tidak harmonis berakibat

pada chaosnya pemerintahan. Secara sederhana krisis konstitusi dapat terjadi

apabila belum ada norma atau aturan yang mengatur scara eksplisit maupun

implisit tentang suatu permasalahan konstitusi. Dalam persepktif teori, KC

Wheare dalam karyanya moderen constitution mengatakan bahwa konstitusi

merupakan kumpulan peraturan yang mengatur pemerintahan negara. Lebih luas

lagi Van Apeldorn mengatakan bahwa konstitusi memuat baik peraturan tertulis

(writen) maupun tidak tertulis (unwriten). Secara sederhana konstitusi dapat

dipahami sebagai aturan dasar (baik tertulis ataupun tidak) dengan tujuan

mengatur penyelenggaraan pemerintahan negara yang memiliki kedudukan


hirarkis tertinggi dalam sebuah negara. Jika menggunakan pendekatan dari teori

ini, maka harusnya konstitusi memuat aturan yang bersifat detil sehingga

meminimalisir potensi terjadinya krisis konstitusi. Dalam tulisannya, Prof Yusril

mendeskripsikan suatu kasus yang bisa saja menimbulkan krisis konstitusi seperti

dalam kasus impeachment (pemakzulan). Di dalam Pasal 8 Undang-Undang

Dasar Republik Indonesia tahun 1945 menyebutkan bahwa “Jika presiden

mangkat, berhenti, diberhentikan atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam

masa jabatan, ia digantikan oleh wakil presiden sampai habis masa jabatannya.”

Sedangkan jika berhalangan tetap secara bersamaan maka jalannya pemerintahn

akan dilaksanakan secara bersama oleh triumvirat (Menteri dalam Negeri,

Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan) Pasal 8 (3) Undang-Undang Dasar

Republik Indonesia tahun 1945. Permasalahanya adalah, jika presiden dan wakil

presiden berhalangan tetap secara bersamaan dan kemudian mendemisionerkan

kabinet (termasuk triumvirat) mengingat presiden mempunyai hak prerogratif,

maka dapat dipastikan tidak ada yang menjalankan pemerintahan (vacum of

power). Kasus yang seperti ini kemudian dipandang oleh Prof. Yusril sebagai

pintu awal terjadinya krisis konstitusi karena memang tidak ada ketentuan atau

norma yang kemudian mengatur permasalahan ini. Secara yuridis normatif, harus

diakui bahwa konstitusi Indonesia tidak mengatur permasalahan ini. Tetapi di

satu sisi, jika kasus ini ditelaah dengan teliti maka permasalahan ini bisa

dipecahkan melalui Mahkamah Konstitusi, mengingat salah satu tugas MK adalah

memutus pendapat DPR bahwa presiden dan atau wakil presiden telah melakukan

pelanggaran hukum (Pasal 10 (2) UU MK NO 24 Tahun 2003). Jika kasus ini

terjadi maka MK melalui putusannya (amar putusan) dapat saja membuat putusan
bahwa presiden tidak dapat mendemisionerkan kabinet. Secara de jure, otomatis

jika ketentuan ini dilaksanakan maka krisis konstitusi tidak akan terjadi sebab hak

prerogratif presiden pasca dinyatakan bersalah telah dicabut. Jika ditelaah lebih

lanjut, maka dapat diketahui pula bahwa tugas Mahkamah Konstitusi hanya

menyatakan Presiden bersalah dan selanjutnya mekanisme pemberhentian

diserahkan ke MPR. Tetapi, dalam kasus seperti ini MK dapat saja melakukan

trobosan hukum dengan menambahkan putusannya untuk mengugurkan hak

prerogratif presiden. Terobosan hukum yang dilakukan oleh Hakim MK ini

kemudian dapat dipahami sebagai rechtsvinding, mengingat proses penemuan

hukum merupakan proses konkretisasi dan individualisasi peraturan hukum yang

bersifat umum dengan mengingat peristiwa konkrit. Artinya di satu sisi

rechtsvindingini dipandang perlu dilakukan mengingat potensi krisis konstitusi

yang dapat saja terjadi pasca diberhentikannya presiden dan wakil presiden secara

bersamaan.

Pemilu dan Potensi Krisis

Lalu bagaimana dengan potensi potensi krisis konstitusi lainnya yang bisa saja

muncul. Jika konstitusi hasil perubahan kita saat ini dianalisis lebih lanjut, maka

banyak sekali ditemukan titik krisis lainnya. Misalnya pada pengaturan tentang

pemilu. Baik konstitusi maupun undang-undang kepemiluan, baik presiden

maupun pemilu legislatif tidak mengatur apabila ternyata penyelenggaran pemilu

gagal dan tidak menghasilkan perwakilan di parlemen atau bahkan tidak

menghasilkan presiden. Jika mengacu pada aturan konstitusi saat ini, maka dalam

Pasal 6A (3) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 dengan tegas

menyatakan bahwa presiden dan wakil presiden dinyatakan terpilih, apabila


memperoleh lebih dari lima puluh persen suara nasional (suara mayoritas mutlak)

dan 20 persen disetiap wilayah provinsi. Jika dianalisis konstruksi pasal ini maka

dapat dipahami bahwa pertama, presiden terpilih apabila berhasil memperoleh

suara mayoritas mutlak dari total suara yang masuk. Kedua, angka atau persentase

suara ini merupakan ketentuan yang mutlak dan rigid. Artinya, presentasi angka

ini tidak dapat diubah apabila tidak ada satupun pasangan calon yang memperoleh

suara mutlak mayoritas. Walaupun pada ketentuan pasal lainnya dalam konstitusi

khususnya dalam Pasal 6A (4) yang mengidentifikasikan bahwa pemilu presiden

di Indonesia dengan prinsip two round system memungkinkan pasangan calon

presiden dan wakil presiden dipilih kembali pada putaran selanjutnya, Tetapi

permasalahannya angka presentasi yang diamanahkan dalam konstitusi

merupakan ketentuan yang bersifat mutlak dan berlaku sama pada ketentual pasal

sebelumnya. Jika kasus seperti ini timbul maka dapat dipastikan pemilu dalam

keadaan deadlock. Kondisi seperti ini bisa saja muncul mengingat Pemilu 2014,

konstituen terbesarnya diisi oleh segmentasi pemilu pemula. Disamping itu

meningkatnnya angka golput (berkaca pada pemilu kada) di hampir seluruh

wilayah Indonesia menambah beban berat suksesi penyelenggaran Pemilu 2014.

Bertitik tolak dari hasil analisis ini, maka timbul pertanyaan apabila tidak ada satu

pasangan calon presiden dan wakil presiden yang berhasil memperoleh suara

seperti yang telah diamanatkan dalam konstitusi, maka pemilu dapat dipastikan

gagal karena tidak dapat menghasilkan presiden dan wakil presiden.

Pertanyaannya adalah, siapa atau lembaga mana yang kemudian dapat

menjalankan pemerintahan mengingat di dalam negara tidak dibenarkan

terjadinya kekosongan jabatan (vacum of power), apalagi tidak ada presiden dan
wakil presiden. Secara teori dalam negara dengan sistem pemerintahan

presidensil, presiden memiliki peranan yang sangat penting untuk menentukan

jalannya pemerintahan. Secara yuridis normatif jika mengacu pada ketentuan

konstitusi dan undang-undang, maka dapat dipastikan tidak ada lembaga yang

berwenang menjalankan pemerintahan sebab pemilu tidak menghasilkan apapun.

Apakah kemudian benar pendapat Prof. Yusril dengan mengembalikan fungsi

MPR sebagai lembaga tertinggi negara menjadi solusi untuk mengatasi kegagalan

Pemilu 2014 ini? Apakah mungkin dalam waktu yang relatif singkat MPR

melakukan perubahan terhadap konstitusi untuk kemudian mengembalikan fungsi

MPR sebagai lembaga tertinggi negara? Permasalahan-permasalahan ini

seyogyanya tidak dipandang sederhana, mengingat dampak yang akan timbul

sangatlah kompleks. Apa yang terjadi pada Australia pada tahun 1975 dan Russia

pada tahun 1993 yang mengakibatkan negara besar ini chaos, setidaknya dapat

dijadikan pembelajaran bahwa krisis konstitusi merupakan permasalahan yang

serius dan harus segera diantisipasi segala kemungkinan yang akan muncul.

Dalam hemat penulis, permasalahan seperti ini dapat diatasi melalui perubahan

konstitusi yang kemudian mengatur secara detail permasalahan-permasalahan

konstitusi ini. Sebab perubahan konstitusi merupakan hal yang wajar dan lumrah

dilakukan dalam sebuah negara. Apapun hasil Pemilu 2014 nanti dan berbagai

permasalahan yang muncul di dalamnya, dapat dipastikan negara ini harus

berjalan sebagaimana mestinya. (***)


Artikel 3:

Mahkamah Konstitusi dan Keadaan Darurat Korupsi di Indonesia

Taruna Ikrar detik News

Jakarta- Sudah berbulan-bulan, media massa memberitakan tentang kasus korupsi.

Dari pemberitaan itu, terlihat jelas sangat banyak elit dan pemimpin kita yang

terlibat korupsi. Mulai elit di pusat pemerintahan nasional hingga daerah.

Demikian pula melibatkan elit politik DPR RI, birokrat, dan pengusaha. Berita

yang sangat mengejutkan, bahkan Akil Mochtar (Ketua Mahkamah Konstitusi)

tertangkap tangan melakukan korupsi. Suatu lembaga yang sangat terhormat

dengan kekuasaan yang sangat besar, justru terbukti melakukan tindakan korupsi.

Sebagaimana diketahui, fungsi dan wewenang Mahkamah Konstitusi adalah:

berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang keputusannya

bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945

(UUD 1945), memutus sengketa kewewenangan lembaga negara yang

kewewenangannya diberikan oleh UUD 1945, memutus pembubaran partai

politik, dan memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum. Berkewajiban

memberi keputusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan

pelanggaran oleh Presiden atau Wakil Presiden menurut UUD 1945. Wewenang

Mahkamah Konstitusi dalam: menguji undang-undang terhadap UUD 1945,

memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara, berkewenangannya

diberikan oleh UUD 1945, memutus pembubaran partai politik, memutus

perselisihan tentang hasil pemilu, dan berbagai kekuasaan yang sangat urgen bagi

kepentingan Nasional. Dengan wewenangnya yang luar biasa, sudah seharusnya,


Mahkamah Konstitusi bisa menjaga diri dari berbabagai kelemahan, terlebih lagi

terhadap korupsi. Tetapi kenyataannya, Mahkamah Konstitusi terlarut kedalam

pusaran masalah korupsi. Sehingga korupsi telah merajalela di semua sektor

kehidupan, baik di yudikatif, eksekutif, dan legislatif. Sehingga tidak salah kalau

dikatakan, bahwa Indonesia berada dalam kondisi, “Darurat Korupsi”. Sudah

menjadi rahasia umum, bahwa hampir semua lini kehidupan di Indonesia dewasa

ini, harus diselesaikan dengan 'sogokan dan berbagai uang pelicin' lainnya. Mulai

dari mengurus KTP (Kartu Tanda Penduduk) di Kelurahan, mengurus SIM (Surat

Izin Mengemudi), KK (Kartu Keluarga), masuk sekolah, sampai urusan yang

besar, seperti memenangkan tender suatu proyek, ataupun untuk promosi dan lain

sebagainya. Semuanya membutuhkan sogokan dan uang pelicin. Sehingga tidak

salah kalau para investor yang mau menanamkan modalnya di Tanah Air harus

melalui semua proses tadi. Akibatnya biaya investasi yang tertulis tidak sebanding

dengan real cost (biaya nyata) yang harus dibayar, karena panjangnnya birokrasi

dan semua tahap harus mengeluarkan uang. Akhirnya, membuat malas para

investor untuk menanamkan modalnya di Tanah Air, dan berpindah ke negara

tetangga seperti Malaysia misalnya kasus pendirian RIM, pabrik BlackBerry.

Untuk membasmi korupsi dan pungutan liar tersebut, sangat tidak mudah bahkan

mustahil, karena kondisi ini telah berurat, berakar dan telah menjadi budaya.

Padahal untuk kemajuan suatu bangsa di zaman modern, budaya korupsi dan

pungutan liar menjadi penghabat yang sangat besar untuk kemajuan. Hampir

semua negara maju di dunia dewasa ini, sangat rendah tingkat korupsi dan

pungutan liarnya. Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama yaitu:

1) Sistem yang transparan,


2) Pemimpin yang kuat dan disiplin serta antikorupsi.

Sebetulnya Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk menjadi

bangsa yang maju, sejahtera, aman, dan sentosa. Olehnya bangsa ini

membutuhkan pemimpin yang kuat dan anti korupsi, artinya: pemimpin yang

benar-benar berjuang untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Yang

bertekad membumihanguskan korupsi dan pungli (pungutan liar) dengan cara

memperbaiki sistem pemerintahan menjadi transparan, dan terkontrol, sehingga

orang akan sulit melakukan korupsi karena dengan sistem yang transparan dan

terkontrol maka orang yang korupsi akan langsung ketahuan. Transparansi sistem

keuangan negara, bisa dilihat pada negara maju, seperti contohnya Amerika

Serikat, pengelolaan keungan dan sistem perpajakan, sangat transparan. Sehingga

dalam mengawasi bukan saja tugas pemerintah, tetapi masyarakat secara

keseluruhan. Semua pejabat publik, mulai tingkat terendah hingga presiden

diawasi secara langsung oleh masyakat. Hal ini karena sistem transparansi

keuangan dan perpajakan begitu modern. Semua transaksi keuangan, pembayaran

pajak, sampai pemenangan tender serta distribusi pembangunan dan penggajian

dilakukan secara online dan transparan. Sehingga terjadi kebocoran sekecil

apapun, cepat terdeteksi, sehingga bisa dilakukan pencegahan. Demikian pula

hukum ditegakkan secara maksimal tanpa pandang bulu dan strata sosial. Dengan

kondisi tersebut, keungan Negara bisa diberdayakan sebesar-besarkan untuk

kepentingan pembangunan nasional, sehingga Amerika Serikat, menjadi negara

maju dan superpower seperti sekarang ini. Belajar dari kondisi tersebut, sudah

saatnya Indonesia menerapkan system keuangan yang transparan. Untuk

mencegah terjadinya kebocoran keuangan negara akibat korupsi. Efek dari tidak
adanya korupsi, akan menyebabkan keseimbangan dan pemerataan pembangunan.

Sehingga akan terbuka lapangan pekerjaan yang mencukupi, sehingga setiap

orang di Tanah Air akan mempunyai pekerjaan, yang pada akhirnya akan

meningkatkan kesejahteran seluruh masyarakat Indonesia. *)