Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Kami memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya makalah dengan judul “Parameter Kimia Kualitas Airdapat diselesaikan. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah Manajemen Kualitas Air. kami mengucapkan banyak terima kasih kepada teman- teman dan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan makalah ini. Disadari oleh kami bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan, namun biarlah kekurangan-kekurangan itu tidak mengurangi makna dari makalah ini. Dan untuk itu kami menghargai adanya suatu kritik dan saran yang bersifat membangun. Terima kasih.

Manado, Februari 2018

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR ...................................................................................

i

DAFTAR ISI ...................................................................................................

ii

  • 1. PENDAHULUAN .......................................................................................

1

  • 1.1. Latar Belakang ......................................................................................

1

  • 1.2. Rumusan Masalah .................................................................................

1

  • 1.3. Tujuan Penulisan ...................................................................................

1

  • 2. PEMBAHASAN .........................................................................................

2

2.1. Parameter Kualitas Air ...........................................................................

2

1) pH (Derajat Keasaman) ......................................................................

2

2) DO (Dissolved Oxygen) ....................................................................

3

3) Karbondioksida (CO 2 ) .......................................................................

5

4) Alkalinitas ..........................................................................................

7

5) Bahan Organik (NH 3 , NO 2 , NO 3 , NH 4 dan Sulfida) ........................

8

6) Logam Berat .......................................................................................

12

  • 3. PENUTUP ...................................................................................................

14

  • 3.1. Kesimpulan ............................................................................................

14

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

15

2. PENDAHULUAN

  • 1.1. Latar Belakang

Air merupakan hajat hidup kita. Kita meminumnya untuk mempertahankan hidup. Selain itu, air menyediakan habitat hidup bagi ikan dan binatang air lainnya. Disamping itu memiliki peran psikologis yang penting dalam hal menyediakan area rekreasi juga bagi keindahan alam. Sebagai tambahan, air

memiliki peran yang sangat penting pula dalam proses dan membuang limbah yang berasal dari domestik atau perindustrian. Pembua-ngan limbah padat atau cair ke perairan dapat menimbulkan pencemaran air. Kualitas air adalah kondisi kalitatif air yang diukur dan atau di uji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air. Parameter ini meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis (Masduqi,2009). Parameter kimia air mempunyai peran yang sangat penting dalam keberhasilan budidaya biota perairan. Pengelolaan suatu kualitas air adalah dengan cara mengamati parameter kualitas air yang dibutuhkan biota air. Oleh karena itu dengan pemahaman parameter kualitas air akan membantu dalam melakukan pengelolaan kualitas air yang sesuai untuk pemeliharaan biota air.

  • 1.2. Rumusan Masalah

    • 1. Apa saja parameter kimia Kualitas air?

      • 1.3. Tujuan Penulisan

        • 1. Untuk Mengetahui Apa saja parameter kimia Kualitas air

2.

PEMBAHASAN

2.1. Parameter Kimia Kualitas Air

Karakteristik kimia air menyatakan banyaknya senyawa kimia yang terdapat di dalam air, sebagian di antaranya berasal dari alam secara alamiah dan sebagian lagi sebagai kontribusi aktivitas makhluk hidup. Beberapa senyawa kimia yang terdapat didalam air dapat dianalisa dengan beberapa parameter kimia kualitas air.

Parameter kimia kualitas air tersebut dapat digolongkan sebagai berikut :

1) pH (Derajat Keasaman)

pH adalah derajat keasaman yang di gunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Kekuatan asam ditentukan oleh banyak-sedikitnya ion hidrogen yang dihasilkan. Semakin banyak ion H+ yang dihasilkan, semakin kuat sifat asamnya. Sedangkan basa ialah senyawa yang terlarut dalam air yang sudah menghasilkan ion hidroksida (OH).

Semakin banyaknya jumlah ion OH yang dihasilkan, maka semakin kuat lah sifat

basanya.

pH sangat penting sebagai parameter kualitas air karena pH dapat

mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi di dalam air. Selain itu,ikan, udang, serta organisme akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka akan dapat diketahui apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan organisme tersebut. Besaran pH berkisar dari 0 (sangat asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalis). Sedangkan alat untuk mengukur pH adalah pH Meter. Dalam rangka mendukung kehidupan ikan dan kultur pakan alami (fitoplankton) nilai pH air berkisar antara 6,5 8,5. Air murni bersifat netral, dengan pH-nya 7,0. pada suhu berkisar antara 27 °C 32 o C. Tinggi atau rendahnya nilai pH air tergantung pada beberapa faktor yaitu:

  • a) Konsentrasi gas-gas dalam air seperti CO2

  • b) Konsentrasi garam-garam karbonat dan bikarbonat

  • c) Proses dekomposisi sisa-sisa pakan, feses, dan urine bahan di dasar

perairan. Secara alamiah, pH perairan dipengaruhi oleh konsentrasi karbondioksida (CO2) dan senyawa bersifat asam. Perairan umum dengan aktivitas fotosintesis dan respirasi organisme yang hidup didalamnya akan membentuk reaksi. Semakin banyak CO2 yang dihasilkan dari hasil respirasi, reaksi bergerak ke kanan dan secara bertahap melepaskan ion H+ yang menyebabkan pH air turun. Reaksi sebaliknya terjadi pada peristiwa fotosintesis yang membutuhkan banyak ion CO2, sehingga menyebabkan pH air naik. Pada peristiwa fotosintesis, fitoplankton dan tanaman air lainnya akan mengambil CO2 dari air selama proses fotosintesis sehingga mengakibatkan pH air meningkat pada siang hari dan menurun pada waktu malam hari. Untuk menetrakan air pH asam ke posisi pH Netral dibutuhkan bubuk Kalsium (Ca) ataupun bahan yang mengandung Kalsium (Ca) seperti batubatuan kapur atau cangkang kerang-kerangan. Sedangkan Untuk menetrakan air yang memiliki pH basa dibutuhkan bahan-bahan organik, seperti kayu-kayuan, dan daun-daunan.

2) DO (Dissolved Oxygen)

Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Rumus kimia dari DO adalah jumlah oksigen

(O2). Oksigen terlarut dapat diukur menggungakan alat yang disebut DO meter .Oksigen terlarut juga dapat diartikan jumlah oksigen dalam milligram yang terdapat dalam satu liter air (ppm). Oksigen terlarut umumnya berasal dari difusi

udara melalui permukaan air, aliran air masuk, air hujan, dan hasil dari proses fotosintesis plankton atau tumbuhan air. Nilai DO biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukkan jumlah oksigen yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin rendah nilai DO pada air, maka air tersebut diindikasikan telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Pada siang hari, ketika terjadi fotosintesis, jumlah oksigen terlarut cukup banyak. Sebaliknya pada malam hari, ketika tidak terjadi fotosintesis, oksigen yang terbentuk selama siang hari akan dipergunakan oleh ikan dan tumbuhan air, sehingga sering terjadi penurunan konsentrasi oksigen secara drastis. Kelarutan oksigen di dalam air juga terkait dengan suhu. Antara oksigen dengan suhu adalah berbanding terbalik. Pada temperatur yang tinggi juga dapat meningkatkan kehilangan oksigen karena penguapan. Jika suhu sangat tinggi, maka kelarutan jumlah oksigen menurun, begitu juga sebaliknya. Pencemaran air yang berlebihan akan menyebabkan oksigen terlarut dalam air pada kondisi yang kritis, atau merusak kadar kimia air. Rusaknya kadar kimia air tersebut akan berpengaruh terhadap fungsi dari air. Besarnya beban pencemaran yang ditampung oleh suatu perairan, dapat diperhitungkan berdasarkan jumlah polutan yang berasal dari berbagai sumber aktifitas air buangan dari proses-proses industri dan buangan domestik yang berasal dari penduduk.

Tabel 1. Pengaruh Keberadaan Ikan Terhadap Kadar Oksigen Terlarut

Kadar Oksigen Terlarut (Mg/L)

Pengaruh terhada keberlangsungan Hidup ikan

< 0,3

Hanya sedikit jenis ikan yang dapat bertahan pada masa singkat

0,3 1,0

Proses lama dapat mengakibatkan kematian ikan

1,0 5,0

Ikan dapat bertahan hidup, tetapi pertumbuhannya terganggu

> 5,0

Hampir semua organisme menyukai kondisi ini

Oksigen terlarut dalam suatu perairan juga akan menurun akibat pembusukan-

pembusukan dan respirasidari hewan dan tumbuhan yang kemudian diikuti

dengan meningkatnya CO2 bebas sertamenurunnya pH (Nybakken, 1992).

Oksigen (O2) dalam suatu perairan tidak lepas dari pengaruh parameter lain

sepertikarbondioksida, alkalinitas, suhu, pH, dan sebagainya. Di mana semakin

tinggi kadar oksigenyang dibutuhkan, maka karbondioksida yang dilepaskan

sedikit. Hubungan antara kadar oksigenterlarut dengan suhu ditunjukkan bahwa

semakin tinggi suhu, kelarutan oksigen semakin berkurang (Efendi, 2003).

3) Karbondioksida (CO2)

Karbon dioksida (CO 2 ) adalah gas cair tidak berwarna, tidak berbau, tidak mudah

terbakar , dan sedikit asam. CO 2 lebih berat daripada udara dan larut dalam air.

Salah satu
Salah satu

parameter

kimia

yang

ada

di

dalam

parairan

yaitu

gas

 

karbondioksida(CO 2 ) yang dipengaruhi

kualitas

air.

Ketersediaan

gas

ini

dalam perairan jumlahnya lebih sehingga akan mempengaruhi organisme-organisme yang

melakukan proses respirasi sedangkan kekurangan gas ini akan mempengaruhi organisme

dalam proses fotosintesis.

Karbondioksida merupakan unsur utama dalam proses

fotosintesis yang dibutuhkan oleh fitoplankton dan tumbuhan air. Keberadaan

karbondioksida diperairan sangat dibutukan oleh tumbuhan baik

yang besar maupun yang kecil untuk proses fotosintesis (Kordi, 2004). CO 2 juga

terbentuk dalam air karena proses dekomposisi (oksidasi) zat organik oleh

mikroorganisme. Umumnya juga terdapat dalam air yang telah

tercemar. Karbondioksida pula diperairan berasal dari difusi atmosfer, air hujan,

air yang melewati tanah organik, dan respirasi tumbuhan dan hewan, serta bakteri

aerob dan anaerob (Efendi, 2003).

Karbondioksida (CO2) mempunyai peranan yang sangat besar bagi kehidupan

organisme air. Senyawa tersebut dapat membantu dalam proses dekomposisi

atau perombakan bahan organik oleh bakteri Anaerobik. Namun jika dalam

keadaan yang berlebihan dapat mengganggu bahkan menjadi racun bagi beberapa

jenis ikan (Barus, 2002). Tinggi dan rendahnya suatu karbondioksida dalam

perairan tidak lepas dari pengaruh parameter lain seperti oksigen. Di mana

semakin tinggi karbondioksida, maka oksigen yang di perlukan bertambah.

Kelarutan karbondioksida (CO 2 ) menurun diperairan, seiring dengan menurunnya

proses respirasi yang dilakukan oleh organisme yang ada dalam perairan. Pada

siang hari proses respirasi menurun disuatu perairan karena yang melakukan

proses respirasi hanya organisme berupa ikan sedangkan fitoplankton tidak

melakukan respirasi melainkan hanya melakukan fotosintesis (Zonnoveld, 1991).

Kurangnya karbondioksida (CO 2 ) terlarut dalam perairan utamanya pada siang

hari dapat mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis yang dilakukan oleh

organisme akuatik dan memperlambat pertumbuhan organisme tersebut dalam

perairan. Salah satu masalah dalam perairan adalah apabila terjadi peningkatan

kadar karbondioksida terlarut. Hal ini sangat mempengaruhi aktivitas organisme

yang ada di dalam utamanya persaingan dalam proses respirasi. Solusi yang dapat

dilakukan apabila hal tersebut terjadi yaitu dengan cara pengaturan sirkulasi air

dengan teratur dan dapat pula digunakan aerator apabila kondisi perairan kecil

(Barus, 2002). Dikatakan Hendra (1988), penanggulanganya dapat dilakukan

dengan menaikkan pH serta dengan menambahkan senyawa kimia yang bersifat

basa, pada umumnya digunakan kapur.

4) Alkalinitas

Alkalinitas juga diartikan sebagai kapasitas penyangga terhadap perubahan pH

perairan. Secara khusus, alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang

menunjukkan kapasitas menyangga dari ion bikarbonat, dan sampai tahap terlentu

terhadap ionkarbonat dan hidroksida dalam air. Semakin tinggi alkalinitas maka

kemampuan air untuk menyangga lebih tinggi sehingga fluktuasi pH perairan

semakin rendah. Alkalinitas biasanya dinyatakan dalam satuan ppm (mg/l)

kalsium karbonat(Yulfiperius, 2004). Alkalinitas adalah pengukuran kapasitas air

untuk menetralkan asam-asam lemah, meskipun asam lemah atau basa lemah juga

sebagai penyebabnya. Penyusun alkalinitas perairan adalah ion bikarbonat,

karbonat, dan hidroksida. Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan

ion hidrogen sehingga menurunkan kemasaman dan menaikkan pH perairan.

Sumber utama dari alkalinitas biasanya dari batuan karbon (batu kapur) yang

sebagian besar terbentuk dari CaCO3 (Kalsium karbonat). Pada umumnya

lingkungan yang baik bagi kehidupan ikan adalah dengan nilai alkalinitas di atas

20 ppm.

5) Bahan Organik (NH3, NO2, NO3, NH4 dan Sulfida)

Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur

ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan

oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan

penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami

pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam

pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya

bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui

melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang. Sampah yang dalam proses

penguraiannya memerlukan oksigen yaitu sampah yang mengandung senyawa

organik, misalnya sampah industri makanan, sampah industri gula tebu, sampah

rumah tangga (sisa-sisa makanan), kotoran manusia dan kotoran hewan, tumbuh-

tumbuhan dan hewan yang mati. Untuk proses penguraian sampah sampah

tersebut memerlukan banyak oksigen, sehingga apabila sampah-sampah tersbut

terdapat dalam air, maka perairan (sumber air) tersebut akan kekurangan oksigen,

ikan-ikan dan organisme dalam air akan mati kekurangan oksigen.

  • a) NH 3 (Amonia) Amonia merupakan hasil katabolisme protein yangdiekskresikan oleh org

anisme dan merupakan salah satu hasil dari penguraian zat organik oleh bakt

eri. Amonia di dalam air terdapat dalam bentuk tak terionisasi (NH3) atau be

bas, dan dalam bentuk terionisasi (NH4) atau ion amonium (Dinas Perikanan,

1997 dalam Umroh, 2007). amonia dalam perairan akan semakin meningkat

seiring meningkatnya pH air. Pada saat pH tinggi ammonium yang terbentuk tidak

terionisasi dan bersifat toksik pada ikan. Menurut Jangkaru (1996),

kadar amonia bebas yang melebihi 0,2 mg/L bersifat racun bagi beberapa

jenis ikan, selain itu kadar ammonia yang tinggi dapat di jadikan sebagai indikasi

adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik dan limbah

pupuk pertanian adapun sumber ammonia di perairan adalah hasil dari

pencemaran nitrogen organik berupa tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati.

Amonia sangat penting dalam budidaya, amonia dapat dimanfaatkan oleh

tumbuhan air melalui proses asimilasi dan digunakan sebagai sumber energi oleh

mikroorganisme nitrifikasi dalam oksidasi amonia menjadi NO 2 Kemudian

dilanjutkan menjadi NO 3 . Nitrat selanjutnya dapat diserap oleh tumbuhan air.

  • b) NO 3 (Nitrat) Nitrat (NO 3 ) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan

nutrient utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat sangat mudah larut

dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi

sempurna senyawa nitrogen di perairan. Nitrat berhubungan dengan proses

nitrifikasi. Nitrifikasi yang merupakan proses oksidasi ammonia menjadi nitrit dan

nitrat adalah proses yang berlangsung secara aerob. Oksidasi ammonia menjadi

nitrit dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas, sedangkan oksidasi nitrit menjadi

nitrat dilakukan oleh bakteri Nitrobakter. Kedua jenis bakteri tersebut merupakan

bakteri kemotrofik, yaitu bakteri yang mendapatkan energi dari proses dari

kimiawi. Nitrat masuk kedalam perairan disebabkan manusia yang membuang

kotoran dalam air. Kotoran banyak mengandung amoniak, kemungkinan lain

penyebab konsentrasi nitrat tinggi ialah pembusukan sisa tanaman dan hewan.

Nitrat menyebabkan kualitas air menurun. Menurunkan oksigen terlarut,

penurunan populasi ikan, bau busuk, dan rasa tidak enak.

  • c) NO 2 (Nitrit) Nitrit (NO 2 ) merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat

(nitrifikasi) dan antara nitrat dengan gas nitrogen oleh karena itu, nitrit bersifat

tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Kandungan nitrit pada perairan alami

mengandung nitrit sekitar 0.001 mg/L. kadar nitrit yang lebih dari 0.06 mg/L

adalah bersifat toksik bagi organisme perairan. Oksidasi ammonia menjadi nitrit

dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas, sedangkan oksidasi nitrit menjadi nitrat

dilakukan oleh bakteri Nitrobakter. Kedua jenis bakteri tersebut merupakan

bakteri kemotrofik, yaitu bakteri yang mendapatkan energi dari proses dari

kimiawi.

  • d) NH 4 (Ammonium) Kation amonium adalah ion poliatomik bermuatan positif dengan rumus kimia

NH+4. Ia terbentuk melalui protonasi amonia. Amonia ( NH3 ) merupakan

senyawa nitrogen yang menjadi ammonium ( NH4 ) pada kondisi asam ( pH

rendah ),sehingga dapat dikatakan bahwa NH4 dalam keadaan basa adalah

amoniak ( NH3 ). Amoniak dari air permukaan berasal dari air limbah dan tinja,

juga dari oksidasi zat organik secara mikrobiologis yang berasal dari air alam atau

buangan ( domestik dan Non domestik ).

  • e) H 2 S (Hidrogen Sulfida)

Sulfida merupakan gas asam belerang. Pada air limbah sulfida merupakan hasil

pembusukan zat organik berupa Hidrogen Sulfida (H 2 S). Hidrogen Sulfida adalah

gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk.

Gas ini dapat timbul dari aktivitas biologis ketika bakteri mengurai bahan organik

dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik), seperti di rawa, dan saluran

pembuangan kotoran.

Kegiatan industri yang dapat menghasilkan gas ini antara lain :

  • Pengeboran sumur Migas.

  • Penyulingan atau pengelolaan Migas.

  • Pabrik Pengelohan Belerang.

  • Pabrik Tekstil

dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik), seperti di rawa, dan saluran pembuangan kotoran. Kegiatan industri yang

Gambar 1. Daur Belerang Dan Sulfur (Sumber : Rika Khoerunisa 2012)

Sulfur direduksi oleh bakteri menjadi sulfida dan kadang-kadang terdapat dalam

bentuk sulfur dioksida (SO 2 ) atau hidrogen sulfida (H 2 S). Hidrogen sulfida ini

seringkali mematikan makhluk hidup di perairan dan pada umumnya dihasilkan

dari penguraian bahan organik yang mati. Tumbuhan menyerap sulfur dalam

bentuk sulfat (SO 4 ).

6) Logam Berat

Logam berat adalah bahan-bahan alami yang berasal dan termasuk bahan

penyusun lapisan tanah bumi. Logam berat tidak dapat diurai atau dimusnahkan.

Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh mahluk hidup melalui makanan, air

minum, dan udara. Logam berat berbahaya karena cenderung terakumulasi di

dalam tubuh mahluk hidup. Laju akumulasi logam-logam berat ini di dalam tubuh

pada banyak kasus lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk membuangnya.

Akibatnya keberadaannya di dalam tubuh semakin tinggi, dan dari waktu ke

waktu memberikan dampak yang makin merusak. polutan utama logam berat di

lingkungan yaitu Timbal (Pb), Mercury (Hg) dan Cadmium (Cd).

Adanya logam berat di perairan, berbahaya baik secara

langsung terhadap kehidupan organisme, maupun efeknya secara tidak langsung

terhadap kesehatan manusia. Hal ini berkaitan dengan sifat-sifat logam berat

(Moore dan Ramamoorthy, 1984) yaitu :

1) Sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan

perairan dan keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan);

2) Dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang dan ikan;

Hutagalung (1984) menyatakan selain suhu dan pH, salinitas dan kesadahan juga

mempengaruhi toksisitas logam berat. Penurunan pH dan salinitas perairan

menyebabkan toksisitas logam berat semakin besar. Lain halnya dengan suhu,

toksisitas logam berat semakin tinggi dengan meningkatnya suhu. Kesadahan

yang tinggi dapat mengurangi toksisitas logam berat, karena logam berat dalam

air dengan kesadahan tinggi membentuk senyawa kompleks yang mengendap

dalam air. Logam berat yang terdapat di lingkungan perairan dapat diketahui

melalui media air.

3. PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Parameter kimia air mempunyai peran yang sangat penting dalam

keberhasilan budidaya biota perairan. Pengelolaan suatu kualitas air adalah

dengan cara mengamati parameter kualitas air yang dibutuhkan biota air. Oleh

karena itu dengan pemahaman parameter kualitas air akan membantu dalam

melakukan pengelolaan kualitas air yang sesuai untuk pemeliharaan biota air.

Paramater kimia yang perlu diperhatikan agar kualitas air menjadi sesuai

pemeliharaan biota seperti : PH, CO 2 , O 2 , Dan Alakalinitas

Karakteristik kimia air menyatakan banyaknya senyawa kimia yang terdapat di

dalam air, sebagian di antaranya berasal dari alam secara alamiah dan sebagian

lagi sebagai kontribusi aktivitas makhluk hidup. Senyawa kimia yang harus di

perhatikan seperti : Bahan Organik (NH 3 , NO 2 , NO 3 , NH 4 dan Sulfida), Dan

Logam Berat.

DAFTAR PUSTAKA

Ajeng Pusparini. 2014. Perubahan pH Dalam Air Sangat Berpengaruh Besar Pada Biota Laut. https://ukurkadarair.com/perubahan-ph-dalam-air-sangat- berpengaruh-besar-pada-biota-laut/, Diakses pada 9 Februari 2018 Pukul 10:00

Fuadi Muhammad. Parameter Of Water Quality pH.

https://www.academia.edu/9122534/Parameter_of_Water_Quality_-_pH,

Diakses Pada 9 Februari 2018 Pukul 12:00

Taufiqullah. 2017. Faktor Yang Menentukan pH Air. https://www.tneutron.net/blog/faktor-yang-menentukan-nilai-ph-air/ Diakses Pada 10 Februari 2018 Pukul 13:00

Hanan Hanifah. 2013. Oksigen Terlarut.

https://www.academia.edu/5249810/Oksigen_Terlarut

Diakses Pada 10 Februari 2018 Pukul 13:15

Mohamad Syafei. 2011. Makalah Karbondioksida Agresif.

https://www.academia.edu/8735574/MAKALAH_KARBONDIOKSIDA_AGRE

SIF, Diakses Pada 10 Februari 2018 Pukul 14:00

Aswar Sharing. 2012. Laporan Praktikum Karbondioksida (CO2).

http://aswarpunyainfo.blogspot.co.id/2012/11/laporan-praktikum-karbondioksida-

co2.html, Diakses Pada 10 Februari 2018 Pukul 15:30

Ishimatul Inats. 2015. Kesadahan Dan Alkalinitas.

https://www.academia.edu/16890685/kesadahan_dan_alkalinitas,

Diakses Pada 10 Februari 2018 Pukul 19:00

Ryan Marthins. 2012. Pencemaran Air Bahan Organik.

http://kimiamania11.blogspot.co.id/2012/01/pencemaran-air-bahan-organik.html,

Diakses Pada 10 Februari 2018 Pukul 20:00

Kliksma. 2015. Perbedaan Antara Nitrat Dan Nitrit.

http://kliksma.com/2015/02/perbedaan-nitrat-dan-nitrit.html,

Diakses Pada 10 Februari 2018 Pukul 20:20

Tuti Tzu. 2015. Makalah Sulfida. https://dokumen.tips/documents/makalah-sulfida.html, Diakses Pada 10 Februari 2018 Pukul 20:30

Ahmad Muhtadi. 2009. Analisis Kandungan Logam Berat Hg, Cd, Dan Pb Pada Air Dan Sedimen Di Perairan Pulau Panggang Pramuka Kepulauan Seribu, Jakarta.

https://www.researchgate.net/publication/309209691_ANALISIS_KANDUNGA

N_LOGAM_BERAT_Hg_Cd_dan_Pb_PADA_AIR_dan_SEDIMEN_di_PERAI

RAN_PULAU_PANGGANG-

PRAMUKA_KEPULAUAN_SERIBU_JAKARTA, Diakses Pada 10 Februari 2018 Pukul 22:00