Anda di halaman 1dari 3

Nama : Rio Pratama

NIM : 155120500111029

Kelas : C POL 4

Dosen Pengampu : Wimmy Halim, S.IP., M.Sos

Mata Kuliah : Birokrasi Indonesia

Program Kesetaraan Sekolah Kejar Paket A, B, dan C di Kota Depok

Inovasi adalah kreasi yang berproses menciptakan cara-cara baru, ide-ide baru dan
metode baru merupakan oksigen, yang harus terus mengarlir demi keberlangsungan
organisasi birokrasi dalam mengembangkan fungsi pelayanan pemenuhan kebutuhan
masyarakat. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir melahirkan ide-ide kreatif. Ide-ide
kreatif yang tercipta disemai dan dikembangkan secara terus menerus demi terpenuhinya
pemenuhan kebutuhan publik dalam mewujudkan kehidupan masyarakat penuh hasrat, harkat
dan martabat. Inovasi sebagai kreasi dalam penyelenggaran pelayanan publik merupakan
pengembangan nyata dalam mewujudkan efisiensi, efektifitas, dan kualitas hasil
penyelenggaraan pelayanan publik. Inovasi adalah kraesi mencipta cara baru, metode baru
atau kombinasi dari cara-cara yang sudah ada, sehingga tercipta cara baru, pemenuhan
produk baru, penemuan jasa atau ide dalam proses yang baru. Bagi birokrasi penyelenggara
pelayanan publik tujuan akhir dari birokrasi adalah kepercayaan masyarakat. Tipologi inovasi
sektor publik adalah : A new or improved service, Proces innovation Administrative
innovation, System innovation, Conceptual innovation (Halvorsen dalam LAN, 2013)

Inovasi dalam proses penyelenggaraan pelayanan publik pada birokrasi pemerintah


terlahir karena didorong adanya motivasi-motivasi tertentu yaitu: carrier, idealism, power,
self fulfilment, money (salary), prestige, professional recognition, dan potential for spin-off
bussiness (Mile dan Roste dalam LAN, 2013). Motivasi-motivasi tersebut pada tataran
individu, sedangkan pada tararan organisasi motivasi itu tercipta untuk the propagation of
policy, idea or rationality, increase funding, problem solving (in order to reach objective),
more staff dan public relation.

Program optimalisasi pelaksanaan pendidikan kesetaraan Kota Depok dilakukan


dengan cara mempromosikan yang tepat dan menarik, serta pembiayaan penyelenggaraan
ujian praktek A/B/C yang ditanggung oleh pemerintah kota Depok. Optimalisasi pelaksanaan
pendidikan kesetaraan yang berkeadilan didasari masih banyaknya masyarakat yang belum
memahami bahwa pendidikan kesetaraan memiliki status yang sederajat dengan sekolah
formal. Padahal lulusan dari pendidikan kesetaraan baik Paket A/B/C, mempunyai hak dan
kedudukan yang sama dengan pendidikan formal lainnya, serta kesempatan untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Khususnya di kota Depok yang pada tahun
2014, animo masyarakat terhadap pendidikan kesetaraan sangat rendah, hal ini diakibatkan
karena minimnya pemahaman masyarakat dan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap
keberadaan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Terbatasnya aksesibilitas
masyarakat terhadap sarana prasarana penyelenggaraan pendidikan kesetaraan turut
memberikan kontribusi rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembelajaran
melalui program kejar paket A/B/C. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan
strategi pola komunikasi melalui sosialisasi yang proaktif dan strategi sistem pembelajaran
yang efektif.

Inovasi birokrasi di Kota Depok dengan mengadakan program kesetaraan sekolah


kejar paket A, B, dan C. Program ini awalnya diselenggarakan oleh Pusat Kegiatan Belajar
Mengajar (PKBM) yang dikelola swasta, tetapi kemudian diambil alih Disdik dengan tidak
dipungut biaya sama sekali. Hingga saat ini, program kejar paket A, B, dan C telah
meluluskan ribuan siswa yang tersebar di 11 kecamatan. Program ini juga berkaitan erat
dengan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana pemerintah memiliki
peran untuk meningkatkan rata-rata lama sekolah. IPM merupakan salah satu ukuran kualitas
yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kualitas pembangunan manusia
berhasil dicapai. Untuk IPM pendidikan, rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun
yang dihabiskan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis
pendidikan formal yang pernah dijalani. Indikator ini dihitung dari variabel pendidikan
tertinggi yang ditamatkan dan tingkat pendidikan yang sedang diduduki.

Tujuan optimalisasi pelaksanaan pendidikan kesetaraan ini adalah 1) Peningkatan


aksesibilitas masyarakat terhadap pendidikan kesetaraan; 2) Pembuatan database peta
penyebaran warga yang belum memiliki ijazah di tiap kecamatan; 3) Peningkatan citra
institusi pendidikan kesetaraan melalui jaminan kualitas kinerja tutor, bahan ajar dan proses
pembelajaran. Sedangkan Manfaat nya adalah agar dapat meningkatkan partisipasi aktif dan
minat belajar masyarakat di luar usia sekolah untuk dapat mengikuti kesempatan belajar yang
sama dan meningkatkan kualitas pendidikan baik pribadi maupun keluarga yang pada
akhirnya dapat meningkatkan derajat keluarga.

Kemanfaatan dari Program optimalisasi pelaksanaan pendidikan kesetaraan ini adalah

1. Meningkatnya kualitas pendidikan baik pribadi maupun keluarga dengan adanya


partisipasi aktif dan minat belajar masyarakat di luar usia sekolah untuk dapat
mengikuti program kejar paket A/B/C
2. Terjaminnya masa depan yang lebih jelas dengan adanya ijazah pendidikan kesetaraan
untuk dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan dapat digunakan untuk
melamar pekerjaan

Capaian program optimalisasi pelaksanaan pendidikan kesetaraan adalah sebagai berikut:

1. Seluruh tahapan sudah selesai dilaksanakan meski dalam skala terbatas.


2. Telah dilakukan replikasi secara masif dalam lingkup kota Depok.
3. Ditambahkannya program keahlian sesuai dengan minat dan bakat dari peserta ajar
yang disebut dengan program paket C+, dalam program ini peserta didik akan
mendapatkan pelajaran tambahan pada SMK-SMK di Kota Depok yang sesuai dengan
minat dan bakat dari peserta didik.
4. Dinas Pendidikan Kota Depok juga sudah menjalin kerjasama dengan beberapa
perusahaan di Kota Depok terkait dengan dana CSR (corporate social responsibility).

Faktor penghambat dari Program optimalisasi pelaksanaan pendidikan kesetaraan adalah:

1. Minimnya informasi tentang program pendidikan kesetaraan yang diterima


masyarakat;
2. Minimnya kepedulian masyarakat sekitar terhadap warganya sendiri yang belum
memiliki ijazah ataupun yang putus sekolah;
3. Minimnya pemahaman tenaga pendidik terhadap pendidikan kesetaraan;
4. Minimnya bahan ajar yang ringkas untuk akselerasi proses pembelajaran;

Alternatif solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah

1. Penyiapan konten sosialisasi informasi yang ringkas dan mudah dipahami masyarakat
umum;
2. Penyuluhan penyadaran masyarakat yang berkesinambungan terhadap pentingnya
pendidikan untuk meningkatkan strata sosial keluarganya;
3. Sosialisasi kepada seluruh tenaga pendidik secara berjenjang dan bertahap tentang
pendidikan kesetaraan;
4. Optimalisasi peran serta para guru dan pengawas yang tergabung dalam MGMP
(Musyawarah Guru Mata Pelajaran) untuk menyusun bahan ajar yang ringkas bagi
warga belajar.