Anda di halaman 1dari 9

PRAKTIKUM II.

Topik : Gerak Kapiler dalam Tanah


Tujuan : Untuk mengamati gerak kapiler air dalam Tanah yang berbeda-
beda
Hari/tanggal : Selasa/03 Oktober 2017
Tempat : Rumah Kaca 2 PMIPA FKIP Universitas Lambung Mangkurat
Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat:
1. Pipa gelas (silinder), diameter ± 5 cm dan panjang ± 75 cm, sebanyak 4
buah.
2. Statif dan klem
3. Beaker Glass 100 ml
4. Baki/nampan
5. Alat tulis
6. Alat dokumentasi
B. Bahan:
1. Tanah merah, lempung, pasir, dan gambut yang telah dikeringkan dan
dihaluskan.
2. Air
3. Kain kasa
4. Karet gelang

II. CARA KERJA


1. Menyiapkan statif dan klemnya, menutup salah satu ujung pipa gelas dengan
kain kasa dan pasang dengan baik pada statif dan klemnya.
2. Memasukkan masing-masing sampel tanah (500 gram) ke dalam pipa gelas
yang telah disediakan, kemudian menegakkan pipa gelas yang berisi tanah ke
dalam beaker glass yang telah berisi air sedalam 5 cm (200 ml).
3. Memperhatikan dalam waktu 15 menit pertama, pada tanah yang mana air
paling cepat meresap (naik).
4. Mengamati kenaikan air dalam pipa gelas tersebut selama satu minggu
percobaan dan mengukur tinggi air kapilernya.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 1


5. Tinggi permukaan air dalam beaker.glass diusahakan selalu tetap, dengan cara
menambahkan air jika berkurang. Mencatat volume air yang telah dilakukan.

III. TEORI DASAR


Tanah merupakan media yang penting bagi tumbuhnya tumbuhan. Hal ini
disebabkan karena tanah di samping sebagai bahan penyangga untuk berdirinya
tumbuhan, tanah juga merupakan sumber mineral dan air bagi tumbuhan di
atasnya. Sedangkan air merupakan salah satu komponen penting dalam tanah
yang dapat menentukan suatu tumbuhan dapat hidup atau tidak. Hubungan antara
tanah dan air dapat diukur dengan berbagai parameter. (Noorhidayati, 2017).
Dalam hubungan air tanaman, pertumbuhan tanaman sangat bergantung
pada interaksi antar sel dengan lingkungannya. Dengan hilangnya air dari tanah
melalui tanaman, maka kandungan air dalam tanah akan berkurang. Begitupun
dengan tanaman melalui proses transpirasi akan mengurangi kandungan air
dalam jaringan tanaman. Agar tanaman terhindar dari kekeringan maka suplai air
dalam tanah harus dapat mencukupi untuk menunjang pertumbuhan. (Hariyati.
2004)
Air tanah merupakan salah satu bagian penyusun tanah. Air tanah hampir
seluruhnya berasal dari udara dan atmosfer terutama di daerah tropis air hujan itu
dapat merembes kedalam tanah yang disebut infiltrasi. Sedangkan sisanya
mengalir dipermukaan tanah. Air infiltrasi tadi bila dalam jumlah banyak dan
terus secara vertikal dan meninggalkan daerah perakarannya yang disebut
perkolasi, yang akhirnya sampai pada lapisan yang kedap air yang kemudian
kumpul disitu menjadi air (Hanafiah. 2004)
Banyaknya air yag tersedia bagi tanaman dicari dengan jalan penentuan
kandungan air pada tanaman lapang dikurangi dengan persentase keadaan tanah
pada titik layu permanen. Dalam hal ini nilai-niainya sangat ditentukan terutama
oleh tekstur tanah. Tekstur tanah yang lebih tinggi mempunyai tekstur yang
halus, sebaliknya tekstur yang rendah mempunyai tekstur yang kasar nilainya
akan lebih rendah lagi. (Hanafiah. 2004)
Kapasitas kandungan air tanah maksimum adalah jumlah air maksimum
yang dapat ditampung oleh tanah setelah hujan turun dengan sangat lebat atau
besar. Semua pori-pori tanah baik makro maupun mikro, dalam keadaan terisi
oleh angin sehingga tanah menjadi jenuh dengan air. Jika terjadi penambahan air

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 2


lebih lanjut, maka akan terjdi penurunan air gravitasi yang bergerak lurus terus
kebawah. (Hanafiah. 2004)

IV. HASIL PENGAMATAN


A. Flowchart

B. Tabel Hasil Pengamatan


1. Kenaikan Air
Kenaikan air hari ke- (cm) Rata-
No. Jenis Tanah
1 2 3 4 5 6 rata

1 Lempung 6,5 21,06 2,66 1,93 0,33 1 5,58

2 Gambut 3,16 36,5 2,5 1,33 0,63 3,1 7,87

3 Pasir 10,3 5,6 0 0,16 0 0,066 2,68

4 Merah 8 16,3 0,23 4,033 2,63 2,9 5,68

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 3


2. Penambahan air
Penambahan air (ml) Rata-
No. Jenis Tanah
1 2 3 4 5 6 rata

1 Lempung 0 33,33 3,33 5 0 3,33 7,50

2 Gambut 0 55 3,33 1,66 0 3,33 10,55

3 Pasir 0 23,33 0 0 0 1,66 4

4 Merah 0 50 0 4,033 0 16,7 11,17

C. Foto Pengamatan

Dokumentasi Pribadi. 2017

V. ANALSIS DATA
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa gerak
kapiler tanah yang paling tinggi adalah pada tanah gambut dengan rata-rata 7,87
cm, pada tanah merah kenaikan air mencapai rata-rata 5,68 cm, tanah lempung
kenaikan airnya mencapai rata-rata 5,58 cm, dan tanah pasir kenaikan airnya
mencapai rata-rata 2,68 cm.
Penambahan air yang paling banyak adalah pada tanah merah dengan rata-
rata penambahan 11,17 ml, tanah gambut penambahan air dengan rata-rata 10,55
ml, tanah lempung penambahan air dengan rata-rata 7,50, dan tanah pasir dengan
rata-rata penambahan air 4 ml. Antara kenaikan air dengan penambahan air tidak
sesuai. Pada tanah gambut penyerapannya paling tinggi, ternyata penambahan
airnya hanya 10,55 ml. Sedangkan pada tanah merah yang tingkat penyerapannya
tertinggi kedua memiliki penambahan air terbanyak yaitu sebesar 11,17 ml. Hal

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 4


ini dikarenakan kesalahan praktikan yang kurang teliti dalam penambahan dan
juga bisa disebabkan masuknya air hujan ke dalam beaker glass sehingga ketika
pengamatan terhadap penambahan air, penambahan air tidak bisa diukur karena
tidak diketahui seberapa besar penambahan airnya.
1. Tanah Lempung
Dari hasil pengamatan, tanah lempung memiliki kenaikan air dengan
rata-rata 5,58 cm dan penambahan air sebanyak 7,50 ml. dari Data dapat
dilihat bahwa tanah lempung memiliki kenaikan air yang sedikit jika
dibandingkan dengan tanah gambut dan tanah merah.
Menurut Terzaghi (1987), tanah lempung merupakan tanah dengan
ukuran mikroskopis sampai dengan sub mikroskopis yang berasal dari
pelapukan unsur-unsur kimiawi penyusunan batuan. Tanah lempung sangat
keras dalam keadaan kering, ersifat plastis pada keadaan air sedang,
sedangkan pada keadaan air yang lebih tinggi, tanah lempung akan bersifat
lengket (kohesif) dan sangat lunak.
Menurut Hardiyatmo (1999), sifat-sifat yang dimiliki tanah lempung
adalah sebagai berikut:
a. Ukuran butiran halus, yaitu kurang dari 0,002 mm.
b. Permeabilitas rendah
c. Kenaikan air kapiler tinggi
d. bersifat sangat kohesif
e. kadar kembang susut yang tinggi
f. Proses konsolidasi lambat.
Mennurut Sari (2016), satu sifat yang dimiliki tanah liat atau lempung,
yakni sulit untuk menyerap air. Karena jenis tanah ini sulit untuk menyerap
air, maka daerah yang memiliki tanah lempung ini tidak cocok digunakan
sebagai lahan pertanian. Hal ini karena lahan pertanian sudah membutuhkan
lapisan tanah yang memiliki sifat mudah menyerap air.
Menurut Hardiyatmo (1999), berdasarkan ukuran butirannya, tanah
lempung merupakan golongan partikel yang berukuran antara 0,02 mm
sampai 0,005 yang terdiri dari mineral-mineral lempung yang berukuran
kurang dari 2𝜇𝑚. Jenis mineral lempung yang biasanya terdapat pada tanah
lempung adalah:

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 5


a. Kaolinite
kaolinite merupakan anggota kelompok kaolinite serpentin, yaitu hidrus
alumino silikat dengan rumus Al2, Si2O5(OH)4. Kekokohan sifat struktur
dari partikel kaolinite
b. Illite
Dengan rumus kimia KyAl2 (Fe2 Mg2 Mg3) (Si4yAly) O10 (OH)2 adalah
mineral bermika yang sering dikenal sebagai mika tanah dan merupakan
mika yang berukuran lempung. Istilah illte dipakai untuk tanah berbutor
halus, sedangkan tanah berbutir kasar disebut mika hidrus.
c. Montmorilonite
mineral ini memiliki potensi plastisitas dan mengembang atau menyusut
yang tinggi sehingga bersifat plastis pada keadaan basah dank eras pada
keadaan kering. Rumus kimia montmorillonite adalah Al2 Mg (SiO10)
(OH)2 xH2O.

2. Tanah Gambut
Dari hasil pengamatan, tanah gambut memiliki kenaikan air dengan
rata-rata 7,87 cm dan penambahan air sebanyak 10,55 ml. Dari data dapat
terlihat bahwa tanah gambut paling banyak mneyerap air, sehingga tingkat
kenaaikan airnya paling tinggi.
Menurut Stevenson (1994), tanah gambut tebentuk dari timbunan bahan
organik, sehingga kansungan karbon pada tanah gambut sangat besar. Fungsi
organik tanah gambut di Indonesia lebih dari 95%, kurang dari 5% sisanya
adalah fraksi anorganik.
Menurut Sabihametal (1997) dan Saragih (1996), secara alamiah tanah
gambut memiliki tingkat kesuburan rendah, karena kandungan unsur haranya
rendah dan mengandung beragam asam-asam organik yang sebagian besar
bersifat racun bagi tanaman. Namun demikian asam-asam tersebut merupakan
bagian dari tanah, yang menentukan kemampuan gambut untuk menahan
unsur hara. Untuk mengurangi pengaruh buruk asam-asam organik yang
beracun, dapat dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan yang banyak
mengandung kation polivalen seperti Fe, Al, Cu, dan Zn. Kation-kation
tersebut membentuk ikatan koordinasi dengan ligan organik membentuk
senyawa kompleks.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 6


Menurut Mutalib et al (1991) sifat fisik tanah gambut yang penting
dalam pemanfaatannya untuk pertanian meliputi kadar air, berat isi (bulk
density, BD), daya menahan beban (nearing capacity), subsiden (penurunan
permukaan), dan mongering tanah balik (Irriversible drying). Kada air tanah
gambut berkisar 100-1.300% dari berat keringnya.
Menurut Nugroho et al (1997) dan Widjaja-Adhi (1988), gambut
mampu menyerap air sampai 13 kali bobotnya, sehingga gambut dikatakan
bersifat hidrofilik. Kadar air yang tinggi menyebabkan BD menjadi rendah,
gambut menjadi lembek dan daya menahan bebannya rendah. Hal ini
menyulitkan beroperasinya peralatan mekanisasi karena tanahnya yang
empuk. Gambut juga tidak bisa menahan pokok tanaman tahunan untuk
berdiri tegak. Tanaman perkebunan seperti karet, kelapa sawit atau kelapa
sering kali doyong atu bahkan roboh.

3. Tanah Pasir
Dari hasil pengamatan, tanah pasir memiliki kenaikan air dengan rata-
rata 2,68 cm dan penambahan air sebanyak 4 ml. Dari data dapat dilihat bahwa
tanah pasir sedikit menyerap air. Sehingga kenaikan airnya paling rendah di
bandingkan tanah lempung, gambut, dan merah.
Menurut Kanisius (1983) tanah pasir memiliki berbagai macam bentuk.
Karena bentuknya yang beraneka ragam, maka hubungannya satu dengan
yang lain tidak rapat, sehingga banyak terdapat pori-pori pada tanah pasir. Pori
ini lah yang menyebabkan perbedaan air dan udara di dalam tanah menjadi
baik, negitu pula suhunya.
Menurut Robin (2016) tanah pasir memiliki tekstur yang kasar. Terdapat
ruang pori-pori yang besar diantara butiran-butirannya sehingga kondisi tanah
ini menjadi struktur yang lepas. Dengan kondisi yang seperti itu menjadikan
tanah pasir ini memiliki kemampuan yang rendah dalam mengkat air. Pada
dasarnya, tanah pasir merupakan tanah yang tidak cocok untuk digunakan
sebagai media tanamn karena partikelnya yang besar dan kurang dapat
menahan air. Apabila digunakan sebagai media tanam, air akan mengalami
infiltrasi, bergerak ke bawah melalui rongga tanah sehingga menyebabkan
tanaman kekurangan air dan menjadi layu.
Berdasarkan dari hasil pengamatan dan literatur terdapat perbedaan.
Pada hasil pengamatan kenaikan iar pada tanah pasir sangat rendah, yaitu

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 7


hanya 2,68 cm, namun pada literatur dikatakan bahwa tanah pasir kurang
dapat menahan air, sehingga seharusnya air yang diserap semakin banyak
karena tidak ada kemampuan dalam megikat tanah.

4. Tanah Merah
Dari hasil pengamatan, tanah merah meiliki kenaikan air dengan rata-
rata 5,68 cm dan penambahan air sebanyak 11,17 ml. dari data dapat dilihat
bahwa tanah merah memiliki kenaikan air yang cukup tinggi.
Menurut Fatma (2016), tanah laterit atau tanah merah merupakan salah
satu jenis tanah yang mempunyai keadaan suhu yang relative lebih tinggi.
Tanah ini semula memang mempunyai tingkat kesuburan yang sangat baik,
namun karena pengaruh iklim yang sering hujan, maka unsur-unsur hara yang
terkandung di dalamnya akan ikut larut Bersama air. Karakteristik dari tanah
laterit ialah mudah menyerap iar, selain itu teksturnya relatif padat dan juga
kokoh. Tanah laterit terbentuk pada lingkungan yang mempunyai cuaca
lembab, dingin, atau pada genangan-genangan air. Kandungan yang terdapat
pada tanah laterit yaitu zat besi dan aluminium. Tanah laterit bukanlah
termasuk ke dalam golongan tanah yang subur, namun tetap bisa ditumbuhi
oleh beberapa macam tumbuhan, seperti palawija, jagung, kelapa sawit, dan
lain-lain.

VI. KESIMPULAN
1. Tanah lempung memiliki kenaikan air dengan rata-rata 5,58 cm dan
penambahan air dengan rata-rata 7,50 ml, sehingga tanah lempung memiliki
kenaikan air yang sedikit
2. Tanah gambut memiliki kenaikan air dengan rata-rata 7,87 cm dan
penambahan air dengan rata-rata 10,55 ml, sehingga tanah gambut paling
banyak menyerap air dan kenaikan airnya paling tinggi
3. Tanah pasir memiliki kenaikan air dengan rata-rata 2,68 cm dan penambahn
air dengan rata-rata 4 ml, sehingga tanah pasir paling sedikit kenaikan airnya.
4. Tanah merah memiliki kenaikan air dengan rata-rata 5,68 cm dan penambahan
air dengan rata-rata 11,17 ml, sehingga tanah merah memililiki kenaikan air
yang cukup tinggi.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 8


VII. DAFTAR PUSTAKA
Fatma, desi. 2016. Tanah laterit. Diakses melalui https://ilmugeografi.com/ilmu-
bumi/-tanah/tanah-laterit. Pada tanggal 14 Oktober 2017

Hanafiah, K.A. 2004. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Rajawali

Hardiyatmo, H. C. 1999. Mekanika Tanah I. Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Kanisius. 1983. Dasar-dasar bercocok tanam. Yogyakarta : Kanisius

Mutalib. et al. 1991. Characterization distribution and utilization of peet in


Malaysia. Proc International Syposium on topical peatland. 6-10 May
1991. Kuching, Serawak Malaysia.

Noorhidayati dkk. 2017. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. PMIPA


FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.

Nugroho K. G. Gianinazzi and IPG. Widjaja-Adhi. 1997. Soil Hidrolic


Properties of Indonesia Peat PP. 147-156 in Riely and page (EDS)
Biodiversity and sustainable of Tropical Peat and Peatland. Samara
Publishing Ltd. Cordigan US

Robin. 2016. Tanah Pasir. Diakses melalui https://ilmugeografi.com/ilmu-


bumi/tanah/tanahpasir. Pada tanggal 14 Oktober 2017

Sabihan, et. al. 1997. Phonolic in Indonesia peat. PP 289-292. In rieley and page
(eds). Biodiversity and sustainability Of tropical peat and peatland. Samara
Publishing Ltd Cardigan Uk

Saragih, Es. 1996. Pengendalian asam-asam organik meracun dengan


penambahan Fe (III) pada tanah gambut Jambi. Thesis S2 Program
Pascasarjana ITP

Sari, maya. 2016. Tanah Liat. Diakses melalui https://ilmugeografi.com/ilmu-


bumi/tanah/tanah-liat. Pada tanggal 14 Oktober 2017

Stevensor, F. J. 1994. Humus Chemistry. Genesis, Composition, and Reaction


Jhon Withey and Sons. Inc. New York 443P

Terzaghi K. dan R. B. Reck. 1987. Mekanika tanah dalam Praktek Rekayasa I.


Alih Bahasa Bagus W dan K. Benny. Erlangga : Jakarta

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 9

Anda mungkin juga menyukai