Anda di halaman 1dari 11

PRAKTIKUM II.

Topik : Kadar Air anah pada Kapasitas Lapang


Tujuan : Untuk mengamati kadar air tanah pada kapasitas lapang beberapa
jenis tanah
Hari/tanggal : Selasa/10 Oktober 2017
Tempat : Rumah Kaca 2 PMIPA FKIP Universitas Lambung Mangkurat
Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat:
1. Pipa gelas (silinder), diameter ± 5 cm dan panjang ± 75 cm, sebanyak 4
buah.
2. Statif dan klem
3. Baki
4. Alat Tulis
5. Kamera
B. Bahan:
1. Tanah merah, lempung, pasir, dan gambut yang telah dikeringkan dan
dihaluskan.
2. Air
3. Kain kasa

II. CARA KERJA


1. Menyiapkan statif dan klemnya, menutup salah satu ujung pipa gelas dengan
kain kasa dan pasang dengan baik pada statif dan klemnya.
2. Memasukkan masing-masing sampel tanah (500 gram) ke dalam pipa gelas
yang telah disediakan.
3. Menyiramkan air ke dalam pipa gelas.
4. Mengamati penurunan air dalam pipa gelas selama 5 hari
5. Mengukur penurunan air pada setiap harinya
6. Setelah 5 hari tanah akan dioven, tetapi sebelumnya tanah ditimbang terlebih
dahulu untuk mendapatkan berat basah.
7. Setelah dioven selama 24 jam, tanah ditimbang kembali untuk mendapatkan
berat kering.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 10


III. TEORI DASAR
Tanah merupakan media yang penting bagi tumbuhnya tumbuhan. Hal ini
disebabkan karena tanah di samping sebagai bahan penyangga untuk berdirinya
tumbuhan, tanah juga merupakan sumber mineral dan air bagi tumbuhan di
atasnya. Sedangkan air merupakan salah satu komponen penting dalam tanah
yang dapat menentukan suatu tumbuhan dapat hidup atau tidak. Hubungan antara
tanah dan air dapat diukur dengan berbagai parameter. (Noorhidayati, 2017).
Kapasitas lapang adalah jumlah air maksimum yang dapat disimpan oleh
suatu tanah. Keadaan ini, dapat dicapai jika kita memberi air pada tanah sampai
terjadi kelebihan air. Setelah itu kelebihan airnya dibuang. Jika keadaan ini
semua rongga pori terisi air (Sutanto. 2005).
Air tanah yang berada diantara kapasitas lapan dan titik layu permanen
merupakan air yang dapat digunakanoleh tanaman, oleh karena itu disebut air
tersedia (avolilable water). Perbedaan tekstur, kadar bahan organi dan
kematangannya merupakan penyebab berbedanya tingginya kadar air pada
masing-masing kondisi kapasitas lapang, titik layu permanen dan air tersedia.
Hal ini dikarenakan kandungaan air pada saat kapasitas lapang dan titik layu
permanen berbeda pada setiap tanah yang memiliki tekstur berbeda. Pada tanh
pasir nilai titik layu permanen maupun kapasitas lapang berada pada nilai
terendah. Nilai-nilai itu semakin meningkat dengan semakin tingginya kadar
debu, irat dan bahan organik tanah. Tanah lempung liat merupakan tanah yang
mempunyai nilai titik layu permanen dan kapasitas lapang tertinggi, yang berarti
nilai air tersedia juga paling tinggi. ( Islami dan Utomo. 1995 ).

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 11


IV. HASIL PENGAMATAN
A. Flowchart

B. Table Hasil Pengamatan


1. Tabel Kadar Air Tanah pada Kapasitas Lapang
Penurunan Air (cm)
No. Jenis Tanah Jumlah Rata-rata
1 2 3 4 5
1. Tanah 6,23 1,76 0,67 0 0,1 8,78 1,752
Merah
2. Tanah 5,83 4,9 0,9 0,46 0,3 12,39 2,478
Lempung
3. Tanah Pasir 14,3 3,53 0,37 0,37 0,67 19,54 3,908
4. Tanah 16 2,27 0,33 0,2 0,13 18,93 3,786
Gambut

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 12


2. Tabel Kapasitas Air
No. Jenis Tanah Berat Berat Kapasitas
basah kering lapang
(gr) (gr) (%)
1. Lempung 56,27 42,93 23,70
2. Gambut 62,70 46,33 26,10
3. Pasir 120,06 113,9 5,13
4. Merah 67,46 54,20 19,65

3. Persentase Kapasitas Lapang


𝐵𝐵 − 𝐵𝐾
𝑥 100%
𝑇𝑎𝑛𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑠𝑎ℎ
a. Kapasitas Lapang Tanah Merah
56,27 − 42,93
𝑥 100%
56,27
13,34
= x 100%
56,27

= 23,70%

b. Kapasitas Tanah Lempung


62,70 − 46,33
𝑥 100%
62,70
16,37
= x 100%
62,70

= 76,10%

c. Kapasitas Tanah Pasir


120,06 − 113,9
𝑥 100%
120,06
6,16
= x 100%
120,06

= 5,13%

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 13


d. Kapasitas Lapang Tanah Gambut
67,46 − 54,20
𝑥 100%
67,46
13,26
= x 100%
67,46

= 19,65 %

C. Foto Pengamatan

(Sumber: Dok. Pribadi. 2017) (Sumber: Dok. Pribadi. 2017)


Menyiapkan 4 jenis tanah Menimbang masing-masing
yang akan digunakan tanah seberat 500 gram

(Sumber: Dok. Pribadi. 2017)


(Sumber: Dok. Pribadi. 2017)
Memasukkan tanah kedalam
Menyiapkan rakitan alat
pipa silinder
seperti pada gambar

(Sumber: Dok. Pribadi. 2017)


(Sumber: Dok. Pribadi. 2017)
Setelah pipa berisi tanah
Menimbang berat basah tanah
sampai penuh, dimasukkan
setelah 5 hari peresapan air
air dan diukur selama 5 hari

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 14


(Sumber: Dok. Pribadi. 2017)
Menimbang berat kering keempat jenis tanah setelah dilakukan peng-ovenan

V. ANALISIS DATA
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa kapasitas
lapang yang paling tinggi adalah tanah lempung yaitu 26,10%. Pada tanah merah
kapasitas lapangnya 23,70%, tanah gambut 19,65%, dan tanah pasir mempunyai
kapasitas lapang terendah yaitu 5,13%.
Penurunan air yang paling tinggi adalah pada tanah pasir dengan rata-rata
penurunan 3,908 cm. Tanah gambut penurunan dengan rata-rata 3,78 cm. Tanah
lempung penurunan air dengan rata-rata 2,478 cm dan tanah merah memiliki
penurunan terendah dengan rata-rata 1,752 cm.
Menurut Heedler (2010) tanah mempunyai kapasitas lapang apabila tanah
kering dibasahi dengan air sampai air yang membasahi tanah tersebut bergerak
kapiler dan gaya gravitasinya tidak mampu lagi menurunkan air itu lebih lanjut.
Kapasitas lapangnya terlebih dahulu dikeringkan dan dihaluskan sampai terurai
menjadi partikel-partikel kecil dan masuk ke dalam tanah.
1. Tanah Merah
Berdasarkan dari hasil pengamatan, tanah merah memiliki penurunan
air dengan rata-rata 1,752 cm dengan kapasitas lapangnya 23,70%. Kapasitas
tanah lapang pada tanah merah diperoleh dari berat basah dan berat kering.
Tanah merah memiliki berat basah 52,26 gram dan berat keringnya 42,92
gram. Tanah merah memiliki kapasitas lapang yang cukup tinggi jika
dibandingkan dengan tanah gambut dan tanah pasir.
Menurut Fatma (2010) Tanah laterit atau tanah merah merupakan salah
satu jenis tanah yang mempunyai keadaan suhu yang relative lebih tinggi.
Tanah ini semula memang mempunyai tingkat kesuburan yang sangat tinggi,
namun karena pengaruh iklim yang sering hujan, maka unsur-unsur hara yang

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 15


terkandung di dalamnya akan larut bersama air. Karakteristik dari tanah laterit
ialah mudah menyerap air, selain itu teksturnya relatif padat dan kokoh.
2. Tanah Lempung
Dari hasil pengamatan, tanah lempung memiliki penurunan air dengan
rata-rata 2,478 cm dengan kapasitas lapangnya 26,10%. Tanah lempung
memiliki berat basah 62,70 gram dan berat kering 46,33 gram. Tanah lempung
memiliki kapasitas lapang yang tinggi jika dibandingkan dengan tanah lainnya
(merah, gambut, dan pasir).
Menurut Hardiyatmo (1999) sifat-sifat yang dimiliki tanah lempung
adalah sebagai berikut:
a. Ukuran butiran halus, yaitu kurang dari 0,002 mm.
b. Permebilitas rendah
c. Kenaikan air kapiler tinggi.
d. Bersifat sangat kohesif
e. Kadar kembang susut yang tinggi
f. Proses konsolidasi lambat.
Menurut Sarwomo (2003) tanah liat memiliki ciri rasa agak licin, agak
melekat dan mudah dibentuk bola agak teguh, dapat dibentuk gulungan yang
agak mudah hancur. Tanah jenis ini memiliki tekstur liat karena lebih halus,
maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebuh besar
sehingga kemampuan untuk menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi.
Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada bertekstur
kasar.
Berdasarkan dari literatur di atas, bahwa tanah lempung memiliki
tekstur yang liat dan halus, sehingga kemampuan untuk menahan airnya
tinggi. Oleh karena itu pada tanah lempung memiliki kapasitas lapang yang
tinggi.
3. Tanah Gambut
Dari hasil pengamatan, tanah gambut memiliki penuruna air dengan
rata-rata 3,78 cm dengan kapasitas lapangnya 19,65%. Tanah gambut
memiliki berat basah 67,46 gram dan berat kering 54,20 gram. Tanah gambut
memiliki kapasitas lapang yang tinggi jika dibandingkan dengan tanah pasir.
Menurut Mutalib et. al. (1991) sifat fisik tanah gambut yang penting
dalam pemanfaatan untuk pertanian meliputi kadar air, berat isi (bulk density,
BO), daya menahan beban (bearing capacity), subsiden (penurunan

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 16


permukaan), dan mongering tidak balik (Irreversible drying). Kadar air
gambut berkisar 100-1.300% dari berat keringnya.
Menurut Nugroho et al (1997) dan Widjaja-Adhi (1988), gambut
mampu menyerap air sampai 13 kali bobotnya, sehingga gambut dikatakan
bersifat hidrofilik. Kadar air yang tinggi menyebabkan BD menjadi rendah,
gambut menjadi lembek dan daya menahan bebannya rendah.
Menurut Sagiman (2007) tanah gambut jika di drainase secara
berlebihan akan menjadi kering dan kekeringan gambut ini disebut dengan
irreversible artinya gambut yang telah mongering tidak akan dapat menyerap
air kembali. Perubahan menjadi kering tidak balik ini disebabkan gambut yang
suka air (hidrofilik) berubah menjadi tidak suka air (hidrofobik). Karena
kekeringan, akibatnya kemampuan menyerap air gambut menurun sehingga
gambut sulit diusahakan bagi pertanian. Berkurangnya kemampuan menyerap
air meneybabkan volume gambut menjadi menyusust dn permukaan gambut
menurun (kempes). Perbaikan drainase akan menyebabkan air keluar dari
gambut kemudian oksigen masuk ke dalalm bahan organik dan meningkatkan
aktifitas sorganisme, akibatnnya terjadi dekomposisi bahan organik dan
gambut akan mengalami penyusutan sehingga permukaan gambut mengalami
penurunan.
Menurut Andrisse (1988) gambut memiliki daya menampung air
(kapasitas) sangat besar tapi daya isapnya (retensi) sangat rendah bila sudah
mengalami penurunan kadar air. Dalam kondisi jenuh, kandungan air gambut
mencapai 4,5-30 kali bobot keringnya, namun memiliki isapan matriks yang
rendah sehingga apabila permukaan air tanahnya diturunkan pada kedalaman
tertentu dalam waktu singkat kandungan airnya menurun secara drastic.
4. Tanah Pasir
Dari hasil pengamatan tanah pasir memiliki penurunan air dengan rata-
rata 3,908 cm dengan kapasitas lapang 5,13%. Tanah pasir memiliki berat
basah 120,06 gram dan berat kering 113,9 gram. Dari keempat jenis taah,
tanah pasirlah yang memiliki kapasitas lapang terendah, namun memiliki rata-
rata kenaikan air yang paling tinggi.
Menurut Kanisius (1983) tanah pasir memiliki berbagai macam bentuk.
Karena bentuknya yang beraneka ragam, maka hubungannya satu dengan
yang lain tidak rapat, sehingga banyak terdapat pori-pori pada tanah pasir. Pori

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 17


ini lah yang menyebabkan perbedaan air dan udara di dalam tanah menjadi
baik, negitu pula suhunya.
Menurut Robin (2016) tanah pasir memiliki tekstur yang kasar. Terdapat
ruang pori-pori yang besar diantara butiran-butirannya sehingga kondisi tanah
ini menjadi struktur yang lepas. Dengan kondisi yang seperti itu menjadikan
tanah pasir ini memiliki kemampuan yang rendah dalam mengkat air. Pada
dasarnya, tanah pasir merupakan tanah yang tidak cocok untuk digunakan
sebagai media tanamn karena partikelnya yang besar dan kurang dapat
menahan air.
Menurut Sarwono (2003) pasir memiliki nilai kaasitas lapang lebih
terkecil karena butir-butirannya berukuran lebih besra maka setiaap satuan
berat (misalnya tiap gram) mempunyai luas permukaan yang lebih kecil
sehingga sulit untuk menahan (menyerap) air dan unsur hara.
Dari hasil pengamatan, tanah pasir memiliki tingkat penurunan air yang
tinggi, yang artinya tanah pasir memiliki tingkta penyerapan air yang tinggi
juga. Namun tanah pasir memiliki kapasitas lapang paling rendah atau kecil,
karena tanah pasir tidak dapat menahan air hasil resapan.
Berdasarkan dari hasil pengamatan terhadap tanah merah, lempung,
gambut, dan pasir dapat diketahui baha kapasitas lapang dopengaruhi oleh tektur
tanah. Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil
dari pada tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada
pasir umumnya lebih mudah kering drai pada tanah bertekstur lempung atau liat.
Menurut islami dan utomo (1995) air tanah yang berada diantara kapasitas
lapang dan titik layu permanen merupakan air yang dapat digunakan oleh
tanaman. Oleh karena itu disebut air tersedia (available water). Perbedaan
tekstur, kadar bahan organik dan kematangannya merupakan penyebab
perbedaannya tinggi kadar air pada masing-masing kondisi kapasitas lapang, titik
layu permanen berbeda pada setiap tektur tanah. Pada tanah pasir nilai titik layu
permanen maupun kapasitas lapang berada pada nilai terendah. Nilai-nilai itu
semakin meningkat dengan tingginya kadar debu, liat, dan bahan organik tanah.
Tanah lempung liat merupakan tanah yang mempunyai nilai titik layu permanen
dan kapasitas lapang tertinggi, yang berarti nilai air tersedia juga paling tinggi.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 18


VI. KESIMPULAN
1. Tanah Merah memiliki penurunan air dengan rata-rata 1,752 cm dengan
kapasitas lapangnya 23,70%. Tanah merah memiliki kapasitas tanah yang
cukup tinggi.
2. Tanah lempung memiliki penurunan air dengan rata-rata 2,478 cm dengan
kapasitas lapangnya 26,10%. Tanah lempung memiliki kapasitas tanah paling
tinggi
3. Tanah gambut memiliki penurunan air dengan rata-rata 3,786 cm dengan
kapasitas lapangnya 19,65%. Tanah gambut memiliki kapasitas tanah yang
sedang.
4. Taah pasir memiliki penrunan air paling tinggi dengan rata-rata 3,908 cm
dengan kapasitas lapangnya 5,13%. Tanah pasir memiliki kapasitas taah yang
rendah.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Andriesse JP. 1988. Ekologi dan pengelolaan Tanah Gambut Tropipka. Roma :
Food And Agriculture Organization of The United Nation

Fatma, desy. 2016. Tanah Laterit. Diakses melalui http://ilmugeografi.com/ilmu-


bumi/tanah/tanah-laterit. Pada tanggal 14 Oktober 2017

Hardiyatmo, H.C. 1999. Mekanika tanah I. Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Heedler. 2010. Kapasitas Lapang tanah. Diktat Jurnal tanah, Vol 12 (9) : 540-
547.

Islami, T dan W H Utomo. 1995. Hubungan air, tanah, dan tanaman. Semarang:
IKIP Semarang Press
Kanisius. 1983. Dasar-dasar bercocok tanam. Yogyakarta: Kanisius

Mutalib et. al. 1991. Characterization distribution and utilization of peet in


Malaysia. Proc international sysposium on tropical peatland. 6-10 May
1991. Kuching, serawak Malaysia.

Noorhidayati dkk. 2017. Penuntun Praktikum Fisiologi tumbuhan. PMIPA FKIP


Universitas Lambung Mangkurat

Nugroho K. G. Gianinazzi and IPG. Widjaja-Adhi. 1997. Soil Hidrolic


Properties of Indonesia Peat PP. 147-156 in Riely and page (EDS)
Biodiversity and sustainable of Tropical Peat and Peatland. Samara
Publishing Ltd. Cordigan US

Robin. 2016. Tanah Pasir. Diakses melalui https://ilmugeografi.com/ilmu-


bumi/tanah/tanahpasir. Pada tanggal 14 Oktober 2017

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 19


Sagiman, S. 2007. Pemanfaatan Lahan Gambut dalam Perspektif Pertanian
Berkelanjutan. Fakultas Pertanian, Universitas Tanjung Pura, Pontianak

Sarwono. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: akademik


Pressindo.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan | 20