Anda di halaman 1dari 18

1

DAFTAR ISI

Halaman Judul

Daftar Isi .......................................................................................................................................... i

BAB I Pendahuluan ....................................................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ......................................................................................................................... 1


1.2. Rumusan Masalah .................................................................................................................... 1
1.3. Tujuan Penulisan ...................................................................................................................... 1

BAB II Pembahasan ...................................................................................................................... 2

BAB III Penutup ............................................................................................................................ 14

3.1. Kesimpulan .............................................................................................................................. 14

Daftar Pustaka .................................................................................................................................. 15

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kita sering mendengar banyak perusahaan yang terpuruk karena tata pemerintahan
sebuah perusahaan tersebut tidak baik sehingga banyak fraud atau praktik korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN) yang terjadi, sehingga terjadinya krisis ekonomi dan
krisis kepercayaan para investor, yang mengakibatkan tidak ada investor yang mau
membeli saham perusahaan tersebut. Artinya bisa dikatakan jika perusahaan tersebut
tidak menerapkan Corporate Governance dengan baik. Good Corporate Governance
dimaksudkan agar tata kelola perusahaan baik sehingga bisa meminimalisir praktek –
praktek kecurangan. Untuk menerapkan Good Corporate Governance dengan baik,
dapat menerapkan prinsip – prinsip dari Good Corporate Governance itu sendiri.
Terdapat beberapa sumber yang menyatakan apa saja prinsip – prinsip Good
Corporate Governance itu.

1.2. Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya yaitu:
1. Apa saja prinsip – prinsip dari Good Corporate Governance?

1.3. Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui apa saja prinsip – prinsip dari Good Corporate Governance.

1
BAB II
PEMBAHASAN

Adapun dari makalah ini menyebutkan 4 (empat) sumber yang menyatakan prinsip – prinsip
dari Good Corporate Governance, yaitu diantaranya:

A. Prinsip – Prinsip Good Corporate Governance Menurut The Organization for Economic
Cooperation and Development (OECD)
OECD menciptakan prinsip – prinsip good corporate governance dengan harapan dapat
dipergunakan sebagai bahan acuan internasional bagi para penguasa negara, investor,
perusahaan dan para stakeholders perusahaan (termasuk pemegang saham), baik di negara –
negara anggauta OECD maupun bagi negara non – anggauta. Harapan OECD menyajikan
bahan acuan internasional tersebut telah membawa hasil. Pada tahun 2004 Donald J.
Johnson, OECD Secretary General mengutarakan sejak beberapa tahun terakhir para
penguasa pemerintahan dan masyarakat bisnis di banyak negara mulai menyadari good
corporate governance dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap stabilitas
perkembangan pasar modal, iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Prinsip – prinsip corporate governance yang diterbitkan oleh OECD itu mencakup hal –
hal berikut:
1. Landasan Hukum Yang Diperlukan Untuk Menjamin Penerapan Good Corporate
Governance Secara Efektif (ensuring the basis for an effective corporate governance
framework)
Menurut OECD apabila pemerintah suatu negara menginginkan prinsip – prinsip
good corporate governance diterapkan secara efektif di negaranya, mereka wajib
membangun landasan hukum yang memungkinkan hal itu terjadi. Tanpa landasan
hukum yang kuat salah satu tujuan utama good corporate governance, yaitu melindungi
hak dan kepentingan para pemegang saham dan stakeholders yang lain sulit
dilaksanakan.
Landasan hukum tersebut antara lain berupa penciptaan (a) Undang – undang tentang
perseroan terbatas, (b) Undang – undang perburuhan, (c) Undang – undang tentang

2
kredit perbankan, (d) Ketentuan tentang standar akuntansi keuangan dan standar audit,
dan (e) Syarat dan prosedur pendaftaran saham perusahaan di bursa efek.
OECD menyarankan dalam menyusun undang – undang atau ketentuan hukum lain
yang bersangkutan dengan penerapan prinsip good corporate governance, pemerintah
hendaknya melakukan komunikasi dan konsultasi dengan perusahaan – perusahaan
lokal. Di samping itu pemerintah negara yang menerapkan prinsip – prinsip good
corporate governance disarankan memonitor penerapan prinsip – prinsip tersebut di
dunia bisnis negaranya. Apablia pemerintah menganggap undang – undang atau
ketentuan hukum baru perlu dikeluarkan, hendaknya mereka menjamin undang –
undang atau ketentuan hukum baru tersebut dapat diterapkan. Untuk itu diperlukan
dialog dengan asosiasi profesi dan pengusaha sebelum undang – undang itu
diundangkan. Undang – undang atau ketentuan hukum baru tidak boleh bertentangan
dengan undang – undang atau ketentuan hukum yang telah berlaku.

2. Hak Pemegang Saham Dan Fungsi Pokok Kepemilikan Perusahaan (the rights of
shareholders and key ownership functions)
Pemegang saham mempunyai hak – hak tertentu. OECD menyarankan hak – hak
tersebut dilindungi, baik secara hukum maupun oleh masing – masing perusahaan.
Sebagai contoh hak pemegang saham perusahaan publik adalah menjual kembali atau
memindah tangankan saham yang mereka miliki. Contoh hak pemegang saham yang
lain adalah menerima dividen dan ikut menghadiri rapat umum pemegang saham.
3. Perlakuan Yang Adil Terhadap Para Pemegang Saham (the equitable treatment of
shareholders)
Perusahaan wajib menjamin perlakuan yang adil terhadap semua pemegang saham
perusahaan, termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing.
Pemegang jenis saham yang sama (misalnya saham biasa) wajib mendapat jaminan
memperoleh perlakuan yang sama.
Dalam kaitannya dengan perlakuan adil itu sebelum membeli saham yang
diperdagangkan di bursa efek, setiap investor berhak mendapatkan informasi tentang
hak dan perlindungan terhadap saham yang akan mereka beli.

3
4. Peranan The Stakeholders Dalam Corporate Governance (the role of stakeholders in
corporate governance)
OECD juga menyarankan adanya perlindungan hak dan kepentingan para anggauta
the stakeholders non pemegang saham. Hal itu disebabkan karena keberhasilan operasi
bisnis perusahaan ditentukan oleh hasil kerjasama para anggauta the stakeholders,
termasuk para pemegang saham, karyawan, kreditur, pelanggan dan para pemasok
layanan jasa, bahan baku dan bahan pembantu.
5. Prinsip Pengungkapan Informasi Perusahaan Secara Transparan (disclosure and
transparency)
Prinsip good corporate governance lain yang disosialisasikan OECD kepada negara –
negara anggauta dan negara – negara non anggauta adalah pengungkapan informasi
perusahaan secara transparan. Menurut OECD Board of Directors perusahaan wajib
melaporkan kepada pemegang saham secara akurat, transparan dan tepat waktu, hal –
hal yang bersangkutan dengan kondisi keuangan, perubahan kepemilikan, kinerja bisnis
dan hal – hal penting lainnya yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup
perusahaan.
6. Tanggungjawab Dewan Pengurus (the responsibilities of the Board)
Organisasi Dewan Pengurus atau Board of Directors di banyak negara terdiri dari dua
lapis. Di Indonesia lapis pertama disebut Dewan Komisaris, sedangkan lapis kedua
disebut Direksi. Lapis pertama Board of Directors berfungsi sebagai pengarah dan
pengawas jalannya operasi bisnis perusahaan dan kinerja Direksi. Sedangkan fungsi
utama lapis kedua Board of Directors adalah mengelola harta, utang, dan kegiatan bisnis
perusahaan sehari – hari.
Board of Directors bertanggung jawab atas kepatuhan perusahaan yang mereka kelola
terhadap undang – undang atau ketentuan hukum yang berlaku, termasuk undang –
undang tentang perpajakan, perburuhan, persaingan, perkreditan, lingkungan hidup dan
keselamatan kerja.

4
B. Prinsip – Prinsip Good Corporate Governance Menurut The Australian Stock Exchange
(ASX)
ASX Corporate Governance Council menciptakan sepuluh prinsip good corporate
governance yang mereka sebut The Principles of Good Corporate Governance and Best
Practice Recommendations. Kesepuluh prinsip yang diciptakan council tersebut adalah
sebagai berikut.
1. Membangun Landasan Kerja Yang Kuat Bagi Manajemen Perusahaan Dan Board Of
Directors (Establish solid foundation for management and oversight by the Board)
Agar dapat mencapai tujuan bisnis mereka secara berhasil perusahaan wajib
membangun kesadaran para anggauta manajemen atas hak dan tanggung jawab mereka.
Board of Directors wajib menghayati dan melaksanakan hak mereka mengendalikan dan
mengawasi kegiatan bisnis perusahaan.
2. Menyusun Struktur Organisasi The Board Of Directors Yang Dapat Menjamin Efektifitas
Kerja Dan Meningkatkan Nilai Perusahaan (Structure the Board to add value)
3. Mengembangkan Kebiasaan Mengambil Keputusan Yang Etis Dan Dapat
Dipertanggungjawabkan (Promote ethical and responsible decision making)
4. Menjaga Integritas Laporan Keuangan (Safeguard integrity in financial reporting).
ASX menganjurkan manajemen perusahaan publik menyusun laporan keuangan
tengah tahunan dan menyampaikannya kepada Board of Directors. Selanjutnya the Board
akan meneruskannya kepada para pemegang saham.
5. Mengungkapkan Semua Informasi Tentang Kondisi Dan Perkembangan Perusahaan
Kepada Pemegang Saham Secara Tepat Waktu Dan Seimbang (Make timely and
balanced disclosure)
6. Menghormati Hak Dan Kepentingan Para Pemegang Saham (Respect the rights of
shareholders)
7. Menyadari Adanya Risiko Bisnis Dan Mengelolanya Secara Profesional (Recognise and
manage risk)
Perusahaan yang ditata kelola secara sehat menyusun prosedur mengevaluasi risiko
bisnis dan investasi yang mungkin akan mereka hadapi. Mereka mengelola risiko bisnis
secara profesional.

5
8. Mendorong Peningkatan Kinerja Board Of Directors Dan Manajemen Perusahaan
(Encourage enhanced performance)
9. Menjamin Pemberian Balas Jasa Pimpinan Dan Karyawan Perusahaan Yang Adil Dan
Dapat Dipertanggungjawabkan (Remunerate fairly and responsibly)
10. Memahami Hak Dan Kepentingan The Stakeholders Yang Syah (Recognize the
legitimate interests of stakeholders)

C. Prinsip – Prinsip Good Corporate Governance Menurut Keputusan Menteri Badan


Usaha Milik Negara Nomor: KEP-117/M-MBU/2002
Prinsip – prinsip Good Corporate Governance yang dimaksud dalam Keputusan ini
meliputi:
1. Transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan
keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan;
2. Kemandirian, yaitu suatu keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa
benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang
sehat;
3. Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban perusahaan
sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif;
4. Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat;
5. Kewajaran (fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak
stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

D. Prinsip – Prinsip Good Corporate Governance Menurut Komite Nasional Kebijakan


Governance (KNKG)
Kesuksesan dari suatu perusahaan dalam mencapai kinerja yang maksimal dan tetap
memperhatikan kepentingan stakeholders-nya adalah sangat diperlukan adanya prinsip yang
kuat. Menurut Buku Pedoman Umum Good Corporate Governance (GCG) Indonesia, yang
disusun oleh Komite Nasional Kebijakan Governnace/KNKG (2006), ada 5 prinsip yang
6
mesti diterapkan untuk mencapai tata kelola perusahaan yang baik. Lima prinsip tersebut
dapat disingkat TARIF. Prinsip-prinsip GCG menurut KNKG (2006) dapat dijelaskan
sebagai berikut:

1. TRANSPARANSI
Prinsip Dasar
Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus
menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan
dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk
mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundangan-
undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang
saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya.

Pedoman Pokok Pelaksanaan


1) Perusahaan harus menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan
dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh pemangku kepentingan sesuai dengan
haknya.
2) Informasi yang harus diungkapkan meliputi, tetapi tidak terbatas pada, visi, misi, sasaran
usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan, susunan pengendali, kepemilikan
saham oleh anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris beserta anggota keluarganya
dalam perusahaan dan perusahaan lainnya yang memiliki benturan kepentingan, sistem
pengendalian risiko, sistem pengawasan dan pengendalian internal, sistem dan
pelaksanaan Good Corporate Governance serta tingkat kepatuhannya, dan kejadian
penting yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan.
3) Prinsip keterbukaan yang dianut oleh perusahaan tidak mengurangi kewajiban untuk
memenuhi ketentuan perundang-undangan, rahasia jabatan dan hak-hak pribadi.
4) Kebijakan perusahaan harus tertulis dan secara proporsional dikomunikasikan kepada
pemangku kepentingan.
Transparansi artinya ada keterbukaan dalam melaksanakan suatu proses kegiatan
perusahan. Transparansi mendorong diungkapkannya kondisi perusahaan yang sebenanrnya
sehingga setiap pihak yang berkepentingan (stakeholders) dapat mengukur dan
7
mengantisipasi segala sesuatu yang menyangkut perusahaan. Transparansi dapat
diimplementasikan dengan penyajian secara terbuka laporan keuangan yang akurat dan tepat
waktu, kriteria yang terbuka tentang seleksi personil, informasi adanya seleksi,
pengungkapan transaksi atau kontrak dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan atau
kedudukan istimewa, struktur kepemilikan kemungkinan risiko yang dihadapi oleh
perusahaan.
Demikian juga, manajemen dan karyawan juga dasarnya mereka juga berhak untuk
mengetahui kondisi riil suatu perusahaan. Seringkali perusahaan tidak transparan baik
terhadap pihak internal maupun eksternal perusahaan. Secara psikologis, karyawan dapat
bekerja dengan kondisi yang lebih nyaman dan kondusif. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
yang terjadi ketika pihak manajemen dan karyawan tidak mengetahui adanya informasi
tersebut. Hal tersebut dapat merugikan mereka semua. Dengan demikian, transparansi
tersebut akan lebih memuaskan bagi pihak manajemen dan karyawan dan dapat merugikan
risiko terjadinya pemogokan ataupun tuntutan yang berlebihan dari manajemen dan
karyawan perusahaan.
Transparansi dapat juga diartikan sebagai ruang partisipasi dengan membuka akses dan
memberikan informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif, bagi menjalankan bisnis,
perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah
diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan mengungkapkan informasi
baik yang bersifat mandatory maupun yang voluntary informasi yang transparan dapat
membantu pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan.

2. AKUNTABILITAS (ACCOUNTABILITY)
Prinsip Dasar
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan
wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan
kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan
pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk
mencapai kinerja yang berkesinambungan.

8
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1) Perusahaan harus menetapkan rincian tugas dan tanggung jawab masing-masing organ
perusahaan dan semua karyawan secara jelas dan selaras dengan visi, misi, sasaran usaha
dan strategi perusahaan.
2) Perusahaan harus meyakini bahwa semua organ perusahaan dan semua karyawan
mempunyai kompetensi sesuai dengan tugas, tanggung jawab, dan perannya dalam
pelaksanaan GCG.
3) Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal yang efektif dalam
pengelolaan perusahaan.
4) Perusahaan harus memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran perusahaan yang
konsisten dengan nilai-nilai perusahaan, sasaran utama dan strategi perusahaan, serta
memiliki sistem penghargaan dan sanksi(reward and punishment system) .
5) Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, setiap organ perusahaan dan semua
karyawan harus berpegang pada etika bisnis dan pedoman perilaku (code of
conduct) yang telah disepakati.
Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau untuk
menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan manajemen perusahaan kepada pihak yang
memiliki hak atau wewenang untuk meminta pertanggungjawaban. Melalui penerapan
prinsip ini, suatu proses pengambilan keputusan atau kinerja dapat dimonitor, dinilai dan
dikritisi. Dengan prinsip akuntabilitas, direksi dan dewan pengawas diberikan wewenang dan
tanggung jawab, diwajibkan untuk melaporkan pelaksanaan wewenang dan tanggung jawab
tersebut, serta diawasi dan dikendalikan agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang.
Optimalisasi kinerja manajemen dan karyawan mendapat dukungan penuh dari penerapan
prinsip akuntabilitas, yang dibutuhkan untuk menciptakan manajemen yang efektif dan
efisien. Kebanyakan perusahaan kurang memperhatikan bagaimana manajemen perusahaan
berjalan dan mempercayakan sepenuhnya kepada manajemen tersebut. Hal ini tidak tepat
mengingat manajemen sendiri tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya mekanisme
check and balances yang dilakukan oleh komisaris. Mekanisme tersebut termasuk dalam
pengecekan laporan keuangan secara berkala, pengawasan intensif terhadap semua lini
manajemen, menentukan struktur dan besarnya manajemen yang paling sesuai dengan
kondisi perusahaan. Termasuk mencari sumber daya manusia yang bermutu dan benar-benar
9
berguna bagi efektivitas perusahaan. Untuk menjamin tercapainya akuntabilitas yang optimal
pada perusahaan tentu diperlukannya peran dari internal audit dan eksternal audit.
Akuntabilitas dapat dinyatakan sebagai kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban
dan menerangkan kinerja suatu perusahaan kepada pihak yang memiliki hak atau
berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.
Tanggung jawab manajemen melalui pengawasan efektif berdasarkan keseimbangan
kekuasaan antar manajer, pemegang saham, dewan komisaris dan auditor, merupakan bentuk
pertanggungjawaban manajemen kepada perusahaan dan pemegang saham. Perusahaan harus
dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu
perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan
dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan
lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang
berkesinambungan.

3. RESPONSIBILITAS (RESPONSIBILITY)
Prinsip Dasar
Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung
jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha
dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.

Pedoman Pokok Pelaksanaan


1) Organ perusahaan harus berpegang pada prinsip kehati-hatian dan memastikan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan, anggaran dasar dan peraturan perusahaan (by-
laws).
2) Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawab sosial dengan antara lain peduli
terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan dengan
membuat perencanaan dan pelaksanaan yang memadai.
Perusahaan yang telah memenuhi prinsip responsibiliti berarti perusahaan telah mentaati
peraturan perundangan yang ada dan melaksanakan tanggung jawab sosialnya. Bentuk
kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dapat diwujudkan dengan corporate social

10
responsibility (CSR). Perusahaan yang menerapkan program CSR akan membangun
hubungan harmonis dengan masyarakat dan merupakan investasi jangka panjang dari
perusahaan dalam membangun citra baik. Perusahaan yang memiliki citra yang baik menjadi
modal bagi perusahaan untuk dapat tumbuh dan berkelanjutan. Perusahaan akan lebih mudah
mendapatkan modal, dapat mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas, dan
perusahaan dapat meningkatkan pengambilan keputusan. Dengan demikian prinsip
responsibilitas adalah mengandung pengertian segala kegiatan perusahaan yang terkait
dengan pemenuhan kewajiban sosial atau bentuk kepedulian dari perusahaan terhadap
masyarakat dan lingkungan.
Prinsip responsibilitas menekankan perusahaan harus berpegang pada hukum yang
berlaku dan dapat mempertanggungjawabkan semua kegiatan perusahaan pada stakeholder
dan masyarakat. Konsekuensi dari prinsip responsibilitas dalam penerapannya perusahaan
harus memenuhi tanggung jawab sosialnya dan bukan hanya untuk mendapatkan keuntungan
saja. Dalam menjalankan usahanya perusahaan harus mentaati undang-undang yang ada,
seperti: undang-undang ketenagakerjaan, undang-undang perseroan, undang-undang
lingkungan hidup, dan undang-undang lainnya yang berkaitan dengan jenis perusahaan
tersebut. CSR memiliki tiga aspek penting, yang sering disingkat 3 P, yaitu: Profit, yang
megandung makna keuntungan, People yang mengandung makna keterlibatan perusahaan
pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat, dan Planet yang mengandung makna bahwa
perusahaan turut menjaga kelestarian lingkungan.

4. INDEPENDENSI (INDEPENDENCY)
Prinsip Dasar
Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola secara independen
sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat
diintervensi oleh pihak lain.

Pedoman Pokok Pelaksanaan


1) Masing-masing organ perusahaan harus menghindari terjadinya dominasi oleh pihak
manapun, tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu, bebas dari benturan kepentingan

11
dan dari segala pengaruh atau tekanan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan
secara obyektif.
2) Masing-masing organ perusahaan harus melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan
anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan, tidak saling mendominasi dan atau
melempar tanggungjawab antara satu dengan yang lain sehingga terwujud sistem
pengendalian internal yang efektif.
Prinsip independensi artinya bebas atau kemandirian, mengandung makna suatu
keharusan organ-organ yang ada di perusahaan dapat mengambil keputusan dengan baik
tanpa tekanan atau intervensi dari berbagai pihak dengan kepentingan yang hanya
menguntungkan pihak tertentu saja. Setiap organ yang ada dalam perusahaan dapat bekerja
dengan baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan prinsip-prinsip Good Corporate
Governance (GCG). Dalam mekanisme GCG untuk menjamin adanya independensi maka
perlu adanya pengawasan dalam perusahaan dengan komisaris yang independen yang dibantu
oleh komite audit. Yang dimaksud independen adalah bukan orang bekerja di perusahaan
tersebut atau mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin
mengendalikan, atau mengawasi kegiatan emiten atau perusahaan publik tersebut, tidak
mempunyai saham pada perusahaan tersebut, tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan
perusahaan tersebut, dan tidak mempunyai hubungan usaha dengan perusahaan tersebut.
Komite Audit menurut Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI) adalah suatu komite yang
bekerja secara professional dan independen yang dibentuk oleh dewan komisaris dan dengan
demikian, tugasnya adalah membantu dan memperkuat fungsi dewan komisaris (atau dewan
pengawas) dalam menjalankan fungsi pengawasan atas proses pelaporan keuangan,
manajemen risiko, pelaksanaan audit, dan implementasi dari corporate governane di
perusahaan-perusahaan (Effendi,2016)

5. KESETARAAN DAN KEWAJARAN (FAIRNESS)


Prinsip Dasar
Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan
kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas
kesetaraan dan kewajaran.

12
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1) Perusahaan harus memberikan kesempatan kepada pemangku kepentingan untuk
memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan perusahaan serta
membuka akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip transparansi dalam lingkup
kedudukan masing-masing
2) Perusahaan harus memberikan perlakuan yang setara dan wajar kepada pemangku
kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi yang diberikan kepada perusahaan.
3) Perusahaan harus memberikan kesempatan yang sama dalam penerimaan karyawan,
berkarir dan melaksanakan tugasnya secara profesional tanpa membedakan suku, agama,
ras, jender, dan kondisi fisik.
Fairness merujuk adanya perlakuan yang setara (equal) terhadap semua pihak yang
berkepentingan (stakeholders) sesuai dengan kriteria dan proporsi yang seharusnya.
Penegakan prinsip fairness ini terutama ditujukan kepada pemegang saham mayoritas
maupun minoritas. Keseimbangan hak pemilik mayoritas dan minoritas harus diperhatikan,
sehingga tidak ada kelompok pemilik yang dirugikan. Demikian pula, dengan hak-hak
karyawan, kreditur, serta pemasok dan langganan, harus ditetapkan secara jelas dengan
melibatkan sebanyak mungkin pihak-pihak yang terkait. Para anggota manajemen dan
karyawan haruslah mendapat perlakuan yang seimbang dan wajar, sesuai dengan kedudukan
masing-masing untuk mencapai suatu kinerja yang optimal.
Prinsip fairness dari GCG memegang peranan penting untuk mengkonkretkan
keseimbangan tersebut. Berbeda dengan kepentingan pemegang saham, keseimbangan bagi
manajemen dan karyawan yang berupa pemberian upah yang disesuaikan dengan pekerjaan
dan tanggungjawab masing-masing pihak. Kepentingan manajemen juga berkaitan dengan
masalah kenaikan pangkat atau renumerasi. Hal ini penting karena system reward yang baik
mampu menigkatkan motivasi kerja dan kinerja di suatu perusahaan. Pemberian reward yang
tepat akan menimbulkan semangat dari manajemen dan karyawan untuk bekerja dengan lebih
efektif dan efisien. Diharapkan dapat tercipta suasana kerja yang berisikan sumber daya
manusia yang berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan dengan cara-
cara yang wajar dan fair. Perlakuan yang sama terhadap pemegang saham, terutama pada
pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing dengan keterbukaan informasi yang

13
penting serta melarang pembagian untuk pihak sendiri dan perdagangan saham orang dalam
atau insider trading.

14
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Good corporate governance (GCG) merupakan sistem yang mengatur dan


mengendalikan perusahaan guna menciptakan nilai tambah untuk semua stakeholder. Konsep
ini menekankan pada dua hal yakni, pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk
memperoleh informasi dengan benar dan tepat pada waktunya dan, kedua, kewajiban
perusahaan untuk melakukan pengungkapan secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap
semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder.
Dari sumber – sumber yang dikatakan di atas. Dapat ditarik lima komponen utama
dalam prinsip - prinsip Good Corporate Governance, yaitu Transparency, Accountability,
Responsibility, Independence dan Fairness. Kelima komponen tersebut penting karena
penerapan prinsip Good Corporate Governance secara konsisten terbukti dapat meningkatkan
kualitas laporan keuangan dan juga dapat menjadi penghambat aktivitas rekayasa kinerja
yang mengakibatkan laporan keuangan tidak menggambarkan nilai fundamental
perusahaan. Good Corporate Governance berperan untuk memastikan atau menjamin bahwa
manajemen dilaksanakan dengan baik.

14
DAFTAR PUSTAKA

Siswanto Sutojo, E. John Aldridge. 2008. Good Corporate Governance Tata Kelola
Perusahaan Yang Sehat. Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka.

KNKG Indonesia. Good Corporate Governance.


http://knkg-indonesia.com/home/news/95-good-corporate-governance.html
[Diakses pada tanggal 17 Februari 2018]

Putri ,I Gusti Ayu Made Asri Dwija dan I Gusti Ketut Agung Ulupui. 2017. Pengantar
Corporate Governance. Denpasar: CV. Sastra Utama.

Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: KEP-117/M-MBU/2002

15