Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

Reaksi Oksidasi Reduksi (2)

Pengaruh Asam dan Basa Terhadap Logam

KELOMPOK : 2

Nama : Fitriyani (06101381520037)

Melva Hilderia Sibarani (06101381520037)

Nadila Pitriani (06101381520037)

Noviyanti Amarta (06101381520037)

Ratu Ayu Jessika (06101381520037)

Ulfa Pratiwi (06101381520037)

Dosen pengampu : Drs. M.Hadeli L.,M.Si.

Maefa Eka Haryani., S.Pd., M.Pd.

PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2018
I. NOMOR PERCOBAAN : III
II. JUDUL PERCOBAAN : Reaksi Oksidasi Reduksi (2)
Pengaruh Asam dan basa Terhadap Logam
III. TUJUAN PERCOBAAN : Mempelajari Pengaruh Asam dan Basa Terhadap
Logam
IV. DASAR TEORI

A. Pengertian Reduksi Oksidasi


 Pengikatan Oksigen :

Senyawa yang terbentuk dari hasil reaksi dengan oksigen dinamakan oksida sehingga
reaksi antara oksigen dan suatu unsur dinamakan reaksi oksidasi. Karat besi adalah senyawa
yang terbentuk dari hasil reaksi antara besi dan oksigen (besi oksida). Perkaratan besi
merupakan salah satu contoh dari reaksi oksidasi. Pada reaksi tersebut, besi mengalami
oksidasi dengan cara mengikat oksigen menjadi besi oksida.

Kebalikan dari reaksi oksidasi dinamakan reaksi reduksi. Pada reaksi reduksi terjadi
pelepasan oksigen.

 Pelepasan dan Penerimaan Elektron

Dalam konsep redoks, peristiwa pelepasan elektron dinamakan oksidasi, sedangkan


peristiwa penerimaan elektron dinamakan reduksi. Pada reaksi tersebut, enam elektron
dilepaskan oleh dua atom besi dan diterima oleh tiga atom oksigen membentuk senyawa
Fe2O3, Oleh karena itu, peristiwa oksidasi selalu disertai peristiwa reduksi.

Pada setiap persamaan reaksi, massa dan muatan harus setara antara ruas kanan
dan ruas kiri. Persamaan reaksi redoks tersebut memiliki muatan dan jumlah atom yang
sama antara ruas sebelah kiri dan sebelah kanan persamaan reaksi. Oksidasi besi netral
melepaskan elektron yang membuatnya kehilangan muatan. Dengan menyamakan
koefisiennya maka muatan pada kedua ruas persamaan reaksi menjadi sama.
Penyetaraan pada reaksi reduksi oksigen juga menggunakan cara yang sama.

 Reaksi Perpindahan Elektron

Apakah reaksi logam magnesium dengan larutan hidrogen klorida yang dapat ditulis
seperti persamaan reaksi dibawah ini juga termasuk reaksi redoks?
Mg(s) + 2 HCl(aq) —> MgCl2(aq) + H2(g)

Jika diperhatikan reaksi tersebut tidak melibatkan oksigen. Untuk dapat menjawab
pertanyaan tersebut perhatikan kembali reaksi logam natrium dengan oksigen membentuk
natrium oksida

4 Na(s) + O2(g) —> 2 Na2O(s)

Dalam reaksi tersebut logam Na mengikat oksigen sehingga dikatakan mengalami oksidasi.
Senyawa Na2O merupakan senyawa ionik, jadi senyawa tersebut terdiri atas ion Na+ dan ion
O2-. Peristiwa pembentukan ion-ion tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Na(s) —> Na+(s) + e-

O2(g) + 2e- —> O2-(g)

Dalam reaksi tersebut logam natrium melepaskan elektron, padahal logam natrium
mengalami peristiwa oksidasi. Jadi dapat dikatakan bahwa oksidasi adalah peristiwa
pelepasan elektron. Sekarang perhatikan reaksi logam magnesium dengan larutan hidrogen
klorida yang reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut:

Mg(s) + 2 HCl(aq) –> MgCl2(aq) + H2(g)

atau

Mg(s) —-> Mg2+(aq) + 2e (pelepasan electron, oksidasi)

2 H+(aq) + 2e –> H2(g) (penerimaan electron, reduksi)

Mg(s) + 2 H+(aq) —> Mg2+(aq) + H2(g)

Dalam reaksi di atas logam magnesium bertindak sebagai pereduksi (reduktor) dan ion
hidrogen bertindak sebagai pengoksidasi (oksidator) . Reaksi oksidasi selalu diikuti dengan
reaksi reduksi, dan sebaliknya reaksi reduksi juga tidak mungkin terjadi tanpa reaksi oksidasi.
Karena itu gabungan kedua reaksi tersebut dinamakan reaksi redoks. Sedangkan reaksi
oksidasi saja disebut setengah reaksi oksidasi dan reaksi reduksi disebut setengah reaksi
reduksi.

 Reaksi Perubahan Bilangan Oksidasi


Dalam berbagai reaksi-reaksi redoks yang melibatkan spesi yang kompleks, kadang-
kadang tidak mudah menentukan atom mana yang melepas dan atom mana yang menyerap
electron. Hal ini dapat diataasi dengan mengaitkan pengertian oksidasi dan reduksi dengan
perubahan bilangan oksidasi

Pelepasan electron (oksidasi) menyebabkan kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan


penyerapan electron (reduksi) menurunkan bilangan oksidasi.

 Reduktor dan Oksidator

Dalam reaksi redoks, pereaksi yang dapat mengoksidasi pereaksi lain dinamakan
zat pengoksidasi atau oksidator. Sebaliknya, zat yang dapat mereduksi zat lain
dinamakan zat pereduksi atau reduktor.

B. Asam

Asam (yang sering diwakili dengan rumus umum HA) secara umum merupakan
senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan larutan dengan pH lebih
kecil dari 7. Dalam definisi modern, asam adalah suatu zat yang dapat memberi proton (ion
H+) kepada zat lain (yang disebut basa), atau dapat menerima pasangan elektron bebas dari
suatu basa. Suatu asam bereaksi dengan suatu basa dalam reaksi penetralan untuk membentuk
garam. Contoh asam adalah asam asetat (ditemukan dalam cuka) dan asam sulfat (digunakan
dalam baterai atau aki mobil).

 Asam Klorida Dan Kegunaannya

Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hydrogen klorida (HCl). Ia adalah asam
kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan
secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan hati-hati karena merupakan
cairan yang sangat korosif (dapat menyebabkan pengikisan) dan berbau menyengat. HCL
termasuk bahan kimia berbahaya atau B3.

Asam klorida pernah menjadi zat yang sangat penting dan sering digunakan dalam awal
sejarahnya. Ia ditemukan oleh alkimiawan Persia yang bernama Abu Musa Jabir bin Hayyan
sekitar tahun 800. Senyawa ini digunakan sepanjang abad pertengahan oleh alkimiawan
dalam pencariannya mencari batu filsuf, dan kemudian digunakan oleh ilmuwan Eropa dalam
rangka membangun pengetahuan kimia modern.
 Asam Nitrat Dan Kegunaannya

Asam nitrat adalah cairan jernih tidak berwarna jika masih baru, akan menjadi
kekuning-kuningan jika terkena cahaya atau sering terbuka botolnya karena sebagian kecil
memecah :

4 HNO3 → 2 H2O + 4 NO2 + O2

Oleh karena itu harus selalu disimpan di dalam botol yang berwarna gelap (coklat,
biru, hijau). Sebagai pengoksidasi harus ditangani secara hati-hati, jika tertumpah dapat
membakar kertas, jerami atau kayu. Dapat meledak botolnya jika disimpan di tempat panas,
uapnya beracun. HNO3 pekat memiliki kadar antara 50-75%. Asam nitrat berasap memiliki
kadar 95% dan titik didih 86 oC.

Di laboratorium digunakan sebagai pelarut bijih mineral atau sebagai pengoksidasi


(pengabuan basah). Dalam aneka industri, misalnya : HNO3 encer untuk membuat pupuk
buatan {NaNO3, Ca(NO3)2}, HNO3 pekat untuk membuat bahan peledak (nitro selulosa,
nitro gliserin, TNT), serta untuk membuat zat warna azo, anilin, nitril, sianida, dll.

C. Basa

Definisi umum dari basa adalah senyawa kimia yang menyerap ion hydronium ketika
dilarutkan dalam air. Basa adalah lawan (dual) dari asam, yaitu ditujukan untuk
unsur/senyawa kimia yang memiliki pH lebih dari 7. Kostik merupakan istilah yang
digunakan untuk basa kuat. Basa dapat dibagi menjadi basa kuat dan basa lemah. Kekuatan
basa sangat tergantung pada kemampuan basa tersebut melepaskan ion OH dalam larutan dan
konsentrasi larutan basa tersebut.

 Natrium Hidroksida Dan Kegunaannya

Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik alkali dan, adalah
dasar logam kaustik. Hal ini digunakan di banyak industri, terutama sebagai basis kimia yang
kuat dalam pembuatan pulp dan kertas, tekstil, air minum,sabun dan deterjen dan sebagai
pembersih tiriskan. Produksi di seluruh dunia pada tahun 2004 adalah sekitar 60 juta
ton,sementara permintaan adalah 51 juta ton.

Natrium hidroksida murni adalah padatan putih yang tersedia dipelet, serpih, butiran,
dan sebagai larutan jenuh 50%. Ini adalah higroskopis dan mudah menyerap karbon dioksida
dari udara,sehingga harus disimpan dalam wadah kedap udara. Hal ini sangat larut dalam air
dengan pembebasan panas. Hal ini jugalarut dalam etanol dan metanol, meskipun pameran
kelarutanrendah dalam pelarut daripada kalium hidroksida. Natrium hidroksida cair juga
merupakan basis yang kuat, namun suhutinggi yang diperlukan aplikasi batas. Hal ini tidak
larut dalameter dan pelarut non-polar. Sebuah larutan natrium hidroksidaakan meninggalkan
noda kuning pada kain dan kertas.

D. Logam

Logam adalah unsur kimia yang mempunyai sifat-sifat kuat, liat, keras, penghantar
listrik dan panas, serta mempunyai titik cair tinggi. Bijih logam ditemukan dengan cara
penambangan yang terdapat dalam keadaan murni atau bercampur. Bijih logam yang
ditemukan dalam keadaan murni yaitu emas, perak, bismut, platina, dan ada yang bercampur
dengan unsur- unsur seperti karbon, sulfur, fosfor, silikon, serta kotoran seperti tanah liat,
pasir, dan tanah.

Bijih logam yang ditemukan dengan cara penambangan terlebih dahulu dilakukan
proses pendahuluan sebelum diolah dalam dapur pengolahan logam dengan cara dipecah
sebesar kepalan tangan, dipilih yang mengandung unsur logam, dicuci dengan air untuk
mengeluarkan kotoran, dan terakhir dikeringkan dengan cara dipanggang untuk
mengeluarkan uap yang mengandung air.

 Besi (Fe)

Besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi merupakan logam transisi yang
berada pada golongan VIII B dan periode 4. Besi adalah logam paling melimpah nomor dua
setelah alumunium. Besi adalah logam yang dihasilkan dari bijih besi, dan jarang dijumpai
dalam keadaan unsur bebas. Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang
banyak digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari. Besi juga mempunyai nilai
ekonomis yang tinggi. Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam
penggunaannya.

Besi merupakan unsur transisi yang mempunyai sifat logam sebagaimana semua
unsur transisi lainnya. Sifat logam ini dipengaruhi oleh kemudahan unsur tersebut untuk
melepas elektron valensi. Selain itu, keberadaan electron pada blok d yang belum penuh
menyebabkan unsur Fe memiliki banyak elektron tidak berpasangan. Elektron- elektron tidak
berpasangan tersebut akan bergerak bebas pada kisi kristalnya sehingga membentuk ikatan
logam yang lebih kuat dibandingkan dengan unsur golongan utama. Adanya ikatan logam ini
menyebabkan titik leleh dan titik didih serta densitas unsur Fe cukup besar sehingga bersifat
keras dan kuat.

 Seng (Zn)

Seng adalah logam yang berwarna putih kebiruan, dan disimbolkan dengan Zn.
Logam ini termasuk ke dalam kelompok logam-logam golongan II-B dalam tabel periodik
unsur kimia, mempunyai nomor atom 30 dan berat atom 65,38. Mineral yang umum adalah
ZnS. Mineral lainnya adalah kompleks produk –oksi dan garam-garam serta silikat (walaupun
jumlahnya lebih sedikit). Mineral-mineral dalam tanah liat juga dapat menyerap Zn (Allen,
1989).

Sebagi kofaktor, Zn dapat mengakibatkan keaktifan enzim lainnya. Kekurangan zat


mineral seng dapat mengakibatkan hati dan ginjal membengkak, dan terjadi gejala gizi besi.
Diperkirakan kebutuhan seng adalah 15 mg bagi setiap anak diatas 11 tahun (Winarno, 1988).

 Tembaga (Cu)

Tembaga atau cuprum dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cu dan nomor
atom 29. Tembaga di alam tidak begitu melimpah dan ditemukan dalam bentuk bebas
maupun dalam bentuk senyawaan. Bijih tembaga yang terpenting yaitu pirit atau chalcopyrite
(CuFeS2), copper glance atau chalcolite (Cu2S), cuprite (Cu2O), malaconite (CuO) dan
malachite (Cu2(OH)2CO3) sedangkan dalam unsur bebas ditemukan di Northern Michigan
Amerika Serikat. Dalam jumlah kecil tembaga ditemukan pada beberapa jenis tanaman, bulu-
bulu burung terutama yang berbulu terang dan dalam darah binatang-binatang laut seperti
udang dan kerang.
V. ALAT DAN BAHAN

1. Tabung Reaksi
2. Rak Tabung
3. Pipet Pencet
4. Logam (Fe, Zn, Cu, Pb)
5. Paku Besi
6. Larutan Na2S2O3
7. NaOH 2M
8. HNO3 5M
9. HCl 5M

VI. CARA KERJA

1. Siapkan sepotong kecil logam Fe, Zn, dan Cu. Bersihkan logam tersebut menggunakan
sabut baja (ampelas) dan tempatkan sample tersebut ke dalam tabung-tabung secara berpisah.

2. Tambahkan 3 ml larutan HCl 5M kedalam tabung tes dan catat perubahan yang terjadi
pada tabel lembar kerja dan tuliskan persamaan reaksinya.

3. Jika tidak terjadi, panaskan tabung-tabung tes tersebut secara hati-hati dan catat perubahan
yang terjadi

4. Ulangi langkah-langkah tersebut untuk logam-logam lain

5. Ulangi cara kerja pada langkah 1-4 dengan menggunakan larutan HNO3 5M sebagai
pengganti larutan HCl. Catat semua pengamatan anda dan tulis pula persamaan reaksinya.

6. Ulangi cara kerja pada langkah 1-4 dengan menggunakan larutan HCl. Catat hasil
pengamatan.

7. Ke dalam tabung tersebut , tambahkan 2 ml Na2S2O3 amati perubahan yang terjadi dan
catat pada table
VII. HASIL PENGAMATAN

 Pengaruh Asam Terhadap Logam

Asam Logam Pengamatan Persamaan Reaksi


Dingin Panas
HCl Zn Zn(s) (abu-abu) + HCl(aq) Zn(s) + 2HCl(aq)
(tidak berwarna) ZnCl2 (s) + H2 (g)
Larutan bening tak
berwarna, terdapat
endapan berwarna abu-
abu dan gelembung gas
H2

Fe Fe (s) (coklat) + HCl (aq) 2Fe (s) + 6HCl (aq)


(tidak berwarna) 2FeCl3(aq) + 3H2(g)
Laarutan menjadi
kuning, dan terdapat
gelembung gas H2
disekitar paku

Cu Cu (s) (orange) + HCl (aq) Cu (s) + HCl (aq) Cu (s) + 2HCl (aq)
CuCl2(aq) + H2 (g)
(tidak berwarna) larutan
Tidak terjadi perubahan berwarna kuning
reaksi muda

HNO3 Zn Zn(s) (abu-abu) + HNO3 Zn(s) + 4 HNO3 (aq)


(aq) (tidak berwarna) Zn(NO3)2(aq) + 2NO2(aq) +
larutan bening tak 2H2O(aq)
berwarna, terdapat
endapan berwarna abu-
abu dan gelembung gas

Fe Fe(s) (Coklat) + HNO3 Fe(s) + 4HNO3 (aq)


(aq) (tidak berwarna) Fe(NO3)3(aq) + 2H2O(aq) +
larutan keruh, NO(g)
terdapat gelembung gas
dan besi menjadi
berkarat

Cu Cu(s) (orange) + HNO3 Cu(s) + 2HNO3 (aq)


(aq) (tidak berwarna) Cu(NO3)2(aq) + H2
larutan menjadi
warna biru dan ada
gelembung gas H2

 Pengaruh Alkali terhadap Logam

Logam Pengamatan dan persamaan reaksi

Pengaruh alkali (NaOH) Pengaruh sulfide (Na2S2O3)

Zn Zn(s)(abu-abu) + NaOH(aq)(tidak Zn(s) + NaOH(aq) + Na2S2O3(aq)


berwarna) larutan berwarna tidak terjadi perubahan, larutan tetap
abu-abu dan ada endapan berwarna berwarna abu-abu, tetapi mengeluarkan
abu-abu tua endapan larut dan gas berbau sulfur
warna larutan menjadi abu-abu tua

Fe Fe(s) (coklat) + NaOH(aq) (tidak Fe(s) + NaOH(aq) + Na2S2O3(aq)


berwarna) tidak terjadi tidak terjadi perubahan reaksi
perubahan reaksi larutan
berwarna kuning

Cu Cu(s) (orange) + NaOH(aq) (tidak Cu(s) + NaOH(aq) + Na2S2O3(aq)


berwarna) tidak terjadi tidak terjadi perubahan reaksi
perubahan reaksi tidak
bereaksi, larutan tidak berwarna
VIII. MEKANISME REAKSI
 Pengaruh Asam terhadap Logam
HCl

Zn(s) + 2HCl(aq) ZnCl2(s) + H2(g) ↑

2Fe(s) + 6 HCl(aq) 2FeCl3(aq) + 3H2(g) ↑

Cu(s) + 2HCl(aq) CuCl2(aq) + H2(g) ↑

HNO3

Zn(s) + 4HNO3(aq) Zn(NO3)2(aq) + 2NO2(g) + 2H2O(aq)

Fe(s) + 4HNO3(aq) Fe(NO3)3(aq) + 2H2O(aq) + NO(g)

Cu(s) + 2HNO3(aq) Cu(NO3)2(aq) + H2(g)

 Pengaruh Alkali terhadap Logam


Pengaruh alkali (NaOH)

Zn(s) + 2NaOH(aq) Zn(OH)2(aq) + 2Na

Fe(s) + 2NaOH(aq) Fe(OH)2(aq) + 2Na

Cu(s) + 2NaOH(aq) Cu(OH)2(aq) + 2Na

Pengaruh sulfide (Na2S2O3)

Zn(OH)2(aq) + Na2S2O3(aq) ZnS2O3 + 2NaOH

Fe(OH)2(aq) + Na2S2O3(aq) FeS2O3 + 2NaOH

Cu(OH)2(aq) + Na2S2O3(aq) CuS2O3 + 2NaOH


IX. PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini , yaitu "Reaksi Oksidasi Reduksi (2) Pengaruh Asam dan
Basa terhadap Logam. Pada percobaan ini kami menggunakan sebanyak 3 sampel logam
yaitu Zn, Fe, dan Cu. Sedangkan larutan yang digunakan sebagai pelarut (zat penguji) adalah
HCl, HNO3, NaOH dan Na2S2O3. Pada praktikum ini dilakukan dua perlakuan yaitu
percobaan untuk mengetahui pengaruh asam terhadap logam dan percobaan untuk
mengetahui pengaruh alkali terhadap logam.

Zink (Zn) adalah logam yang putih kebiruan. Logam nya yang murni melarut lambat
sekali dalam asam dan dalam alkali. Zink mudah larut dalam asam klorida encer dan asam
sulfat encer dengan mengeluarkan hidrogen . Asam nitrat pekat mempunyai pengaruh yang
kecil terhadap zink, karena rendahnya kelarutan zink nitrat dalam suasana demikian. Zink
bereaksi dengan larutan NaOH menghasilkan endapan seperti gelatin putih, yaitu zink
hidroksida, dimana endapan larut dalam asam dan juga dalam reagensia yang berlebihan.
Pada praktikum ini, Zn direaksikan dengan asam (HCl 5M dan HNO3 5M). Ketika Zn di
reaksikan dengan HCl, Zn larut dalam HCl, mengeluarkan gas H2, dan ada endapan berwarna
abu-abu. Lalu pada saat Zn direaksikan dengan HNO3 5M, Zn larut tapi lebih lambat dari
dengan menggunakan HCl, ada sedikit gelembung gas H2 ,dan larutan berwarna kuning.
Selain direaksikan dengan asam, Zn juga direaksikan dengan alkali (NaOH 2M) dan sulfide
(Na2S2O3). Ketika Zn direaksikan dengan NaOH, pada saat dingin larutan berwarna abu-abu
muda dan ada endapana berwarna abu-abu tua lalu dipanaskan, setelah di panaskan endapan
larut dan larutan berwarna abu-abu tua. Hal ini tidak seseui dengan teori, dimana seharusnya
ketika Zn direaksikan dengan NaOH, menghasilkan endapan seperti gelatin putih. Lalu
setelah direkasikan dengan NaOH dan menghasilkan Zn(OH)2(aq), Zn(OH)2(aq) direaksikan
dengan Na2S2O3 dan tidak terjadi perubahan reaksi

Besi (Fe) yang digunakan dalam percobaan ini yaitu paku besi. Asam klorida encer
atau pekat dan asam sulfat encer melarutkan besi, dan menghasilkan garam-garam besi(II)
dan gas hidrogen. Dengan asam nitrat encer dingin terbentuk ion besi(II) dan ammonia. Asam
nitrat pekat dingin membuat besi menjadi pasif. Besi bereaksi dengan NaOH menghasilkan
endapan putih besi(II) hidroksida, bila tak terdapat udara sama sekali. endapan ini tak larut
dalam reagensia berlebihan, tetapi larut dalam asam. Bila terkena udara, besi(II) hidroksida
dengan cepat dioksidasikan, yang pada akhirnya menghasilkan besi(III) hidroksida yang
coklat kemerahan. Pada kondisi biasa, Fe(OH)2 nampak sebagai endapan hijau kotor dengan
penambahan hidrogen peroksida segera dioksidasikan
menjadi besi(III) hidroksida. Pada praktikum ini, Fe direaksikan dengan asam (HCl 5M dan
HNO3 5M). Ketika Fe di reaksikan dengan HCl, larutan menjadi kuning dan terdapat
gelembung disekitar paku. Lalu pada saat Fe direaksikan dengan HNO3 5M, larutan berwarna
keruh, terdapat gelembung gas dan paku menjadi berkarat, hal ini sudah sesuai dengan teori.
Selain direaksikan dengan asam, Fe juga direaksikan dengan alkali (NaOH 2M) dan sulfide
(Na2S2O3). Ketika Fe direaksikan dengan NaOH, pada saat dingin tidak terjadi reaksi lalu
dipanaskan, setelah di panaskan larutan berwarna kuning, di teori jika Fe direaksikan dengan
NaOH maka akan menghasilkan endapan putih tetapi dengan syarat tidak ada udara, pada
percoobaan ini Fe direaksikan dengan NaOH tidak ada endapan karena pada saat dilakukakan
percobaan terdapat udara. Lalu setelah direkasikan dengan NaOH dan menghasilkan
Fe(OH)2(aq), Fe(OH)2(aq) direaksikan dengan Na2S2O3 dan tidak terjadi perubahan reaksi

Tembaga (Cu) adalah logam merah muda yang lunak, dapat ditempa,dan liat. Karena
potensial electrode standarnya positif, tembaga tak larut dalam asam klorida, meskipun
dengan adanya oksigen tembaga bisa larut sedikit. Asam nitrat yang pekatnya (8M) dengan
mudah melarutkan tembaga. Tembaga dengan larutan NaOH dalam larutan dingin
menghasilkan endapan biru tembaga(II) hidroksida dimana endapan tak larut dalam reagensia
berlebihan. Bila dipanaskan, endapan diubah menjadi tembaga(II) oksida hitam oleh
dehidratasi. Pada praktikum ini, Cu direaksikan dengan asam (HCl 5M dan HNO3 5M).
Ketika Cu di reaksikan dengan HCl dalam keadaan dingin tidak terjadi reaksi, lalu
dipanaskan. Setelah dipanaskan temabaga tidak larut dan larutan berwarna kuning muda, hal
ini sudah sesuai dengan teori. Lalu pada saat Cu direaksikan dengan HNO3 5M, larutan
menjadi berwarna biru dan ada gelembung gas, hal ini sudah sesuai dengan teori. Selain
direaksikan dengan asam, Cu juga direaksikan dengan alkali (NaOH 2M) dan sulfide
(Na2S2O3). Ketika Cu direaksikan dengan NaOH, pada saat dingin tidak terjadi reaksi lalu
dipanaskan, setelah di panaskan tetap tidak terjadi perubahan reaksi. Hal ini tidak seseui
dengan teori, dimana seharusnya ketika Cu direaksikan dengan NaOH dalam keadaan dingin
menghasikan endapan biru. Lalu setelah direkasikan dengan NaOH dan menghasilkan
Cu(OH)2(aq), Cu(OH)2(aq) direaksikan dengan Na2S2O3 dan tidak terjadi perubahan reaksi.
X. KESIMPULAN

1. Logam Zn lebih cepat bereaksi apabila direaksikan dengan HNO3 dibandingkan


dengan HCl
2. Logam Cu tidak bereaksi apabila direkasikan dengan HCl tanpa adanya pemanasan,
sedangkan apabila direaksikan denga HNO3 langsung bereaksi.
3. Logam Fe yang direaksikan dengan HNO3 ternyata akan lebih cepat mengkarat /
berkorosi dibangdingkan dengan Fe didalam HCl
4. Logam (Fe,Cu dan Zn) ternyata sulit bereaksi bahkan tidak berekasi dengan larutan
alkali atau NaOH.
5. Penambahan Na2S2O3 pada larutan tidak mempengaruhi rekasi pada basa (NaOH)
DAFTAR PUSTAKA

Cotton dan G. wilkinson.1998. Kimia Anorganik dasar. Jakarta: UI Press.

Gulo, Fakhili dan Desi. 2014. Panduan Praktikum Kimia Anorganik II. Inderalaya : FKIP
KIMIA UNSRI.

Vogel.1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT.
Kalman Media Pusaka.

Zulaiha, Zila. 2011. Reaksi Oksidasi Reduksi (2) Pengaruh Asam Dan Basa Terhadap
Logam. (Online). http://zilazulaiha.blogspot.co.id/2011/10/reaksi-oksidasi-reduksi-2-
pengaruh-asam.html. (Diakses pada tanggal 18 Februari 2018).
LAMPIRAN

 Logam Zn yang direaksikan dengan HCl, HNO3 dan NaOH

 Logam Cu yang direaksikan dengan HCl, HNO3 dan NaOH


 Logam Fe yang direaksikan dengan HCl, HNO3 dan NaOH

 Zn(OH)2(aq) , Fe(OH)2(aq) , dan Cu(OH)2(aq) yang direkasikan dengan Na2S2O3