Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

FLUOR ALBUS

KONSEP DASAR MEDIS

A. Definisi
Keputihan atau Fluor Albus merupakan sekresi vaginal abnormal pada
wanita ( Wijayanti, 2009). Keputihan adalah semacam slim yang keluar
terlalu banyak, warnanya putih seperti sagu kental dan agak kekuning-
kuningan. Jika slim atau lendir ini tidak terlalu banyak, tidak menjadi
persoalan (Sasmiyanti & Handayani, 2008). Keputihan adalah nama gejala
yang diberikan kepada cairan yang di keluarkan dari alat–alat genital yang
tidak berupa darah (Sarwono, 2005).

B. Klasifikasi Flour Albus


Ada dua jenis keputihan yaitu keputihan normal (fisiologis) dan keputihan
tidak normal (patologis).
1. Keputihan normal (fisiologis)
Keputihan fisiologis terdiri atas cairan yang kadang– kadang berupa
mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang,
keputihan fisiologis ditemukan pada:
a. Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, disini sebabnya
ialah pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina
janin.
b. Waktu di sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen
keputihan disini hilang sendiri, akan tetapi dapat menimbulkan
keresahan pada orang tuanya.
c. Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus,
disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina.
d. Waktu di sekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar - kelenjar serviks
uteri menjadi lebih encer.

1
e. Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah
pada wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada
wanita dengan ektropion porsionis uteri (Sarwono, 2005).

Menurut Wijayanti (2009) keputihan normal cirri-cirinya ialah :


warnanya kuning, kadang-kadang putih kental, tidak berbau tanpa disertai
keluhan (misalnya gatal, nyeri, rasa terbakar, dsb), keluar pada saat
menjelang dan sesudah menstruasi atau pada saat stres dan kelelahan.

Keputihan tidak selalu mendatangkan kerugian, jika keputihan ini


wajar dan tidak menunjukan bahaya lain. Sebenarnya, cairan yang disebut
keputihan ini berfungsi sebagai sistem pelindung alami saat terjadi
gesekan di dinding vagina saat anda berjalan dan saat anda meakukan
hubungan seksual.

Keputihan ini merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh dari


bakteri yang menjaga kadar keasaman pH wanita. Cairan ini selalu berada
di dalam alat genital tersebut. Keasaman pada vagina wanita harus
berkisar antara 3,8 sampai 4,2, maka sebagian besar bakteri yang ada
adalah bakteri menguntungkan. Bakteri menguntungkan ini hampir
mencapai 95% sedangkan yang lain adalah bakteri merugikan dan
menimbulkan penyakit (patogen).

Jika keadaan ekosistem seimbang, artinya wanita tidak mengalami


keadaan yang membuat keasaman tersebut bertambah dan berkurang,
maka bakteri yang menimbulkan penyakit tersebut tidak akan
mengganggu (Iswati, 2010).

2. Keputihan tidak normal (patologis)


Penyebab paling penting dari keputihan patologi ialah infeksi. Disini
cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-
kuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau (Sarwono,
2005).

2
Keputihan yang tidak normal ialah keputihan dengan ciri-ciri :
jumlahnya banyak, timbul terus menerus, warnanya berubah (misalnya
kuning, hijau, abu-abu, menyerupai susu/yoghurt) disertai adanya keluhan
(seperti gatal, panas, nyeri) serta berbau (apek, amis, dsb) (Wijayanti,
2009).
Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa
gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering
menimbulkan keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur, atau juga
parasit. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke
saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang
air kencing (Wijayanti, 2009). Menurut Boyke (2009), hampir semua
wanita di Indonesia pernah mengalami keputihan patologis seumur
hidupnya minimal satu sampai dua kali. Oleh karena itu di dalam
bukunya, Iswati (2010) mengatakan bahwa wanita perlu mengenal lebih
jauh tentang keputihan tersebut, yaitu:
a. Keputihan yang cair dan berbusa, berwarna kuning kehijauan atau
keputih-putihan, berbau busuk dengan rasa gatal. Keputihan semacam
ini akan memberi dampak bagi tubuh wanita, diantaranya wanita akan
merasa seperti terbakar di daerah kemaluan saat buang air kecil. Jika
tidak cepat ditangani, lambat laun kemaluan akan terasa sakit dan
membengkak.
b. Cairan keputihan yang berwarna putih seperti keju lembut dan berbau
seperti jamur atau ragi roti. Keadaan ini menunjukan adanya infeksi
yang disebabkan jamur atau ragi yang di kemaluan seorang wanita.
Penderita akan merasakan efek gatal yang hebat. Bibir kemaluan
sering terlihat merah terang dan terasa sangat sakit. Selain itu, saat
buang air kecil terasa seperti terbakar. Hal yang harus dicegah adalah
menggunakan antibiotik untuk mengobati infeksi ini. Antibiotik
sebenarnya akan membuat infeksi jamur semakin parah. Penderita pun
jangan mamakai pil KB. Jika sedang menggunakan pil KB, hentikan
secepatnya.

3
c. Cairan keputihan yang kental seperti susu dengan bau yang
amis/anyir. Keadaan ini dimungkinkan karena infeksi yang
disebabkan oleh bakteri Hemophilus. Diperlukan pemeriksaan khusus
untuk membedakannya dengan infeksi trichomonas.
d. Cairan keputihan yang encer seperti air, berwarna coklat atau keabu-
abuan dengan bercak-bercak darah, dan berbau busuk. Janganlah
bersantai dan tidak mempedulikan kelainan ini. Hal ini merupakan
tanda-tanda infeksi yang lebih parah, dapat kanker atau penyakit
menular seksual lainnya.
C. Penyebab Flour Albus
Menurut Wijayanti (2009) dengan memperhatikan cairan yang keluar,
terkadang dapat diketahui penyebab keputihan. Penyebab keputihan tersebut
antara lain:
1. Infeksi Gonore, misalnya, menghasilkan cairan kental, bernanah dan
berwarna kuning kehijauan.
2. Parasit Trichomonas Vaginalis menghasilkan banyak cairan, berupa
cairan encer berwarna kuning kelabu.
3. Keputihan yang disertai bau busuk dapat disebabkan oleh kanker.
4. Kelelahan.

Didalam bukunya, Hendrik (2006) menjelaskan bahwa keluhan keputihan


dari seorang wanita menjelang terjadinya haid secara statistik cenderung
dapat menyebabkan keadaan daerah kemaluan (terutama vagina, uterus, dan
vulva) menjadi mudah terjangkit suatu penyakit dan menularkannya ke
tubuhnya sendiri atau ketubuh orang lain yang melakukan persetubuhan
dengannya. Hal ini disebabkan oleh hal-hal berikut:

1. Banyaknya bakteri-bakteri yang senantiasa berada di dalamnya (flora


normal), yang telah berubah sifatnya menjadi bakteri-bakteri patogen
disamping adanya mikroorganisme lainnya yang bersifat patogen
potensial.

4
2. Adanya perubahan pengaruh hormon-hormon seks steroid, terutama
hormon estrogen dan progesteron, secara fluktuatif menjelang terjadinya
perdarahan haid akan menimbulkan kerentanan pada dinding vagina
terhadap terjadinya infeksi, terutama infeksi Candida sp.
3. Adanya hubungan langsung yang dekat dengan lingkungan luar tubuh
yang dapat memungkinkan masuknya bakteri dan mikroorganisme
lainnya yang bersifat patogen potensial ke vagina.
4. Kurangnya perhatian hygiene (kebersihan) di daerah kemaluan.
5. Terjadinya benturan atau gesekan di daerah vaginanya ketika melakukan
persetubuhan sebelumnya.
6. Adanya infeksi lain atau proses lainnya berupa keganasan di dalam tubuh.

Menurut Maulana (2008) keputihan yang keluar dari mulut rahim dikenal
dengan serviks sensitis atau radang mulut rahim. Hal ini sering menyerang
wanita usia reproduktif dan biasanya diakibatkan oleh :

1. Jamur (candidiasis), biasanya bukan karena ditularkan oleh hubungan


seksual, meskipun hal itu bisa saja terjadi. Seringnya, hal itu disebabkan
karena ketidakseimbangan flora di vagina. Normalnya, vagina terdiri atas
sedikit jamur dan bakteri perusak. Namun, jika keduanya tidak seimbang,
akan menyebabkan peradangan vagina (vaginistis). Keputihan yang
disebabkan oleh jamur ini terlihat agak tebal dan kental atau bisa juga
terlihat lebih tipis dan seperti susu putih yang basi. Keputihan ini bisa jadi
kehijauan, jika yang bersangkutan telah menderita infeksi sekunder. Ini
juga bisa menimbulkan gatal. Kemaluan bisa berwarna kemerahan dan
bengkak. Kulit mungkin juga sensitif untuk disentuh dan wanita biasanya
akan merasakan sakit saat berhubungan seks.
2. Bakteri (vaginosis), gejala bakterial vaginosis biasanya dicirikan dengan
adanya noda (keputihan) hingga kekuningan dengan bau kurang sedap.
Noda ini hampir selalu ada dan lebih nyata saat setelah berhubungan
seksual. Wanita pun mungkin akan merasa gatal di sekitar kemaluan.

5
3. Parasit (trikomoniasis), keputihan karena parasit seperti Trichomonas
vaginalis bisa menyerang wanita maupun pria. Trichomonas biasanya
berpindah melalui hubungan seksual, juga dapat berpindah, jika seseorang
bergantian menggunakan handuk, underwear, atau benda basah/lembab
lainnya. Biasanya keputihan terlihat seperti busa dan berbau tidak sedap.
Mungkin ada sedikit rasa gatal dan kemerahan di sekitar vagina. Kasus
keputihan yang tak kunjung menyembuh kendati sudah berkali-kali
diobati, bisa jadi sebab keputihan yang komplet (disebabkan oleh lebih
dari satu dari ketiga penyebab), namun tidak diberi obat yang komplet
untuk membasmi lebih dari satu jenis penyebabnya. Atau mungkin juga
karena masa pemberian obatnya belum tuntas menumpas bibit
penyakitnya, selain karena pilihan obatnya tidak sesuai dengan jenis
penyebab keputihannya (Nadesul, 2009).
D. Patofisiologi
Meskipun banyak variasi warna, konsistensi, dan jumlah dari sekret vagina
bisa dikatakan suatu yang normal, tetapi perubahan itu selalu
diinterpretasikan penderita sebagai suatu infeksi, khususnya disebabkan oleh
jamur. Beberapa perempuan pun mempunyai sekret vagina yang banyak
sekali. Dalam kondisi normal, cairan yang keluar dari vagina mengandung
sekret vagina, sel-sel vagina yang terlepas dan mucus serviks, yang akan
bervariasi karena umur, siklus menstruasi, kehamilan, penggunaan pil KB.
Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang
dinamis antara Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen,
glikogen, pH vagina dan hasil metabolit lain. Lactobacillus acidophilus
menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap bakteri pathogen.
Karena aksi dari estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen, lactobacillus
(Doderlein) dan produksi asam laktat yang menghasilkan pH vagina yang
rendah sampai 3,8-4,5 dan pada level ini dapat menghambat pertumbuhan
bakteri lain.
Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh
Candida sp. terutama C. albicans. Infeksi Candida terjadi karena perubahan

6
kondisi vagina. Sel ragi akan berkompetisi dengan flora normal sehingga
terjadi kandidiasis. Hal-hal yang mempermudah pertumbuhan ragi adalah
penggunaan antibiotik yang berspektrum luas, penggunaan kontrasepsi, kadar
estrogen yang tinggi, kehamilan, diabetes yang tidak terkontrol, pemakaian
pakaian ketat, pasangan seksual baru dan frekuensi seksual yang tinggi.
Perubahan lingkungan vagina seperti peningkatan produksi glikogen saat
kehamilan atau peningkatan hormon esterogen dan progesterone karena
kontrasepsi oral menyebabkan perlekatan Candida albicans pada sel epitel
vagina dan merupakan media bagi prtumbuhan jamur. Candida albicans
berkembang dengan baik pada lingkungan pH 5-6,5. Perubahan ini bisa
asimtomatis atau sampai sampai menimbulkan gejala infeksi. Penggunaan
obat immunosupresan juga menajdi faktor predisposisi kandidiasis vaginalis.
Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan
progesterone menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar glikogen
sehingga berpotensi bagi pertumbuhan dan virulensi dari Trichomonas
vaginalis.
Vaginitis sering disebabkan karena flora normal vagina berubah karena
pengaruh bakteri patogen atau adanya perubahan dari lingkungan vagina
sehingga bakteri patogen itu mengalami proliferasi. Antibiotik kontrasepsi,
hubungan seksual, stres dan hormon dapat merubah lingkungan vagina
tersebut dan memacu pertumbuhan bakteri patogen. Pada vaginosis bacterial,
diyakini bahwa faktor-faktor itu dapat menurunkan jumlah hidrogen
peroksida yang dihasilkan oleh Lactobacillus acidophilus sehingga terjadi
perubahan pH dan memacu pertumbuhan Gardnerella vaginalis, Mycoplasma
hominis dan Mobiluncus yang normalnya dapat dihambat. Organisme ini
menghasilkan produk metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH vagina
dan menyebabkan pelepasan sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab
timbulnya bau pada flour albus pada vaginosis bacterial.
Flour albus mungkin juga didapati pada perempuan yang menderita
tuberculosis, anemia, menstruasi, infestasi cacing yang berulang, juga pada
perempuan dengan keadaan umum yang jelek , higiene yang buruk dan pada

7
perempuan yang sering menggunakan pembersih vagina, disinfektan yang
kuat (Amiruddin, 2003).

E. Pathway

Faktor resiko: gangguan hormon, infeksi (jamur, bakteri, parasit), kanker, kurang
perhatian hygiene alat kelamin

Terganggunya keseimbangan ekosistem dalam vagina

Tumbuh jamur & kuman (patogen)

Tingkat keasaman dalam vagina terganggu

Flora normal dalam vagina mati

Timbul keputihan abnormal: leukorea patologis Ansietas

Cairan keputihan berbau Gatal pada kemaluan

Gangguan
Kenyamanan Iritasi pada kulit Risiko Pola istirahat
Infeksi terganggu

Tidak mengetahui cara Kerusakan


perawatannya Integritas Gangguan
Kulit Pola Tidur

Kurang
Pengetahuan

8
F. Manifestasi Klinis
Segala perubahan yang menyangkut warna dan jumlah dari sekret vagina
merupakan suatu tanda infeksi vagina. Infeksi vagina adalah sesuatu yang
sering kali muncul dan sebagian besar perempuan pernah mengalaminya dan
akan memberikan beberapa gejala fluor albus (Wiknjosastro, 1999):
a. Keputihan yang disertai rasa gatal, ruam kulit dan nyeri.
b. Sekret vagina yang bertambah banyak
c. Rasa panas saat kencing
d. Sekret vagina berwarna putih dan menggumpal
e. Berwarna putih kerabu-abuan atau kuning dengan bau yang menusuk
f. Vaginosis bacterial Sekret vagina yang keruh, encer, putih abu-abu
hingga kekuning-kuningan dengan bau busuk atau amis. Bau semakin
bertambah setelah hubungan seksual
g. Trikomoniasis Sekret vagina biasanya sangat banyak kuning kehijauan,
berbusa dan berbau amis.
h. Kandidiasis Sekret vagina menggumpal putih kental. Gatal dari sedang
hingga berat dan rasa terbakar kemerahan dan bengkak didaerah genital
Tidak ada komplikasi yang serius
i. Infeksi klamidia biasanya tidak bergejala. Sekret vagina yang berwarna
kuning seperti pus. Sering kencing dan terdapat perdarahan vagina yang
abnormal.
G. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan :
1. Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan biokimia dan urinalisis.
2. Kultur urin untuk menyingkirkan infeksi bakteri pada traktus urinarius
3. Sitologi vagina
4. Kultur sekret vagina
5. Radiologi untuk memeriksa uterus dan pelvis
6. Ultrasonografi (USG) abdomen
7. Vaginoskopi
8. Sitologi dan biopsy jaringan abnormal

9
9. Tes serologis untuk Brucellosis dan herpes
10. Pemeriksaan PH vagina.
11. Penilaian swab untuk pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan
KOH 10 % .
12. Pulasan dengan pewarnaan gram .
13. Pap smear.
14. Biopsi.
(Manoe, 1999)
H. Penatalaksanaan
Untuk menghindari komplikasi yang serius dari keputihan (fluor albus),
sebaiknya penatalaksanaan dilakukan sedini mungkin sekaligus untuk
menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab lain seperti kanker leher
rahim yang juga memberikan gejala keputihan berupa sekret encer, berwarna
merah muda, coklat mengandung darah atau hitam serta berbau busuk.
Penatalaksanan keputihan tergantung dari penyebab infeksi seperti jamur,
bakteri atau parasit. Umumnya diberikan obat-obatan untuk mengatasi
keluhan dan menghentikan proses infeksi sesuai dengan penyebabnya. Obat-
obatan yang digunakan dalam mengatasi keputihan biasanya berasal dari
golongan flukonazol untuk mengatasi infeksi candida dan golongan
metronidazol untuk mengatasi infeksi bakteri dan parasit. Sediaan obat dapat
berupa sediaan oral (tablet, kapsul), topikal seperti krem yang dioleskan dan
uvula yang dimasukkan langsung ke dalam liang vagina. Untuk keputihan
yang ditularkan melalui hubungan seksual, terapi juga diberikan kepada
pasangan seksual dan dianjurkan untuk tidak berhubungan seksual selama
masih dalam pengobatan. Selain itu, dianjurkan untuk selalu menjaga
kebersihan daerah intim sebagai tindakan pencegahan sekaligus mencegah
berulangnya keputihan.
Tujuan pengobatan:
1) Menghilangkan gejala
2) Memberantas penyebabrnya
3) Mencegah terjadinya infeksi ulang

10
4) Pasangan diikutkan dalam pengobatan
Berikut ini adalah pengobatan dari penyebab paling sering :
1. Candida albicans
a. Topikal
1) Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2 minggu
2) Klotrimazol 1% vaginal krim 1 x sehari selama 7 hari
3) Mikonazol nitrat 2% 1 x ssehari selama 7 – 14 hari
b. Sistemik
1) Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari
2) Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari
3) Nimorazol 2 gram dosis tunggal
4) Ornidazol 1,5 gram dosis tunggal
2. Chlamidia trachomatis
a. Metronidazole 600 mg/hari 4-7 hari
b. Tetrasiklin 4 x 500mg selama 10-14 hari oral
c. Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 10-14 hari bila
d. Minosiklin dosis 1200mg di lanjutkan 2 x 100 mg/hari selama 14hari
e. Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari
f. Kotrimoksazole sama dengan dosis minosiklin 2 x 2 tablet/hari selama
10 hari
3. Gardnerella vaginalis
a. Metronidazole 2 x 500 mg
b. Metronidazole 2 gram dosis tunggal
c. Ampisillin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari
4. Neisseria gonorhoeae
a. Penicillin prokain 4,8 juta unit im atau
b. Amoksisiklin 3 gr im
c. Ampisiillin 3,5 gram im
5. Untuk Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase
a. Seftriaxon 250 mg im atau
b. Spektinomisin 2 mg im atau

11
c. Ciprofloksasin 500 mg oral

6. Virus herpeks simpleks


a. Belum ada obat yang dapat memberikan kesembuhan secara tuntas
b. Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari
c. Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari
d. Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi
sekunder
7. Penyebab lain :
Vulvovaginitis psikosomatik dengan pendekatan psikologi. Desquamative
inflammatory vaginitis diberikan antibiotik, kortikosteroid dan estrogen.

I. Pencegahan Keputihan
Menurut Wijayanti (2009) bila ingin terhindar dari keputihan, anda mesti
menjaga kebersihan daerah sensitif itu. Kebersihan organ kewanitaan
hendaknya sejak bangun tidur dan mandi pagi. Berikut tip yang dapat
dilakukan :
1. Bersihkan organ intim dengan pembersih yang tidak menggangu
kestabilan pH di sekitar vagina. Salah satunya produk pembersih yang
terbuat dari bahan dasar susu. Produk seperti ini mampu menjaga
keseimbangan pH sekaligus meningkatkan pertumbuhan flora normal dan
menekan pertumbuhan bakteri yang tak bersahabat. Sabun antiseptik biasa
umumnya bersifat keras dan terdapat flora normal di vagina. Ini tidak
menguntungkan bagi kesehatan vagina dalam jangka panjang.
2. Hindari pemakaian bedak pada organ kewanitaan dengan tujuan agar
vagina harum dan kering sepanjang hari. Bedak memiliki partikel-partikel
halus yang mudah terselip di sana sini dan akhirnya mengundang jamur
dan bakteri bersarang di tempat itu.
3. Selalu keringkan bagian vagina sebelum berpakaian.
4. Gunakan celana dalam yang kering. Seandainya basah atau lembab,
usahakan cepat mengganti dengan yang bersih dan belum dipakai. Tak

12
ada salahnya anda membawa cadangan celana dalam untuk berjaga-jaga
manakala perlu menggantinya.
5. Gunakan celana dalam yang bahannya menyerap keringat, seperti katun.
Celana dari bahan satin atau bahan sintetik lain membuat suasana di
sekitar organ intim panas dan lembab.
6. Pakaian luar juga diperhatikan. Celana jeans tidak dianjurkan karena pori-
porinya sangat rapat. Pilihlah seperti rok atau celana bahan non jeans agar
sirkulasi udara di sekitar organ intim bergerak leluasa.
7. Ketika haid sering-seringlah berganti pembalut.
8. Gunakan panty liner di saat perlu saja. Jangan terlalu lama. Misalkan saat
bepergian ke luar rumah dan lepaskan sekembalinya anda di rumah.

Selain itu untuk mencegah keputihan, wanita pun harus selalu menjaga
kebersihan dan kesehatan daerah kewanitaannya. Antara lain adalah :

1. Selalu cuci daerah kewanitaan dengan air bersih setelah buang air, jangan
hanya di seka dengan tisu. Membersihkannya pun musti dilakukan dengan
cara yang benar yaitu dari depan ke belakang, agar kotoran dari anus tidak
masuk ke vagina. Hindari pemakaian sabun vagina berlebihan karena
justru dapat mengganggu keseimbangan flora normal vagina.
2. Jaga daerah kewanitaan tetap kering. Hal ini karena kelembapan dapat
memicu tumbuhnya bakteri dan jamur. Selalu keringkan daerah tersebut
dengan tisu atau handuk bersih setelah dibersihkan. Karena tidak semua
toilet menyediakan tisu, bawalah tisu kemana pun anda pergi. Selain itu
buatlah celana dalam yang terbuat dari katun agar dapat menyerap
keringat dan gantilah secara teratur untuk menjaga kebersihan.
3. Bila sedang mengalami keputihan atau menstruasi tinggal sedikit, boleh
saja menggunakan pelapis celana panty liner. Tetapi sebaiknya tidak
digunakan setiap hari. Panty liner justru dapat memicu kelembapan karena
bagian dasarnya terbuat dari plastik. Pilih panty liner yang tidk
mengandung parfum, terutama buat yang berkulit sensitif.

13
4. Hindari bertukar celana dalam dan handuk dengan teman atau bahkan
saudara kita sendiri karena berganti-ganti celana bisa menularkan
penyakit.
5. Bulu yang tumbuh di daerah kemaluan bisa menjadi sarang kuman bila
dibiarkan terlalu panjang. Untuk menjaga kebersihan, potonglah secara
berkala bulu di sekitar kemaluan dengan gunting atau mencukurnya
dengan hati-hati (Salika, 2010).

14
KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Usia
Harus dipikirkan kaitannya dengan pengaruh estrogen. Bayi wanita atau
wanita dewasa, fluor albus yang terjadi mungkin karena kadar estrogen
yang tinggi dan merupakan fluor albus yang fisiologis. Wanita dalam usia
reproduksi harus dipikirkan kemungkinan suatu penyakit hubungan
seksual (PHS) dan penyakit infeksi lainnya. Pada wanita yang usianya
lebih tua harus dipikirkan kemungkinan terjadinya keganasan terutama
kanker serviks.
2. Metode kontrasepsi yang dipakai
Pada penggunaan kontrasepsi hormonal dapat meningkatkan sekresi
kelenjar serviks. Keadaan ini dapat diperberat dengan adanya infeksi
jamur. Pemakaian IUD juga dapat menyebabkan infeksi atau iritasi pada
serviks menjadi meningkat.
3. Kontak seksual
Untuk mengantipasi fluor albus akibat PHS seperti Gonorea, Kondiloma
Akuminata, Herpes Genitalis dan sebagainya. Hal yang perlu ditanyakan
kontak seksual terakhir dan dengan siapa melakukan.
4. Perilaku
Pasien yang tinggal di asrama atau bersama temannya kemungkinan
tertular penyakit infeksi yang menyebabkan terjadinya fluor albus cukup
besar. Contoh: kebiasan yang kurang baik tukar menukar alat mandi atau
handuk.
5. Sifat fluor albus
Hal yang harus ditanya adalah jumlah, bau, warna, dan konsistensinya,
keruh/jernih, ada/tidaknya darah, frekuensinya dan sudah berapa lama
kejadian tersebut berlangsung. Hal ini perlu ditanyakan secara detail
karena dengan mengetahui hal-hal tersebut dapat diperkirakan
kemungkinan etiologinya.

15
6. Hamil atau menstruasi
Menanyakan kepada pasien kemungkinan hamil atau menstruasi, karena
pada keadaan ini fluor albus yang terjadi adalah fisiologis.
7. Masa inkubasi
Bila fluor albus timbulnya akut dapat diduga akibat infeksi atau pengaruh
rangsangan fisik:
a. Penyakit yang diderita
b. Penggunaan obat antibiotik atau kortikosteroid.
8. Pemeriksaan Fisik dan Genital
Pemeriksaan fisik secara umum harus dilakukan untuk mendeteksi adanya
kemungkinan penyakit kronis, gagal ginjal, ISK, dan infeksi lainnya yang
mungkin berkaitan dengan fluor albus.
Pemeriksaan khusus yang juga harus dilakukan adalah pemeriksaan
genetalia yaitu meliputi:
a. Inspeksi dan palpasi genitalia eksterna
b. Pemeriksaan spekulum untuk melihat vagina dan serviks
c. Pemeriksaan pelvis bimanual
Untuk menilai cairan dinding vagina, hindari kontaminasi dengan lendir
vagina. Dan dapat disesuaikan dari gambaran klinis sehingga dapat
diketahui kemungkinan penyebabnya.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan kenyamanan
2. Ansietas
3. Kurang pengetahuan
4. Kerusakan integritas kulit
5. Risiko infeksi

16
C. Intervensi Keperawatan
DIAGNOSA
NO NOC NIC
KEPERAWATAN
1. Gangguan Kenyamanan Setelah dilakukan 1. Kaji sumber
tindakan keperawatan, ketidaknyamanan.
diharapkan status 2. Anjurkan pasien
kenyamanan meningkat. menggunakan
Kriteria hasil : pakaian dalam
- Pasien merasa yang dapat
nyaman. menyerap keringat.
3.
- Ajarkan pasien
cara membersihkan
area genital.
4. Anjurkan pasien
untuk tidak
menggunakan
sabun saat
membersihkan
vagina.
2. Ansietas Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat
tindakan keperawatan, kecemasan pasien.
diharapkan ansietas 2. Berikan
berkurang atau hilang. kesempatan pada
Kriteria hasil : pasien untuk
- Pasien rileks mengungkapkan
- pasien melaporkan perasaanya.
ansietas berkurang 3. Berikan informasi
akurat tentang
penyakit pasien.
3. Kurang pengetahuan Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat

17
tindakan keperawatan, pengetahuan.
diharapkan pasien 2. Jelaskan pada
mengerti tentang pasien tentang
penyakitnya. penyakitnya.
Kriteria hasil : 3. Diskusikan dengan
1. Pasien menjelaskan pasien tentang hal-
kembali tentang hal yang belum
penyakitnya. diketahui.
2. Pasien berpartisipasi 4. Berikan
dalam perawatan. reinforcement
positif dari
partispasi aktif
pasien.
4. Kerusakan integritas Setelah dilakukan 1. Pertahankan
kulit tindakan keperawatan, kebersihan,
diharapkan tidak terjadi kekeringan, dan
kerusakan integritas kelembaban
kulit. kulit, gunakan air
Kriteria hasil : hangat saat
- tidak ada lesi pada mandi.
vagina 2. Pastikan intake
- tidak ada tanda – tanda nutrisi adekuat.
kerusakan intergritas 3. Edukasi pasien
kulit. dan keluarga
untuk menjaga
pasien terhindar
dari bahan kimia
seperti detergen
dan tidak
menggunakan
sabun serta

18
pelembab kulit
yang
mengandung
alcohol, serta
menjaga
kebersihan
vagina.
4. Kolaborasi
pemberian
antibiotik.
5. Risiko infeksi Setelah dilakukan 1. Kaji tanda-tanda
tindakan keperawatan, infeksi dan
diharapkan tidak ada monitor TTV
infeksi. 2. Gunakan tehnik
Kriteria hasil : antiseptik dalam
- tidak ada tanda-tanda merawat pasien
infeksi 3. Isolasikan dan
instruksikan
individu dan
keluarga untuk
mencuci tangan
sebelum
mendekati pasien
4. Berikan
penjelasan
tentang
perawatan organ
reproduksi
5. Berikan terapi
antibiotik sesuai
program dokter

19
DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, D. 2003. Fluor Albus in Penyakit Menular Seksual. Yogyakarta :


LKIS.

Manoe, I.. M.S. M, Rauf, S, Usmany,H. 1999. Pedoman Diagnosis dan Terapi
Obstetri dan Ginekologi. Ujung Pandang :Bagian/SMF Obstetri dan
Ginekologi Fakultas Kedokteran Unhas RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo.

Maulana. 2008. Buku Pegangan Ibu Panduan Lengkap Kehamilan. Yogyakarta :


Kata Hati.

Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

Wijayanti. 2009. Fakta Penting Seputar Kesehatan Reproduksi Wanita.


Yogyakarta : Book Marks.

Wiknjosastro, H, Saifuddin, B, Rachimhadi, Trijatmo. 1999. Radang dan


Beberapa penyakit lain pada alat genital wanita in Ilmu Kandungan. Edisi
kedua , Cetakan Ketiga. Jakarta :Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirodihardjo.

http ://www.scribd.com//. (online). Diakses tanggal 07 Februari 2018.

20