Anda di halaman 1dari 9

STUDI MANAJEMEN PENGELOLAAN OBAT DI PUSKESMAS LAWA

KABUPATEN MUNA BARAT TAHUN 2015

Rismalawati1 Hariati Lestari2 La Ode Ali Imran Ahmad3


Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo 123
rismalawati164@yahoo.co.id1 lestarihariati@yahoo.co.id2 imranoder@gmail.com3

ABSTRAK

Pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut aspek


perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian dan penghapusan obat yang
dikelola secara optimal untuk menjamin tercapainya ketepatan jumlah dan jenis perbekalan
farmasi. Pada pengelolaan obat di Puskesmas tingkat ketersediaan obat masih belum sesuai
dengan kebutuhan pelayanan kesehatan karena masih sering terjadi kekurangan dan
kekosongan obat disisi lain terjadi pula kelebihan obat. Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan informsi lebih mendalam tentang studi manajemen pengelolaan obat di
Puskesmas Lawa Kabubaten Muna Barat tahun 2015 ditinjau dari perencanaan, pengadaan,
penyimpanan, pendistribusian dan penghapusan. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan
pendekatan deskriptif. Informan dalam penelitian ini berjumlah 4 orang, yang terdiri dari 2
orang informan kunci dan 2 orang informan biasa. Hasil penelitian menunjukan bahwa
perencanaan pengelolaan obat berdasarkan metode epidemiologi dengan pengadaan obat
di sesuaikan pola penyakit dengan mengajukan LPLPO (Lembar Permintaan Dan Lembar
Pemakaian Obat) ke Dinas Kesehatan Kabupaten Muna Barat dan GFK (Gudang Farmasi
Kota). Tempat penyimpanan obat di puskesmas masih kurang memadai, namun
penyusunannya sudah memenuhi standar penyimpanan obat di puskesmas. Pendistribusian
obat yang dilakukan sesuai dengan prosedur pengelolaan obat, serta mengadakan
pemusnahan pada obat yang kadaluarsa.

Kata kunci : manajemen logistik, obat, puskesmas

1
STUDY OF MANAGEMENT OF THE DRUGS IN LOCAL GOVERNMENT CLINIC OF LAWA
WEST MUNA REGENCY IN 2015

Rismalawati1 Hariati Lestari2 La Ode Ali Imran Ahmad3


Public Health Faculty of Halu Oleo University123
rismalawati164@yahoo.co.id1 lestarihariati@yahoo.co.id2 imranoder@gmail.com3

ABSTRACT

Management of the drugs is a series of activities regarding all aspects of planning,


procurement, storage, distribution and elimination of the drugs that are managed optimally
to ensure the attainment of the accuracy of the number and types of pharmaceuticals. In
management of the drugs in local government clinic, availability of the drugs is still not
appropriate with the needs of health services because still happen frequently of shortages
and emptiness of the drugs, beside it there is also the drugs excess. This study aimed to
determine depth information about study of management of the drugs in Local Government
Clinic of Lawa West Muna Regency in 2015 based on planning, procurement, storage,
distribution and elimination. Type of study was qualitative by descriptive approach.
Informants in this study as many as 4 people, consisted of 2 key informants and 2 ordinary
informants. The results showed that planning of management of the drugs based on
epidemiological methods with procurement of the drugs which is appropriated with disease
pattern by propose sheet of demand and sheet of usage of the drugs to Health Office of
West Muna Regency and Pharmacy Warehouse of West Muna Regency. Storage of the
drugs in local government clinic is still inadequate, but the arrangement of the drugs has
fulfilled standard of storage of the drugs in local government clinic. Distribution of the drugs
has been appropriate with the procedure of management of the drugs and did elimination
to the expired drugs.

Keywords: logistics management, the drugs, local government clinic

2
PENDAHULUAN masyarakat terhadap institusi kesehatan,
Manajemen logistik merupakan serta dapat menurunkan semangat kerja
suatu siklus kegiatan yang dimulai dari staf pelayanan kesehatan3.
perencanaan sampai evaluasi yang saling Kabupaten Muna Barat
terkait antara satu dengan yang lain. merupakan salah satu Kabupaten di
Kegiatannya mencangkup perencanaan, Provinsi Sulawesi Tenggara, hasil
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemekaran dari Kabupaten Muna pada
pendistribusian, pengendalian, pertengahan tahun 2014. Data
pencatatan dan pelaporan, penghapusan, ketersediaan obat di Dinas Kesehatan
monitoring dan evaluasi. Bidang logistik Kabupaten Muna masih banyak terdapat
puskesmas merupakan salah satu unit kekosongan obat seperti ACT
penunjang yang sangat penting karena (Arsuamoon), Amoksisilin injeksi 1000 g,
logistik memberikan pelayanan akan Ampisilin kaplet 250 mg, dan lain-lain.
kebutuhan barang-barang yang Terdapat pula kelebihan obat seperi,
dibutuhkan untuk operasional puskesmas Amoksisilin Sirip Kering. Antasida DOEN
dengan ini bidang logistik harus selalu tab, Asam Askorbat, dan lain-lain. Daftar
menyediakan barang-barang yang obat yang kurang, gentamisin salep dan
1
dibutuhkan oleh user atau pemakai . kotrimoksazol, sedangkan daftar obat
Pengelolaan obat merupakan yang kadaluarsa adalah, Diazepam tablet
suatu rangkaian kegiatan yang 2 mg, Garam Oralit untuk 200 ml air, Zinc
menyangkut aspek perencanaan, tab 20 mg, dan lain-lain.
pengadaan, penyimpanan dan Berdasarkan hasil obsevasi awal
pendistribusian obat yang dikelola secara dan wawancara dengan kepala Apotek
optimal untuk menjamin tercapainya Puskesmas Lawa. Masalah manajemen
ketepatan jumlah dan jenis perbekalan logistik yang ada di Puskesmas Lawa saat
farmasi dengan memanfaatkan sumber- ini adalah tingkat ketersediaan obat
sumber yang tersedia seperti tenaga, masih belum sesuai dengan kebutuhan
dana, sarana dan perangkat lunak pelayanan kesehatan karena masih sering
(metode dan tata laksana) dalam upaya terjadi kekurangan dan kekosongan obat
mencapai tujuan yang ditetapkan disisi lain terjadi pula kelebihan obat.
diberbagai tingkat unit kerja2. Oleh karena belum terpenuhinya
Obat merupakan komponen kebutuhan obat tersebut, maka pasien
esensial dari pelayanan kesehatan oleh harus dirujuk ke Rumah Sakit atau
sebab itu diperlukan suatu sistem Puskesmas lain untuk mendapatkan
manajemen yang baik dan pelayanan kebutuhan obat yang
berkesinambungan. Dalam pelayanan dibutuhkan.
kesehatan obat merupakan salah satu Hasil pelaporan dan pencatatan di
alat yang tidak dapat tergantikan. Dengan puskesmas Lawa pada bulan Maret tahun
demikian penyediaan obat esensial 2015, daftar obat yang mengalami
merupakan kewajiban bagi pemerintah kekosongan seperti obat Vaksin BCG,
dan institusi pelayanan kesehatan publik Lisol, Loperamide tablet 2 mg, Kaptopril
maupun swasta, karena kekurangan obat tablet 25 mg. dan lain-lain. Terjadi pula
di sarana kesehatan dapat berdampak kelebihan obat seperti, Diazepan tablet 2
pada menurunnya kepercayaan mg persediaan, Kalsium Laktat (kalt),

3
Fenobaribital tablet 30 mg dan lain-lain. Berdasarkan hasil wawancara dengan
Dengan rata-rata kunjungan pasien para informan, diketahui bahwa terkait
pertahun 300-600 jiwa. Selain itu petugas dengan waktu pelaksanaan kebutuhan
apoteker juga biasanya mengeluh degan obat di Puskesmas Lawa, mereka
masalah permintaan yang kadang tidak melaksanakan kebutuhan obat pada akhir
sesuai dengan obat yang datang. tahun dan didrop diawal tahun sementara
Berdasarkan latar belakang di atas, itu untuk kebutuhan obat dalam setahun
maka rumusan masalah penelitian ini perencanaannya tiap 3 bulan pihak
adalah bagaimana studi manajemen Puskesmas melakukan pengamprahan ke
pengelolaan obat di Puskesmas Lawa gudang farmasi kota, dalam hal
Kabupaten Muna Barat yang terkait penyusunan perencanaan obat yang
dengan perencanaan, pengadaan, bertanggung jawab adalah penanggunag
pendistribusian, penyimpanan dan jawab gudang obat dan belum ada tim
pengahapusan? Tujuan penelitian ini perencanaan dalam menyusun obat.
adalah Untuk mendapat informasi lebih 3. Pertimbangan yang dilakukan
mendalam tentang studi manajemen dalam proses seleksi obat
pengelolaan obat di Puskesmas Lawa Berdasarkan hasil wawancara dengan
Kabupaten Muna Barat tahun 2015. para informan, diketahui bahwa dalam
proses seleksi obat di Puskesmas Lawa
METODE pertimbangan yang dilakukan dilihat dari
Penelitian yang dilakukan merupakan kekosongan obat dan di sesuaikan dengan
penelitian yang bersifat deskriptif dengan jumlah kunjungan pasien.
menggunakan pendekatan kualitatif 4. Alasan dilakukan perencanaan obat
untuk memperoleh informasi yang lebih Berdasarkan hasil wawancara dengan
mendalam tentang manajemen para informan, diketahui bahwa terkait
pengelolaan obat3. Objek penelitian ini dengan tujuan perencanaan obat di
adalah laporan atau data manajemen Puskesmas Lawa, mereka
pengelolaan obat di Puskesmas Lawa mengungkapkan beberapa alasan sebagai
Kabupaten Muna Barat tahun 2015. berikut, agar kebutuhan pasien dapat
terpenuhi dan mencegah kekosongan
HASIL obat.
a. Perencanaan 5. masalah perencanaan pengelolaan
1. Proses perencanaan kebutuhan obat
obat Berdasarkan hasil wawancara dengan
Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan, di ketahui bahwa masalah
para informan, diketahui bahwa terkait yang ada dalam perencanaan obat di
dengan proses perencanaan obat di Puskesmas Lawa perencanaan obat
Puskesmas Lawa, mereka merencanakan kadang tidak terealisasi 100% obat yang
berdasarkan 10 penyakit terbesar yanag diminta dan kadang juga obat yang
ada diwilayah kerjanya serta datang tidak sesuai dengan obat yang
direncanakan tiap tiga bulan. diminta. Hal itumenyebabkan ke
2. Waktu pelaksanaan perencanaan kurangan atau kekosongan obat.
obat

4
b. Pengadaan Berdasarkan penjelasan informan dan
1. langkah pemilihan metode saat hasil dari obsesvasi dapat diketahui
pengadaan obat bahwa pertimbangan yang dilakukan
Makna dari pernyataan informan dalam penyimpanan obat di Puskesmas
berikut mengenai metode yang Lawa mendahulukan obat yang ekspayer
digunakan dalam pengadaan obat adalah untuk didrop.
berdasarkan pola penyakit dengan 3.Tahapan yang dilakukan dalam
menggunakan Lembar Permintaan dan penyusunan obat
Lembar Pemakaian Obat kemudian ke Berdasarkan penjelasan informan dan
dinas kesehatan (Gudang Farmasi hasil dari obsesvasi dapat diketahui
Kabupaten/Kota) setiap pertriwulan. bahwa tahapan yang dilakukan dlam
Selain itu, tidak semua obat yang di minta penyusunan pengelolaan obat di
tersedia oleh dinas kesehatan sehingga Puskesmas Lawa berdasarkan alfabeth.
terjadi kekosongan obat di Puskesmas. Obat kaleng dan dos-dos disimpan di
2. Terkait langkah yang di tempuh jika tempat yang berbeda atau berdasarkan
terjadi kekurangan persediaan obat jenis obatnya.
Kesimpulan dari pernyataan d. Pendistribusian
keemapat informan yang dilakukan di 1. Mengenai mekanisme
Puskesmas Lawa jika terjadi kekurangan pendistribusian pengelolaan obat
atau kekosongan obat mereka lansung Makna dari pernyataan beberapa
mengadakan bon ke Gudang Farmasi Kota informan berikut menujukkan bahwa
(GFK). mekanisme pendistibusian obat di
3. Mengenai pemeriksaan pada saat Puskesmas Lawa setelah mengamprah
pengadaan obat dari Dinas Kesehatan kemudian
Berdasarkan hasil wawancara dari para disalurkan di unit-unit pelyanan
informan terkait dengan pemeriksaan Puskemas seperti UGD dan Posyandu di
pada saat pengadaan obat di Puskesmas karenakan di kecamatan Lawa tidk ada
Lawa terlebih dahulu diperiksa dan jaringan puskesmas lainnya seperti pustu,
disesuaikan dengan SBK . polindes, kemudian di salurkan kepasien
c. Penyimpanan untuk mendapatkan pelayanan setiap
1. Prosedur penyimpanan obat harinya, pernyataan informan AN
Makna dari hasil wawancara pendisribusian obat disesuaikan dengan
menunjukkan bahwa penyimpanan obat resep dokter.
di Puskesmas Lawa disimpan di rak, 2. yang di prioritaskan dalam
lemari, serta lemari vaksin dan serum, pendistribusian obat
alat-alat kesehatan di simpan terpisah. Makna dari pernyataan beberapa
Prosedur penyimpanan obat disusun informan menggambarkan bahwa yang
secara teratur dan rapi di sesuaikan paling diprioritaskan dalam
dengan metode Fefo dan Fifo, serta obat pendistribusian obat adalah disesuaikan
yang ekspayer didahulukan dengan dengan masing-masing kebutuhan unit
tujuan menghindari obat yang kadaluarsa. misalnya kebutuhan bidan dan UGD
2.Hal yang dipertimbangkan dalam disesuikan dengan obat ynag mereka
penyimpanan obat minta.

5
3. Cara pendistribusian obat yang obat secara rasional dan meningkatkan
disalurkan ke sub unit efisiensi penggunaan obat.
Berdasarkan pernyataan informan dari Perencanaan obat di Puskesmas Lawa
hasil wawancara, pendistribusian obat menunjukan bahwa perencanaan
yang disalurkan ke sub unit seperti UGD, kebutuhan obat di Puskesmas Lawa di
dikeluarkan perbulan sesuai permintaan lakukan setiap 3 bulan serta direncanakan
mereka namun tidak semua jenis obat berdasarkan 10 penyakit terbesar yang
yang dipake. ada diwilayah kerjanya hal ini sudah
e. Penghapusan menggunakan metode yang telah di
1. Mekanisme penghapusan obat tetapkan oleh perencanan yaitu metode
Makna dari pernyataan ke-4 informan epidemioligi (berdasarkan pola penyakit).
menunjukkan bahwa mekanisme Dimana dengan data-data tersebut obat-
pengapusan obat di Puskesmas Lawa obatan yang direncanakan dapat tepat
dilakukan dengan melaporkan serta jenis maupun tepat jumlah untuk
mengirim berita acara obat memenuhi kebutuhan masyarakat dalam
rusan/kadaluarsa ke Dinkes Kesehatan kurun waktu tertentu.
untuk ditindak lanjuti, kemudian pihak Tujuan perencanaan obat
Puskesmas melakukan pemusnahan berdasarkan peraturan menteri
dengan cara dibakar serta dibuatkan kesehatan RI No.30 Tahun 2014 tentang
lubang sesuai dengan kebijakan dari pihak standar pelayanan kefarmasian di
dinkes kota. Puskesmas adalah untuk mendapatkan a)
perkiraan jenis dan jumlah Obat yang
DISKUSI mendekati kebutuhan, b) meningkatkan
1. Perencanaan kebutuhan obat secara rasional, c)
Perencanaan kebutuhan farmasi meningkatkan efisiensi penggunaan obat.
merupakan proses kegiatan dalam Penelitian di Puskesmas Lawa
pemilihan jenis, jumlah dan harga mengenai mengapa harus diadakan
perbekalan farmasi yang sesuai dengan perencanaan obat adalah tujuan dalam
kebutuhan dan anggaran, untuk merencanakan obat agar kebutuhan
menghindari kekosongan obat dengan pasien dapat terpenuhi dan mencegah
menggunakan metode yang dapat kekosongan obat. Mereka hanya terfokus
dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar pada kebutuhan pasien dan mencegah
perencanaan yang telah ditentukan kekosongan obat. Diamana tujuan dari
antara lain konsumsi, epidemiologi, perencanaan obat merupakan sebagai
kombinasi metode konsumsi dan acuan untuk merencanakan obat agar
epidemiologi di sesuaikan dengan kebutuhan pasien dapat terpenuhi dan
anggaran yang tersedia.4 mencegah kekosongan obat.
Perencanaan kebutuhan obat sangat Perencanaan kebutuhan obat di
mempengaruhi ketersediaan obat di Puskesmas setiap periode dilaksanakan
Puskesmas, sebab proses perencanaan oleh ruang farmasi di puskesmas. Proses
obat bertujuan untuk mendapatkan seleksi obat dilakukan dengan
perkiraan jenis dan jumlah obat dan mempertimbangkan pola penyakit, pola
bahan medis habis pakai yang mendekati konsumsi obat periode sebelunya, data
kebutuhan, meningkatkan penggunaan mutasi obat, dan rencana

6
pengembangan. Proses seleksi obat juga Puskesmas Lawa menunjukan
harus mengacu pada daftar Obat Esensil bahawa metode pengadaan obat yang
Nasional (DOEN) dan formularium digunakan dalam pengadaan obat adalah
Nasional. Proses seleksi obat harus berdasarkan pola penyakit dengan
melibatkan tenaga kesehatan yang ada di menggunakan Lembar Permintaan dan
puskesmas seperti dokter, dokter gigi, Lembar Pemakaian Obat (LPLPO)
bidan, dan perawat, serta pengelola kemudian ke dinas kesehatan (Gudang
program yang berkaitan dengan Farmasi Kabupaten/Kota) setiap
pengobatan. pertriwulan. Selain itu, tidak semua obat
Berdasarkan hasil penelitian di yang di minta tersedia oleh dinas
Puskesmas Lawa pertimbangan yang kesehatan sehingga terjadi kekosongan
dilakukan dalam proses seleksi obat itu obat di Puskesmas.
dilihat dari kekosongan obat dan 3. Penyimpanan
disesuaikan dengan jumlah kunjungan Penyimpanann obat merupakan
pasien. Dalam mempertimbangkan suatu kegiatan pengaturan terhadap obat
seleksi kebutuhan obat harus sesuai yang di terima agar aman (tidak hilang),
dengan kebutuhan pasien, dalam hal ini terhindar dari kerusakan fisik maupun
tidak bisa lebih banyak obat yang diminta kimia dan mutuhnya tetap terjamin,
dari pada pasien yang datang. sesuai dengan persyaratan yang
Melihat informasi tersebut dapat ditetapkan.
ditarik kesimpulan bahwa masalah yang Tujuannya adalah agar mutu obat
ada dalam perencanaan obat di yang tersedia di Puskesmas dapat di
Puskesmas Lawa perencanaan obat pertahankan sesuai dengan persyaratan
kadang tidak terealisasi 100% obat yang yang telah ditetapkan. Penyimpanan obat
diminta dan kadang juga obat yang dengan mempertimbangkan hal-hal
datang tidak sesuai dengan obat yang sebagai berikut; a) bentuk dan jenis
diminta, hal itu menyebabkan kekurangan sediaan, b) stabilitas (suhu, cahaya,
obat. kelembaban), c) mudah atau tidaknya
2. Pengadaan meledak/terbakar; narkotika dan
Pengadaan merupakan kegiatan yang psikotropika disimpan dalam lemari
dimaksudkan untuk merealisasikan khusus.
perencanaan kebutuhan. Pengadaan yang penyimpanan obat Di Puskesmas
efektif harus menjamin ketersediaan, Lawa telah sesuai dengan prosedur
jumlah, dan waktu yang tepat dengan penyimpanan obat. obatnya disimpan di
harga yang terjangkau dan sesuai standar rak, lemari, serta lemari vaksin dan
mutu. Pengadaan merupakan kegiatan serum, alat-alat kesehatan disimpan
yang berkesinambungan dimulai dari terpisah. disusun secara teratur dan rapi
pemilihan, penentuan jumlah yang di sesuaikan dengan metode FIFO (First in
dibutuhkan, penyesuaian antara First Out, artinya obat yang datang
kebutuhan dan dana, pemilihan metode pertama kali harus dikeluarkan terlebih
pengadaan, pemilihan pemasok, dulu dari obat yang datang kemudian,
penentuan spesifikasi kontrak, dan FEFO (First Expired First Out), artinya
pemantauan proses pengadaan, dan obat yang lebih awal kadaluarsa harus
pembayaran5. dikeluarkan lebih dahulu dari obat yang

7
kadaluarsa kemudian. Obat yang dengan cara mengirim berita acara obat
ekspayer didahulukan dengan tujuan yang rusak/kadaluarsa ke Dinkes
menghindari obat yang kadaluarsa, Kesehatan melalui GFK (Gudang Farmasi
penyusunan obat berdasarkan alfabeth Kota) untuk ditangani selanjutnya sesuai
4. Pendistribusian dengan ketentuan yang berlaku.
Pendistribusian obat merupakan Penghapusan obat di Puskesmas
kegiatan pengeluaran dan penyerahan dilakukan dengan melaporkan serta
obat secara merata dan teratur untuk mengirim berita acara obat
memenuhi kebutuhan sub unit/satelit rusan/kadaluarsa ke Dinkes Kesehatan
puskesmas dan jaringannya. Tujuannya untuk ditindak lanjuti, kemudian pihak
adalah untuk memenuhi kebutuhan obat Puskesmas melakukan pemusnahan
sub unit pelayanan kesehatan yang ada dengan cara dibakar serta dibuatkan
diwilayah kerja Puskesmas dengan jenis, lubang sesuai dengan kebijakan dari pihak
mutu, jumlah dan waktu yang tepat5. dinkes kota. Tujuan penanganan obat
Pendistribusian obat mencakup yang rusak adalah melindungi pasien dari
kegiatan pengeluaran dan pengiriman efek samping obat yang tidak layak pakai.
obat-obatan yang bermutu, terjamin Puskesmas Lawa sudah melakukan
keabsahannya serta tepat jenis dan medode pengahapusan obat sesuai
jumlah dari gudang obat secara merata dengan Permenkes No. 58 Tahun 2014
dan teratur untuk memenuhi kebutuhan yang menjelaskan bahwa Administrasi
unit-unit pelayanan kesehatan. penghapusan merupakan kegiatan
Mekanisme pendistribusian obat yang penyelesaian terhadap Sediaan Farmasi,
dilakukan di Puskesmas mengikuti protap yang tidak terpakai karena kadaluwarsa,
yang ada. Pendistribusian obat yang di rusak, mutu tidak memenuhi standar
mulai dari dinas kesehatan yang dengan cara membuat usulan
kemudian menyalurkan ke puskesmas penghapusan Sediaan Farmasi, kepada
dan dipuskesmas nantinya akan pihak terkait sesuai dengan prosedur
menyalurkan ke pasien dari unit-unit yang berlaku6.
maupun ke posyandu ataupun pustu.
Hasil penelitian di Puskesmas Lawa SIMPULAN
menunjukan bahwa mekanisme 1. Perencanaan obat di Puskesmas Lawa
pendistibusian obat hanya disalurkan ke dilakukan oleh penanggung jawab
UGD dan Posyandu di karenakan di gudang obat setiap 3 bulan.
kecamatan Lawa tidak ada jaringan Perencanaan obat di Puskesmas
Puskesmas lainnya seperti pustu, dilakukan dengan metode
polindes, kemudian di salurkan kepasien epidemiologi.
untuk mendapatkan pelayanan setiap 2. Pengadaan obat di Puskesmas Lawa
harinya pernyataan informan AN di sesuaikan dengan pola penyakit
pendisribusian obat disesuaikan dengan dengan mengajukan LPLPO ke Dinas
resep dokter. Kesehatan Kota dan GFK.
5. Penghapusan 3. Penyimpanan obat di Puskesmas
Penghapusan adalah serangkain Lawa masih kurang memadai
kegiatan yang dilakukan pihak Puskesmas ruangannya yang sempit, tidak
dalam menindak lanjuti kerusakan obat adanya kipas angin/AC. Namun untuk

8
penyimpanan obat disusun secara 4. Proses pendistribusian perlu
abjath teratur dan rapi dengan direncanakan untuk memperlancar
metode FIFO dan FEFO. pendistribusian obat ke apotek dan
4. Pendistribusian obat di Puskesmas unit perawatan lainnya.
Lawa dilakukan dengan sistem 5. Pada Dinas Kesehatan Kabupaten
amprah dari Dinas Kesehatan hendaknya lebih sering mengadakan
kemudian disalurkan ke unit-unit pelatihan mengenai manajemen
pelayanan sesuai dengan kebutuhan logistik obat kepada tenaga pengelola
masing-masing unit untuk diserahkan obat, agar sistem manajemen obat di
kepasien. Pendistribusian obat di Puskesmas lebih baik lagi dan
Puskesmas Lawa Sudah sesuai dengan meningkatkan pengetahuan bagi
pedoman pengelolaan obat di pengelola obat.
Puskesmas,
5. Pengapusan obat di Puskesmas Lawa DAETAR PUSTAKA
sesuai prosedur, hal ini dapat dilihat 1. Kemenkes RI, 2010. Pedoman
dengan dilakukannya penghapusan Pengelolaan Perbekalan Farmasi di
obat rusak/kadaluarsa oleh Rumah Sakit. Kementrian Kesehatan
Puskesmas dengan mengirim berita RI.
acara ke Gudang Farmasi Kota (GFK) 2. Mangindara. 2012. Analisis
melalui persetujuan dinas kesehatan. Pengelolaan Obat Di Puskesmas
Kampala Kecamatan Sinjai Timur
SARAN Kabupaten Sinjaitahun 2011. Jurnal
1. Lebih baik memperhatikan proses AKK, Vol 1 No 1
perencanaan obat yang awalnya 3. Wardhana, Zendy Priscillia. 2013. Profil
hanya menggunakan metode Penyimpanan Obat di Puskesmas
epidemiologi, sebaiknya juga Pada Dua Kecamatan Yang Berbeda di
menggunakan metode konsumsi Kota Kediri. Vol. 2. No 2. 2013
karena metode ini mempunyai 4. Febriawati, Henni. 2013. Manajemen
keunggulan sangat kecil kemungkian Logistik Farmasi Rumah Sakit. Gosyen
Puskesmas mengalami kekurangan Publishing. Yogyakarta
atau kelebihan obat. 5. Permenkes No. 30 tahun 2014.
2. Proses pengadaan obat di Instalasi Standar Pelayanan Kefarmasian Di
Farmasi Puskesmas Lawa seharusnya Puskesmas Menteri Kesehatan
lebih diperhatikan lagi sehingga Republik Indonesia.
ketersediaan obat tetap terjaga. 6. Permenkes No. 58 Tahun 2014
3. Proses penyimpanan obat di gudang Standar Pelayanan Kefarmasian Di
penyimpanan Puskesmas Lawa perlu Rumah Sakit
dilakukan perluasan gudang dengan
standar gudang penyimpanan yang
baik dan juga harus diperhatikan
ketersediaan sarana dan prasarana
yang dibutuhkan dalam proses
penyimpanan obat.