Anda di halaman 1dari 3

Air merupakan unsur terpenting dalam pengelolaan dan pemeliharaan pertanian.

Semakin
meningkatnya kebutuhan air dalam rangka intensifikasi dan perluasan areal persawahan
(ekstensifikasi), serta terbatasnya persediaan air untuk irigasi dan keperluan-keperluan lainnya,
terutama pada musim kemarau, maka penyaluran dan pemakaian air irigasi harus dilaksanakan
secara lebih efisien dan efektif. Air yang mengalir dari saluran primer ke saluran sekunder dan
tersier menuju ke sawah sering terjadi kehilangan air sehingga dalam perencanaan selalu
dianggap bahwa seperempat sampai sepertiga dari jumlah air yang diambil akan hilang sebelum
air itu sampai di sawah.
Kehilangan air yang terjadi erat hubungannya dengan efisiensi. Besaran efisiensi dan
kehilangan air berbanding terbalik. Bila angka kehilangan air naik maka efisiensi akan turun dan
begitu pula sebaliknya. Efisiensi irigasi menunjukkan angka daya guna pemakaian air yaitu
merupakan perbandingan antara jumlah air yang digunakan dengan jumlah air yang diberikan.
Sedangkan kehilangan air adalah selisih antara jumlah air yang diberikan dengan jumlah air yang
digunakan.
Kehilangan air yang terjadi pada saluran primer, sekunder dan tersier melalui evaporasi,
perkolasi, rembesan, bocoran dan eksploitasi. Evaporasi, perkolasi, bocoran, dan rembesan relatif
lebih mudah untuk diperkirakan dan dikontrol secara teliti. Sedangkan kehilangan akibat
eksploitasi (faktor operasional) lebih sulit diperkirakan dan dikontrol tergantung pada bagaimana
sikap tanggap petugas operasi dan masyarakat petani pengguna air. Kehilangan air secara
berlebihan perlu dicegah dengan cara peningkatan saluran menjadi permanen dan pengontrolan
operasional sehingga debit tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi peningkatan
produksi pertanian dan taraf hidup petani. Kehilangan air yang relatif kecil akan meningkatkan
efisiensi jaringan irigasi, karena efisiensi irigasi sendiri merupakan tolak ukur suksesnya operasi
pertanian dalam semua jaringan irigasi.
Tidak semua air yang diambil dari sumber dapat digunakan pada daerah perakaran
tanaman. Sebagian dari air akan hilang selama pengaliran di dalam saluran dan sawah. Sisa air
tersebut akan berada di daerah perakaran yang dapat digunakan oleh tanaman. Dengan kata lain,
hanya sebahagian air yang digunakan secara efesien sedangkan sisanya akan hilang. Menurut
Brouwer (1989) cit Rizalihadi et al., (2014), kehilangan air irigasi yang terjadi di saluran
disebabkab oleh :
1.Evaporasi pada muka air
2. Perkolasi pada lapisan tanah di bawah saluran
3. Rembesan melalui pematang sawah dan saluran
4. Peluapan di atas pematang sawah
5. Pecahnya pematang sawah
6. Limpasan melalui saluran
7. Lubang tikus pada saluran.
Sedangkan kehilangan air irigasi yang terjadi di petak sawah disebabkan oleh :
1. Limpasan permukaan ke saluran drainase
2. Perkolasi kearah di bawah daerah perakaran
Persentase kehilangan air yang diakibatkan oleh faktor-faktor yang diuraikan di atas, atau
jumlah air yang digunakan secara efisien dalam suatu sistem irigasi digambarkan sebagi nilai
efesiensi irigaasi.

Efisiensi irigasi menunjukkan angka daya guna pemakaian air yaitu merupakan
perbandingan antara jumlah air yang digunakan dengan jumlah air yang diberikan yang
dinyatakan dalam persen (%).Bila angka kehilangan air naik maka efisiensi akan turun dan
begitu pula sebaliknya.
Efiesiensi diperlukan karena adanya pengaruh kehilangan air yang disebabkan oleh
evaporasi, perkolasi, infiltrasi, kebocoran dan rembesan.
Kehilangan air secara umum dibagi dalam 2 kategori, antara lain : (1)
Kehilangan akibat fisik dimana kehilangan air terjadi karena adanya rembesan air di
saluran dan perkolasi di tingkat usaha tani (sawah); dan (2) Kehilangan akibat
operasional terjadi karena adanya pelimpasan dan kelebihan air pembuangan pada
waktu pengoperasian saluran dan pemborosan penggunaan air oleh petani.

Besarnya kehilangan air pada saluran selain dipengaruhi oleh musim, jenis tanah,
keadaan dan panjang saluran juga dipengaruhi oleh karateristik saluran. Sistem penyaluran air ke
areal persawahan menggunakan saluran tanah, dan mengakibatkan rendahnya efesiensi
pengairan. Pendugaan besarnya kehilangan air pada saluran merupakan langkah awal dalam
usaha pcmanfaatan air secara efisien. (Sarnadi, 1985). Sampai saat ini dalam eksploitasi irigasi di
daerah irigasi kehilangan air pada saluran - saluran tersier ditetapkan dalam persen berdasarkan
perkiraan dan taksiran petugas irigasi yang bersangkutan, Penentuan faktor saluran tersier lebih
baik dalam pengaturan pcmberian air, faktor saluran tersier digunakan untuk menentukan debit
yang diperlukan dari saluran sekunder.

Dalam Evaporasi adalah penguapan yang terjadi dari permukaan (seperti laut, danau,
sungai), permukaan tanah (genangan di atas tanah dan penguapan dari permukaan air tanah yang
dekat dengan permukaan tanah), dan permukaan tanaman (intersepsi). Laju evaporasi dinyatakan
dengan volume air yang hilang oleh proses tersebut tiap satuan luas dalam satu satuan waktu;
yang biasanya diberikan dalam mm/hari atau mm/bulan. Evaporasi sangat dipengaruhi oleh
kondisi klimatologi, meliputi (Triatmodjo B, 2008:49-50) : (a) radiasi matahari (%); (b)
temperatur udara (0C); (c) kelembaban udara (%); (d) kecepatan angin (km/hari).
Penentuan Perkolasi, Linsley dan Franzini (1979) cit Isnin et al., (2012) menjelaskan
bahwa laju perkolasi dipengaruhi dipengaruhi oleh tekstur tanah, tinggi muka air tanah, lapisan
top soil, lapisan kedap dan topografi. Kecepatan rata-rata perkolasi untuk tanaman padi pada
ketebalan lapisan tanah atas (top soil) 50 cm untuk beberapa tekstur tanah

Efisiensi penyaluran air irigasi adalah perbandingan antara jumlah air yang digunakan oleh
tanaman dengan jumlah air yang tersedia dinyatakan dalam persentase. Pada saat penyaluran air
mulai masuk dari pintu air sampai ke petakan sawah terjadi kehilangan air pada saluran primer,
sekunder dan tersier yang disebabkan oleh evaporasi, rembesan maupun perkolasi. Untuk
memenuhi kebutuhan air irigasi debit air yang tersedia harus cukup untuk disalurkan ke setiap
saluran sampai ke petakan sawah. Oleh karena itu diperlukan pengukuran debit agar penyaluran air
dapat dimanfaatkan seefisien mungkin. Manfaat perhitungan kehilangan air di saluran irigasi
adalah untuk mengetahui

Triatmodjo, B. 2008. Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Beta Offset.