Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS ANESTESI REGIONAL

PADA PASIEN APPENDISITIS AKUT

Oleh:

EKA RAFNI
11101020

Pembimbing :
Dr. Lasmaria Flora Sp.An

KKS BAGIAN ILMU ANESTESI RSUD. BANGKINANG


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABDURRAB
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah dan
pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus yang berjudul
“Anestesi General Pada Pasien Appendisitis Akut” yang diajukan sebagai persyaratan
untuk mengikuti KKS Ilmu Anestesi. Terima kasih penulis ucapkan kepada dokter
pembimbing yaitu dr. Lasmaria Flora, Sp.An yang telah bersedia membimbing
penulis, sehingga laporan kasus ini dapat selesai pada waktunya.

Penulis memohon maaf jika dalam penulisan laporan kasus ini terdapat
kesalahan, dan penulis memohon kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan
laporan kasus ini. Atas perhatian dan sarannya penulis mengucapkan terima kasih.

Bangkinang, 23 September 2015

Penulis

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 2


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I : PENDAHULUAN 4
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 5
2.1 Anestesi regional 5
A. Definisi Anestesi Regional 5
B. Pembagian Anestesi Regional 5
C. Keuntungan dan Kerugian Anestesi Umum 5
D. Persiapan anestesi regional 6
E. Anestesi Spinal 6
F. Indikasi dan Kontraindikasi 7
G. Obat-obatan 9
H. Tekhnik Anestesi 9
I. Kompliksai 10
2.2 Appendisitis 11
A. Definisi 11
B. Epidemiologi 11
C. Etiologi 13
D. Patogenesis 13
E. Gejala Klinis 13
F. Pemeriksaan Fisik 16
G. Pemeriksaan Penunjang 18
H. Penatalaksanaan 19
I. Komplikasi dan Prognosis 20
BAB III : LAPORAN KASUS 21
BAB IV : PEMBAHASAN 28
BAB V : KESIMPULAN 31
DAFTAR PUSTAKA 32

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 3


BAB I
PENDAHULUAN

Anestesi berasal dari bahasa Yunani an- "tidak, tanpa" dan aesthetos,
"persepsi, kemampuan untuk merasa", secara umum berarti suatu tindakan
menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur
lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama
kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.
Anestesi regional adalah hambatan impuls nyeri suatu bagian tubuh sementara
pada impuls syaraf sensorik, sehingga impuls nyeri dari satu bagian tubuh diblokir
untuk sementara (reversibel). Fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau
seluruhnya, tetapi pasien tetap sadar. Anestesi spinal merupakan pemberian obat
anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid. Anestesi spinal diperoleh dengan cara
menyuntikkan anastetik lokal kedalam ruang subarachnoid.
Kejadian apendisitis akut di Amerika Serikat dan negara Eropa sekitar 7% dari
populasi. Di negara Asia dan Afrika, kejadian apendisitis akut lebih rendah
dikarenakan kebiasaan konsumsi makanan yang berserat. Apendisitis lebih sering
menyerang pria daripada wanita dengan rasio 1,7: 1

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 4


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anestesi Regional


A. Definisi
Anestesi regional adalah hambatan impuls nyeri suatu bagian tubuh sementara
pada impuls syaraf sensorik, sehingga impuls nyeri dari satu bagian tubuh diblokir
untuk sementara (reversibel). Fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau
seluruhnya, tetapi pasien tetap sadar

B. Pembagian Anestesi Regional


1. Blok sentral (blok neuroaksial), yaitu meliputi blok spinal, epidural dan
kaudal. Tindakan ini sering dikerjakan.
2. Blok perifer (blok saraf), misalnya anestesi topikal, infiltrasi lokal, blok
lapangan, dan analgesia regional intravena.

C. Keuntungan dan Kerugian


Keuntungan
 Alat minim dan teknik relatif sederhana, sehingga biaya relatif lebih
murah
 Relatif aman untuk pasien yang tidak puasa (operasi emergency,
lambung penuh) karena penderita sadar
 Tidak ada komplikasi jalan nafas dan respirasi
 Tidak ada polusi kamar operasi oleh gas anestesi
 Perawatan post operasi lebih ringan
Kerugian
 Tidak semua penderita mau dilakukan anestesi secara regional
 Membutuhkan kerjasama pasien yang kooperatif

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 5


 Sulit diterapkan pada anak-anak
 Tidak semua ahli bedah menyukai anestesi regional
 Terdapat kemungkinan kegagalan pada teknik anestesi regional

D. Persiapan Anastesi Regional


Persiapan anestesi regional sama dengan persiapan anestesi umum
karena untuk mengantisipasi terjadinya reaksi toksik sistemik yang bisa
berakibat fatal. Daerah disekitar tempat tusukan diteliti apakah akan
menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung
atau pasien gemuk sekali sehingga tidak teraba tonjolan prosesus spinosus.
Selain itu harus diperhatikan hal-hal dibawah ini:
 Informed consent (izin dari pasien)
 Pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan
tulang punggung.
 Pemeriksaan laboratorium anjuran, misalnya hemoglobin, hematokrit.

E. Anestesi Spinal
Anestesi spinal ialah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang
subarachnoid. Anestesi spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anastetik
lokal kedalam ruang subarachnoid. Anestesi spinal disebut juga sebagai
analgesi atau blok spinal intradural. Untuk mencapai cairan serebrospinal,
maka jarum suntik akan menembus kutis, subkutis, Lig. Supraspinosum, Lig.
Interspinosum, Lig. Flavum, ruang epidural, durameter, ruang subarachnoid.

Gambar 1. Penampang Vertebra

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 6


F. Indikasi dan kontraindikasi
Indikasi
 Bedah ekstremitas bawah
 Bedah panggul
 Tindakan sekitar rektum perineum
 Bedah obstetrik-ginekologi
 Bedah urologi
 Bedah abdomen bawah
 Pada bedah abdomen atas dan bawah pediatrik biasanya
dikombinasikan dengan anestesi umum ringan

Kontra indikasi absolut:


 Pasien menolak
 Infeksi pada tempat suntikan
 Hipovolemia berat, syok
 Koagulapatia atau mendapat terapi koagulan
 Tekanan intrakranial meningkat
 Fasilitas resusitasi minim
 Kurang pengalaman tanpa didampingi konsulen anestesi.

Kontra indikasi relatif:


 Infeksi sistemik
 Infeksi sekitar tempat suntikan
 Kelainan neurologis
 Kelainan psikis
 Bedah lama
 Penyakit jantung
 Hipovolemia ringan

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 7


 Nyeri punggung kronik

G. Obat-Obatan
1) Bupivacaine (Marcaine). 0.5% dalam dextrose 8.25%: berat jenis
1.027, sifat hyperbaric (heavy), dosis 5-15 mg (1-3 ml). Bupivacaine
memiliki durasi kerja 2-3 jam
2) Lidokain (lignocaine, xylocaine) 5% dalam dextrose 7,5% : berat jenis
1.033, sifat hyperbaric (heavy) dosis 20-50 mg (1-2ml), dengan durasi
45-90 minutes.
3) Cinchocaine (Nupercaine, Dibucaine, Percaine, Sovcaine). 0.5%
hyperbaric (heavy) sama dengan bupivacaine.
4) Amethocaine (Tetracaine, Pantocaine, Pontocaine, Decicain,
Butethanol, Anethaine, Dikain).
5) Mepivacaine (Scandicaine, Carbocaine, Meaverin). 4% hyperbaric
(heavy) sama dengan lignocaine.

H. Teknik Anestesi
Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada
garis tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan di
atas meja operasi tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan
posisi pasien. Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan
menyebabkan menyebarnya obat. Adapun langkah-langkah dalam melakukan
anestesi spinal adalah sebagai berikut :
a. Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalkan dalam posisi lateral
dekubitus. Beri bantal kepala,selain enak untuk pasienjuga supaya
tulang belakang stabil. Buat pasien membungkuk maximal agar
processus spinosus mudah teraba. Posisi lain adalah duduk.

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 8


b. Penusukan jarum spinal dapat dilakukan pada L2-L3, L3-L4, L4-L5.
Tusukan pada L1-L2 atau diatasnya berisiko trauma terhadap medulla
spinalis.
c. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alkohol.
d. Beri anastesi lokal pada tempat tusukan,misalnya dengan lidokain 1-
2% 2-3ml.
e. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G,
23G, 25G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27G
atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum yaitu jarum suntik
biasa semprit 10cc. Tusukkan introduser sedalam kira-kira 2cm agak
sedikit kearah sefal, kemudian masukkan jarum spinal berikut
mandrinnya ke lubang jarum tersebut. Jika menggunakan jarum tajam
(Quincke-Babcock) irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan serat
duramater, yaitu pada posisi tidur miring bevel mengarah keatas atau
kebawah, untuk menghindari kebocoran likuor yang dapat berakibat
timbulnya nyeri kepala pasca spinal. Setelah resensi menghilang,

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 9


mandrin jarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi
obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0,5ml/detik) diselingi
aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik.
Kalau anda yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan
likuor tidak keluar, putar arah jarum 90º biasanya likuor keluar. Untuk
analgesia spinal kontinyu dapat dimasukan kateter.
f. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah
hemoroid (wasir) dengan anestetik hiperbarik. Jarak kulit-ligamentum
flavum dewasa ± 6cm.

I. Komplikasi
Komplikasi tindakan anestesi spinal
 Hipotensi berat
Akibat blok simpatis terjadi venous pooling. Pada dewasa dicegah
dengan memberikan infus cairan elektrolit 1000ml atau koloid 500ml
sebelum tindakan.
 Bradikardia
Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia,terjadi akibat blok
sampai T-2
 Hipoventilasi
Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali nafas
 Trauma pembuluh saraf
 Trauma saraf
 Mual-muntah
 Gangguan pendengaran
 Blok spinal tinggi atau spinal total
Komplikasi pasca tindakan:
 Nyeri tempat suntikan

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 10


 Nyeri punggung
 Nyeri kepala karena kebocoran likuor
 Retensio urine
 Meningitis

2.2 Apendisitis

A. Definisi
Appendisitis akut adalah penyakit radang pada appendiks vermiformis
yang terjadi secara akut. Apendisitis akut adalah keadaan akut abdomen yang
memerlukan pembedahan segera untuk mencegah komplikasi yang lebih
buruk.

B. EPIDEMIOLOGI
Kejadian apendisitis akut di Amerika Serikat dan negara Eropa sekitar
7% dari populasi. Di negara Asia dan Afrika, kejadian apendisitis akut lebih
rendah dikarenakan kebiasaan konsumsi makanan yang berserat.
Beberapa tahun terakhir, penurunan frekuensi apendisitis di negeri
Barat telah dilaporkan, yang mana berhubungan dengan peningkatan asupan
makanan yang berserat. Kenyataannya adalah tingginya kejadian apendisitis
berhubungan dengan asupan serat yang sangat sedikit.
Apendisitis lebih sering menyerang pria daripada wanita dengan rasio
1,7: 1. Apendisitis dapat menyerang pada semua umur, dengan kejadian
tersering timbul pada umur dekade kedua dan ketiga.

C. ANATOMI DAN FISIOLOGI


Apendiks adalah suatu organ yang terdapat pada cecum yang terletak
pada proksimal colon, yang sampai sekarang fungsinya belum diketahui.
Secara embriologi apendiks dan cecum berkembang dari midgut pada minggu

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 11


ke-6 kehamilan, sekitar pada bulan ke-5 apendiks terbentuk memanjang dari
cecum. Pada neonatus panjangnya sekitar 4,5 cm, pada dewasa 9,5 cm,
dengan diameter dinding terluar 2-8 mm dan diameter lumen 1-3 mm. Pada
neonatus dan bayi bentuknya seperti kerucut, sehingga memperkecil
kemungkinan obstruksi, semakin bertambah usia bentuknya akan berubah
menjadi seperti tabung. Ujung dari apendiks biasanya terletak pada kuadran
kanan bawah rongga pelvis, namun dapat juga bervariasi.
Pada apendiks terdapat 3 tinea coli yang menyatu dipersambungan
caecum dan bisa berguna dalam menandakan tempat untuk mendeteksi
apendiks. Posisi apendiks terbanyak adalah Retrocaecal (74%) lalu menyusul
Pelvic (21%), Patileal (5%), Paracaecal (2%), subcaecal(1,5%) dan preleal
(1%).
Perdarahan apendiks berasal dari A.apendikularis yang merupakan
arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat misalnya trombosis pada infeksi
maka apendiks akan mengalami gangren. Persarafan apendiks berupa simpatis
dan parasimpatis. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang N.vagus yang
berasal dari pleksus mesenterika superior yang mengikuti A.mesenterika
superior dan A.apendikularis. Sedangkan persarafan simpatis berasal dari
N.torakalis X oleh karena itu nyeri viseral pada apendisitis bermula disekitar
umbilikus.

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 12


D. ETIOLOGI
Appendisitis disebabkan obtruksi lumen apendiks yang selanjutnya
mengakibatkan kongesti vaskular, iskemia jaringan, nekrosis dan infeksi
.Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan
Streptococcus. Penyebab terbanyak obtruksi lumen apendiks adalah obstruksi
oleh fecalit. Fecalit ditemukan sebanyak 40% pada kasus apendisitis akut
yang simpel, 65% pada gangren apendisitis tanpa perforasi dan hampir 90%
pada gangren apendisitis dengan perforasi.
Penyebab lain obstruksi lumen apendiks adalah:
 Hiperplasia folikel limfoid
 Massa tumor dan keganasan
 Benda asing seperti biji-bijian
 Parasit (cacing)
 Striktur lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.

E. PATOGENESIS
Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks
oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis
akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut
menyebabkan mukus yang diproduksi mengalami bendungan. Makin lama
mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding appendiks
memounya keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan
intralumen.Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe
yang menyebabkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat
inilah terjadi appendisitis akut fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut
akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 13


menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di kuadran kanan bawah.
Keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran
arteri terganggu, akan terjadi infark dinding appendiks yang diikuti dengan
gangrene. Stadium ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding
yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi appendisitis perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang
berdekatan akan bergerak ke arah appendiks hingga timbul suatu massa lokal
yang disebut infiltrate appendikularis. Peradangan appendiks tersebut dapat
menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum lebih
pendek dan appendiks lebih panjang, dinding appendiks lebih tipis. Keadaan
tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan
terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi
karena telah ada gangguan pembuluh darah.

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 14


F. GEJALA KLINIS
Gejala awal appendisitis akut adalah nyeri abdomen. Sekitar ½ sampai
2/3 pasien dengan apendisitis, gejalanya dimulai dengan gejala klasik
appendisitis. Awalnya nyeri dirasakan pada regio epigastrium atau
periumbilikal dengan sifat nyeri viseral. Pasien mungkin mendeskripsikan
dengan keluhan berupa discomfort. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa
mual, bahkan terkadang muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun.
Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah,
ke titik Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya,
sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Namun terkadang, tidak
dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat konstipasi
sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap
berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang
apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 -38,5
derajat celcius. Status lokalis abdomen kuadran kanan bawah:
 Nyeri tekan (+) Mc. Burney. Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan
kuadran kanan bawah atau titik Mc. Burney dan ini merupakan tanda
kunci diagnosis.
 Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum. Rebound tenderness
(nyeri lepas tekan) adalah nyeri yang hebat di abdomen kanan bawah
saat tekanan secara tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan
penekanan perlahan dan dalam di titik Mc. Burney.
 Defens muskuler (+) karena rangsangan m. Rektus abdominis.
Defence muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang
menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale.
 Rovsing sign (+). Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran
kanan bawah apabila dilakuka n penekanan pada abdomen bagian kiri

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 15


bawah, hal ini diakibatkan oleh adanya nyeri lepas yang dijalarkan
karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan.
 Psoas sign (+). Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus
psoas oleh peradangan yang terjadi pada apendiks.
 Obturator sign (+). Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi bila
panggul dan lutut difleksikan kemudian dirotasikan ke arah dalam dan
luar secara pasif, hal tersebut menunjukkan peradangan apendiks
terletak pada daerah hipogastrium.
Nyeri periumbilikus akut atau nyeri abdomen menyeluruh biasanya
konstan. Sesudah 1-5 jam, nyeri berkemih atau rasa kebelet dapat terjadi jika
apendiks terletak dekat kandung kemih atau ureter. Muntah biasanya terjadi
hanya sesudah nyeri yang berkepanjangan. Konstipasi sering terjadi, tetapi
diare hanya kadang – kadang dijumpai. Demam yang sangat tinggi
menunjukkan adanya perforasi apendiks, disertai peritonitis, atau adanya
enteritis bakteri yang bersamaan, terutama jika disertai diare. Anak biasanya
gelisah dan “ terlipat ” (dengan paha dalam posisi fleksi ) atau berjalan
membungkuk, sering memegang sisi kanan.
Dibawah ini adalah tabel skor Alvarado:
Tabel Skor Alvarado Skor
Gejala Klinis
 Nyeri abdominal berpindah ke perut kanan bawah (Rovsing's Sign) 1
 Nafsu makan menurun 1
 Mual dan atau muntah 1
Tanda Klinis
Nyeri tekan regio perut kanan bawah (McBurney's sign) 1
Nyeri lepas (Blumberg's sign) 2
Demam ( suhu > 37,2oC) 1
Pemeriksaan Laboratoris
 Leukositosis (leukosit > 10.000/ml) 2
 Shift to the left (neutrofil > 75%) 1

TOTAL 20

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 16


Interpretasi:
Skor 7-10= Apendisitis akut
Skor 5-6 = Curiga apendisitis akut
Skor 1-4 = Bukan apendisitis akut

G. PEMERIKSAAN FISIK
 Inspeksi : pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal
swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi
perut.
 Palpasi : pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri.
Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan
bawah merupakan kunci diagnosis dari appendisitis. Pada penekanan perut
kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut tanda
Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila tekanan di perut kiri bawah
dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah.Ini disebut
tanda Blumberg (Blumberg Sign).
Pada palpasi dapat dirasakan adanya perbedaan tegangan otot antara
kedua sisi abdomen. Tangan harus dihangatkan dahulu karena tangan yang
dingin akan merangsang dinding perut untuk berkontraksi sehingga sukar
menilai keadaan intraperitoneal. Dan setelah itu lakukan palpasi .
lokalisasi nyeri tekan mungkin sulit ditentukan, tetapi pendapat tentang
apakah nyerinya lebih terasa pada sisi kanan atau sisi kiri dapat diketahui
dengan memperhatikan ekspresi pasien ketika melakukan palpasi tiap
area, dan dengan memperhatikan spasme involunter otot – otot abdomen.
Kebanyakan pasien cenderung memfleksi paha kanan dengan tujuan
mengurangi spasme dari muskulus psoas.
 Pemeriksaan colok dubur : pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis,
untuk menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 17


saat dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka kemungkinan
apendiks yang meradang terletak didaerah pelvis. Pemeriksaan ini
merupakan kunci diagnosis pada apendisitis pelvika.
 Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator : pemeriksaan ini juga dilakukan
untuk mengetahui letak apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan
dengan rangsangan otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau
fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila
appendiks yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan
tersebut akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan
gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila
apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang
merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan
nyeri. Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pasien dengan keluhan dan pemeriksaan fisik yang
karakteristiknya apendisitis akut, akan ditemukan pemeriksaan darah adanya
leukositosis 11000 – 14000/mm3 dan disertai dengan adanya pergeseran seri
neutrofil ke kiri. Jika jumlah leukosit >15.000/mm3 kemungkinan besar sudah
terjadi perforasi. Urinalisis yang teliti harus dilakukan untuk menyingkirkan
infeksi ginjal atau kandung kemih.

Pemeriksaan Radiologi
1. Foto Polos Abdomen
Foto polos abdomen jarang membantu menegakkan diagnosis
appendisitis. Banyak kasus apendisitis ditemukan gambaran radiologis
yang normal.
2. Ultrasonografi

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 18


USG merupakan salah satu pilihan untuk mengevaluasi
appendisitis. Beberapa tanda yang dapat dijumpai pada USG :
a. Dilatasi apendiks
b. Pada perforasi ditemukan formasi abses.
c. Tanda lainnya ada cairan di lumen apendiks, dan diameter
transversum apendiks > 6mm.
Pemeriksaan USG juga dapat mendiagnosa kelainan lainnya
seperti abses tuba ovarium, kista ovarium, dan adenitis mesenterika.
3. CT Scan
CT Scan lebih sering digunakan untuk mendiagnosis
apendisitis pada dewasa, pada anak-anak kegunaan CT Scan terbatas.
CT scan berguna jika pada pemeriksaan USG terlihat samar-samar.
Jika ada kecurigaan yang tinggi terhadap apendisitis, hasil CT scan
yang negatif tidak bisa menyingkirkan diagnosis. Tetapi pada pasien
yang meragukan, CT scan merupakan pemeriksaan yang sensitif.
Urinalisis
Test ini bertujuan untuk menyingkirkan differensial diagnosis batu
ureter dan kemungkinan dari infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri
perut bawah.

I. PENATALAKSANAAN
 Medikamentosa
Antibiotik diberikan preoperatif dengan suspek appendisitis dan
dihentikan setelah pembedahan jika tanda-tanda perforasi tidak ada.
Antibiotik initial diberikan termasuk generasi ke 3 cephalosporins,
ampicillin, metronidazol ,klindanisin atau gentamisin diberikan untuk
mengobati infeksi bakteri aerob dan anaerob seperi Escherichia coli,
Bacteroides, Klebsiella, Enterococci, dan Pseudomonas. Antibiotik

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 19


alternatif lain yang dapat diberikan seperti sulbaktam, cefoxitin, cefotetan,
piperasilin, tazobaktam, tikarsilin, klavulanat, imipenem, dan cilastatin.
 Operatif
Terapi bedah merupakan terapi definitif meliputi apendiktomi dan
laparoskopik appendiktomi. Appendiktomi terbuka merupakan operasi
klasik pengangkatan apendiks. Mencakup Mc Burney insisi. Dilakukan
diseksi melalui oblique eksterna, oblique interna dan transversal untuk
membuat suatu muscle spreading atau muscle splitting, setelah masuk ke
peritoneum apendiks dikeluarkan ke lapangan operasi, diklem, diligasi dan
dipotong. Mukosa yang terkena dicauter untuk mengurangi perdarahan,
beberapa orang melakukan inversi pada ujungnya, kemudian sekum
dikembalikan ke dalam perut dan insisi ditutup.
J. KOMPLIKASI
Bila tidak ditangani dengan baik maka apendisitis dapat mengalami
perforasi dan berlanjut menjadi peritonitis lokal maupun umum. Komplikasi
yang paling sering terjadi adalah perforasi, baik perforasi bebas maupun pada
bagian apendiks yang telah mengalami walling off sehingga berupa masa yang
terdiri dari kumpulan mesoapendik, apendik, sekum dan lengkung usus yang
disebut sebagai masa apendikuler.
Komplikasi lain yang cukup berbahaya adalah pylephlebitis, yaitu
merupakan thrombophlebitis supurativa pada sistem vena porta akibat
perluasan infeksi apendisitis. Gejalanya berupa menggigil, demam tinggi,
ikterik ringan dan abses hepatik.
Komplikasi yang terjadi setelah pembedahan apendisitis diantaranya
adalah infeksi postoperasi. Infeksi setelah pembedahan sering terjadi pada
apendisitis perforasi atau gangrenosa. Obstruksi intestinal bisa terjadi setelah
pembedahan pada kasus apendisitis, hal ini disebabkan oleh abses, phlegmon
intraperitoneal atau adhesi.

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 20


K. PROGNOSIS
Bila ditangani dengan baik, prognosis apendiks adalah baik. Secara
umum angka kematian pasien apendiks akut adalah 0,2-0,8%, yang lebih
berhubungan dengan komplikasi penyakitnya daripada akibat intervensi
tindakan Angka morbiditas terjadi pada 1,2% penderita apendisitis akut dan
6,4% pada penderita apendisitis perforasi.

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 21


BAB III
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. N
Umur : 29 tahun
Berat badan : 60 kg
Tinggi badan : 158 cm
Jenis kelamin : perempuan
Alamat : Pulau birandas
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Pendidikan : SMA
Tanggal masuk RS : 16 September 2015
No. RM : 121477

II. ANAMNESIS
a. Keluhan Utama
Nyeri perut kanan bawah satu hari SMRS

b. Riwayat Penyakit Sekarang:


 Sejak satu hari SMRS pasien mengeluhkan nyeri perut kanan bawah
timbul tiba-tiba. Mual (+), muntah (+) frekuensi 2 kali, isi makanan
yang di makan. Demam (-), BAB dan BAK tidak ada keluhan
(normal).
c. Riwayat Penyakit Dahulu:
 Riwayat penyakit hipertensi : disangkal
 Riwayat penyakit DM : disangkal

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 22


 Riwayat penyakit alergi obat dan makanan : disangkal
 Riwayat penyakit asma : disangkal
 Riwayat operasi sebelumnya : disangkal

d. Riwayat Penyakit Keluarga:


 Riwayat penyakit hipertensi : disangkal
 Riwayat penyakit DM : disangkal
 Riwayat penyakit alergi : disangkal
 Riwayat penyakit asma : disangkal

III. PEMERIKSAAN FISIK


a. Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : compos mentis
Vital Sign
- Tekanan darah : 130/80 mmHg
- Respirasi : 20 kali/menit
- Nadi : 80 /menit
- Suhu : 37,5C
Kepala
Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera iktenk -/-
Hidung : Discharge (-) epistaksis (-), deviasi septum (-)
Mulut : Bibir kering (-), sianosis (-), pembesaran tonsil (-) gigi
ompong (-), gigi goyang (-), gigi palsu (-)
Telinga : Discharge (-), deformitas (-)
Leher : Pembesaran tiroid dan limfe (-), JVP tidak meningkat

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 23


Thorax :
Paru :
Inspeksi : bentuk dada normal, gerakan dada simetris kanan-kiri,
retraksi dinding dada (-)
Palpasi : vokal fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : vesikuler (+/+) (normal), Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
Jantung :
Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : iktus cordis teraba
Perkusi :batas jantung kanan di RIC 4 linea parasternalis dextra,
batas jantung kiri di RIC 4 linea midclavicularis sinistra.
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen : Status lokalis


Ekstremitas : Capillary Refill Time < 2 detik, akral hangat, edema
tungkai (-/-)
Vertebra : Tidak ada kelainan

b. Status lokalis
Abdomen :
Inspeksi : Perut datar, darm countur (-), darm stefung (-)
Palpasi : Nyeri tekan mc burney (+), psoas sign (+), obturator
sign (+), Rovsing sign (-)

Perkusi : Timpani, nyeri ketok abdomen regio iliaca dextra (+)

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 24


Auskultasi : Bising usus (+) normal
Alvarado skor : 7

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Tanggal 16-09-2015
Pemeriksaan darah lengkap :
Hb : 14 g/dl
Leukosit : 14.000 ul
Ht : 41,0 %
Trombosit : 255.000/ul
LED : 30
Eusinofil :2
Basofil :0
Neutrofil Stab :5
Neutrofil Seg : 57
Limfosit : 30
Monosit :6
Sel muda :-

V. DIAGNOSIS KLINIS
Diagnosis praoperasi : Appendisitis akut
Diagnosis postoperasi : Appendisitis akut post appendectomy

VI. STATUS ANASTESI


Anestesi : Anestesi spinal
ASA II : Pasien dengan penakit sistemik ringan sampai sedang, tampa
limitasi pekerjaan sehai-hari

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 25


VII. TINDAKAN
Dilakukan : Appendektomy
Tanggal : 17 September 2015

VIII. LAPORAN ANESTESI


a. Persiapan Anestesi
 Informed concent
 Puasa
Pengosongan lambung, penting untuk mencegah aspirasi isi
lambung karena regurgitasi. Untuk dewasa dipuasakan 6-8 jam
sebelum operasi
 Pemasangan IV line
Sudah terpasang jalur intravena menggunakan IV catheter
ukuran 18 atau menyesuaikan keadaan pasien dimana dipilih
ukuran yang paling maksimal bisa dipasang.
 Dilakukan pemasangan monitor tekanan darah, nadi dan saturasi
O2
b. Penatalaksanaan Anestesi
 Tanggal operasi : 17 September 2015
 Jam rencana operasi : 09.00 WIB
 Mulai operasi : 09.15 WIB
 Selesai operasi : 10.15 WIB
 Lama Operasi : 60 menit
 Diagnosis prabedah : Appendisitis akut
 Diagnosis pascabedah : Appendisitis akut post Appendectomy
 Macam operasi : Appendectomy
 Ahli bedah : dr. Eko Hamidianto SpB

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 26


 Ahli anestesi : dr. Lasmaria Flora Sp.An
 Teknik anestesi : spinal Anestesi
 Mulai induksi : 09.00 WIB
 Obat induksi : Recain 2,5 cc, Fentanil 0,5 mg
Premedikasi :
 Ceftriaxon 1 gr
 Ketorolac 30 mg
 Ranitidin 25 mg
Medikasi intra operatif:
 Fentanil 0,1 mg
 Ketamin 50 mg
 Sedakum 2mg
Medikasi post operatif:
 Ketorolac 30 mg
 Ondansetron 4 mg
 Tramadol 200 mg
Teknik anestesi :
Pasien dalam posisi duduk tegak dan kepala menunduk, dilakukan
desinfeksi di sekitar daerah tusukan yaitu di regio vertebra lumbal 4-5.
Dilakukan Sub arakhnoid blok dengan jarum spinal no. 27 pada regio
vertebra lumbal 4-5 dengan tusukan paramedian.
LCS keluar (+) jernih
Respirasi : Spontan
Posisi : Supine
Jumlah cairan yang masuk :
Kristaloid = 1000 cc (RL 1 + RL 2)
Perdarahan selama operasi = ± 60 cc

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 27


Pemantauan selama anestesi :
Mulai anestesi : 09.00 WIB
Mulai operasi : 09.15 WIB
Selesai operasi : 10.15 WIB
Tekanan darah, saturasi oksigen dan frekuensi nadi :
Waktu Tekanan darah Saturasi oksigen Nadi
09.15 122/80 mmHg 100% 100 x / Menit
09.30 102/70 mmHg 100% 98 x / Menit
09.45 130/70 mmHg 100% 78 x / Menit
10.15 130/80 mmHg 100% 78 x / Menit

IX. PROGNOSA
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad kosmetikum : Dubia ad bonam

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 28


BAB IV
PEMBAHASAN
A. PRE OPERATIF
Persiapan anestesi dan pembedahan harus selengkap mungkin karena
dalam pemberian anestesi dan operasi selalu ada risiko. Persiapan yang
dilakukan meliputi persiapan alat, penilaian dan persiapan pasien, dan
persiapan obat anestesi yang diperlukan. Penilaian dan persiapan penderita
diantaranya meliputi :
- informasi penyakit
- anamnesis/alloanamnesis kejadian penyakit
- riwayat imunisasi, riwayat alergi, riwayat sesak napas dan asma, diabetes
melitus, riwayat trauma, dan riwayat operasi sebelumnya.
- riwayat keluarga (penyakit dan komplikasi anestesi)
- makan minum terakhir (mencegah aspirasi isi lambung karena regurgitasi
atau muntah pada saat anestesi)
- Persiapan operasi yang tidak kalah penting yaitu informed consent, suatu
persetujuan medis untuk mendapatkan ijin dari pasien sendiri dan keluarga
pasien untuk melakukan tindakan anestesi dan operasi, sebelumnya pasien
dan keluarga pasien diberikan penjelasan mengenai risiko yang mungkin
terjadi selama operasi dan post operasi. Setelah dilakukan pemeriksaan
pada pasien, maka pasien termasuk dalam klasifikasi ASA II.

B. INTRA OPERATIF
Pada beberapa kasus dapat diberikan premedikasi secara intravena
atau intramuskular dengan cettriaxon, ketorolac dan ranitidin. Tindakan
pemilihan jenis anestesi pada pasien obstetri diperlukan beberapa
pertimbangan. Teknik anestesi disesuaikan dengan keadaan umum pasien,
jenis dan lamanya pembedahan dan bidang kedaruratan. Pada pasien ini

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 29


digunakan teknik Regional Anestesi (RA) dengan Sub Arakhnoid Block
(SAB), yaitu pemberian obat anestesi lokal ke ruang subarakhnoid, sehingga
pada pasien dipastikan tidak terdapat tanda-tanda hipovolemia. Teknik ini
sederhana dan cukup efektif.
Induksi menggunakan Bupivacaine HCL yang merupakan anestesi
lokal golongan amida. Obat anestesi regional bekerja dengan menghilangkan
rasa asakit atau sensasi pada daerah tertentu dari tubuh. Cara kerjanya yaitu
memblok proses konduksi syaraf perifer jaringan tubuh, bersifat reversibel.
Setelah itu posisi pasien dalam keadaan terlentang (supine).
Anestesi spinal mulai dilakukan, posisi pasien duduk tegak dengan
kepala menunduk hingga prossesus spinosus mudah teraba. Dicari
perpotongan garis yang menghubungkan kedua crista illiaca dengan tulang
punggung yaitu antara vertebra lumbal 3-4, lalu ditentukan tempat tusukan
pada garis tengah. Kemudian disterilkan tempat tusukan dengan alkohol dan
betadin. Jarum spinal nomor 27-gauge ditusukkan dengan arah paramedian,
barbutase positif dengan keluarnya LCS (jernih) kemudian dipasang spuit 3 cc
yang berisi obat anestesi dan dimasukkan secara perlahan-lahan.
Pada pasien ini diberikan analgetik post operatif berupa tramadol
100mg dan ketorolac 30mg yang dimasukkan ke dalam ringer laktat 500mL
25 tetes permenit. Ketorolac adalah golongan NSAID yang bekerja
menghambat sintesis prostaglandin. Ketorolac diberikan untuk mengatasi
nyeri akut jangka pendek post operasi, dengan durasi kerja 6-8 jam. Pada
pasien ini diberikan juga ondansentron sebanyak 4 mg secara intravena.
Pemberian obat anti mual dan muntah ini sangat diperlukan untuk mencegah
adanya aspirasi dari asam lambung. Pada pasien ini berikan cairan infus RL
sebagai cairan fisiologis untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang.

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 30


C. POST OPERATIF
Setelah operasi selesai, pasien bawa ke ruang observasi. Pasien
berbaring dengan posisi terlentang karena efek obat anestesi masih ada dan
tungkai tetap lurus untuk menghindari edema. Observasi post operasi
dilakukan selama 2 jam, dan dilakukan pemantauan vital sign (tekanan darah,
nadi, suhu dan respiratory rate) setiap 30 menit. Oksigen tetap diberikan 2-3
liter/menit. Setelah keadaan umum stabil, maka pasien dibawa ke ruangan
bedah untuk dilakukan tindakan perawatan lanjutan.

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 31


BAB V
KESIMPULAN

Seorang Perempuan usia 29 tahun dengan diagnosis appendisitis akut dilakukan


apendiktomi tanggal 17 September 2015 mulai anestesi 09.15 selesai anestesi 10.15
dengan durasi anastesi 60 menit.

Anestesi spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anastetik lokal kedalam


ruang subarachnoid. Anestesi spinal disebut juga sebagai analgesi atau blok spinal
intradural. Induksi anestesi dengan menggunakan recain 2,5 cc, fentanil 1 cc, dan
maintenance dengan sedakum 2 mg, fentanil 0,1 mg, ketamin 30 + 20 mg, serta
oksigen 2-3 liter/menit. Untuk mengatasi nyeri digunakan ketorolac sebanyak 30 mg
dan tramadol 100 mg. Evaluasi post operatif dilakukan di ruangan bedah, puasa post
operasi selama 4 jam dengan mengawasi tanda-tanda vital setiap 30 menit.

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 32


DAFTAR PUSTAKA

1. Sudoyo W. A., Setiyohadi.B., dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit


Dalam, Ed.5. Internal Publishing: Jakarta
2. Guyton AC dan Hell JE. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.
Ed.11. Jakarta : EGC.
3. Latief AS, dkk. 2001 petunjuk praktis anestesiologi : terapi cairan
pada pembedahan, ed.2 bagian anestesiologi dan terapi intensif, FK
UI.
4. Sjamsuhidayat R, W De Jong. Buku ajar ilmu bedah, edisi 3. Jakarta :
EGC 2010
5. Dobson, Michel B. 2012. Penuntun praktis Anestesi. Prinsip terapi
cairan dan elektrolit. Jakarta : EGC.
6. Ganiswara, Silistia G. Farmakologi dan Terapi (Basic Therapy
Pharmacology). Jakarta:Bagian Farmakologi FKUI.2006
7. Sabiston, DC. Buku Ajar Bedah Bagian 1.Jakarta:EGC.2009.
8. Asdie Ahmad H. Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. edisi
13 volume 4. Jakarta: EGC ; 2000
9. Snell RS. Anatomi klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran Ed.6. Jakarta
: EGC ; 2006

KKS Ilmu Anestesi RSUD BANGKINANG Page 33