Anda di halaman 1dari 8

Idea Nursing Journal Vol. III No.

3
ISSN: 2087-2879
PERAWATAN PASIEN YANG MENJALANI PROSEDUR
KATETERISASI JANTUNG

Treatment of Patients Undergoing Cardiac Catheterization Procedures

Devi Darliana
Bagian Keilmuan Keperawatan Medikal Bedah, PSIK-FK Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
Medical Surgical Nursing Department, School of Nursing, Faculty of Medicine,
Syiah Kuala University, Banda Aceh
E-mail : devi.darliana@yahoo.co.id

ABSTRAK
Penyakit jantung koroner merupakan penyakit jantung yang diakibatkan oleh adanya stenosis pada arteri
koroner. Derajat stenosis arteri koroner dapat dinilai dengan melakukan pemeriksaan diagnostik invasif yaitu
kateterisasi jantung. Prosedur ini akan berjalan dengan baik apabila perawat maupun tim medis lain
melakukan perawatan pasien mulai dari perawatan dan persiapan pasien sebelum, selama dan setelah
menjalani prosedur kateterisasi jantung. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberikan pengetahuan
dan pemahaman dalam melakukan perawatan pada pasien sebelum dan setelah menjalani kateterisasi
jantung.Metode penulisan artikel ini berupa tinjauan kepustakaan yang diperoleh dari berbagai sumber yang
relevan. Diharapkan kepada perawat dan tim medis lain untuk melakukan perawatan pasien mulai dari
persiapan pasien sebelum, selama serta setelah menjalani prosedur kateterisasi jantung dengan baik tanpa ada
komplikasi selama dan setelah prosedur dilakukan.

Kata kunci: perawatan, kateterisasi jantung

ABSTRACT
Coronary heart disease is a heart disease caused by the presence of stenosis in coronary arteries. The degree
of coronary artery stenosis can be assessed by examining the invasive diagnostic cardiac catheterization.
This procedure will run well if nurses and other medical teams perform patient treatment start from the
treatment and preparation of patient before, during, and after undergoing cardiac catheterization
procedures. This study aimed to give knowledge and understanding the patient treatment before and after
undergoing cardiac catheterization. This article is a literature review based on some relevant resources. It is
recommended for nurses and others medical teams for doing good treatment for patient start from patient
preparation before, during, and after undergoing cardiac catheterization procedure without complication
during, and after the procedure.

Keywords: treatment, cardiac catheterization

PENDAHULUAN iskhemia yang lebih berat dapat disertai


Penyakit jantung koroner adalah dengan kerusakan sel jantung yang bersifat
penyakit jantung yang timbul akibat irreversible (Brown & Edwars, 2004;
penimbunan abnormal lipid atau bahan Smeltzer & Bare, 2008).
lemak dan jaringan fibrosa di dinding Menurut National Heart, Lung and
pembuluh darah yang mengakibatkan Blood Institute (NHLBI, 2004), penyakit ini
perubahan struktur dan fungsi atreri yang telah diderita oleh 13,2 juta orang di
disebut aterosklerosis. Kelainan pada arteri Amerika dan telah menyebabkan kematian
korener akibat aterosklerosis menyebabkan lebih dari 50.000 kematian setiap tahunnya
suplai darah ke jantung tidak adekuat dan (Gray, Dawkins, Morgan, & Simpson,
sel-sel otot jantung kekurangan komponen 2002). Penyakit jantung koroner merupakan
darah. Hal ini akan menimbulkan iskhemia penyebab kematian nomor satu di Indonesia.
pada otot-otot jantung sehingga pasien akan World Health Organization (WHO)
mengalami nyeri dada dan pada kondisi mencatat lebih dari 7.000 juta orang

285
Idea Nursing Journal Devi Darliana

meninggal akibat penyakit jantung koroner terjadinya komplikasi (Underhill, Woods,


pada tahun 2002 dan jumlah ini diperkirakan Froelicher & Halpenny, 2005).
terus meningkat. Meskipun telah mendapatkan terapi
Penyakit jantung koroner dapat farmakologis (sedatif, anastesi lokal) dan
dideteksi dengan pemeriksaan diagnostik terapi nonfarmakologis (pendidikan
noninvasif ataupun pemeriksaan invasif. kesehatan), pasien masih terlihat cemas
Pemeriksaan secara invasif yang dilakukan selama menjalani prosedur kateterisasi
adalah kateterisasi jantung. Prosedur jantung. Hal ini didukung oleh penelitian
kateterisasi jantung yang bertujuan untuk kualitatif yang dilakukan pada 10 orang
mengevaluasi anatomi pembuluh darah pasien yang menjalani kateterisasi jantung.
koroner disebut dengan tindakan Coronary Pasien menyebutkan bahwa kecemasan pada
angiography (Gray, et al, 2002; Smeltzer & saat menjalani kateterisasi jantung
Bare, 2008). disebabkan oleh persepsi pasien tentang
Di Indonesia, khususnya di Rumah ruang praktek sebagai lingkungan yang
sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, telah asing dan mengancam, bunyi dari mesin
melakukan tindakan kateterisasi jantung 650 yang digunakan, terpisah dari anggota
tindakan pada tahun 2006 dan 1125 tindakan keluarga dan teman, bahasa teknis yang
pada tahun 2007. Banyak pasien yang asing bagi pasien serta kemungkinan
menderita atau diduga menderita penyakit prognosa buruk yang terjadi dan dapat
jantung koroner menjalani prosedur mempengaruhi kehidupan pasien selanjutnya
kateterisasi jantung untuk menilai adanya (Beckerman, Grosman & Marquest, 1999).
gangguan pada pembuluh koroner, menilai Berdasarkan hal tersebut, maka pasien perlu
keparahan penyakit serta untuk menentukan diberi suatu intervensi keperawatan yang
penatalaksanaan yang lebih cocok. bersifat suportif yang dapat meningkatkan
Menjalani prosedur kateterisasi jantung kemapuan koping pasien dalam menghadapi
invasif ini akan menimbulkan kecemasan stres seperti terapi musik, terapi relaksasi.
dan stres pada pasien. Perawatan pasien sebelum prosedur
Banyak faktor yang mempengaruhi kateterisasi jantung perlu dilakukan untuk
kecemasan pasien yang menjalani prosedur mempersiapkan pasien baik secara fisik
kateterisasi jantung antara lain: cemas akan maupun psikologis agar pasien siap
rasa nyeri, terpisah dari keluarga dan teman, menjalani prosedur ini. Persiapan fisik yang
serta cemas akan prognosa buruk yang dilakukan meliputi puasa selama 4-6 jam,
mungkin terjadi (Mcaffrey & Tailor, 2005; membersihkan area puncture (penusukan),
Underhil et al, 2005). Respon fisiologis mengkaji allent tes jika menggunakan arteri
pasien terhadap kecemasan dan stres adalah radialis, meminum obat-oabatan sebelum
dengan mengaktifkan sistem saraf pusat prosedur, serta membuka segala jenis
untuk mengaktivasi hipotalamus-pituitary- perhiasan yang menggangu hasil angiogram.
adrenal aksis dan sistem saraf simpatis yang Selain itu, persiapan administrasi juga
ditandai dengan peningkatan frekuensi nadi diperlukan seperti: hasil elektrokardiografi
dan tekanan darah. Hal ini sangat berbahaya 12 lead, hasil labaroatorium dan informed
karena tingginya denyut jantung dan tekanan consent. Persiapan psikologis berupa
darah akan memperberat sistem pendidikan kesehatan tentang prosedur dan
kardiovaskular serta meningkatkan pemberian terapi relaksasi bertujuan untuk
kebutuhan oksigen dan kerja jantung mempersiapkan mental pasien agar pasien
sehingga dapat meningkatkan risiko tenang, tidak cemas serta kooperatif selama

286
Idea Nursing Journal Vol. III No. 3

prosedur ini berlangsung (Underhill, 2005; Aterosklerosis koroner menimbulkan


Huddak & Gallo, 2006). gejala dan komplikasi sebagai akibat
Selama prosedur kateterisasi jantung, penyempitan lumen arteri dan penyumbatan
perawat berperan dalam memonitoring aliran darah ke jantung. Sumbatan aliran
hemodinamik pasien seperti cardiac output, darah berlangsung progresif dan suplai darah
dan vital sign. Hal ini bertujuan untuk yang tidak adekuat (iskhemia) yang
mengidentifikasi segera adanya kondisi yang ditimbulkannya akan membuat sel-sel otot
abnormal sehingga dapat mencegah terjadi kekurangan komponen darah yang
komplikasi yang tidak diharapkan (Underhill dibutuhkan untuk hidup (Smeltzer & Bare,
et al, 2005; Smelter & Bare, 2008). 2008).
Perawatan setelah menjalani prosedur Kerusakan sel akibat iskhemia dapat
kateterisasi jantung bertujuan untuk terjadi dalam berbagai tingkat. Manifestasi
mengidentifikasi adanya iskemia atau infark utama iskhemia adalah nyeri dada. Angina
pasca prosedur, mengidentifikasi efek dari adalah nyeri dada yang hilang timbul, tidak
zat kontras, adanya edema dan perdarahan disertai kerusakan reversibel sel-sel jantung.
pada area puncture serta mengidentifikasi Iskhemia yang lebih berat disertai nekrosis
adanya gangguan sirkulasi perifer. Semua sel jantung di sebut infark miokardium.
tindakan ini diharapkan dapat Jantung yang mengalami degenerasi akan
mengidentifikasi masalah yang dialami digantikan dengan jaringan sikatrik.
pasien sesegera mungkin, mencegah terjadi Kerusakan jantung yang sangat luas akan
infeksi serta mempercepat penyembuhan menyebabkan jantung tidak mampu
kondisi pasien. Oleh karena itu perawatan memenuhi kebutuhan darah pada tubuh
pasien secara komprehensif diperlukan baik akibat curah jantung yang tidak adekuat.
sebelum, selama dan setelah prosedur Manifestasi klinis lain penyakit arteri
kateterisasi jantung (Underhill, 2005; koroner berupa perubahan pola EKG,
Huddak & Gallo, 2006). aneurisma ventrikel, disritmia dan kematian
mendadak (Underhil et al, 2005; Black &
TINJAUAN KEPUSTAKAAN Hawk, 2005).
Penyakit jantung koroner merupakan Pemeriksaan diagnostik secara invasif
penyakit yang diakibatkan oleh kondisi yang dapat dilakukan adalah kateterisasi
patologis arteri koroner ditandai dengan jantung. Kateterisasi jantung adalah
penimbunan abnormal lipid atau bahan prosedur yang dilakukan dengan
lemak dan jaringan fibrosa di dinding menggunakan zat kontras dan sinar-x untuk
pembuluh darah yang disebut dengan mengevaluasi pembuluh darah koroner.
aterosklerosis. Aterosklerosis dimulai ketika Tindakan untuk mengevaluasi arteri koroner
kolesterol berlemak tertimbun pada intima ini disebut juga angiografi koroner.
arteri besar. Penimbunan ini disebut ateroma Kateterisasi jantung juga dilakukan sebelum
atau plak yang akan mengganggu absorbsi dilakukan percutaneus coronary
nutrien oleh sel-sel endotel yang menyusun intervention (PCI) untuk mengevaluasi
lapisan dinding dalam pembuluh darah dan adanya stenosis pembuluh darah koroner dan
menyumbat aliran darah. Endotel pembuluh setelah prosedur, PCI berfungsi untuk
darah yang terkena akan mengalami nekrotik mengetahui keberhasilan tindakan.
dan menjadi jaringan parut sehingga lumen Kateterisasi jantung merupakan prosedur
menjadi sempit dan aliran darah terhambat diagnostik invasif yang digunakan untuk
(Black & Hawk, 2005, Smeltzer & Bare, mengevaluasi derajat aterosklerosis dan
2008). penatalaksanaannya. Tindakan ini juga
digunakan untuk mempelajari adanya

287
Idea Nursing Journal Devi Darliana

kecurigaan anomali kongenital arteri e. Sindrom koroner tidak stabil (terutama


koronaria (Smeltzer & Bare, 2008). dengan peningkatan Troponin T atau I).
f. Pasca infark miokard nongelombang Q
Prosedur Kateterisasi Jantung g. Pasca infark miokard gelombang Q
Kateterisasi jantung merupakan pada pasien risiko tinggi (ditentukan
tindakan untuk memasukkan kateter melalui dengan tes latihan atau pemindaian
femoral (Judkins) atau brachialis (Sones) perfusi miokard).
menuju ke aorta assendens dan arteri h. Pasien dengan aritmia berlanjut atau
koronaria yang dituju dengan bantuan berulang
fluoroskopi. Pada saat ini kateter femoral i. Gejala berulang pasca coronary artery
lebih banyak digunakan kateter ukuran 6 bypass Graft (CABG) atau percutaneus
atau bahkan 5 French. Setelah diposisikan coronary intervention (PCI)
dalam ostium arteri koroner, media kontras j. Pasien yang menjalani pembedahan
dimasukkan untuk mengopasifikasi arteri katup jantung
koroner sehingga gambar arteri koroner k. Pasien gagal jantung dengan etiologi
dapat diperoleh dengan manuver kamera yang tidak jelas
radiografi disekitar pasien untuk l. Menentukan penyebab nyeri dada pada
mendapatkan gambar dari sudut yang kardiomiopati hipertropi
berbeda (Gray et al, 2002; Underhil et al,
2005). Perawatan Pasien yang Menjalani
Derajat keparahan lesi koroner Prosedur Kateterisasi Jantung
dideskripsikan sebagai persentase stenosis Perawatan pasien yang menjalani
dan bila stenosis lebih dari 50% biasanya prosedur kateterisasi jantung meliputi 3
dikatakan sebagai stenosis tahap yaitu perawatan dan persiapan pasien
bermakna.Penyakit jantung koroner sering sebelum prosedur, selama prosedur serta
diklasifikasikan sebagai penyakit 1 setelah menjalani prosedur kateterisasi
pembuluh, 2 pembuluh, atau 3 pembuluh jantung.
tergantung pada distribusi lesi bermakna Persiapan pasien sebelum prosedur
pada 3 pembuluh darah koroner utama. Pasien biasanya masuk ke rumah sakit
Rekomendasi terapi pada pasien berdasarkan sehari sebelum di lakukan kateterisasi
pada luas dan tingkat keparahan penyakit jantung. Sebelum prosedur dilakukan pasien
jantung koroner (Gray et al, 2002; Underhil diminta untuk menandatangani lembar
et al, 2005). informed consent setelah mendapatkan
Adapun indikasi dilakukan tindakan penjelasan tentang prosedur kateterisasi
kateterisasi jantung pada pasien menurut jantung.Tindakan ini bertujuan agar pasien
Gray et al, 2002 adalah sebagai berikut: mengerti apa yang akan dilakukan sehingga
a. Memiliki gejala penyakit arteri koroner pasien kooperatif dan tidak cemas selama
meskipun telah mendapat terapi medis prosedur berlangsung (Underhil, et al,
yang adekuat 2005).
b. Penentuan prognosis pada pasien Kecemasan akan mempengaruhi
dengan penyakit arteri koroner aktifitas sistem saraf pusat untuk
c. Nyeri dada stabil dengan perubahan mengaktivasi hipotalamus-pituitary-adrenal
iskemik bermakna pada tes latihan aksis dan sistem saraf simpatis yang ditandai
d. Pasien dengan nyeri dada tanpa etiologi dengan peningkatan frekuensi nadi, dan
yang jelas tekanan darah. Hal ini sangat berbahaya
karena tingginya denyut jantung dan tekanan

288
Idea Nursing Journal Vol. III No. 3

darah akan memperberat sistem obat-obat jantung serta mengetahui


kardiovaskular serta meningkatkan adanya gangguan elektrolit.
kebutuhan oksigen dan kerja jantung. b. Pemeriksaan laboratorium dan
Kecemasan mendapat perhatian khusus diagnostik
dalam keperawatan karena setiap tindakan Pemeriksaan laboratorium seperti:
keperawatan harus dengan cepat pemeriksaan darah lengkap, elektrolit,
mengefektifkan koping pasien agar dapat Blood Urea Nitrogen, ureum,
mengurangi stres yang dirasakan sehingga kreatinin), sedangkan pemeriksaan
keseimbangan fisiologis dan emosional diagnostik yang perlu dilakukan adalah
tercapai (Perry & Potter, 2006;Underhil et treadmill, echocardiogram dan X-ray.
al, 2005). Kadar kalium sangat penting
Meskipun telah mendapatkan terapi diperhatikan, karena apabila kadarnya
farmakologis (sedatif, anastesi lokal) dan rendah akan mengakibatkan
terapi nonfarmakologis (pendidikan peningkatan sensitifitas dan
kesehatan), pasien masih terlihat cemas eksitabilitas miokard sehingga dapat
selama menjalani prosedur kateterisasi meningkatkan disritmia ventrikel yang
jantung. Hal ini didukung oleh penelitian mengancam pasien. Peningkatan kadar
kualitatif yang dilakukan pada 10 orang kreatinin serum, Blood Urea Nitrogen
pasien yang menjalani kateterisasi jantung. atau keduanya dapat mengindikasikan
Pasien menyebutkan bahwa kecemasan pada masalah pada fungsi ginjal. Fungsi
saat menjalani kateterisasi jantung ginjal yang baik sangat dibutuhkan,
disebabkan oleh persepsi pasien tentang karena pada prosedur ini menggunakan
ruang praktek sebagai lingkungan yang zat kontras radioopaque yang bersifat
asing dan mengancam, bunyi dari mesin hiperosmotik. Sehingga ginjal harus
yang digunakan, terpisah dari anggota menfilter zat tersebut dalam darah dan
keluarga dan teman, bahasa teknis yang mengeluarkannya.
asing bagi pasien serta kemungkinan c. Pasien yang menjalani kateterisasi
prognosa buruk yang terjadi dan dapat jantung diinstruksikan untuk puasa 4-6
mempengaruhi kehidupan pasien selanjutnya jam sebelum prosedur dilakukan.
(Beckerman, Grosman & Marquest, 1999). Hal ini bertujuan untuk mencegah
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu terjadinya aspirasi isi lambung ke
diberikan suatu intervensi keperawatan lain saluran pernafasan bila pasien
yang bersifat suportif yang dapat mengalami mual dan muntah selama
meningkatkan kemapuan koping pasien prosedur berlangsung.
dalam menghadapi stres seperti terapi d. Pasien akan mendapatkan anestesi lokal
relaksasi ataupun terapi musik yang sesuai sebelum prosedur dimulai.
dengan jenis musik relaksasi yang disukai Obat anestesi lokal bekerja dengan
pasien. memblok saraf perifer tanpa
Adapun hal-hal lainnya yang harus menimbulkan efek kehilangan
dilakukan sebelum tindakan kateterisasi kesadaran. Ada sejumlah abat anastesi
jantung adalah: lokal yaitu novocain, lidocaine,
a. Pemeriksaan EKG 12 lead propoxycaine, tetracaine, prilocaine and
Penyadapan EKG bertujuan untuk etidocaine. Efek sampingnya adalah
mengetahui adanya kelainan-kelainan rasa gatal, bengkak dan kemerahan
irama jantung (aritmia), infark/iskemia pada kulit. Anastesi lokal pada prosedur
pada otot jantung, pengaruh atau efek kateterisasi jantung berfungsi untuk
menghilangkan perasaan tidak nyaman

289
Idea Nursing Journal Devi Darliana

pada area insersi pada saat kateter mempunyai pengetahuan mengenai obat-
dimasukkan. obat jantung, aritmia, prinsip-prinsip
e. Premedikasi sedatif ringan biasanya pemberian sedatif secara intravena, teknik
diberikan. steril, anatomi dan fisiologi jantung,
Lorazepam adalah obat-obatan pacemaker, dan konsep-konsep manajemen
benzodiazepine yang bekerja dalam kateter pada kateterisasi jantung. Perawat
waktu singkat. Adapun efek instrinsik selalu memonitor vital sign dan perubahan
benzodiazepine yaitu anxiolytic, hemodinamik pasien selama prosedur
sedatif/hipnotik, anticonvulsant dan berlangsung. Perubahan status emosional
muscle relaxation. Lorazepam telah pasien, kesadaran pasien, respon vokal, dan
digunakan sejak tahun 1971 untuk ekspresi wajah penting diperhatikan karena
mengatasi gejala kecemasan dalam mencerminkan toleransi pasien tehadap
waktu jangka pendek. Lorazepam prosedur yang dilakukan. Perawat harus
secara intravena diberikan waspada terhadap adanya tanda-tanda yang
selambatlambatnya 10 menit sebelum membahayakan pasien dengan memberikan
prosedur. intervensi yang tepat untuk mencegah terjadi
f. Pasien dengan insufisiensi ginjal harus kondisi yang lebih serius seperti reaksi
dilakukan hidrasi dengan baik sebelum vasovagal dan spasme arteri koronaria
dan selama prosedur, karena zat kontras (Underhil et al; Smeltzer & Bare, 2008).
bersifat nefrotoksik. Perawatan setelah prosedur
Hidrasi yang baik dapat dicapai dengan Setelah prosedur kateterisasi jantung,
memasang terapi intravena pada pasien, pasien di transfer ke unit observasi,
sehingga setelah prosedur zat kontras telemetry unit, atau ke intensive care unit,
dapat segera dikeluarkan dari dalam tergantung pada kondisi pasien dan tipe
tubuh. prosedur yang dilakukan. Biasanya pasien
g. Pasien yang mempunyai riwayat alergi ditransfer ke unit observasi selama 6 jam,
terhadap iodine, seafood, atau zat setelah itu bila kondisi stabil, pasien boleh
kontras sebaiknya diberikan zat kontras pulang. Pasien yang menjalani percutaneus
nonionik dan sebelum tindakan perlu coronary intervention (PCI), biasanya di
diberikan steroid, antihistamin rawat inap selama semalam di telemetry unit
(dipenhidramin) dan H2 bloker atau interventional cardiology unit, karena
(cimetidin atau ranitindin). akan dirawat dan diawasi oleh perawat yang
h. Pasien harus diberi penjelasan tentang punya keahlian dan telah berpengalaman
prosedur yang akan dilakukan. dalam perawatan pasien postprocedural serta
i. Pemberian antibiotik profilaksis tidak mempunyai pengetahuan tentang obat-obat
direkomendasikan jantung, interpretasi aritmia, ACLS skills,
j. Perhiasan yang dapat mengganggu hasil serta manajemen area kateterisasi jantung.
angiogram, sebaiknya dibuka sebelum Pasien akan di observasi secara terus
prosedur (Underhill et al, 2005 ; Pagana menerus atau di transfer ke ruang ICU jika
& Pagana, 2005; Smeltzer & Bare, mengalami status hemodinamik yang tidak
2008). stabil atau terjadi komplikasi setelah
Perawatan pasien selama prosedur prosedur seperti miocardial infark,
berlangsung tamponade jantung, distres sistem
Idealnya perawat di ruang kateterisasi pernafasan serta aritmia yang tidak stabil.
jantung telah mempunyai latar belakang di
ruang perawatan intensif/jantung dan

290
Idea Nursing Journal Vol. III No. 3

Adapun perawatan pasien setelah banyak, hal ini bertujuan untuk


menjalani prosedur kateterisasi jantung mengeliminasi zat kontras yang
adalah sebagai berikut: terdapat dalam tubuh pasien.
a. Mengkaji keluhan yang dirasakan f. Monitor adanya tanda infeksi
pasien Melakukan observasi terhadap adanya
Adanya nyeri dada memerlukan perubahan warna, suhu pada area
tindakan segera karena hal tersebut sekitar puncture. Selalu mengganti
dapat merupakan indikasi adanya balutan dengan memperhatikan prinsip
vasospasme atau penyumbatan secara septik dan antiseptik.
tiba-tiba. Pasien dapat menggambarkan g. Monitor tanda-tanda gangguan sirkulasi
angina seperti perasaan terbakar, ke perifer
tertekan benda berat atau rasa nyeri Melakukan palpasi pada arteri poplitea,
seperti di tusuk-tusuk pada daerah dorsalis pedis kanan dan kiri setiap 15
midsternal. Jika perubahan itu menit sekali bila nadi lemah konfirmasi
merupakan episode vasospasme dokter untuk pemberian obat anti
sementara, maka akan segera membaik koagulan
dengan pemberian terapi vasodilatasi.
b. Monitor tanda-tanda vital 1 jam KESIMPULAN DAN SARAN
pertama selama 15 menit, 1 jam kedua Pasien yang akan menjalani prosedur
selama 30 menit sampai keadaan umum kateterisasi jantung perlu diberikan
baik tindakan-tindakan untuk mengurangi
c. Monitor adanya perdarahan, hematoma kecemasannya seperti pemberian pendidikan
dan bengkak disekitar area penusukan kesehatan serta teknik relaksasi. Selain itu
dengan cara: perlu dipersiapkan EKG 12 lead,
1) Penekanan dengan bantal pasir dan pemeriksaan laboratorium dan diagnostik,
imobilisasi pada daerah penusukan puasa 4-6 jam, memberikan premedikasi
selama 6 jam sedatif, diberikan antihistamin
2) Jelaskan pentingnya (dipenhidramin), penjelasan tentang
mempertahankan tungkai tetap lurus prosedur yang akan dilakukan, membuka
dengan posisi kepala tidak lebih dari perhiasan yang dapat mengganggu hasil
450C. angiogram.
3) Bila perlu bekerjasama dengan Selama prosedur kateterisasi
keluarga pasien untuk mengamati berlangsung, perawat memonitor vital sign
perdarahan dan perubahan hemodinamik, perubahan
d. Monitor adanya tanda-tanda dari efek status emosiona pasien, kesadaran, respon
samping zat kontras vokal, dan ekspresi wajah yang
Perawat perlu mengenali tanda dan menunjukkan ketidaknyamanan. Perawat
gejala hipersensitifitas terhadap zat harus waspada terhadap adanya tanda-tanda
kontras seperti: adanya urtikaria, yang membahayakan pasien dengan
menggigil, mual, muntah, ansietas dan memberikan intervensi yang tepat untuk
spasme laring. mencegah terjadi kondisi yang lebih serius
e. Observasi volume cairan yang masuk seperti reaksi vasovagal dan spasme arteri
dan keluar koronaria.
Hidrasi yang baik dengan terapi Setelah prosedur pasien perlu
intravena sangat penting pasca prosedur dipantau mengenai keluhan yang dirasakan
kateterisasi jantung. Selain itu, pasien pasien, mengidentifikasi adanya nyeri dada,
juga dianjurkan untuk minum yang memonitor tanda-tanda vital, adanya

291
Idea Nursing Journal Devi Darliana

perdarahan, hematoma disekitar area diagnostic cardiac catheterization.


penusuka, monitor adanya tanda-tanda dari Holist Nurs ract, 19(2), 70-3.
efek samping zat kontras, monitor tanda-
Mott, A. M. (1999). Psychologic preparation
tanda gangguan sirkulasi ke perifer, monitor
to decrease anxiety associated with
adanya tanda-tanda infeksi. cardiac catheterization. Journal
Diharapkan kepada perawat dan tim Vascular Nursing, 17(2), 41-9.
medis lain untuk melakukan perawatan
pasien mulai dari persiapan pasien sebelum, Mc Neil, L. (1999). Psychology of fear and
selama serta setelah menjalani prosedur stress, Volume 1, 2th Ed. Elsevier
kateterisasi jantung dengan baik untuk Saunders.
mencegah terjadi komplikasi selama dan
Nursalam. (2001). Pendekatan praktis
setelah prosedur dilakukan. metodelogi riset keperawatan.
Jakarta: CV. Sagung Seto.
KEPUSTAKAAN
Argstatter, H., & Haberbosch, W., Bolay, H. Pagana, K. D., & Pagana, T. J. (2005).
V. (2006). Study of the effectiveness Diagnostic testing and nursing
of musical stimulation during implication: A casestudy approach,
intracardiac catheterization. Clin Res 5th Ed. St. Louis: Mosby.
Cardiol, 95(10), 511-3.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2005). Buku
Biley, F., Morgan, E., & Philip, S. (2005). ajar fundamental keperawatan:
The effect of music listening on adult Konsep, proses dan praktik, Edisi 4.
patient pre-procedural state anxiety in Jakarta: EGC.
hospital.
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2008). Text
Black, J. M., & Hawk, H. J. (2005). Medical book medical-surgical nursing
surgical nursing; Clinical Brunner-Suddarth, 8th Ed.
management for positive outcomes, Philadelphia: Mosby Company.
Volume 1, 7th Ed. Elsevier Saunders.
Thorgaard, B., Henriksen, B. B.,
Brown, D., & Edwars, H. (2004). Medical- Pedersbaek, G., & Thomsen, I.
surgical nursing assessment and (2004). Specially selected music in
management of clinical problems, 5th the cardiac laboratory-an important
Ed. St. Louis , Mosby Inc. tool for improvement of the wellbeing
of patients. Eur J Cardiovasc Nurs,
Gray, H. H., Dawkins, K. D., Simpson, I. A., 3(1), 21-6.
& Morgan, J. M. (2002). Kardiologi,
Edisi 4. Jakarta: Erlangga medical Underhill, Woods, Froelicher, & Halpenny.
series. (2005). Cardiac nursing, 5th Ed.
Lippincott William & Walkins.
Ludwick-Rosenthal, R., & Neufeld, R. W.
(2001). Preparation for undergoing an Uzun, S., Vural, H., Uzun, M., Yokusoglu,
invasive medical procedure: & Mehmet. (2008). State and trait
interacting effects of information and anxiety levels before kateterisasi
coping style. J Consult Clin Psychol, jantung. Journal of Clinical Nursing,
61(1), 156-64. 17, 602-607.

McCaffrey, R., & Taylor, N. (2005).


Effective anxiety treatment prior to

292