Anda di halaman 1dari 7

1

PEMBAHASAN
A. Penelitian Hukum Normatif
Metode penelitian hukum normatif atau metode penelitian hukum
kepustakaan adalah metode atau cara yang dipergunakan di dalam penelitian
hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada.1 Tahapan
pertama penelitian hukum normatif adalah penelitian yang ditujukan untuk
mendapatkan hukum obyektif (norma hukum), yaitu dengan mengadakan
penelitian terhadap masalah hukum. Tahapan kedua penelitian hukum normatif
adalah penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan hukum subjektif (hak dan
kewajiban).2
Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif yaitu menggambarkan
gejala-gejala di lingkungan masyarakat terhadap suatu kasus yang diteliti,
pendekatan yang dilakukan yaitu pendekatan kualitatif yang merupakan tata cara
penelitian yang menghasilkan data deskriptif.3 Digunakan pendekatan kualitatif
oleh penulis bertujuan untuk mengerti atau memahami gejala yang diteliti.4
Penulis melakukan penelitian dengan tujuan untuk menarik azas-azas hukum
(“rechsbeginselen”) yang dapat dilakukan terhadap hukum positif tertulis maupun
hukum positif tidak tertulis.5
Di dalam metode penelitian hukum normatif, terdapat 3 macam bahan
pustaka yang dipergunakan oleh penulis yakni :
 Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang mengikat atau yang
membuat orang taat pada hukum seperti peraturan perundang–undangan,
dan putusan hakim. Bahan hukum primer yang penulis gunakan di dalam
penulisan ini yakni: Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor
76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209).
 Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder itu diartikan sebagai bahan hukum yang tidak
mengikat tetapi menjelaskan mengenai bahan hukum primer yang
merupakan hasil olahan pendapat atau pikiran para pakar atau ahli yang
mempelajari suatu bidang tertentu secara khusus yang akan memberikan
petunjuk ke mana peneliti akan mengarah. Yang dimaksud dengan bahan
sekunder disini oleh penulis adalah doktrin–doktrin yang ada di dalam
buku, jurnal hukum dan internet.
 Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang mendukung bahan hukum
primer dan bahan hukum sekunder dengan memberikan pemahaman dan
pengertian atas bahan hukum lainnya. Bahan hukum yang dipergunakan
oleh penulis adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Hukum.

1
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,
Cetakan ke – 11. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2009), hal. 13–14.
2
Hardijan Rusli, “Metode Penelitian Hukum Normatif: Bagaimana?”, Law Review Fakultas
Hukum Universitas Pelita Harapan, Volume V No. 3 Tahun 2006, hal. 50.
3
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Press, 1986), hal. 32.
4
Ibid.
5
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia, 1984), hal.
252.
2

Di dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. Dengan


pendekatan tersebut, peneliti akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek
mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabnya. Macam-macam
pendekatan-pendekatan yang digunakan di dalam penelitian hukum adalah:6
Pendekatan undang-undang (statute approach)
Pendekatan kasus (case approach)
Pendekatan historis (historical approach)
Pendekatan komparatif (comparative approach)
Pendekatan konseptual (conceptual approach)
Penelitian yang dilakukan oleh penulis lebih ditujukan kepada pendekatan
undang-undang dan pendekatan kasus. Pendekatan undang-undang dilakukan
dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut
dengan isu hukum yang sedang ditangani.7 Pendekatan kasus dilakukan dengan
cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang
dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan.8
Dalam literature-literatur hukum tentang penelitian hukum banyak
ditemukan variasi tentang pembagian tipe-tipe penelitian hukum. Namun
meskipun demikian pengklasifikasian tipe penelitian hukum yang secara umum
adalah sebagai berikut :

1. penelitian hukum normative ; yang mencakup :


a. penelitian terhadap azas-azas hukum ;
b. penelitian inventarisasi hukum positif ;
c. penelitian terhadap sistematika hukum ;
d. penelitian taraf sinkronisasi vertical dan horizontal ;
e. penelitian hukum inkonkrito ;
f. penelitian hukum klinis ;
g. penelitian sejarah hukum ;
h. penelitian perbandingan hukum ;

2. penelitian hukum sosiologis atau empiris, mencakup :


a. penelitian hukum sosiologis ;
b. penelitian anthropologi hukum ;
c. penelitian terhadap identifikasi hukum tidak tertulis ;
d. penelitian tentang efektifitas hukum ;

Perbedaan mendasar dari kedua klasifikasi penelitian hukum tersebut


terletak pada cara pandang peneliti terhadap hukum. Dalam penelitian hukum
normative, hukum dipandang sebagai norma atau kaidah yang otonom terlepas
dari hubungan hukum tersebut dengan masyarakat. Sementara penelitian hukum
empiris atau sosiologis, hukum dipandang dalam kaitannya dengan masyarakat
atau sebagai sebuah gejala sosial. Jadi dalam klasifikasi ini hukum tidak
dipandang sebagai sebuah norma atau kaidah yang otonom.
B. Penelitian Inventarisasi Hukum positif

6
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2009),
hal. 93.
7
Ibid., hal. 93.
8
Ibid., hal. 94.
3

Penelitian inventarisasi merupakan sebuah kegiatan penelitian


pendahuluan sebelum seorang peneliti lebih jauh melangkah pada penelitian
inconcrito, penelitian asas, penelitian taraf sinkronisasi vertical dan horizontal,
penelitian perbandingan hukum dan penelitian hukum lainnya. Dengan demikian
hasil penelitian inventarisasi hukum positif merupakan data dasar yang wajib
dimiliki oleh seorang peneliti hukum normative.
Kegiatan penelitian inventarisasi hukum positif sangat tergantung pada
konsepsi si peneliti tentang apa yang menjadi hukum positif. Karena yang akan
diinventarisir oleh si peneliti adalah apa yang dipandangnya sebagai hukum
positif. Berdasarkan hal tersebut umumnya terdapat tiga konsepsi yang berbeda
tentang hukum positif, yakni :
1. Konsepsi kaum legis-positipis yang menyatakan hukum identik dengan
norma-norma tertulis yang dibuat serta diundangkan oleh lembaga atau
pejabat negara yang berwenang. Dengan konsepsi yang demikian, maka si
peneliti hanya akan mengumpulkan peraturan perundang-undangan yang
tertulis saja. Sementara peraturan hukum lainnya meskipun berlaku
ditengah masyarakat akan tetapi tidak dalam bentuk tertulis tidak menjadi
focus dari penelitian, karena dipandang sebagai peraturan nonhukum.
2. Konsepsi sosiologis yang memandang kaidah hukum tidak saja berupa
peraturan perundang-undangan tertulis, tetapi juga termasuk dan yang
utama adalah segala aturan yang secara de facto diikuti atau dipatuhi oleh
masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Pada penelitian ini peneliti lebih
focus pada perilaku actual dari anggota-anggota masyarakat dan kemudian
melakukan abstraksi terhadap perilaku actual tersebut sehingga dihasilkan
suatu norma hukum yang menjadi dasar bertindak atau berperilaku
masyarakat tersebut.
3. Konsepsi yang memandang bahwa hukum identik dengan putusan-putusan
hakim di pengadilan dan keputusan para pengetua adat. Berdasarkan
konsepsi yang demikian, maka penelitian ditekankan pada pengumpulan
keputusan-keputusan hakim atau pengetua-pengetua adat dalam
memutuskan sebuah konflik hukum yang terjadi di tengah-tengah
masyarakat.
Soetandyo Wignjosoebroto mengatakan terdapat tiga kegiatan pokok yang
harus dikerjakan dalam penelitian inventarisasi hukum positif, yakni :(1).
Menetapkan criteria identifikasi untuk menyeleksi manakah norma-norma yang
harus disebut sebagai norma hukum positif, dan mana yang harus dikelompokkan
sebagai norma sosial atau nonhukum. (2). Melakukan koreksi terhadap norma-
norma yang teridentifikasi sebagai norma hukum positif. (3). Mengorganisasikan
norma-norma yang sudah berhasil diidentifikasi dan dikumpulkan itu ke dalam
suatu system yang komprehensif.9
Dengan demikian penelitian inventarisasi hukum positif bukanlah sebatas
pada aktifitas untuk mengumpulkan peraturan semata, akan tetapi juga
memberikan koreksi dan juga menyusun peraturan-peraturan tersebut dalam
sebuah system yang komprehensif.
C. Penelitian Perbandingan Hukum

9
Soetandyo Wignjosoebroto, Penelitian Hukum, Sebuah Tipologi, Majalah Masyarakat Indonesia,
Tahun Ke-I, No.2, 1974
4

Dalam penelitian hukum metode penelitian perbandingan hukum sering


dipergunakan untuk melihat perbandingan atas penyelesaian atau pengaturan
masalah yang sedang diteliti dalam system hukum atau tata hukum yang lain.
Dengan memperbandingkan hal tersebut peneliti memiliki informasi tentang
masalah yang ingin dipecahkan dalam tinjauan system hukum yang lain.
Penelitian perbandingan hukum sering dilakukan dengan
memperbandingkan unsur-unsur yang terdapat dalam suatu system hukum, antara
lain mencakup : (a) substansi hukum yang mencakup perangkat peraturan dan
perilaku teratur dari masyarakat, (b). struktur hukum, mencakup lembaga-lembaga
hukum, dan (c). budaya hukum mencakup perangkat nilai yang diyakini dan yang
dianut oleh suatu masyarakat hukum yang mendasari persepsi, pandangan, cita-
cita, keinginan dan harapan masyarakat tersebut terhadap hukum. Adakalanya
perbandingan dilakukan terhadap masing-masing unsur secara sendiri-sendiri atau
terpisah, atau memperbandingkannya secara kumulatif.
Sunaryati Hartono, membagi dua metode penelitian perbandingan hukum,
yakni penelitian perbandingan hukum fungsional dan structural. Penelitian
perbandingan hukum fungsional ditujukan untuk mencari cara bagaimana suatu
peraturan atau pranata hukum dapat menyelesaikan suatu masalah sosial atau
ekonomi, atau bagaimana suatu pranata hukum atau pengaturan suatu pranata
sosial atau ekonomi dapat menghasilkan perilaku yang diinginkan. Penelitian ini
juga dipergunakan untuk meneliti the existing national law in its day to day
practice, and the law in action dari setiap sistem atau pranata atau kaidah hukum
yang dibandingkan. Dalam kaitan ini, nilai lebih dari metode ini adalah bahwa ia
mencari dan menguji bagaimana suatu penyelesaian atau peraturan hukum yang
diusulkan untuk mengatasi suatu masalah, sosial, ekonomi, politik dan lainnya itu
benar-benar bekerja dan berfungsi dalam masyarakat. Metode ini juga akan
menguji dampak terhadap berlakunya suatu peraturan atau pranata baru dalam
sebuah masyarakat.
Penelitian perbandingan hukum structural atau sistematik terutama
berusaha untuk menyusun suatu system yang dipergunakan sebagai referensi
dalam mengadakan perbandingan-perbandingan. System termaksud dapat saja
berupa system yang konkrit, abstrak, konseptual, terbuka atau tertutup. Penelitian
perbandingan hukum jenis ini digunakan oleh peneliti yang menganggap bahwa
tidaklah mungkin membandingkan dua atau lebih system hukum dari masyarakat
yang berbeda ideology sosial-ekonominya. Oleh karena itu terlebih dahulu
diperlukan pendekatan sistemik yang memperhatikan interaksi antara hukum dan
kondisi sosial ekonomi setempat.10
D. Penelitian Sejarah Hukum
a. Pengertian Penelitian Historis
Secara umum dapat dimengerti bahwa penelitian historis merupakan
penelaahan serta sumber-sumber lain yang berisi informasi mengenai masa
lampau dan dilaksanakan secara sistematis. Atau dapat dengan kata lain yaitu
penelitian yang bertugas mendeskripsikan gejala, tetapi bukan yang terjadi pada
waktu penelitian dilakukan. Penelitian historis di dalam pendidikan hukum
merupakan penelitian yang sangat penting atas dasar beberapa alasan. Penelitian
historis bermaksud membuat rekontruksi masa latihan secara sistematis dan

10
Sunaryati Hartono, op.cit, Hal. 173-174
5

objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, mengverifikasikan serta


mensintesiskan bukti-bukti untuk mendukung bukti-bukti untuk mendukung fakta
memperoleh kesimpulan yang kuat. Dimana terdapat hubungan yang benar-benar
utuh antara manusia, peristiwa, waktu, dan tempat secara kronologis dengan tidak
memandang sepotong-sepotong objek-objek yang diobservasi.
Menurut Jack. R. Fraenkel & Norman E. Wallen penelitian sejarah adalah
penelitian yang secara eksklusif memfokuskan kepada masa lalu. Penelitian ini
mencoba merenkonstruksi apa yang terjadi pada masa yang lalu selengkap dan
seakurat mungkin, dan biasanya menjelaskan mengapa hal itu terjadi. 11 Dalam
mencari data dilakukan secara sistematis agar mampu menggambarkan,
menjelaskan, dan memahami kegiatan atau peristiwa yang terjadi beberapa waktu
lalu. Sementara menurut Donald Ary dkk juga menyatakan bahwa penelitian
historis adalah untuk menetapkan fakta dan mencapai simpulan mengenai hal-hal
yang telah lalu, yang dilakukan secara sistematis dan objektif oleh ahli sejarah
dalam mencari, mengvaluasi dan menafsirkan bukti-bukti untuk mempelajari
masalah baru tersebut.12
Berdasarkan pandangan yang disampaikan oleh para ahli diatas, dapat
disimpulkan bahwa pengertian penelitian sejarah mengandung beberapa unsur
pokok, yaitu
 Adanya proses pengkajian peristiwa atau kejadian masa lalu (berorientasi
pada masa lalu);
 Usaha dilakukan secara sistematis dan objektif;
 Merupakan serentetan gambaran masa lalu yang integrative antar manusia,
peristiwa, ruang dan waktu;
 Dilakukan secara interktif dengan gagasan, gerakan dan intuiasi yang
hidup pada zamannya (tidak dapat dilakukan secara parsial).
b. Tujuan Penelitian Historis
Adapun yang menjadi tujuan penelitian sejarah atau historis adalah untuk
memahami masa lalu, dan mencoba memahami masa kini atas dasar persitiwa
atau perkembangan di masa lampau.13 Sedangkan Donal Ary menyatakan bahwa
penelitian historis untuk memperkaya pengetahuan peneliti tentang bagaimana
dan mengapa suatu kejadian masa lalu dapat terjadi serta proses bagaimana masa
lalu itu menjadi masa kini, pada akhirnya, diharapkan meningkatnya pemahaman
tentang kejadian masa kini serta memperolehnya dasar yang lebih rasional untuk
melakukan pilihan-pilihan di masa kini.14
Berikutnya Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wellen menyertakan bahwa
para peneliti sejarah hukum melakukan penelitian sejarah dengan tujuan untuk :15
 Membuat orang menyadari apa yang terjadi peristiwa hukum pada masa
lalu sehingga mereka mungkin mempelajari dari kegagalan dan
keberhasilan konsep hukum masa lampau;

11
Jack. R. Fraenkel & Norman E. Wallen, 1990 : 411 dalam Yatim Riyanto, 1996: 22 dalam Nurul
Zuriah, 2005: 51
12
Donald Ary dkk (1980) dalam Yatim Riyanto (1996: 22) dalam Nurul Zuriah , 2005: 51
13
Jhon W. Best, (1977) dalam Yatim Riyanto, (1996: 23) dalam Nurul Zuriah (2005: 52)
14
Donal Ary (1980) dalam Yatim Riyanto (1996: 23) dalam Nurul Zuriah (2005: 52)
15
Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wellen (1990) dalam Yatim Riyanto (1996: 23) dalam Nurul
Zuriah (2005: 52)
6

 Mempelajari bagaimana sesuatu telah dilakukan system hukum pada masa


lalu, untuk melihat jika mereka dapat mengaplikasikan masalahnya pada
sistem hukum masa sekarang;
 Membantu memprediksi sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang;
ius contituedum
 Membantu menguji hipotesis yang berkenaan dengan hubungan atau
kecendrungan. Misalnya masih dominankah paham positivisme abad 19
dalam penegakan hukum saat ini
 Memahami praktik dan arah politik hukum sekarang secara lebih lengkap.
 Dengan demikian, tujuan penelitian sejarah tidak dapat dilepaskan dengan
kepentingan masa kini dan masa mendatang.
7

DAFTAR PUSTAKAN

Hartono, Sunaryati. Penelitian Hukum Di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20.


Bandung : Alumni. 1994.

Hilman Hadikusuma, Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu Hukum,
Mandar Maju, Bandung, 1995, hlm. 65.

Ibrahim, Johnny Teori, Metode dan Penelitian Hukum Normatif. Bayumedia


Publising : Jawa Timur. 2007.

Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Cetakan


Kelima, Jakarta : Ghalia Indonesia. 1994.

Sedarmayanti & Syarifudin Hidayat, Metodologi Penelitian. Bandung : CV.


Mandar Maju. 2002.

Soekanto, Soerjono & Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan
Singkat), Jakarta : Rajawali Pers. 2001.

Soekanto, Soerjono. Pengantar Peneltian Hukum, Universitas Indonesia (UI)


Press : Jakarta. 1986.

Sugono, Bambang. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta : Raja Grafindo


Pustaka. 2011

Wignjosoebroto, Soetandyo. Hukum, Paradigma Metode dan Dinamika


Masalahnya, Editor : Ifdhal Kasim et.al., Elsam dan Huma. Jakarta. 2002.