Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Proses pengolahan biji besi


Bijih-bijih logam adalah material yang diperoleh dari hasil penambangan yang
biasanya masih berbentuk butiran-butiran atau gumpalan-gumpalan. Bijih-bijih logam ini
masih bercampur dengan bahan-bahan ikutan lainnya. Prosentase berat dari unsur-unsur yang
terkandung di dalam bijih-bijih ini bergantung pada kedalaman lapisan tanah dimana biji
tersebut diperoleh.
 Pengerjaan Bijih-bijih (Work Ores)
Menurut Suharti (1998), Sebelum diproses lebih lanjut dilakukan terhadap bijih-bijih,
terlebih dahulu bijih-bijih tersebut dikerjakan, antara lain dengan cara pemecahan,
pengayakan atau sizing dan pembenahan (ores dressing).
A. Pemecahan bijih-bijih.
Bijih-bijih yang diperoleh dari penambangan biasanya mempunyai ukuran melintang
1200 - 1500 mm. Dalam pengerjaan metallurgi biasanya dibutuhkan ukuran bijih-bijih
yang cukup halus (kadang sampai 0,1 mm), sehingga bijih-bijih yang diperoleh dari
penambangan tersebut harus diperkecil atau dipecah terlebih dahulu.
Berdasarkan ukuran feed dan ukuran produk dari pemecahan, maka proses pemecahan ini di
bagi atas;

B. Pengayakan (sizing).
Bijih-bijih yang sudah dipecah kemudian dipisah-pisahkan menurutbesar / ukuran
butir, proses pemisahan ini dinamakan pengayakan atau sizing. Pengayakan ini diperlukan
agar jangan sampai terjadi pemecahan bijih yang terlalu kecil (lebih kecil dari ukuran yang
diperlukan).
Pengayakan ini biasanya dilakukan dengan menggunakan ayakan berupa batang-
batang baja yang berbentuk kisi-kisi (bar screen), berupa jarring-jaring kawat (vibration
screen) atau ayakan yang berupa siiinder (revolving / cylinder screen).
C. Pembenahan bijih-bijih (ores dressing)
Yang dimaksud dengan pembenahan bijih-bijih (ores dressing) adalah pemrosesan
bijih-bijih dengan tidak merubah sifat-sifat kimia atau sifat fisik dari bijih-bijih tersebut.
Tujuan dari ores dressing ini adalah untuk memisahkan bijih-bijih dari bahan-bahan ikutan
dari kotoran-kotoran yang biasa disebut tailing. Dengan pemisahan tailing akan diperoleh
bijih-bijih dengan prosentase bahan tambang yang lebih tinggi yang biasa disebut
consentrate.
 Mekanisme Bioleaching
Pemerosesan bijih-bijih adalah proses pemisahan logam murni atau senyawanya dari
bijih-bijihnya. Proses pemisahan ini secara umum dibagai atas dua golongan yaitu
pyrometaiiurgy dan hydrometallurgy (Suharti,1998). Bioleaching, termasuk golongan
hydrometallurgy.
Dalam proses metabolismenya bakteri mampu memobilisasi dan melakukan leaching
logam berat melalui pembentukan asam organik dan anorganik, oksidasi dan reduksi,
ekskresi agen kompleks. Pada proses bioleaching ini dihasilkan asam sulfat dan besi sulfat
(Brandl, 2001). Selanjutnya asam sulfat dan besi sulfat yang dihasilkan akan menyerang
batuan disekelilingnya dan melepaskan atau melarutkan (leaching) mineral logam. Aktivitas
bakteri ini akan mengubah mineral sulfida (MS) seperti tembaga sulfida (CuS), timbal sulfida
(PbS) yang tidak larut menjadi senyawa tembaga sulfat (CuS04) dan menjadi timbal sulfat
(PbS04) yang larut.
Mekanisme bioleaching logam berat oleh bakteri dari sulfida logam (MS) dapat
dicapai melalui jalur metabolik langsung dan tidak langsung. Dalam mekanisme langsung
sulfida logam dioksidasi menjadi logam sulfat yang larut, mekanisme tidak langsung melalui
oksidasi sulfur dan sulfida logam menjadi senyawa sulfat (Atlas dan Bartha, 1993., Gadd,
1990). Mekanisme langsung sulfida logam chalcosit (Cu2S) dapat ditunjukkan menurut reaksi:
T. ferrooxidans
2CU2S + 202 + 4H+ -------------------------► 2CuS + 2Cu2* + 2H20
(4Cu+---------------------► 4Cu2+ + 4e-)
Mekanisme tidak langsung melalui oksidasi mineral sulfida oleh ion ferri (Fe 3') mengikuti reaksi:
CuS + 8Fe3+ + 4H2O -------------► Cu2+ + 8Fe2+ + SO42- + 8H+
8Fe2+ + 2O2 + 8H+ -------------► 8Fe3+ + 4H2
Keseluruhan reaksi terjadi adalah :
CuS + 2O2 -------------► Cu2+ + SO42-
Mekanisme lain dari Bioleaching adalah melalui pelekatan tidak langsung oleh ligan
organik yang dihasilkan bakteri dan membentuk suatu kompleks logam yang larut. Ligan
organik yang dihasilkan bakteri ini berupa senyawa asam sitrat atau asam oksalat pada pH
netral, di mana ligan ini akan membentuk ikatan yang kuat dengan ion logam sehingga logam
tersebut dapat diekstrak dari mineral (Ehrlich, 1992). Disamping itu bakteri dapat
memproduksi asam laktat, asam asetat, asam suksinat, asam piruvat, dan asam format yang
menyebabkan asidolisis. Produk organik lain yang dihasilkan bakteri pada suasana alkalis
antara lain asam amino atau peptida yang juga efektif sebagai ligan untuk melarutkan logam.
Brandl (2001) menjelaskan mekanisme pelekatan bakteri pada proses bioleaching
yaitu sel-sel bakteri menempel atau melekat pada permukaan mineral melalui kontak fisik
bagian permukaan. Sel yang terbentuk mengeluarkan exopolimer, exopolimer ini membungkus
atau menjerap senyawa besi (Fe3+) dan membentuk kompleks asam glukoronat. Tahap ini
merupakan bagian utama dari proses mekanisme pelekatan. Tiosulfat yang terbentuk merupakan
produk antara (inter-mediate) selama oksidasi semyawa sulfur. Sulfur atau politionat terbentuk di
dalam periplasmatik (periplasmatic space) atau di dalam sel dioksidasi kembali. Di dalam
periplasmatik ini ditempatkan enzim rusticyanin, cytochrome dan protein iron-sulfur, dengan
demikian keberadaan sel bebas dalam medium yang habis digunakan mengoksidasi senyawa
logam tereduksi.
Pembentukan exopolimer sangat penting dalam pelekatan mikroba pada permukaan
mineral. Berkurangnya exopolimer dapat menghambat pelekatan dan menurunkan efisiensi
leaching logam. Kontak langsung antara sel dengan permukaan padatan mineral adalah suatu
prasyarat efektifnya mobilisasi logam. Interaksi antara bakteri dengan logam terjadi dalam 2
level, pertama penyerapan secara fisika karena gaya elektrostatik, sel bakteri menjerap muatan
positif yang berguna untuk interaksi elektrostatik dengan fasa mineral. Kedua, penyerapan secara
kimia dimana ikatan kimia antara sel dengan mineral membentuk jembatan disulfida. Metabolit
ekstraselular terbentuk dan dikeluarkan selama fase tersebut saat mendekati tempat
pelekatan(Ehrlich, 1992).
Lloyd (2002) mengemukakan bahwa mekanisme interaksi antara logam dengan bakteri
dapat terjadi melalui biosorption, bioleaching, biomineralization dan enzyme-cataysed
transformation. Melalui mekanisme biosorption, logam dalam bentuk larutan dapat dihilangkan
dengan diserap ke dalam biomassa. Permukaan sel menerima muatan negatif dari gugus karbonil,
hidroksil, fosfat dan gugus sulfihidril, kemudian sel menyerap muatan positif kation logam. Pada
mekanisme biomineralization fosfat-logam yang sedikit larut, bakteri mampu ftiengikat logam
toksik ini sebagai biomineral fosfat tidak larut.
Suhendrayatna (2001) mengungkapkan mekanisme bioremoval ion logam berat
melibatkan mekanisme active uptake dan passive uptake. Passive uptake dapat terjadi ketika ion
logam berat mengikat dinding sel melalui pertukaran ion monovalen dan divalen, dan membentuk
kompleks antara ion-ion logam berat dengan gugus fungsional pada dinding sel. Active uptake
terjadi secara simultan sejalan dengan konsumsi ion logam oleh mikroba, logam berat dapat
diendapkan pada proses metabolisme dan diekskresikan pada tahap berikutnya. Baik mekanisme
passive uptake maupun active uptake dapat berjalan secara serentak.
2.2 Peranan dan Mekanisme Enzimatis Mikroba dalam Bioteknologi Penguraian
Limbah
2.2.1 Penguraian Limbah Organik
Pemanfaatan mikroorganisme dalam bioremediasi dapat dilakukan melalui dua
pendekatan, yaitu melalui pemanfaatan mikroorganisme alamiah yang ada dalam limbah dan
penempatan biakan mikroorganisme perombak polutan organik yang sudah diisolasi dan
dibiakkan di laboratorium ke dalam lingkungan yang tercemar (Gunalan, 1996). Contoh
kasus mengenai pemanfaatan mikroorgsnisme dalam biodegradasi limbah organik berupa
limbah cair tahu. Pada proses pendegradasi limbah cair tahu, bakteri pendegradasi mampu
mendegradasi polutan organik secara bertahap dengan mengeluarkan enzim, jika jumlah
enzim yang dikeluarkan seimbang dengan volume polutan, maka reduksi total dapat terjadi.
Substrat organik dapat direduksi oleh enzim bakteri jika jumlah biomassa (densitasnya)
dalam lingkungan cukup mendukung adanya interaksi antara substrat dan enzim.
Proses biodegradasi oleh bakteri indigen dilakukan melalui reaksi enzimatis yang
diekskresi ke luar sel yang dapat mengurai limbah. Bakteri pengurai dalam metabolismenya
menghasilkan enzim. Enzim-enzim yang diproduksi bakteri berupa hidrolitik ekstraseluler,
yaitu enzim yang diekskresi ke luar sel dan dapat mengurai substrat tertentu. Polutan dalam
limbah akan diurai oleh bakteri sampai volumenya mengecil, sehingga dapat mereduksi
amilum, protein, menaikkan pH, menurunkan BOD dan COD (Madigan, 2003).
Terdapat suatu hasil penelitian yang meunjukkan bahwa bakteri Bacillus mycoides
dan Bacillus furmus mampu melakukan biodegradasi, yang mana menguraikan senyawa
organik yang terkandung dalam limbah cair tahu. Masing-masing spesies bakteri berperan
menguraikan bahan organik yang berbeda sesuai enzim ekstraseluler (eksoenzim) yang
dihasilkan. Eksoenzim (enzim ekstraseluler), yaitu enzim yang bekerjanya di luar sel.
Umumnya berfungsi untuk mencernakan substrat secara hidrolisis, untuk dijadikan molekul
yang lebih sederhana dengan berat molekul (BM) lebih rendah sehingga dapat masuk
melewati membrane sel (Sumiarsih, 2003). Biodegradasi yang berlangsung selama pemberian
bakteri ke limbah cair tahu adalah biodegradasi amilum dan protein. Selama proses
biodegradasi, bakteri Bacillus mycoides dan Bacillus furmus akan menghasilkan enzim
bakteri asam, dapat diketahui bahwa bakteri tersebut mampu menghasilkan enzim amilolitik
dan enzim proteolitik. Penggunaan konsorsia bakteri lebih efektif dibandingkan dengan
penggunaan bakteri tunggal terhadap biodegradasi limbah organik (Waluyo, 2009).
Pada limbah cair tahu terdapat kandungan asam asetat yang merupakan salah satu
penyebab pH limbah cair tahu rendah. Asam asetat tersebut digunakan pada proses
pembuatan tahu sebagai koagulan untuk penggumpalan. Molekul asam asetat (C2H4O2)
dalam reaksi glikolisis akan melepaskan satu gugus karboksilnya yang sudah teroksidasi
sempurna dan mengandung sedikit energi, yaitu dalam bentuk molekul CO2. Setelah itu, 2
atom karbon yang tersisa dari piruvat akan dioksidasi menjadi asetat (bentuk ionisasi asam
asetat). Selanjutnya, asetat akan mendapat transfer elektron dari NAD+ yang tereduksi
menjadi NADH. Kemudian, koenzim A (suatu senyawa yang mengandung sulfur yang
berasal dari vitamin B) diikat oleh asetat dengan ikatan yang tidak stabil dan membentuk
gugus asetil yang sangat reaktif, yaitu asetil koenzim-A, yang siap memberikan asetatnya ke
dalam siklus Krebs untuk proses oksidasi lebih lanjut. Setiap putaran siklus Krebs, dua
karbon masuk dalam bentuk asetat dan dua karbon yang berbeda keluar dalam bentuk CO2
yang teroksidasi sempurna. Asetat bergabung dengan siklus ini melalui penambahan
enzimatiknya ke senyawa oksaloasetat yang membentuk sitrat. Kemudian langkah
selanjutnya akan menguraikan sitrat kembali menjadi oksaloasetat, yang melepaskan CO2
sebagai buangan (Pelczar dan Chan, 1988).
Aktivitas bakteri asam memungkinkan terjadi kenaikan pH. Proses ini secara prinsip
merupakan proses aerobik dimana senyawa organik dioksidasi menjadi CO2 ,H2O, NH4+ dan
biomasa baru, karena NH4+ akan berikatan dengan air sehingga terbentuk NH4OH yang
bersifat basa dengan reaksi sebagai berikut.
Enzim bakteri asam
C2H4O2 → NH4+ + H2O

Enzim bakteri asam


+

Gambar 2.1 Struktur kimia perombakan asam asetat

Pertumbuhan bakteri Bacillus mycoides dan Bacillus firmus masing-masing menghasilkan


enzim pengurai bahan organik yang dapat mendegradasi bahan organik menjadi substrat yang
lebih sederhana. Substrat ini terhidrolisis menjadi asam piruvat, selanjutnya jika cukup
oksigen melalui mobilisasi asetil-KoA masuk lingkaran asam trikarboksilat (Krebs Cycle)
yang akhirnya dibebaskan menjadi CO2 dan H2O (Waluyo, 2009). Pada waktu mikroba
tumbuh dan berkembangbiak dalam limbah cair tahu, karbon digunakan untuk menyusun
bahan sel-sel mikroba dengan membebaskan karbon dioksida, dan bahan-bahan lain yang
mudah menguap. Proses biodegradasi ini mikroba turut mengasimilasi nitrogen, fosfor,
kalium dan belerang yang terikat didalam protoplasma sel. Tjondronegoro (1997); Madigan
(2003) menyatakan bahwa tujuan utama penanganan limbah secara biologi adalah untuk
mengoksidasi kadar limbah organik, yaitu makanan untuk mikroorganisme. Oksidasi
senyawa-senyawa yang mengandung karbon organik menggambarkan mekanisme dimana
organisme heterotrofik memperoleh energi untuk sintesis. Konsentrasi limbah turun dengan
meningkatnya massa mikroba.
Pemberian inokulan bakteri yang diperlakukan kedalam limbah cair tahu bertujuan
memfasilitasi terjadinya interaksi antara bakteri dengan lingkungan limbah. Bakteri akan
melakukan aktivitas metabolisme untuk tumbuh dan berkembangbiak, hingga mencapai
konsentrasi yang optimum untuk dapat menguraikan senyawa-senyawa organik yang ada
dalam limbah cair tahu. Keberhasilan degradasi bahan organik limbah cair tahu dapat dilihat
dari adanya kenaikan pH dan biodegradasi amilum dan protein serta penurunan BOD dan
COD (Madigan, 2003). Pengaplikasian bakteri ini dalam biodegradasi adalah pemberian
inokulum bakteri atau biakan bakteri dalam medium cair ke perairan yang tercemar limbah.
2.2.2 Penyisihan Logam Berat Cr, Fe, Zn, Cu, Mn, dan Ni dalam Air Limbah Industri
Elektroplating
Proses elektroplating bertujuan untuk memberikan perlindungan dari karat dan
memberikan efek mengkilap pada besi dan baja. Beberapa unsur logam yang terdapat dalam
limbah cair elektroplating antara lain, Fe, Cr, Mn, Cu, Ni, dan Zn. Kuantitas limbah yang
dihasilkan dalam proses elektroplating tidak terlampau besar, tetapi tingkat toksisitasnya
sangat berbahaya, terutama krom (Cr6+), nikel (Ni2+), dan seng (Zn2+) (Roekmijati, 2002).
Apabila limbah dari proses elektroplating langsung dibuang ke lingkungan tanpa adanya
pengolahan terlebih dahulu dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Maka dari itu
diperlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum limbah tersebut dibuang ke lingkungan. Salah
satu metode yang dapat digunakan untuk penyisihan logam berat adalah dengan proses
oksidasi biokimia. Proses oksidasi biokimia ini menggunakan bakteri untuk mengurai
komponen organik dan detoksifikasi logam berat melalui penyerapan dengan biosorpsi oleh
biomassa bakteri, terjadi penyerapan ion logam pada pH optimum (Salimin, 2008). Biomassa
bakteri ini mampu mengikat kation dan anion melalui proses adsorpsi, pertukaran ion,
pembentukan kompleks, dan ikatan hidrogen (Yu Tian, 2008 dalam Salimin, 2009).
Kemudian biomassa bakteri yang telah termuati oleh logam berat akan membentuk flok dan
mengendap karena adanya gaya gravitasi sehingga terjadi akumulasi logam berat pada flok
biologi atau lumpur aktif (Salimin, 2008).
Biosorpsi logam terjadi karena kompleksitas ion logam yang bermuatan positif
dengan pusat aktif yang bermuatan negatif pada permukaan dinding sel atau dalam polimer-
polimer ekstraseluler, seperti protein dan polisakarida sebagai sumber gugus fungsi yang
berperan penting dalam mengikat ion logam (Volesky, 2000 dalam Soeprijanto, 2009). Selain
itu biosorpsi juga terjadi karena adanya peristiwa pertukaran ion dimana ion monovalen dan
divalen seperti Na+, Mg2+, Ca2+, K+ pada dinding sel digantikan oleh ion-ion logam berat
(Soeprijanto, 2009).
Proses oksidasi biokimia yang menggunakan bakteri jenis Super Growth Bacteria
(SGB) 102 yang terdiri dari campuran spesies bakteri mutan Pseudomonas sp, Bacillus sp,
Arthobacter sp, dan Aeromonas sp. Oksidasi biokimia memiliki prinsip apabila zat organik
dihilangkan dari larutan melalui pengolahan secara proses biologi menggunakan bakteri
sebagai mikroorganisme, terjadi dua fenomena dasar sebagai berikut: oksigen dikonsumsi
oleh bakteri untuk memperoleh energi dan massa sel baru terbentuk. Kebutuhan oksigen
tersebut dipenuhi melalui penggelembungan udara kedalam larutan (proses aerasi).
Mikroorganisme juga mengalami autookidasi secara progresif dalam massa selularnya
(Wesley, 1989 dalam Salimin, 2002).
Langkah yang dilakukan dalam proses ini, pertama dilakukan analisis BOD untuk
mengetahui rasio BOD/ COD, rasio ini digunakan sebagai acuan untuk menghitung jumlah
bakteri dan nutrisi yang harus ditambahkan. Penelitian dilakukan dengan cara air limbah yang
telah diatur pH pada masing-masing reaktor dimasukkan aerator. Kemudian ditambahkan
urea dan TSP, sebagai nutrisi untuk bakteri sesuai perhitungan dan didiamkan ±30 menit agar
homogen dengan limbah. Setelah itu bakteri dimasukkan kedalam reaktor dan sampel air
limbah diambil setiap 2 jam sekali untuk dianalisa konsentrasi COD dan logam berat yang
terkandung didalamnya. Sampel yang telah diambil disaring terlebih dahulu menggunakan
kertas saring dan siap untuk dianalisa konsentrasi COD serta konsentrasi logam beratnya.
2.2.3 Biodegradasi Zat Warna Azo Reaktif
Tekstil dengan Sistem Anaerobik Limbah cair industri tekstil dari proses pewarnaan
mengandung warna yang cukup pekat. Zat warna ini berasal dari sisa-sisa zat warna yang tak
larut dan juga dari kotoran yang berasal dari serat alam. Diketahui terdapat bebrapa bakteri
yang berperan, spesies bakteri dari genus Bacillus, Enterobacter, Pseudomonas, Zooglea, dan
Nitrobacter (Heaton, 1994).
 Degradasi Zat Warna
Reduksi azo dikatalisa aleh enzim azo reduktase oleh mikroorganisme dalam kondisi
anaerobik. Pada proses anaerobik terjadi pemutusan molekul-molekul yang sangat kompleks
menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana, sehingga mudah terbiadegradasi oleh proses
aerobik menjadi CO2, H2O, NH3 dan Biomassa.

Gambar 2.2 Biodegradasi Zat Warna Azo dengan Proses Anaerobik-Aerobik


(Sumber: Zaoyan, dkk, 1992)

Pada kondisi anaerobik dibutuhkan empat reduksi ekivalen untuk memutuskan ikatan ala,
sehingga menghasilkan amina-amina aromatik. Seshadri dan Bishop (1994), melakukan
percobaan menggunakan empat zat warna yaitu zat warna Acid Orange 7, Acid Orange 8,
Acid Orange 10 dan Acid Red 14. Penelitian dititikberatkan pada feasibilitas penggunaan
reaktor embun fluidisasi untuk kesempurnaan pemutusan ikatan zat warna. Reaktor ini
berfungsi untuk mereduksi ikatan ala menjadi amina-amina aromatik. Kemudian dilakukan
pengolahan lanjutan secara aerobik menggunakan reaktor lumpur aktif (Activated Sludge
Reactor) untuk mendegradasi amina-amina aromatik menjadi biomassa. Hasil reduksi
masing-masing zat warna dengan waktu tinggal cairan (HRT) bervariasi 1-24 jam diperoleh
persen penurunan warna sebagai berikut : Acid Orange 7 (90%), Acid Orange 10 (1782%),
Acid Orange 8 (98%), dan Acid Red 14 (86,3%). Diketahui bahwa pada reaktor lumpur
aktif terdapat beberapa bakteri. Ikatan zat warna azo dapat direduksi oleh mikroorganisme
anaerobik yang berperanan panting dalam pemutusan ikatan (Hug et al., 1991).
 Perombakan Zat
Tesktil pada Kondisi Anaerobik Proses penghilangan warna pada campuran azo terdiri
dari dua tahapan. Tahap pertama reaksi yang terjadi tidak stabil, karena masih ada molekul
oksigen dalam media, yang dinyatakan sebagai persaingan dari oksida (zat warna dan
oksiogen) pada saat respisasi. Pada kondisi oksidasi zat warna akan kembali ke bentuk
semula (Pers. 2.1.). Setelah molekul oksigen yang ada dalam media habis maka proses
perombakan zat warna akan stabil (Pers. 2.2.).
R1-N=N-R2 + 2e- + 2H+ R1-NH-NH-R2............(2.1.)
R1-NH-NH-R2 + 2e- + 2H+ R1-NH2 + R2-NH2...... .(2.2.)
Reduksi azo secara enzimatis dikatalisa oleh suatu enzim yang disebut azo reduktase.
Enzim ini sensitif terhadap oksigen, sehingga aktivitas maksimum diperoleh pada kondisi
anaerobik. Kemudian Hug et al., 1991 mengatakan bahwa reduksi azo terjadi bersama
dengan terbentuknya flavin yang tereduksi secara enzimatik, tetapi transfer elektron akhir
terjadi secara non enzimatik. Mekanisme dasar pemutusan ikatan azo terjadi bersamaan
dengan reoksidasi dari nukleotida yang dibangkitkan secara enzimatis. Selama nukleotida
direduksi dari sistem pengangkutan elektron, zat warna berperan sebagai oksidator. Elektron
yang dilepas oleh nukleotida yang mengalami oksidasi akan diterima oleh campuran azo
(aseptor elektron akhir) melalui FAD (Flavin Adenin Dinucleotida) sehingga zat warna dapat
direduksi menjadi amina-amina yang bersesuaian. Flavoprotein mengkatalisa pembentukan
flavin-flavin tereduksi dengan regenerasi dari Nikotinamida Adenin Dinucleotida fosfat
(NADPH).

Gambar 2.3 Mekanisme reduksi azo oleh enzim dan NADPH yang dilaporkan oleh Carliell dkk (1995)

Pemutusan ikatan azo dari zat warna Cl - 141 terjadi dengan bantuan enzim dan NADPH
yang dilakukan pada percobaan Carliell et al. (1995) diperkirakan akan menghasilkan tiga
pecahan yang diidentifikasi sebagai (I) 2-aminonaphtalene-1.5-disulphonic acid; (II) 1.7 -
diamino-8-naphto-3.6 disulphonic acid; dan (III) p-diamino-benzene, yang diidentifikasi
menggunakan TLC dan analisa NMR.
Gambar 2.4 Degradasi Zat Warna C.I Reactive Red 141 yang diusulkan oleh Carliell et al (1995)

 Proses Aerob (Metabolisme Sel)


Salah satu sistem pengolahan secara aerob yang digunakan untuk mengolah limbah
organik adalah sistem lumpur aktif, yang mana pada lumpur akktif dapat ditemui beberapa
mikroorganisme, spesies bakteri dari genus Bacillus, Enterobacter, Pseudomonas, Zooglea,
dan Nitrobacter (Heaton, 1994).
Metabolisme sel merupakan seluruh rangkaian proses dan konversi biokimiawi yang
berlangsung di dalam sel hidup. Dua proses utama dalam metabolisme adalah katabolisme
dan anabolisme. Proses katabolisme adalah penguraian substrat menjadi produk-produk
antara melalui reaksi oksidasi sambil melepaskan energi (eksergonik). Sementara itu proses
anabolisme adalah proses sintesis komponen penyusun sel baru dari produk-produk antara
hasil katabolisme melalui reaksi reduksi yang memerlukan energi (ndergonik). Sistem aerob
membutuhkan pemakaian oksigen dari atmosfer atau sumber oksigen murni. Sumber C dari
air limbah merupakan bahan makanan mikroorganisme untuk melangsungkan kehidupan
(Stanbury, 1984).
Gambar 2.5 Proses metabolisme secara umum (dikutip dari: Carliell et al, 1995)

Adenosin trifosfat (A TP) adalah senyawa yang sangat penting dalam metabolisme
karena berfungsi sebagai penghubung antara proses katabolisme dan anabolisme. Selama
proses katabalisme berlangsung, ATP dibentuk dari adenasin difasfat (ADP) dengan
menggunakan energi yang berasal dari aksida substrat. Selanjutnya dalam proses anabalisme,
ATP kembali diubah menjadi ADP sambil melepaskan energi yang diperoleh dari proses
katabalisme. Energi inilah yang digunakan untuk sintetis kompanen-komponen penyusun sel
baru (Stanbury, 1984).
 Perombakan Limbah Tekstil secara Anaerob dan Aerob
Biodegradasi senyawa azo dapat terjadi dalam sistem anaerob dan aerob. Tahap pertama
biodegradasi adalah pembelahan kelampak azo (secara ), dimana te~adi penghilangan warna.
Tahap kedua (kondisi aerob), senyawa aromatik ada dapat di degradasi melalui hydoxylation
dan membuka cincin. Tahap ini dilakukan untuk mendekomposisi lebih lanjut kemungkinan
amina aromatik yang bersifat racun dan karsiogenik. proses anaerobik dapat digunakan untuk
mendegradasi senyawa aromatik berantai panjang menjadi senyawa aromatik berantai
pendek. Senyawa aromatik dapat didegradasi lebih lanjut dalam kondisi aerob. Peneliti
menunjukkan bahwa kondisi aerob lebih ditujukan untuk mineralisasi, dengan sedikit atau
tidak ada degradasi senyawa seperti yang terjadi pada kondisi anaerob. Perlakuan aerob lebih
layak untuk mineralisasi produk degradasi (Kun et al., 1992).
Terdapat sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa pemecahan reduktif ikatan azo dari
MY3 akan menghasilkan 6A2NS dan SAS, yang keduanya merupakan substrat pertumbuhan
untuk 6A2NS-degrading mixed culturee di bawah kondisi aerobik. Pada kondisi ini terjadi
perubahan warna. Setelah reaksi kultur, amina ini dimineralisasi oleh kultur bakteri lainnya.
Pada kondisi aerobik, tidak ada penghilangan warna dari zat warna azo yang teramati. Jadi
total degradasi sulfonated azo dye dicapai dengan menggunakan perlakuan anaerobik-
aerobik. Kemudian Pada tahap anaerob tidak hanya warna yang dapat dihilangkan, tetapi juga
bahan yang sulit diuraikan secara biologi dapat dikurangi menjadi bahan yang dapat
diuraikan secara biologi. Beberapa organik yang tidak mudah larut dan organik kompleks
yang mudah larut dalam limbah zat wama dapat dikurangi menjadi organik sederhana yang
mudah larut. Oksidasi produk akhir adalah asam rantai pendek yang mudah menguap yang
dapat didegradasi lebih lanjut dalam tahap aerob (Kun et al., 1992). Sehinggapada dasarnya
Kombinasi perlakuan dengan urutan anaerob sebagai perlakuan awal dan aerob sebagai
perlakuan kanjut, memberikan hasil yang lebih baik.

Gambar 2.6 Perombakan zat warna Mordant Yellow 3 leh bakteri konsorsium ang diusulkan Haug et al.
(1991)

2.3 Sherly masukin

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Terdapat banyak pengaplikasian mikroorganisme dalam dunia bioteknologi, salah satunya
dalam reaksi enzimatis yang dapat membantu proses penghasilan produk baru ataupun
penguraian suatu limbah. Mekanisme yang dapat terjadi adalah sekresi dari mikroorganisme
berupa enzim yang nantinya akan merombak ikatan struktur suatu senyawa maupun
mikroorganisme berperan sebagai agen yang akan mengkatabolisme senyawa dalam bahan.
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Bosecker, K, 1987, Microbial Leaching, in Prave, P., Faust, U., Sitting, W., Sukacth, D.A (eds),
Fundamenthals of Biotecknology, VCH, Weinheim.s
Brandl, H, 2001, Microbial Leaching of Metal, Switserland.
Carliell C.M., Barclay, S.J., Naidoo, No, Bucley, CA, Mulholland, D.A. dan Senior, E. 1995.
Microbial Decolorization of Reactive Red Dye Under Anaerobic Condition. Water
SA. Vol. 21 (1).
Chen, S.Y and Lin, J.G, 2000, Influence of Solid Content on Bioleaching of Heavy Metal From
Contaminated Sediment by Thiobacillus spp, J. of Chemical Tecknology and
Biotecknology. Vol.75, p. 649-656.
Chen S., Wilson DB, 1997, Genetic Engineering of Bacteria and Their Potential for Hg2+
Bioremidiation, J. Biodegradation, Vol. 8
Chen S., Wilson DB, 1997, Construction and Characterization of Escherichia coli Genetically
Enggineered for Bioremidiation of Hg2+ Conminated Environments, J. Appl. Environ.
Microbiol. Vol. 63.
Couillard, D and Zhu, S, 1992, Bacterial Leaching of Heavy Metals From Sewage Sludge For
Agricultural Application, Water, Air, and Soil Pollution, vol.63, p.67-80
Crueger, W. and Crueger, A, 1984, Biotechnology: A Textbook of Industrial Microbiology,
Science Tech, Inc.
Ehrlich, H.L, 1992, Metal Extraction and Ore Discovery, in Lederbeg (Eds) Encyclopedia of
Microbiology, vol.3, Academic Press, Inc.
Gunalan. 1996. Penerapan Bioremediasi pada Pengolahan Limbah dan Pemulihan
Lingkungan Tercemar Hidrokarbon Petroleum. Majalah Sriwijaya. Vol. 32 (1): 1-9.
Heaton, Alan. 1994. The Chemical Industry, Second eition. London: Blackie Academic and
Profesional, Chapman & Hal.
Hug, W., Schmidt, A., Nortemana, B., Hempel, D.C., Stolz, A. dan Knackmuss, H.J. 1991.
Mineralization of the Sulfonated Azo Dye Mordant Yellow 3 y a 6-Aminoapthalene
2Sulfonate-Degrading Bacterial Consorsium. Applied and Environmental
Microbiology. Vol. 57(11).
Kong I.C., Bitton G., Koopman B., Jung K.H, 1995 Heavy Metal Toxicity Testing in
Environmental Samples, Reviews of Environmental Contamination and Toxicology,
Vol.142.
Madigan, M.T., Martiko J.M, Paker J. 2003. Brock Biology of Microorganism Tenth Edition.
USA: Prentice-Hall Internasional, Inc.
Octavia, B, 1995, Isolasi dan Karakteristik Bakteri Pengikat Merkuri, Tesis PPs Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Pelczar, M. J dan E. C. S, Chan. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 1 (terjemahan R. S.
Hadioetomo). Jakarta: UI Press
Roekmijati. 2002. Presipitasi Bertahap Logam Berat Limbah Cair Industri Pelapisan Logam
Menggunakan Larutan Kaustik Soda. Jurnal Kimia Lingkungan. Jakarta : Universitas
Indonesia.
Rossi, G., Ehrlich HL., 1990, Other Bioleaching Processes, in Ehrlich HL., Brierley CL (Eds.),
Microbial Mineral Recovery, McGraw-Hill, New York.
Salimin, Zainus dan Gunandjar. 2009. Pengolahan Limbah Radioaktif Cair Organik dari
Kegiatan Dekomisioning Fasilitas Pemurnian Asam Fosfat Petrokimia Gresik melalui
Proses Oksidasi Biokimia. Tangerang: PTLR-BATAN.
Seidel, A., Zimmels, Y., and Armon, R, 2001, Mechanism of Bioleaching of Coal Fly Ash by
Thiobacillus thiooxidans, Chemical Engineering Journal, vol.88, p.123-130
Soeprijanto; Aryanto, B., Fabella, R. 2009. Biosorpsi Ion Logam Berat Cu (II) dalam Larutan
Menggunakan Biomassa Phanerochaete chrysosporium. Surabaya: ITS Press.
Suharti, P, 1998, Studi Bioremediasi Limbah Yang Tercemar Logam Berat Melalui Proses
Bioleaching, Tesis PPs Universitas Airlangga Surabaya.
Sumiarsih, S. 2003. Diktat Kuliah Mikrobiologi Dasar. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Tanah
Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta.
Stokinger, H.E, 1981, The Metal, in Clayton G.D., Clayton E.F (Eds), Patty’s Industrial Hygience
and Toxicology, Third Revised Edition, A Wiley Interscience Publication, John Wiley &
Sons New York.
Ulfin, I, 2000, Dekonsentrasi Logam Berat Timbal dan Kadmium Dalam Larutan Oleh Kayu Apu
(Pistia stratiots L.), Tesis PPs. Universitas Airlangga Surabaya.
Waluyo L. 2009. Mikrobiologi Lingkungan. Malang: UMM Press.
Wang, C.L., Michels, P.C., Dawson, S.C., Kitisakkul S., Baross, J.A., Keasling, J.D, and Clark
D.S, 1997, Cadmium Removal by a New Strain of Pseudomonas aeruginosa in Aerobic
Culture, J. Applied and Environmental Microbiology, vol.63, No. 10, p.4075-4078.
WHO, 1995, Environmental HealthCriteria 165: Inorganic Lead, Word Health Organization,
Geneva.