Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS AYAKAN

NAMA:NIZA DESIANA
NIM:F1D116017

Inti sari
Pada dasarnya partikel-partikel pembentuk struktur tanah mempunyai ukuran dan
bentuk yang beraneka ragam baik pada tanah kohesif maupun tanah non kohesif,
untuk tanah yang berbutir kasar, sifatnya tergantung pada ukuran butirnya, adapun
alat yang digunakan pada praktikum ini adalah satu set ayakan, neraca dengan
ketelitian 0.001 gr dari benda uji. Ayakan dengan nomor kecil memiliki lubang
ayakan yang besar berarti ukuran partikel tanah yang melewatinya juga berukuran
besar. Sebaliknya ayakan dengan nomor besar memiliki lubang ayakan kecil.
Tanah berbutir kasar dideskripsikan bergradasi baik, jika ukurannya seragam atau
tidak terdapat partikel berukuran sedang terdapat konstan ukuran tanah.

Kata kunci: Tanah,tanah kohesif, tanah non kohesif

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 1


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Tanah ditemukan di mana-mana di sekitar kita dan mempunyai arti yang
sangat penting bagi kehidupan manusia. Kebanyakan orang tidak pernah berusaha
menentukan apakah tanah itu, darimana asal dan sifatnya. Mereka tidak
memperhatikan bagaimana tanah di suatu tempat berbeda dengan tanah di tempat
lain. Pasti sedikit saja atau bahkan tidak mungkin ada di antara kita yang
mengetahui sebab perbedaan ini.
Dalam pekerjaan teknik pertambangan, tanah memang memiliki peranan
penting baik itu digunakan sebagai tempat dilakukannya proses penambangan.
Sesuai dengan proses terjadinya, tanah tersusun dari berbagai mineral, sifat dan
perilaku yang berbeda-beda. Tanah yang digunakan dalam pekerjaan teknik
pertambangan tersebut mempunyai sifat fisis dan sifat mekanis yang berbeda-
beda, yang tidak dapat digunakan untuk hal yang sama dalam suatu kontruksi.
Analisis ayakan dari sebuah conto tanah melibatkan penentuan persentase
berat partikel dalam rentan ukuran yang berbeda. Distribusi ukuran partikel tanah
berbutir kasar dapat ditentukan dengan metode pengayakan (sieving) conto
tersebut dilewatkan melalui satu set saringan standart yang memiliki lubang
makin kecil ukurannya dari atas kebawah. Berat tanah yang tertahan ditiap
saringan ditentukan dan persentase kumulatif dari berat tanah yang melewati tiap
saringan dihitung beratnya.

1.2 Tujuan Percobaan


Adapun tujuan pada praktikum kali ini adalah:
1. Untuk mengetahui gradasi pembangian butir dari suatu contoh tanah
berbutir kasar
2. Untuk mengklasifikasikan tanah
3. Untuk mengetahui koefisien keseragaman (Cu) dan koefisien gradasi (Cc)

1.3 Manfaat Percobaan


Agar mengetahui cara melakukan pengayakan yang terkandung dalam tanah
dan mudah dalam menganalisis tentang keadaan tanah.

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 2


BAB 11
TINJAUAN PUSTAKA
Pengukuran ukuran butiran tanah merupakan hal penting dalam mengetahui
sifat sifat tanah sangat tergantung pada ukuran butirnya. Disamping itu ukuran
tanah juga digunakan dalam pengklasifikasian bermagam macam tanah tertentu
ada dua cara yang umum digunakan untuk mendapatkan distribusi ukuran butir
tanah yaitu:
1. Analisis ayakan
2. Analisis hidrometer
(Barley,1986)

Analisis ayakan (sieve analisis) adalah suatu percobaan menyaring contoh


tanah melalui satu set ayakan, dimana lubang-lubang ayakan tersebut makin kecil
secara berurutan kebawa, cara ini biasanya digunakan untuk menyaring material
atau partikel berdiameter ≥ 0,075 mm.
Ukuran butiran tanah ditentukan dengan menyaring sejumlah tanah melalui
seperangkat saringan yang disusun dengan lubang yang paling besar berada paling
atas dan makin kebawah makin kecil. Jumlah tanah yang tertahan pada saringan
tersebut disebut salah satu dari ukuran butir conto tanah itu. Pada kenyataannya
pekerjaannya hanya mengelompokan sebahagian dari tanah terlekat di antara dua
ukuran (Hanafiah,2010).
Ukuran butir tanah tergantung dari diameter partikel tanah yang
membentuk dari masa tanah itu. Karena pada pemeriksaan microskopis masa
tanha menunjukan bahwa hanaya sedikit apa bila memang ada partikel-partikel
yang bundar dan mempunyai diameter, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ini
adalah deskripsi mengenai tanah yang agak longsor.
Dikenal umum dengan nama Skala Wentworth, skema ini digunakan untuk
klasifikasi materi partikel aggregate (Udden 1914, Wentworth 1922). Pembagian
skala dibuat berdasarkan faktor 2; contoh butiran pasir sedang berdiameter 0,25
mm – 0,5 mm, pasir sangat kasar 1 mm-2 mm, dan seterusnya. Skala ini dipilih
karena pembagian menampilkan pencerminan distribusi alami partikel sedimen;
sederhananya, blok besar hancur menjadi dua bagian, dan seterusnya.
Berikut adalah ukuran yang terdapat dalam skala Wenworth :

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 3


1. Gravel, terbagi atas 4 bagian yakni : bolders/bongkah (>256mm),
cobble/berangkal (64-256mm), pebble/kerakal (4-64mm), dan
grit/granule/butiran (2-4mm).
2. Sand, pasir sangat kasar (1-2mm), Pasir Kasar (1/2-1mm), pasir sedang
(1/4-1/2mm), pasir halus (1/8-1/4mm), dan pasir sangat halus(1/16-
1/8mm)
3. Mud, terbagi atas 2 : silt/lanau (1/256-1/6mm) dan clay/lempung
(<1/256mm)
Untuk semua instalasi ayak berlaku bahwa, bahan ayak harus
tersebar merata di atas permukaan ayak. Selanjutnya, penting pula untuk
mengatur kecepatan takar sesuai dengan kapasitas ayakan. Dengan cara
demikian dapat dicegah pembebanan lebih atau kurang (Subowo,2011)
Tabel 2.1. Ukuran lubang ayakan (U.S standart)

No ayakan Diameter lubang ayakan (mm)


4 4,750
6 3,350
8 2,360
10 2,000
12 1,680
16 1,180
20 0,850
30 0,600
40 0,425
50 0,300
60 0,250
80 0,180
100 0,150
140 0,106
200 0,075

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 4


Bentuk bahan yang diayak dan jenis permukaan ayakan memainkan
peranan penting. Sering terdapat bulatan-bulatan halus, batang-batang halus
berbentuk sllinder, kerucut kecil, dna sebagainya. Pengayakan bulatan halus
melalui lubang ayakan tidak menimbulkan masalah khusus. Bagaimana cara
bulatan halus sampai di permukaan ayakan tidak membawa perbedaan. Lain
halnya dengan batang dan kerucut halus. Bahan seperti ini dapat melalui
permukaan ayakan dalam keadaan tegak. Tetapi tidak dapat melalui lubang
ayakan jika tidur di atas permukaan ayakan. Pada pengayakan sejumlah batang
halus dengan ukurna tepat sama, sebagian bahan akan terayak, sedangkan
sebagian lain tidak terayak. Berhubung dengan gejala ini, selain lubang ayak yang
bulat ada juga berbentuk bujur sangkar, segi panjang atau berbentuk aluran.
Permukaan ayak dapat terdiri atas berbagai macam bahan.
1. Batang baja
Batang-batang baja berjarak sedikit satu sama lain. Batang ini digunakan
untuk mengayak bahan kasar seperti: batu, batu bara, dan lain-lain.
2. Pelat berlubang
Garis tengah lubang biasanya 1 cm atau lebih. Ukuran tebal pelat meningkat
sesuai dengan bertambah besarnya garis tengah lubang.
3. Anyaman kawat
Biasa dipakai kawat baja, karena kuat.
4. Sutera Tenun
Bahan ini digunakan untuk mengayak zat yang sangat halus, seperti bunga
dan tepung.
5. Rol Berputar
Permukaan ayak semacam ini terdiri atas sejumlah rol berusuk yang disusun
berdampingan dan digerakkan dengan kecepatan berlainan. Pengayakan pada
permukaan ayak semacam ini adalah sangat efektif.

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 5


2.1. Ada tiga jenis agreagat berdasarkan beratnya, yaitu agregat normal, agregat
ringan dan agregat berat.
1. Agregat normal
Dihasilkan dari pemecahan batuan dengan quarry atau langsung dari sumber
alam. Agregat ini biasanya berasal dari granit, basalt, kuarsa dan sebagainya.
2. Agregat ringan
Digunakan untuk menghasilkan beton yang ringan dalam sebuah bangunan
yang memperhitungkan berat dirinya.
3. Agregat berat
2.2 Jenis Agregat Berdasarkan Bentuk
Bentuk agregat belum terdefinisikan secara jelas, sehingga sifat-sifat
tersebut sulit diukur dengan baik. Sejumlah peneliti telah banyak membicarakan
hal ini, salah satunya adalah Mather yang menyatakan bahwa bentuk butir
agregat ditentukan oleh dua sifat yang tidak saling tergantung yaitu
kebulatan/ketajaman sudut (sifat yang tergantung pada ketajaman relatif, secara
numerik dinyatakan dengan rasio antara jari-jari rata-rata dari sudut lengkung
ujung atau sudut butir dari jari-jari maksimum lengkung salah satu
ujung/sudutnya) dan oleh sperikal yaitu rasio antara luas permukaan dengan
volume butir.
1. Agregat bulat
Agregat ini terbentuk karena terjadinya pengikisan oleh air atau
keseluruhannya terbentuk karena pergeseran. Rongga udaranya minimum
33%, sehingga rasio luas permukaannya kecil.
2. Agregat bulat sebagian atau tidak teratur
Agregat ini secara alamiah berbentuk tidak teratur. Sebagian terbentuk
karena pergeseran sehingga permukaan atau sudut-sudutnya berbentuk
bulat. Rongga udara pada agregat ini lebih tinggi, sekitar 35%-38%,
sehingga membutuhkan lebih banyak pasta semen agar mudah dikerjakan.
3. Agregat bersudut
Agregat ini mempunyai sudut-sudut yang Nampak jelas, yang terbentuk
ditempat-tempat perpotongan bidang-bidang dengan permukaan kasar.

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 6


Rongga udara pada agregat ini berkisar antara 38%-40%, sehingga
membutuhkan lebih banyak lagi pasta semen agar mudah dikerjakan
4. Agregat panjang
Agregat ini panjangnya lebih besar lebarnya lebih besar tebalnya. Agregat
disebut panjang jika ukuran terbesarnya lebih dari 9/5 ukuran rata-rata.
5. Agregat pipih
Agregat disebut pipih jika perbandingan tebal agregat terhadap ukuran-
ukuran lebar dan tebalnya lebih kecil. Agregat pipih sama dengan agregat
panjang, tidak baik untuk campuran beton mutu tinggi. Dinamakan pipih
jika ukuran terkecilnya kurang dari 3/5 ukuran rata-ratanya. Untuk contoh
diatas agregat disebut pipih jika lebih kecil dari 9 milimeter.
6. Agregat pipih dan panjang
Agregat jenis ini mempunyai panjang yang jauh lebih besar daripada
lebarnya, sedangkan lebarnya jauh lebih besar dari tebalnya.

2.3 Jenis Agregat Berdasarkan Tekstur Permukaan


Umumnya agregat dibedakan menjadi kasar, agak kasar, licin, agak licin.
Berdasarkan pemeriksaan visual, tekstur agregat dapat dibedakan menjadi sangat
halus (glassy), halus, granular, kasar, berkristal (crystalline), berpori, dan
berlubang-lubang. Secara numerik belum dipakai untuk menentukan definisi dari
susunan permukaan agregat.
Jenis agregat berdasarkan tekstur permukaannya dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Agregat licin/halus (glassy)
Agregat jenis ini lebih sedikit membutuhkan air dibandingkan dengan
agregat dengan permukaan kasar. Dari hasil penelitian, kekasaran agregat
akan menambah kekuatan gesekan antara pasta semen dengan permukaan
butir agregat lapis.
2. Berbutir (granular)
Pecahan agregat jenis ini berbentuk bulat dan seragam.
3. Kasar
Pecahan kasar dapat terdiri dari batuan berbutir halus atau kasar yang
mengandung bahan-bahan berkristal yang tidak dapat terlihat secara visual.

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 7


4. Kristalin (crystalline)
Agregat jenis ini mengandung Kristal-kristal yang nampak dengan jelas
melalui pemeriksaan visual.
5. Berbentuk sarang lebah (honeycombs)
Tampak dengan jelas pori-porinya dan rongga-rongganya. Melalui
pemeriksaan visual, kita dapat melihat lubang-lubang pada batuannya.
(Hardjowigeno,2003)

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 8


BAB III
METODOLOGI

3.1.Alat dan Bahan


3.1.1.alat
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
1. Satu set ayakan
2. Neraca dengan ketelitian 0,01 gr
3. Alat pemisah contoh tanah

3.1.2.bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
1. Sampel tanah kering

3.2. Prosedur Kerja

Start

Di timbang tanah
kering

Disusun saringan

Digoyang
ayakan 15menit

Ditimbang
contoh tanah
tertahan

Finish

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 9


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
No Cawan (gr) Berat Lolos (gr) Berat Tetahan (gr)

1 68,575 343,4713 169,099

2 68,575 272,6034 70,8679

3 68,575 157,3374 115,266

4.2 Perhitungan
1. Tanah kering 1 : 160,9267 gr - 72,9242 gr = 88,0025 gr
Tanah kering 2 : 217,9503 gr - 66,6670 gr = 151,2833 gr
Tanah kering 3 : 249,9165 gr - 70,8835 gr = 179,033 gr
Berat tanah total: 418,3188 gr
2. Tetahan ayakan 1 :237,6749 gr - 68,575 gr = 169,099 gr
Tetahan ayakan 2 :139,4429 gr - 68,575 gr = 70,8679 gr
Tetahan ayakan 3 :138,8410 gr- 68,575 gr = 115,266 gr
Tanah lolos = 225,9124 – 68,575 gr = 157,3344 gr
3. Berat lolosan ayakan 1 = 343,4713 gr
Berat lolosan ayakan 2 = 272,6034 gr
Berat lolosan ayakan 3 = 157,3374 gr
berat tetahan
Persentase tetahan = × 100 %
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
169,0999
Ayakan 1 : × 100 % = 40,42 %
418,3188
70,8679
Ayakan 2 : × 100 % = 16,94 %
418,3188
115,266
Ayakan 3 : × 100 % = 27,55 %
418,3188
157,3374
Berat lolos: × 100 % = 37,61 %
418,3188

4. Berat total kehilangan


𝑤−𝑤1 418,3188 gr−512,5652 gr
𝑤
× 100 % = 418,3188 gr
× 100 % = -22 %

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 10


4.3 Pembahasan
Analisa besar butir ini pada umumnya berdasarkan kepada teori-teori
kecepatan endapan partikel (settling velocity of particle). Pada percobaan
persentase yang didapatkan bernilai negatif, apabila dilihat dari hasilnya hal ini
tidak mungkin karena tidak mungkin berat lolos lebih besar dari berat tanah total,
namun hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut :

1. Kesalahan praktikan dalam melakukan penimbangan


Kesalahan ini dapat terjadi apabila praktikan tidak teliti dalam melakukan
penimbangan dan kesalahan praktikan dalam melihat angka hasil
penimbangan.
2. Kesalahan dari neraca
Neraca adalah alat elektronik, maka tidak menutup kemungkinan apabila
hasil penimbangan pada neraca salah

3. Kesalahan praktikan yang belum mengkalibrasikan neraca, pengkalibrasian


pada neraca sangatlah penting.
4. Kemungkinan tanah dari kelompok lain tercampur dengan tanah yang
sedang ditimbang praktikan.
Keuntungan dari metode pengayakan antara lain:
1. Lebih mudah dan praktis.
2. Dapat diketahui ukuran partikel dari kecil sampai besar.
3. Dalam waktu yang relatif singkat dapat mendapat hasil yang di inginkan.
4. Lebih mudah diamati.

Kerugian dari metode pengayakan antara lain:


1. Tidak dapat mengetahui bentuk partikel secara pasti.
2. Ukuran partikel tidak pasti karena ditentukan secara kelompok. Tidak
dapat menetukan diameter partikel karena ukuran partikel diperoleh
berdasarkan nomor ayakan.

Dasar dari metode ayakan adalah bahwa butiran dibagi atas selang-selang
kelas yang dibatasi oleh besarnya lubang ayakan. Penyebaran kumulatif dari besar
butir dalam hal ini adalah yang lebih kasar yang tersangkut.

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 11


Kemantapan agregat sangat penting bagi dunia pertambangan. Agregat yang
stabil akan menciptakan kondisi yang baik bagidalam melakukan kegiatan
pertambangan. Agregat dapat menciptakan lingkungan fisik yang baik untuk
kestabilan lereng tambang melalui pengaruhnya terhadap porositas. Tanah yang
agregatnya, kurang stabil bila terkena gangguan maka agregat tanah tersebut akan
mudah hancur. Butir-butir halus hasil hancuran akan menghambat pori-pori tanah
sehingga bobot isi tanah meningkat, aerasi buruk dan permeabilitas menjadi
lambat. Kemantapan agregat juga sangat menentukan tingkat kepekaan tanah
terhadap erosi.
Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat
fisik tanah yang lain. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya
struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah, perbaikan
permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Perbaikan dari
struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap kegiatan pertambangan.

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 12


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan hasil pengamatan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Gradasi tanah terdiri atas butir kasar , butir halus dan butir kasar, tanah yang
berbutir kasar, sedang dan halus akan lolos pada diameter saringan yang
besar, sebaliknya pada diameter kecil tanah yang dapat lolos adalah tanah
yang halus, hubungan antara diameter lubang saringan adalah berbanding
lurus dengan besaar butir dan jmlah butir yang dapat diloloskan.
2. Tanah terdiri atas tanah kohesif dan tanah non kohesif, tanah kohesif dalah
tanah yang mempunyai daya lekat yang kuat,sedangkan tanah non kohesif
adalah tanah yang hampir tidak punya daya lekat
3. Tanah yang bergradasi sangat baik bila Cu>15 dan Cc antara 1-3(untuk
kerikir dan pasir).
5.2 Saran
Disarankan praktikan untuk praktikum selanjutnya lebih teliti dalam
melakukan praktikum dan teliti dalam perhitungan, agar hasil yang didapatkan
benar dan sesuai dengan hasil yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 13


Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah . Universitas Lampung: Lampung
G Subowo, 2011. ‘’Penambangan sistem terbuka ramah lingkungan dan upaya
reklamasi pasca Tambang untuk memperbaiki kualitas sumberdaya lahan
dan hayati tanah’’. Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 5 No. 2; 84-86.
Hanafiah, Ali Kemas. 2010. Dasar–Dasar Ilmu Tanah . Raja Grafindo Persada:
Jakarta.
Hardjowigeno, H. S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis . Akademika
Pressindo: Jakarta.

LAMPIRAN

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 14


Gambar1.Berat tanah+ayakan 3 Gambar 2. Berat tanah+ayakan 1

Gambar 3. Berat cawan Gambar 4. Berat tanah+ayakan 2

Gambar 5.Proses pengayakan Gambar 6. Proses pengayakan

Gambar 7. Tanah tetahan tiap-tiap ayakan

Praktikum Mekanika Tanah|Analisis Ayakan Page 15