Anda di halaman 1dari 13

CLINICAL SCIENCE SESSION

Dampak Penyalahgunaan PCC (Paracetamol, Caffeine, Carisprodol)


terhadap Gangguan Jiwa

Pembimbing: dr. Tumpak Saragi, Sp. KJ

Disusun Oleh:
Ferdy Anggara (G1A217089)
Efandiya Putra (G1A217072)
Enita Harianti (G1A217101)

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN KEDOKTERAN JIWA


RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI JAMBI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Menurut Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, obat adalah


bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam
rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia.1 Namun, dibalik semua manfaat
tersebut, terdapat efek lain yang ditimbulkan dari suatu obat tertentu, seperti
euphoria saat penggunaan dalam jumlah besar. Hal ini menjadikan celah yang
dapat disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam
mengkonsumsi, misalnya para pecandu obat terlarang. Mereka menyalahgunakan
obat-obatan medis tersebut karena obat tersebut dapat dijumpai dengan mudah di
lingkungannya sendiri dan harganya pun lebih murah jika dibandingkan dengan
obat terlarang itu sendiri.2
Salah satu kasus yang sedang menjadi isu besar di Indonesia adalah
penyalahgunaan obat PCC yang terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara. Berbagai
pertanyaan besar mengenai kasus ini telah banyak beredar di Indonesia. Fakta
bahwa begitu banyak jumlah pemuda yang menjadi korban dari penyalahgunaan
PCC, belum lagi dampak yang telah ditimbulkan karena penyalahgunaan PCC
yang menjadikan korbannya sebagai ‘zombie’ menjadi alasan begitu urgensi nya
suatu tindakan harus segera dilakukan terkait dengan kasus ini.3
Sesuai dengan namanya, obat PCC terdiri atas Parasetamol (Paracetamol),
Kafein (Caffeine), dan Carisoprodol (Carisoprodol). Dari ketiga kandungan
tersebut Carisoprodol lah yang menyimpan efek samping paling berbahaya ketika
disalahgunakan. BNN (Badan Narkotika Nasional) Indonesia juga telah
menyatakan bahwa Carisoprodol digolongkan sebagai obat keras sesuai dengan
keputusan Menteri Kesehatan Nomor 6171/A/SK/73/ tanggal 27 juni Tahun 1973
tentang Tambahan Obat Keras Nomor Satu dan Nomor Dua. Obat yang
mengandung Carisoprodol memiliki efek farmakologi sebagai relaksasi otot
namun relaksasi tersebut berlangsung singkat, karena didalam tubuh akan segera
di metabolisme dan menjadi meprobamate yang menimbulkan efek sedatif
(kegembiraan dan ketenangan). Meprobamate tergolong jenis psikotropika.
Carisoprodol sempat mendapat izin edar Badan POM sebagai obat Somadril tetapi
pada tahun 2014 izinnya dicabut karena obat ini banyak disalahgunakan oleh
konsumen. Karena meningkatnya penyalahgunaan Somadril maka Badan POM
mengeluarkan SK Kepala Badan POM HK/04.1.35.07.13.3856 tahun 2013
tanggal 24 Juli sebagai perubahan atas keputusan HK/04.1.35.06.13.3535 tahun
2013 tentang pembatalan izin edar obat yang mengandung Carisoprodol termasuk
Somadril.4
Apabila obat PCC ini dikonsumsi secara bersamaan maka efek dari
masing-masing obat akan bekerjasama dan merusak susunan saraf otak.
Perwujudan kerusakan saraf pusat otak bisa beragam, namun obat PCC secara
spesifik menimbulkan efek halusinasi yang tampak pada beberapa korban.
Perubahan mood yang signifikan juga sering terjadi, begitu juga dengan gangguan
perilaku dan emosi juga dapat terjadi pada pengguna obat PCC. Gangguan ini
sering disebut dengan istilah “bad trip” yaitu gejala cemas, ketakutan, dan panik
yang terjadi pada pengguna obat. Selain itu, penyalahgunaan obat ini dapat
menyebabkan overdosis hingga kematian.4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PCC (Paracetamol, Caffeine, Carisoprodol)


2.1.1 Deskripsi Obat
Pil PCC merupakan singkatan dari Paracetamol, Caffeine dan
Carisoprodol. Perlu diketahui jauh sebelum pil PCC ini menjadi salah satu obat
yang dilarang, Sesuai namanya obat PCC terdiri atas Parasetamol (Paracetamol),
Kafein (Caffeine), dan Carisoprodol (Carisoprodol). Dari ketiga kandungan
tersebut Carisoprodol lah yang menyimpan efek samping paling berbahaya ketika
disalahgunakan.5
Obat PCC memiliki kandungan senyawa Carisoprodol dan berfungsi untuk
mengatasi nyeri dan ketegangan otot. Obat ini tergolong muscle relaxants
(pelemas otot). Obat ini bekerja pada jaringan saraf dan otak yang mampu
merilekskan otot. Obat ini biasanya digunakan saat istirahat, saat melakukan
terapi fisik, dan pengobatan lain. 5
Tablet PCC memiliki kandungan Paracetamol, Caffeine, dan Carisoprodol.
PCC merupakan obat ilegal yang tidak memiliki izin edar dan dijual perorangan
tanpa adanya kemasan. Setiap orang yang mengonsumsi obat PCC secara
sembarangan akan hilang kesadaran usai mengonsumsi obat terlarang ini. Akibat
mengonsumsi obat terlarang itu, para korban mengalami kelainan mental. Gejala
yang dialami sama, seperti orang tidak waras, mengamuk, berontak, dan ngomong
tidak karuan setelah mengonsumsi obat yang mengandung zat berbahaya itu. Pada
tahun 1976 baru muncul laporan adanya kasus overdosis karena obat PCC.
Peneliti pada saat itu melihat kemungkinan overdosis hormon serotonin di otak
akibat Carisoprodol. Sejak saat itu berbagai lembaga pengawas obat dan makanan
di seluruh dunia membatasi pemasaran obat PCC. Di Indonesia sendiri Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mencabut izin edar semua obat yang
mengandung Carisoprodol sejak tahun 2013. 5
2.1.2 Farmakologi
a. Parasetamol
Parasetamol adalah obat analgesik non narkotik yang memiliki cara kerja
menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Saraf Pusat (SSP).
Parasetamol atau asetaminofen adalah obat yang mempunyai efek mengurangi
nyeri (analgesik) dan menurunkan demam (antipiretik). Parasetamol mengurangi
nyeri dengan cara menghambat impuls/rangsang nyeri di perifer. Parasetamol
menurunkan demam dengan cara menghambat pusat pengatur panas tubuh di
hipotalamus. Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara baik dalam
bentuk sediaan tunggal sebagai analgesik-antipiretik maupun kombinasi dengan
obat lain melalui resep dokter atau yang dijual bebas. Parasetamol dapat
ditoleransi dengan baik sehingga banyak efek samping aspirin yang tidak dimiliki
oleh obat ini sehingga obat ini dapat diperoleh tanpa resep.6
Parasetamol merupakan sebuah golongan obat analgesik non-opioid yang
telah digunakan sejak tahun 1950an, serta juga digunakan sebagai obat antipiretik
dan telah menjadi terapi lini pertama untuk terapi demam dan nyeri. Parasetamol,
atau sering juga dikenal dengan nama asetaminofen, juga telah banyak digunakan
sebagai salah satu komponen produk untuk nyeri kepala, demam, dan flu, dan
juga sudah dijual secara bebas di banyak negara, termasuk Indonesia. Pada saat
ini, telah tersedia bentuk sediaan baru dari parasetamol selain bentuk oral atau
rektal yang telah banyak digunakan, yaitu parasetamol infus. Parasetamol infus
digunakan khususnya sebagai analgesik untuk nyeri derajat ringan hingga sedang,
dan juga sebagai kombinasi dan alternatif terapi dalam teknik multimodal
analgesia bersamaan dengan golongan opioid, seperti morfin. 6
Obat ini dipakai untuk meredakan rasa sakit ringan hingga menengah,
serta menurunkan demam. Untuk orang dewasa, dianjurkan untuk mengonsumsi
Parasetamol 1-2 tablet sebanyak 500 miligram hingga 1 gram tiap 4-6 jam sekali
dalam 24 jam. 6
b. Kafein

Kafein merupakan turunan metilxantin yang terdapat dalam teh, kopi, dan
coklat. Alkaloid xantin kemungkinan besar merupakan kelompok alkaloid yang
paling dikenal, sebagai unsur pokok minuman harian yang populer, seperti teh
(Camellia sinensis) dan kopi (Coffea arabica). Kafein merupakan stimulan ringan,
dan ditambahkan pada banyak sediaan analgesik untuk meningkatkan aktivitas,
meskipun tidak ada dasar ilmiah untuk praktik ini. Dosis tinggi dapat
menyebabkan insomnia dan perasaan cemas, serta dapat menginduksi sindrom
henti obat pada kasus yang parah.7
Kafein adalah salah satu jenis alkaloid yang banyak terdapat dalam biji
kopi, daun teh, dan biji cokla. Kafein memiliki efek farmakologis yang
bermanfaat secara klinis, seperti menstimulasi susunan syaraf pusat, relaksasi otot
polos terutama otot polos bronkus dan stimulasi otot jantung. Berdasarkan efek
farmakologis tersebut, kafein ditambahkan dalam jumlah tertentu ke minuman.
Efek berlebihan (over dosis) mengkonsumsi kafein dapat menyebabkan gugup,
gelisah, tremor, insomnia, hipertensi, mual dan kejang. Berdasarkan FDA (Food
Drug Administration) yang diacu dalam Liska (2004), dosis kafein yang diizinkan
100- 200mg/hari, sedangkan menurut SNI 01- 7152-2006 batas maksimum Kafein
dalam makanan dan minuman adalah 150 mg/hari dan 50 mg/sajian. Kafein
sebagai stimulan tingkat sedang (mild stimulant) memang seringkali diduga
sebagai penyebab kecanduan. Kafein hanya dapat menimbulkan kecanduan jika
dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan rutin. Namun kecanduan kafein
berbeda dengan kecanduan obat psikotropika, karena gejalanya akan hilang hanya
dalam satu dua hari setelah konsumsi. 8
c. Carisoprodol

Carisoprodol adalah obat yang mengandung zat aktif Carisoprodol


memiliki efek farmakologis sebagai relaksan otot namun hanya berlangsung
singkat, dan di dalam tubuh akan segera dimetabolisme menjadi zat aktif lain,
yaitu meprobamat, yang menimbulkan efek menenangkan (sedatif). Efek tersebut
menyebabkan obat-obat dengan kandungan zat aktif Carisoprodol disalahgunakan.
Belum ada definisi yang sempurna yang membahas mengenai carisporodol,
mayoritas hanya menyebutkan fungsi, kegunaan dan efek sampingnya saja. 5
Carisoprodol biasanya digunakan bersamaan dengan istirahat dan terapi
fisik untuk mengobati kondisi otot rangka seperti nyeri atau luka. Obat yang
mengandung zat aktif Carisoprodol memiliki efek farmakologis sebagai relaksan
otot tapi hanya berlangsung singkat dan di dalam tubuh akan segera
dimetabolisme menjadi metabolit berupa senyawa Meprobamat yang
menimbulkan efek menenangkan. 5
Dikutip dari jurnal Annals of the New York Academy of Sciences,
Carisoprodol sendiri awalnya dikembangkan oleh Dr Frank M. Berger di
laboratorium Wallace pada tahun 1959 untuk menggantikan obat meprobamate.
Harapannya Carisoprodol dapat memiliki efek menenangkan yang lebih baik dan
lebih sulit untuk disalahgunakan daripada pendahulunya.Carisoprodol tidak hanya
memiliki efek kepada sistem saraf pusat, tapi juga menunjukkan properti
analgesik yang tidak biasa. 5
2.1.3 Indikasi dan Kontraindikasi
INDIKASI 9
1. Merilekskan otot
Carisoprodol yang merupakan sebuah pelemas otot dan itu artinya, fungsi
utama dari pil tersebut salah satunya adalah sebagai solusi bagi penderita
ketegangan otot. Bagi seseorang yang tengah mengalami otot tegang dan
sakit, maka akan dapat lebih rileks dan lemas dengan mengonsumsi pil ini.
2. Menghilangkan rasa nyeri
PCC pada dasarnya juga disebutkan bahwa kegunaan utamanya adalah
sebagai pereda atau penghilang rasa sakit. Jadi intinya, PCC bukanlah pil
yang bisa dikonsumsi secara sembarangan karena perlu ada resep dan izin
dari dokter. Obat ini juga telah diterangkan oleh Deputi Pemberantasan
BNN Inspektur Jend. Arman Depari bahwa pil ini ampuh ketika digunakan
menghilangkan rasa sakit.
3. Obat sakit jantung
Pil ini juga bukan obat sembarangan karena pada dasarnya juga berfungsi
sebagai obat penyakit jantung. Ada jenis-jenis penyakit jantung tertentu
yang dapat diatasi dengan pil ini, namun tentunya dalam pemakaian harus
ada izin serta resep dari dokter supaya tidak berefek berbahaya bagi tubuh.
4. Obat nyeri punggung
Carisoprodol pun diketahui sebagai obat yang biasanya digunakan sebagai
solusi bagi nyeri punggung. Dalam sejumlah penelitian telah dibuktikan
bahwa Carisoprodol adalah hal yang lebih unggul ketimbang plasebo
dalam membuat pergerakan tubuh, terutama bagian punggung menjadi
jauh lebih meningkat dan baik. Bahkan ditemukan juga hasil studi
komparatif lain yang menyatakan bahwa efek dari Carisoprodol sendiri
juga lebih tinggi ketika dibandingkan dengan diazepam. Hal tersebut
dikarenakan gejala nyeri punggung bawah yang termasuk sudah dalam
tahap akut mampu diobati dengan baik dan rasa nyerinya pun dapat hilang
secara efektif.
5. Memperbaiki pola tidur
Pil ini juga memiliki manfaat sebagai penolong bagi yang mengalami
gangguan tidur atau susah tidur. Kemungkinan penderita penyakit tertentu
yang merasakan nyeri di tubuhnya akan mengalami insomnia dan akan
sulit tertidur lelap. Oleh karena itu, memperbaiki pola tidur dengan
meminimalisir rasa sakit, terutama pada penderita fibromyalgia bisa
dengan konsumsi PCC.
6. Meredakan sakit kepala
Migrain dan sakit kepala merupakan jenis penyakit yang biasanya
diredakan dengan mengonsumsi Caffeine. Bahkan Caffeine kerap
dijadikan pembangkit dan perileks mental. Namun manfaat seperti ini
hanya bisa diperoleh ketika menggunakan sesuai dosis saja.

KONTRAINDIKASI 5
1. Penderita hipersensitifitas/ alergi
2. Penderita gangguan fungsi hati berat
3. Pecandu alkohol

2.1.4 Sediaan dan Posologi


PCC (Paracetamol, caffeine, carisoprodol) tersedia dalam bentuk tablet.9
2.1.5 Efek Samping
Sesuai namanya obat PCC mengandung bahan aktif Paracetamol,
Caffeine, dan Carisoprodol. Dimana kandungan aktif tersebut mempunyai
mekanisme kerja obat yang berbeda tetapi memiliki efek kerja yang saling
mendukung dari kerja obat itu sendiri sehingga bersifat sinergis. Oleh karena itu
efek terapi dari masing – masing bahan aktif tersebut akan menjadi lebih kuat.
Namun tidak hanya efek terapi yang meningkat, efek samping dari masing –
masing bahan aktif tersebut juga akan meningkat jika pemakaiaannya
disalahgunakan. Adapun efek samping yang dapat timbul dari bahan aktif tersebut
antara lain : 9
1. Parasetamol
 Reaksi alergi.
 Kulit melepuh yang terjadi di seluruh tubuh (hal ini biasanya juga
disebut dengan Sindrom Steven Johnson)
 Kerusakan organ hati ketika menggunakan jangka panjang.
 Memperburuk kondisi pasien yang sudah memiliki penyakit gagal
ginjal, penyakit hati maupun riwayat penyalahgunaan alkohol

2. Kafein

 Insomnia
 Tremor
 Cepat marah
 Gangguan jantung
 Cemas berlebih
 Kejang-kejang
 Gangguan pada lambung
 Gangguan usus
 Kelainan pada kadar gula darah.
 Peningkatan kadar glukosa
 Penurunan kadar glukosa yang terlalu rendah.
 Penyakit gagal ginjal
 Penyakit hati

3. Carisoprodol

 Sakit kepala
 Jantung berdebar lebih kencang.
 Tekanan menurun sehingga nantinya terlalu rendah.
 Gampang mengantuk.
 Mual
 Muntah
 Kram di bagian perut
 Insomnia
 Kejang
 Halusinasi
Dari ketiga bahan aktif tersebut carisoprodol lah yang menyimpan efek
samping paling berbahaya ketika disalahgunakan. Bahan aktif paracetamol baik
sebagai penggunaan tunggal ataupung kombinasi dengan kafein saat ini masih
diperbolehkan sebagai penggunaan terapi. Sementara lain hal dengan carisoprodol
yang merupakan bahan baku obat yang memberikan efek relaksasi otot dan
member efek samping sedatif serta euphoria, bahan aktif ini yang dilarang keras.
Dalam penggunaan dosis yang lebih tinggi, carisoprodol dapat mengakibatkan
kejang dan halusinasi, efek terburuknya adalah kematian. Efek carisoprodol
lainnya adalah seperti membuat orang “fly”. 9

2.2 Dampak Penggunaan Obat Terhadap Gangguan Jiwa


PCC merupakan singkatan dari Parasetamol, Kafein, dan Carisoprodol.
Dimana kandungan aktif dari ketiga bahan tersebut mempunyai mekanisme kerja
obat yang berbeda tetapi memiliki efek kerja yang saling mendukung dari kerja
obat itu sendiri sehingga bersifat sinergis. Obat PCC ini biasa digunakan untuk
menghilangkan rasa sakit. Mekanisme kerja parasetamol yaitu sebagai inhibitor
prostaglandin yang lemah. Jadi mekanisme kerjanya dengan menghalangi
produksi prostaglandin, yang merupakan bahan kimia yang terlibat dalam
transmisi pesan rasa sakit ke otak. Dengan mengurangi produksi prostaglandin,
parasetamol membantu meredakan rasa sakit, seperti sakit kepala, sakit/nyeri pada
anggota tubuh lainnya dan demam. 5
Mekanisme kerja kafein adalah dengan masuk ke otak melewati membran
penghalang antara darah dan otak. Di otak, terdapat reseptor adenosin. Molekul
kafein yang secara struktur mirip dengan adenosin akan mengikat reseptor
adenosin tersebut dan menghalangi sel otak untuk mengikat adenosin. Oleh
karena itu, kafein bertindak sebagai inhibitor kompetitif. Adenosin ditemukan di
setiap bagian tubuh karena berperan dalam metabolisme energi-ATP dan
diperlukan untuk sintesis RNA. Adenosin pada otak befungsi melindungi otak
dengan menekan aktivitas saraf dan meningkatkan aliran darah pada otot.
Konsentrasi adenosin pada otak dijaga agar tetap dalam jumlah yang seimbang,
karena tubuh kita akan mengirimkan sinyal “mengantuk” jika kadar adenosin
meningkat. 9
Mekanisme kerja carisoprodol secara pasti belum diketahui. Namun target
reseptor neurotransmitter di dalam otak adalah GABA (Gamma Amino Butyric
Acid). Diduga, senyawa ini bekerja pada reseptor gamma-amino butyric acid
subunit alpha 1, beta 2 dan gamma 2. Bahan aktif carisoprodol pada obat ini
sebagai relaksan otot hanya memberikan aktivitas yang belangsung singkat,
dimana obat memilki onset 30 menit setelah dikonsumsi. Selanjutnya obat ini
didalam hati akan dimetabolisme oleh enzyme cytochrome CYP2C19 menjadi
senyawa hydroxycarisoprodol, hydroxymeprobamate, dan meprobamat yang
menimbulkan efek ansiolitik dan sedatif. Adanya efek tersebut yang akhirnya
menjadikan PCC sering disalahgunakan. 9
Dari ketiga bahan aktif tersebut, kerja dari carisoprodol lah yang sangat
perlu diawasi, mengingat efek terapi yang diberikan tidak sebanding dengan efek
samping dapat ditimbulkan. Hal yang penting untuk diketahui adalah, efek
samping dan toksisitas dari obat karisoprodol akan meningkat jika
dikombinasikan dengan obat-obat tertentu. Salah satu efek samping dari
pemakaian carisoprodol adalah serotonin sindrom, dimana di dalam otak terjadi
kelebihan serotonin atau atau hormon yang bisa memberikan rasa senang dan
nyaman. Gejala – gejala kelebihan serotonin biasanya ditandai dengan munculnya
gejala delirium atau kebingungan mental, perilaku agitasi, hipomania, dan
insomnia. Hal inilah yang membuat penyalahgunaan dalam pemakaiaan PCC
dapat membuat pengguna seperti mengalami gangguan jiwa. Penanganan yang
dapat diberikan pada orang yang telah mengalami ketergantungan pada PCC
adalah dengan menurunkan pemakaiannya secara bertahap dan memberikan obat
sesuai dengan gejala yang timbul. 9
BAB III
SIMPULAN

3.1 Simpulan
Tablet PCC memiliki kandungan paracetamol, kafein, dan
carisoprodol. PCC merupakan obat ilegal yang tidak memiliki izin edar
dan dijual perorangan tanpa adanya kemasan. Setiap orang yang
mengonsumsi obat PCC secara sembarangan akan hilang kesadaran usai
mengonsumsi obat terlarang ini. Dari ketiga bahan aktif tersebut, kerja
dari carisoprodol lah yang sangat perlu diawasi, mengingat efek terapi
yang diberikan tidak sebanding dengan efek samping dapat ditimbulkan.
Salah satu efek samping dari pemakaian carisoprodol adalah
serotonin sindrom, dimana di dalam otak terjadi kelebihan serotonin atau
atau hormon yang bisa memberikan rasa senang dan nyaman. Gejala –
gejala kelebihan serotonin biasanya ditandai dengan munculnya gejala
delirium atau kebingungan mental, perilaku agitasi, hipomania, dan
insomnia. Penanganan yang dapat diberikan pada orang yang telah
mengalami ketergantungan pada PCC adalah dengan menurunkan
pemakaiannya secara bertahap dan memberikan obat sesuai dengan gejala
yang timbul.
DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI Tahun 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36


Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Diunduh dari:
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/UU%20Nomor%20
36%20Tahun2%20009%20tentang%20Kesehatan.pdf pada tanggal 15
Februari 2018.
2. Ni Luh WP, dkk. Kajian terhadap Kasus Pengedaran Pill PCC di Kendari
[makalah kesehatan]. Denpasar: Akademi Farmasi Saraswati Denpasar;
2017.
3. HMPD FK UB. Kasus Penyalahgunaan Obat PCC. Diunduh dari:
http://hmpd.fk.ub.ac.id/kasus-penyalahgunaan-obat-pcc/ pada tanggal 15
Februari 2018.
4. Munikasari, Nova. Penggunaan Obat PCC [makalah kesehatan]. Bandung:
Sekolah Tinggi Farmasi Bandung; 2017.
5. Deskripsi Mengenai Pil PCC (Paracetamol, Caffeine, dan Carisoprodol)
dalam http://digilib.uinsby.ac.id/21304/6/Bab%203.pdf, diakses pada 14
Februari 2018
6. Tim CDK, “Peranan Paracetamol Infus Dalam Tata laksana Nyeri
Pascaoperasi”, CDK-210, 11 (2013), 872.
7. Ahmad Sayadi, “fungsi, Efek Samping Dan Dosis Kafein Yang Aman”,
dalam https://www.amazine.co/39808/fungsi-efek-samping-dosis-kafein-
yang-aman/, diakses pada 14 Februari 2018.
8. Rialita Kesia Maramis dkk, “Analisis Kafein Dalam Kopi Bubuk Di Kota
Manado Menggunakan Spektrofotometri UV-VIS”, Pharmacon Jurnal
Ilmiah Farmasi-Usrat Vol, 4(November, 2013), 123.
9. Bab 3. Data ini diunduh dari
http://digilib.uinsby.ac.id/21304/6/Bab%203.pdf