Anda di halaman 1dari 3

ESSAY

ALASAN TIDAK DIBERIKANNYA FASILITAS PPN ATAS


IMPOR, PENYERAHAN ALAT ANGKUTAN DAN JKP TERKAIT
UNTUK JASA ANGKUTAN DARAT DI JALAN

Ditulis Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah PPnBM dan PTLL

Dosen Pengampu : Benny Gunawan Ardiansyah

DISIAPKAN OLEH :

Ibnu Yudhi Wibowo


NPM : 2301170397

PROGRAM DIPLOMA III PAJAK (ALIH PROGRAM)


POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
KAMPUS PURNAWARMAN
TAHUN 2017
Pendahuluan
Moda transportasi darat adalah moda transportasi yang paling populer di kalangan
masyarakat dan menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Angkutan darat terbagi menjadi
angkutan umum dan angkutan pribadi, berdasarkan UU PPN Pasal 4A hanya jasa angkutan
umum yang tidak dikenakan PPN.
Jasa Angkutan umum darat terdiri dari jasa angkutan umum di jalan dan kereta api.
PMK Nomor 80/PMK.03/2012 menjelaskan angkutan umum di jalan adalah kegiatan
pemindahan orang dan/atau barang yang menggunakan kendaraan bermotor dengan plat kuning
baik yang digunakan untuk umum maupun untuk sewa, oleh karena itu angkutan umum yang
berplat hitam sudah tentu dikenakan PPN.
Kita ketahui bersama bahwa UU PPN kita menganut listing approach dan hanya jasa
angkutan umum yang bukan objek pajak , maka alat angkutan darat berupa bus, mobil, suku
cadangnya dan bahan bakar yang digunakan serta jasa pemeliharaanya dikenai PPN. Namun
dalam penjelasan Pasal 16B huruf j UU PPN, pemerintah dapat memberikan fasilitas
perpajakan dengan tujuan untuk mendorong pengembangan armada nasional di bidang
angkutan darat, air dan udara. Seperti yang telah dilakukan pemerintah untuk sektor angkutan
air dan udara berupa PPN tidak dipungut untuk impor dan/atau penyerahan kapal, pesawat,
suku cadang serta jasa pemeliharaanya. Bagaimana dengan angkutan darat?.

Pembahasan
Dalam penjelasan Pasal 16B, kemudahan itu diberikan pemerintah jika fasilitas
perpajakan tersebut benar-benar diperlukan terutama untuk berhasilnya sektor kegiatan
ekonomi yang berprioritas tinggi. Berdasarkan program nawacita yang diusung oleh presiden
jokowi yaitu membangun konektivitas antar pulau di indonesia terutama dibidang kemaritiman,
sehingga prioritas nasional sekarang adalah di bidang angkutan laut dan angkutan udara,
terbukti dengan keluarnya PP 69/2015 tentang alat angkutan tertentu yang tidak dipungut PPN
dan banyak dibangunnya dermaga dan bandar udara di berbagai daerah.
Dilihat dari struktur APBN kementerian perhubungan untuk Ditjen Perhubungan Darat
mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp. 4,522 Triliun, hal ini paling kecil dibandingkan
dengan alokasi anggaran untuk laut yaitu sebesar 11 Triliun . Meskipun begitu Pemerintah
dalam APBN 2017 telah mencanangkan pembangunan ruas jalan baru sepanjang 815 KM serta
pembangunan jalan tol. Kebijakan dalam bentuk regulasi seperti pembebasan bea masuk dan
PPnBM, pemberian subsidi BBM, dan membuka kesempatan swasta untuk mengelola terminal.
Dijelaskan pula dalam penjelasan PP 69/2015, latar belakang diberikannya fasilitas
perpajakan tidak dipungut untuk alat angkutan tertentu hanya bersifat sementara apabila dunia
usaha sektor tertentu tersebut sudah mandiri maka kemudahan di bidang perpajakan tersebut
tidak perlu diberikan lagi. Angkutan darat dianggap pemerintah telah mandiri dibandingkan
dengan angkutan air dan udara yang masih banyak mengimpor alat angkutan dan suku
cadangnya dikarenakan sedikitnya pelaku industri galangan kapal dan pesawat dalam negeri.
Penyelenggara jasa angkutan umum darat dianggap mandiri dikarenakan sudah banyak pelaku
industri otomotif dalam negeri, meskipun hanya manufaktur (perakitan) saja.
Pembelian armada sebagai barang modal pada saat belum berproduksi boleh
dikreditkan pajak masukannya, tetapi pembelian armada selain barang modal dan jasa
pemeliharaan maka pajak masukannya tidak bisa dikreditkan karena pengeluaran yang
dimaksud tidak ada kaitannya dengan penyerahan yang terutang PPN (Penjelasan Pasal 8 huruf
b UU PPN). Pemerintah dengan PP 94/2010 memberikan solusi atas hal tersebut yaitu pajak
masukannya dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam SPT Tahunan PPh.
Alasan terakhir kenapa jasa angkutan darat tidak diberikan fasilitas, karena agar tidak
mematikan industri otomotif dalam negeri, Indonesia dengan pangsa pasar otomotif terbesar di
Asean bertekad menjadi pusat produksi global untuk manufaktur otomotif dan komponennya.
Tidak hanya perakitan tetapi juga untuk kegiatan produksi yang memiliki nilai tambah yang
tinggi seperti research and development (RnD). Pemerintah Indonesia rencananya akan
memberikan failitas tax allowance yaitu pengurangan pajak penghasilan sampai 300% kepada
perusahaan otomotif multinasional agar mau melakukan investasi. Selain itu pemerintah juga
perlu menurunkan biaya produksi dan memberikan kemudahan pengurusan izin usaha..
Tidak diberikannya fasilitas PPN atas jasa angkutan darat diharapkan industri otomotif
dalam negeri bisa berkembang, bisa memungut PPN dan mengkreditkan PM atas produksinya.
Dengan industri otomotif dalam negeri yang handal maka harga alat angkutan darat menjadi
lebih kompetitif sehingga sektor jasa angkutan daratpun juga ikut berkembang
Kesimpulan
Jasa angkutan umum darat termasuk JKP yang tidak dikenakan PPN tetapi BKP berupa
alat angkutan darat berupa bus, mobil, suku cadangnya dan bahan bakar yang digunakan serta
jasa pemeliharaanya dikenakan PPN, walaupun pemerintah memiliki Pasal 16B tentang
fasilitas tetapi hal ini tidak diberikan kepada sektor angkutan darat, hal ini dikarenakan
beberapa alasan, antara lain, jasa angkutan umum darat belum menjadi prioritas nasional, jasa
angkutan darat dianggap sudah mandiri dan agar industri otomotif dalam negeri dapat
berkembang dan dapat mengkreditkan pajak masukkannya.
Pemerintah juga perlu memberikan insentif perpajakan untuk pelaku industri otomotif
agar dapat berkembang dan berinvestasi di indonesia, dengan industri otomotif yang handal
maka pelaku jasa angkutan darat juga berkembang karena harga alat angkutan darat menjadi
lebih kompetitif dan suku cadang serta sevice dari industri pembuatnya tersedia di dalam negeri.