Anda di halaman 1dari 16

Tanggal Praktikum Tanggal Pengumpulan Laporan

21 Februari 2018 28 Februari 2018

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENYEMPURNAAN 1

Pengaruh Variasi Waktu Pada Proses Penyempurnaan Kreping Kain Kapas

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Teknologi Penyempurnaan 1

KELOMPOK : 2 (DUA)
ANGGOTA : 1. RESKI ALYA PRADIFTA (16020106)
2. MOCHAMMAD RIZKY (16020118)
3. ALWINDI RABIATUL F (16020119)
4. ILMA AMALIA (16020125)
5. MUHAMAD RIDHO B (16020126)
6. WULAN ANDAYANI (16020127)
GROUP : 2K4
DOSEN : WULAN S.,S.ST,M.T.
ASISTEN : 1. DESTI M., S.ST.
2. DESIRIANA

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2018
BAB I

PENDAHULUAN

MAKSUD DAN TUJUAN


1. MAKSUD

Untuk mempelajari bagaimana mekanisme proses kreping (efek mengkeret) pada


kain kapas dengan menggunakan variasi waktu

2. TUJUAN
- Memberikan efek mengkeret (kreping) pada kain kapas dengan menggunakan
NaOH.
- Untuk mengidentifikasi bagaimana efek mengkeret kain kapas dengan menggunakan
NaOH
- Untuk mengetahui hasil mengkeret pada kain yang diberi motif
- Mengetahui faktor-faktor yang berpengruh dalam proses kreping
- Menganalisa dan mengevaluasi hasil proses kreping
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

DASAR TEORI
1) SERAT KAPAS
Serat kapas merupakan salah satu contoh serat alam dari kelompok
selulosa. Serat ini dihasilkan dari rambut biji tanaman yang termasuk dalam jenis
Gossypium. Spesies yang kemudian berhasil dikembangkan menjadi tanaman
industri adalah Gossypium Hirsutum. Kapas jenis ini dikenal sebagai kapas upland
atau kapas Amerika, dan ini saat merupakan 87% dari produksi kapas dunia.
Berdasarkan strukturnya, selulosa memiliki bentuk yang bercabang-
cabang, monomer-monomernya yang tersusun secara linear, serta diantara polimer-
polimernya terdapat ikatan hidrogen yang menghubungkan antar polimer yang satu
dengan yang lain.
Perhatikan struktur selulosa berikut.

Gugus –OH primer pada selulosa merupakan gugus fungsi yang berperan
untuk mengadakan ikatan dengan zat warna direk berupa ikatan hidrogen. Serat
selulosa umumnya lebih tahan alkali tapi kurang tahan suasana asam, sehingga
pengerjaan proses persiapan penyempurnaan dan pencelupannya lazim dilakukan
dalam suasana netral atau alkali.
 Membujur
Berdasarkan uji mikroskop, penampang membujur serat kapas akan
tampak seperti pita pipih yang terpuntir ke arah panjang. Tidak hanya itu,
terdapat pula garis putus-putus tak beraturan di tengahnya serta ukuran serat
tidak sama (beragam). Serat dibagi menjadi tiga bagian, yakni:

1) Dasar
Dasar serat kapas berbentuk kerucut pendek yang selama pertumbuhan
serat tetap tertanam di antara sel-sel epidermis. Pada umunya, dalam
proses pemisahan serat dari bijinya (ginning), dasar serat ini putus sehingga
jarang sekali ditemukan pada serat kapas yang diperdagangkan.
2) Badan
Badan serat kapas merupakan bagian utama dari serat, kira-
kira sampai panjang serat. Bagian ini mempunyai diameter yang sama,
dinding yang tebal dan lumen yang sempit.
3) Ujung
Ujung serat merupakan bagian yang lurus dan mulai mengecil dan pada
umumnya kurang dari 1/4 bagian panjang serat. Bagian ini mempunyai
sedikit konvolusi dan tidak mempunyai lumen. Diameter bagian ini lebih kecil
dari diameter badan dan berakhir dengan ujung yang runcing.
 Melintang

Berdasarkan uji mikroskop, bentuk penampang melintang serat kapas


sangat bervariasi dari pipih sampai bulat. Akan tetapi, pada umumnya
berbentuk seperti ginjal. Untuk serat kapas dewasa, penampang melintangnya
terdiri dari 6 bagian, yaitu:
1) Kutikula
Kutikula merupakan lapisan terluar yang mengandung lilin, pektin, dan
protein. Lapisan ini merupakan penutup halus yang tahan air, dan
melindungi bagian dalam serat.
2) Dinding Primer
Dinding primer merupakan dinding sel tipis yang asli. Terdiri dari selulosa
dan juga mengandung pektin, protein dan zat-zat yang mengandung lilin.
Dinding ini tertutup oleh zat-zat yang menyusun kutikula. Tebal dinding
primer kurang dari 0,5 m. Selulosa dalam dinding primer berbentuk benang-
benang yang sangat halus atau fibril. Fibril tersebut tidak terusun sejajar
panjang serat tetapi membentuk spiral dengan sudut 650 – 700 mengelilingi
sumbu serat. Spiral tersebut mengelilingi serat dengan arah S maupun Z
dan ada juga yang tersusun hampir tegak lurus pada sumbu serat.
3) Dinding Sekunder
Dinding sekunder merupakan lapisan-lapisan selulosa dan merupakan
bagian utama dari serat kapas. Dinding sekunder juga merupakan lapisan
fibril-fibril yang membentuk spiral dengan sudut 200 sampai 300 mengelilingi
sumbu serat. Tidak seperti spiral fibril pada dinding primer, spiral fibril pada
dinding sekunder arah putarannya berubah-ubah pada interval yang random
sepanjang serat.
4) Lapisan Antara
Lapisan antara merupakan lapisan pertama dari dinding sekunder dan
strukturnya sedikit berbeda dengan dinding sekunder maupun dinding
primer.
5) Dinding Lumen
Dinding lumen lebih tahan terhadap pereaksi-pereaksi tertentu
dibandingkan dengan dinding sekunder.
6) Lumen
Lumen merupakan ruangan kosong di dalam serat. Bentuk dan ukurannya
bervariasi dari serat yang satu ke serat yang lain maupun sepanjang satu
serat itu sendiri. Lumen berisi zat-zat padat yang merupakan sisa-sisa
protoplasma yang sudah kering, yang komposisinya sebagian besar terdiri
dari nitrogen.

2) Proses Persiapan Penyempurnaan

Proses persiapan penyempurnaan adalah semua proses kimia maupun mekanik


yang dilakukan terhadap bahan tekstil yang terbuat dari serat alam maupun serat
sintetik, sebelum mengalami proses pencelupan, pencapan, dan penyempurnaan
dengan tujuan supaya proses proses tersebut dapat berjalan dengan lancar dan
hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Secara garis besar proses ini meliputi penghilangan kanji, pemasakan, dan
pengelantangan, serta pretreatmen (penyikatan, bakar bulu, penghilangan kanji dan
pemasakan).
Proses persiapan pada dasarnya bertujuan untuk menghilangkan kotoran-
kotoran yang terdapat pada serat, terutama selulosa. Sehingga bahan memiliki daya
serap dan derajat putih yang baik. Adapun kotoran bahan tekstil pada umumnya adalah
:
 Kotoran alamiah, kotoran ini timbul bersama dengan terjadinya pertumbuhan
serat, misalnya lemak, malam, lilin pada kapas. serisin pada sutera. keringat ,
lemak, dan lanolin pada wol
 Kotoran dari luar, adalah kotoraan yang berasal dari luar dan menempel pada
serat, benang atau kain, misalnya debu, potongan daun, ranting, noda minyak dari
mesin, dan lain-lain
 Kotoran serat yaitu berupa serat-serat yang menonjol keluar pada permukaan kain
dan dapat mengganggu/menghalangi proses-proses selanjutnya
 Kotoran yang sengaja ditambahkan untuk kelancaran proses, misalnya minyak
untuk zat anti statik pada benang, kanji pada benang lusi dan lain-lain.
Serat-serat alam seperti kapas mengandung kotoran yang lebih banyak
dibandingkan dengan serat buatan. Kotoran kotoran seperti potongan daun, ranting,
debu, lemak, malam, pelumas serta kanji dan lainnya dapat mengganggu dan
menghalangi penyerapan larutan, demikian pula adanya kotoran lain seperti warna
alam, oleh karena itu perlu dihilangkan melalui proses persiapan penyempurnaan baik
secara fisika maupun kimia.
Dengan harapan grey memiliki kerataan kain yang baik, dimensi yang stabil,
tahan kusut, lebih berkilau, dan lebar kain yang seragam serta memiliki daya
serap/daya basah yang baik, bersih dari kotoran, bebas kanji, bebas minyak pelumas,
bebas kulit biji, putih cerah dan memiliki sifat pewarnaan yang baik.

3) Penggelembungan selulosa

Seperti telah diketahui, selulosa alam terdiri dari bagian-bagian yang


kristalin dan bagian-bagian yang amorf. Bagian-bagian kristalin ini demikian
kompak sehingga tak dapat ditembus oleh molekul-molekul yang sangat kecil,
misalnya molekul air. Bila selulosa direndam dalam air, molekul air hanya dapat masuk
sampai daerah amorf dan permukaan bagian kristalin.Dengan menambahkan zat-
zat penggelembung seperti NaOH, terjadi penggelembungan serat. Bila
konsentrasi NaOH ini cukup pekat yaitu 13% pada suhu 20oC bagian kristalin mulai
menggelembung dan terjadi perubahan kisi-kisi kristal menjadi Selulosa II yang
permanen (kisi-kristal selulosa alam I = selulosa).
Dalam teori, selulosa yang menggelembung ini tidak mengalami degradasi,
hanya mempunyai daya serap dan reaktifitas yang lebih besar dari pada asalnya.
Tetapi dalam praktek mungkin terjadi pula degradasi, terutama bila berhubungan
dengan udara dan terjadi oksiselulosa.

4) Penyempurnaan kreping
Yang dimaksud dengan penyempurnaan kreping adalah membuat kain
menjadi tidak rata (berkeriput). Benang dengan puntiran tinggi memiliki
kecenderungan besar untuk terbuka dan puntirannya bila dibebaskan dari penahanya,
akan tetapi bila kedua ujung benang tersebut dipegang, sehingga pembukaan puntiran
tidak dapat berlangsung sempurna, lalu saling didekatkan maka akan terbentuk
gelungan-gelungan (loops) kecil di sepanjang benang akibat dari gaya torsional
benang yang semula bertahan dan kemudian terbebaskan saat kedua ujung benang
didekatkan. Kecenderungan pembukaan puntiran pada benang atau energi
torsionalnya sangat ditentukan oleh derajat puntirannya, sehingga semakin tinggi
puntiran suatu benang maka semakin besar pula kecenderungannya untuk terbuka
dari puntiran. Pada benang yang terbuat dari serat hidrofil kecenderungan tersebut
juga sangat dipengaruhi oleh sifat penggelembungannya pada pembasahan, semakin
besar penggelembungan seratnya semakin besar pula kecenderungan benang untuk
terbuka dari puntirannya.
Penggelembungan serat yang terjadi pada pembasahan mengakibatkan
mengkeret kain kearah lebarnya, akan tetapi karena pembukaan puntiran benang
tertahan oleh pinggiran kain, maka energi puntiran benang beralih dan terpakai untuk
membentuk gelungan-gelungan seperti yang telah dijelaskan diatas. Mengingat
bahwa benang pada kain tersusun dalam suatu anyaman tertentu maka pembentukan
gelungan tidak dapat berlangsung sempurna sehingga menimbulkan suatu efek
gelombang atau riak pada permukaan kain yang dikenal dengan istilah krep (crepe).
Dengan demikian prinsip penyempurnaan krep adalah mengkeret benang dengan
puntiran tinggi dan kecenderungan untuk terbuka dari puntirannya, serta didasarkan
pada sifat penggelembungan serat. Berdasarkan prinsip ini maka serat dengan
penggelembungan besar di dalam air sangat baik begi pembuatan benang ataupun
krep. Selulosa yang diregenerasi banyal dipilih untuk proses ini karena
penggelembungannya yang besar didalam air (dalam keadaan basah serat rayon
memiliki volume dua kali daripada volumenya dalam keadaan kering absolut).
5) Kreping pada kain kapas
Pada dasarnya terdapat 2 cara untuk membuat kain krep kapas, yaitu sebagai berikut:
 Membuat kain dengan benang-benang krep atau yang mempunyai antihan tinggi.
Pada cara ini efek krep yang terjadi tergantung dari relaksasi dari antihan benang.
 Penggunaan zat kimia yang dapat menyebabkan penggelembungan serat kapas.
Pembuatan kain krep kapas cara pertama sama seperti pada cara pembuatan kain
krep pada rayon.

Hasil proses kreping melalui penggelembungan setempat tidak menampakkan


efek riak seperti yang diperoleh dari penggunaan benang puntiran tinggi, meskipun
demikian ada kesamaan hal dalam efek mulur seperti yang biasa ditemui pada struktur
krep. Pembentukan krep dengan cara ini lebih merupakan hasil proses kimia dengan
menggunakan zat penggembung (swelling agent) seperti soda kostik, asam sulfat,
seng klorida.
Penggembungan setempat melalui teknik pencapan (pencapan langsung
maupun rintang) merupakan prinsip dari pembuatan krep dengan mengguanakan zat
kimia. Pada perendaman dalam air serat pada bagian yang mengandung soda kostik
akan menggelembung dan mengkeret, serta menyebabkan bagian kain lainnya kusut,
sehingga menimbulkan efek berkerut-kerut pada permukaan kain.

6) Faktor-faktor Yang Berpengaruh


- Pengaruh Pencapan Pasta NaOH Pada Serat Kapas
Pengaruh NaOH pada serat kapas akan mengakibatkan penggembungan serat. Bila
konsentrasi NaOH cukup kuat maka bagian kristalin akan menggembung dan terjadi
perubahan kisi-kisi yang permanen. Penggembungan ini terjadi karena pelepasan
ikatan hidrogen internal dalam serat yang efeknya sangat besar terutama pada
keadaan alkali kuat. Sehingga terjadi penyusunan kembali orientasi molekulnya yang
lebih teratur.
Selulosa yang menggelembung ini tidak mengalami degradasi tetapi daya serap dan
kereaktifannya menjadi lebih besar daripada semula. Reaksinya adalah sebagai
berikut :

Selulosa-OH + NaOH Selulosa- ONa + H2O


Dengan adanya proses penggembungan serat maka bentuk kristalin dari
selulosa dan molekul-molekulnya relatif berpindah tempat satu sama lain. Akibatnya
banyak banyak gugus OH yang lebih mudah untuk dapat diakses, maka absorpsi serat
terhadap air atau zat warna bertambah.
Pengaruh Dari Pencapan Pasta Kostik Soda Adalah :
 Bahan menjadi mengkeret pada bagian motif yang dicapkan.
 Kekuatan tarik bertambah.
 Absorbsi bahan terhadap air dan zat warna bertambah.
 Mulur sebelum putus bertambah.
BAB III
PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat :

 Baker Gelas 500ml.


 Mesin stenter.
 Pengaduk
 Timbangan digital
 Screen kosong
 Rakel

3.1.2 Bahan :

 Kain kapas
 NaOH kripik
 Tapioka
 Zat warna reaktif panas

3.2 Resep

 Resep Kreping

Variasi Sample 1 Sample 2 Sample 3


NaOH 300 g/kg 300 g/kg 300 g/kg
Tapioka 3% 3% 3%
Waktu 20 menit 40 menit 60 menit

 Resep Pencelupan

- Na2CO3 : 10 g/l

- NaCl : 20 g/l

- Pembasah : 1 g/l

 Resep Cuci Sabun

- Na2CO3 : 1 g/l
- Teepol : 1 cc/l

- Suhu : 70oC

- Waktu : 10 menit

3.3 Fungsi zat :


- NaOH : Sebagai pemberi efek kreping pada bahan.
- Pengental (tapioca) : Sebagai pengental yang tahan terhadap alkali kuat, dan
membuat larutan kreping menjadi pasta yang siap dicapkan untuk mendapatkan motif
kreping yang sesuai dengan kasa.
- Pembasah : Untuk menurunkan tegangan permukaan serat, sehingga zat
zat dapat masuk kedalam bahan.
- Zat warna reaktif dingin: Untuk memberikan warna secara merata pada bahan dan
untuk mengetahui hasil penyempurnaan kreping yang telah dicelup dengan zat warna
reaktif.
- Na2CO3 : Untuk memperbesar kelarutan zat warna dalam larutan celup
dan zat anti kesadahan dalam air celupan, serta menetralkan asam-asam hasil dari
reaksi yang terdapat pada larutan celup. Memfiksasi zat warna dan membentuk ikatan
Kovalen.

3.4 Diagram Alir


Pembuatan motif,
Persiapan bahan dan
penimbangan kebutuhan
zat

Pembuatan pasta krep


dalam beaker glass

Proses Kreping dan


Pemberian efek kreping

Cuci Panas Angin-angin


Cuci Netral Pengeringan Proses pencelupan

Pengeringan Proses Cuci Sabun

3.5 Cara kerja

 Siapkan kain contoh dan zat-zat yang diperlukan untuk membuat pasta cap
 Buat pasta cap dengan resep yang sesuai
 Cap kain dengan pasta cap yang telah mengandung soda kostik dan biarkan
selama 20 menit
 Bilas kain dengan air dingin dan jangan digosok agar motif tidak hilang.
 Keringkan kain dengan cara di angin-anginkan.
 Kondisikan kain pada suhu ruangan dan amati kerutan yang timbul pada
permukaan kain.

BAB IV
HASIL PERCOBAAN

4.1 Data Pengamatan

Ketuaan Warna dan Efek Kreping

Waktu
20 menit 40 menit 60 menit
Konsentrasi NaOH
Ketuaan Efek Ketuaan Efek Ketuaan Efek
300 g/kg
warna Kreping Warna Kreping Warna Kreping
7 7 8 8 9 9

Keterangan:

Skala penilaian score 1-10

4.2 Perhitungan

A. Pasta induk NaOH

- Tapioca :
- NaOH :
- Air :

B. Larutan Celup ZW. Reaktif Dingin

- Berat total : 160,84 gram


- Vlot 1:20 : 20 x BB = 3500 liter
- ZW reaktif dingin : 0,5/100 x 160,84 = 0.8042 gram
- NaCl 10 g/l : 20/1000 x 3500 = 70 gram
- Na2CO3 2 g/l : 10/1000 x 3500 = 35 gram
- Air : 3500 liter

C. Pencucian

- Na2CO3 2 g/l : 1/1000 x 3500 = 3,5 gram


- Teepol : 1/1000 x 3500 = 3,5 ml
BAB V

PENUTUP

5.1 Diskusi
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan proses kreping pada kain kapas
putih. Kain kapas putih yaitu kain yang telah melewati proses persiapan
penyempurnaan, sehingga kain ini telah bersih dari kotoran – kotoran berupa kanji,
lemak, malam dll yang akan mempengaruhi proses penyerapan zat – zat kimia.
Sebelum melakukan praktikum, kami membuat motif pada kertas HVS.
Tujuannya agar kain tidak semuanya terkena pasta sehingga kain yang terkena pasta
sesuai motif memberikan gaya atau tarikan – tarikan pada kain. Tarikan – tarikan
tersebut yang membuat kain memiliki efek mengkerut.
Bahan yang digunakan adalah tapioka yang dilarutkan dalam air sebagai
pengental. Selanjutnya ditambahkan NaOH sebagai zat untuk menggembungkan
serat. Penggembungan sesuai motif inilah yang membuat kain disekitar motif
mengkerut. NaOH yang digunakan cukup banyak yaitu 400 g/L dengan tujuan
penggembungan serat semakin baik sehingga serat tertarik ke arah lebar dan
penyerapan zat warna baik (terlihat pada hasil celup, bagian yang terkena NaOH
memiliki warna yang lebih tua). Kami tidak menambahkan zat pembasah karena kain
yang kami gunakan adalah kain kapas putih. Pertimbangan kami adalah kain kapas
putih telah melalui proses – proses penyempurnaan sebelumnya sehingga daya
serapnya cukup baik. Selain itu, kami dapat menghemat biaya proses dengan tidak
menggunakannya pembasah.
Sebelumnya, screen disiapkan atau dibersihkan dari zat – zat kimia yang
menempel agar pasta keluar dari screen dengan baik. Lalu pasta dirakel dan pasta
akan menempel pada kain sesuai motif yang sudah dibuat. Setelah itu, kain didiamkan
sesuai waktu yang telah ditentukan. Pada saat didiamkan dengan waktu tersebut,
NaOH yang terkandung pada pasta cap akan masuk dan berpenetrasi ke dalam serat
kapas. Serat kapas dapat menggembung bila terkena alkali. Penggembungan terjadi
pada bagian motif saja (bukan pada semua bagian kain seperti proses merserisasi
atau pemasakan). Ini menyebabkan bagian yang terkena motif saja yang
menggembung sehingga ujung - ujung kain yang diberi motif akan menarik kain di luar
motif sehingga kain yang tidak terkena pasta (kain di luar motif) akan berkerut – kerut
sesuai dengan tujuan proses.
Kami melakukan percobaan kreping dengan variasi waktu penetrasi NaOH
terhadap kain kapas putih. Variasi waktu yang kami gunakan yaitu 20, 40, dan 60
menit. Hasil dari kain dengan efek mengkeret yang baik dengan menggunakan waktu
60 menit dimana terlihat lebih jelas mengkeret dan motifnya pada kain dibandingkan
dengan menggunakan waktu 20 dan 40 menit. Pada waktu penetrasi NaOH 20 menit,
kain tidak terlihat begitu mengkeret. Waktu 40 menit memberikan efek krep lebih jelas
dibanding dengan waktu 20 menit karena NaOH yang terserap ke dalam serat lebih
banyak tetapi tidak sejelas dan mengkeret pada waktu 60 menit.
Setelah waktu penetrasi kain habis, kemudian kain dicuci dengan air mengalir.
Tujuannya agar pasta hilang dan kain bersih seperti sebelum dicap. Kemudian kain
dikeringkan dengan mesin stenter. Setelah itu dapat dilihat perbedaan antar kain
dengan perbedaan variasi waktu.
Agar lebih terlihat lagi efek mengkeretnya, kemudian dilakukan proses
pencelupan dengan menggunakan zat warna reaktif panas. Zat warna reaktif panas
dipillih pada proses pencelupan ini karena zat warna reaktif berikatan baik dengan kain
kapas sehingga memiliki daya tahan luntur warna terhadap pencucian yang cukup
baik. Zat warna reaktif panas memiliki kereaktifan yang kecil sehingga pada proses
pencelupannya perlu diproses pada suhu panas.
Variasi waktu juga berpengaruh pada hasil warna pada kain. Pada waktu
kreping 60 menit, didapat hasil celup pada kain dengan warna yang lebih tua
dibandingkan variasi waktu 20 dan 40 menit. Terutama pada motif kain yang terkena
NaOH. Warnanya jauh lebih tua dari kain yang tidak terkena NaOH.

5.2 Kesimpulan

Pada praktikum kali ini, didapat kesimpulan bahwa kain yang menggunakan waktu penetrasi
NaOH 60 menit memiliki efek kreping yang paling jelas dan warna hasil celup paling tua.
5.3 Daftar Pustaka

 Soeparman, Surdia, Budiarti, Hendrodyantopo. 1973. Teknologi Penyempurnaan.


Bandung : ITT.
 S. Hendroyantopo, dkk. 1998. Teknologi Penyempurnaan. Bandung : Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil.
 Soeparman, Dkk. 1977. Teknologi Penyempurnaan Tekstil. Bandung : Institut
Teknologi Tekstil.
 Nadyalestari.blogspot.com/2012/03/penyempurnaan-kreping-kain-kapas-
100.html?m=1 (27/03/2016 18:40WIB)
 Septianuraini125404011.blogspot.com/2014/03/crepe-kreping-creping-
pengkerutan.html?m=1 (27/03/2016 18:42 WIB)
 https://plus.google.com/app/basic/stream/z13aytkrlmmpi5qdi22ycx2gsv3pslo5e0
4 (27/03/2016 18:43 WIB)
 dokumen.tips/document/lap-penyem-kreeping-kel4.html (27/03/2016 18:48 WIB)

Anda mungkin juga menyukai