Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya ,yang telah
melimpahkan rahmat,hidayah,dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang Ejaan Bahasa Indonesia.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu, kami dengan tangan terbukamenerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini tentang Ejaan Bahasa Indonesia
dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Bogor, 8 Februari 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................1
DAFTAR ISI...................................................................................................2
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................3
1.2 Perumusan Masalah........................................................................4
1.3 Pembatasan Masalah.......................................................................4
BAB 2 ISI
2.1 Pemakaian tanda baca…………………………………………….5
2.2 Penulisan huruf ………………………………………………… 8
2.3 Penulisan kata …………………………………………………..12
2.4 Penulisan singkatan dan akronim………………………………..13
2.5 Angka dan lambang bilangan……………………………………16
2.6 Penulisan unsur serapan…………………………………………18
BAB 3 PENUTUP
4.1 Simpulan..................................................................................... 19
4.2 Saran.........................................................................................…19
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 20

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Bahasa Indonesia digunakan sebagai alat komunikasi dalam masyarakat
Indonesia. Seperti yang diketahui bahwa kegiatan komunikasi dimulai dari hal
yang ingin disampaikan oleh komunikator, kemudian dilanjutkan dengan
mengolah gagasan atau hal yang disampaikan komunikator sehingga hal yang
disampaikan komunikator tersebut dapat diterima oleh komunikan dengan
tepat. Dengan demikian, sebagai alat komunikasi, bahasa Indonesia harus
mampu menyampaikan maksud komunikator dengan tepat. Maksud atau
amanat komunikasi ini bisa berupa informasi tentang fakta, peristiwa,
ungkapan ide, pendapat, perasaan, keinginan, dan sebagainya. Hal-hal itu
dituangkan dalam aspek kebahasaan yang berupa kata, kalimat, paragraf
(komunikasi tulis) atau paraton (komunikasi lisan), ejaan dan tanda baca dalam
bahasa tulis, serta unsur-unsur prosodi (intonasi, nada, irama, tekanan, tempo)
dalam bahasa lisan.

Sebagai bahasa yang hidup, bahasa Indonesia mempunyai variasi-


variasi atau ragam-ragam, yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri
dalam proses komunikasi (Sloka, 2006:118). Variasi-variasi tersebut sejajar,
dalam pengertian tidak ada yang lebih tinggi daripada yang lain. Salah satu
variasi tersebut “diangkat” untuk mendukung fungsi-fungsi tertentu. Variasi
tersebut dinamakan bahasa baku atau standar. Variasi-variasi yang lain, yang
disebut variasi nonbaku atau nonstandard, tetap hidup dan berkembang sesuai
dengan fungsinya, yaitu sebagai alat komunikasi dalam situasi yang tidak
resmi.

Bahasa Indonesia yang digunakan dalam karya tulis ilmiah adalah bahasa
baku.Sebagai bahasa baku, terdapat standar tertentu yang harus dipenuhi dalam

3
penggunaan ragam bahasa. Standar tersebut meliputi penggunaan tata bahasa
dan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Tata bahasa Indonesia yang
baku salah satunya meliputi penggunaan kata, dan EYD yang sesuai dengan
kaidah baku. Kaidah tata bahasa Indonesia yang baku adalah kaidah tata bahasa
Indonesia sesuai dengan aturan berbahasa yang ditetapkan oleh Pusat Bahasa
Indonesia. Sementara itu, kaidah ejaan bahasa Indonesia yang baku adalah
kaidah ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Dengan demikian, bahasa
yang digunakan harus sesuai kaidah-kaidah kebahasaan termasuk dalam
penggunaan ejaan. Kesalahan penggunaan bahasa bisa menimbulkan
interpretasi yang berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya.

Oleh karena itu, melihat pentingnya penggunaan ejaan dengan tepat


seperti yang telah disampaikan diatas, maka dalam makalah ini penulis akan
memaparkan tentang analisis kesalahan penggunaan ejaan.

1.2 Perumusan Masalah


Perumusan dalam makalah ini diantaranya :
1. Bagaimana cara pemakain tanda baca;
2. Bagaimana cara penulisan huruf;dan
3. Bagimana cara pemakaian kata.

1.3 Pembatasan Masalah


1. Cara pemakaian tanda baca;
2. Cara pemakaian huruf;dan
3. Cara pemakaian kata.

BAB II

4
ISI

2. 1 Pemakaian tanda baca

1. Tanda baca titik (.) dipakai

 Pada akhir kalimat yang bukan pernyataan atau seruan

 Dibelakang angka atau huruf dalam satu bagan, ikhtisar, atau daftar

 Memisahkan angka jam, menit, detik yang menunjuk waktu atau


jangka waktu

 Di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir tanda Tanya
atau seru, dantempat terbit dalam daftar pustaka

 Memisahkan bilangan ribuan dan kelipatanya yang menunjukan


jumlah

 Tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan,


ilustrasi, tabel

 Tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat atau


nama dan alamat penerima surat

2. Tanda baca koma (,) dipakai

 Di antara unsur perincian atau pembilangan

 Memisahkan kelimat setara yang didahului kata tetapi, melainkan

 Memisahkan anak kalimat dan induk kalimat jika mendahului induk


kalimat

 Di belakang kata ungkapan atau penghubung antar kalimat

 Memisahkan kata-kata seru dengan kata lainya dalam kalimat

 Memisahkan petikan langsung

 Nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, nama


tempat dan wilayah yang ditulis berurutan

5
 Menceraikan bagian nama yang dibalik susunanya dalam daftar
pustaka

 Di antara bagian-bagian dalam catatan kaki

 Di antara nama orang dengan gelar akademik

 Di muka angka persepuluhan atau antara rupiah dan sen yang


dinyatakan dengan angka

 Untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi

 Untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang


terdapatpada awal kalimat

 Tidak dipakai memisahkan petikan langsung dengan pengiringnya


yang berakhir tanda Tanya atau seru

3. Tanda baca titik koma ( ; ) dipakai

 Memisahkan bagian-bagia kalimat yang sejenis atau setara

 Sebagai pengganti kata penghubung unuk memisahkan kalimat setara


di dalam alimat majemuk

4. Tanda baca titik dua ( : ) dipakai

 Pada akhir pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian


tetapi tidak dipakai jika rangkaian itu merupakan pelengkap yang
mengakhiri penyataan

 Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian

 Dalam penulisan teks drama setelah kata yang menunjukan pelaku

 Di antara jilid atau nomor halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab
suci, di antara judul dan anak judul karangan, nama kota dan penerbit
buku acuan dalam karangan

5. Tanda hubung ( - ) dipakai

 Menyambung suku-suku kata dasar ang terpisah oleh pergantian baris

6
 Menyambung imbuhan yang terpisah pada pergantian baris

 Menyambung usur-unsur kata ulang atau bentuk ulang

 Menyambung huruf kata yang dieja dan bagian-bagian tanggal

 Memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan, penghilangan


bagian kelompok kata

 Merangkaikan imbuhan yang melekat pada huruf capital, ke- dengan


angka, amhla dengan –an, singkatan huruf capital dengan imbuhan,
nama jabatan rangkap

 Merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing

6. Tanda pisah ( -- ) dipakai

 Membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di


luar bangun kalimat

 Menegaskan keterangan aposisi atau keterangan lain

 Di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti sampai ke- atau sampai
dengan

7. Tanda Tanya ( ? ) dipakai

 Akhir kalimat Tanya

 Di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang


diasingkan

8. Tanda seru ( ! ) dipakai

 Sesudah ungkapan atau pernyataan berupa seruan atau perintah yang


menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan atau rasa emosi

9. Tanda kurung ( ( ) ) dipakai

 Mengapit tambahan keterangan atau penjelasan

 Mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokk


pembicaraan

7
 Mengapit huruf atau kata yang kehadiranya di dalam teks dapat
dihilangkan

 Mengapit angka atau huruf yang merinci satu urutan keterangan

10. Tanda petik ( “….” ) dipakai

 Mengapit petikan langsung

 Mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam
kalimat

 Mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada
ujung kalimat atau bagian kalimat

11. Tanda petik tunggal ( ‘…..’ ) dipakai

 Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain

 Mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata

12. Tanda garis miring ( / ) dipakai

 Di dalam nomor surat dan nomor surat dan nomor pada alamat dan
penandaan satu tahun yang terbagi dalam dua tahun (takwin)

 Sebagai pengganti atau, tiap

13. Tanda apostrof ( ‘ ) atau penyingkatan dipakai

 Menunjukan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun

2. 2 Penulisan Huruf

A. Huruf capital atau Huruf Besar


1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Contoh : Alat yang dipakai adalah tabung reaksi dan pipet tetes.

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.


Contoh : Adik bertanya , “Kapan kita pulang?”

8
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang
berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti
untuk Tuhan.
Contoh : Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-
Nya.

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan


,keturunan dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh: Pemuda yang menjadi imam sholat jum’at minggu ini
bernama Haji Agus Salim.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar


kehormatan ,keturunan dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Contoh : Tahun ini ia pergi naik haji.

5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan
pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti
nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Contoh : Wakil Presiden Indonesia periode tahun ini adalah Jusuf
Kalla.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan
dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang tidak dipakai sebagai
pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Contoh : Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?

6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.


Contoh : Dewi Sartika adalah salah satu proklamator Indonesia.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama


orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukur.
Contoh : mesin diesel dengan daya 100 pk dipakai selama 30 menit.

7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa,suku bangsa,


dan bahasa.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa,suku
bangsa, dan bahasa yang tidak dipakai sebagai bentuk dasar kata
turunan.

9
Contoh : Kejawa-jawaan, keinggris-inggrisan

8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari,
hari raya, dan peristiwa sejarah.
Contoh : Kemerdekaan Indonesia adalah tanggal 17 Agustus 1945.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah


yang tidak dipakai sebagai nama.
Contoh : Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.


Contoh : Diana lahir di Kuningan, Jawa Barat.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi


yang tidak menjadi unsur nama diri.
Contoh : Pemuda itu sedang mandi di kali.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi


yang digunakan sebagai nama jenis.
Contoh : Ibu saya memasak tempe dengan tambahan garam inggris.

10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara,
lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi
kecuali kata seperti dan.
Contoh : Keputusan Presiden nomor 21 tahun 2017 tentang program
penyusunan peraturan presiden tahun 2017 sangat mengecewakan
rakyat Indonesia.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan
nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta
nama dokumen resmi.
Contoh : Menurut undang-undang yang berlaku tidak dibolehkan
membunuh seseorang.

11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang
sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

10
Contoh : Setelah dilakukan 4 kali perubahan, Undang-Undang Dasar
Republik Indonesia memiliki 16 bab dan 37 pasal.

12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk
semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat
kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang,
untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Contoh : Dia adalah agen surat kabar Kompas.

13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama
gelar,pangkat, dan sapaan.
Contoh : Lulusan AKA akan mendapat gelar Amd.Si.

14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan
kekerabatan seperti bapak,ibu, saudara, kakak, dan adik yang dipakai
dalam penyapaan dan pengacuan.
Contoh : Para ibu mengunjungi rumah Ibu Hasan.

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk


hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau
penyapaan.
Contoh : Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Contoh : Sudahkah Anda tahu? Surat Anda telah kami terima.

B. Huruf miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku,
majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Contoh : Dia adalah agen surat kabar Kompas.
2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau
mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Contoh : Huruf pertama kata abad ialah a.

3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama


ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Contoh : Nama ilmiah buah manggis adalah Carcima mangostana.

11
2. 3 Penulisan Kata

A. Kata dasar. ditulis sebagai satu kesatuan.


Contoh :Ibu percaya bahwa engkau tahu.

B. Kata turunan

1. Ditulis serangkai dengan kata dasarnya: dikelola, permainan


2. Imbuhan ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau
mendahuluinya, tapi unsur gabungan kata ditulis terpisah jika hanya
mendapat awalan atau akhiran: bertanggung jawab, garis bawahi
3. Imbuhan dan unsur gabungan kata ditulis serangkai jika mendapat awalan
dan akhiran sekaligus: pertanggungjawaban
4. Ditulis serangkai jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai
dalam kombinasi: adipati, narapidana
5. Diberi tanda hubung jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf
awalnya adalah huruf kapital: non-Indonesia
6. Ditulis terpisah jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata
esa dan kata yang bukan kata dasar: maha esa, maha pengasih
C. Bentuk ulang.
Ditulis lengkap dengan tanda hubung: anak-anak, sayur-mayur

D. Gabungan kata

1. Ditulis terpisah antarunsurnya: duta besar, kambing hitam


2. Dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara
unsur yang bersangkutan untuk mencegah kesalahan pengertian: alat
pandang-dengar, anak-istri saya
3. Ditulis serangkai
pengecualian: acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfir
ullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkaw
a, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, dukacita, halalbihalal, h
ulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala,
manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peri
bahasa, puspawarna, radioaktif, sastramarga, saputangan, saripati, sebag
aimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, suk
aria, syahbandar, titimangsa, wasalam

E. Suku kata - Pemenggalan kata

a) Kata dasar

12
1. Di antara dua vokal berurutan di tengah kata (diftong tidak pernah
diceraikan): ma-in.
2. Sebelum huruf konsonan yang diapit dua vokal di tengah kata: ba-pak.
3. Di antara dua konsonan yang berurutan di tengah kata: man-di.
4. Di antara konsonan pertama dan kedua pada tiga konsonan yang
berurutan di tengah kata: ul-tra.
b) Kata berimbuhan: Sesudah awalan atau sebelum akhiran: me-rasa-kan.
c) Gabungan kata: Di antara unsur pembentuknya: bi-o-gra-fi

F. Kata depan. di, ke, dan dari


Ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya,
kecuali daripada, kepada, kesampingkan, keluar, kemari

G. Partikel

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya: betulkah, bacalah
2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya: apa
pun, satu kali pun
3. Partikel pun ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya
untuk adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun,
kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun

2. 4 Penulisan Singkatan dan Akronim


1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf
atau lebih.
a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat
diikuti dengan tanda titik.

Misalnya : A.S Kramawijaya, Muh. Yamin Suman, Hs. Sukanto S.A

M.B.A master of business administration

M.Sc. master of science

S.E. sarjana ekonomi

S.Kar. sarjana karawitan

13
S.K.M sarjana kesehatan masyarakat

Bpk. Bapak

Sdr. Saudara

b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan,


badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas
huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti dengan
tanda titik.

Misalnya : DPR Dewan Perwakilan Rakyat

PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia

GBHN Garis-Garis Besar Haluan Negara

SMTP Sekolah Menengah Tingkat Pertama

PT Perseroan terbatas

KTP Kartu tanda penduduk

c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu
tanda titik. Misalnya : dll, dsb, dst, hlm (halaman), sda, Yth. (Sdr.
Moh. Hasan)
Tetapi:
a.n. atas nama, d.a dengan alamat, u.b. untuk beliau, u.p. untuk perhatian.

d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran,timbangan, dan


mata uang diikuti tanda titik.
Misalnya : Cu kuprum, TNT trinitrotoluene, cm sentimeter, kVA kilovolt-
ampere, l liter, kg kilogram, Rp (5.000,00)

14
2. Akronim ialah singkatan yang berupagabungan huruf awal, gabungan
suku kata, atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang
diperlukan sebagai kata.
a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata
ditulis seluruh dengan huruf capital
ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN Lembaga Administrasi Negara
PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
IKIP Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
SIM Surat Izin Mengemudi

b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan
huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf
capital.
Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia
Bappenas Badan Perencana Pembangunan Nasional
Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia

a. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku
kata, ataupun gabungan huruf dan suku kta seluruhnya ditulis dengan
huruf kecil.
pemilu pemilihan umum
rapim rapat pimpinan
rudal peluru kendali

2.5 Angka dan Lambang Bilangan.

15
1.Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata
ditulis dengan huruf, kecuali jika dipakai secara berurutan seperti
dalam perincian.

Misalnya:

a) Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.


b) Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.
c) Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak
setuju, dan 5 orang abstain.

Catatan: Penulisan berikut dihindari:

 50 siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.


 Pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.

2. Apabila bilangan pada awal kalimat tidak dapat dinyatakan dengan satu
atau dua kata, susunan kalimatnya diubah.

Misalnya:

 Panitia mengundang 250 orang peserta.


 Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno.

3. Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis sebagian dengan


huruf supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya:

 Dia mendapatkan bantuan 250 juta rupiah untuk mengembangkan


usahanya.
 Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
4. Angka dipakai untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas, isi, dan
waktu serta (b) nilai uang.
Misalnya:
- 0,5 sentimeter
- 5 kilogram
- 4 hektare

16
5. Angka dipakai untuk menomori alamat, seperti jalan, rumah, apartemen,
atau kamar.

Misalnya:

- Jalan Tanah Abang I No. 15 atau


- Jalan Tanah Abang I/15
d) -Jalan Wijaya No. 14
6. Angka dipakai untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci.

Misalnya:

-
Bab X, Pasal 5, halaman 252
-
Surah Yasin: 9
7. Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.

a. Bilangan Utuh

Misalnya:

- dua belas (12)

- tiga puluh (30)

b. Bilangan Pecahan
Misalnya:
- setengah atau seperdua (1/2)
- seperenam belas (1/16)
8. Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.

Misalnya:

- abad XX

- abad ke-20

9. Penulisan angka yang mendapat akhiran -an dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:

- lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)

- tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)

17
10. Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam
peraturan perundang-undangan, akta, dan kuitansi.

Misalnya:

- Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan ratus


lima puluh ribu rupiah) untuk pembayaran satu unit televisi.
11.
11. Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka dan diikuti huruf
dilakukan seperti berikut.

Misalnya:

- Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu
lima ratus rupiah lima puluh sen).

- Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas harus
dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.

12. Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan huruf.

Misalnya:

- Kelapadua

- Rajaampat

2.6 Penulisan unsur serapan

Kata-kata asing (Inggris,Belanda,dsb.) yang masuk ke dalam bahasa


Indonesia mengalami proses penyerapan. Secara garis besar kata-kata tsb. Ada
yang sepenuhnya diserap (misalnya central menjadi sentral),dan ada yang
belum sepenuhnya diserap(misalnya shuttle cok). Adapun model penyerapan
yang lazim dilakukan adalah adopsi,adaptasi,kreasi,dan terjemahan.

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ejaan bahasa Indonesia (disingkat EBI) adalah ejaan yang berlaku sejak
tahun 2015 berdasarkan peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 50 tahun 2015 tentang pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia.
Ejaan Bahasa Indonesia memuat tata cara penhulisan huruf, kata, kalimat,
penggunaan tanda baca, dan pedoman akronim yang telah disepakati dalam kaedah
Bahasa Indonesia.
3.2 Saran
Diharapkan para pembaca dapat memahami dan menerapkan penggunaan
pedoman Ejaan Bahasa Indonesia dalam pembuatan karya tulis.

19
DAFTAR PUSTAKA

Belajar Praktis Bahasa Indonesia.Yogyakarta:Neutron Yogyakarta. Hal 40-51

https://id.wikibooks.org/wiki/Bahasa_Indonesia/EYD pada tanggal 7 Februari


2018, pukul 19.05 WIB.

20