Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai makhluk hidup kita masih hidup sampai saat ini karena setiap saat
selalu bernafas menghirup udara. Makhluk hidup di dunia ini, baik hewan maupun
manusia akan mati jika sudah tidak dapat bernafas lagi. Sebenarnya bagaimana
sistem pernafasan yang terdapat dalam tubuh kita? maka dari itu penulis ingin
mengetahui lebih banyak tentang sistem pernapasan pada mammalia khususnya
manusia. Sistem pernapasan secara garis besarnya terdiri dari paru-paru dan
susunan saluran yang menghubungkan paru-paru dengan yang lainnya, yaitu
hidung, tekak, pangkal tenggorok, tenggorok, cabang tenggorok.
Metabolisme normal dalam sel-sel makhluk hidup memerlukan oksigen dan
karbon dioksida sebagai sisa metabolisme yang harus dikeluarkan dari tubuh.
Pertukaran gas oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2) dalam tubuh makhluk hidup
di sebut pernapasan atau respirasi. Oksigen (O2) dapat keluar masuk jaringan
dengan cara difusi. Pernapasan atau respirasi dapat dibedakan atas dua tahap. Tahap
pemasukan oksigen ke dalam dan mengeluarkan karbon dioksida keluar tubuh
melalui organ-organ pernapasan disebut respirasi eksternal. Pengangkutan gas-gas
pernapasan dari organ pernapasan ke jaringan tubuh atau sebaliknya dilakukan oleh
sistem respirasi. Tahap berikutnya adalah pertukaran O2 dari cairan tubuh (darah)
dengan CO2 dari sel-sel dalam jaringan, disebut respirasi internal.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi fisiologi pernapasan pada manusia?
2. Bagaimana fisiologi pernapasan pada manusia?
3. Bagaimana kecepatan dan pengendalian pernapasan pada manusia?
4. Bagaimana faktor yang mempengaruhi pernapasan pada manusia?
5. Bagaimana gangguan pernapasan pada manusia?
C. Tujuan Penulisan Makalah
1. Mengetahui anatomi fisiologi pernapasan pada manusia
2. Mengetahui fisiologi pernapasan pada manusia
3. Mengetahui kecepatan dan pengendalian pernapasan pada manusia

1
4. Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi pernapasan pada manusia
5. Mengetahui gangguan pernapasan pada manusia.

2
BAB II
PEMBAHASAN
Dengan bernapas setiap sel dalam tubuh menerima persediaan oksigennya
dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang
bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan, memungkinkan setiap sel
sendiri-sendiri melangsungkan proses metabolismnya, yang berarti pekerjaan
selesai dan hasil buangan dalam bentuk karbon dioksida (CO2) dan air (H2O)
dihilangkan.

Pernafasan ialah proses ganda yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam


jaringan tau “pernafasan dalam” dan yang terjadi di dalam paru-paru bernama
“pernapasan luar”.

Udara ditarik ke dalam paru-paru pada waktu menarik napas dan didorong
keluar paru-paru pada waktu mengeluarkan napas. Udara masuk melalui jalan
pernapasan.

A. Saluran Pernapasan

3
a. Nares Arnterio
Nares arnterio adalah saluran-saluran di dalam lubang hidung. Saluran-
saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum
(rongga) hidung. Vestibulum ini dilapisi dengan epitelium bergaris yang
bersambung dengan kulit. Lapisan nares anterior memuat sejumlah kelenjar
sebaseus yang ditutupi oleh bulu kasar. Kelenjar-kelenjar itu bermuara ke
dalam rongga hidung.
b. Rongga Hidung
Rongga hidung dilapisi selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh
darah, dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir semua
sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam rongga hidung. Daerah
pernapasan dilapisi dengan epitelium silinder dan sel epitel berambut yang
mengandung sel cangkir atau sel lendir. Sekresi dari sel itu membuat
permukaan nares basah dan berlendir. Di atas sepium nasalis dan konkha
selaput lendir ini paling tebal. Adanya tiga tulang kerang (konkhae) yang
diselaputi epitelium pernapasan dan menjorok dari dinding lateral hidung ke
dalam rongga, sangat memperbesar permukaan selaput lendir tersebut.

Sewaktu udara melalui hidung, udara disaring oleh bulu-bulu yang terdapat
di dalam vestibulum, dan karena kontak dengan permukaan lendir yang
dilaluinya maka udara menjadi hangat, dan oleh penguapan air dari permukaan

4
selput lendir menjadi lembab. Hidung menghubungkan lubang-lubang dari
sinus udara para-nasalis yang masuk ke dalam rongga-rongga hidung, dan juga
lubang-lubang naso-lakrimal yang menyalurkan air mata dari mata ke dalam
bagian bawah rongga nasalis, ke dalam hidung.
c. Farinx
Farink (tekak) adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak
sampai ersambungannya dengan usofagus pada ketinggian tulang rawan
krikoid. Maka letaknya di belakang hidung (naso-farinx), di belakang mulut
(oro-farinx) dan di belakang larinx (farinx-laringeal). Nares-posterior adalah
muara rongga-rongga hidung ke naso-farinx.

d. Larinx
Larink (tenggorok) terletak di bagian terendah farinx yang memisahkannya
dari kolumna vertebra, berjalan dari farinx sampai ketinggian vertebra
servikalis dan masuk ke dalam trakhea di bawahnya. Larinx terdiri atas
kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligamen dan membran. Yang

5
terbesar di antaranya adalah tulang rawan tiroid, dan di sebelah depannya
terdapat benjolan subkutaneus yang dikenal sebagai jakun, yaitu sebelah depan
leher. Larinx terdiri atas dua lempeng atau lamina yang bersambung di garis
tengah. Di tepi atas terdapat lekukan berupa V. Tulang rawan krikoid terletak
di bawah tiroid, bentuknya seperti cincin mohor dengan mohor cincinnya di
sebelah belakang. Tulang rawan lainnya ialah kedua tulang rawan aritenoid
yang menjulang di sebelah belakang krikoid, dan kanan dan kiri tulang rawan
kuneiform dan tulang rawan kornikulata yang sangat kecil. Terkait di puncak
tulang rawan tiroid terdapat epiglotis yang berupa katup tulang rawan dan
membantu menutup larinx sewaktu menelan. Larinx dilapisi oleh jenis selaput
lendir yang sama dengan yang di trakhea, kecuali pita suara dan bagian
epiglotis yang dilapisi sel epitelium berlapis.
Pita suara terletak di seblah dalam larinx, berjalan dari tulang rawan tiroid
di sebelah depan sampai di kedua tulang rawan aritenoid. Dengan gerakan dari
tulang rawan aritenoid yang ditimbulkan oleh berbagai otot laringeal, pita suara
ditegangkan atau dikendorkan. Dengan demikian, lebar sela-sela antara pita-
pita atau rima glottidis berubah-ubah sewaktu bernapas dan bicara. Karena
gtaran pita yang disebabkan udara melalui glottis maka suara dihasilkan.
Berbagai otot yang erkait pada larinx mengendalikan suara dan juga menutup
lubang atas larinx sewaktu menelan.
e. Laring
Laring (tenggorok) lebih kompleks, tersusun oleh: kartilago aritenoid,
krikoid, dan tiroid (khas). Ketiganya termasuk dalam kartilago hyaline, terletak
di depan bagian terendah faring yang memisahkan dari kolumna vertebra,
berjalan dari faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam
trakea di bawahnya. Laring terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat
bersama oleh ligamen dan membran. Yang terbesar diantaranya ialah tulang
rawan yang diikat bersama oleh ligamen dan membran. Yang terbesar di
antaranya ialah tulang rawan tiroid, dan di sebelah depannya terdapat benjolan
subkunaeus yang dikenal sebagai jakun, yaitu di sebelah depan leher. Kartilago
tiroid yang terbesar, pada jantan disebut Apple’s Adam. Terdapat glotis,

6
epiglotis, dan pita suara. Epiglotis senantiasa terbuka kecuali saat kita mau
menelan makanan, maka akan tertutup.
Laring terdiri atas dua lempeng atau lamina yang bersambung di garis
tengah. Di tepi atas terdapat lekukan berupa V. Tulang rawan krikoid terletak
di bawah tiroid, bentuknya seperti cincin mohor dengan mohor cincinnya di
sebelah belakang (ini merupakan tulang rawan satu-satunya yang berbentuk
lingkaran lengkap). Tulang rawan lainnya ialah kedua tulang rawan aritenoid
yang menjulang di sebelah belakang krikoid, kanan dan kiri tulang rawan
kuneiform, dan tulang rawan kornikulata yang sangat kecil. Terdapat bangunan
khusus yang disebut epiglottis yang merupakan kartilago elastik meluas ke
anterior dari kartilago krikoid. Fungsi epiglotis adalah melindungi glotis
sewaktu makanan masuk esophagus. epiglotis berperan dalam menutup laring
dan trakea (airway) sehingga makanan tidak masuk ke dalam saluran
pernafasan yaitu paru-paru.
f. Trakea
Trakea atau batang tenggorok memiliki panjang kira-kira sembilan
sentimeter panjangnya. Trakea berjalan dari laring sampai kira-kira ketinggian
vertebratorakalis kelima dan di tempat ini bercabang menjadi dua bronkus
(bronki). Trakea tersusun atas enam belas sampai dua puluh lingkaran tak
lengkap berupa cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa
dan yang melengkapi lingkaran di seblah belakang trakea; selain itu juga
memuat beberapa jaringan otot. Trakea dilapisi selaput lendir yang terdiri atas
epitelium bersilia dan sel cangkir. Silia ini bergerak menuju keatas kea rah
laring, maka dengan gerakan ini debu dan butir-butir halus lainnya yang turut
masuk bersama dengan pernapasan dapat dikeluarkan. Tulang rawan berfungsi
mempertahankan agar trakea tetap terbuka; karena itu, di sebelah belakangnya
tidak tersambung, yaitu di tempat trakea menempel pada esofagus, yang
memisahkannya dari tulang belakang. (Pearce, 2013: 258-259).
g. Bronkus
Bronkus yang terbentuk dari belahan dua trakea pada ketinggian kira-kira
vertebra torakalis kelima mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi

7
oleh jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan ke
samping ke arah tampak paru-paru. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih
lebar daripada yang kiri; sedikit lebih tinggi daripada yang kiri; sedikit lebih
tinggi daripada arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang yang
disebut bronkus lobus atas; cabang kedua timbul setelah cabang utama lewat di
bawah arteri, disebut bronkus lobus bawah. Bronkus lobus tengah keluar dari
bronkus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing daripada
yang kanan, dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelum dibelah menjadi
beberapa cabang yang berjalan ke lobus atas dan bawah. (Pearce, 2013: 259-
260).

h. Rongga toraks
Rangka dada yang terdiri atas tulang dan tulang rawan. Batas-batas yang
membentuk rongga di dalam toraks : sternum dan tulang rawan iga-iga di
depan, kedua belas ruas tulang punggung beserta cakram antarruas (diskus
intervetebralis) yang terbuat dari tulang rawan di belakang, iga-iga beserta otot
interkostal di sampng, diafragma di bawah dan dasar leher di atas. Isi; Sebelah
kanan dan kiri rongga dada terisi penuh oleh paru-paru beserta pebungkus
pleuranya: pleura ini membungkus setiap belah, dan membentuk batas lateral
pada mediastinum. Mediastinum ialah ruang didalam rongga dada antara kedua

8
paru-paru isinya jantung dan pembuluh darah besar, usofagus, duktus torakalis,
aorta desendens, vena kava superior, saraf vagus dan fenikus, dan sejumlah
besar kelenjar limfe.
i. Paru-paru
Paru-paru ada dua, merupakan alat pernafasan utama. Paru-paru mengisi
rongga dada. Terletak di sebelah kanan dan kiri dan di tengah dipisahkan oleh
jantung beserta pembuluh darah besarnya dan struktur lainnya yang terletak di
dalam mediastinum. Paru-paru adalah organ berbentuk kerucut dengan apeks
(puncak) di atas dan muncul sedikit lebih tinggi daripada klavikula di dalam
dasar leher. Pangkal paru-paru duduk di atas landai rongga toraks, di atas
diafragma. Paru-paru mempunyai permukaan luar yang menyentuh iga-iga,
permukaan dalam yang memuat tampuk paru-paru, sisi belakang yang
menyentuh tulang belakang, dan sisi depan yang menutupi sebagian sisi depan
jantung.
Paru-paru dibagi menjadi beberapa belahan atau lobus fisura. Paru-paru
kanan mempunyai tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus. Setiap lobus
tersusun atas lobula. Sebuah pipa bronkial kecil masuk ke dalam setiap lobula
dan semakin bercabang, semakin menjadi tipis dan akhirnya berakhir menjadi
kantong-kantong udara paru-paru. Jaringan paru-paru elastis, berpori, dan
seperti spons. Di dalam air, paru-paru mengapung karena udara yang ada
didalamnya. (Pearce, 2013: 260-261).

9
Gambar 169- Kedudukan paru-paru didalam toraks. Garis-garis berwarna hitam
menunjukkan batas lobus paru-paru. Garis titik-titik menunjukkan kedudukan pleura.

Gambar 171- Diagram dari akhiran sebuah bronkiolus di dalam alveoli.

10
j. Pulmonaris
Trakea terbelah menjadi dua bronkus utama dan bercabang lagi sebelum
masuk paru-paru. Dalam perjalanannya menjelajahi paru-paru, bronkus-
bronkus pulmonaris bercabang dan beranting banyak sekali. Saluran besar yang
mempertahankan struktur serupa dengan yang dari trakea mempunyai dinding
fibrusa berotot dan mengandung bahan tulang rawan dan dilapisi epitelium
bersilia. Semakin kecil salurannya, semakin berkurang tulang kerawanannya
dan akhirnya tinggal dinding fibrusa berotot dan lapisan silia. Bronkus
terminalis masuk ke dalam saluran yang lain kemudian disebut vestibula dan
membran pelapisnya mulai berubah sifatnya. Lapisan epitelium bersilia diganti
dengan sel epitelium yang pipih. Dari vestibula berjalan beberapa infundibula
dan di dalam dindingnya dijumpai kantong-kantong udara. Kantong udara atau
alveoli terdiri atas satu lapis tunggal sel epitelium pipih dan disinilah darah
hampir langsung bersentuhan dengan udara. Suatu jaringan pembuluh kapiler
mengitari alveoli dan pertukaran gas pun terjadi.
k. Pembuluh Darah Dalam Paru-Paru
Arteri pulmonalis membawa darah yang sudah tidak mengandung oksigen
(O2) dari ventrikel kanan jantung ke paru-paru. Cabang-cabangnya menyentuh
saluran-saluran bronkial, bercabang dan bercabang lagi sampai menjadi arteriol
halus, kemudian arteriol itu membelah-belah dan membentuk jaringan kapiler
dan kapiler itu menyentuh dinding alveoli atau gelembung udara. Kapiler halus
itu hanya dapat memuat sedikit, maka praktis dapat dikatakan sel-sel darah
merah membuat baris tunggal. Alirannya bergerak lambat dan dipisahkan dari
udara dalam alveoli hanya oleh dua membran yang sangat tipis, maka
pertukaran gas berlangsung dengan difusi, yang menrupakan fungsi pernafasan.
Kapiler paru-paru bersatu menjadi pembuluh darah lebih besar dan
akhirnya dua vena pulmonaris meninggalkan setiap paru-paru membawa darah
berisi oksigen (O2) ke atrium kiri jantung untuk didistribusikan ke seluruh
tubuh melalui aorta. Pembuluh darah yang dilukiskan sebagai arteria bronkialis
membawa darah berisi oksigen (O2) langsung dari aorta toraksila ke paru-paru
guna memberi makan dan menghantarkan oksigen ke dalam jaringan paru-paru

11
sendiri. Cabang akhir arteri-arteri ini membentuk pleksus kapiler yang tampak
jelas dan terpisah dari yang terbentuk oleh cabang akhir arteri pulmonaris,
tetapi beberapa dari kapiler ini akhirnya bersatu ke dalam vena pulmonaris dan
darahnya kemudian dibawa masuk ke dalam vena pulmonaris. Sisa darah itu
diantarkan dari setiap paru-paru oleh vena bronkialis dan ada yang dapat
mencapai vena kava superior. Maka dengan demikian paru-paru mempunyai
persediaan darah ganda.
l. Hilus (tampuk) paru-paru
Arteri pulmonalis, yang mengendalikan darah tanpa oksigen (O2) de dalam
paru-paru untuk diisi oksigen.

Vena pulmonalis, yang mengendalikan darah berisi oksigen (O2) dari paru-paru
ke jantunga

Bronkus yang bercabang dan berranting membentuk pohon bronkial,


merupakan jalan udara utama.

Arteri bronkialis, keluar dari aorta dan mengantarkan darah arteri ke jaringan
paru-paru.

Vena bronkialis, mengembalikan sebagian darah dari paru-paru ke vena kava


superior.

Pembuluh limfe, yang masuk-keluar paru-paru sangat banyak.

Persarafan, paru-paru mendapat pelayanan dari saraf vagus dan saraf simpati.

Kelenjar limfe, semua pembuluh limfe yang menjelajahi struktur paru-paru


dapat menyalurkan ke dalam kelenjar yang ada di tampuk paru-paru.

m. Pleura
Setiap paru-paru dilapisi membran serosa rangkap dua, yaitu pleura. Pleura
viseralis erat melapisi paru-paru, masuk ke dalam fisura dan demikian
memisahkan lobus satu dari yang lain. Membran ini kemudian dilipat kembali
di sebelah tampuk paru-paru dan membentuk pleura parietalis, dan melapisi

12
bagian dalam dinding dada. Pleura yang melapisi iga-iga ialah pleura kostalis,
bagian yang menutupi diafragma ialah pleura diafragmatika, dan bagian yang
terletak di leher ialah pleura servikalis. Pleura ini diperkuat oleh membran
yang kuat bernama membran suprapleuralis (fasia Sibson) dan di atas
membran ini terletak arteri subklavia.
Di antara kedua lapisan pleura itu terdapat sedikit eksudat untuk
meminyaki permukaannya dan menghindarkan gesekan antara paru-paru dan
dinding dada yang sewaktu bernafas bergerak. Dalam keadaan sehat kedua
lapisan itu satu dengan yang lain erat bersentuhan. Ruang atau rongga pleura
itu hanyalah ruang yang tidak nyata, tetapi dalam keadaan tidak normal udara
atau cairan memisahkan kedua pleura itu dan ruang di antaranya menjadi jelas.
B. Fisiologi Pernafasan

Fungsi paru-paru adalah pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida. Jenis-
Jenis Pernapasan Pada Manusia dibagi menjadi dua jenis yaitu, pernapasan dada
dan pernapasan perut.

a) Pernapasan Dada

Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk.


Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.

1. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk


sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada
menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya
oksigen masuk.

2. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara
tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk
sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam
rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam
rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.

Mekanisme inspirasi pernapasan dada sebagai berikut:

13
Otot antar tulang rusuk (muskulus intercostalis eksternal) berkontraksi --> tulang
rusuk terangkat (posisi datar) --> Paru-paru mengembang --> tekanan udara dalam
paru-paru menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan udara luar --> udara luar
masuk ke paru-paru.

Mekanisme ekspirasi pernapasan dada adalah sebagai berikut:

Otot antar tulang rusuk relaksasi --> tulang rusuk menurun --> paru-paru
menyusut --> tekanan udara dalam paru-paru lebih besar dibandingkan dengan
tekanan udara luar --> udara keluar dari paru-paru.

b) Pernapasan Perut

Pernapasan perut adalah pernapasan yang melibatkan otot diafragma.


Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut.

1. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot diafragma sehingga


rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih
kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.

2. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot
diaframa ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga
rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada
menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada
yang kaya karbon dioksida keluar.

Mekanisme inspirasi pernapasan perut sebagai berikut:

sekat rongga dada (diafraghma) berkontraksi --> posisi dari melengkung menjadi
mendatar --> paru-paru mengembang --> tekanan udara dalam paru-paru lebih
kecil dibandingkan tekanan udara luar --> udara masuk.

14
Mekanisme ekspirasi pernapasan perut sebagai berikut:

otot diafraghma relaksasi --> posisi dari mendatar kembali melengkung --> paru-
paru mengempis --> tekanan udara di paru-paru lebih besas dibandingkan tekanan
udara luar --> udara keluar dari paru-paru.

Pada pernapasan melalui paru-paru atau pernapasan eksterna, oksigen


dipungut melalui hidung dan mulut. Pada waktu bernapas, oksigen masuk melalui
trakea dan pipa bronkhial ke alveoli, dan dapat erat hubungan dengan darah di
dalam kapiler pulmonaris. Hanya satu lapisan membran, yaitu membran alveoli-
kapiler, memisahkan oksigen dari darah. Oksigen menembus membran ini dan
dipungut oleh hemoglobin sel darah merah dan dibawa ke jantung. Dari sini,
dipompa di dalam arteri ke semua bagian tubuh. Darah meninggalkan paru-paru
pada tekanan oksigen 100 mmHg dan pada tingkat ini hemoglobinnya 95 persen
jenuh oksigen. Di dalam paru-paru, karbon dioksida adalah salah satu hasil
buangan metabolisme, menembus membran alveoler-kapiler dari kapiler darah ke
alveoli dan setelah melalui pipa bronkhial dan trakhea, dinafaskan keluar melalui
hidung dan mulut. Empat proses yang berhubungan dengan pernafasan pulmoner
atau pernafasan eksterna :

1. Ventilasi pulmoner, atau gerak pernafasan yang menukar udara dalam alveoli
dengan udara luar.
2. Arus darah melalui paru-paru.
3. Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian sehingga jumlah tepat dari
setiapnya dapat mencapai semua bagian tubuh
4. Difusi gas yang menembusi membran pemisah alveoli dan kapiler. CO2 lebih
mudah berdifusi daripada oksigen.
Jumlah udara yang mencapai alveoli pada volume pernapasan semenit 6 liter
adalah 500 minus 150 ml kali 12 pernapasan/ menit atau 4,2 liter/ menit. Semua
proses ini diatur sedemikian sehingga darah yang meninggalkan paru-paru
menerima jumlah tepat CO2 dan O2. Pada waktu gerak badan lebih banyak darah
datang di paru-paru membawa terlalu banyak CO2 dan terlampau sedikit O2.

15
Jumlah CO2 itu tidak dapat dikeluarkan, maka konsentrasinya dalam arteri
bertambah. Hal ini merangsang pusat pernapasan dalam otak untuk memperbesar
kecepatan dan dalamnya pernapasan. Penambahan ventilasi yang dengan demikian
terjadi pengeluaran CO2 dan memungut lebih banyak O2.

Pernapasan Jaringan atau Pernapasan Interna. Darah yang telah


menjenuhkan hemoglobinnya dengan oksigen (oksihemoglobin) mengitari seluruh
tubuh dan mencapai kapiler, dimana darah bergerak sangat lambat. Sel jaringan
memungut oksigen dari hemoglobin untuk memungkinkan oksigen berlangsung
dan darah menerima sebagai gantinya hasil buangan oksidasi yaitu karbondioksida.

Pernapasan interna terjadi proses pertukaran gas pada pernapasan internal


berlangsung di dalam jaringan tubuh. Proses pertukaran oksigen dalam darah dan
karbondioksida tersebut berlangsung dalam respirasi seluler. Setelah
oksihemoglobin (HbO2) dalam paru-paru terbentuk, oksigen akan lepas, dan
selanjutnya menuju cairan jaringan tubuh. Oksigen tersebut akan digunakan dalam
proses metabolisme sel. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.

16
Proses masuknya oksigen ke dalam cairan jaringan tubuh juga melalui proses
difusi. Proses difusi ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan parsial oksigen
dan karbondioksida antara darah dan cairan jaringan. Tekanan parsial oksigen
dalam cairan jaringan, lebih rendah dibandingkan oksigen yang berada dalam
darah. Artinya konsentrasi oksigen dalam cairan jaringan lebih rendah. Oleh
karena itu, oksigen dalam darah mengalir menuju cairan jaringan.

Sementara itu, tekanan karbondioksida pada darah lebih rendah daripada cairan
jaringan. Akibatnya, karbondioksida yang terkandung dalam sel-sel tubuh berdifusi
ke dalam darah. Karbondioksida yang diangkut oleh darah, sebagian kecilnya akan
berikatan bersama hemoglobin membentuk karboksi hemoglobin (HbCO2).
Reaksinya sebagai berikut.

Namun, sebagian besar karbondioksida tersebut masuk ke dalam plasma darah dan
bergabung dengan air menjadi asam karbonat (H2CO3). Oleh enzim anhidrase,
asam karbonat akan segera terurai menjadi dua ion, yakni ion hidrogen (H+) dan
ion bikarbonat (HCO-3).

Persamaan reaksinya sebagai berikut.

CO2 yang diangkut darah ini tidak semuanya dibebaskan ke luar tubuh oleh paru-
paru, akan tetapi hanya 10%-nya saja. Sisanya yang berupa ion-ion bikarbonat
yang tetap berada dalam darah. Ion-ion bikarbonat di dalam darah berfungsi
sebagai buffer atau larutan penyangga. Lebih tepatnya, ion tersebut berperan
penting dalam menjaga stabilitas pH (derajat keasaman) darah.

17
Selanjutnya pernapasan tingkat sel adalah penggunaan O2 oleh sel-sel tubuh untuk
produksi energi dan pelepasan produksi CO2 oleh sel-sel tubuh.

Perubahan- perubahan berikut terjadi dalam komposisi udara dalam alveoli, yang
disebabkan pernapasan eksterna dan pernapasan interna atau penapasan jaringan.

Udara (atmosfer) yang dihirup :

Nitrogen............................................................................................................ 79 %

Oksigen ............................................................................................................ 20 %

Karbondioksida ........................................................................................... 0-0,4 %

Udara yang masuk alveoli mempunyai suhu dan kelembaban atmosfer.

Udara yang dihembuskan

Nitrogen............................................................................................................ 79 %

Oksigen ............................................................................................................ 16 %

Karbon dioksida .......................................................................................... 4-0,4 %

Udara yang dihembuskan jenuh dengan uap air dan mempunyai suhu yang
sama dengan badan (20 persen panas badan hilang untuk pemanasan udara yang
dikeluarkan). Daya Muat Udara oleh Paru-paru. Besarnya daya muat udara oleh
paru-paru ialah 4.500 ml sampai 5.000 ml atau 4,5 sampai 5 liter udara. Hanya

18
sebagian kecil dari udara ini, kira-kira 1/10nya atau 500 ml adalah udara pasang
surut (tidal air), yaitu yang dihirup masuk dan dihembuskan ke luar pada
pernapasan biasa dengan tenang. Kapasitas tidal. Volume udara yang dapat dicapai
masuk dan keluar paru-paru pada penarikan napas dan pengeluaran napas paling
kuat, disebut kapasitas vital paru-paru. Diukurnya dengan alat spirometer. Pada
seorang laki-laki, normal 4-5 liter dan pada seorang perempuan 3-4 liter. Kapasitas
itu berkurang pada penyakit paru-paru , pada penyakit jantung (yang menimbulkan
kongesti paru-paru) dan pada kelemahan otot pernapasan.

a. Transportasi (pertukaran gas)


a) Transportasi Darah pada Paru-Paru dan Keseluruhan Tubuh

b) Transportasi Oksigen
Oksigen tidak terlalu mudah larut dalam air dan tidak cukup mudah dibawa
dalam larutan air sedrehana untuk mempertahankan kehidupan jaringan.
Sehingga sekitar 97% oksigen dalam darah di bawah eritorit yang telah
berkaitan dengan hemoglobin (Hb), 3% sisanya larut dalam plasma.
Hemoglobin merupakan kombinasi antara haeme (suatu ikatan besi-purfirin)
dan globin (suatu protein). Kemudian hemoglobin berikatan dengan oksigen
membentuk oksihemoglobin (HbO2).

19
Setiap molekul dalam keempat molekul besi dalam hemoglobin berikatan
dengan satu molekul oksigen untuk membentuk oksihemoglobin (HbO2) yang
berwarna merah tua. Setiap sel darah merah mengandung 280 juta molekul
hemoglobin dan setiap gram hemoglobin dapat mengikat 1, 34 ml oksigen. Dan
100 ml darah rata-rata mengandung 15 gram hemoglobin untuk maksimum 20
ml O2 per 100 ml darah (15 X 1,34).
Darah arteri secara normal membawa 97% oksigen. Pernapasan dalam atau
menghirup oksigen murni tidak dapat memberi peningkatan yang berarti pada
kejenuhan hemoglobin dengan oksigen. Tetapi menghirup oksigen murni dapat
meningkatkan penghantaran oksigen kedalam jaringan karena volume oksigen
terlarut dalam plasma meningkat.

Dalam darah vena, PO2 mencapai 40 mmhg dan hemoglobin masih 75%
jenuh. Hal ini menunjukkan bahwa, darah hanya melepaskan sekitar
seperempat muatan oksigennya saat melewati jaringan. Hal ini memberikan

20
keamanan yang tinggi jika sewaktu-waktu pernapasan terganggu atau
kebutuhan oksigen jaringan meningkat.

c) Transportasi Karbondioksida

Didalam jaringan tubuh konsentrasi karbondioksida relatif tinggi.


Karbondioksida berkombinasi dengan air dalam korpus sel darah merah untuk
membentuk ion-ion karbonat. Apabila ion-ion bikarbonat mencapai pari-paru
konsentrasi karbondioksida relatif rendah, kemudian terbentuk kembali
karbondioksida dan air. Karbondioksida selanjutnya akan dilepaskan sebagai
gas. Karbondioksida yang berdifusi kedalam darah dari jaringan di bawah ke
paru-paru melalui; sebagian kecil karbondioksida (7% - 8 %) tetap terlarut
dalam plasma, kemudian karbondioksida yang tersisa bergerak kedalam sel
darah merah, dimana 25% nya bergabung dalam bentuk reversibel yang tidak
kuat dengan gugus amino dibagian globin pada hemoglobin untuk membentuk
karbaminohemoglobin.

21
C. Kecepatan dan Pengendalian Pernapasan

Mekanisme pernapasan diatur dan dikendalikan oleh dua faktor utama. (a)
kimiawi, dan (b) pengendalian oleh saraf. Beberapa faktor tertentu merangsang
pusat pernapasan yang terletak di dalam medula oblongata. Dan kalau dirangsang
maka pusat itu mengeluarkan impuls yang disalurkan oleh saraf spinalis ke otot
pernapasan- yaitu otot diafragma dan otot interkostalis.

a. Pengendalian oleh saraf

Pusat pernapasan ialah suatu pusat otomatik di dalam medula oblongata yang
mengeluarkan impuls eferen ke otot pernapasan. Melalui beberapa radix saraf
servikalis impuls ini diantarkan ke diafragma oleh saraf frenikus: dan di bagian
yang lebih rendah pada sumsum belakang, impulsnya berjalan dari daerah torax
melalui saraf interkostalis untuk merangsang otot interkostalis. Impuls ini
menimbulkan kontraksi ritmik pada otot diafragma dan interkostal yang
kecepatan kira-kira lima belas kali setiap menit. Impuls aferen yang dirangsang
oleh pemekaran gelembung udara, diantarkan oleh saraf vagus ke pusat
pernapasan di dalam medula.

Susunan retikularis mempunyai pola aktivitas saraf dengan irama teratur yang
mempertahankan aktivitas berirama dar otot-otot ini. Irama ini dilengkapi dengan
Hering-Breuer yitu reseptor-reseptor yang regang yang terdapat pada parenkim
paru-paru yang memancarkan rangsngan ke medulla oblongata melalui vagus,
pengembangan paru-pru yang cepat menghambat rangsang resprasi. Reseptor
rangsangan di jaringan paru mengirim impuls-impuls melalu nervus vagus ke
batang otak impuls ini menghambat resprasi saat paru-paru dikembangkan, dan
merangsang nspirasi bila paru dkempeskan.

Selain nyeri, dan impuls saraf dari gerakan aggota badan, menyebabkan
peningkatan pada kecepatan dan kedalman pernafasan, karena kerjanya pada
susunan retikular. Beberapa faktor tertentu merangsang pusat pernafasan yng
terletak di dalam medulla oblongata, dan kalau dirangsang maka pusat itu

22
mengeluarkan impuls yang dslurkan oleh srf spinalis ke otot pernafasan yaitu
diagfrgma dan otot interkolastis

Rangsang ritmis (berirama) pada medulla oblongata menimbulakan


pernafasan otomatis. Darah medulla oblongata yang berhubungan dengan
pernafasan secara klasik dinamakan pusat pernafasan. Ada dua kelompok neuron
pernafasan, kelompok sosial yang dekat dengan nukleus traktus solitarius adalah
sumber irama yang mengendalikan neuron motoris phrenieus kontra lateral.
Neuron-neuron ini juga memproyeksikan diri dan mengendalikan golongan
ventral. golongan ini mempuyai memounyai dua bagian, bagoian kranial
dibentuk oleh neuron-neuron niukeus ambigus yang memprersarafi otot-otot
pembantu penafasan ipsilsteral, pada hakekatnya melalui nervus vagus. Bagian
caudal dibentuk oleh neuron-neuron dalam nukleus retroambigualis yang
menyelanggarakan pengendalian inspirasi dan ekspirasi ke neuron-neuron
motoris yang mempersarafi interkostalis. Pernafasan spontan ditimbulkan oleh
rangsang yang ritmis neuron motoris yang mempersarafi otot-otot pernafasan.
Rangsang ini secara keseluruhan tergantung pada impuls-impuls sarf otak.

b. Pengendalian secara kimiawi

Faktor kimiawi ini ialah faktor utama dalam pengendalian dan pengaturan
frekuensi, kecepatan dan dalamnya gerakan pernapasan. Pusat pernapasan di
dalam sumsum sangat peka pada reaksi : kadar alkali darah harus dipertahankan.
Karbondioksida adalah produk asam dari metabolisme, dan bahan kimia yang
asam ini merangsang pusat pernapasan untuk mengirim keluar impuls saraf yang
bekerja atas otot pernapasan.

Latihan menyebabkan peningkatan pada jumlah karbondioksida yang


dihasilkan oleh kerja otot-otot. Peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah,
atau peningkatan konsentrasi ion hdrogen (H) darah, mempunyai efek kuat yang
langsung pada neuron-neuron susunan rerkular yang menyebablan peningkatan
kecepatan dan kedalaman pernafasan dengan peningkatan ekskresi
karbondioksida. Pusat penendalian ada di kemoreseptor yang mendeteksi

23
perubahan kadar oksigen, karbondioksida dan ion hidrogen dlam darah arteri dan
cairan serebrospinalis dan menyebabkan penyesuaian yan tepat antara frekuensi
dan kedalaman respirasi.

a) Kemorseptor sentral

Yaitu neuron yang terletak di permukaan ventral lateral medulla. Peningkatan


kadar karbondioksida dalam darah arteri dan cairan serebrospinalis merangsang
peningkatan frekuensi dan kedalaman respirasi. Penurunan kadar oksigen hanya
berpengaruh pada kemoseptor sentral.

b) Kemorseptor perifer

Terletak di badan aorta dan kartod pada sistem arteri. Kemudian reseptor ini
merespon terhadap perubahan konsentrasi ion oksigen, karbondioksida dan ion
hidrogen.

Contoh, kalau kita melakukan olahraga maka akan terjadi proses pembakaran
di dalam tubuh, hal ini memerlukan oksigen yang sangat besar, maka efek dari
kompensasi tubuh adalah dengan jalan respirasi yang cepat dan dalam untu
menyediakan bahan bakar tersebut, sewaktu kita mulai istirahat maka tubuh akan
kembli normal karena oksigen yang dibutuhkan standar karena pembakaran yang
terjadi tidak terlalu banyak. (standar)

Kedua, pengendalian, melalui saraf dan secara kimiawi adalah penting. Tanpa
salah satunya orang tak dapat bernafas terus. Dalam hal paralisa otot pernapasan
(interkostal, dan diafragma), digunakan ventilasi paru-paru atau suatu alat
pernapasan buatan lainnya untuk melanjutkan pernapasan, sebab dada harus
bergerak supaya udara dapat dikeluarmasukkan paru-paru.

24
Faktor tertentu lainnya menyebabkan penambahan kecepatan dan dalamnya
pernapasan. Gerakan badan yang kuat yang memakai banyak oksigen dalam otot
untuk memberi energi yang diperlukan untuk pekerjaan, akan menimbulkan
kenaikan pada jumlah karbon dioksida di dalam darah dan akibatnya pembesaran
ventilasi paru-paru. Emosi, rasa takut dan sakit misalnya, menyebabkan impuls
yang merangsang pusat pernapasan dan menimbulkan penghirupan udara secara
kuat. Hal yang kita ketahui semua. Impuls aferen dari kulit menghasilkan efek
serupa- bila badan dicelup dalam air dingin atau menerima guyuran air dingin,
maka penarikan napas kuat menyusul. Pengendalian secara sadar atas gerakan
pernapasan mungkin, tetapi tidak dapat dijalankan lama. Oleh sebab gerakannya
adalah otomatik. Suatu usaha untuk menahan napas untuk waktu lama akan gagal
karena pertambahan karbondioksida yang melebihi normal di dalam darah akan
menimbulkan rasa tak enak.

Kecepatan pernapasan pada wanita lebih tinggi daripada pria. Kalau


bernapas secara normal maka ekspirasi akan menyusul inspirasi, dan kemudian
ada istirahat sebentar. Inspirasi-ekspirasi-istirahat. Pada bayi yang sakit urutan ini
ada kalanya terbalik dan urutannya menjadi : innspirasi-istirahat-ekspirasi. Hal ini
disebut pernapasan terbalik.

25
Kecepatan normal setiap menit :

Bayi baru lahir .................................................................................................. 30-40

Dua belas bulan ................................................................................................ 30

Dari dua sampai lima tahun ............................................................................. 24

Orang dewasa ................................................................................................... 10-20

Gerakan pernapasan. Dua saat terjadi sewaktu pernapasan: (a) inspirasi dan (b)
ekspirasi.

a) Inspirasi atau menarik napas adalah proses aktif yang diselengarakan kerja
otot. Kontraksi diafragma meluaskan rongga dada dari atas sampai ke bawah,
yaitu vertikel. Penaikan iga-iga dan sternum, yang ditimbulkan kontraksi otot
interkostalis , meluaskan rongga dada kedua sisi dan dari belakang ke depan.
Paru-paru yang bersifat elastis mengembang untuk mengisi ruang yang
membesar itu dan udara ditarik masuk ke dalam saluran udara. Otot
interkostal eksterna diberi peran sebagai otot tambahan, hanya bila inspirasi
menjadi gerak sadar.
b) Ekspirasi adalah udara dipaksa keluar oleh pengenduran otot dan karena paru-
paru kempis kembali yang disebabkan sifat elastis paru-paru itu. Gerakan ini
adalah proses pasif.

Ketika pernapasan sangat kuat, gerakan dada bertambah. Otot leher dan bahu
membantu menarik iga-iga dan sternum ke atas. Otot sebelah belakang dan
abdomen juga dibawa bergerak, dan alae nasi (cuping atau sayap hidung) dapat
kembang kempis.

Volume udara dalam paru-paru dan kecepatan pertukaran saat inspirasi dan
expirasi dapat diukur melalui spirometer.

1) Volume

26
a. Volume tidal (VT), yaitu volume udara yang masuk dan keluar paru-paru
selama ventilasi normal biasa. Nilai VT pada orang dewasa normal sekitar
500 ml untuk laki-laki dan 380 ml untuk perempuan.
b. Volume cadangan inspirasi (VCI), yaitu volume udara extra yang masuk
ke paru-paru dengan inspirasi maksimum di atas inspirasi tidal. VCI
berkisar 3100 ml pada laki-laki dan 1900 ml pada perempuan.
c. Volume cadangan expirasi (VCE), yaitu volume extra udara yang dapat
dengan kuat dikeluarkan pada akhie ekspirasi tidak normal. VCE berkisar
1200 ml pada laki-laki dan 800 ml pada perempuan.
d. Volume residual (VR), yaitu volume udara sisa dalam paru-paru setelah
melakukan expirasi kuat. Rata-rata pada laki-laki sekitar 1200 ml dan
pada perempuan 1000 ml. Volume residual penting untuk kelangsungan
aerasi dalam darah saat jeda pernapasan.
2) Kapasitas
a. Kapasitas residual fungsional (KRF) adalah penambahan volume residual
dan volume cadangan expirasi. Kapasitas ini merupakan jumlah udara sisa
dalam sistem respiratorik setelah ekspirasi normal. Nilai rata-ratanya
adalah 2200 ml. Jadi, nilai (KRF = VR + VCE).
b. Kapasitas Inspirasi (KI), adalah penambahan volume tidal dan volume
cadangan inspirasi. Nilai rata-ratanya adalah 3500 ml. Jadi, nilai (KI = VT
+ VCI).
c. Kapasitas vital (KV), yaitu penambahan volume tidal, volume cadangan
inspirasi dan volume cadangan ekspirasi. (KT = VT + VCE). Nilai rata-
ratanya sekitar 4500 ml.
d. Kapasitas total paru-paru (KTP) adalah jumlah total udara yang dapat
ditampung dalam paru-paru dan sama dengan kapasitas vital ditambah
volume residual (KTP = KV + VR). Nilai rata-ratanya adalah 5700 ml.

Inspirasi atau menarik nafas adalah proses aktif yang diselenggarakan oleh
kerja otot. Kontraksi diafragma meluaskan rongga dada dari atas sampai bawah,
yaitu vertikal. Penaikan iga-iga dan sternum yang ditimbulkan oleh kontraksi otot

27
interkostalis, meluaskan rongga dada ke dua sisi dan dari belakang ke depan.
Paru-paru yang bersifat elastik mengembang untuk mengisi ruang yang membesar
itu dan udara ditarik masuk ke dalam saluran udara. Otot interkostal eksterna
diberi peran sebagai otot tambahan, hanya bila inspirasi menjadi gerak sadar.

Pada ekspirasi, udara dipaksa keluar oleh pengendoran otot dan karena paru-
paru kempes kembali, disebabkan sifat elastik paru-paru itu. Gerakan ini adalah
proses pasif. Ketika pernapasan sangat kuat, gerakan dada bertambah. Otot leher
dan bahu membantu menarik iga-iga dan sternum ke atas. Otot sebelah belakang
dan abdomen juga dibawa bergerak dan alae nasi (cuping atau sayap hidung)
dapat kembang kempis.

Kebutuhan tubuh akan oksigen. Dalam banyak keadaan, termasuk yang


telah disebut, oksigen dapat diatur menurut keperluan. Orang tergantung pada
oksigen untuk hidupnya, kalau tidak mendapatkannya selama lebih dari empat
menit akan menyebabkan kerusakan pada otak yang tak dapt diperbaiki dan
biasanya pasien meninggal. Tetapi bila penyediaan oksigen hanya berkurang,
maka pasien menjadi kacau pikiran (menderita anoxia serebralis).

D. Gangguan dan Penyakit Sistem Pernapasan

Gangguan pada sistem respirasi merupakan penyebab utama morbiditas dan


mortalitas. Infeksi pada saluran pernapasanjauh lebih sering terjadi dibandingkan
dengan infeksi pada sistem organ tubuh lain, dan berkisar dari selesma biasa
(common cold) dengan gejala-gejala serta gangguan yang relatif ringan sampai
pneumonia berat. Pada tahun 1980 tercatat sekitar 101.000 meninggal karena
kanker paru-paru. Ternyata kanker paru-paru merupakan penyebab utama dari
kematian akibat kanker pada pria dewasa di Amerika Serikat. Sekarang ini
jumlahnya terus meningkat terus dengan kecepatan yang sangat mengejutkan
yaitu sampai 25 kali lebih menonjol dibandingkan 45 tahun yang lalu. Pada
wanita dewasa kematian akibat kanker paru-paru telah meningkat terus dengan
mantap, sehingga sekarang ini merupakan penyebab kematian keempat dari
kematian akibat kanker (American Cancr Society, Cancer Facts and Figures,

28
1980). Insiden penyakit respirasi kronik, terutama enfisema paru-paru dan
bronkhitis koroniks semakin meningkat dan sekarang merupakan penyebab utama
dari gangguan serta cacat kronis pada pria.

Karena penyakit pernapasan ini mempunyai pengaruh yang kuat terhadap


masyarakat secara keseluruhan, baik fisik, sosial, maupun ekonomi, maka
pencegahan, diagnosis, dan pengobatan gangguan pernapasan mempunyai makna
yang penting sekali.

1. Infeksi

Berbagai janis infeksi oleh kuman dapat menyerang alat-alat pernapasan


mulai dari hidung sampai paru-paru. Infeksi hidung sering disebabkan oleh virus
influenza dengan gejala hidung tersumbat atau banyak keluarnya lendir,
pembengkakan selaput lendir ronga hidung dapat menybabkan penyumbatan.
Apabila infeksi tersebut meluas ke belakang sampai nasofaring kadang-kadang
dapat menyumbat muara saluran Eustachius yang berhubungan dengan rongga
telinga tengah. Gejala utama yaitu sakit tenggorok, terutama pada waktu
menelan, batuk dan dapat mengganggu bergetarnya pita suara sehingga
mengubah suara menjadi parau.

Apabila infeksi menyerang bronkus, maka penyakit yang diderita dinamakan


bronkhitis. Penyakit ini dapat memberikan gejala batuk-batuk dengan disertai
lendir. Sedang infeksi yang menyerang paru-paru sering disebabkan oleh bakteri
kokus dan tbc. Radang-radang paru-paru dinamankan pnemoni. Karena alveolus
banyak berisi oleh lendir, maka sering penderita mengeluh sesak napas.
Kurangnya oksigen dapat menimbulkan warna biru pada wajah penderita
pnemoni anak-anak.

2. Asma

Asma adalah penyakit yang menyerang cabang-cabang halus bronkus yang


sudah tidak memiliki kerangka cincin-cincin tulang rawan, sehingga terjadi
penyempitan yang mendadak. Akibatnya penderita sesak napas, sehingga untuk

29
membantu pernapasan seluruh otot-otot pernapasan difungsikan secara
maksimal. Penyebab asma adalah alergi atau pka terhadp berbagai bahan seperti
: butir-butir sari bunga, bulu kucing, spora jamur dan sebagainya. Pada waktu
serangan asma, sering ekspirasi disertai bunyi “ngiiik, ngiik” yang panjang,
karena udara yang dihembuskan keluar melalui pipa yang sangat sempit.

3. Tenggelam

Sering terdengar berita terhadinya kecelakaan tnggelamnya orang-orang yang


tidak pandai berenang di sungai atau danau atau laut. Pada saat tenggelam,
karena adanya refleks inspirasi, maka air masuk saluran pernapasan dan paru-
paru. Apabila korban ini berhasil ditlong dan dapat dikeluarkan airnya dari paru-
paru, maka korban dapat selamat, walaupun masih mendapatkan resiko akan
terserang infeksi pada saluran prnapasan dan paru-paru.

4. Pneumonia Lobaris

Pada pneumonia lobaris daerah yang terkena tampak terbendung dan difusi
tak berjalan. Kecepatan pernapasan bertambah dalam usaha jaringan paru-paru
untuk mengisi kekurangan dari kgagalan-kegagalan pada jaringan yang terkena
kongesti.

5. Bronkhitis

Seperti juga pneumonia, baik ventilasi maupun difusi gas tak berjalan karena
pembengkakan lapisan membran menghalangi udara masuk ke dalam paru-paru.
Bronkhitis kronika dapat menimbulkan komplikasi emfisema bila udara tertahan
di dalam jaringan paru-paru, karena jaringan yang bersifat elastis dari sel udara
yang halus mengalami degenerasi alveoli, tetap mekar dan permukaannya yang
seperti membran juga tak dapat menjalankan difusi gas.

6. Laringitis

Disebabkan oleh infeksi mikroorganisme atau olh asap rokok. Laringitis


sering menimbulkan gejala suara parau karena pembengkakan dari pita suara.

30
Seorang perokok lebih berpeluang menderita laringitis kronis yang kemudian
dapat tumbuh mnjadi kanker laring.

7. Emfisema

Merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku, mengembang, dan terus


menerus terisi udara walaupun setelah ekspirasi. Sering alveoli-alveoli ini
bersatu menjadi satu alveoli yang lebih besar. Dengan demikian rongga dada
tetap banyak berisi udara walaupun telah terjadi ekspirasi dan pertukaran udara
akan terganggu. Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya emfisema adalah
polusi udara, asap rokok, dan seorang penderita asma akan lebih mudah terkena
penyakit emfisema.

8. Sinusitis

Terjadi akibat peradangan sinus paranasalis. Gejalanya berupa hidung


tersumbat, ingus berbau berwarna kuning hijau, dan sakit di darah sinus yang
terserang.

9. Salesma

Penyakit yang disebabkan oleh berbagai jenis virus yang menginfeksi saluran
pernapasan trutama bagian atas (hidung, faring, laring, dan bronkus). Masa
inkubasi 1-3 hari. Geja-gejalanya berupa lesu, pilek, dan perasaan tak enak di
tenggorokan. Suhu tubuh biasanya normal, kecuali pada anak-anak dapat
meningkat mencapai 38-39oC. Pilek mula-mula bersifat cair kemudian menjadi
kental dan kehijauan, batuk berdahak sering timbul. Salesma atau koriza kadang-
kadang diikuti oleh infksi bakteri sekunder, misalnya menimbulkan penyakit
sinusitis, otitismedia, dan bronkhitis. Pada penderita asma koriza sering
menimbulkan serangan sesak napas. Penularannya melalui udara pernapasan
(bersin, batuk, percikan ludah) dan kontak dari tangan yang terkontaminasi ke
hidung.

31
10. TBC paru-paru

Merupakan infeksi jaringan paru-paru oleh bakteri Mycobacterium


tuberculosa. Bakteri ini ditularkan bersama udara inspirasi, kemudian merusak
jaringan paru-paru sehingga paru-paru menjadi berongga dan terbentuk jaringan
ikat di paru-paru. Zat gizi yang buruk, usia tua, hidup di tempat tinggal yang
brdmptan, sosial ekonomi yang rendah merupakan faktor-faktor yang
mempermudah trjangkitnya TBC paru-paru. Gejala-gejalanya berat badan
menurun secra drastis, badan lesu, batuk berdahak kadang berdarah, sesak napas,
sakit dada, dan sering berkringat di malam hari.

11. Kanker paru-paru (Bronkogenik Kersinoma)

Berasal dari sl-sel epitelium bronkus. Polusi udara pernapasan sangat


berperan terhadap terjadinya penyakit ini. Polutan penyebab kanker yang paling
sering adalah asap rokok, asap atau debu yang berhubungan dengan pekerjaan
misalnya asbes, kroin, nikel, gas racun, eter dan asap batubara. Kemungkinan
terkena kanker paru-paru pada perokok adalah 20 kali lebih tinggi dibanding
dengan bukan perokok. Pada kanker paru-paru, sel-sel kanker menyebar di
permukaan bronkus dan menjalar ke bagian tubuh lainnya. Gejalanya batuk
kronis dengan dahak berdarah, napas sering berbunyi karena penyumbatan dan
infeksi paru-paru. Juga sering terdapatnya cairan di rongga pleura dan metastase
ke otak, hati dan tulang.

12. Pneumotoraks

Tekanan rongga pleura dalam keadaan normal lebih rendah dari tekanan
atmosfer 754-757 mm/Hg. Jika dinding dada terluka menembus pleura dengan
rongga pleura, tekanan rongga pleura naik menjadi 760 mm/Hg dan paru-paru
yang bersangkutan akan jatuh karena elastisnya. Dengan demikian terdapat
udara bebas di dalam rongga pleura yang disebut pneumotoraks. Pneumotoraks
juga terjadi bila pleura viseralis terobek atau tertembus misalnya oleh pcahnya
alveoli baik pada emfisema atau pada penyakit TBC. Gejalanya berupa sakit
dada, sesak napas dan batuk-batuk.

32
13. Rinitis

Peradangan selaput lendir hidung dengan tanda-tanda pembengkakan


(oedema), pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi), selaput lendir, beringus dan
hidung tersumbat, bersin, gatal pada hidung dan mata. Rinitis dapat berakibat
akut, misalnya pada penyakit salesma yang disebabkan oleh virus atau bakteri
seperti streptococcuc pneumococcus. Rinitis dapt bersifat menahun (kronis)
yang dapat disebabkan oleh :

a. Bakteri, misalnya bakteri TBC dan sifilis

b. Alergik yang diinduksi oleh alergen, misalnya debu rumah, sebuk sari bunga
(polen). Rinitis jenis ini dapat mnyebabkan polip hidung.

14. Sianosis

Warna kebiru-biruan pada ujung jari, bibir dan kulit menunjukan


meningkatnya konsentrasi hemoglobin yang kekurangan O2 akibat kegagalan
fungsi paru-paru.

15. Polisitemia

Kekurangan oksigen dalam darah yang kronis akibat kegagalan paru-paru


akan menyebabkan peningkatan jumlah sel-sel darah merah.

16. Oskoartropati

Pada penderita penyakit paru-paru yang kronis, tampak perubahan tulang dan
jaringan lemak anggota badan (tangan dan kaki) yang ditandai oleh ujung jari-
jari tangan dan kaki yang membesar.

17. Batuk

Ini merupakan gejala yang mungkin paling umum yang bisa timbul pada
penyakit tenggorokan sampai penyakit cabang tenggorokan. Batuk ini bisa
kering atau berlendir.

33
18. Sesak Napas

Ini merupakan akibat kurangnya ventilasi, misalnya akibat penyumbatan jalan


napas atau kurangnya gerakan pernapasan, dan atau akibat bendungan karena
kelemahan jantung.

19. Keluar Lendir

Dapat keluar bersama batuk pada peradangan atau infeksi. Kadar kekenyalan,
warna, dan bau lendir tergantung pada penyakitnya.

20. Napas Berbunyi

Merupakan gejala yang khas pada ppenyakit penyumbatan atau penyempitan


jalan napas.

21. Nyeri Dada

Merupakan gejala gangguan pada pleura bagian dalam yang biasanya akan
bertambah ketika batuk, bersin atau menarik napas dalam-dalam.

22. Asbestosis

Asbestosis adalah suatu penyakit saluran pernapasan yang terjadi akibat


menghirup serat-serat asbes, dimana pada paru-paru terbentuk jaringan parut
yang luas. Asbestos terdiri dari serat silikat mineral dengan komposisi kimiawi
yang berbeda. Jika terhisap, serat asbes mengendap di dalam dalam paru-paru,
menyebabkan parut. Menghirup asbes juga dapat menyebabkan penebalan pleura
(selaput yang melapisi paru-paru). Menghirup serat asbes bisa menyebabkan
terbentuknya jaringan parut (fibrosis) di dalam paru-paru. Jaringan paru-paru
yang membentuk fibrosis tidak dapat mengembang dan mengempis sebagaimana
mestinya. Beratnya penyakit tergantung kepada lamanya pemaparan dan jumlah
serat yang terhirup. Gejala asbestosis muncul secara bertahap dan baru muncul

34
hanya setelah terbentuknya jaringan parut dalam jumlah banyak dan paru-paru
kehilangan elastisitasnya.

23. Flu burung

Flu burung atau avian influenza adalah penyakit menular yang disebabkan
oleh virus yang biasanya menjangkiti burung dan mamalia. Penyebab flu burung
adalah virus influensa tipe A yang menyebar antar unggas. Virus ini kemudian
ditemukan mampu pula menyebar ke spesies lain seperti babi, kucing, anjing,
harimau, dan manusia. Virus ini dapat menular melalui udara ataupun kontak
melalui makanan, minuman, dan sentuhan. Namun demikian, virus ini akan mati
dalam suhu yang tinggi. Oleh karena itu daging, telur, dan hewan harus dimasak
dengan matang untuk menghindari penularan. Kebersihan diri perlu dijaga pula
dengan mencuci tangan dengan antiseptik. Kebersihan tubuh dan pakaian juga
perlu dijaga. Virus dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Bahan makanan yang
didinginkan atau dibekukan dapat menyimpan virus. Tangan harus dicuci
sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah. Unggas
sebaiknya tidak dipelihara di dalam rumah atau ruangan tempat tinggal.
Peternakan harus dijauhkan dari perumahan untuk mengurangi risiko penularan.
Gejala umum yang dapat terjadi adalah demam tinggi, keluhan pernafasan dan
(mungkin) perut. Perkembangan virus dalam tubuh dapat berjalan cepat
sehingga pasien perlu segera mendapatkan pengobatan.

24. Flu babi (Swine influenza)

Flu babi adalah kasus-kasus influensa yang disebabkan oleh virus


Orthomyxoviridae yang biasanya menyerang babi. Flu babi menginfeksi
manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan
dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke
manusia. Gejala virus termasuk demam, disorientasi, kekakuan pada sendi,
muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian.
Menurut Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, gejala
influensa ini mirip dengan influensa. Gejalanya seperti demam, batuk, sakit pada

35
kerongkongan, sakit pada tubuh, kepala, panas dingin, dan lemah lesu. Beberapa
penderita juga melaporkan buang air besar dan muntah-muntah.

36
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
1. Saluran pernapasan pada manusia diantaranya hidung, saluran pernapasan
(farink, larink, trakea, bronkus) dan paru-paru.
2. Gerakan pernapasan ada 2 yaitu inspirasi dan ekspirasi.
a. Saat Inspirasi atau menarik napas adalah proses aktif yang
diselengarakan kerja otot. Kontraksi diafragma meluaskan rongga dada
dari atas sampai ke bawah, yaitu vertikel. Penaikan iga-iga dan
sternum, yang ditimbulkan kontraksi otot interkostalis, meluaskan
rongga dada kedua sisi dan dari belakang ke depan. Paru-paru yang
bersifat elastis mengembang untuk mengisi ruang yang membesar itu
dan udara ditarik masuk ke dalam saluran udara. Otot interkostal
eksterna diberi peran sebagai otot tambahan, hanya bila inspirasi
menjadi gerak sadar.
b. Ekspirasi, udara dipaksa keluar oleh pengenduran otot dan karena
paru-paru kempis kembali yang disebabkan sifat elastis paru-paru itu.
Gerakan ini adalah proses pasif.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pernapasan pada manusia antara lain;
usia, jenis kelamin, aktivitas, kondisi psikologis, dan ada atau tidaknya
cidera maupun gangguan pada pernapasan.
4. Gangguan pada sistem pernapasan diantaranya : infeksi, asma, tenggelam,
laringitis, salesma, rinitis, sianosis, polisitema, oskoartropi, batuk, keluar
lendir, nyeri dada, nafas berbunyi, tubeculosa, bronkitis, dieptri, asfiksia,
enfisema paru, pneumonia, asbestosis, flu burung, flu babi, dan kanker
paru-paru.

37
DAFTAR PUSTAKA

Hedisasrawan. 2013. Sistem pernapasan pada manusia.


http://hedisasrawan.blogspot.co.id. Diakses 20 September 2016 Pukul 20.50
WIB.

Irianto, Kus. 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis.
Bandung : CV. Vrama Widya.

Pearce C. Evelyn. 2015. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT


Gramedia Pustaka Utama.

Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Yogyakarta : Graha Ilmu.

38