Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP BILANGAN BERPANGKAT BERDASARKAN

TEORI APOS BAGI SISWA KELAS X ADMINISTRASI PERKANTORAN III


SMK NEGERI 1 SALATIGA TAHUN PELAJARAN 2016/2017

JURNAL

Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai Gelar Sarjana Pendidikan


Program Studi Pendidikan Matematika

Oleh
LAMTIAR FRAMIKA SILALAHI
202009107

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2016
ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP BILANGAN BERPANGKAT
BERDASARKAN TEORI APOS BAGI SISWA KELAS X
ADMINISTRASI PERKANTORAN III SMK NEGERI 1 SALATIGA
TAHUN AJARAN 2016/2017

Lamtiar Framika Silalahi1, Tri Nova Hasti Yunianta2


Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro 52 – 60 Salatiga 50711
1
Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UKSW, email:lamtiarsigiro46@gmail.com
2
Dosen Pendidikan Matematika FKIP UKSW, email: trinova.yunianta@staff.uksw.edu

Abstrak

Hasil ulangan siswa pada materi bilangan berpangkat kelas X Administrasi Perkantoran III SMK Negeri 1
Salatiga tahun ajaran 2016/2017 menyatakan 84% siswa tidak lulus. Hasil ini terjadi diduga oleh karena
kemampuan siswa dalam memahami konsep materi matematika masih kurang. Tujuan penelitian ini adalah
perlu melihat lebih lanjut tentang pemahaman siswa kelas X Administrasi Perkantoran III SMK Negeri 1
Salatiga berdasarkan teori APOS terhadap konsep bilangan berpangkat yang terdiri dari topik bilangan
berpangkat dan topik sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat. Teori APOS mengasumsikan bahwa
konsep matematika yang dimiliki oleh seseorang merupakan hasil interaksi dengan orang lain dan hasil
konstruksi-konstruksi mental dalam memahami ide-ide matematika. Konstruksi-konstruksi mental tersebut
adalah aksi, proses, objek, skema yang disingkat dengan APOS. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif
kualitatif untuk mendeskripsikan kemampuan pemahaman siswa. Subyek penelitian ini adalah 2 siswa yang
sudah mempelajari materi bilangan berpangkat sebelumnya. Instrumen penelitian ini menggunakan instrument
tes dan lembar pedoman wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tahap pemahaman kedua siswa
tentang materi bilangan berpangkat berada pada tahap objek.

Kata kunci: Analisis, Pemahaman, APOS

PENDAHULUAN
Belajar matematika dengan pemahaman konsep memerlukan daya nalar yang tinggi
dikarenakan objek matematika yang bersifat abstrak, sehingga belajar matematika harus
diarahkan pada pemahaman konsep-konsep yang akan mengantarkan individu untuk berpikir
secara matematis dengan jelas dan pasti berdasarkan aturan-aturan yang logis dan sistematis
(Hudojo, 1993). Pencapaian pemahaman suatu konsep matematika bukan suatu hal yang
mudah, dikarenakan kemampuan dalam memahami suatu konsep matematika setiap individu
berbeda-beda. Proses belajar matematika di kelas pada saat ini masih cenderung berlangsung
satu arah yaitu guru lebih memfokuskan diri pada upaya penuangan pengetahuan kepada para
siswa. Guru mendominasi kegiatan di kelas, pembelajaran hanya terpusat pada guru sehingga
tidak terjadi interaksi yang baik antara siswa dengan siswa, dan orientasi guru lebih banyak
tercurah pada target tercapainya materi pembelajaran. Proses belajar matematika yang
dilakukan secara terisolasi tidak memberikan hasil yang positif. Pembelajaran matematika
harus dihayati dan ditekankan untuk menanamkan konsep matematika berdasarkan
pemahaman, karena pemahaman merupakan kemampuan untuk menangkap makna dan arti
dari bahan yang dipelajari, sehingga pemahaman memudahkan terjadinya transfer (Hiebert
dan Carpenter, 1992).
Keberhasilan siswa dalam memaknai dan memahami suatu konsep matematika perlu
diupayakan. Konsep bilangan berpangkat (eksponen) sebelumnya telah dipelajari siswa di
tingkat SD sehingga dapat membantu siswa kelas X SMK (sekolah Menengah Kejuruan)
semester satu untuk mencapai pemahaman konsep bilangan berpangkat. Kurangnya
pemahaman konsep bilangan berpangkat tentunya akan mempengaruhi bagaimana siswa
menerapkan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataannya bilangan berpangkat
masih sulit dipahami oleh siswa karena siswa masih belum memahami konsep. Hasil ulangan
siswa pada materi bilangan berpangkat kelas X Administrasi Perkantoran III SMK Negeri 1
Salatiga tahun ajaran 2016/2017 menyatakan 84% siswa tidak lulus. Hasil ini terjadi diduga
oleh karena kemampuan siswa dalam memahami konsep materi matematika masih kurang.
Guru mengharapkan pemahaman yang dicapai siswa tidak terbatas pada pemahaman
yang bersifat menghubungkan, akan tetapi diharapkan pemahaman matematis siswa penting
dalam mempelajari matematika secara bermakna. Purwanto (1994) mengemukakan
pemahaman adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti
atau konsep situasi serta fakta yang diketahui. Virlianti (2002) menyatakan pemahaman
adalah konsepsi yang bisa dicerna atau dipahami oleh siswa sehingga siswa mengerti apa
yang dimaksudkan, mampu menemukan cara untuk mengungkapkan konsepsi tersebut, serta
dapat mengeksplorasi kemungkinan yang terkait. Derajat pamahaman ditentukan oleh tingkat
keterkaitan suatu gagasan, prosedur atau fakta matematika dipahami secara menyeluruh jika
hal-hal tersebut membentuk jaringan dengan keterkaitan yang tinggi. Siswa dikatakan
memahami sesuatu jika siswa telah dapat mengorganisasikan dan mengutarakan kembali apa
yang dipelajari siswa dengan menggunakan kalimat siswa itu sendiri. Siswa tidak hanya
dapat mengingat dan menghafal informasi yang telah diperoleh, melainkan siswa harus dapat
memilih dan mengorganisasikan informasi tersebut. Pemahaman bukan hanya sekedar
mengingat fakta, akan tetapi berkenaan kemampuan menjelaskan, menerangkan, menafsirkan
atau kemampuan menangkap makna atau arti suatu konsep (Sanjaya, 2008).
Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman, melalui generalisasi dan bersifat
abstrak. Menurut Gagne (Suherman, 2003) mengemukakan bahwa konsep adalah ide abstrak
yang memungkinkan siswa dapat mengklarifikasikan atau mengelompokkan objek atau
kejadian ke dalam contoh dan bukan contoh. Depdiknas (2003) berpendapat konsep diartikan
sebagai ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan sekumpulan objek. Siswa
dapat mengembangkan suatu konsep ketika siswa telah mampu mengelompokkan objek atau
kejadian serta dapat mengasosiasikan suatu nama dengan kelompok objek atau kejadian
tertentu. Menanamkan pemahaman konsep terhadap siswa merupakan bagian yang sangat
penting dalam proses pembelajaran matematika, karena dengan memahami konsep akan
memudahkan siswa dalam mempelajari matematika. Menurut Skemp dan Pollatsek
(Sumarmo, 1987) terdapat dua jenis pemahaman konsep yaitu pemahaman instrumental dan
pemahaman rasional. Pemahaman instrumental dapat diartikan sebagai pemahaman atas
konsep yang saling terpisah dan hanya rumus yang dihafalkan dalam melakukan perhitungan
sederhana, sedangkan pemahaman rasional termuat satu skema atau struktur yang dapat
digunakan pada penyelesaian masalah yang lebih luas. Siswa yang memahami suatu konsep
matematika jika siswa telah mampu mendefinisikan, mengidentifikasi, memberi contoh dan
bukan contoh dari suatu konsep matematika serta mampu mengembangkan kemampuan
koneksi matematika antar berbagai ide dan memahami ide-ide matematika yang saling terkait
satu dengan yang lain sehingga terbangun pemahaman secara menyeluruh. Pemahaman
terhadap suatu konsep dapat berkembang dengan baik jika konsep yang paling umum
disajikan terlebih dahulu dan dapat sebagai jembatan antar informasi baru dengan informasi
yang telah ada pada kognitif siswa. Menurut Ausabel (Andriyani, 2008) informasi yang
dipelajari siswa disusun sesuai dengan kognitif yang dimiliki siswa sehingga siswa dapat
mengkaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Oleh karena itu,
untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap konsep matematika dibutuhkan suatu
pemecahan permasalahan yaitu melalui suatu analisis dekomposisi genetik sebagai
operasionalisasi dari teori APOS (Action, Process, Object, and Schema).
Dubinsky & Tall (1991) berpendapat pemahaman terhadap suatu konsep matematika
yang dimiliki oleh seseorang merupakan hasil interaksi dengan orang lain dan hasil
konstruksi-konstruksi mental orang tersebut dalam memahami ide-ide matematika.
Konstruksi-konstruksi mental tersebut adalah aksi (action), proses (process), objek (object),
skema (schema) yang disingkat dengan APOS. Sejumlah kontruksi merupakan rekonstruksi
dari sesuatu yang sudah ada, tetapi rekontruksinya tidak persis sama seperti yang sudah ada
sebelumnya. Sependapat dengan Dubinsky & Tall (1991), Asiala, dkk (1997)
mengungkapkan bahwa teori APOS adalah sebuah teori untuk mempelajari bagaimana
seseorang belajar suatu konsep matematika. Teori APOS dapat digunakan sebagai suatu alat
analisis untuk mendeskripsikan perkembangan skema seseorang pada suatu topik matematika
yang merupakan totalitas suatu pengetahuan yang saling terkait (secara sadar atau tidak
sadar) terhadap topik tersebut sehingga dapat digunakan untuk menginterpretasikan tahap
pemahaman siswa melalui empat tahap yaitu tahap aksi, tahap proses, tahap objek dan tahap
skema.
Suryadi (2011) menjelaskan teori APOS adalah sebuah teori konstruktivisme tentang
bagaimana seseorang belajar memahami konsep matematika. Pembelajaran dengan
menggunakan teori APOS menekankan pada perolehan pengetahuan melalui konstruksi
mental. Konstruksi mental dalam teori APOS adalah terbentuknya aksi, yang direnungkan
menjadi proses, selanjutnya dirangkum menjadi objek, objek dapat diuraikan kembali
menjadi proses. Akhirnya aksi, proses, dan objek dapat diorganisasikan menjadi suatu skema
untuk memecahkan masalah matematika. Berikut ini akan diberikan gambaran secara singkat
aplikasi kerangka kerja teori APOS dengan menggunakan analisis dekomposisi genetik yang
diartikan sebagai analisis pemahaman siswa dalam merespon suatu masalah tentang konsep
bilangan berpangkat berdasarkan teori APOS.
1. Aksi
Suryadi (2011) berpendapat aksi adalah suatu transformasi objek-objek mental untuk
memperoleh objek mental lainnya. Seseorang yang mengalami suatu aksi, apabila orang
tersebut memfokuskan proses mentalnya pada upaya untuk memahami suatu konsep yang
diberikan.
Misalkan: Siswa diberikan soal, “Berapakah hasil dari . . . ?”.
Aksi siswa terhadap soal tersebut adalah siswa akan mencoba memahami suatu konsep yang
diberikan atau pengertian terhadap soal tersebut. Pengertian dari suatu bilangan berpangkat
secara umum seperti dan
2. Proses
Suryadi (2011) menyatakan berbeda dengan aksi yang dapat terjadi manipulasi benda
atau sesuatu yang bersifat konkrit, proses terjadi secara internal di bawah kontrol individu
yang melakukannya. Seseorang dikatakan mengalami suatu proses tentang sebuah konsep,
apabila berpikirnya terbatas pada ide matematika yang dihadapinya serta ditandai dengan
munculnya kemampuan untuk melakukan refleksi terhadap ide matematika tersebut.
Misalkan: Berapakah hasil dari ...?
Siswa tidak melakukan aksi dalam menginteriorisasikan pencarian hasil perkalian bilangan
berpangkat, siswa akan melakukan aksi tersebut dalam imajinasi serta dapat menjelaskan
proses mencari perkalian bilangan berpangkat tersebut, meskipun siswa masih menggunakan
definisi dari suatu bilangan berpangkat secara umum, sehingga dapat dinyatakan bahwa

3. Objek
Suryadi (2011) menyatakan bahwa seseorang dikatakan telah memiliki konsepsi objek
dari suatu konsep matematika apabila seseorang telah mampu memperlakukan ide atau
konsep tersebut sebagai sebuah objek kognitif yang mencakup kemampuan untuk melakukan
aksi atas objek tersebut, serta memberikan alasan atau penjelasan tentang sifat-sifatnya.
Selain itu individu itu telah mampu melakukan penguraian kembali suatu objek yang
dimaksud dan digunakan.
Misalkan: Berapakah hasil dari ...?
Siswa yang telah mampu memperlakukan/memahami ide atau konsep bilangan berpangkat
sebagai objek, siswa akan dapat menjelaskan bahwa penentu dari perkalian bilangan
berpangkat diperoleh dengan hanya menjumlahkan pangkatnya saja, dikarenakan bilangan
pokoknya sama, maka dapat ditentukan dengan menggunakan rumus yang didapat dari
definisi perkalian bilangan berpangkat yang bilangan pokoknya sama yaitu

4. Skema
Suryadi (2011) menyatakan bahwa suatu skema dari suatu materi matematika tertentu
adalah suatu koleksi aksi, proses, objek, skema lainnya yang saling terhubung sehingga
membentuk suatu kerangka kerja saling terkait di dalam pikiran atau otak seseorang.
Misalkan: Berapakah hasil dari ...?
Siswa yang telah mampu mentematisasikan bilangan berpangkat serta dapat menjelaskan
bahwa penentu perkalian bilangan berpangkat yang bilangan pokoknya sama tersebut
merupakan proses mencari perkalian bilangan berpangkat. Perkalian bilangan berpangkat
yang bilangan pokoknya sama merupakan salah satu sifat-sifat pengoperasian bilangan
berpangkat, dan siswa mampu mengkaitkan pemahaman konsep bilangan berpangkat dengan
konsep matematika lainnya yaitu bentuk akar.
Keempat komponen dari teori APOS yaitu aksi, proses, objek, dan skema telah dibahas
pengertiannya secara berurutan karena setiap pembahasan satu komponen saling berkaitan
dengan komponen yang lainnya, namun pada kenyataannya ketika seseorang
mengembangkan pemahamannya terhadap suatu konsep matematika, konstruksi-konstruksi
tersebut tidaklah selamanya dilakukan secara linear (Nurdin, 2005). Misalnya, ketika
seseorang dihadapkan pada suatu bilangan berpangkat dan sifat-sifat pengoperasian bilangan
berpangkat, maka kemungkinan seseorang tersebut tidak mulai dari tahap aksi tapi mulai dari
tahap objek kemudian baru tahap lainnya.
Kerangka teori APOS sangat berguna dalam menganalisis kemampuan pemahaman
siswa bagaimana pemahaman siswa mempelajari konsep-konsep matematika. Menggunakan
teori APOS untuk mengetahui tahap pemahaman siswa tentang konsep materi bilangan
berpangkat akan sangat menolong guru dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih
efektif sehingga masalah pemahaman konsep siswa terhadap materi bilangan berpangkat
dapat diatasi. Berdasarkan uraian diatas, maka penting untuk dilakukan penelitian tentang
analisis pemahaman siswa kelas X Administrasi Perkantoran III SMK Negeri 1 Salatiga
terhadap konsep bilangan berpangkat berdasarkan teori APOS.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang
memiliki karakteristik bersifat deskriptif atau sering disebut penelitian deskriptif kualitatif.
Penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk memperjelas fenomena dan mengumpulkan
data dengan sedalam-dalamnya (Sugiyono, 2012). Data yang dikumpulkan dalam penelitian
ini yaitu menjelaskan cara-cara yang digunakan siswa dalam menyelesaikan soal-soal uraian
serta menganalisis tahap pemahaman konsep bilangan berpangkat berdasarkan kerangka teori
APOS bagi siswa kelas X Administrasi Perkantoran III SMK Negeri 1 tahun ajaran
2016/2017 Salatiga.
Instrumen dalam penelitian ini berupa 7 soal tes uraian yaitu terdiri dari 4 soal uraian
bilangan berpangkat yaitu soal nomor 1 sampai nomor 4 sedangkan 3 soal uraian sifat-sifat
pengoperasian bilangan berpangkat yaitu soal nomor 5 sampai nomor 7. Subjek juga
diwawancarai untuk menggali pemahaman subjek tentang jawaban-jawaban yang sudah
dituliskan subjek pada lembar jawab siswa. Kisi-kisi instrumen pemahaman siswa tentang
bilangan berpangkat berdasarkan kerangka teori APOS dapat dilihat sebagai berikut.
Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen Pemahaman Siswa tentang Bilangan Berpangkat
Berdasarkan Kerangka Teori APOS.

Kerangka
Topik Teori Indikator Butir soal
APOS
Siswa dapat:
Bilangan Aksi  Membedakan suatu bilangan berpangkat positif dengan 1
Berpangkat bilangan lainnya (bilangan berpangkat negatif, bilangan
berpangkat nol, serta bilangan berpangkat pecahan) dengan
memperhatikan bentuk dari beberapa pemangkatan dari
suatu bilangan berpangkat.
 Menyatakan perbedaan bentuk bilangan berpangkat antara 1
bilangan berpangkat positif dengan bilangan berpangkat
lainnya (bilangan berpangkat negatif, bilangan berpangkat
nol, serta bilangan berpangkat pecahan).
Siswa dapat menjelaskan cara menentukan nilai 2
Proses pemangkatan tertentu dari suatu bilangan berpangkat positif,
bilangan berpangkat negatif, bilangan berpangkat nol, serta
bilangan berpangkat pecahan.
Siswa dapat menyatakan contoh suatu bilangan berpangkat 3a
Objek positif, bilangan berpangkat negatif, bilangan berpangkat
pecahan, bilangan berpangkat nol
Siswa dapat:
Skema  Menghubungkan aksi, proses, objek, bilangan berpangkat 3b
dengan objek matematika lainnya yaitu bentuk akar.
 Menentukan bilangan tertentu (nilai ) dari suatu hasil 4
pemangkatan bilangan dengan menghubungkan aksi,
proses, objek dari bilangan berpangkat.
Siswa dapat:
Sifat-Sifat Aksi  Membedakan sifat-sifat pengoperasian bilangan 5a
Pengoperasian berpangkat seperti sifat perkalian bilangan berpangkat
Bilangan yang bilangan pokoknya sama, sifat pembagian bilangan
Berpangkat berpangkat yang bilangan pokoknya sama, sifat
pemangkatan bilangan berpangkat, sifat pemangkatan dari
perkalian dua bilangan, sifat pemangkatan dari pembagian
dua bilangan.
 Menyatakan perbedaan sifat-sifat pengoperasian bilangan 5a
berpangkat antara sifat perkalian bilangan berpangkat yang
bilangan pokoknya sama dengan sifat bilangan berpangkat
lainnya (sifat pembagian bilangan berpangkat yang
bilangan pokoknya sama, sifat pemangkatan bilangan
berpangkat, sifat pemangkatan dari perkalian dua bilangan,
sifat pemangkatan dari pembagian dua bilangan).
Siswa dapat menjelaskan cara menentukan nilai 5b
Proses pemangkatan tertentu dari suatu sifat-sifat pengoperasian
bilangan berpangkat.
Siswa dapat:
Objek  Menyatakan sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat. 6a
 Menyatakan contoh suatu sifat-sifat pengoperasian 6a
bilangan berpangkat.

Siswa dapat:
Skema  Menghubungkan aksi, proses, objek, bilangan berpangkat 6b dan 6c
dengan objek matematika lainnya yaitu bentuk akar.
 Menentukan sifat-sifat pengoperasian bilangan tertentu 7
dengan menghubungkan aksi, proses, objek, dan skema
dari suatu bilangan berpangkat.
Data tersebut kemudian dianalisis mengunakan alur analisis data yang dikembangkan
oleh Miles dan Huberman (1992) dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) menelaah
terlebih dahulu semua data yang terkumpul dan sumber data yang hasilnya berupa deskripsi
data meliputi hasil tes tertulis dan hasil wawancara, (2) membuat klarifikasi dari hasil tes
tertulis menurut konstruksi mental tertentu siswa dalam menyelesaikan soal tes tertulis dari
kerangka kerja teori APOS, (3) menstranskipkan data hasil wawancara yang dibuat menurut
urutan pemahaman siswa tentang bilangan berpangkat berdasarkan kerangka kerja teori
APOS, kemudian (4) menarik kesimpulan data dan sumber data yang sudah diklarifikasi dan
ditranskipkan pada penyajian data. Adapun tahap-tahap pelaksanaan penelitian yang
dilakukan yaitu (1) peneliti terlibat secara langsung melihat lokasi/latar subjek, (2) peneliti
menyiapkan soal uraian tes tertulis pemahaman siswa pada materi bilangan berpangkat
berdasarkan kerangka teori APOS, (3) peneliti memberikan waktu 90 menit kepada siswa
yang terpilih untuk menyelesaikan tes tertulis berupa soal uraian, (4) peneliti memeriksa hasil
pekerjaan siswa, (5) peneliti akan melakukan wawancara kepada siswa yang terpilih dengan
memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan jawaban tes tertulis siswa, (6) peneliti
kemudian mengumpulkan data dan sumber data sehingga data dapat dianalisis dan ditarik
kesimpulan sesuai perolehan hasil data tes tertulis dan wawancara siswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN


Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Salatiga. Peneliti mengadakan pertemuan
dengan guru matematika kelas X, setelah itu melakukan wawancara dengan guru matematika.
Guru yang mengajar matematika di kelas X menyarankan mengambil Kelas X Administrasi
Perkantoran III SMK Negeri 1 Salatiga, dari penjelasan guru matematika tersebut, peneliti
hanya mengambil satu kelas yaitu kelas X Administrasi Perkantoran III yang terdiri dari 32
siswa kemudian diambil 2 siswa sebagai subjek penelitian secara acak. Siswa yang pertama
berinisial ACD, siswa yang kedua berinisial FKD.
Berdasarkan 7 soal tes uraian yaitu terdiri dari 4 soal uraian bilangan berpangkat (soal
nomor 1 sampai nomor 4) dan 3 soal uraian sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat
(soal nomor 5 sampai nomor 7) serta hasil wawancara, maka ditemukan pemahaman siswa
tentang bilangan berpangkat (bilangan berpangkat dan sifat-sifat pengoperasian bilangan
berpangkat) menurut teori APOS adalah umumnya pemahaman siswa terhadap topik bilangan
berpangkat berada pada tahap objek sedangkan topik sifat-sifat bilangan berpangkat berada
pada tahap proses, siswa sudah mengetahui adanya hubungan yang berkaitan erat dengan
bentuk akar namun belum dapat menjelaskan pendapatnya dengan baik.
Kemampuan siswa menyelesaikan soal pemahaman terhadap konsep bilangan
berpangkat, ada empat tahap tertentu menurut teori APOS yaitu aksi, proses, objek dan skema
terhadap topik bilangan berpangkat dan topik sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat.
1. Tahap Aksi
Penyelesaian pada soal nomor 1a pada topik bilangan berpangkat diketahui bahwa ,
, , , ... merupakan bilangan berpangkat yang pangkatnya positif sedangkan pada soal
nomor 1b diketahui bahwa , , , , ... merupakan bilangan berpangkat yang
pangkatnya negatif. Dilihat dari penyelesaiannya, subjek mampu memahami apa yang sudah
diketahui dalam soal nomor 1a dan 1b dengan memperhatikan kumpulan bilangan berpangkat
yang bilangan pokoknya sama namun bilangan pangkatnya berbeda. Oleh karena itu subjek
dengan mudah mengetahui adanya perbedaan pangkat pada soal 1a dan 1b.
Pemahaman berdasarkan teori APOS pada tahap aksi, penyelesaian dengan pemahaman
yang diketahuinya, subjek dapat melakukan penyelesaian pada soal nomor 1a dan 1b dengan
langkah hanya melihat perbedaan pangkatnya saja dan menyatakan perbedaan pangkat suatu
bilangan berpangkat dengan pangkat suatu bilangan berpangkat lainnya. Hasil yang diperoleh
dari kedua subjek menunjukkan bahwa subjek ACD dan FKD mampu memahami dan
melakukan penyelesaian soal nomor 1 seperti pada Gambar 1.

a) Subjek ACD b) Subjek FKD


Gambar 1. Pemahaman pada Tahap Aksi Soal Nomor 1a dan 1b

Soal nomor 5 pada topik sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat diketahui bahwa
“Perhatikan operasi dari bilangan berikut! Bagian pertama yaitu ; bagian kedua

yaitu ; bagian ketiga yaitu ”. Soal nomor 5a diketahui bahwa “Sebutkan

sifat-sifat operasi bilangan berpangkat tersebut!”. Langkah penyelesaiannya, subyek terlebih


dahulu mengetahui perbedaan sifat-sifat operasi bilangan berpangkat. Penyelesaian soal
nomor 5a bagian pertama yaitu termasuk sifat operasi perkalian bilangan berpangkat

yang bilangan pokoknya sama; bagian kedua yaitu termasuk sifat operasi pembagian

bilangan berpangkat yang bilangan pokoknya sama; dan bagian ketiga adalah termasuk
sifat operasi pemangkatan bilangan berpangkat. Subjek ACD dan FKD bisa melihat
perbedaan sifat-sifat pengoperasi bilangan berpangkat namun belum mampu menyatakan
perbedaan sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat terhadap apa yang sudah diketahui
dalam soal nomor 5a.
Pemahaman berdasarkan teori APOS pada tahap aksi, penyelesaian dengan pemahaman
yang diketahuinya, subjek dapat melakukan penyelesaian pada soal nomor 5a dengan langkah
hanya melihat perbedaan sifat-sifat pengoperasi bilangan berpangkat dan dapat menyatakan
perbedaan sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat antara sifat perkalian bilangan
berpangkat yang bilangan pokoknya sama, sifat pembagian bilangan berpangkat yang
bilangan pokoknya sama, sifat pemangkatan bilangan berpangkat, sifat pemangkatan dari
perkalian dua bilangan, dan sifat pemangkatan dari pembagian dua bilangan. Pemahaman
konsep subyek pada tahap aksi ini belum dipahami subjek ACD dan FKD dengan benar.
Subjek ACD dan FKD mengaku hanya dapat melihat perbedaan sifat-sifat pengoperasian
melalui penghafalan rumus sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat yang telah
diajarkan guru matematika subjek ACD dan FKD belum bisa menyatakan perbedaan sifat-
sifat pengoperasian bilangan berpangkat. Kedua subjek bisa menuliskan jawaban setelah
peneliti memberitahu maksud soal nomor 5a pada saat diwawancara seperti pada Gambar 2.

a) Subjek ACD

b) Subjek FKD
Gambar 2. Pemahaman pada Tahap Aksi Soal Nomor 5a
2. Tahap Proses
Soal nomor 2a pada topik bilangan berpangkat diketahui sedangkan pada soal

nomor 2b diketahui Langkah penyelesaiannya, subjek terlebih dahulu memahami


definisi dari bilangan berpangkat tersebut kemudian subjek mengetahui adanya perbedaan
pangkat dari suatu bilangan berpangkat yang telah diketahui pada soal nomor 2a dan 2b agar
subjek dapat menentukan nilai pemangkatan. Subjek mengetahui bahwa definisi dari bilangan
berpangkat adalah perkalian suatu bilangan dengan dirinya sendiri sebanyak faktor,
sebagai pangkat. Penyelesaian soal nomor 2a diketahui merupakan bilangan berpangkat
positif dan dapat langsung diselesaikan dengan definisi perkalian 5 dengan dirinya sendiri
sebanyak 2 faktor sehingga diperoleh . Adapun penyelesaian soal nomor 2b
diketahui merupakan bilangan berpangkat pecahan. Namun ada cara-cara tersendiri untuk
menyelesaikan soal bilangan berpangkat pecahan yaitu mengubahnya dalam operasi akar atau
mengubah bilangan pokok menjadi bilangan yang berpangkat sama dengan penyebut pada
pangkat pecahan. Pada penyelesaian soal 2b subjek menggunakan cara mengubah bilangan

pokok menjadi bilangan yang berpangkat sama dengan penyebut. bilangan pokoknya 4
diubah menjadi bilangan yang berpangkat sama dengan penyebutnya 2 dari pangkat

pecahan yaitu kemudian subjek mengalikan pangkatnya saja maka hasilnya

dengan definisi perkalian 2 dengan dirinya sendiri sebanyak 3 faktor sehingga diperoleh
.
Pemahaman berdasarkan teori APOS pada tahap proses ini subjek ACD dan FKD dapat
menyelesaikan soal nomor 2a dan 2b seperti pada Gambar 3 dalam tahap proses sesuai
dengan pemahaman konsep yang dimilikinya. Subjek dapat menuliskan cara menentukan
nilai pemangkatan tertentu dari suatu bilangan berpangkat positif dan bilangan berpangkat
pecahan.

a) Subjek ACD b) Subjek FKD


Gambar 3. Pemahaman pada Tahap Proses Soal Nomor 2a dan 2b

Soal nomor 5b pada topik sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat digunakan untuk
mengetahui apakah subjek berada pada pemahaman tahap proses. Soal nomor 5b
membutuhkan pemahaman dari kedua subjek ACD dan FKD dalam menginteriosasikan
kemampuan menjadi suatu proses dengan menjelaskan cara bagaimana subjek menentukan
hasil penyelesaian sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat. Penyelesaian soal nomor 5a
diketahui: bagian pertama yaitu merupakan sifat perkalian bilangan berpangkat yang
bilangan pokoknya sama. Langkah penyelesaiannya, subyek dapat secara langsung
menuliskan definisi dari bilangan berpangkat dari dan . Definisi bilangan berpangkat
adalah perkalian bilangan 2 dengan dirinya sendiri sebanyak 5 faktor (
sedangkan definisi bilangan berpangkat adalah perkalian bilangan 2 dengan dirinya
sendiri sebanyak 2 faktor ( sehingga dapat dituliskan sesuai definisinya dan sifat
pengoperasiannya perkalian maka kemudian dapat
dilihat bahwa hasilnya menjadi perkalian bilangan 2 dengan dirinya sendiri sebanyak 7 faktor
sehingga dapat diperoleh . Bagian kedua yaitu merupakan sifat pembagian

bilangan berpangkat yang bilangan pokoknya sama. Langkah penyelesaiannya, subyek

dapat secara langsung menuliskan definisi dari bilangan berpangkat dan . Definisi
bilangan berpangkat adalah perkalian bilangan 2 dengan dirinya sendiri sebanyak 5 faktor
( sedangkan definisi bilangan berpangkat adalah perkalian
bilangan 2 dengan dirinya sendiri sebanyak 2 faktor ( sehingga dapat dituliskan

sesuai definisinya dan sifat pengoperasiannya pembagian maka kemudian

dapat dilihat bahwa hasilnya menjadi perkalian bilangan 2 dengan dirinya sendiri sebanyak 3
faktor sehingga dapat diperoleh . Bagian ketiga yaitu merupakan
pemangkatan bilangan berpangkat. Langkah penyelesaiannya , subyek dapat secara
langsung menuliskan definisi dari bilangan berpangkat . Definisi bilangan berpangkat
adalah perkalian bilangan 2 dengan dirinya sendiri sebanyak 5 faktor (
kemudian dipangkatkan kembali sebanyak 2 faktor
kemudian dapat dilihat hasilnya menjadi perkalian 2 dengan
dirinya sendiri sebanyak 10 faktor ( sehingga diperoleh .
Pemahaman berdasarkan teori APOS pada tahap proses pada soal nomor 5b terdapat
subjek ACD dan FKD memiliki penyelesaian yang sama pada tahap proses karena kedua
subjek terlebih dahulu memahami bahwa soal nomor 5b seperti pada Gambar 4 dapat
dikerjakan dengan mengunakan rumus yang telah diajarkan guru matematika namun pada
tahap proses subjek ACD dan FKD belum mampu membuktikan rumus sifat-sifat
pengoperasian bilangan berpangkat tersebut.

a) Subjek ACD
b) Subjek FKD
Gambar 4. Pemahaman pada Tahap Proses Soal Nomor 5b

3. Tahap Objek
Soal nomor 3 terdiri dari 2 tipe soal yaitu 3a dan 3b. Penyelesaian soal nomor 3
membutuhkan kemampuan melakukan pemahaman tahap aksi atas tahap objek. Tahap objek
ini, subjek terlebih dahulu memahami perbedaan pangkat dari suatu bilangan berpangkat dan
menuliskan cara menentukan nilai pemangkatan sehingga subjek dapat menyatakan contoh
suatu bilangan berpangkat serta dapat memberikan penjelasan. Soal nomor 3a digunakan
untuk mengetahui apakah subjek mampu menyatakan contoh suatu bilangan berpangkat dan
subyek telah menjadi suatu objek dalam diri subjek karena subjek akan melakukan
pembuktian dalam menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, pemahaman pada tahap
objek diperlukan penyelesaian dengan baik untuk menyelesaikan soal nomor 3a, yaitu apabila
bilangan berpangkat telah menjadi objek dan dapat dibandingkan dengan objek lainnya.
Soal nomor 3a diketahui “Berikan masing-masing 1 contoh bilangan berpangkat yang
termasuk bilangan berpangkat positif, bilangan berpangkat negatif, bilangan berpangkat nol,
bilangan berpangkat pecahan?”. Langkah penyelesaiannya, subjek terlebih dahulu
mengetahui adanya perbedaan pangkat dari suatu bilangan berpangkat sehingga subjek dapat
memberikan masing-masing contoh bilangan berpangkat. Pemahaman tahap objek
berdasarkan teori APOS, subjek telah memahami dan melihat dari soal-soal sebelumnya
sebagai contoh untuk menyatakan contoh suatu bilangan berpangkat sebagai langkah yang
dilakukan untuk menyelesaikan soal 3a seperti pada Gambar 5.

a) Subjek ACD b) Subjek FKD

Gambar 5. Pemahaman pada Tahap Objek Soal Nomor 3a

Soal nomor 6 pada topik sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat terdiri dari 3 tipe
soal yaitu 6a, 6b, 6c. Penyelesaian soal nomor 6a membutuhkan kemampuan melakukan
pemahaman tahap aksi atas tahap objek. Tahap objek ini, subjek harus memahami terlebih
dahulu sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat sehingga subyek dapat menyatakan dan
memberikan contoh sifat-sifat bilangan berpangkat tersebut. Soal nomor 6a akan
membuktikan apakah subjek mampu menyatakan dan memberikan contoh sifat-sifat
pengoperasian bilangan berpangkat. Oleh karena itu, pemahaman pada tahap objek
diperlukan penyelesaian dengan baik untuk menyelesaikan soal nomor 6a, yaitu apabila sifat-
sifat pengoperasian bilangan berpangkat telah menjadi suatu objek dalam diri subyek, maka
objek tersebut dapat dibandingkan dengan objek lainnya.
Soal nomor 6a diketahui “Tuliskan sifat-sifat operasi bilangan berpangkat yang kamu
ketahui dan berilah masing-masing 1 contoh!”. Pada soal nomor 6a, subjek ACD dan FKD
belum mampu menyatakan sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat namun subjek
dapat memberikan contoh sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat karena kedua subjek
hanya mengandalkan hafalan rumus sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat.
Berdasarkan teori APOS pada tahap objek ini terhadap kedua subjek ACD dan FKD
menunjukkan subjek belum memahami dari soal sebelumnya (soal nomor 5) dalam
menyatakan sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat namun subjek dapat memberikan
contoh sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat sebagai langkah yang dilakukan untuk
menyelesaikan soal 6a seperti pada Gambar 6. Tahap objek terhadap kedua subjek ACD dan
FKD, subjek belum mencapai tahap aksi atas objek serta belum mampu menyatakan tentang
sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat.

a) Subjek ACD b) Subjek FKD


Gambar 6. Pemahaman pada Tahap Objek Soal Nomor 6a
4. Tahap Skema
Soal nomor 3b dan soal nomor 4 pada topik bilangan berpangkat membutuhkan
pemahaman tahap skema berdasarkan teori APOS. Soal nomor 3b dan soal nomor 4
melibatkan bentuk akar dan menentukan bilangan tertentu (nilai ) dari suatu hasil
pemangkatan bilangan untuk memecahkan masalah. Subjek harus mampu menghubungkan
aksi, proses, dan objek yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan
bilangan berpangkat. Subjek juga harus mampu mengkaitkan konsep bilangan berpangkat
dengan konsep-konsep yang lainnya. Soal nomor 3b bilangan berpangkat erat kaitannya
dengan permasalah bentuk akar sedangkan soal nomor 4 subjek menentukan bilangan
tertentu dari suatu persamaan (menentukan nilai ) dengan menghubungkan aksi, proses,
objek, skema dari bilangan berpangkat.
Soal 3b diketahui “Apakah bilangan berpangkat sangat erat kaitannya dengan bentuk
akar? Jelaskan Pendapatmu!”. Langkah yang harus dilakukan adalah memahami hubungan
antara bilangan berpangkat dengan bentuk akar karena bilangan berpangkat sangat erat
kaitannya dengan bentuk akar, suatu bilangan berpangkat jika ditentukan nilai pemangkatan
tertentu dari suatu bilangan berpangkat maka hasil nilai pemangkatan tersebut dapat diubah
ke dalam bentuk akar dan begitupun sebaliknya kemudian jika suatu bilangan berpangkat
pecahan juga dapat diubah ke dalam bentuk akar.
Subjek ACD dan FKD pada soal 3b sama-sama menuliskan jawaban bilangan
berpangkat sangat berkaitan erat dengan bentuk akar. Namun kedua subjek memiliki
pendapat yang berbeda. Subjek ACD berpendapat hubungan bilangan berpangkat sangat erat
dengan bentuk akar karena bilangan berpangkat merupakan satu unsur dengan bentuk akar
dan saling melengkapi satu sama lain untuk mencari jawaban. Subjek FKD berpendapat
bilangan berpangkat sangat erat kaitannya dengan bentuk akar karena bilangan berpangkat
nanti hasilnya akan memerlukan bentuk akar supaya menentukan jawaban. Kedua subjek
mengaku sudah memahami bilangan pangkat dan bentuk akar akan tetapi setelah ditanyakan
alasannya, kedua subjek masih bingung untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai
hubungan bilangan berpangkat dengan bentuk akar. Subjek ACD menjelaskan hubungan
bilangan berpangkat dengan bilangan bentuk akar yang nantinya bilangan berpangkat kalau
ada hasilnya tinggal diakar. Subjek ACD juga memberi contoh jika diakarkan
untuk membuktikan bilangan berpangkat sangat erat kaitannya dengan bentuk akar
namun subjek ACD belum mampu memberikan contoh bilangan berpangkat pecahan yang
diubah ke bentuk akar. Adapun subjek FKD menjelaskan alasan hubungan bilangan
berpangkat dengan bentuk akar yaitu bilangan berpangkat itu bisa dijadikan ke dalam bentuk
akar. Subjek FKD memberi contoh , jika diakarkan . Selain itu, subjek FKD
mampu memberikan contoh bilangan berpangkat yang pangkatnya pecahan yang dapat

diubah ke bentuk pecahan yaitu diubah ke dalam bentuk akar .

a) Subjek ACD

b) Subjek FKD
Gambar 7. Pemahaman pada Tahap Skema Soal Nomor 3b

Soal nomor 4 pada topik bilangan berpangkat subjek ACD dan FKD melakukan
penyelesaian yang sama dalam menentukan nilai dari suatu hasil pemangkatan bilangan.
Subjek ACD dan FKD menyederhanakan terlebih dahulu kedua ruas bilangan pokok
sehingga kedua ruas bilangan pokoknya sama yaitu 25 dan , disederhanakan menjadi

(bilangan berpangkat positif) sedangkan disederhanakan menjadi (bilangan

berpangkat negatif) setelah kedua ruas bilangan pokoknya sama kemudian


subjek ACD dan FKD menentukan nilai dengan menghitung pangkatnya saja
lalu menjadi sehingga dengan hasil maka diperoleh
nilai . Berdasarkan teori APOS pada tahap skema diperoleh kesimpulan, pada soal
nomor 4 seperti pada Gambar 8 yaitu untuk menentukan nilai dari suatu hasil pemangkatan
bilangan dengan menghubungkan aksi, proses, objek sehingga membentuk skema lainnya
a) Subjek ACD

b) Subjek FKD
Gambar 8. Pemahaman pada Tahap Skema Soal Nomor 4

Soal nomor 6b, 6c dan 7 pada topik sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat
membutuhkan pemahaman tahap skema berdasarkan teori APOS. Soal nomor 6b dan 6c
melibatkan bentuk akar sedangkan nomor 7 menentukan bilangan tertentu (nilai ) dari suatu
hasil pemangkatan bilangan untuk memecahkan masalah. Soal 6b dan 6c subjek harus
mampu menghubungkan aksi, proses, dan objek yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah
yang berkaitan dengan sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat. Subjek juga harus
mampu mengkaitkan konsep bilangan berpangkat dengan konsep-konsep sifat-sifat
pengoperasian bilangan berpangkat serta konsep bentuk akar. Adapun soal nomor 7 subjek
mampu menentukan sifat-sifat pengoperasian bilangan tertentu dengan menghubungkan aksi,
proses, objek dan skema dari suatu bilangan berpangkat.

Soal 6b diketahui “Dapatkah dinyatakan ke dalam bentuk akar. Langkah


penyelesaiannya, subjek terlebih dahulu memahami definisi dari bentuk akar, menyelesaikan
perkalian yang terdapat dalam kurung kemudian mengubahnya dalam bentuk akar. Definisi
bentuk akar adalah penyebutan untuk bilangan berakar yang hasil akarnya merupakan

bilangan irrasional. (hasilnya berbentuk bilangan berpangkat pecahan)


kemudian diubah ke dalam bentuk akar sehingga menjadi . merupakan
bilangan irrasional sehingga penyelesaiannya dapat dinyatakan dalam bentuk akar.Subjek
ACD dan FKD pada soal nomor 6b seperti pada Gambar 9, subjek sama-sama belum
memahami soal sehingga subjek tidak dapat menentukan soal nomor 6b ke dalam bentuk
akar.
a) Subjek ACD
b) Subjek FKD
Gambar 9. Pemahaman pada Tahap Skema Soal Nomor 6b

Soal nomor 6c diketahui “Apakah sifat-sifat operasi bilangan berpangkat sangat erat
kaitannya dengan bentuk akar? Jelaskan pendapatmu!” Langkah penyelesaiannya adalah
memahami hubungan antara sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat dengan bentuk
akar karena sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat sangat erat kaitannya dengan
bentuk akar, bentuk akar dapat disederhanakan menjadi perkalian dua buahh akar pangkat
bilangan dengan salah satu akar memenuhi definisi jika dan jika – jika
kemudian juga dapat mengubah bilangan berpangkat pecahan ke dalam bentuk akar
dengan bilangan bulat tidak negatif dengan syarat tidak ada bilangan yang hasil
kuadratnya sama dengan dan sebaliknya.

b) Subjek FKD
a) Subjek ACD
Gambar 10. Pemahaman Subjek pada tahap skema soal nomor 6c

Subjek ACD dan FKD pada soal nomor 6c seperti pada Gambar 10, subjek sama-sama
menjawab sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat sangat berkaitan erat dengan bentuk
akar, namun kedua subjek memiliki alasan yang berbeda untuk mengungkapkan pendapatnya.
Subjek ACD berpendapat sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat sangat erat kaitannya
dengan bentuk akar karena menyelesaikan bilangan berpangkat diubah ke dalam bentuk akar
supaya mudah dalam menyelesaikannya. Subjek FKD berpendapat sifat-sifat operasi bilangan
berpangkat sangat erat kaitannya dengan bentuk akar karena bilangan berpangkat nanti
hasilnya akan memerlukan bentuk akar supaya menemukan jawabannya. Dari pendapat
kedua subjek tersebut, kedua subjek belum memahami sifat-sifat operasi bilangan berpangkat
dan bentuk akar sehingga subjek tidak dapat menjelaskan pendapatnya dengan benar pada
soal nomor 6c yang telah diketahui.

Soal nomor 7 diketahui “Tentukan nilai dari jika !”.

Langkah penyelesaianya sebagai langkah awal, subjek memasukan nilai yang telah

diketahui menjadi , setelah itu menyelesaikan bilangan berpangkat yang terdapat


dalam kurung kemudian menyelesaikan pengurangan sehingga diperoleh

a) Subjek ACD b) Subjek FKD

Gambar 11. Pemahaman Subjek pada tahap skema soal nomor 7

Subyek ACD dan FKD pada soal nomor 7 seperti pada Gambar 11, subjek telah
memahami soal dalam menentukan sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat. Subjek
FKD melakukan kesalahan dalam melakukan perhitungan. Subyek FKD memasukan nilai

yang telah diketahui pada soal nomor 7 jika , , , sehingga

subjek FKD menyelesaikan bilangan berpangkat yang terdapat di dalam kurung

kemudian menyelesaikan pengurangan yang ada di dalam kurung dan

diperoleh , namun subjek FKD melakukan kesalahan dalam menyederhanakan

bilangan pecahan sehingga diperoleh . Berbeda dengan subjek ACD

menyederhanakan bilangan berpangkat dengan benar sehingga diperoleh .

Pemahaman berdasarkan teori APOS dalam tahap skema, kesimpulan analisis yang
dicapai pada soal nomor 7 untuk menentukan sifat-sifat pengoperasian bilangan tertentu.
Kedua subjek ACD dan FKD sudah mencapai kemampuan pemahaman pada tahap skema.

PENUTUP
Pemahaman siswa kelas X Administrasi Perkantoran III SMK Negeri 1 Salatiga
berdasarkan teori APOS pada topik bilangan berpangkat dan sifat-sifat pengoperasian
bilangan berpangkat bervariasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, kedua siswa pada topik
bilangan berpangkat sama-sama memiliki pemahaman pada tahap objek. Siswa yang
memiliki pemahaman tahap aksi dapat membedakan suatu bilangan berpangkat positif
dengan bilangan lainnya dan menyatakan perbedaan bentuk bilangan berpangkat. Siswa yang
memiliki pemahaman tahap proses menjelaskan cara menentukan nilai pemangkatan tertentu
dari suatu bilangan berpangkat. Siswa yang memiliki pemahaman tahap objek menyatakan
contoh suatu bentuk bilangan berpangkat.
Topik sifat-sifat pengoperasian bilangan berpangkat, kedua siswa sama-sama memiliki
pemahaman pada tahap proses. Siswa yang memiliki pemahaman aksi membedakan sifat-
sifat pengoperasian bilangan berpangkat dan menyatakan perbedaan sifat-sifat pengoperasian
bilangan berpangkat. Siswa yang memiliki pemahaman pada tahap proses menjelaskan cara
menentukan nilai pemangkatan tertentu dari suatu sifat-sifat pengoperasian bilangan
berpangkat.

DAFTAR PUSTAKA

Aga. 2014. Analisis Kesalahan Siswa Kelas X SMA 1 Islam Gamping Yogyakarta dalam
Menyelesaikan Soal Matematika yang Berkaitan dengan Bilangan Berpangkat dan
Bentuk Akar. Skripsi diterbitkan. Yogyakarta: FMIPA UNY
Andriyani, Dewi. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.
Asiala, M., Cottril, J., Dubinsky, E., & Schwingendorf, K.E. 1997. The Development of
Students’ Graphical Understanding of the Derivative. Journal of Mathematical
Behavior. Vol 16(4) pp. 399-431.
Depdiknas. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi
SMP. Jakarta: Depdiknas.
Dubinsky, E. and Tall, D. 1991. Adveced Mathematical Thinking and Computer. Dalam D.
Tall (ed) Adveced Mathematical Thinking. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.
Hiebert, J. Carpenter, P. 1992. Learning and Teaching with Understanding. Dalam Douglas
A Growns (Ed.). Handbook of Research on Mathematics Teaching and Learning. New
York: Mac millian Publising Company.
Hudojo, Herman. 1993. Mengajar Belajar Matematika. Surabaya: Usaha Nasional.
Nurdin, Lasmi. 2005. Analisis Pemahaman Siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri
Malang Tentang Barisan dan Deret Berdasarkan Teori APOS. Thesis tidak diterbitkan.
Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang.
Miles, M.B & Huberman, A.M. 1992. Analisis Data Kualitatif Terjemahan oleh Tjetjep R.
Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).
Purwanto, M. N. 1994. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran Pendidikan.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: ALFABETA
Sumarmo, U. 1987. Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematik Siswa SMA
Dikaitkan dengan Penalaran Logik Siswa dan Beberapa Unsur Proses Belajar Mengajar.
Disertasi tidak diterbitkan. Bandung: Pascasarjana IKIP Bandung.
Suryadi, D. 2011. Membangun Budaya baru dalam Berpikir Matematika. Bandung: Rizqi
Press. (online).
http://www.scribd.com/doc/93456342/Membangun-Budaya-Baru-Dalam-Berpikir-
Matematika.Diakses 5 Juli 2016.
Virlianti, Y. 2002. Analisis Pemahaman Konsep Siswa dalam Memecahkan Masalah
kontekstual pada Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Realistik. Skripsi tidak
diterbitkan. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UPI.