Anda di halaman 1dari 15

1.

Pengertian Strategi

Kata strategi berasal dari bahasa Yunani klasik yaitu “stratos” yang artinya tentara
dan kata “agein” yang berarti memimpin. Dengan demikian, strategi dimaksudkan
adalah memimpin tentara. Lalu muncul kata strategos yang artinya pemimpin tentara
pada tingkat atas. Jadi strategi adalah konsep militer yang bisa diartikan sebagai seni
perang para jenderal (The Art of General), atau suatu rancangan yang terbaik untuk
memenangkan peperangan. Dalam strategi ada prinsip yang harus dicamkan, yakni
“Tidak ada sesuatu yang berarti dari segalanya kecuali mengetahui apa yang akan
dikerjakan oleh musuh, sebelum mereka mengerjakannya”.
Rogers (1982) memberi batasan pengertian strategi komunikasi sebagai suatu
rancangan yang dibuat untuk mengubah tingkah laku manusaia dalam skala yang lebih
bear melalui transfer ide-ide baru. Middleton (1980) membuat definisi dengan
menyatakan “Strategi komunikasi adalah kombinasi yang terbaik dari semua elemen
komunikasi mulai dari komunikator, pesan, saluran (media), penerima sampai pada
pengaruh (efek) yang dirancang untuk mencapai tujuan komunikasi yang optimal.”

2. Perencanaan Kerja PR/Humas


Pada dasarnya tujuan umum dari program kerja dan berbagai aktivitas Public
Relations atau Humas dilapangan adalah cara menciptakan hubungan harmonis antara
organisasi/prusahaan yang diwakilinya dengan publiknya atau khalayak terkait.
Tujuan dari proses perencanaan program kerja untuk mengelolah berbagai aktivitas
PR/Humas tersebut dapat diwujudkan jika terorganisir dengan baik melalui
manajemen humas yang dikelolah secara profesional dan dapat dipertanggung
jawabkan hasil sasarannya.
Praktisi humas senantiasa dihadapakan pada tantangan dan harus menangani
berbagai macam fakta yang sebenarnya, terlepas dari apakah fakta itu hitam, putih,
abu-abu. Perkembangan komunikasi tidak memungkinkan lagi bagi suatu organisasi
untuk menutup-nutupi suaatu fakta.
Adapun alasan dilakukannya perencanaan humas sebagai berikut.

1
1. Untuk menempatkan target-target operasi humas yang nantinya akan menjadi
tolak ukur atas segenap hasil yang diperoleh.
2. Untuk memperhitungkan jumlah jam kerja dan berbagai biaya yang diperlukan.
3. Untuk memilih prioritas-prioritas yang paling pentin guna menentukan
- Jumlah program
- Waktu yang diperlukan guna melaksanakan segenap program humas yang
telah diprioritaskan tersebut.
4. Untuk menentukan kesiapan atau kelayakan pelaksanaan berbagai upaya dalam
rangka menapai tujuan-tujuan tertentu sesuai jumlah kualitasnya.

Scott M. Cultip & Allen H.Center ( Prentice-Hall, Inc.1982:139), menyatakan


bahwa proses perencanaan program kerja humas melalui “proses empat tahapan atau
langkah-langkah pokok” yang menjadi landasan acuan untuk pelaksanaan program
kerja kehumasan adalah sebagai berikut.
1. Penelitian dan mendengarkan ( Research-listening)
Pada tahap ini, akan ditetapkan suatu fakta dan informasi yang berkaitan
langsung dengan kepentingan organisasi. Penemuan fakta dilakukan untuk
mengetahui apakah opini, sikap dan reaksi (situasi dan pendapat) dalam masyarakat
menunjang atau justru menghambat organisasi, instansi atau perusahaan yaitu
what’s our problem? ( apa yang akan menjadi problem kita) .

2. Perencanaan dan Mengambil Keputusan (Planning – Decision)


Perencanaan merupakan tahap yang cukup penting, karena menghubungkan
kegiatan komunikasi dengan kepentingan organisasi/perusahaan. Dalam tahap ini
yang merupakan kelanjutan dari tahap fact finding – atas dasar hasil penelitiannya,
seorang petugas humas merencanakan bagaimana sebaiknya dengan
memperhatikan faktor-faktor psikologis, sosiologis, keadaan sosial, ekonomi
politik – pesan dari komunikator dirumuskan agar dapat mencapai tujuannya.

2
3. Komunikasi – Pelaksanaan (Communication – Action)
Tahapan komunikasi tidak terlepas dari perencanaan tentang bagaimana
mengkomunikasikan dan apa yang dikomunikasikan sehingga menimbulkan kesan-
kesan yang secara efektif mempengaruhi pihak-pihak yang dianggap penting dan
berpotensi dalam upaya memberikan dukungan sepenuhnya. Bagaimana
mengkomunikasikan sesuatu dan apa yang dikomunikasikan, sebenarnya tidak
terlepas dari tujuan yang hendak dicapai melalui kegiatan kehumasan . Suatu
program komunikasi menyangkut pilihan-pilihan terhadap saluran komunikasi
yang akan digunakan dalam berkomunikasi dengan publik sasaran. Untuk itu,
pilihan media atau saluran komunikasi tergantung pada publik sasaran. Pilihan
media saluran dipengaruhi oleh antara lain faktor ketersedian media, biaya,
ketrampilan komunikasi, publik sasaran dan tujuan komunikasi. Selain pilihan
media/ saluran komunikasi, dalam program komunikasi, perlu juga ditentukan jenis
pesan dan tema2 yang harus ditonjolkan. Selain itu menurut Ngurah (1999) ,
implementasi program kehumasan dilakukan tidak hanya dengan program
komunikasi, tetapi juga program tindakan untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapi organisasi . Kedua cara tersebut perlu dilakukan karena masalah hubungan
perusahaan dengan publik tidak saja disebabkan kesalahan berkomunikasi tetapi
juga faktor-faktor non komunikasi (kesalahan berperilaku, membuat kebijakan,
dll.). Karena masalah kehumasan bisa disebabkan faktor komunikasi dan non
komunikasi, maka Humas perlu mengusulkan program tindakan untuk menunjang
penyelesaian masalah. Sebagai contoh untuk melakukan sebuah program
kampanye kebersihan, program tindakan (menunjang) yang perlu dilakukan adalah
antara lain penyediaan tong sampah ditempat umum dan pengangkutan sampah.

4. Evaluasi (Evaluation).
Setelah komunikasi dilaksanakan, maka sesuatu organisasi tentu ingin
mengetahui dampak atau pengaruhnya terhadap publik atau khalayak. Pada tahapan
ini humas mengadakan penilaian terhadap hasil-hasil dari program-program kerja

3
atau aktivitas humas lainnya yang telah dilaksanakan, serta keefektivitasan dari
teknik-teknik manajemen, dan komunikasi yang telah dipergunakan.
Proses kerja PR merupakan satu kesatuan perencanaan yang secara sirkuler
terus-menerus berlangsung. Melalui observasi yang pernah dilakukan, diketahui
bahwa proses analisis-sintetis-komunikasi-interpretasi dari kerja PR, merupakan
proses yang berkesinambungan dalam bentuk spiral dan sering kali tumpang-tindih
antara satu dengan yang lainnya.
Kalau diuraikan dan digambarkan maka lingkaran dan langkah-langkah
kegiatan humas adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis perilaku umum dan hubungan organisasi terhadap lingkungan
2. Menentukan dan memahami secara benar perilaku tiap-tiap kelompok terhadap
organisasi.
3. Menganalisis tingkat opini publik, baik yang intern maupun yang ekstern.
4. Mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan, masalah-masalah yang
potensial, kebutuhan-kebutuhan dan kesempatan-kesempatan.
5. Menentukan formulasi dan merumuskan kebijakan-kebijakan
6. Merencanakan alat atau cara yang sesuai untuk meningkatkan atau
mengubah perilaku kelompok masyarakat sasaran
7. Menjalankan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas sesuai dengan program
yang telah direncanakan

a. Perencanaan Kerja Public Relations berkaitan dengan :


Perencanaan program kerja PR harus dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan.
Sehubungan dengan hal tersebut terdapat dua program PR yang bersifat
mendasar yaitu program PR yang bersifat preventif dan program suatu program
yang direncanakan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan
oleh organisasi, sedang program remedial sehubungan dengan perbaikan situasi
dan kondisi yang terjadi pasca krisis. Perencanaan kerja PR, berkaitan dengan :
1. Tiga Dasar
Ada tiga dasar yang hakiki agar Rencana Program PR dapat berhasil baik, yaitu:

4
 Rencana program kerja harus dibuat dengan teliti dan harus didukung oleh
pihak manajemen
 Rencana program kerja tersebut harus mempunyai tujuan
 Dilakukannya pengarahan mengenai Rencana Program tersebut

PRO (Praktisi PR) tidak boleh berurusan dengan PR rabun atau rencana
program yang direncanakan secara tidak jelas. Agar berhasil, rencana program
PR harus disusun terlebih dahulu dan disesuaikan dengan ruang lingkup dimana
PRO bekerja di perusahaan besar atau kecil. Misalnya, dengan ruang lingkup
yang kecil dan disesuaikan dengan keadaan finansialnya ketika dibuat rencana
program PR selama satu tahun.

2. Unexpected Case
Dalam praktek, seorang PRO sering dihadapkan dengan sesuatu yang
berada diluar perkiraan atau tujuan rencana program. Maka rencana program
harus dibuat sebaik mungkin. Penanganan hal – hal yang hadir di luar dengan
dugaan tersebut akan jauh lebih sulit dikarenakan tidak ada guideline (patokan)
dalam rencana programitu sendiri. Karena itulah, tak satu bisnis pun dapat
beroperasi tanpa rencana program yang matang dan jelas.

3. Faktor Utama Rencana Program


 Kegiatan yang dituangkan dalam bentuk proposal perencanaan kerja PR,
termasukspecial event seperti : product launching, facility visit,
penandatanganan kerja sama, atau kegiatan lainya : pameran, promosi,
sponsor ship, dan kampanye.
 Perencanaan anggaran, yang merupakan faktor yang penting. Tidak ada
kegiatan tanpa pengeluaran dan pemasukan uang.
 Perizinan dari yang berwenang
 Strategi pelaksanaan kegiatan
 Rapat

5
 Perekrutan karyawan yang akan dilibatkan dalam pekerjaan termasuk
jobdescriptionnya
 Penyediaan sarana untuk hal – hal yangakan muncul secara tidak terduga

b. Wujud rencana kerja PR/Humas :


Tujuan dari proses perencanaan program kerja untuk mengelola berbagai
aktivitas manajemen humas tersebut yang diwujudkan jika terorganisasi dengan
baik melalui manajemen humas yang dikelola secara profesional dan dapat
dipertanggung jawabkan hasil dan sasarannya. Secara umum pengertian dari
perencanaan humas yaitu terdiri dari semua bentuk kegiatan perencanaan, wujud
rencana kerja dan alasan dilakukannya perencanaan kerja humas.
Apapun jenis perencanaan, akan selalu mengikuti langkah-langkah tertentu,
dimana langkah-langkah tersebut sebaga berikut :
 Menentukkan kebutuhan, kemudian memprioritaskan satu atau beberapa
yang menjadi tujuan perencanaan
 Melakukan ramalan dan menentukan program serta alternatif-alternatif
pemecahan
 Menspesifikasi program
 Memilih alternatif pemecahan

c. Perencanaan kerja PR/Humas dan alasan-alasan untuk dilakukan kegiatan


PR :
Rencana kerja PR sama pentingnya dengan menciptakan suatu fondasi yang
kuat untuk sebuah bangunan. Menrut Frank Jefkins (2002 : 56) ada empat alasan
yang paling penting bagi perlunya suatu perencanaan PR. Keempat alasan tersebut
adalah sebagai berikut :

 Untuk menetapkan target – target operasi PR yang nantinya akan menjadi


tolok ukur atas segenap hasil yang diperoleh

6
 Untuk memperhitungkan jumlah jam kerja dan berbagai biaya yang
diperlukan
 Untuk menyusun skala prioritas guna menentukan jumlah program dan
waktu yang diperlukan untuk melaksanakan segenap program PR yang
telah diprioritaskan
 Untuk menentukan kemungkinan pencapaian tujuan – tujuan tertentu sesuai
dengan ketersediaan :
- Staf pendukung atau personil yang mencukupi
- Dukungan dari berbagai peralatan fisik seperti alat –alat kantor, mesin ceta,
kamera dll
- Anggaran dana yang tersedia

3. Strategi – Strategi Dalam Humas


Strategi humas atau aspek-aspek pendekatan humas atau PRO dalam
menjalankan tanggung jawab dan fungsinya untuk menciptakan iklim yang kondusif
antara perusahaan dengan publiknya untuk tujuan bersama adalah sebagai berikut :
1. Strategi Operasional
Melalui pelaksanaan program humas yang dilakukan dengan program
kemasyarakatan (sociologi approach), melalui mekanisme sosial kultural dan nilai-
nilai yang berlaku di masyarakat dari opini publik atau kehendak masyarakat terekam
pada setiap berita atau surat pembaca dan lain sebagainya yang dimuat di berbagai
media masa. Artinya pihak humas mutlak bersikap atau berkemampuan untuk
mendengar (listening), dan bujan hanya sekedar mendengar (hear) mengenai aspirasi
yang ada di dalam masyarakat, baik mengenai etika, moral maupun nilai-nilai
kemasyarakatan yang dianut.
2. Pendekatan persuasif dan edukatif
Fungsi humas adalah menciptakan komunikasi dua arah (timbal balik) dengan
menyebarkan informasi dari organisasi kepada pihak publiknya yang bersifat
mendidik dan memberikan penerangan, maupun dengan menggunakan pendekatan

7
persuasif, agar tercipta saling pengertian, menghargai, pemahaman, toleransi dan
sebagainya.
3. Pendekatan tanggung jawab sosial humas
Menumbukan sikap tanggung jawab sosial bahwa tujuan dan sasaran yang
hendak dicapai tersebut bukan ditujukan untuk mengambil keuntungan sepihak dari
publik sasarannya (masyarakat), namun untuk memperoleh keuntungan bersama.

4. Pendekatan kerjasama
Berupaya membina hubungan yang harmonis antara organisasi dengan
berbagai kalangan, baik hubungan kedalam (internal relations) maupun hubungan
keluar (eksternal relations) untuk meningkatkan kerjasama. Humas berkewajiban
memasyarakatkan misi instansi yang diwakilkannya agar diterima aatau mendapat
dukungan dari masyarakat (publik sasarannya). Hal ini dilakukan dalam rangka
menyelenggarakan hubungan baik dengan publiknya (community relations), dan untuk
memperoleh opini publik sert perubahan sikap yang positif bagi kedua belah pihak.
5. Pendekatan koordinatif dan integratif
Untuk memperluas peranan PR di masyarakat, maka fungsi humas dalam arti
sempit hanya mewakili lembaga atau institusinya. Tetapi peranannya yang lebih luas
adalah berpartisipasi dalam menunjang program pembangunan nasional, dan
mewujudkan keetahanan nasional di bidang politik, ekonomi, sosial budaya
(Poleksosbud) dan Hamkamnas. (Ruslan, 2014:143-144)

4. Model – Model Strategi Perencanaan Humas


a. Model Manajemen Strategis, Johnson and Scholes, 1984
Model Manajemen Strategis yang terkenal adalah model Johnson dan
Scholes yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1984, dan diadaptasi pada
tahun 1997 ( Johnson and Scholes,1984)
Sangatlah penting untuk melihat bahwa ada sejumlah kelemahan dalam
model ini, atau paling tidak adanya potensi salah pengertian. Meskipun model ini
menunjukan unsur-unsur paling penting dari proses strategis, namun model ini

8
tidak linear, yaitu dimulai dari penetapan misi dan berakhir pada penerapan. Seperti
telah diketahui oleh para praktisi public relations yang kompeten, proses-proses ini
harus berjalan paralel dan dengan pertimbangan sumber daya serta mudah dalam
penerapannya. Dalam tulisan mereka selanjutnya, Johnson dan Scholes berusaha
membahas proses manajemen secara strategis melalui sumber daya manusaia.
Sebagai contoh, pada tahun 1993, mereka memasukan sebuah model pemetaan
stakeholder untuk mengkarakterisasi stakeholder dari segi tingkat kekuasaan dan
tingkat ketertarikan mereka terhadap sebuah hasil. Hal ini jelas merupakan sebuah
fitur dari ‘spin-doctor’ yang dibahas terdahulu dan model berikut ini menawarkan
perangkat analitis yang sangat berguna dalam mengukur prioritas komunikasi pada
kurun waktu tertentu.
Pada Tahun 1990-an, Johnson dan Scholes membuat sebuah model untuk
menganalisis kultur organisasional yang mereka anggap sangat penting jika sintesis
telah terjadi. Mereka mengacu pada saling mempengaruhi antar berbagai faktor
dalam kultur organisasional sebagai jaringan kultural atau perilaku mental dari
sebuah organisasi – yaitu cara organisasi tersebut memandang diri dan
lingkungannya sendiri.
Faktor-faktor inilah yang membentuk paradigma; misalnya, paradigma
organisasional yang terlertak di jantung public relations mengubah strategi karena
paradigma ini menguraikan serangkaian konsep awal yang mendasari cara orang
memandang dunia pada umumnya, bukan hanya organisasi. Dari waktu ke waktu
paradigma ini menagalami perbahan secara drastis dan terjadilah pergeseran
paradigma.
Dalam bisnis dan manajemen, pergeseran paradigma, yaitu perubahan
fundamental dari paradigma yang berlaku, jarang yang bersifat dramatis, meskipun
dapat dikatakan bahwa komunikasi elektronik dan teknologi global telah mengubah
paradigma teori dan praktik public relations strategis yang ada.

b. Model Manajemen Biasa dan Luar biasa, Stacey

9
Pendekatan Stacey (1991) pada strategi melibatkan konflik yang tak
terpisahkan dalam setiap debat organisasi mengenai perbedaan kultural dan dapat
memberikan sebuah model manajemen biasa dan luar biasa. Model formulasi
strategi yang modern menekankan ketidakstbailan hubungan antara organisasi dan
lingkungannya karena waktu dan dinamika tidak pernah tetap. Kontradiksi ini
diekspresikan oleh Stacey sebagai manajemen biasa (ordinary management), dalam
satu sisi dan manajemen luar biasa (extraordinary management) di sisi lain. Kedua
konsep tersebut sangat berguna untuk menghargai secara kritis peran public
relations dalam strategi korporasi. Kedua manajemen ini merefleksikan filosofi
fundamental dari public relations bahwa semua pesan korporasi harus konsisten
(manajemen biasa) sambil memonitor perubahan persepsi stakeholder yang dapat
mempengaruhi tujuan korporasi (manajemen luar biasa) dan pada gilirannya
bertujuan untuk mengubah pesan.

Tantangan bagi public relations adalah menerima bahwa, untuk operasi


yang efisien pada waktu kapan pun, ini sangatlah penting bagi sebuah organisasi
untuk memiliki tidak hanya rasa kesatuan dan tujuan, tetapi juga kultur paralel yang
memungkinkan berbagai pandangan yang tumbuh secara aman untuk menantang
kepuasan diri sendiri dan memastikan kelangsungan hidupnya.

 Ordinary Management ( Manajemen biasa)


Deskripsi manajemen biasa (ordinary management) ini diperlukan untuk
memastikan bahwa target dapat dicapai dan bahwa organisasi dapat bertahan
melalui proses yang rasional. Manajemen biasa mensyaratkan sebuah lingkungan
yang stabil dan hanya dapat dipraktikan dalam situasi yang tetap. Manajemen biasa
bukan merupakan konsep yang negatif meskipun manajemen ini harus dipraktikan
jika sebuah organisasi akan mampu mengendalikan dan memberikan keuntungan
kompetitif.

10
Definisi Stacey (1993) tentang manajemen luar biasa menyatakan bahwa
manajemen luar biasa adalah penggunaan kelompok intuitif dan politis yang
mempelajari cara pembuatan keputusan dan bentuk-bentuk pengendalian yang
terorganisir sendiri dalam perubahan situasi yang tidak konklusif. Manajemen luar
biasa adalah bentuk manajemen yang harus dipakai para manajer jika mereka ingin
mengubah dan menginovasi arah strategis (1993: 72).
 Extraordinary Management (Manajemen luar biasa)
Meskipun memiliki potensi bahaya bagi organisasi-organisasi yang masih
secara eksklusif menggunakan manajemen biasa, pengamatan yang lebih seksama
tentang apa yang terlibat dalam manajemen luar biasa (extraordinary management)
akan menjelaskan sikap diam British. Manajemen luar biasa meliputi penanyaan
serta penghancuran paradigma dan kemudaian menciptakan paradigma baru.
Manajemen luar biasa adalah sebuah proses yang bersifat revolusioner bukan
evolutioner dan tidak dapat ditentukan oleh organisasi. Stacey berargumen bahwa
kedua bentuk manajemen tersebut harus hadir secara bersamaan jika organisasi
harus berevolusi dan dapat bertahan dalam lingkungan yang berubah.

Implikasi dari manajemen biasa bagi public relations cukup dikenal melalui
hubungan dengan stakeholder utama, misalnya:
• Pemegang saham - laporan tahunan. Bagi sebagian besar pemegang saham,
komunikasi asistemetris atas hasil cenderung dapat dilakukan, sementara pada
pemegang saham institusional utama, keuntungan pribadi akan mendikte
tingkat komunikasi asimetris dan keinginan murni untk mendengarkan
pemikiran mereka akan sangat penting dan biasanya dapat diterapkan.
• Konsumen – departemen pemasaran dan penjualan akan cenderung
mendominasi aspek peran public relations ini, tetapi komunikasi simetris
semakin dianggap penting untuk memperoleh keuntungan kompetitif melalui
apa yang disebut pemasaran hubungan.
• Karyawan – kaolisi yang berkuasa dalam sebuah organisasi tentu saja dapat
menggunakan berbagai saluran untuk berkomunikasi dengan karyawan guna

11
mencapai maksud dan harmoni, kesesuaian atau konvergensi pada konfigurasi
tertentu dan untuk memastikan bahwa mereka memiliki model mental atau
paradigma yang sama.

 Implikasi dari manajemen biasa dan manajemen luar biasa


Implikasi dari manajemen luar biasa bagi public relations sangat signifikan.
Kebutuhan akan manajemen luar biasa organisasi dapat bertahan dan berkembang
dalam sebuah lingkungan yang tidak stabil telah ditekankan, tetapi pengendalian
atas proses manajemen luar biasa harus diperoleh melalui aktivitas-aktivitas
organisasi informal. Karena organisasi formal hadir untuk melindungi paradigma,
status quo, manajer yang ingin mengubah paradigma dalam sebuah organissasi
informasl harus bertindak dalam kelompok-kelompok ini dapat menghadapi
ketidakpastian dan ambiguitas, kebobrokan birokrasi formal, dan menyentuh
persepsi semua orang tentang apa yang sedang terjadi dalam sebuah organisasi.
Menurut Stacey, kelompok-kelompok ini sangat bersifat politis.

Apabila organisasi mampu mengkombinasikan manajemen biasa dan


manajemen luar biasa dengan baik untuk menciptakan sebuah kultur yang inovatif
sambil mempertahankan stabilitas, strategi public relations yang baik memainkan
peran inti dalam mempertahankan strategi korporai. Keduanya mendukung
keuntungan kompetitif sambil memastikan kapabilitas untuk mencegah kompetisi
yang keras, tekanan dari kelompok pemerhati, dan media.

c. Model Manajemen Strategis 3 Tahap. Grunig hunt.

1. Tahap Stakeholders
Sebuah perusahaan/organisasi mempunyai hubungan dengan publiknya
bilamana perilaku organisasi tersebut mempunyai pengaruh terhadap

12
stakeholdersnyaatau sebaliknya. Public relations harus melakukan survei untuk
terus membaca perkembangan lingkungannya, dan membaca perilaku
organisasimya serta menganalisis konsekuensi yang akan timbul. Komunikasi yang
dilakukan secara kontinu dengan stakeholders ini membantu organisasi untuk tetap
stabil
2. Tahap Publik
Publik terbentuk ketika perusahaan/organisasi menyadari adanya problem
tertentu. Pendapat ini berdasarkan hasil penelitian Grunig dan Hunt, yang
menyimpulkan bahwa publik muncul sebagai akibat adanya problem tertentu.
Dengan kata lain publik selalu eksis bilamana ada problem yang mempunyai
potensi akibat (konsekuensi) terhadap mereka. Maka publik bukanlah suatu
kumpulan massa umum biasa, mereka sangat selektif dan spesifik terhadap suatu
kepentingan tertentu (problem tertentu).
3. Tahap isu
Publik yang muncul sebagai konsekusensi dari adanya problem selalu
mengorganisasi dan menciptakan “isu”. Yang maksutnya suatu tema yang di
persoalkan. Public relations perlu mengantisipasi dan responsif terhadap isu-isu.
Langkah ini di dalam manajemen dikenal segai Issues Management. Pada tahap ini
media memegang peranan yang sangat penting karena media akan mengangkat
suatu pokok persoalan kepada masyarakat dan masyarakat akan menanggapinya.
Issuses management pada tahap ini perlu dilakuakan secara simultan dan
cepat, dengan melibatkan komunikasi personal dan sekaligus komunikasi dengan
media massa

5. Riset Public Relations

a. Public Relations / Humas yang ada di PT. Unilever Indonesia


PT. Unilever Indonesia dalam memberikan istilah pada bidang Public Relationsnya
yaitu dengan istilah Corporate Relations. Sama dengan fungsi umum Public Relation,
Corporate Relations dalam PT. Unilever juga memiliki fungsi-fungsi yaitu corporate

13
communications (komunikasi perusahaan) dan Corporate Social Responsibility
Unilever Indonesia (tanggungjawab social perusahaan).

Fungsi Corporate Communication terdiri atas internal communication (komunikasi


internal), media relations (hubungan dengan media), dan external affairs (urusan
keluar), sedangkan fungsi Corporate Social Responsibility Unilever Indonesia terdiri
atas small medium enterprise (pengembangan usaha kecil menengah), public health and
educations (pendidikan dan kesehatan masyarakat), dan environmental (lingkungan)
(dokumen PT. Unilever Indonesia Tbk. Tahun 2008).

b. Planning Dan Programming


Salah satu program CSR yang dikembangkan PT. Unilever Tbk. yaitu berupa
Trashion (Trash & Fashion). Trashion (Trash & Fashion) adalah salah satu program
CSR Unilever Indonesia yang dikelola melalui Yayasan Unilever Indonesia (YUI).
Program ini dipilih karena berkaitan dengan isu-isu lingkungan (enviromental) yaitu
berkenaan dengan sampah yang menjadi masalah bagi sebagian masyarakat, terutama
masyarakat perkotaan. Program CSR Trashion dibuat untuk menjawab permasalahan
sampah yang telah mengganggu lingkungan dengan cara mendaur ulang bekas kemasan
produk menjadi produk-produk fashion yang menarik dan bernilai ekonomi, seperti
payung, tas, atau dompet. Program ini berfokus mengembangkan perempuan, terutama
ibu rumah tangga, untuk menjadi pengusaha mandiri dengan memproduksi Trashion.
Yayasan Unilever Indonesia (YUI) memberikan pelatihan, bantuan finansial, dan alat
jahit sebagai modal awal mula pengembangan usaha bagi para perempuan tersebut.

c. Aksi Dan Komunikasi

Program CSR Trashion pertama kali dimulai di Jakarta dengan sepuluh


pengusaha wanita. Saat ini, program CSR Trashion telah berkembang di dua kota lain
dan telah mengembangkan empat puluh pengusaha perempuan serta melibatkan
sebanyak 400 orang perempuan lainnya. Beberapa waktu yang lalu, program Trashion

14
ini mendapat penghargaan dari The International Business Awards 2009 untuk kategori
“ Enviromental Responsibility Program of the Year ”.

(http//:unilever.co.id/id/ourcompany/beritaandmedia/beritaterbaru/stevie_award.asp,
diakses pada tanggal 15 September 2009 ).

d. Evaluasi Public Relations / Humas PT. Unilver Indonesia


Dalam dokumen PT. Unilever Indonesia Tbk. 2008 terungkap bahwa, program
CSR yang dimiliki perusahaan Unilever diakui merupakan nilai lebih perusahaan.
Dikatakan bahwa “tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) merupakan cara kami
melakukan bisnis, oleh karena itu, kami menganggapnya sebagai keunggulan kompetitif
(competitive advantage) kami dan bagian dari strategi bisnis kami. Kami hanya bisa
tumbuh jika Indonesia tumbuh bersama kami”

PT. Unilever berupaya untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian kualitas


hidup yang lebih baik. Misi perusahaan adalah menggali dan memberdayakan potensi
masyarakat, memberikan nilai tambah bagi masyarakat, memadukan kekuatan para
mitra dan menjadi katalisator bagi pembentukan kemitraan. Dalam meningkatkan
reputasi perusahaan, perlu menekankan pentingnya berkesinambungan dalam
pelestarian lingkungan, kehidupan sosial, maupun pertumbuhan usaha. Tanggung jawab
sosial merupakan tujuan perusahaan: "Keberhasilan menuntut standar tertinggi dalam
perilaku perusahaan, karyawan, pelanggan, masyarakat dan dunia di mana perusahaan
berada."

15