Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keperawatan sebagai suatu profesi yang sampai saat ini masih dianggap profesi yang
kurang eksis, kurang profesional, bahkan kurang menjanjikan dalam hal finansial. Oleh
karena itu keperawatan harus berusaha keras untuk menunjukkan pada dunia luar, di luar
dunia keperawatan bahwa keperawatan juga bisa sejajar dengan profesi – profesi lain. Tugas
ini akan terasa berat bila perawat-perawat Indonesia tidak menyadari bahwa eksistensi
keperawatan hanya akan dapat dicapai dengan kerja keras perawat itu sendiri untuk
menunjukkan profesionalismenya dalam memberikan pelayanan kesehatan terutama
pelayanan keperawatan baik kepada individu, keluarga maupun masyarakat.

Salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi keperawatan adalah dengan mengembangkan
salah satu model pelayanan keperawatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
model keperawatan Roy, dikenal dengan model adaptasi dimana Roy memandang setiap
manusia pasti mempunyai potensi untuk dapat beradaptasi terhadap stimulus baik stimulus
internal maupun eksternal dan kemampuan adaptasi ini dapat dilihat dari berbagai tingkatan
usia.Aplikasi proses keperawatan menurut konsep teori Roy di Rumah Sakit telah banyak
diterapkan namun sedikit sekali perawat yang mengetahui dan memahami bahwa tindakan
keperawatan tersebut telah sesuai. Bahkan perawat melaksanakan asuhan keperawatan tanpa
menyadari sebagian tindakan yang telah dilakukan pada klien adalah penerapan konsep teori
Roy.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang , rumusan masalah yang dapat kami angkat yaitu :
1. Bagaimana model teori keperawatan calista roy?
C. Tujuan
Tujuan dari makalah untuk memahami konsep model keperawatan menurut Roy
dalam manajemen asuhan keperawatan. Dan mampu menghubungkan model konsep
Roy dengan proses keperawatan.

S1 KEPERAWATAN Page 1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Riwayat Calista Roy

Suster Calista Roy adalah seorang suster dari Saint Joseph of Carondelet. Roy
dilahirkan pada tanggal 14 oktober 1939 di Los Angeles California. Roy menerima Bachelor
of Art Nursing pada tahun 1963 dari Mount Saint Marys College dan Magister Saint in
Pediatric Nursing pada tahun 1966 di University of California Los Angeles.

Roy memulai pekerjaan dengan teori adaptasi keperawatan pada tahun 1964 ketika dia lulus
dari University of California Los Angeles. Dalam Sebuah seminar dengan Dorrothy E.
Johnson, Roy tertantang untuk mengembangkan sebuah model konsep keperawatan. Konsep
adaptasi mempengaruhi Roy dalam kerangka konsepnya yang sesuai dengan keperawatan.
Dimulai dengan pendekatan teori sistem. Roy menambahkan kerja adaptasi dari Helsen

S1 KEPERAWATAN Page 2
(1964) seorang ahli fisiologis – psikologis. Untuk memulai membangun pengertian
konsepnya. Helsen mengartikan respon adaptif sebagai fungsi dari datangnya stimulus
sampai tercapainya derajat adaptasi yang di butuhkan individu. Derajat adaptasi dibentuk
oleh dorongan tiga jenis stimulus yaitu : focal stimuli, konsektual stimuli dan residual stimuli.

Roy mengkombinasikan teori adaptasi Helson dengan definisi dan pandangan terhadap
manusia sebagai sistem yang adaptif. Selain konsep-konsep tersebut, Roy juga mengadaptasi
nilai “Humanisme” dalam model konseptualnya berasal dari konsep A. H. Maslow untuk
menggali keyakinan dan nilai dari manusia. Menurut Roy humanisme dalam keperawatan
adalah keyakinan, terhadap kemampuan koping manusia dapat meningkatkan derajat
kesehatan.

Sebagai model yang berkembang, Roy menggambarkan kerja dari ahli-ahli lain dari ahli-ahli
lain di area adaptasi seperti Dohrenwend (1961), Lazarus (1966), Mechanic ( 1970) dan Selye
(1978). Setelah beberapa tahun, model ini berkembang menjadi sebagai suatu kerangka kerja
pendidikan keperawatan, praktek keperawatan dan penelitian. Tahun 1970, model adaptasi
keperawatan diimplementasikan sebagai dasar kurikulum sarjana muda keperawatan di
Mount Saint Mary’s College. Sejak saat it lebih dari 1500 staf pengajar dan mahasiswa-
mahasiswa terbantu untuk mengklarifikasi, menyaring, dan memperluas model. Penggunaan
model praktek juga memegang peranan penting untuk klarifikasi lebih lanjut dan penyaringan
model.

Sebuah studi penelitian pada tahun 1971 dan survey penelitian pada tahun 1976-1977
menunjukkan beberapa penegasan sementara dari model adaptasi. Perkembangan model
adaptasi keperawatan dipengaruhi oleh latar belakang Roy dan profesionalismenya. Secara
filosofi Roy mempercayai kemampuan bawaan, tujuan, dan nilai kemanusiaan, pengalaman
klinisnya telah membantu perkembangan kepercayaannya itu dalam keselarasan dari tubuh
manausia dan spirit. Keyakinan filosofi Roy lebih jelas dalam kerjanya yang baru pada model
adaptasi keperawatan.

S1 KEPERAWATAN Page 3
A. Model Konsep dan Teori Keperawatan Sister calista roy.

Sister Calissta Roy yang lahir di Los Angeles pada tanggal 14 Oktober 1939, Mendefinisikan
bahwa keperawatan merupakan suatu analisa proses dan tindakan sehubungan dengan
perawatan sakit atau potensial seseorang untuk sakit. Teori adaptasi Suster Calista Roy (Roy
dan Obloy, 1979,roy,1980,1984,1989) memandang klien sebagai suatu sistem adaptasi.
Sesuai dengan model Roy, tujuan dari keperawatan adalah membantu seseorang untuk
beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan hubugan
interdependensi selama sehat dan sakit (mariner-Tomery,1994).

Dalam Sebuah seminar dengan Dorrothy E. Johnson, Roy tertantang untuk mengembangkan
sebuah model konsep keperawatan. Konsep adaptasi mempengaruhi Roy dalam kerangka
konsepnya yang sesuai dengan keperawatan. Dimulai dengan pendekatan teori sistem. Roy
menambahkan kerja adaptasi dari Helsen (1964) seorang ahli fisiologis – psikologis. Untuk
memulai membangun pengertian konsepnya. Helsen mengartikan respon adaptif sebagai
fungsi dari datangnya stimulus sampai tercapainya derajat adaptasi yang di butuhkan
individu. Derajat adaptasi dibentuk oleh dorongan tiga jenis stimulus yaitu : focal stimuli,
konsektual stimuli dan residual stimuli.

Roy mengkombinasikan teori adaptasi Helson dengan definisi dan pandangan terhadap
manusia sebagai sistem yang adaptif. Selain konsep-konsep tersebut, Roy juga mengadaptasi
nilai “ Humanisme” dalam model konseptualnya berasal dari konsep A.H. Maslow untuk
menggali keyakinan dan nilai dari manusia. Menurut Roy humanisme dalam keperawatan
adalah keyakinan, terhadap kemampuan koping manusia dapat meningkatkan derajat
kesehatan.

Sebagai model yang berkembang, Roy menggambarkan kerja dari ahli-ahli lain di area
adaptasi seperti Dohrenwend (1961), Lazarus (1966), Mechanic ( 1970) dan Selye
(1978). Setelah beberapa tahun, model ini berkembang menjadi sebagai suatu kerangka kerja
pendidikan keperawatan, praktek keperawatan dan penelitian. Tahun 1970, model adaptasi
keperawatan diimplementasikan sebagai dasar kurikulum sarjana muda keperawatan di
Mount Saint Mary’s College. Sejak saat itu lebih dari 1500 staf pengajar dan mahasiswa-
mahasiswa terbantu untuk mengklarifikasi, menyaring, dan memperluas model. Penggunaan

S1 KEPERAWATAN Page 4
model praktek juga memegang peranan penting untuk klarifikasi lebih lanjut dan penyaringan
model.

Sebuah studi penelitian pada tahun 1971 dan survey penelitian pada tahun 1976-1977
menunjukkan beberapa penegasan sementara dari model adaptasi. Perkembangan model
adaptasi keperawatan dipengaruhi oleh latar belakang Roy dan profesionalismenya. Secara
filosofi Roy mempercayai kemampuan bawaan, tujuan,, dan nilai kemanusiaan, pengalaman
klinisnya telah membantu perkembangan kepercayaannya itu dalam keselarasan dari tubuh
manusia dan spirit. Keyakinan filosofi Roy lebih jelas dalam kerjanya yang baru pada model
adaptasi keperawatan.

B. Konsep adaptasi Roy.

Definisi dan Konsep Mayor yang membangun kerangka konseptual model adaptasi roy
adalah:

1. Sistem adalah kesatuan dari beberapa unit yang saling berhubungan dan membentuk
satu kesatuan yang utuh dengan ditandai adanya input, control, proses, output, dan
umpan balik.

2. Derajat adaptasi adalah perubahan tetap sebagai hasil dari stimulus fokal,
konstektual dan residual dengan standar individual, sehingga manusia dapat berespon
adaptif sendiri.

3.Problem adaptasi adalah kejadian atau situasi yang tidak adekuat terhadap penurunan
atau peningkatan kebutuhan.

4.Stimulus fokal adalah derajat perubahan atau stimulus yang secara langsung
mengharuskan manusia berespon adaptif. Stimulus fokal adalah presipitasi perubahan
tingkah laku.

5.Stimulus konstektual adalah seluruh stimulus lain yang menyertai dan memberikan
konstribusi terhadap perubahan tingkah laku yang disebabkan atau dirangsang oleh
stimulus fokal.

6.Stimulus residual adalah seluruh factor yang mungkin memberikan konstribusi


terhadap perubahan tingkah laku, akan tetapi belum dapat di validasi.

S1 KEPERAWATAN Page 5
7.Regulator adalah subsistem dari mekanisme koping dengan respon otomatik melalui
neural, cemikal, dan proses endokrin.

8. Kognator adalah subsistem dari mekanisme koping dengan respon melalui proses
yang kompleks dari persepsi informasi, mengambil, keputusan dan belajar.

9.Model efektor adaptif adalah kognator yaitu ; Fisiologikal, fungsi pean,


interdependensi dan konsep diri.

10. Respon adaptif adalah respon yang meningkatkan intergritas manusia dalam
mencapai tujuan manusia untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan reproduksi.

11.Fisiologis adalah kebutuhan fisiologis termasuk kebutuhan dasar dan bagaimana


proses adaptasi dilakukan untuk pengaturan cairan dan elektrolit, aktivits dan istirahat,
eliminasi, nutrisi, sirkulasi dan pengaturan terhadap suhu, sensasi, dan proses endokrin.

12. Konsep diri adalah seluruh keyakinan dan perasaan yang dianut individu dalam
satu waktu berbentuk : persepsi, partisipasi, terhadap reaksi orang lain dan tingkah
laku langsung. Termasuk pandangan terhadap fisiknya (body image dan sensasi diri)
Kepribadian yang menghasilkan konsistensi diri, ideal diri, atau harapan diri, moral
dan etika pribadi.

13.Penampilan peran adalah penampilan fungsi peran yang berhubungan dengan


tugasnya di lingkungan social.

14.Interdependensi adalah hubungan individu dengan orang lain yang penting dan
sebagai support sistem. Di dalam model ini termasuk bagaimana cara memelihara
integritas fisik dengan pemeliharaan dan pengaruh belajar.

Model Konseptual Adaptasi roy, ada empat elemen penting yang termasuk dalam model
adaptasi keperawatan adalah manusia, Lingkungan; kesehatan; keperawatan. Unsur
keperawatan terdiri dari dua bagian yaitu tujuan keperawatan dan aktivitas keperawatan, juga
termasuk dalam elemen penting pada konsep adaptasi.

1. Manusia

S1 KEPERAWATAN Page 6
Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem adaptif. Sebagai sistem adaptif,
manusia dapat digambarkan secara holistic sebagai satu kesatuan yang mempunyai input,
control, output, dan proses umpan balik. Proses control adalah mekanisme koping yang
dimanifestasikan dengan cara adaptasi. Lebih spesifik manusia di definisikan sabagai sebuah
sistem adaptif dengan aktivitas kognator dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam
empat cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologi, konsep diri, fungsi peran, dan interdependensi.

Dalam model adaptasi keperawatan, manusia dijelaskan sebagai suatu sistem yang hidup,
terbuka dan adaptif yang dapat mengalami kekuatan dan zat dengan perubahan lingkungan.
Sebagai sistem adaptif manusia dapat digambarkan dalam istilah karakteristik sistem, Jadi
manusia dilihat sebagai satu kesatuan yang saling berhubungan antar unit fungsional secara
keseluruhan atau beberapa unit fungsional untuk beberapa tujuan. Sebagai suatu sistem
manusia juga dapat digambarkan dengan istilah input, proses control dan umpan balik serta
output.

Input pada manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah dengan menerima masukan dari
lingkungan luar dan lingkungan dalam diri individu itu sendiri. Input atau stimulus termasuk
variable satandar yang berlawanan yang umpan baliknya dapat dibandingkan. Variabel
standar ini adalah stimulus internal yang mempunyai tingkat adaptasi dan mewakili dari
rentang stimulus manusia yang dapat ditoleransi dengan usaha-usaha yang biasanya
dilakukan.

Proses control manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah mekanisme koping yang telah
diidentifikasi yaitu : subsistem regulator dan subsistem kognator. Regulator dan kognator
adalah digambarkan sebagai aksi dalam hubunganya terhadap empat efektor cara adaptasi
yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi.

S1 KEPERAWATAN Page 7
Teori Keperawatan 'Calista Roy'

Model konseptual keperawatan dikembangkan atas pengetahuan para ahli keperawatan


tentang keperawatan yang bertolak dari paradigma keperawatan. Model konseptual dalam
keperawatan dapat memungkinkan perawat untuk menerapkan cara perawat bekerja dalam
batas kewenangan sebagai seorang perawat. Perawat perlu memahami konsep ini sebagai
kerangka konsep dalam memberikan asuhan keperawatan dalam praktek keperawatan atau
sebagai filosofi dalam dunia pendidikan dan kerangka kerja dalam riset keperawatan.

Ada berbagai jenis model konseptual keperawatan berdasarkan pandangan ahli dalam bidang
keperawatan, salah satunya adalh model adaptasi Roy. Roy dalam teorinya menjelaskan
empat macam elemen esensial dalam adaptasi keperawatan , yaitu : manusia, lingkungan,
kesehatan, dan keperawatan. Model adaptasi Roy menguraikan bahwa bagaimana individu
mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara memepertahankan perilaku secara adaptif
karena menurut Roy, manusia adalah makhluk holistic yang memiliki sistem adaptif yang
selalu beradaptsi.

B. Definisi dan Konsep Mayor

Konsep Adaptasi Roy

S1 KEPERAWATAN Page 8
Konsep Mayor yang membangun kerangka konseptual model adaptasi roy adalah:

1. Sistem adalah kesatuan dari beberapa unit yang saling berhubungan dan membentuk
satu kesatuan yang utuh dengan ditandai adanya input, control, proses, output, dan umpan
balik.

2. Derajat adaptasi adalah perubahan tetap sebagai hasil dari stimulus fokal, konstektual
dan residual dengan standar individual, sehingga manusia dapat berespon adaptif sendiri.

3. Problem adaptasi adalah kejadian atau situasi yang tidak adekuat terhadap penurunan
atau peningkatan kebutuhan.

4. Stimulus fokal adalah derajat perubahan atau stimulus yang secara langsung
mengharuskan manusia berespon adaptif. Stimulus fokal adalah presipitasi perubahan tingkah
laku.

5. Stimulus konstektual adalah seluruh stimulus lain yang menyertai dan memberikan
konstribusi terhadap perubahan tingkah laku yang disebabkan atau dirangsang oleh stimulus
fokal.

6. Stimulus residual adalah seluruh factor yang mungkin memberikan konstribusi terhadap
perubahan tingkah laku, akan tetapi belum dapat di validasi.

7. Regulator adalah subsistem dari mekanisme koping dengan respon otomatik melalui
neural, cemikal, dan proses endokrin.

8. Kognator adalah subsistem dari mekanisme koping dengan respon melalui proses yang
kompleks dari persepsi informasi, mengambil, keputusan dan belajar.

9. Model efektor adaptif adalah kognator yaitu ; fisiologikal, fungsi pean, interdependensi
dan konsep diri.

10. Respon adaptif adalah respon yang meningkatkan intergritas manusia dalam mencapai
tujuan manusia untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan reproduksi.

11. Fisiologis adalah kebutuhan fisiologis termasuk kebutuhan dasar dan bagaimana proses
adaptasi dilakukan untuk pengaturan cairan dan elektrolit, aktivits dan istirahat, eliminasi,
nutrisi, sirkulasi dan pengaturan terhadap suhu, sensasi, dan proses endokrin.

S1 KEPERAWATAN Page 9
12. Konsep diri adalah seluruh keyakinan dan perasaan yang dianut individu dalam satu
waktu berbentuk : persepsi, partisipasi, terhadap reaksi orang lain dan tingkah laku langsung.
Termasuk pandangan terhadap fisiknya (body image dan sensasi diri) Kepribadian yang
menghasilkan konsistensi diri, ideal diri, atau harapan diri, moral dan etika pribadi.

13. Penampilan peran adalah penampilan fungsi peran yang berhubungan dengan tugasnya
di lingkungan social.

14. Interdependensi adalah hubungan individu dengan orang lain yang penting dan sebagai
support sistem. Di dalam model ini termasuk bagaimana cara memelihara integritas fisik
dengan pemeliharaan dan pengaruh belajar.

C. Model Konseptual Adaptasi Roy

Pendekatan Roy menegaskan bahwa individu adalah makhluk biopsikososial sebagai satu
kesatuan yang memiliki mekanisme koping unu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan

Empat elemen penting yang termasuk dalam model adaptasi keperawatan adalah : (1)
manusia; (2) Lingkungan; (3) kesehatan; (4) keperawatan. Unsur keperawatan terdiri dari dua
bagian yaitu tujua keperawatan dan aktivitas keperawatan, juga termasuk dalam elememn
penting pada konsep adaptasi

1. Manusia

Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem adaptif. Sebagai sistem
adaptif, manusia dapat digambarkan secara holistic sebagai satu kesatuan yang mempunyai
input, control, output, dan proses umpan balik. Proses control adalah mekanisme koping yang
dimanifestasikan dengan cara adaptasi. Lebih spesifik manusia di definisikan sabagai sebuah
sistem adaptif dengan aktivitas kognator dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam
empat cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologi, konsep diri, fungsi peran, dan interdependensi.

Dalam model adaptasi keperawatan, manusia dijelaskan sebagai suatu sistem yang hidup,
terbuka, dan adaptif yang dapat mengalami kekuatan dan zat dengan perubahan lingkungan.
Sebagai sistem adaptif manusia dapat digambarkan dalam istilah karakteristik system. Jadi,
manusia dilihat sebagai satu kesatuan yang saling berhubungan antar unit fungsional secara
keseluruhan atau beberapa unit fungsional untuk beberapa tujuan. Sebagai suatu sistem
manusia juga dapat digambarkan dengan istilah input, proses control, dan umpan balik serta
output.

S1 KEPERAWATAN Page 10
Roy mengidentifikasi input sebagai stimulus yang dapat menimbulkan respons. Input pada
manusia merupakan suatu sistem adaptasi adalah dengan menerima masukan dari lingkungan
luar dan lingkungan dalam diri individu itu sendiri. Input atau stimulus termasuk variable
standar yang berlawanan yang umpan baliknya dapat dibandingkan.

Ada tiga komponen pada input, yaitu stimulus fokal, stimulus kontekstual, dan stimulus
residual. Stimulus fokal adalah stimulus yang langsung berhadapan individu (stimulus
internal), seperti perubahan fisiologis, perubahan konsep diri, perubahan fungsi peran atau
perubahan dalam mempertahankan keseimbangan atra kemandirian dan ketergan-tungan.
Stimulus kontekstual adalah semua stimulus yang diterima oleh individu, baik internal
(karakteristik diri) maupun eksternal (lingkungan, keluarga, teman, masyarakat, petugas
kesehatan) yang memengaruhi situasi atau stimulus fokal dan dapat diobservasi, diukur, serta
dilaporkan secara subyektif. Stimulus residual adalah ciri-ciri tambahan dan relevan dengan
situasi yang ada, namun sukar untuk diobservasi. Contohnya adalah keyakinan, sikap, dan
sifat individu yang berkembang sesuai dengan pengalaman yang lalu.

Konsep sehat yang dikembangkan oleh Roy adalah bagaimana individu mampu beradaptasi
dan berperilaku adaptif terhadap perubahan yang terjadi guna memenuhi kebutuhannya,
seperti kebutuhan fisiologis, konsep diri yang positif, kebutuhan untuk menampilakn fungsi
peran sosial, dan mempertahankan keseimbangan antara kemandirian dan ketergantungan.
Konsep sakit yang dikembangkan Roy adalah ketika individu tidak mampu beradapasi
dengan perubahan yang dialaminya. Selanjutnya, ia akan menampilkan respons atau perilaku
mal adaptif yang menyebabkan keempat kebutuhan tersebut tidak dapat terpenuhi.

Proses control manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah mekanisme koping yang telah
diidentifikasi yaitu : subsistem regulator dan subsistem kognator. Regulator dan kognator
adalah digambarkan sebagai aksi dalam hubunganya terhadap empat efektor cara adaptasi
yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi.

Subsistem regulator dan kognator adalah mekanisme adaptasi atau koping dengan perubahan
lingkungan, dan diperlihatkan melalui perubahan biologis, psikologis, dan social. Subsistem
regulator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan pada sistem saraf, kimia
tubuh dan organ endokrin serta subsistem kognator adalah gambaran respon yang kaitannya
dengan perubahan kognitif dan emosi, termasuk didalamnya persepsi, proses informasi,
pembelajaran, dan membuat alasan dan emosional, yang termasuk didalamnya
mempertahankan untuk mencari bantuan.

S1 KEPERAWATAN Page 11
2. Lingkungan

Lingkungan digambarkan sebagai dunia di dalam dan di luar manusia. Lingkungan


merupakan masukan (input) bagi manusia sebagai sistem yang adaptif sama halnya
lingkungan sebagai stimulus eksternal dan internal. Lebih lanjut stimulus itu dikoelompokkan
menjadi tiga jenis stimulus yaitu : fokal, konstektual, dan residual.

Lebih luas lagi lingkungan didefinisikan sebagai segala kondisi, keadaan disekitar dan
mempengaruhi keadaan, perkembangan dan perilaku manusia sebagai individu ata kelompok.

3. Kesehatan

Menurut Roy, kesehatan didefinisikan sebagai keadaan dan proses menjadi manusia
secara utuh dan terintegrasi secara keseluruhan. Integritas atau keutuhan manusia menyatakan
secara tidak langsung bahwa kkesehatan atau kondisi tidak terganggu mengacu kelengkapan
atau kesatuan dan kemungkinan tertinggi dari pemenuhan potensi manusia. Jadi Integritas
adalah sehat, sebaliknya kondisi yang tidak ada integritas kurang sehat. Definisi kesehatan ini
lebih dari tidak adanya sakit tapi termasuk penekanan pada kondisi sehat sejahtera.

Dalam model adaptasi keperawatan, konsep sehat dihubungkan dengan konsep adaptasi.
Adaptasi yang bebas energi dari koping yang inefektif dan mengizinkan manusia berespon
terhadap stimulus yang lain. Pembebasan energi ini dapat meningkatkan penyembuhan dan
mempertinggi kesehatan. Hal ini adalah pembebasan energi yang menghubungkan konsep
adaptasi dan kesehatan

Adaptasi adalah komponen pusat dalm model keperawatan. Didalamnya menggambarkan


manusia sebagai sistem adaptif. Adaptasi dipertimbangkan baik proses koping terhadap
stressor dan produk akhir dari koping. Proses adaptasi termasuk fungsi holistic untuk
mempengaruhi kesehatan secara positif dan itu meningkatkan integritas. Proses adaptasi
termasuk semua interaksi manusia dan lingkungan terdiri dari dua proses. Bagian pertama
dari proses ini dimulai dengan pperubahan dalam lingkungan internal dan eksternal yan
gmembutuhkan sebuah respon. Perubahan – perubahan itu adalah stressor atau stimulus fokal
dan ditengahi oleh factor-faktor konstektual dan residual. Bagian-bagian stressor
menghasilkan interaksi yang biasanya disebut stress. Bagian kedua adalah mekanisme koping
yang merangsang untuk menghasilkan respon adaptif dan inefektif.

S1 KEPERAWATAN Page 12
Produk adaptasi adalah hasil dari proses adaptasi dan digambarkan dalam istilah kondisi yang
meningkatkan tujuan-tujuan manusia yang meliputi : kelangsungan hidup, pertumbuhan,
reproduksi dan penguasaan yang disebut integritas. Kondisi akhir ini adalah kondisi
keseimbangan dinamik equilibrium yang meliputi peningkatan dan penurunan respon-respon.
Setiap kondisi adaptasi baru dipengaruhi oleh adaptasi, sehingga dinamik equilibrium
manusia berada pada tingkat yang lebih tinggi. Jarak yang besar dari stimulus dapat
disepakati dengan suksesnya manusia sebagai sistem adaptif. Jadi peningkatan adaptasi
mengarah pada tingkat-tingkat yang lebih tinggi pada keadaan sejahtera atau sehat. Adaptasi
kemudian disebut sebagai suatu fungsi dari stimuli yang masuk dan tingkatan adaptasi.

4. Keperawatan

Roy (1983) menggambarkan keperawatan sebagai disiplin ilmu dan praktek. Sebagai
ilmu, keperawatan mengobservasi, mengklasifikasikan dan menghubungkan proses yang
secara positif berpengaruh pada status kesehatan. Sebagai disiplin, praktek, keperawatan
menggunakan pendekatan pengetahuan untukmenyediakan pelayanan pada orang-orang.
Lebih spesifik dia mendefinisikan keperawatan sebagai ilmu da praktek dari peningkatan
adaptasi untuk meningkatkan kesehatan sebagai tujuan untuk mempengaruhi kesehatan
secara positif.

Keperawatan meningkatkan adaptasi individu dan kelompok dalam situasi yang berkaitan
dengan kesehatan, Jadi model adaptasi keperawatan menggambarkan lebih spesifik
perkembangan ilmu keperawatan dan praktek keperawatan yang berdasarkan ilmu
keperawatan tersebut. Dalam model tersebut, keperawatan terdiri dari tujuan keperawatan dan
aktivitas keperawatan.

Keperawatan adalah berhubungan dengan manusia sebagai satu kesatuan yang berinteraksi
dengan perubahan lingkungan dan tanggapan terhadap stimulus internal dan eksternal yang
mempengaruhi adaptasi.

Ketika stressor yang tidak biasa atau koping mekanisme yang lemah membuat upaya manusia
yang biasa menjadi koping yang tidak efektif, manusia memerlukan seorang perawat. Ini
tidak harus, bagaimanapun diinterpretasikan umtuk memberi arti bahwa aktivitas
keperawatan tidak hanya diberikan ketika manusia itu sakit. Roy menyetujui, pendekatan
holistic keperawatan dilihat sebagai proses untuk mempertahankan keadaan baik dan tingkat
fungsi yang lebih tinggi.

S1 KEPERAWATAN Page 13
Keperawatan terdiri dari dua yaitu : tujuan keperawatan dan aktivitas keperawatan. Tujuan
keperawatan adalah mempertinggi interaksi manusia dengan lingkungan. Jadi peningkatan
adaptasi dalam tiap empat cara adaptasi yaitu :

(1) fungsi fisiologis;

(2) konsep diri;

(3) fungsi peran dan

(4) interdependensi.

Dorongan terhadap peningkatan integritas adaptasi dan berkontribusi terhadap kesehatan


manusia, kualitas hidup dan kematian dengan damai. Tujuan keperawatan diraih ketika
stimulus fokal berada dalam suatu area dengan tingkatan adaptasi manusia. Ketika stimulus
fokal tersebut berada pada area tersebut dimana manusia dapat membuat suatu penyesuaian
diri atau respon efektif.

Adaptasi membebaskan energi dari upaya koping yang tidak efektif dan memnugkinkan
individu untuk merespon stimulus yang lain. Kondisi tersebut dapat mencapai peningkatan
penyembuhan dan kesehatan. Jadi peranan penting adaptasi sangat ditekankan pada konsep
ini.

Tujuan dari adaptasi adalah membantu perkembangan aktivitas keperawatan yang digunakan
pada proses keperawatan meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan , tujuan, intervensi dan
evaluas. Adaptasi model keperawatan menetapkan “data apa yang dikumpulkan, bagaimana
mengidentifikasi masalah dan tujuan utama. Pendekatan apa yang dipakai dan bagaiman
mengevaluasi efektifitas proses keperawatan”.

Unit analisis dari pengkajian keperawatan adalah interaksi manusia dengan lingkungan.
Proses pengkajian keperawatan adalah interaksi manusia dengan lingkungan. Proses
pengkajian termasuk dalam dua tingkat pengkajian Tingkat pertama mengumpulkan data
tentang perilaku manusia, dalam tiap empat cara penyesuaian diri. Data-data tersebut
dikumpulkan dari data observasi penilaian respond an komunikasi dengan individu. Dari data
tersebut perawat membuat keputusan sementara tentang apakah perilaku dapat menyesuaikan
diri atau tidak efektif.

S1 KEPERAWATAN Page 14
Tingkat kedua pengkajian adalah mengumpulkan data tentang fokal, konstektual dan residual
stimuli. Selama tingkat pengkajian ini perawat mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku yang diobservasi pada pengkajian tingkat pertama. Keterlibatan ini
penting untuk menetapkan faktor-faktor utama yang mempengaruhi perilaku.

Jadi, pada intinya model keperawatan Roy lebih menekankan pada manusia secara holistik
yang memiliki mekanisme koping untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Konsep
ini juga menekankan pentingnya individu untuk mempertahankan perilaku secara adaptif dan
mampu merubah perilaku yang maladaptif agar dapat meningkatkan kesehatannya.

Model konseptual Roy berisi 4 elemen yaitu manusia, lingkungan, kesehatan, dan
keperawatan. Manusia dipandang sebagai sitem adaptasi kehidupan yang perilakunya dapat
diklasifikasikan menjadi respon yang adaptif atau respon yang inefektif. Lingkungan terdiri
stimulus internal dan eksternal. Kesehatan adalah proses menjadi terintegrasi dan dapat
mencapai tujuan untuk hidup, pertumbuhan, reproduksi, penguasaan. Tujuan keperawatan
adalah meningkatkan respon adaptasi yang berhubungan dengan adaptasi mode,
menggunakan informasi tentang tingkat adaptasi manusia dan stimulus fokal, kontekstual,
dan residual.

S1 KEPERAWATAN Page 15
PENUTUP

Kesimpulan

Roy menyampaikan bahwa secara umum tujuan pada intervensi keperawatan adalah untuk
mempertahankan dan mempertinggi perilaku adaptif dan mengubah perilaku inefektif
menjadi adaptif. Penentuan tujuan dibagi atas tujuan jangka panjang dan tujuan jangka
pendek. Tujuan jangka panjang yang akan dicapai meliputi : Hidup, tumbuh, reproduksi
dankekeuasaan. Tujuan jangka pendek meliputi tercapainya tingkah laku yang diharapkan
setelah dilakukan manipulasi terhadap stimulus focal, konteksual dan residual.

S1 KEPERAWATAN Page 16
Daftar pustaka

http://lettre-de-raphael.blogspot.co.id/2013/06/teori-keperawatan-calista-roy.html

https://www.scribd.com/doc/310702667/MAKALAH-calista-roy

http://abiperawat.bogspot.com/2007/050model-adaptasi-callista-roy.html

http://abiperawat.bogspot.com/2007/050model-adaptasi-callista-roy.html

http://abiperawat.bogspot.com/2007/050model-adaptasi-callista-roy.html

S1 KEPERAWATAN Page 17

Anda mungkin juga menyukai